You are on page 1of 37

BAB I

DIFUSI & DISOLUSI
1.1 DIFUSI
1.1.1

Definisi Difusi
Difusi merupakan peristiwa mengalirnya atau berpindahnya suatu
zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang
berkonsentrasi rendah, sedangkan osmosis adalah perpindahan air
melalui membran permeabel selektif dari bagian yang lebih encer ke
bagian yang lebih pekat. Contoh peristiwa difusi yang sederhana adalah
pemberian gula pada cairan teh tawar dan contoh peristiwa osmosis
adalah kentang yang dimasukkan ke dalam air garam.
Kecepatan difusi ditentukan oleh : Jumlah zat yang tersedia,
kecepatan gerak kinetik dan jumlah celah pada membran sel. Difusi
sederhana ini dapat terjadi melalui dua cara:
a. Melalui celah pada lapisan lipid ganda, khususnya jika bahan
berdifusi terlarut lipid
b. Melalui saluran licin pada beberapa protein transpor.
Difusi obat berbanding lurus dengan konsentrasi obat, koefisien
difusi, viskositas dan ketebalan membran. Di samping itu difusi pasif
dipengaruhi oleh koefisien partisi, yaitu semakin besar koefisien partisi
maka semakin cepat difusi obat.
Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses transmembran bagi umumnya obat. Tenaga pendorong untuk difusi pasif ini
adalah perbedaan konsentrasi obat pada kedua sisi membran sel.
Menurut hukum difusi Fick, molekul obat berdifusi dari daerah dengan
konsentrasi obat tinggi ke daerah konsentrasi obat rendah.

Dq/Dt

= Laju difusi

1

D

= Koefisien difusi

K

= Koefisien partisi

A

= Luas permukaan membran

h

= Tebal membran

Cs-C

= Perbedaan antara konsentrasi obat dalam pembawa
dan medium

1.1.2

Mekanisme Difusi
Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul
zat atau gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi
melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu
difusi sederhana (simple difusion), difusi melalui saluran yang
terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel
formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion).
Difusi sederhana melalui membran berlangsung karena molekulmolekul yang berpindah atau bergerak melalui membran bersifat larut
dalam lemak (lipid) sehingga dapat menembus lipid bilayer pada
membran secara langsung. Membran sel permeabel terhadap molekul
larut lemak seperti hormon steroid, vitamin A, D, E, dan K serta bahanbahan organik yang larut dalam lemak, Selain itu, memmbran sel juga
sangat permeabel terhadap molekul anorganik seperti O,CO2, HO, dan
H2O.
Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut dalam serta ion-ion
tertentu, dapat menembus membran melalui saluran atau chanel.
Saluran ini terbentuk dari protein transmembran, semacam pori dengan
diameter tertentu yang memungkinkan molekul dengan diameter lebih
kecil dari diameter pori tersebut dapat melaluinya. Sementara itu,
molekul – molekul berukuran besar seperti asam amino, glukosa, dan
beberapa garam – garam mineral, tidak dapat menembus membrane
secara langsung, tetapi memerlukan protein pembawa atau transporter
untuk dapat menembus membran. Proses masuknya molekul besar
yang melibatkan transporter dinamakan difusi difasilitasi.

2

1.1.3

Faktor yang Mempengaruhi Difusi
Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Suhu; makin tinggi difusi makin cepat
b. BM makin besar difusi makin lambat
c. Kelarutan dalam medium; makin besar difusi makin cepat
d. Perbedaan konsentrasi; makin besar perbedaan konsentrasi antara
dua bagian, makin besar proses difusi yang terjadi.
e. Jarak tempat berlangsungnya difusi; makin dekat jarak tempat
terjadinya difusi, makin cepat proses difusi yang terjadi.
f. Area tempat berlangsungnya difusi; makin luas area difusi, makin
cepat proses difusi.

1.2 DISOLUSI
1.2.1

Definisi Disolusi
Disolusi merupakan proses dimana suatu zat padat masuk ke
dalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Laju pelarutan obat dalam
cairan saluran cerna merupakan salah satu tahapan penentu (rate
limiting step) absorpsi sistemik obat. Laju pelarutan obat di dalam
saluran cerna dipengaruhi oleh kelarutan obat itu sendiri. Peningkatan
laju disolusi obat merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan
untuk memperbaiki permasalahan bioavaibilitas
Efektifitas dari suatu tablet dalam melepas obat untuk proses
absorbsi bergantung pada laju disintegerasi, disagregasi dari granulgranul, tetapi yang terpenting yaitu proses laju disolusi dari obat padat
tersebut. Kecepatan disolusi suatu ukuran partikel yang menyatakan
banyaknya suatu zat terlarut dalam pelarut setiap satuan waktu. Disolusi
merupakan tahapan yang membatasi atau tahapan yang mengontrol laju
absopsi obat-pbat yang mempunyai kelarutan rendah, karena tahapan
ini seringkali merupakan tahapan yang paling lambat dari berbagai
tahapan yang ada dalam penglepasan obat dari bentuk sediaannya dan
perjalanannya ke dalam sirkulasi sistemik.

3

Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atau senyawa obat dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu. diasumsikan bahwa selama proses disolusi berlangsung pada permukaan padatan terbentuk suatu lapisan difusi air atau lapisan tipis cairan yang stagnan dengan ketebalan h. Jadi disolusi menggambarkan kecepatan obat larut dalam media disolusi. Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarut dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu. maka harga (Cs-C) dianggap sama dengan Cs. Bila konsentrasi zat terlarut di dalam larutan (C) jauh lebih kecil daripada kelarutan zat tersebut (Cs) sehingga dapat diabaikan. Uji disolusi berguna untuk mengertahui seberapa banyak obat yang melarut dalam medium asam atau basa (lambung dan usus halus) Laju disolusi suatu obat adalah kecepatan perubahan dari bentuk padat menjadi terlarut dalam medianya setiap waktu tertentu.dt-1 : kecepatan disolusi D : koefisien difusi S : luas permukaan zat Cs : kelarutan zat padat C : konsentrasi zat dalam larutan pada waktu H : tebal lapisan difusi Dalam teori disolusi atau perpindahan massa. persamaan kecepatan disolusi dapat disederhanakan menjadi dM DSCs  dt h 4 . Jadi. Suatu hubungan yang umum menggambarkan proses disolusi zat padat telah dikembangkan oleh Noyes dan Whitney dalam bentuk persamaan berikut : dM DS  Cs  C   dt h dM.

Viskositas Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi suatu zat sesuai dengan persamaan Einstein. Untuk asam lemah :  dc Ka   K . koefisien difusi dapat dinyatakan melalui persamaan berikut : kT 6 r D= D : koefisien difusi r : jari-jari molekul k : konstanta Boltzman ή : viskosita pelarut T : suhu 2. Menurut Einstein. Dengan demikian. Suhu Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat yang bersifat endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi zat.2. Meningginya suhu juga menurunkan viskositas dan memperbesar kecepatan disolusi.C. pH Pelarut pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang bersifat asam atau basa lemah.1. 3.Cs  1    dt H     Jika (H+) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat. Untuk basa lemah 5 . kecepatan disolusi zat juga meningkat.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Disolusi Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi disolusi yaitu : 1.

 dc H    K . maka tebal lapisan difusi akan cepat berkurang. tegangan permukaan antar partikel zat dengan pelarut akan menurun sehingga zat mudah terbasahi dan kecepatan disolusinya bertambah. Pengadukan Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h). 7. 4. 6. 1.C. Luas permukaan efektif dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel. Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut.2. Polimorfisme Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme. Laju disolusi akan diperbesar 6 .3 Faktor yang Mempengaruhi Laju Disolusi Obat secara in vitro Berikut dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruh laju obat secara in vitro yaitu : 1. jika pengadukan berlangsung cepat. Kristal meta stabil umumnya lebih mudah larut daripada bentuk stabilnya. Struktur internal zat yang berlainan dapat memberikan tingkat kelarutan yang berbeda juga. Sifat Permukaan Zat Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat bersifat hidrofob. kecepatan disolusi juga meningkat.Cs  1   Ka  dt  Jika (H+) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat. 5. Sifat fisika kimia obat Sifat fisika kimia obat berpengaruh besar terhadap kinetika disolusi. sehingga kecepatan disolusinya besar. Dengan demikian. Ukuran Partikel Jika partikel zat berukuran kecil maka luas permukaan efektif menjadi besar sehingga kecepatan disolusi meningkat.

Hal ini menyebabkan jumlah obat terdisolusi menjadi lebih sedikit dan berpengaruh pula terhadap jumlah obat yang diabsorpsi. kaku dan secara termodinamik lebih stabil daripada bentuk amorf. Faktor formulasi. 7 . serta pengambilan sampel juga dapat mempengaruhi kecepatan pelarutan obat.karena kelarutan terjadi pada permukaan solut. dapat menaikkan tegangan antar muka obat dengan medium disolusi. Adanya perbedaan alat yang digunakan dalam uji disolusi akan menyebabkan perbedaan kecepatan pelarutan obat. semakin cepat pengadukan maka gerakan medium akan semakin cepat sehingga dapat menaikkan kecepatan pelarutan. ataupun bereaksi secara langsung dengan bahan obat. viskositas dan komposisi dari medium. Obat berbentuk garam. Penggunaan bahan tambahan yang bersifat hidrofob seperti magnesium stearat. 2. Beberapa bahan tambahan lain dapat membentuk kompleks dengan bahan obat. Berbagai macam bahan tambahan yang digunakan pada sediaan obat dapat mempengaruhi kinetika pelarutan obat dengan mempengaruhi tegangan muka antara medium tempat obat melarut dengan bahan obat. misalnya kalsium karbonat dan kalsium sulfat yang membentuk kompleks tidak larut dengan tetrasiklin. Kelarutan obat dalam air juga mempengaruhi laju disolusi. Obat bentuk kristal secara umum lebih keras. pada umumnya lebih mudah larut dari pada obat berbentuk asam maupun basa bebas. kondisi ini menyebabkan obat bentuk amorf lebih mudah terdisolusi daripada bentuk kristal. Selain itu temperatur. Obat dapat membentuk suatu polimorfi yaitu terdapatnya beberapa kinetika pelarutan yang berbeda meskipun memiliki struktur kimia yang identik. 3. Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi kecepatan pelarutan obat. Faktor alat dan kondisi lingkungan.

1 Alat disolusi 8 . Metode Permukaan Konstan Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya sehingga variable perbedaan luas permukaan efektif dapat diabaikan.1.2. kemudian ditentukan seperti pada metode suspensi. Metode Suspensi Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa pengontrolan eksak terhadap luas permukaan partikelnya.4 Metode Penentuan Kecepatan Disolusi 1. Umumnya zat diubah menjadi tablet terlebih dahulu. Penentuan dengan metode suspensi dapat dilakukan dengan menggunakan alat uji disolusi tipe dayung seperti yang tercantum pada USP. Sampel diambil pada waktu-waktu tertentu dan jumlah zat yang larut ditentukan dengan cara yang sesuai. Sedangkan untuk metode permukaan tetap. 2. dapat digunakan alat seperti diusulkan oleh Simonelli dkk sebagai berikut. Gambar 1.

penentuan kecepatan disolusi suatu zat perlu dilakukan karena kecepatan disolusi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi absorbsi obat di dalam tubuh. antara lain: 1. deagregasi dan disolusi. Tahap Produksi Pada tahap ini kecepatan disolusi dilakukan untuk mengendalikan kualitas sediaan obat yang diproduksi. Tahap Pra Formulasi Pada tahap ini penentuan kecepatan disolusi dilakukan terhadap bahan baku obat dengan tujuan untuk memilih sumber bahan baku dan memperoleh informasi tentang bahan baku tersebut.5 Teori Disolusi Di dalam pembahasan untuk memahami mekanisme disolusi. Penentuan kecepatan disolusi suatu zat aktif dapat dilakukan pada beberapa tahap pembuatan suatu sediaan obat. Kecepatan obat mencapai sistem sirkulasi dalam proses disintegrasi. Tahap Formulasi Pada tahap ini penentuan kecepatan disolusi dilakukan untuk memilih formula sediaan yang terbaik. ditentukan oleh tahap yang paling lambat dari rangkaian di atas yang disebut dengan rate limiting step. Tahapan tersebut meliputi disintegrasi. 1. disolusi dan absorpsi.Dalam bidang farmasi. Obat dalam bentuk sediaan padat mengalami berbagai tahap pelepasan dari bentuk sediaan sebelum diabsorpsi. 2.2. kadang-kadang digunakan salah satu model atau gabungan dari beberapa model antara lain adalah :  Model Lapisan Difusi (Diffusion Layer Model) 9 . Kadar obat dalam darah pada sediaan peroral dipengaruhi oleh proses absorpsi dan kadar obat dalam darah ini menentukan efek sistemiknya. 3.

dan hal ini harus dijadikan pegangan dalam membahas model ini. pencampuran secara cepat akan terjadi dan gradien konsentrasi akan hilang. paket mampu mengabsorpsi solut menurut hukum difusi biasa. Reaksi pada permukaan padat – cair berlangsung cepat.  Model Barrier Antar Muka (Interfacial Barrier Model) Model ini menggambarkan reaksi yang terjadi pada permukaan padat dan dalam hal ini terjadi difusi sepanjang lapisan tipis cairan. Pada permukaan padat terdapat satu lapisan tipis cairan dengan ketebalan ℓ. dan kemudian digantikan oleh paket pelarut segar.Model ini pertama kali diusulkan oleh Nerst dan Brunner. Begitu model solut melewati antar muka liquid film – bulk film. Karena itu kecepatan disolusi ditentukan oleh difusi gerakan Brown dari molekul dalam liquid film. Paket pelarut terlihat pada permukaan padatan. proses pembaharuan permukaan tersebut terkait dengan kecepatan transpor solut ataudengan kata lain disolusi. Selama berada pada antar muka.  Model Dankwert (Dankwert Model) Model ini beranggapan bahwa transpor solut menjauhi permukaan padat terjadi melalui cara paket makroskopik pelarut mencapai antar muka – cair karena terjadi pusaran difusi secara acak. Proses pada antar muka padat – cair sekarang menjadi pembatas kecepatan ditinjau dari proses transpor. Transpor yang relatif cepat terjadi secara difusi melewati lapisan tipis statis (stagnant). merupakan komponen kecepatan negatif dengan arah yang berlawanan dengan permukaan padat. Jika dianggap reaksi pada permukaan padat terjadi segera. Sebagai hasilnya. tidak dianggap adanya kesetimbangan padatan – larutan. 10 .

Hal tersebut terjadi karena pada permukaan ada yg dinamakan. suspensi Padatan/padatan Antarmuka padatan-padatan.Beberapa jenis antar muka dapat terjadi bergantung pada apakah kedua fase yang berdekatan adalah dalam keadaan padat. partikel serbuk yang saling melekat Untuk mudahnya bisa bagi ke dalam dua kelompok yakni antar muka cairan dan antar muka padatan. emulsi Cairan/padatan Antarmuka cairan-padatan.BAB II FENOMENA ANTARMUKA 2. Walaupun antar fase padat/padat mempunyai makna praktis dalam farmasi (sebagai contoh adhesi antar granul. Dalam kelompok pertama membicarakan tentang penggabungan dari suatu fase cair dengan suatu fase gas atau dengan fase cair lain. bagian atas meja Cairan/cairan Antarmuka cairan-cairan. Sifat dari molekul-molekul yang membentuk antar muka tersebut sering cukup berbeda dari sifat ‘fase antar muka”. gaya 11 . FASE TIPE DAN CONTOH ANTARMUKA Gas/gas Tidak ada kemungkinan ada antarmuka Gas/cairan Permukaan cairan. Sehinga sistem padat-padat tidak dibicarakan. Bagian antar muka padat membicarakan sistem antar muka padat/gas dan antarmuka padat/cair. Tegangan permukaan cairan adalah gaya persatuan panjang yang harus dikerjakan sejajar permukaan untuk mengimbangi gaya tarikan kedalam pada cairan. pembutan tablet berlapis) hanya sedikit informasi yang tersedia untuk mengukur besarnya interaksi ini.1 DEFINISI FENOMENA ANTARMUKA Bila fase-fase berada bersama-sama. batas antara keduanya disebut suatu antar muka. air yang berada di atmosfir Gas/padatan Permukaan padat. cair atau gas.

Pada dasarnya tegangan permukaan suatu zat cair dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya suhu dan zat terlarut. pembentukan dan kestabilan emulsi dan dispersi (penyebar-rataan) dari partikel yang tidak larut dalam media cair untuk membentuk suspensi.adhesi (antara cairan dan udara) lebih kecil dari pada gaya khohesi (antara molekul cairan) sehingga menyebabkan terjadinya gaya kedalam pada permukaan cairan. Tegangan antar muka adalah gaya persatuan panjang yang terdapat pada antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur. Kerja kohesi adalah energi yang dibutuhkan untuk mematahkan gaya tarik-menarik oleh molekul yang sejenis. 12 . Dimana keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi besarnya tegangan permukaan terutama molekul zat yang berada pada permukaan cairan berbentuk lapisan monomolecular yang disebut dengan molekul surfaktan. Fenomena antarmuka dalam farmasi dan kedokteran adalah faktor-faktor yang berarti yang mempengaruhi :     adsorpsi obat pada bahan pembantu padat dalam bentuk sediaan.2 MANFAAT FENOMENA ANTARMUKA Dalam mempengaruhi penyerapan obat pada bahan pembantu padat pada sediaan obat penetrasi molekul melalui membrane biologis pembentukan dan kestabilan emulsi dan dispersi partikel tidak larut dalam media cair. Istilah pemukaan biasanya dipakai bila membicarakan suatu antar muka gas/padat atau gas/cair dan setiap permukaan adalah suatu antarmuka. 2. penetrasi molekul melalui membran biologis. Kerja adhesi adalah energi yang dibutuhkan untuk mematahkan gaya tarik-menarik oleh molekul yang tidak sejenis. Ia akan menyebar sebagai suatu film (lapisan tipis) maka disana akan ada kerja adhesi dan kerja kohesi. Bila suatu zat seperti minyak ditaruh pada permukaan air. Tegangan antar muka selalu lebih kecil dari pada tegangan permukaan karena gaya adhesi antara dua cairan tidak bercampur lebih besar dari pada adhesi antara cairan dan udara.

Surfaktan adalah bahan aktif permukaan. tekstil. permintaan surfaktan sebesar 11. dan plastik. farmasi. minyak-air dan zat padat-air. Aktifitas surfaktan diperoleh karena sifat ganda dari molekulnya. 2. Molekul surfaktan memiliki bagian polar yang suka akan air (hidrofilik) dan bagian non polar yang suka akan minyak/lemak (lipofilik). antara fasa minyak dan fasa air. sementara bagian yang polar (hidrofilik) mengandung gugushidroksil.2. Surfaktan dipergunakan baik berbentuk emulsi minyak dalam air (O/W) maupun berbentuk emulsi air dalam minyak (W/O). makanan.82 juta ton per-tahun dan pertumbuhan permintaan surfaktan rata-rata 3 persen per-tahun Penggunaan surfaktan sangat bervariasi. Penggunaan surfaktan terbagi atas tiga golongan. Bagian polar molekul surfaktan dapat bermuatan positif. dalam kontak dengan zat padat ataupun terendam dalam fase minyak. membentuk lapisan tunggal dimana gugus hidrofilik berada pada fase air dan rantai hidrokarbon ke udara. Sifat rangkap ini yang menyebabkan surfaktan dapat diadsorbsi pada antar muka udara-air. kosmetik.3 SURFAKTAN Surfaktan merupakan suatu molekul yang sekaligus memiliki gugus hidrofilik dan gugus lipofilik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak. seperti : bahan deterjen. Umumnya bagian non polar (lipofilik) adalah merupakan rantai alkil yang panjang.  bahan pengemulsi (emulsifying agent)  bahan pelarut (solubilizing agent) Penggunaan surfaktan ini bertujuan untuk meningkatkan kestabilan emulsi dengan cara menurunkan tegangan antarmuka. negatif atau netral.3.1 PENGGUNAAN DAN PENGGOLONGAN SURFAKTAN Permintaas surfaktan di dunia internasional cukup besar. Pada Tahun 2004. yaitu :  sebagai bahan pembasah (wetting agent). 13 .

glukamina. Surfaktan dari turunan minyak bumi dan gas alam ini dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan.  Klasifikasi surfaktan dibedakan berdasarkan asalnya a) Surfaktan Buatan yaitu surfaktan yang perolehannya secara sintetis (dibuat oleh manusia dengan bantuan ilmu pengetahuan). alkil sulfonat (AS).2. minyak bumi yang digunakan merupakan sumber bahan baku yang tidak dapat diperbaharui 14 . garam sulfonat asam lemak rantai panjang. mono alkanol amina. d) Surfaktan amfoter yaitu surfaktan yang bagian alkilnya mempunyai muatan positif dan negatif. Contohnya surfaktan yang mengandung asam amino. ester sorbitan asam lemak.3. polietilena alkil amina. c) Surfaktan nonionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya tidak bermuatan. alkil etoksilat (AE) dan alkil etoksilat sulfat (AES).2 KLASIFIKASI SURFAKTAN  Klasifikasi surfaktan dibedakan berdasarkan muatannya a) Surfaktan anionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu anion. seperti linier alkilbensen sulfonat (LAS). fosfobetain. betain. ester sukrosa asam lemak. garam olefin sulfonat. Contohnya ester gliserin asam lemak. Contohnya garam alkil trimethil ammonium. b) Surfaktan kationik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu kation. alkil poliglukosida. Contohnya adalah garam alkana sulfonat. karena surfaktan ini setelah digunakan akan menjadi limbah yang sukar terdegradasi. Disamping itu. garam dialkil-dimethil ammonium dan garam alkil dimethil benzil ammonium. Surfaktan pada umumnya disintesis dari turunan minyak bumi dan gas. dialkanol amina dan alkil amina oksida.

Asam Lemak.1 Macam Suspensi Menurut farmakope Indonesia Edisi IV suspensi digolongkan menjadi empat macam yaitu sebagai berikut: a) Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditunjukan untuk pengunaan oral. akan tetapi biosurfaktan lebih rendah tingkat toksisitasnya.  Suspensi adalah preparat yang mengandung partikel obat yang terbagi halus disebarkan secara merata dan pembawa dimana obat menunjukan kelarutan yang sangat minimum Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa suspensi adalah sediaan cair yang mengandung bahan obat padat yang tidak larut tetapi dapat terdispersi secara sempurna dalam pembawanya. sifat aktif permukaan yang dimilikinya berbeda dengan surfaktan yang disintesis secara kimia. pH dan kadar garam yang berlebihan. 2.  Suspensi adalah sediaaan cair yang mengandung partikel-partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. 15 . mudah terurai secara biologi.b) Surfaktan Alami yaitu surfaktan yang perolehannya berasal dari alam (dihasilkan secara alamiah) dengan cara biateknologi dengan istilah biosulfaktan sifat yang mirip seperti surfaktan sintetik. Di samping itu.4 SUSPENSI Ada beberapa sumber yang mendefinisikan tentang suspensi yaitu:  Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut terdispersi dalam cairan pembawa. dan lebih mudah disintesis. dan HLB 2. lebih efektif pada suhu.4. Contoh surfaktan alami adalah Surfaktan Alkanolamida.

d) Pengendapan yang terjadi pada saat penyimpanan harus mudah didispersikan kembali pada pengocokan 2. dan zat terdispersi tidak boleh menggumpal pada penyimpanan.b) Suspensi tropical adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditunjukan untuk penggunaan pada kulit. mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air. dapat menutupi rasa tidak enak atau pahit dari obat. b) Suspensi harus tetap homogen pada suatu periode. 2.4. c) Viskositas tidak boleh terlalu kental. sehingga memberikan penampilan hasil yang baik dan tidak kasar.2 Sifat Suspensi yang Baik Beberapa sifat fisik suspensi yang baik adalah sebagai berikut: a) Partikel suspensi harus kecil dan seragam. jika di simpan dalam wadah dosis ganda harus mengandung bakterisida. Suspensi ophtalmik harus steril. sehingga tidak menyulitkan pada saat penuangan dari wadah dan untuk mengurangi kecepatan pengendapan partikel yang terdispersi. c) Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel yang sangat halus yang ditunjukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar. yaitu baik digunakan untuk pasien yang sukar menelan tablet atau kapsul. terutama pada anak-anak.3 Keuntungan Sediaan Suspensi Pembuatan suspensi mempunyai beberapa keuntungan. d) Suspensi opthalmik adalah sediaan cair mengandung partikel yang sangat halus. paling tidak pada periode antara pengocokan dan penuangan sesuai dosis yang dikehendaki. 16 . terdispersi dalam cairan pembawa ditunjukan untuk pemakaian pada mata. zat yang terdispersi harus sangat halus. mempunyai homogenitas tinggi.4.

4 Sistem Suspensi Dalam sistem suspensi terdapat dua macam system suspensi. alkaloid. 2. Partikel-partikel ini membentuk cake atau sedimen yang sukar terdispersi kembali. Berdasarkan sifatnya.2.al. sedangkan daerah tempat terjadinya penyerapan disebut adsorben (adsorbent/substrate).. a) Sistem flokulasi biasanya mencegah paling tidak pemisahan yang serius tergantung kadar partikel padatnya dan derajat flokulasinya.1 Adsorpsi Obat Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan/ pengayaan (enrichment) suatu komponen didaerah antar fasa. Pada peristiwa adsorpsi. dan bahkan asam dan basa anorganik mungkin diadsorpsi dari larutan ke zat padat 17 . partikel-partikel terdispersi baik dan mengendap sendiri. asam lemak.5 a) b) c) d) e) f) Aspek Pembuatan Suspensi Stress condition Volume sedimentasi Derajat flokulasi Kontrol ukuran partikel Redispersibilitas Pertimbangan Rheologi  Viskositas : pengaturan viskositas guna mendapatkan sifat aliran yang baik  Tipe alir G) Mudah tidaknya suspensi dituang 2. Sedangakan pada suatu saat system flokulasi kelihatan kasar sebab terjadi flokul. et. yaitu system flokulasi dan system deflokulasi. b) System deflokulasi. tapi lebih lambat daripada system flokulasi.5 FENOMENA ANTAR MUKA DI DALAM BIDANG FARMASI 2.4. Komponen yang terserap disebut adsorbat (adsorbate).tetapi tidak masuk ke dalam fasa ruah. komponen akan berada di daerah antar muka. 2010) Obat-obat seperti zat warna.5.4. adsorpsi dapat digolongkan menjadiadsorpsi fisik dan kimia (Alimin.

pemilihan emulgator merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Dan sebagai pembawa dari suspensi yaitu berupa air dan minyak. 2008). Secara fisik terlihat seolah-olah salah satu fasa berada di sebelah dalam fasa yang lainnya. pembasahanakan dipermudah (Yuliana. 18 . dicampurkan. dan suspensi yang dilarutkan terlebih dahulu ke dalam cairan pembawanya. 2. et al.adsorpsi dari molekul zat terlarut dari larutan diperlakukan dalam suatu cara yang analog dengan adsorpsi molekul pada antarmuka padat/gas (Alimin.seperti arang (karbon) dan alumina. yaitu suspensi siap pakai atau suspense cair yang langsung bisa diminum. 2009). suspensi bentuk ini digunakan untuk zat aktif yang kestabilannya dalam air kurang baik. Dalam pembuatan suatu emulsi.al.5. maka keduanya akan membentuk sistem dispersi yang disebut emulsi.. Contoh faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi yaitu tegangan antarmuka rendah dan kekuatan mekanik dan elastisitas lapisan antarmuka (Barnabas. Bila proses pengocokkan dihentikan.. Mekanisme kerjanya adalah menurunkan tegangan antarmuka permukaan air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fasa terdispersinya (Partang. 2012). yang secara umum dapat diartikan sebagai suatu siatem dispersi kasar yang terdiri atas bahan padat tidak larut tetapi terdispersi merata ke dalam pembawanya. sehingga kondisi emulsi yang sesungguhnya muncul dan teramati pada sistem dispersi terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Bentuk suspensi yang dipasarkan ada 2 macam. maka dengan sangat cepat akan terjadi pemisahan kembali. Salah satu emulgator yang aktif permukaan atau lebih dikenal dengan surfaktan. et.3 Suspensi Suspensi merupakan salah satu contoh dari bentuk sediaan cair. 2.5. Dalam pembuatan suspensi penggunaan surfaktan (wetting agent) adalah sangat berguna dalam penurunan tegangan antar muka akan menurunkan sudut kontak. lalu dikocok kuat-kuat.2 Pembentukan dan Kestabilan Emulsi Bila dua larutan murni yang tidak saling campur/ larut seperti minyak dan air. 2010).

19 .

Lebih-lebih lagi tidak adanya perhatian terhadap pemilihan alat ini akan berakibat diperolehnya hasil yang tidak diinginkan. 3. 20 . bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability). Sehingga viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh. berbagai adonan. Viskositas dinyatakan dalam simbol η. Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapat mempengaruhi pemilihan alat yang akan digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabriknya. suspensi.BAB III RHEOLOGI Rheologi berasal dari bahasa yunani mengalir (rheo) dan logos (ilmu). atau hubungan antara strain dan stress pada benda padat. semakin tinggi viskositas. Sebagai penjamin kualitas yang sama untuk setiap batch. Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien. stabilitas fisika obat.serta sediaan-sediaan farmasi.bahan-bahan untuk pembuat jalan. semakin besar tahanannya untuk mengalir. Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. prinsip–prinsip rheologi diaplikasikan dalam pembuatan krim. Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari bahan.1 DEFINISI RHEOLOGI Rheologi mempelajari hubungan antara tekanan gesek (shearing stress) dengan kecepatan geser (shearing rate) pada cairan. Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. pengeluaran dari tube atau pelewatan dari jarum suntik. Digunakan istilah ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Croeford untuk menggunakan aliran cairan dan deformasi dari padatan. Selain itu. Dalam bidang Farmasi. Prinsip dasar rheologi telah digunakan dalam penyelidikan zat. Rheologi merupakan ilmu yang mempelajari sifat zat cair atau deformasi zat padat. Viskositas merupakan suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir. pasta. lotion. penuangan. prinsip rheologi digunakan untuk karakterisasi produk sediaan Farmasi (Dosage Form). tinta.kosmetik.produk hasil peternakan. emulsi. penyalut tablet dan lain sebagainya.

tidak mengalir).  Aliran Plastis Kurva aliran plastis tidak melalui titik (0. o Shearing stress (τ atau F ) F’/A untuk menyatakan gaya per satuan luas yang diperlukan untuk menyebabkan aliran. Tipe aliran non-Newton terjadi pada dispersi heterogen antara cairan dengan padatan seperti pada koloid. Ada 3 jenis tipe aliran dalam sistem Non-Newton. dan dilatan.2. hubungan antara shearing rate dan shearing stress adalah linear.  Aliran Pseudoplastis Aliran pseudoplastis ditunjukkan oleh beberapa bahan farmasi yaitu gom alam dan sisntesis seperti dispersi cair dari tragacanth. dengan suatu tetapan yang dikenal dengan viskositas atau koefisien viskositas.Ada beberapa istilah dalam rheologi. yaitu : o Rate of shear (D) dv/dr untuk menyatakan perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang cairan yang dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil (dr). emulsi.2 PENGGOLONGAN SISTEM CAIR MENURUT TIPE ALIRAN 3. viskositasnya tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan tidak tergantung pada kecepatan geser. pseudoplastis. 21 . Tipe alir ini umumnya dimiliki oleh zat cair tunggal serta larutan dengan struktur molekul sederhana dengan volume molekul kecil.0) tapi memotong sumbu shearing stress pada suatu titik tertentu yang dikenal dengan sebagai harga yield.salep. 3. Pada harga stress di bawah harga yield value. sehingga viskositasnya cukup ditentukan pada satu kecepatan geser. zat bertindak sebagi bahan elastis (meregang lalu kembali ke keadaan semula. Cairan plastis tidak akan mengalir sampai shearing stress dicapai sebesar yield value tersebut. dan suspense cair.1 Sistem Newton Pada cairan Newton. shearing rate dan shearing stress tidak memiliki hubungan linear. 3. Tipe aliran yang mengikuti Sistem Newton.2. viskositasnya berubah-ubah tergantung dari besarnya tekanan yang diberikan. yaitu : plastis.2 Sistem Non Newton Pada cairan non-Newton.

Penggolongan sistem cair menurut tipe aliran dan deformasinya ada dua yaitu: Sistem Newton dan Sistem non-Newton. Aliran pseudoplastis diperlihatkan oleh polimer-polimer dalam larutan.natrium alginat. Jika stress dihilangkan. dan natrium karboksimetil selulosa. Air memiliki viskositas rendah sedangkan minyak sayur memiliki Viskositas tinggi. Viskositas berpengaruh terhadap laju penyerapan obat dari saluran pencernaan dalamn penelitian dan teknologi farmasetik dan sejenisnya. yang tersusun dari partikel-partikel tersuspensi dalam emulsi. semakin tinggi viskositas aliran akan semakin besar resistensinya. metil selulosa. viskositasnya berubah-ubah tergantung dari besarnya tekanan yang diberikan. Viskositas berpengaruh terhadap laju penyerapan obat dari saluran pencernaan serta dalam penelitian dan teknologi farmasetik dan sejenisnya.  Aliran Dilatan Aliran dilatan terjadi pada suspensi yang memiliki presentase zat padat terdispersi dengan konsentrasi tinggi.3 VISKOSITAS Viskositas adalah suatu ungkapan dari resistensi zat cair untuk mengalir. Tipe aliran non-Newton 22 . Viskositas adalah sebuah ukuran penolakan sebuah fluid terhadap perubahan bentuk dibawah tekanan shear. shearing rate dan shearing stress tidak memiliki hubungan linear. Sedangkan pada cairan non-Newton. hal ini berkebalikan dengan sistem plastis. Viscositas menggambarkan penolakan dalam fluid kepada aliran dan dapat dipikir sebagai sebuah cara untuk mengukur gesekan fluid. Biasanya Viscometer diterima sebagai kekentalan atau penolakan terhadap penuangan. Viskometer merupakan ukuran resistensi zat cair untuk mengalir. suatu sistem dilatan akan kembali ke keadaan fluiditas aslinya. Pada cairan Newton. 3. Terjadi peningkatan daya hambat untuk mengalir (viskositas) dengan meningkatnya rate of shear. hubungan antara shearing rate dan shearing stress adalah linear dengan suatu tetapan yang dikenal dengan viskositas atau koefisien viskositas.

terjadi keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat – gaya archimides. c) Viskometer Cup dan Bob Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengahtengah. a) Viskometer kapiler / Ostwald Viskositas dari cairan newton bisa ditentukan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika ia mengalir karena gravitasi melalui viskometer Ostwald. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecapatan dan sampelnya 23 . Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penueunan konsentrasi.4 CARA MENENTUKAN VISKOSITAS Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang dinamakan viskometer. b) Viskometer Hoppler Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum. Prinsip kerjanya adalah menggelindingkan bola (terbuat dari kaca) melalui tabung gelas yang hampir tikal berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel. Penurunan konsentrasi ini menyebabkab bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. d) Viskometer Cone dan Plate Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan. 3. emulsi dan suspensi. kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut.terjadi pada dispersi heterogen antara cairan dengan padatan seperti pada koloid. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui ( biasanya air ) untuk lewat 2 tanda tersebut. Hal ini disebt aliran sumbat.

Viscometer Stormer terdiri dari cup yang stationer dan bob yang berputar. Pertimbangan rheologi juga penting dalam pembuatan suspensi. Jadi penyebaran produk dermatologik dan produk kosmetik harus dikontrol agar didapat suatu preparat yang memuaskan. Instrumen yang paling baik untuk menentukan sifat-sifat rheologi dari semisolid di bidang Farmasi adalah viskometer putar (rotational viscometer). Aliran emulsi parenteral melalu jarum hipodermik. 3. pemindahan suatu emulsi dari botol atau tube dan sifat dari satu emulsi dalam berbagai proses penggilingan yang digunakan dalam pembuatan produk ini secara besar-besaran.digeser didalam ruang semit antara papan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar. Pada kebanyakan proses ini sifat aliran produk akan menjadi sangat penting untuk penampilan emulsi yang tepat pada kondisi penggunana dan pembuatannya. dan alat ini juga baik untuk semisolid. b) Sifat Rheologi Dalam Emulsi Produk yang diemulsikan mungkin mengalami berbagai shearstress selama pembuatan atau penggunaanya. menunjukkan perlunya karakteristik aliran yang tepat.5 PENERAPAN RHEOLOGI DALAM SEDIAAN FARMASI a) Sifat Rheologi Dalam Suspensi Viskositas dari suatu suspensi apabila mempengaruhi pengendapan dari partikelpartikel zat terdispersi perubahan dalam sifat-sifat aliran dari suspensi bila wadahnya dikocok dan bila produk tersebut dituang dari botol dan kualitas penyebaran dari cairan (lotio) bila digunakan untuk suatu bagian permukaan yang akan diobati. d) Sifat Aliran Pada Serbuk 24 . Untuk analisis semisolid yang berbentuk emusi dan suspensi digunakan cone-plate viscometer. c) Sifat Rheologi Dalam Semisolid Pembuat salep farmasetik dan krim kosmetik menyadari adanya keinginan untuk mengontrol konsistensi bahan non-Newton.

Cairan dapat diterapkan pada :  Pencampuran  Pengurangan ukuran partikel dari sistem sistem dispersi dengan shear  Pelewatan melalui mulut. Oleh karena itu. iv. iii. penuangan. ii. serbuk bisa jadi mengalir bebas (free-flowing) atau melekat. Sifat-sifat dari zat padat yang menentukan besarnya interaksi partikel-partikel. dan kehalusan permukaan. Dalam pengertian khusus yaitu ukuran partikel porositas dan kerapatan.Serbuk bulk agak analog dengan cairan non Newton menunjukkan aliran plastik dan kadang-kadang dilatansi partikel-partikel dipengaruhi oleh gaya tarik menarik sampai derajat yang bervariasi. Pengaplikasian Viskositas i. pelewatan melalui jarum suntik  Perpindahan cairan  Stabilitas fisik sistem dispersi Semi solid diterapkan pada :  Penyebaran dan pelekatan pada kulit  Pemindahan dari wadah/tube  Kemampuan zat padat untuk bercampur dengan cairan-cairan  Pelepasan obat dari basisnya Padatan diterapkan pada :  Aliran serbuk dari corong ke lubang cetakan tablet/kapsul  Pengemasan serbuk/granul Pemprosesan diterapkan pada :  Kapasitas produksi alat  Efisiensi pemrosesan 25 . pengemasan dalam botol.

larutan garam. Atau dispersi pangan adalah sistem pangan yang terdiri dari satu atau lebih fase terdispersi atau fase diskontinyu dalam suatu fase kontinyu. Oleh karena itu. yaitu dispersi kasar. Larutan Koloid Suspensi (Dispersi Molekuler) (Dispersi Koloid) (Dispersi Kasar) 26 . atom. Dalam larutan dikenal juga kelarutan (solubility) yaitu jumlah maksimum zat yang dapat larut dalam sejumlah tertentu pelarut/larutan pada suhu tertentu. Umumnya. Larutan adalah keadaan dimana zat terlarut (molekul.2 MACAM – MACAM DISPERSI Sistem dispersi dibedakan menjadi 3. Bahan-bahan yang terdispersi bisa saja memiliki ukuran partikel berdimensi atom atau molekul sampai partikel yang dapat diukur dengan satuan milimeter. Diameter partikel zat terlarut lebih kecil dari 10-7 cm. ion) terdispersi secara homogen dalam zat pelarut. Contoh : larutan gula.BAB IV DISPERSI KASAR 4. dan dispersi koloid. dispersi halus. yaitu: a) Dispersi Molekular atau biasa disebut larutan b) Dispersi Koloidal c) Dispersi Kasar 4. Tabel berikut menjelaskan tentang perbedaan masing – masing dispersi. Jadi jika suatu zat dilarutkan pada suatu pelarut/ larutan dan ternyata telah melewati batas kelarutan larutan tersebut maka sebagian zat akan terlarut dan sebagian lagi akan mengendap Sistem terdispersi terdiri dari partikel-partikel kecil yang dikenal sebagai fase terdispersi yang terdistribusi secara merata keseluruh medium kontinu atau medium dispersi. Larutan bersifat stabil dan tak dapat disaring.1 SISTEM DISPERSI Sistem dispersi adalah sistem dimana suatu zat tersebar merata (fase terdispersi) di dalam zat lain (fase pendispersi atau medium). cara paling mudah untuk menggolongkan sistem dispersi adalah berdasarkan diameter dari partikel rata-rata dari bahan yang terdispersi. sistem dispersi digolongkan menjadi tiga.

b) Lotio untuk pemakaian luar.3 PENDALAMAN DISPERSI KASAR Dispersi kasar atau suspensi akan terjadi jika diameter fasa terdispersi memiliki ukuran di atas 100 nanometer. ada juga yang tersedia dalam bentuk serbuk kering (dry syrup) untuk 27 . lebar atau tebal) kurang      air  Secara makroskopis dari 1 nm Satu fase Stabil Tidak dapat disaring Jernih Tidak memisah jika didiamkan terigu dengan air  Heterogen  Salah satu atau semua dimensi partikelnya lebih besar dari 100 dengan mikroskop ultra  Partikelnya berdimensi antara 1 nm sampai 100 nm  Dua fase  Pada umumnya stabil  Tidak dapat disaring kecuali dengan      nm Dua fase Tidak stabil Dapat disaring Tidak jernih Memisah jika didiamkan penyaring ultra  Tidak jernih  Tidak memisah jika didiamkan 4. Suspensi dapat didefinisikan sebagai preparat yang mengandung partikel obat yang terbagi secara halus disebarkan secara merata dalam pembawa obat dimana obat tersebut menunjukkan kelarutan yang sangat minimum. Beberapa suspensi resmi diperdagangkan dalam bentuk siap pakai. c) Sediaan Injeksi. tak dapat dibedakan walaupun bersifat homogen tetapi menggunakan heterogen jika diamati mikroskop ultra  Semua partikelnya berdimensi (panjang. Dispersi kasar terbagi ke dalam 3 kelompok : a) Mixtura untuk pemakaian oral. Sistem ini mula-mula keruh tetapi dalam beberapa saat segera nampak batas antara fasa terdispersi dengan medium pendispersi karena terjadinya pengendapan dan dapat memisahkan fasa terdispersi dari mediumnya dengan cara melakukan penyaringan.Contoh: Contoh: Contoh: Larutan gula dalam air Campuran susu dengan Campuran tepung  Homogen.

b) Partikel-partikel tersebut walaupun mengendap pada dasar wadah tidak boleh membentuk suatu gumpalan padat tapi harus dengan cepat terdispersi kembali menjadi suatu campuran homogen bila wadahnya dikocok. b) Zat yang tersuspensi (disuspensikan) tidak boleh cepat mengendap. c) Suspensi tersebut tidak boleh terlalu kental untuk dituang dengan mudah dari botolnya. d) Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari suspensoid tetap agak konstan untuk yang lama pada penyimpanan. terdispersi dalam cairan pembawanya. Ada sifat lain yang lebih spesifik untuk suspensi farmasi: a) Suatu suspensi farmasi yang dibuat dengan tepat mengendap secara lambat dan harus rata kembali bila dikocok.disuspensikan dalam cairan pembawa (umumnya berupa air). salah satu contohnya adalah suspensi antibiotika yang biasa ditemukan dalam bentuk dry syrup. Suatu suspensi dalam bidang farmasi adalah suatu dispersi kasar dimana partikel zat padat yang tidak larut terdispersi dalam suatu medium cair. kelanggengan sediaan dan bentuk estetik dari sediaan. Menurut FI ed III. e) Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen. Terdapat beberapa point yang dapat menjadi penilai kestabilan sediaan suspensi. Terdapat banyak pertimbangan dalam pengembangan dan pembuatan suatu suspensi farmasetik yang baik.Suatu suspensi yang dapat diterima mempunyai kualitas tertentu yang diinginkan : a) Zat yang tersuspensi (disuspensikan) tidak boleh cepat mengendap. suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut. tapi harus dengan cepat terdispersi kembali menjadi suatu campuran homogen bila wadahnya dikocok. yaitu: a) Volume sedimentasi 28 . c) Partikel-partikel tersebut walaupun mengendap pada dasar wadah tidak boleh membentuk suatu gumpalan padat. Di samping khasiat terapeutik. stabilitas kimia dari komponen-komponen formulasi.

Suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula mula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap. Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu) terhadap volume sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc). makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin 29 . F= Vi Vo b) Derajat flokulasi. d) Perubahan ukuran partikel Digunakan cara Freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titikbeku. yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikeldan sifat kristal. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah: a) Ukuran partikel Hubungan antara ukuran partikel berbanding terbalik dengan luas penampangnya. Dengan cara ini dapat dilihatpertumbuhan kristal. membantumenemukan perilaku pengendapan. b) Kekentalan (Viscositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut. lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya. β= volume suspensi flokulasi volume suspensi deflokulasi c) Metode reologi Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas. mengatur vehicle dan susunan partikel untuktujuan perbandingan. sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel. sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan ke atas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap.

sandang. Saat ini polimer telah berkembang pesat. d) Sifat/muatan partikel. dan komunikasi (serat optik).1 DEFINISI POLIMER Polimer ialah rangkaian atom yang panjang dan berulang-ulang dan dihasilkan daripada sambungan beberapa molekul lain yang dinamakan monomer. BAB V POLIMER 5. Memberikan dispersi yang kental pada konsentrasi rendah Viskositas tidak berubah selama waktu penyimpanan Harus mempunyai afinitas terhadap medium dispersi. Derajat Flokulasi adalah rasio volume awal akhir sediaan suspensi flokulasi dengan volume akhir sediaan suspensi deflokulasi.turun (kecil). Persyaratan zat pensuspensi antara lain : a) b) c) d) e) Pada konsentrasi yang digunakan tidak memberikan efek terapi. transportasi. Polimer sangat penting karena dapat menunjang tersedianya pangan. Secara kimia relative inert pada jarak pH yang luas. Dua parameter yang berguna yang bisa diturunkan dari penyelidikan sedimentasi adalah volume sedimentasi dan derajat flokulasi. Berdasarkan kegunaannya polimer terdiri atas : 30 . Volume sedimentasi (F) didefinisikan sebagai perbandingan dari volume akhir dari endapan (Vu) terhadap volume awal dari suspensi (Vo) sebelum mengendap. Tapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar mudah dikocok dan dituang. c) Jenis dan jumlah zat pensuspens.

Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi dalam media air. sistem cair yang mengandung gum harus mengandung pengawet dengan konsentrasi yang cukup. polivinilklorida (PVC). Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel. polistirena (PS). Termasuk dalam kelompok ini adalah gum alam. polipropilen (PP). Contoh : Polietilen (PE). biopolimer Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur berbentuk jaringan yang merupakan bagian penting dari sistem gel. dan karbomer. melamin formaldehid. turunan selulosa.1. seperti guar gum. selain itu ada yang membentuk gel dalam cairan nonpolar. maka natural gum mudah terurai secara mikrobiologi dan menunjang pertumbuhan mikroba. b) Polimer fungsional (functional polymers) Polimer ini dihasilkan dan dikembangkan di negara maju dan dibuat untuk tujuan khusus dengan produksinya dalam skala kecil. Konsentrasi yang tinggi dari beberapa surfaktan nonionik dapat digunakan untuk menghasilkan gel yang jernih di dalam sistem yang mengandung sampai 15% minyak mineral. Karena komponen yang membangun struktur kimianya. nomex. Contoh : kevlar. Pengawet yang bersifat 31 .a) Polimer komersial (commodity polymers) Polimer ini dihasilkan di negara berkembang. harganya murah dan banyak dipakai dalam kehidupan sehari hari. 5. meskipun dalam jumlah kecil ada yang bermuatan netral. Oleh karena itu. polimer peka cahaya. polimer penghantar arus dan foton.1 Polimer (gel organik) a) Gum alam (natural gums) Umumnya bersifat anionik (bermuatan negatif dalam larutan atau dispersi dalam air). membran. textura.

kationik inkompatibel dengan gum yang bersifat anionik sehingga penggunaannya harus dihindari. atau spesies Asia dari  Astragalus. terdiri dari berbagai proporsi asam D-mannuronik dan asam L-guluronik yang didapatkan dari rumput laut coklat dalam bentuk garam monovalen dan divalen. amonium. Fraksi kappa dan iota membentuk gel yang  reversibel terhadap pengaruh panas. kalsium. Jenis kopolimer utama ialah kappa. kalium. magnesium. Tersedia dalam bebrapa grade sesuai dengan viskositas yang terstandardisasi yang merupakan kelebihan natrium alginat dibandingkan dengan tragakan. dan 32 . merupakan gel yang terkuat dengan keberadaan ion K.6-anhidrogalaktosa. Natrium alginat  Merupakan polisakarida.5-2% digunakan sebagai lubrikan. didefinisikan sebagai ekstrak gum kering dariAstragalus gummifer Labillardie. dan ester-ester magnesium sulfat dari  polimer galaktosa. Gel iota bersifat elastis dan tetap jernih dengan keberadaan ion K. Garam kalsium dapat ditambahkan untuk meningkatkan viskositas dan kebanyakan formulasi mengandung gliserol  sebagai pendispersi. dan lambda karagenan. iii. iota. Tragakan  Menurut NF. Semua karagenan adalah anionik. Natrium alginat 1. Gel kappa yang cenderung getas. Material kompleks yang sebagian besar tersusun atas asam polisakarida yang terdiri dari kalsium.  dan 5-10% digunakan sebagai pembawa. Karagenan  Hidrokoloid yang diekstrak dari beberapa alga merah yang merupakan suatu campuran tidak tetap dari natrium. dan 3. Beberapa contoh gum alam : i. ii.

 Derivat selulosa yang sering digunakan adalah MC. HEMC. HPMC merupakan derivat selulosa yang sering digunakan.kalium. Viskositas akan menurun dengan cepat di luar range pH 4. 33 .5-7. Tragakan kurang begitu populer karena mempunyai viskositas yang bervariasi. Gum  ini mengembang di dalam air. Gel terbentuk pada pH asam dalam larutan air yang mengandung kalsium dan kemungkinan zat lain yang befungsi menghidrasi gum. b) Derivat selulosa  Selulosa murni tidak larut dalam air karena sifat kristalinitas yang tinggi. Merupakan gelling agent untuk produk yang bersifat asam dan digunakan  bersama gliserol sebagai pendispersi dan humektan. dan 5% sebagai  pembawa. iv. Substitusi dengan gugus hidroksi menurunkan kristalinitas dengan menurunkan pengaturan rantai polimer dan ikatan hidrogen antar rantai. EHEC. rentan terhadap degradasi oleh  mikroba. Formula mengandung alkohol dan/atau gliserol dan/atau volatile oil untuk mendispersikan gum dan mencegah pengentalan ketika penambahan air. Pektin  Polisakarida yang diekstrak dari kulit sebelah dalam buah citrus yang banyak digunakan dalam makanan. Sisanya adalah polisakarida netral. HPMC. Digunakan sebanyak 2-3% sebagai lubrikan.  Sifat fisik dari selulosa ditentukan oleh jenis dan gugus substitusi. Gel yang dihasilkan harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat karena air dapat menguap secara cepat sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya proses  sineresis. tragakantin. HEC. dan HPC.

basa anorganik seperti NaOH.  Dalam sistem cair. gel yang jernih. dan NH4OH sebaiknya ditambahkan.1. HPC  Sering digunakan karena menghasilkan gel yang bersifat netral. mudah tersebar.5%. yang diperdagangkan dalam bentuk asam bebasnya. Sterilisasi sediaan atau penambahan pengawet dapat mencegah penurunan viskositas yang diakibatkan oleh depolimerisasi oleh enzim yang dihasilkan dari mikroorganisme. viskositas stabil.  Viskositas dispersi karbomer dapat menurun dengan adanya ionion. dan membentuk lapisan/film yang tahan air pada permukaan kulit. Na CMC. maka hanya diperlukan dalam konsentrasi kecil. akan dihasilkan gel yang lembut. Dalam media air. 5. membentuk gel pada konsentrasi sekitar 0.  pH harus dinetralkan karena karakter gel yang dihasilkan dipengaruhi oleh proses netralisasi atau pH yang tinggi. HPMC c) Polimer sintetis (Karbomer = karbopol)  Sebagai pengental sediaan dan produk kosmetik. HEC. Misalnya : MC.  Karbomer merupakan gelling agent yang kuat. resisten terhadap pertumbuhan mikroba.  Merupakan gelling agent yang kuat. pertama-tama dibersihkan dulu. Untuk membentuk gel. KOH.2 Polietilen (gelling oil) Digunakan dalam gel hidrofobik likuid. Derivat selulosa rentan terhadap degradasi enzimatik sehingga harus icegah adanya kontak dengan sumber selulosa. Na CMC. Misalnya MC. setelah udara yang terperangkap keluar semua. dan menghasilkan film yang kuat pada kulit ketika kering. gel akan terbentuk dengan cara netralisasi dengan basa sesuai. 34 . polimer harus didispersikan dalam minyak pada suhu tinggi (di atas 800C) kemudian langsung didinginkan dengan cepat untuk mengendapkan kristal yang merupakan pembentukan matriks.

1. Karakteristik gel yang terbentuk dapat bervariasi dengan cara meng-adjust proporsi dan konsentrasi dari komposisinya.1.5 Gellants lain Banyak wax yang digunakan sebagai gellants untuk media non polar seperti beeswax. 5. 5. setil ester wax. Bentuk komersial yang paling banyak untuk jenis gel ini adalah produk pembersih rambut. karena adanya kompetisi dengan medium yang melemahkan interaksi antar partikel tersebut.3 Koloid padat terdispersi  Mikrokristalin selulosa dapat berfungsi sebagai gellant dengan cara pembentukan jaringan karena gaya tarik-menarik antar partikel seperti ikatan hidrogen. Magnesium oksida sering ditambahkan untuk meningkatkan viskositas. carnauba wax.6 Polivinil alkohol Untuk membuat gel yang dapat mengering secara cepat.7 Clays (gel anorganik) Digunakan sebanyak 7-20% sebagai basis.1.  Konsentrasi rendah dibutuhkan untuk cairan nonpolar. Viskositas dapat menurun dengan adanya basa. Tersedia dalam beberapa grade yang berbeda dalam viskositas dan angka penyabunan. Bentonit harus disterilkan terlebih 35 .5. Untuk cairan polar diperlukan konsentrasi yang lebih besar untuk membentuk gel.4 Surfaktan Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara minyak mineral.1. Kombinasi tersebut membentuk mikroemulsi. dan konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari surfaktan anionik. Film yang terbentuk sangat kuat dan plastis sehingga memberikan kontak yang baik antara obat dan kulit. 5.1. 5. air. Mempunyai pH 9 sehingga tidak cocok digunakan pada kulit.

Farmakope Indonesia edisi Ketiga. Ansel Howarrd. (1995). Goeswin. 2005. Universitas Indonesia Press : Jakarta Depkes RI. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi II. (1994). Bentonit dapat digunakan pada konsentrasi 5-20%. 2008. Pengembangan Sediaan Farmasi. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Depkes RI. Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetik. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi edisi Kelima. veegum. Jakarta : UI Press Shargel. Leon. Farmakope Indonesia edisi Keempat. ITB : Bandung.dahulu untuk penggunaan pada luka terbuka. Surabaya: Airlangga University Press Voigt. 2006. R. Alfred dkk. (1979). Contohnya : Bentonit. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Yogyakarta : UGM Press 36 .C. laponite DAFTAR PUSTAKA Agoes. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Martin. 2005.

37 .