A.

Definisi
Acute Nonlymphoid (myelogenous) Leukemia (ANLL atau AML) adalah salah
satu jenis leukemia; dimana terjadi proliferasi neoplastik dari sel mieloid
(ditemukannnya sel mieloid : granulosit, monosit imatur yang berlebihan). AML
meliputi leukemia mieloblastik akut, leukemia monoblastik akut, leukemia mielositik
akut, leukemia monomieloblastik, dan leukemia granulositik akut.
Acute myeloid leukaemia (AML), yaitu leukemia yang terjadi pada seri
myeloid, meliputi (neutrofil, eosinofil, monosit, basofil, megakariosit dan lain - lain).
Di negara maju seperti Amerika Serikat, LMA merupakan 32% dari seluruh kasus
leukemia. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada dewasa (85%) dari pada anak
(15%). (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Ed. IV.1234).
Leukimia mieloblastik akut (LMA) adalah suatu penyakit yang ditandai
dengan transformasi neoplastik dan gangguan diferensiasi sel-sel progenitor dari seri
mieloid. Bila tidak diobati, penyakit ini akan mengakibatkan kematian secara cepat
dalam waktu beberapa minggu sampai bulan sesudah diagnosis. Sebelum tahun 1960
pengobatan LMA terutam bersifat paliatif, tetapi sejak sekitar 40 tahun yang lalu
pengobatan penyakit ini berkembang secara cepat dan dewasa ini banyak pasien LMA
yang dapat disembuhkan dari penyakitnya. Kemajuan pengobatan LMA ini dicapai
dengan regimen kemoterapi yang lebih baik, kemoterapi dosis tinggi dengan
dukungan cangkok sumsum tulang dan terapi suportif yang lebih baik seperti
antibiotik generasi baru dan transfusi komponen darah untuk mengatasi efek samping
pengobatan. (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Ed. IV.1234).
B. Faktor Penyebab
Seperti halnya leukemia jenis ALL (Acute Lymphoid Leukemia), etiologi
AML sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti, diduga karena virus (virus
onkogenik). Faktor lain yang turut berperan adalah :
1. Faktor endogen
Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom (resiko terkena AML meningkat
pada anak yang terkena Down Sindrom), herediter (kadang-kadang dijumpai kasus
leukemia pada kakak beradik atau kembar satu telur).
2. Faktor eksogen

Lympadenopathy t. nyeri abdomen yang tidak jelas. dan limfonodus) o Peningkatan tekanan intrakranial karena infiltrasi meninges : nyeri dan kaku kuduk. sinar radioaktif. muntah. perdarahan.Seperti sinar X. ekimosis. yaitu : o Bukti anemia. Tanda dan Gejala Acute Nonlymphoid (myelogenous) Leukemia 1. edema papil. infeksi (virus. koma. stomatitis . dan infeksi : demam. D. petekia dan perdarahan. letargi. Hepatomegali dan splenomegali (pada kurang lebih 50% anak) 5. Manifestasi klinik seperti ALL. nyeri sendi dan tulang.u pd Leukemia limfoblastik akut 5. pucat. C. Nyeri sternum bag. bawah (1/3 distal sternum) ® cukup khas 6. Gangguan pd sistem kardiovaskuler : .aritmia (denyut jantung tak teratur akibat infiltrasi sel leukemi pd miokard) . Lesi nekrotik atau ulserosa perirekal 4. o Gejala-gejala sistem saraf pusat yang berhubungan dengan bagian sistem yang terkena. Perdarahan (paling menyolok) : petekie. bahan kimia (Benzol. iritabilitas. Pucat 2. infeksi pd oropharynx. anoreksia. kesulitan berkemih.takikardia ß anemi & infeksi sebagai mekanisme kompensasi . hormon. Kloroma spinal (lesi massa) 3. bakteri). limpa. epistaksis. sakit kepala. preparat Sulfat). Hipertrofi ginggiva 2. Hipertrofi gusi (khas Leukemia Monositik Akut). khususnya matematika dan hafalan (efek samping lanjut dari terapi). perdarahan pd gusi 3. Arsen. letih. kesulitan belajar. tonsillopharyngitis. kelemahan ekstremitas bawah. Manifestasi klinis AML 1. berat badan menurun. perdarahan pd saluran cerna & saluran kemih. pembesaran dan fibrosis organ-organ sistem retikuloendotelial (hati. pd wanita : menstruasi yg tidak berhenti 4.

Komplikasi 1. Penatalaksanaan Acute Nonlymphoid (myelogenous) Leukemia Protokol pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis obat yang diberikan pada anak. merkaptopurin. mengkaji infiltrat leukemik. sitarabin. alopurinol. 2. Jumlah leukosit lebih dari 50. vinkristin. Splenomegali 5. ditemukannya 25% sel blast memperkuat diagnosis. dan daunorubisin. asparaginase.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur. Pemeriksaan Diagnostik Acute Nonlymphoid (myelogenous) Leukemia 1. Proses remisi induksi pada anak terdiri dari tiga fase : induksi. Gagal sumsum tulang 2. Pemindaian tulang atau survei kerangka. 4. untuk mengkaji keterlibatan SSP. Hepatomegali F. 5. Beberapa obat yang dipakai untuk leukemia anak-anak adalah prednison. Periode intensif diperpanjang 2-3 minggu selama fase konsolidasi untuk memberantas keterlibatan sistem syaraf pusat dan oragan vital lain. memiliki prognosis paling baik. konsolidasi. 6. Pungsi lumbal. Aspirasi sumsum tulang. 7. Hitung darah lengkap (CBC) Anak dengan CBC kurang dari 10. dan limpa. menunjukkan kapasitas pembekuan G. metrotreksat. dan rumatan. Foto thoraks. mengkaji keterlibatan tulang. Terapi rumatan diberikan selama beberapa tahun setelah diagnosis untuk memperpanjang remisi. Jumlah trombosit.E. Pemindaian ginjal. untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum. hati. . Infeksi 3.000/mm3 saat didiagnosis. siklofosfamid. 3. Selama fase induksi (kira-kira 3 sampai 6 minggu) anak menerima berbagai agens kemoterapi untuk menimbulkan remisi. Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID/DIC) 4.

Dilanjutkan denagan Ara C 100 mg IV. retensi cairan. nyeri. 6. Kaji adanya tanda dan gejala infeksi : peningkatan leukosit. letargi. Pada tahap ini diberikan doxorubicin 40 mg/mm 2 hari 1-2 dan Ara C 1-5. hipertropi ginggiva. Kaji adanya manifestasi klinik AML (kelelahan. Terapi standar adalah kemoterapi induksi dengan regimen sitarabin dan daunorubisin dengan protokol sitarabin 100 mg/m2 diberikan secara infus kontinyu selama 7 hari dan daunorubisin 45-60 mg/m2/hari iv selama 3 hari. nyeri.113). Dilakukan evaluasi klinis dan hematologis. Kaji adanya tanda dan gejala hemoragi 5. gejala SSP. Kaji reaksi anak terhadap kemoterapi : diare.Perbaiki keadaan umum yaitu : anemia diberikan tranfusi darah dengan PCR (Packed red cell) atau darah lengkap. perdarahan. pucat. dll) 2. muntah. demam. hiperuremia. Pemeriksaan sumsum tulang pada akhir mimggu ketiga. peningkatan LED 4. Apabila terjadi remisi lengkap (klinis dan hematologis) maka dimulai tahap konsolidasi. Terapi spesifik seperti terapi leukemia pada umumnya dimulai dengan tahap induksi dengan : Doxorubicin 40 mg/mm 2 berat badan hari 1-5. Obat pengganti adriamycin adalah Farmorubicin. alopesia. Ed. Trombositopeni yang mengancam diatasi dengan transfusi konsetrat trombosit. tiap 12 jam hari 1-7. Kaji adanya tanda dan gejala komplikasi : somnolens radiasi. Untuk pasien usia di atas 50 tahun dosis dikurangi dengan Adriamycin hanya 3 hari dan Ara C 5 hari. Sekitar 30-40% pasien mengalami remisi komplit dengan terapi sitarabin dan dounorubisin yang diberikan sebagai obat tunggal. stomatitis. Apabila tidak terjadi remisi atau remisi hanya bersifat parsiil maka terapi harus diganti dengan regimen lain. (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. ulserosa perirektal. (Hematologi Klinik Ed. anoreksia.1238) H. mual. . anoreksi. penurunan berat badan. dll 3. demam. IV. Refimen ini diberikan 2 kali dengan interval 4 minggu. sedangkan bila diberikan sebagai obat kombinasi remisi komplit dicapai oleh lebih dari 60% pasien. lisis sel. Apabila keadaan memungkinkan maka diberikan cangkok sumsum tulang pada saat terjadi remisi lengkap. Apa bila ada infeksi diberikan antibiotika yang adekwat. 2. ulkus mulut. Kaji koping anak dan keluarga. Pengkajian Keperawatan 1.

Rencana Asuhan Keperawatan 1. . 8. Infeksi berhubungan dengan menurunnya competence. 6. . Ganguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penekanan sumsum tulang oleh sel neoplasma. 3. 5. Gangguan rasa nyaman (pusing) berhubungan dengan kurangnya suplai darah di otak.Akral hangat. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/imobilisasi. 9.I. Ganguan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi. R/ agar input dan output dapat terkontrol. 7. Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan volume cairan berhubungan dengan menurunnya frekuensi pembekuan. pemasukan bertambah dari keluaran dapat mengindikasikan memperburuk/obstruksi ginjal. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah.TTV dalam batas normal. 10. J.Tidak ada tanda presyok Intervensi : a. 4. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya. 2. hitung kehilangan tidak kasat mata dan ke cairan. Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria : . Resiko pemenuhan pola nafas berhubungan dengan perdarahan pada rongga pleura. Gangguan volume cairan berhubungan dengan menurunnya frekuensi pembekuan. Ganguan keseimbangan suhu tubuh berhubungan dengan proses inflamasi. Timbang BB tiap hari R/ mengukur keadequatan penggantian cairan. Awasi masukan / haluaran cairan. b. .

Intevensi : a. 2. Beri penjelasan pada klien dan keluarga tentang tindakan keperawatan yang akan dilakukan. Tujuan : nyeri berkurang sampai dengan hilang setelah dilakukan tindakan kepewaratan selama 1-2 x 24 jam. Berikan diit halus R/ dapat membantu menurunkan iritasi gusi. R/ meningkatkan cairan tubuh. Evaluasi turgor kulit dan kondisi umum membran mukosa R/ indikator langsung status cairan / hidrasi e. b. Identifikasi tekanan nyeri R/peningkatan tingkat nyeri menunjukkan adanya komplikasi penyakit lain. R/ perubahan dapat menunjukkan efek hipovolemia (perdarahan/dihidrasi). g. Kriteria : Tidak adanya tanda – tanda infeksi. R/ spresi sumsum tulang dan produksi trombosit menempatkan klien padab resiko perdarahan spontan tidak terkontrol. 3. Inspeksi kulit/membran mukosa untuk ptechie. Infeksi berhubungan dengan penurunan immuno competence Tujuan : tidak terjadi perluasan infeksi setelah dilakukan tindakan 1 – 2 x/24jam. R/ klien dan keluarga kooperatif dengan tindakan yang akan dilakukan. d. Kolaborasi pemberian cairan IV. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penekanan sumsum tulang oleh sel neoplasme. plasma /darah. perdarahan gusi.c. aica ekimotik. f. : TTV dalam batas normal. c Ajarkan pada klien untuk menggunakan . Awasi dan frekuensi jantung.

suhu tubuh dalam batas normal (36 – 37oc) . d. . Jelaskan pada klien dan keluarga tentang tindakan keperawatan yang akan dilakukan. Kriteria : . c.klien tidak panas lagi. Anjurkan memakai baju tipis yang menyerap keringat R/ baju tipis memudahkan proses evaporasi. b. Intervensi : a. Gangguan keseimbangan suhu tubuh berhubungann dengan proses inflamasi. Beri kompres hangat R/ merangsang hipotalamus dan membantu pemindahan panas secara konduksi. R/ klien kooperatif dengan tindakan yang dilakukan. 4. d Obs TTV R/ mengetahui perubahan secara dini untuk melakukan tindakan keperawatan selanjutnya. Tujuan suhu tubuh dalam batas normal setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 – 3 x 24 jam. e Kolaborasi dalam pemberian analgesik R/ analgesik dapat menekan pusat ambang nyeri. Beri banyak minum pada klien R/ air merupakan pengatur suhu tubuh.R/ mengurangi ketegangan otot dan spasme otot sehingga dapat meminimalkan rasa nyeri.

Kolaborasi dalam pemberian anti piretik dan biotik R/ anti piretik dapat merangsang hipotalamus dan antibiotik untuk membunuh kuman pirogen penyebab demam. Obs TTV R/ menunjukkan tekanan demam dan deteksi dini dalam melaksanakan intervensi selanjutnya. f. .e.

Edisi 2. Edisi 4. Edisi 3. Pengkajian Pediatrik. 1999 Whaley’s and Wong. USA : Mosby. . Vol 2. CL & Sowden. Jakarta : EGC. Jakarta : Betz. LA. Buku Saku Keperawatan Pediatri. 2001.DAFTAR PUSTAKA Brunner& Suddarth. Sixth Edition. Edisi 8. Whaley’s and Wong. Joyce Engel. Essential of Pediatric Nursing. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. Clinical Manual of Pediatric Nursing. 2000. USA : Mosby.