You are on page 1of 90

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat dan hidayah-Nyalah kami dapat menyelesaikan Laporan Tutorial Pertama
sebagai suatu laporan atas hasil diskusi kami yang berkaitan dengan kegiatan
tutorial pada Blok 7 semester 3 ini.
Nasib David Beckham di tangan tim medis Real Madrid merupakan judul
dari kegiatan tutorial pertama ini. Di sini kami membahas masalah yang berkaitan
dengan anatomi, histology, fisiologi, dari system muskuloskeletal. Serta kami juga
membahas mengenai mekanisme bergerak,regenerasi system musculoskeletal saat
mengalami cedera, dan fisioterapi.
Kami mohon maaf jika dalam laporan ini terdapat banyak kekurangan dalam
menggali semua aspek yang menyangkut segala hal yang berhubungan dengan
skenario pertama ini serta Learning Objective yang kami cari. Karena ini semua
disebabkan oleh keterbatasan kami sebagai manusia. Tetapi, kami berharap laporan
ini dapat memberi pengetahuan serta manfaat kepada pembaca

Mataram, September 2008

Kelompok 1

DAFTAR ISI

CONCEPT

MAP

SKENARIO 1

NASIB DAVID BECKAM DI TANGAN


TIM MEDIS REAL MADRID
David Beckham, seorang pemain sepakbola profesional yang sangat terkenal amun
rentan cedera. Pada pertandingan terakhir yang mempertemukan Real Madrid
dengan FC Barcelona di Santiago Bernebou, David Beckham mengalami cedera
pada angkle joint sinistra sehingga nyeri saat berjalan dan edema pada kaki kirinya.
Hal ini terjadi karena bertabrakan di tengah lapangan saat berebut bola dengan
Ronaldinho. Sementara itu, Ronaldinho mengalami fraktur pada regio antebrachii
dextra serta robekan pada musculus gastrocnemius dextra sehingga memerlukan
pembedahan. Setelah tiga minggu menjalani pemeriksaan dan perawatan tim medis,
David Beckham diperkirakan bisa tampil kembali membela Real Madrid. Ia
dinyatakan pulih dari cedera namun masih diharuskan menjalani fisioterapi untuk
menguatkan serta mengembalikan kekuatan dan metabolisme ototnya.

LEARNING OBJECTIVES

1. Anatomi, Histologi, Fisiologo system musculoskeletal


2. Metabolisme energy untuk kontraksi otot (normal, cedera, setelah cedera)
3. Kompensasi dan regenerasi musculoskeletal
4. Jenis-jenis, proses, dan mekanisme fisioterapi
5. Proses pembedahan
6. Efek cedera (sehingga harus dipulihkan)
7. Terapi-terapi untuk cedera
8. Jenis-jenis cedera musculoskeletal

ANATOMI SISTEM MUSKULOSKELETAL

SKELETAL SYSTEM
Tulang axial terdapat di sepamjang axis longitudinal [Pusat gravitasi tubuh], terdiri dari:
1. Cranium
2. Columna vertebrae
3. Cavum thorax

APPENDICULAR SKELETON
Otot appendikular terdiri dari:

Upper limbs dan pectorale girdle

Lower limbs dan pelvic girdle

UPPER LIMBS DAN PECTORAL GIRDLE


Pectoral Girdle

Terdiri atas dua pasang tulang yaitu scapula dan clavicula.


1. SCAPULA
Terdapat acromion process yang memiliki tiga fungsi:

Untuk membentuk pelindung shoulder joint

Untuk membentuk tempat perlekatan dengan clavicula

Untuk tempat menempelnya beberapa otot bahu.

Terdapat glenoid cavity, yang terletak superolateral yang berartikulasi dengan head of
humerus.

2. CLAVICULA

Adalah tulang panjang dengan lengkungan sigmoid yang berbentuk huruf S.

Ujung lateral scapula berartikulasi dengan processus acromion, sedang ujung medialnya
dengan manubrium sterni.

Arm
Terdiri atas satu tulang, yaitu Humerus.

Forearms
Memiliki 2 tulang, yaitu Ulna dan Radius.
1. Ulna
Pada ujung proksimalnya terdapat permukaan artikular berbentuk huruf C yang disebut
trochlear, atau semilunar notch yang cocok dengan trochlea humerus.
2. Radius

Ujung proksimal radius adalah Head of Radius. Berbentuk konkav dan berartikulasi
dengan capitulum humerus.

Radial tuberosity adalah tempat di mana otot regio brachium bagian anterior
menempel, seperti biceps brachii.

10

Wrist

Tersusun atas delapan carpal bones yang tersusun atas 2 baris, masing-masing 4
tulang.

Convex pada bagian posterior dan concav pada bagian anterior.

Hand
Terdiri dari tulang carpal, 5 tulang metacarpal, dan 5 digits (phalanges proximal, media, dan
distal kecuali pada ibu jari, hanya terdiri atas phalanges proximal dan distal).

11

PELVIC GIRDLE DAN LOWER LIMBS

Pelvic Girdle
Pelvic Girdle, terdiri dari tulang panggul atau coxae bagian kiri dan kanan.
Setiap coxae terbentuk dari fusi 3 buah tulang selama proses pertumbuhan:
1. ilium
2. ischium
3. pubis ischial tuberosity

Femur

Memiliki bagian menonjol berbentuk bulat, yaitu head of femur, yang berartikulasi
dengan acetabulum.

Pada bagian distal, femur memiliki

medial condyles dan lateral condyles, yang

berartikulasi dengan tibia.

12

Leg
Terdiri atas 2 buah tulang, yaitu tibia dan fibula
1. Tibia

Menopang sebagian besar beban bagian regio cruris.

Bagian ujung proksimalnya memiliki medial condyles dan lateral condyles, yang
berartikulasi dengan condyles of the femur.

2. Fibula

Tidak berartikulasi dengan femur, namun memiliki suatu kepala bagian proksimal
yang berartikulasi dengan tibia.

Ujung distal fibula sedikit melebar dan terdapat lateral malleolus untuk membentuk
dinding lateral ankle joint.

13

Foot

Pars proksimal terdiri tujuh tarsal bones

Talus atau tulang pergelangan kaki, yang berartikulasi dengan tibia dan fibula untuk
membentuk ankle joint.

Calcaneus terletak pada bagian inferior talus.

Metatarsals dan phalanges pada bagian kaki serupa pada bagian manus.

14

ARTICULAR SYSTEM (ARTHROLOGY)


Sendi adalah titik pertemuan antara dua atau lebih tulang antara kartilago dan tulang
atau antara gigi dan tulang.
Klasifikasi sendi berdasarkan fungsinya:
1. Synarthrosis
pergerakannya tidak ada (minimal).
Contohnya: Sutures, gigi, Epiphyseal plates, 1 st rib dan costal cart
2. Amphiarthrosis
Pergerakannya sedikit
Contohnnya: Distal Tibia/fibula, Intervertebral discs, Pubic symphysis
3. Diarthrosis
Pergerakannya besar atau bebas
Contohnya: Glenohumeral joint ,Knee joint, TMJ

Jenis sendi berdasarkan strukturnya:


1) Cartilagenous
tipenya: Synchondrosis, Symphysis
contohnya: epiphyseal plates of long bones, costosternal joints, pubic
symphysis, intervertebral discs
2) Fibrous
tipenya: Sutures, contohnya: skull sutures
Syndesmoses, contohnya: Distal Tibia/fibula
Gomphosis, contohnya: Teeth in sockets

15

3) Synovial
Contohnya: hip, knee, tarsal joints, interphalangeal joints, joints between
articular processes of cervical to lumbar vertebrae.
Cartilaginous Joint -- Synchondrosis

Tulang dihubungkan oleh kartilago


hialin
Contohnya:
rib attachment to sternum
epiphyseal plate pada anak
mengikat

epiphysis

dan

diaphysis

Cartilaginous Joint Symphysis

dua tulang dihubungkan fibrokartilago


contohnya: pubic symphysis dan
intervertebral discs

Hanya memungkinkan sedikit pergerakan

16

Fibrous Joint -- Sutures

Immovable fibrous joints

mengikat skull bones satu dengan yang


lain

Fibrous Joint Gomphoses

17

Fibrous Joint Syndesmosis

dua tulang diikat oleh ligament - interosseus


membrane

fibrous joints yang paling nudah pergerakannya

Interosseus membranes menyatukan radius ke


ulna dan tibia ke fibula

Synovial Joint
Persendian dimana dua tulang dipisahkan oleh ruangan yang disebut joint cavity.
Pergerakan pada jenis persendian ini bebas.

18

Tipe sendi synovial

19

Ball-and-Socket Joints

head of humerus berartikulasi dengan glenoid cavity dari scapula

head of femur berartikulasi dengan acetabulum of hip bone

Multiaxial joint

Condyloid (ellipsoid) Joints

radiocarpal joint of the wrist

metacarpophalangeal joints pada basis jari

Biaxial joints

Saddle Joints
trapeziometacarpal joint pada basis thumb

Biaxial joint

Gliding Joints

Limited monoaxial joint

Merupakan amphiarthroses

Hinge Joints

ulna dan humerus at elbow joint

femur dan tibia di knee joint

finger dan toe joints

Monoaxial joint

20

Pivot Joints

First bone rotates on its longitudinal axis relative to the other

atlantoaxial joint (dens and atlas)

proximal radioulnar joint memungkinkan radius selama pronation dan supination

Upper Limb
Beberapa persendian yang ada di upper limb antara lain:
The Humeroscapular Joint
merupakan

persendian

yang

paling

bebas

pergerakannya
diperkuat

oleh

lgament

dan

tendon

glenohumeral (superior, middle,

inferior),

coracohumeral,
transverse

humeral

dan

biceps

tendon

merupakan stabilator sendi joint

didukung oleh rotator cuff musculature


supraspinatus,

minor

infraspinatus,

dan

teres

subscapularis,

Shoulder Joint
Ligament utama melewati bagian depan dari shoulder joint dan tidak ada ligament
ayor atau otot yang berasosiasi dengan sisi inferior.
Elbow Joint

21

Humeroulnar dan humeroradial joint diperkuat oleh collateral ligaments.

22

Lower limb
Beberapa persendian di upper limb antara lain:
The Coaxal (hip) Joint
Head

of

femur

berartikulasi

dengan

acetabulum

Joint capsule diperkuat oleh ligaments

pubofemoral

ischiofemoral

iliofemoral

23

The Knee Joint

patellofemoral = gliding joint

tibiofemoral = gliding dengan


sedikit

rotasi

and

kemungkinan gliding pada


posisi fleksi

Joint capsule anteriorly terdiri dari


patellar ligament dan extensions
dari quadriceps femoris tendon

Capsule
extracapsular

diperkuat
dan

oleh

intracapsular

ligaments

24

Anterior dan posterior cruciate ligaments lmembatasipergeseran anterior


dan posterior

Medial (tibial) and lateral (fibular) collateral ligaments mencegah rotasi


dari kaki terekstensi

25

Ankle

Joint

26

27

MIOLOGI SISTEM MUSKULOSKELETAL


Tipetipe otot

Bentuk-bentuk otot

28

29

30

Upper limb

31

a. Musculus pectoralis (anterior thoracoappendicullar muscle)


4 otot pectoralis menggerakkan cingulum membri superiosis (cingulum
pectorale) dan mempunyai tempat lekat pada dinding thorax.
o M. pectoralis major, m.pectoralis minor, m.subclavius, dan m. serratus anterior

b. Musculus thoracoappendicular Posterior dan scapulohumeral


o Superficial (cervico-) posterior thoracoappendicullar (extrinsic shoulder)
muscles: trapezius dan latissimus dorsi
o Deep posterior (cervico-) thoracoappendicullar (extrinsic shoulder) muscles:
levator scapulae dan rhomboids
o Scapulohumeral (intrinsic shoul;der) muscles: deltoid, terres major, dan 4
rotator

cuff muscles

(supraspinatus,

infraspinatus,

teres

minor, dan

subscapularis)

32

33

c. Musculus brachii (muscles of arm)


1. Kompartemen anterior (3 fleksor): musculus biceps brachii, brachialis, dan
coracobrachialis
2. kompartemen posterior (1 ekstensor): triceps brachii

34

35

d. Musculus antebrachii (muscles of Forearm)

36

37

e. Muscles of Wrist, hand, and finger

38

39

40

Lower limb
a. Regio Gluteal
o M. gluteus (maximus, medius, minimus) sebagai otot ekstensor dan abductor
paha pada articulation coxae
o Sekelompok otot kecil (m.piriformis, m.obturator internus, 2 m. gamelli, m.
quadratus femoris) sebagai otot eksorotator paha articulation coxae

b. Regio Femoris
Terbagi dalam 3 kompartemen oleh septum intermuscular dari fascia lata.
1. Kompartemen Anterior
o M. iliapsoas: terdiri dari musculus psoas mayor dan m.iliacus
o M. tensor fascia latae: sebuah otot fusiform (berbentuk kumparan) yang
menyerupai tali pegangan (straplike) dan terdapat pada sisi lateral
paha, terbungkus dalam lembar ganda fascia latae
o M.pectineus: berbentuk segiempat, pipih, berperan dalam aduksi paha
o M. sartorius: otot paling superficial pada paha anterior

41

o M. quadriceps femoris: otot ekstensor tungkai bawah pada articulation genue


yang menutupi bagian femur anterior, medial, dan lateral. Terdiri dari
musculus rectus femoris (anterior), m.vastus lateralis (lateral), m.vastus
medialis (medial), dan m.vastus intermedius (di sebelah dalam m.rectus
femoris, antara m.vastus medialis dan m.vastus lateralis)
2. Kompartemen Medial
o M. adductor longus: paling anterior
o M. adductor brevis
o M. adductor magnus
o M. gracilis
o M. obturator externus

Trigonum Femorale

42

Ligamentum

inguinal

(proksimal)

o M. adductor longus (medial)


o M. sartorius (medial)

3. Kompartemen Posterior (hamstring muscle)


o M. bicepsfemoris
43

o M. femitendineus
o M. semimembranosus

44

c. Regio

Cruris

45

46

Kompartemen anterior (dorsofleksor sendi pergelangan kaki dan fleksor jari-jari kaki)
o M. tibialis anterior
o M. extensor hallucis longus
o M. extensor digitalis longus
o M. fibularis (peroneus) tertius

Kompertemen Lateral
o M. fibularis (peroneus) longus
o M. fibularis (peroneus) brevis

Kompartemen Posterior
1. pars superficialis
o m. gastrocnemius dan m. soleus membentuk triceps surae, memiliki tendon
lekat bersama pada calcaneus (tentdon calcaneus Acholes)
o

m. Plantaris

47

2. pars profunda
o m. popliteus
o m.fleksor hallucis longus
o m.fleksor digitorum longus
o m.tibialis posterior

d.

Regio Pedis

- Terdapat 4 lapis otot


- Terdapat dua bidang neurovskular (sebuah bidang superficial antara lapis otot
pertama dan lapis otot kedua, dan sebuah bidang profunda antara lapis otot
ketiga dan lapis otot keempat)
- Pada dorsum pedis terdapat m. ekstensor digitorum brevis dan m. ekstensor
hallucis brevis

48

HISTOLOGI SISTEM MUSKULOSKELETAL

HISTOLOGI TULANG

Berdasarkan perbandingan jumlah matriks dan jumlah rongga (spaces), tulang


dibedakan menjadi tulang spongiosa dan tulang kompakta.
Tulang spongiosa terdiri dari trabekula, yaitu bentukan tulang yang
langsing, tidak teratur, bercabang, dan saling berhungan membentuk
anyaman. Celah-celah diantara anyaman ini ditempati oleh sumsum tulang.
Tulang kompakta jumlah dan ukuran rongga lebil kecil dari tulang
spongiosa, serta jumlah bahan padat lebih banyak.

Pada tulang pipa, bagian diafisis sebagian besar terdiri dari tulang kompakta
mengelilingi sumsum. Sedangkan bagian epifisis terdiri dari tulang spongisa
dibungkus selapis tulang kompakta, rongga pada tulang spongiosa berhubungan
langsung dengan sumsum tulang.

Pada tulang pipih, 2 lapis tulang kompakta melapisi selapis tulang spongiosa
(diploe).

Pada tulang irregular, tulang spongiosa dibungkus tulang kompakta.

Cirri utama tulang (osteo) secara mikroskopik adalah susunannya yang lamellar
(subtantia intersel yang mengalamiperkapuran) atau berlais-lapis (lamel-lamel).

Tiap tulang kecuali bagian sendinya dibungkus jaringan ikat khusus yang disebut
periosteum. Pada bagian dalam terdapat endosteum yang membatasi rongga
dan celah sumsum.

49

Matriks tulang:
Bersifat asidofilik, tersusun berlapis-lapis, tebalnya 5-7 mikron.
Matriks tulang terdiri dari 35% komponen organik yaitu kolagen dan
proteoglikan, serta 65% material inorganik (mineral). Kolagen pada tulang
merupakan kolagen jaringan ikat yang mirip kolagen tipe I jaringan ikat
longgar berfungsi dalam fleksibilitas tulang. Mineral yang terdapat pada tulang
adalah kristal kalsium fosfat (hidroksiapatit) [Ca 10(PO4)6(OH)2].

Sel- sel tulang

sel osteoprogenitor berbentuk gelendong, inti pucat, memanjang, dan sitoplasma


jarang. Sel ini merupakan stem sel. Sel osteoprogenitor terdapat di dalam
periosteum, endosteum, dan saluran vaskular tulang kompakta. Ada 2 jenis sel
osteoprogenitor yaitu preosteoblas dengan jumlah retikulum sarkoplasma sedikit dan
preosteoklas dengan jumlah mitokondria dan ribosom banyak.

osteoblas bentuk sel: dari koboid hingga piramidal atau seringkali berupa
lembaran utuh menyerupai epitel; inti besar, memiliki satu nukleolu; retikulum
sarkoplasma luas; banyak ribosom; sitoplasma sangat basofilik dikarenakan adanya
nukleoprotein (untuk sintesis material organik matriks). Osteoblas ditemukan pada
permukaan tulang.
Kolagen dan proteoglikan yang diproduksi osteoblas di eksositosis dengan
vesikel

badab

Golgi.

Selain

itu

diproduksi

juga

vesikel

yang

mengakumulasikan Ca2+, PO42- dan enzim fosfatase alkalin. Semuanya


berperan dalam kalsifikasi tulang.
Osteoblas mempunyai tonjolan-tonjolan sitoplasma mirip jari yang
menjulur ke dalam matriks yang sedang dibentukdan berhubungan
dengan tonjolan-tonjolan sitoplasma osteoblas yang berdekatan.

50

Osteosit merupakan osteoblas yang terpendam dalam matriks;


sitoplasmanya basofil ringan, intinya terpulas gelap; terdapat gap junction
atau

maculae

communicantes

yaitu

tempat

bertemunya

tonjolan

sitoplasma dalam kanalikuli. Tonjolan ini pada orang dewasa sebagian


besar telah ditarik kembali, tetapi kanalikuli tetap ada untuk aliran
metabolit dari darah dan osteosit. Kanalikuli tidak mengandung serat.
Osteosit ini relative tidak aktif. Tempat (suatu ruang) dimana osteosit
berada disebut lacuna.

Osteoklas berfungsi untuk resorpsi.


Sel raksasa, inti banyak, sitoplasmanya mengandung vakuol-vakuol,
terdapat dekat permukaan tulang, seringkali dalam lekukan dangkal yang
dikenal sebagai lacuna howship . osteoklas berasal dari sel-sel mononuklir
(monosit) sumsum tulang hemapoietik.
Osteoklas mengeluarkan kolagenase dan enzim proteolitik lain yang
menyebabkan

matriks

tulang

melepaskan

substansi

dasar

yang

mengapur.

Arsitektur tulang
Tulang spongiosa terdiri atas trabekula

yang terdiri atas lamel-lamel dan

padanya terdapat lacuna dan sistem kanalikuli tang saling berhubungan. Pada
prenatal dan penyembuhan fraktur serat kolagen teranyam tidak teratur (woven
bone).
Tulang kompakta lamelnya tersusun teratur. Terdapat saluran Havers yang
saling bebas berhubungan melalui saluran serong atau melintang. Dari
periosteum dan endosteum masuk saluran Volkmann (saluran nutrisi) secara
tegak lurus ke dalam tulang dan berhubungan dengan saluran Havers.

51

Setiap saluran Havers dikelilingi 5 20 lamel konsentris. Lamel, sel-sel, dan


saluran pusatnya membentuk sistem Havers atau osteon. Kanalikuli sistem
havers akan berhubungan langsung dengan saluran Havers. Celah diantara
sistem HAvers diisi oleh lamel interstitial . pada permukaan tepi luar dan dalam
tulang, dipandang dari rongga sumsum, terdapat lamel-lamel yang berjalan
sejajar dengan permukaan dan melingkar terhadap sumbu panjang tulang,
dikenal sebagai lamel general luar dan dalam.
Selain serat kolagen pada lamel, terdapat pula berkas kolagen kasar, serat
Sharpey, pada lapisan luar tulang, berjalan dari periosteum ke lamel general luar
dan lamel interstitial (tidak terdapat pada sistem Havers dan lamel general
dalam). Fungsi serat ini untuk menahan periosteum secara erat pada tulang dan
banyak terdapat pada insersi ligament dan tendo.

52

Histologi Sendi

Sendi ialah tempat bertemu 2 atau 3 unsur rangka, baik tulang/tulang rawan
Jenis :
1. Sendi Temporer : terdapat selama masa pertumbuhan, menghilang bila
petumbuhan berhenti dan epifisis menyatu dengan bagian batang
2. Sendi Permanen
Jenis sendi berdasarkan susunannya :
1. Sendi fibrosa (disatukan oleh jaringan ikat padat fibrosa)
Macam-macamnya :
-

Sutura : Bila penyatuannya sangat kuat, hanya terdapat di tengkorak.


Sendi ini tidak permanen, karena dapat diganti dengan tulang di kemudian
hari

Sindesmosis : Bila disatukan oleh jaringan ikat fibrosa yang lebih banyak
dari sutura
Ex :sendi radioulnar, sendi tibiofibular

Gomfosis : Bila jaringan fibrosa penyatu membentuk membran periodontal


Ex : pada gigi dalam maksila dan mandibula

2. Sendi tulang rawan / sendi kartilaginosa sekunder


Permukaan tulang yang berhadapan dilapisi lembar-lembar tulang rawan
hialin yang dipersatukan oleh lempeng fibrokartilago
Ex : simfisis, diskus

53

3. Sendi Sinovia
-

Tulang-tulang ditahan menjadi 1 oleh simpai sendi dan permukaan yang


berhadapan dilapisi tulang rawan sendi (C. Hialin atau C. Fibrosa hanya
pada fosa glenoid dan acetabulum)

Simpai sendi, lapisan luarnya ialah jaringan ikat padat kolagen yang
menyatu dengan periosteum yang membungkus tulang dan di beberapa
tempat menebal membentuk ligamen sendi.

Lapis dalam simpai (membran sinovia), membatasi rongga sendi,


mengandung kapiler lebar.
Jenis sel sinovia :
- Sel A/M : paling banyak, mirip makrofag (fagositosis aktif),
sitoplasmanya banyak

mengandung

mitokondria,

vesikel

mikropinositik, lisosom, aparat Golgi


- Sel B/F : kurang berkembang, menyerupai fibroblas, RE granular
sangat luas

Membran sinovial sering menjulur ke dalam rongga sendi berupa lipatan


kasar/vili sinovia, dan dapat menonjol keluar menembus lapis luar simpai
di antara tendo dan otot membentuk saku yang disebut bursa.

Juga menghasilkan cairan sinovia : hasil dialisis plasma darah dan limf,
mengandung musin (asam hialuronat terikat protein). Fungsi : pelumas
dan nutritif untuk sel tulang rawan sendi

Rongga sendi terbagi sebagian / seluruhnya (terkadang) oleh diskus intraartikular.

54

Histologi Otot
Otot Skeletal

Tiap otot terbungkus selapis jaringan ikat agak padat yang disebut epimisium.

Di dalamnya terdapat serat-serat otot yang tersusun di dalam berkas atau


fasikulus.

Masing-masing berkas diselubungi jaringan ikat tipis, yaitu perimisium.

Panjang serat otot + 1 40 mm, dan berdiameter + 10-100 mikron.

Dalam suatu serat terdapat banyak inti, sekitar 35 inti tiap mm panjang serat otot.

Terdapat Sarkolema yang merupakan membran tipis tanpa struktur yang


membungkus serat.

Sarkolema berisi filamen silindris yaitu Miofibril.

Sarkolema pada bagian dekat inti juga banyak mengandung sarkosomsarkosom, aparat golgi, sejumlah butir lipid, dan glikogen.

Foto Mikrograf Otot Skeletal

Fotomikrograf Serat-serat Otot


Lurik - Potongan Melintang

55

Fotomikrograf Serat-serat Otot


Lurik - Potongan Memanjang

Serat-serat Otot lurik

Berkas-berkas Miofibril

56

Otot Jantung

Otot jantung bersifat involunter, berkontraksi secara ritmis dan automatis.

Hanya terdapat pada lapisan miokard dan dinding pembuluh darah besar yang
secara langsung berhubungan dengan jantung.

Terdapat suatu satuan linear yang terdiri atas sejumlah sel otot jantung yang
terikat end-to-end yaitu Diskus Interkalaris.

Di antara serat-serat otot terdapat jaringa ikat halus yaitu Endomisisum.

Terbungskus suatu sarkolem tipis, serupa pada otot skeletal.

Terdapat sarkoplasma dengan banyak mitokondria.

Struktur Halus:
Miofilamen mengandung aktin dan miosin yang sama dengan yang terdapat pada
otot skeletal dan memeperlihatkan struktur yang sama, namun pengelompokan
miofilamin menjadi miofibril tidak sesempurna otot skeletal.

Tubul T Merupakan invaginasi dari sarkolema, dan merupakan perpanjangan dari


ruang ekstraseluler.

Diskus Interkalaris Merupakan batas suatu kelompok sel yang khusus. Melintasi
serat-serat otot

dalam bentuk tangga yang mempunyai bagian transversal dan

longitudinal. Terdapat pula banyak Intermediate Junction atau fascia adherens, dan
Gap Junction atau neksus pada bagian yang memanjang.

57

Mikrograf Elektron OtotJantung

Potongan Melintang Serat-serat Otot Jantung

58

Otot Polos

Merupakan jenis otot involunter.

Terutama tedapat pada bagian visceral, membentuk bagian kontraktil.

Otot-otot ini terdapat pada sistem pernapasan, sistem urinaria, dan sistem
reproduksi.

Struktur Halus

Pada sarkoplasma sekitar inti, terdapat mitokondria, sejumlah elemen dar


retikulum granular dan ribosom-ribosom bebas, suatu aparat golgi kecil, glikogen
dan sedikit titik-titik lipid.

Serat-seerat retikuler dan elastin mengisi celah-celah interseluler sempit.

Serat-serat Otot Polos

59

MEKANISME KONTRAKSI OTOT RANGKA

A. Secara Umum:
1. Potensial aksi pada saraf motorik sampai ke ujung neuromuscular.
2. Di ujung saraf, asetilkolin disekresikan dalam jumlah sedikit.
3. Asetilkolin bekerja di area setempat pada membrane serat otot untuk
membuka banyak saluran bergerbang asetilkolin.
4. Saluran asetilkolin yang terbuka memungkikan ion Na mengalir ke dalam
membrane serat otot pada titik terminal saraf sehingga akan timbul
potensial aksi dalam serat otot.
5. Potensial aksi kemudian menjalar di sepanjang serat otot.
6. Potensial aksi kemudian menimbulkan sepolarisasi membrane yang
kemudian menyebabkan reticulum sarkoplasma mengeluarkan ion Ca ke
myofibril.
7. Ion Ca dalam myofibril menimbulkan pergerakan filament aktin dan myosin
yang menyebabkan kontraksi otot.
8. Kurang dari satu detik kemudian, ion Ca dilepas dan dikembalikan ke
reticulum sarkoplasma sampai ada potensial aksi selanjutnya.

60

B. Filamen Kontraktil

1. Aktin:

Tersusun atas:

Molekul globular G aktin:

o Memiliki 1 molekul ADP yang digunakan untuk berinteraksi dengan jembatan


silang myosin.

Memiliki sisi aktif tenpat berikatan dengan kepala miosin

2 rantai fibrous actin (F aktin)

o Membentukuntai ganda double helix yang setiap perputarannya terdiri atas 13 G


aktin.
o Terdiri atas 200 G aktin

Tropomyosin

o Tropomiosin menutup sisi aktif di 7 G aktin pada setiap pilin double helix
sehingga sisi aktifnya tidak dapat berikatan dengan myosin dan terjadi relaksasi
otot.

61

Troponin

o Troponin I: berafinitas tinggi terhadap aktin


o Troponin T: berafinitas tinggi terhadap tropomiosin.
o Troponin C: berafinitas tinggi terhadap ion Ca

Bagian dasar filament aktin disisipkan dengan kuat ke lempeng Z,


sedangkan ujung lainnya menonjol ke dalam sarkomer yang
berdekatan dan berada di ruang antar molekul.

2. Miosin

Memiliki 2 rantai berat yang saling berpilin dengan kepala menonjol di


setiap ujungnya.

Memiliki 2 rantai ringan pada setiap kepala

62

Bagian penting:

Bagian

kepala

dapat

berikatan

dengan

sisi

aktif

aktin

membentuk cross bridges.

Bagian kepala menempel pada bagian berpilin oleh lengan.

Bagian kepala memiliki aktivitas ATPase untuk menghasilkan


energy untuk membengkokkan lengan saat kontraksi sehingga
filament aktin bergerak.

Dibentuk oleh 200 atau lebih filament miosin tunggal.

63

C. Mekanisme Kontraksi dan relaksasi Otot Secara Molekular


1. Sebuah potensial aksi diproduksi di neuromuscular junction yang berjalan

sepanjang sarkolema otot lurik, menyebabkan depolarisasi menyebar di


sepanjang membrane tubulus T.

2. Depolarisasi pada tubulus T menyebabkan terbukanya voltage-gated Ca

channels dan meningkatkan permeabilitas RS terhadap Ca, sehingga Ca


keluar ke sarkoplasma.

3. Ca dalam sarkoplasma kemudian berikatan dengan protein troponin


menyebabkan tropomiosin bergeser sehingga sisi aktif G aktin terbuka.

64

4. Kepala myosin kemudian berikatan dengan sisi aktif aktin membentuk

cross-bridges dan kepala myosin melepas 1 molekul fosfat.

5. Energi di kepala myosin digunakan untuk menggerakkan kepala myosin


menyebabkan aktin bergerak, dan ADP dilepaskan dari kepala myosin.

6. Kedua Z disk pada sarkomer saling mendekat, sehingga mempersempit H


zone.

7. Sebuah molekul ATP berikatan dengan kepala myosin menyebabkan


myosin melepaskan ikatan dengan sisi aktif aktin.

65

8. ATP dipecah menjadi ADP dan fosfat, namun masih berikatan dengan
kepala myosin.

9. Bila Ca masih melekat pada troponin, maka cross-bridges akan terbentuk

kembali, namun bila Ca sudah tidak melekat, terjadi fase relaksasi.

66

EKSITASI KONTRAKSI OTOT RANGKA


HUBUNGAN NEUROMUSCULAR
Serat otot rangka disarafi oleh serat saraf besar dari motoneuron dari medula
spinalis => serat-serat saraf bercabang beberapa kali => merangsang beberapa
ratus serat otot rangka => ujung-ujungnya membuat sambungan neuromuscular =>
ketika serat otot mendekati pertengahan serat => potensial aksi serat menjalar
dalanm 2 arah menuju ujung-ujung serat otot.
Neuromuscular => serat saraf yang bercabang => kompleks terminal cabang
saraf => invaginasi ke dalam serat otot (diluar membran) => terminal akson memiliki
banyak mitokondria yang menyediakan energi untuk sintesis transmiter perangsang
(asetilkolin)
Asetilkolinesterase => merusak asetilkolin

Impuls saraf => sambungan neuromuscular => potensial aksi (depolarisasi)


menyebar ke seluruh terminal => saluran kalsium bergerbang voltase terbuka =>
difusi ion kalsium ke bagian dalam terminal => ion Ca menarik vesikel asetilkolin ke
membran saraf => asetilkolin keluar ke celah saraf dengan eksositosis.

Kompleks reseptor => 5 protein subunit : 2 protein alfa dan masing-masing 1


protein beta, delta. Dan gamma.

Saluran akan terbuka jika 2 molekul asetilkolin melekat secara berurutan


pada dua protein subunit alfa.

Asetilkolin => diameter besar => memungkinkan ion (+) masuk : Na, K, dan
Ca.

67

Lebih banyak ion Na yang mengalir melalui saluran asetilkolin karena :


Hanya

ada 2 ion utama yang cukup besar memberi pengruh muatan kuat (Na di

cairan ekstraseluler; K di intraseluler)


Nilai

potensial (-) pada bagian dalam membran otot menarik ion-ion Na ke dalam

serat
Kesemuanya menimbulkan perubahan potensial setempat pada membran seratserat otot (potensial kempeng akhir) => potensial aksi => kontraksi otot

PEMBUANGAN ASETILKOLIN
Asetikolin dibuang dengan 2 cara :
1. Dihancurkan oleh enzim asetilkolinesterase
2. Difusi keluar dari ruang sinaptik dan tidak lagi tersedia untuk bekerja pada
serat otot
Kesemuanya mencegah perangsangan otot kembali dan dipulihkan dari potensial
aksi.

POTENSIAL AKSI
Untuk menimbulkan

kontraksi => arus listrik harus menembus ke semua

miofibril yang terpisah => dicapai melalui penyebarab di sepanjang tubulus


transversus (tubulus T) => yang berjalan dari satu sisi ke sisi yang lain => retikulum
sarkoplasmik segera melepas ion-ion Ca ke semua miofibril => kontraksi
(mekanisme eksitasi-kontraksi)

RETIKULUM SARKOPLASMA
Tubulus vesikuler => mempunyai ion-ion Ca dalam konsentrasi tinggi dilepas
jika potensial aksi terjadi di tubulus T yang berdekatab => ion Ca yang dilepaskan
berdifusi ke myofibril yang berdekatan, tempat ion Ca berikatan kuat dengan
Troponin C sehingga akan kontraksi.

68

Kontraksi otot berlangsung => selama konsentrasi ion-ion Ca myofibril tetap


tinggi => jika potensial aksi berhenti => pompa Ca yang ada di dinding retikulum
sarkoplasma (yang terus - menerus aktif) => akan memompa ion-ion Ca keluar dari
myofibril kembali ke tubulus sarkoplasma.

Retikulum sarkoplasma => memiliki protein bernama calsequestrin yang


berguna mengikat Ca 40x lebih banyak dari ikatan ionik sehingga mengikat ion Ca
lebih banyak.

Pemindahan Ca ke dalam retikulum => pengosongan total ion-ion Ca dalam


cairan myofibril => konsentrasi ion Ca dalam derajat rendah (kecuali sesaat setelah
potensial aksi).

Perangsangan penuh sistem tubulus T-retikulum sarkoplasma => akan


banyak ion Ca yang dilepas => untuk meningkatkan konsenrrasinya dalam myofibril
sampai sekian molar konsentrasi => lalu ion akan dikosongkan lagi. Pulsasi Ca
dalam serat otot rangka berbeda-beda, tergantung komposisi dan sifat serat ototnya,
tapi pada umumnya terjadi 1/20 detik.

69

METABOLISME OTOT

A. OTOT MELAKSANAKAN TRANSDUKSI ENERGI KIMIA MENJADI ENERGI


MEKANIS
Otot merupakan transduser (mesin) biokimiawi utama yang mengubah energi
potensial (kimia) menjadi energi kinetic (mekanis). Otot, yaitu jaringan tunggal yang
terbesar di dalam tubuh manusia ,membentuk kurang dari 25% massa tubuh pada
waktu lahir , lebih dari 40% pada usia dewasa muda dan kurang dari 30% pada
orang dewasa yang lebih tua.
Sebuah transduser kimia-mekanisyang efektif harus memenuhi bebrapa persyaratan
1. Harus ada pasokan energi kimia yang konstan. Dalam otot vetebrata, ATP dan
kreatin fosfat memasok energi kimia
2. Harus ada sarana untuk mengatur aktivitas mekanis-yaitu kecepatan, lama dan
kekuatan konstraksinya pada otot.
3. Mesisn tersebut harus dihubungkan dengan operator , suatu persyaratan yang
dalam system biologic dipenuhi oleh system saraf
4. Harus ada cara untuk mengembalikan mesisn tersebut kepada keadaan semula.

B. SARKOPLASMA SEL OTOT MENGANDUNG ATP, FOSFOKREATIN DAN


ENZIM GLIKOLISIS
Otot lurik (skeletal muscle) tersusun dari sel serabut otot multinukleus yang dikelilingi
oleh

membran

plasma

yang

bisa

dirangsang

oleh

arus

listrik,

yaitu

sarkolema.sebuah sel serabut otot , yang dapat memanjang mengikuti seluruh


panjang otot, mengandung berkas sejumlah myofibril yang tersusun pararel dan
terbenam di dalam cairan intrasel yang dinamakan sarkoplasma. Di dalam cairan ini
terdapat glikogen, senyawa ATP berenergi tinggi serta serta fosfokreatin dan
sejumlah enzim yang diperlukan untuk glikolisis.

70

C. PEMEBENTUKAN ENERGI
ATP yang diperlukan sebagai sumber energi konstan untuk siklus kontraksi-relaksasi
otot yang dapat dihasilkan
a) Melalui glikolisis dengan menggunakan glukosa darah atau glikogen otot
b) Melalui fosforilasi oksidatif
c) Dari kreatin fosfat
d) Dari 2 molekul ADP dalam sebuah reaksi yang dikatalisis oleh enzim adenilil
kinase

Jumlah ATP dalam otot skeletal hanya cukup untuk menghasilkan energi untuk
kontarksi selama 1-2 detik sehingga ATP harus selalu diperbaharui dari satu atau
lebih sumber diatas menurut keadaan metaboliknya. Karena itu terdapat dua tipe
serabut yang berbeda dalam otot skeletal, yaitu tipe yang satu aktif dalam kondisi
aerob dan tipe lainnya dalam keaadaan anaerob, dan penggunaan setiap sumber
energi dalam taraf yang berlainan

71

Sarkoplasma otot skeletal mengandung simpanan glikogen yang besar dan terletak
dalam granul di dekat pita I. pelepasan glukosa dari glikogen bergantung pada
enzim glikogen fosforilase otot yang spesifik, yang diaktifkan oleh ion kalsium,
epinefrin dan AMP. Untuk menghasilkan glukosa 6-fosfat bagi keperluan glikolisis
dalam otot skeletal, enzim glikogen fosforilase b harus diaktifkan dahulu menjadi
fosforilase a lewat reaksi fosforilasi oleh enzim fosforilase b kinase. Ion kalsium akan
meningkatkan aktivasi enzim fosforilase b kinase yang juga melalui reaksi fosforilasi.
Jadi, ion kalsium akan meningkatkan konstraksi otot maupun mengaktifkan sebuah
lintasan untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan. Hormon epinefrin juga
mengaktifkan glikogenolisis di dalam otot. AMP yang diproduksi melalui pemecahan
ADP selama terjadi latihan otot dapat pula mengaktifkan enzim fosforilase b tanpa
menimbulkan reaksi fosforilasi.
Dalam keadaan aerob ,otot mengasilkan ATP terutama lewat fosforilasi oksidatif.
Sintesis ATP lewat fosforilasi oksidatif memerlukan pasokan oksigen. Otot yang
sangat membutuhkan oksigen sebagai akibat dari kontarksi yang terus-menerus
akan menyimpan oksigen dalam bentuk moietas heme dari myoglobin. Karena
moietas heme , otot yang mengandung myoglobin akan berwarna merah sementara
otot yang kurang atau tidak mengandung myoglobin berwarna putih. Glukosa yang
berasal dari glukosa darahatau dari glikogen endogen, dan asam lemak yang
berasal dari triasilgliserol pada jaringan adiposa, merupakan substrat utama yang
digunakan bagi metabolisme aerob dalam otot.
Kreatin fosfat merupakan simpanan energi yang utama di otot. Kreatin fosfat
mencegah deplesi ATP yang cepat dengan menyediakan fosfat energi tinggi yang
siap digunakan untuk menghasilkan kembali ATP dari ADP. Kreatin fosfat terbentuk
dari ATP dan kreatin pada saat otot berada dalam keadaan relaksasi dan kebutuhan
akan ATP tidak begitu besar. Enzim yang mengkatalis fosforilasi kreati adalah kretain
kinase(CK), yaitu enzim spesifik otot yang dalam klinik digunakan untuk mendeteksi
penyakit otot yanga kut atau kronis.

72

Adenilil kinase melakukan interkonversi adenosin mono-,di- dan trifosfat. Adenilil


kinase megkatalisis pembentukan satu molekul ATP dan satu molekul AMP dari dua
molekul ATP. Reaksi ini dirangkaikan dengan hidrolisis ATP oleh miosin ATPase
pada saat kontraksi otot. AMP yang dihasilkan di atas dapat mengalami deaminase
oleh enzim AMP deaminase dengan membentuk IMP dan ammonia
AMP + H2OIMP +NH3
Jadi, otot merupakan sumber ammonia yang akan dikeluarkan lewat siklus urea
dalam hepar. Enzim 5-nukleotidase dapat juga bekerja pada AMP , sehingga
menyebabkan hidrolisis fosfat dan menghasilkan adenosin
AMP + H2OAdenosin + Pi
Adenosin bekerja sebagai vasodilator yang meningkatkan aliran darah dan pasokan
nutrient pada otot. Selanjutnya, adenosin merupakan substrat bagi enzim adenosin
deminase yang menghasilkan inosin dan ammonia
Adenosin + H2OInosin + NH3
AMP, Pi, dan NH3 yang terbentuk selama berbagai reaksi di atas berlangsung akan
mengaktifkan enzim fozfofruktokinase-1 (PFK-1) sehingga meningkatkan laju
glikolisis dalam otot yang sedang melakukan gerakan cepat seperti pada saat lari
cepat.
Secara umum metabolisme otot dapat digambarkan sebagai berikut

Otot

rangka

berfungsi

anaerob(missal,lari,sprint),

dalam
sehingga

keadaan
glikolisis

aerob(istirahat)

aerob

maupun

dan

anaerob,

keduanya bekerja menurut keadaan.

Otot rangka mengandung myoglobin sebagai tempat simpanan oksigen

Otot rangka mengandung berbagai tipe serabut yang terutama disesuaikan


dengan keadaan anaerob (serabut kedut cepat) dan aerob (serabut kedut
lambat)

73

Aktin, miosin, tropomyosin, kompleks troponin (TpT,TpI,dan TpC), ATP, dan ion
kalsium merupakan unsure penting sehubungan dengan kontraksi

Ca2+ ATPase, saluran pelepasan ion kalsium, dan kalsekuestrin adalah protein
yang terlibat dalam berbagai aspek metabolisme ion kalsium di dalam otot

Insulin bekerja pada otot rangka untuk meningkatkan ambilan glukosa

Dalam

keadaan

kenyang,

sebagian

besar

glukosa

digunakan

untuk

menyintesis glikogen, yang bekerja sebagai tempat penyimpanan glukosa


untuk digunakan pada latihan fisik; preloading dengan glukosa digunakan
oleh beberapa atlet lari jarak jauh untuk membnagun simpanan glikogen

Epinefrin menstimulasi glikogenolisis dalam otot rangka, sedangkan glucagon


tidak, karena tidak ada reseptornya

Otot rangka tidak dapat berperan langsung pada glukosa darah karena tidak
memilki glukosa 6-fosfatase

Laktat yang dihasilkan metabolisme anaerob pada otot rangka akan dibawa ke
hati, yang digunakan untuk menyintesis glukosa yang kemudian dapat kembali
ke dalam otot (siklus Cori)

Otot rangka mengandung fosfokreatin, yang bekerja sebagai cadangan energi


untuk keperluan jangka pendek(sekunder)

Asam lemak bebas dalam plasma merupakan sumber energi utama,


khususnya pada lari marathon dan kelparan yang lama

Otot rangka dapat menggunakan badan keton selama kelaparan

Otot rangka adalah tapak utama metabolisme asam amino rantai bercabang,
yang digunakan sebagai sumber energi

74

Proteolisis otot selama kelaparan akan memasok asam-asam amino untuk


gluconeogenesis

Asam amino utama yang dikeluarkan dari otot adalah alanin(ditujukan terutama
untuk gluconeogenesis di hati dan melakukan sebagian siklus glukosa-alanin)
dan glutamin (ditujukan terutama untuk usus dan ginjal)

75

Regenerasi Tulang

Sesudah patah tulang terdapat perdarahan dari pembuluh darah yang sobek dan
pembekuan.Fibroblas yang berkembang dan kapiler darah memasuki bekuan darah
dan membentuk jaringan granulasi,yaitu prokalus.Jaringan granulasi menjadi
jaringan fibrosa padat dan kemudian berubah menjadi massa tulang rawan.Massa
ini

merupakan

kalus

temporer

yang

mempersatukan

tulang-tulang

yang

patah.Osteoblas berkembang dari periosteum dan endosteum dan meletakkan


tulang spongiosa yang secara progresif menggantikan tulang rawan kalus temporer
dengan cara serupa osifikasi endokondral .Bagian yang menyatukan patah tulang itu
terdiri atas tulang.Kalus tulang ini,yang semula spongiosa, mengalami reorganisasi
menjadi tulang kompakta dan kelebihan tulang akan akan diresorpsi.
Urutan pembentukan

kalus setelah cedera tulang menggambarkan sifat

multipotennnya sel periosteum dan endosteum.Setelah cedera, macam deferensiasi


sel yang akan terjadi tergantung pada persendian pembuluh darah.Pada mulanya
pendarahan
pembuluh

daerah itu (periosteum dan endosteum ) tidak baik,artinya kurang


darahnya,dan

sel-sel

berkembang

ke

jurusan

fibroblas

dan

kondroblas.Setelah masuknya pembuluh-pembuluh darah,terbentuk osteoblas.

Penyembuhan patah tulang


Pada permulaan akan terjadi pendarahan di patahan tulang (karena putusnya
pembuluh darah pada tulang periosteum).
-

FASE HEMATOMA
Hematum ini menjadi pertumbuhan sel jaringan fibrosis dan vaskuler hingga
hematom berubah menjadi jaringan fibrosis dengan kapiler di dalamnya.

Jaringan ini menyebabkan fragmen tulang saling menempel. Jaringan yang


menempelkan

tulang sama dengan kalus fibrosa yang disebutkan sebagai

FASE JARINGAN

FIBROSIS.
76

Ke dalam hematom dan jaringan fibrosis ini tumbuh sel jaringan mesenkim
yang bersifat osteogenik. Sel ini akan berubah menjadi condroblas yang
membentuk condroid yang merupakan bahan dasar tulang rawan. Sedang di
tempat yang jauh dari patahan tulang yang vaskularisasinya lebih banyak, sel
ini akan berubah menjadi osteoblas dan membentuk osteoid yang merupakan
bahan dasar tulang. Condroid dan osteoid pada tahapan selanjutnya terjadi
penulangan/osifikasi. Hal ini menjadikan kalus fibrosa menjjjadi kalus tulang
yang dinamakan FASE PENYATUAN KLINIS.

Selanjutnya terjadi penggantian sel tulang secara berangsur oleh sel tulang
yang mengatur diri sesuai dengan garis tarikan dan tekanan yang bekerja
pada tulang. Lalu sel tulang ini mengatur diri secara lameral seperti tulang
normal, sehingga kekuatan kalus sama dengan kekuatan tulang normal yang
dinamai dengan FASE KONSOLIDASI.

Pendarahan jaringan tulang yang mencukupi untuk membentuk tulang baru


(syarat mutlak penyatuan fraktur). Penyembuhan tulang pendek cepat karena
pendarahan dari perios, simpai sendi dan nutrisi. Patah tulang di daerah
epifisis penyembuhannya baik karena sangant kaya akan darah.

77

FISIOTERAPI

Teknologi Intervensi Fisiot erapi.


Terapi latihan adalah salah satu modalitas fisioterapi dengan menggunakan
gerak tubuh baik secara active maupun passive untuk pemeliharaan dan perbaikan
kekuatan, ketahanan dan kemampuan kardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas,
stabilitas, rileksasi, koordinasi,

keseimbangan dan kemampuan fungsional.

Teknologi intervensi Fisioterapi yang dapat digunakan antara lain :


1. Positioning
Dengan mengelevasikan tungkai yang sakit maka dengan posisi ini
bermanfaat untuk mengurangi oedem.
2.

Rileks passive movement


Merupakan gerakan yang murni berasal dari luar atau terapis tanpa disertai

gerakan dari anggota tubuh pasien. Gerakan ini bertujuan untuk melatih otot secara
pasif, oleh karena gerakan berasal dari luar atau terapis sehingga dengan gerak
rileks passive movement ini diharapkan otot yang dilatih menjadi rilek maka
menyebabkan efek pengurangan atau penurunan nyeri akibat incisi serta mencegah
terjadinya keterbatasan gerak serta menjaga elastisitas otot. Mekanisme penurunan
nyeri oleh gerakan rileks passive movement sebagai berikut : adanya stimulasi
kinestetik berupa gerakan rileks pasif movement yang murni berasal dari luar atau
terapis tanpa disertai gerakan dari anggota tubuh pasien akan merangsang muscle
spindle dan organ tendo golgi dalam pengaturan motorik, fungsi dari muscle spindle
adalah (1) mendeteksi perubahan panjang serabut otot,(2) mendeteksi kecepatan
perubahan panjang otot, sedangkan fungsi dari organ tedo golgi adalah mendeteksi
ketegangan yang bekerja pada tendo golgi saat otot berkontraksi.

78

Dengan terstimulasinya muscle spindle dan organ tendo golgi lewat gerakan rileks
passive movement akan mempengaruhi mekanisme kontraksi dan rileksasi otot,
yaitu bahwa ion-ion calsium secara normal berada dalam ruang reticulum
sarcoplasma. Potensial aksi menyebar lewat tubulus transversum dan melepaskan
Ca 2+. Filamen-filamen actin (garis tipis) menyelip diantara filamen-filamen myosin,
dan garis-garis bergerak saling mendekati. Ca 2+ kemudian dipompakan kedalam
reticulum sarcoplasma dan otot kemudian mengendor. Dengan kedaaan otot yang
sudah mengendor maka penurunan nyeri dapat terjadi melalui mekanismemekanisme sebagai berikut:
(1) Tidak ada lagi perbedaan tekanan intramuscular yang menekan nociceptor
sehingga nociceptor tidak terangsang untuk menimbulkan nyeri.
(2) Dengan gerakan rileks passive movement yang berulang-ulang maka
nociceptor akan beradaptasi terhadap nyeri.
Suatu sifat khusus dari semua reseptor sensoris adalah bahwa mereka beradaptasi
sebagian atau sama sekali terhadap rangsang mereka setelah suatu periode waktu.
Yaitu, bila suatu rangsang sensoris kontinu bekerja untuk pertama kali, mula-mula
reseptor tersebut bereaksi dengan kecepatan impuls yang sangat tinggi, kemudian
secara progresif makin berkurang sampai akhirnya banyak diantaranya sama sekali
tidak bereaksi lagi . Hal ini dapat pula untuk menentukan dosis gerakan rileks
passive movement agar dapat menstimulasi muscle spindle.
Mekanisme umum dari adaptasi dibagi dua yaitu :
(1) Sebagian adaptasi disebabkan oleh penyesuaian didalam struktur reseptor itu
sendiri,
(2) Sebagian disebabkan oleh penyesuaian didalam fibril saraf terminal.
(3) Dengan mengendornya otot melalui gerakan rileks passive movement akan
mempengaruhi spasme otot dan iskemi jaringan sebagai penyebab nyeri.

79

Spasme otot sering menimbulkan nyeri alasanya mungkin dua macam, yaitu :
(1) Otot yang sedang berkontraksi menekan pembuluh darah intramuscular dan
mengurangi atau menghentikan sama sekali aliran darah,
(2) Kontraksi otot meningkatkan kecepatan metabolisme otot tersebut. Oleh karena
itu , spasme otot mungkin menyebabkan iskemi otot relatif sehingga timbul nyeri
iskemik yang khas.
Penyebab nyeri pada iskemik belum diketahui, salah satu penyebab nyeri
pada iskemik yang diasumsikan adalah pengumpulan sejumlah besar asam laktat
didalam jaringan, yang terbentuk sebagai akibat metabolisme anaerobic yang terjadi
selama iskemik, tetapi, mungkin pila zat kimia lain, seperti bradikinin dan
poliopeptida, terbentuk didalam jaringan karena kerusakan sel otot dan bahwa inilah,
bukannya asam laktat yang merangsang ujung saraf nyeri.
3 Passive joint mobility
Gerakan tubuh manusia terjadi pada persendian. Macam gerakan dan ROM
tergantung dari struktur anatomi sendi, juga posisi otot yang mengontrol gerakan
tadi.
Kapsular ligament yang seluruhnya terdapat didalam kapsul sendi akan
memberikan penguat terhadap synovial membrane, dimana synovial membrane tadi
akan mengeluarkan cairan kedalam rongga sendi yang menjamin gerakan sendi
tetap licin, juga memberikan makan terhadap cartilago.
Pada kaki banyak terdapat persendian, sehingga memungkinkan kaki dapat
berjalan, menyesuaikan bermacam-macam permukaan dan tampak lentur atau
mengeper.
4 Active exercise
Merupakan gerakan yang dilakukan oleh otot-otot anggota tubuh itu sendiri.
Gerak dalam mekanisme pengurangan nyeri dapat terjadi secara reflek dan disadari.
Gerak yang dilakukan secara sadar dengan perlahan dan berusaha hingga
mencapai lingkup gerak penuh dan diikuti rileksasi otot akan menghasilkan
penurunan nyeri.

80

Mekanisme gerak yang disadari dalam penurunan nyeri adalah bahwa


perananan muscle spindle sangat penting dalam mekanisme ini, sama pentingnya
dalam penurunan nyeri dengan menggunakan gerakan pasif. Untuk menekankan
pentingnya system eferen gamma, eferen gamma adalah suatu serabut saraf kecil
yang bertugas merangsang ujung-ujung serabut intrafusal agar daerah sentral
berkontraksi. Orang perlu menyadari bahwa 31 persen dari semua serabut saraf
motorik ke otot merupakan serabut eferen gamma, bukannya serabut motorik besar
jenis A alfa. Bila sinyal dikirimkan dari korteks motorik atau dari daerah otak lain
apapun ke motoneuron gamma hampir selalu terangsang pada saat bersamaan. Ini
menyebabkan serabut otot ekstrafusal dan intrafusal berkontraksi pada saat yang
sama.
Tujuan mengkontraksikan serabut muscle spindle pada saat bersamaan
dengan kontraksi serabut otot rangka besar mungkin ada dua macam :
(1) mencegah muscle spindle menentang kontraksi otot,
(2) mempertahankan sifat responsif muscle spindle terhadap peredaman dan
beban yang tepat dengan tidak menghiraukan perubahan panjang otot.
Dengan bekerjanya muscle spindle secara sadar dan optimal maka dengan
mekanisme adaptasi dan rileksasi akan menimbulkan penurunan nyeri.
Active exercise terdiri dari assisted exercise, free active exercise dan resited
active exercise. Assisted exercise dapat mengurangi nyeri karena merangsang
rileksasi propioseptif. Resisted active exercise dapat meningkatkan tekanan otot,
dimana latihan ini akan meningkatkan rekruitment motor unit-motor unit sehingga
akan semakin banyak melibatkan komponen otot yang bekerja, dapat dilakukan
dengan peningkatan secara bertahap beban atau tahanan yang diberikan dengan
penurunan frekuensi pengulangan. Mekanime peningkatan kekuatan otot melalui
gerakan resisted active execise adalah dengan adanya irradiasi atau over flow
reaction akan mempengaruhi rangsangan terhadap motor unit, motor unit
merupakan suatu neuron dan group otot yang disarafinya. Komponen-komponen
serabut otot akan berkontraksi bila motor unit tersebut diaktifir dengan memberikan
rangsangan pada cell (AHC)nya. Jadi kekuatan kontraksi otot ditentukan motor
unitnya, otot akan berkontraksi secara kuat bila otot tersebut semakin banyak
menerima rangsangan motor unitnya.

81

Karena

otot

terdiri

dari

serabut-serabut

dengan

motor

unit

yang

mensyarafinya, maka kontraksi otot secara keseluruhan tergantung dari jumlah


motor unit yang mengaktifir otot tersebut pada saat itu. Jumlah motor unit yang
besar akan menimbulkan kontraksi otot yang kuat, sedangkan kontraksi otot yang
lemah hanya membutuhkan keaktifan motor unit relatif lebih sedikit.
5.

Latihan jalan

Aspek terpenting pada penderita fraktur tungkai bawah adalah kemampuan


berjalan ,latihan yang yang dilaksanakan adalah ambulasi non weight bearing,
dengan menggunakan alat bantu berupa 2 buah kruk, caranya kedua kruk
dilangkahkan kemudian diikuti kaki yang sehat sementara kaki yang sakit
menggantung. Syarat berjalan dengan alat Bantu (1) Otot-otot lengan harus kuat, (2)
Harus mempertahankan keseimbangan dalam posisi berdiri dengan alat bantu, (3)
Bisa berdiri lama minimal 15 menit.
Penatalaksanaan fisioterapi pada fraktur dengan pemasangan illizarov

82

Ilizarov, Bone lengthening, Bone distraction osteogenesis atau Callotaxis


adalah suatu istilah yang sama dalam program pemanjangan tulang. Ilizarov
dikembangkan pertama kali oleh seorang dari Siberia Rusia yang bernama
Gabriel Abramovich Ilizarov. Ilizarov adalah suatu alat eksternal fiksasi yang
berfungsi untuk menjaga agar tidak terjadi pergeseran tulang dan untuk
membantu dalam proses pemanjangan tulang (Ismail Maryanto, 2003).

Indikasi pemasangan Ilizarov : (1) Menyamakan panjang lengan atau tungkai


yang tidak sama, (2) Menyamakan dan menumbuhkan daerah tulang yang hilang
akibat patah tulang terbuka yang hilang, (3) Membuang tulang yang infeksi dan diisi
dengan cara menumbuhkan tulang yang sehat, (4) Menambah tinggi badan,baca
selengkapnya.
Kontra indikasi pemasangan Ilizarov : (1) Open fraktur dengan soft tissue
yang perlu penanganan lanjut yang lebih baik bila dipasang single planar fiksator, (2)
Fraktur intra artikuler yang perlu ORIF, (3) Simple fraktur (bisa dengan pemasangan
plate and screw nail wire), (3) Fraktur pada anak (fresh).
Prosedur pemutaran Ilizarov : (1) Pada rod (batang berulir) diameter 8 mm
pemutaran penuh satu lingkaran (360) setara dengan pergerakan 1,2 mm, (2)
Pada rod 6 mm setara dengan 1 mm, (3)

83

Proses pemanjangan tulang dalam sehari maksimal 1 mm dan dibagi dalam


beberapa kali siklus pemutaran.
Kekurangan dari system Ilizarov adalah (1) Waktu operasi lama,

(2)

Perawatan lama perlu kerja sama yang baik dengan pasien, (3) Nyeri, (4) Potensial
terjadi gangguan neurovaskuler, (5) Penderita harus kontrol secara teratur, (6) Siap
secara psikologis bagi pemakainya, (7) Kaku Sendi.

84

RADIOLOGI DIAGNOSTIK
Fraktur
Bila secara klinis ada atau diduga ada fraktur, maka harus dibuat 2 foto tulang
yang bersangkutan. Sebaiknya dibuat foto anteroposterior (AP) dan lateral. Bila
kedua proyeksi ini tidak dapat dibuat karena keadaan pasien yang tidak
mengizinkan, maka dibuat 2 proyeksi yang tegak lurus satu sama lain.
Bila hanya 1 proyeksi yang dibuat, ada kemungkinan fraktur tidak dapat
dilihat. Kadang diperlukan proyeksi khusus, misalnya proyeksi aksial, bila ada fraktur
pada femur proksimal atau humerus proksimal.
Hal-hal yang Harus Diperhatikan Pada Pemeriksaan Foto Roentgen
Ada atau tidak fraktur
Lokasi
Tipe / jenis fraktur dan kedudukan fragmen
Struktur tulang ( biasa, patologik)
Bila dekat / pada persendian
o Ada atau tidak dislokasi
o Ada atau tidak fraktur epifisis
Adakah pelebaran sela sendi karena efusi ke dalam rongga sendi

Pemeriksaan Radiologik Selanjutnya


Yaitu untuk kontrol :
Segera setelah reposisi untuk menilai kedudukan fragmen. Bila dilakukan
reposisi terbuka perlu diperhatikan kedudukan pen intramedular ( kadang-kadang
pen menembus tulang ), plate dan screw (kadang-kadang screw lepas).
Pemeriksaan periodik untuk menilai penyembuhan fraktur

85

o Pembentukan callus
o Konsolidasi
o Remodelling ; terutama pada anak-anak
o Adanya komplikasi

Komplikasi Pada Fraktur yang Dapat Dilihat Pada Foto Roentgen


Adalah :

Osteomielitis : terutama pada fraktur terbuka

Nekrosis avaskular : hilangnya atau terputusnya supply darah pada suatu


bagian tulang sehingga menyebabkan kematian tulang tersebut. Sesuai dengan
anatomi avaskular tersebut, maka nekrosis avaskular pascatrauma sering terjadi
pada kaput femoris yaitu pada fraktur kolum femoris, pada navikulare manus,
dan talus.

Non-union : biasanya karena immobilisasi tidak sempurna. Juga bila ada


interposisi jaringan di antara fragmen-fragmen tulang. Radiologis terlihat adanya
sklerosis pada ujung-ujung fragmen sekitar fraktur dan garis patah menetap.

Delayed-union : umumnya terjadi pada :


o Orang-orang tua karena aktivitas osteoblas menurun
o Distraksi fragmen-fragmen tulang karena reposisi kurang baik, misalnya traksi
terlalu kuat atau fiksasi internal kurang baik
o Defisiensi vitamin C dan D
o Fraktur patologik (fraktur yang terjadi pada tulang yang sebelumnya telah
mengalami proses patologik, misalnya tumor tulang primer)
o Adanya infeksi

Mal-union : disebabkan oleh reposisi fraktur yang kurang baik, timbul deormitas
tulang

86

Atrofi Sudeck : suatu komplikasi yang relatif jarang pada fraktur ekstremitas,
yaitu adanya disuse osteoporosis yang berat pada tulang distal dan fraktur
disertai pembengkakan jaringan lunak dan rasa nyeri.

Fraktur dan Dislokasi Pada Sendi Panggul dan Femur


Dislokasi sendi panggul

Dislokasi posterior : paling sering

Dislokasi anterior : jarang, akibat abduksi berlebihan

Dislokasi sentral : dengan fraktur asetabulum

Fraktur dislokasi sendi panggul


Fraktur asetabulum dibagi dalam 4 tipe, yaitu :
1. fraktur rima posterior
2. fraktur pars ilio-iskial
3. fraktur transversal
4. fraktur pars ilio-pubuk
Kaput femoris cenderung mengalami subluksasi atau dislokasi pada masing-masing
tipe ini.
Fraktur Kollum Femoris
Terutama pada orang-orang tua dan yang tulangnya porotik. Bila fraktur
intrakapsuler, hal ini sering mengakibatkan nekrosis avaskular kaput femur karena
terputusnya aliran darah ke kaput femur. Pembentukan kallus pada fraktur kollum
femur biasanya sedikit. Penentuan konsolidasi terutama didasarkan adanya
kontinuitas trabekula melalui garis fraktur.

87

Fraktur dan Dislokasi Pada Lutut dan Tungkai Bawah


Fraktur Patella

fraktur kominutiva : disebabkan trauma langsung

fraktur transversal : biasanya disebabkan kontraksi otot kwadriseps femoris

fraktur vertikal : kadang-kadang hanya dapat dilihat pada foto aksial

fraktur suprakondiler femur


Bila fraktur kominutiva, garis fraktur dapat menuju sendi di daerah interkondiler.
Fraktur tibia proksimal

fraktur kondilus medial atau lateral tibia (tibial plateau fracture)

fraktur avulsi dari eminensia interkondiloidea, biasanya dengan ruptur


ligamen krusiatum anterior

Fraktur dan Dislokasi Pada Pergelangan Kaki


Banyak fraktur disertai subluksasi atau dislokasi dan dikenal sebagai fraktur Pott
(Pott Fracture). Klasifikasi menurut Lauge-Hansen :

tipe adduksi

tipe adduksi dan rotasi eksternal

tipe abduksi

tipe abduksi dan rotasi eksternal

tipe kompresi vertikal

Paling sering tipe abduksi dengan rotasi eksternal. Biasanya, beratnya kelainan
pada sendi dinyatakan dalam derajat I, II, III sesuai fraktur pada maleolus, termasuk
bagian posterior tibia yang dianggap sebagai maleolus posterior. Jadi pada derajat I
hanya terdapat fraktur pada satu maleolus ; derajat II fraktur pada kedua maleolus
dan seterusnya.

88

Daftar Pustaka

Appley,A.G and Louis Solomon.(1995).Terjemahan Ortopedi dan Fraktur Sistem


Appley ( edisi ke7).Widya Medika.
Chusid,

J.G.(1993).Neuroanatomi

Korelatif

dan

Neurologi

Fungsional

(edisi

empat).Yogyakarta : Gajah Mada University Press.


Gerhardt, j. John and Russe, A. Cotto.(1995). International SFTR Method of
Measuring and Recording Joint Motion. Stugart : Hans huber Publiser.
Guyton

&

Hall,

Textbook

of

Medical

Physiology,

available

in

server.fkunram.edu/fisiologi
Hassenkam ,Marie.(1999). Soft Tissue Injuries. In Atkinson Karen, et.all.Physioterapi
in Orthopaedic.Philadelpia : F.A davis Company.
Kenneth S. Saladin. 2007. Anatomy & Physiology, the Unity of Form and Function.
Fourth

Edition. available in server.fkunram.edu/anatomi fisiologi

Keith L. Moore, Athur F. Dalley. 5thEd. 2006.Clinically Oriented Anatomy.


Kisner,Carolyn and Lynn Colby. (1996). Therapeutic Exercise Foundation and
Techniques ( third edition). Philadelphia : F.A Davis Company.
Kumar, et. All. (1992). Basic Pathology (fifth edition). Philadelpia :W. B Saunder
Company.
Lachmann, Sylvia. (1988). Soft Tissue Injuries in Sport. London : Blackwell scientific
Publication.
Leeson dan Leeson. 2000. Buku Ajar Histologi. Penerbit EGC : Jakarta

89

Mc Rae,Ronald. (1994) . Practical Fracture Treatment ( third edition). Hongkong.

Murray, Robert K, Granner, Daryl K, etc, 2007 Biokimia Harper. Penerbit EGC,
Jakarta
Norkin,C.Chynthia and D. Joice White. (1995). Measurement of Joint Motion a Guide
to Goniometry ( second edition). Philadelphia : F.A Davis Company.
Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Yarsit Watampone,
Jakarta
Robbins and Cotranz. 2005. Bone, Joint and Soft Tissue in Pathologic Basic of
Disease, 2nd
Seeley,

ed. Elsevier Sanders.

Stephens,Tate,

2004,

Anatomy

and

Physiology,Sixth

Edition,

The

McGrawHill Companies, available in server.fkunram.edu/anatomy fisiologi.


Sjamsuhidayat. 2003. Ilmu Bedah. EGC, Jakarta
Springfield, D.2005. Orthopaedies. in Schwartzs Principle of Surgery. *th ed.
McGrawHill
Sobotta. 2005. Atlas Anatomy Manusia ed 25, EGC Jakarta

90