You are on page 1of 14

Sajian Kasus

Kepada Yth.

Jumat, 6 Februari 2015
Roberto Soehartono

dr. Samuel Harmin Sp.A

IDENTITAS PASIEN

Nama
Usia
Jenis Kelamin
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
Suku
Agama

Pasien
An. N A
4 2/12 thn
Perempuan
Jakarta Timur
Jawa
Kristen

IDENTITAS ORANGTUA

Nama
Usia
Jenis Kelamin
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
Suku
Agama

Ayah
Tn. R
33 thn
Laki – laki
Jakarta Timur
S1
Karyawan swasta
Jawa
Kristen

Ibu
Ny. N
30 thn
Perempuan
Jakarta Timur
SMA
Ibu rumah tangga
Menado
Kristen

KASUS

Pasien bernama An. NA, berusia 4 2/12 tahun, berjenis kelamin Perempuan,
dibawa ke Rumah Sakit Cikini pada tanggal 27 Januari 2015 dengan keluhan demam
sejak ± 5 hari (22 Januari 2015) sebelum masuk Rumah Sakit. Demam dirasakan terus
menerus sepanjang hari dan muncul secara perlahan-lahan, sudah diukur dirumah
Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

1

hanya beristirahat di rumah saja. pemeriksaan hidung ditemukan konka oedem dan sekret +/+. Berat badan pasien 13 kg. Demamnya turun. Riwayat fogging di sekitar lingkungan rumah disangkal. tekanan darah 110/70 mmHg. BAK tidak ada keluhan. Pemeriksaan fisik pada tanggal 27 Januari 2015. pemeriksaan telinga dalam batas normal. Riwayat pergi keluar kota disangkal. Pasien lahir spontan. serta langsung menangis. pasien telah mendapatkan imunisasi lengkap sesuai dengan usia pasien. pada palpasi Vocal fremitus simetris. BAK tidak ada keluhan. Keluhan terus-menerus sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit.7 oC (regio axilla). sayur dan buah. pada auskultasi didapati suara ronki halus basah nyaring Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 2 . pasien juga mengeluh batuk berdahak tetapi dahaknya tidak dapat dikeluarkan. Sampai saat ini.5. Tidak didapatkan riwayat kuning maupun biru. namun beberapa saat kemudian muncul kembali. Pemeriksaan kepala dalam batas normal. dengan berat lahir 3600 gram dan panjang badan 51 cm. pasien juga rutin meminum susu formula 1-2 kali tiap hari. pemeriksaan tenggorokan dalam batas normal. Selain itu pasien juga mengeluh sesak nafas yang muncul bersamaan dengan batuknya. nadi 112 x/menit (regular.5 -39. dan pada perkusi sonor kedua lapang paru dan tanpa disertai nyeri ketok.berkisar 38. Keluhan tersebut membuat pasien tidak dapat beraktivitas seperti biasa. tinggi badan pasien 120 cm. Pasien jarang jajan sembarangan. adekuat). isi cukup. Makanan pasien saat ini berupa nasi. Keluarga ataupun lingkungan sekitar pasien tidak ada yang mengeluh seperti ini. dengan pertolongan dokter. Pasien mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif sejak lahir hingga berusia 6 bulan. anti-radang. Pilek (+). status gizi baik. pemeriksaan mata ditemukan dalam batas normal. axilla. kuat angkat). kelenjar getah bening tidak teraba membesar di regio colli. Pemeriksaan toraks didapati pada inspeksi terdapat retraksi otot interkostal. kesadaran kompos mentis. Tumbuh kembang pasien sesuai dengan usia. Sesak nafasnya membuat pasien terlihat harus berusaha keras dalam bernafas. frekuensi pernafasan 35 x/menit (regular. cukup bulan. Selain itu. Pasien sudah berobat ke klinik 24 jam dan minum obat penurun panas. lauk – pauk. antibiotic. Pasien tidak pernah mengeluh keluhan seperti ini sebelumnya. suhu 38. Riwayat kontak dengan orang yang sedang batuk lama (-). didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang. tanpa disertai dengan menggigil maupun kejang. Riwayat alergi disangkal. Namun Ayah dan Ibu Pasien merupakan perokok aktif yg sering merokok di dalam rumah. dan inguinal. dan pernafasan cuping hidung.

cairan intravena Tridex 27B 20 tetes per menit makro. Tatalaksana yang diberikan adalah diet biasa.2 34.4 39 19. pemeriksaan abdomen perut tampak datar.oC. kemudian pada inspeksi thorak Retraksi tampak berkurang. Pemeriksaan genitalia dan anus tidak dilakukan. capillary refill time < 2 detik. Tatalaksana yang diberikan adalah diet biasa. kemudian Batuk berdahak dengan dahak berwarna putih. dan pada auskultasi masih terdengar ronkhi basah halus pada kedua basal paru. belum BAB selama 2 hari.000 240. cairan intravena Tridex 27B 20 tetes per menit makro.2 1 / 0 / 2 / 82 / 10 / 5 22 10. Terfacef 2 x Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 3 . Pasien mengeluh masih demam. Hasil pemeriksaan penunjang tanggal 27 Januari 2015 dirangkum dalam Tabel 3.5 – 12 35 – 43 6. perkusi timpani pada seluruh regio abdomen. Tabel 3.000 82 28. nyeri tekan dan nyeri ketok (-) pada seluruh regio abdomen. kemudia pilek dengan sekret yang kental . Perkusi sonor pada kedua lapang paru. Pemeriksaan ekstremitas normotonik dan eutrofi.000 150.000 76 – 90 25 – 31 32 – 36 0 / 1-3 / 2-6 / 50-70 / 20-40 / 2-8 0 – 10 Diagnosis kerja pasien adalah Bronkopneumonia.000 – 400. frekuensi napas30 x/menit. Cappilary refill time < 2” Diagnosis kerja pasien adalah Bronkopneumoni. akral hangat. nadi 112x/menit. Terfacef 2 x 500 mg. Keadaan umum tampak sakit sedang. Ventolin expectorant syr 3 x 5 ml. Inhalasi ( Ventolin 1 neb + Flexotide 1 neb ) 23x/hari. Hasil pemeriksaan penunjang pasien (27 Januari 2015) Hb (g/dL) Ht (%) Leukosit (/uL) Trombosit (/uL) MCV (fL) MCH (pg) MCHC (g/dL) Hitung jenis (%) LED (mm) Hasil Nilai Rujukan 13. turgor kulit cukup. kesadaran kompos mentis. sesak nafas yang biasanya muncul pada sore dan malam hari. suhu 38. Akral hangat.pada basal paru kanan dan kiri . Paracetamol Drip 4 x130 mg.000 – 10. Perawatan hari kedua tanggal 28 Januari 2015. Pada pemeriksaan Fisik didapati sekret kental pada hidung dan juga pernafasan cuping hidung. Vocal fremitus simetris. bising usus (+) meningkat 8x/menit.

Pada pemeriksaan Thorak Retraksi sudah tidak terlihat. sesak nafas berkurang. suhu 37. Paracetamol Syr 4 x1 sdo (PO). Nafas Cuping hidung (-). Puyer pilek 3x1 bks. Penularannya sendiri dapat melalui udara yang kumannya terhirup masuk ke saluran pernafasan maupun bisa melalui peredaran darah yang kuman penyebab pneumonia terbawa ke paru dari tempat lain di tubuh orang tersebut. Diagnosis kerja pasien adalah Bronkopneumoni. perkusi terdengar sonor pada kedua lapang paru. . Selain itu Sistem Pertahanan Tubuh dan Gizi anak juga mempengaruhi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 4 . kemudian batuk. terutama tentang cara penularan dan penanganannya.500 mg (IV). frekuensi nadi 104 x/menit. Puyer batuk 3 x 1 bks. Keadaan umum tampak sakit sedang. kesadaran kompos mentis. Dilakukan pemeriksaan H2TL Tabel 4. Tabel 4. Paracetamol Drip 4 x130 mg (IV). Tatalaksana yang diberikan adalah diet biasa. Ventolin expectorant syr 3 x 5 ml (PO). Inhalasi ( Ventolin 1 neb + Flexotide 1 neb ) 2-3x/hari. Inhalasi ( Ventolin 1 neb + Flexotide 1 neb ) 2-3x/hari.0 – 10. Terfacef 2 x 500 mg (IV).0 40 40 – 48 12.000 5. Demam. cairan intravena Tridex 27B 20 tetes per menit makro.6 Nilai rujukan 11. Biasanya di tandai dengan gejala sesak Nafas. Bronkopneumonia merupakan peradangan pada saluran nafas bagian bawah yg sering menyerang balita serta anak-anak. Sekret pada hidung. frekuensi napas 28x/menit. Hasil pemeriksaan penunjang pasien (28 Januari 2015) Hemoglobin (g/dL) Hasil 13.8 – 15. Pasien dan orang tua pasien harus dijelaskan segala hal mengenai Bronkopneumonia. Vocal fremitus simetris. serta Demam yang tinggi. Pilek (+).8oC.0 189 150 – 450 Hematokrit (%) Leukosit (103/uL) Trombosit (103/uL) Perawatan hari ketiga tanggal 29 Januari 2015. Batuk berdahak namun sudah berkurang. auskultasi terdengar ronkhi basah halus pada kedua basal paru.

seperti di dalam air. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 5 . Penanganan yang bisa dilakukan keluarga dapat dilakukan dengan cara menghindarkan anak dari kontak dengan asap rokok. berkapsul dan memiliki flagella (bergerak dengan rambut getar). dan tetap memberikan gizi yang baik pada anak tersebut. Bakteri ini berbentuk batang. Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang terjadi pada saluran pencernaan dengan gejala demam selama 7 hari atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa adanya gangguan kesadaran. TINJAUAN PUSTAKA Definisi Demam Tifoid Demam tifoid disebut juga dengan Typus abdominalis atau typhoid fever.penularan dari penyakit ini.1 Etiologi Demam Tifoid Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi dari Genus Salmonella. gram negatif. Bakteri ini dapat hidup sampai beberapa minggu di dalam bebas. tidak membentuk spora.

pasteurisasi. pendidihan dan khlorinisasi. Di organ-organ tersebut kuman meningggalkan makrofag dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid.es. 3. Selanjutnya dibawa ke plaque peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Antigen O (somatik).2. seperti demam. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid. asimptomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hari dan limpa.1. Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh pasien akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibodi yang biasanya disebut aglutinin. Antigen H (flagella). myalgia. nyeri kepala dan nyeri perut. dan pada akhirnya akan berkembang biak di dalam makrofag tersebut.1. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman masuk ke dalam sirkulasi darah (bakterimia I. yaitu terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat melindungi kuman terhadap fagositosis. 2. Antigen Vi (simpai). Bila respon imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik maka kuman akan menembul sel-sel epitel terutama sel M dan selanjutnya ke lamina propia. yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman. Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 60 oC) selama 15 – 20 menit. Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin. ataupun debu.3 Patogenesis Demam Tifoid Kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan ataupun minuman yang terkontaminasi kuman tersebut. sampah. Di lamina propia kuman akan di fagosit oleh sel-sel fagosit terutama makrofag. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol. yaitu terletak pada flagella.2 Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 6 . malaise. yaitu: 1. Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen. fimbriae atau pili dari kuman. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke dalam usus halus dan berkembang biak. lalu kasuk ke dalam sirkulasi darah lagi sehingga mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai tandatanda dan gejala penyakit infeksi sistemik.

Dalam minggu kedua.Gejala Klinis Demam Tifoid Gejala klinis tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan pasien dewasa.  Pada minggu I ditemukan gejala klinis sangat bervariasi dari ringan sampai berat. penderita terus berada dalam keadaan demam (kontinu). demam berlangsung lebih dari 7 hari sampai dengan 3 minggu. suhu tubuh berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. Terdapat keluhan dan gejala yang mirip penyakit infeksi akut pada umumnya. nyeri otot.4. seperti demam. perasaan tidak enak di perut. remiten. biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi sore ke malam hari. coated tounge (+). obstipasi. muntah.4.ataupun diare.5 Gangguan kesadaran Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 7 . nyeri kepala. Selama minggu pertama. obstipasi atau diare. soporokoma.  Pada minggu II ditemukan gejala-gejala yang lebih jelas. hepatosplenomegali. tepi hiperemis. Masa inkubasi rata-rata 10 – 14 hari. bradikardi relatif (setiap peningkatan suhu 1oC tidak diikuti dengan peningkatan nadi sebanyak 8 kali per menit). Hati dan limpa dapat membesar. mual. seperti demam. delirium ataupun koma. Sedangkan pada minggu ketiga. jarang disertai tremor. kadang-kadang (tapi jarang) batuk. disertai nyeri perabaan. suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari. Pada abdomen ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). meteorismus. gangguan kesadaran seperti sopor. Bersifat febris.5 Gangguan pada saluran pencernaan Lidah ditutupi selaput putih kotor. dan suhu tidak berapa tinggi.4 Demam Pada kasus-kasus yang khas. anoreksia. Setelah masa inkubasi maka ditemukan gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai dengan berat. Biasanya didapatkan konstipasi.

3 2. dan limfopenia. trombositopenia. Diagnosis klinis demam tifoid sering kali terlewatkan karena pada penyakit dengan demam beberapa hari tidak diperkirakan kemungkinan diagnosis demam tifoid. Diagnosis klinis Diagnosis klinis penyakit ini sering tidak tepat. tetapi kultur urin meningkat yaitu 85% dan 25% berturut-turut positif pada minggu 3 dan minggu 4. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 8 . yaitu apatis sampai somnolen. Agglutinin yang spesifik terhadap Salmonella typhi terdapat dalam serum penderita demam tifoid.5 Diagnosis Demam Tifoid 1. kultur darahnya positif dalam minggu pertama. Organisme dalam tinja dapat ditemukan selama 3 bulan dari 90% penderita dan kira-kira 9% penderita tetap mengeluarkan kuman Salmonella typhi. Jarang terjadi sopor ataupun koma. dimana hasil positif menjadi 40%. 3 3. dan pada orang yang pernah mendapatkan vaksin demam tifoid. Hasil ini menurun drastis setelah pemakaian antibiotik. leukopenia / leukositosis / normal. Diagnosis serologis Uji widal Merupakan suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).4. 3 4. karena gejala klinis yang khas pada demam tifoid tidak ditemukan atau gejala yang sama dapat juga ditemukan pada penyakit lain. Diagnosis laboratorium Pada pasien dengan tifoid dapat dilakukan pemeriksaan darah perifer lengkap. Pada minggu-minggu selanjutnya hasil kultur darah menurun. Meskipun demikian kultur sumsum tulang tetap memperlihatkan hasil yang tinggi yaitu 90% positif.Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak berapa dalam. ataupun pada hitung jenis leukosit didapatkan aneosinofilia. pada orang yang pernah tertular Salmonella typhi. Diagnosis mikrobiologis / pembiakan kuman Metode diagnosis mikrobiologis adalah metode yang paling spesifik dan lebih dari 90% penderita yang tidak diobati. dan dapat ditemukan LED meningkat.

dan protein. Pada infeksi yang aktif. kalori.7. titer agglutinin akan meningkat pada pemeriksaan ulang yang dilakukan selang waktu paling sedikit 5 hari. Makanan harus bersifat lunak. sambil mengobservasi tanda-tanda vital pasien. semakin besar pula kemungkinan didiagnosis sebagai penderita demam tifoid.8  Medika mentosa Pemberian antibiotik - Kloramfenikol 4 x 500 mg / hari (PO) atau (IV) sampai dengan 7 hari bebas panas - Tiamfenikol 4 x 500 mg / hari (PO) atau (IV) - Kotrimoksazole 2 x 2 tab untuk 2 minggu pemberian Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 9 .6 Tatalaksana Demam Tifoid Terdapat trilogi penatalaksanaan demam tifoid.8  Managemen nutrisi Berupa makanan yang cukup cairan. H.Dari ketiga agglutinin (O. dan Vi) hanya agglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosis.7. dengan mempertahankan suhu normal. Semakin tinggi titer aglutininnya. agar membatasi volume feses. menghindari komplikasi perdarahan saluran cera.6 Interpretasi hasil uji widal sebagai berikut:  Titer O yang tinggi (> 160) menunjukkan infeksi akut  Titer H yang tinggi (> 160) menunjukkan telah mendapat imunisasi atau pernah terinfeksi  Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada carrier3. 3. menyarankan untuk minum yang cukup. vitamin. kompres dengan air biasa dan minum obat antipiretik untuk menurunkan demam. ataupun perforasi. tidak merangsang dan rendah serat. yaitu: Tirah baring dan perawatan  Pasien dengan demam tifoid harus diistirahatkan penuh di rumah atau di rumah sakit. peningkatan titer empat kali lipat selama 2 – 3 minggu memastikan diagnosis demam tifoid.

yaitu: - Komplikasi intestinal o Perdarahan usus Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang tidak dibutuhkan transfuse darah. Penderita demam tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah kuadran kanan bawah yang kemudian menyebar ke seluruh perut. psikosis.- Ampisilin dan amoxilin 50 -150 mg / kgBB selama 2 minggu pemberian - Sefalosporin generasi III Ceftriaxone 3 – 4 gr dalam dextrose 100 cc. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga pasien mengalami syok.8 Komplikasi Demam Tifoid Komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian. meningismus.8 Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 10 . yang dapat berupa tifoid toksik atau perforasi. dan pleuritis) o Komplikasi hepar dan kandung kemih (hepatitis dan kolelitiasis) o Komplikasi neuropsikotik (delirium. selama ½ jam atau infus sekali 1 hari. meningitis. selama 3 – 5 hari Pemberian kombinasi antibiotik diberikan dengan indikasi bila terjadi komplikasi.7. Biasanya muncul pada minggu ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. sepsis) o Komplikasi paru (pneumonia.7. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila terdengar perdarahan seanyak 5ml/kgBB/hari.8 - Komplikasi ekstraintestinal o Komplikasi kardiovaskular (syok. empyema. o Perforasi usus Terjadi pada sekitar 3% pada penderita yang dirawat. dan sindrom katatonia)7.

lalu didapatkan adanya gangguan saluran pencernaan berupa BAB cair sebanyak 3-4 kali tiap hari. dimana keluhan tersebut hilang timbul.ANALISIS KASUS Pada anamnesis didapatkan pasien datang dengan demam selama 6 hari. Pada anamnesis juga pasien Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 11 . cenderung meningkat pada sore ke malam hari dan kembali turun tetapi tidak sampai normal.

adalah: - Pada minggu I didapatkan demam lebih dari atau sama dengan peningkatan sore ke malam hari. Hasil pemeriksaan penunjang tersebut merupakan beberapa tanda dari demam tifoid. yaitu berupa pemeriksaan darah perifer lengkap. suhu badan pasien juga meningkat / demam dan pada pemeriksaan abdomen didapatkan bising usus meningkat. yaitu: pemeriksaan darah perifer lengkap (LED meningkat. Pemeriksaan penunjang juga dilakukan pada pasien tersebut untuk mendukung diagnosis demam tifoid. - Selain didapatkan gejala-gejala tersebut di atas pada anamnesis dan pemeriksaan fisik. ataupun pada hitung jenis leukosit didapatkan aneosinofilia. walaupun pasien menyangkal tidak pernah jajan sembarangan. didapatkan hasil leukopenia. dan gejala-gejala lain yang tidak khas. dan adanya gangguan kesadaran. dan limfopenia). leukopenia / leukositosis / normal. tepi hiperemis. jarang disertai tremor). Terapi demam tifoid dibagi menjadi 3. Keadaan-keadaan yang didapatkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik tersebut dapat disimpulkan pasien terkena demam tifoid. Sedangkan pada pemeriksaan fisik yang didapatkan. Setelah diperiksa. pemeriksaan laboratorium juga dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis. seperti adanya coated tounge (tengah lidah kotor. trombositopenia. hepatosplenomegali. bradikardi relatif. Selain itu adanya gangguan saluran pencernaan (seperti diare ataupun obstipasi). uji widal dimana terjadi peningkatan titer antibody O dan H menunjukkan adanya antigen Salmonella typhi di dalam tubuh pasien tersebut. - Pada minggu II keluhan mulai tampak jelas. pasien tampak sakit sedang dengan kesadaran kompos mentis. dan pada uji widal titer typhi O (+) 1:160. managemen nutrisi dan medika mentosa. dan suhu turun tidak sampai normal pada pagi ke siang hari. Gejala-gejala klinis demam tifoid. misalnya sakit kepala dan lemas. dibersihkan tidak bersih. Pada pasien tersebut ketiga prinsip pengobatan sudah Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 12 . yaitu tirah baring.mempunyai riwayat sering dibelikan gorengan oleh ibunya yang dibeli di pinggir jalan.

tanpa disertai pilek. pada demam tifoid. yang merupakan salah satu pilihan antibiotik untuk pengobatan demam tifoid. Makanan harus bersifat lunak. menghindari komplikasi perdarahan saluran cera. SIMPULAN Pemeriksaan dan terapi yang diberikan sesuai dengan prosedur tatalaksana demam tifoid. Pada pasien ini diberikan antibiotik bioxon yang isinya adalah ceftriaxone. yaitu tirah baring / rawat inap di rumah sakit. ataupun perforasi.diterapkan. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 13 . vitamin. kalori. pemberian antibiotik harus diperhatikan dalam efektivitas kerja obat tersebut. Pada kasus ini juga diberikan codipront (mengandung kodein) dan trifedrin (mengandung pseudoefedrin) karena pasien juga mengeluh batuk. Diagnosis dan terapi yang adekuat dan sedini mungkin dapat menyembuhkan serta menghasilkan prognosis yang baik terhadap pasien tersebut. dan protein. tidak merangsang dan rendah serat. Selain itu. managemen nutrisi berupa makanan dan minuman harus diperhatikan dengan baik dan benar berupa makanan yang cukup cairan. agar membatasi volume feses.

. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2. Puspa Wardani. Idrus A. Rampengan T. 59. Available at http://www. 12. Siti S. Salmonella. Eds. Rampengan.. Cleary TG. 2005 : 31-7. Jakarta : BP FKUI.H. Marcellus S. Demam Tifoid. Risky V. Dalam : Behrman RE. Probohusodo. Jenson HB. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 14 .H. 2002:367-75. 2000:8428. P. T. Kemampuan Uji Tabung Widal Menggunakan Antigen Import dan Antigen Lokal. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Prihartini.pdf. Dalam : Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jilid II.. Philadelphia : WB Saunders.DAFTAR PUSTAKA 1. 5. Edisi IV. 8. Laurentz. 7. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008. Accessed at 13 September 2013.. R. Aru W. Nelson Textbook of Pediatrics. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Demam Tifoid. 2006 : 1774. Laurent I. Sudoyo. Eds.R : Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. 1993:53. 6. EGC.. Darmowandowo W. I. edisi 1. Indonesian Journal of Clinical and Medical Labolatory. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak : Infeksi & Penyakit Tropis. Hadinegoro SR. 1. Tirta Swarga. Edisi 16. 4. Dalam : Soedarmo SS. 3.pediatrik. Metode Diagnostik Demam Tifoid pada Anak.com/buletin/06224114418-f53zji. Kliegman RM. Demam Tifoid. Garna H. 1997: 53-72. Demam Tifoid. Bambang S. Ismoedijanto..