You are on page 1of 11

PROLAPSUS UTERI

BAB I
TINJAUAN TEORI
A.

PENGERTIAN
Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh karena kelemahan otot
atau fascia yang dalam keadaan normal menyokongnya. Atau turunnya uterus melalui dasar
panggul atau genitalis (Wiknjosastro, 2007).
Prolapsus uteri adalah suatu hernia, dimana uterus turun melalui hiatus genitalis. Prolapsus
uteri lebih sering ditemukan pada wanita yang telah melahirkan, wanita tua dan wanita yang
bekerja berat. Pertolongan persalinan yang tidak terampil seperti memimpin meneran pada saat
pembukaan rahim belum lengkap, perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan lemahnya
jaringan ikat di bawah panggul kendor, juga dapat memicu terjadinya prolapsus uteri.
Prolapsus uteri adalah suatu keadaan yang terjadi akibat otot penyangga uterus menjadi
kendor sehingga uterus akan turun atau bergeser ke bawah dan dapat menonjol keluar dari
vagina. Pada kasus ringan, bagian uterus turun ke puncak vagina dan pada kasus yang sangat
berat dapat terjadi protrusi melalui orifisium vagina dan berada di luar vagina. (Marmi, 2011)

B.

ETIOLOGI
Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya prolapsus uteri antara lain:
1.
Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus dengan penyulit merupakan
penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk prolaps yang sudah ada. Faktor-faktor lain
adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap. Bila prolapsus uteri dijumpai pada
nulipara, faktor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang
uterus (Wiknjosastro, 2007).
2.
Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopouse. Persalinan yang lama dan
sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pad kala II,
penatalaksanaan pengeluaran plasenta, reparasi otot-otot dasar panggul yang tidak baik. Pada
menopouse, hormon estrogen telah berkurang sehingga otot-otot dasar panggul menjadi atrofi
dan melemah (Wiknjosastro, 2007).
C.

PATOFISIOLOGI
Prolapsus uteri terdapat dalam beberapa tingkat, dari yang paling ringan sampai prolapsus
uteri totalis. Terutama akibat persalinan, khususnya persalinan per-vaginam yang susah dan

2011) E. prolapsus dibagi menjadi : 1. biasanya jika penderita berbaring. kemudian lebih berat pada malam b. KLASIFIKASI Menurut beratnya. dijumpai menurut Wiknjosastro. hanya di belakang urethra ada lubang. 2007). Prolapsus tingkat II : prolapsus uteri dimana serviks menonjol keluar dari introitus vagina 3. Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum urethra. Prolapsus tingkat I : prolapsus uteri dimana serviks uteri turun sampai introitus vagina 2. yang membuat kantong antara urethra dan vagina (Wiknjosastro. (Marmi. dan lambat laun menimbulkan ulkusyang dinamakan ulkus dekubitus. Mula-mula pada siang hari. Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetrik. terutama apabila tonus-tonus mengurang seperti pada penderita dalam menopouse (Wiknjosastro. menjadi kurang Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala: Miksi sering dan sedikit-sedikit. TANDA DAN GEJALA Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual. Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun. keluhan menghilang dan 3. Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja. Serviks uteri terletak di luar vagina akan bergeser oleh pakaian wanita tersebut. dimana seluruh uterus keluar dari vagina). dapat menjadi besar karena persalinan berikutnya yang kurang lancar atau yang diselesaikan dalam penurunan dan meyebabkan urethrokel. Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan meningkatkan dan memudahkan penurunan uterus. serta fasia-fasia dasar panggul. hari Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya . D. Pada divertikulum keadaan urethra dan kandung kencing normal. 2.terdapatnya kelemahan-kelemahan ligamen yang tergolong dalam fasia endopelvik dan otot-otot. 2007). a. Prolapsus tingkat III : prolapsus totalis (prosidensia uteri. sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan. ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding depan ke belakang yang disebabkan sistoke. Keluhan-keluhan yang hampir sering 1. 2007: Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol Rasa sakit di pinggul dan pinggang. Kekendoran fasia di bagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetrik atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rektum ke depan dan menyebabkan dinding ke belakang vagina menonjol ke lumen vagina yang dinamakan rektokel (Wiknjosastro. 2007).

Kadang- 4. Dekubitus . karena itu mukosa vagina G. Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan. 2007). memanjang dari proksimal ke distol. a) b) 5. b. Lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena infeksi serta luka pada 6. Entrokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa penuh di vagina F. Menegakkan diagnosis rektokel mudah. Keratinisasi mukosa vagina dan porsio uteri. yaitu menonjolnya rektum ke lumen vagina sepertiga bagian bawah. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk dan mengejan. Pada pemeriksaan rektal. dekat dengan orifisium uretra eksternum (Wiknjosastro. 2007). DIAGNOSIS Keluhan-keluhan penderita dan pemeriksaan ginekologik umumnya dengan mudah dapat menegakkan diagnosis prolapsus genitalis. dinding rektum lurus. dapat diraba kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina. dan serviks uteri menjadi tebal serta berkerut dan berwarna keputih-putihan. Urethrokel letaknya lebih ke bawah dari sistokel. 2. Entrokel menonjol ke lumen vagina lebih atas dari rektokel. Friedman dan Little menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut: Penderita dalam posisi jongkok disuruh mengejan dan ditentukan dengan pemeriksaan dengan jari. ditentukan pula panjangnya serviks uteri. komplikasi yang dapat menyertai prolapsus uteri adalah : 1. 2007). a. kadang dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi Obstipasi karena feses berkumpul dalam rongga retrokel Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel vagina Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut: Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita saat berjalan dan beraktivitas. Gesekan portio uteri oleh celana dapat menimbulkan lecet hingga dekubitus pada porsio. kateter itu diarahkan ke dalam sistokel. Prosidensia uteri disertai dengan keluarnya dinding vagina (inversio).c. portio. selanjutnya dapat diraba dinding rektokel yang menonjol lumen vagina. Untuk memastikan diagnosis. Pada sistokel dijumpai di dinding vagina dengan benjolan kistik lembek dan tidak nyeri tekan. apakah portio sampai introitus vagina atau apakah serviks uteri sudh keluar dari vagina. Serviks uteri yang lebih panjang biasanya dinamakan elongsio kolli (Wikjosastro. kistik dan tidak nyeri. Selanjutnya dengan penderita berbaring denga posisi litotomi. ada benjolan ke vagina terdapat di atas rektum (Wikjosastro. Jika dimasukkan ke dalam kandung kencing kateter logam. KOMPLIKASI Menurut Wiknjosastro (2007). jari dimasukkan rektum. Penonjolan ini berbentuk lonjong.

tidak mudah terjadi kehamilan. Haemoroid Feses yang terkumpul dalam rektokel memudahkan adanya obstipasi dan memicu timbulnya haemoroid. sedangkan jaringan penahan dan penyokong uterus masih kuat. Inkarserasi usus halus Usus halus yang masuk ke entrokel dapat terjepit dengan kemungkinan tidak dapat direposisi lagi. lebih-lebih pada penderita usia lanjut. maka karena tarikan ke bawah di bagian uterus yang turun serta pembendungan pembuluh darah serviks uteri mengalami hipertrofi dan menjadi panjang dengan periksa lihat dan raba. 8. Adanya sistokel dapat pula mengubah bentuk sudut antara 5. Sistitis yang terjadi dapat meluas ke atas dan dapat menyebabkan pielitis dan pielonefritis. Cara ini dilakukan pada prolapsus uteri rinagn tanpa keluhan atau penderita masih ingin mendapatkan anak lagi atau . Turunnya uterus bisa juga menyempitkan ureter. sehingga bisa menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis. Hipertofi serviks dan Elangasio Kolli Jika serviks uteri turun dalam vagina. H. 6. 7. Dalam keadaan demikian. Dalam hal ini perlu dilakukan laparatomi untuk membebaskan usus yang terjepit itu. mudah menimbulkan infeksi. sehingga kemajuan persalinan menjadi terhalang. Pemeriksaan sitologi/biopsi perlu dilakukan untuk mendapatkan kepastian akan adanya 3. hal ini dapat menyebabkan luka dan radang dan lambat laun timbul ulkus dekubitus. maka pada waktu persalinan akan timbul kesulitan saat kala pembukaan. Gangguan miksi dan stress incontinence Pada sistokel berat. karsinoma. PENATALAKSANAAN Penatalakasanaan Medis Pengobatan cara ini tidak begitu memuaskan tapi cukup membantu. Kemandulan Karena serviks uteri turun sampai dekat pada introitus vagina atau sama sekali keluar dari vagina.Jika serviks uteri terus keluar dari vagina. Infeksi jalan kencing Adanya retensi air kencing. 4. sehingga kandung kencing tidak dapat dikosongkan sepenuhnya. miksi kadang-kadang. 1. 9. Pada elangasio kolli serviks uteri serviks uteri pada periksa raba lebih panjang dari biasa. kandung kencing dan uretra yang dpat menimbulkan stress incontinence. Akhirnya hal itu dapat menyebabkan gagal ginjal. Kesulitan saat partus Jikaa wanita dengan prolapsus uteri hamil. perlu dipikirkan kemungkinan karsinoma. ujungnya bergeser dengan paha dan pakaian dalam.

Menurut Freud (1993. Maka. dalam semion 2006) menyatakan bahwa kecemasan merupakan keadaan perasaan afektif yang tidak menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya yang akan datang. f. gangguan pencernaan. mudah terkejut. terutama yang terjadi pada pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. jika pessarium diangkat. Takut sendirian.penderita menolak untuk dioperasi atau kondisinya tidak memungkinkan untuk dioperasi (Wiknjosastro. timbul prolapsus lagi. Merasa tegang. jantung berdebar-debar. firasat buruk. Keluhan somatik. a. b. anxietas antara lain : Cemas. gangguan perkemihan dan sakit kepala. . I. Pengobatan dengan pessarium Pengobatan dengan pessarium ini sebenarnya hanya bersifat paliatif. keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami a. Gangguan pola tidur. jika dilakukan pembedahan untuk prolapsus uteri. misalnya rasa sakit pada otot dan tulang. Menurut Ermawati. 2009. pendengaran berdengung. mudah tersinggung. tidak tenang. e. dkk. bagian bawah. Latihan otot-otot dasar panggul Latihan ini sangat berguna pada prolapsus uteri ringan. elektrodenya dapat dipasang dalam pessarium yang dimasukkan ke dala vagina. prolapsus vagina perlu ditangani juga. c. Oleh karena itu. takut pada keramaian dan banyak orang. KONSEP DASAR KECEMASAN 1. c. Prinsip pemakaian pessarium adalah mengadakan tekanan pada dinding vagina bagian atas. 2007). 2. takut akan pikirannya sendiri. Ada kemungkinan terdapat prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan padahal tidak terdapat prolapsus uteri. yakni menahan uterus di tempatnya selama dipakai. Tujuannya untuk menguatkan otot-otot dasar panggul dan b. Penatalaksanaan Operatif Prolapsus uteri biasanya disertai prolapsus vagina. gelisah. d. Tanda dan gejala kecemasan Menurut Hawari (2008). Stimulasi otot-otot dengan alat listrik Kontraksi otot-otot dasar panggul dapatt ditimbulkan dengan alat listrik. khawatir. otot-otot yang memepengaruhi miksi. ancietas merupakan respon emosional dan penilaian individu yang subyektif dipengaruhi oleh alam bawah sadar dan belum diketahui secara khusus faktor penyebabnya. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat. sehingga bagian dari vagina tersebub beserta uterus tidak dapat turun dan melewati vagina 2.

bromazepam. Terapi psikofarmako : diazepam. tekanan darah meningkat. karakteristiknya : Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja. Respon perilaku . Riwayat kebidanan . tidur yang c. bicara banyak dan lebih cepat. Biodata Prolapsus uteri lebih sering ditemukan pada wanita yang telah melahirkan. Upaya peningkatan kekebalan terhadap stress : makan yang bergizi dan seimbang. karakteristiknya : Respon biologis. 1) 2) 3) 4) cukup. nadi dan tekanan darah naik. tidak minum-minuman keras. biasanya jika penderita berbaring. sering nafas pendek. keluhan menghilang dan menjadi kurang c. lorazepam. sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan. Tingkat kecemasan : Menurut Asmadi (2008) tingkat kecemasan dibagi menjadi 3. c. lapang persepsi menyempit. 1) 2) 3. clobazam. kembali). komunikasi terganggu 4. susah tidur. J. yang bekerja berat. re-edukatif (pendidikan ulang).a. 2007) Keluhan utama Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual. Kecemasan berat. Terapi psikoreligius : untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan kekebalan daya tahan dalam menghadapi problem kehidupan. Respon kognitif : lapang persepsi sempit. karakteristiknya : Berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa sehari-hari Kewaspadaan meningkat Tidak dapat duduk tenang. 1) 2) 3) b. (Wiknjosastro. antara lain: Kecemasan ringan. cukup olahraga. tampak tegang. tidak merokok. Psikoterapi : suportif (motivasi). Respon fisiologis : nafas pendek. PENGKAJIAN DATA 1. 3) Respon perilaku dan emosi : gerakan tersentak-sentak. Keluhan-keluhan yang hampir sering 1) 2) dijumpai menurut Wiknjosastro. Data Subyektif a. sakit kepala. 2007: Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol Rasa sakit di pinggul dan pinggang. tremor halus pada tangan Kecemasan sedang. wanita tua dan wanita b. Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun. re-konstruktif (memperbaiki d. b. sering berkemih. Respon kognitif : memusatkan perhatian pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. tidak mampu berfikir berat. terlihat lebih tegas. Penatalaksaan kecemasan : Menurut Hawari (2008) : a.

kemudian lebih berat pada malam d. riwayat operasi pada area tersebut.1) Haid Awal menstruasi (menarche) pada usia 11 tahun atau lebih muda.5 RR = 16-24x/mnt Pemeriksaan fisik Muka . reparasi otot-otot dasar panggul yang tidak baik. penatalaksanaan pengeluaran plasenta. 2007). Siklus haid tidak teratur. Mula-mula pada siang hari. c. hormon estrogen telah berkurang sehingga otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah (Wiknjosastro. Bila prolapsus uteri dijumpai pada nulipara. berat 3) badan berlebih. 1) Gesekan portio uteri oleh celana dapat menimbulkan lecet hingga dekubitus pada porsio. b. Persalinan yang lama dan sulit. 1) b) c) hari Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk dan mengejan. Riwayat kehamilan Faktor resiko yang menyebabkan prolaps uteri jumlah kelahiran spontan yang banyak. 2010:346). faktor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus (Wiknjosastro.5-37. Riwayat persalinan Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering. Kadang- kadang dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi a) Obstipasi karena feses berkumpul dalam rongga rektokel b) Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada rektokel vagina 2) Aktivitas dan istirahat Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita saat berjalan dan beraktivitas. nyeri 2) haid luar biasa. 2007). batuk dalam jangka waktu lama saat hamil. laserasi dinding vagina bawah pad kala II. partus dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk prolaps yang sudah ada. Pola kebiasaan sehari-hari Eliminasi Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala: a) Miksi sering dan sedikit-sedikit. Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap. a. Pada menopouse. Data Obyektif Keadaan umum lemah Tanda-tanda vital TD = 110/70-130/90 mmHg N = 60-90x/mnt S = 36. nyeri panggul setelah haid atau senggama (Wiknjosastro. 2. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopouse. meneran sebelum pembukaan lengkap.

Teraba adanya massa pada perut bagian bawah konsisten keras/kenyal. bagian bawah. 4) Abdomen Adanya benjolan pada perut bagian bawah (Sastrawinata. Kemungkinan masalah yang timbul: 1... K. bagian uterus turun ke puncak vagina dan pada kasus yang sangat berat dapat terjadi protrusi melalui orifisium vagina dan berada di luar vagina. Pada pemeriksaan Sondage didapatkan cavum uteri besar dan rata (Sastrawinata.. S. bau kelon pada mulut jika terjadi shock hipovolemik 3) hebat. 1981 : 161). Pada klien yang disertai rasa nyeri klien tampak 2) meringis. keadaan jantung tidak abnormal. P10001. tidak sakit. keluar keringat dingin bila terjadi syok.. Potensial ulkus dekubitus L.. Nyeri perut akibat penurunan uterus 3. 7) Ekstremitas Oedem pada tungkai bawah oleh karena adanya tekanan pada vena cava inferior (Sastrawinata. Mulut Mukosa bibir dan mulut tampak pucat.. PERENCANAAN Diagnosa : Ny. (Manuaba.. Pada pemeriksaan bimanual akan teraba benjolan pada perut. usia.. tidak teratur.. 6) Anus Akan timbul haemoroid. prognosa baik. 1981 : 159). usia 33 tahun dengan prolapsus uteri. Prognosa baik. Proses pengobatan berjalan lancar dan tidak terjadi komplikasi . Dada dan payudara Gerakan nafas cepat karena adanya usaha untuk memenuhi kebutuhan O 2 akibat kadar O2 dalam darah yang tinggi. 1981 : 158).. luka dan varices pecah karena keadaan obstipasi akibat penekanan mioma pada rectum. 5) Genetalia Pada kasus ringan.tahun dengan prolapsus uteri.. gerakan. Cemas 2.. Tujuan : KU baik. KU baik.. 2006 : 344).Tampak pucat pertanda adanya anemia. tetapi kadang-kadang ditemui nyeri (Sastrawinata. 1998 : 410). Bila perdarahan konjungtiva tampak anemis.. DIAGNOSA KEBIDANAN P. 1981 : 160). terletak di garis tengah maupun agak kesamping dan sering kali teraba benjolan-benjolan dan kadang-kadang terasa sakit (Wiknjosastro.

kesadaran composmentis TTV dalam batas normal TD : 110/70 – 130/90 mmHg S : 36. dan keluhan yang dirasakan ibu R/ Sebagai deteksi dini jika ada komplikasi (Wiknjosastro. TTV. 2007) Masalah 1 : Cemas Tujuan : Ibu tidak merasa cemas lagi Kriteria hasil : Cemas berkurang. Masalah II Tujuan Kriteria hasil : : : Nyeri akibat penurunan uterus Nyeri berkurang KU baik. 6. 2008). 4.50C N : 60-90 kali/menit R : 16-24 kali/menit Ibu tidak merasakan nyeri pada perut bagian bawah Intervensi . 2. 5. 4.Kriteria hasil 1. Intervensi Kaji tingkat kecemasan pasien R/ Mengetahui seberapa besar kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan Jelaskan prosedur dalam operasi R/ Pasien mengerti apa tindakan yang akan dilakukan pada dirinya Motivasi pasien dalam pembedahan yang akan dilakukan R/ Pasien lebih tenang dalam menghadapi operasi Hadirkan keluarga untuk memberikan dukungan R/ Dukungan dari keluarga mengurangi tingkat kecemasan ibu. 3.5-37. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian therapi R/ Untuk pemberian therapi yang tepat Observasi KU.5 RR = 16-24x/mnt Intervensi Bina hubungan baik dengan ibu R/ Ibu merasa nyaman dan lebih kooperatif dengan petugas Jelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu R/ Ibu mengetahui kondisi dirinya Lakukan pemasangan infus R/ Agar ibu tidak kekurangan cairan saat operasi berlangsung Lakukan pemasangan dower cateter R/ Dower cateter harus dipasang untuk pasien yang akan menjalani pembedahan atau operasi. 3. ekspresi wajahnya tenang. 1. : KU ibu baik TTV dalam batas normal : TD = 110/70-130/90 mmHg N = 60-90x/mnt S = 36. 2.50C – 37. (Hawari. 5. Observasi tanda-tanda vital R/ Cemas merangsang pengeluaran adrenalin sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan nadi.

Di dalam tahap ini perlu mendapatkan perhatian di dalam tahap 1. 3. R/ Mengalihkan perhatian ibu agar tidak terpaku pada nyeri yang dirasakan. R/ Hasil pemeriksaan dijelaskan agar ibu lebih kooperatif dalam pengambilan tindakan. 4. Lakukan pemeriksaan sitologi/biopsi. langkah selanjutnya adalah implementasi atau pelaksanaan tindakan. 2. yang telah ditetapkan. tindakan. maka tindakan akan mendekati keberhasilan yang diharapkan evaluasi dengan pendekatan SOAP menurut Depkes (1994:7-10) yaitu: S : Data subyektif . Tentukan adanya lokasi dari ketidaknyamanan dan kaji skala nyeri. 3. Tidak terjadi lesi ataupun peradangan Intervensi Jelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu. EVALUASI Bidan melakukan evaluasi sesuai yang telah ditetapkan di dalam rencana.1. efektif. R/ Persiapan operasi yang baik dapat berpengaruh pada kelancaran operasi. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgetik. PELAKSANAAN Setelah menyusun perencanaan.1995:11) adalah Intervensi yang dilakukan harus berdasarkan prosedur tetap yang lazim dilakukan. implementasi (Depkes. M. Pengamatan yang telah dilakukan secara cermat dan tepat sesuai dengan kriteria dan evaluasi 3. Pengendalian kepada klien/pasien sehingga secara berangsur-angsur mencapai kondisi yang diharapkan. 2007) Masalah III Tujuan Kriteria hasil : Potensial ulkus decubitus : Tidak terjadi ulkus decubitus :Tidak terjadi gesekan antara ujung serviks dan paha. hemat dan berkualitas. 2. Semakin dekat hasil tindakan yang dilakukan dengan asuhan yang telah ditetapkan di dalam kriteria. 2. Pelaksanaan tindakan selalu diupayakan di dalam waktu yang singkat. R/ Mengidentifikasi kebutuhan khusus dan intervensi yang tepat. N. Ajarkan pada ibu teknik distraksi dan relaksasi. Pada langkah ini bidan melakukan secara mandiri. perlu dilakukan kegiatan kolaborasi. Lakukan persiapan operasi reposisi uterus. Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital R/ Sebagai deteksi dini jika ada komplikasi. R/ Analgetik mengurangi rasa nyeri (Wiknjosastro. R/ Pemeriksaan sitologi/biopsi dilakukan untuk mendapatkan kepastian adanya karsinoma 1. tetapi bila terjadi kegawatandaruratan.

Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien O melalui anamnesa. : Assesment Menggambarkan interpretasi data subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi. hasil laboratorium dan tes diagnosa lain yang dirumuskan dalam data A P focus untuk mendukung assessment. Diagnosa/masalah Antisipasi diagnosa lain/masalah potensial : Planning Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan evaluasi berdasarkan assessment . : Data obyektif Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik.