You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Trauma kandung kemih terbanyak karena kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan kerja

yang menyebabakan fragmen patah tulang pelvis mncederai buli-buli. Ruptur kandung kemih
dapat bersifat intraperitoneal atau ekstraperitoneal. Ruptur kandung kemih ekstraperitoneal
biasanya akibat tertusuk fragmen fraktur ulang pelvis pada dinding depan kandung kemih
yang penuh. Kateter urin merupakan suatu tindakan dengan memasukkan selang kedalam
kandung kemih yang bertujuan untuk membantu mengeluarkan urin.
Pemasangan kateter urin dapat menjadi tindakan yang menyelamatkan jiwa,
khususnya bila traktus urinarius tersumbat atau pasien tidak mampu melakukan urinasi.
Tindakan pemasangan kateter juga dilakukan pada pasien dengan indikasi lain, yaitu: untuk
menentukan jumlah urin sisa dalam kandung kemih setelah pasien buang air kecil, untuk
memintas suatu obstruksi yang menyumbat aliran urin, untuk menghasilkan drainase
pascaoperatif pada kandung kemih, daerah vagina atau prostat, atau menyediakan cara untuk
memantau pengeluaran urin setiap jam pada pasien yang sakit berat (Smelzterm, 2001)
Smith (2003) melaporkan pemasangan kateter dilakukan lebih dari lima ribu pasien setiap
tahunnya, dimana sebanyak 4 % penggunaan kateter dilakukan pada perawatan rumah dan
sebanyak 25 % pada perawatan akut. Sebanyak 15 -25% pasien di rumah sakit menggunakan
kateter menetap untuk mengukur haluaran urin dan untuk membantu pengosongan kandung
kemih (The Joanna Briggs Institute, 2000). Tindakan pemasangan kateter membantu pasien
yang tidak mampu mengontrol perkemihan atau pasien yang mengalami obstruksi. Namun
tindakan inibisa juga menimbulkan masalah lain seperti infeksi, trauma pada uretra, dan
menurunnya rangsangan berkemih. Menurunnya rangsangan berkemih terjadi akibat
peasangan kateter dalam waktu yang lama mengakibatkan kandung kemih tidak akan terisi
dan berkontraksi sehingga pada akhirnya kandung kemih akan kehilangan tonusnya. Apabila
hal ini terjadi dan kateter dilepas, maka otot detrusor mungkin tidak dapat berkontraksi dan
pasien tidak dapat mengontrol pengeluaran urinnya (Smelzter, 2001).
Ketidakmampuan mengontrol pengeluaran urin atau inkontinensia jarang dikeluhkan
oleh pasien atau keluarga karena dianggap sesuatu yang biasa, malu atau tabu untuk
diceritakan pada orang lain maupun pada dokter, dianggap sesuatu yang wajar tidak perlu

2002). risiko terjadi dekubitus (luka pada daerah yang tertekan). Penanganan inkontinensia urin sebagian besar tergantung kepada penyebabnya.11 hari pada pasien yang diberi bladder training sedangkan di ruangan kontrol 22. 2008). Di Amerika Serikat. sebab masih banyak kasus yang tidak dilaporkan(PDPERSI.7 hari. Salah satu usaha untuk mengatasi kondisi ini berupa program latihan kandung kemih atau bladder training (Long.8 persen penduduk Indonesia menderita inkontinensia urin. Jika dibandingkan dengan Negara negara Eropa. namun gangguan ini tentu sangat mengganggu dan membuat malu. Sedangkan penelitian yang dilakukan Hariyati (2000) mengenai pengaruh bladder training dengan proses pemulihan inkontinensia urin pasien stroke diperoleh lama inkontinensia urin rata . tetapi merupakan gejala yang menimbulkan gangguan kesehatan. psikologi serta dapat menurunkan kualitas hidup (Rochani. Di Indonesia sekitar 5. Inkontinensia urine bukan penyakit. Meski tidak berbahaya. Jumlah ini sebenarnya masih sangat sedikit dari kondisi sebenarnya. sosial. 2001). Bladder training atau latihan kandung kemih merupakan upaya mengembalikan fungsi kandung kemih yang mengalami gangguan. 2002). dan 12 % menjadi total kontinen. ke keadaan normal atau fungsi optimalnya sesuai dengan kondisinya semula (Lutfie.7 persen atau sekitar 5 -7 juta penduduk dan enam puluh persen diantaranya adalah wanita. Menurut data dari WHO. bahwa sebanyak 50 % dari sampel percobaan menjadi mampu mengontrol kencing.diobati.Universitas Sumatera Utara Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan dampak yang merugikan pada pasien. sehingga menimbulkan rasa rendah diri atau depresi pada penderitanya (PDPERSI. seperti gangguan kenyamanan karena pakaian basah terus. Penelitian yang dilakuka n oleh Fantl (1991) mengenai efektivitas bladder training didapatkan.rata 13. jumlah penderita inkontinensia mencapai 13 juta dengan 85 persen diantaranya perempuan. Melihat akibat yang dapat . 2000). angka ini termasuk kecil. Bladder training atau latihan kandung kemih merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mencegah kejadian ini. penderita inkontinesia di seluruh Indonesia mencapai 4. 1996). 200 juta penduduk dunia mengalami inkontinensia urin. dan dapat menimbulkan rasa rendah diri pada pasien. Inkontinensia urin yang tidak segera ditangani juga akan mempersulit rehabilitasi pengontrolan keluarnya urin (Hariyati. Hasil survey yang dilakukan di rumah sakit -rumah sakit menunjukkan.

maka peneliti tertarik untuk melihat pengaruh bladder training terhadap minimalisasi terjadinya inkontinensia urin pada pasien post kateter urin. pemeriksaan dan penatalaksanaan . b. patofisiologi. Mahasiswa diharapkan mampu memahami dan menjelaskan asuhan keperawatan trauma kandung kemih. Tujuan umum Setelah membahas Asuhan Keperawatan tentang trauma kandung kemih ini diharapkan mahasiswa mampu memahami tentang penyakit trauma kandung kemih 2. Tujuan khusus Diharapkan mahasiswa mampu : a. Tujuan penulisan 1. etiologi. B. Mahasiswa diharapkan mampu memahami dan menjelaskan pengertian dari trauma kandung kemih. Batasan Masalah Masalah-masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah tentang defenisi.ditimbulkan. tanda dan gejala. C.

KONSEP DASAR PENYAKIT A.Fraktur tulang panggul dapat menimbulkan kontusio atau rupture kandung kemih. ETIOLOGI Ruptur kandung kemih terutama terjadi sehingga akibat trauma tumpul pada panggul. Tenaga mendadak atas massa urinaria yang terbendung di dalam kandung kemih yang menyebabkan rupture. tumor atau obstruksi sehingga menyebabkan rupture. cedera iatrogenik dan patah tulang panggul. ( R. Pecahan-pecahan tulang panggul yang berasal dari fraktur dapat menusuk kandung kemih tetapi rupture kandung kemih yang khas ialah akibat trauma tumpul pada panggul atas kandung terisi penuh. Secara anatomic buli-buli terletak di dalam rongga pelvis terlindung oleh tulang pelvis sehingga jarang mengalami cedera. tetapi bisa juga karena trauma tembus seperti luka tembak dan luka tusuk oleh senjata tajam. Penyebab lain melibatkan trauma obstetric pada saat melahirkan. Trauma vesika urinaria tumpul dapat menyebabkan rupture buli-buli terutama bila kandung kemih penuh atau terdapat kelainan patelegik sepetrti tuberculosis. 1998) Cedera kandung kemih disebabkan oleh trauma tumpul atau penetrasi. Kemungkinan cedera kandung kemih bervariasi menurut isi kandung kemih sehingga bila kandung kemih penuh akan lebih mungkin untuk menjadi luka daripada saat kosong (arif muttaqin : 211) B. C. Sjamsuhidayat. peritonitis dan sepsis. bila tidak ditanggulangi dengan segera dapat menimbulkan komplikasi seperti perdarahan hebat. pada kontusio buli-buli hanya terjadi memar pada dinding buli-buli . urolodi. Trauma vesika urinaria tajam akibat luka trusuk atau luka tembak lebih jarang ditemukan. PATOFISIOLOGI Trauma vesikaurinaria terbanyak karena kecelakaan lalu lintas/kecelakaan kerja yang menyebabkan fragmen patah tulang pelvis mencederai buli-buli. Penyebab iatrogenic termasuk pascaintervensi bedah dari ginekologi. dan operasi ortopedi di dekat kandung kemih. dan cedera dari luar.BAB II LANDASAN TEORI I. Luka dapat melalui daerah suprapubik ataupun transperineal dan penyebablain adalah instrumentasi urologic. DEFINISI Trauma buli-buli atau trauma vesika urinaria merupakan keadaan darurat bedah yang memerlukan penatalaksanaan segera.

Trauma tulang panggul KOMPLIKASI a. E. d. b. Rupture kandung kemih intraperitoneal. a. Nyeri suprapubik e. Abdomen bagian tempat jejas/hemato c. D. Kombinasi rupture intraperitoneal dan ekstraperitoneal. c. Klien lemah akibat anemia. mekanisme cidera diyakini dari perforasi langsung oleh fragmen tulang panggul. Meknaisme cidera penetrasi memungkinkan cidera menembus kandung kemih seperti peluru kecepatan tinggi melintasi kandung kemih atau luka tusuk abdominal bawah. cidera. F. b. TANDA DAN GEJALA a. Rupture kandung kemih intraperitoneal digambarka sebagai masuknya urine secara horizontal kedalam kompartemen kadung kemih. KLASIFIKASI. . Keracunan septic dari penahanan dan absorbs substansi urin.dengan hematuria tanpa eksravasasi urin. Rupture ekstaperitoneal kandung kemih.mekanisme cidera adalah peningkatan tingkat tekanan intravesikel secara tiba-tiba kekandung kemih yang penuh. Ruptur ekstraperitoenal biasanya berhubungan dengan fraktur panggul (89%-100%). Pada kejadian ini terjadi ekstravasasi urin dari rongga perivesikal. Hal itu akan menyebabkan intraperitoneal. Tingkat cidera kandung kemih secara langsung berkaitan dengan tingkat keparahan fraktur. Urosepsis. Ruptur kandung kemih dapat bersifat intraperitoneal atau ekstraperitoneal. Ketegangan otot dinding perut bawah f. ekstraperitoneal. Rupture kandung kemih ekstraperitoneal biasanya akibat tertusuk fragmen fraktur tulang pelvis pada dinding depan kandung kemih yang penuh. Fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat b. Tidak bisa buang air kecil kadang keluar darah dari uretra. Sebelumnya . atau gabungan kandung kemih. Kekuatan daya trauma tidak mampu ditahan oleh kemampuan dinding kandung kemih sehingga terjadi perforasi dan urine masuk kedalam peritoneum.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA VESIKA URINARIA. PENGKAJIAN. Kaji mekanisme dari riwayat trauma pada kandung kemih. Kaji keluhan nyeri di daerah suprasimfisis. · Cystografi : menunjukkan ekstravasase urine. A. penurunan jumlah urine sampai anuria. trias gejala ( gross hematuria. PENATALAKSANAAN 1. Inspeksi lokalis terdapat adanya tanda fraktur pubis. hematom perivesika. nyeri suprapubik. Istirahat baring sampai hematuri hilang. rebound tenderness. hilangnya/ penurunan suara usus dan tanda-tanda iritasi [eritoneal menunjukan kemungkinan pecahnya kandung kemih intraperitoneal. II. . Pemeriksaan abdominal distensi. kesulitanvata ketidakmampuan untuk miksi). PEMERIKSAAN LABORATORIUM / DIAGNOSTIK · Hematokrit menurun. vesika urinaria dapat pindah atau tertekan. Pada urine output didapatkan adanya hematuria. 3. miksibecampur draah atau mungkin pasian tidak dapat miksi. 2.pemeriksaan secara umum sering didapatkan adanya syok hipovolemik yang berhubungan dengan fraktur pelvis dan perdarahan dalam massif.tanda-tanda klinis cedera landing kemih relative spesipik. Atasi syok dan perdarahan. Posisi prostat yang melayang atau pada posisi anatomis normal mengidinkasikan adanya cedera kandung kemih disertai adanya cedera kandung kemih disertai adanya ruptur pada uretra. guarding. DIAGNOSA KEPERAWATAN. Pemeriksaan dubur harus dilakukan untuk mengevalasi posisi prostat. Pemeriksaan rigiditas cincin panggul dilakukan untuk menentukan stabilitas panggul apabila didapatkan adanya riwayat trauma paggul.G. Bila ditemukan fraktur tulang punggung disertai ruftur vesica urinaria intra peritoneal dilakukan operasi sectio alta yang dilanjutkan dengan laparatomi. Sering didapatkan adanya tanda dan gejala sepsis peritonesis akibat masuknya urine kedalam peritoneum. H. B. Klien terlihat nyeri saat berkemih.

Intervensi : 1. ditandai dengan : · Klien mengeluh nyeri pada daerah abdomen bawah yang terkena. Kaji kemampuan fungsional dengan skala 0 – 4. Kaji skala nyeri. lama. 3. Gangguan pemenuhan aktifitas s/d kelemahan fisik sekunder terhadap trauma. · Ekspresi wajah meringis / tegang. misalnya semi fowler. 3. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) s/d Kerusakan jaringan ( trauma ) pada daerah bladder. Observasi adanya darah dalam urine. intensitas dan karakteristiknya.( Rasional : Perubahan dalam lokasi atau intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan adanya komplikasi ). Lakukan tindakan pembedahan bila perdarahan terus berlangsung. 2. 4. Intervensi : 1. 2. Intervensi : 1. Istirahat baring sekurang-kurangnya seminggu sampai hematuri hilang. ditandai dengan : · Klien tampak lemah. Kolaborasi untuk pemberian analgesik. fungsi ginjal dan keseimbangan cairan ). tekhnik relaksasi / visualisasi.( Rasional : Untuk menentukan tingkat aktifitas dan bantuan yang diberikan ).( Rasional : Menurunkan metabolisme tubuh agar energi yang tersedia difokuskan untuk proses penyembuhan pada ginjal ). 4. 2. misalnya nafas dalam. 3.( Rasional : Menurunkan laju metabolisme yang membantu menghilangkan nyeri dan penyembuhan ). Gangguan eliminasi urine s/d trauma bladder ditandai dengan hematuria. . Berikan tindakan kenyamanan. Atur posisi sesuai indikasi.( Rasional : Tindakan yang cepat / tepat dapat meminimalkan kecacatan ). ( Rasional : Meningkatkan kemampuan koping dengan memfokuskan perhatian pasien ).( Rasional : Mengidentifikasi fungsi kandung kemih.( Rasional : Mmemudahkan drainase cairan / luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan ). · Adanya nyeri tekan pada daerah bladder yang terkena. Kaji pola berkemih seperti frekwensi dan jumlahnya. · Aktifitas dibantu oleh orang lain / keluarga.1. catat lokasi.( Rasional : Tanda-tanda infeksi saluran perkemihan / ginjal dapat menyebabkan sepsis ).

( Rasional : Menurunkan resiko terjadinya trauma dan mempertahankan fungsi sendi dan mencegah penurunan tonus ). catat adanya demam dan menggigil. 3. Berikan antibiotik sesuai indikasi.( Rasional : Untuk menghentikan atau mengurangi perdarahan yang sedang berlangsung ). Observasi tensi. Berikan cairan IV sesuai kebutuhan. Intervensi : 1. suhu.( Rasional : Kadar O2 yang maksimal dapat membantu menurunkan kerja jantung ). Ubah posisi pasien setiap 2 jam sekali.( Rasional : Tindakan yang segera dapat menghindarkan keadaan yang lebih memburuk ).( Rasional : Dapat mengindikasikan perkembangan sepsis yang selanjutnya memerlukan evaluasi atau tindakan dengan segera ). ( Rasional : Cara pertama untuk menghindari infeksi nasokomial ). Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan seperti adanya inflamasi. Berikan O2 sesuai kebutuhan. Potensial infeksi b/d adanya luka trauma. Pantau suhu tubuh secara teratur. Bila perdarahan tetap berlangsung dan KU memburuk pikirkan tindakan bedah.( Rasional : Terapi profilaktik dapat digunakan pada pasien yang mengalami trauma / perlukaan ). Potensial syok hipovolemia s/d pemutusan pembuluh darah.( Rasional : Meningkatkan sirkulasi darah seluruh tubuh dan mencegah penekanan pada daerah tubuh yang menonjol ). 2. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan ADL. 4. 4. 4.2.( Rasional : Perbaikan volume sirkulasi biasanya dapat memperbaiki curah jantung). .( Rasional : Terjadinya perubahan tanda vital merupakan manifestasi awal sebagai kompensasi hypovolemia dan penurunan curah jantung). berikan perawatan aseptik dan antiseptik. pertahankan tekhnik cuci tangan yang baik. Kolaborasi pemberian obat-obatan anti perdarahan. 3. 2. 3. Lakukan rentang gerak aktif dan pasif. Intervensi : 1. pernafasan dan tingkat kesadaran pasien. nadi. 5.( Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan segera dan pencegahan terhadap komplikasi selanjutnya ).( Rasional : Bantuan yang memberikan sangat bermanfaat untuk menghemat energi yang dapat digunakan untuk membantu proses penyembuhan luka ) 4. 5.

Pantau frekwensi dan irama jantung.( Rasional : Bila terjadi tachikardi. Perhatikan kualitas / kekuatan dari denyut perifer. mengacu pada stimulasi sekunder sistem syaraf simpatis untuk menekan respons dan menggantikan kerusakan pada hypovolemia relatif dan hipertensi). nadi dapat menjadi lemah dan lambat karena hipotensi terus menerus ). bantu dengan aktifitas perawatan. Berikan O2 sesuai kebutuhan.( Rasional : Pada awal nadi cepat / kuat karena peningkatan curah jantung. .( Rasional : Menurunkan beban kerja miokard dan konsumsi oksigen ) 2. 3. 4.( Rasional : Memaksimalkan oksigen yang tersedia untuk masukan seluler ). Potensial gangguan perfusi jaringan b/d perdarahan Intervensi : 1.6. Pertahankan tirah baring. perhatikan disritmia.

A. KELUHAN UTAMA Nyeri abdomen bagian bawah dan klien tidak mampu BAK serta keluar darah dari alat kelamin.B Umur : 29 tahun Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Suku / Bangsa : Banjar / WNI Pendidikan : SLTA Bahasa : Banjar Alamat : Batung Mandingin Kiriman dari : IGD Tgl masuk RS : 12 April 2012 Jam 11.B DENGAN TRAUMA VESIKA URINARIA I. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT ALASAN DIRAWAT Kecelakaan lalu lintas dan nyeri abdomen bagian bawah dan keluar darah dari alat kelamin.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny. B. 30 WITA Tgl pengkajian : 13 April 2012 Jam 10.K Umur : 31 tahun Pekerjaan : PNS Agama : Islam Hub. Register : 4383/12 Diagnosa medis : Trauma vesika urinaria A. Dengan klien : suami Alamat : Batung Mandingin II. Provocative / Palliative . BIODATA A.00 WITA No. PENANGGUNG JAWAB KLIEN Nama : Tn. 1. IDENTITAS KLIEN Nama : Ny.

skala keparahan : 0 = tidak terdapat nyeri 2 = nyeri sedang 1 = nyeri ringan 5. RIWAYAT KESEHATAN RIWAYAT KESEHATAN SEBELUM SAKIT Sebelum dirawat klien tidak pernah mengalami sakit yang serius dan tidak ada riwayat alergi obat atau makanan. 4 = nyeri sangat berat 3 = nyeri berat Timing Nyeri timbul sesudah klien kecelakaan dan nyeri dirasakan sewaktu klien melakukan pergerakkan dan lamanya nyeri yang dirasakan klien tidak menentu. B. Setelah terjadi tabrakan klien mengalami benturan pada daerah abdomen bagian bawah akibat dari benturan setang sepeda motor klien dan terdapat luka lecet pada bagian tangan dan lutut klien. 4. Damanhuri Barabai tanggal 12 april 2012 jam 11. A. Quality / Quantity Nyeri dirasakan apabila klien banyak bergerak. . III. nyeri seperti ditusuk . nyeri akan bertambah jika klien melakukan pergerakkan.tusuk dan klien terlihat meringis apabila nyeri itu timbul.00 WITA klien terlihat meringis kesakitan dengan skala nyeri 2 (sedang). RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG Pada hari minggu tanggal 12 april 2012 sekitar jam 11. 2. kadang-kadang untuk mengurangi nyeri orang tua klien mengelus – elus bagian yang nyeri. 3. C. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA Menurut keluarga klien dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular dan keturunan seperti hipertensi dan DM. Regional Nyeri dirasakan pada bagian abdomen bagian bawah.00 WITA sehabis klien pulang dari rumah keluarga. usaha yang dilakukan untuk menghindari faktor penambah nyeri seperti hanya berdiam di tempat tidur.30 WITA untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan.Disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan terbentur setang sepeda motor pada bagian pelvis. Ketika di jalan kendaraan klien menabrak kendaraan orang lain yang berlawanan arah saat klien mau melewati tumpukkan pasir. Kemudian temanteman dan orang tua klien langsung membawa klien ke RSUD H. Severity Scale Berdasarkan pengkajian tanggal 13 april 2012 jam 10.

Genogram KET : = perempuan = Laki-laki serumah = Klien = tinggal .

2 x sehari dengan konsistensi padat. dengan makanan yang pokok sehari-hari seperti nasi. Di RS : klien tidak pernah mandi tapi klien hanya diseka oleh orang tuanya atau keluarganya. : klien istirahat cukup. warna kuning jernih. dan klien tidak mampu BAK melalui kateter dan hanya darah segar didalam urinebag klien.IV. ISTIRAHAT dan TIDUR Di rumah : klien tidur ± 6 – 7 jam pada malam hari dan jarang tidur siang. Di RS D. PSIKOSOSIAL PSIKOLOGIS .6 kali/hari. B. Di RS : klien tidak dapat beraktivitas karena mengalami nyeri pada bagian abdomen bawah akibat benturan. gosok gigi setelah habis makan. lauk pauk. C. V. sayur mayur dan juga bila ada buah-buahan. cuci rambut tiap hari dan potong kuku bila dirasa klien panjang. bau khas. AKTIVITAS HIDUP SEHARI-HARI MAKAN dan MINUM Di rumah : pola makan klien 3 x sehari. Klien minum ± 4 – 5 gelas/hari. dan jalan-jalan. Di RS : selama dirawat klien tidak pernah nonton TV dan mendengarkan musik maupun jalan-jalan. KEBERSIHAN DIRI Di rumah : mandi 2 kali sehari. pola BAB 1 . ELIMINASI (BAK dan BAB) Di rumah : klien BAK ± 5 . mendengarkan musik. F. AKTIVITAS Di rumah : klien sebagai pelajar SLTA 2 Barabai. porsi makan yang disediakan hanya ± 2 – 3 sendok yang dimakan. REKREASI Dirumah : klien sering menonton TV. Diet yang diberikan adalah bubur biasa (TKTP). hanya diam di tempat tidur dan klien bisa tidur. Klien minum air putih ± 7 – 9 gelas /hari Di RS : klien mengalami penurunan nafsu makan. serta skala aktivitas 2 (dibantu orang lain) E. A. A. terdapat lecet pada tangan dan lutut klien. Di RS : pada saat pengkajian klien tidak ada BAB.

terlihat bersih (tidak ada benda asing atau secret serta kotoran yang menempel) E. Mata (Penglihatan) Terlihat bersih (tidak ada kotoran). C. kebersihan cukup baik. struktur mata simetris. tidak ada perdarahan. polip dan tidak ada peradangan. hubungan klien dengan keluarga klien baik ini terlihat dari banyaknya keluarga yang menjenguk dan menemaninya saat klien dirawat di RS dan hubungan klien dengan tenaga medis cukup baik. C. Kepala Bentuk kepala simetris. B. M6) · TD : 110/80 mmhg · Temp 36. B. fungsi penciuman baik. sklera tidak ikterik.7 ° C. Bentuk simetris. Rambut Bentuk rambut lurus. PEMERIKSAAN FISIK A.Klien berharap semoga penyakitnya akan segera sembuh dan menganggap bahwa kejadian ini adalah suatu cobaan dari Allah SWT. selama dirawat klien tidak dapat melaksanakan shalat tetapi klien hanya berdoa untuk kesembuhannya. fungsi penglihatan baik. kulit kepala cukup bersih. Hidung (Penciuman). D. VI. V5. SPIRITUAL Klien beragama Islam. berwarna hitam. tidak terdapat luka jahitan. · Nadi : 80 x / mnt · Resp : 24 x / mnt. konjungtiva tidak anemis. klien tidak memakai alat bantu penglihatan / kacamata. Telinga (Pendengaran) . posisi kepala tegak dapat digelengkan ke kiri / kekanan. klien juga dapat beradaptasi dengan lingkungan RS dan dapat menerima segala tindakan yang diberikan untuk kesembuhannya. dan visus mata 6/6. Keadaan umum : lemah Kesadaran : Compos Menthis Penampilan : lemah (GCS : E4. Head to Too A. · BB MRS : 51 kg · BB sebelum MRS : 52 kg · TB klien : 157 cm B. SOSIAL Klien dapat diajak bekerja sama dengan baik demi kesembuhannya. Keadaan klien tampak lemah dan emosi klien tampak stabil.

Perkusi :- Palpasi : terdapat nyeri tekan pada abdomen bagian bawah. K. warna kulit sawo matang. fungsi pengecapan baik (dapat membedakan rasa) tidak ada masalah dalam menelan tapi klien cuma kurang nafsu makan. Abdomen Inspeksi : bentuk simetris. lidah tampak bersih. Auskultasi : bising usus normal 8x/m J. Integument Turgor kulit baik kembali kurang dari 2 detik. tidak tercium bau mulut. kebersihan gigi cukup baik. L. H. jumlah gigi lengkap. Reproduksi Klien berjenis kelamin perempuan. fungsi pendengaran baik. Leher Terlihat bersih(tidak terdapat kotoran dilipatan kulit). tidak terdapat pembesaran getah bening maupun kelenjar tiroid.9 gram ( Normal : 11. dan terdapat hematume serta lesi. Thorax (Fungsi Pernafasan) Bentuk simetris. G. tampak kebiruan pada perut bagian bawah. dada teraba datar dan tidak ada nyeri tekan dan tidak terdengar bunyi nafas tambahan ronchi dan wheezing. Ekstremitas Atas : Ekstremitas atas sebelah kanan terpasang infuse RL 20 tetes/menit dan ekstremitas atas sebelah kiri dan kanan terdapat luka lecet. I. tidak terdapat luka danj klien tidak mengguanakan alat bantu pendengaran.5 – 15. tidak terlihat sesak nafas / tidak menggunakan alat bantu pernafasan. frekuensi nafas 24 x/menit. F. Bawah : Ekstremitas bawah terdapat luka lecet pada kedua lutut dan nyeri apabila digerakkan.Bentuk dan posisi simetris.5 gram %) .7 ºC. terpasang kateter dan keluar darah saat BAK melalui kateter. dan tidak ada keterbatasan gerak pada leher. VII. Mulut dan Gigi Mukosa bibir agak kering. PEMERIKSAAN PENUNJANG LABORATORIUM Tanggal 13 april 2012 Hb : 11. suhu 36.

Sjamsuhidayat. bila tidak ditanggulangi dengan segera dapat menimbulkan komplikasi seperti perdarahan hebat. ( R.000 / mm ( Normal ) ) : < 220 mg/dl ) BAB IV PENUTUP A. peritonitis dan sepsis. SARAN Semoga dengan makalah para pembaca dapat mengambil ilmu dan apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam pembuatan makalah ini agar kiranya pembaca dapat memberikan saran dan kritik yag membangun untuk kebaikan semua .830 / mm Gula darah Sewaktu : 104 mg/dl ( Normal : 6 – 10 ribu/ mm ( Normal : 200 – 50. Secara anatomic buli-buli terletak di dalam rongga pelvis terlindung oleh tulang pelvis sehingga jarang mengalami cedera. 1998) Cedera kandung kemih disebabkan oleh trauma tumpul atau penetrasi.430 / mm Thrombosit : 271.Lekosit : 7. Kemungkinan cedera kandung kemih bervariasi menurut isi kandung kemih sehingga bila kandung kemih penuh akan lebih mungkin untuk menjadi luka daripada satu kosong (arif muttaqin : 211) B. KESIMPULAN Trauma buli-bulu atau trauma vesika urinaria merupakan keadaan darurat bedah yang memerlukan penatalaksanaan segera.

(2007).DAFTAR PUSTAKA Nursalam.com/2012/09/trauma-vesika-urinaria. 2011. Jakarta: TIM Muttaqin. Askep Gawat Darurat. Askep pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perizalium. (2009). Jakarta: Salemba Medika Trisanti.blogspot. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. dkk. Jakarta: Salemba Medika http://noviethadhewi.html . Arif.