You are on page 1of 14

Sajian Kasus

Kepada Yth.

Jumat, 30 Januari 2015
Hillary Margareth Sarapung

dr. Martha

IDENTITAS PASIEN

Nama
Usia
Jenis Kelamin
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
Suku
Agama

Pasien
An. CT
10 7/12 thn
Laki – laki
Jakarta Timur
Kelas 5 SD
Pelajar
Batak
Kristen Protestan

IDENTITAS ORANGTUA

Nama
Usia
Jenis Kelamin
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
Suku
Agama

Ayah
Tn. R
45 thn
Laki – laki
Jakarta Timur
S1
Karyawan swasta
Batak
Kristen Protestan

Ibu
Ny. N
46 thn
Perempuan
Jakarta Timur
S1
Ibu rumah tangga
Batak
Kristen Protestan

KASUS

Pasien bernama An. CT, berusia 10 7/12 tahun, berjenis kelamin laki – laki,
dibawa ke Rumah Sakit C pada tanggal 27 Januari 2015 dengan keluhan demam
sejak ± 6 hari (21 Januari 2015) sebelum masuk Rumah Sakit. Demam dirasakan
hilang timbul, belum diukur dengan termometer, tidak disertai dengan menggigil.
Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

1

status gizi lebih. kesadaran kompos mentis. Pemeriksaan toraks dalam batas normal. tetapi pasien hampir setiap hari dibelikan gorengan oleh ibu pasien yang dibeli di pinggir jalan. Selain itu. hanya beristirahat di rumah saja. Keluhan muncul hilang timbul sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. pemeriksaan tenggorokan dalam batas normal. cukup bulan. anti-radang.Keluhan cenderung muncul perlahan pada sore ke malam hari. turgor kulit cukup. Pasien lahir spontan. Keluarga ataupun lingkungan sekitar pasien tidak ada yang mengeluh seperti ini.1/3 aqua gelas (1 gelas aqua = 240 ml). darah (-). Riwayat kontak dengan orang yang sedang batuk lama (-). warna kuning. Konsistensi cair. lauk – pauk. Riwayat pergi keluar kota disangkal. didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang. pasien juga mengeluh BAB cair sejak ± 2 hari (25 Januari 2015) sebanyak 3-4 kali tiap hari. ampas (+) sedikit. tekanan darah 120/90 mmHg. kelenjar getah bening tidak teraba membesar di regio colli. Riwayat fogging di sekitar lingkungan rumah disangkal.6 oC (regio axilla). nyeri tekan dan nyeri ketok (-) pada seluruh regio abdomen. adekuat). dengan berat lahir 3600 gram dan panjang badan 51 cm. pemeriksaan hidung dalam batas normal. nadi 112 x/menit (regular. antibiotic. Pasien tidak pernah mengeluh keluhan seperti ini sebelumnya. frekuensi pernafasan 22 x/menit (regular. Keluhan tersebut membuat pasien tidak dapat pergi ke sekolah dan beraktivitas seperti biasa. Pasien mengeluh batuk berdahak tetapi dahaknya tidak dapat dikeluarkan. sayur dan buah. tinggi badan pasien 148 cm. Sampai saat ini. dan turun pada pagi ke siang hari. tetapi tidak mengurangi ataupun menghilangkan keluhan. Tumbuh kembang pasien sesuai dengan usia. Pilek (-). tidak berbau busuk ataupun asam. Riwayat alergi disangkal. tiap BAB sebanyak ± ¼ . pemeriksaan mata ditemukan dalam batas normal. Makanan pasien saat ini berupa nasi. Berat badan pasien 44 kg. isi cukup. serta langsung menangis. pasien juga rutin meminum susu formula 1-2 kali tiap hari. Pasien sudah berobat ke klinik 24 jam dan minum obat penurun panas. Pasien mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif sejak lahir hingga berusia 6 bulan. axilla. BAK tidak ada keluhan. pemeriksaan abdomen perut tampak datar. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 2 . Pemeriksaan kepala dalam batas normal. kuat angkat). Pasien jarang jajan sembarangan. pemeriksaan telinga dalam batas normal. Tidak didapatkan riwayat kuning maupun biru. dengan pertolongan dokter. dan inguinal. Mual (-) muntah (-). lendir (-). Pemeriksaan fisik pada tanggal 27 Januari 2015. suhu 37. pasien telah mendapatkan imunisasi lengkap sesuai dengan usia pasien.

lendir (-). Pemeriksaan ekstremitas normotonik dan eutrofi. dan Trifedrin 3 x ½ tab (PO). Pemeriksaan ekstremitas normotonik dan eutrofi. bising usus (+) meningkat 8x/menit. cairan intravena kaen 3B 20 tetes per menit makro. Mual (+) muntah (-) nyeri perut (+) hilang timbul. kesadaran kompos mentis.4 39 2. Diagnosis kerja pasien adalah demam tifoid. Codipront syrup 2 x 1 sdo (PO). darah (-). akral hangat. Pemeriksaan genitalia dan anus tidak dilakukan. Pasien masih mengeluh batuk berdahak. Pada abdomen ditemukan perut tampak datar.2 34. ampas (+) sedikit. cairan intravena kaen 3B 20 tetes per menit makro. pasien sudah tidak demam. Pada pemeriksaan fisik lidah coated tounge (-).5 – 12 35 – 43 6. nyeri tekan dan nyeri ketok (-) pada seluruh regio abdomen. Tatalaksana yang diberikan adalah diet lunak tidak merangsang. capillary refill time < 2 detik. tidak berbau busuk ataupun asam.500 150. Perawatan hari kedua tanggal 28 Januari 2015.000 – 400. Tabel 3. akral hangat.1/3 aqua gelas (1 gelas aqua = 240 ml). Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 3 . Bioxon 1 x 1 gram dalam NaCl 100 cc (IV). frekuensi napas 20x/menit. Frekuensi BAB 1-2 kali dalam satu hari dengan konsistensi cair.000 – 17.000 82 28.7oC. perkusi timpani pada seluruh regio abdomen.perkusi timpani pada seluruh regio abdomen.300 199. bising usus (+) 7x/menit. suhu 36. Ottopan 3 x 1 sdo (PO). turgor cukup.000 76 – 90 25 – 31 32 – 36 0 / 1-3 / 2-6 / 50-70 / 20-40 / 2-8 0 – 10 Diagnosis kerja pasien adalah demam tifoid.2 1 / 4 / 0 / 36 / 35 / 24 11 10. masih sama seperti hari sebelumnya. capillary refill time < 2 detik. warna kuning. Hasil pemeriksaan penunjang tanggal 27 Januari 2015 dirangkum dalam Tabel 3. Keadaan umum tampak sakit ringan. Hasil pemeriksaan penunjang pasien (27 Januari 2015) Hb (g/dL) Ht (%) Leukosit (/uL) Trombosit (/uL) MCV (fL) MCH (pg) MCHC (g/dL) Hitung jenis (%) LED (mm) Hasil Nilai Rujukan 13. Tatalaksana yang diberikan adalah diet lunak tidak merangsang. tiap BAB sebanyak ± ¼ . nadi 98x/menit.

Ampas (-). paratyphi BO (+) 1:160 S.0 Hematokrit (%) 40 40 – 48 Leukosit (103/uL) 3. paratyphi BH Negative S. turgor cukup. Pada abdomen ditemukan perut tampak datar. Pada pemeriksaan fisik lidah coated tounge (-). bising usus (+) 7x/menit. Dilakukan pemeriksaan H2TL dan uji widal pada tanggal 28 Januari 2015. Codipront syrup 2 x 1 sdo (PO). Pemeriksaan ekstremitas normotonik dan eutrofi.2 5. Mual (-)). dan Trifedrin 3 x ½ tab (PO). Warna kuning kecoklatan. Hasil pemeriksaan penunjang pasien (28 Januari 2015) Hasil 13. Keadaan umum tampak sakit ringan. dengan hasil pemeriksaan dirangkum dalam Tabel 4. paratyphi CO Negative S.6 Nilai rujukan 11. frekuensi nadi 98 x/menit. Nyeri perut (+) berkurang. kesadaran kompos mentis. sudah mulai lembek dan berbentuk. typhi H Negative S. Ottopan 3 x 1 sdo (PO). lendir (-). paratyphi AH Negative S. BAB sudah tidak terlalu cair. darah (-).0 – 10. Diagnosis kerja pasien adalah demam tifoid. frekuensi napas 20x/menit.8 – 15. Keluhan batuk sudah mulai berkurang. Tatalaksana yang diberikan adalah diet lunak tidak merangsang. pasien sudah tidak demam. akral hangat.0 Trombosit (103/uL) 189 150 – 450 Hemoglobin (g/dL) Uji widal: S. suhu 36. nyeri tekan dan nyeri ketok (-) pada seluruh regio abdomen. perkusi timpani pada seluruh regio abdomen.Bioxon 1 x 1 gram dalam NaCl 100 cc (IV). paratyphi AO Negatif S. Tabel 4.8oC. capillary refill time < 2 detik. typhi O (+) 1:160 S. cairan intravena kaen 3B 20 tetes per menit makro. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 4 . paratyphi CH Negative Perawatan hari ketiga tanggal 29 Januari 2015.

Selain itu. Bakteri ini berbentuk batang. tidak beraktivitas yang berlebih dahulu. TINJAUAN PUSTAKA Definisi Demam Tifoid Demam tifoid disebut juga dengan Typus abdominalis atau typhoid fever. Codipront syrup 2 x 1 sdo (PO). dan Trifedrin 3 x ½ tab (PO). Pasien dan orang tua pasien harus dijelaskan segala hal mengenai demam tifoid. Demam tifoid ditularkan melalui fekal oral. terutama tentang cara penularannya. bertujuan untuk menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna ataupun perforasi usus. berkapsul dan memiliki flagella (bergerak dengan rambut getar).1 Etiologi Demam Tifoid Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi dari Genus Salmonella. yaitu ditularkan melalui makanan & minuman yang tercemar oleh kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi yang berasal feses ataupun urine penderita. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 5 . Sehingga pasien dan orang tua pasien hendaknya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Ottopan 3 x 1 sdo (PO). untuk mencegah penularan lebih lanjut. Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang terjadi pada saluran pencernaan dengan gejala demam selama 7 hari atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa adanya gangguan kesadaran. tidak membentuk spora. pasien disarankan istirahat yang cukup. Diet yang dianjurkan adalah lunak dan tidak merangsang.Bioxon 1 x 1 gram dalam NaCl 100 cc (IV). gram negatif. serta menjaga makanan & minuman yang dikonsumsi selama sakit.

Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen. Antigen H (flagella). nyeri kepala dan nyeri perut. malaise. myalgia. Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 60 oC) selama 15 – 20 menit.2 Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 6 . ataupun debu. 3. yaitu terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat melindungi kuman terhadap fagositosis. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.3 Patogenesis Demam Tifoid Kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan ataupun minuman yang terkontaminasi kuman tersebut. Antigen O (somatik). Selanjutnya dibawa ke plaque peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke dalam usus halus dan berkembang biak. seperti demam. fimbriae atau pili dari kuman. yaitu terletak pada flagella. Di lamina propia kuman akan di fagosit oleh sel-sel fagosit terutama makrofag. seperti di dalam air. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid. Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh pasien akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibodi yang biasanya disebut aglutinin.1.2. pasteurisasi. 2. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman masuk ke dalam sirkulasi darah (bakterimia I.Bakteri ini dapat hidup sampai beberapa minggu di dalam bebas. Antigen Vi (simpai). Di organ-organ tersebut kuman meningggalkan makrofag dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid. yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman. Bila respon imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik maka kuman akan menembul sel-sel epitel terutama sel M dan selanjutnya ke lamina propia. es. yaitu: 1. Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin. lalu kasuk ke dalam sirkulasi darah lagi sehingga mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai tandatanda dan gejala penyakit infeksi sistemik. sampah. asimptomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hari dan limpa.1. pendidihan dan khlorinisasi. dan pada akhirnya akan berkembang biak di dalam makrofag tersebut.

nyeri kepala. tepi hiperemis.ataupun diare. coated tounge (+).  Pada minggu II ditemukan gejala-gejala yang lebih jelas. Dalam minggu kedua. gangguan kesadaran seperti sopor. obstipasi. jarang disertai tremor. meteorismus.5 Gangguan pada saluran pencernaan Lidah ditutupi selaput putih kotor.Gejala Klinis Demam Tifoid Gejala klinis tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan pasien dewasa. Sedangkan pada minggu ketiga.4 Demam Pada kasus-kasus yang khas. bradikardi relatif (setiap peningkatan suhu 1oC tidak diikuti dengan peningkatan nadi sebanyak 8 kali per menit). hepatosplenomegali. muntah. biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi sore ke malam hari. remiten.5 Gangguan kesadaran Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 7 . penderita terus berada dalam keadaan demam (kontinu). suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari. obstipasi atau diare.4. Pada abdomen ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). seperti demam. Biasanya didapatkan konstipasi. perasaan tidak enak di perut. delirium ataupun koma. mual. soporokoma. disertai nyeri perabaan. demam berlangsung lebih dari 7 hari sampai dengan 3 minggu. suhu tubuh berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. Terdapat keluhan dan gejala yang mirip penyakit infeksi akut pada umumnya. dan suhu tidak berapa tinggi. Setelah masa inkubasi maka ditemukan gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai dengan berat. Bersifat febris. Masa inkubasi rata-rata 10 – 14 hari. anoreksia. kadang-kadang (tapi jarang) batuk.  Pada minggu I ditemukan gejala klinis sangat bervariasi dari ringan sampai berat. Selama minggu pertama. nyeri otot. seperti demam. Hati dan limpa dapat membesar.4.

Agglutinin yang spesifik terhadap Salmonella typhi terdapat dalam serum penderita demam tifoid. Organisme dalam tinja dapat ditemukan selama 3 bulan dari 90% penderita dan kira-kira 9% penderita tetap mengeluarkan kuman Salmonella typhi. dan dapat ditemukan LED meningkat. 3 3. trombositopenia. dan pada orang yang pernah mendapatkan vaksin demam tifoid. karena gejala klinis yang khas pada demam tifoid tidak ditemukan atau gejala yang sama dapat juga ditemukan pada penyakit lain. dimana hasil positif menjadi 40%. dan limfopenia. pada orang yang pernah tertular Salmonella typhi. Diagnosis serologis Uji widal Merupakan suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).4.Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak berapa dalam. tetapi kultur urin meningkat yaitu 85% dan 25% berturut-turut positif pada minggu 3 dan minggu 4. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 8 . leukopenia / leukositosis / normal. kultur darahnya positif dalam minggu pertama. Pada minggu-minggu selanjutnya hasil kultur darah menurun.5 Diagnosis Demam Tifoid 1. Diagnosis laboratorium Pada pasien dengan tifoid dapat dilakukan pemeriksaan darah perifer lengkap. ataupun pada hitung jenis leukosit didapatkan aneosinofilia. Hasil ini menurun drastis setelah pemakaian antibiotik. Diagnosis klinis Diagnosis klinis penyakit ini sering tidak tepat. Diagnosis mikrobiologis / pembiakan kuman Metode diagnosis mikrobiologis adalah metode yang paling spesifik dan lebih dari 90% penderita yang tidak diobati. Diagnosis klinis demam tifoid sering kali terlewatkan karena pada penyakit dengan demam beberapa hari tidak diperkirakan kemungkinan diagnosis demam tifoid. Jarang terjadi sopor ataupun koma. Meskipun demikian kultur sumsum tulang tetap memperlihatkan hasil yang tinggi yaitu 90% positif. yaitu apatis sampai somnolen. 3 4.3 2.

6 Tatalaksana Demam Tifoid Terdapat trilogi penatalaksanaan demam tifoid. menyarankan untuk minum yang cukup. Pada infeksi yang aktif. yaitu: Tirah baring dan perawatan  Pasien dengan demam tifoid harus diistirahatkan penuh di rumah atau di rumah sakit. dengan mempertahankan suhu normal. H. dan Vi) hanya agglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosis.8  Medika mentosa Pemberian antibiotik - Kloramfenikol 4 x 500 mg / hari (PO) atau (IV) sampai dengan 7 hari bebas panas - Tiamfenikol 4 x 500 mg / hari (PO) atau (IV) - Kotrimoksazole 2 x 2 tab untuk 2 minggu pemberian Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 9 . semakin besar pula kemungkinan didiagnosis sebagai penderita demam tifoid. dan protein. ataupun perforasi. Makanan harus bersifat lunak. peningkatan titer empat kali lipat selama 2 – 3 minggu memastikan diagnosis demam tifoid.7. kalori. titer agglutinin akan meningkat pada pemeriksaan ulang yang dilakukan selang waktu paling sedikit 5 hari. 3.6 Interpretasi hasil uji widal sebagai berikut:  Titer O yang tinggi (> 160) menunjukkan infeksi akut  Titer H yang tinggi (> 160) menunjukkan telah mendapat imunisasi atau pernah terinfeksi  Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada carrier3. menghindari komplikasi perdarahan saluran cera. kompres dengan air biasa dan minum obat antipiretik untuk menurunkan demam. agar membatasi volume feses. sambil mengobservasi tanda-tanda vital pasien. Semakin tinggi titer aglutininnya.8  Managemen nutrisi Berupa makanan yang cukup cairan.7.Dari ketiga agglutinin (O. vitamin. tidak merangsang dan rendah serat.

Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila terdengar perdarahan seanyak 5ml/kgBB/hari. selama ½ jam atau infus sekali 1 hari. sepsis) o Komplikasi paru (pneumonia. dan pleuritis) o Komplikasi hepar dan kandung kemih (hepatitis dan kolelitiasis) o Komplikasi neuropsikotik (delirium.7. empyema. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga pasien mengalami syok.8 Komplikasi Demam Tifoid Komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian.7. yang dapat berupa tifoid toksik atau perforasi.8 - Komplikasi ekstraintestinal o Komplikasi kardiovaskular (syok. meningismus. Penderita demam tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah kuadran kanan bawah yang kemudian menyebar ke seluruh perut.8 Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 10 . psikosis.- Ampisilin dan amoxilin 50 -150 mg / kgBB selama 2 minggu pemberian - Sefalosporin generasi III Ceftriaxone 3 – 4 gr dalam dextrose 100 cc. dan sindrom katatonia)7. yaitu: - Komplikasi intestinal o Perdarahan usus Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang tidak dibutuhkan transfuse darah. selama 3 – 5 hari Pemberian kombinasi antibiotik diberikan dengan indikasi bila terjadi komplikasi. Biasanya muncul pada minggu ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. o Perforasi usus Terjadi pada sekitar 3% pada penderita yang dirawat. meningitis.

ANALISIS KASUS Pada anamnesis didapatkan pasien datang dengan demam selama 6 hari. cenderung meningkat pada sore ke malam hari dan kembali turun tetapi tidak sampai normal. lalu didapatkan adanya gangguan saluran pencernaan berupa BAB cair sebanyak 3-4 kali tiap hari. dimana keluhan tersebut hilang timbul. Pada anamnesis juga pasien Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 11 .

hepatosplenomegali. Pada pasien tersebut ketiga prinsip pengobatan sudah Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 12 . jarang disertai tremor). Pemeriksaan penunjang juga dilakukan pada pasien tersebut untuk mendukung diagnosis demam tifoid. dan pada uji widal titer typhi O (+) 1:160. dan adanya gangguan kesadaran. pemeriksaan laboratorium juga dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis. Sedangkan pada pemeriksaan fisik yang didapatkan. suhu badan pasien juga meningkat / demam dan pada pemeriksaan abdomen didapatkan bising usus meningkat. Keadaan-keadaan yang didapatkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik tersebut dapat disimpulkan pasien terkena demam tifoid. yaitu: pemeriksaan darah perifer lengkap (LED meningkat. dan limfopenia). bradikardi relatif. trombositopenia. dan gejala-gejala lain yang tidak khas. managemen nutrisi dan medika mentosa. walaupun pasien menyangkal tidak pernah jajan sembarangan. Gejala-gejala klinis demam tifoid. Hasil pemeriksaan penunjang tersebut merupakan beberapa tanda dari demam tifoid.mempunyai riwayat sering dibelikan gorengan oleh ibunya yang dibeli di pinggir jalan. ataupun pada hitung jenis leukosit didapatkan aneosinofilia. dibersihkan tidak bersih. didapatkan hasil leukopenia. - Pada minggu II keluhan mulai tampak jelas. Selain itu adanya gangguan saluran pencernaan (seperti diare ataupun obstipasi). Terapi demam tifoid dibagi menjadi 3. - Selain didapatkan gejala-gejala tersebut di atas pada anamnesis dan pemeriksaan fisik. dan suhu turun tidak sampai normal pada pagi ke siang hari. leukopenia / leukositosis / normal. misalnya sakit kepala dan lemas. uji widal dimana terjadi peningkatan titer antibody O dan H menunjukkan adanya antigen Salmonella typhi di dalam tubuh pasien tersebut. tepi hiperemis. seperti adanya coated tounge (tengah lidah kotor. yaitu tirah baring. pasien tampak sakit sedang dengan kesadaran kompos mentis. yaitu berupa pemeriksaan darah perifer lengkap. adalah: - Pada minggu I didapatkan demam lebih dari atau sama dengan peningkatan sore ke malam hari. Setelah diperiksa.

agar membatasi volume feses. pemberian antibiotik harus diperhatikan dalam efektivitas kerja obat tersebut. kalori. pada demam tifoid. Selain itu. tidak merangsang dan rendah serat. Diagnosis dan terapi yang adekuat dan sedini mungkin dapat menyembuhkan serta menghasilkan prognosis yang baik terhadap pasien tersebut. tanpa disertai pilek. SIMPULAN Pemeriksaan dan terapi yang diberikan sesuai dengan prosedur tatalaksana demam tifoid. dan protein. yaitu tirah baring / rawat inap di rumah sakit. vitamin. Pada kasus ini juga diberikan codipront (mengandung kodein) dan trifedrin (mengandung pseudoefedrin) karena pasien juga mengeluh batuk. menghindari komplikasi perdarahan saluran cera. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 13 . yang merupakan salah satu pilihan antibiotik untuk pengobatan demam tifoid. ataupun perforasi. managemen nutrisi berupa makanan dan minuman harus diperhatikan dengan baik dan benar berupa makanan yang cukup cairan.diterapkan. Pada pasien ini diberikan antibiotik bioxon yang isinya adalah ceftriaxone. Makanan harus bersifat lunak.

Indonesian Journal of Clinical and Medical Labolatory. 7. Eds.com/buletin/06224114418-f53zji. 3. Ismoedijanto. 2005 : 31-7. EGC. Nelson Textbook of Pediatrics. I.. Garna H. Rampengan. Laurent I. Metode Diagnostik Demam Tifoid pada Anak. T. Puspa Wardani. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Laurentz. 2. Edisi 16. Eds. R. Prihartini. 1997: 53-72. 5. 8. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak : Infeksi & Penyakit Tropis. Demam Tifoid. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jenson HB. Darmowandowo W. P. Tirta Swarga. Kemampuan Uji Tabung Widal Menggunakan Antigen Import dan Antigen Lokal. Rampengan T. Aru W.H.pediatrik.DAFTAR PUSTAKA 1. 1993:53. Demam Tifoid. Hadinegoro SR.. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia 14 ..H. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Dalam : Behrman RE. 1. Dalam : Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Dalam : Soedarmo SS. Risky V. Marcellus S. 12. Edisi IV. Kliegman RM. 4.. Idrus A. Demam Tifoid. Bambang S. 6. 2008. 2006 : 1774. Jakarta : BP FKUI. 2002:367-75.. Demam Tifoid.. Salmonella. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jilid II. Accessed at 13 September 2013. 59. Available at http://www.pdf.R : Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. edisi 1. Probohusodo. 2000:8428. Philadelphia : WB Saunders. Cleary TG. Siti S. Sudoyo.