Kisah dan Humor Sufi Nasrudin Hoja Bag 2

Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu dan Seputar Informasi Terkini.
Melanjutkan publikasi bertema seputar Humor, Cerita dan Kisah Sufi. Pada kesempatan yang
berbahagia ini kami akan berbagi posting singkat tentang Kisah Nasrudin Hoja. Untuk lebih
lengkapnya silakan Sobat menengok posting sebelumnya, tentang "Humor, Cerita dan Kisah
Sufi Nasrudin Hoja bag 1 dan Biografi Singkat Nasrudin Hoja".

Daftar isi cerita (klik list untuk melompati cerita)
1. Teori Kebutuhan
2. Perusuh Rakyat
3. Api !
4. Yang Benar-Benar Benar
5. Seperti Wujudmu
6. Mimpi Relijius
7. Belajar Kebijakan
8. Nasib dan Asumsi
9. Baju dan Kuda: Salah Orientasi
10. Menjual Tangga
Teori

Kebutuhan

Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya
cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,
"Seandainya

saja,

setiap

orang

mau

mematuhi

hukum

dan

etika,

..."

Nasrudin menukas, "Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah
yang
harus
disesuaikan
dengan
kemanusiaan."
Hakim mencoba bertaktik, "Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda
memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?"
Nasrudin

menjawab

seketika,

"Tentu,

saya

memilih

kekayaan."

Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat.

hai mullah!" teriak pengawal. Kami hanya menjaga agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang.Dan Nasrudin Hakim Anda memilih balik menjawab kekayaan bertanya. "Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. kebijaksanaan?" pilihan saya Anda memilih sendiri?" kebijaksanaan. Saat ini sedang berlangsung pembicaraan penting. daripada "Kalau "Tentu. Pergilah !" "Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?" "Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. ================================ Api ! Hari Jum`at itu. tegas. menoleh kirikanan. [Nasrudin dikenali sebagai mullah karena pakaiannya] "Mengapa ?" tanya Nasrudin. "Dimana Nasrudin apinya. meneruskan khutbahnya. Nasrudin mencoba mendekati pintu istana. aku pergi. "Menjauhlah engkau. seisi masjid terbangun. dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk. membelalak dengan pandangan kaget. Mullah seolah tak acuh pada ?" yang bertanya. . "Api ! Api ! Api !" Segera saja. dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya." Dan Nasrudin menutup. "Terbukti. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?" kata Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya. Karena ingin tahu. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana. Maka berteriaklah Sang Mullah. Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah." ================================ Perusuh Rakyat Kebetulan Nasrudin sedang ke kota raja. pergilah !" "Iya. Sebagian ada yang langsung bertanya. Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah.

Setelah debat seru. mataku. Pada hari kesekian." Petugas majelis membujuk Nasrudin. wujud-Mu. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa." ================================ Seperti Nasrudin "Oh Seluruh Segala Tampak Wujudmu sedang merenungi harmoni kasih diriku yang alam. Nasrudin kembali berkomentar: "Aku rasa engkau benar." Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya. sehingga Nasrudin kembali terpikat. Nasrudin berkomentar: "Aku rasa engkau benar. "Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?" Nasrudin "Tampak berbalik."Api yang dahsyat di neraka. agung." ================================ Mimpi Relijius Nasrudin sedang dalam perjalanan dengan pastur dan yogi. bagi mereka yang lalai dalam beribadah. dan seperti menjawab dengan konsisten: wujudmu. . mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. akhirnya mereka bersepakat memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh mimpi paling relijius. Tidurlah mereka. oleh-Mu." oleh Seorang tukang melucu menggodanya. Harus ada salah satu yang salah ! Nasrudin menatapnya lesu. Setelah pengacara selesai. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika." ================================ Yang Benar-Benar Benar Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. menatapnya. dan kebesaran yang terselimuti tampak seperti Penciptanya. Masing-masing merasa berhak memakan roti itu. bekal mereka tinggal sepotong kecil roti. dan kemudian berkomentar: "Aku rasa engkau benar.

Ketika engkau terperangkap di dalamnya. Ia mengambil mangkoknya. Atau. ================================ Nasib "Apa dan artinya nasib. Tapi aku bermimpi melakukan perjalanan ke nirwana. dan tampak bayangan nabi Khidir bersabda 'Kalau engkau lapar. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik. Nasrudin bersedia." jawab Nasrudin. Itu nasib baik namanya. Itu adalah tanda yang istimewa sekali. pastur bercerita: "Aku bermimpi melihat kristus membuat tanda salib. konsistensi. Api kecil itu ditiup-tiupnya. "Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu. "Ah. kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi." Yogi menukas. dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Sop menjadi panas. maka engkau namakan itu nasib." ================================ Belajar Kebijakan Seorang darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. tetapi nyatanya tidak terjadi. aku rasa aku tidak jadi belajar darimu." Nasrudin berkata. tetapi kenyataannya tidak begitu. "Itu memang istimewa. "Agar lebih panas dan lebih besar apinya. "Mengapa sop itu kau tiup?" tanya sang darwis. dan menemui tempat paling damai. Nah itu yang disebut nasib buruk. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi." "Bagaimana ?" "Begini. Nasrudin memasak sop." ketus si darwis.Pagi harinya. engkau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk. Nasrudin menuangkannya ke dalam dua mangkok." Ah.' Jadi aku langsung bangun dan memakan roti itu saat itu juga. "Agar lebih dingin dan enak dimakan. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya. "Mengapa api itu kau tiup?" tanya sang darwis. Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Setelah api besar. kemudian meniup-niup sonya. makanlah roti itu. dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek." jawab Nasrudin." . Asumsi Mullah ?" "Asumsi-asumsi. saat bangun. "Aku bermimpi sedang kelaparan di tengah gurun.

marah. Setelah hujan berhenti. Tetapi sang tetangga memergokinya. Nasrudin melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya. Semua kuda dipacu kembali ke rumah. lalu membawa kudanya ke rumah.. punya sebuah tangga yang bagus. Tak lama kemudian hujan kembali turun deras. dan sedang aku jual. dan menyimpannya. "Sedang apa kau. Nasrudin ?" Nasrudin berimprovisasi. Nasrudin dipinjami kuda yang cepat. sementara baju mereka semuanya basah. Sampai rumah. Nasrudin melepas bajunya." ujar Nasrudin ringan. cuaca masih mendung. tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. Sementara itu. "Ini semua salahmu!" teriak tuan rumah. sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. hujan turun deras." ================================ Menjual Tangga Nasrudin mengambil tangganya dan menggunakannya untuk naik ke pohon tetangganya." . dipakainya kembali bajunya. Tidak lama. Nasrudin tetap kering. melipat. Kuda tuan rumah berjalan lambat.. "Itu berkat kuda yang kau pinjamkan padaku. Nasrudin bergaya filosof. bisa dijual di mana saja. kamu berorientasi pada kuda. Keesokan harinya. sehingga tuan rumah lebih basah lagi. bukan pada baju. "Aku . padahal kuda mereka lebih cepat. "Kamu membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!" "Masalahnya.================================ Baju dan Kuda: Salah Orientasi Nasrudin diundang berburu. Pohon itu bukan tempat menjual tangga!" kata sang tetangga. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering. "Tangga." "Dasar bodoh.