You are on page 1of 6

INDARA PITARAA DAN SIRAAPARE

Indara Pitaraa dan Siraapare adalah anak lelaki kembar yang sakti namun bertabiat kurang
baik alias nakal. Tidak tahan melihat kenakalan mereka, orangtua si kembar pun menyuruh
mereka merantau saja. Di tengah perjalanan, kedua anak kembar itu berpisah karena
diterbangkan angin topan. Indara Pitaraa terjatuh di sebuah negeri yang sedang terancam oleh
amukan ular raksasa, sedangkan Siraapare terjatuh di sebuah negeri yang sedang
dilanda perang. Bagaimana nasib si kembar selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Indara
Pitaraa dan Siraapare berikut ini!
***
Dahulu, di sebuah kampung di Sulawesi Tenggara, hiduplah sepasang suami istri. Saat itu, sang
istri sedang hamil tua. Semakin mendekati masa kelahiran, ia sering mengalami kesakitan seperti
ada benda tajam yang menusuk-nusuk perutnya dari dalam. Melihat keadaan tersebut, sang suami
pun hanya bisa pasrah dan berdoa semoga istri yang amat dicintainya itu dapat melahirkan
dengan selamat.
Akhirnya, sang istri pun melahirkan anak lelaki kembar. Ajaibnya, kedua anak itu lahir bersama
dengan sebuah keris pusaka di tangan kanan masing-masing. Pasangan suami istri pun baru
menyadari bahwa ternyata kedua keris itulah yang kerap menusuk-nusuk perut sang istri. Mereka
kemudian memberi nama kedua anak kembarnya itu Indara Pitaraa dan Siraapare dan
merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Sepuluh tahun kemudian, Indara Pitaraa dan Siraapare telah tumbuh menjadi remaja. Namun
sayangnya, mereka menjadi anak yang nakal. Keris pusaka itu menjadi sumber kenakalan mereka.
Mereka kerap menggunakan keris tersebut untuk merusak tanaman. Bahkan, tak jarang keris itu
digunakan untuk membunuh hewan ternak penduduk. Perilaku Indara Pitaraa dan Siraapare
benar-benar telah meresahkan masyarakat. Kedua orangtua mereka pun pusing memikirkan
perilaku si kembar.
Suatu malam, ketika Indara Pitaraa dan Siraapare sedang terlelap, kedua orangtuanya tampak
sedang berbincang mengenai anak mereka.
“Pak, aku sudah tidak tahan lagi melihat perilaku anak-anak kita. Kalau begini terus keadaannya,
aku khawatir warga akan membenci kita,” keluh sang istri.
“Benar juga katamu, Bu. Tapi, apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan kenakalan
mereka?” tanya sang suami bingung.
Sang istri termenung sejenak. Ia tampaknya berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari
permasalahan tersebut. Selang beberapa saat kemudian, sang istri lalu berkata kepada suaminya.
“Pak, bagaimana kalau mereka kita suruh saja merantau?” saran sang istri.

“Kakak. Mereka terlihat sangat rukun. “Ingat. anak-anakku. Indara Pitaraa dan Sirapare pun pergi. 7 ruas tebu sebagai pengganti air minum. Indara Pitaraa dan Siraapare pun segera mengikatkan tali pinggang mereka. mendaki gunung. Bu. “Ayo cepat kita ikatkan tali pinggang agar kita berpisah bila diterbangkan angin!” seru Indara Pitaraa . mereka beristirahat. Ketika mereka menyampaikan hal tersebut pada esok harinya. Setiba di puncak. . Ayah. Kalian adalah bersaudara kandung. Tak ayal. usul yang bagus. dan menuruni lembah tanpa arah dan tujuan. mereka kemudian berhenti untuk melepaskan lelah. “Wahai. Setelah berpamitan pada orangtua mereka. Ketika istirahat dan makan. mereka pun makan bersama.” ujar sang ayah. Suatu hari. Semakin lama. sang Ayah berpesan kepada mereka.” ujar sang ibu. mereka semakin jauh naik ke angkasa. Gunung itu merupakan gunung ketujuh yang akan mereka daki. dan 2 belah kelapa tua. Tanpa disadari. anak-anakku. kalian juga harus selalu berjalan bersama. Namun. Ketika mereka sedang terlelap. Siraapare yang terbangun lebih dulu segera membangunkan kakaknya. Sang ibu juga membekali mereka tempurung kelapa sebagai penutup kepala. Mereka berjalan menyusuri hutan lebat. “Ada angin topan datang. sang ibu segera menyiapkan bekal berupa 7 buah ketupat. tali pinggang mereka terlepas sehingga keduanya pun berpisah. Indara Pitaraa dan Siraapare sedang mendaki sebuah gunung. angin topan yang amat dahsyat tiba-tiba datang menerpa mereka.“Wah. tiba-tiba datang angin topan yang sangat kencang. Mendengar persetujuan kedua anak kembarnya. Untuk itu.” jawab suaminya. cepat bangun!” serunya. Indara Pitaraa dan Sirapaare pun menyambutnya dengan riang gembira. mereka selalu bersama-sama. keduanya pun terbang melayanglayang di udara. Setelah itu. Aku rasa mereka pasti setuju.” jawab si kembar serentak. Sebelum kedua anak yang amat disayanginya itu berangkat. 7 butir telur rebus. Ayah minta kalian harus selalu rukun dan saling membantu jika salah satu di antara kalian mendapat musibah. jangan sampai berpisah!” “Baik. Dengan bekal yang masih tersisa.” Indara Pitaraa seketika terbangun. Bawalah semua barang-barang ini untuk bekal kalian selama di perjalanan. “Dengarlah.

dia akan marah dan menyerang negeri ini. Tuan Muda. Indara Pitaraa amat terkejut karena negeri yang ia temui sangat sepi. apa gerangan yang terjadi di negeri ini? Lalu. ia berhasil memukul mundur pasukan musuh. hamba akan menghabisi ular raksasa itu. ampun Tuan Putri. Tuan Putri. Dengan keris pusaka sebagai senjata dan tempurung kelapa sebagai perisai.” ujar Indara Pitaraa . Indara Pitaraa terjatuh di sebuah negeri yang sedang terancam amukan ular raksasa. “Oh. kalau begitu.” jawab Siraapare yang suaranya tidak terlalu terdengar lagi oleh Indara Pitaraa .’ “Hai. Tuan Putri tidak perlu takut. Jika tidak. Kalau boleh hamba tahu. “Maaf. ia mendengar suara gemerisik dari balik sebuah gendang besar. “Sepertinya ada orang di balik gendang itu. adikku. siapa kamu?” tanya Indara Pitaraa . Ketika memasuki sebuah rumah. “Aku ada di baliknya. Tak seorang pun orang terlihat keluar rumah. kenapa Tuan Putri bersembunyi di balik gendang ini?” “Negeri ini sedang diteror oleh seekor ular raksasa. Kak. Akhirnya. Ular raksasa meminta kepada warga agar aku dijadikan sebagai persembahan. Siraapare terpaksa ikut berperang untuk membela negeri tersebut.” ucap Indara Pitaraa seraya memberi hormat.” gumamnya. jangan pukul gendang itu!” seru suara itu. Siraapare dinobatkan menjadi raja di negeri tersebut.!” teriak Indara Pitaraa . Begitu mendekat. Sementara Siraapare terjatuh di negeri yang sedang dilanda perang. . “Baiklah. Sementara itu.” jawabnya.” ungkap sang Putri dengan sedih. Bahkan.“Siraapare. ia langsung menepak (memukul) gendang itu.” Alangkah terkejutnya Indara Pitaraa ketika orang yang keluar dari balik gendang itu adalah seorang gadis cantik. Orang yang ada di baliknya pun tersentak kaget.. “Jangan dirimu baik-baik!” “Iya. Aku putri Raja negeri ini. Anak kembar itu akhirnya terjatuh ke bumi di tempat yang berbeda. “Hai. “Maaf. Indara Pitaraa kemudian melangkah perlahan-lahan mendekati gendang itu.

. Indara Pitaraa yang berada di dalam perut ular itu. ular raksasa itu langsung menyerang Indara Pitaraa dengan kibasan ekornya.!” ular itu tertawa terbahak-bahak. ular biadab! Jika berani. Ha. “Keris ini akan mengoyak-oyak seluruh isi perutmu. Indara Pitaraa dan Sirapaare meminta maaf kepada seluruh warga atas kenakalan mereka di masa kecil. Raja Indara Pitaraa bertemu dengan adiknya Siraapare yang juga telah menjadi raja di negeri lain. mereka juga mengganti seluruh kerugian. dapat dengan mudah menghindar.. Ular yang ganas itu akhirnya tewas. Akhirnya.. tanpa disangka-sangka. Indara Pitaraa dengan gagahnya segera keluar. “Hai. Tidak hanya itu.. Ayo. anak ingusan! Dengan apa kamu berani melawanku?” “Lihatlah.Tak berapa lama kemudian. baik hewan ternak maupun tanaman yang dulu pernah mereka rusak. Indara Pitaraa memerintah negeri itu dengan arif dan bijaksana. Ha. keris pusaka di tanganku ini!” seru Indara Pitaraa . Setiba di kampung halaman. seluruh penduduk negeri ini akan kubinasakan... lawan aku!” tantang Indara Pitaraa . Suatu ketika. Keberhasilan Indara Pitaraa membunuh ular raksasa yang ganas itu disambut meriah oleh penduduk negeri. “Ha. *** . “Karena permintaanku tidak dipenuhi. Uar itu pun kembali melancarkan serangan bertubi-tubi hingga berhasil memanggut dan menelan tubuh Indara Pitaraa . ular raksasa itu datang. Ia menebaskan kerisnya dan mencabik-cabik isi perut ular itu. Tangan kanannya menggenggam keris pusaka. Ia amat marah karena sang Putri yang dijanjikan tidak datang ke tempatnya. tidak menyianyiakan kesempatan. Mendengar suara ular itu. Sementara itu. sedangkan tangan kirinya memegang perisai tumpurung kelapa. Indara yang sebelumnya sudah bersiap-siap.” ancam ular raksasa itu. mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halaman untuk menemui orangtua mereka. “Hai. Mereka pulang dengan membawa istri masing-masing dan disertai oleh sejumlah pengawal. Ia pun menikahi putri Raja dan beberapa tahun kemudian ia dinobatkan menjadi raja. mereka pun mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam dengan mengundang seluruh warga kampung. Indara Pitaraa pun segera keluar dari dalam perutnya ular itu. Pada kesempatan itulah. majulah kalau berani!” Merasa diremehkan.

Samsuni/sas/278/09-11) Diceritakan kembali oleh Samsuni Versi 2 Di suatu daerah di Sulawesi Tenggara. Keduanya terpisah terlempar ke negeri yang berbeda. Hingga dia sampai di rumah yang paling besar. Indara Pitaraa dan Siraapare tumbuh menjadi pemuda yang nakal. Orangtua si kembar bersepakat menyuruh anak-anaknya merantau. Tak ada siapapun. Berjalan tanpa tahu tujuan. dan tidak berbuat onar di kampungnya. Indara Pitaraa masuk. Bayi kembar ini memiliki keistimewaan. dan kembar. tempat ini kosong. Indara Pitaraa dan Siraapare sangat senang mendengar usulan tersebut. Kehadiran bayi kembar ini menambah kebahagiaan suami istri tersebut. Tak ada suara. Semua orang yang bertemu dengannya pasti dikerjain. kecuali suara desir dari sebuah gendang. bukannya kebahagiaan yang didapat suami istri ini. jabatan. melainkan kesedihan. ataupun kesaktian yang kita miliki akan sangat bermanfaat jika digunakan untuk menolong sesama. Agar mereka tahu negeri orang. Ikat pinggang mereka putus.Demikian cerita Indara Pitaraa dan Siraapare dari Sulawesi Tenggara. Dia berjalan dan berkeliling dari rumah ke rumah. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa harta. Sama seperti di tempat-tempat lain. Saat lahir pegang benda pusaka di tangan kanan masing-masing. Mereka menjelajah negeri-negeri yang baru. mereka lewati. Dia mengambil gendang itu . Meski keduanya saling menyatukan diri dengan ikat pinggang. Mirip dengan rumah pemimpin negeri tersebut. Keduanya berangkat. sungai. datang angin topan yang meniup mereka. gunung. ada sepasang suami istri yang tengah menanti kelahiran buah hati mereka. Mereka beri nama Indara Pitaraa dan Siraapare. Delapan belas tahun kemudian. Karena benda pusaka yang mereka miliki. Indara Pitaraa mendapati sebuah negeri yang sepi. Kehamilan si istri ini sedikit lain. angin topan terlalu kuat meniup mereka. Karena mendekati masa persalinan perut selalu sakit seperti ditusuk-tusuk benda tajam. Saat beristirahat. Sayangnya. daerah. Si istri ini melahirkan bayi laki-laki.

Indara Pitaraa dinikahkan dengan Putri Raja dan menjadi raja pengganti ayah si Putri Raja. Indara segera memecahkan gendang itu. Sesampainya di sana mereka meminta maaf atas perilaku semasa muda dulu. “Kenapa Tuan Putri bisa berada di dalam gendang itu?" “Ceritanya panjang. .dan memukulnya. Suatu hari mereka pulang kampung dan membawa istri masing-masing. Berbekal benda pusaka yang dibawanya sejak lahir dan kecerdikannya sewaktu mengerjain orangorang di kampungnya. Beberapa tahun kemudian.” Indara Pitaraa mengajukan diri untuk melawan si ular raksasa. Bertempur dengan penuh semangat juang. Gendang itu pun bersuara. Mereka berkumpul dan menjalin hubungan baik. Lalu dia melongok ke dalam gendang dan melihat seorang wanita di dalamnya. dia melawan si ular raksasa. Indara Pitaraa bertemu lagi dengan Siraapare yang juga telah menjadi raja di negeri lain. selama tiga hari tiga malam. Negeri Putri Raja berhasil diselamatkan. Indara terkejut mendengar itu. Intinya ada seekor ular raksasa yang membuat ulah dengan meneror negeri ini. dan keluarlah Putri Raja dengan selamat. Dari pertempuran ini dimenangkan Indara Pitaraa.