You are on page 1of 11

PENGARUH BUDAYA “NGOPI” TERHADAP

KEHIDUPAN DAN INTERAKSI SOSIAL MAHASISWA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
NADIM FERNANDO
EMA NOOR SHOFIANA
DANY ARIYANTO
Universitas Negeri Semarang
1. PENDAHULUAN
Mahasiswa adalah sekumpulan pelajar yang mempunyai nilai integritas dan
kedudukan yang tinggi dalam falsafah sosial. Mahasiswa, jika sudah menunjukkan
kemampuan dan kekuasaannya bisa menjadi kekuatan yang luar biasa dengan gerakangerakan, kritik sosial-pemerintahan, ide yang cemerlang, layak dijadikan sebagai
predikat pemimpin bangsa, pengatur, pengamat, juga sebagai awal dimulainya temuantemuan, sampai mahasiswa sebagai aset penerus bangsa bahkan agent of
change(Lindzey, 1993). Selain sebagai agent of change, mahasiswa juga sebagai iron
stock yang berperan besar menentukan wajah bangsa dan membuat Indonesia semakin
berkualitas(Udiutomo, 2011).
Namun, ada hal menarik yang dapat diikuti dari sekumpulan mahasiswa.
Mahasiswa dapat dikatakan dalam struktural organisasi (universitas) yang takut kepada
sang Dosen, karena dosen mempunyai nilai wewenang yang tidak dapat diganggu
gugat. Sementara dosen tunduk dan patuh akan wewenang atasan yaitu Rektor. Rektor,
yang masih berada dalam lingkungan akademis berada dalam kewenangan Dikjen Dikti
(Mendiknas). Mendiknas sebagai pembantu Presiden, tentunya juga tunduk dan patuh
serta bertanggung jawab kepada Presiden. Sejarah mengatakan, dalam kaitan ini ada
lingkaran kematian, yaitu Presiden tunduk kepada Mahasiswa. Lantas dimanakah
kedudukakan tertinggi antara Presiden dan Mahasiswa? inilah sekelumit keunikankeunikan dalam dunia mahasiswa.
Kehidupan mahasiswa memang tidak jauh dengan kegiatan intinya, yaitu
menuntut ilmu, pastinya sesuai dengan prodi yang dipilihnya. Selain itu seorang
mahasiswa juga dapat mengikuti berbagai kegiatan-kegiatan UKM yang diminatinya.
Dari berbagai aktivitas-aktivitas yang dilakukan mahasiswa, proses sosialisasi yang
merupakan hal yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Proses interaksi sosial adalah
hal wajib yang harus dimiliki mahasiswa demi mematangkan dan memupuk kreatifitas
intelektualnya. Proses tersebut dapat dimulai dari diskusi kecil dalam kegiatan
akademis, organisasi bahkan sampai komunitas yang diikuti oleh mahasiswa.
Suatu pemandangan yang unik dan terasa tidak asing karena dalam setiap
kegiatan, aktivitas, ‘kumpul-kumpul‘ tidak sedikit dibarengi dengan kegiatan makanmakan dan atau juga minum-minum. Entah latah atau kebetulan, kehidupan mahasiswa

banyak yang dihabiskan untuk kegiatan ‘nongkrong-nongkrong‘ sesama teman. yang kemudian eksis dengan nama ‘Kok Tong‘. Dekorasi interior yang sophisticated. Terkesan seluruh atmosfer gerai merasa menyatu dengan jiwa para penikmat kopi yang datang dari berbagai latar. yaitu kuliah. dan berawal dari sinilah kopi semakin eksis keberadaannya. Sebagai rumah kopi modern yang memanjakan para penikmat kopi. Kopi. meskipun sebagian mengatakan dengan kegiatan seperti itu justru kuliah tidak akan ada apa-apanya. terkadang banyak non peminum kopi yang datang karena suasana. Modernisasi dan perubahan gaya hidup berdampak pada berubahnya budaya ‘ngopi‘. ruangan dingin beralunkan musik plus fasilitas hotspot untuk berselancar di internet. Dari warung pinggir jalan. berkelas dan kosmopolit. Suatu proses keputusan dalam membeli bukan hanya sekedar mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi pembeli tetapi berdasarkan peranan dalam pengambilan keputusan untuk membeli(Bilson. Proses sosialisasi dan interaksi sosial . Coffe Bean atau Dome seolah menawarkan cara baru untuk menikmati kopi dengan sentuhan gaya hidup. Dengan duduk santai ditemani secangkir kopi dapat membuka cakrawala kehidupan yang mungkin tidak ada pada bangku perkuliahan yang diikuti. Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktifitas. si pendiri sekaligus si empunya yang menurunkan usahanya dengan perkembangan yang pesat di gerai salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Medan. bahkan siang. moka. minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya. ‘ngopi’ juga berhubungan dengan interaksi kehidupan manusia. Keputusan mahasiswa untuk membeli kopi di Coffee Shop itu dipengaruhi oleh konsep diri dan gaya hidup(Anwar. karena dalam perkembangannya ada yang bercampur es. Tidak hanya pagi. Melalui obrolan-obrolan singkat. diberi banyak rasa. lama-kelamaan menjadi kebutuhan wajib sebagai rutinitas yang harus diagendakan. Perkembangan terakhir bahkan kaum metropolis menjadikan gerai-gerai kopi tersebut sebagai tempat mengisi berbagai ide. Tanaman kopi mengandung kafein justru dianggap sebagai tumbuhan yang mengandung antioksidan paling banyak (Khoironi. sejak 1925 berdiri usaha kopi dengan nama ‘Dagang Massa‘. Di luar Jawa. Awalnya iseng. Dalam perkembangan zaman kebiasaan untuk menghabiskan waktu luang di coffeeshop menjadi sebuah gaya hidup yang menjamur di kalangan masyarakat modern. dapat didapat banyak hal dari segi sosialitasnya (mengesampingkan segala kekurangan dan keburukan budaya seperti ini)(Anandmsihra. banyak sekumpulan mahasiswa yang menghabiskan waktunya hanya untuk nongkrong untuk ‘ngopi’. dapat dikatakan sebagai teman setia para mahasiswa (pada khususnya). 2010). Jakarta Selatan. Gerai seperti Stabucks. tepatnya di kota Pematang Siantar. 2002). beralih ke kedai kopi modern. Kita mengenal Tek Siong. mulai dari kopi hitam jadi kopi serba manis ala Starbucks. sore ataupun malam. menjadi tradisi yang melebur dengan budaya lokal. dapat membentuk mahasiswa yang mungkin dulunya kuper bisa menjadi lebih sosialis karena disitu ada media yang membantunya. 2009). yang sekarang eksis dengan nama ‘Bakoel Koffie‘ di bilangan Kebayoran Baru. mulai karamel. yang membuka usaha penyangrai kopi Tek Soen Ho sejak 1878. 130 km arah tenggara Sumatera Utara. Budaya ‘ngopi‘ di Indonesia sudah berusia lebih dari seabad. tanpa memperdulikan kegiatan dan tujuan inti.Istilah ‘ngopi‘ pun menjadi ‘ngafe‘. sofa empuk. 2004). vanilla sampai teh hijau dan pisang. Dengan cara seperti ini. Kopinya pun tak melulu hitam. bagi pebisnis maupun pekerja. Dulu biji kopi disangrai dan digerus sendiri di rumah kemudian beralih ke warung dan kafe.

Dee Ann Gullies (2006) menjelaskan definisi pengambilan keputusan sebagai suatu proses kognitif yang tidak tergesa-gesa terdiri dari rangkaian tahapan yang dapat dianalisa. 2009)coffeeshop atau warung kopi adalah suatu usaha di bidang makanan yang dikelola secara komersial yang menawarkan para tamu berbagai variasi menu kopi dan juga makanan kecil yang pelayanan dalam suasana tidak formal tanpa diikuti oleh suatu pelayanan yang baku. 1999) yang menyatakan bahwa perkembangan dimensi keindividualan diimbangi dengan perkembangan dimensi kesosialan pada diri individu yang bersangkutan. Rasa aman : meliputi rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional. 1990) mengungkapkan teori motivasi yang dikenal dengan hierarki kebutuhan (hierarchy of needs).1 Teori Kebutuhan Abraham Maslow(Robins dan Judge. pengakuan. haus. Kebutuhankebutuhan mulai dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang palig tinggi tersebut adalah sebagai berikut : 1. dan kebutuhan fisik lainnya. Kebutuhan yang harus dipenuhi ini lalu menimbulkan motivasi mahasiswa-mahasiswi untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari Lima Kebutuhan. Sehingga. 2006). 2003). tetapi sudah merupakan kebutuhan bagi para mahasiswa-mahasiswi penikmat kopi. Penghargaan : meliputi faktor-faktor penghargaan internal seperti hormat diri. Hal ini diperjelas oleh pendapat Prayitno (Prayitno. dan faktor-faktor penghargaan eksternal seperti status. dan persahabatan. 2. Fisiologis : meliputi rasa lapar. dan pencapaian. kepemilikan. otonomi. Sedangkan melihat dari sisi interaksi dan kehidupan mahasiswa. berlindung. ‘Ngopi’ atau Meminum kopi bukan lagi suatu kegiatan di waktu luang. Sosial : meliputi rasa kasih sayang. Oleh karena itu. penelitian ini mengacu pada 1 grand teori yaitu teori motivasi terkait kebutuhan yang dipelopori oleh Abraham Maslow dan teori pendukung untuk grand teorinya yaitu Teori Efektivitas Diri yang dikembangkan oleh Albert Bandura. dan dipadukan untuk menghasilkan ketepatan serta ketelitian yang lebih besar dalam menyelesaikan masalah dan memulai tindakan. 4. nongkrong dan meminum kopi dapat menjadi sarana mahasiswa untuk berinteraksi(Walgito. seksual. penerimaan. penelitian ini bertujuan untuk meneliti sampai sejauh manakah pengaruh budaya ‘ngopi’ mempengaruhi kehidupan dan interaksi sosial mahasiswa Universitas Negeri Semarang 2. 3. Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya. menurut Gillin dan Gillin(Elly. dan orang perorangan dengan kelompok. 2.dimulai sejak manusia lahir dan berlangsung terus hingga ia dewasa atau tua(Fatimah. Sementara menurut Walgito interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu yang lain yang saling mempengaruhi dan terdapat hubungan timbal balik. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Davis dan Halley (Jampes. antar kelompok orang. 2006) menyatakan bahwa interaksi sosial adalah hubungan antara orangorang secara individual. dan perhatian. . diperhalus.

pencapaian potensi seseorang. Kekayaan. Aktualisasi diri : dorongan untuk menjadi seseorang sesuai kecakapannya. Transendensi dikotomi. Kesatuan. Meta kebutuhan inilah yang menjadi motivasi utama bagi orag yang teraktualisasi-diri. kegelisahan. anonim. pelanggaran hukum. kebingungan. Penuh energi. dengan meta-patologinya keputusasaan. dan pandangan sederhana tentang kehidupan. Kesempurnaan. dengan meta-patologinya disintegrasi. kehilangan orientasi. 10. dengan meta-patologinya terlalu kompleks. dengan meta-patologinya pikiran hitam atau putih. Maslow membedakan antara kebutuhan dasar(basic-needs) dan kebutuhan tinggi(meta kebutuhan atau meta-needs). penghabisan. 6. berhenti berjuang dan menanggulangi. Tujuh belas meta-kebutuhan yang oleh Maslow disebut juga Being-values (B-values. 15. dengan meta-patologinya kelelahan. dengan meta-patologinya kebencian. Dalam hierarkinya itu. mandiri. dengan meta-patologinya kehilangan perasaan diri dan individualitas. ketidakhati-hatian. dengan meta-patologinya kekasaran. sinisme. kekosongan pengalaman. 7. kejenakaan. dan pemenuhan diri sendiri.kebutuhan akan pertumbuhan) itu adalah : 1. Keindahan. ketidakwaspadaan.sinisme. hidup sia-sia . tegangan. Mencukupi diri sendiri. dengan meta-patologinya kacau-balau. ketidakpercayaan. 13.proses. kesedihan. kekacauan. kelengkapan. kepercayaan hanya pada diri sendiri. dengan meta-patologinya ketidakamanan. Maslow (Robbins dan Judge. 1990) mendata macam-macam meta-kebutuhan ini dan mendapatkan tujuh belas meta-kebutuhan yang jika tidak terpenuhi akan menjadi meta-patologi(penyakit kejiwaan). tidak tegang. 2. Kebenaran. Kebaikan. Kepastian. 9. dengan meta-patologinya depresi. kejanggalan.kehilangan emosi dan semangat. kehilangan selera. Karena itu kebutuhan tingkat tertinggi ini disebut juga meta-motivasi. keseluruhan. 12. 11. kegelisahan. keparipurnaan. dengan meta-patologinya mati. keputusasaan. 3. Tanpa susah payah. canggungan. penolakan. meliputi pertumbuhan. putus asa. Tata tertib. Bermain. 17. 5. Penyelesaian. menjadi robot. dengan meta-patologinya ketidakpercayaan. kejijikan. terdeterminasi. dengan meta-patologinya keseraman. 16. dan skeptisisme. dengan meta-patologinya kemarahan. depresi. tidak dapat diramalkan. tidak bisa bekerja apa-apa. Kebutuhan dasar mencakup kebutuhan tingkat kesatu sampai tingkat keempat. dan rasa suram. Keunikan. kehilangan perhatian pada dunia. santai. pandangan salah satu dari dua. dengan meta-patologinya ketidaklengkapan. Sedangkan meta-kebutuhan adalah kebutuhan tingkat kelima (kebutuhan akan aktualisasi-diri). Kesederhanaan.5. 8. 4. dengan meta-patologinya tidak berarti. mementingkan diri sendiri. 14. Keadilan. kekakuan.

semakin tinggi rasa percaya diri yang kita miliki dalam kemampuan kita untuk berhasil dalam suatu tugas. Bujukan verbal 4. Para pembicara motivasional sering sekali menggunakan taktik ini.2 Teori Efektivitas Diri Efektivitas diri (self-efficacy yang juga dikenal sebagai “teori kognitif sosial” atau “teori pembelajaran sosial”) merujuk pada keyakinan individu bahwa dia mampu mengerjakan suatu tugas. saya yakin akan lebih mampu melakukannya di masa depan. Sebagai contoh. sumber peningkatan efektivitas diri yang paling penting adalah apa yang disebutnya dengan penguasaan tetap. Sejalan pula dengan apa yang dikatakan Kertajaya Hermawan bahwa komunitas adalah sekelompok orang di mana orang itu saling peduli satu sama lain dan terjadi relasi di antara mereka. atau menjadi percaya diri karena kita melihat individu lain melakukan tugas tersebut. ini meningkatkan rasa percaya diri saya bahwa saya juga bisa mendapatkan tema skripsi setelah meminum kopi. kemudian berubah menjadi semangat untuk membuatnya. Isa. yaitu menjadi lebih percaya diri karena seseorang meyakinkan kita bahwa kita mempunyai ketrampilan yang dibutuhkan untuk berhasil. sehingga komunitas ‘ngopi’ memang saling peduli antar individu sehingga terjadi komunikasi sosial(Kertajaya.Bagi orang yang telah mencapai aktualisasi diri. Merujuk dari teori sebelumnya yaitu teori kebutuhan Maslow. lebih sakit daripada kematian. Peneliti yang mengembangkan teori efektivitas diri. Kemunculan Menurut Bandura. Semakin tinggi efektivitas diri kita. Ketika rasa haus hilang dan bertemu teman seperjuangan di warung kopi. melalui teori motivasi Maslow ini. kebutuhan sosial. Sumber ketiga adalah bujukan verbal. Penguasaan yang tetap (enactive) 2. Karena itu orang-orang besar seperti Sokrates. Penguasaan tetap adalah perolehan pengalaman relevan dengan tugas atau pekerjaan. Sumber kedua adalah contoh yang dilakukan oleh individu lain. dan kebutuhan aktualisasi diri terkait agar tidak kehilangan emosi dan semangatnya dalam mengerjakan sesuatu hal. 1990). Sehingga pada dasarnya. Contoh yang dilakukan oleh individu lain 3. kemudian semangat dan emosi bangkit kembali setelah meminum segelas kopi. 2. teori efektivitas diri ini muncul ketika kebutuhan fisiologis. apabila teman saya mampu menemukan tema skripsi setelah meminum kopi. memperlihatkan bahwa ada empat cara untuk meningkatkan efektivitas diri : 1. lebih memilih mati daripada hidup dalam tatanan sosial yang menurutnya tidak adil. Galileo. Albert Bandura (Robbins dan Judge. sehingga hal ini menambah keyakinan mahasiswa bahwa walaupun mereka belum tentu mahasiswa pintar dan . Suhrawardi. Apabila berhasil melakukan suatu pekerjaan di masa lalu. mahasiswa penikmat kopi memandang ‘ngopi’ merupakan suatu kebutuhan fisiologis. tdak terpenuhinya satu apalagi beberapa dari meta-kebutuhan itu akan membuatnya sangat kesakitan. 2008). kebutuhan sosial. dan kebutuhan aktualisasi diri mahasiswa-mahasiswi penikmat kopi terpenuhi. Kewajiban sebagai seorang mahasiswa yaitu mengerjakan tugas kuliahpun yang awalnya malas-malasan untuk membuatnya.

6(Ghozali. Pengujian menggunakan uji statistik cronbach alpha (a). 3. Uji validitas dilakukan dengan mengukur apa yang hendak kita ukur (Ghozali. harus dilakukan uji reliabilitas dan validitas. Fokus penelitian ini yaitu bagaimana peranan dari budaya ‘ngopi’ ini mempengaruhi aspek kepribadian dan sosial mahasiwa. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subyek penelitian(Moleong. Pengujian reliabilitas dan validitas Dalam menggunakan instrumen pengukuran melalui kuisioner. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa-mahasiswi Universitas Negeri Semarang Gunung Pati yang gemar ‘ngopi’ di tempat-tempat berkumpul atau ‘nongkrong’. 2007) yang menyatakan “metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Mahasiswa yang berada pada semester-semester sibuk yaitu semester 6 atau 7. Metoda penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan kuisioner. Dengan kata lain. dengan kriteria sebagai berikut : - Status masih sebagai mahasiswa. tetapi mereka yakin tugasnya dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Jika seluruh korelasi signifikan secara statistik.2.1. 2013). Hal ini sejalan dengan pendapat Bogdan dan Taylor (1975) (Moleong.jawaban mereka benar. Hal ini dilakukan untuk memastikan pertanyaan yang diajukan merupakan indikator dari suatu variabel yang sedang diteliti. 2007). 2013). 3. Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach alpha > 0. Pengambilan sampel dipilih secara purposive sampling. penelitian ini disebut penelitian kualitatif karena merupakan penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Data dan Sampel Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Suatu kuisioner dikatakan reliabel jika jawaban seseorang atas pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Dikatakan valid apabila keseluruhan butir pertanyaan dalam kuisioner mampu untuk mengungkapkan dimensi yang akan diukur oleh kuisioner tersebut. artinya indikator pertanyaan adalah valid untuk mengukur variabel(Hadi. METODELOGI PENELITIAN 3. . Uji validitas dilakukan dengan melakukan korelasi bivariat antara masing-masing skor indikator (pertanyaan) dengan total skor variabel. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuisioner. Mahasiswa yang gemar berkumpul atau ‘nongkrong’ di warung kopi. 2004).

60% faktor kehidupan mempengaruhi kebiasaan seseorang untuk mengkonsumsi kopi.kumpul yang sudah menjadi kebiasaan. 69 % budaya ngopi sering dilakukan oleh mahasiswa UNNES sebagai bentuk nongkrong atau 60 kumpul. Berdasarkan analisis data yang dilakukan. % dan sebesar 66% kebiasaan minum kopi sebagai interaksi mahasiswa untuk memperbanyak teman dalam pergaulan.4. 82% 76% 48% Dengan adanya analisis data tersebut dapat dikatakan bahwa budaya ngopi dapat . PEMBAHASAN PROS ENTAS E PENGARUH BUDAYA NGOPI TERHADAP KEHIDUPAN DAN INTERAKS I S OSIAL BUDAYA NGOPI KEHIDUPAN 34% INTERAKSI 35% 31% 66 % 69 % Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang “Pengaruh budaya ngopi terhadap kehidupan dan interaksi sosial mahasiswa UNNES”.

meringankan pikiran. Sebesar 48% kebutuhan minum kopi sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan atau dapat dikatakan menjadi kebutuhan primer mahasiswa. 54% mengerjakan tugas lebih semangat ketika ditemani secangkir kopi. . 70% beban perkuliahan sedikit lebih ringan ketika sudah meminum secangkir kopi favorit.mempengaruhi kehidupan dan interaksi social mahasiswa di Universitas Negeri Semarang. Sebesar 82% budaya ngopi dapat digunakan sebagai agenda berkumpul bersama teman sambil meminum kopi lebih menyenangkan disbandingkan minum kopi sendirian di kos. badan terasa lemas dan tidak ada mood untuk melakukan sesuatu.mahasiswi. lebih sabar dalam menghadapi permasalahan hidup. sebesar 64% aroma kopi hangat di warung kopi mampu membangkitkan mood dan semangat. Penelusuran uji ini juga didukung dengan teori Syaikh Ikhsan Jampes yang menyatakan bahwa minum kopi bias menemukan rasa yang menyegarkan. sebesar 44% tidak nongkrong dan minum kopi satu hari saja. 74% meminum kopi membuat pikiran menjadi tenang. Dimana dalam penelitian ini sebanyak 76% responden yang setuju bahwa budaya ngopi dapat dilakukan dengan nongkrong dan sudah menjadi adat istiadat mahasiswa. 44% 74% 64% 70% 54% 56% 64 % Kemudian dalam kategori kehidupan.mahasiswi. 56% tugas perkuliahan cepat selesai sembari meminum secangkir kopi. 2009). dan membangkitkan semangat tetap terjaga sampai waktu yang lama serta sebagai penambah kekuatan tubuh(Jampes.

Hal ini yang menjadi dasar penelitian ini apakah budaya ‘ngopi’ berpengaruh terhadap kehidupan dan interaksi sosial mahasiswa. Kopi juga dapat meningkatkan semangat mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah mereka.hasil analisis menunjukkan 76% rutinitas berkumpul di warung kopi membuat seseorang memiliki banyak teman. Sama dengan pendapat Lelyana bahwa kopi mampu menghilangkan kantuk dan menghindarkan dari penyakit-penyakit diabetes mellitus. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa budaya ngopi dapat berbetuk macam-macam. 74% rasa kebersamaan lebih terasa disaat menyeduh kopi hangat bersama teman seperjuangan di warung kopi. Dengan budaya ngopi ini pula mahasiswa dapat menjalin kebersamaan antar sesama penikmat kopi. dan sebesar 58% teman nongkrong lebih banyak dibandingkan teman dekat yang ada di kelas perkuliahan. 2013). kardiovaskuler kanker dan asam urat darah(Lelyana. KESIMPULAN Fenomena budaya ‘Ngopi’ di Universitas Negeri Semarang sudah hampir menjadi budaya sebagian besar mahasiswa. 2008). 56% rutinitas ngopi membuat seseorang semakin berjiwa sosial dan tidak kuper atau kurang pergaulan.58% 76% 56% 74% Dengan pandangan sebagai bentuk interaksi sosial. Dari pengujian yang sudah dilakukan. Hal ini juga didukung lewat penelitian Azizah dimana ‘ngopi’ merupakan suatu cara untuk mengendalikan dan memperkecil stress (Azizah. 5. serta budaya minum kopi ini dapat mempengaruhi kehidupan dan interaksi sosial yang memiliki dampak positif maupun dampak negatifnya. Hal ini dikarenakan tingkat stres mahasiswa yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan mahasiswa ingin mengurangi beban pikiran mereka dengan berkumpul sambil meminum kopi. Hal ini juga sesuai pernyataan Rosul bahwa ngopi mewakili banyak aktivitas mulai dari . Penelitian menggunakan kuisioner dengan jumlah responden 50 orang mahasiswa-mahasiswi UNNES dengan purposive sampling mahasiswa semester 6 ke atas. budaya ‘ngopi’ berpengaruh terhadap kehidupan dan interaksi sosial mahasiswa.

I. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Anwar. sosial. Jurnal Kesehatan. (1993). jurnal Psikologi. Psikologi Perkembangan. sampai berbincang mengenai masalah informal(Rosul. Ekspresi Keberagaman Komunitas Warung Kopi(Analisis Profil Komunitas Warung Kopi "Blandongan". G. Reliabilitas dan Validitas Penelitian. tukar pikiran dalam pekerjaan. (2007). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 2. Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu responden masih terlalu sedikit sehingga data yang diperoleh masih berada pada batas uji reliabilitas. Moleong. Kertajaya. (2004). Yogyakarta: Kanisius. Pustaka Setia. S. (2002). L. Pembangunan Masyarakat. 2010). S. (2006). H. (2013). Lindzey. J. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. . Bandung: CV. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. D. Pengambilan Keputusan. reuni dengan kawan lama. Metodologi Penelitian Kualitatif. d. Bandung: Alfabeta. H. Teori-Teori Pskikodinamik (Vol.negosiasi bisnis. (2008). (2010). (2009). R. Kitab Kopi dan Rokok. I. Hadi. Fatimah. F. Perilaku Ngopi di Kalangan Mahasiswa Sebagai Upaya Manajemen Stres Mahasiswa. Bilson. Elly. dan gaya hidup. (2006). Semarang: UNDIP. Lelyana. S. georafi. Panduan Riset Perilaku Konsumen. Khoironi. DAFTAR PUSTAKA Anandmsihra. 16). F. C. Pengaruh Kopi terhadap Asam Urat Darah : Studi Kasus pada Tikus Rattus Norwegicus Galur Wistar. Ghozali. Selain itu. (2009). Jampes. (2008). (2004). Yogyakarta: PT LkiS Printing Cemerlang. Yogyakarta Pusaka Raya. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. (2013). Gaya Keputusan Konsumen Tua-Muda sebuah eksplorasi Indian. Bandung: Pustaka Pilar. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya responden yang menjadi sasaran lebih banyak dari penelitian ini. sampel penelitian dapat lebih variatif dengan melakukan penelitian di tempat lain dengan mempertimbangkan aspek ekonomi. S. Azizah.

Pengaruh Program Pembinaan dan Pendampingan terhadap Peningkatan Kompetensi Mahasiswa. Udiutomo. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). (1999). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. . Jakarta: Dikjen Dikti. P.Prayitno. (2010). Rosul. Menikmati Kopi Sampai Mati : Studi Sosiologi atas Pola Pergeseran Kopi di Yogyakarta. Walgito. Depdikbud. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa. (2011). (2003). B. 1.