You are on page 1of 26

LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn AM

Usia

: 87 tahun

Alamat

: Sukoharjo

No RM

: 0155XX

Tanggal Foto

: 28-08-2014

1

2. PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Rontgen Thorax pada tanggal 28-8-2014 posisi AP

COR

: Cardiomegali

PULMO

: Corakan bronkovaskuler meningkat
tampak bercak infiltrat pada kedua pulmo
diafragma dan sinus suram

KESAN

: Gambaran TB paru dengan efusi pleura dextra dan sinistra

2

2 Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Efusi pleura bukan merupakan suatu penyakit. efusi pleuraterutama disebabkan oleh gagal jantung kongestif. 2 Di negara-negara barat.2 Diperlukan penatalaksanaan yang baik dalam menanggulangi efusi pleura ini. 3 . sementara di negaranegara yang sedang berkembang. sirosis hati.Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat dijumpai pada sekitar 50-60% penderita keganasan pleura primer atau metastatik. Hal ini mengakibatkan insufisiensi pernafasan dan juga dapat mengakibatkan gangguan pada jantung dan sirkulasi darah. maka penulis berkeinginan menyajikan informasi mengenai efusi pleura agar dapat menjadi bahan masukan kepada diri penulis dan kita semua dapat mendiagnosis serta memberikan terapi yang tepat pada penderita efusi pleura. maka kapasitas paru akan berkurang dan di samping itu juga menyebabkan pendorongan organ-organ mediastinum.1Akibat adanya carian yang cukup banyak dalam rongga pleura.seperti Indonesia.BAB I PENDAHULUAN Efusi pleura adalah penimbunan cairan didalam rongga pleura akibat transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. lazim diakibatkan oleh infeksi tuberkulosis. keganasan. termasuk jantung. yaitu pengeluaran cairan dengan segera serta pengobatan terhadap penyebabnya sehingga hasilnya akan memuaskan. Sementara 5% kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi pleura dan sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi pleura. danpneumonia bakteri. akan tetapi merupakan tanda suatu penyakit. Efusi pleurakeganasan merupakan salah satu komplikasi yang biasa ditemukan pada penderita keganasan dan terutama disebabkan oleh kanker paru dan kanker payudara.

cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi1. kecuali pada cairan pleura mempunyai kadar protein lebih rendah yaitu < 1. Biasanya terjadi karena trauma toraks. yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran cairan pleura. sirosis hati dengan asites.1 Effusi pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleuraatau Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya cairan pleura dalam jumlah yang berlebihan di dalam rongga pleura. jumlah cairan dalam rongga pleura sekitar 10-20 ml. Sebab-sebab lain yang mungkin adalah kegagalan jantung kanan. Trauma ini bisa karna ledakan dasyat di dekat 4 . asites dan hidrotorak). 1. Hidrotoraks Pada keadaan hipoalbuminemia berat. bisa timbul transudat. Cairan pleura komposisinya sama dengan cairan plasma. serta sebgai salah satu tias dari syndroma meig (fibroma ovarii. pus.1 Definisi Efusi pleura adalah adanya penumpukan cairan dalam rongga (kavum) pleura yang melebihi batas normal. Dalam hal ini penyakitnya disebut hidrotorak dan biasanya ditemukan bilateral.5 gr/dl.2 a.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.2 Dalam konteks ini perlu di ingat bahwa pada orang normal rongga pleura ini juga selalu ada cairannya yang berfungsi untuk mencegah melekatnya pleura viseralis dengan pleura parietalis.2 Ada beberapa jenis cairan yang bisa berkumpul di dalam rongga pleura antara lain darah.Dalam keadaan normal terdapat 10-20 cc cairan. Dalam keadaan normal. b. sehingga dengan demikian gerakan paru (mengembang dan mengecil) dapat berjalan dengan mulus. Hemotoraks Hemotorak adalah adanya darah di dalam rongga pleura.

Hal ini mungkin karena faktor koagulasi sudah terpakai sedangkan fibrinnya diambil oleh permukaan pleura. Empiema bisa merupakan komplikasi dari:  Pneumonia  Infeksi pada cedera di dada  Pembedahan dada d. Chylotoraks Kilotoraks adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan kil/getah bening pada rongga pleura. Bila darah aspirasi segera membeku. maka biasanya darah tersebut berasal dari trauma dinding dada.  Gangguan pembekuan darah. c. Kadar Hb pada hemothoraks selalu lebih besar 25% kadar Hb dalam darah. Pada setiap kasus pneumonia perlu diingat kemungkinan terjadinya empiema sebagai salah satu komplikasinya. sehingga biasanya mudah dikeluarkan melelui sebuah jarum atau selang. Empiema Bila karena suatu infeksi primer maupun sekunder cairan pleura patologis iniakan berubah menjadi pus. atau trauma tajam maupu trauma tumpul.Penyebab lainnya hemotoraks adalah:  Pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam ronggapleura. Adapun sebab-sebab terjadinya kilotoraks antara lain : 5 . maka keadaan ini disebut piotoraks atau empiema. Darah hemothorak yang baru diaspirasi tidak membeku beberapa menit.  Kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura.penderita. akibatnya darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna.

Secara histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesothelial. Kongental. Dalam hal ini. Di bawah sel-sel mesothelial ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit. histoplasmosis). Penyakit-penyakit ini memberi efek obstruksi dan juga perforasi terhadap duktus torasikus secara kombinasi. terdapat perbedaan antara pleura viseralis dan parietalis. sejak lahir tidak terbentuk (atresia) duktus torasikus.3 1. dan dalam keadaan normal. diafragma. metastasis karsinima ke mediastinum. diantaranya : 1.  Obstruksi Karena limfoma malignum. tapi terdapat fistula antara duktus torasikus rongga pleura.Membran serosa yang membungkus parekim paru disebut pleura viseralis. berisikan lapisan cairan yang sangat tipis.2 2.Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hillus paru.  Trauma yang berasal dari luar seperti penetrasi pada leher dan dada. reseksi esophagus 1/3 tengah dan atas.Rongga pleura dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi sebagai pelumas antara kedua pleura. dan mediastinum disebut pleura parietalis. granuloma mediastinum (tuberkulosis.1. atau pukulan pada dada (dengan/tanpa fratur).Rongga pleura terletak antara paru dan dinding thoraks. operasi leher.2.Diantara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit. di 6 . operasi kardiovaskular yang membutuhkan mobilisasi arkus aorta. jaringaan ikat.Yang berasal dari efek operasi daerah torakolumbal.2 Anatomi dan Fisiologi Pleura Pleura adalah membran tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura visceralis dan parietalis. sedangkan membran serosa yang melapisi dinding thorak. Pleura Visceralis Permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis < 30mm.Disamping itu terdapat juga penyakit trombosis vena subklavia dan nodul-nodul tiroid yang menekan duktus torasikus dan menyebabkan kilotoraks.

Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung kapiler dari a. Keseluruhan berasal n. pembuluh limfe. Intercostalis dan a. dan banyak reseptor saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperatur. Mamaria interna. Mudah menempel dan lepas dari dinding dada di atasnyaFungsinya untuk memproduksi cairan pleura Gambar 1.bawahnya terdapat lapisan tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat elastik. Pleura parietalis Jaringan lebih tebal terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat (kolagen dan elastis). Brakhialis serta pembuluh limfeMenempel kuat pada jaringan paruFungsinya. Pulmonalis dan a. Lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari a. Intercostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan dermatom dada. untuk mengabsorbsi cairan pleura. 2. Tampilan depan paru dan pleuranya FISIOLOGI Cairan pleura berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis bergerak selama 7 .

Masing-masing dari kedua pleura merupakan membran serosa mesenkim yang berpori-pori. Jumlah total cairan dalam setiap rongga pleura sangat sedikit. dimana sejumlah kecil transudat cairan intersisial dapat terus menerus melaluinya untuk masuk kedalam ruang pleura. hanya beberapa mililiter yaitu 1-5 ml.pernapasan dan untuk mencegah pemisahan toraks dan paru yang dapat dianalogkan seperti dua buah kaca objek yang akan saling melekat jika ada air. Selisih perbedaan absorpsi cairan pleura melalui pleura viseralis lebih besar daripada selisih perbedaan pembentukan cairan oleh pleura parietalis dan permukaan pleura viseralis lebih besar dari pada pleura parietalis sehingga dalam keadaan normal hanya ada beberapa mililiter cairan di dalam rongga pleura. Dalam kepustakaan lain menyebutkan bahwa 8 . Kedua kaca objek tersebut dapat bergeseran satu dengan yang lain tetapi keduanya sulit dipisahkan. (1) Gambar2 memperlihatkan dinamika pertukaran cairan dalam ruang pleura. Cairan pleura dalam keadaan normal akan bergerak dari kapiler di dalam pleura parietalis ke ruang pleura kemudian diserap kembali melalui pleura viseralis.

dengan distribusi etiologi terkait dengan prevalensi penyakit yang mendasarinya. dan permukaan lateral pleural parietalis(3). Efusi pleura ganas secara signifikan berhubungan dengan keganasan payudara dan ginekologi. maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga pleura kedalam mediastinum. efusi pleura sebagian disebabkan oleh gagal jantung kongestif.jumlah cairan pleura sebanyak 12-15 ml (1). Oleh karena itu. pneumonia. Namun.2. Sekitar dua pertiga dari efusi pleura ganas terjadi pada wanita. hal ini memperlihatkan adanya keseimbangan antara tekanan hidrostatik dan tekanan onkotik dalam pembuluh darah pleura viseral dan parietal dan drainase limfatik luas. Meskipun spektrum etiologi efusi pleura sangat luas.3 Epidemiologi Estimasi prevalensi efusi pleura adalah 320 kasus per 100.000 orang di negara-negara industri. penyebab tertentu memiliki kecenderungan seks.4 Etiologi Ruang pleura normal mengandung sekitar 1 mL cairan. dapat bersifat akut atau kronis. permukaan superior dari diafragma. atau emboli paru. kejadian efusi pleura adalah sama antara kedua jenis kelamin. Secara umum. ruang pleura (ruang antara pleura parietalis dan pleura visceralis) disebut ruang potensial. karena ruang ini normalnya begitu sempit sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas. Efusi pleura yang terkait dengan lupus eritematosus sistemik juga lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. keganasan.. Perubahan permeabilitas membran pleura (misalnya. 2 Efusi pleura merupakan indikator dari suatu penyakit paru atau non pulmonary. Mekanisme sebagai berikut memainkan peran dalam pembentukan efusi pleura: 1. keganasan. radang. Efusi pleura merupakan hasil dari ketidakseimbangan tekanan hidrostatik dan tekanan onkotik.1. Kapanpun jumlah ini menjadi lebih dari cukup untuk memisahkan kedua pleura. emboli paru) 9 .3 2. 2 2.

Peningkatan permeabilitas kapiler atau gangguan pembuluh darah (misalnya. mencegah ekspansi paru penuh (misalnya. bronkiektasis. atelektasis yang luas. sirosis) 3. Pengurangan tekanan onkotik intravaskular (misalnya.5 Klasifikasi Efusi pleura umumnya diklasifikasikan berdasarkan mekanisme pembentukan cairan dan kimiawi cairan menjadi 2 yaitu atas transudat atau eksudat. obat hipersensitivitas. 1. trauma. pankreatitis) 4. Pembentukan cairan yang berlebihan. pneumonia. Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler dalam sirkulasi sistemik dan / atau paru-paru (misalnya. sirosis. infeksi. Transudat hasil dari ketidakseimbangan antara tekanan onkotik dengan tekanan hidrostatik. Pengurangan tekanan dalam ruang pleura. peradangan. Peningkatan tekanan onkotik di cairan pleura yang persisiten menyebabkan adanaya akumulasi cairan di pleura 10. termasuk obstruksi duktus toraks atau pecah (misalnya. Penurunan drainase limfatik atau penyumbatan lengkap. infark paru. abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura). gagal jantung kongestif.2. sindrom vena kava superior) 5. karena radang (tuberkulosis.3 10 . hipoalbuminemia. mesothelioma) 6. uremia. karena tumor dan trauma 2. keganasan. keganasan.2. trauma) 7. Peningkatan cairan peritoneal. virus. sedangkan eksudat adalah hasil dari peradangan pleura atau drainase limfatik yang menurun. dialisis peritoneal) 8. Perpindahan cairan dari edema paru ke pleura viseral 9. Dalam beberapa kasus mungkin terjadi kombinasi antara karakteristk cairan transudat dan eksudat. dengan migrasi di diafragma melalui limfatik atau cacat struktural (misalnya.

Obstruksi vena cava superior d. Transudat Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu adalah transudat. Gagal jantung kiri (terbanyak) b. Menurunnya tekanan koloid osmotic dalam pleura 4. Biasanya hal ini terjadi pada: 1. Asites pada sirosis hati (asites menembus suatu defek diafragma atau masuk melalui saluran getah bening) b. sehingga terbentuknya cairan pada satu sisi pleura melebihi reabsorpsinya oleh pleura lainnya. Bila terjadi proses peradangan maka permeabilitas kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga pleura. Klasifikasi berasarkan mekanisme pembentukan cairan: a. Transudat terjadi apabila terjadi ketidakseimbangan antara tekanan kapiler hidrostatik dan koloid osmotic. Exusadat Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membrane kapiler yang permeabelnya abnormal dan berisi protein berkonsentrasi tinggi dibandingkan protein transudat. Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner 3.Protein yang terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari saluran getah bening. Menurunnya tekanan intra pleura Penyakit-penyakit yang menyertai transudat adalah: a.1. Penyebab pleuritis eksudativa yang paling sering adalah karena mikobakterium tuberkulosis dan dikenal sebagai pleuritis eksudativa tuberkulosa. Sindrom nefrotik c. Meningkatnya tekanan kapiler sistemik 2. Kegagalan aliran protein getah bening ini (misalnya pada pleuritis tuberkulosis) akan menyebabkan 11 .

Penyakit dan jaringan ikat/ kolagen/ SLE (Sistemic Lupus Eritematosis).4 Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. antara lain: a. Cairan kebanyakan diabsorpsi oleh sistem limfatik dan hanya sebagian kecil yang diabsorpsi oleh sistem kapiler pulmonal.6 Patofisiologi Dalam keadaan normal. 2. Penyakit yang menyertai eksudat.Filtrasi yang terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstitial submesotelial kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura.Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura. Karsinoma bronkogenik e. sehingga terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi. Apabila antara produk dan reabsorpsinya tidak seimbang (produksinya meningkat atau reabsorpsinya menurun) maka akan timbul efusi pleura. Infeksi (tuberkulosis.peningkatan konsentasi protein cairan pleura. 1. Iinfark paru. Pergerakan cairan dari pleura parietalis ke pleura visceralis dapat terjadi karena adanya perbedaantekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotik. d. Radiasi. Kemampuan untuk reabsorpsinya dapatmeningkat sampai 20 kali. f.2.3. selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui kapiler pada pleura parietalis tetapi cairan ini segera direabsorpsi oleh saluran limfe.Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. pneumonia) b. Hal yang 12 . Tumor pada pleura c. sehingga menimbulkan eksudat.

1. gagal jantung kiri dan sindroma vena kava superior. Meningkatnya kadar proteindalam cairan pleura dapat menarik lebih banyak cairan masuk ke dalam rongga pleura 4.4 penumpukan cairan pleura dapat terjadi bila: 1.3. pada akhirnya akan menyebabkan gagal nafas. 1. Bila proses radang oleh kuman piogenik akan terbentuk pus/nanah.2. Meningkatnya pembentukan tekanan cairan intravaskuler pleura melalui dari pleura pengaruh meningkatkan terhadap hukum Starling.4 Bila penumpukan cairan dalam rongga pleura disebabkan oleh peradangan. Efusi pleura akan menghambat fungsi paru dengan membatasi pengembangannya. Derajat gangguan fungsi dan kelemahan bergantung pada ukuran dan cepatnya perkembangan penyakit. Bila proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemotoraks. sehingga terjadi empiema/piotoraks. Peningkatan dari tekanan vena sistemik akan menghambat pengosongan cairan limfe. infiltrasi pada kelenjar getah bening. Bila cairan tertimbun secara perlahan-lahan maka jumlah cairan yang cukup besar mungkin akan terkumpul dengan sedikit gangguan fisik yang nyata. Gagal nafas didefinisikan sebagai kegagalan pernafasan bila tekanan partial Oksigen (Pa O2)≤ 60 mmHg atau tekanan partial Karbondioksida arteri (Pa Co2) ≥ 50 mmHg melalui pemeriksaan analisa gas darah.memudahkan penyerapan cairan pada pleura visceralis adalah terdapatnya banyak mikrovili di sekitar sel-sel mesothelial. Hipoproteinemia seperti pada penyakit hati dan ginjal bisa menyebabkan transudasi cairan dari kapiler pleura ke arah rongga pleura 5. 13 . Saluran limfe bermuara pada vena untuk sistemik. baik karena obstruksi bronkus atau penebalan pleura visceralis. 3. 2.Keadaan ni dapat terjadi pada gagal jantung kanan. Tekanan intra pleura yang sangat rendah seperti terdapat pada atelektasis. gangguan kontraksi saluran limfe.3.2. Obstruksi dari saluran limfe pada pleum parietalis. Kondisi efusi pleura yang tidak ditangani.

terutama kalau cairannya penuh b. Demam subfebris pada TBC.4. Batuk berdarah pada karsinoma bronchus atau metastasis d. Nyeri biasanya dirasakan pada tempat-tempat terjadinya pleuritis. terutama apabila disertai dengan proses tuberkulosis di parunya. Pleura visceralis tidak sensitif. 1. Vokal fremitus menurun c. ringan . Ukuran efusi akan menentukan keparahan gejala.dan berat badan yang menurun seperti pada efusi yang lain. Sesak nafas bila lokasi efusi luas. menggigil. sementara efusi malignan dapat mengakibatkan dispnea dan batuk. Batuk pada umumnya non produktif dan ringan.2.3. dernarn menggigil pada empiema Dari pemeriksaan fisik didapatkan (pada sisi yang sakit) a. tapi bisa menjalar ke daerah lain : 14 . dan nyeri dada pleuritis. Pneumonia akan menyebabkan demam. Sesak napas terjadi pada saat permulaan pleuritis disebabkan karena nyeri dadanya dan apabila jumlah cairan efusinya meningkat.5 Dari anamnesa didapatkan : a. Dinding dada lebih cembung dan gerakan tertinggal b. Rasa berat pada dada c. Bunyi pernafasan menruun sampai menghilang e. nyeri dihasilkan dari pleura parietalis yang inflamasi dan mendapat persarafan dari nervus intercostal.2. Pada kebanyakan penderita umumnya asimptomatis atau memberikan gejala demam. Perkusi dull sampal flat d.7 Manifestasi Klinis Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan oleh penyakit dasar. Pendorongan mediastinum ke sisi yang sehat dapat dilihat atau diraba pada treakhea Nyeri dada pada pleuritis : Simptom yang dominan adalah sakit yang tiba-tiba seperti ditikam dan diperberat oleh bernafas dalam atau batuk.

Iritasi dari diafragma pleura posterior dan perifer yang dipersarafi oleh G. 4. Demikian juga dengan pemeriksaan CT Scan dada. CT Scan Dada CT scan dada dapat menunjukkan adanya perbedaan densitas cairan dengan jaringan sekitarnya sehingga sangat memudahkan dalam menentukan adanya efusi pleura. Nervuis intercostal terbawah bisa menyebabkan nyeri pada dada dan abdomen. Foto dada juga dapat menerangkan asal mula terjadinya efusi pleura yakni bila terdapat jantung yang membesar. adanya lesi tulang yang destruktif pada keganasan. Iritasi bagian central diafragma pleura yang dipersarafi nervus phrenicus menyebabkan nyeri menjalar ke daerah leher dan bahu. Rontgen dada Roentgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. adanya masa tumor. Pemeriksaan ini sangat membantu sebagai penuntun waktu melakukan aspirasi cairan dalam rongga pleura. Torakosentesis 15 .8 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan yang biasanya dilakukan untuk memperkuatdiagnosa efusi pleura antara lain :4. 2.6 1. 3. USG Dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan. dan adanya densitas parenkim yang lebih keras pada pneumonia atau abses paru. abses paru atau tumor.5.1. Jumlahnya sedikit dalam rongga pleusa. 2. 2. Hanya saja pemeriksaan ini tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal. Selain itu juga bisa menunjukkan adanya pneumonia.

hemotoraks. 6. Biopsi Pleura Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya maka dilakukan biopsi dimana contoh lapisan pleura sebelah luar untuk dianalisa. Pemeriksaan histologi satu atau beberapa contoh jaringan pleura dapat menunjukkan 50 -75% diagnosis kasus-kasus pleuritis tuberkulosa dan tumor pleura. penyebaran infeksi atau tumor pada dinding dada. penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. dapat dilakukan beberapa biopsi ulangan.Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis. Pelaksanaan torakosentesis sebaiknya dilakukan pada penderita dengan posisi duduk. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000 – 1500 cc pada setiap kali aspirasi. tapi diperkirakan karena adanya tekanan intra pleura yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan aliran darah melalui permeabilitas kapiler yang abnormal. Torakosentesis adalah pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sel iga ke dalam rongga dada di bawah pengaruh pembiasan lokal dalam dan berguna sebagai sarana untuk diuagnostik maupun terapeutik. meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Analisa cairan pleura 16 . Pada sekitar 20% penderita. Komplikasi biopsi antara lain pneumotoraks. Edema paru dapat terjadi karena paru-paru mengembang terlalu cepat. Adalah lebih baik mengerjakan aspirasi berulang-ulang daripada satu kali aspirasi sekaligus yang dapat menimbulkan pleural shock (hipotensi) atau edema paru. 5. Aspirasi dilakukan toraks. Mekanisme sebenarnya belum diketahui betul. Bila ternaya hasil biopsi pertama tidak memuaskan. pada bagian bawah paru di sela iga v garis aksilaris mediadengan memakai jarum Abbocath nomor 14 atau 16.

Biokimia Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.Untuk diagnostic cairan pleura. < 0. c.6 > 0.U) - Kadar LDH dalam efusi Kadar LDH dalam Serum - Berat jenis cairan efusi < 1. Biasanya merendah pada penyakitpenyakit infeksi. Eksudat > 3. dilakukan pemeriksaan : a.5 < 200 > 200 < 0. artitis reumatoid dan neoplasma - kadar amilase.6 Kadar protein dalam serum - Kadar LDH dalam efusi (I. infark paru. Biasanya meningkat pada pankreatitis dan metastasis adenokarsinoma.5 > 0. secara biokimia diperiksakan juga pada cairan pleura : - kadar pH dan glukosa.016 > 1. Bila kuning kehijauan dan agak purulen.016 - Rivalta negatif positif Di. 17 . samping pemeriksaan tersebut di atas. - Perbedaan Kadar protein dalam efusi (g/dl) - Kadar protein dalam efusi Transudat < 3. ini menunjukkan adanya abses karena ameba b.Bila agak kemerah-merahan.adanya kebocoran aneurisma aorta. ini menunjukkan adanya empiema. terutama bila ditemukan sel-sel patologis atau dominasi sel-sel tertentu. keganasan. - Sel neutrofil : Menunjukkan adanya infeksi akut. Sitologi Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk diagnostik penyakit pleura. ini dapat terjadi pada trauma. Bila merah tengguli. Warna Cairan Biasanya cairan pleura berwama agak kekuning-kuningan (serousxantho-ctrorne.

Bakteriologi Biasanya cairan pleura steril. menunjukkan empiema Pewarnaan Gram dan tahan asam Biakan Biakan kuman aerob dan anerob.E : Pada lupus eritematosus sistemik d. hitung sel darah merah. Biasanya juga ditemukan banyak sel eritrosit.5 menunjukkan suatu eksudat Laktat dahidrogenase Bila terdapat organisme. - Sel mesotel maligna :Pada mesotelioma - Sel-sel besar dengan banyak inti :Pada arthritis rheumatoid - Sel L. coli. Pemeriksaan Laboratorium terhadap cairan pleura dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Pemeriksaan Laboratorium Terhadap Cairan Pleura Hitung sel total Hitung diferensial.- Sel limfosit : Menunjukkan adanya infeksi kronik sepertipleuritis tuberkulosa atau limfomamalignum - Sel mesotel : Bila jumlahnya meningkat. Pseudomonas. Efusi yang purulen dapat mengandung kuman-kuman yang aerob ataupun anaerob. sel jaringan Protein total Rasio protein cairan pleura terhadap seum > 0. tapi kadang-kadang dapat mengandung mikroorganisme. Pada pleuritis tuberkulosa. Kleibsiella. biakan jamur dan mikobakteria harus ditanam pada lempeng 18 . apalagi bila cairannya purulen. (menunjukkan empiema). inimenunjukkanadanya infark paru. Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah : Pneumokok. kultur cairan terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20%. E. Entero-bacter.

Glukosa Glukosa yang rendah (< 20 mg/dL) bila gula darah normal menunjukkan infeksi atau penyakit reumatoid Amylase Meningkat pada pankreatitis.Caranya yaitu dengan dilakukan insisi pada dinding dada (dengan resiko kecil terjadinya pneumotoraks).2 dapat diharapkan untuk sembuh tanpa drainase kecuali bila berlokusi. mempunyai korelasi yang tinggi dengan diagnosis lupus aritematosus sistemik 7. Bronkoskopi Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul. korpus alineum dalam paru.0 menunjukkan infeksi yang memerlukan drainase atau adanya robekan esophagus. Sitologi Dapat mengidentifikasineoplasma Hematokrit Pada cairan efusi yang banyak darahnya. robekan esofagus pH Efusi parapneumonik dengan pH > 7. Scanning Isotop Scanning isotop biasanya digunakan pada kasus-kasus dengan emboli paru. Keadaan dengan pH < 7. Cairan dikeluarkan dengan memakai penghisap dan udara dimasukkan supaya bias melihat 19 . Bronkoskopi biasanya digunakan pada kasuskasus neoplasma. dapat membantu membedakan hemotoraks dari torasentesis traumatik Komplemen Dapat rendah pada lupus eritematosus sistemik Preparat sel LE Bila positif. Torakoskopi (Fiber-optic pleuroscopy) Torakoskopi biasnya digunakan pada kasus dengan neoplasma atau tuberculosis pleura. abses paru dan lain-lain 8. 9.

2. Keluhan yang lain adalah sesuai dengan penyakit yang mendasarinya 2.10 Penatalaksanaan 20 . Jantung dan mediastinum terdorong ke sisi yang sehat. 4.kedua pleura. Foto toraks dengan posisi Posterioe Anterior akan memperjelas kemungkinan adanya efusi pleura masif.9 Diagnosa 1. Pemeriksaan fisis Pada pemeriksaan fisik toraks didapatkan dada yang terkena cembung selain melebar dan kurang bergerak pada pernapasan. redup sampai pekak pada perkusi. Bila tidak ada pendorongan. Secara radiologis jumlah cairan yang kurang dari 100 ml tidak akan tampak dan baru jelas bila jumlah cairan di atras 300 ml. Dengan memakai bronkoskop yang lentur dilakukan beberapa biopsy. Fremitus vokal melemah. sangat mungkin disebabkan oleh keganasan 3. Anamnesis dan gejala klinis Keluhan utama penderita adalah nyeri dada sehingga penderita membatasi pergerakan rongga dada dengan bernapas pendek atau tidur miring ke sisi yang sakit. 2. Pemeriksaan radiologik Pemeriksaan radiologis mempunyai nilai yang tinggi dalam mendiagnosis efusi pleura. Berat ringannya sesak napas ini ditentukan oleh jumlah cairan efusi. Selain itu sesak napas terutama bila berbaring ke sisi yang sehat disertai batuk batuk dengan atau tanpa dahak. dan suara napas lemah atau menghilang. tetapi tidak mempunyai nilai apapun dalam menentukan penyebabnya. Pada sisi yang sakit tampak perselubungan masif dengan pendorongan jantung dan mediastinum ke sisi yang sehat. Torakosentensi Tujuan torakosentesis (punksi pleura) di samping sebagai diagnostik juga sebagai terapeutik.

Pleuritis TB.Pengobatan ini menyebabkan cairan efusi dapat diserap kembalai.Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk memotong lapisan terluar dari pleura (dekortikasi).Melalui selang tersebut bisa juga dimasukkan obat untuk membantu memecahkan bekuan darah (misalnya streptokinase dan streptodornase). Pengobatan dengan obat-obat antituberkulosis (Rimfapisin.6 1.2. Kilotoraks Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki kerusakan saluran getah bening. Obati penyakit yang mendasarinya a. INH. Beberapa macam pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan pada efusi pleura masif adalah sebagai berikut : 1. d.Bisa dilakukan pembedahan atau pemberian obat antikanker untuk tumor yang menyumbat aliran getah bening. tapi untuk menghilangkan eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan torakosentesis. maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan sebagian dari tulang rusuk harus diangkat sehingga bisa dipasang selang yang lebih besar. Pirazinamid/Etambutol/Streptomisin) memakan waktu 6-12 bulan.Dosis dan cara pemberian obat seperti pada pengobatan tuberkulosis paru. c.5.Jika nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa.Efusi pleura harus segera mendapatkan tindakan pengobatan karena cairan pleura akan menekan organ-organ vital dalam rongga dada.4.3.Umumnya cairan diresolusi 21 . Hemotoraks Jika darah memasuki rongga pleurahempotoraks biasanya dikeluarkan melalui sebuah selang.Jika perdarahan terus berlanjut atau jika darah tidak dapat dikeluarkan melalui selang. Empiema Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah. maka perlu dilakukan tindakan pembedahan b.

dengan sempurna. Drainase yang terlalu cepat akan menyebabkan distres pada pasien dan di samping itu dapat timbul edema paru. jangan lebih 1-1.500 ml dengan waktu antara 20-30 menit. namun cairan masih tetap banyak. Torakosentesis ulang dapat dilakukan pada hari berikutnya. perasaan tertekan pada dada. d. tapi kadang-kdang dapat diberikan kortikosteroid secara sistematik (Prednison 1 mg/kgBB selama 2 minggu.berkurang (lega). lebih baik dipasang selang dada (chest tube). Penyerapan cairan yang terlambat dan waktu sudah mendekati 6 minggu. kemudian dosis diturunkan). Torakosentesis keluarkan cairan seperlunya hingga sesak . Zangelbaum dan Pare menganjurkan jangan lebih 1. Cairan sudah mencapai sela iga ke-2 atau lebih. sedangkan untuk tujuan terapeutik pada efusi pleura tuberkulosis dilakukan atas beberapa indikasi. c. Pleurodesis Pleurodesis dimaksudkan untuk menutup rongga pleura sehingga akan mencegah penumpukan cairan pluera kembali. Chest tube jika efusi yang akan dikeluarkan jumlahnya banyak. Adanya keluhan subjektif yang berat misalnya nyeri dada. 2 4. Tidaklah bijaksana mengeluarkan lebih dari 500 ml cairan sekaligus. Hal ini dipertimbangkan untuk efusi pleura yang rekuren seperti pada efusi karena 22 . Dalam hal seperti ini biasanya cairan sudah berubah menjadi pyotoraks. sehingga akan mendorong dan menekan jantung dan alat mediastinum lainnya. b. yang dapat menyebabkan kematian secara tiba-tiba.5 liter pada setiap kali aspirasi. (2) 2. a. walaupun sudah melewati masa 3 minggu. Torakosentesis untuk tujuan diagnosis setiap waktu dapat dikerjakan. Selang dapat diklem selama beberapa jam sebelum 500 ml lainnya dikeluarkan. Suhu badan dan keluhan subjektif masih ada. 3. sehingga cairan dapat dialirkan dengan lambat tapi sempurna.

Thiotepa. Hematoraks terutama setelah trauma b. pleurodesis kimiawi. 5 Fluro urasil.5-1 jam sebelum dilakukan pleurodesis. Siklofosfamid. Pleurektomi yaitu mengangkat pleura parietalis. ustard. Pengobatan pembedahan mungkin diperukan untuk : a.keganasan Sebelum dilakukan pleurodeSis cairan dikeluarkan terlebih dahulu melalui selang dada dan paru dalam keadaan mengembang Pleurodesis dilakukan dengan memakai bahan sklerosis yang dimasukkan ke dalam rongga pleura. talk. selanjutnya diikuti segera dengan 10 ml larutan garam fisiologis untuk pencucian selang dada dan 10 ml lidokain 2% untuk mengurangi rasa sakit atau dengan memberikan golongan narkotik 1. ada juga yang melakukan selama 30 menit dan selama itu posisi penderita diubahubah agar tetrasiklin terdistribusi di seluruh rongga pleura. Efektifitas dari bahan ini tergantung pada kemampuan untuk menimbulkan fibrosis dan obliterasi kapiler pleura. penderita dengan prognosis yang buruk atau pada empiema atau hemotoraks yang tak diobati d. Bahan-bahan yang dapat dipergunakan untuk keperluan pleurodesis ini yaitu : Bleomisin. 5. Setelah tidak ada lagi cairan yang keluar masukkanlah tetrasiklin sebanyak 500 mg yang sudah dilarutkan dalam 20-30 ml larutan garam fisiologis ke dalam rongga pleura. tindakan ini jarang dilakukan kecuali pada efusi pleura yang telah mengalami kegagalan setelah mendapat tindakan WSD. Ligasi duktus torasikus. Adriamisin. Corynebacterium parvum dan tetrasiklin Tetrasiklin merupakan salah satu obat yang juga digunakan pada pleurodesis. atau pleuropritoneal shunting yaitu menghubungkan rongga pleura dengan rongga peritoneum sehingga cairan pleura mengalir ke rongga peritoneum. harga murah dan mudah didapat dimana-mana. Hal ini dilakukan terutama bila tindakan torakosentesis maupun pleurodesis tidak 23 . radiasi dan kemoterapi sistemik. Kemudian kateter diklem selama 6 jam. perak nitrat. Bila dalam 2448 jam cairan tidak keluar lagi selang dada dicabut. Empiema c.

24 .3. Dekortikasireseksipleura lewat pembedahan-mungkin diperlukan untuk membasmi infeksidan mengembalikan fungsi paru-paru. misalnya tumor atau trauma pada kelenjar getah bening. Namun pasien yang memperoleh diagnosis dan pengobantan lebih dini akan lebih jauh terhindar dari komplikasi daripada pasien yang tidak mendapatkan pengobatan dini.1. seperti limfoma atau kanker payudara. Empiema primer dan sekunder harus didrainase dan diterapi dengan antibiotika untuk mencegah reaksi fibrotik. lebih mungkin untuk dihubungkan dengan berkepanjangan kelangsungan hidup. Fibrosis Fibrosis pada sebagian paru-paru dapat mengurangi ventilasi denganmembatasi pengembangan paru. 2 2. 2 2. Antibiotika awal dipilih gambaran klinik.Efusi dari kanker yang lebih responsif terhadap kemoterapi.5 2. Pleura yang fibrotik juga dapat menjadi sumber infeksi kronis.12 Prognosis Prognosis pada efusi pleura bervariasi sesuai dengan etiologi yang mendasari kondisi itu. Dekortikasi paling baik dilakukan dalam 6 minggu setelah diagnosis empiema ditegakkan. karena selama jangka waktu ini lapisan pleura masih belum terorganisasi dengan baik(fibrotik) sehingga pengangkatannya lebih mudah. menyebabkan sedikit demam.memberikan hasil yang memuaskan.11 Komplikasi 1. Pengumpulan cairan dalam ruang pleura dapat mengakibatkan infeksi (empiema primer). Efusi ganas menyampaikan prognosis yang sangat buruk. dengan kelangsungan hidup rata-rata 4 bulan dan berarti kelangsungan hidup kurang dari 1 tahun. Pilihan antibiotika dapat diubah setelah hasil biakan diketahui. Infeksi. dan efusi pleura dapat menjadi terinfeksi setelah tindakan torasentesis {empiema sekunader). dibandingkan dengan mereka dari kanker paru-paru atau mesothelioma.

Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan oleh penyakit dasar. Ada beberapa macam pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan pada efusi pleura masif. dan nyeri dada pleuritis. Ukuran efusi akan menentukan keparahan gejala. maka kapasitas paru akan berkurang dan di samping itu juga menyebabkan pendorongan organ-organ mediastinum. biasanya dapat di sembuhkan tanpa gejala sisa yang signifikan.5 BAB III KESIMPULAN Efusi pleura adalah penimbunan cairan didalam rongga pleura akibat transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. Namun. ketika diakui dan diobati segera.Efusi parapneumonic.4. ringan .dan berat badan yang menurun seperti pada efusi yang lain Efusi pleura harus segera mendapatkan tindakan pengobatan karena cairan pleura akan menekan organ-organ vital dalam rongga dada. sementara efusi malignan dapat mengakibatkan dispnea dan batuk. Hal ini mengakibatkan insufisiensi pernafasan dan juga dapat mengakibatkan gangguan pada jantung dan sirkulasi darah. menggigil.Akibat adanya carian yang cukup banyak dalam rongga pleura. Pneumonia akan menyebabkan demam. termasuk jantung. Pada kebanyakan penderita umumnya asimptomatis atau memberikan gejala demam. DAFTAR PUSTAKA 25 . akan tetapi merupakan tanda suatu penyakit. efusi parapneumonikyang tidakterobati atau tidak tepat dalam pengobatannya dapat menyebabkan fibrosis konstriktif. Efusi pleura bukan merupakan suatu penyakit.

2. Halim. Halim H. HANLEY. Price. Ed8.Abdul Moeloek. & WELSH. 6. Denny. Wilson. Hadi. Ed.Vol 2. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah. 2005. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.com/article/299959overviewdiakses tanggal 8 Mei 2013 6. 2003. Smeltzer c Suzanne. 6. Asril. http://www. Brunner and Suddarth’s. Jakarta EGC. EGC. Ed. 2002. dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam. Rofiqahmad. Jakarta. Thorax. 3. 2012. Vol. 927-38 4. Bahar. Thorax. Sylvia A. http://emedicine. diakses tanggal 13 Maret 2008 jam 13. Firdaus.H. Current diagnosis & treatment in pulmonary medicine.Vol 2. dan Lorraine M. Wilson.20 WIB 10. 3. Jakarta: Balai Penerbit FK UI 7. 2001. E. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. 9.2001. 3. Ed. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. [New York]: McGraw-Hill Companies. dan Lorraine M. 2008. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid II.1. Rofiqahmad.1. Gaya Baru. Sylvia A. Penyakit-penyakit pleura. M. 2001.medscape. Price.Jakarta. 5.efusi pleura/080308/thorax/weblog. Ed. edisi ke-3. C. Bandar Lampung.htm. 26 . H. Jakarta: Balai Penerbit FK UI 8. Efusi Pleura. RSUD Dr. 2001. 2005. Jakarta EGC.