You are on page 1of 17

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Dasar Medis
2.2.1 Pengertian Fraktur
Fraktur adalah kerusakan kontinuitas tulang rawan epifisis atau tulang rawan
sendi yang biasanya melibatkan kerusakan vascular dan jaringan sekitarnya yang
ditandai dengan nyeri, pembengkakan dan tenderness (Suriadi dan Yuliani, 2006).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuia jenis dan luasnya
(Brunner dan Suddarth, 2001). Fraktur adalah terputusnya hubungan/ kontinuitas
struktur tulang atau tulang rawan bisa komplet atau inkomplet.
Fraktur juga merupakan cedera yang umum terjadi pada semua usia tetapi
cenderung lebih sering terjadi pada anak-anak dan orang tua (Wong, 2008). Fraktur
adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang terjadi karena adanya tekanan
pada tulang yang melebihi absorpsi tulang (Black, 1997). Fraktur adalah terputusnya
kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang
di kenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsi (Smeltzer dan Bare, 2002).
2.1.2

Anatomi dan fisiologi


1. Anatomi Tulang
Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada ba intra-seluler. Tulang berasal
dari embrionic hyaline cartilage yang mana melalui proses Osteogenesis
menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut
Osteoblast. Proses mengerasnya tulang akibat penimbunan garam
kalsium.
Ada 206 tulang dalam tubuh manusia, Tulang

dapat

diklasifikasikan

dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya:


a. Tulang panjang (Femur, Humerus) terdiri dari batang tebal panjang
yang disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Di sebelah
proksimal dari epifisis terdapat metafisis. Di antara epifisis dan
metafisis terdapat daerah tulang rawan yang tumbuh, yang disebut
lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. Tulang panjang tumbuh
karena akumulasi tulang rawan di lempeng epifisis. Tulang rawan
3

digantikan oleh sel-sel tulang yang dihasilkan oleh osteoblas, dan


tulang memanjang. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat.
Epifisis dibentuk dari spongi bone (cancellous atau trabecular). Pada
akhir tahun-tahun remaja tulang rawan habis, lempeng epifisis berfusi,
dan tulang berhenti tumbuh. Hormon pertumbuhan, estrogen, dan
testosteron merangsang pertumbuhan tulang panjang. Estrogen,
bersama dengan testosteron, merangsang fusi lempeng epifisis. Batang
suatu tulang panjang memiliki rongga yang disebut kanalis medularis.
Kanalis medularis berisi sumsum tulang.
b. Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak teratur dan inti dari
cancellous (spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.
c. Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri atas dua lapisan tulang padat
dengan lapisan luar adalah tulang concellous.
d. Tulang yang tidak beraturan (vertebrata) sama seperti dengan tulang
pendek.
e. Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar
tulang yang berdekatan dengan persediaan dan didukung oleh tendon
dan jaringan fasial, misalnya patella (kap lutut).
Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Sel-selnya
terdiri atas tiga jenis dasar-osteoblas, osteosit dan osteoklas. Osteoblas
berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang.
Matriks tersusun atas 98% kolagen dan 2% subtansi dasar (glukosaminoglikan,
asam polisakarida) dan proteoglikan). Matriks merupakan kerangka dimana
garam-garam mineral anorganik ditimbun. Osteosit adalah sel dewasa yang
terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteon (unit
matriks tulang). Osteoklas adalah sel multinuclear (berinti banyak) yang
berperan dalam penghancuran, resorpsi dan remosdeling tulang.
Osteon merupakan unik fungsional mikroskopis tulang dewasa. Ditengah
osteon terdapat kapiler. Dikelilingi kapiler tersebut merupakan matriks tulang
yang dinamakan lamella. Didalam lamella terdapat osteosit, yang memperoleh

nutrisi melalui prosesus yang berlanjut kedalam kanalikuli yang halus (kanal
yang menghubungkan dengan pembuluh darah yang terletak sejauh kurang dari
0,1 mm).
Tulang diselimuti dibagian oleh membran fibrous padat dinamakan
periosteum. Periosteum memberi nutrisi ke tulang dan memungkinkannya
tumbuh, selain sebagai tempat perlekatan tendon dan ligamen. Periosteum
mengandung saraf, pembuluh darah, dan limfatik. Lapisan yang paling dekat
dengan tulang mengandung osteoblast, yang merupakan sel pembentuk tulang.
Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga
sumsum tulang panjang dan rongga-rongga dalam tulang kanselus. Osteoklast ,
yang melarutkan tulang untuk memelihara rongga sumsum, terletak dekat
endosteum dan dalam lacuna Howship (cekungan pada permukaan tulang).

Gambar 1 Anatomi tulang panjang

2.

Fisiologi Tulang
Fungsi tulang adalah sebagai berikut :
a. Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh.

b. Melindungi organ tubuh (misalnya jantung, otak, dan paru-paru)


dan jaringan lunak.
c. Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi
dan pergerakan).
d. Membentuk sel-sel darah merah didalam sum-sum tulang belakang
(hema topoiesis).
e. Menyimpan garam mineral, misalnya kalsium, fosfor.
2.1.3

Etiologi
1. Trauma langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis patah melintang atau miring.
2. Trauma tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh
dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang
paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
3. Trauma akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat
berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi
dari ketiganya, dan penarikan.

2.1.4 Klasifikasi
1.

Berdasarkan garis fraktur


a. Fraktur komplit
Garis patanya melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua korteks tulang.

b. Fraktur inkomplit
Garis patahnya tidak melalui seluruh penampang tulang
c. Greenstick fracture: bila menegenai satu korteks dimana korteks
tulangnya sebagian masih utuh juga periosteum akan segera sembuh
dan segera mengalami remodeling kebentuk normal
2.

Fraktur menurut jumlah dan garis patah/bentuk/konfigurasi


a. Fraktur comminute: banyak fraktur/fragmen kecil tulang yang
terlepas
b. Fraktur segmental: bila garis patah lebih dari satu tetapi tidak
berhubungan satu ujung yang tidak memiliki pembuluh darah
menjadi sulit untuk sembuh dan keadaan ini perlu terapi bedah
c. Fraktur multipel: garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang
berlainan tempatnya. Seperti fraktur femur, cruris dan vertebra.
3. Fraktur menurut posisi fragmen
a. Fraktur undisplaced (tidak bergeser): garis patah komplit tetapi
kedua fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh.
b. Fraktur displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen-fragmen
fraktur yang disebut juga dislokasi fragmen.

4.

Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar


a. Fraktur terbuka (open fracture/compoun frakture)

Fraktur terbuka karena integritas kulit robek/terbuka dan ujung


tulang menonjol sampai menembus kulit. Fraktur terbuka ini dibagi
menjadi tiga berdasarkan tingkat keperahan:
1) Derajat I: robekan kulit kurang dari 1 cm dengan kerusakan
kulit/jaringan minimal.
2) Derajat II: luka lebih dari 1 cm, kerusakan jaringan sedang,
potensial infeksi lebih besar, fraktur merobek kulit dan otot.
3) Derajat III: kerusakan/robekan lebih dari 6-8 cm dengan
kerusakan jaringan otot, saraf dan tendon, kontaminasi sangat
besar dan harus segera diatasi
b. Fraktur tertutup (closed fracture/simple fracture)
Frakture tidak kompkleks, integritas kulit masih utuh, tidak ada
gambaran tulang yang keluar dari kulit.
5.

Fraktur bentuk fragmen dan hubungan dengan mekanisme trauma


a. Fraktur transversal (melintang), trauma langsung
Garis

fraktur

tegak

lurus,

segmen

tulang

yang

patah

direposisi/direduksi kembali ketempat semula, segmen akan stabil


dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips.
b. Fraktur oblique ; trauma angulasi
Fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang.
Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki.
c. Fraktur spiral ; trauma rotasi

Fraktur ini timbul akibat torsi pada ekstrimitas, menimbulkan


sedikit kerusakan jaringan lunak dan cenderung cepat sembuh
dengan imobilisasi luar.
d. Fraktur kompresi ; trauma axial flexi pada tulang spongiosa
Fraktur terjadi karena ketika dua tulang menumpuk tulang ketiga
yang berada diantaranya seperti satu vertebra dengan dua vertebra
lainnya.
e. Fraktur avulse ; taruma akibat tarikan (fraktur patela)
Fraktur memisahkan suatu fragmen tulang tempat insersi tendon
atau ligamen.
f. Fraktur patologi
Terjadi pada daerah yang menjadi lemah oleh karena tumor atau
proses patologik lainnya.

10

11

2.6 Pathway
Trauma Langsung
patologis

Trauma tidak langsung

Kondisi

Fraktur

Perubahan status
luka terbuka
Kesehatan

Cedera sel

fragmen tulang

Kurang degranulasi terapi


informasi
Kurang
Kurang
pengetahuan

Diskontinuitas

restrictif

lepasnya lipid

sel mast

pelepasan
Mediator
kimia

port deentri

pada sumsum
tulang
Hambatan
mobilitas
fisik

kuman

Resiko
terabsorbsi masuk
infeksi
ke aliran darah
emboli

nociceptor
oklusi arteri paru
medulla spinalis
nekrosis jaringan paru
korteks serebri
luas permukaan paru
Nyeri

penurunan laju difusi


Ggn. Pertukaran gas

Ggn.
Integ
ritas
kulit

12

2.1.5 Manifestasi Klinis


1. Nyeri.
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi.Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang di rancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen
tulang.
2. Deformitas
Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah bukannya tetap rigid seperti
normalnya.Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai
menyebabkan deformitas ekstremitas yang bisa diketahui dengan
membandingkan ekstremitas normal.Ekstremitas tidak dapat berfungsi
dengan baik karena fungsi normal otot tergantung pada integritas tulang
tempat melengketnya otot.
3. Pemendekan tulang
Pada fraktur panjang,terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur.
4. Krepitus
Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna
Pembengkakan dan perubahan warna local kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikti fraktur.Tanda ini bisa baru terjadi
setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.
2.1.7

Komplikasi
1. Komplikasi Awal
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan
dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi
splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.

13

b. Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam
jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang
menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan
dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
c. Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering
terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel
lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah
dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai
dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea,
demam.
d. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk
ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa
juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan
plat.
e. Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak
atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali
dengan adanya Volkmans Ischemia.
f. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas

kapiler

yang

bisa

menyebabkan

menurunnya

oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.


2. Komplikasi Dalam Waktu Lama
a. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.
b. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi

dan

memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9

14

bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih


pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis.
Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
c. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai

dengan

meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas).


Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.
2.1.8 Test Diagnostik
a.

Pemeriksaan

Rontgen

menentukan

lokasi/luasnya

fraktur/luasnyatrauma, skan tulang, temogram, scan CI: memperlihatkan


fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan
lunak.
b.

Hitung darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun.

c.

Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.

d.

Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,


transfusi multiple, atau cederah hati.

2.1.9 Penatalaksanaan
Sebagian besar fraktur anak-anak dapat sembuh dengan baik, dan jarang terjadi
fraktur tidak menyambung.Kebanyakan fraktur dikurangi dengan traksi sederhana
dan imobilisasi sampai penyembuhan berlangsung.Akan tetapi,posisi fragmen tulang
yang

berhubungan

dengan

fragmen

tulang

lain

memengaruhi

kecepatan

penyembuhan dan deformitas residual.Penyembuhan berlangsung cepat dan lengkap


denga ketepatan ujung ke ujung, tetapi celah diantara fragmen memperlambat atau
mencegah penyembuhan.Tujuan penatalaksanaan fraktur sebagai berikut:
1. Mengembalikan kesejajaran dan panjang fragmen tulang (reduksi).
2. Memelihara kesejajaran dan panjang (imobilisasi).
3. Mengembalikan fungsi bagian-bagian yang cedera.
4. Mencegah cedera lebih lanjut.
2.2. Konsep Dasar Keperawatan

15

2.2.1 Pengkajian Keperawatan


Pengkajian secara umum perlu dilakukan sebelum pemasangan ORIF terhadap
gejala dan tanda, status emosional, pemahaman tujuan pemasangan orif, dan kondisi
bagian tubuh yang akan dipasang orif.
Pengkajian fisik bagian tubuh yang akan dipasangi gips meliputi: status
neurovaskuler, lokasi pembengkakan, memar dan adanya abrasi. Data yang perlu
dikaji pasien setelah orif terpasang meliputi :
1. Data subjektif : Adanya rasa gatal atau nyeri, keterbatasan gerak, dan rasa
panas pada daerah yang terpasang orif
2. Data objektif : Apakah ada luka. Misalnya, luka operasi, luka akibat patah
tulang, apakah ada pembengkakan, apakah ada sianosis apakah ada
perdarahan, apakah ada iritasi kulit, apakah ada bau atau cairan yang keluar
dari bagian tubuh yang di orif (Smeltzer, 1999 Textbook)
2.2.2. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (desakan fragmen cedera
pada jaringan lunak)
2. Hambatan mobilitas fisik b/d fraktur dan nyeri
3. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan aliran darah akibat trauma
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan sirkulasi,
penurunan sensasi di buktikan oleh terdapatnya trauma dan

terdapat

jaringan nekrotis
5. Risiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi
(Smeltzer, 1999 Textbook)
2.2.3

Intervensi Keperawatan
Diagnosa
1. Nyeri akut berhubungan
dengan

agen

cedera

NIC
NIC : Management nyeri
1. Kaji

fisik (desakan fragmen


cedera
lunak)

pada

onset,

jaringan
2.

lokasi,

NOC
Setelah

karakteristik,

frekuensi,

kualitas,

tingkat, dan penyebab nyeri


Observasi tanda non-verbal
terhadap ketidak- nyamanan,
terutama pada pasien yang
tidak dapat berkumunikasi

diberikan

tindakan
selama

keperawatan
3

24

jam,

diharapkan tingkat nyeri


dapat terkontrol dengan
kriteria hasil :
1. Melaporkan nyeri berkurang menjadi skala

16

dengan efektif
1-3
3. Pastikan pasien mendapat 2. Onset nyeri berkurang
kan terapi analgesik dengan
4.

baik
Kaji dampak nyeri terhadap
kualitas

hidup

(misal

terhadap tidur, selera makan


aktivitas,

kognitif,

dan

lainnya)
5. Diskusikan dengan pasien
faktor yang dapat mengura
6.

ngi nyeri
Ajarkan prinsip manaje men
nyeri

(relaksasi,

imagery,

guided

distraksi,

lainnya)
7. Berikan informasi
nyeri,

seperti

dan
tentang

penyebab

nyeri, berapa lama nyeri


akan

berlangsung

dan

antisipasi ketidaknyamanan

NIC LABEL 1 : pemberian


analgetik
1.

Kaji

lokasi,

karakteristik,

kualitas, dan tingkat nyeri


2.

sebelum pengobatan
Cek program pemberian
analgesik; jenis, dosis, dan

3.

frekuensi
Evaluasi efektivitas

4.

gesik dan efek samping


Dokumentasikan
respon

anal-

menjadi skala 1-3


3. Melaporkan
nyeri
terkontrol

menjadi

skala4
4. Mampu
skripsikan

mende
penyebab

nyeri, skala 1-3

17

pasien terhadap analgesik


5. Ajarkan tentang penggunaan analgesik, misal strategi
menurunkan efek samping
2. Hambatan

mobilitas

fisik b/d fraktur dan


nyeri

Setelah dilakukan asuhan


Latihan Kekuatan
1. Ajarkan

keperawatan selama 3 x
dan

berikan

dorongan pada klien untuk


melakukan program latihan

24

jam

klien

menunjukkan:
Mampu mandiri total

1. Membutuhkan
alat
secara rutin
bantu
2. Latihan untuk ambulasi
2.
Membutuhkan
3. Ajarkan teknik Ambulasi &
bantuan orang lain
perpindahan yang aman
3. Membutuhkan
kepada klien dan keluarga
bantuan orang lain dan
4. Sediakan alat bantu untuk
alat
klien seperti kruk, kursi
roda, dan walker
5. Beri penguatan positif untuk
berlatih

mandiri

Tergantung total, dalam


hal :

dalam 1. Penampilan

posisi

batasan yang aman


tubuh yang benar
6. Latihan mobilisasi dgn kursi 2. Pergerakan sendi dan
roda
otot
7. Ajarkan pada klien dan
Melakukan
keluarga
tentang
cara
perpindahan
atau
pemakaian kursi roda dan
ambulasi : miring
cara berpindah dari kursi
kanan-kiri, berjalan,
roda ke tempat tidur atau
kursi roda
sebaliknya
8. Dorong klien melakukan
latihan untuk memper-kuat
anggota tubuh
9. Ajarkan pada klien atau
keluarga

tentang

penggunaan kursi roda

cara

18

Latihan Keseimbangan
1. Ajarkan

pada

klien

dan

keluarga

untuk

dapat

mengatur

posisi

secara

mandiri

dan

menjaga

keseimbangan selama latihan


ataupun

dalam

aktivitas

sehari hari
2. Perbaikan posisi tubuh yang
benar
3. Gangguan

perfusi

jaringan
dengan

berhubungan
aliran

darah

Manajemen Perfusi

Setelah

1. Pantau KU, TTV


2. Pantau dan catat status

tindakan
selama

neurologik
3. Berikan posisi yang nyaman
4. Pantau istirahat, aktivitas dan

akibat trauma

diberikan

berikan lingkungan yang

keperawatan
3

24

diharapkan

jam,
perfusi

jaringan dapat terkontrol


dengan kriteria hasil:
1. Meningkatnya tingkat

nyaman dan tenang


5. Kolaborasi ( Ahli gizi : diet

kesadaran
2. Meningkatnya fungsi

Dokter : pemberian obat )

persepsi sensoris
3. Tekanan darah dalam
rentang
4. Kerusakan
kulit

integritas
berhubungan

dengan

kerusakan

sirkulasi,

penurunan

sensasi di buktikan oleh


terdapatnya trauma dan
terdapat
nekrotis

jaringan

Manajemen Integritas Kulit

yang

diharapkan
Setelah
diberikan

tindakan
keperawatan
1. Pembalutan Luka
2. Pengaturan
Cairan/ selama 3 x 24 jam,
Elektrolit

3. Perawatan Kaki
4. Pengaturan
Pengobatan
5. Perawatan

Luka

Drainase
6. Perawatan Immobilisasi

diharapkan

kerusakan

kulit

terkontrol

dapat

dengan kriteria hasil:


Integritas jaringan : Kulit
dan membran mukosa
Luka : Intensi yang utama
dan Itensi sekunder

19

5. Risiko tinggi terjadinya


infeksi
dengan
operasi

berhubungan
adanya

luka

Wound care

Tidak

1. observasi tanda-tanda vital

dalam waktu 2-3 hari

2. rawat luka operasi dengan baik

ditandai

dengan

kulit

3.Tutup luka operasi dengan kasa

bersih,

pasien

tidak

steril
4. Jaga daerah luka tetap bersih
dan kering
5.Berikan terapi antibiotik sesuai
dengan program medik

terjadi

infeksi

mengalami infeksi tulang