You are on page 1of 9
BAB V HIPOTESIS AWAL (DIFFERENTIAL DIAGNOSIS) Berdasarkan skema dari pembahasan tentang anatomi, histologi, fisiologi, patofisiologi, dan patomekanisme diatas, kami dapat menyusun differential diagnosis atau hipotesis awal dalam permasalahan ini adalah : Hematuria Maka dari itu untuk gejala klinis, pemeriksaan fisik yang diperlukan dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan, DD ini akan kami bahas lebih lanjut di bab selanjutnya. BAB VI ANALISIS DARI DIFFERENTIAL DIAGNOSIS 6.1 Kanker Serviks  Gejala Klinis: a. Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan sekitar 75%85%, berbau busuk dan terdapat perubahan warna akibat fungsi sekretori dari kelenjar serviks meningkat ,infeksi dan nekrosis jaringan. b. Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks. Perdarahan timbul akibat terbukanya pembuluh darah. Kebanyakan terjadi setelah hubungan badan atau pada saat melakukan pemeriksaan ginekologi atau terlalu memaksa pada waktu buang air besar, ada darah segar bercampur dengan sekresi vagina (keputihan). c. Pendarahan tidak teratur pada vagina. Wanita usia lanjut yang telah menopause bertahun-tahun, tiba-tiba “menstruasi” lagi tanpa sebab. d. Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf, adanya infeksi atau peradangan . Perut bagian bawah atau daerah lumbosakral sering terasa sakit, terkadang sakit timbul di perut bagian atas, paha atas dan persendian panggul, setiap saat masa menstruasi, waktu buang air besar atau hubungan badan. Rasa sakit akan meningkat, terlebih pada saat infeksi meluas mengarah ke belakang sepanjang ligamen uterosakral atau menyebar sepanjang ligamen luas di bagian bawah, membentuk peradangan kronis jaringan ikat parametrium. Pada saat ligamen utama serviks menebal, rasa sakit akan lebih berat. e. Cepat lelah f. Kehilangan berat badan g. Anemia h. Obtruksi ureter sering terjadi karena metastasis ke KGB, terutama pada ureter 2,5 cm dari pelvicouretero junction berada kira – kira 1 cm dari serviks. Obstruksi ureter juga dapat terjadi di ureter yang melewati vasa iliaca i. Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat metastase jauh.  Pemeriksaan Fisik: 1. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan serviks merupakan prosedur mutlak yang perlu dilakukan untuk melihat perubahan portio vaginalis dan mengambil bahan apusan untuk pemeriksaan sitologi ataupun biopsi. Setelah biopsi, pemeriksaan dilanjutkan dengan palpasi bimanual vagina dan rektum untuk mengetahui luas massa tumor pada serviks dan rektum. 2. Tes Paps smear. Tes Pap merupakan salah satu pemeriksaan sel serviks untuk mengetahui perubahan sel, sampai mengarah pada pertumbuhan sel kanker sejak dini. Apusan sitologi pap diterima secara universal sebagai alat skrining kanker serviks. Metode ini peka terhadap pemantauan derajat perubahan pertumbuhan epitel serviks. Pemeriksaan Tes Pap dianjurkan secara berkala meskipun tidak ada keluhan terutama bagi yang berisiko (1-2 kali setahun). Berkat teknik Tes Pap, angka kematian turun sampai 75% (Rasjidi Imam, 2008). 3. Kolposkopi Kolposkopi adalah alat ginekologi yang digunakan untuk melihat perubahan stadium dan luas pertumbuhan abnormal epitel serviks. Metode ini mampu mendeteksi pra karsinoma serviks dengan akurasi diagnostik cukup tinggi (Erich B., 1991). Kolposkopi hanya digunakan selektif pada sitologi Tes Pap abnormal yaitu displasia dan karsinoma in situ atau kasus yang mencurigakan maligna. Kombinasi kolposkopi dan tes Pap memberikan ketepatan diagnostic lebih kuat. Sensitivitas tes Pap dan kolposkopi masing-masing 55% dan 95% dan spesifisitas masing-masing 78,1% dan 99,7% (Erich B.,1991). 4. Konisasi Jika pemeriksaan kolposkopi tidak memuaskan maka konisasi harus dilakukan yaitu pengawasan endoserviks dengan serat asetat selulosa di mana daerah abnormal ternyata masuk ke dalam kanalis servikalis (Erich B., 1991). 5. Biopsi Biopsi memerlukan prosedur diagnostik yang penting sekalipun sitologi apusan serviks menunjukkan karsinoma. Spesimen diambil dari daerah tumor yang berbatasan dengan jaringan normal. Jaringan yang diambil diawetkan dengan formalin selanjutnya diproses melalui beberapa tahapan hingga jaringan menjadi sediaan yang siap untuk diperiksa secara mikroskopis(Aziz, M.F., 2002).  Pemeriksaan Penunjang: 1. USG 2. Penanda tumor 3. Radiologic (foto thoraks) 4. Endoskopi (sistokopi , rektoskopi) Cystoscopy: tabung tipis berlensa cahaya dimasukkan ke dalam kandung kemih melalui uretra untuk mengetahui apakah kanker telah berkembang ke daerah ini. Sample biopsy juga bisa diambil sekaligus. Cystoscopy memerlukan anestesi bius total. Proktoskopi: tabung tipis terang digunakan untuk memeriksa penyebaran kanker serviks ke area anus Anda. 5. Laboratorium (cek darah lengkap) 6. MRI 7. CT SCAN 8. Bone scan 9. BNO, IVP 6.2 Hematuria  Definisi Hematuria memiliki arti adanya darah di dalam urin (air kencing). Adanya darah di dalam urin dibagi menjadi 2 macam. Hematuria yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang disebut microscopic hematuria. Sedangkan bila air kencing terlihat berwarna merah darah maka disebut gross hematuria.  Gejala Klinis: Tanda-tanda yang jelas terlihat dari hematuria adalah berubahnya warna urine menjadi merah muda, kemerahan, atau kecokelatan karena mengandung sel darah merah. Umumnya hematuria tidak terasa sakit. Tapi jika muncul darah yang menggumpal bersama dengan urine, kondisi ini akan menjadi menyakitkan. Beberapa kasus hematuria memang tidak disertai gejala lain sama sekali. Namun ada juga yang mengalami lebih dari hematuria. Gejala-gejala yang menyertai hematuria akan tergantung pada penyebab dasarnya. Berikut adalah gejala-gejala lain yang mungkin ada: 1. Darah pada urine (hematuria makroskopis, hematuria mikroskopis). 2. Nyeri saat proses mengeluarkan urine (disuria) 3. Urogensi 4. Frekuensi 5. Nyeri pada daerah pelvis atau pinggang 6. Hematuria dapat menimbulkan retensi urine pada bekuan darah  Pemeriksaan Fisik: Cek tanda-tanda vital dan hemodinamik tubuh, tanda kurang darah (Anemia) . Adanya riwayat tekanan darah tinggi menunjukkan kemungkinan sudah terjadi gangguan ginjal. Lakukan pemeriksaan abdomen (perut) untuk melihat kemungkinan teraba nya masa ginjal. Pada pria dapat dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk melihat kelainan prostat dan pada wanita lakukan pemeriksaan perut bawah panggul untuk melihat kemungkinan masa di rongga panggul.  Pemeriksaan Penunjang: 1. Pemeriksaan laboratorium dan radiologi (pemeriksaan analisis urine dan disptik, sitologi urine, dan test darah) 2. Test-test melokular (seperti BTA, NPM22, atau Fluorescent insitu hibridisasi) 3. USG 4. BNO, IVP 5. CT – scan 6. Sistoskopi: diagnostik ini dikerjakan dalam lokal anastesi, menggunakan scope (teropong) fleksibel untuk memvisualisasikan kandung kemih dan saluran. 6.3 Leiyomioma uteri a. Defenisi Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid. Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%), belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche. b. Etiologi Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti, namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen. c. Letak Leiomyoma Uteri 1. Mioma intramural ; Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus. 2. Mioma Submukosum ; Mioma yang tumbuh ke arah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu. 3. Mioma Subserosum ; Mioma yang tumbuh ke arah luar dan menonjol pada permukaan uterus. d. Komplikasi 1. Pertumbuhan leimiosarkoma. Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause 2. Torsi (putaran tangkai) Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut. 3. Nekrosis dan Infeksi Pada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina, dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder. e. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun, Albumin : turun, Lekosit : turun / meningkat, Eritrosit : turun 1. USG : terlihat massa pada daerah uterus. 2. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya. 3. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut., 4. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi. 5. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan operasi. f. Cara penanganan Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan, cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan. Adapun cara penanganan pada myoma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal. Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO). TAH–BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus, serviks, kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding, perut pada malignan neoplasmatic desease, leymyoma dan chronic endrometriosis (Tucker, Susan Martin, 1998). 6.4 Polip Serviks a. Definisi Polip serviks adalah penyakit yang timbul akibat adanya pertumbuhan tidak normal pada jaringan didalam rahim. Pertumbuhan jaringan ini akan membentuk suatu benjolan yang apabila dibiarkan, benjolan tersebut akan berkembang menjadi seperti buah cerry. Benjolan ini dapat dikatakan sebagai jenis dari tumor jinak. b. Gejala klinis 1. Pendarahan Wanita yang terjangkit penyakit mematikan ini akan selalu mengalami pendarahan ketika ia melakukan hubungan seksual. Namun, jika belum parah, darah yang keluar hanyalah sedikit. Jika ternyata darah yang anda keluarkan terbilang cukup banyak, berarti anda sedang mengalami gejala polips serviks. 2. Sakit saat berhubungan seksual Wanita yang mengidap penyakit polip serviks, akan merasakan sakit yang sangat luar biasa saat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. 3. Mual dan muntah Mual dan muntah adalah gejala yang tidak dapat dihindari apabila anda mengidap penyakit polip serviks. Biasanya rasa mual dan muntah ini akan muncul bersamaan dengan penyakit demam. Itulah 3 gejala seorang wanita menderita penyakit polip serviks. Jika anda mengalami ketiga gejala diatas, anda harus memeriksakan diri kedokter karena penyakit polip serviks memiliki banyak dampak buruk apabila dibiarkan. Dampak tersebut dimulai dengan kesulitan wanita tersebut untuk mendapatkan seorang keturunan. Bahkan, banyak wanita yang meninggal akibat telat menangani penyakit ini. c. Pemeriksaan fisik 1. Pemeriksaan Bagian Luar Inspeksi • Rambut pubis, distribusi, bandingkan sesuai usia perkembangan klien • Kulit dan area pubis, adakah lesi, eritema, visura, leokoplakia dan eksoria • Labia mayora, minora, klitoris, meatus uretra terhadap pemebengkakan ulkus, keluaran dan nodul 2. Pemeriksaan Bagian Dalam Inspeksi Serviks: ukuran, laserasi, erosi, nodula, massa, keluaran dan warnanya Palpasi • Raba dinding vagina: Nyeri tekan dan nodula, • Serviks: posisi, ukuran, konsistensi, regularitas, mobilitas dan nyeri tekan • Uterus: ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas • Ovarium: ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi dan nyeri tekan d. Pemeriksaan Penunjang 1. USG 2. Biopsi 3. Hb