You are on page 1of 19

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

CHRONIC KIDNEY DISEASE at causa BATU GINJAL
PRAKTEK PROFESI DEPARTEMEN MEDIKAL
RUANG 25 (HEMODIALISA) RSSA MALANG
(22 Juni – 27 Juni 2015)

Festy Adinda Putri
135070209111028

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

........ ……………………………………………………………………………........) Pembimbing Lahan Pembimb (….... ……………………………………………………………………………. Asuhan Keperawatan dan Resume Keperawatan dengan judul ……………………………………………………………………………..... …………………………………………………………………………….......................... Mengetahui...... ) (…........................LEMBAR PENGESAHAN Laporan Pendahuluan........................................................................ Yang telah disahkan pada Hari : Tanggal : Mahasiswa (….. Kepala Ruangan (….........................................) .........

penyakit metabolik. struvit dan sistin). Obstruksi kronik oleh benda asing di dalam traktus urinarius dan kelebihan absorbsi oksalat pada penyakit inflamasi usus atau ileastomi. 2001). gangguan kongenital dan herediter. mieloma multiple. nefropati toksik. 1999). penyakit vaskuler hipertensif. nefropati obsruktif. Beberapa contoh dari golongan penyakit tersebut adalah : 1. . Ukuran batu tersebut bervariasi dari yang granular (pasir dan krikil) sampai sebesar buah jeruk. kalium fosfat. Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges.menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Brunner & Suddarth. Metabolisme purin ab normal (hiperuri semia dan pirai). B. penyakit peradangan. Adanya batu pada ginjal dapat menjadi salah satu penyebab gangguan pada fungsi ginjal yang bersifat progresif dan irreversible dan berujung pada kegagalan fungsi metabolisme dan keseimbangan cairan elektrolit. yang mengakibatkan penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) sehingga ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit. Penyakit infeksi tubulointerstinal seperti pielonefritis kronik dan refluks nefropati.Hiperkalsemia dan hiperkalsiuria yang disebabkan oleh hiperparatiroidisme. Etiologi Penyebab terjadinya batu ginjal antara lain : . karena penyebab yang berlangsung lama dan menetap. Definisi Nefrolitiasis atau batu ginjal adalah adanya batu atau kalkulus dalam pelvis renal batu-batu tersebut dibentuk oleh kristalisasi larutan urin (kalsium oksolat asam urat. Imobilitas yang lama.Laporan Pendahuluan CKD at causa Batu Ginjal A. - asidosis tubulus renal. Gagal ginjal kronik merupakan kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) yang berlangsung perlahan-lahan. Kelebihan asupan vitamin D Dehidrasi kronik. Asupan cairan yang buruk. Dibawah ini ada beberapa penyebab CKD menurut Price. dan Wilson (2006) diantaranya adalah tubula intestinal. gangguan jaringan ikat. Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Nefropati toksik seperti penyalah gunaan analgetik. Gangguan kongenital dan herediter seperti penyakit ginjal polikistik. - Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia. dan kreatinin serum meningkat. gout. dan nefropati timah 8. 7. Penyakit vaskular seperti hipertensi.73 m2 - Tahap 3 Kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1. Penurunan moderat dalam fungsi ginjal. dan asidosis tubulus ginjal. Penyakit metabolik seperti diabetes mellitus. dan hiperparatiroidisme. anomali kongenital leher vesika urinaria dan uretra. Penyakit peradangan seperti glomerulonefritis. Traktus urinarius bagian bawah yang terdiri dari hipertropi prostat. - Tahap 2 Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-89 mL/menit/1. poliarteritis nodosa. 3. Klasifikasi Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium : - Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal pada stadium ini. neoplasma. Gangguan jaringan ikat seperti Lupus eritematosus sistemik. 5. 6. - Tahap 4 . Dengan beberapa tanda kerusakan ginjal pada tes lainnya (jika semua tes ginjal lain adalah normal. nefrosklerosis maligna. Nefropati obstruktif seperti traktus urinarius bagian atas yang terdiri dari batu. setriktur uretra. 4. CKD dibagi ke dalam 5 tahap yaitu sebagai berikut: - Tahap 1 Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1. tidak ada CKD). fibrosis retroperitoneal.73 m2). dan seklerosis sistemik progresif. - Stadium 2 : insufisiensi ginjal Dimana lebih dari 75 % jaringan telah rusak. C. Blood Urea Nitrogen (BUN) meningkat. serta amiloidosis.73m2.2. nefrosklerosis benigna. dan stenosis arteria renalis. kadar kreatinin serum normal dan penderita asimptomatik.

Patofisiologi Batu ginjal dibentuk oleh kristalisasi larutan urin (kalsium oksolat asam urat.73m2.73m2 atau gagal ginjal terminal.85 D. kalium fosfat. . sehingga menyebabkan penurunan klirens subtsansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. struvit dan sistin). manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidrouretes atau hidronefrosis. Hidronefrosis yang berkepanjangan dapat menjadi salah satu penyebab gangguan pada fungsi ginjal yang bersifat progresif dan irreversible. Sehingga menyebabkan gangguan kliren renal. Adanya batu pada ginjal dapat menimbulkan obstruksi dan infeksi saluran kemih. dan Bare (2001) proses terjadinya CKD adalah akibat dari penurunan fungsi renal. Menurut Smeltzer. Ukuran batu tersebut bervariasi. maka setiap gejala semakin meningkat. produk akhir metabolisme protein yang normalnya diekresikan kedalam urin tertimbun dalam darah sehingga terjadi uremia yang mempengarui sistem tubuh. Persiapan untuk terapi penggantian ginjal.Kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1. Gangguan fungsi ginjal dapat berujung pada kegagalan fungsi metabolisme dan keseimbangan cairan elektrolit. Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test ) dapat digunakan dengan rumus : Clearance creatinin ( ml/ menit ) = ( 140-umur ) x berat badan ( kg ) 72 x creatini serum Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0. Semakin banyak timbunan produk sampah. - Tahap 5 Kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1. Banyak masalah pada ginjal sebagai akibat dari penurunan jumlah glomerulus yang berfungsi.

Dermatologi seperti Pruritis. ansietas pada penyakit dan kematian. yang diakibatkan oleh retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin angiotensin aldosteron. Gagal jantung kongestif. kelelahan fisik dan mental. 5. kusmaul. depresi b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia. 3. . akibat dari cairan yang berlebih. mual disertai muntah. mudah tersinggung. 2. sakit kepala. Psikososial seperti terjadinya penurunan tingkat kepercayaan diri sampai pada harga diri rendah (HDR). Neuromuskuler seperti terjadinya perubahan tingkat kesadaran. udem yang disertai lekukan. pernapasan dangkal. gagal jantung kongesti. tidak mampu berkonsentrasi. dan hipertensi. Kardiovaskuler : a. berat badan berkurang. b. sampai terjadinya edema pulmonal. Retensi cairan dan natrium tidak terkontol dikarenakan ginjal tidak mampu untuk mengonsentrasikan atau mengencerkan urin secara normal pada penyakit ginjal tahap akhir. Hipertensi juga dapat terjadi akibat aktivasi aksis renin angiotensin dan kerjasama keduanya meningkatkan sekresi aldosteron. yaitu penumpukan urea pada lapisan kulit.Penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) juga berpengaruh pada retensi cairan dan natrium. 7. 1996): a. dan Bare (2001) diantaranya adalah: 1. Gejala dini : lethargi. Gastrointestinal seperti anoreksia atau kehilangan nafsu makan. Manifestasi Klinis Manifestasi klinik gagal ginjal kronik antara lain (Long. c. Manifestasi yang terjadi pada gagal ginjal kronis menurut Smeltzer. kedutan otot sampai kejang. 6. pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah. mual sampai dengan terjadinya muntah. Hipertensi. 4. Edema pulmoner. E. respon ginjal yang sesuai terhadap perubahan masukan cairan dan elektrolit seharihari tidak terjadi. nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak. Pulmoner seperti adanya sputum kental. Muskuloskletal seperti terjadinya fraktur karena kekurangan kalsium dan pengeroposan tulang akibat terganggunya hormon dihidroksi kolekalsi feron. Natrium dan cairan sering tertahan dalam tubuh yang meningkatkan resiko terjadinya oedema.

Kemih Bawah hidrouretes atau hidronefrosis retensi urine atau keluhan miksi Penurunan fungsi ginjal Kegagalan fungsi metabolisme Dan Keseimbangan cairan elektrolit Tertimbunnya prod akhir metabolisme dlm darah Kerusakan ginjal progresif dan irriversible Gagal Ginjal . Kemih atas Sal.Sal.

b. Bila 50 % nefron rusak maka kadar kreatinin meningkat. 2) Kreatinin Produksi katabolisme otot dari pemecahan kreatinin otot dan kreatinin posfat. 8) PH. posisi. ureter. kekeruhan. thrombosit. 3) Elektrolit Natrium. 4) Osmolalitas : < 350 Mosm / kg menunjukkan kerusakan mubular dan rasio urine / sering 1: 1.051 (menetap pada 1. mungkin disebabkan oleh pus. Darah 1) BUN Urea adalah produksi akhir dari metabolism protein. sedimen kotor. mioglobulin. lemak. 3) Berat jenis : < 1. Pemeriksaan Laboratorium a. 5) Clearance kreatinin : mungkin agak menurun 6) Natrium : > 40 ME o /% karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium. dan klasifikasi dari ginjal. calcium dan phosfat 4) Hematologi : Hb. SDP dan SDM. kecoklatan menunjukkan adanya darah Hb. fosfat lunak.  Computer Tomograohy (CT) Scan .010 menunjukkan kerusakan ginjal berat). dan vesika urinaria dengan mengidentifikasi bentuk. kalium. Urine 1) Volume : biasanya kurang dari 400 ml / 24 jam (oliguria) / anuria. kegagalan pre renal atau gagal ginjal. ukuran.F. partikel koloid. glokuso. bakteri. 2) Warna : secara abnormal urine keruh. forfirin. Ht. dan leukosit 1. menunjukkan kerusakan glomerulus jika SDM dan fagmen juga ada. ketan. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Radiologi Berberapa pemeriksaan radiologi yang biasa digunanakan untuk mengetahui gangguan fungsi ginjal antara lain:  Flat-Plat radiografy/Radiographic Untuk mengetahui keadaan ginjal. Pada gambaran ini akan terlihat bahwa ginjal mengecil yang mungkin disebabkan karena adanya proses infeksi. 7) Protein : derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara bulat. peningkatan BUN dapat merupakan indikasi dehidrasi.

 Intervenous Pyelography (IVP) Untuk mengevaluasi keadaan fungsi ginjal dengan memakai kontras. dan Hiperfosfatemia. Gagal jantung akibat peningkatan kerja jantung yang berlebian. dan kapiler pada ginjal dengan menggunakan kontras. 8. dan masukan diit berlebih. mual. katabolisme. metabolisme vitamin D yang abnormal dan peningkatan kadar alumunium akibat peningkatan nitrogen dan ion anorganik. serta beberapa gangguan bentuk vaskuler. 6. Hiperkalemia. pembedahan. 9. 4. ARF. Komplikasi Komplikasi dari CKD menurut Smeltzer dan Bare (2001) serta Suwitra (2006) antara lain adalah: 1. proses infeksi pada ginjal serta post transplantasi ginjal. 1. kelainan prostat. 2. Malnutrisi karena anoreksia. Biasanya biopsi dilakukan pada kasus glomerulonepritis. efusi perikardial. . Biopsi Ginjal Untuk mendiagnosa kelainan ginjal dengan mengambil jaringan ginjal lalu dianalisa.  Aortorenal Angiography Untuk mengetahui sistem arteri. Anemia akibat penurunan eritropoitin. arterovenous fistula. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada kasus renal arteri stenosis. Uremia akibat peningkatan kadar uream dalam tubuh. dan perencanaan transplantasi ginjal. penyakit ginjal bawaan. Prikarditis. vena. calculi ginjal. IVP biasa digunakan pada kasus gangguan ginjal yang disebabkan oleh trauma.Untuk melihat secara jelas struktur anatomi ginjal yang penggunaannya dengan memakai kontras atau tanpa kontras. kadar kalsium serum yang rendah. G.  Magnetic Resonance Imaging (MRI) Untuk mengevaluasi kasus yang disebabkan oleh obstruksi neuropati. 7. Penyakit tulang serta klasifikasi metabolik akibat retensi fosfat. Hiperkalemi akibat penurunan sekresi asidosis metabolik. neprotik sindom. aneurisma ginjal. 5. ARF. dan muntah. 3. Hiperparatiroid. anomali kongental. abses / batu ginjal. serta obstruksi saluran kencing. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem renin angiotensin aldosteron. dan tamponad jantung akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.

.

Dasar dialisis adalah adanya darah yang mengalir dibatasi selaput semi permiabel dengan suatu cairan (cairan dialisis) yang dibuat sedemikian rupa sehingga komposisi elektrolitnya sama dengan darah normal. Terapi dialysis merupakan terapi yang biasanya disebut dengan terapi pengganti ginjal.Peritoneal dialysis .50 gr. tidak seperti karbohidrat. Dengan asumsi antara 500-800 ml/hari yang sesuai dengan luas tubuh. Asupan cairan diatur seimbang antara masukan dan pengeluaran urin serta Insesible Water Loss (IWL). yang 0. d. c. Tindakan dialisis ada dua macam yaitu hemodialisis dan peritoneal dialisis .8/kg BB/hr. Pemakaian obat anti hipertensi disamping bermanfaat untuk memperkecil resiko komplikasi pada kardiovaskuler juga penting untuk memperlambat perburukan kerusakan nefron dengan cara mengurangi hipertensi intraglomerulus dan hipertrofi glomerulus.H. Hal tersebut diperlukan untuk mencegah terjadinya edema dan komplikasi kardiovaskuler. Dengan demikian diharapkan bahwa zat-zat yang tidak diinginkan dari dalam darah akan berpindah ke cairan dialisis dan kalau perlu air juga dapat ditarik kecairan dialisis. b. Elektrolit yang harus diawasi dalam asupannya adalah natrium dan kalium. Protein perlu dilakukan pembatasan dengan ketat. karena protein akan dipecah dan diencerkan melalui ginjal. sedangkan diatas batasan tersebut tidak dianjurkan pembatasan protein. mulai dilakukan pada LFG < 60 ml/mnt. Batasan asupan protein. Penatalaksanaan a. Pembatasan cairan dan elektrolit pada penyakit CKD sangat diperlukan. Protein yang dibatasi antara 0.6-0. Hal ini terjadi akibat mekanisme kerjanya sebagai anti hipertensi dan anti proteinuri.35-0. Selain itu pemakaian obat hipertensi seperti penghambat enzim konverting angiotensin (Angiotensin Converting Enzim / ACE inhibitor) dapat memperlambat perburukan fungsi ginjal.

Transplantasi ginjal Dengan pencangkokkan ginjal yang sehat ke pembuluh darah pasien CKD maka seluruh faal ginjal diganti oleh ginjal yang baru.Biasanya dilakukan pada kasus – kasus emergency. . Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan :  AV fistule : menggabungkan vena dan arteri  Double lumen: langsung pada daerah jantung (vaskularisasi ke jantung ) e. Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidakbersifat akut adalah CAPD (Continues Ambulatori Peritonial Dialysis) - Hemodialisis Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin. Pemilihan dari segi imunologik ini terutama dengan pemeriksaan HLA. Ginjal yang sesuai harus memenuhi beberapa persaratan. dan persyaratan yang utama adalah bahwa ginjal tersebut diambil dari orang/mayat yang ditinjau dari segi imunologik sama dengan pasien.

Tandanya adalah pasien terlihat lesu dan khawatir. f. . g. 3. pekerjaan dan lingkungan juga mempunyai peranan penting sebagai pemicu kejadian CKD. Gejalanya adalah pasien tampak lemah. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan pasien Gejalanya adalah pasien mengungkapkan kalau dirinya saat ini sedang sakit parah. Tandanya adalah pasien terliat sering menguap. Aktifitas dan latian. penggunaan obat-obatan dan sebagainya. pasien terjadi konstipasi. letih dan terdapat kantung mata. pasien terlihat bingung kenapa kondisinya seprti ini meski segala hal yang telah dilarang telah dihindari. Penderita CKD kebanyakan berusia diantara 30 tahun. Pola persepsi dan koknitif. obstruksi saluran kemih. namun ada juga yang mengalami CKD dibawah umur tersebut yang diakibatkan oleh berbagai hal seperti proses pengobatan. Gejalanya adalah pasien terliat mengantuk. e. Pola hubungan dengan orang lain. CKD dapat terjadi pada siapapun. asupan nutrisi dan air naik atau turun. Tandanya adalah penurunan kesadaran seperti ngomong nglantur dan tidak dapat berkomunikasi dengan jelas.ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN Demografi. terjadi peningkatan suhu dan tekanan darah atau tidak singkronnya antara tekanan darah dan suhu. terdapat penurunan BB dalam kurun waktu 6 bulan. mual. rematik. Pasien juga mengungkapkan telah menghindari larangan dari dokter. 2. Tandanya adalah penurunan BAK. muntah. Karena kebiasaan kerja dengan duduk / berdiri yang terlalu lama dan lingkungan yang tidak menyediakan cukup air minum / mengandung banyak senyawa / zat logam dan pola makan yang tidak sehat. Tandanya adalah anoreksia. Pengkajian pola fungsional Gordon a. Riwayat penyakit yang diderita pasien sebelum CKD seperti DM. d. Tandanya adalah aktifitas dibantu. serta pasien tidak dapat menolong diri sendiri. Pola eliminasi Gejalanya adalah terjadi ketidak seimbangan antara output dan input. b. c. Gejalanya penurunan sensori dan rangsang. dan traktus urinarius bagian bawah juga dapat memicu kemungkinan terjadinya CKD. hipertensi. Pola nutrisi dan metabolik. hiperparatiroidisme. glomerulo nefritis. Pola istirahat dan tidur. Gejalanya adalah pasien mengatakan lemas dan tampak lemah.

tertutup. dan adanya penurunan kepuasan dalam hubungan. terdapat pembesaran tiroid pada leher. i.Gejalanya pasien sering menghindari pergaulan. Lemah. b. c. Kesadaran pasien dari compos mentis sampai coma. mulut bau ureum. Gejalanya emosi pasien labil. d. dan percaya diri. Pola persepsi diri. terjadinya perubahan fisik. Pola mekanisme koping. Abdomen. mata kuning / kotor. Tandanya kaki menjadi edema. k. e. Penampilan / keadaan umum. atau terjadi peningkatan berat badan karena kelebian cairan. Tekanan darah naik. pasien mengatakan merasa bersalah meninggalkan perintah agama. g. turgor jelek. perubahan peran. terdengar suara tambahan pada paru (rongkhi basah). j. Tandanya pasien tidak dapat melakukan kegiatan agama seperti biasanya. penurunan pristaltik. Pola kepercayaan. dada berdebar-debar. terdapat pembesaran jantung. Terjadi peningkatan nyeri. f. Tandanya tidak dapat mengambil keputusan dengan tepat. pergerakan dada tidak simetris. penurunan harga diri sampai terjadinya HDR (Harga Diri Rendah). keletihan saat berhubungan. Tandanya terjadi penurunan libido. mukosa mulut pucat dan lidah kotor. h. Antropometri. 5. . Pengkajian fisik a. telinga kotor dan terdapat kotoran telinga. respirasi riet naik. dan terjadi dispnea. terdapat suara tambahan pada jantung. penurunan kualitas hubungan. Gejalanya pasien tampak gelisah. Gejalanya konsep diri pasien tidak terpenuhi. perut buncit. Pola reproduksi Gejalanya penurunan keharmonisan pasien. bibir kering dan pecah-pecah. Tanda-tanda vital. Penurunan berat badan selama 6 bulan terahir karena kekurangan nutrisi. nadi meningkat dan reguler. aktifitas dibantu. terjadi penurunan sensifitas nyeri. hidung kotor dan terdapat kotoran hidung. Rambut kotor. Terdapat otot bantu napas. Peningkatan kelenjar tiroid. Kepala. Leher dan tenggorok. komunikasi tidak jelas. Tandanya lebih menyendiri. Dada Dispnea sampai pada edema pulmonal. citra diri jauh dari keinginan. mudah terpancing emosi.

Perubahan pola nafas 5. kulit bersisik dan mengkilat / uremia. Kelemahan fisik. Respirasi (Kecepatan dan kedalamannya) Rasional : Tingginya gelombang T. terjadi edema. terjadi edema. Rasional : Obat – obat nephrotoxic akan memperburuk keadaan ginjal 4) Berikan pengobatan sesuai pesanan / permintaan dokter dan kaji respon pengobatan. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. B. Genital. Kelebihan volume cairan 3. Hidrogen. Kulit. f. Turgor jelek. Kurang pengetahuan tentang tindakan medis C. dan terjadi perikarditis. Hb. g. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien CKD adalah: 1. Pernapasan kusmaul dihubungkan dengan acidosis. ejakulasi dini. Rasional : Nilai laboratorium merupakan indikasi kegagalan ginjal untuk mengeluarkan sisa metabolit dan kemunduran fungsi sekretori ginjal. Resiko terjadi kerusakan integritas kulit 7.h. Diagnosa Keperawatan: Gangguan perfusi jaringan renal berhubungan dengan kerusakan nepron sehingga tidak mampu mengeluarkan sisa metabolisme 1) Kaji Perubahan EKG. Ekstremitas. Potasium. 2) Monitor data-data laboratorium : Serum pH. Intoleransi aktivitas 8. HT. 3) Jangan berikan obat – obat Nephrothoxic. calsium magnesium. kulit jadi hitam. impotensi. aktifitas pasien dibantu. kejang yang mungkin terjadi dihubungkan dengan rendahnya calsium. BUN dan serum kreatinin. pengeroposan tulang. dan Capillary Refil lebih dari 1 detik. terdapat ulkus. genetalia kotor. Panjangnya interval PR dan Lebarnya kompleks QRS dihubungkan dengan serum Kalium . Kelemahan dalam libido. Perubahan nutrisi 4. bicarbonat. terhadap . Potensial infeksi 6. Gangguan perfusi jaringan renal 2.

5) Berikan Diuretic sesuai pesanan dan monitor terhadap responnya. Rasional : Untuk menentukkan efek dari pengobatan dan observasi tehadap efek samping yang mungkin timbul seperti : Hipokalemia dll. distensi vena jugularis. muntah dan anorexia. 3. Kaji status mental. 3) Monitor ECG Rasional : Peningkatan atau penurunan Kalium dihubungkan dengan disthrithmia. Rasional : Untuk mengidentifikasi status gangguan cairan dan elektrolit. 4) Bantu atau anjurkan pasien untuk melakukan oral hygiene sebelum makan. Kalium. 1) Kaji terhadap adanya Mual. 2. Ukur intake dan output tiap 24 jam. Rasional : Meningkatkan kebuthan Nutrisi klien sesuai diet . Monitor data laboratorium : Serum protein. Kalium dan natrium. Monitor respon terhadap pengobatan untuk menentukan efektivitas obat yang diberikan dan kemungkinan timbulnya efek samping obat. 3) Berikan makanan sesuai diet yang dianjurkan dan modifikasi sesuai kesukaan Klien. 2) Monitor data laboratorium : Serum Natrium. Hipokalemia bisa terjadi akibat pemberian diuretic. 4) Berikan cairan sesuai indikasi Rasional : Untuk mencegah kemungkinan terjadinya dehidrasi sel. Ukur tekanan darah (posisi duduk dan berdiri). Rasional : Untuk mengidentifikasikan acumulasinya elektrolit. 2) Monitor intake makanan dan perubahan berat badan . Rasional : Menghilangkan rasa tidak enak dalam mulut sebelum makan. Rasional : Untuk menentukkan diet yang tepat bagi pasien.Rasional : Dosis obat mungkin berkurang dan intervalnya menjadi lebih lama. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan ketidakmampuan ginjal mengeskkresi air dan natrium 1) Timbang berat badan pasien setiap hari. Clorida dan bicarbonat. Rasional : Keadaan – keadaan seperti ini akan meningkat kehilangan kebutuhan nutrisi. Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembatasan intake (Diit) dan effect uremia yang mengakibatkan malnutrisi protein – calori. Ukur CVP dan PAWP. Lemak. . Monitor oedema. kaji nadi dan pernapasan (Termasuk bunyi napas) tiap 6-8 jam. refleks hepato jugular.

4) Pertahankan kebersihan diri. Monitor serum Kalium. Urine. Rasional : Untuk mengevaluasi kemungkinan efek sampingnya. Rasional : Mencegah terjadinya infeksi. catat adanya crakles R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret 2) Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2 3) Atur posisi senyaman mungkin R: Mencegah terjadinya sesak nafas 4) Batasi untuk beraktivitas R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia 3.tanda infeksi. 2) Monitor temperatur tiap 4 – 6 jam : Monitor data laboratorium : WBC : Darah. culture sputum. 1) Kaji terhadap adanya tanda. Pasien dengan GGK butuh diit yang tepat untuk perbaikan keadaan dan fungsi ginjalnya. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis respiratorik Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil Intervensi: 1) Auskultasi bunyi nafas. Potensial Infeksi berhubungan dengan penekanan sistim imun akibat uremia. 6) Kolaborasi denga ahli diet untuk pemberian diit yang tepat bagi pasien. 3) Pertahankan tekhnik antiseptik selama perawatan dan patulah selalu universal precaution. Rasional : Uremia mungkin terselubung dan biasanya diikuti dengan peningkatan temperatur dicurigai adanya infeksi. status nutrisi yang adekuat dan istirahat yang cukup. Status hipermetabolisme seperti adanya infeksi dapat menyebabkan peningkatan serum kalsium.5) Berikan antiemetik dan monitor responya. . 2. Rasional : Kebiasaan hidup yang sehat membantu mencegah infeksi. Rasional : Kerjasama dengan profesi lain akan meningkatan hasil kerja yang baik. Rasional : Untuk mendeteksi lebih awal adanya infeksi.

Rasional : Perdarahan yang abnormal sering dihubungkan dengan penurunan jumlah dan fungsi platelet akibat uremia.4. 2) Kaji terhadap adanya petechie dan purpura. prognosis dan tindakan medis (hemodialisa) b. 3) Libatkan keluarga dalam memberikan tindakan. Rasional : Untuk mencegah injuri akibat garukan dan infeksi. tanda dan gejala CKD serta penatalaksanaannya (tindakan hemodialisa ). 1) Kaji terhadap kekeringan kulit. Rasional : Amengurangi pruritis. Excoriations dan infeksi. Rasional : Area. 4) Anjurkan keluarga untuk memberikan support system. 3) Monitor Lipatan kulit dan area yang oedema. Kurang pengetahuan tentang kondisi.area ini sangat mudah terjadinya injuri. Rasional : Perubahan mungkin disebabkan oleh penurunan aktivitas kelenjar keringat atau pengumpulan kalsius dan phospat pada lapiran cutaneus.d salah interpretasi informasi. 2) Beri pendidikan kesehatan mengenai pengertian. Pruritis. 4) Lakukan perawat kulit secara benar. 5) Evaluasi pasien dan keluarga setelah diberikan penkes. Rasional : Untuk mencegah injuri dan infeksi 5) Berikan pengobatan antipruritis sesuai pesanan. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat. keletihan Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi Intervensi: 1) Pantau pasien untuk melakukan aktivitas 2) Kaji fektor yang menyebabkan keletihan 3) Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat 4) Pertahankan status nutrisi yang adekuat 6. Resiko tinggi terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek uremia. 6) Gunting kuku dan pertahankan kuku terpotong pendek dan bersih. Intervensi : 1) Kaji ulang penyakit/prognosis dan kemungkinan yang akan dialami. 5. penyebab. .

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I II. Jakarta. Suzanne C dan Brenda G Bare. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. B C. Edisi 8. Edisi 3.: Balai Penerbit FKUI . Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (2001). (2001).DAFTAR PUSTAKA Long. (1996). Edisi 4. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Slamet. Jakarta :EGC Suyono. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Price. Jakarta : EGC Smeltzer.