You are on page 1of 15

BAB I

LAPORAN KASUS
I.

II.

IDENTITAS
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Pekerjaan
Status
Alamat
Tanggal masuk RS
Tanggal pemeriksaan

: Tn. US
: 35 Tahun 8 Bulan 20 Hari
: Laki-laki
: Islam
: Wiraswasta
: Sudah menikah
: Sindangsari 02/12 Neglasari Kec. Banjaran Kab. Bandung
: 22 Juli 2013
: 22 Juli 2013

ANAMNESIS
KU : Nyeri Perut
Pasien mengeluh nyeri perut mendadak pada seluruh perut.
Keluhan nyeri perut diakui sudah dirasakan sejak 1 tahun yang lalu.
Nyeri awalnya berupa nyeri ulu hati yang dapat menghilang dengan
istirahat dan berbaring. Keluhan disertai demam sejak 3 hari SMRS.
Keluhan mual, muntah tidak ada. Pasien belum BAB sejak 3 hari
SMRS. BAK tidak ada keluhan.
Pasien sempat berobat ke klinik terdekat dan diberikan obat
anti nyeri. Karena nyeri tidak berkurang setelah mengonsumsi obat,
pasien datang ke RS. Riwayat penyakit maag tidak ada, riwayat
trauma tidak ada, riwayat kulit berwarna kekuningan tidak ada.
Pasien belum pernah merasakan keluhan seperti ini sebelumnya.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital
o TD
: 120/80 mmHg
o Nadi
: 89 x/menit
o Respirasi : 20 x/menit
o Suhu
: 37,9°C

Status Generalis

Kepala

: Normocephal
1

dalam keadaan statis dan dinamis : Fremitus vokal pada hemitoraks kanan – kiri teraba simetris : Sonor pada kedua hemitoraks : Vesikuler +/+ N. Rhonki -/-.500 .Leukosit : 13.     Mata Mulut Leher Thoraks Cor Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Pulmo Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi : Konjungtiva tidak anemis. Sianosis -/- Status Lokalis     IV. murmur (-). V. Sianosis -/: Edema -/-.5 .Trombosit : 218. Ballotement -/-.000  USG Appendiks Kesan : Menyokong Appendicitis Akut  Diff. NT pada seluruh  lapang abdomen terutama perut kanan bawah Ekstremitas Atas Bawah : Edema -/-. Count DIAGNOSIS BANDING  Appendisitis Akut  Ileus Obstruktif  Gastritis perforasi 2 .Ht : 50 . hepar dan lien tidak teraba membesar. faring tidak hiperemis : JVP tidak meningkat. batas jantung normal : BJ I – II reguler. nyeri ketok CVA -/-. sklera tidak ikterik : Tonsil TI – TI tenang. Gallop (-) : Simetris. Mc Burney (+) Rovsing’s sign (+) Tes Psoas (+) Tes obturator (-) PEMERIKSAAN PENUNJANG  Darah Rutin .Hb : 16. KGB tidak teraba membesar : Iktus kordis tidak terlihat : Iktus kordis teraba : Redup. Wheezing -/: Datar : BU normal : Timpani diseluruh lapang abdomen : Supel. Defans Muskular (-).

DIAGNOSIS KERJA Appendisitis Akut TATALAKSANA Appendektomy PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo ad fungctionam : ad bonam Quo ad sanationa: ad bonam 3 . VII.VI. VIII.

atau di tepi lateral kolon asendens. sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus thorakalis X. Namun demikian. Pada kasus selebihnya. dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoappendiks penggantungnya. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar dibagian distal. Persarafan parasimpastis berasal pada dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteria mesentrika superior dan arteri apendikularis. appendiks berbentuk kerucut. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insidens appendisitis pada usia itu. 4 . dan berpangkal di sekum. Gejala klinis appendisitis ditentukan oleh letak apendiks.BAB III TINJAUAN PUSTAKA 1. ANATOMI APPENDIKS Appendiks merupakan orgam berbentuk tabung. nyeri viseral pada appendistis bermula pada umbilikus. appendiks terletak retroperitoneal. dibelakang kolon asendens. pada bayi. yaitu dibelakang sekum. Pada 65 % kaskus. lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya. Oleh karena itu. panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm). appendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan appendiks bergerak.

misalnya karena thrombosis pada infeksi. FISIOLOGI APPENDIKS 5 . Jika arteri ini tersumbat.Perdarahan appendiks berasal dari arteri apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. appendiks berputar ke atas ke belakang caecum 2. Jenis posisi: Promontorik : ujung appendiks menunjuk ke arah promontoriun sacrum Retrocolic : appendiks berada di belakang kolon ascenden dan biasanya retroperitoneal Antecaecal : appendiks berada di depan caecum Paracaecal : appendiks terletak horizontal di belakang caecum Pelvic descenden : appendiks menggantung ke arah pelvis minor Retrocaecal : intraperitoneal atau retroperitoneal. appendiks akan mengalami gangren.

Obstruksi lumen merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe. yang memberikan tanda setempat.Appendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 mL per hari. mual. Apendisitis Akut Appendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Apendisitis hiperemia dan tidak ada eksudat serosa. Klasifikasi apendisitis akut :  Apendisitis akut simple : Peradangan banru terjadi di dalam mukosa dan sumukosa. 2009) : 1. muntah. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna. 4. dan cacaing askaris dapat pula menjadi penyebab sumbatan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus. Walaupum apendisitis dapat terjadi pada setiap usia. angka mortalitas penyakit ini tinggi sebelum era antiobiotik (Sylvia & Loraine. 2002). 6 . Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. ialah IgA. 2005). malaise. KLASIFIKASI APPENDISITIS Klasifikasi apendisitis menurut klinikopatologis (Bedah UGM. anoreksia. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendisitis. pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limf di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan diseluruh tubuh. DEFINISI APPENDISITIS Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis atau peradangan infeksi pada usus buntu (apendiks) yang terletak di perut kuadran kanan bawah (Smelzer. Appendisiti akut sering tampil dengan gehala khas yang didasari oleh radang mendadak. disertai maupun tidak disertai perangsangan peritoneum lokal. namun paling sering terjadi pada remaja dan dewasa muda. termasuk appendiks. 3. dan demam ringan. tumor appendiks. fekalit. Namun demikian.

karena diagnosis sebelum operasi sangat sulit ditetapkan. dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan masa flegmon yang melekat erat satu dengan lainnya. Apendisitis Abses Apendisitis abses terjadi bila masa lokal yang terbentuk berisi nanah 4. usus halus. apendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fibrosa dan jaringan parut. Penemuan PA pada apendisitis kronik adalaha fibrosis apendiks. Apendisitis supuratif : Ditandai dengan rangsangan pertoneum lokal seperti nyeri tekan. Apendisitis kronik Apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua syarat berupa riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu. Apendisitis Infiltrat Apendisitis infiltrate adalah proses radang apendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum. Onstruksi lumen apendiks 7 merupakan faktor penyebab . dan nyeri pada gerak aktif dan pasif Apendisitis akut gangrenosa : didaptkan tanda – tanda supuratif. dan infiltrasi sel inflamasi kronik. dan keluhan menghilang setelah apendektomi. hijau keabuan atau merah kehitaman. kolon. Apendisitis Perforasi Apendisitis perforasi adalah percahnya apendiks yang sudah gangren yang menyebakan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. radang kronis appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Apendisitis Rekurens Apendisitis rekurens merupakan kelainan yang akan terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. 6. Dinding apndiks berwarna ungu. adanya jaringan parut dan ulkus lama di dalam mukosa. Patologi anatomi digunakan untuk menegakkan apendisitis kronik. sekum. ETIOLOGI DAN PATOGENESIS APPENDISITIS Secara patogenesis faktor penting terjadinya apendisitis adalah adanya obstruksi lumen apendiks yang biasanya disebabkan oleg fekalit. Namun. 2. defans  muskuler. 5. nyeri lepas di titik Mc Burney. apendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. 3. 5.

Apabila terjadi pernanahan. atau diseut dengan apendisitis akut supuratif. terjadi gangguan sirkulasi arterial.dominan pada apendisitis akut. Obatrukai pada bagian yang lebih proksimal dari lumen menyebabkan stasis bagian distak apendiks. dimana tekanan intraluminar semakin tinggi. Bila tekanan terus meningkat. Selanjutnya terjadi gangguan sirkulasi limfe yang enyebabkan udem. Usaha pertahanan tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum. Perlengkatan ini dapat menyebabkan serangan berulang di perut kanan bawah disebut dengan apenisitis 8 . maka akan terbentuk suatu rongga yang berisi nanah di sekitar apendiks disebut abses periapendikular. usus halus ataua adneksi. teteapi akan membentuk jaringan yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Kondisi ini memudahkan incasi bakteri dari dalam lumen menembus mukosa dan menyebabkan ulserasi mukosa apendiks maka terjadi keadaan yang disebut apendsitis fokal. Selanjutnya akan menyebabkan tekanan intraluminal meningkat. sehingga terbentuk massa periapendikular (pieter. Hal ini menyebabkan terjadi gangern. Pada keadaan yang lebih lanjut. Obstruksi yang terus menerus menyebabkan tekanan intraluminar semakin tinggi dan menyebabkan terjadinya gangguan sirkulasi vaskuler. Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna. udem menjadi lebih hebat. Gangren biasanya ditengah – tengah apendiks dan berbentuk elipsoid. Peratngan pada apendiks berawal di mukosa dan kemudian meliatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24 – 48 jam. keadaan ini disebut apendisitis gangrenosa. terjadi iskemia dan incasi baktei semakin berat sehingga terjadi penumpukan nanah pada dinding apendiks. maka akan terjadi perforasi yang mengakibatkan cairan mukosa apendiks akan tercurah ke dalam rongga peritoneum dan terjadilah peritonitis lokal. Keadaan ini akan menyebabkan udem bertambah berat. sehingga mukus yang terbentuk secara terus menerus akan terakumulasi. kondisi ini akan memacu proses translokasi kuman dan terjadi peningkatan jumlah kuman di dalam lumen apendiks. 2005).

Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. dan dengan pemeriksaan 9 . 6. 2005). Burney. dan muntah. Biasanya juga terdapat konstipasi tetapi kadang – kadang terjadi diare. malaise. MANIFESTASI KLINIS APPENDISITIS AKUT ANAMNESIS Keluhan apendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang terhubung dengan muntah. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik Mc. Dalam 2 – 12 jam nyeri akan beralih ke arah kuadran kanan bawah. Pada permulaan timbulnya penyakit beoum ada keluhan abdomen yang menetap. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut (pietet. Terdapat juga keluhan anoreksia.rekurens. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Kadang tidak ada nyeri epigastrium. yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. dan dan demam yang tidak terlalu tinggi. mual. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif. Umumnya nafsu makan menurun. tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar.

tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak tanda rangsangan peritoneal.psoas mayor yang menegang dari dorsal. bisa disertai nyeri lepas. terbukti proses ukan berasal dari apendiks. akan semakin meyakinkan klinis apendisitis. PEMERIKSAAN FISIK Dalam pemeriksaan fisik ditemukan demam ringan dengan suhu sekitar 37. Pada perkusi ringan pada kuadan kanan bawag dapat membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri yekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum paretale. Pada apendisitis retrosekal atau retroileal diperlkan palpasdi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. nyeri akan berpindah sesuai dengan pergeseran uterus.50C. 10 .seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. karena itu perlu dibedakan apakah keluhan nyeri berasal dari uterus atau dari apendiks. Bila tanda rovsing. Bila suhu lebih tinggi. Bila penderita miring ke kiri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi isa dicapai dengan jari telunjuk. namun dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis perforata. Misalnya pada apendisitis pelvika. mungkin sudah terjadi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada assa atau absesb periapendikuler. Apendiks yang terletak di rongga pelvis. Pergeseran sekum ke kraniolaterodorsal oleh uterus. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih. bila meradang. Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan adanya gambaran spesifik.5 – 38. Tanda pada kehamilan trimester I tidak berbeda dengan orang yang tidak hami. dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing karena rangsangan dindingnya. pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. psoas. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut Rovsing’s Sign. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal. keluhan nyeri pada apendisitis sewakti hamil trimester II dan III akan bergeser ke kanan sampai ke pinggang kanan. Pada auskultasi terdengar peristaltik usus normal. dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltis meningkat. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan karena kontraksi m. dan obturator positif. karena letaknya terlindung oleh sekum.

Bila apendiks yang meradang menempel di m. yaitu: Tabel 2. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan. 7. Gerakan fleksi dan endotarsal sendi panggul pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendisitis pelvika.5C) 1 Peningkatan jumlah leukosit ≥ 10 x 109/L 2 Neutrofilia dari ≥ 75% 1 Total 10 Pasien dengan skor awal ≤ 4 sangat tidak mungkin menderita apendisitis dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit kecuali gejalanya memburuk. pemeriksaan dokter kebidanan dan kandungan diperlukan untuk menyingkirkan diagnosis kelainan peradangan saluran telur/kista indung telur kanan atau KET (kehamilan diluar kandungan). kemudian paha kanan ditahan.1. Pada pasien wanita. PEMERIKSAAN PENUNJANG APPENDISITIS AKUT Pada pemeriksaan laboratorium darah. Psoas mayor. tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. untuk mendiagnosis apendisitis juga dapat digunakan skor Alvarado. Urinalisa diperlukan untuk menyingkirkan penyakit lainnya berupa peradangan saluran kemih. Pemeriksaan USG (Ultrasonografi) dan CT scan bisa membantu dakam menegakkan adanya peradangan akut usus buntu atau penyakit lainnya di daerah rongga panggul. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan m. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. 11 . biasanya didapati peningkatan jumlah leukosit (sel darah putih). Obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Selain itu.Pada apendisitis pevika tanda perut sering meragukan maka kundi diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Skor Alvarado Skor Skor Migrasi nyeri dari abdomen sentral ke fossa iliaka kanan 1 Anoreksia 1 Mual atau Muntah 1 Nyeri di fossa iliaka kanan 2 Nyeri lepas 1 Peningkatan temperatur (>37. Pemeriksaan radiologi berupa foto barium usus buntu (Appendicogram) dapat membantu melihat terjadinya sumbatan atau adanya kotoran (skibala) didalam lumen usus buntu.

mual. dan hematokrit meningkat. seperti: • Gastroenteritis Pada gastroenteritis. Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan di luar rahim dengan pendarahan. • Kehamilan di luar kandungan Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak menentu. dan diare mendahului rasa sakit. Hiperperistaltis sering ditemukan.Namun dari semua pemeriksaan pembantu ini. muntah. atau colok rektal. Pada anak-anak dan orang tua penegakan diagnosis apendisitis lebih sulit dan dokter bedah biasanya lebih agresif dalam bertindak. Suhu biasanya lebih tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus. akan timbul nyeri yang mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding. Pemeriksaan CT scan hanya dipakai bila didapat keraguan dalam menegakkan diagnosis. yang menentukan diagnosis apendisitis akut adalah pemeriksaan secara klinis. 12 . Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Di sini didapatkan hasil tes positif untuk Rumpel Leede. • Kista ovarium terpuntir Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan teraba massa dalam rongga pelvis pada pemeriksaan perut. 8. colok vaginal. • Infeksi panggul Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendisitis akut. • Kelainan ovulasi Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan nyeri perut kanan bawah pada pertengahan siklus menstruasi. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan apendisitis akut. trombositopenia. • Demam Dengue Dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis. DIAGNOSIS BANDING Pada keadaan tertentu.

pankreatitis. yaitu luka operasi lebih kecil. karsinoid. perforasi tukak duodenum atau lambung. Alternatif lain operasi pengangkatan usus buntu yaitu dengan cara bedah laparoskopi. divertikulitis kolon. Perbaikan keadaan umum dengan infus. • Penyakit saluran cerna lainnya Penyakit lain yang perlu diperhatikan adalah peradangan di perut. seperti divertikulitis Meckel. biasanya antara satu dan setengah sentimeter sehingga secara kosmetik lebih baik. pemberian antibiotik untuk kuman gram negatif dan positif serta kuman anaerob.• Endometriosis ovarium eksterna Endometrium di luar rahim akan memberikan keluhan nyeri di tempat endometriosis berada. Eritrosituria sering ditemukan. Pembiusan akan dilakukan oleh dokter ahli anastesi dengan pembiusan umum atau spinal/lumbal. obstruksi usus awal. dan darah menstruasi terkumpul di tempat itu karena tidak ada jalan keluar. Keuntungan bedah laparoskopi ini selain yang disebut diatas. teknik konvensional operasi pengangkatan usus buntu dengan cara irisan pada kulit perut kanan bawah di atas daerah apendiks. Operasi ini dilakukan dengan bantuan video camera yang dimasukkan ke dalam rongga perut sehingga jelas dapat melihat dan melakukan appendektomi dan juga dapat memeriksa organ-organ di dalam perut lebih lengkap selain apendiks. kolesistitis akut. TATALAKSANA APPENDISITIS AKUT Pengobatan tunggal yang terbaik untuk usus buntu yang sudah meradang/apendisitis akut adalah dengan jalan membuang penyebabnya (operasi appendektomi). dan pemasangan pipa nasogastrik perlu dilakukan sebelum pembedahan. perforasi kolon. Pasien biasanya telah dipersiapkan dengan puasa antara 4 sampai 6 jam sebelum operasi dan dilakukan pemasangan cairan infus agar tidak terjadi dehidrasi. demam tifoid abdominalis. • Urolitiasis pielum/ ureter kanan Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas. 9. dan mukokel apendiks. 13 . Pada umumnya.

Sayatan dilakukan pada garis yang tegak lurus dengan garis yang menghubungkan SIAS dengan umbilikus pada batas sepertiga lateral (titik Mc burney). hanya sayatannya langsung menembus otot dinding perut tanpa memperdulikan arah serabut sampai tampatk peritoneum. Keuntungannya teknk ini dapat dipakai pada kasus – kasus apendiks yang belum pasti dan kalau perlu sayatan dapat diperpanjang dengan mudah. Sedangkan kerugiannya. sayatan in tidak secara langsung mengarah ke apendiks atau sekum. Rektus abdominis dekstra secara vertikal dari kranial ke kaudal sepanjang 10 cm. Sedangkan kerugiannya diagnosis yang arus tepay sehingga lokasi dapat dipastikan. Inisis pararektal. dan tidak mempunyai haustrae ata taenia koli. masa istirahat pasca bedah lebih lama karena adanya benjolan yang mengganggu pasien. mengkilat. Sekum dikenali dari ukurannya yang besar. sederhana. subkutis. Sayatan ini mengenai kutis. dan mudah. Setelah itu akan tampat peritoneum parietal yang disayat secukupnya untuk meluksasi sekum. trauma operasi minimum pada alat – alat tubuh. sedangkan ileum lebih kecil. Lokasi dan arah sayatan sama dengan Mc Burney. nyeri pasa operasi lebih sering. 3. Insisi menurut Roux (Muscle cutting incision). mempunyai hasutrae dan taenia koli. kemungkinan memotong saraf dan pembuluh darah lebih besar. lebih merah. Dilakukan sayaran pada garis batas lateral m. dan untuk menutup luka operasi dperlukan jahitan penunjang. lebiha banyak memotong saraf dan pembuluh darah sehingga perdarahan menjadi lebih banyak. 2. dan fasia. sulit diperluas. Otot dinding perut dibelah secara tumpul menurut arah serabutnya. lebih kelabu/putih. Kerugiannya adalah lapangan operasi terbatas. dan masa penyembuhan lebih lama.Tiga cara teknik operatif apendektomy : 1. 14 . kadang ada henatoma yang terinfeksi. Lapangan operasi dapat diperluas dengan memotong otot secara tajam. Tekanik ini paling sering dikerjakan karena keuntungannya tidak terjadi benjolan dantidak mungkin terjadi herniasi. mudah diperluas. Leuntungannya adalah lapangan operasi lebih luas. Insisi menurut Mc Burney (Grid Incision atau Muscle splitting Incision). Basis apendiks dicari pada pertemuan ketiga taenia koli. dan masa istirahat pasca bedah yang lebih pendek karena penyembuhan lebih cepat. dan waktu operasi lebih lama.

National Digestive Disease Information Clearinghouse. W & Sjamjuhidajat. Jakarta. Appendicitis: U. Wardhani W I. NIH Publication no 094547. Setiowulan W. R. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. Ed. Suprohaita. III. 2. 2008. USA 15 . ed.S Department og Health and Human Services.DAFTAR PUSTAKA De jong. hlm. 615 – 681. 307. Appendisitis akut : Buku Ajar Ilmu Bedag. 2000. Jakarta Mansjoer A. hlm. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Appendisitis akut: Kapira Selekta Kedokteran.