You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Proses perlakuan panas adalah suatu proses yang diberlakukan pada logam,

dengan cara

memanaskan, kemudian menahan di temperatur tertentu, lalu di dinginkan (di quench) melalui media
pendingin tertentu, guna mendapatkan sifat mekanik yang diinginkan.
Pada baja hasil pengecoran, diberlakukan suatu proses perlakuan panas berupa normalizing guna
menghilangkan struktur widmanstatten (struktur kasar pasca pengecoran), karena struktur widmanstatten
tersebut dapat membuat sebuah baja menjadi rapuh.
Pada praktikum kali ini digunakan baja VCN, yang merupakan baja paduan dengan karbon
menengah yang diberlakukan proses perlakuan panas berupa normalizing dan hardening (quench oli),
dimana waktu penahanan yang diberlakukan yakni selama 2 jam, guna mengetahui efek setelah perlakuan
panas, pada kedua spesimen yang dapat diketahui dari hasil pengujian, yakni uji spektrometri, uji keras
dan uji metalografi sebelum proses perlakuan panas dan setelah proses perlakuan panas.
1.2 Tujuan dan Manfaat Pengujian
A. Tujuan Pengujian
Pengujian proses perlakuan panas (Heat treatment), dilakukan agar mahasiswa dapat:
1. Mengetahui prosedur proses perlakuan panas
2. Mengetahui bahan dan peralatan yang digunakan
3. Menjelaskan proses Heat treatment dan perubahan struktur mikro
4. Menjelaskan kaitan antara media pendingin, laju pendinginan, diagram TTT dan CCT
dengan proses perlakuan panas
B. Manfaat Pengujian
 Mengetahui langkah-langkah proses perlakuan panas, guna mendapatkan sifat logam yang
diinginkan.
 Mengetahui media pendingin yang tepat untuk memperoleh kekerasan material logam yang
diinginkan.
 Dapat mengaplikasikan penggunaan diagram TTT dan CCT untuk memprediksi perkiraan
struktur mikro hasil yang akan terjadi.
 Dapat membandingkan hasil struktur mikro yang terjadi, dengan hasil proses perlakuan panas
yang telah dilakukan.
1

 Dengan pengetahuan proses perlakuan panas, dapat diketahui sifat-sifat logam untuk
diterapkan pada bidang industri tertentu, terutama pada aplikasi pemilihan bahan dan produk.
 Mengetahui nilai ekonomis, keamanan dan kualitas material suatu produk hasil proses
perlakuan panas.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Teori Dasar
2.1.1 Pengertian Perlakuan Panas (Heat Treatment)
Perlakuan panas adalah salah satu proses untuk mengubah struktur logam dengan cara
memanaskan spesimen lalu menahan pada temperatur tertentu selama periode waktu tertentu kemudian
didinginkan pada media pendingin seperti udara, air, oli, yang tergantung dari sifat mekanik yang
diinginkan, karena media pendingin memiliki kerapatan yang berbeda, sehingga mempengaruhi struktur
mikro hasil yang akan terbentuk.

2

Sifat-sifat logam terutama sifat mekanik akan sangat dipengaruhi oleh struktur mikro disamping
proses kimianya, contohnya suatu logam atau paduan akan mempunyai sifat mekanis yang berbeda-beda
apabila struktur mikronya diubah. Dengan adanya pemanasan hingga suhu austenisasi lalu penahanan
pada temperatur tersebut kemudian pendinginan dengan kecepatan tertentu, maka bahan-bahan logam
atau paduan dapat memperlihatkan perubahan strukturnya yang mengakibatkan perubahan sifat mekanik
pada logam atau paduan tersebut.
2.1.2 Tujuan Proses Perlakuan Panas (Heat Treament)
Adapun tujuan khusus yang diinginkan dari suatu proses perlakuan panas adalah perubahan pada:
Sifat mekanik: Nilai kekerasan, mampu tarik, elongasi dari suatu material bisa didapatkan sesuai
dengan kebutuhan, melalui perubahan struktur mikro.
2.1.3 Material VCN
i.

Karakteristik material
Material VCN merupakan nama dagang, dari baja paduan Nickel, Crom dan
Molybdenum dengan kandungan karbon menengah. Material ini memiliki ketangguhan,
kekuatan serta keuletan yang baik dan memiliki kemampuan untuk dikeraskan yang

ii.

cukup baik, karena relatif bebas dari temper embrittlement.
Standard Ekuivalen
Thyssen 6582, DIN 34NiCrMo6, ASSAB 705, AISI 4340, JIS SNCM 439, Atlas Ultimo
200

iii.

Komposisi Kimia
C
0.38
0.43

Si
0.20
0.35

Mn
0.60
0.80

S
0.040

P
0.40

Ni
1.65

(Max)

(Max)

2.00

Cr
0.70

0.90

Mo
0.20
-0.30

Berikut adalah pengaruh dari penambahan unsur paduan terhadap sifat baja :
1. Karbon
Karbon merupakan unsur penting dalam proses pengerasan, hal ini dikarenakan
karbon yang akan bereaksi dengan fe (besi) yang akan membentuk karbida
(fe3c).dimana dengan meningkatnya jumlah karbon, kekuatan pada baja akan
naik, tetapi keuletan (ductility) dan sifat mampu las (weldability) menurun.
2. Mangan
Mangan merupakan austenite former, yang berfungsi sebagai deoxidizer dan
desulfurizer. Mangan merupakan unsur yang menguntungkan dalam kualitas
3

3.

permukaan (kecuali pada rimmed steel dengan kondisi karbon yang sangat
rendah), karena mangan dapat mengikat sulfide sehingga memperkecil
terbentuknya sulfida besi dan mereduksi resiko dari red-shortness atau kerentanan
terhadap timbulnya retakan saat pengerjaan panas.
Silikon
Silikon berfungsi sebagai deoxidizer. Silikon juga dapat menaikan hardenability
dalam jumlah yang sedikit, tetapi dalam jumlah yang banyak akan menurunkan
keuletan. Selain itu dengan silikon butiran ferrite lebih seragam.
Chrom
Chromium merupakan elemen penting setelah karbon. Chromium salah satu
unsur-unsur pembentuk karbida dan dapat meningkatkan ketahanan korosi dengan
membentuk lapisan pasifpada permukaanuntuk ketahanan reaksi oksidasi
Nikel
Nikel merupakan unsur pembentuk noncarbide pada baja.Nikel merupakan unsur
pembentuk austenite.Nikel meningkatkan mampu keras pada baja. Dimana, bila
dikombinasikan dengan Cr dan Mo akan menghasilkan sifat mampu keras,
ketangguhan (impact thoughness) dan fatigue resistance pada baja.
Molibden
Molybdenum dapat menguatkan fasa ferrit dan menaikan kekuatan baja tanpa
kehilangan keuletan.Unsur ini juga dapat berfungsi sebagai penyetabil karbida,
sehingga mencega pembentukan grafit pada pemanasan yang lama. Karena itu
penamabahan Mo kedalam baja dapat menaikan kekuatan dan ketahanan terhadap
creep pada suhu tinggi
Phospor
Phosfor dapat menaikan kekuatan dan kekerasan, tetapi juga menurunkan
keuletan dan ketangguhan impak.
Sulfur
Meningkatnya kandungan sulfur, dapat menyebabkan red shortness. Sulfur
mempunyai efek yang berbahaya terhadap transverse ductility, notch impact
thoughness, mampu las dan kualitas permukaan (terutama pada baja karbon yang
sangat rendah dan baja karbon dengan kandungan mangan yang rendah) tetapi
memiliki efek yang kecil terhadap longitudinal mechanical properties.

4.

5.

6.

7.

8.

iv.

Sifat Mekanik
Hardening Temp : 820 – 850 C
Ouenching Medium : Oil

v.

Hardness as Supplied : 220 – 250 BHN
Aplikasi
Automotive crankshafts and rear axle shafts, aircrafts crankshafts, Connecting Rods,
Propeller Hubs, Gears, Drive shafts, Landing gear parts and heavy duty parts of rock drill

2.1.4

Diagram Fasa
4

Diagram fasa sangat penting dalam melihat perubahan struktur lattice dan perubahan
struktur mikro. Dimana komponen yang paling pokok pada baja adalah besi, yang terdapat dalam
dua bentuk Kristal dibawah titik cair material. Pertama adalah bentuk BCC (Body Centered
Cubic) yang stabil diantara temperatur kamar hingga suhu 912°C (1675 °F) dan dari suhu
1394°C hingga titik cair material yakni suhu 1530°C (2785 °F), atau bisa dikenal bila terdapat
pada temperatur pembentukan, dikenal dengan alpha (ferrite) dan pada suhu yang tinggi dikenal
dengan delta iron. Sementara kedua adalah bentuk FCC yang terbentuk pada suhu austenite,
yaitu antara suhu 912°C hingga suhu 1394°C.
Baja memiliki kandungan karbon tertentu. Beberapa jenis baja memiliki sifat tertentu
akibat dari penambahan unsur paduan. Salah satu paduan yang paling penting adalah karbon.
Jenis baja yang memiliki paduan carbon, silicon, mangan, sulfur dan phosphor, disebut dengan
plain carbon steel. Karbon yang merubah transformasi fasa, struktur mikro dan sifat baja
tersebut. Dimana dari prosentase karbon kita dapat menentukan perubahan transformasi fasa,
struktur mikro dan sifat baja tersebut, juga dapat menentukan baja tersebut masuk kedalam
golongan tertentu, seperti low carbon steel, medium carbon steel dan high carbon steel. Berikut
adalah gambar diagram fasa fe3c :

Gambar 2.1 Diagram Fe3C
2.1.5

Struktur Mikro

Struktur mikro pada baja dapat dihasilkan sesuai yang diinginkan melalui proses
perlakuan panas, dimana struktur mikro tersebut diperoleh melalui proses pemanasan dan
pendinginan benda pada temperatur tertentu. Struktur mikro yang dihasilkan pada baja adalah
sebagai berikut :

5

1. Ferrit
Merupakan larutan padat karbon dan unsur paduan lainnya pada besi kubus pusat badan
Fe. Ferite terbentuk pada saat pendinginan yang lambat dari austenite baja hipoeutektoid pada
saat mencapai A3. Ferit memiliki kelarutan 0,025% C max. pada 723 oC, dimana pada saat
austenite didinginkan pada suhu dibawah A3 (723 C) austenite yang memiliki kandungan C yang
sangat rendah akan bertransformasi ke ferit. Ferit mempunyai struktur lattice BCC (Body
Centered Cubic), bersifat sangat lunak ulet dan memiliki kekerasan sekitar 60 HB serta memiliki
konduktifitas yang tinggi.
2. Sementit
Sementit adalah senyawa besi dengan karbon yang umumnya dikenal dengan karbida
besi dengan rumus kimianya yaitu Fe3C dengan prosentase karbon pada sementit yaitu sekitar
6.67%. Sel satuannya orthorombik dan bersifat keras dengan harga kekerasannya yaitu sekitar
65-68 HRC.
3. Pearlit
Adalah lapisan ferrit dan sementit (88 % ferit dan 12 % sementit), yang memiliki
kekerasan sekitar 10-30 HRC. Jika baja hipoeutektoid diaustenisasi dan didinginkan cepat ke
suatu temperature dibawah A1 dan dibiarkan terjadi transformasi isothermal maka austenite akan
mengurai dan membentuk perlit melalui proses pengintian (nukleasi) dan pertumbuhan. Perlit
yang terbentuk berupa campuran ferit dengan sementit yang tampak seperti pelat-pelat yang
tersusun bergantian.
4. Bainit
Bainit merupakan fasa yang kurang stabil (metastabil) yang diperoleh dari austenite pada
temperature yang lebih rendah dari temperature transformasi ke perlit dan lebih tinggi dari
temperature transformasinya ke martensit. Kekerasannya bervariasi antara 45-55 HRC yang
tergantung pada temperature transformasinya. Ditinjau dari suhu transformasinya, jika terbentuk
pada suhu yang relative tinggi disebut dengan upper bainit, dan jika terbentuk pada suhu yang
lebih rendah disebut dengan lower bainit. Struktur upper bainit seperti perlit yang sangat halus,
sedangkan lower bainit meyerupai martensit temper.
5. Austenit
Merupakan fasa yang memiliki struktur lattice kristal FCC (Face Centered Cubic) dengan
karakteristik relatif lunak dan terletak pada medium tempemperatur. Terletak pada stable
equilibrium phase, yang memiliki sifat fisik, volume spesifik 0,1265 cm 3/g bersifat
paramagnetik dan tahan karat.
6. Martensit
Martensit merupakan larutan padat dari karbon yang lewat jenuh pada besi alfa sehingga
latis-latis sel satuannya terdistorsi. Sifatnya sangat keras dan diperoleh jika baja dari temperature
austenisasinya didinginkan dengan laju pendinginan yang cepat.
7. Martensit Temper
Sesaat kondisi benda setelah quenched, dengan struktur hasil martensit, kondisinya akan
sangat keras dan rapuh, yang mana kurang dapat digunakan pada kebanyakan aplikasi karena
terbentuknya tegangan dalam. Kegetasan dan kerapuhan struktur yang terbentuk dapat
6

ditanggulangi dengan proses tempering. Tempering yang dilakukan dengan cara memanaskan
kembali baja martensit pada suhu dibawah temperatur eutectoid.
8. Austenit Sisa
Pada baja, austenit stabil pada temperatur diatas A3 dan Acm. Pada saat didinginkan dari
temperatur tersebut, menjadi tidak stabil karena berdisosiasi menjadi beberapa produk baru.
Produk baru yang terbentuk sangat erat kaitannya dengan laju pendinginan dan komposisi kimia
dari baja yang diproses. Jika laju pendinginannya rendah, hasil dari transformasi adalah perlit
atau bainit. Tetapi jika baja didinginkan sedemikian rupa maka austenit akan bertransformasi
menjadi martensit dan austenit sisa.

2.1.6

Tahapan Proses Perlakuan Panas
Proses perubahan sifat dengan cara perubahan struktur mikro melalui proses penerapan

panas & pengaturan laju pendinginan. Proses-proses pada heat treatment secara garis besar
melalui beberapa tahap, yaitu:
1. Proses pemanasan logam sampai pada temperatur tertentu, yang tergantung dari
proses heat treatment yang dilakukan, dan kompleksitas benda uji
2. Proses penahanan temperatur (holding), yang waktu penahanannya tergantung
dari ketebalan benda uji.
3. Proses pendinginan, yang bisa dilakukan secara cepat ataupun lambat, tergantung
dari struktur mikro yang diinginkan. Pada proses pendinginan ini, digunakan
diagram CCT atau diagram TTT. Keberhasilan dari suatu proses perlakuan panas
baja sangat dipengaruhi oleh pendinginan, struktur mikro yang dihasilkan dari
proses pemanasan sanagt beraneka ragam jenis, ukuran yang mempengaruhi sifat
mekanis, termasuk kekerasan, tegangan tarik, dan lain sebagainya. Dimana
semuanya dipengaruhi oleh laju pendinginan. Laju pendinginan sangat
dipengaruhi oleh media pendingin yang digunakan. Adapun media pendingin
yang biasa digunakan, khususnya pada proses pegerasan, adalah : Air, Oli dan
Udara. Dari ketiga media pendinginan tersebut, dapat diurutkan dari yang paling
cepat mendinginkan adalah air, oli dan paling lambat udara. Berikut adalah
diagram CCT dan TTT untuk material VCN.

7

Gambar 2.2 Diagram CCT VCN

Gambar 2.3 Diagram TTT VCN
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, material VCN merupakan baja paduan Nikel,
Crom dan Molibdenum. Pada baja paduan, tidak bisa hanya memakai diagram FeC sebagai
patokan untuk menentukan struktur mikro hasil as cast, karena pada diagram FeC kondisinya
setimbang, hanya terdapat prosentase carbon saja, yang biasa digunakan untuk menentukan hasil
struktur mikro plain carbon steel saja tanpa paduan unsur lain, sehingga diperlukan penggunaan
diagram TTT/CCT yang berfungsi untuk memperkirakan struktur mikro hasil pendinginan, baik
as cast maupun paduan (Alloy material).
Pada proses perlakuan panas, penggunaan diagram TTT/CCT yaitu untuk menentukan
hasil struktur mikro yang akan dihasilkan. Pada diagram ini sumbu tegak menyatakan suhu
8

sedangkan sumbu datar merupakan waktu yang berdasarkan skala logaritmik. Diagram TTT
(Time Temperatur Transformation) menghubungkan transformasi austenit terhadap waktu dan
temperatur, sementara transformasi umunya tidak terjadi pada kondisi isothermal saja, tetapi bisa
terjadi pada kondisi pendinginan yang terus menerus, sehingga dipakailah diagram CCT
(Continous Cooling Transformation) yang berfungsi untuk mengetahui struktur mikro yang akan
dihasilkan.
Pada proses perlakuan panas berupa normalising untuk material VCN,

digunakan

diagram CCT karena terjadi pada kondisi yang terus menerus setelah proses perlakuan panas,
dimana struktur mikro yang dihasilkan untuk proses perlakuan panas berupa normalising yaitu
martensit, ferit, perlit, bainit dan austenite sisa, sedangkan untuk proses perlakuan panas berupa
hardening (quench) akan dihasilkan struktur mikro berupa martensit dan austenite sisa.
Proses perlakuan panas yang dilakukan akan menghasilkan sifat benda yang sesuai
dengan nama prosesnya. Berikut adalah beberapa proses perlakuan panas, yaitu :
1. Normalising
Normalising adalah proses dimana baja dipanaskan 40 °C di atas Ac3 atau Acm
pada waktu tertentu kemudian didinginkan di udara. Proses ini diberlakukan
terhadap baja cor polos (plain carbon cast steel) hipo hingga eutektoid, akibat
terjadinya struktur yang tidak homogen (Widmanstatten) pasca pengecoran.
Struktur widmanstatten merupakan struktur berupa jarum-jarum tebal dengan
orientasi tertentu yang terjadi akibat dari hambatan proses pendinginan oleh pasir
cetak yang menyimpan panas dari produk cor. Pada baja-baja cor dengan
kandungan C rendah sampai menengah, akibat dari ukuran butiran dan kecepatan
pendinginan, ferit tidak hanya akan tumbuh dibatas-batas butiran perlit, namun
juga tumbuh sebagai struktur widmanstatten didalam butiran austenite
(idiomorph). Semakin kasar butiran austenit ini, maka akan meningkat pula
kecenderungan terjadinya anomali struktur tersebut. Hal mana sangat mungkin
terjadi pada proses pendinginan pasca pengecoran, dimana pasir yang menjadi
panas menahan laju pendinginan didaerah austenit. Hasil dari proses normalizing
adalah struktur mikro awal tanpa widmanstatten. Tujuan normalizing :
1. Memperhalus butir atau membuat austenit menjadi homogen saat baja
dipanaskan untuk keperluan pengerasan (hardening) atau full annealing.

9

2. Mengurangi pemisahan (segregation) pada logam cor atau penempaan
(forging) sehingga menghasilkan struktur yang homogen.
3. Memperkeras baja.
2. Hardening
Hardening adalah proses perlakuan panasdengan cara memanaskan baja pada
suhu 30 s.d 50°C diatas sumbu GPS. Padasuhu tersebut benda ditahan hingga
merata, dan kemudian diakhiri dengan pendinginan cepat (quench)

untuk

mendapatkan struktur mikro yang keras. Setelah di hardening, struktur mikro
yang terbentuk adalah martensite. Tujuan utama proses pengerasan adalah untuk
meningkatkan kekerasan benda dan meningkatkan ketahanan aus.
2.1.7

Pengujian (Uji Rockwell)
Metode Rockwell merupakan uji kekerasan dengan pembacaan langsung (directreading). Metode ini banyak dipakai dalam industri karena pertimbangan pemakaian
yang sangat praktis. Variasi dalam beban dan indenter yang digunakan membuat metode
ini memiliki banyak macamnya. Metode yang paling umum dipakai adalah Rockwell B
(dengan indenter bola baja berdiameter 1/6 inci dan beban 100 kg) dan Rockwell C
(dengan indenter intan dengan beban 150 kg). Pemakaian Rockwell C lebih banyak
digunakan karena biasanya untuk material-material dengan kekerasan sedang, atau bila
terbaca sangat rendah kekerasannya, pengujian dengan Rockwell C lebih dahulu dapat
lebih memastikan, untuk selanjutnya digunakan Rockwell B. Tetapi, metode Rockwell
lainnya juga biasa dipakai. Oleh karenanya skala kekerasan Rockwell suatu material harus
dapat dimengerti dengan jelas. Contohnya 39 HRC, yang menyatakan material diukur
dengan skala C: indentor kerucut intan dengan beban 150 kg. Berikut ini diberikan Tabel
2.1 yang memperlihatkan perbedaan skala dan range uji dalam skala Rockwell:
Skala kekerasan :

SIMBOL

INDENTER

BEBAN MAJOR (KG)

A
B
C
D
E
F

Intan
Bola 1/16 inch
Intan
Intan
Bola 1/8 inch
Bola 1/16 inch

60
100
150
100
100
60
10

G
H
K

Bola 1/16 inch
Bola 1/8inch
Bola 1/8 inch

150
60
150

Tabel 2.1 Perbedaan skala dan range uji dalam skala Rockwell
Skala yang umum dipakai dalam pengujian Rockwell adalah :
a. HRA (Untuk material yang sangat keras)
b. HRB (Untuk material yang lunak). Indenter berupa bola baja dengan diameter 1/16 Inchi
dan beban uji 100 Kgf.
c. HRC (Untuk material dengan kekerasan sedang). Indenter berupa Kerucut intan dengan
sudut puncak 120 derjat dan beban uji sebesar 150 kgf.
Pengujian kekerasan dengan metode Rockwell bertujuan menentukan kekerasan suatu
material dalam bentuk daya tahan material terhadap benda uji (specimen) yang berupa
bola baja ataupun kerucut intan yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut
Alat Uji Rockwell :
Alat uji yang digunakan dalam pengujian kali ini adalah Rockwell Type Hardness Tester
yang diproduksi oleh Future Tech. Alat ini dapat menguji kekerasan suatu material
dengan metode Rockwell dengan tingkat uji dari HRA sampai dengan HRK. Tingkatan
gaya yang bisa diberikan adalah 15 sampai dengan 150 kilogram. Jenis indenter yang
disediakan adalah diamond cone dan indenter bola, yang pemakaiannya berdasarkan tabel
yang disediakan pada badan alat uji.

Gambar 2.4 Alat uji Rockwell
11

BAB III
METODOLOGI
Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada praktikum material VCN adalah sebagai
berikut :
Mulai
Penentuan proses perlakuan
Persiapan Sampel Uji : Pemotongan
Pengujian (As Cast) : Uji keras, Uji
metalograf
Proses Perlakuan Panas

Proses perlakuan

Proses Perlakuan

panas 1

Panas 2

Normalising (850°C)

Hardening (850°C)
Quenching (Oli)

Persiapan Sampel Uji : Pemotongan
Uji keras dan metalograf
Analisa hasil
12
Selesai

Penjelasan metode yang dilakukan :
1. Studi Literatur
Pencarian literatur, berupa data, kajian yang berkaitan dengan topik dan hasil proses percobaan
sebelumnya, lalu dikakukan analisa terhadap hasil studi literatur tersebut, guna mempermudah
dalam proses analisa untuk penentuan proses perlakuan panas selanjutnya.
2. Penentuan Proses Perlakuan Panas
Setelah dilakukan analisis, dan mendapat sebuah data, referensi yang bisa mengacu pada tujuan
yang diinginkan maka dipilihlah, proses heat treatment dengan dua variabel sebagai berikut :
a. Hardening 850°C
b. Normalising 850°C
Proses HT pada baja as cast, awalnya harus di normalizing. Proses normalizing berfungsi untuk
menghilangkan struktur widmanstaten dan menghaluskan butiran, sehingga struktur mikro yang
terbentuk adalah martensit, bainit, ferit, pearlit dan austenit sisa. Sementara dilakukan proses
hardening guna menghasilkan kekerasan yang cukup dimana struktur mikro yang ditargetkan
adalah struktur martensit dan austenit sisa.
3. Persiapan Sampel Uji
Proses persiapan atau preparasi yang meliputi pemotongan benda uji dan pemesinan, bila
diperlukan.
4. Uji keras dan metalografi (As Cast)
Setelah dilakukan tahapan persiapan sampel uji, selanjutnya dilakukan proses pengujian, berupa
uji keras dan uji metalografi. Untuk dijadikan data perbandingan dengan kondisi sampel yang
sudah dilakukan proses perlakuan panas.
5. Percobaan
Proses Heating awal tergantung dari kerumitan benda uji (specimen), Lama waktu holding pada
°C dan tempering tergantung pada ketebalan benda uji (specimen), dan waktu
proses hardening
2 jam
cooling tergantung pada struktur
mikro yang diinginkan, mengacu pada diagram CCT (Continous
850°C
Cooling Temperature) material VCN.
a. Hardening 850°C
Oil Quench
13
sec

b. Normalising 850°C
°C

2 jam

850°C

Air Cool

6. Persiapan Sampel Uji
Proses persiapan atau preparasi yang meliputi pemotongan benda uji, untuk menghilangkan kerak
secpengujian.
hasil dari proses perlakuan panas, untuk selanjutnya dilakukan proses
7. Uji keras dan metalografi & Analisis Hasil
Setelah dilakukan perlakukan panas pada spesimen, selanjutnya dilakukan proses pengujian,
berupa uji keras dan uji metalografi. Untuk dilakukan analisis, antara data atau dasar teori yang
telah didapat sebelumnya, dengan hasil praktikum.

Peralatan dan Bahan yang digunakan

Peralatan yang digunakan
Beberapa mesin dan alat yang terdapat dalam bengkel pengecoran logam akan sangat diperlukan untuk
melaksanakan kegiatan penelitian ini. Mesin dan alat yang digunakan untuk kegiatan penelitian ini
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Tungku heat treatment. Digunakan untuk proses perlakuan panas terhadap spesimen.
2. Mesin uji kekerasan. Digunakan untuk pengujian spesimen secara destructive / merusak.
3. Gerinda, Amplas. Digunakan untuk mempersiapkan spesimen pengujian metallografi.
4. Spektrometer, mikroskop. Digunakan sebagai analisis kimia maupun struktur mikro.
Bahan yang dipakai
14

Bahan utama yang dipakai meliputi bahan untuk proses perlakuan panas dan bahan untuk pengujian
spesimen, diantaranya :
1. Benda uji (Spesimen)
2. Media Quench. Diantaranya : Oli
3. Bahan untuk proses etsa

BAB IV
DATA DAN ANALISIS
Pada bab ini akan dibahas mengenai data dan hasil analisis spesimen material VCN.
4.1

Perencanaan Proses
4.1.1

Perencanaan proses perlakuan panas
Perlakuan panas yang diberikan terhadap spesimen meliputi :
No

1

Proses perlakuan panas

Normalising

Keterangan
Memanaskan spesimen sampai pada temperatur
austenisasi sebesar 850°C , menahannya selama 2
jam, kemudian dilanjutkan dengan pendinginan di
udara bebas.
Memanaskan spesimen sampai pada temperatur

2

Hardening

austenisasi sebesar 850°C , menahannya selama 2
jam, kemudian dilanjutkan dengan pendinginan
menggunakan media pendingin oli.

4.1.2

Perencanaan metode pengujian
Untuk mencapai tujuan dari praktikum yang akan dilakukan, maka dilakukan pengujian

meliputi :
1. Uji komposisi kimia dengan metode spektrometri.
2. Uji metallografi untuk mengetahui mikrostruktur yang terbentuk.
3. Uji kekerasan dengan metode Rockwell C pada sampel.

15

4.1.3

Bentuk Sampel

Letak
pengambi
Letak
lan uji
pengambi
metalogra
lan uji
f
keras (as
cast)

Letak uji
spektromet
ri

Gambar
Sampel Uji
Sampel untuk proses perlakuan panas
yang2.5
dilakukan,
terdiri dari dua buah sampel dengan
bentuk round bar, dengan letak pengambilan uji seperti gambar diatas.

Sampel
1

4.2 Pengujian
4.2.1 Pengujian komposisi (hasil spektrometri)
C
0.39874

Si
0.25444

Mn
0.56780

S
0.00841

P
0.01257

Sam
pel
2
Ni
1.45899

Cr
1.48641

Mo
0.13476

Dari hasil akhir pemeriksaan spektrometri menunjukan adanya unsur berlebih pada
unsur Crom dan kekurangan unsur pada unsur Mangan, Nikel dan Molibdenum. Yang
memungkinkan berpengaruh pada ketidaksesuaian dengan data kekerasan material dari
standar.

4.2.2

Pengujian Kekerasan
 As Cast
No
1
2
3

Pengujian Keras (HRC)
39.7
39.9
39.6

Rata-rata
39.73

16

Normalising 850°C
No
1
2
3

Pengujian Keras (HRC)
43.6
42.5
43.1

Rata-rata

No Pengujian Keras (HRC)
1
51.1
2
51.7
3
51.5
hasil uji kekerasan :

Rata-rata

43.06
Hardening 850°C

51.43
Berikut

adalah

grafik

Hasi l Uji kekerasan ( Rockwell)

Dari hasil uji kekerasan, dapat dilihat bahwa harga kekerasan semakin meningkat,
sejalan dengan teori yang sebelumnya diperoleh, dimana untuk proses perlakuan panas
berupa hardening 850°C akan menghasilkan struktur mikro martensit yang memiliki
harga kekerasan yang paling tinggi, dan setelah normalising struktur menjadi lebih halus
sehinggga harga kekerasan pun naik.

4.2.3

Pengujian Metalografi
 As Cast
Foto struktur mikro

HT
Etsa
Perbesaran
Mikrostruktur

:: Nital 3%
: 100 X
: Martensit,ferrite,bainit

17

Dari hasil uji metalografi, dapat dilihat bahwa struktur as cast yang diperkirakan melalui
diagram CCT VCN sebelumnya yaitu berupa martensit, ferit, perlit dan bainit hanya
terlihat struktur martensit, ferit dan bainit saja, sementara untuk struktur perlit tidak jelas
terbentuk.

Normalising 850°C

Foto struktur mikro

HT
Etsa
Perbesaran
Mikrostruktur

Dari hasil uji metalografi,
dapat dilihat bahwa struktur
normalising 850°C yang
diperkirakan melalui diagram
CCT
VCN
hasilnya
menunjukan kesamaan yaitu
terbentuk struktur martensit,
bainit, ferit, perlit dan
austenite
sisa.
Dimana
struktur yang dibentuk lebih
halus
akibat
proses
normalising.

: Normalising 850°C
: Nital 3%
: 100 X
: Martensit+bainit+ferit+perlit

Hardening 850°C

Foto struktur mikro

HT
Etsa
Perbesaran
Mikrostruktur

: Hardening 850
: Nital 3%
: 100 X
: Martensit+austenit sisa
18

Dari hasil uji metalografi, dapat dilihat bahwa struktur hardening yang diperkirakan
melalui diagram CCT VCN hasilnya menunjukan kesamaan, dimana terbentuk struktur
martensit dan austenit sisa. Struktur martensit tersebut berpengaruh terhadap kekerasan
material, sehingga dengan proses perlakuan panas berupa hardening 850°C, menunjukan
harga kekerasan yang paling tinggi.

4.2.4

Analisa diagram CCT

2
3
1

19

Pada diagram CCT diperlihatkan transformasi austenit pada proses pembekuan dengan kecepatan
yang berbeda, yaitu :
1. Pada simbol no 1 kondisi as cast didapatkan material dengan struktur mikro Martensit+ferit
+bainit+perlit dan austenit sisa.
2. Pada simbol no 2 kondisi normalising didapatkan material dengan struktur mikro
Martensit+ferit+peril+bainit+austenite sisa, dengan struktur yang lebih halus.
3. Pada symbol no 3 kondisi hardening didapatkan material dengan struktur mikro martensit dan
austenit sisa.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan data dan analisa yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan :
Material VCN yang dianalisis memiliki perbedaan kandungan unsur dengan dasar teori yang menjadi
acuan, yaitu memiliki kelebihan unsur pada Crom dan memiliki kekurangan unsur pada Mangan, Nikel
dan Molibdenum setelah diuji spektrometri. Sementara hasil proses setelah perlakuan panas sesuai dengan
acuan diagram CCT material VCN yang digunakan, dimana pada hasil untuk proses perlakuan panas
berupa normalizing, menghasilkan struktur mikro berupa martensit, ferit, perlit, bainit dan austenite sisa,
dan hasil proses perlakuan panas berupa hardening, menghasilkan struktur mikro berupa martensit dan
austenit sisa.
5.2 Saran
Untuk proses etsa harus benar-benar diperhatikan, khususnya dengan waktu dan kualitas bahan etsa
yang digunakan.

20

21