You are on page 1of 3

HUBUNGAN POLA PERILAKU REMAJA

ATAS KEGEMARAN MENONTON


BIOSKOP
A. PENELITIAN KUALITATIF
1. Latar Belakang
Berdasarkan informasi dari beberapa masyarakat, mengatakan bahwa sebagian besar
penggemar

nonton

bioskop

mayoritas

para

remaja.

Namun,

mereka

kurang

memperhatikan kualitas merek film-film yang ditayangkan khususnya film horror yang
dikemas dengan adegan seks. Para penggemar penonton bioskop banyak yang cenderung
menonton sekeinginan hatinya. Kenyataan yang terjadi saat ini, banyak kualitas film-film
yang mempunyai nilai positif lebih, malah tidak dihiraukan oleh penggemar penonton
bioskop sendiri.
Banyak disajikan tayangan film-film yang berkualitas, namun masih saja belum berhasil
untuk memecahkan masalah tersebut. Berdasarkan diskusi dengan teman dan masyarakat
sekitar, bahwa pada umumnya penggemar penonton film senang dengan suasana film
yang horror, romantic dan cenderung seksualitas. Salah satunya film Arwah Goyang
Karawang yang sampai menjadikan konflik para pemainnya.
Film-film bioskop di Indonesia memang kini bangkit kembali, namun mayoritas film
yang diproduksi cenderung film horror yang menjadikan adegan seks sebagai bahan dasar
dalam pembuatan film. Dan di Indonesia juga terdapat Lembaga Sensor Film, namun
masih tetap saja masih banyak adegan seks yang lolos dalam pensensoran.
Oleh karena itu, sudah dapat diamati sekilas banyak sekali perubahan perilaku para
remaja dalam kehidupan sehari-hari baik perubahan perilaku dalam segi positif maupun
negatif. Salah satunya, dalam segi negatif banyak remaja yang cenderung mengikuti gaya
dari film tersebut hanya untuk mengikuti tren yang berlaku atau kepopuleran di

kalangannya. Selain itu, salah satu segi positifnya para remaja dapat menerima suatu
informasi atau pengetahuan baru secara kongkrit dan detail karena film bioskop bersifat
audio dan visual.
Untuk mengatasi permasalahan yang diuraikan tersebut perlu adaa suatu penelitian yang
menerapkan suatu strategi yang dapat meningkatkan ketertarikan para penggemar
penonton bioskop terhadapt film-film yang berkualitas dan mempunyai nilai moral yang
positif dalam kehidupan.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian adalah
sebagai berikut:

Mengapa penggemar penonton bioskop terutama remaja lebih cenderung suka film-film
yang memiliki suasana horror dan penuh seks?

Bagaimanakah cara untuk mengurangi minat penonton terutama remaja terhadap filmfilm yang horror dan cenderung seks?

Apa saja perubahan pola perilaku yang terjadi pada remaja atas kegemarannya menonton
bioskop terutama film horror berbalut seks?

B. PENELITIAN KUANTITATIF
1. Latar Belakang
Perjalanan dalam pembuatan film-film bioskop yang berkualitas tidak selamanya berjalan
lancar, namun para produser Indonesia cenderung mengambil jalan pintas dalam
memproduksi film agar cepat laku dan banyak peminatnya tanpa memperdulikan etika
sewajarnya, dalam adegan yang di produksi.
Film-film yang di produksi cenderung kearah seks yang dikemas dalam film horror yang
berhasil dan menarik perhatian banyak kalangan remaja di wilayah Sepanjang Sidoarjo.
Sebab, di wilayah tersebut remaja dan mahasiswa tergolong penonton bioskop aktif

berumur 15-21 tahun. Namun, secara tidak langsung menjadikan perubahan terhadap pola
tingkah laku remaja dalam kesehariannya.
Menurut Hurlock (1997:213) masa remaja dikatakan sebagai masa transisi karena belum
mempunyai pegangan, sementara kepribadianya masih menglami suatu perkembangan,
remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisiknya. Remaja masih labil
dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya.
Pemahaman terhadap film bioskop yang berkualitas, sampai sekarang masih kurang
dipahami oleh sebagian remaja, sehingga film yang mereka pilih ternyata membawa
perubahan terhadap perilakunya yang cenderung kearah negatif. Selain itu, lingkungan
dan pergaulan juga mempengaruhi pola pikir mereka.
Rasa pentingnya pemahaman diri dan lingkungan terhadap perilakunya masih sangatlah
kurang dan labil sehingga segala sesuatu bisa masuk ke dalam kehidupan para remaja dan
kurangnya dasar pemahaman yang dijadikan filter menjadikan seorang remaja cepat
berubah perilakunya, terutama atas kegemarannya menonton bioskop yang cenderung
pada suasana romantis, seksual dan horror hingga saat ini.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian adalah
sebagai berikut:

Mengetahui sejauh mana pemahaman remaja terhadap kualitas merek film-film di


bioskop?

Mengetahui presentase tingkat ketertarikan remaja terhadap adegan seks yang dikemas
dalam film horror?

Mengetahui seberapa besar adanya perubahan yang terjadi terhadap perilaku remaja atas
ketertarikannya terhadap rendahnya kualitas film bioskop yang digemari seperti film
horror yang sebagian besar penuh seksualitas?