You are on page 1of 27

EPISTAK

SIS

PENDAHULUAN
• Epistaksis merupakan perdarahan spontan yang
berasal dari dalam hidung
• Epistaksis dapat terjadi pada segala umur,
dengan puncaknya terjadi pada anak-anak dan
orang tua.
• Kebanyakan kasus ditangani pada pelayanan
kesehatan primer dan kecil kemungkinan pasien
dibawa ke rumah sakit dan spesialis THT.
• Epiktasis diperkirakan terjadi pada 60% warga
dunia selama hidupnya dan 6% dari mereka
mencari penanganan medis.

ANATOMI .

.

.

Septi). . •A. •A. Sfenopalatina Memperdarahi dinding lateral hidungv(a. Etmoidalis Anterior Memperdarahi septum bagian superior anterior dan dinding lateral hidung. Nasalis posterolateral) dan septum nasi (a. Etmoidalis Posterior Memperdarahi septum bagian superior posterior.VASKULARISASI Perdarahan hidung berasal dari 3 sumber utama : •A.

yang disebut Pleksus Kiesselbach (Little’s Area) yang letaknya superfisial dan mudah cedera oleh trauma. sehingga sering menjadi sumber epistaksis. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke Vena Oftalmika Superior yang berhubungan dengan Sinus Cavernosus. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. . arteri etmoidalis anterior.Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang arteri sfenopalatina. arteri labialis superior dan arteri palatina mayor.

sebagian besarnya mendapat persarafan sensoris dari melalui Ganglion Sfenopalatina (N. • Serabut saraf simpatis dari Nerus Petrosus Profundus. .INNERVASI • Bagian depan dan atas ronga hidung mendapat persarafan sensoris dari Nervus Etmoidalis Anteior. • Rongga hidung lainnya. Gangglion Sfenopalatina. V2). juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. • Serabut parasimpatis dari Nervus Petrosus Superficialis Mayor.

Partikel debu. • Fungsi Penghidu Hidung bekerja sebagai indra penghidu dan pencecap dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung. palut lendir. dan sepertiga bagian atas septum. konka superior. virus.FISIOLOGI • Fungsi Respirasi Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi. dan jamur yang terhirup bersama udara akan disaring di hidung oleh : rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi. silia. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik napas dengan kuat. . bakteri. Suhu udara yang melalui hidung diatur oleh banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan reflex bersin.

dan Rhinolalia Oklusa yang terjadi akibat sumbatan benda cair atau padat. lambung. kardiovaskuler dan pernapasan. sehingga terdengar suara sengau (Rhinolalia).• Fungsi Fonetik Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. • Refleks Nasal Mukosa hidung merupakan reseptor reflex yang berhubungan dengan saluran cerna. . Terdapat 2 jenis Rhinolalia yaitu Rhinolalia Aperta yang terjadi akibat kelumpuhan anatomis atau kerusakan tulang di hidung dan mulut. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur. dan pancreas.

DEFINISI • Epistaksis bukan suatu penyakit. melainkan gejala dari suatu kelainan yang hampir 90% dapat berhenti sendiri. . • Epistaksis merupakan perdarahan spontan yang berasal dari dalam hidung.

80% perdarahan berasal dari pembuluh darah Pleksus Kiesselbach (area Little). Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab-sebab lokal dan umum atau kelainan sistemik. .ETIOLOGI Perdarahan hidung diawali oleh pecahnya pembuluh darah di dalam selaput mukosa hidung.

Leukimia. pipa NGT/Nasotrachea. • Neoplasma Hemangioma. bersin terlalu keras. • Deviasi Septum • Kelainan Darah Trombositopenia. sirosis hepatis. diabetes melitus. Sinusitis. • Infeksi Lokal Rhinitis. musim dingin. trauma ringan/berat. • Pengaruh Lingkungan Udara kering. • Penyakit Cardiovascular Hipertensi. angiofibroma.Lokal Sistemik • Trauma Mengorek hidung. • Kelainan Kongenital Telengiectasis Hemorrhagic Herediretary. spina septum tajam. Hemofilia. arteriosklerosis. Von Willendbrand Disease. • Infeksi Akut (DHF) • Gangguan Hormonal • Alkoholisme .

.PATOFISIOLOGI Epistaksis Anterior Epistaksis Anterior berasal dari Pleksus Kiesselbach. Perdarahan dapat berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana. sehingga dapat menyebabkan anemia. dapat juga berasal dari Arteri Ethmoidalis Anterior. Epistaksis Posterior Epistaksis Posterior berasal dari Arteri Sphenopalatina dan Arteri Ethmoidalis Posterior. hipovolemi dan syok. Sering pada anakanak. Perdarahan cenderung lebih berat dan jarang berhenti sendiri. Sering ditemukan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular.

• Riwayat trauma.GAMBARAN KLINIS • Pasien sering menyatakan bahwa perdarahan berasal dari bagian depan dan belakang hidung. • Riwayat hipertensi. • Kebanyakan kasus epistaksis timbul sekunder trauma yang disebabkan oleh mengorek hidung menahun atau mengorek krusta yang telah terbentuk akibat pengeringan mukosa hidung berlebihan. . • Riwayat pengobatan (Aspirin) atau penyalahgunaan alkohol.

• Roentgen Sinus dan CT-Scan / MRI Mengenali neoplasma atau infeksi. • Rhinoskopi Posterior Pemeriksaan nasofaring dengan rhinoskopi posterior untuk menyingkirkan neoplasma. • Skrining Koagulopati Tes-tes yang tepat termasuk waktu protrombin serum. • Endoskopi Hidung Melihat atau menyingkirkan kemungkinan penyakit lainnya. jumlah platelet dan waktu perdarahan .PEMERIKSAAN • Rhinoskopi Anterior Pemeriksaan harus dilakukan dengan cara teratur dari anterior ke posterior dan harus diperiksa dengan cermat. waktu tromboplastin parsial.

.PENATALAKSANAAN • Penanganan pertama pada pasien epistaksis adalah kompresi hidung dan menutup lubang hidung yang bermasalah dengan kasa atau kapas yang telah di rendam pada topical dekongestan terlebih dahulu. Penekanan langsung sebaiknya dilakukan terus-menerus setidaknya 5 menit atau sampai 20 menit. • Miringkan kepala kedepan agar mencegah darah mengalir ke bagian posterior faring. hal ini untuk mencegah rasa mual dan obstruksi jalan nafas.

• Epistaksis berat yang tidak berespon dengan kauterisasi kimia memerlukan kauterisasi elektrikal. .• Epistaksis yang tidak hilang dengan penekanan dan pemberian topical vasokonstriktor membutuhkan tindakan kauterisasi kimia dengan silver nitrate. Hanya satu sisi septum yang di kauterisasi pada satu waktu agar menurunkan resiko perforasi septum iatrogenic.

• Apabila perdarahan masih berlanjut walaupun setelah dilakukan tindakan diatas. . diperlukan pemasangan anterior nasal pack / tampon hidung anterior.

Epistaksis posterior jarang terjadi dibandingkan epistaksis anterior dan biasanya ditangani oleh dokter spesialis. Posterior nasal packing atau tampon posterior dilakukan dengan memasukkan kateter melalui salah satu lubang hidung atau keduanya ke nasofaring dan keluar melalui mulut. .

dengan memasukkan udara atau cairan kedalam balon. balon akan mengembang dan memberikan penekanan pada dinding lateral hidung dan septum.• Beragam sistem balon efektif dalam menangani perdarah posterior. Konsepnya tetap sama. .

Ahli radiologi intervensi dapat melakukan embolisasi pada cabang distal dari arteri maxillaris interna dan arteri sphenopalatina untuk epistaksis posterior. Tingkat kesuksesan ligasi arteri sphenopalatina adalah sama atau lebih tinggi dibandingkan tindakan embolisasi. . embolisasi atau ligasi pembuluh darah diperlukan.• Ketika tindakan konservatif gagal untuk menghentikan perdarahan.

Tekanan darah yang turun mendadak dapat menimbulkan iskemia otak. • Sebagai akibat perdarahan hebat dapat terjadi syok dan anemia. Harus segera dilakukan pemberian infus atau transfusi darah. serta laserasi palatum mole dan sudut bibit bila benang yang dikeluarkan melalui mulut terlalu kencang ditarik.KOMPLIKASI • Dapat terjadi langsung akibat epistaksis sendiri atau akibat usaha penanggulangannya. insufisiensi koroner dan infark miokard dan akhirnya kematian. air mata yang berdarah (bloody tears) karena darah mengalir secara retrograd melalui duktus nasolakrimalis dan septikemia. . haemotympanum. • Akibat pemasangan tampon posterior dapat timbul otitis media. • Akibat pemasangan tampon anterior dapat timbul sinusitis (karena ostium sinus tersumbat).

DIAGNOSIS BANDING Termasuk perdarahan yang bukan berasal dari hidung tetapi darah mengalir keluar dari hidung. . •Hemoptisis •Varises oesofagus yang berdarah •Perdarahan di basis cranii yang kemudian darah mengalir melalui sinus sphenoid ataupun tuba eustachius.

• Batasi penggunaan obat – obatan yang dapat meningkatkan perdarahan (aspirin atau ibuprofen). Merokok menyebabkan hidung menjadi kering dan menyebabkan iritasi. • Bersin melalui mulut. • Gunakan gel hidung larut air di hidung. . • Hindari meniup melalui hidung terlalu keras. Jangan masukkan cotton bud melebihi 0. • Gunakan alat untuk melembabkan udara di rumah.6cm ke dalam hidung. • Konsultasi ke dokter bila alergi tidak lagi bisa ditangani dengan obat alergi biasa. • Berhentilah merokok.5 – 0. termasuk jari. pada kedua lubang hidung 2-3 kali sehari. oleskan dengan cotton bud.PENCEGAHAN • Gunakan semprotan hidung atau tetes larutan garam. • Hindari memasukkan benda keras ke dalam hidung.

. biasanya perdarahan hebat. • Pada pasien hipertensi dengan / tanpa arteriosklerosis.PROGNOSIS • 90 % kasus epistaksis anterior dapat berhenti sendiri. sering kambuh dan prognosisnya buruk.

\\(^_^’)// .HATUR NUWUN..