You are on page 1of 20

BAB I

1.1

Latar belakang
Kanker ovarium adalah penyakit yang membuat frustasi bagi pasien dan pemberi
perawatan kesehatan karena awitanya tersembunyi dan tidak adanya gejala peringatan
adalah penyebab mengapa penyakit ini telah mencapai tahap lanjut ketika didiagnosa. Kondisi
ini merupakan penyebab kematian utama di antara malignansi ginkelogis. Penyakit ini
mempunyai angka kejadian sekitar 13,8 wanita per 100.000. sayang sekali sekitar 75% dari
kasus didektesi pada tahap lanjut. Amatlah sulit untuk didiagnosa dan adalh unik sehingga
kemungkinan kondisi ini merupakan awal dari banyak kanker primer yang mungkin menjadi
tempat metastasis dari kondisi lainnya. Kondisi ini membawa angka kematian 14,500 setiap
tahunya dan merupakan penyebab prevalen keenam dari kematian akibat kanker pada wanita
(Wingo et al., 1995). Sebagian kasus mengenai wanita antara usia 50 sampai 59 tahun.
Insidens tertingginya adalah di negara-negara industri, kecuali jepang yang insidensnya
rendah.

BAB II

2.1

Anatomi dan fisiologi sitem reproduksi wanita

1. Genetalia Eksterna (vulva)

Yang terdiri dari:
a. Tundun (Mons veneris)
Bagian yang menonjol meliputi simfisis yang terdiri dari jaringan dan lemak, area ini mulai ditumbuhi
bulu (pubis hair) pada masa pubertas. Bagian yang dilapisi lemak, terletak di atas simfisis pubis
b. Labia Mayora
Merupakan kelanjutan dari mons veneris, berbentuk lonjong. Kedua bibir ini bertemu di bagian bawah
dan membentuk perineum. Labia mayora bagian luar tertutp rambut, yang merupakan kelanjutan dari
rambut pada mons veneris. Labia mayora bagian dalam tanpa rambut, merupakan selaput yang
mengandung kelenjar sebasea (lemak). Ukuran labia mayora pada wanita dewasa à panjang 7- 8 cm,
lebar 2 – 3 cm, tebal 1 – 1,5 cm. Pada anak-anak dan nullipara à kedua labia mayora sangat
berdekatan.
c. Labia Minora
Bibir kecil yang merupakan lipatan bagian dalam bibir besar (labia mayora), tanpa rambut. Setiap labia
minora terdiri dari suatu jaringan tipis yang lembab dan berwarna kemerahan;Bagian atas labia minora
akan bersatu membentuk preputium dan frenulum clitoridis, sementara bagian. Di Bibir kecil ini
mengeliligi orifisium vagina bawahnya akan bersatu membentuk fourchette

Kelenjar bartholini berfungsi untuk mensekresikan cairan mukoid ketika terjadi rangsangan seksual. Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter ani dan muskulus levator ani. konsistensi ada yang kaku dan ada lunak. Genetalia Interna a. Bentuk dari himen dari masing-masing wanita berbeda-beda. Vagina Merupakan saluran muskulo-membraneus yang menghubungkan rahim dengan vulva. Saat melakukan koitus pertama sekali dapat terjadi robekan. e.d. panjangnya kurang lebih 4 cm. Analog dengan penis pada laki-laki. dan 2 buah muara kelenjar paraurethral. Dibatasi oleh otot-otot muskulus levator ani dan muskulus coccygeus. Vagina terletak antara kandung kemih dan rektum. Terdiri dari glans. ada yang berbentuk seperti bulan sabit. Vestibulum (serambi) Merupakan rongga yang berada di antara bibir kecil (labia minora). oleh karena itu dapat dikendalikan. Perineum (kerampang) Terletak di antara vulva dan anus. 2 buah muara kelenjar Bartholini. Bagian serviks yang menonjol ke dalam vagina disebut portio. biasanya pada bagian posterior g. Otot-otot berfungsi untuk menjaga kerja dari sphincter ani 2. Klitoris Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil. Glans clitoridis mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat sensitif. corpus dan 2 buah crura. ada yang dapat dilalui satu jari. Himen (selaput dara) Terdiri dari jaringan ikat kolagen dan elastic. Portio uteri membagi puncak (ujung) vagina menjadi: . di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar. lubangnya ada yang seujung jari. Kelenjar bartholini juga menghalangi masuknya bakteri Neisseria gonorhoeae maupun bakteri-bakteri patogen f. Lapisan tipis ini yang menutupi sabagian besar dari liang senggama. Panjang bagian depannya sekitar 9 cm dan dinding belakangnya sekitar 11 cm. yaitu orifisium urethra eksterna. Pada vestibula terdapat 6 buah lubang. dengan panjang rata-rata tidak melebihi 2 cm. introitus vagina.

Lengkungan serabut otot ini membentuk angka delapan sehingga saat terjadi kontraksi pembuluh darah terjepit rapat. Ukuran anak-anak 2-3 cm. Menutupi bagian luar uterus. otot rahim makin berkurang. 2) Alat hubungan seks. lapisan tengah. jaringan ikat dan parametrium. terletak di pelvis minor diantara kandung kemih dan rektum. Makin kearah serviks. sedangkan bagian bawah berhubungan dengan kandung kemih. Pada lapisan tengah membentuk lapisan tebal anyaman serabut otot rahim.Vaskularisasi uterus berasal dari arteri uterina yang merupakan cabang utama dari arteri illiaka interna (arterihipogastrika interna). yang merupakan batas dari kavum uteri dan kanalis servikalis dengan osteum uteri histologikum (dimana terjadi perubahan . Bagian rahim yang terletak antara osteum uteri internum anatomikum.-Forniks anterior -Forniks dekstra -Forniks posterior -Forniks sisistra Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu dengan pH 4. 1) Korpus uteri : berbentuk segitiga 2) Serviks uteri : berbentuk silinder 3) Fundus uteri : bagian korpus uteri yang terletak diatas kedua pangkal tuba. multipara 8-9 cm dan > 80 gram pada wanita hamil. Dinding belakang dan depan dan bagian atas tertutup peritonium. Bentuk uterus seperti bola lampu dan gepeng. Fungsi utama vagina: 1) Saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi. keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi. dan lapisan dalam. Ukuran uterus tergantung dari usia wanita dan paritas. Untuk mempertahankan posisinya. dengan demikian pendarahan dapat terhenti. uterus disangga beberapa ligamentum. b)Lapisan otot Susunan otot rahim terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan luar. Uterus dapat menahan beban hingga 5 liter Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan : a)Peritonium Meliputi dinding rahim bagian luar. Merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat dan pembuluh darah limfe dan urat syaraf.5. dan jaringan ikatnya bertambah. nullipara 6-8 cm. 3) Jalan lahir pada waktu persalinan. b. Peritoneum meliputi tuba dan mencapai dinding abdomen. Uterus Merupakan Jaringan otot yang kuat. Lapisan tengah ditembus oleh pembuluh darah arteri dan vena.

3) Ligamentum infundibulopelvikum • Menggantung dinding uterus ke dinding panggul. dan fase pengeluaran lendir endometrium ditentukan oleh perubahan hormonal dalam siklus menstruasi. Isthmus uteri ini akan menjadi segmen bawah rahim dan meregang saat persalinan.sacrum. sehingga memungkinkan terjadi implantasi (nidasi).Lapisan epitel serviks berbentuk silindris. tonus ligamentum yang menyangga. c). 2) Ligamentum rotundum (teres uteri) • Terdiri dari otot polos dan jaringan ikat. fungsi tubae sangat penting. Kedudukan uterus dalam tulang panggul ditentukan oleh tonus otot rahim sendiri. 5) Ligamentum sacro-uterinum • Merupakan penebalan dari ligamentum kardinale Machenrod menuju os. dan bersifat mengeluarakan cairan secara terus-menerus. Endometrium Pada endometrium terdapat lubang kecil yang merupakan muara dari kelenjar endometrium. Variasi tebal. Tuba Fallopii Tuba fallopii merupakan tubulo-muskuler. • Tempat masuknya pembuluh darah menuju uterus. 4) Ligamentum kardinale Machenrod • Menghalangi pergerakan uteruske kanan dan ke kiri. Ligamentum yang menyangga uterus adalah: 1) Ligamentum latum • Ligamentum latum seolah-olah tergantung pada tuba fallopii. • Fungsinya menahan uterus dalam posisi antefleksi. dan tempat . sehingga dapat membasahi vagina. sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi. tipisnya. yaiu untuk menangkap ovum yang di lepaskan saat ovulasi. dengan panjang 12 cm dan diameternya antara 3 sampai 8 mm. tempat terjadinya konsepsi. 6) Ligamentum vesiko-uterinum • Merupakan jaringan ikat agak longgar sehingga dapat mengikuti perkembangan uterus saat hamil dan persalinan d. Pada saat konsepsi endometrium mengalami perubahan menjadi desidua.selaput lendir kavum uteri menjadi selaput lendir serviks) disebut isthmus. tonus otot-otot panggul.

sebagai kematangan organ reproduksi wanita. dan akhirnya terjadi pengeluaran darah menstruasi pertama yang disebut menarche. Siklus Menstruasi Siklus mnstruasi terbagi menjad 4. Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita 1. e. Ovarium Merupakan kelenjar berbentuk buah kenari terletak kiri dan kanan uterus di bawah tuba uterina dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uterus. Hormon Reproduksi pada wanita a. B. Ketika dilahirkan. Setiap bulan sebuah folikel berkembang dan sebuah ovum dilepaskan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke-14) siklus menstruasi. Hormon Estrogen yang berfungsi merangsang sekresi hormone LH. Estrogen merupakan hormone terpenting pada wanita. Memproduksi hormone estrogen c. Hormon progesteron yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH dan LH C. Awal-awal menstruasi sering tidak teratur karena folikel graaf belum melepaskan ovum yang disebut ovulasi. c. Ovulasi adalah pematangan folikel de graaf dan mengeluarkan ovum. bila habis menopause. pertumbuhan rambut pubis. setiap bulan akan mengeluarkan darah dari alat kandungannya. Pengeluaran hormone ini menumbuhkan tanda seks sekunder pada wanita seperti pembesaran payudara. . Ovarium yang disebut juga indung telur. pertumbuhan rambut ketiak. Memproduksi ovum b.pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi sampai mencapai bentuk blastula yang siap melakukan implantasi. mempunyai 3 fungsi: a. Hormon LH yang berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pematangan sel ovum). b. Pada usia 17-18 tahun menstruasi sudah teratur dengan interval 28-30 hari yang berlangsung kurang lebih 2-3 hari disertai dengan ovulasi. Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel sekitar sel ovum. d. wanita yang sehat dan tidak hamil. Memproduksi progesteron Memasuki pubertas yaitu sekitar usia 13-16 tahun dimulai pertumbuhan folikel primordial ovarium yang mengeluarkan hormon estrogen.000 buah di dalam ovariumnya. wanita memiliki cadangan ovum sebanyak 100. Hal ini terjadi karena memberikan kesempatan pada estrogen untuk menumbuhkan tandatanda seks sekunder.

Gonadotropin Releasing Hormone GNRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus diotak. penebalan endometrium dan kelenjar tumbuhnya lebih cepat.Stadium menstruasi (Desquamasi). dimana endometrium terlepas dari rahim dan adanya pendarahanselama 4hari. Hormon-Hormon Reproduksi a. Kemudian folikel ini akan menjadi korpus luteum dan dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH. Estrogen berguna untuk pembentukan ciri-ciri perkembangan seksual pada wanita yaitu pembentukan payudara. Bila kadar estrogen tinggi.Stadium praemenstruum (sekresi).Progesteron Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. dimana terjadi proses terbentuknya endometrium secara bertahap selama 4hr 3. c. Selama fase luteal siklus. LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge).Staduim prosmenstruum (regenerasi).Stadium intermenstruum (proliferasi). perubahan kelenjar dan adanya penimbunan glikogen guna mempersiapkan endometrium D. begitupun sebaliknya.Estrogen Estrogen dihasilkan oleh ovarium. rambut kemaluan. menjaga kualitas dan kuantitas cairan cerviks dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma. 2. Pelepasannya juga periodik / pulsatif. d. Dari folikel yang matang akan dikeluarkan ovum. GNRH akan merangsang pelepasan FSH (folikl stimulating hormone) di hipofisis. maka estrogen akan memberikan umpanbalik ke hipotalamus sehingga kadar GNRH akan menjadi rendah. LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesteron. LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone) Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. e. b.dll. . 4. Ada banyak jenis dari estrogen tapi yang paling penting untuk reproduksi adalah estradiol. FSH akan menyebabkan pematangan dari folikel. Bersama FSH.1. lekuk tubuh. Kadar progesterone terus dipertahankan selama trimester awal kehamilan sampai plasenta dapat membentuk hormon HCG. Estrogen juga berguna pada siklus menstruasi dengan membentuk ketebalan endometrium. Progesterone mempertahankan ketebalan endometrium sehingga dapat menerima implantasi zygot.FSH (folikel stimulating hormone) dan LH (luteinizing Hormone) Kedua hormon ini dinamakan gonadotropoin hormon yang diproduksi oleh hipofisis akibat rangsangan dari GNRH.

( kep. kanker ovarium.000 mU/ml). prolaktin juga. Kanker ovarium adalah kumpulan tumor dengan histiogenesis yang beranekaragam .1995) 3. kanker ovarium dapat berkembang dari sel-sel germinativum (ova). Kanker ovarium adalah bagian dari karsinoma sel skuamosa ovarium yang dapat tumbuh dalam setiap epitel berlapis skuamosa atau mukosa yang mengalami metaplasia skuamosa. Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan (tes Galli Mainini.2 Definisi kanker ovarium 1. prolaktin ikut mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum. g.000 mU/ml). Pada anak dan remaja. waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1 jam). Kerja sangat cepat dan singkat. (Stanley L Robbins. tes Pack. Di ovarium. kemudian naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar 10. Kanker Ovarium biasanya berasal dari sel epitel dan berkaitan dengan pajanan estrogen seumur hidup. Pada kehamilan. yang mungkin berkaitan predisposisi genetik. Mungkin juga memiliki fungsi imunologik.kadarnya dalam darah bervariasi setiap fase siklus. f. memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara.baik yang beasr maupun yang kecil. HCG (Human Chorionic Gonadotrophin) Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta).3 penyebab kanker ovarium ( etiologi ) . LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin Diproduksi di hipofisis anterior. meski faktor genetik yang teridentifikasi hanya dijumpai pada 5% wanita yang mengidap kanker ovarium.1995) 2. menyebabkan lebih banyak kematian dibandingkan kombinasi kanker endometrium dan serviks. (patofisiologi Corwin : 801-802) 4. dsb). Kanker Ovarium terjadi pada wanita yang keluaga dekatnya mengidap kanker payudara atau ovarium.(Sylvia anderson.maternitas hal : 281 ) 2. Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar 100. 2. Satu dari 70 wanita akan mengalami kanker ovarium dalam kehidupanya Suatu neoplasma letal. Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. kemudian turun pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml).

Hipotesis androgen Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Rish pada tahun 1998 yang mengatakan bahwa androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. progesteron ternyata mempunyai peranan protektif terhadap terjadinya kanker ovarium. 2. 3. yang menyatakan bahwa pada saat terjadi ovulasi.Ada beberapa teori tentang etiologi kanker ovarium yaitu: 1. tetapi tidak menjadi tumor jika tikus tersebut telah di hipofisektomi. Kehamilan. dehidroepiandrosteron. Dalam percobaan invitro androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan juga sel-sel kanker ovarium epitel dalam kultur sel. Pemberian pil yang mengandung estrogen saja pada wanita pasca menopause akan meningkatkan resiko terjadinya kanker ovarium. Hipotesis progesteron Berbeda dengan efek peningkatan resiko kanker ovarium oleh androgen . Hipotesis Incessant Ovulation Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Fathalla pada tahun 1972. Kelenjar ovarium yang telah terpapar pada zat karsinogenik dimetilbenzatrene (DMBA) akan menjadi tumor ovarium jika ditransplantasikan pada tikus yang telah di ooforektomi. sedangkan pemberian kombinasi dengan pemberian progesteron akan menurunkan resikonya. Teori ini didasarkan pada bukti bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. Peningkatan kadar hormon gonadotrofin ini ternyata berhubungan dengan makin bertambah besarnya tumor ovarium pada binatang tersebut. dimana kadar progesteron . kadar hormon gonadotrofin juga menigkat. Pada percobaan ini ditemukan bahwa jika kadar hormon estrogen rendah di sirkulasi perifer. proses penyembuhan akan terganggu dan kacau sehingga dapat menimbulkan transformasi menjadi sel-sel tumor. Hormon hipofisis diperlukan untuk perkembangan tumor ovarium pada beberapa percobaan pada rodentia. Berkurangnya resiko kanker ovarium pada wanita multipara dan wanita pemakai pil kontrasepsi dapat diterangkan dengan rendahnya kadar gonadotrofin. Epitel ovarium selalu terpapar pada androgenic steroid yang berasal dari ovarium itu sendiri dan kelenjar adrenal. 4. Jika sebelum penyembuhan tercapai terjadi lagi ovulasi atau trauma baru. Epitel normal ovarium mengandung reseptor progesteron. seperti androstenedion. terjadi kerusakan pada sel-sel ovarium. Untuk penyembuhan luka yang sempurna diperlukan waktu. dan testosterone. Hipotesis gonadotropin Teori ini didasarkan pada pengetahuan dari percobaan binatang dan data epidemiologi.

3. 8. yaitu dengan resiko relative 0. Pada wanita yang mengalami 4 atau lebih kehamilan aterm. 7. yaitu denga risiko relative 0.tinggi. Pil kontrasepsi kombinasi menurunkan resiko terjadinya kanker ovarium. 6. 5. Paritas Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan satu paritas yang tinggi memiliki resiko terjadinya kanker ovarium yang lebih rendah daripada nulipara. Ligasi tuba Pengikatan tuba ternyata menurunkan terjadinya kanker ovarium dengan resiko relatif 0. Pil kontrasepsi Penelitian dari center for disease control menemukan penurunan resiko terjadinya kanker ovarium sebesar 40% pada wanita usia 20-54 tahun yang memakai pil kontasepsi. 2. resiko terjadinya kanker ovarium berkurang sebesar 40% jika dibandingkan dengan wanita nulipara. menurunkan resiko kanker ovarium.9%.4 patofisiologi Usia Ansietas (cemas) Menopouse dini Kurangnya pengetahuan Kadar Estrogen Tindakan fingoofaretomi Kanker Ovarium .6. Mekanisme terjadinya efek protektif ini diduga dengan terputusnya akses talk atau karsinogen lainnya dengan ovarium.7. Talk Pemakaian talk pada daerah perineum dilaporkan meningkatkan resiko terjadinya kanker ovarium dengan resiko relative 1.

d protaglandin reaksi inflamasi pelepasan sitokin makrofag TNF ∞ Penurunan metabolisme BB Gg. Perfusi jaringan Gg. nutrisi perkembangan sel epitel yang tidak sesak napas Gg.muntah Hipoksia TSG tidak berfungsi Premibilitas p. Pola napas . Nutrisi Itoleransi aktifitas Lelah Muntah Anoreksia BB GG.Faktor Ovulasi Detensi abdomen Trauma Ovulasi otot”abdomen dan diafragma terkendali di ovarium Proses inflamasi mengaktifkan pusat muntah pendarahan Rusaknya sel epitel ovarium medula oblongata Anemia Kerusakan DNA Respon mual.

dan kelenjar getah bening negatif. Stadium III Tumor mengennai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum di luar pelvis dan/atau KGB retroperitoneal atau ingunal positif. tidak ada pertumbuhan di permukaan ovarium. diameter tidak melebihi 2 cm. Tumor terbatas dalam pelvis kecil. pertumbuhan tumor pada permukaan kapsul. tidak ada sel tumor cairan asites ataupun pada bilasan cairan di rongga peritonium Stadium Ib : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium. Stadium IV . atau dengan asites yang mengandung sel ganas atau bilasan peritoneum positif. tidak ada pertumbuhan di permukaan ovarium. tetapi secara histologik terbukti meluas ke usus besar atau omentum. tidak ada sel tumor cairan asites ataupun pada bilasan cairan di rongga peritonium Stadium Ic : tumor terbatas pada satu atau dua dengan salah satu factor dari kapsul tumor pecah. Stadium IIIb : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di permukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopik. Stadium II Pertumbuhan pada satu atau kedua ovarium dengan perluasan ke panggul Stadium IIa : perluasan dan/atau metastasis ke uterus dan/atau tuba Stadium IIb : perluasan ke jaringan pelvis lainnya Stadium IIc : tumor stadium IIa dan IIb tetapi dengan tumor pada permukaan satu atau kedua ovarium. Stadium tersebut menurut International Federation of Gynecologist and Obstenricians (FIGO) 1987 sebagai beriku: Stadium I Pertumbuhan terbatas pada ovarium Stadium Ia : pertumbuhan terbatas pada satu ovarium. kapsul tumor utuh. ditemukan sel tumor ganas pada cairan asite maupun bilasan rongga peritoneum. kapsul pecah.2. Stadium IIIc : implan di abdomen >2 cm dan/atau kelenjar detah bening retroperitoneal atau inguinal positif. Metastasis permukaan liver masuk stadium III. Stadium IIIa : tumor terbatas di ppelvisl kecil dengan kelenjar getah bening negative tetapi secara histologik dan dikonfirmasi secara mikroskopik adanya pertumbuhan di permukaan peritoneum abdominal.5 Stadium kanker ovarium Stadium Kanker Ovarium Stadium kanker ovarium disusun menutut keadaan yang ditemukan pada operasi eksplorasi.

Dengan demikian. Bila di bagian atas abdomen ditemukan juga massa dan disertai asites. jika ditemukan kista ovarium bilateral harus dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan untuk menyingkirkan keganasan termasuk pada penderita yang masih berusia muda. sedangkan pada kista ganas ditemukan pada 26% kasus. kadar Ca 125 normal. maka massa tersebut patut dicurigai suatu keganasan. Bila efusi pleura dan hasil sitologinya positif dimasukkan dalam stadium IV. Kista yang berukuran < 8 cm. Jika massa tersebut dicurigai . massa tersebut harus dicurigai sebagai neoplasma dan harus dilakukan pengangkatan secara operasi. Pada penderita pramenopause dengan massa kistik berukuran diameter lebih dari 8-10 cm. Pada wanita pascamenopause. Berek mengambil batasan ukuran kista 8 cm. kistik. yang bersiffat ganas. unilateral dan permukaan rata. Jika ditemukan massa kistik berukuran 5-7 cm pada usia reproduksi kemungkinan kista tersebut suatu kista fungsional yang akan mengalami regresi dalam masa 4-6 minggu kemudian. Jika massa tersebut bukan neoplasma. massa tersebut akan menetap atau mengecil pada pemeriksaan panggul dan USG. bukan kista fungsional. kecuali jika penderita sebelum pemeriksaaan ini telah meminum klomifen sitrat atau obat-obat lain untuk induksi ovulasi. Bilateralitas pada kista jinak hanya ditemukan pada 5% kasus. Pengamatan dilakukan tidak lebih dari 2 bulan.6 Tanda dan gejala kanker ovarium Tanda paling penting adanya kanker ovarium adalah ditemukannya massa tumor di pelvis. pengamatan untuk waktu tertentu dapat dilakukan asalkan kista tersebut tidak dicurigai ganas.Pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. evaluasi lebih lanjut perlu dilakukan untuk menyingkirkan keganasan. bila tumor sebesar ini ditemukan pada pemeriksaan pelvis. Pada penderita pascamenopause dengan kista unilateral berukuran kurang dari 8-10 c. sangat mungkin kista tersebut neoplasma. Bila tumor tersebut padat. ovarium akan menjadi atropi dan pada pemeriksaan panggul tidak dapat diraba. jika kista tersebut berukuran > 8 cm. Oleh karena itu. Jika makin besar. pengamatan untuk waktu tertentu dapat dilakukan. keganasan perlu dicurigai. Penelitian pada penderita kelompok ini menunjukkan bahwa hanya 3% dari massa yang teraba di pelvis tersebut yang berukuran kurang dari 5 cm. khususnya pada wanita yang berusia > 40 tahun. Pada penderita pramenopause. Keadaan ini dahulu disebut postmenopausal palpable syndrome. Begitu juga metastasis parenkim hati. tumornya berdiameter > 5 cm. dapat dianggap kista fungsional jika pada pemeriksaan ginekologi ditemukan kista yang mudah digerakkan. keganasan hampir dapat dipastikan. Menurut Piver perhatian khusus harus diberikan jika ditemukan kista ovarium berdiameter > 5 cm karena pada 95% kasus kanker ovarium. Jadi bila pada usia ini teraba massa di pelvis. besar kemungkinan bahwa kista itu suatu neoplasma. 2. bentuknya irregular dan terfiksir ke dinding panggul.

2.ganas. dan linfadenoktomi kelenjar getah bening pelvis dan para aorta. dengan tanda-tanda massa besar. lengket dengan sekitarnya. dan surgical staging. biopsy peritoneum. omentektomi. Bila pada eksplorasi secara visual dan palpasi tidak ditemukan penyebarana makroskopis dari kanker.7 komplikasi kanker ovarium Obstruksi usus merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kasus tingkatan lanjut yang dikelola dengan melakukan reseksi usus sekali atau beberapa kali untuk melakukan by pass bila kondisi penderita mengizinkan (ilmu kandungan Sarwono Prawirohardjo : 407). Insisi mediana melewati umbilicus sampai diperoleh kemudahan untuk melakukan eksplorasi rongga abdomen atas. Prosedur standar yang harus dilakukan adalah: 1. hemi difragma kanan dan kiri.8 pemeriksaan medis pada kanker ovarium Penatalaksanaannya adalah terdiri dari histerektomi totalis perabdominam. 4. penyebaran mikroskopis harus dicari dengan melakukan pemerikasaan mikroskopis cairan peritoneum. dominan padat. Dilakukan pada lokasi Cul de sac. Surgical staging adalah suatu tindakan bedah laparatomi eksplorasi yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perluasan suatu kanker ovarium dengan melakukan evaluasi daerah-daerah yang potensial akan dikenai perluasan atau penyebaran kanker ovarium. fosa parakolika kanan dan kiri dan subdiafragmadiambil sebanyak 20-50 cc untuk pemeriksaan sitologi. palakolika kanan dan kiri. Contoh asites atau cairan di cavum dauglas. 2. salpingoooforektomi bialteralis. Bila tidak ada asites atau cairan di cavum dauglas.pembilasan peritoneum harus dilakukan dengan memasukkan 50-100 cc larutan faal. Kemudian cairan itu diambil kembali dengan lat suntik tadi. Teknik Surgical Staging Pada penderita tumor ovarium yang dicurigai ganas insisi abdomen hendaklah insisi mediana atau paramedian yang cukup luas agar memudahkan melakukan eksplorasi rongga perut bagian atas. Temuan pada surgical staging akan menetukan stadium penyakit dan pengobatan adjuvant yang perlu diberikan. Dapat diakukan dengan alat suntik 20 cc atau 50 cc yang ujungnya telah disambung dengan kateter. dan bentuknya tidak teratur. 2. 3. LAkukan Eksplorasi sistemik . apendektomi. tindakan laparatomi harus segera dilakukan.

jika ada langkah-langkah yang ditinggalkan. Penelitian GOG III oleh McGuire dan kawan-kawan pada kasus dengan suboptimal debulking memperlihat bahwa pemberian 6 siklus kombinasi sisplatin (75 mg/m 2) dan paklitaksel (135 mg/m2) memberikan hasil yang lebih baik daripada kombinasi sisplatin (75 mg/m 2) dan siklofosfamid (600 mg/m2). dilanjutkan untuk pengangkatan seluruh genitalia interna engan histerektomi total dan salpingooofarektomi bilateral. karboplatin. generasi kedua golongan platinum. Data dari penelitian GOG III ini diperkuat oleh penelitian gabungan dari EORTC (European Organization for the Reseach and Treatment of Cancer). Kemudian. Pada penelitian ini kelompok yang mendapat terapi kombinasi dengan paklitaksel. kurang menimbulkan nausea. Limpadenoktomi sistematik kelenjar getah bening pelvis dan para aorta 4. Biopsi perlengketan organ peritoneal 3. Untuk stadium I atau lanjut dapat diberikan kemoterapi tunggal atay kombinasi. Bila hasil potong beku ternyata ganas. dipakai pula untuk kemoterapi adjuvant. Kemoterapi kombinasi yang mengandung paklitaksel mengurangi mortalitas sebanyak 36%. 7. meskipun lebih toksis terhadap sumsum tulang. memberikan perbaikan yang signifikan pada progression free survival dan overall survival. 6. Sebaliknya. Biopsi peritoneum: kavum Douglas. Tumor ovarium diangkat sedapatnya in toto dan dikirim untuk pemeriksan potong beku (frozen section). NOCOVA (Nordic Ovarian Cancer Study Group) dan NCIC ( National Cancer Institute of Canada) pada penderita dengan optimal debulking dan suboptimal debulking. disebut incomplete surgical staging. Apendektomi jika tumor jenis musinosum Jika tindakan surgical staging dilakukan dengan benar disebut dengan complete surgical staging.5. paravesika urinaria parakolika kanan dan subdiafragma 2. omentektomi 5. . Untuk mengetahui adanya mikrometastasis dilakukan: 1. 2. yang mempunyai pengaruh sama terhadap kanker ovarium tetapi kurang toksis terhadap system saraf dan ginjal.9 penatalaksanaan Kemoterapi Sejak tahun 1980 kemoterapi dengan cysplatin-based telah dipakai untuk pengobatan kanker ovarium stadium lanjut.

sedangkan intraperitoneal radiokoloid 32P memberikan disease free survival 16% (p<0. Dengan terjadinya angiogenesis. Radioterapi Radiasi seluruh abdomen atau intaperitoneal radiokoloid dapat menjadi terapi alternatif pengganti kemoterapi kombinasi pada kasus-kasus tertentu kanker ovarium stadium rendah. platimun based chemotherapy memberikan 84% disease free survival. akan terjadi pertumbuhan progresif tumor. membutuhkan neovaskularisasi. memberikan survival yang tidak berbeda. Penelitian GOG 158 membandingkan efektivitas terapi kombinasi karboplatin AUC 7. Angiogenesis ini terutama dipicu oleh vascular endothelial growth factor (VEGF). Neovaskularisasi ini juga kelak dapat menjadi jalur perjalanan metastasis sel kanker. Pertumbuhan tumor padat untuk menjadi besar dari 1 mm 3. dan terjadinya rekurensi. Penggunaan obat . metastasis.01).5 dan paklitaksel 175/m2 dengan kombinasi sisplatin 75 mg/m 2 dan paklitaksel 135mg/m2. Toksisitas gastrointestinal dan neurotoksisitas dari kelompok yang mendapat karboplatin lebih ringan daripada yang mendapat sisplatin. protokol kemoterapi yang dianjurkan untuk kanker ovarium stadium lanjut adalah kombinasi paklitaksel dan karboplatin. Dari beberapa penelitian oleh GOG dan penelitian multisenter di Italia disimpulkan bahwa pemberian kemoterapi intraperitoneal radiokoloid 32P bila dibandingkan dengan kemoterapi melfalan. Pemakaian gamma interferon dengan sisplatin dan siklofosfamid tampaknya bermanfaat. Oleh karena itu. Akan tetapi. Begitu juga penggunaan antibody monoclonal seperti herseptin her-2/neu sudah dilakukan oleh GOG dan ternyata responnya rendah. Terapi Biologi dan Imunologi Konsep dasar terapi biologi dan imunologi adalah dengan meningkatkan respons imunologi.baik pada kelompok penderita dengan optimal debulking maupun pada kelompok penderita dengan suboptimal debulking. Berdasarkan penelitian-penelitian diatas. Penelitian penggunaan gamma interferon pada kemoterapi kombinasi karboplatin dan paklitaksel saat ini sedang berlangsung. maka akan terjadi regresi tumor. Penelitian ini menghasilkan angka survival yang sama tetapi toksisitas kemoterapi pada kelompok yang mendapat karboplatin lebih ringan dari kelompok yang mendapat sisplatin. disimpulkan bahwa platimun based chemotherapy dianjurkan untuk digunakan pada terapi kanker ovarium stadium tendah. Radiasi seluruh abdomen juga tidak bermanfaat pada kanker ovarium stadium rendah sehingga dianjurkan untuk tidak digunakan lagi.

10 Asuhan keperawatan pada pasien kanker ovarium . Terapi Hormon Tidak ada bukti penggunaan terapi hormone saja merupakan terapi primer yang bermanfaat pada kanker ovarium stadium lanjut. yaitu anti VEGT (bevasizumab). 2. Dengan terhambatnya angiogenesis. Pada saat ini sudah ditemukan antibody monoclonal yang menghambat reseptor VEGF. pertumbuhan tumor akan terhambat dan akhirnya akan terjadi regresi tumor.antiangiogenesis tampaknya member harapan.

.

. Riwayat pribadi menderita kanker kolon. Pada anak dan remaja. 2. yang teridentifikasi hanya dijumpai pada 5% wanita yang mengidap kanker ovarium. meski faktor genetik  1. 2009. Buku Saku Patofisiologi. atau endometrium DAFTAR PUSTAKA Corwin. payudara. 3. meminum alkohol Polutan lingkungan Riwayat dua orang dalam satu tingkat silsilah keluarga mengalami kanker payudara atau kanker ovarium ( risiko 50% ) 5.BAB III 3.1 Kesimpulan  Kanker Ovarium biasanya berasal dari sel epitel dan berkaitan dengan pajanan estrogen seumur hidup. 4. Kanker Ovarium terjadi pada wanita yang keluaga dekatnya mengidap kanker payudara atau ovarium. kanker ovarium dapat berkembang dari sel-sel germinativum (ova). Jakarta : EGC. Elizabeth J. yang mungkin berkaitan predisposisi genetik. Faktor resiko : Diet tinggi lemak ( resiko ganda ) Merokok.

Kmb 2.Haryani. . Bandung : CAKRA. Anatomi Fisiologi Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.Andra Saferi. Wijaya. Ani Dkk. 2009. 2013.