You are on page 1of 24

BAB 1

PENDAHULUAN
Trauma adalah kata lain untuk cedera atau rudapaksa yang dapat
mencederai fisik maupun psikis. Trauma pada jaringan lunak muskuloskeletal
dapat berupa vulnus (luka), perdarahan, memar (kontusio), regangan atau robek
parsial, putus atau robek (avulsi atau ruptur), gangguan pembuluh darah, dan
gangguan saraf. Cedera pada tulang menimbulkan patah tulang (fraktur) dan
dislokasi. 1
Peningkatan mobilitas disektor lalu lintas dan faktor kelalaian manusia
merupakan salah satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang dapat
menyebabkan fraktur. Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja, olah
raga dan rumah tangga. Patah tulang antebrachii sering terjadi pada bagian distal
yang umumnya disebabkan oleh gaya pematah langsung sewaktu jatuh dengan
posisi tangan hiperekstensi. Hal ini dapat diterangkan oleh karena adanya
mekanisme refleks jatuh dimana lengan menahan badan dengan posisi siku agak
menekuk seperti gaya jatuhnya atlit atau penerjun payung. 2
Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang dengan atau tanpa
letak perubahan letak fragmen tulang. Menurut Lane and Cooper, fraktur atau
patahtulang adalah kerusakan jaringan atau tulang baik komplet maupun
inkompleteyang

berakibat

tulang

yang

menderita

tersebut

kehilangan

kontinuitasnya dengan atau tanpa adanya jarak yang menyebabkan fragmen. 3
Tulang ulna adalah salah satu dari dua tulang lengan bawah. Dua tulang
lengan bawah, radius dan ulna merupakan tulang yang berada merentang dari siku

1

ke pergelangan tangan sendi.4 Kedua tulang lengan bawah dihubungkan oleh sendi
radioulnar yang diperkuat oleh ligamentum anulare yang melingkari kapitulum
radius, dan di distal oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamen radioulnar,
yang mengandung fibrokartilago triangularis. Membrana interosea memperkuat
hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan satu kesatuan yang kuat. Oleh
karena itu, patah yang hanya mengenai satu tulang agak jarang terjadi atau bila
patahnya hanya mengenai satu tulang, hampir selalu disertai dislokasi sendi
radioulnar yang dekat dengan tempat patahnya. 1
Berdasarkan penelitian di rumah sakit di Australia pada tahun 1997,
jumlah pasien yang mengalami fraktur terutama daerah lengan bawah bagian
distal yaitu laki – laki 12.357 dan wanita 19.319 pasien, sedangkan insidennya
pada laki – laki yaitu 152 per 100.000 pasien laki-laki dan 157 per 100.000 pasien
perempuan. Insiden tertinggi dan faktor resiko yaitu pada usia 10-14 tahun pada
pasien laki-laki dan di atas 85 tahun pada wanita. Insiden fraktur diperkirakan
pada usia 50 tahun keatas akan meningkat 81%, dibandingkan dengan 11% untuk
usia dibawah 50 tahun. Pada kelompok usia tua, jumlah wanita yang beresiko
lebih tinggi 4,7 kali dibandingkan dengan pria. 5 Pada kecelakaaan kendaraan
bermotor, pengemudi lebih sering mengalami fraktur radius ulna dibandingkan
dengan penumpangnya, terutama tanpa airbag depan. Pada anak anak fraktur
radius ulna terjadi karena bermain skateboard, roller skating, dan mengendarai
skuter. Fraktur radius ulna sering terjadi pada anak laki-laki dengan usia 11
sampai 14 tahun, sedangkan pada anak perempuan sering pada usia 8 sampai 11

2

sehingga cukup ditangani secara konservatif dengan gips. Gerakan ke arah radial sering menyebabkan fraktur avulsi prosesus styloideus ulna 7 Gejala klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma. 8 Posisi fragmen fraktur ulna biasanya tidak berubah. Fragmen bagian distal radius terjadi dislokasi ke arah dorsal.1 Fraktur ulna dapat menyebabkan nyeri saat tangan digerakkan. Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki riwayat jatuh pada tangan yang terentang. Jika dengan fragmen yang terdislokasi.6 Fraktur radius distal merupakan 15% dari seluruh kejadian fraktur pada dewasa.tahun. gangguan fungsi muskuloskeletal akibat nyeri.1 BAB 2 3 . harus diteliti apakah ada juga fraktur tulang radius atau dislokasi sendi radioulnar. putusnya kontinuitas tulang dan gangguan neurovaskular. Biasanya penderita jatuh terpleset sedang tangan berusaha menahan berat badan dengan posisi terbuka dan pronasi yang akan menyebabkan patah radius 1/3 distal dimana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian. seperti ditusuk-tusuk dan nyeri berkurang saat tidur. radial dan supinasi. deformitas. Pada usia tua biasanya menderita trauma minimal dan mempunyai faktor resiko osteoporosis. rasa nyeri dan bengkak di bagian tulang yang patah. krepitasi. Ini adalah fraktur yang tersering ditemukan pada manula berhubungan dengan permulaan osteoporosis pasca menopause. nyeri tekan.

membentuk persendiaan dengan tulang lainnya. Daerah ini merupakan suatu daerah yang sangat sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit. Kerusakan atau kelainan berkembang pada daerah lempeng efifisis akan menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang. tibia. Tulang pipih Yang termasuk tulang pipih antara lain tulang iga. Dari aspek pertumbuhan. bagian tengah tulang disebut 4 . ulna dan humerus. yang pada pertumbuhan memanjang tulang membentuk cavitis medullaris. Pada os Longum substantia compacta berada di bagian tengah dan makin ke ujung tulang menjadi semakin tipis. Tulang panjang Yang termasuk tulang panjang misalnya femur. Pada ujung tulang terdapat substantia spongiosa. ujungtulang berbentuk konveks atau konkaf. Lapisan superficialis tulang disebut periosteum dan lapisan profunda disebut endosteum. Secara makroskopis terdiri dari : (1) substantia compacta dan (2) substantia spongiosa. Bagian tengah os longum disebut corpus. membesar. Tulang Pendek Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebra dan tulang-tulang karpal.3 2.TINJAUAN PUSTAKA a. Anatomi Tulang Tulang dalam garis besarnya dibagi atas: 1. dimana daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifisis disebut metafisis. tulang scavula dan tulang pelvis. oleh karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. 3.

yang memungkinkan penyembuhan tulang pada anak lebih cepat dibandingkan orang dewasa. pipih Anatomi Radius Ujung proximal radius membentuk caput radii (=capitulum radii).9 Gambar 2.diaphysis. dan bagian diantara keduanya disebut metaphysis. ujung tulang disebut epiphysis dibentuk oleh cartilago. panjang. Pada anak lebih tebal daripada orang dewasa. yang disebut circumferentia articularis dan 5 . letak melintang. tempat pertumbuhan memanjang dari tulang (peralihan antara cartilago menjadi osseum)10 Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luar yang disebut korteks dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan diluarnya dilapisi oleh periostenum.1 : Contoh tulang pendek. Caput radii dikelilingi oleh facies articularis. Ujung cranial caput radii membentuk fovea articularis (=fossa articularis) yang serasi dengan capitulum radii. berbentuk roda.

Hal yang sebaliknya terdapat pada radius. Corpus radii di bagian tengah agak cepat membentuk margo interossea (=crista interossea). Pada ujung proximal ulna terdapat incisura trochlearis (= incisura semiulnaris). Di sebelah caudal collum pada sisi medial terdapat tuberositas radii.2 : Tulang Radius Anatomi Ulna Ujung proximal ulna lebih besar daripada ujung distalnya. dibagian medial membentuk incisura ulnaris. Permukaan ujung distal radius membentuk facies articularis carpi. Caput radii terpisah dari corpus radii oleh collum radii. menghadap ke arah ventral. dan pada facies dorsalis terdapat sulcus-sulcus yang ditempati oleh tendon. membentuk persendian dengan trochlea humeri. Tonjolan di bagian dorsal disebut 6 . margo anterior (=margo volaris).berhubungan dengan incisura radialis ulnae. dan margo posterior. Ujung distal radius melebar ke arah lateral membentuk processus styloideus radii.10 Gambar 2.

faciesmedialis. dan berasal dari medial dan bagian belakang tulang kemudian membentuk bulatan dan melapisi ligamen kolateral ulna. dan disebelah caudalnya terdapat tuberositas ulnae. dan di 7 . margo anterior dan margo posterior. dan di bagian dorsal terdapat processus styloideus sertasilcus m.11 Kedua tulang lengan bawah dihubungkan oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamentum anulare yang melingkari kapitulum radius.brachialis. Ujung distal ulna disebut caput ulnae (= capitulum ulnae).olecranon. facies posterior. Ujung distal ulna berhadapan dengan cartilago triangularis dan dengan radius. yang berhadapan dengan caput radii. Caput ulnae berbentuk circumferentia articularis. margo interosseus.extensoris carpi ulnaris.10 Gambar 2. Corpus ulnae membentuk facies anterior. Di sebelah caudal incisura radialis terdapat crista musculi supinatoris. dibagian lateral dan incisura trochlearis terdapat incisura radialis.3 : Tulang Ulna Prosessus stiloideus ulna ditemukan di ujung distal lengan bawah. tempat perlekatan m. Di sebelah caudal incisura trochlearis terdapat processus coronoideus.

misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.2 Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma yang berat. m. hampir selalu disertai dislokasi sendi radioulnar yang dekat dengan patah tersebut. yaitu otot supinator. misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna. radius dan ulna dihubungkan oleh otot antartulang. patah yang hanya mengenai satu tulang agak jarang terjadi atau bila patahnya hanya mengenai satu tulang.pronator teres. kadang-kadang trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya sendiri terkena 8 . Membranes interosea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan satu kesatuan yang kuat. Etiologi Fraktur Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung.distal oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamen radioulnar. Ketiga otot itu bersama dengan otot lain yang berinsersi pada radius dan ulna menyebabkan patah tulang lengan bawah disertai dislokasi angulasi dan rotasi. dan dapat berupa trauma tidak langsung. Selain itu.2 Gambar 2. yang mengandung fibrokartilago triangularis. Oleh karena itu. terutama pada radius.4 : Anatomi radius dan ulna b.pronator kuadratus yang membuat gerakan pronasi-supinasi. m.

Jika trauma ringan yang terus menerus dapat menimbulkan fraktur. tingkat keparahan dan jenis termasuk fraktur avulsi. pergelangan tangan atau lengan bawah. Fraktur spontan/patologik 3.penyakit tertentu. Gambar harus selalu diambil dalam dua proyeksi. dan sebagainya. Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang sebelumnya telah mengalami proses patologik. Trauma ringan saja sudah dapat menimbulkan fraktur. Berdasarkan ini.Trauma ringan tetapi terus menerus. jatuh dan sebagainya. fraktur stres. Diagnosis Fraktur Film polos tetap merupakan pemeriksaan penunjang radiologis yang utama pada sistem skeletal. tetapi dapat juga terjadi pada pasien yang lebih muda atau olahragawan.Internal : kontraksi otot yang kuat dan mendadak seperti pada serangan epilepsi. dan sebagainya. keracunan strinkin. Fraktur stress/fatigue Trauma dapat bersifat : . Fraktur stress disebabkan oleh trauma ringan tetapi terus menerus. . kominutif. Fraktur ulna seringkali diikuti dengan luka yang lain seperti pergelangan tangan terkilir atau dislokasi. misalnya fraktur march pada metatarsal fraktur tibia pada penari balet. Fraktur disebabkan trauma yang berat 2. fraktur epikondilus medial. kista tulang. osteomyelitis. 9 . misalnya tumor tulang primer atau sekunder. fraktur olekranon.14 c. fraktur greenstick.15 Posisi yang dianjurkan untuk melakukan plain x-ray adalah AP dan lateral view. fraktur Colles atau fraktur lainnya dari tangan. myeloma multiple. renjatan listrik. fraktur fibula pelari jarak jauh. tetanus. .13 Fraktur ulna sangat sering terjadi pada orang yang sudah lanjut usia. Fraktur ulna dapat bervariasi dalam lokasi.Eksternal : tertabrak. dan lain-lain. maka dikenal berbagai jenis fraktur : 1.

Fraktur ini kadang-kadang terasa nyeri saat lengan bawah di rotasi. serta posisi lengan bawah menghadap ke arah datangnya sinar (posisi anatomi). Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi fraktur.17 Berikut ini gejala klinis dari beberapa jenis fraktur yang terdapat pada fraktur radius dan ulna : - Fraktur Kaput Radius Fraktur kaput radius sering ditemukan pada orang dewasa tetapi hampir tidak pernah ditemukan pada anak-anak. lateral. Posisi AP bertujuan untuk menilai kemiringan dan panjang os radius. Sinar datang dari arah depan sehingga disebut AP (Antero-Posterior). dan nyeri tekan pada sisi lateral siku memberi petunjuk untuk mendiagnosisnya . Setiap tulang dapat mengalami fraktur walaupun beberapa diantaranya sangat rentan.16 Film polos merupakan metode penilaian awal utama pada pasien dengan kecurigaan trauma skeletal. posisi lateral bertujuan untuk menilai permukaan artikulasi distal radius pada posisi normal volar (posisi anatomis).Fraktur Leher Radius 10 . Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah : - Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang atau menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang normal pada - fraktur minor.Posisi ini dibutuhkan agar letak tulang radius dan tulang ulna tidak bersilangan.15 Terdapat tiga posisi yang diperlukan pada foto pergelangan tangan untuk menilai sebuah fraktur distal radius yaitu AP. Iregularis kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada korteks. dan oblik.

patah sedangkan pada anak-anak tulang lebih mungkin mengalami fraktur pada leher radius. Perlu dilakukan pemeriksaan untuk lesi saraf ulnaris. .Fraktur Diafisis Radius Kalau terdapat nyeri tekan lokal. sebaiknya dilakukan pemeriksaan sinar-X . Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang dan lengan bawah dalam keadaan pronasi. Ujung bagian bawah ulna yang menonjol merupakan tanda yang mencolok.Jatuh pada tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam valgus dan mendorong kaput radius pada kapitulum. Pada fraktur ini kemungkinan terdapat nyeri tekan pada kaput radius dan nyeri bila lengan berotasi. yang sering terjadi. Pada orang dewasa kaput radius dapat retak atau. Dislokasi mengenai ulna ke arah dorsal dan medial. Fragmen distal mengalami pergeseran dan angulasi kearah dorsal. anak mengeluh nyeri pada siku. 11 . Fraktur Galeazzi jauh lebih sering terjadi daripada fraktur Monteggia.Fraktur Distal Radius Fraktur Distal Radius dibagi dalam : 1) Fraktur Galeazzi Fraktur Galeazzi yaitu Fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi sendi radio-ulna distal. Setelah jatuh. atau terjadi karena pukulan langsung pada pergelangan tangan bagian dorsolateral.

3) Fraktur Smith Fraktur ini akibat jatuh pada punggung tangan atau pukulan keras secara langsung pada punggung tangan. Pasien mengalami cedera pergelangan tangan. biasanya sekitar 2 cm dari permukaan artikular. Fraktur colles dapat terjadi setelah terjatuh. Fraktur radius terjadi di korpus distal. Fraktur radius bagian distal (sampai 1 inci dari ujung distal) dengan angulasi ke posterior.5 : Fraktur Galeazzi 2) Fraktur Colles Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang. Dapat bersifat kominutiva. Dapat disertai fraktur prosesus stiloid ulna. Kemungkinan dapat disertai dengan fraktur pada prosesus styloideus ulna.2 Gambar 7. dislokasi ke posterior dan deviasi pragmen distal keradial.Gambar 2. memperlihatkan gambaran deformitas “garpu-makan malam” (dinner-fork). Fraktur Colles dan fraktur Smith 12 . tetapi tidak terdapat deformitas. Fragmen distal bergeser ke arah dorsal dan proksimal. Fraktur radius bagian distal dengan angulasi atau dislokasi fragmen distal ke arah ventral dengan diviasi radius tangan yang memberikan gambaran deformitas “sekop kebun” (garden spade). sehingga dapat menyebabkan fraktur pada ujung bawah radius dengan pergeseran posterior dari fragmen distal.

5 : Radiologi fraktur Smith Gambar 2.6 : Radiologi Fraktur Colles 4) Fraktur Lempeng Epifisis 13 .Gambar 2.

Fraktur ini terjadi oleh karena adanya shearing force dan sering terjadi pada bayi baru lahir dan pada anak-anak yang lebih muda.Tipe I Terjadi pemisahan total lempeng epifisis tanpa adanya fraktur pada tulang.7 : Klasifikasi Salter Harris Paling umum adalah tipe II. sel-sel pertumbuhan lempeng epifisis masih melekat pada epifisis. . Pengobatan dengan reduksi tertutup mudah oleh karena masih ada perlekatan periosteum yang utuh dan intak. Prognosis biasanya baik bila direposisi dengan cepat. dengan fragmen metafisis triangular terlihat didorsal.18 - Tipe II 14 .Fraktur Lempeng Epifisis merupakan fraktur pada tulang panjang didaerah ujung tulang pada dislokasi sendi serta robekan ligamen.19 Klasifikasi menurut Salter-Harris merupakan klasifikasi yang dianut dan dibagi dalam 5 tipe :19 Gambar 2.

Pengobatan dengan reposisi secepatnya tidak begitu sulit kecuali bila reposisi terlambat harus dilakukan tindakan operasi. tergantung kerusakan pembuluh darah.Tipe V Fraktur tipe V merupakan fraktur akibat hancurnya epifisis yang diteruskan pada lempeng epifisis. Prognosis jelek bila reduksi tidak dilakukan. Sel-sel pertumbuhan pada lempeng epifisis juga masih melekat.Tipe III Fraktur lempeng epifisis tipe III merupakan fraktur intra-artikuler. Pengobatan dengan operasi terbuka dan fiksasi interna dilakukan karena fraktur tidak stabil akibat tarikan otot. Jenis fraktur ini misalnya fraktur kondilus lateralis humeri pada anak-anak. Trauma yang menghasilkan jenis fraktur ini biasanya terjadi pada anak-anak yang lebih tua. Garis fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian sepanjang garis lempeng epifisis. . Garis fraktur melalui sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan membentuk suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga yang disebut tanda ThursonHolland. Periosteum mengalami robekan pada daerah konveks tetapi tetap utuh pada daerah konkaf. Oleh karena fraktur ini bersifat intraartikuler dan diperlukan reduksi yang akurat maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka dan fiksasi interna dengan mempergunakan pin yang halus.Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan.19 .Tipe IV (Fraktur Tillaux) Fraktur tipe ini juga merupakan fraktur intra-artikuler yang melalui permukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan epifisis dan berlanjut pada sebagian metafisis. Prognosis biasanya baik. Biasanya terjadi pada daerah sendi penopang 15 . . Jenis fraktur ini bersifat intra-artikuler dan biasanya ditemukan pada epifisis tibia distal.

badan yaitu sendi pergelangan kaki dan sendi lutut. serta mudah sembuh pada 16 . Fraktur yang tidak disertai perubahan posisi ekstra artikular dari distal radius dan fraktur tertutup dari ulna dapat diatasi secara efektif dengan primary care provider. 9 : Fraktur Monteggia d. Fraktur distal radius umumnya terjadi pada anak-anak dan remaja. Prognosis jelek karena dapat terjadi kerusakan sebagian atau seluruh lempeng pertumbuhan. Diagnosa sulit karena secara radiologik tidak dapat dilihat. Fraktur radius dan ulna biasanya selalu berupa perubahan posisi dan tidak stabil sehingga umumnya membutuhkan terapi operatif.14 Gambar 2. 5) Fraktur Monteggia Fraktur jenis ini disebabkan oleh pronasi lengan bawah yang dipaksakan saat jatuh atau pukulan secara langsung pada bagian dorsal sepertiga proksimal dengan angulasi anterior yang disertai dengan dislokasi anterior kaput radius. Penatalaksanaan Fraktur Fraktur dari distal radius adalah jenis fraktur yang paling sering terjadi.

Gambar 18 .kebanyakan kasus. Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang menderita fraktur tersebut dapat kembali normal. Reduksi atau reposisi adalah tindakan mengembalikan fragmenfragmen fraktur semirip mungkin dengan keadaan atau kedudukan semula atau keadaan letak normal. sehingga cukup ditangani secara konservatif dengan gips. Jika ada fragmen yang terdislokasi. 3.1 Terapi fraktur diperlukan konsep ”empat R” yaitu :2 1. Proses penyembuhan fraktur Secara rinci proses penyembuhan beberapatahap sebagai berikut : 17 fraktur dapat dibagi dalam . 2. Retensi atau fiksasi atau imobilisasi adalah tindakan mempertahankan atau menahan fragmen fraktur tersebut selama penyembuhan. 4. Rekognisi atau pengenalan adalah dengan melakukan berbagai diagnosa yang benar sehingga akan membantu dalam penanganan fraktur karena perencanaan terapinya dapat dipersiapkan lebih sempurna.13 Posisi fraktur fragmen ulna biasanya tidak berubah. harus diteliti apakah ada juga fraktur tulang radius atau dislokasi sendi radioulnar.

Fase proliferatif : proliferasi sel-sel periosteal dan endoosteal. kemudian terjadi organisasi (proliferasi jaringan penyambung muda dalam daerah radang) dan hematoma akan mengempis. Fase hematoma : pada mulanya terjadi hematoma dan disertai pembengkakan jaringan lunak. Pada fase ini sudah terjadi pengendapan kalsium.1. Proses dari periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen bertemu dalam satu preses yang sama.walaupun adanya kartilago ini tidak mutlak dalam penyembuhan tulang. Pada saat ini mungkin tampak di beberapa tempat pulau-pulau kartilago. yang menonjol adalah proliferasi sel-sel lapisan dalam periosteal dekat daerah fraktur. Tiap fraktur biasanya disertai putusnya pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah di sekitar fraktur. Sel-sel osteoblas mengeluarkan matriks intra selluler 18 . Hematoma terdesak oleh proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh. 3. Fase pembentukan callus : pada fase ini terbentuk fibrous callus dan disini tulang menjadi osteoporotik akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. proses terus berlangsung kedalam dan keluar dari tulang tersebut sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain. 2. Bersamaan dengan aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis dari lapisan endosteum dan dari bone marrow masing-masing fragmen. yang mungkin banyak sekali. Pada ujung tulang yang patah terjadi iskemia sampai beberapa milimeter darigaris patahan yang mengakibatkan matinya osteocyt pada daerah fraktur tersebut.

4. Pada saat ini sudah mulai diletakkan sehingga sudah tampak jaringan yang radioopaque. 5. Fase ini terjadi sesudah 4 (empat) minggu. Pada fase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary callus. Secara berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang yang normal. Pada stadium ini sebenarnya proses penyembuhan sudah lengkap. karena proses pembauran tersebut. Dengan mengikuti stress/tekanan dan tarik mekanis. serta terjadi pembentukan kembali dari medula tulang. yang segera bersatu dengan garam-garam kalsium. callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan pembentukan lamela-lamela. membentuk tulang immature atau young callus. Apabila union sudah lengkap. maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali 19 . misalnya gerakan. Fase remodeling : pada fase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang banyak dan tulang sudah terbentuk dengan baik. namun pada umur-umur lebih mudah lebih cepat. sehingga dapat membentuk kanal medularis. Fase konsolidasi : pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturisasi lebih lanjut olehaktivitas osteoblas.yang terdiri dari kolagen dan polisakarida. tulang baru yang terbentuk pada umumnya berlebihan. kontraksi otot dan sebagainya. maka pada akhir stadium terdapat dua macam callus yaitu didalam disebut internal callus dan diluar disebut external callus. mengelilingi daerah fraktur di luar maupun didalam kanal.

Cara kelima berupa reposisi yang diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar. 3. 4. Hal ini dilakukan pada patah tulang yang bila direposisi akan terdislokasi kembali di dalam gips. misalnya dengan menggunakan mitela atau sling. tetapi tetap diperlukan imobilisasi agar tidak terjadi dislokasi fragmen. dan fraktur vertebra dengan kompresi minimal. Cara pertama penangan adalah proteksi saja tanpa reposisi dan imobilisasi. Menurut Sjamsuhidajat (2010). kemudian pin baja tadi disatukan 20 . Cara keempat berupa reposisi dengan traksi terus-menerus selama waktu tertentu. seperti pada patah tulang radius distal. ada 8 cara penangan fraktur. misalnya beberapa minggu. fraktur klavikula pada anak. Pada fraktur dengan dislokasi fragmen fraktur patahan yang minimal atau tidak akan menyebabkan cacat di kemudian hari. 5. Contoh cara ini adalah pengelolaan patah tulang tungkai bawah tanpa dislokasi yang penting. Fiksasi fragmen fraktur menggunakan pin baja yang ditusukkan pada fragmen tulang. Cara ketiga berupa reposisi dengan cara manipulasi yang diikuti mobilisasi. Ini dilakukan pada patah tulang dengan dislokasi fragmen yang berarti. 2.2 Prinsip menangani fraktur adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang (imobilisasi). lalu diikuti dengan imobilisasi. biasanya pada fraktur yang dikelilingi oleh otot yang kuat seperti pada patah tulang femur. Cara kedua ialah imobilisasi luar tanpa reposisi. yaitu :1 1. cukup dilakukan dengan proteksi saja. Contoh kasus yang ditangani dengan cara ini adalah fraktur iga.dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan aslinya.

Penggunaan prostesis dipilih jika fragmen kolum femur tidak dapat disambungkan kembali. Kaput femur dibuang secara operatif lalu diganti dengan prostesis. antebrakia. Cedera saraf jarang terjadi. Keuntungan ORIF adalah tercapainya reposisi yang sempurna dan fiksasi yang kokoh sehingga pascaoperasi tidak perlu lagi dipasang gips dan mobilisasi segera bisa dilakukan. Alat ini dinamakan fiksator eksterna. humerus. yang dilakukan pada patah tulang kolum femur. setelah tereposisi. misalnya reposisi patah tulang kolum femur. Komplikasi 1. 8. 7. Fragmen direposisi secara non-operatif dengan meja traksi.secara kokoh dengan batangan logam di luar kulit. ligamen karpal yang melintang harus dibelah sehingga 21 . dan yang mengherankan tekanan saraf medianus pada saluran karpal pun jarang terjadi. Cara yang terakhir berupa eksisi fragmen patahan tulang dan menggantinya dengan prostesis. biasanya pada orang lanjut usia. ORIF) . ORIF biasanya dilakukan pada fraktur femur. Cara ketujuh berupa reposisi secara operatif diikuti dengan fiksasi interna. pembalut yang menahan slab perlu dibuka atau dilonggarkan. Kerugiannya adalah adanya risiko infeksi tulang. Cara ini disebut juga sebagai reduksi terbuka fiksasi interna (open reduction internal fixation. tibia. Cara keenam berupa reposisi secara non-operatif diikuti dengan pemasangan fiksator tulang secara operatif. dilakukan pemasangan prostesispada kolum femur secara operatif. Komplikasi Dini Sirkulasi darah pada jari harus diperiksa. Kalau hal ini terjadi. 6. e.

kelemahan dan hilangnya rotasi dapat bersifat menetap. karena kelalaian. Distroft refleks simpatetik mungkin amat sering ditemukan. dan deformitas radius dikoreksi dengan osteotomi. Kekakuan pada bahu. tetapi untungnya ini jarang berkembang lengkap menjadi keadaan atrofi Sudeck. Komplikasi lanjut  Malunion Malunion sering ditemukan. Mungkin terdapat pembengkakan dan nyeri tekan pada sendi-sendi jari. Bila ketidakmampuan hebat dan pasiennya relatif muda.2 2. Penampilannya buruk. 2. Bentuk akut dicirikan dengan adanya awitan demam sistemik maupun manifestasi lokal yang berjalan dengan cepat. pada saat gips dilepas tangan akan kaku dan nyeri serta ter-dapat tanda-tanda ketidakstabilan vasomotor. tetapi prosesus stiloideus ulnar sering hanya diikat dengan jaringan fibrosa saja dan tetap mengalami nyeri dan nyeri tekan selama beberapa bulan. baik karena reduksi tidak lengkap atau karena pergeseran dalam gips yang terlewatkan. adalah komplikasi yang sering ditemukan. Pada umumnya terapi tidak diperlukan. Pada sekitar 5% kasus. Penyatuan lambat dan non-union pada radius tidak terjadi.5 cm bagian bawah ulna dapat dieksisi untuk memulihkan rotasi. Kekakuan pergelangan tangan dapat terjadi akibat pembebatan yang lama. Pada anak-anak infeksi tulang seringkali timbul sebagai komplikasi dari infeksi pada 22 .2  Osteomyelitis Adapun komplikasi infeksi jaringan tulang disebut sebagai osteomielitis dan dapat timbul akut atau kronik. Sinar-X memperlihatkan osteoporosis dan terdapat peningkatan aktivitas pada scan tulang.tekanan saluran dalam karpal berkurang.

Bakterinya (Staphylococcus aureus. terutama pada anak-anak. dan perawatan pembedahan yang sesuai dapat dilakukan dengan pencegahan penyebaran infeksi yang masih terlokalisasi dan untuk mencegah jangan sampai seluruh tulang mengalami kerusaskan yang dapat menimbulkan kelumpuhan. Haemophylus influenzae berpindah melalui aliran darah menuju metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir ke dalam sinusoid. Osteomielitis kronik adalah akibat dari osteomielitis akut yang tidak ditangani dengan baik. bahkan tindakan drainase dan debridement. osteomielitis sangan resisten terhadap pengobatan dengan antibiotika. Diagnosis yang salah pada anak-anak yang menderita osteomielitis dapat mengakibatkan keterlambatan dalam memberikan pengobatan yang memadai. serta pemberian antibiotika yang tepat masih tidak cukup untuk menghilangkan penyakit.tempat-tempat lain seperti infeksi faring (faringitis). Namun biasanya akibat kontaminasi jaringan saat cedera atau operasi. Akibat perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan. maka tempat peradangan yang terbatas ini akan terasa nyeri dan nyeri tekan. osteomielitis juga dapat awali oleh bakteri dalam aliran darah. sehingga pengobatan dengan antibiotika dapat dimulai. Perlu sekali mendiagnosis ini sedini mungkin. Streptococcus. Infeksi tulang sangat sulit untuk ditangani. telinga (otitis media) dan kulit (impetigo). Pada orang dewasa. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.3 23 .

24 . 3) Fraktur Smith. sehingga cukup ditangani secara konservatif dengan gips. baik trauma langsung ataupun tidak langsung. hampir selalu disertai dengan dislokasi sendi radioulnar.BAB 3 PENUTUP Fraktur Prosessus Stiloideus Ulna adalah terputusnya kontinuitas tulang di daerah ujung distal lengan bawah yang disebabkan oleh trauma. Fraktur pada pergelangan tangan jarang mengenai hanya satu tulang saja. yaitu : 1) Fraktur Galeazzi. Fraktur pada pergelangan tangan biasanya banyak terjadi pada anak-anak dengan insiden tertinggi terdapat pada usia 10-14 tahun pada jenis kelamin laki-laki. Komplikasi yang mungkin terjadi ada dua. Pemeriksaan penunjang radiologis (Foto Polos sistem skeletal) akan menunjukkan tanda dan gambaran yang khas apabila ditemukan adanya fraktur. Gambar harus diambil dengan dua proyeksi. Jenis-jenis fraktur yang dapat terjadi pada pergelangan tangan. yaitu komplikasi dini dan komplikasi lanjut. yaitu posisi AP dan lateral view. Apabila hanya satu tulang saja. 2) Fraktur Colles (kemungkinan disertai dengan fraktur procesuss stiloideus ulna). Posisi fraktur fragmen ulna biasanya tidak berubah. sedangkan insiden tertinggi terdapat pada usia 85 tahun untuk jenis kelamin perempuan. Diagnosa fraktur dapat ditegakkan dengan cara pemeriksaan penunjang radiologis. 4) Fraktur Lempeng Epifisis (terbagi menjadi 5 jenis menurut klasifikasi Salter Haris) dan 5) Fraktur Monteggia.