You are on page 1of 11

Nama : Mohammad Hosaini

No

: 36

Kelas : X TKR II

SEJARAH KERAJAAN BLAMBANGAN
Sebagian dari kita tentu tahu kisah berjenis Panji berjudul Damarwulan-Minakjinggo. Kisah
yang dianggap legenda ini begitu popular di Jawa Timur karena mengungkapkan perseteruan
antardua kerajaan, yang satu sebuah kerajaan besar bernama Majapahit, yang satu lagi kerajaan
yang tak pernah tunduk terhadap hegemoni kerajaan besar itu, yakni Kerajaan Blambangan.
Perseteruan ini melahirkan Perang Paregreg.
Kerajaan Blambangan terletak di timur Kota Banyuwangi di Jawa Timur. Bila kita melihat peta,
letak Blambangan berbatasan langsung dengan Selat Bali, dengan begitu kita yakin bahwa
kerajaan ini merupakan kerajaan pesisir. Bila melihat namanya, Blambangan berasal dari kata
bala yang artinya “rakyat” dan ombo yang artinya “besar” atau “banyak”. Dengan begtu, kita
dapat pahami bahwa Blambangan adalah “kerajaan yang rakyatnya cukup banyak”.
Tak ada berita yang pasti sejak kapan kerajaan ini berdiri. Dari kisah Damarwulan-Minakjinggo
diketahui bahwa pada masa Majapahit kerajaan ini telah ada dan berdaulat. Namun demikian,
ada beberapa sumber yang memuat nama Blambangan, yakni Serat Kanda (ditulis abad ke-18),
Serat Damarwulan (ditulis pada 1815), dan Serat Raja Blambangan (ditulis 1774), di mana
proses penulisannya dilakukan jauh setelah masa kejayaan Blambangan, yakni ketika masa
Mataram-Islam dan kekuasaan Kompeni Belanda di Jawa tengah relatif kukuh. Di samping
mengacu kepada sumber berjenis sekunder seperti ketiga serat tadi, kita masih memiliki sumber
primer yang bisa dikaitkan dengan keberadaan Blambangan, yakni Pararaton, yang meski tak
menyebutkan nama Blambangan namun kemunculan nama Arya Wiraraja dan Lamajang akan
membantu kita menyibakkan kabut yang menyelimuti sejarah awal Kerajaan Blambangan.
Istana Timur Majapahit
Untuk melacak sejarah kemunculan Kerajaan Blambangan diakui cukup sulit. Minimnya data
dan fakta membuat para ilmuwan kesukaran untuk menentukan sejarah awal kerajaan ini.
Namun, bila kita memetakan sejarah awal Majapahit pada masa Sri Nata Sanggramawijaya alias
Raden Wijaya, maka sedikit celah akan terkuak bagi kita guna menuju pencarian awal mula
Blambangan.
Pelacakan ini bisa dimulai dari peristiwa larinya Sanggramawijaya (R. Wijaya) dan kawankawan ke Songeneb (kini Sumenep) di Madura guna meminta bantuan kepada Arya Wiraraja
dalam usaha menjatuhkan Jayakatwang yang telah menggulingkan Kertanagara di Singasari.
Menurut Pararaton, Raden Wijaya berjanji, bahwa jika Jayakatwang berhasil dijatuhkan, kelak
kekuasaannya akan dibagi dua, satu untuk dirinya, satu lagi untuk Arya Wiraraja. Arya Wiraraja
ini ketika muda merupakan pejabat di Singasari, yang telah dikenal baik oleh Raden Wijaya yang

tentu belum dirasakan memuaskan. rupanya Wiraraja pada tahun 1296 sudah tidak menjabat lagi. seorang pengikut setia Raden Wijaya sekaligus Patih Amamangkubhumi Majapahit yang pertama. kita bisa melihat . jelas Nambi berada di Lamajang dan dibantu oleh pasukan Majapahit Timur. Kesaksian Babad Raja Blambangan berkesesuaian dengan apa yang tertulis pada Pararaton. peperangan antara “Keraton Barat” versus “Keraton Timur” di wilayah Majapahit. raja pertama Majapahit itu mengabulkan janjinya dengan memberi Wiraraja wilayah Majapahit sebelah timur yang beribukota di Lamajang (kini Lumajang). bahkan hingga Selat Bali (”Wit prekawit tanah Lumajang seanteron ipun kedadosaken tanah Blambangan”). kita langkahkan lagi penelesuran kita ke masa yang lebih kemudian. hal ini sesuai dengan isi Prasasti Penanggungan yang tak mencatat namanya. Pararaton mengisahkan. apakah Wiraraja masih hidup saat peristiwa Nambi berlangsung. Dalam peristiwa ini. Setelah Nambi terbunuh karena intrik politik pada 1331. wilayah yang menjadi kekuasaan Wiraraja. Menurut Nagarakretagama. “Kedaton Wetan” dan Perang Paregreg 1406 M Bila merujuk ke Pararaton. seperti yang dijelaskan Pararaton. Untuk itu. Pada 1294. Sebelumnya. saudara tertua Dalem Sri Bhima Cakti di Pasuruan. dari 1301 sampai 1331. dan Ikal-Ikalan Bang. Yang mengisi kekosongan ini adalah Sira Dalem Sri Bhima Chili Kapakisan. Arya Nambi. Ketika Raden Wijaya berhasil mendirikan Majapahit tahun 1293. kita akan mengetahui bahwa ayah angkat sekaligus kakek dari istri Bhre Wirabhumi. yakni masa Perang Paregreg. Riwayat lain. Arya Wiraraja memerintah di Blambangan sejak 1294 hingga 1301. dan Dalem Sri Kresna Kapakisan di Bali. Namun belum jelas. Arya Wiraraja diberi jabatan sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. termasuk Gunung Brahma (kini Gunung Bromo) hingga tepi timur Jawi Wetan (Jawa Timur). Bhatara Parameswara ini juga adalah mertua Hayam Wuruk karena putrinya yang bernama Paduka Sori meikah dengan raja ini. Nambi tewas dalam benteng pertahanannya di Desa Rabut Buhayabang. yakni Bhre Wengker yang bernama Wijayarajasa (suami Rajadewi). Akhirnya Nambi sekeluarga tewas dalam peperangan itu. Babad Raja Blambangan memberi tahu kita bahwa wilayah Lumajang yang diberikan pada Arya Wiraraja adalag berupa hutan. Pemaparan di atas. Muljana menjelaskan bahwa penyebab menghilangnya nama Wiraraja dari jajaran pemerintahan Majapahi karena pada 1395. Namun. mendirikan keraton baru di Pamotan dan bergelar Bhatara Parameswara ring Pamotan. karena walau bagaimana pun. benteng pertahanan di Gending dan Pejarakan yang dibangun Nambi. yang memimpin penumpasan Nambi adalah Jayanagara sendiri. memberontak pada masa pemerintahan Jayanagara. Menurut teks Babad Raja Blambangan.tak lain menantu dan keponakan Kertanagara. keraton di Pamotan diserahkan kepada Bhre Wirabhumi. yakni Kidung Sorandaka. semua data di atas tak menyebutkan nama Blambangan. dapat dihancurkan oleh pasukan Majapahit. pada 1316 Nambi. dalam upaya menjelaskan keberadaan Blambangan. Dalem Sri Kapakisan di Sumbawa. Ia digantikan putranya. Bila menghubungkan berita Pararaton dengan berita pada Sejarah Dinasti Ming. Dikisahkan. menceritakan pemberontakan Nambi terjadi setelah kematian ayahnya yang bernama Pranaraja (sementara Kidung Harsawijaya menyebut ayah Nambi adalah Wiraraja). Peristiwa ini membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri. salah satu putranya bernama Ranggalawe memberontak terhadap Kerajaan lalu tewas. Lembu Peteng. Setelah Bhatara Parameswara wafat tahun 1398 M. setelah dikeroyok oleh Jabung Tarewes. seraya menuntut janji kepada Raden Wijaya mengenai wilayah yang dulu pernah dijanjikan. takhta Kerajaan Blambangan kosong hingga 1352.

pada 1403 Wikramawardhana kembali mengemban pemerintahan. Penunjukan Suhita oleh Wikramawardhana tidak disetujui Bhre Wirabhūmi. Rupanya kiriman stempel perak-emas itu membangkitkan keinginan Bhre Wirabhumi untuk mengirimkan upeti ke Cina. Majapahit. Tiga tahun berikutnya. Kronik Cini memberitakan bahwa pada 1403 M di Jawa terdapat “Kerajaan Barat” dan “Kerajaan Timur” yang tengah berseteru. ini adalah bibi Hayam Wuruk. muncul masalah baru: apakah istilah Kerajaan Timur pada masa Bhre Wirabhumi sama dengan istilah “Istana Timur” pada masa Arya Wiraraja? Pada 1403 Kaisar Yung Lo di Cina mengirim utusan ke Jawa guna memberitahukan bahwa dirinyalah yang menjadi Kaisar Cina. Ketika mendengar Bhre Wirabhumi diakui oleh Kaisar Cina. atas penunjukan Suhita. Setelah Bhre Wirabhumi tewas. menantu sekaligus keponakan Hayam Wuruk. Setelah Wikramawardhana berhasil mengalahkan Kerajaan Timur. Bhre Wirabhumi melarikan diri saat malam dengan menumpang perahu. menurut Nagarakretagama. menjadi penguasa Majapahit. walau sebatas anak dari seorang selir. Wirabhumi. Pararaton mencatat. Sebelumnya. menikah dengan Nagarawardhani. Perang ini berawal dari ketidaksetujuan Bhre Wirabhumi. Namun ia berhasil dikejar oleh Bhra Narapati Raden Gajah. penguasa Kerajaan Timur. kepalanya dipancung lalu dibawa ke Majapahit untuk dipersembahkan kepada Bhra Hyang Wisesa. Pararaton hanya . Pengesahan resmi dari Kaisar Cina terhadap Bhre Wirabhumi di Kerajaan Timur membuat geram Wikramawardhana yang tengah bertapa. yang identik dengan Bhre Daha menurut Pararaton. merasa lebih berhak atas takhta Majapahit karena ialah satu-satunya anak lelaki dari Hayam Wuruk. putri pasangan Kusumawardhani (putri Hayam Wuruk) dengan Wikramawardhana. 1406. Wikramawardhana mengirim utusannya ke Cina dengan membawa upeti. yakni Kusumawardhani. diboyong oleh Hyang Wisesa ke Kedaton Kulon. Wikramawardhana turun takhta dan menjadi pendeta. kemenakan Hayam Wuruk sekaligus anak dari Rajadewi (Rajasaduhitendudewi). lalu setelah 12 tahun memerintah. anak Sri Rajasanagara atau Hayam Wuruk dari selir. Perang Paregreg (“perang yang berangsur-angsur”) antara Wikramawardhana-Bhre Wirabhumi terjadi pada tahun Saka naga-loro-anahut-wulan atau 1328 Saka (1406). Namun kemudian. Ia melihat bahwa Suhita kurang berhak atas takhta tersebut karena hanya seorang wanita dari seorang putri Hayam Wuruk. Diberitakan bahwa pada tahun itu Bhre Wirabhumi. marah dan segera ia membatalkan masa kependetaannya yang telah dimulai sejak 1400. Selama itu yang menjalankan roda pemerintahan adalah istrinya.adanya kesesuaian. Pengirim utusan oleh Wirabhumi ini memiliki maksud yang lebih khusus: meminta pengakuan dari Kaisar Cina. Hal ini membuat Wikramawardhana. yakni Bhre Wirabhumi. pada 1389 Wikramawardhana. tidak diketahui. ibu angkat Bhre Wirabhumi yakni Rajasaduhitendudewi. bernama Grisapura. sedangkan menurut Pararaton ia menikah dengan Bhre Lasem yakni Sang Alemu alias Indudewi. penguasa Kerajaan Barat. Sebagai terima kasih. Kepala Bhre Wirabhumi kemudian ditanam di Desa Lung. Rajadewi dalam Nagarakretagama. Bhre Daha. baik Kerajaan Barat maupun Kerajaan Timur sama-sama meminta dukungan kepada kerabat istana Majapahit lain untuk mendukung mereka. Candinya dibangun pada tahun itu juga (1406). Siapa orang yang menggantikan Bhre Wirabhumi menjadi penguasa Daha. mengirim utusan kepada Cina guna mendapatkan pengakuan Kaisar Cina. Kusumawardhani. dinobatkan menjadi raja. bahwa penguasa “Kerajaan Timur” yang diperikan oleh Sejarah Dinasti Ming ini mengacu pada penguasa di Pamotan. Hubungan Cina-Jawa makin mesra ketika Wikramawardhana menerima stempel perak berlapis emas dari Kaisar Yung Lo. Dengan begitu jelas. Bhre Wirabhumi sendiri.

sama. Panarukan. Dengan tibanya Ranawijaya ke kota pelabuhan ini.menceritakan bahwa pada 1359 Saka (1437 M). Saat itu. sebelum putus asa. Pendapat ini didukung oleh Prasasti Petak yang menyebutkan. yakni penyerangan pasukan Demak ke Daha. sejak kapan pusat pemerintahan Blambangan pindah dari Panarukan ke wilayah yang lebih timur. Dyah Ranawijaya sendiri sebelumnya pernah mengalahkan Bhre Kertabhumi Raja Majapahit pada 1478. setengah abad setelah masa Paregreg. . karena ayahnya. Setelah Perang Paregreg. yakni Nagarakretagama pada abad ke-14 tidak mencantumkan nama “Blambangan” untuk wilayah yang dikuasai Arya Wirajaja. Suraprabhawa Sang Singawikramawardhana yang duduk di keraton Majapahit diserang oleh Bhre Kretabhumi. ibukota Kediri. Sebaliknya. Berita dari Serta Kanda yang menyebutkan bahwa Dyah Ranawijaya. Istilah “Blambangan” sebagai sebuah kerajaan baru muncul pada abad-abad selanjutnya. pasukan Demak yang Islam menyerang Tuban pada 1527. utara Banyuwangi). Dan berdasarkan penuturan orang Belanda kemudian. Utusan dari Panarukan ini bermaksud mendapatkan dukungan orang-orang Portugis. Penyerangan itu dalam rangka balas dendamnya. setelah Daha jatuh ke pasukan Demak. melarikan diri ke Bali. Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (diidentifikasikan sama dengan tokoh Bhatara Wijaya atau Brawijaya dalam serat) melarikan diri ke Panarukan. Kediri merupakan kerajaan utama setelah berhasil menyerang Majapahit. Hanya saja. menurut Muljana. Dari uraian di atas. setelah Tuban. Data itu menguraikan sebuah peristiwa yang terjadi pada akhir abad ke-16. sementara Kediri jatuh ke tangan Demak. ada data menarik yang akan membimbing kita menelusuri kabut sejarah kerajaan ini. Kerajaan Panarukan ini bisa dianggap sebagai kelanjutan Kediri. Hal ini sesuai berita Portugis yang menyebutkan adanya utusan Kerajaan Hindu di Panarukan ke Malaka pada 1528—setahun setelah Dyah Ranawijaya diserang Demak. di laih pihak banyak daerah bawahan di luar Jawa yang melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Raja Kediri. Muljana (1986: 300) menuturkan. Namun ada pengecualian. Dyah Ranawija melarikan diri ke Panarukan (kini nama kecamatan di Kab. keluarga Girindrawardhana pernah berperang melawan Majapahit lebih dari satu kali. putri bungsu Bhre Pandan Salas. yakni abad ke18 pada masa Mataram-Islam. kerajaan Panarukan ini dapat diidentifikasi sebagai Kerajaan Blambangan. Setelah Bhre Wirabhumi tewas. takhta Majapahit lalu diserahkan kepada Suhita. Namun. Kerajaan Timur bersatu dengan Kerajaan Barat. Panarukan sendiri ketika itu merupakan sebuah pelabuhan yang cukup ramai dan sejak abad ke-14 telah menjadi salah satu pangkalan kapal terpenting bagi Majapahit. yang menjadi penguasa Daha adalah Jayawardhani Dyah Jayeswari. laskar Demak menyerang Daha. ibukota Kediri pada tahun itu juga. Pelarian Dyah Ranawijaya Raja Kediri Namun. Pada 1349 Saka (1427 M) Wikramawardhana wafat. yang tentunya bermaksud menghadang pengaruh Islam di Jawa. tak dapat dibuktikan oleh data sejarah yang lebih sahih. Jawa Timur. Bukti lain bahwa Panarukan adalah (bagian dari) Blambangan adalah peristiwa terbunuhnya Sultan Trenggana raja ke-3 Demak pada 1546. takhta Majapahit masih dipegang oleh Wikramawardhana hingga 11 tahun kemudian. bahwa sumber-sumber tertulis yang lebih tua. naskah Bujangga Manik yang ditulis sekitar akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 menyebutkan nama tempat “Balungbungan” yang terletak di ujung timur Jawa Timur sebagai tempat ziarah kaum Hindu (hal ini akan dibahas pada uraian selanjutnya). Kediri. Situbondo. sehingga menyebabkan Suraprabhawa mengungsi ke Daha. dua abad setelah era Paregreg. melainkan “Istana Timur” untuk wilaya yang dikuasai oleh Bhre Wirabhumi. pun Pararaton yang ditulis sekitar abad ke-15 dan 16 tidak menyebutkan nama itu. belum ada kepastian.

raja ini memindahkan keraton ke Kedhawung. di antaranya Blambangan dan Bima (tahun 1633) dan Lombok (tahun 1640). kembali Gelgel merebut wilayahnya yang terlepas pada 1686. pada 1546. Pada abad ke-17. Hal ini akan lebih terkuak pada uraian-uraian di bawah ini. Ia pun harus duduk di atas macan putih dan mengikuti perjalanan macan putih tersebut menuju hutan Sudhimara (Sudhimoro). Setelah dikalahkan oleh aliansi Demak-Pasuruan. posisi Blambangan makin terdesak. diperlukan sejumlah pertimbangan lain untuk memutuskan apakah tepat bila kita menyebutkan bahwa Panarukan merupakan awal mula Kerajaan Blambangan. Setelah Dalem Waturenggong digantikan oleh putranya yakni Dalem di Made. Pada 1601 ibukota Blambangan dapat direbut oleh pasukan Pasuruan yang dibantu Demak. sampai sekarang kawasan Banyuwangi memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pada 1651. sebagian wilayah Jawa Timur berhasil dikuasainya. penguasa Blambangan kembali menyatakan diri sebagai wilayah yang merdeka. Perebutan pengaruh antardua kerajaan itu berakhir setelah kedua penguasa kerajaan itu wafat. sehingga bergelar Pangeran Kedhawung. Sultan Agung pada 1646 dan Dewa Agung pada 1651. Pasuruan ditaklukan pada 1545 dan sejak saat itu menjadi kekuatan Islam yang penting di ujung timur Jawa. ibukota masih di Lumajang. Usaha para penguasa Mataram dalam menundukkan Blambangan mengalami kegagalan. muncul pemberontakan Gusti Agung Maruti atas Gelgel. Akan tetapi. pemerintahan digantikan oleh putranya yakni Tawang Alun pada 1652. sekitar Panarukan. Blambangan sendiri dipimpin oleh Santaguna. Kerajaan Gelgel di Bali yang dirajai Dalem Waturengong (1460-1550) mampu memperluas wilayahnya hingga ke bagian timur Jawa Timur. Menurut cerita. Dari uraian di atas terkesan bahwa cikal bakal Blambangan terdapat di Panarukan. raja ini melakukan semedhi dan memunyai gelar baru.Pada saat Kerajaan Demak memperlebar wilayah kekuasaannya di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana. ia mendapat petunjuk untuk berjalan “ngalor wetan” bila ada “macan putih”. Blambangan selalu menjadi rebutan antara Bali dan Mataram. Pada masa Mas Tampauna ini. Pada masa Kesultanan Mataram. Hal ini mengakibatkan kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk ke dalam budaya Jawa Tengahan. usaha Demak menaklukkan Panarukan/Blambangan mengalami kendala karena kerajaan ini menolak Islam. Maka dari itu. Situbondo. ke daerah Muncar. Mas Tampauna bertapa di hutan Kedhawung menjadi begawan. Setelah Mas Tampauna menjad begawan. Pangeran Tampauna (Pangeran Kedhawung) dan Tawang Alun (Sinuhun Macan Putih) Pada abad ke-16. Tawang Alun lalu mengelilingi hutan seluas 4 . Pengaruh Bali-lah yang lebih menonjol pada berbagai bentuk kesenian dari wilayah Blambangan. Sultan Trenggana sendiri terbunuh di dekat Panarukan. Ketika itu. Ketika Dewa Agung Jambe menggantikan Dalem Di Made. Di tempat bertapanya. Santaguna digantikan oleh Raden Mas Kembar alias Tampauna pada 1637. Pusat pemerintahan pun bergeser ke selatan. Pada 1649. Setelah Blambangan ditaklukkan pada 1636 oleh Sultan Agung Mataram. Lombok dan Sumbawa. Kalimat ini menjelaskan bahwa cikal bakal Blambangan adalah Lumajang—dan untuk ini kita bisa menarik garis ke masa Arya Wiraraja. jadi bukan berasal dari “Istana Timur” di Lumajang peninggalan Arya Wiraraja atau istana pada masa Perang Paregreg. Bahkan. Raja ini lalu memindahkan pusat kerajaan ke Samarapura di Klungkung. setelah berusia sepuh. setelah selama tiga bulan tak mampu menembus kota Panarukan. Kerajaan Blambangan mulai dimasuki budaya dan ajaran Islam. Namun demikian. Barulah ketika Pasuruan berhasil dikuasai Demak. satu persatu wilayah kekuasaan Gelgel melepaskan diri. Blambangan berada dalam kekuasaan Bali. Begawan Bayu. Pada 1639.

blogspot. yakni Mas Wila. tawang berarti “terbuka. terbuka”. Banyuwangi)—jauh sebelum Mas Rempeg Jagapati menetap di Rowo Bayu. Sementara itu. Dilihat dari segi semantis (makna kata). Bangunan utamanya mirip pendopo berbentuk segienam. Menurut cerita penduduk setempat.html Mengenai nama Tawang Alun sebagai wilayah administratif.html Sepak terjang Tawang Alun ini banyak tercatat dalam arsip Belanda. Jawa Timur. Pendopo yang dipercayai sebagai tempat penyimpanan abu Tawang Alun di Desa Macan Putih. Toponimi Padang Alun di sini tentu mengingatkan kita pada nama Tawang Alun. Tulisan Raffles (2008: 511) menerangkan bahwa pada 1659 M atau 1585 Saka.km2. 2009: 512). pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Wiraguna terserang wabah penyakit yang memaksa dirinya menarik pasukannya kembali. Susuhunan Amangkurat I (Sunan Tegal Arum). Lumajang. berlantai putih dari keramik. Padang Alun ini dilewatinya sehabis menapaki Balungbungan atau Blambangan (setelah sebelumnya menyeberang dulu dari Bali). J dan A. Blambangan berusaha melepaskan diri dari Mataram. Sumber: http://ikaningtyas. Banyuwangi. catatan Bujangga Manik memerikan sebuah tempat bernama Padang Alun. Dari jabaran ini. Petilasan Tawang Alun bertapa di Rowo Bayu Sumber: http://ikaningtyas. Mendengar itu. yang memberontak. Tempat itulah yang selanjutnya dijadikan pusat pemerintahan dan diberi nama keraton Macan Putih (tahun 1655).com/2010_06_01_archive. karena meski merupakan penganut Hindu yang taat. Kepindahan ini diakibatkan serangan adik Tawang Alun sendiri. misalnya. Bagaimana tak spektakuler jika dalam upacara ngaben itu sebanyak 271 istri dari 400 istri Tawang Alun ikut membakar diri (sati) ke dalam kobaran api? Tempat kremasi jenazah Tawang Alun masih bisa ditemukan hingga sekarang. Ketika di bawah kepemimpinan Raja Tawang Alun atau Sinuhun Macan Putih. Dikisahkan bahwa Raja Tawang Alun berwawasan terbuka. Teeuw. pengganti Sultan Agung dari Mataram. Diberitakan. Tawang Alun memerintah. wilayah kekuasaan Blambangan meliputi Jember. Songgon. tidak tertutup bayang-bayang” (Noorduyn. mencatat prosesi pembakaran jenazah (ngaben) Tawang Alun (meninggal 18 September 1691) yang begitu spektakuler. Deskripsi ini memperkuat dugaan bahwa nama Tawang Alun untuk penguasa wilayah ini diambil dari nama tempat di mana ia memerintah.com/2010_06_01_archive. Kec.blogspot. raja ini tidak melarang komunitas Islam berkembang. kita bisa menyimpulkan bahwa Padang Alun pada abad ke-15/ke-16 tak lain adalah nama alternatif dari Tawang Alun. raja Blambangan yang baru dilantik (tidak disebut namanya). lalu mengirimkan pasukannya untuk mengatasi pemberontakan laskar Blambangan-Bali ini dan berhasli menguasai ibukota Blambangan. Sebelum memindahkan ibukota ke Macan Putih. Situbondo. Pada masa. ketika masa terakhir pemerintahannya. Arsip Belanda itu. kata padang berdekatan dengan kata tawang: padang dalam bahasa Jawa berarti “cahaya. menuju wilayah Jawa Barat melalui jalur pantai selatan Jawa. luasnya sekitar setengah hektar dan dikelilingi tembok putih dengan satu pintu pagar yang lebarnya hanya untuk dilewati satu orang. dengan dibantu angkatan perang dari Bali. kembali melakukan pemberontakan. Tawang Alun sempat mendirikan ibukota di wilayah Rowo Bayu (kini termasuk Kec. tawang Alun mendirikan sebuah tempat bertapa di Rowo Bayu ini. posisinya berada satu kilometer dari Balai Desa Macan Putih. atau . Yang menjadi fokusnya dalah bagaimana caranya melawan arus dominasi asing. raja Blambangan—yang dipastikan adalah Tawang Alun—dan para pengikutnya melarikan diri ke Bali. Amangkurat memutuskan untuk menghukum sang tumenggung dengan alasan hendak memberontak. Kabat.

perjuangan rakyat Blambangan tak pernah padam. Jagapati merupakan keturunan Tawang Alun. lebih dari separuh penduduk Blambangan lenyap.blogspot.html “Puputan Bayu” Melawan VOC Setelah Tawang Alun meninggal. yakni Sendang Kaputren. Kebenaran kisah tersebut masih harus diselediki. Ki Sudukwatu. Ia melarikan diri karena tidak puas terhadap VOC yang mengangkat raja Islam yang ternyata korup. Mas Jagapati. ribuan prajurit Blambangan dibunuh. Kemungkinan besar. Tanggal inilah yang didipakai sebagai Hari Jadi Banyuwangi. dan apakah berhunungan dengan keberadaan Raja Tawang Alun dari Blambangan. Pangeran Agung Wilis dapat ditangkap VOC dan diasingkan ke Selong. Rakyat Blambangan yang semula berjumlah 8. Rowo Bayu sebuah rawa di kaki Gunung Raung yang dikelilingi hutan pinus seluas delapan hektar. VOC yang marah segera mengirimkan 1.mungkin saja sebaliknya. Kini. dekat Pasuruan. Mas Ayu Wiwit. kepala mereka digantungkan di pohon-pohon di sekitar Rowo Bayu. Ki Kebogegambul. Ki Kidang Salendhit. yang baru dilantik menjadi raja Blambangan. Pada 18 Desember 1771. Jagapati membangun tempat yang mirip kerajaan. yang tidak terawat. Pada 2004. bersama para pemimpin pasukan seperti Ki Keboundha. Songgon. Perang pun meletus pada 25 Maret 1767 dan pusat Blambangan dapat dikuasai VOC. Sedati. Diperkirakan. Perang Puputan Bayu berlangsung sejak 2 Agustus 1771 sampai 18 Desember 1771. pada Oktober 1772. Perang pun pecah kembali. Namun. Pemandangan di sekitar Rowo Bayu di Desa Bayu. di kaki Gunung Raung. Banyuwangi). Sayang. Penduduk Blambangan lainnya memilih menyebrang ke Bali atau ke wilayah pegunungan di sebelah selatan atau baratdaya. VOC Belanda berusaha menguasai Blambangan. Saat itu pusat Kerajaan Blambangan berada di Lateng (sekarang Kecamatan Rogojampi. Ki Tumbhakmental. langsung angkat senjata melawan VOC. Jawa Timur. dan Ki Jagalara dengan sekuat tenaga mempertahankan tanah Blambangan.com/2010_06_01_archive. Kec. penguasa “Padang Alun” pada masa Bujangga Manik melewati wilayah ini tak lain adalah Tawang Alun. Masyarakat setempat memercayai bahwa candi ini didirikan oleh Resi Tawang Alun untuk dipersembahkan kepada salah seorang selirnya. setelah Puputan Bayu selesai. Blambangan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Buleleng di Bali.500 pasukannya guna menumpas prajurit Blambangan. Perjuangan rakyat Blambangan dilanjutkan oleh Mas Rempeg Jagapati.000 ribuan jiwa akibat serangan VOC itu.blogspot.html Perlawanan Pangeran Jagapati ini diramaikan oleh seorang pejuang wanita bernama Mas Ayu Wiwit. Rawa yang airnya berwarna hijau ini merupakan pertemuan tiga mata air. Di Rowo Bayu. laskar Blambangan berhasil membunuh pimpinan pasukan VOC. Reruntuhan Candi Tawang Alun di Desa Buncita.com/2010/01/candi-tawangalun. Sumber: http://ikaningtyas.000-an hanya tersisa sekitar 2. Kali ini. pemerintah Banyuwangi membangun sebuah monument guna memperingati perang Puputan Bayu tersebut yang dipimpin oleh Rempeg Jagapati itu. dan Sendang Kamulyan. sehingga perlawanan rakyat Blambangan melemah karena kelaparan. Sendang Wigangga. Jagapati segera menobatkan diri sebagai Susuhunan Jagapati di Rowo Bayu dengan menghimpun prajurit-prajurit Blambangan yang kecewa. Van Schaar. Pada 1771 pejuang ini bersama rakyat Blambangan melawan serbuan Belanda yang bermarkas di Desa Songgon dan juga melawan serangan rakyat Madura pesisir Jawa Timur yang dipimpin oleh Ki Suradiwirya dan Ki Pulangjiwa. Putri Alun. Setelah itu. . Sidoarjo. VOC membakar lumbung-lumbung padi di Songgon. Sumber: http://sejarah-puri-pemecutan. Pangeran Agung Wilis atau Wong Agung Wilis. Kec.

Pelabuhan Muncar sendiri merupakan jantung pertahanan sekaligus pusat militer VOC pada abad ke-17 dan ke-18 di Blambangan. Melihat ancaman yang serius dari Selat ini membuat VOC akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Mataram. Dari Muncar. Di Muncar inilah periode Kerajaan Blambangan bercorak Islam dimulai. maka sebuah garis bisa kita tarik untuk memetakan wilayahwilayah Kerajaan Blambangan ini. Maka dari itu. namun kegiatan itu tak sampai rampung. Ibukota Baru Setelah Perang Puputan Bayu berakhir. Tujuannya: agar untuk memutus hubungan Blambangan dengan Bali dengan jalan islamisai Blambangan. hingga Muncar sebagai ibukota terakhir. bukannya tak ada bukti sama sekali mengenai bangunan pada masa Kerajaan Blambangan ini. Bila kita menetapkan bahwa pusat pemerintahan pertama kerajaan Blambangan adalah Lumajang lalu Panarukan.Untuk menutupi kekurangan jumlah penduduk ini. Mulailah pihak Mataram menempatkan orang-orang Islam untuk dijadikan raja di Blambangan dengan harapan proses islamisasi berlangsung lebih cepat. Pelabuhan ini cukup ramai dikunjungi pedagang-pedagang dari Cina. pada masa Thomas Raffles. Arab. Muncar. Walau begitu. Kata sing berarti “tidak”. Baru seabad kemudian. karena bersiteguh memegang agama Hindu dan menolak pengislaman dari pihak Mataram yang ada di Blambangan. Pada masa ibukota di Muncar ini. jelas bahwa pusat Blambangan terus bergeser ke arah timur. Sementara itu. Ketika islamisasi makin berkembang di Blambangan. Mereka masuk sebuah hutan bernama Alas Purwo. dan di sini bermakna “orang yang tidak ikut mengungsi”. penelusuran kita alihkan ke arah yang lebih timur/tenggara. Bila dirunut dari masa Lumajang. tepatnya ke Banyuwangi.554 jiwa. maka sepatutnya kita menelusuri jejakjejak budaya di dua kota tersebut. Warga sekitar Desa Macan Putih masih sering menemukan sisa-sisa batu bata yang diperkirakan bekas bangunan . Hak ini dilakukan VOC atas pertimbangan guna mengawasi Selat Bali dikarenakan kerajaan-kerajaan Gelgel dan Mengwi di Bali berusaha merebut Blambangan kembali. pertama. Keinginan raja-raja Bali untuk merebut Blambangan dapat dimengerti mengingat sebelumnya kerajaan-kerajaan di Bali itu selalu memberikan bantuan kepada Blambangan saat peperangan melawan VOC maupun melawan kerajaan-kerajaan Islam. Berdasarkan uraian-uraian di atas. banyak warga yang memilih untuk menyeberang ke Bali. ibu kota Kerajaan kemudian berpindah ke Banyuwangi (saat ini menjadi letak Pendopo Kabupaten Banyuwangi). penduduk Banyuwangi tercatat berkisar 8. pemerintah kolonial Belanda mengerahkan penduduk dari wilayah lain untuk mendiami Blambangan. dan jelas pula bahwa Kerajaan Blambangan merupakan negara yang selalu berada dalam kondisi politik yang bersitegang dan penuh dengan konflik luar negeri. Namun. VOC mengangkat warga Tionghoa menjadi kepala pelabuhan. sebagai tempat asal. otomatis eksistensi Blambangan sebagai kerajaan telah lenyap. sehingga di sekitar pelabuhan terdapat perkampunganperkampungan berbagai etnis tersebut. Sementara itu. dikarenakan pusat kerajaan ini berpindah-pindah. VOC memindahkan ibukota kerajaan ke wilayah Muncar karena letaknya yang berdekatan dengan Pelabuhan Ulupampang (kini bernama Pelabuhan Muncar). sejauh ini. belum ada temuan yang bisa menuntun kita ke arah sana. Hal ini. Letak Istana Membicarakan letak istana(-istana) Blambangan tentu tak mudah. Masyarakat yang mengatasnamakan Forum Penyelamat Situs Macan Putih pernah melakukan penggalian di 17 titik. dan beberapa wilayah Nusantara. penduduk Blambangan yang tidak melarikan diri kini dikenal sebagai masyarakat “sing”.

atau Balungbungan merupakan penulisan lain dari Blambangan atau Balambangan. atau dinding keraton. Di dalam situs ini terdapat 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di tengah. Kecamatan Muncar. berukuran dua kali lebih besar dibanding ukuran batu bata saat ini. bila merujuk teks naskah tersebut. yakni berupa batu pijakan yang terletak di atas gundukan batu tebing guna mengawasi keadaan di sekitar Teluk Pangpang. Diduga. Kesembilan batu yang tengahnya berlubang itu berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Bangunan lain yang merupakan peninggalan Kerajaan Blambangan pada periode Muncar adalah Siti Hinggil (Setinggil) yang bermakna “Tanah yang Ditinggikan” (siti adalah tanah.kerajaan. Kecamatan Muncar. Dari uraian Bujangga Manik kita diyakinkan bahwa agama yang dipeluk oleh sebagian masyarakat Blambangan pra-Islam adalah Hindu. Di tempat ini ia tinggal selama setahun lebih setelah didatangi oleh seorang biarawati (“ebon”) yang ingin ikut bertapa. Siti Hinggil ini berada di sebelah timur pertigaan Pasar Muncar. setelah berhari-hari berjalan menapaki wilayah utara Jawa dari Pakuan (di sekitar Bogor. Dari keterangan yang diperoleh dari naskah berbahasa Sunda Kuno tersebut. Mengenai fungsi dari sisa-sisa batu bata itu masih belum jelas. Meski tak ada keterangan lain yang diperoleh dari naskah tersebut mengenai Balungbungan kecuali sebagai tempat keagamaan. Jarak Sitihinggil ini dari Situs Umpak Songo cukup ditempuh dalam waktu 10 menit ke arah timur. Beberapa benda peninggalan sejarah Blambangan yang lainnya terdapat di Museum Daerah berupa guci dan asesoris gelang lengan. Pusat Keagamaan Dari teks Bujangga Manik yang ditulis sekitar abad ke-16. berkebun. tokoh ini melakukan laku tapa. yang dipercaya sebagai bekas reruntuhan bagian kerajaan atau benteng kerajaan yang memiliki panjang sekitar 5 km. hinggil/inggil adalah tinggi). membentang dari Masjid Pasar Muncar hingga area persawahan Desa Tembokrejo. Ada pula kolam dan sebuah sumur kuno yang ditemukan di sekitar Pura Agung Blambangan. hanya ada dua kerajaan . benteng atau istana ini merupakan peninggalan Blambangan pada saat ibukota pindah ke Muncar. Ketika ditemukan. karena itulah situs ini dinamakan Umpak Songo (Sembilan Penyangga). Sangat mungkin sekali bahwa nama Blambangan pada abad ke-16 (dan juga abad-abad sebelumnya) adalah Balungbungan. kita dapat memperoleh sebuah nama daerah sebagai tempat bertapanya kaum agamawan Hindu. Tokoh ini memilih untuk melanjutkan perjalanannya ke Bali daripada harus ditemani seorang yang wanita—karena takut akan godaan melakukan hal-hal yang dilarang. Blambangan. terletak di ujung timur Pulau Jawa. Setiba di Balungbungan. Tokoh ini menolak menikah dan memilih untuk bertapa di Balungbungan. Yang bisa dipastikan. batu-batu itu berasal dari masa prakolonial Belanda. yakni “Balungbungan” yang. Ada pun tokoh dalam Bujangga Manik adalah seorang bangsawan Sunda dari keraton Pakuan yang bercita-cita menjadi pertapa yang mencari jalan menuju kehidupan abadi. ada pula Situs Umpak Songo di Desa Tembokrejo. Jawa Barat). apakah sebagai pagar keraton. Kabupaten Banyuwangi.5 m dari permukaan tanah. yakni di Desa Tembok Rejo. Pada abad ke-16. ketika kerajaan-kerajaan di Jawa telah bercorak Islam. dan mendirikan lingga. Selain di Desa Agung Macan Putih. Fungsi Siti Hinggil adalah sebagai pos pengawasan VOC untuk memata-matai musuh dari kerajaan-kerajaan Bali yang akan melakukan penyerangan. situs ini terpendam pada kedalaman 1 – 0. namun kiranya kita dapat memahami sepenggal peranan Balungbungan pada masa bersangkutan. mendirikan pesanggrahan. benteng. guna mencari tempat peristirahatan terakhir. jelas bahwa Balungbungan merupakan salah satu tujuan kaum agama kala itu yang ingin menjadi pertapa dan tujuan para peziarah dari berbagai pelosok.

Dewi Anjasmara. Perang inilah yang menginspirasi sastrawan Jawa— yang entah siapa orangnya—untuk membuat kisah Damarwulan-Minakjinggo. Penulis Serat Kanda. Sang Ratu segera mengadakan sayembara: barang siapa yang bisa mengalahkan Minakjinggo. belum diketahui pasti apa lagi hasil bumi yang dikelola oleh masyarakat Blambangan. dan Serat Blambangan. Selanjutnya. Sejak saat itu. termasuk Ranggalawe. Ada pun kehidupan ekonomi-sosial masyarakat Blambangan sangat bergantung pada padi. Dewi Puyengan dan Dewi Waita. Sebelum ke Majapahit. datanglah Damarwulan. Kehidupan Sosial dan Ekonomi Tak banyak sumber yang memberitakan mengenai sistem sosial dan ekonomi yang dianut oleh masyarakat Blambangan. menurut Muljana. Maka dari itu. Kisah Damarwulan-Minakjinggo sendiri tercatat sedikitnya dalam tiga buah serat: Serat Kanda. Persekutuan ini merupakan usaha politis dua kerajaan tersebut dalam menahan penetrasi kerajaan-kerajaan Islam yang justru tengah berusaha menghalau pengaruh Portugis di kawasan Nusantara. dan berbadan besar) yang sudah memiliki dua orang istri. pasukan Blambangan menyerang Lumajang. Tome Pires (Lombard. Pulau Jawa banyak memprosuksi hamba atau hulun alias budak. namun kiranya dapat disejajarkan dengan apa yang digarap oleh masyarakat Majapahit. buruk rupa. Dua kerajaan ini pula yang melakukan hubungan politik dengan Portugis yang bermarkas di Malaka. berabad kemudian setelah peristiwa berlangsung. Putri sang Patih. 2008: 171) menulis bahwa pada abad ke-15 dan 16.yang berpegang teguh pada coraknya yang Hindu. Raja Minakjinggo pun mengobrakabrik Majapahit dengan Gada Wesi Kuningnya. dan Blambangan merupakan salah satu pengekspor golongan masyarakat tersebut. ia akan diberi hadiah berlimpah. yakni sastrawan keraton Yogya. Ia menaikkan statusnya. eksistensi keberagamaan Hindu di Blambangan pun berubah. Setelah pengaruh Mataram dan terlebih-lebih setelah VOC mengalahkan perjuangan masyarakat Blambangan. Dikisahkan. Tak terhitung sudah berapa kali kisah Damarwulan-Minakjinggo dipentaskan dalam seni sendratari. Fakta bahwa baik Panarukan maupun Muncar adalah kota-pelabuan menimbulkan anggapan bahwa kehidupan ekonomi kawula Blambangan bergantung pula pada penghasilan laut. bahkan dikirim pula utusan ke Ternate untuk diminta bantuan oleh Minakjingo. terpikat pada . dari adipati menjadi raja Blambangan dengan gelar Prabu Urubisma. Sang Ratu yang tak ingin diperistri oleh Minakjinggo (yang digambarkan bertabiat kasar. penguasa Blambangan bernama Minakjinggo ingin mempersunting Ratu Majapahit Kenya Kencanawungu. cukup beresiko pula bila kita menghubungkan kisah Damarwulan-Minakjinggo ini dengan peristiwa Paregreg. Damarwulan adalah putra dari Patih Majapahit bernama Udara. Hal ini berkesesuaian dengan berita bahwa pasukan VOC membakar lumbung-lumbung padi saat menyerang Blambangan. tak mengetahui pasti fakta-fakta sejerah seputar Perang Paregreg. Serat Damarwulan. perlahan-lahan Islam mulai diimani oleh sebagian masyarakat Blambangan—juga agama Nasrani yang diperkenalkan oleh Belanda. bekerja sebagai tukang rumput. Para prajurit dan pejabat Majapahit banyak yang gugur. Setelah dewasa ia mengabdi kepada pamannya. Apalagi semua serat itu ditulis pada masa kerajaan Islam. ketoprak. dan teater. Patih Loh Gender di Majapahit. yakni Sunda-Pajajaran dan Blambangan. Blambangan dalam Roman Damarwulan-Minakjinggo Muljana menulis bahwa cerita roman Damarwulan dan Minakjinggo muncul setelah meletusnya Perang Paregreg yang terjadi pada 1406. Tatkala situasi tak menentu ini.

Pandangan ini tentu bersifat ahistoris dan memang bertolak belakang dengan kajian di lapangan (misalnya terdapat nama Ranggalawe sebagai Adipati Tuban. Damarwulan berhasli mengalahkan Minakjinggo. Kepustakaan . Berkat bantuan kedua istri Minakjinggo. di tengah jalan ia dikhianati oleh dua orang anak Loh Gender. akhirnya kedok mereka berdua terkuak. Singkat cerita. yang diwakili oleh sosok Damarwulan) dan seolah-olah memperolok pihak yang kalah. Tanpa curiga. yang seharusnya hidup pada masa Sanggramawijaya). Damarwulan menghadap Kencanawungu dan diangkat menjadi panglima Majapahit.Damarwulan. Cerita selanjutnya gampang ditebak. memenggal kepalanya sebagai bukti kepada Ratu kencanawungu. yakni Layang Seta dan Layang Kumitir. sosok Minakjinggo ditampilkan dengan wajah rupawan dan ia memberontak karena Ratu Kencanawungu membatalkan rencananya untuk dinikahi oleh Minakjinggo. Akan tetapi. Sebagian masyarakat percaya bahwa Ratu Kencanawungu merupakan perwujudan sosok Ratu Suhita. Namun. Damarwulan membawa kepala Minakjinggo ke Majapahit. yakni berpihak kepada pihak yang menang (Majapahit. Raffles menulis (2008: 234) bahwa pada abad ke-19 cerita Damarwulan-Minakjingo merupakan cerita favorit orang Jawa dan kerap dipentaskan dalam bentuk wayang klitik (wayang dari kayu dengan tinggi 10 inci) dan wayang beber (sosok wayang digambar pada lembaran kertas yang keras di mana dalang memberikan dialog). Layang Seto dan Layang Kumitir pun dianggap pahlawan oleh ratu dan rakyat Majapahit. Waita dan Puyengan. ada satu hal yang perlu diperhatikan mengenai kisah roman ini: keberpihakan para penulis serat tersebut sangat terasa. Damarwulan pun menikah dengan Kencanawungu dan menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabu Mertawijaya. Mengapa? Karena dalam seni Banyuwang dan Janger. Pernikahan Damarwulan dengan Ratu Kencanawungu membuahkan seorang putra bernama Brawijaya. sedangkan Minakjinggo adalah Bhre Wirabhumi. dan dengan begitu mereka merasa lebih percaya diri untuk membangun kekuasaan mereka. Dan tentu: serat-serat tersebut dibuat untuk mengukuhkan pengetahuan masyarakat awam bahwa raja atau sultan Mataram-Islam (juga Pajang dan Demak) merupakan keturunan raja-raja Majapahit. yang mengaku sebagai utusan Ratu Kencanawungu. yakni Blambangan yang diwakili oleh sosok Minakjinggo. Namun. kepala Minakjinggo diserahkan oleh Damarwulan. terlepas dari sifatnya yang sastrawi. Berangkatlah Damarwulan menghadapi Minakjinggo.