You are on page 1of 10

HASIL PENELITIAN

Pengaruh Social Engagement terhadap Fungsi
Kognitif Lanjut Usia di Jakarta
Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Bagian Neurologi, Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta, Indonesia

ABSTRAK
Peningkatan harapan hidup manusia akan menambah populasi lanjut usia diikuti dengan peningkatan masalah, antara lain penurunan fungsi
kognitif. Salah satu faktor risiko penurunan fungsi kognitif ialah social engagement yang dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Penelitian
dilakukan menggunakan metode cross sectional di kelurahan Jelambar dan Jelambar Baru, Jakarta atas 286 lanjut usia yang tinggal di keluarga
dan di panti werdha menunjukkan adanya pengaruh social engagement terhadap fungsi kognitif lanjut usia, terutama di kalangan panti werdha.
Social engagement buruk berhubungan dengan gangguan fungsi kognitif, social engagement buruk berhubungan dengan fungsi kognitif yang
lebih rendah. Komponen social engagement yang paling berperan terhadap fungsi kognitif para lanjut usia adalah aktivitas di masyarakat dan
keanggotaan di kelompok masyarakat lain (selain posyandu).
Kata kunci: social engagement, fungsi kognitif, lanjut usia, keluarga, panti werdha

ABSTRACT
The improvement of life expectancy has increased old-age population in the world. This condition will increase the problems among
elderly, among others is cognitive decline. One of the risk factors for cognitive decline is social engagement that can be influenced by living
environment. This research was done with cross sectional method in kelurahan Jelambar and Jelambar Baru on 286 respondents living in family
and institution. Social disengagement was associated with lower cognitive function The most important components of social engagement
are to become a member of social/community society and to be active in the community. Budi Riyanto Wreksoatmodjo. The Influence of
Social Engagement on Cognitive Function among Elderly in Jakarta.
Key words: social engagement, cognitive function, elderly, family, institution

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu keberhasilan terbesar kebijakan
kesehatan masyarakat adalah peningkatan
harapan hidup. Di tahun 2025 akan terdapat
sekitar 1.2 milyar penduduk dunia berusia 60
tahun ke atas, yang akan menjadi 2 milyar di
tahun 2050; 80% tinggal di negara-negara
berkembang1. Indonesia yang berpenduduk
231.4 juta jiwa juga akan mengalami peningkatan penduduk lanjut usia. Jumlahnya
pada tahun 2010 diperkirakan 18,575,000
jiwa,2 sekitar 7% dari jumlah seluruh penduduk.
Proporsi populasi lanjut usia tersebut akan
terus meningkat mencapai 11.34% di tahun
2020.3

fungsi kognitif. Di samping faktor individu,
faktor lingkungan diduga ikut memengaruhi
risiko kemunduran fungsi kognitif, seperti
hubungan/keterlibatan
sosial
(social
engagement)4-6 dan aktivitas, baik aktivitas
fisik7,8 maupun aktivitas kognitif.9-11 Salah
satu faktor lingkungan yang diduga
mempengaruhi fungsi kognitif ialah peranan
keterlibatan sosial (social engagement).4,16,17

Salah satu masalah kesehatan utama di
kalangan lanjut usia adalah kemunduran

METODOLOGI PENELITIAN
Desain

Mengingat Indonesia mempunyai pola
hubungan keluarga yang mungkin berbeda
dengan yang ada di negara lain, perlu
diketahui apakah keterlibatan sosial (social
engagement) berpengaruh terhadap fungsi
kognitif para lanjut usia di Indonesia.

Desain penelitian ini bersifat cross sectional.
Lokasi Penelitian
Kelurahan Jelambar dan Jelambar Baru,
Jakarta Barat.
Populasi penelitian
Populasi target penelitian ini ialah populasi
lanjut usia di Jakarta. Populasi eligible
merupakan populasi para lanjut usia yang
telah tinggal di lingkungannya masingmasing, baik di keluarga maupun di panti
werdha di wilayah kelurahan Jelambar dan
kelurahan Jelambar Baru, selama sedikitnya
1 tahun. Populasi lanjut usia di keluarga
diambil dari daftar lanjut usia yang ada di
Posyandu Lanjut Usia Puskesmas, sedangkan
populasi lanjut usia di panti diambil dari daftar
penghuni masing-masing panti.

*) Catatan kaki: Laporan ini merupakan bagian dari disertasi: Budi Riyanto Wreksoatmodjo. Pengaruh Social Engagement terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia di Jakarta,
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013.
Alamat korespondensi

email: budi.rw@gmail.com

CDK-214/ vol. 41 no. 3, th. 2014

171

50-24.19 Pada penelitian ini dinilai menggunakan MMSE (Mini Mental State Examination). tamat SD < 23.4% dan yang tinggal di panti werdha 26.9 Usia 60–70 tahun Kurang 171 59. 2014 .2%).0 Baik 140 49.18 Besar Sampel Jumlah sampel minimal pada satu kelompok adalah 118. 12. abstraksi dan taraf inteligensi. 3. Sejumlah 59.7 Bekerja di dalam rumah 37 12.6% memiliki riwayat diabetes melitus (Tabel 2). Hampir separuh responden pernah menikah (48. tamat SLP < 25 dan jika tamat SLA ke atas < 26. jika tidak tamat SD ≥19.Bersedia mengikuti penelitian ini. tamat SLA ke atas ≥ 26. yang dikaitkan dengan 172 pengalaman pembelajaran dan kapasitas inteligensi seseorang.5 Perempuan 213 74. telpon. Social engagement dinilai baik jika nilai indeks keseluruhan (GAB) 3 – 4. gangguan fungsi luhur seperti afasia.6 250 87.43 tahun.5 57.7%).3 Pernah menikah 138 48.00) Tabel 3 Aktivitas Fisik dan Aktivitas Kognitif Responden Tabel 1 Karakteristik Demografi Responden Karakteristik Demografi N % Karakteristik Aktivitas Fisik dan Kognitif N % Aktivitas Fisik Jenis kelamin Laki-laki 73 25. Mereka yang diketahui telah menderita atau didiagnosis demensia. tidak tamat SD < 19.50) 38 13. frekuensi kontak baik langsung (tatap muka) maupun tak langsung (melalui sarana komunikasi surat. Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui: 1) Kuesioner informasi umum.3 Bekerja 62 21. yaitu komponen jaringan sosial dan aktivitas sosial. Selanjutnya untuk mengantisipasi ketidak lengkapan data. 51% responden aktivitas kognitifnya kurang (Tabel 3).5 Tabel 2 Karakteristik Riwayat Kesehatan Responden Karakteristik Riwayat Kesehatan n % Hipertensi Ya Tidak 84 29.4% memiliki riwayat hipertensi.4 101 35.7 4 1. 45.6 Masyarakat 210 73.8% responden mempunyai aktivitas fisik kurang. Karakteristik Demografi >70 tahun 71–80 tahun N % 106 37. DEFINISI Social engagement: Terpeliharanya beragam hubungan sosial dan keikutsertaan (partisipasi) dalam kegiatan sosial.3 Tidak sekolah Tamat SLTA > 17. Sebagian besar responden berusia 60–70 tahun yaitu 62.5 Tidak Status Gizi Overweight (IMT ≥25. SMS).4 Penilaian social engagement terbagi atas dua komponen.7 64 22. Kriteria Eksklusi Menderita gangguan jiwa psikosis.4 Status Marital Tidak menikah 18 6.3%).0 CDK-214/ vol.3 Normal IMT (18. Responden yang tinggal di keluarga 73.5 180 62. .9%. Lebih dari separuh responden berstatus gizi normal (55.5% lainnya masih hidup bersama pasangannya serta 6.5%.HASIL PENELITIAN Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria Inklusi .8 Baik 115 40.3%).3 Tempat Tinggal Panti 76 26.6 Diabetes mellitus Ya 36 12. Karakteristik Responden yang Dianalisis dalam Penelitian Mayoritas responden adalah perempuan 74. Pengumpulan data oleh petugas yang telah dilatih dan tersertifikasi AAzI (Asosiasi Alzheimer Indonesia).Laki-laki atau perempuan ≥ 60 tahun saat penelitian dimulai.9 Pendidikan Rendah 121 44 15.4 Tamat SD 50 Tinggi 165 Tamat SLTP HASIL Jumlah reponden yang memenuhi syarat dan datanya lengkap pada penelitian ini sejumlah 286 orang. kemampuan berbahasa.4 Underweight (IMT <18. berasal dari 5 posyandu lanjut usia dan 2 panti werdha yang ada di wilayah tersebut. Rata-rata usia responden adalah 69. Dinilai buruk jika nilainya: < 13 jika tidak sekolah. 3) Kuesioner Mini Mental State Examination (MMSE). visuospasial. Penilaian aktivitas sosial berdasarkan frekuensi kunjungan ke tempat ibadah.7 Bekerja di luar rumah 25 8. riwayat gangguan peredaran darah otak (stroke). Mayoritas responden tingkat pendidikan tinggi (57. fungsi eksekutif. berhitung. Termasuk fungsi kognisi ialah: memori/daya ingat.2 90 31.3 Menikah 130 45. dinilai buruk jika nilainya 1 –2. th.Telah tinggal di lingkungannya selama sedikitnya 1 tahun . orientasi. 41 no.2 Aktivitas Kognitif Kurang 146 51. Sejumlah 29. apraksia.21 didasarkan atas nilai potong yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan responden.20.22 Dinilai baik jika nilainya: ≥ 13 jika tidak sekolah. karena pada penelitian ini ada dua kelompok maka sampel menjadi 236.4 Tak tamat SD 27 9.4 > 80 tahun Pekerjaan Tidak bekerja 224 78. ditambah dengan 10% = 236 + 24 = 260 responden.1 102 35. 42.4 202 70.6%. Fungsi kognitif: Kemampuan mengenal atau mengetahui mengenai benda atau keadaan atau situasi. tamat SLP ≥ 25.99) 158 55. sedangkan jaringan sosial dinilai dari adanya pasangan hidup. konsentrasi/ perhatian. 2) Kuesioner indeks social disengagement dan aktivitas fisik dan aktivitas kognitif. tamat SD ≥ 23. Kebanyakan responden tidak bekerja (78.4 Pada penelitian ini dinilai menurut indeks social disengagement.3% tidak menikah (Tabel 1). keanggotaan kelompok masyarakat dan aktivitasnya dalam lingkungan.

Social Engagement Nilai social engagement merupakan nilai gabungan dari skor jaringan sosial dan skor aktivitas sosial.0 baik (Skor MMSE > 25) 32 50.) Tak tamat SD buruk (Skor MMSE <19) 9 33.1) 35 (12.7 buruk (Skor MMSE <23) 20 40.9%.4) 142 (77.9 Buruk (jumlah skor 0-1) 166 58.9%.8% responden mempunyai fungsi kognitif buruk (Tabel 5).3 Tamat SD Tamat SLP Tamat SLA > 2. berbelanja.4 Social Engagement berdasarkan Social engagement % Kunjungan ke tempat ibadah (skala TIB) Buruk (skor =0) Social Engagement 1.2) Bekerja 20 (19. melancong. Aktivitas Sosial Mayoritas responden berkunjung ke tempat ibadah sedikitnya seminggu sekali (80. sedangkan frekuensi kontak dengan keluarga dan teman/sahabat tak langsung melalui surat atau sarana komunikasi lain (kontak in media) mayoritas buruk yaitu sebesar 87. 102 (35.8 251 87.0001 173 . Frekuensi kontak dengan keluarga dan teman/sahabat secara personal atau temu muka/fisik (kontak in person) mayoritas baik yaitu 73.2 Sangat baik (4) n (%) Sangat buruk (1) 23 (8.2) 57 (31. 4.6 Keanggotaan di kelompok lain (skala KEL) 0.5 Aktivitas Sosial (skala ASOS) Tidak bekerja 82 (80. Tabel 7 Aktivitas Sosial Responden Demografi Tabel 9 Distribusi Tabel 5 Fungsi Kognitif Responden Fungsi kognitif N % Buruk 108 37.5 <0.8%).629 Pendidikan Buruk (skor 0-1) 110 38.6) Perempuan 78 (76. tidak diabetes melitus dan underweight.1% responden dinilai mempunyai jaringan sosial buruk.8) 120 (65.0 buruk (Skor MMSE <25) 32 50.8 Baik (3) 35 12. Sebanyak 61.5) 49 (26.0) Tinggi 38 (37. di kelompok tak tamat SD 33.3%. menonton pertunjukan di bioskop atau pertandingan olahraga. tidak bekerja (80. Jaringan sosial dinilai dari kombinasi tiga variabel tersebut.4% tidak memiliki pasangan hidup. Di kalangan social engagement buruk lebih banyak yang aktivitas fisiknya buruk dan aktivitas kognitifnya buruk (Tabel 11). 41 no. Jaringan Sosial Mayoritas responden yaitu 54.6%. Social Engagement 75 26.7% (Tabel 4). Lanjut usia yang memiliki social engagement buruk 35. Aktivitas sosial dinilai dari kombinasi tiga variabel tersebut. Secara keseluruhan.5%). di kelompok tamat SD 40%.0 baik (Skor MMSE > 23) 30 60.2) >70 tahun 42 (41.8%. berpendidikan rendah (67.HASIL PENELITIAN Fungsi Kognitif Fungsi kognitif buruk di kelompok tidak sekolah 40.0) buruk (Skor MMSE <13) 18 40.8) Rendah 64 (67.5) 135 (73.0 buruk (Skor MMSE <26) 29 28.5 Buruk (skor =0) Pendidikan Kontak in media (skalaNVIS) % Buruk (skor =0) Baik (skor=1) Tidak sekolah Tabel 8 Social Engagement Kontak in person (skalaVIS) Baik (skor=1) N % Pasangan hidup (skala PH) Tabel 4 Fungsi Kognitif Responden Menurut Tingkat Fungsi kognitif n 3.p Jenis kelamin Laki-laki 24 (23.7) Buruk Baik N=102 (100%) N=184 (100%) .5%). Di kalangan social engagement buruk lebih banyak yang tidak hipertensi.4 13.4%) dan masih terlibat dalam kegiatan di kelompok lain seperti pengajian atau arisan di lingkungan masing-masing (60.5 Ada (skor=1) 130 45.2%).1 Buruk (sangat buruk dan buruk) baik (Skor MMSE > 13) 26 59.7 baik (Skor MMSE > 26) 72 71.2 211 73.664 Usia 0. didapatkan 58.4) 61–70 tahun 60 (58.5 Baik (skor=1) 173 60.2) 64 (34.6) 42 (22. di kelompok tamat SLP 50% dan di kelompok tamat SLA atau lebih 28.5 Baik (skor 2-3) 176 61.8 Baik 178 62. dan aktivitas di lingkungan masyarakat lebih sedikit yaitu 13. pernah menikah (66.6 230 80. pada usia 61–70 tahun (58.5% masih mempunyai aktivitas sosial baik.2) Total 286 (100. th. Responden yang masih terlibat dalam kegiatan di luar rumah yang dinilai dari frekuensi ke luar rumah.8%. 37. 3. lebih besar dibandingkan dengan responden dengan jaringan sosial baik yaitu sebesar 41.3 baik (Skor MMSE > 19) 18 66. Distribusi Social Engagement Social engagement buruk lebih banyak dijumpai di kelompok perempuan (76. Tabel 6 Jaringan Sosial Responden Variabel Tidak ada (skor =0) 156 54.7%) (Tabel 9) dengan perbedaan proporsi yang bermakna dalam hal pendidikan.6) 149 (52.3) Total 286 (100.9 Baik (baik dan sangat baik) 184 (64. status marital dan tempattinggal (Tabel 10). 2014 n Karakteristik Demografi Baik (skor=1) 56 19.7%) dan tinggal di panti (66.7%.0) Buruk (2) Jaringan sosial (skala JSOS) 79 (27.2 Variabel CDK-214/ vol.0) 0.4%).3) 127 (69.1 Baik (jumlah skor 2-3) 120 41.8) Kegiatan di masyarakat (skala MAS) Buruk (skor =0) 247 Baik (skor=1) 86.345 Pekerjaan Buruk (skor =0) 113 39.

0001 Kurang 78 (76.0) 154 (67.0001 173 (100.000 Tabel 14 Hubungan Social Engagement dengan Fungsi Kognitif Tabel 11 Distribusi Social Engagement berdasarkan Aktivitas Social engagement Fisik dan Kognitif Social engagement Karakteristik Aktivitas Fisik dan Kognitif Buruk Baik N=102 (100%) N=184 (100%) Kurang 77 (75.1) 113 (100.557) . yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif adalah kontak in person (VIS) dan kontak in media (NVIS).0) 1.5) 65 (35.012 Tidak 58 (51.463–5.0) 1.788 (1.0) 176 (100) 1.3) Keluarga 34 (33.001 230 (100.3) 176 (95.0) 1.5) 57 (31.012 (1.5) 127 (69.5) PRR Baik Buruk 58 (56.4) Tidak Kurang 0.0) 93 (56.2) 150 (59.012 (1.013 Aktivitas Sosial <0.0) 56 (100.1) 87 (66.142) 0.7) 91 (58.000 Kontak in media (NVIS) Kurang Baik Hipertensi Fungsi Kognitif Kurang 251 (100) 2.508 (1.960–3.3) Baik 64 (30.8) 26 (14.6) 110 (59.000 .9) <0.50) 21 (20.3) Overweight (IMT ≥25.087–2.1) 2.99) 25 (24.8) 120 (100) 1.p <0.2) Pernah menikah 68 (66.000 <0.2) Normal IMT (18.000 0.0) 166 (100) 1. 2.2) 134 (72.398) Baik 51 (29.p Aktivitas Fisik Aktivitas Kognitif 116 (63.7) 70 (38.50 –24. 2014 .092) Baik 35 (29.565–2.2) 85 (70.5) 94 (51.020–3.092) kali lebih besar untuk mempunyai fungsi kognitif buruk dibandingkan dengan mereka yang jaringan sosialnya baik.3) 147 (69.0001 211 (100.087–2. sedangkan aktivitas sosial terdiri dari komponen kegiatan di luar rumah (MAS).1) 92 (90.788 (1.398) kali lebih besar untuk mempunyai fungsi kognitif buruk dibandingkan dengan mereka yang aktivitas sosialnya baik. kontak in media (NVIS) dan pasangan hidup (PH).020–3.0) 1.505 Tidak ada 65 (41.000 Kunjungan ke tempat ibadah (TIB) Status Gizi <1 kali/minggu 32 (57.00) 56 (54.p <0.334–2. frekuensi kunjungan ke tempat ibadah (TIB) dan keanggotaan di kelompok lain (KEL).5) 68 (37.8) Panti 68 (66.0001 Social engagement Tabel 10 Distribusi Social Engagement berdasarkan Riwayat JARINGAN SOSIAL Kesehatan Kontak in person (VIS) Social engagement Karakteristik Riwayat Kesehatan Buruk Baik N=102 (100%) N=184 (100%) Ya 27 (26.0) 1.063 39 (100.2) 158 (85. Para lanjut usia dengan kontak in person kurang 1.488–4.p 14 (13.0001 .323–2.9) 0.0) 1.9) 44 (43.033 35 (100) 1.0001 Hubungan Social Engagement dengan Fungsi Kognitif Social engagement terdiri dari komponen jaringan sosial dengan aktivitas sosial.7) 4 (2.1) 24 (42.557) kali lebih berisiko mempunyai fungsi kognitif buruk dibandingkan dengan para lanjut usia dengan kontak in person baik. 3.7) Fungsi Kognitif Buruk Baik Total PRR .7) Ya 50 (28.3) 55 (48. th.000 Pasangan Hidup (PH) 0.934 (1.8) 7 (20.799) Baik 50 (27.7) 101 (40.7) 31 (41.776 (1.0001 Tempat Tinggal Tabel 13 Hubungan Komponen Jaringan Sosial dan Aktivitas Sosial dengan Fungsi Kognitif <0.0001 Kurang 57 (51.p Jaringan Sosial Status Marital Tidak menikah Social engagement Kurang 73 (44.6) 17 (9.7) 8 (4.0) .093 (1.737 (0. 174 Fungsi Kognitif Kurang Para lanjut usia yang jaringan sosialnya kurang mempunyai risiko 1.5) 90 (48.0) 28 (80.463–5.0) Menikah 20 (19.729 (1.1) 148 (59. Demikian juga para lanjut usia yang aktivitas sosialnya kurang mempunyai risiko 1.0) Tidak 75 (73.9) ≥1 kali/minggu 76 (33.2) 110 (100) 1.969) 0.HASIL PENELITIAN Social engagement Karakteristik Demografi Buruk Baik N=102 (100%) N=184 (100%) Tabel 12 Hubungan Jaringan Sosial dan Aktivitas Sosial dengan Fungsi Kognitif .p Baik PRR Total Kurang 44 (58.334–2.8) 53 (48.9) 9 (23. 41 no. Hubungan komponen jaringan sosial dan komponen aktivitas sosial dengan fungsi kognitif dapat dilihat pada Tabel 13. Hubungan jaringan sosial dan aktivitas sosial dengan fungsi kognitif dapat dilihat pada Tabel 12.0) Baik 24 (23.508 (1. Para lanjut usia dengan kontak in media kurang.927–1.934 (1.260 (0.905) 0.3) 156 (100.0) <0.385) <0.9) Underweight (IMT <18.9) 123 (71.0) 1.000 Keanggotaan/Partisipasi di kelompok selain posyandu (KEL) 0.1) Baik 25 (24.712) Ada 43 (33.0) 1.9) 130 (100. Dari komponen jaringan sosial.384 Baik 247 (100.0) 1.000 99 (40.0) 1.171 AKTIVITAS SOSIAL Diabetes melitus Aktivitas di Masyarakat (MAS) Ya 10 (9.9) 102 (55. CDK-214/ vol. Jaringan sosial terdiri komponen kontak in person (VIS).0) 75 (100.969) kali lebih berisiko mempunyai fungsi kognitif buruk dibandingkan dengan para lanjut usia dengan kontak in media baik. sedangkan pasangan hidup (PH) tidak berpengaruh.1) 30 (76.8) 1.0) 125 (71.

23 melalui mekanisme scaffolding – berupa pengaktifan jaringan tambahan sehingga jaringan otak menjadi lebih efisien. perceptual speed. working memory. 95%IK: 1.33 Tingkat jaringan sosial mengubah sifat kaitan antara beberapa parameter Alzheimer dengan tingkat fungsi kognitif. frekuensi) atau dari persepsinya (kepuasan.80) (Tabel 14).HASIL PENELITIAN Dari komponen aktivitas sosial. Kognisi sosial didukung oleh jaringan ekstensif yang melibatkan sistim limbik dan area asosiasi kortikal maupun subkortikal. terutama pada efeknya terhadap pengurangan jumlah neurofibrillary tangles. Para lanjut usia dengan kunjungan ke tempat ibadah < 1 kali/minggu 1. tetapi bisa nyata jika patologi otak bertambah.30 Selain itu juga terlihat bahwa meskipun orang dengan jaringan sosial yang lebih luas lebih mungkin terlibat lebih aktif dalam aktivitas sosial.27 Social engagement dianggap dapat memelihara fungsi kognitif17. Sistem ini memungkinkan terbentuknya representasi simbolik atas karakteristik self-non self. dan stimulasi lingkungan telah terbukti bisa menambah tersedianya jaringan tambahan tersebut. bukannya menyiagakannya terus menerus dapat menerangkan mengapa tidak ada efek utama jaringan sosial terhadap fungsi kognitif. Tabel 14 menunjukkan bahwa sebanyak 56.24 Social engagement melibatkan fungsi kognisi sosial.9% (58 orang) lanjut usia dengan social engagement buruk memiliki fungsi kognitif buruk.905) kali lebih berisiko dibandingkan dengan para lanjut usia dengan kunjungan ke tempat ibadah ≥ 1 kali/ minggu. fragile X syndrome dan skizofrenia.776 (1. Uji statistik menggunakan analisis Cox Regression menunjukkan ada hubungan bermakna antara social engagement dengan fungsi kognitif (nilai p < 0.31 Pola ini dianggap menggambarkan kompensasi terhadap kerusakan yang berhubungan dengan penuaan melalui jaringan neural alternatif. th. makin banyak jaringan tambahan yang tersedia. pengaruh jaringan sosial masih menetap setelah faktor-faktor tersebut dikontrol. memori semantik dan fungsi kognitif lainnya. Penyakit neurodegeneratif termasuk Parkinson. atau dengan mengkompensasi efek degenerasi sistem kognitif nonsosial.565–2. 41 no. Pengamatan bahwa aktivasi jaringan alternatif. demensia frontotemporal dan Alzheimer diketahui dikaitkan dengan gangguan aspek tingkah laku sosial.30 Rekrutmen area otak alternatif sebagai respon terhadap kerusakan akibat penuaan dan degenerasi telah banyak tercatat dalam studi pencitraan. yang berpengaruh adalah frekuensi kunjungan ke tempat ibadah (TIB) dan keanggotaan di kelompok lain (KEL) seperti kelompok pengajian dan kelompok arisan.09.323–2. pikiran dan perasaan.28. Lebih banyak mempunyai jaringan sosial dan lebih banyak aktivitas sosial diasosiasikan dengan lebih lambatnya penurunan kognitif17 dan mereka yang menerima dukungan emosional mempunyai fungsi kognitif lebih baik. 3. Beberapa gangguan neurodevelopmental sebagian dicirikan dari ketidakmampuan membangun ikatan sosial seperti pada autism.30 Pentingnya interaksi hubungan sosial telah lama diketahui. dibandingkan dengan fungsi episodic memory. orang dengan diagnosis tersebut mempunyai defisit kognisi sosial. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian epidemiologis yang sebagian besar menunjukkan bahwa social engagement merupakan faktor protektif terhadap penurunan fungsi kognitif25.2% (50 orang) memiliki fungsi kognitif buruk. penuaan diasosiasikan dengan peningkatan area otak yang pada orang muda tidak aktif. Lanjut usia dengan social engagement buruk memiliki risiko 2. dan aspek lain lingkungan sosial.23 CDK-214/ vol.799) kali lebih besar untuk mempunyai fungsi kognitif buruk dibandingkan lanjut usia dengan social engagement baik.apakah berasal dari struktur hubungan sosial (besar.29 Daerah-daerah tersebut juga mendukung memori episodik. meskipun demikian tidak semua individu berkemampuan sama dalam hal membangun dan mempertahankan persahabatan dan ikatan sosial. akan makin efisien mekanisme kompensatorik tadi.488–4. visuospatial ability. yang semuanya dikaitkan dengan menurunkan risiko gangguan kognitif dan demensia.30 Mekanisme pengaruh jaringan sosial terhadap fungsi kognitif masih belum dapat ditentukan . yaitu tingkat partisipasi dalam kegiatan di masyarakat4. 2014 Pada penelitian ini lanjut usia dengan social engagement buruk memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk mendapatkan fungsi kognitif buruk (HR 2. efek ini menetap setelah dikontrol dengan faktor yang berpotensi confounding.57–2.0001). Pengaruhnya nyata pada semua aspek kognitif.729 (1. Para lanjut usia yang tidak menjadi anggota di kelompok masyarakat lain selain posyandu 1.26 meskipun ada juga yang tidak menemukan hubungan antara dukungan sosial dengan risiko penurunan fungsi kognitif. PEMBAHASAN Social engagement diartikan sebagai kemampuan memelihara hubungan sosial (jaringan sosial) dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial (aktivitas sosial). yaitu kemampuan memelihara luasnya hubungan sosial dan aktivitas sosial. dan memberikan kemampuan melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain (theory of mind). kesan) terhadap hubungan sosial yang ada. Oleh karena itu mungkin saja aspek proses kognitif yang membangun dan mempertahankan jaringan sosial juga dapat berlaku sebagai cadangan terhadap risiko gangguan kognitif akibat adanya akumulasi patologi jaringan otak.093 (1.16 Pengaruh aktivitas sosial 175 . Social engagement mempunyai komponen jaringan sosial. Misalnya.29 Pengaruhnya terutama pada fungsi semantic memory.385) lebih berisiko mempunyai fungsi kognitif buruk Hubungan social engagement dengan fungsi kognitif pada penelitian ini dilihat dari nilai PRR menggunakan analisis Cox Regression yang ditunjukkan pada Tabel 14. Sedangkan di antara lanjut usia dengan social engagement baik sebanyak 27. sedangkan aktivitas sosial dicirikan dari partisipasi dalam aktivitas masyarakat yang bermakna dan produktif. Lesi otak fokal termasuk stroke dapat menghambat aspek tingkah laku sosial sementara aspek kognitif lainnya relatif intak.4 Jaringan sosial (social network) dinilai dari struktur dan kualitas hubungan interpersonal. kognitif dan fisik.32 Lanjut usia penderita Alzhemier ringan juga mengaktifkan area otak tambahan pada tingkat aktivitas kognitif yang sama dengan mereka yang sehat. tetapi terutama pada memori semantik yang merupakan simpanan pengetahuan mengenai dunia sekitar dan terlibat secara mendasar pada fungsi kognitif yang unik pada manusia seperti berbahasa.

penurunan sensorik.46 Sebuah penelitian kohort Honolulu-Aging Study menghubungkan penurunan aktivitas dari usia pertengahan ke usia lanjut dengan peningkatan risiko demensia meskipun masih mungkin bahwa penurunan aktivitas tersebut justru merupakan tanda dini demensia. HongKong Kohort 3 tahun 2032 usia ≥70 tahun Cognitive impairment CAPE di institusi vs. Perancis PAQUID cohort 3777 usia ≥65 tahun - MMSE. 41 no. 23% lebih rendah di kalangan yang socially satisfied James et al. etnis.88) di kalangan lanjut usia tinggal di keluarga yang tidak memiliki ikatan sosial dibandingkan dengan yang memiliki lima atau enam hubungan sosial.24 6-year OD: 1.1). profil kardiovaskular.0–2. Chicago.23.5 (1. 3.6 Kontak jaringan sosial yang jarang tidak meningkatkan risiko demensia apabila berkualitas. tipe rumah.47 Tanpa memperhitungkan efeknya terhadap fungsi kognitif. Connecticutt Longitudinal 2812 usia ≥65 tahun Fratiglio ni et al. 2014 . 2000 Masyarakat. cacat fisik. pengamatan tahun keenam OR 1.24 176 Fratiglioni et al. OR perempuan 2. New Haven.9) Yeh & Liu 2003 Masyarakat. Jika semua komponen jaringan sosial digabung dalam indeks ditemukan bahwa jaringan sosial buruk meningkatkan risiko demensia sebesar 60%.4 ini didukung oleh fenomena biologis. menghindari isolasi sosial dan mempertahankan berbagai jenis aktivitas sosial dapat bersifat protektif terhadap gangguan kognitif dan demensia di kemudian hari. dan tahun kedua belas OR 2. jenis kelamin.4) kali lebih besar untuk menjadi demensia.26.40–3. Lanjut usia tidak menikah dan tinggal sendirian memiliki risiko 1. meninggal dunia. mereka yang tinggal di lingkungan yang lebih ‘kaya’. Yeh & Liu (2003) di Taiwan menunjukkan bahwa fungsi kognitif yang baik di komunitas lanjut usia berasosiasi dengan dukungan sosial khususnya status marital dan dukungan positif dari teman.0–2. setelah disesuaikan oleh variabel usia. menolak.18).41 Aktivitas sosial yang ekstensif mempunyai efek proteksi terhadap risiko berkembangnya demensia4.37 Ada beberapa alasan mengapa aktivitas sosial dalam bentuk apapun berhubungan dengan fungsi kognitif di usia lanjut. didapatkan lanjut usia yang berpartisipasi dalam satu atau dua kegiatan sosial 13% lebih kecil risikonya untuk “failed cognitive task” dibandingkan dengan mereka yang tidak ikut serta dalam aktivitas sosial. 1.07–4.7–11. Baltimore. di antaranya bahwa aktivitas tersebut juga memperbaiki kondisi kesehatan umum. IADL Risiko Alzheimer 55 % lebih rendah di kalangan social support baik.HASIL PENELITIAN Tabel 15 Beberapa Penelitian di Masyarakat Mengenai Hubungan Social-Engagement dengan Fungsi Kognitif di Kalangan Lanjut Usia Penulis Lokasi Populasi Bassuk et al. 2005 Masyarakat Taiwan Longitudinal 1989–2000 2387 usia ≥60 tahun - SPMSQ Aktivitas sosial berpengaruh positif terhadap kognisi.37 (1. jaringan sosial tak berpengaruh Green et al. Taiwan Krosseksional 4993 ≥usia 65 tahun Gangguan psikiatrik. questionnaire Jaringan sosial terendah vs.45. sebagian menyatakan bermanfaat.35 lebih banyak jaringan kapiler korteksnya36 dan juga lebih aktif neurogenesisnya. USA Longitudinal 1981–2005 874 usia ≥18 tahun - MMSE Tak ada asosiasi longitudinal antara aktivitas sosial dengan kognisi Amieva et al.91 12-year OD: 2. merokok.4 (1. data tak lengkap Battery of 21 tests Laju penurunan kognitif 70% lebih rendah di kalangan aktif sosial Peranan aktivitas sosial di masyarakat ataupun keanggotaan di kelompok masyarakat telah lama dibahas dalam memelihara kesehatan secara umum dan khususnya fungsi kognitif. gejala depresi. Aktivitas sosial juga bisa menguntungkan melalui lingkungan yang merangsang fungsi kognitif. yaitu aktivitas sosial memperlambat penurunan fungsi kognitif. tidak MMSE ≤ 23 demensia MMSE.2–3. AS Kohort 12 tahun 1406 usia ≥65 tahun Demensia.46 Penelitian di kalangan perempuan Bassuk et al.14–3. pada percobaan binatang.3–4. tanpa alamat SPMSQ Social support lebih baik–kognisi lebih baik Glei et al. meskipun demikian. (2000) menemukan bahwa jaringan sosial yang luas merupakan faktor protektif demensia.37-39 ada juga yang masih meragukan. th. (2001) tidak menemukan hubungan antara dukungan sosial dengan risiko penurunan fungsi kognitif baik di kalangan laki-laki maupun di kalangan perempuan. demensia.44. dan tingkat aktivitas fisik.4.40 mendapatkan hasil serupa.34 mengandung lebih sedikit amiloid di otak. 2001 Eksklusi - Uji Hasil SPMSQ. lebih sedikit penurunan kognitifnya. (2005) meneliti perubahan fungsi kognitif berkaitan dengan partisipasi kegiatan sosial dan jaringan sosial pada lanjut usia di Taiwan.58).91 (1.(1999) menemukan hubungan antara social disengagement dan penurunan fungsi kognitif pada lanjut usia yang tinggal di keluarga. pendapatan.27 Glei et al.6. dibandingkan dengan yang tinggal terisolasi.5 (1. social network Jaringan sosial buruk/terbatas meningkatkan risiko demensia sebesar 60% (95%CI: 1.24 (1.2–2. dan lanjut usia yang berpartisipasi dalam tiga atau lebih kegiatan sosial 33% lebih kecil risikonya CDK-214/ vol. kinerja awal kognitif. 2010 Masyarakat. penemuan ini diperkuat dengan studi laboratorium: tikus yang hidup di lingkungan kompleks lebih cekatan dibandingkan dengan yang hidup di lingkungan sederhana. Kungsholmen Sweden Follow-up rata-rata 3 tahun Ho et al. pendidikan. 2011 Fasilitas pensiunan.1) kali lebih besar untuk demensia dibandingkan dengan lanjut usia menikah dan tinggal bersama orang lain.1) Masyarakat. Lanjut usia yang hidup sendiri dan tidak memiliki ikatan sosial yang dekat memiliki risiko 1.26 Tetapi Ho et al.1.9 (1. kemungkinan sebaliknya bahwa gangguan kognitif menyebabkan penurunan aktivitas sosial juga harus dipertimbangkan mengingat neuropatologi seluler sudah terlihat berpuluh tahun sebelum gejala muncul. penggunaan alkohol. Tetapi penelitian-penelitian di masyarakat belum semuanya memperoleh simpulan yang jelas mengenai pengaruh jaringan dan aktivitas sosial terhadap fungsi kognitif. 2008 Masyarakat. mengurangi depresi dan menumbuhkan kebiasaan hidup sehat. di masyarakat: OR pria 4.1999 Masyarakat. tertinggi: 3-year OD untuk penurunan kognisi: 2.37 1203 usia ≥75 tahun. Pada pengamatan tahun ketiga didapatkan OR 2.

Levasseur M. 2. 23. Selain itu responden yang menerima dukungan lebih selama hidupnya memiliki 55% dan 53% penurunan risiko untuk demensia dan AD. Psychol Aging 1995. Ann Intern Med. 4(5): 324–31. Epidemiology and Risk Factors. Cambridge. Alvarado-Esquivel C. DAFTAR PUSTAKA 1. M. pernah menikah dan tinggal di panti. meskipun dalam analisis cross sectional ditemukan ada hubungan. Lanjut usia dengan social engagement buruk memiliki risiko 2. Pedersen NL. An active and socially integrated lifestyle in late life might protect against dementia.8%. Winblad B. (2011) mendapatkan bahwa setiap penambahan skor aktivitas sosial. meskipun demikian. Albert MS. Use it or lose it: Engaged lifestyle as a buffer of cognitive decline in aging?. 12. Morris MC.. Barnes DE. 3(4): 215–22. mengurangi depresi dan memperbaiki kebiasaan hidup sehat. 2009. BPS. Martínez SE. 8. Wilson RS. Gatz. Savage CR et al. Dalupang RG. (2010) menunjukkan hubungan signifikan antara aspek jaringan sosial terhadap gangguan fungsi kognitif berupa demensia dan AD. (2008) pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas yang dinilai sebanyak 3 kali selama tahun1981–2005. BMC Psychiatry 2004.4(3):1–7. Carpio AD. Statistik Indonesia 2009. The Behavioral Neurology of Dementia. Franzén M. 14.1999. Mendes De Leon CF. SARAN 1. dan membentuk keterikatan emosional. Menghindari isolasi sosial dan mempertahankan berbagai jenis aktivitas sosial agaknya bersifat protektif terhadap gangguan kognitif dan demensia di kemudian hari. Allied Health Sciences 2007. Lanjut usia dengan social engagement buruk 35. Prevalence of dementia and Alzheimer’s disease in elders of nursing homes and a senior center of Durango City. Crowe M. Nicolas RA.. Dehlin O. th. Carlson MC.16 James et al. Tapia-Rodríguez RO. 2008. menyediakan bantuan praktis bagi kegiatan sehari-hari seperti membantu bepergian.1% dan lanjut usia yang aktivitas sosialnya dinilai buruk sebesar 38. Jones K. Geneva 2002. Raymond E. Kepuasan dan timbal balik dalam hubungan merupakan faktor protektif terhadap demensia. 10(4): 578–89.565–2. WHO. 3(6):343–53. kemungkinan sebaliknya bahwa gangguan kognitif menyebabkan penurunan aktivitas sosial juga harus dipertimbangkan mengingat neuropatologi yang diakitkan dengan gangguan kognitif dan demensia sudah terlihat berpuluh tahun sebelum gejala muncul. Pengaruh proteksi terhadap demensia atau AD selama 15 tahun lebih kepada kualitas dibandingkan dengan kuantitas jaringan sosial. Phillipine J. Rodríguez-Corral K . Does participation in leisure activities lead to reduced risk of Alzheimer’s disease? A prospective study of Swedish twins. Guerrerro JR. Plassman BL. Komisi Nasional Lanjut Usia.HASIL PENELITIAN untuk “failed cognitive task” dibandingkan mereka yang tidak ikut serta dalam aktivitas sosial. J.J Gerontol. 9. Active Ageing: a policy framework. Bassuk SS. 11. usia dan pekerjaan. Glass TA. pp. yaitu social engagement buruk meningkatkan risiko terjadinya gangguan fungsi kognitif. Hultsch DF. Inventory and analysis of definitions of social participation found in the aging literature: Proposed taxonomy of social activities. 2.14(2):245–63. 2010.7%. 131(3):165–73. 2:38. Aguirre JM. Small BJ. 2004. 13. lanjut usia yang jaringan sosialnya dinilai buruk sebesar 58. Gauvin L. Tidak ada perbedaan proporsi antara lanjut usia yang social engagement buruk dan baik berdasarkan jenis kelamin. Fratiglioni L. di antaranya bahwa aktivitas tersebut juga memperbaiki kondisi kesehatan umum.799) kali lebih besar untuk mempunyai fungsi kognitif buruk dibandingkan lanjut usia dengan social engagement baik. aktivitas sosial di masyarakat ataupun keanggotaan di kelompok masyarakat yang merupakan komponen social engagement dapat mempertahankan kesehatan mental seseorang melalui beberapa mekanisme: menyediakan dukungan sosial. 15. Komisi Nasional Lanjut Usia. Evans DA Cognitive activity and incident AD in a population-based sample of older persons. Neurology 2002. Potter GG. CDK-214/ vol. Andel R. proporsi social engagement buruk lebih banyak ditemukan pada lanjut usia dengan tingkat pendidikan rendah. Rencana Aksi tentang Kelanjutusiaan untuk Asia dan Pasifik. 3.42 SIMPULAN Social engagement terbukti berpengaruh terhadap fungsi kognitif. BPS.43 Ada beberapa alasan mengapa aktivitas sosial dalam bentuk apapun berhubungan dengan fungsi kognitif di usia lanjut. Schneider JA . Mexico. diasosiasikan dengan penurunan fungsi kognitif 47% lebih lambat.41 Secara umum. Hertzog C. 10. memberikan pengaruh positif berupa rasa berguna. status marital dan tempat tinggal. Psychol. Predictors of cognitive change in older persons: MacArthur studies of successful aging. A comparative analysis of the cognitive functioning of community-dwelling and institution-based elderly in Manila. LF. 7. 41 no. Aging 1999. Hernández-Alvarado AB. 2014 177 . WHO. 6.Cambridge Medicine. 2003. Midlife activity predicts risk of dementia in older male twin pairs. 4. Yaffee K.2009. Jakarta. Richard L. Burke JR. Dixon RA. Guerrero-Iturbe A. Social disengagement and incident cognitive decline in community-dwelling elderly persons. Primary Health Care 1985. Bienias JL. Scand. sedangkan berdasarkan pendidikan. 5.40 Penelitian Amieva et al. Melakukan penelitian lanjutan berupa intervensi manipulasi social engagement untuk melihat pengaruhnya terhadap perubahan fungsi kognitif di kalangan lanjut usia. 3. Aggarwal NT. Alzheimer’s & Dementia. Soc Sci Med. meliputi masyarakat dengan latar belakang kultur yang berbeda. responden yang merasa puas dengan hubungan mereka risiko demensianya berkurang sebanyak 23%. 2007.59(12):1910–4. Berkman. Komnas Lansia. Melakukan penelitian lanjutan pada populasi yang lebih luas. Adapun simpulan tambahan dari penelitian ini adalah: a.5% b. Johansson B. Helms MJ.. Jakarta. Prevalence of dementia syndromes in persons living in homes for the elderly and in nursing homes in southern Sweden.093 (1. Bennett DA. Penilaian social engagement merupakan gabungan dari penilaian jaringan sosial dan aktivitas sosial. 58(5): 249–55. Kumpulan Kesepakatan bidang Lanjut Usia.39 Tetapi analisis longitudinal Green et al. 71(12):2141–9. Lancet Neurol. Lanjut usia dengan fungsi kognitif buruk sebesar 37. Paillard-Borg S. Steffens DC. tidak menemukan hubungan antara jaringan sosial dengan kognisi.

) Neurology in Daily Practice. 22 Turana Y. 327–36. Jakarta. Am J Epidemiol. Maytan. LL. 39. Wilson. Late-life engagement in social and leisure activities is associated with a decreased risk of dementia: a longitudinal study from the Kungsholmen project. Matharan F. 34. Lubben J. Wilson RS.. 15. James BD. pp. Alzheimers Dis. 35. SC. 46. ‘Influence of social network on occurrence of dementia: A community-based longitudinal study’. 2. 23(9): 972–8. 5(2): 73–92. Complex experience promotes capillary formation in young rat visual cortex. Bennett DA. ‘Brain networks associated with cognitigve reserve in healthy young and old adult’. Green AF. 2010. Ed 1. lifestyle and health predictors of cognitive impairment in chinese older cohort’. 386. Wang. 4.Nilai Mini Mental State Examination (MMSE) berdasarkan usia dan tingkat pendidikan pada masyarakat lanjut usia di Jakarta’. Chiu V. YY 2003. 2009. Internat J Epidemiol. 30. Reuter-Lorenz P. 3 no. HX. 11. SG & Yu. Psychosom. Sirevaag AM. 4th ed. Ho. ML 2002. What aspects of social network are protective for dementia? Not the quantity but the quality of social interactions is protective up to 15 years later. Chan. Pfeifer LA.17(60): 998–1005. Park DC. 24. de Leon CM. 2014 . Berkman LF. Yeh. Lancet. 72(9):. 1995. Schneider.163(5): 433–40. Int J Epidemiol. Grady. Am J Public Health 2008. CI & Keightley. ‘Sudies of aleterd social cognition in neuropasychiatric disorders using functional neuroimaging’. pp.Med.83(3): 351–5. 9. 27. J. Tang.’ J Int Neuropsychol Soc 2011. Participating in social activities helps preserve cognitive function: an analysis of a longitudinal. 2008. vol. 1. vol 355. Glass TA. vol. G. Albert M. Woo. 294–402.120(5): 701–13. 30. no. R 2001. (eds. J. Stern. and patterns of cognitive aging in healthy. high-functioning older adults: macarthur studies of successful aging. dan Pranarka K. Saczynski JS. 2010.Martono H. SC & Liu. Dian S. ‘The effect of social networks in the relation between Alzhemier’s disease pathologu and level of cognitive function in old people: a longitudinal cohort study’. no. Dartigues JF. Y. Psychosom Med. JA. 1315–9. Sham. 44. FratiglioniL. Rev. 905–11. ‘Influence of social support on cognitive function in the elderly’. Ann. 2322–6. Social network characteristics and cognition in middle-aged and older adults. AL 2001. Little D. Weinstein M. cognitive function.Gerontologi Sosial. Lusignolo TM. 23. Marottoli RA. Neurosci Lett. Health Psychol. pp. no. Amieva H. Influence of social network characteristics on cognition and functional status with aging. ‘The neurobiology of social cognition’. Jankowsky JL. Goldman N. Bandung. 25. Karp A. vol. Ericsson. Bienias. ed.319(7208): 478–83. BMC Health Services Research. 31. Jakarta . 41. JS et al. no. 12. no.The role of social relations in health promotion. vol. Population based study of social and productive activities as predictors of survival among elderly Americans. Kuhn. 1389–96. 26. Deteksi dini gangguan kognitif dalam praketek umum dan neurologi sehari-hari. 2002. Prevention of dimentia: Focus on lifestyle. 18. 14–34. 6624. Lazarov O. JL & Evans. 42. Adolphs.155(12): 1081–7. Nature. 47. Nelles G. 2001. Rodríguez G. Robinson J. 20(4): 243–55. ‘More hippocampal neurons in adult mice living in an enriched environment’. Glei DA. 20. Environmental enrichment reduces Abeta levels and amyloid deposition in transgenic mice.37(5): 307–10. 19. Masaki K et al. Moeller. BMJ 1999. 40. Dalam: Basuki A. 1987. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 1994. Asosiasi Alzheimer Indonesia. Stoykova R.. 21. Tang YP et al. 6. Stern Y ‘What is cognitive reserve? Theory and research application of the reserve concept’. 33. 47. 2011. J et al. 8(3):448–60. 493–5. 38. Neurosci. pp.. L. Landau DA. Lyketsos. Dikot Y . 2005. Berkman LF . CG. Polidori MC. the Honolulu-Asia Aging Study. 1. 32. pp. HG & Gage. pp. 17. Konsensus Nasional Pengenalan dan Penatalaksanaan Demensia Alzheimer dan Demensia Lainnya. FK Universitas Padjadjaran/RS Hasan Sadikin. Fratiglioni. 2005. Balai Penerbit FKUI. CF. 9212. and dementia incidence among elderly women. Curr Psychiatry Rev. 29: 1-9. 2002. Mendes de Leon. Int J Geriatr Psychiatry.. Seeman TE. K. no.57(3):245–54. Helmer C. Winblad B.34(4): 864–71. Chuang YL. Hughes TF. 5. Boedhi-Darmojo R. Rebok G. 2010. 3. Am J Epidemiol. vol. Cell. DA. Pientka L. Black JE. 406–12. Washington DC. American Psychiatric Association. vol. Dalam: Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Edisi 4 Eds. 2005. SE & Williams RS 2006. ‘Social resources and cognitive decline in a population of older african americans and whites’. 231–9. Curr Opin Neurobiol. DA 2004. pp. Kempermann.98(7):1221–7. Crooks VC. Environmental enrichment mitigates cognitive deficits in a mouse model of Alzheimer’s disease. 2003. Can J Psychiatry. 59(6): 278–84. A. pp. 2004.25(21):5217–24. 43. Psychol. RS. Fadale DJ et al. 2006. Ganguli M.H. Medika Jurnal Kedokteran Indonesia. Assosiasi Alzheimer Indonesia. pp. Lancet Neurol. M & Winblad B 2000. 28. no. Barnes. 2010. Y. 36. J Int Neuropsychol Soc. 4.60:173–96. Late-life social activity and cognitive decline in old-age. Social relationships. Melnikova T. pp. no.. The adaptive brain: Aging and neurocognitive scaffolding. 2005. Saczynski. 45. C. Neurology. FH 1997. 37. Petitti DB. Bagian/UPF Ilmu Penyakit Saraf. Int J.HASIL PENELITIAN 16. social support. 2009. J Gerontol B Psychol Sci Soc Sci. 5. populatio-based study of the elderly. 29. Habeck. ‘A 3-year follow-up study of social. The effect of social engagement on incident dementia.Social network. 178 CDK-214/ vol. 41 no. Berkman L. Creb Cortex vol. Antonucci TC. Arnold. Wang HX. Holtzman RE. Greenough WT . Handayani YS. Rebok GW. Bennet. th. Barnes LL. Modifiable midlife risk factors for late-life cognitive impairment and dementia. American Psychiatric Association. vol 63.

41 no. 1. selain itu KOG = 0 KOG Aktivitas sosial: Nilai gabungan 3 indikator – TIB. 9. berapa banyak yang berSMS/email /surat sedikitnya sekali setahun? _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ _____ Famili/keluarga lain: 5. KEL. 13. Kunjungan ke tempat ibadah (TIB). kelompok sosial. Partisipasi teratur pada aktivitas sosial rekreasional Berikut ini daftar kegiatan saat santai/waktu luang. restoran atau menonton pertandingan olahraga _____ Baca buku. 15. IV. Berapa banyak anak anda yang berSMS/ email /surat setiap minggu? 4ab. MAS ASOS Jaringan sosial: Nilai gabungan 3 indikator – PH. 12. berapa banyak yang berbicara pertelpon sedikitnya sekali sebulan? 4c. TIB. catur. buruk jika nilainya 1 . koran _____ Nonton siaran televisi berita _____ Nonton siaran televisi hiburan / videofilm _____ Melancong. selain itu beri angka 0. berapa banyak yang bertemu anda sedikitnya sekali setahun? 4a. II. halma.: pasangan hidup (PH) Apakah anda pernah menikah? 1 = ya 2=tidak (lewati pertanyaan 2). perjalanan bermalam/menginap _____ Kerja sukarela/amal _____ Kerja masyarakat yang dibayar _____ Main kartu. 1. Pada umumnya. Selain yang sudah disebut di atas. Jika jawaban 7 + 8 + 12 + 13 + 14 ≥ 5 (jika rata-rata ≥ 1) kode MAS diberi angka 1. sudoku teratur _____ Lampiran 1 Indeks Social Disengagement Nama responden: I. Keanggotaan di kelompok lain (KEL) Apakah anda bergabung di suatu kelompok seperti arisan. Selain yang sudah disebut di atas. Berapa seringnya anda mengunjungi tempat ibadah? 1 = ≥ 1 kali/minggu 0 = < 1 kali/ minggu CDK-214/ vol. kelompok pengajian. NONVIS JSOS Nilai gabungan (GAB) berasal dari gabungan 6 indikator – PH. Berapa banyak sanak/keluarga tersebut yang berhubungan per SMS/email/ surat sedikitnya sekali setahun? _____ Teman dekat/sahabat: 8. 2: jika rata-rata ≥ 1 kali/mgg) Olahraga aktif atau berenang _____ Jalan kaki _____ Berkebun _____ Olahraga/ latihan fisik _____ Masak sendiri _____ Mengerjakan hobi _____ Keluar rumah dan berbelanja _____ Ke bioskop. tekateki silang.Reg. selain itu beri angka 0. 5. MAS Beri nilai 4 = 5-6 kelompok bernilai 1 3 = 3-4 kelompok 2 = 1-2 kelompok 1 = 0 kelompok Jika > 2 indikator tak ada nilainya. Berapa banyak teman dekat anda tersebut yang berhubungan per telepon sedikitnya sekali setahun? 10b. 9. Berapa banyak sanak/keluarga tersebut yang berhubungan per telepon sedikitnya sekali setahun? _____ 7b. selain itu MAS = 0 Partisipasi pada kegiatan fisik: Jika jawaban 1+ 2 + 3 + 4 ≥ 4 (jika rata-rata ≥ 1) kode FIS diberi angka 1. 1. konser. Social engagement dinilai dari nilai GAB: baik jika nilainya 3 . 14. KEL. Jika jawaban 4a + 4b + 4c + 4aa + 4ab + 4ac + 7a + 7b + 10a + 10b ≥ 10 kode NVIS diberi angka 1. selain itu FIS = 0 _____ _____ _____ VIS NVIS FIS Aktivitas kognitif: Jika jawaban 5+ 6 + 9 + 10 + 11 + 15 ≥ 6 (jika rata-rata ≥ 1) kode KOG diberi angka 1. 2.4.1 berpisah -2 cerai hidup -3 cerai mati -4 Jika jawaban no. 6. 11.4 dijawab =0 2. 3. sukarela? 1 = ya 0 = tidak KEL VI. berapa banyak teman dekat anda? (merasa dekat ialah jika bisa diajak bicara mengenai masalah pribadi atau mau dimintai tolong sewaktu-waktu). NONVIS. berapa sering anda melakukan kegiatan berikut: (nilai 0 jika tidak pernah. 2014 1. 10. lingkungan. 3. Berapa banyak teman dekat anda tersebut yang anda jumpai sedikitnya sekali sebulan? 10a. VIS. _____ 6.2 _____ MAS GAB _____ Aktivitas fisik dinilai dari nilai FIS Aktivitas kognitif dinilai dari nilai KOG Lampiran 2 MINI MENTAL STATE EXAMINATION (MMSE) Nomor responden: Nama responden: Nama pewawancara: Umur/tg lahir responden: Tgl wawancara: Pendidikan responden: Jam mulai: Skor Skor Maks Responden TIB 179 .1 = 1 dan no. dalam 1 tahun terakhir.2 = 1 kode PH diberi angka 1 . selain itu kode PH diberi angka 0 _____ _____ PH Kontak visual / bulan dengan 3 atau lebih keluarga dan/atau sahabat (VIS) Kontak nonvisual/tahun dengan 10 atau lebih keluarga dan/atau sahabat (NVIS) Anak: 1. tidak ada nilai gabungan. 8. Berapa anak anda (termasuk anak angkat) jika tidak ada pertanyaan 2 sd.HASIL PENELITIAN LAMPIRAN V. Berapa banyak anak anda yang bertemu anda sedikitnya sekali seminggu? 3b. Berapa banyak sanak/keluarga tersebut yang anda jumpai sedikitnya sekali sebulan? _____ 7a. th. berapa banyak yang berbicara pertelpon sedikitnya sekali setahun? 4aa. 1 jika rata-rata < 1 kali/mgg. berapa banyak yang berSMS/email/surat sedikitnya sekali sebulan? 4ac. VIS. Pada umumnya. Selain yang sudah disebut di atas. Selain yang sudah disebut di atas. berapa banyak sanak/keluarga yang anda rasa dekat? (merasa dekat ialah jika bisa diajak bicara mengenai masalah pribadi atau mau dimintai tolong sewaktu-waktu). berapa banyak yang bertemu anda sedikitnya sekali sebulan? 3c. 2. No. Selain yang sudah disebut di atas. 7. Berapa banyak teman dekat anda tersebut yang berhubungan per SMS/ email/surat sedikitnya sekali/tahun? Jika jawaban 3a + 3b + 3c + 6 + 9 ≥ 3 kode VIS diberi angka 1. selain anak-anak anda. Berapa banyak yang saat ini masih hidup Dalam 1 tahun terakhir: 3a. III. 1. 4. Apakah saat ini anda: menikah . majalah. Selain yang sudah disebut di atas. Berapa banyak anak anda yang berbicara pertelpon setiap minggu? 4b.

Hitunglah jumlah percobaan dan catatlah Jumlah percobaan .(1 angka) e. 11. 3. misalnya: pensil dan arloji) ------------. • lipatlah kertas itu pada pertengahan dan • letakkanlah di lantai. Kemudian mintalah responden menyebutkan nama hari secara berurutan dari belakang (Minggu.. 1 detik untuk satu benda.HASIL PENELITIAN 5 ( 5 ( 3 ( 5 ( Orientasi ) Sekarang (hari). 8. ----------------. Apa nama benda–benda ini? (perlihatkan 2 benda.. Rabu.(3 angka) d.. Yang dinilai ialah sebutan berurutan dari belakang. Sabtu. Jum’at. (kelurahan).. Rabu.. reaksi responden dalam merespon pertanyaan atau instruksi) 180 CDK-214/ vol.. (tanggal). Sabtu.. Ulang kalimat berikut: ”Jika tidak.. 5) Pilihan lain. Bahasa ) a. Senin).(1 angka) c.. Tirulah gambar ini --------------------------------------------. (kotamadya). Minggu). Berikan skor 1 angka untuk tiap jawaban yang benar. 41 no. Baca & laksanakanlah perintah berikut: ”PEJAMKAN MATA ANDA” ----------. 2014 . 3 ( Mengingat ) Tanya kembali nama ke 3 benda yang telah disebutkan di atas Berilah 1 angka untuk tiap jawaban yang benar Skor Total ( ) Tingkat kesadaran responden: Sadar Mengantuk Waktu selesai: Tempat wawancara: Kolom pengamatan: Catat kondisi selama wawancara (kondisi responden.. Selasa. ejalah kata “ dunia” secara terbalik /dari akhir ke awal (a-i-n-u-d) Untuk Responden buta huruf: Mintalah responden menyebutkan nama hari dalam seminggu secara berurutan mulai dari hari pertama (Senin.(1 angka) Atensi dan Kalkulasi ) Kurangi 3 berturut-turut mulai dari 20 ke bawah. Kamis. 17. Laksanakan 3 buah perintah ini: • peganglah selembar kertas dengan tangan kananmu. Jum’at. Kemudian mintalah responden mengulang tiga nama benda tersebut. Berilah 1 angka untuk tiap jawaban yang benar. Tulislah sebuah kalimat di antara dua garis berikut ---------. Bila masih salah.. (bulan).(1 angka) ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ f..(2 angka) b. (tahun) berapa dan (musim) apa? 9 ( ) Sekarang kita berada di mana? (jalan/nama panti).. (propinsi) Registrasi ) Pewawancara menyebutkan nama 3 buah benda (Rumah – Anak – Nasi).. Berhenti setelah 5 hitungan (20. (kecamatan). th. dan atau tetapi” ------------. Kamis... ulang penyebutan ke 3 nama benda tersebut sampai ia dapat mengulanginya dengan benar. Selasa. 14.