You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO, 1948), Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H
dan Undang-Undang Nomor 23/ 1992, menetapkan bahwa kesehatan adalah hak fundamental
setiap warga. Karena itu setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh
perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggungjawab mengatur agar masyarakat
terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.
Selama lima dekade, pembangunan kesehatan dilaksanakan melalui pengembangan dan perluasan
jaringan pelayanan kesehatan agar berada sedekat mungkin dengan penduduk yang
membutuhkannya. Perubahan pola penyakit yang menimbulkan beban ganda, perkembangan
teknologi kesehatan dan kedokteran, pola pembiayaan kesehatan berbasis pembayaran out of
pocket, dan subsidi pemerintah untuk semua lini pelayanan, membawa ketimpangan dalam
pelayanan kesehatan dan mendorong peningkatan biaya kesehatan. Krisis moneter yang terjadi
sekitar tahun 1997 telah meningkatkan jumlah penduduk miskin dan meningkatkan biaya
kesehatan berlipat ganda, sehingga menekan akses penduduk, terutama penduduk miskin,
terhadap pelayanan kesehatan.
Untuk mengatasi hal tersebut berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menjamin
akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan,
sejak tahun 1998 Pemerintah
melaksanakan beberapa upaya pemeliharaan kesehatan penduduk miskin. Dimulai dengan
pengembangan Program Jaring Pengaman Sosial (JPS-BK) tahun 1998 – 2001, Program Dampak
Pengurangan Subsidi Energi (PDPSE) tahun 2001 dan Program Kompensasi Bahan Bakar Minyak
(PKPS-BBM) Tahun 2002-2004. Pada awal tahun 2005, melalui keputusan Menteri Kesehatan
nomor 1241/Menkes/XI/2004 menetapkan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
Miskin (JPKMM) melalui pihak ketiga, dengan menunjuk PT Askes (Persero). Sasaran awal
mengacu pada data BPS 2004 adalah sebesar 36.146.700 jiwa.
Tahun 2005, adalah masa transisi pelaksanaan (JPKMM) ini, dalam pelaksanaannya ditemukan
masalah dilapangan, terutama karena perbedaan jumlah masyarakat miskin yg dikelola oleh
PT Askes dengan jumlah masyarakat miskin yang terdata di setiap daerah dan sudah terlayani
pada program PKPS BBM 2004 yang lalu.
Masalah lain keterbatasan dana yg diperoleh puskesmas terutama untuk menggerakkan kegiatankegiatan luar gedung dan pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) lainnya termasuk
revitalisasi posyandu, program imunisasi dan operasional puskesmas dan jaringannya. Pemda
diharapkan dapat memenuhi kebutuhan anggaran untuk melakukan program Puskesmas, namun
dalam kenyataan di lapangan umumnya kurang mencukupi.
Memahami permasalahan tersebut, pemerintah dan DPR melalui dana APBN-P untuk program
PKPS BBM Bidang Kesehatan, pemerintah telah menyepakati untuk melaksanakan program
layanan kesehatan yang dijamin oleh pemerintah di Puskemas dan layanan Rawat Inap Kelas III
Rumah Sakit di seluruh Indonesia.
Dengan program tersebut diatas maka hambatan pelayanan kesehatan, terutama masyarakat
miskin dan masyarakat tidak mampu, akibat perbedaan data sasaran dan hambatan prosedural
dalam pelayanan dapat diatasi.
Pedoman ini memberikan petunjuk secara umum kepada semua pihak terkait tentang mekanisme
pelaksanaan “program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rujukan Rawat Inap Kelas III
Rumah Sakit yang dijamin Pemerintah”, merupakan kelanjutan program JPKMM 2005 (tahap I)
dengan beberapa penyesuaian.

1

B.

Tujuan
1. Umum :
Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat miskin dan
tidak mampu yang membutuhkan pelayanan kesehatan agar tercapai derajat kesehatan
masyarakat setinggi-tingginya.
2. Khusus :
a. Terselenggaranya pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya.
b. Terselenggaranya pelayanan kesehatan rujukan di Rumah Sakit, BP4 dan BKMM/BKIM.
c. Terselenggaranya kegiatan pendukung pelayanan kesehatan.
d. Terlaksananya kegiatan safeguarding.

C.

Sasaran
Sasaran Program ini adalah seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu yang membutuhkan
pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya, serta layanan rujukan medis di Rumah Sakit
pemerintah dan swasta yang ditunjuk, BP4 dan BKMM/BKIM, yang tidak memiliki Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan/Asuransi Kesehatan lainnya.

D.

Ruang Lingkup
1.
2.
3.
4.

Pelayanan Kesehatan Dasar di Puskemas dan jaringannya
Pelayanan Kesehatan Rujukan di Rumah Sakit, BP4, BKMM/BKIM
Penunjang Pelayanan Kesehatan
Safeguarding.

2

diharuskan untuk melengkapi dengan Kartu sehat/SKTM. sehingga tidak dikenakan iur biaya dengan alasan apapun. Puskesmas dan jaringanya akan memberikan pelayanan kesehatan dasar sesuai kebutuhan dan standar pelayanan 3.BAB II PRINSIP PENYELENGGARAAN DAN PROSEDUR PELAYANAN A. 2. 3. 4. Pelayanan kesehatan yang menyeluruh (komprehensif). 7. 4. tidak mematuhi aturan/prosedur 3 diatas tidak mendapat Jaminan . Dalam kondisi gawat darurat masyarakat dapat langsung ke Rumah Sakit melalui unit gawat darurat. guna memperoleh prioritas pelayanan. Transparansi dan akuntabilitas. Askes (Persero). Masyarakat miskin dan tidak mampu yang memerlukan pelayanan kesehatan berkunjung ke Puskesmas dan jaringannya. Setelah mendapatkan pelayanan dilakukan verifikasi. rujukan rawat jalan dan rawat inap kelas III Rumah Sakit dijamin pemerintah. BP4 dan BKMM/BKIM. Bagi Masyarakat miskin dan tidak mampu. B. Rumah sakit wajib memberikan rujukan balik ke Puskesmas apabila kasus tersebut sudah dapat dilanjutkan di Puskesmas 5. Pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringanya. Pelayanan kesehatan rujukan diberikan atas dasar indikasi medis dengan disertai surat rujukan dari puskesmas. Rujukan ke Rumah Sakit dapat berupa rujukan rawat jalan dan rawat inap di Rumah sakit. Bagi yang tidak menunjukkan kartu JPK-MM. 6. Pelayanan kesehatan dilakukan dengan prinsip terstruktur dan berjenjang. sesuai standar pelayanan kesehatan. Prinsip Penyelenggaraan Program pelayanan kesehatan diselenggarakan dengan prinsip : 1. 9. BKMM/BKIM dengan dana yang dikelola oleh PT. Kartu sehat dan SKTM masih berlaku selama belum diterbitkan kartu JPK-MM oleh PT. BP4. Askes (Persero). Prosedur Pelayanan Kesehatan Prosedur pelayanan kesehatan adalah tatacara masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan: 1. Rujukan antar Rumah Sakit dimungkinkan atas indikasi medis 6. Pelayanan Rujukan rawat jalan dan Rawat Inap Kelas III di Rumah Sakit/BP4/BKMM/BKIM dijamin oleh pemerintah. Masyarakat yang pemerintah. Pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya dengan dana yang dikelola langsung oleh Puskesmas 5. 2. Bagi masyarakat miskin rujukan disertai kartu JPK-MM. Pelayanan rujukan di Rumah Sakit Pemerintah dan swasta yang ditunjuk.

Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Jaringannya. 1. Pelayanan persalinan dapat dilaksanakan di rumah pasien maupun di sarana kesehatan baik Puskesmas perawatan. Polindes serta Puskesmas Pembantu. maupun roda dua • Pelayanan kesehatan di Posyandu • Pelayanan kesehatan melalui kunjungan rumah (perawatan kesehatan masyarakat) • Penyuluhan kesehatan • Imunisasi • Pelayanan ibu hamil • Surveilans Penyakit dan Surveilans Gizi • Operasional Kegiatan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) • Pelayanan kesehatan lainnya b. 4 . Paket Pelayanan Persalinan Persalinan yang diselenggarakan di Puskesmas dan Bidan Di Desa (BDD) adalah persalinan normal termasuk persalinan dengan penyulit pervaginam di Puskesmas dengan fasilitas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar). Jenis kegiatan a. Puskesmas. urine dan feses rutin) • Tindakan medis sederhana • Pemeriksaan dan pengobatan gigi (cabut dan tambal) • Pemeriksaan ibu hamil/nifas/menyusui bayi dan balita • Pelayanan rujukan kasus kedaruratan dari Puskesmas ke Rumah Sakit • Pemberian obat-obatan sesuai ketentuan • Pemberian Imunisasi • Pelayanan dan pengobatan Gawat Darurat • Pelayanan KB dan penanganan efek samping (alat kontrasepsi disediakan oleh BKKBN) 2) Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP) Rawat inap di Puskesmas meliputi : • Akomodasi dan makan penderita/pasien • Pemeriksaan fisik • Tindakan medis • Pemeriksaan Laboratorium sederhana • Pemberian Obat-obatan.BAB III TATA LAKSANA PROGRAM A. Kegiatan pelayanan di luar gedung tersebut meliputi : • Pelayanan rawat jalan dengan Puskemas Keliling roda empat. bahan habis pakai • Rujukan ke Rumah Sakit bila diperlukan (termasuk penyediaan ambulans gawat darurat) 3) Pelayanan kesehatan di luar gedung Pelayanan di luar gedung yang diselenggarakan oleh Puskesmas dan jaringannya adalah untuk meningkatkan jangkauan dan cakupan pelayanan kesehatan dasar. Pelayanan Kesehatan Dasar 1) Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) yang meliputi : • Konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan • Pemeriksaan fisik • Laboratorium sederhana (darah.

Perawatan Ibu dan Bayi baru lahir 5). Pemeriksaan persalinan 2). Biaya operasional rujukan terbatas (pada kasus gawat darurat) dari Puskesmas dan jaringannya ke Rumah Sakit. poster 9). Operasional dan Manajemen Puskesmas Paket kegiatan operasional dan manajemen Puskemas dalam upaya mendukung pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan Jaringannya meliputi : 1). pencatatan dan pelaporan. Transportasi kader pada saat kegiatan Penyuluhan gizi dan kesehatan Pemberian makanan tambahan penyuluhan (PMT Penyuluhan) Kunjungan rumah. Rujukan ke Puskesmas dan Rumah Sakit bila diperlukan (termasuk penyediaan transportasi) c. Kegiatan Lokakarya Mini Puskesmas termasuk mendukung persiapan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) 7). Kegiatan pelatihan kader baru Refreshing/penyegaran kader Transportasi kader pada saat kegiatan Penyuluhan gizi dan kesehatan Pemberian makanan tambahan penyuluhan (PMT Penyuluhan) Kunjungan rumah. Revitalisasi Posyandu dan Perbaikan Gizi Dilaksanakan untuk memfungsikan kembali 250. Pemberian obat dan bahan habis pakai 7). Posyandu yang kurang aktif atau sudah tidak aktif. dana revitalisasi posyandu dapat dimanfaatkan untuk : a. Posyandu yang masih aktif. Penyediaan ATK 8). Sumber Dana Dana untuk pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya bersumber dari dana APBN-P yang dialokasikan melalui DIPA Program Upaya Kesehatan Masyarakat TA. Bidan Di Desa dan Pos yandu 3). 2). c. d. Akomodasi dan makan penderita/pasien 4). g. c. Pertolongan Persalinan/tindakan medis persalinan 3). b. akan digunakan untuk a. Alat tulis untuk kader 2). e. Biaya pengambilan vaksin termasuk vaksin polio untuk PIN d. f. e. Alat tulis untuk kader 2. Pembinaan Puskesmas ke Pustu. d. b. Konsultasi teknis Puskesmas ke Dinas Kesehatan 4). Penggandaan.Pelayanan yang diberikan tersebut meliputi : 1). Pelatihan kader posyandu dan PIN 5). KMS. 2005 5 .000 posyandu pada Kab/Kota di seluruh Indonesia dengan kegiatan : 1). Penyelenggaraan pertemuan koordinasi di kecamatan 6). Pemeriksaan Laboratorium Sederhana 6).

Agar penyediaan obat efektif dan efisien pelaksanaannya dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Besaran dana rawat inap setiap Puskesmas rawat inap ditetapkan dengan memperhatikan tingkat utilitas setiap Puskesmas rawat inap. dapat mengambil maksimal 15 % dari alokasi dana Pelayanan Kesehatan Dasar. 1). 3). untuk Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Pusat. Apabila Puskesmas membutuhkan penyediaan obat pelayanan kesehatan dan bahan habis pakai. Dinas Kesehatan menetapkan alokasi sebagai berikut .3. Alokasi Dana a. Alokasi dana pelayanan kesehatan dasar per Puskesmas didasarkan pada perhitungan sebagai berikut : Σ Pddk Miskin di Wilayah Pusk PUSK. b. Alokasi Dana Persalinan di Puskesmas dan Bidan Di Desa Penetapan alokasi dana persalinan di Puskesmas dan Bidan di Desa. Bagi Kabupaten/Kota yang mempunyai Puskesmas Rawat Inap. A = Alokasi Dana x Oprs & Σ Pddk Miskin di Wilayah Kab/Kota Manajemen Pusk 6 . alokasi dananya ditambahkan besarnya maksimal 10 % dari alokasi pelayanan kesehatan dasar. 4). A = x 90% dari Alokasi Dana Yankesdas Σ Pddk Miskin di Wilayah Kab/Kota 2). Besarnya alokasi dana setiap Puskesmas ditetapkan dengan rumusan sebagai berikut : Σ Pddk Miskin di Wilayah Pusk PUSK. Σ Pddk Miskin di Wilayah Pusk PUSK = x Alokasi Dana Persalinan Σ Pddk Miskin di Wilayah Kab/Kota c. Alokasi Pelayanan Kesehatan Dasar Berdasarkan dana yang ditetapkan oleh pusat untuk setiap kabupaten/kota. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam menetapkan alokasi dana tersebut per Puskesmas diwilayahnya didasarkan pada perhitungan sebagai berikut . Dana operasional dan manajemen Puskesmas Setiap Puskesmas untuk menunjang kegiatan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas disediakan alokasi biaya untuk operasional dan manajemen Puskesmas.

b. 5. pertolongan persalinan. Revitalisasi posyandu dan perbaikan gizi disalurkan melalui Bank BRI Mekanisme penyaluran dana melalui Bank BRI Indonesia. Penyediaan dana kepada Bank BRI Jakarta dilakukan dengan mengajukan Surat Perintah Membayar (SPM LS) oleh Kuasa Pengguna Anggaran ke KPPN dengan melampirkan : 1. Setiap pengambilan dana dari rekening Puskesmas harus mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau berdasarkan kesepakatan bersama antara 7 . Operasional dan Manajemen puskesmas. Pencairan/Pengambilan Dana Prosedur Pengambilan dana dari rekening Puskesmas untuk kegiatan-kegiatan Puskesmas yang akan dibiayai harus mengikuti prosedur sebagai berikut : a. serta kegiatan penunjang. • Berdasarkan SK tersebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menetapkan penerima dana yang dilampiri dengan nama puskesmas dan nama penanggungjawab serta jumlah dana. Yang berhak mencairkan dana adalah Pemegang Rekening Puskesmas yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota. Dana untuk tiap Kabupaten/Kota menjadi dasar pengiriman dana dari Bank BRI Pusat ke penerima dana. Surat Keputusan sebagaimana point (a) c. Rekapitulasi dana yang akan disalurkan 2. b. Penyaluran Dana Dana untuk kegiatan pelayanan kesehatan di Puskesmas da jaringannya yang meliputi : Pelayanan Kesehatan Dasar. d. Puskesmas membuat Plan Of Action (POA) kegiatan dan pembiayaan yang akan dilakukan yang telah dibahas dan disepakati sebelumnya pada forum lokakarya mini Puskesmas pada setiap bulannya. e. • Kadinkes Kab/Kota dapat menetapkan formulasi (rumusan) alokasi dana sebagaimana tersebut di atas serta memperhatikan kondisi & kebutuhan daerah masing-masing. Revitalisasi Pos yandu Besarnya dana revitalisasi posyandu dan perbaikan gizi yang akan diterima oleh setiap Puskesmas dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Σ Posy di wilayah Puskesmas PUSK = Σ Posyandu Kab/Kota Alokasi dana x Oprs Posyandu & Perbaikan Gizi Catatan : jumlah Posyandu setiap Puskesmas yang menerima dana disesuaikan dengan jumlah alokasi posyandu setiap kab/kota 4.d. Jika terdapat perubahan masa pembayaran Depkes akan menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Bank BRI paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum berakhirnya masa pembayaran • Menteri Kesehatan menerbitkan SK penetapan alokasi dana per Kabupaten/Kota untuk kegiatan Program di Puskesmas dan jaringannya. Dana yang telah diterima oleh Puskesmas dan masih tersisa sampai akhir tahun anggaran maka dana tersebut dapat dipergunakan untuk tahun berikutnya. sebagai berikut : a. Bank BRI menyalurkan dana kepada penerima dana setelah menerima Surat Keputusan dari Menteri Kesehatan dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Masa pembayaran adalah 15 hari terhitung mulai dana diterima oleh Bank BRI.

Dana rawat inap yang dialokasikan kepada setiap Puskesmas perawatan dimanfaatkan untuk biaya akomodasi dan makan pasien. Pada kondisi kebutuhan dana untuk kegiatan yang diusulkan sebelumnya mengalami kekurangan Puskesmas dapat mengajukan pengambilan dana dengan tetap meminta persetujuan Kepala Dinas Kesehatan. 6. Penanganan resiko tinggi obstetri neonatal 8). Sedangkan alokasi obat dan bahan habis pakai menggunakan obat-dan bahan habis pakai dari pengadaan di Kabupaten/Kota. Besaran setiap komponen diatas ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pembayaran biaya transport luar gedung kepada petugas oleh pemegang kas keuangan di Puskesmas harus mendapat persetujuan kepala Puskesmas 2). Biaya pelayanan ibu nifas dengan neonatal termasuk biaya transportnya 7). c.Rujukan kasus ibu hamil. Akomodasi dan makan pasien sesuai dengan standar 3).Puskesmas dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (slip pengambilan uang ditandatangani oleh pemegang rekening dan kepala Dinas Kesehatan atau yang ditunjuk). 8 . jasa pelayanan. Pemeriksaan laboratorium 4). Jasa pelayanan kesehatan bagi petugas yang ditetapkan oleh kepala Dinas Kab/Kota dengan besaran maksimal 20% dari total alokasi pelayanan dasar. Dana pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dapat dipergunakan untuk membiayai Operasional penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar yang meliputi : 1). Jasa Pelayanan KB Pasca Persalinan 9). Besaran biaya transport setiap kegiatan ditentukan berdasarkan kesepakatan pada lokakarya mini Puskesmas dengan mempertimbangkan geografis dan kesulitas transportasi (temasuk untuk BBM) dan mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota. Transportasi Bidan di Desa dalam menolong persalinan 10). termasuk untuk kegiatan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) bila diperlukan. Pemberian obat dan bahan habis pakai untuk ibu dan bayi sesuai ketentuan 5). Pasien masyarakat miskin rawat inap di Puskesmas tidak boleh dipungut iur biaya b. neonatal risiko tinggi dari bidan di desa ke Puskesmas/ rumah sakit atau dari Puskesmas ke Rumah Sakit. Dana Pelayanan Kesehatan dasar di Puskesmas dan Jaringannya. Jasa pertolongan persalinan 2). Besaran jasa pelayanan kesehatan bagi setiap petugas Puskesmas dalam lokakarya mini dan dibayarkan oleh pemegang kas setelah persetujuan kepala Puskesmas Kesehatan kesehatan disepakati mendapat 3). Kebutuhan lain selama proses persalinan 6). Biaya transportasi petugas untuk pelayanan kesehatan dasar di luar gedung Puskesmas dan Jaringannya. Pemanfaatan Dana Pemanfaatan dana disesuaikan dengan alokasi biaya untuk setiap kegiatan yang ditetapkan sebagai berikut : a. Pengeluaran uang dari pemegang kas Puskesmas untuk setiap perawatan harus mendapat persetujuan kepala Puskesmas dengan bukti kartu status perawatan. biaya petugas jaga. yang mencakup upaya kesehatan perorangan (UKP) dan upaya kesehatan masyarakat (UKM). Pertolongan Persalinan di Puskesmas dan BDD Pemanfaatan paket dana untuk persalinan normal di Puskesmas dan Jaringannya termasuk Bidan di Desa adalah sebagai berikut: 1).

Revitalisasi Posyandu dan Perbaikan Gizi Dana revitalisasi posyandu dan perbaikan gizi dimanfaatkan untuk memfungsikan kembali 250. Biaya konsultasi teknis Puskesmas ke Dinas Kesehatan 4). setelah disepakati melalui lokakarya mini puskesmas. Biaya penyelenggaraan pertemuan koordinasi di kecamatan 6). KMS. Biaya penyelenggaraan Pelatihan kader posyandu dan PIN 5). Biaya transport Pembinaan Puskesmas ke Pustu. Biaya pengambilan vaksin termasuk vaksin polio untuk PIN d. Posyandu yang kurang aktif atau sudah tidak aktif. 2). pencatatan dan pelaporan. Posyandu yang masih aktif dana revitalisasi posyandu dapat dimanfaatkan untuk : • Biaya transportasi kader pada saat kegiatan • Biaya transport penyuluhan gizi dan kesehatan • Pembelian bahan makanan tambahan penyuluhan (PMT Penyuluhan) • Biaya transport kunjungan rumah.Besaran setiap paket diatur oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat sesuai dengan dana yang tersedia dan jumlah ibu bersalin yang ada di wilayah tersebut. Biaya operasional rujukan terbatas (pada kasus gawat darurat) dari Puskesmas dan jaringannya ke Rumah Sakit. Operasional dan Manajemen puskesmas Dana operasional dan manajemen puskesmas dimanfaatkan untuk kegiatan sebagai berikut: 1). akan digunakan untuk • Biaya penyelenggaraan pelatihan kader baru • Biaya penyelenggaraan refreshing/penyegaran kader • Biaya transport kader pada saat kegiatan • Biaya transport Penyuluhan gizi dan kesehatan • Pembelian bahan makanan tambahan penyuluhan (PMT Penyuluhan) • Biaya transport kunjungan rumah. Biaya penggandaan. Bidan Di Desa dan Pos yandu 3). poster 9). Realokasi ditetapkan/disyahkan oleh kepala dinas kesehatan. • Pembelian alat tulis kader Setelah program dilaksanakan Jika di dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan dasar dan pertolongan persalinan salah satunya terjadi kekurangan dana dapat dilakukan realokasi antar kedua sumber dana tersebut. Pembayaran klaim untuk persalinan diajukan oleh penolong persalinan kepada kepala Puskesmas setempat dengan bukti-bukti termasuk partograf Pasien masyarakat miskin tidak boleh dipungut iur biaya untuk menambah kekurangan biaya persalinan.000 posyandu pada Kab/Kota di seluruh Indonesia untuk kegiatan sebagai berikut : 1). Bagi Puskesmas atau bidan yang menolong persalinan masyarakat diluar wilayah kerja maka dapat melakukan klaim ke Puskesmas dimana ibu bersalin itu terdaftar dengan menunjukan bukti persalinan (partograf). Biaya kegiatan Lokakarya Mini Puskesmas termasuk persiapan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) 7). 9 . Bukti pertolongan persalinan menggunakan partograf c. • Pembelian alat tulis kader 2). Pembelian Alat tulis kantor 8).

jasa pelayanan. d. • Sisa dana tahun 2004 dan tahun sebelumnya . Para penerima dana harus memiliki buku kas umum dan dilengkapi dengan buku kas pembantu. dan dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan pelayan secara optimal. pembelian barang lain) dibuktikan dengan kwitansi dan faktur toko dan dicatat dalam buku kas keuangan Puskesmas. Setiap uang masuk dan keluar dari kas dicatat di buku catatan (buku Kas) berikut buktibukti penggunaannya dan Pembukuan terbuka bagi pengawas intern maupun extern setelah memperoleh ijin Kepala Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. BP4 dan BKMM/BKIM meliputi : a. f. jika diperlukan. Bentuk Pertanggungjawaban Keuangan : • Untuk belanja barang (seperti uang transport. Penggunaan sisa dana • Bunga tabungan/jasa giro tidak dapat dipergunakan oleh penerima dana.7. Penggunaan dana harus disesuaikan dengan pemanfaatannya dan tidak di batasi oleh berakhirnya tahun anggaran sehingga dana tersebut dapat terus bergulir ditahun berikutnya. c. honor. Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) terdiri dari: 1) Konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan dengan dokter spesialis/umum 2) Pemeriksaan fisik 3) Pelayanan rehabilitasi medis 10 . B. lumpsum. insentif. • Dana tahap I (Januari-Juni) 2005 yang dikelola PT ASKES akan dipertanggungjawabkan oleh PT. Dana yang telah di transfer ke buku tabungan Puskesmas (termasuk bunga tabungan) menjadi tanggungjawab penuh pimpinan Puskesmas tersebut. Jasa giro tersebut untuk sementara tetap berada di rekening penerima dana (Puskesmas) sampai adanya peraturan lebih lanjut dari Dirjen Perbendaharaan Departemen Keuangan RI. Menunjuk seorang Pegawai di Puskesmas tersebut sebagai penanggung jawab keuangan yang bertanggung jawab melakukan pembukuan keuangan Puskesmas. Paket Pelayanan Kesehatan Rujukan Pelayanan Kesehatan Rujukan di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta yang ditunjuk. e. • untuk belanja modal (seperti belanja ATK. Askes kepada DEPKES secara menyeluruh. fotokopi. Apabila terdapat sisa dana maka sisa dana itu akan menjadi sumber pembiayaan tahap berikutnya. Pelayanan Kesehatan Rujukan 1. b. Pertanggungjawaban Untuk menjamin akuntabilitas pemanfaatan dana maka setiap Puskesmas: a. pembelian bahan habis pakai. Sisa dana di Puskesmas dan jaringannya dapat pula dipergunakan untuk intervensi/perbaikan gizi (kurang dan buruk) pada daerah-daerah yang mengalami masalah Gizi buruk dan Penyelenggaraan Kegiatan PIN. Penerima dana atau pengelola dana program bertanggungjawab membuat dan mengirim laporan sesuai ketentuan. • untuk pengadaan obat yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota mengikuti peraturan yang berlaku untuk pengadaan barang dan jasa. biaya makan dll) dikeluarkan dengan bukti tanda tangan penerima uang untuk kegiatan tersebut pada buku kas keuangan Puskesmas.

laboratorium klinik. 2005 11 . Kontap Pasca Persalinan/Keguguran). alat dan tindakan yang bertujuan untuk kosmetik 3) General check up 4) Prostesis : gigi tiruan dan korset. besar dan khusus 7) Pelayanan rehabilitasi medis 8) Perawatan intensif (ICU. ICCU) 9) Pemberian obat-obatan sesuai DPHO 10) Pelayanan darah 11) Bahan dan alat kesehatan habis pakai 12) Persalinan dengan penyulit. (alat kontrasepsi dan sebagian dana kontap disediakan BKKBN) 8) Pemberian obat-obatan sesuai DPHO *) 9) Pelayanan darah 10) Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi. d. 2. Pelayanan yang tidak dijamin 1) Pelayanan yang tidak sesuai prosedur dan ketentuan 2) Bahan. sedang dan besar Pemeriksaan dan pengobatan gigi tingkat lanjutan Pelayanan KB (termasuk kontap elektif. pengobatan dan tindakan dalam upaya mendapatkan keturunan. radiologi dan elektromedik 5) Tindakan medis 6) Operasi sedang. Penggunaan obat diluar DPHO masih dapat dimungkinkan sepanjang sesuai dengan indikasi medis berdasarkan Protokol Therapy yang diusulkan oleh Komite Medik dan disetujui oleh Direktur RS yang bersangkutan b. laboratorium klinik. 5) Penunjang diagnostik canggih. 2) Pelayanan darah Biaya transportasi pemulangan pasien dari Rumah Sakit dan rujukan antar Rumah Sakit hanya diberikan kepada masyarakat miskin yang terdaftar sebagai peserta program/memiliki kartu JPK-MM. pengobatan tradisional) 7) Rangkaian pemeriksaan. kecuali untuk “life-saving” 6) Pengobatan alternatif (antara lain : akupunktur. Rawat inap tingkat lanjut (RITL) 1) Akomodasi rawat inap pada kelas III di RS 2) Konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan 3) Pemeriksaan fisik 4) Penunjang diagnostik. c. penyembuhan efek samping serta komplikasinya. termasuk bayi tabung dan pengobatan impotensi.4) 5) 6) 7) Penunjang diagnostik. Pelayanan gawat darurat 1) Pelayanan gawat darurat (emergency) termasuk pelayanan ambulans. Sumber Dana Dana untuk program jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat bersumber dari dana APBN-P yang dialokasikan melalui DIPA Program Upaya Kesehatan Masyarakat TA. radiologi dan elektromedik Tindakan medis kecil. Obat yang diberikan mengacu pada DPHO.

BP4. Askes (Persero). Pihak PT. BKMM/BKIM melalui tarif paket yang mengacu pada jenis dan plafon tarif pelayanan kesehatan pada program ini. KPPN .3. 1) Membuat pencatatan dan pembukuan dana yang dikelolanya 2) Membuat pelaporan triwulan dan tahunan kepada Menteri Kesehatan cq Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan RI 12 . BP4. f. Pemanfaatan Dana Dana yang dikelola PT Askes meliputi unjtuk pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap di kelas III Rumah Sakit.Jakarta V menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) kepada PT Askes yang diajukan oleh pejabat pengguna anggaran/ pejabat kuasa pengguna anggaran dengan dilampiri : 1) Surat Perjanjian Kerjasama antara Menteri Kesehatan dengan Dirut PT ASKES disertai dengan Rencana Anggaran Belanja. Setelah hasil verifikasi disetujui PT Askes (Persero) segera membayar klaim paling lambat 10 hari sejak klaim diajukan. BKMM/BKIM. 4. Kesepakatan atas tarif tersebut diatas dituangkan dalam suatu Nota kesepahaman (PKS) yang harus dipatuhi dan menjadi acuan kedua belah pihak. 2) Surat Penugasan dari Menteri Kesehatan kepada PT ASKES 3) Tagihan biaya jaminan pemeliharaan kesehatan yang diajukan oleh PT ASKES kepada Menteri Kesehatan. BKMM/BKIM sesuai hasil kesepakatan berdasarkan negosiasi antara PT ASKES (Persero) dengan PPK. Berdasarkan Surat Perintah Membayar. Askes (Persero) sebagai pengelola dana Layanan Rujukan RS. 5. b. PT Askes (Persero) sebagai pengelola mengajukan pemeliharaan kesehatan kepada Departemen Kesehatan. Negosiasi dilaksanakan dengan menggunakan pola perhitungan tarif yang digunakan oleh PT Askes (Persero) dan Perhitungan tarif PPE yang berlaku di disetiap Rumah Sakit. Pembayaran terhadap pelayanan di Rumah Sakit . 6. Prosedur Klaim a. Askes (Persero) serta penerbitan dan pendistribusian kartu peserta sampai ke sasaran. Besaran tarif riil di Rumah Sakit. c. Dinas Kesehatan membuat dan mengirim rekapan laporan kegiatan pelaksanaan per tiga bulan ke Sekretariat Safeguarding Pusat. termasuk dana operasional dan manajemen PT. Penyaluran Dana a. RS mengajukan klaim atas pelayanan yang telah diberikan dengan disertai dukomen pedukung kepada PT. b. Pertanggungjawaban a. Pihak RS sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan dan penerima dana klaim dari PT Askes (Persero) 1) Membuat pencatatan data pasien miskin serta besaran biayanya Membuat dan mengirim rekapan laporan bulanan kegiatan pelaksanaan di RS/BP4/BKMM sesuai format terlampir ke PT Askes dengan tembusan ke Tim Safeguarding Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. BP4. penagihan biaya jaminan b. Berdasarkan penagihan tersebut Departemen Kesehatan menerbitkan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta V untuk membayarkan dana tersebut kepada PT Askes c. d. baik Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta yang ditunjuk. BP4. BKMM/BKIM. berdasarkan hal tersebut PT Askes melakukan verifikasi kelengkapan dan kesesuaian dengan ketentuan. e.

sarana pengaman. Kabupaten maupun Propinsi (tergantung SDM disetiap tingkatan) dengan mengunjungi ke lokasi-lokasi daerah terpencil dan kepulauan secara reguler dan berkesinambungan. Dalam upaya meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan di daerah kepulauan dan terpencil disediakan dana khusus untuk operasionalisasi pelayanan kesehatan dimaksud.a) Laporan triwulan paling lambat N+1 bulan yang terdiri dari : i) Laporan aktivitas (Laporan cakupan kegiatan program) ii) Laporan arus kas iii) Laporan posisi keuangan iv) Catatan atas laporan keuangan b) Laporan tahunan paling lambat N+3 bulan yang terdiri dari : i) Laporan aktivitas (Laporan cakupan kegiatan program) ii) Laporan arus kas iii) Laporan posisi keuangan Catatan c. Jenis Kegiatan a. Kartu Stock). 13 . Puskesmas sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan membuat laporan seperti format lampiran 2 setiap bulan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 676/Menkes/SK/V/2005 tentang pedoman umum pengadaan obat PKD tahun 2005. e. a) Pendistribusian obat ini dilakukan sbb : • Obat dikirim franco Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota membuat rencana alokasi pendistribusian obat PKD untuk dikirim ke Puskesmas. • Jenis dan jumlah obat yang akan diadakan disusun berdasarkan usulan Dinas Kesehatan kabupaten/Kota dengan mengacu daftar obat PKD. Dinas Kesehatan kabupaten/Kota membuat rekapitulasi laporan bulanan Puskesmas (lampiran 14) dan dikirim ke Sekretariat Safeguarding Pusat tiga bulan sekali dengan tembusan ke Dinas Kesehatan Propinsi. Pengadaan obat diadakan di Pusat dengan mengacu kepada Kepres No. Adapun penyelenggaraan kegiatan pelayanan tersebut dilakukan oleh tim kesehatan Puskesmas. c. b. Penyediaan obat esensial PKD dan vaksin (Polio dan Hepatitis B) 1) Pengadaan obat esensial PKD : merupakan kegiatan penunjang yang diperuntukan bagi pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya. • Pendistribusian obat sampai ke Dinas Kesehatan Kab/Kota dilakukan oleh Distributor. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota membuat umpan balik ke Puskesmas tiap bulan. sarana pengolah data. sarana pembangkit daya (genset) dan bahan cetakan (LPLPO. dokumen dikirimkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Propinsi. Perbaikan Gudang Farmasi Daerah Rehabilitasi/renovasi gudang farmasi dan perlengkapan gudang yang terdiri dari: sarana penyimpanan. 80 tahun 2003 tentang Pedoman pengadaan barang dan jasa Pemerintah dan Kep Menkes RI No. Penunjang 1. Pelayanan Kesehatan Daerah Kepulauan dan Terpencil Jenis pelayanan kesehatan dasar di daerah kepulauan dan terpencil adalah sama dengan pelayanan kesehatan dasar didaerah lain. d. C.

• Bantuan Biaya pendistribusian obat ke Puskesmas disediakan oleh Pusat melalui Bank BRI yang dapat digunakan untuk pengelolaan obat di unit pengelola obat dan Perbekalan Kesehatan dengan perincian biaya transportasi pengiriman obat ke Puskesmas. • Penyerahan obat kepada pasien peserta program ini dicatat dalam catatan medik (dokumen sejenis yang berlaku di Puskesmas dan jaringannya) b) Pencatatan dan Pelaporan Obat • Puskesmas pada setiap bulannya menyampaikan LPLPO yang disertai jumlah masyarakat yang dilayani kepada Unit Pengelola Obat dan Perbekalan Kesehatan di kabupaten/kota. 80 tahun 2003 tentang Pedoman pengadaan barang dan jasa Pemerintah. 14 . Pengadaan vaksin polio diadakan di Pusat dengan mengacu kepada Kepres No. • Unit Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan kabupaten/kota menyampaikan laporan ketersediaan obat setiap 3 Bulan (triwulan) kepada Dinas Kesehatan Propinsi dengan tembusan Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. • Distribusi ke Puskesmas menurut alokasi ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab/kota. • Propinsi menyusun dan mengirimkan laporan penggunaan vaksin Polio. 2) Pengadaan Vaksin a) Pengadaan Vaksin Polio Pengadaan Vaksin merupakan kegiatan penunjang yang diperuntukan bagi Balita pada pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang dimaksudkan untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus polio. b) Pengadaan Vaksin Pengadaan Vaksin merupakan kegiatan penunjang yang pengadaan obat diadakan di Pusat dengan mengacu kepada Kepres No. kab/kota dan Puskesmas mengacu pada kondisi pada vaccine vial monitor (VVM) serta sistem FIFO (First in first out)/ FEFO ( First expired first out) • PIN dilaksanakan pada periode tertentu (Agustus dan September) dengan rekapitulasi pengeluaran vaksin menurut jumlah pemakaian. 80 tahun 2003 tentang Pedoman pengadaan barang dan jasa Pemerintah. • Puskesmas menggunakan vaksin polio ini untuk imunisasi pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) di pospin-pospin yang ada diwilayah kerja puskesmas tersebut. • Pengiriman dari kabupaten/kota ke Puskesmas menjadi tanggung jawab Kepala Dinas Kesehatan Kab/kota. • Pendistribusian alat kontrasepsi mengikuti sistim distribusi yang berlaku di BKKBN. • Penggunaan /pengeluaran vaksin polio dari provinsi. Pengadaan Vasksin Polio ini dilakukan sbb : • Pengadaan Vaksin ini Franko Provinsi • Distribusi ke kabupaten/kota menurut alokasi ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Packing dan Repacking serta embalage. • Pencatatan dan pelaporan obat kontrasepsi mengikuti sistim pencatatan dan pelaporan yang berlaku di BKKBN.• Puskesmas membuat usulan kebutuhan untuk pelayanan kesehatan dasar termasuk untuk Program ini dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) • Pendistribusian dari unit pengelola obat dan perbekalan kesehatan mengacu pada pedoman Pengelola Obat Kab/Kota berdasarkan Sistem FIFO/FEFO (First In First Out)/(First Expired First Out).

kab/kota dan Puskesmas mengacu pada kondisi pada vaccine vial monitor ( VVM) serta sistem FIFO ( First in first out)/ FEFO ( First expired first out). Lokasi penerima bantuan sarana dan prasarana ditetapkan oleh Departemen Kesehatan e. • Puskesmas menggunakan vaksin untuk imunisasi pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) di pos PIN-pos PIN yang ada diwilayah kerja puskesmas tersebut. Peningkatan sarana dan prasarana penunjang pelayanan Penyediaan sarana dan prasarana penunjang. Alokasi Dana a). • Penggunaan/pengeluaran vaksin dari provinsi. • Distribusi ke Puskesmas menurut alokasi ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab/kota. 2005 f. Perbaikan Gudang Farmasi Daerah. PHN Kit) Digunakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dalam menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi serta menurunkan prevalansi gizi buruk dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dengan menyediakan dukungan sarana dan prasarana bagi bidan dan Puskesmas serta menigkatkan fungsi Puskesmas PONED dan Polindes. Untuk kegiatan perbaikan gudang farmasi daerah penetapan alokasi dan penyaluran untuk kegiatan ditingkat Propinsi. • Propinsi menyusun dan mengirimkan laporan penggunaan vaksin Polio. 2) Kendaraan Roda 4 untuk Puskesmas Digunakan untuk kegiatan puskesmas keliling dalam meningkatan jangkauan pelayanan kesehatan/kunjungan luar gedung. • Pengiriman dari kabupaten/kota ke Puskesmas menjadi tanggung jawab Kepala Dinas Kesehatan Kab/kota. • Setiap bulan atau pada periode tertentu dibuat rekapitulasi pengeluaran vaksin menurut jumlah pemakaian. yaitu: 1) Kendaraan Roda 2 untuk Puskesmas Digunakan untuk petugas/paramedis keliling dalam meningkatan jangkauan pelayanan kesehatan/kunjungan luar gedung. Kabupaten dan Puskesmas ditetapkan dengan SK kepala Dinas Kesehatan Propinsi 15 . g. d. Penyaluran Dana Dana untuk Pelayanan Kesehatan Daerah terpencil/kepulauan disalurkan dari Departemen Kesehatan melalui BANK BRI Indonesia kepada Dinas Kesehatan Propinsi berdasarkan SK Menkes Nomor: 1304/MENKES/SK/VIII/2005.Pengadaan Vasksin ini dilakukan sbb : • Pengadaan Vaksin ini Franko Provinsi • Distribusi ke kabupaten/kota menurut alokasi ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Sumber Dana Dana untuk Penunjang bersumber dari dana APBN-P yang dialokasikan melalui DIPA Program Upaya Kesehatan Masyarakat TA. 3) Peralatan pelayanan kesehatan dasar (Bidan Kit. Posyandu Kit. Yankes Daerah terpencil dan Kepulauan b).

sarana pembangkit daya (genset) dan bahan cetakan (LPLPO. Safe Guarding Safe guarding adalah kegiatan yang bertujuan untuk menjamin dan mengamankan kegiatankegiatan tersebut diatas agar tepat sasaran. Pemanfaatan Dana a) Yankes Daerah Terpencil dan Kepulauan 1) Pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat di daerah terpencil /kepulauan ii. Penyuluhan dan penyebaran informasi b). biaya makan dll) dikeluarkan dengan bukti tanda tangan penerima uang untuk kegiatan tersebut pada buku kas keuangan penanggungjawab program • untuk belanja modal (seperti belanja ATK. review. Safe guarding tingkat Propinsi Penyuluhan dan penyebaran informasi (media cetak lokal. pembelian bahan habis pakai. • Lain-lain pertanggungjawaban keuangan atas semua pemanfaatan dana mengikuti peraturan dan perundang-undangan APBN yang berlaku. vi. Pengembangan Sistem Informasi Manajemen. lumpsum. sarana pengolah data. Safe guarding tingkat Kab/Kota a). media cetak nasional. yang terdiri dari sarana penyimpanan. Kartu Stock). iii. sarana pengamanan. Penanganan pengaduan masyarakat. radio) Pemantauan (termasuk pengendalian. pembelian barang lain) dibuktikan dengan kwitansi dan faktur toko dan dicatat dalam buku kas keuangan penanggungjawab program. Rapat-rapat persiapan 3) Asuransi kecelakaan bagi petugas dalam menjalankan tugas. pemantauan/pengendalian dan evaluasi. sosialisasi dan evaluasi) Penanganan pengaduan masyarakat. Pemantauan (termasuk pengendalian. iv. fotokopi. 3. sosialisasi dan evaluasi) c). c) Pertanggung Jawaban Bentuk Pertanggungjawaban Keuangan : • Untuk belanja barang (seperti uang transport. honor. insentif.h. jasa pelayanan. D. Biaya transport termasuk sewa alat transportasi Darat. televisi) Perencanaan. Penanganan pengaduan masyarakat. 4) Kebutuhan obat dan bahan habis pakai tidak termasuk dalam paket ini b) Perbaikan Gudang Farmasi Daerah Dana dimanfaatkan untuk perbaikan/ renovasi gudang farmasi beserta penggantian dan perlengkapan gudang. 2. laut dan Udara lumpsum petugas Bahan kontak kesehatan Bahan penyuluhan Perlengkapan/alat keselamatan diri 1) Bimbingan Teknis petugas 2) Koordinasi pelayanan antar kabupaten daerah terpencil/kepulauan i. Kajian/studi program JPK-MM. berhasil guna dan berdaya guna. pertemuan-pertemuan koordinasi lintas program lintas sector ii. 16 . Safe guarding tingkat Pusat Penyuluhan dan penyebaran informasi (sosialisasi program. operasional kegiatan. v. Kegiatan tersebut meliputi : 1.

2. Angka kematian > 48 Jam untuk pasien rawat inap kelas III di Rumah Sakit maksimal 5% 5. Yang dilakukan secara bulanan. Pemantauan dan Evaluasi dilakukan terhadap tingkat utilitas (pemanfaatan) terhadap pelayanan kesehatan oleh masyarakat serta kendala dan keluhan yang terjadi dalam penyelenggaraan baik di Puskesmas dan Rumah Sakit dan PT Askes. Universal Child Imunization (UCI) Desa B. Askes maupun pihak Rumah Sakit) dan kegiatan penunjang. Cakupan pemeriksaan kehamilan K4 (90%). Pemantauan dan evaluasi harus dilengkapi dengan pencatatan dan pelaporan secara berkala dari Pelayanan kesehatan dasar. Penanganan Keluhan Penyampaian keluhan disampaikan oleh masyarakat penerima pelayanan. sedangkan evaluasi dilakukan untuk melihat pencapaian indikator keberhasilan. triwulanan. Dinas Kesehatan Propinsi. Pelaksanaan Pemantauan dan evaluasi a. Tujuan Pemantauan dan evaluasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang kesesuaian antara rencana dengan pelaksanaan program JPK-MM. melalui : 1). Pertemuan-pertemuan 2). b. Pemantauan dan evaluasi terhadap Program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rujukan Rawat Inap kelas III Rumah Sakit yang dijamin Pemerintah dilaksanakan oleh Pusat. nifas (90%) dan perawatan bayi baru lahir KN2 (90%) oleh petugas kesehatan. Prosentase pasien yang dirujuk dari pelayanan kesehatan dasar 12% 8. Penerbitan dan distribusi kartu 100% dari peserta terdaftar 2. BOR rawat inap kelas III di Rumah Sakit 80% 4. Pemantauan dan evaluasi terhadap keuangan difokuskan pada akuntabilitas dan transparansi penyaluran dan pemanfaatan dana di Pelayanan kesehatan dasar. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan diarahkan agar penyelenggaraan program dapat berjalan lebih efektif dan effisien. C. semester maupun tahunan. Indikator Keberhasilan Program Sebagai patokan dalam menilai keberhasilan dan pencapaian dari pelaksanaan program ditentukan indikator sebagai berikut : 1. Penelitian langsung 5). Kunjungan lapangan dan supervisi 4).4. pelayanan kesehatan rujukan dan kegiatan penunjang. Cakupan Imunisasi dasar (90%). (survei kepuasan pelanggan) d. c. 7. Tingkat kepuasan konsumen minimal 70% 6. persalinan (80%). Pemantauan dan Evaluasi Serta Penyelesaian Keluhan A. Angka utilisasi (visit rate) minimal rata-rata 15% 3. pelayanan kesehatan rujukan (baik PT. 17 . masyarakat pemerhati dan petugas pemberi pelayanan serta petugas pengelola. Pengaduan merupakan umpan balik bagi semua pihak yang terkait dalam upaya penyelenggaran program yang transparan dan akuntabel. Analisis laporan 3). Pemantauan dan Evaluasi Program Pemantauan dan evaluasi Program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rujukan kelas III Rumah Sakit yang dijamin Pemerintah meliputi : 1.

Dinas Kesehatan yang bersangkutan juga harus membuat laporan. 5. Pengumpulan dilakukan secara pasif maupun proaktif. Jl. 2. di Pusat. 2. BP4. dengan tembusan kepada Bupati/Walikota. dan BKMM dan Unit SFG. Laporan Bulanan Puskesmas b). masyarakat pemerhati. Laporan Triwulanan Laporan Triwulanan mengenai ketersediaan obat di Kab/Kota. memanfaatkan Unit pengaduan Masyarakat (UPM) maupun forum-forum yang telah ada. d). dianalisa dan dikirimkan oleh Unit Safeguarding (SFG) Dinas Kesehatan Provinsi dan kabupaten/Kota tentang pelaksanaan pelayanan kesehatan dan kegiatan penunjangnya. khusus tentang pengeluaran vaksin (hepatitis B). e). Pengaduan dapat disampaikan oleh masyarakat penerima layanan. Laporan ini dikirimkan kepada Sekretariat Program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rujukan Rawat Inap kelas III Rumah Sakit. Apabila terjadi kesulitan dalam menangani dan menyelesaikan pengaduan pada tingkat terdekat. Sekretariat Program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rujukan Rawat Inap kelas III Rumah Sakit. 4. dan petugas PPK. Laporan Unit Safeguarding Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kab/Kota. Penanganan Keluhan dilakukan secara terstruktur dan berjenjang 3. Untuk menangani dan menyelesaikan pengaduan. Laporan Dinas Kesehatan Kab/Kota. Gubernur dan TKP. Rumah Sakit. dan BKMM c). Laporan Dinas Kesehatan Provinsi. HR Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9 Kuningan Jakarta Selatan 12950 Telp : (021) 5279409 Fax : (021) 5279409 E-Mail : pkps_bbmbidkes@yahoo. yang meliputi: 1. Semua pengaduan harus memperoleh penanganan dan penyelesaian secara memadai dan dalam waktu yang singkat serta diberikan umpan balik ke pihak yang menyampaikannya. sebagai berikut . 1. Sedangkan khusus untuk laporan pelaksanaan PIN (polio) disesuaikan dengan waktu pelaksanaanya f). masalah yang dikeluhkan dapat dirujuk pada tingkat/forum yang lebih tinggi.com 18 . Penyelesaian pengaduan terlebih dahulu ditangani dan diselesaikan oleh forum yang terdekat dengan sumber pengaduan. Laporan Bulanan : a). mempergunakan formulir laporan obat. BP4. khusus Monitoring Obat.Prinsip-prinsip penanganan keluhan dilakukan. 6. Khusus untuk Daerah yang memperoleh bantuan dana perbaikan gudang farmasi. termasuk obat JPK MM BIDKES. D. Data laporan diperoleh dari Puskesmas. Laporan Bulanan RS. dengan alamat : Biro Perencanaan dan Anggaran Departemen Kesehatan Lt VIII Blok A. Pelaporan Laporan diolah.

Yang berhak megambil dana kegiatan Safe Guarding untuk tiap Propinsi dan Kabupaten / Kota adalah Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten / Kota setempat atau pejabat yang ditunjuk 19 . Pengawasan Fungsional Pengawasan fungsional ini dilaksanakan oleh Aparat Pengawasan Fungsional (APF). yang menjadi dasar pengiriman dana dari Bank BRI Pusat ke Cabang/Cabang Pembantu Kabupaten/Kota. Pengawasan atasan langsung (waskat) dilakukan oleh pimpinan unit (Kepala Dinas Kesehatan/Direktur Rumah Sakit/BP4/BKMM) dalam hal ini dapat dilimpahkan kepada tim sekretariat Safeguarding Program PKPS-BBM Bidkes yang dibentuk selaku atasan langsung pengelola keuangan (bendahara) kegiatan Program PKPSBBM Bidkes di tingkat Provinsi. 3. Pengawasan langsung Pengawasan langsung keuangan dapat dilakukan dalam bentuk pemeriksaan Buku Kas Umum (BKU) dan Buku Kas Pembantu (BKP) serta catatan lain yang berkaitan dengan proses pelaksanaan kegiatan Program ini. 4. Menteri Kesehatan menerbitkan SK penetapan alokasi dana untuk kegiatan SafeGuarding untuk tiap Propinsi dan Kabupaten/Kota. Kota dan Rumah Sakit/BP4/BKMM. Pada setiap akhir bulan dilakukan penutupan buku kas umum dan dibuatkan berita acara penutupan kas yang ditandatangani oleh pengelola keuangan (bendahara) tim sekretariat Program PKPS-BBM Bidkes dan atasan langsung. Kab/Kota dan Direktur RS atau Pejabat lain yg diberi wewenang.E. Pengawasan Pelaksanaan pengawasan untuk program jaminan masyarakat miskin dapat dilakukan dengan cara : pemeliharaan kesehatan bagi 1. Pengawasan Tidak Langsung Pengawasan tidak langsung dapat dilakukan melalui laporan pelaksanaan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Renmonev) dan penanganan keluhan oleh Kadinkes Prov. Pengawasan Masyarakat Pengawasan masyarakat dilaksanakan sesuai dengan mekanisme kerja unit pengaduan masyarakat (UPM) yang ada. 2. Kabupaten.

Tugas Unit Safeguarding adalah merencanakan dan melaksanakan program yang berkaitan dengan : a. b. Pendistribusian peralatan kesehatan dasar ke Puskesmas d. Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota membentuk Unit safeguarding yang beranggotakan subdin terkait dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan miskin. Menteri Kesehatan membentuk : 1. Pendistribusian kendaraan roda dua dan roda empat ke Puskesmas c. Sosialisasi. pembinaan dan evaluasi program. penyuluhan. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi menetapkan : a.BAB IV PENGORGANISASIAN A. Pengelolaan Vaksin Hep-B dan polio c. pemantauan. Pengelolaan dana pelayanan Yankes kepulauan dan daerah terpencil (Propinsi tertentu) d. Untuk membantu kelancaran pelaksanaan Program. pemantauan. penyuluhan. C. Propinsi 1. persalinan. • Mengelola laporan • Melaksanakan kegiatan Administrasi Umum. Alokasi dana pelayanan kesehatan dasar. B. Pengelolaan Buffer stock obat b. • Koordinasi kegiatan dengan pihak terkait. Dalam pelaksanaannya sekretariat membantu administratif pelaksanaan sehari-hari dan bertanggungjawab kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Pemegang Komitmen (PK) dalam penyelenggaraan program. diketuai oleh Sekretaris Jenderal. Mengelola laporan dari Puskesmas. b. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menetapkan : a. Besaran biaya distribusi obat/handling cost ke Puskesmas e. 2. Sosialisasi. Mengelola laporan dari Dinas Kabupaten/Kota. 2. Pejabat pengelola dana safeguarding di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota f. Tim Pengarah dibantu oleh Tim Teknis (eselon III terkait) dan Sekretariat safeguarding Pusat. Pejabat Pengelola Anggaran di Propinsi Kabupaten / Kota 1. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi membentuk Unit safeguarding yang beranggotakan Subdin terkait dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat miskin. terdiri dari : • Memfasilitasi kegiatan sosialisasi (Media Cetak dan Elektronik. Pusat Dalam rangka pengelolaan program pelayanan kesehatan masyarakat miskin. monitoring dan evaluasi dan kajian/study. Operasional dan Manajemen serta penanggung jawabnya ditiap Puskesmas b. Sekretariat Tim safeguarding pusat berfungsi untuk membantu kelancaran pelaksanaan program pelayanan kesehatan masyarakat miskin. Pengelola perbaikan gudang farmasi e. Tugas Unit Safeguarding merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan : a. Pengelola perbaikan gudang farmasi (Kabupaten/Kota tertentu) 20 . Revitalisasi Posyandu dan Perbaikan Gizi. pertemuan) • Memfasiliasi pembinaan. pembinaan dan evaluasi program. 2. Tim Pengarah yang anggotanya adalah eselon I dan II terkait.

================== 21 . karenanya kitik dan saran sangat kami harapkan sebagai bahan masukan guna perbaikan dimasa mendatang. Disadari bahwa pedoman ini masih belum sempurna. karena itu pedoman ini perlu disosialisasikan kepada seluruh masyarakat dan para pihak yang terkait dalam penyelenggaran program ini. oleh karenanya perlu didukung oleh semua pihak agar program berjalan dengan baik dan sukses. Program ini merupakan upaya pemerintah untuk memenuhi kewajibannya dalam memberikan akses pelayanan kesehatan yang seluas-luasnya bagi masyarkat miskin dan tidak mampu. Berbagai perubahan yang dilakukan dalam pedoman ini semata-mata ditujukan untuk memenuhi tuntutan akan pelayanan kesehatan masyarakat miskin yang bermutu dan sesuai standard.BAB V PENUTUP Dengan terbitnya buku pedoman pelaksanaan program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dan Rujukan Rawat Inap Kelas III Rumah Sakit yang dijamin Pemerintah ini diharapkan para pelaksana benar-benar dapat memahami dan melaksanakan program tersebut dengan baik serta dapat dipergunakan sebagai acuan bagi penyelenggaraan program ini.