You are on page 1of 74

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Penyakit hipertensi masih menjadi perhatian bidang kesehatan karena angka
prevalensinya yang tinggi dan akibat

jangka panjang yang ditimbulkannya.

Menurut WHO, hipertensi atau tekanan darah tinggi yaitu


tekanan darah sistole sama dengan atau diatas 140 mmHg,
diastole di atas 90 mmHg.1
Di Indonesia sekitar 90 % merupakan hipertensi primer atau esensial
merupakan peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya
(idiopatik). Beberapa faktor diduga berkaitan dengan berkembangnya hipertensi
primer seperti genetik dan bertambahnya usia. Sedangkan sekitar 10 % merupakan
hipertensi sekunder sebagai peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik
yang ada sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid, selain itu
penyebab hipertensi sekunder diantaranya merokok.2
Data statistik kesehatan di Amerika menyebutkan bahwa 1 dari 4 orang
dewasa menderita hipertensi. Apabila penyakit ini tidak terkontrol, maka akan
menyerang organ target, dan dapat menyebabkan serangan jantung, stroke,
gangguan ginjal, serta kebutaan. Data Riskesdas pada tahun 2010 juga
menyebutkan hipertensi sebagai penyebab kematian nomor tiga setelah stroke dan
tuberkulosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari proporsi penyebab kematian pada
semua umur di Indonesia. Terdapat 10 diagnosa terbanyak pada usia > 60 tahun di
Puskesmas kecamatan Pasar Minggu dari total 29931 kasus, 19,2% dari
keseluruhan disebabkan oleh hipertensi.
Merokok bukan lagi hal yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat.
Selain jarang diakui sebagai suatu kebiasaan yang buruk, kebiasaan merokok juga
sangat sulit dihilangkan. Begitu tinggi toleransi kepada perokok yang diberikan
oleh masyarakat, walaupun berbagai penelitian telah menunjukan bahwa merokok
1

adalah salah satu faktor risiko penting penyebab kematian. 3 World Health
Organization (WHO) pada tahun 2008 menyatakan, jumlah perokok di dunia
mencapai 19,4% atau sekitar 1,3 miliar jiwa.4 Tingginya populasi dan konsumsi
rokok di dunia, menempatkan Indonesia pada urutan ke-5 dalam hal konsumsi
rokok setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang pada tahun 2007,
sedangkan pada tahun 2008, berdasarkan jumlah perokok, Indonesia adalah
negara ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia, setelah China dan India.5
Merokok merupakan salah satu kebiasaan hidup yang dapat mempengaruhi
tekanan darah.Pada keadaan merokok, pembuluh darah dibeberapa bagian tubuh
akan mengalami penyempitan, dalam keadaan ini dibutuhkan tekanan yang lebih
tinggi supaya darah dapat mengalir ke alat-alat tubuh dengan jumlah yang tetap.
Untuk itu jantung harus memompa darah lebih kuat, sehingga tekanan pada
pembuluh darah meningkat. Dengan menghisap sebatang rokok akan mempunyai
pengaruh besar terhadap kenaikan tekanan darah, hal ini disebabkan oleh zat-zat
yang terkandung dalam asap rokok. Asap rokok terdiri dari 4000 bahan kimia dan
200 diantaranya beracun, antara lain Carbon Monoxide (CO) yang dihasilkan oleh
asap rokok dan dapat menyebabkan pembuluh darah cramp, sehingga tekanan
darah naik, dinding pembuluh darah dapat robek.Gas CO dapat pula menimbulkan
desaturasi pada hemoglobin, menurunkan langsung peredaran oksigen untuk
jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di
hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat atherosclerosis
(pengapuran atau penebalan dinding pembuluh darah.6
Perlstein dan Lee menyatakan merokok meningkatkan risiko penyakit
aterosklerosis, penyakit cerebrovaskular, dan penyakit vaskular perifer. Merokok
menyebabkan kira-kira 1,69 juta kematian pada kasus kardiovaskular di dunia. 7 Li
et al mengatakan bahwa nikotin meningkatkan angiotensin II yang berperan
penting pada mekanisme patogenesis hipertensi.8
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka penulis ingin mengetahui
gambaran mengenai kebiasaan merokok dan kejadian hipertensi pada dan
melakukan penelitian yang berjudul Hubungan Antara Kebiasaan Merokok
dengan Hipertensi Pada Pasien Lansia di Puskesmas kecamatan Pasar Minggu.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini
yaitu, Adakah hubungan antara kebiasaan merokok dengan hipertensi pada
pasien lansia di Puskesmas kecamatan Pasar Minggu?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
1. Menurunkan prevalensi hipertensi dan prevalensi merokok pada pasien
1.3.2

lansia di Puskesmas kecamatan Pasar Minggu


Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran kebiasaan merokok pada pasien lansia di
Puskesmas kecamatan Pasar Minggu
2. Mengetahui gambaran hipertensi pada pasien lansia di Puskesmas
kecamatan Pasar Minggu
3. Mengetahui hubungan antara jumlah rokok yang dihisap dengan
hipertensipada pasien lansia di Puskesmas kecamatan Pasar Minggu
4. Mengetahui hubungan antara lama merokok dengan hipertensi pada
pasien lansia di Puskesmas kecamatan Pasar Minggu
5. Mengetahui hubungan antara jenis rokok dengan hipertensi pada
pasien lansia di Puskesmas kecamatan Pasar Minggu

1.4 Hipotesis
1. Ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan hipertensi pada
pasien lansia di Puskesmas kecamatan Pasar Minggu
2. Ada hubungan antara jumlah rokok yang dihisap hipertensi pada
pasien lansia di Puskesmas kecamatan Pasar Minggu
3. Ada hubungan antara lama merokok dengan hipertensi pada pasien
lansia di Puskesmas kecamatan Pasar Minggu
4. Ada hubungan antara jenis rokok dengan hipertensi pada pasien lansia
di Puskesmas kecamatan Pasar Minggu

1.5 Manfaat
1.5.1 Bagi Ilmu Pengetahuan
1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau kepustakaan
tambahan mengenai kebiasaan merokok dan hipertensi.

2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan dapat


digunakan untuk penelitian yang lebih lanjut mengenai hubungan
1.5.2

kebiasaan merokok dan hipertensi.


Bagi Profesi
1. Penelitian ini diharapkan dapat menambah luas wawasan dan

1.5.3

pengetahuan tentang dampak dari kebiasaan merokok dan hipertensi.


Bagi Masyarakat
1. Penelitian ini diharapkan menjadi evaluasi kepada masyarakat secara
umum dan khususnya lansia yang memiliki kebiasaan merokok, agar
dapat lebih memahami dampak buruk dari merokok.
2. Penelitian ini diharapkan dapat memberi pengertian, penjelasan dan
pemahaman yang lebih rinci tentang kebiasaan merokok, dampak
buruk merokok dan pentingnya menjaga tekanan darah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Merokok

2.1.1. Definisi Rokok


Rokok adalah hasil dari olahan tanaman tembakau yang terbungkus
termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana
Tabacum, Nicotiana Rustica dan species lainnya atau sintetisnya yang
mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan. Rokok adalah zat
adiktif yang bila dikonsumsi mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan
masyarakat sekitarnya.9
2.1.2. Kebiasaan Merokok
Seseorang dikatakan perokok jika telah menghisap minimal 100 batang
rokok. Merokok dapat mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat kita
pungkiri, banyak penyakit yang telah terbukti menjadi akibat buruk merokok baik
secara langsung maupun tidak langsung. Tembakau atau rokok paling berbahaya
bagi kesehatan manusia. Rokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab
kematian terbesar di dunia. Rata- rata merokok yang dilakukan oleh kebanyakan
laki-laki dipengaruhi oleh faktor psikologis meliputi rangsangan sosial melalui
mulut, ritual masyarakat, menunjukkan kejantanan, mengalihkan diri dari
kecemasan, kebanggaan diri. Selain faktor psikologis juga dipengaruhi oleh faktor
fisiologis yaitu adiksi tubuh terhadap bahan yang dikandung rokok seperti nikotin
atau juga disebut kecanduan terhadap nikotin. 10
2.1.3 Kategori Perokok
1. Perokok Pasif
Perokok pasif dalah asap rokok yang di hirup oleh seseorang yang tidak
merokok (Pasive Smoker). Asap rokok merupakan polutan bagi manusia dan
lingkungan sekitarnya. Asap rokok lebih berbahaya terhadap perokok pasif
daripada perokok aktif. Asap rokok sigaret kemungkinan besar berbahaya
terhadap mereka yang bukan perokok, terutama di tempat tertutup. Asap rokok
yang dihembusan oleh perokok aktif dan terhirup oleh perokok pasif, lima kali

lebih banyak mengandung karbon monoksida, empat kali lebih banyak


mengandung tar dan nikotin.11
2. Perokok Aktif
Menurut Bustan M.N, perokok aktif adalah asap rokok yang berasal dari
isapan perokok atau asap utama pada rokok yang dihisap (mainstream). Dari
pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perokok aktif adalah orang yang
merokok dan langsung menghisap rokok serta bisa mengakibatkan bahaya bagi
kesehatan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.12
2.1.4. Jumlah Rokok yang Dihisap
Jumlah rokok yang dihisap dapat dalam satuan batang, bungkus, pak per
hari. Jenis rokok dapat dibagi atas 3 kelompok yaitu :10
1. Perokok Ringan disebut perokok ringan apabila merokok kurang dari 10
batang per hari.
2. Perokok Sedang disebut perokok sedang jika menghisap 10 20 batang
per hari.
3. Perokok Berat disebut perokok berat jika menghisap lebih dari 20
batang per hari.
Bila sebatang rokok dihabiskan dalam sepuluh kali hisapan asap rokok
maka dalam tempo setahun bagi perokok sejumlah 20 batang (satu bungkus) per
hari akan mengalami 70.000 hisapan asap rokok. Beberapa zat kimia dalam rokok
yang berbahaya bagi kesehatan bersifat kumulatif (ditimbun), suatu saat dosis
racunnya akan mencapai titik toksis sehingga akan mulai kelihatan gejala yang
ditimbulkan. 10
2.1.5. Lama Menghisap Rokok
Lamanya seseorang merokok dapat diklasifikasikan menjadi kurang dari
10 tahun atau lebih dari 10 tahun. Semakin awal seseorang merokok makin sulit

untuk berhenti merokok. Rokok juga punya dose-response effect, artinya semakin
muda usia merokok, akan semakin besar pengaruhnya. 19
Apabila perilaku merokok dimulai sejak usia remaja, merokok sigaret
dapat berhubungan dengan tingkat arterosclerosis. Risiko kematian bertambah
sehubungan dengan banyaknya merokok dan umur awal merokok yang lebih dini.
Merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 1025 mmHg
dan menambah detak jantung 520 kali per menit. 10
Dampak rokok akan terasa setelah 10-20 tahun pasca digunakan . dampak
rokok bukan hanya untuk perokok aktif tetapi juga perokok pasif. Walaupun
dibutuhkan waktu 10-20 tahun, tetapi terbukti merokok mengakibatkan 80%
kanker paru dan 50% terjadinya serangan jantung, impotensi dan gangguan
kesuburan. 10
2.1.6. Jenis Rokok yang Dihisap
Rokok tidak dapat dipisahkan dari bahan baku pembuatnya yaitu
tembakau. Di Indonesia tembakau ditambah cengkeh dan bahanbahan lain
dicampur untuk dibuat rokok. Selain itu juga masih ada beberapa jenis rokok yang
dapat digunakan yaitu rokok linting, rokok putih, rokok cerutu, rokok pipa, rokok
kretek, rokok klobot dan rokok tembakau tanpa asap (tembakau kunyah). 10
Menurut Direktur Agro Departemen Perindustrian dan Perdagangan
(Deperindag) Yamin Rahman menyatakan kandungan kadar nikotin pada rokok
kretek melebihi 1,5 mg yaitu 2,5 mg dan kandungan kadar tar pada rokok kretek
melebihi 20 mg yaitu 40 mg. Rokok kretek mengandung 6070 tembakau, sisanya
30%40% cengkeh dan ramuan lain. Cengkeh mengandung eugenol yang
dianggap berpotensi menjadi penyebab kanker pada manusia dan terkait dengan
zat kimia satrol yang menjadi salah satu penyebab kanker ringan. Sesuai data
Diperindag volume eksport rokok per november 2002 mencapai 6.463 ton dengan
nilai 75,8 juta dolar AS. Kadar nikotin yang ada pada rokok seharusnya adalah 1,5
mg dan kadar tar sebesar 20 mg dan menggunakan tembakau Virginia. Rokok
yang dihisap dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Namun rokok akan
7

mengakibatkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan pembuluh di ginjal


sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Merokok sebatang setiap hari akan
meningkatkan tekanan sistolik 1025 mmHg dan menambah detak jantung 520
kali per menit. 2 Dengan menghisap sebatang rokok akan mempunyai pengaruh
besar terhadap kenaikkan tekanan darah, hal ini disebabkan oleh zat-zat yang
terkandung dalam asap rokok. 12
Asap rokok terdiri dari 4000 bahan kimia dan 200 diantaranya beracun.
Antara lain Karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh asap rokok dan dapat
menyebabkan pembuluh darah kramp, sehingga tekanan darah naik, dinding
pembuluh darah dapat robek. Gas CO dapat pula menimbulkan desaturasi
hemoglobin, menurunkan langsung peredaran oksigen untuk jaringan seluruh
tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di hemoglobin,
mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat arterosklerosis (pengapuran
atau penebalan dinding pembuluh darah). 10
Selain zat CO merokok juga mengandung nikotin. Nikotin mengganggu
sistem saraf simpatis dengan meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Selain
menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang peningkatan tekanan
darah. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit
(penggumpalan) ke dinding pembuluh darah. Nikotin, CO dan bahan lainnya
dalam asap rokok terbukti merusak dinding pembuluh endotel (dinding dalam
pembuluh darah), mempermudah penggumpalan darah sehingga dapat merusak
pembuluh darah perifer. 11
2.1.7. Bahan-Bahan yang Terkandung Dalam Rokok
Pada saat rokok dihisap komposisi rokok yang dipecah menjadi komponen
lainnya, misalnya komponen yang cepat menguap akan menjadi asap bersamasama dengan komponen lainnya terkondensasi. Dengan demikian komponen asap
rokok yang dihisap oleh perokok terdiri dari bagian gas (85%) dan bagian
partikel. 10
Daftar Bahan Kimia Yang Terdapat Dalam Asap Rokok Yang Dihisap. 10
8

No
1.
2.
3.
4.
5.

Bagian Partikel
Tar
Indol
Nikotin
Karbolzol
Kresol

Bagian Gas
Karbon monoksida
Ammoniak
Asam hydrocyanat
Nitrogen oksida
Formaldehid

1. Nikotin
Nikotin yaitu zat atau bahan senyawa porillidin yang terdapat dalam
Nicotoana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya yang sintesisnya
bersifat adiktif yang dapat mengakibatkan ketergantungan. Nikotin ini dapat
meracuni syaraf tubuh, meningkatkan tekanan darah, menyempitkan pembuluh
perifer dan menyebabkan ketagihan serta ketergantungan pada pemakainya.
Jumlah nikotin yang dihisap dipengaruhi oleh berbagai faktor kualitas rokok,
jumlah tembakau setiap batang rokok, dalamnya isapan, lamanya isapan, dan
menggunakan filter rokok atau tidak. 11
2. Karbon Monoksida
Karbon monoksida yang dihisap oleh perokok tidak akan menyebabkan
keracunan CO, sebab pengaruh CO yang dihirup oleh perokok dengan sedikit
demi sedikit, dengan lamban namun pasti akan berpengaruh negatif pada jalan
nafas. Gas karbon monoksida bersifat toksis yang bertentangan dengan oksigen
dalam transpor maupun penggunaannya. Dalam rokok terdapat CO sejumlah 2%6% pada saat merokok, sedangkan CO yang dihisap oleh perokok paling rendah
sejumlah 400 ppm (parts per million) sudah dapat meningkatkan kadar karboksi
haemoglobin dalam darah sejumlah 2-16%.10
3. Tar
Tar merupakan bagian partikel rokok sesudah kandungan nikotin dan uap
air diasingkan, beberapa komponen zat kimianya karsinogenik (pembentukan
kanker). Tar adalah senyawa polinuklin hidrokarbon aromatika yang bersifat
karsinogenik. Dengan adanya kandungan bahan kimia yang beracun sebagian
9

dapat merusak sel paru dan menyebabkan berbagai macam penyakit. Selain itu tar
dapat menempel pada jalan nafas sehingga dapat menyebabkan kanker. Tar
merupakan kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap
rokok. Pada saat rokok dihisap, tar masuk kedalam rongga mulut sebagai uap
padat asap rokok. Setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan
berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran pernafasan dan paru-paru.
Pengendapan ini bervariasi antara 3-40 mg per batang rokok, sementara kadar
dalam rokok berkisar 24-45 mg. Sedangkan bagi rokok yang menggunakan filter
dapat mengalami penurunan 5-15 mg. Walaupun rokok diberi filter, efek
karsinogenik tetap bisa masuk dalam paru-paru, ketika pada saat merokok
hirupannya dalam-dalam, menghisap berkali-kali dan jumlah rokok yang
digunakan bertambah banyak. 10
4. Timah Hitam (Pb)
Merupakan Partikel Asap Rokok Timah Hitam (Pb) yang dihasilkan
sebatang rokok sebanyak 0,5 mikro gram. Sebungkus rokok (isi 20 batang) yang
habis dihisap dalam satu hari menghasilkan 10 mikro gram. Sementara ambang
batas timah hitam yang masuk ke dalam tubuh antara 20 mikro gram per hari.
Bisa dibayangkan bila seorang perokok berat menghisap rata-rata 2 bungkus
rokok perhari, berapa banyak zat berbahaya ini masuk ke dalam tubuh. 11

2.2. Hipertensi
2.2.1. Pengertian Hipertensi
Menurut WHO, hipertensi atau tekanan darah tinggi yaitu tekanan darah
sistole sama dengan atau diatas 140 mmHg, diastole di atas 90 mmHg (Mansjoer
A., 2000). Hipertensi merupakan tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan
diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda (dilakukan 4 jam sekali).

10

Dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari 140
mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik.17
2.2.2 Kriteria dan Klasifikasi Hipertensi
Banyak faktor yang berperan untuk terjadinya hipertensi meliputi factor
risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) dan faktor risiko yang dapat
dikendalikan (minor). Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) seperti
keturunan, jenis kelamin, ras dan umur. Sedangkan faktor risiko yang dapat
dikendalikan (minor) yaitu olahraga, makanan (kebiasaan makan garam), alkohol,
stres, kelebihan berat badan (obesitas), kehamilan dan penggunaan pil
kontrasepsi.18
Klasifikasi hipertensi menurut WHO/ISH19
Klasifikasi
Normotensi
Hipertensi ringan
Hipertensi perbatasan
Hipertensi sedang dan
berat
Hipertensi sistolik

Sistolik(mmHg)
<140
140-180
140-160

Diastolik(mmHg)
<90
90-105
90-99

>180

>105

>140
<90
terisolasi
Peninggian tekanan sistolik tanpa diikuti oleh peninggian tekanan diastolik

disebut hipertensi sistolik terisolasi (isolated sytolic hypertension). Hipertensi


sistolik terisolasi umumnya dijumpai pada usia lanjut, jika keadaan ini dijumpai
pada masa dewasa muda lebih banyak dihubungkan sirkulasi hiperkinetik dan
diramalkan dikemudian hari tekanan diastoliknya juga ikut meningkat. Batasan ini
untuk individu dewasa diatas umur 18 tahun, tidak dalam keadaan sakit
mendadak. Dikatakan hipertensi jika pada dua kali atau lebih kunjungan yang
berbeda didapatkan tekanan darah rata-rata dari dua atau lebih pengukuran setiap
kunjungan, diastoliknya 90 mmHg atau lebih, atau sistoliknya 140 mmHg atau
lebih. 19

11

Klasifikasi Pengukuran Tekanan Darah Orang Dewasa Dengan Usia


Diatas 18 Tahun Menurut The Seventh Report Of The Joint National
Committee On Prevention Detection, Evaluation And Treatment Of High Blood
Pressure Klasifikasi Tekanan Darah19
Klasifikasi Tekanan Darah
Normal

Tekanan Sistolik dan Diastolik(mmHg)


<120 dan <80

Prehipertensi
Hipertensi stadium I
Hipertensi stadium II
Hipertensi stadium III

120-139 atau 80-89


140-159 atau 90-99
>160 atau <100
>180 atau >110

Klasifikasi hipertensi menurut bentuknya ada dua yaitu hipertensi sistolik


dan hipertensi diastolik. Pertama yaitu hipertensi sistolik adalah jantung berdenyut
terlalu kuat sehingga dapat meningkatkan angka sistolik. Tekanan sistolik
berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri bila jantung berkontraksi (denyut
jantung). Ini adalah tekanan maksimum dalam arteri pada suatu saat dan tercermin
pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang nilainya lebih
besar. 10
Kedua yaitu hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil
menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan terhadap aliran
darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya. Tekanan darah
diastolik berkaitan dengan tekanan dalam arteri bila jantung berada dalam
keadaan relaksasi diantara dua denyutan. Sedangkan faktor yang mempengaruhi
prevalensi hipertensi antara lain ras, umur, obesitas, asupan garam yang tinggi,
adanya riwayat hipertensi dalam keluarga. 20
Klasifikasi hipertensi menurut sebabnya dibagi menjadi dua yaitu primer
dan sekunder. Hipertensi primer merupakan jenis yang penyebab spesifik tidak
diketahui. Sedangkan hipertensi sekunder merupakan jenis yang penyebab
spesifiknya dapat diketahui. Penderita hipertensi sekunder ada 5%-10% kasus.
Pada hipertensi penyebab dan patofisiologinya sudah diketahui sehingga dapat

12

dikendalikan dengan obat-obatan atau pembedahan. Penyebab paling sering dari


hipertensi sekunder adalah adanya kelainan dan keadaan dari sistem organ lain
seperti ginjal (gagal ginjal kronik, glomerolus nefritis akut), kelainan endokrin
(tumor kelenjar adrenal, sindroma cushing) serta bisa diakibatkan oleh
penggunaan obat-obatan (kortikosteroid dan hormonal) 20
Klasifikasi hipertensi menurut gejala dibedakan menjadi dua yaitu
hipertensi Benigna dan hipertensi Maligna. Hipertensi Benigna adalah keadaan
hipertensi yang tidak menimbulkan gejala-gejala, biasanya ditemukan pada saat
penderita dicek up. Hipertensi Maligna adalah keadaan hipertensi yang
membahayakan biasanya disertai dengan keadaan kegawatan yang merupakan
akibat komplikasi organ-organ seperti otak, jantung dan ginjal. 21
2.2.3. Patogenesis
Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tekanan perifer.
Berbagai faktor yang mempengaruhi curah jantung dan tekanan perifer akan
mempengaruhi tekanan darah seperti asupan garam yang tinggi, faktor genetik,
stres, obesitas, faktor endotel. Selain curah jantung dan tahanan perifer sebenarnya
tekanan darah dipengaruhi juga oleh tebalnya atrium kanan, tetapi tidak
mempunyai banyak pengaruh. Dalam tubuh terdapat sistem yang berfungsi
mencegah perubahan tekanan darah secara akut yang disebabkan oleh gangguan
sirkulasi yang berusaha untuk mempertahankan kestabilan tekanan darah dalam
jangka panjang. 17
Sistem pengendalian tekanan darah sangat kompleks. Pengendalian
dimulai dari sistem yang bereaksi dengan cepat misalnya reflek kardiovaskuler
melalui sistem saraf, reflek kemoreseptor, respon iskemia, susunan saraf pusat
yang berasal dari atrium, arteri pulmonalis otot polos. Dari sistem pengendalian
yang bereaksi sangat cepat diikuti oleh sistem pengendalian yang bereaksi kurang
cepat, misalnya perpindahan cairan antara sirkulasi kapiler dan rongga intertisial
yang dikontrol hormon angiotensin dan vasopresin. Kemudian dilanjutkan sistem
yang poten dan berlangsung dalam jangka panjang misalnya kestabilan tekanan

13

darah dalam jangka panjang dipertahankan oleh sistem yang mengatur jumlah
cairan tubuh yang melibatkan berbagai organ. Peningkatan tekanan darah pada
hipertensi primer dipengaruhi oleh beberapa faktor genetik yang menimbulkan
perubahan pada ginjal dan membrane sel, aktivitas saraf simpatis dan renin,
angiotensin yang mempengaruhi keadaan hemodinamik, asupan natrium dan
metabolisme natrium dalam ginjal serta obesitas dan faktor endotel. 11
Akibat yang ditimbulkan dari penyakit hipertensi antara lain penyempitan
arteri yang membawa darah dan oksigen ke otak, hal ini disebabkan karena
jaringan otak kekurangan oksigen akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh
darah otak dan akan mengakibatkan kematian pada bagian otak yang kemudian
dapat menimbulkan stroke. Komplikasi lain yaitu rasa sakit ketika berjalan
kerusakan pada ginjal dan kerusakan pada organ mata yang dapat mengakibatkan
kebutaan. 17
Gejalagejala hipertensi antara lain sakit kepala, jantung berdebar-debar,
sulit bernafas setelah bekerja keras atau mengangkat beban kerja, mudah lelah,
penglihatan kabur, wajah memerah, hidung berdarah, sering buang air kecil
terutama di malam hari telingga berdering (tinnitus) dan dunia terasa berputar. 18
2.2.4. Faktor-Faktor Risiko yang Mempengaruhi Hipertensi
1. Faktor Keturunan atau Gen
Kasus hipertensi esensial 70%-80% diturunkan dari orang tuanya. Apabila
riwayat hipertensi di dapat pada kedua orang tua maka dugaan hipertensi esensial
lebih besar bagi seseorang yang kedua orang tuanya menderita hipertensi ataupun
pada kembar monozygot (sel telur) dan salah satunya menderita hipertensi maka
orang tersebut kemungkinan besar menderita hipertensi. Penelitian yang
dilakukan pada orang kembar yang dibesarkan secara terpisah atau bersama dan
juga terdapat pada anak-anak bukan adopsi telah dapat mengungkapkan seberapa
besar tekanan darah dalam keluarga yang merupakan akibat kesamaan dalam gaya
hidup. Berdasarkan penelitian tersebut secara kasar, sekitar separuh tekanan darah
di antara orang-orang tersebut merupakan akibat dari faktor genetika dan
14

separuhnya lagi merupakan akibat dari faktor pola makan sejak masa awal kanakkanak.17
2. Faktor Berat Badan (Obesitas atau Kegemukan)
Obesitas merupakan ciri khas penderita hipertensi. Walaupun belum
diketahui secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti
bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan
hipertensi lebih tinggi dari pada penderita hipertensi dengan berat badan normal.
Pada orang yang terlalu gemuk, tekanan darahnya cenderung tinggi karena seluruh
organ tubuh dipacu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan energi yang lebih
besar jantungpun bekerja ekstra karena banyaknya timbunan lemak yang
menyebabkan kadar lemak darah juga tinggi, sehingga tekanan darah menjadi
tinggi Cara mudah untuk mengetahui termasuk obesitas atau tidak yaitu dengan
mengukur Indeks Masa Tubuh (IMT) Rumus untuk IMT adalah berat badan (kg)
dibagi dengan tinggi badan dikuadratkan (m2). 22
3. Stres Pekerjaan
Hampir semua orang di dalam kehidupan mereka mengalami stress
berhubungan dengan pekerjaan mereka. Hal ini dapat dipengaruhi karena tuntutan
kerja yang terlalu banyak (bekerja terlalu keras dan sering kerja lembur) dan jenis
pekerjaan yang harus memberikan penilaian atas penampilan kerja bawahannya
atau pekerjaan yang menuntut tanggungjawab bagi manusia.Stres pada pekerjaan
cenderung menyebabkan hipertensi berat. Sumber stres dalam pekerjaan
(Stressor) meliputi beban kerja, fasilitas kerja yang tidak memadai, peran dalam
pekerjaan yang tidak jelas, tanggungjawab yang tidak jelas, masalah dalam
hubungan dengan orang lain, tuntutan kerja dan tuntutan keluarga. 10
Beban kerja meliputi pembatasan jam kerja dan meminimalkan kerja shift
malam. Jam kerja yang diharuskan adalah 6-8 jam setiap harinya. Sisanya (16-18
jam setiap harinya) digunakan untuk keluarga dan masyarakat, istirahat, tidur, dan
lain-lain. Dalam satu minggu seseorang bekerja dengan baik selama 40-50 jam,
lebih dari itu terlihat kecenderungan yang negatif seperti kelelahan kerja, penyakit
15

dan kecelakaan kerja (Suma mur, 1998) Stres dapat meningkatkan tekanan darah
dalam waktu yang pendek, tetapi kemungkinan bukan penyebab meningkatnya
tekanan darah dalam waktu yang panjang. Dalam suatu penelitian, stres yang
muncul akibat mengerjakan perhitungan aritmatika dalam suatu lingkungan yang
bising, atau bahkan ketika sedang menyortir benda berdasarkan perbedaan ukuran,
menyebabkan lonjakan peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba.17
4. Faktor Jenis Kelamin (Gender)
Wanita penderita hipertensi diakui lebih banyak dari pada laki-laki. Tetapi
wanita lebih tahan dari pada laki-laki tanpa kerusakan jantung dan pembuluh
darah. Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi dari pada
wanita. Pada pria hipertensi lebih banyak disebabkan oleh pekerjaan, seperti
perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan. Sampai usia 55 tahun pria beresiko
lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan wanita. Menurut Edward D. Frohlich
seorang pria dewasa akan me.mpunyai peluang lebih besar yakni satu di antara 5
untuk mengidap hipertensi. 18
5. Faktor Usia
Tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia,
kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. Pada umumnya
penderita hipertensi adalah orang-orang yang berusia 40 tahun namun saat ini
tidak menutup kemungkinan diderita oleh orang berusia muda. Boedhi Darmoejo
dalam tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai penelitian yang dilakukan di
Indonesia menunjukkan bahwa 1,8%-28,6% penduduk yang berusia diatas 20
tahun adalah penderita hipertensi. 17
6. Faktor Konsumsi Garam
WHO (1990) menganjurkan pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6
gram sehari (sama dengan 2400 mg Natrium). Konsumsi garam memiliki efek
langsung terhadap tekanan darah. Masyarakat yang mengkonsumsi garam yang
tinggi dalam pola makannya juga adalah masyarakat dengan tekanan darah yang

16

meningkat seiring bertambahnya usia. Sebaliknya, masyarakat yang konsumsi


garamnya rendah menunjukkan hanya mengalami peningkatan tekanan darah
yang sedikit, seiring dengan bertambahnya usia. 17
Natrium bersama klorida yang terdapat dalam garam dapur dalam jumlah
normal dapat membantu tubuh mempertahankan keseimbangan cairan tubuh
untuk mengatur tekanan darah. Namun natrium dalam jumlah yang berlebih dapat
menahan air (retensi), sehingga meningkatkan volume darah. Akibatnya jantung
harus bekerja lebih keras untuk memompanya dan tekanan darah menjadi naik. 18
7. Kebiasaan Merokok
Kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan kurang olahraga
serta bersantai dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Rokok
mempunyai beberapa pengaruh langsung yang membahayakan jantung. Apabila
pembuluh darah yang ada pada jantung dalam keadaan tegang karena tekanan
darah tinggi, maka rokok dapat memperburuk keadaan tersebut. Merokok dapat
merusak pembuluh darah, menyebabkan arteri menyempit dan lapisan menjadi
tebal dan kasar. Keadaan paru-paru dan jantung mereka yang merokok tidak dapat
bekerja secara efisien. 10
8. Aktivitas Fisik (Olahraga)
Olahraga lebih banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi karena
olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tekanan darah. Kurangnya
melakukan olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas dan jika
asupan garam juga bertambah akan memudahkan timbulnya hipertensi.

10

Meskipun tekanan darah meningkat secara tajam ketika sedang berolahraga,


namun jika berolahraga secara teratur akan lebih sehat dan memiliki tekanan
darah lebih rendah dari pada mereka yang melakukan olah raga. Olahraga yang
teratur dalam jumlah sedang lebih baik dari pada olahraga berat tetapi hanya
sekali. 17
2.3 Lansia

17

2.3.1 Definisi Lansia


Pengertian usia lanjut adalah mereka yang telah berusia 60 tahun atau
lebih. Hingga saat kini, tidak ada ketetapan numerik standar dari PBB mengenai
usia lanjut, namun disetujui bahwa seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
dapat digolongkan sebagai populasi lansia.13
2.3.2 BatasanBatasan Lansia
Penggolongan lansia menurut WHO meliputi: middle age (45-49 tahun),
elderly (60-74 tahun), old (75-79 tahun), very old (diatas 90 tahun).2 Saat ini
berlaku UU RI No. 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia yang
menyebutkan lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas.14
Menurut Depkes RI batasan lansia terbagi dalam empat kelompok yaitu:
pertengahan umur usia lanjut/virilitas yaitu masa persiapan usia lanjut yang
menampakkan keperkasaan fisik dan kematangan jiwa antara 4554 tahun, usia
lanjut dini/prasenium yaitu kelompok yang mulai memasuki usia lanjut antara 55
64 tahun, kelompok usia lanjut/senium usia 65 tahun keatas dan usia lanjut
dengan resiko tinggi yaitu kelompok yang berusia lebih dari 70 tahun atau
kelompok usia lanjut yang hidup sendiri, terpencil, tinggal dipanti, menderita
penyakit berat dan cacat.15

2.3.3 PerubahanPerubahan yang Terjadi Pada Usia Lanjut


Adapun beberapa perubahanperubahan yang dihadapi lansia antara lain:
meliputi perubahan kondisi fisik, perubahan fungsi dan potensi seksual,
perubahan aspek psikososial, perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan, dan
perubahan peran sosial di masyarakat.16
a. Perubahan kondisi fisik

18

Setelah orang memasuki masa lansia, umumnya mulai terjadi perubahan


anatomi dan fisiologi tubuh meliputi terjadinya degenerasi struktur jaringan mata
yg menyebabkan penurunan pengelihatan, terjadi penurunan fungsi pendengaran
yang dapat berdampak pada kehidupan sosial lansia, kulit menjadi lebih mengerut
dan kaku disebabkan penurunan jaringan lemak, proses pembentukan tulang
menjadi lambat dan mudah terkena penyakit muskuloskeletal, katup jantung
menjadi kaku sehingga kemampuan jantung untuk memompa darah berkurang,
terjadi perubahan juga pada sistem pencernaan dan perkemihan pada lansia.
b. Perubahan fungsi dan potensi seksual
Perubahan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali
berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti gangguan jantung, gangguan
metabolism, baru selesai operasi (prostatektomi). Kekurangan gizi, penggunaan
obatobatan tertentu (anti hipertensi, golongan steroid, tranquilizer), dan faktor
psikologis yang menyertai lansia seperti rasa malu bila mempertahankan
kehidupan seksual pada lansia, sikap keluarga dan masyarakat yang kurang
menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya, kelelahan atau kebosanan
karena kurang variasi dalam kehidupannya, pasangan hidup telah meninggal
dunia, dan disfungsi seksual karena perubahan hormonal.16
c. Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun
tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan
hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya karena oleh para
lanjut usia masa pensiun sering diartikan sebagai waktu dimana terjadinya
kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status, dan harga
diri. 16
d. Perubahan dalam peran sosial di masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik,
dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada

19

lansia. Misalnya badan menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang,


penglihatan kabur, dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan.
Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktifitas,
selama yang bersangkutan masih sanggup agar tidak merasa terasing atau
diasingkan. 16
2.3.4 Masalah Kesehatan Pada Lansia
Membicarakan mengenai status kesehatan para lanjut usia, penyakit atau
keluhan yang umum diderita adalah: penyakit reumatik, hipertensi, penyakit
jantung, penyakit paru, diabetes melitus, jatuh (falls), paralisi/lumpuh separuh
badan, TBC paru, patah tulang dan kanker. Lebih banyak wanita yang
menderita/mengeluhkan penyakitpenyakit tersebut daripada kaum pria, kecuali
untuk bronchitis. Di pedesaan masalahmasalah kesehatan ini kurang begitu
berpengaruh nyata terhadap aktifitas keseharian pada responden dibandingkan
dengan mereka yang hidup di kota. 16
Kesehatan dan status fungsional seorang lanjut usia ditentukan oleh
resultan dari faktorfaktor fisik, psikologis dan sosioekonomi orang tersebut.
Faktorfaktor tersebut tidak selalu sama besar peranannya sehingga selalu harus
diperbaiki bersama secara total patient care. Apalagi di negaranegara sedang
berkembang faktor sosio ekonomik/ finansial ini hampir selalu merupakan
kendala yang penting. Maka dari itu pelayanan yang baik pada golongan lanjut
usia tidaklah hanya merupakan tindakan perikemanusiaan dan balas budi saja,
tetapi juga pengehematan sosio ekonomik/finansial sehingga kehidupan,
kesehatan dan kebahagiaan lanjut usia tadi dapat dipertahankan. 15
2.4 Kerangka Teori

20

2.5 Ringkasan Pustaka


Tabel 2.5.1 Ringkasan Pustaka

No
1

Peneliti

Lokasi peneliti

Studi

Jegathes

Medan, Sumatra

desain
Cross-

Jode

Utara,Indonesia

sectional

Subyek

Variabel yang

Lama waktu

studi
pasien

diteliti
Studi
Variabel bebas: 2010

hipertensi

Kebiasan

yang

Merokok

datang
berobat ke

Variabel terikat

bagian

Penyakit

Hipertensi

Hasil
Terdapat hubungan
yang bermakna
antara Kebiasaan
merokok dengan
tingkat Hipertensi.

Dalam
RSUP H.
Adam
Malik
Medan

21

No
2

Peneliti

Lokasi peneliti

Studi

Subyek
studi
Pasien di

Variabel yang

Amirudin

Kendari,

desain
Analitik

Eso, M.

Sulawesi

observasio

Laboratoriu Hiperurisemia

Yusuf

Tenggara,

nal

m Klinik

Obesitas

Hamra,

Indonesia

Prodia

Riwayat

Adhytya

Kendari

Merokok

Pratama

yang

Ahmadi

berusia 18-

Variabel terikat

65 tahun.

Lama waktu

diteliti
Studi
Variabel bebas: 2014

Hipertensi

Hasil
Terdapat hubungan
antara Riwayat
merokok dan tingkat
Hipertensi, yaitu
dengan
didapatkannya nilai
p = 0,022. Oleh
karena itu, hipotesis
dari penelitian
diterima karena
kedua variabel
memiliki hubungan

22

23

BAB III
KERANGKA KONSEP, VARIABEL, DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1.

3.2.

Kerangka Konsep
Variabel bebas

Variabel tergantung

Merokok

Hipertensi

Variabel Penelitian
1. Variabel tergantung
1. Hipertensi
2. Variabel bebas
1. Lama merokok
2. Jumlah batang rokok
3. Jenis rokok yang dihisap

24

3.3 Definisi Operasional

3.3.
No

3.4.

K
ara
kte

3.5.

Def

3.6.

risti

inisi

lat

3.7.

Operas

Uk

Res

ional

ur

Cara
ukur

pon
den
3.11. U

1.

sia

2.

Usi

3.13.

a yang

uesi

tertera

one

di

3.14.

Pengukur 1. Usia 6
2. Usia
an dengan
3. Usia
menggunaka
n kuesioner

Kartu

yang diisi

Tanda

oleh

Pendud

responden

uk

sendiri.

(KTP)
3.18. Per

enis

bedaan

awa

an dengan

kela

antara

ncar

menggunaka

min

peremp

a,

n kuesioner

uan

dan

yang diisi

dengan

tand

oleh

laki

responden

laki

pen

sendiri.

secara

gen

biologi

al

s sejak

(KT

seseora

P)

3.17.

3.

3.12.

3.24.

endi

ng lahir
3.25. Jenj
ang

3.19.

3.26.

uesi

3.20.

3.27.

Pengukur

Pengukur
an dengan
25

1. L
2. P

1. Tid
2. SD

dika

tingkat

one

menggunaka

pendidi

r,

n kuesioner

kan

dan

yang diisi

formal

tand

oleh

terakhir

responden

yang

pen

sendiri.

didapat

gen

kan

al

3. SM
4. SM
5. S1

(KT
P)
3.31.
No

3.32.

aria
bel
Beb

1.

as
3.39. L

3.33.

Def

3.34.

inisi

lat

Operas

Uk

ional

ur

3.40.

La

3.41.

3.35.

Cara
Ukur

3.42.

Menguku 1. Tidak

ama

ma

uesi

r variabel

Mer

waktu

one

lama

oko

yang

merokok

dihitun

dengan

g sejak

memberikan

pertam

pertanyaan

a kali

yang

respond

berkaitan

en

dengan waktu

menjad

perokok

mengonsumsi

peroko

rokok.

k.

26

2. Mero

tahun

3. Mero

tahun

2.

3.45.

3.46.

Jum

3.47.

3.48.

Menguku 1. Pero

uml

lah

uesi

r variabel

men

ah

batang

one

jumlah rokok

roko

rok

rokok

yang dihisap

batan

ok

yang

dengan

yan

dihisap

memberikan

men

atau

pertanyaan

roko

dihi

dikonsu

yang

20 b

sap

msi

berkaitan

per

respond

dengan

men

hari

en per

kebiasaan

roko

hari.

merokok.

20 b

2. Pero

3. Pero

3.

3.55.

3.56.

Jeni

3.57.

3.58.

Menguku

enis

s rokok

uesi

r variabel

Rok

yang

one

jenis rokok

ok

dihisap

yang dihisap

27

1. Ro
2. Ro

respond

dengan

en

memberikan
pertanyaan
yang
berkaitan
dengan jenis
rokok yang
dikonsumsi
responden
3.59.
3.60.

3.67.
No

3.68.

aria
bel
Beb

1.

as
3.75. H

3.69.

Def

3.70.

inisi

lat

Operas

Uk

ional

ur

3.76.

Pen

3.82.

3.71.

Cara
Ukur

3.83.

Manset

iper

ingkata

phy

tensi meter

tens

mo

diikatkan

tekanan

man

pada

darah

ome

lenganatas.

diatas

ter

Kemudian

normal.
3.77.

stetoskop

Ber

diletakkan

dasarka

pada arteri

n 7th

brakhialis.

Joint

Tekanan

Nationa

didalam

tensimeter

Commi

dinaikkan

ttee

dengan cara

28

1. Tida
2. Hip

>90

(JNC7)

memompa

didefini

sampai

sikan:

denyut nadi

3.78.

tidak

tekanan

terdengar

darah

lagi. Bila

normal

responden

<120/<

sebelumnya

80

melakukan

3.79.

aktivitas

Pra

seperti naik

hiperte

tangga, maka

nsi

dianjurkan

120-

untuk

139/80-

beristirahat

89

15 menit,

3.80.

kemudian

Hiperte

dilakukan

nsi

pengukuran.

derajat
I 140159/9099
3.81.

Hiperte
nsi
derajat
II
160/
100
22,23
29

3.88.
3.89.

BAB IV

METODE PENELITIAN
3.90.

4.1.
3.91.

Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional

analitik

dengan

menggunakan

pendekatan

crosssectional.Penelitian

dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung pada obyek yang diteliti,


pengambilan data variabel bebas dan variabel tergantung dilakukan pada satu
waktu yang bersamaan.
3.92.
4.2.
Lokasi dan Waktu Penelitian
a) Lokasi penelitian
3.93. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu,
Jl. Kebagusan Raya.Jakarta SelatanIndonesia.
b) Waktu penelitian
3.94.
Penelitian ini dilakukan sejak bulan April 2015 Mei 2015.
3.95.
4.3.
Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1.
Populasi Terjangkau
3.96.
Populasi terjangkau penelitian ini adalah lansia (usia 60
tahun keatas) di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu. Berdasarkan
hasil pencatatan data didapatkan 145 pasien lansia yang tercatat di
Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.
3.97.
4.3.2.
Kriteria Inklusi dan Eksklusi
1. Kriteria Inklusi
1. Seseorang yang berusia 60 tahun yang tercatat di Puskesmas
Kecamatan Minggu
2. Dapat beraktivitas secara mandiri atau ketergantungan minimal
3. Mampu berkomunikasi, bisa membaca dan menulis
4. Bersedia ikut serta dalam penelitian
2. Kriteria Eksklusi
1. Lansia yang memiliki gangguan jiwa
2. Lansia yang memiliki gangguan komunikasi
3. Lansia dengan ketergantungan berat dan atau dalam keadaan
terminal.
3.98.
4.3.3. Sampel Penelitian

30

3.99.

Perkiraan besar sampel yang digunakan pada penelitian ini

menggunakan rumus:
3.100. Rumus populasi infinit
3.101.

No = Z2 x P x Q
d2

3.102.
3.103. Z

= Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95%, besarnya

1,96
3.104. P

= Prevalensi kelompok lansia yang menderita hipertensi P =

0,22
3.105. Q

= Prevalensi/proporsi yang tidak mengalami peristiwa yang

diteliti
3.106.
3.107. d

(1P). Q = 1 0,22 = 0,78


= Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p > 10% adalah

0,05
3.108.
3.109. No = (1,96)2 x 0,22 x 0,78 = 297,2 ~ pembulatan 297.
3.110.

(0,05)2

3.111.
3.112.
3.113.
3.114.
3.115. Rumus populasi finit
3.116.

n=

n0

31

3.117.

(1 + n0/N)

3.118.

=Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi finit

3.119.

n0

= Besar sampel dari populasi yang infinit

3.120.

= Besar sampel populasi finit

3.121.

n=

3.122.

297

= 44,53 ~ pembulatan 45.

(1 + 297/145 )

3.123.

Pemilihan sample dilakukan secara consecutive non-

random sampling terhadap lansia di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.


Perkiraan drop out sebanyak 15 % sehingga besar sampel minimal adalah 45 +
(15% x 45) = 51,75 ~ pembulatan 52.
4.4.
Instrumen Penelitian
1. Sphygmomanometer
2. Kuesioner
3.124.
4.5.

Analisis Data

3.125.

Setelah semua data terkumpul maka langkah selanjutnya

adalah menganalisis data. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan


program SPSS 17.0, Analisis data dilakukan dengan Analisis Univariat dan
Analisis Bivariat.
1. Analisis univariat
3.126.
Analisis ini dilakukan pada masingmasing variabel.Hasil
ini berupa distribusi dan persentase variabel penelitian.
3.127.
3.128.
2. Analisis bivariat
3.129.
Analisis ini dilakukan terhadap dua variabel yang diduga
berhubungan atau berkorelasi.Sesuai dengan skala pengukuran yang
digunakan, maka analisis dilakukan dengan uji Chi Square dan
Kolmogorov Smirnov.
3.130.

32

4.6.
Alur Kerja Penelitian
3.131.
3.132.
3.133.
Menentukan topik dan judul penelitian
3.134.
3.135.
3.136.
3.137.
Dasar teori
Tujuan penelitian
3.138.
3.139.
3.140.
3.141.
3.142.
Menyusun landasan teori
3.143.
3.144.
3.145.
3.146.
3.147.
Mengumpulkan data:
3.148.
Karakteristik responden
3.149.
Lama Merokok
3.150.
Jumlah batang rokok
3.151.
Jenis rokok
3.152.
Tekanan darah
3.153.
3.154.

3.155.BAB V

Pengukuran
dengan sphygmomanometer
responden, lama merokok, jumlah batang rokok,
jenis rokoktekanan
dengandarah
menggunakan
kuesioner

3.156.HASIL PENELITIAN
3.157.

3.158. Melakukan
Penelitian
dilakukan dengan
mengambil
pengolahan
dan analisis
datadata primer.Data
diperoleh dari pengisian kuesioner dan pemeriksaan tekanan
darah.Penelitian

ini dilakukan pada pasien lansia puskesmas


penelitian
Kecamatan Pasar Hasil
Minggu.Jl.
Kebagusan Raya No. 4 Jakarta.
Responden dalam penelitian ini berjumlah 75 responden dengan usia
diatas 60 tahun.
5.1 Distribusi Variabel Penelitian
5.1.1

Karakteristik Responden

33

3.159. Tabel 5.1.Karakteristik pasien lansia Puskesmas Kecamatan Pasar


Minggu.
3.160.
3.161. Frekuensi
3.162.
3.163. Karakteri
3.164. Jumlah (n)
3.165. Persentase
stik
(%)
Responden
3.166. Usia
3.167.
3.168.
3.169. 60 74
3.170. 42
3.171. 56.0
tahun
3.172. 74 80
3.173. 24
3.174. 32.0
tahun
3.175. >80 tahun
3.176. 9
3.177. 12.0
3.178. Total
3.179. 75
3.180. 100.0
3.181.
3.183.
3.184.
3.182. Jenis
Kelamin
3.185. Laki- laki
3.186. 41
3.187. 54.7
3.188. Perempua
3.189. 34
3.190. 45.3
n
3.191. Total
3.192. 75
3.193. 100.0
3.194.
3.196.
3.197.
3.195. Pendidik
an
3.198. Tidak
3.199. 5
3.200. 6.7
sekolah
3.201. SD
3.202. 19
3.203. 25.3
3.204. SMP
3.205. 22
3.206. 29.3
3.207. SMA
3.208. 17
3.209. 22.7
3.210. S1
3.211. 12
3.212. 16.0
3.213. Total
3.214. 75
3.215. 100.0
3.216.
3.217.
Dari hasil perhitungan data menunjukan 75 orang
responden (100.0%). didapatkan status usia lansia yang paling banyak
ialah 60-74 tahun sebanyak 42 orang (56%), berikutnya 74-80 tahun
sejumlah 24 orang (32%), dan lebih dari 80 tahun sebanyak 9 orang
(12%). Status jenis kelamin lansia yang paling banyak ialah laki-laki
sebanyak 41 orang (54.7%), dan perempuan sebanyak 34 orang
(45.3%). Status pendidikan lansia yang paling banyak ialah lulusan
SMP sebanyak 22 orang (29.3%), berikutnya lulusan SD sejumlah 19

34

orang (25.3%), lulusan SMA sebanyak 17 orang (22.7%), lulusan S1

5.1.2

sebanyak 12 orang (16%) dan tidak sekolah sebanyak 5 orang (6.7%).


3.218.
Kebiasaan Merokok

3.219. Tabel 5.2.Distribusi pasien lansia Puskesmas Kecamatan Pasar


Minggu yang memiliki kebiasaan merokok.
3.220.
3.223. Kebiasaan
Merokok
3.226. Merokok
3.229. Tidak
Merokok
3.232. Total
3.235.

3.221.
3.224. Jumlah (n)
3.227. 40
3.230. 35

Frekuensi
3.222.
3.225. Persentase
(%)
3.228. 53.3
3.231. 46.7

3.233. 75

3.234. 100.0

3.236. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan 40 orang (53.3%) dari


75 lansia memiliki kebiasaan merokok, dan 35 orang (46.7%) tidak
memiliki kebiasaan merokok.
5.1.3 Lama Merokok
3.237. Tabel 5.3.Distribusi lama kebiasaan merokok pada pasien lansia
Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.
3.238.
3.241. Lama
Merokok
3.244. <10 tahun
3.247. >10 tahun
3.250. Total
3.253.

3.239.
3.242. Jumlah (n)
3.245. 4
3.248. 36
3.251. 40

Frekuensi
3.240.
3.243. Persentase (%)
3.246. 10.0
3.249. 90.0
3.252. 100.0

3.254. Dari hasil perhitungan data didapatkan status pasien dengan lama
kebiasaan merokok, paling banyak ialah merokok >10 tahun sebanyak
36 orang (90.0%), dan didapatkan 4 orang sisanya merokok <10 tahun
(10.0%).
5.1.4

Jumlah Batang Rokok

35

3.255. Tabel 5.4.Distribusi jumlah batang rokok pada pasien lansia


Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.
3.256.
3.259. Jumlah
Batang Rokok
3.262. 1-10 batang
3.263. 11-20
batang
3.268. >20 batang
3.271. Total
3.274.

3.257.
3.260. Jumlah (n)
3.264. 13
3.265. 17

Frekuensi
3.258.
3.261. Persentase
(%)
3.266. 32.5
3.267. 42.5

3.269. 10
3.272. 40

3.270. 25.0
3.273. 100.0

3.275. Dari hasil perhitungan data dari 40 responden yang memiliki


kebiasaan merokok, didapatkan jumlah responden merokok terbanyak
11-20 batang sejumlah 17 orang (42,5%), berikutnya 13 responden
merokok 1-10 batang per harinya (32,5%), dan 10 sisanya merokok >
20 batang per hari (25,0%).
5.1.5

Jenis Rokok

3.276. Tabel 5.5

Distribusijenis rokok pada pasien lansia Puskesmas

Kecamatan Pasar Minggu.


3.277.
3.280. Jenis
Rokok
3.283. Filter
3.286. Kretek
3.289. Total
3.292.

3.278.
3.281. Jumlah (n)

Frekuensi
3.279.
3.282. Persentase (%)

3.284. 34
3.287. 6
3.290. 40

3.285. 85.0
3.288. 15.0
3.291. 100.0

3.293. Dari hasil perhitungan data pasien lansia dengan kebiasaan


merokok yang paling banyak menggunakan jenis rokok filter sejumlah
34 orang (85,0%), dan Kretek sejumlah 6 orang (15,0%).
3.294.
5.1.6

Tekanan Darah

36

3.295. Tabel 5.6.Distribusi tekanan darah pada pasien lansia Puskesmas


Kecamatan Pasar Minggu.
3.296.
3.299. Tekanan
Darah
3.302. Tidak
Hipertensi
3.303. Hipertensi
3.308. Total
3.311.

3.297.
3.300. Jumlah (n)
3.304. 32
3.305. 43

Frekuensi
3.298.
3.301. Persentase
(%)
3.306. 42.7
3.307. 57.3

3.309. 75

3.310. 100.0

3.312. Dari hasil perhitungan data didapatkan status pasien lansia dengan
Hipertensi sebanyak 32 orang (42.7%) dan pasien yang tidak
Hipertensi sebanyak 43 orang (57.3%).
5.2 Demografi Hubungan Antar Variabel Penelitian
3.313.
5.2.1 Hubungan antara lama merokok dengan tekanan darah
3.314. Tabel 5.7. Demografi hubungan lama merokok dengan tekanan
darah

37

3.315.

3.316.

3.320.

3.321.

3.326.

3.327.

3.335.
La
m
a

3.336.
tida
k

m
e
r
o
k
o
k

m
e
r
o
k
o
k
3.358.
< 10
t
h
3.373.
> 10
t
h

3.387.

3.388.
Total

3.319. P
val
ue
3.325. K
olm
ogo
rov
Smi
rno
v

3.317. Tekanan
3.318.
darah
3.323.
Hipe
r
3.322. T
t
idak
e
hipe
n
3.324.
rten
s
Tota
si
i
l
3.328. 3.329.3.330. 3.331.3.332. 3.333. 3.334.
n
%
%
%
3.337. 3.339.3.341. 3.343.3.345. 3.347. 3.349.
3.338.
3.342. 3.344.3.346. 3.348. 3.350. 0
2
3.340. 15
4
35
1
.122
5
3.353.

3.354.

3.355.

3.359. 3.360.3.361. 3.362.3.363. 3.364.


1
2
7
1
3.368.

3.369.

3.370.

3.374. 3.375.3.376. 3.377.3.378. 3.379.


1
3
25
6
3
1
3.383.

3.384.

3.385.

3.389. 3.390.3.391. 3.392.3.393. 3.394.


3
4
43
5
7
1

3.356.

3.365.

3.371.
3.380.

3.386.
3.395.

3.396.

38

3.397. Dari hasil analisis data didapatkan 11 orang dari36 responden yang
merokok > 10 tahun memiliki tekanan darah dalam batas normal
(30.6%). Karena nilai EC yang < 5 = 33.3% maka syarat uji Chi
Square tidak terpenuhi, dan digunakan uji Kolmogorov Smirnov.
Didapatkan hasil nilai p = 0.122 yang menunjukkan tidak terdapatnya
hubungan yang bermakna antara lama merokok dengan tekanan darah.
5.2.2

Hubungan antara jumlah batang rokok dengan tekanan darah

3.398. Tabel 5.8. Demografi hubungan jumlah batang rokok dengan


tekanan darah

39

3.399.

3.400.
3.401. Tekanan_
Darah

3.404.

3.405.

3.406.
tidak
hip
ert
ens
i

3.402.

3.403.
P
3.409.
Chi

3.407.
hip

3.408.
Tota
l

3.410.

3.411.

3.412. 3.413.3.414.3.415.3.416. 3.417. 3.418.


N
%
%
%

3.419. J
uml
ah
bata
ng
rok
ok

3.420.
tidak
m
er
ok
ok

3.421. 3.423.3.425.3.427.3.429. 3.431. 3.433.


3.422. 3.424.3.426.3.428.3.430. 3.432.
2
5
15 42 35
1
3.434.
0.0

3.442.
1-10
ba
ta
ng

3.443. 3.444.3.445.3.446. 3.447. 3.448. 3.449.


6
4
53
1
1

3.457.
11-20
ba
ta
ng

3.458. 3.459.3.460.3.461. 3.462. 3.463. 3.464.


3
1
14 82
1
1

3.472.
> 20
ba
ta
ng

3.473. 3.474.3.475.3.476. 3.477. 3.478. 3.479.


3
3
70
1
1

3.486.

3.487.
Total

3.437.

3.452.

3.467.

3.482.

3.438.

3.453.

3.468.

3.483.

3.439.

3.454.

3.469.

3.484.

3.440.

3.455.

3.470.

3.485.

3.488. 3.489.3.490.3.491. 3.492. 3.493. 3.494.


3
4
43 57
7
1

3.495.

40

3.496. Hasil analisis menunjukkan 14 respondendari 17 responden yang


teratur merokok 11-20 batang perhari memiliki tekanan darah tinggi
(82.4%).Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus
Chi-Square didapatkan nilai probabilitas (sig.) 0.045< 0.05 yang
berarti terdapat hubungan antara jumlah batang rokok dengan tekanan
darah.
3.497.
3.498.
3.499.
5.2.3

Hubungan antara jenis rokok dengan tekanan darah

3.500. Tabel 5.9. Demografi hubungan antara jenis rokok dengan tekanan
darah

41

3.501.

3.502.

3.506.

3.507.

3.512.

3.513.

3.521.
Jenis
r
o
k
o
k

3.522.
Tidak
3.523.
merok
ok

3.505.
P
va
3.503. Tekanandara
3.504.
lu
h
e
3.511.
Kolm
og
3.508.
or
tidak
3.509.
ov
hip
hipert
S
ert
e
3.510.
mi
ens
ns
Tota
rn
i
i
l
ov
3.514. 3.515.3.516. 3.517.3.518. 3.519. 3.520.
n
%
%
%
3.524. 3.526.3.528. 3.530.3.532. 3.534. 3.536.
3.525. 3.527.3.529. 3.531.3.533. 3.535.
2
5
15
4
35
1
3.537.
0.122
3.540.
3.541.
3.542.
3.543.

3.545.
Filter

3.546. 3.547.3.548. 3.549.3.550. 3.551. 3.552.


1
3
22
6
34
1
3.555.

3.560.
Kretek

3.575.
Total

3.557.

3.558.

3.561. 3.562.3.563. 3.564.3.565. 3.566. 3.567.


0
.
1
1
3.570.

3.574.

3.556.

3.571.

3.572.

3.573.

3.576. 3.577.3.578. 3.579.3.580. 3.581. 3.582.


3
4
43
5
75
1

3.583.
3.584. Hasil analisis menunjukkan 12 responden dari 34 responden yang
merokok filter memiliki tekanan darah dalam batas normal (35.3%).

42

Karena nilai EC yang < 5 = 33.3% maka syarat uji Chi Square tidak
terpenuhi, dan digunakan uji Kolmogorov Smirnov. Didapatkan hasil
nilai p = 0.122 yang menunjukkan tidak terdapatnya hubungan yang
bermakna antara jenis rokok dengan tekanan darah.
3.585.
3.586.
3.587.
3.588.
3.589.
3.590.
3.591.
3.592.
3.593.
3.594. BAB VI
3.595. PEMBAHASAN
3.596. 6.1.Karakteristik responden
3.597.

Responden yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah pasien

lansia di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu sebanyak 75 orang.Hasil penelitian


yang diperoleh menunjukkan adanya variasi karakteristik responden berdasarkan
usia, jenis kelamin dan pendidikan.
3.598.

6.1.1. Usia

3.599.

Reponden yang terlibat dalam penelitian ini adalah pasien

lansia di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu yang berusia diatas 60 tahun.


Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa responden yang terbanyak berada
pada umur 60 74 tahun sebanyak 42 orang (56%) dan terendah berumur > 80
tahun sebanyak 9 orang (12%). Nilai tersebut didapatkan karena usia harapan

43

hidup di Indonesia mengalami peningkatan. Pada tahun 2004 usia harapan


hidup berkisar 66 tahun, sedangkan tahun 2014 berkisar 72 tahun.23
3.600.

6.1.2.Jenis Kelamin

3.601.

Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa responden yang

lebih banyak terlibat dalam penelitian ini merupakan laki laki sebanyak 41
orang (54,7%) dan perempuan sebanyak 34 orang (45,3%).. Pada penelitian
yang dilakukan ini, peneliti tidak membatasi tiap jumlah responden antara
responden laki-laki dan perempuan, karena data yang diperlukan pada
penelitian ini adalah data subjektif dari sampel yaitu, pasien lansia di
Puskesmas kecamatan Pasar Minggu yang memenuhi kriteria inklusi, baik
perokok maupun bukan perokok.
3.602.
3.603.
3.604.
3.605.

6.1.3. Pendidikan
3.606.

Berdasarkan tabel 5.1 didapatkan status pendidikan lansia yang

paling banyak ialah lulusan SMP sebanyak 22 orang (29.3%), dan status
pendidikan yang terendah ialah tidak sekolah sebanyak 5 orang (6.7%). Tingkat
pendidikan seseorang dapat mempengaruhi kebiasaan merokok, semakin
rendah tingkat pendidikan yang dijalani seseorang makan semakin kebiasaan
merokok akan meningkat.24
3.607. 6.2.Kebiasaan merokok
3.608. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi
kebiasaan merokok pada lansia didapatkan 40 orang (53,3%) merokok dan 35
orang (46,7%) tidak merokok. Rokok adalah zat adiktif yang bila dikonsumsi
mengakibatkan

bahaya

bagi

kesehatan

individu

dan

masyarakat

sekitarnya.9Seseorang dikatakan perokok jika telah menghisap minimal 100

44

batang rokok. Merokok dapat mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat
kita pungkiri, banyak penyakit yang telah terbukti menjadi akibat buruk merokok
baik secara langsung maupun tidak langsung.
3.609. Berdasarkan hasil studi Tai Hing Lam dari University of Hong
Kong menyatakan, bahwa banyak perokok yang meremehkan risiko merokok
terlebih mereka para perokok yang sudah berusia lanjut seringkali merasa terlalu
tua untuk berhenti merokok atau bisa meraih manfaat yang akan diterima dari
berhenti merokok.Hasil penelitian tersebut sudah menegaskan bahwa dengan
berhenti merokok pada mereka yang berusia lanjut dapat mengurangi risiko
kematian bahkan hingga mencapai 34%. Sementara risiko kematian pada mereka
para pecandu rokok berusia lanjut naik hingga 83% dibanding mereka yang tidak
pernah merokok sama sekali.25
3.610.
3.611.
3.612.
3.613.

6.2.1. Lama Merokok


3.614.

Berdasarkan

hasil

penelitian

menunjukkan

distribusi

frekuensi lama merokok pada lansia didapatkan status pasien dengan lama
merokok yang paling banyak ialah >10 tahun sebanyak 36 orang (48%), dan
terendah <10 tahun sebanyak 4 orang (5.3%).Semakin awal seseorang merokok
makin sulit untuk berhenti merokok. Rokok juga punya dose-response effect,
artinya semakin muda usia merokok, akan semakin besar pengaruhnya. 19
3.615.

6.2.2. Jumlah batang rokok


3.616.

Jumlah konsumsi rokok per hari dapat digunakan sebagai

indikator tingkatan merokok seseorang. Dalam penelitian ini konsumsi rokok


dikategorikan menjadi 3 yaitu kurang dari 10 batang per hari (perokok ringan),
11 20 batang per hari (perokok sedang), dan lebih dari 20 batang per hari
(perokok berat).Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi
jumlah merokok pada lansia didapatkan status pasien lansia dengan jumlah

45

merokok yang paling banyak ialah tidak merokok sebanyak 35 orang (46.7%),
berikutnya 1-10 batang sejumlah 13 orang (17.3%), 11-20 batang sejumlah 17
orang (22.7%), dan >20 batang sejumlah 10 orang (13.3%). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar responden (22,7%) termasuk perokok
sedang yaitu mengkonsumsi kurang dari 10 - 20 batang rokok per hari. Hal ini
dikarenakan, merokok dapat memberikan ketenangan, menghilangkan sakit
kepala dan stress serta dapat mengusir perasaan malas.26
3.617.

6.2.3. Jenis Rokok


3.618.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi

jenis rokok pada lansia didapatkan status pasien lansia dengan jenis rokok yang
paling banyak ialah tidak merokok sebanyak 35 orang (46.7%), berikutnya
Filter sejumlah 34 orang (45.3%), dan yang terendah Kretek sejumlah 6 orang
(8.0%). Umumnya sebagian besar rokok yang beredar di Indonesia
menggunakansemacamfilterkhususyangfungsinyauntukmengurangikadar
nikotinyangmasukkedalamtubuhsangperokokmeskipuntetapsajaakanada
sebagianyangmasukkeparuparu.Biasanyafiltermacaminidigunakanpada
rokok putih, meskipun beberapa jenis rokok lain juga menggunakan filter
sepertimisalnyapadarokokkretek.27
3.619. 6.3. Hipertensi
3.620. Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan pada kelompok
lansia. Sebagai hasil pembangunan yang pesat dewasa ini dapat meningkatkan
umur harapan hidup, sehingga jumlah lansia bertambah tiap tahunnya,
peningkatan usia tersebut sering diikiuti dengan meningkatnya

penyakit

degeneratif dan masalah kesehatan lain pada kelompok ini. Hipertensi sebagai
salah satu penyakit degeneratif yang sering dijumpai pada kelompok
lansia.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi hipertensi
pada lansia didapatkan status pasien lansia dengan hipertensi sebanyak 32 orang
(42.7%) dan pasien yang tidak hipertensi sebanyak 43 orang (57.3%). Di Asia,
penelitian di kota Tainan, Taiwan menunjukkan hasil bahwa pada usia diatas 65

46

tahun ditemukan prevalensi hipertensi sebesar 60,4%.


3.621. 6.4. Hubungan lama merokok dengan hipertensi
3.622. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
antara lama merokok dengan tingkat hipertensi.Berdasarkan hasil perhitungan
dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai probabilitas
(sig.) > 0.05 yang berarti tidak terdapat hubungan antara lama merokok dengan
tekanan darah.Hal ini dikarenakan sebagian besar responden didapatkan tidak
merokok (57,1%).
3.623. 6.5. Hubungan jumlah rokok dengan hipertensi
3.624. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara
jumlah konsumsi batang rokok per hari dengan tingkat hipertensi (p < 0,05).
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Chi-Square
didapatkan nilai probabilitas (sig.) 0.045 < 0.05 yang berarti terdapat hubungan
antara jumlah batang rokok dengan tekanan darah.
3.625. Zat-zat kimia beracun dalam rokok dapat mengakibatkan tekanan
darah tinggi atau hipertensi.Salah satu zat beracun tersebut yaitu nikotin, dimana
asupan nikotin sedikit sehingga hipertensi yang diderita ringan.Nikotin dapat
meningkatkan adrenalin yang membuat jantung berdebar lebih cepat dan bekerja
lebih keras, frekuensi denyut jantung meningkat dan kontraksi jantung meningkat
sehingga menimbulkan tekanan darah meningkat. Konsep ini mengandung
pengertian bahwa semakin banyak kadar zat-zat beracun tersebut maka semakin
berat juga hipertensi yang terjadi. Kadar zat-zat kimia rokok dalam darah secara
langsung ditentukan banyak sedikitnya konsumsi rokok.Terlepas dari perbedaan
tingkat hipertensi yang terjadi karena perbedaan jumlah konsumsi rokok, pada
dasarnya merokok berpengaruh terhadap kejadian hipertensi. Zat-zat kimia
beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok yang
masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah
arteri, mengakibatkan proses aterosklerosis dan tekanan darah tinggi. Pada studi

47

autopsi, dibuktikan kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan adanya


aterosklerosis pada seluruh pembuluh darah.Merokok pada penderita tekanan
darah tinggi semakin meningkatkan resiko kerusakan pada pembuluh darah arteri.
3.626.

Hasil penelitian ini sesuai dengan beberapa hasil penelitian yang

menunjukan bahwa tekanan darah pada perokok lebih tinggi dari pada bukan
perokok, seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Niskanen et al menunjukan
pria yang merokok lebih dari 20 batang perhari mempunyai resiko mengalami
hipertensi 2 kali lebih besar dengan rasio 2,38.28 Hasil serupa juga ditemukan pada
penelitian yang telah dilakukan Hergens et al, di Swedia yang memaparkan bahwa
30% subyek penelitiannya menghisap tembakau dan orang-orang yang menghisap
tembakau tersebut memiliki odds ratio terhadap peningkatan tekanan darah
sebesar 1,23 dibandingkan dengan yang tidak menghisap tembakau. 29 Penelitian
lain oleh Bowman et al yang dilakukan pada 28.236 wanita di Massachusetts,
yang awalnya tidak menderita hipertensi setelah pengamatan selama 9,8 tahun
diperoleh peningkatan yang signifikan terhadap resiko hipertensi pada wanita
yang merokok lebih dari 15 batang perhari yaitu sebesar 1,11 (IK 95%: 1,031,21), adapun mekanisme yang mendasari hubungan rokok dengan ekanan darah
berdasarkan penelitian tersebut adalah proses inflamasi, baik pada mantan
perokok maupun perokok aktif terjadi peningkatan protein C-reaktif dan agenagen inflamasi alami yang dapat mengakibatkan disfungsi edotelium, kerusakan
pembuluh darah, ataupun terjadi pembentukan plak, dan kekakuan pada dinding
arteri yang berujung pada kenaikan tekanan darah.30 Penelitian-penelitian ini juga
memperkuat penelitian yang dilakukan oleh Dochi et al di Jepang tahun 2009
yang menyatakan bahwa merokok berhubungan dengan hipertensi dan hipertensi
sistolik denga rasio perokok dan bukan perokok adalah 1,13 pada penderita
hipertensi (IK 95%: 1,03-1,23) dan 1,15 pada penderita hipertensi sistolik (IK
95%: 1,05-1,25).31
3.627. Terlihat bahwa individu yang mempunyai kebiasaan merokok
cenderung mempunyai tekanan darah yang lebih tinggi. Subjek yang mempunyai
kebiasaan merokok sebaiknya menghentikan kebiasaan tersebut, disamping itu

48

petugas pelayanan kesehatan juga dapat memberikan edukasi kepada pasien


tentang risiko dari merokok.
3.628. Terapi farmakologis juga dapat diberikan untuk menghentikan
kebiasaan merokok, dengan nicotine replacement therapy atau pemberian
bupropion, dan varenicline.Intervensi non-farmakologis dan farmakologis
diperlukan juga untuk hipertensi. Intervensi non-farmakologis yang lebih awal
dan lebih intensif pada perokok sangat berguna untuk mencegah terjadinya
penyakit kardiovaskuler di masa yang akan datang. Intervensi yang dapat
dilakukan meliputi diet rendah garam ( 2,4 gram natrium atau 6 gram NaCl),
olahraga (aerobik) secara teratur ( 30 menit/hari), menerapkan pola diet kaya
sayur, buah dan rendah lemak, dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol
secara berlebihan serta melakukan penurunan berat badan hingga tercapai nilai
indeks massa tubuh yang normal (18,5 22,9 kg/m2). Intervensi farmakologis
pada penderita hipertensi dengan anti hipertensi sesuai JNC VII.
3.629. 6.6. Hubungan jenis rokok dengan hipertensi
3.630. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
antara jenis rokok dengan tingkat hipertensi. Berdasarkan hasil perhitungan
dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai probabilitas
(sig.) > 0.05 yang berarti tidak terdapat hubungan antara jenis rokok dengan
tekanan darah. Hal ini dikarenakan kurangnya variabilitas jenis rokok yang
dipakai oleh responden, yaitu rata-rata yang digunakan adalah rokok filter
(64.7%).
3.631. 6.7. Keterbatasan penelitian
3.632.

Dalam pelaksanaan penelitian terdapat beberapa keterbatasan.

Keterbatasan penelitian ini adalah:

49

1. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional atau desain


potong lintang yang hanya menggambarkan variabel yang diteliti, baik
independen maupun dependen pada waktu yang sama
2. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
pengisian kuesioner kepada responden. Selama proses pengumpulan data
ada beberapa kendala yang dialami oleh peneliti, yaitu penerimaan yang
kurang bersahabat dari beberapa responden saat dilakukan wawancara
sehingga jawaban yang diberikan cenderung sekedarnya saja. Hal ini bisa
menyebabkan bias informasi.
3. Populasi penelitian yang diambil ialah keseluruhan pasien lansia di
Puskesmas kecamatan Pasar Minggu namun jumlah anggota populasi
masih terbilang sedikit sehingga mempengaruhi signifikansi hubungan
kedua variabel penelitian.
3.633.
3.634.

3.635.
3.636.
3.637.BAB VII
3.638.KESIMPULAN DAN SARAN
3.639.
7.1.

Kesimpulan
3.640. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Sebanyak 40 orang responden memiliki kebiasaan merokok (53.3%).

Didapatkan hubungan antara jumlah batang rokok yang dihisap dengan


kejadian hipertensi.

50

Tidak terdapat hubungan antara lama merokok dengan kejadian hipertensi.

Tidak terdapat hubungan antara jenis rokok dengan angka kejadian hipertensi.
3.641.

7.2.

Saran
3.642. 7.2.1 Puskesmas

1. Mempertahankan dan terus meningkatkan pelayanan kesehatan bagi seluruh


pasien terutama lansia.
2. Meningkatkan pengetahuan lansia-lansia yang berada dibawah ruang lingkup
Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu mengenai pentingnya menjaga dan
mempertahankan tekanan darah normal, menghindari kebiasaan merokok
dengan mengadakan kegiatan penyuluhan maupun promosi kesehatan
3. Menambah jumlah personil petugas kesehatan yang khusus mengatur
maupun mengurus para lansia agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan
bagi para lansia itu sendiri dan diharapkan hal tersebut dapat mempermudah
pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
hidup para lansia.
4. Mempertahankan dan terus melaksanakan kegiatan posyandu lansia yang
dilakukan rutin sebulan sekali guna memantau tingkat kesehatan lansialansia yang berada didalam ruang lingkup Puskesmas Kecamatan Pasar
Minggu.
5. Meningkatkan upaya persuasif terhadap para lansia yang masih memiliki
kebiasaan merokok untuk segera menghentikan kebiasaan tersebut untuk
meningkatkan kualitas hidup lansia khususnya dalam mempertahankan
kebugaran jasmani dihari tua.
3.643. 7.2.2

Masyarakat

51

1. Khususnya bagi para lansia diharapkan lebih memperhatikan kondisi


kesehatannya dengan pola hidup sehat, seperti menghentikan kebiasaan
merokok dan tetap berpartisipasi aktif pada kegiatan-kegiatan yang
diselenggarakan dengan upaya meningkatkan kesehatan lansia.
2. Diharapkan dukungan keluarga dari para lansia dalam upaya penghentian
kebiasaan merokok untuk meningkatkan kebugaran jasmani lansia di usia
tua.
3. Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam hal material, perhatian,
maupun upaya bersama-sama meningkatkan kualitas hidup lansia.
3.644. 7.2.3

Penelitian

3.645. Kami menyadari bahwa dari penelitian kami masih terdapat banyak

kekurangan dikarenakan berbagai kendala dan keterbatasan.Kami


berharap bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan
ruang lingkup yang lebih luas, sehingga lebih bermakna bagi lansia itu
sendiri maupun bagi ilmu pengetahuan.
3.646.
3.647. DAFTAR PUSTAKA
3.648.
1. Corwin, Elizabeths J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Edisi ke-3. Terjemahan
Brahman U.Jakarta: EGC. p. 114-128;235-255
2. Ruhyanudin F. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Kardivaskuler. Edisi 2. Malang : UMM.2007.
3. Lindenberg A, Binkmeyer J, Dahmen N, Gallinat J, Millas W, Mobascher A,
et al. The German multi-centre study on smoking-related behavior-description
on a population-based case-control study. Addiction Biology 2011;16(4):63853.

52

4. World Health Organization. Country Profile Indonesia: Prevalence of tobacco


use. WHO report on the global tobacco epidemic. Geneva: Switzerland: 2011.
Available

at:

http://www.who.int/tobacco/surveillance/

policy/country_profile/ idn.pdf Accessed on June 16, 2013.


5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas). Departemen Kesehatan RI 2010: 399-403.
6. Suparto, 2000. Sehat Menjelang Usia Senja. Bandung: Remaja Rosdakarya
Effset.
7. Perlstein, TS dan Richard TL. Smoking, Metalloproeinases, and Vascular
Disease. Arterioscler Thromb Vasc Biol 2006; 26: 250-256.
8. Li, et al. Nicotine Enhances Angiotensin II-Induced Mitogenic Response in
Vascular Smooth Muscle Cells and Fibroblasts. Arterioscler Thromb Vasc
Biol 2004; 24: 80-84.
9. PresidenRepublik

Indonesia.

PengamananRokokBagiKesehatan:

PeraturanPemerintahRepublik Indonesia No. 19 tahun 2003. Bab I. Pasal 1.


Ayat 1-2.
10. Jode J. 2010. Gambaran Kebiasaan Merokok Pada Pasien-Pasien Hipertensi
Yang Datang Berobat ke Bagian Penyakit Dalam RSUP H. Adam Malik
Medan. Medan : Universitaas Sumatra Utara.
11. Eso A, Hamra MY, Ahmadi AP. 2014. Hubungan Hiperurisemia, Obesitas,
dan Kebiasan Merokok dengan Kejadian Hipertensi. Kendari: Universitas
Halu Oleo.
12. Bustan, M.N., 2000. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka
Cipta.
13. WHO. Health stastics and health information system: Definition of an older
or

elderly

person.

Available

at

53

http://www.who.int/healthinfo/survey/ageingdefnolder/en/ . Accessed at 6
April 2015.
14. Watson, Roger. Perawatan Lansia. Edisi ke-3. Jakarta: ECG 2003
15. WHO. The World Health Organization Quality of Life ( WHOQOL ) BREF.
Available

at

http://www.who.int/entity/substance_abuse/research_tools/en/indonesian_wh
oqol.pdf Accessed at 6 April 2015.
16. Depsos. Penduduk lanjut usia di Indonesia dan Masalah Kesejahteraannya.
Available at http://www.depsos.go.id Accessed at 6 April 2015.
17. Corwin, Elizabeths J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Terjemahan Brahman
U.Jakarta: EGC. p.56-65
18. Sustrani L., 2006. Hipertensi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. p.24-30
19. Mansjoer A., 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid I. Jakarta: Media
Aesculapius. p.86-92
20. Arjatmo T, Hendra U., 2001. Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI.
p.119-125; 212-224
21. Soegarto I, 2004. Pencegahan & Penyembuhan Penyakit Jantung Koroner.
Edisi ke-2. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, YPKI. p.63-112
22. Soeharto I., 2001. Kolesterol & Lemak Jahat Kolesterol & Lemak Baik.
Yayasan

Pembina

Kardiovaskuler

Indonesia.

Available

from:

http://books.google.co.id/books?
id=xkzIOSgL4LEC&printsec=frontcover&dq=iman+soeharto&lr=. Accessed
6 April 2015 .
23. Depkes. Pendekatan Siklus Hidup dalam Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia.
Available
from

:http://www.depkes.go.id/article/view/201405300004/pendekatan-

54

siklus-hidup-dalam-pelayanan-kesehatan-lanjut-usia.html. Accessed 9 Mei


2015.
24. Alamsyah, Rika Mayasari. "Faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan
merokok dan hubungannya dengan status penyakit periodontal remaja di Kota
Medan tahun 2007." (2009).
25. Nakamura, Koshi, Federica Barzi, Tai-Hing Lam, Rachel Huxley, Valery L.
Feigin, Hirotsugu Ueshima, Jean Woo et al. "Cigarette smoking, systolic
blood pressure, and cardiovascular diseases in the Asia-Pacific region."
Stroke 39, no. 6 (2008): 1694-1702.
26. Partodiharjo S. Kenali Narkoba dan Musuhi Penyalahgunaan. Jakarta :
Erlangga.2006. 49.
27. Abdullah, A.S.; Stillman, F.A.; Yang, L.; Luo, H.; Zhang, Z.; & Samet, J.M.
2014. Tobacco Use and Smoking Cessation Practices among Physicians in
Developing Countries: A Literature Review (19872010). Int. J. Environ.
Res. Public Health, 11(1): 429-455
28. Niskanen, Leo, et al. Inflamation, Abdominal Obesity, and Smoking as
Predictors of Hypertension. Hypertension 2004; 44: 859-865.
29. Hergens, MP, M Lambe, G Pershagen dan W ye. Risk of Hypertension
Amongst Swedish Male Snuff Users: A Prospective Study. J Intern Med
2008; 264: 187-194.
30. Bowman, TS, et al. A Prospective Study of Cigarette Smoking and Risk of
Incident Hypertension in Women. J Am Coll Cardiol 2007; 50: 2085-92.
31. Dochi, Mirei. Smoking as An Risk Factor for Hypertension: A 14-Year
Longitudinal Study in Male Japanese Workers. Tohoku J Exp Med 2009; 217:
37-43.
3.649.
3.650.
3.651.
3.652.
3.653.

55

3.654.
3.655.
3.656.
3.657.
3.658.
3.659.
3.660.
3.661.
3.662.
3.663.
3.664.
3.665.
3.666.
3.667. Lampiran 1
3.668. INFORMED CONSENT
3.669. Penjelasan mengenai penelitian
3.670.

Penelitian ini berjudul Hubungan Antara Kebiasaan

Merokok dengan Hipertensi pada Lansia di Puskesmas Kecamatan


Pasar Minggu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara
kebiasaan merokok,meliputi jumlah batang rokok yang dihisap perhari,
jenis rokok, dan lama merokok dengan kejadian hipertensi dan
penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai
faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi hipertensi pada lanjut

56

usia yang nantinya informasi tersebut dapat dijadikan sebagai bahan


edukasi dan peningkatan kualitas hidup lansia.
3.671.

Oleh

karena

itu,

dengan

ini

kami

mengharapkan

bapak/ibu/saudara/i untuk ikut serta dalam penelitian ini. Bila bersedia


maka peneliti akan mengadakan wawancara melalui kuesioner, dan
hasil dari kuesioner ini akan dirahasiakan informasinya. Jika ada
pertanyaan, bapak/ibu/saudara/i dapat menghubungi peneliti melalui
nomer

telepon

08123835791

atau

melalui

email

di

pasming.nine@gmail.com
3.672.

Partisipasi

Bapak/Ibu/Saudara/i

dalam

penelitian

ini

bersifat sukarela, Bapak/Ibu/Saudara/i bebas untuk menolak ikut serta


dalam penelitian ini. Data dan identitas diri dari Bapak/Ibu/Saudara/i
akan disamarkan dan dijaga kerahasiaannya. Bila bapak/ibu/saudara/i
bersedia ikut dalam penelitian ini, kami mohon untuk membubuhkan
tanda tangan pada formulir persetujuan penelitian dibawah ini.
3.673. Jakarta,................2015
3.674.
3.675.
3.676.

Peneliti

3.677. Lampiran 2
3.678. FORMULIR PERSETUJUAN
3.679.
3.680.

Semua penjelasan diatas telah disampaikan kepada saya

dan telah saya pahami dengan sebaik-baiknya.Dengan menandatangani


formulir ini saya yang namanya tertulis dibawah ini SETUJU untuk
ikut serta dalam penelitian ini.

57

3.681.
3.682. Nama peserta penelitian

3.683.
3.684. Tanda tangan

3.685.
3.686. Tanggal

3.687.
3.688.
3.689.
3.690.
3.691.
3.692.
3.693.
3.694.
3.695.
3.696.
3.697. Lampiran 3
3.698. Kuesioner Identitas Responden
1. Umur

: ................ tahun

2. Jenis kelamin :
3.699.

Laki-laki

()

58

3.700.
3. Alamat

Perempuan

()

3.701. ............................................................................................................
........................................................................................................................
............
4. Pendidikan

a. Tidak sekolah

()

b. Sekolah Dasar

()

c. SMP/SLTP

()

d. SMA/SLTA

()

e. Universitas/Akademi ( )
3.702.
3.703.
3.704.
3.705.
3.706.
3.707.
3.708. Kuesioner Penelitian
1. Apakah anda memiliki kebiasaan merokok?
a. Ya
()
b. Tidak
()
3.709. Jika jawaban anda tidak maka lanjut ke nomer 5.
2. Sudah berapa lama anda memiliki kebiasaan merokok? ....................Tahun

59

3. Berapa jumlah rokok yang dihisap perhari? .................................Batang


4. Apakah Jenis rokok yang dihisap ? ......................................Kretek/ Filter
5. Apakah orang terdekat anda ada yang memiliki kebiasaan merokok?
a. Ya
()
b. Tidak
()
6. Siapakah orang terdekat anda yang memiliki kebiasaan merokok?...............
7. Dimanakah orang terdekat anda biasa merokok?
a. Dalam rumah
()
b. Luar rumah
()
3.710.
3.711.
3.712.
3.713.
3.714.
3.715.
3.716.
3.717.
3.718.
3.719. HASIL PEMERIKSAAN FISIK
3.720.
3.721. TEKANAN DARAH

: ./.mmHg

3.722. NADI

: ...x/menit

3.723. SUHU

: ...oC

3.724. PERNAFASAN

: ...x/menit

3.725. BERAT BADAN

: ....................Kg

60

3.726. TINGGI BADAN

:......................Cm

3.727.
3.728.

3.729.
3.730.
3.731.
3.732.
3.733.
3.734.
3.735.
3.736.
3.737.
3.738.
3.739.
3.740.
3.741.
3.742.
3.743.
3.744.
3.745.
3.746.
3.747. Lampiran 4
3.748.
3.749. HASIL UNIVARIAT
3.750.

61

3.751.

3.752. 3.753.

3.758.
V

3.754.
Freq
u
e
n
c
y

usia

3.755.
Pe

3.756.
Valid
Pe
rce
nt

3.757.
Cumulat
ive
Per
cen
t

3.759.
6

3.760.
42

3.761.
56

3.762.
56.0

3.763.
56.0

3.765.
7

3.766.
24

3.767.
32

3.768.
32.0

3.769.
88.0

3.771.
>

3.772.
9

3.773.
12

3.774.
12.0

3.775.
100.0

3.777.
To

3.778.
75

3.779.
10

3.780.
100.0

3.781.

3.782.
3.783.
3.784.

3.785. 3.786.

3.791.
V

3.787.
Freq
u
e
n
c
y

jenis_kelamin

3.788.
Pe

3.789.
Valid
Pe
rce
nt

3.790.
Cumulat
ive
Per
cen
t

3.792.
lakil
a
k
i

3.793.
41

3.794.
54

3.795.
54.7

3.796.
54.7

3.798.
pere
m
p
u
a
n

3.799.
34

3.800.
45

3.801.
45.3

3.802.
100.0

3.804.
Total

3.805.
75

3.806.
10

3.807.
100.0

3.808.

3.809.
3.810.

62

3.811.

3.812. 3.813.

3.818.
V

3.814.
Freq
u
e
n
c
y

pendidikan

3.815.
Pe

3.816.
Valid
Pe
rce
nt

3.817.
Cumulat
ive
Per
cen
t

3.819.
tidak
se
kol
ah

3.820.
5

3.821.
6.

3.822.
6.7

3.823.
6.7

3.825.
SD

3.826.
19

3.827.
25

3.828.
25.3

3.829.
32.0

3.831.
SMP

3.832.
22

3.833.
29

3.834.
29.3

3.835.
61.3

3.837.
SMA

3.838.
17

3.839.
22

3.840.
22.7

3.841.
84.0

3.843.
S1

3.844.
12

3.845.
16

3.846.
16.0

3.847.
100.0

3.849.
Total

3.850.
75

3.851.
10

3.852.
100.0

3.853.

3.854.
3.855.
3.856.

3.857. 3.858.

3.863.
V

3.859.
Freq
u
e
n
c
y

lama_merokok

3.860.
Pe

3.861.
Valid
Pe
rce
nt

3.862.
Cumulat
ive
Per
cen
t

3.864.
tidak
mer
oko
k

3.865.
35

3.866.
46

3.867.
46.7

3.868.
46.7

3.870.
< 10 th

3.871.
4

3.872.
5.

3.873.
5.3

3.874.
52.0

3.876.
> 10 th

3.877.
36

3.878.
48

3.879.
48.0

3.880.
100.0

3.882.
Total

3.883.
75

3.884.
10

3.885.
100.0

3.886.

3.887.
3.888.

63

3.889.
3.890.
3.891.
3.892.

3.893. 3.894.

3.899.
V

3.895.
Freq
u
e
n
c
y

jumlah_rokok

3.896.
Pe

3.897.
Valid
Pe
rce
nt

3.898.
Cumulat
ive
Per
cen
t

3.900.
tidak
mer
oko
k

3.901.
35

3.902.
46

3.903.
46.7

3.904.
46.7

3.906.
1-10
bat
ang

3.907.
13

3.908.
17

3.909.
17.3

3.910.
64.0

3.912.
11-20
bat
ang

3.913.
17

3.914.
22

3.915.
22.7

3.916.
86.7

3.918.
> 20
bat
ang

3.919.
10

3.920.
13

3.921.
13.3

3.922.
100.0

3.924.
Total

3.925.
75

3.926.
10

3.927.
100.0

3.928.

3.929.
3.930.

64

3.931.
3.934.
Freq
u
e
n
c
y

3.932. 3.933.

3.938.
V

jenis_rokok

3.935.
Pe

3.936.
Valid
Pe
rce
nt

3.937.
Cumulat
ive
Per
cen
t

3.939.
tidak
mer
oko
k

3.940.
35

3.941.
46

3.942.
46.7

3.943.
46.7

3.945.
filter

3.946.
34

3.947.
45

3.948.
45.3

3.949.
92.0

3.951.
kretek

3.952.
6

3.953.
8.

3.954.
8.0

3.955.
100.0

3.957.
Total

3.958.
75

3.959.
10

3.960.
100.0

3.961.

3.962.
3.963.
3.964.

3.965. 3.966.

3.971.
V

3.967.
Freq
u
e
n
c
y

merokok

3.968.
Pe

3.969.
Valid
Pe
rce
nt

3.970.
Cumulat
ive
Per
cen
t

3.972.
ti

3.973.
35

3.974.
46

3.975.
46.7

3.976.
46.7

3.978.
y

3.979.
40

3.980.
53

3.981.
53.3

3.982.
100.0

3.984.
T

3.985.
75

3.986.
10

3.987.
100.0

3.988.

3.989.
3.990.

65

3.991.
3.994.
Freq
u
e
n
c
y

3.992. 3.993.

3.998.
V

tekanan_darah

3.995.
Pe

3.996.
Valid
Pe
rce
nt

3.997.
Cumulat
ive
Per
cen
t

3.999. t
idak
hiper
tensi

3.1000.
32

3.1001.
42

3.1002.
42.7

3.1003.
42.7

3.1005. h
ipert
ensi

3.1006.
43

3.1007.
57

3.1008.
57.3

3.1009.
100.0

3.1011. T
otal

3.1012.
75

3.1013.
10

3.1014.
100.0

3.1015.

3.1016.
3.1017.
3.1018.
3.1019.
3.1020.
3.1021.
3.1022.
3.1023.
3.1024.
3.1025.
3.1026.

Lampiran 5
3.1027.

HASIL BIVARIAT

3.1028.
3.1029.
HUBUNGAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN
TEKANAN DARAH
3.1030.

66

3.1031. Crosstab

3.1032. 3.1033. 3.1034.

3.1035. tekanan_dar
ah

3.1037. 3.1038. 3.1039.

3.1040.
tidak
hip

3.1041.

3.1036.

erte

hipe

Tot

3.1047.

3.1048.

nsi
3.1043.

3.1044.

ti

3.1045. Co
unt
3.1051. %
within

3.1046.
20
3.1052.
57.1%

15

35

3.1053.

3.1054.

42.9

10

3.1059.

3.1060.

meroko
k
3.1056.
y

3.1057. Co
unt
3.1063. %
within

3.1058.
12
3.1064.
30.0%

28

40

3.1065.

3.1066.

70.0

10

3.1070.

3.1071.

meroko
k
3.1067. Tot

3.1068. Co

al

unt
3.1073. %
within

3.1069.
32
3.1074.
42.7%

43

75

3.1075.

3.1076.

57.3

10

meroko
k

3.1077.
3.1078.

67

3.1079. Chi-Square Tests

3.1080.

3.1086. Pearson
Chi-Square

3.1092. Continuity
Correction

3.1098. Likelihood
Ratio

3.1104. Fisher's

3.1087.
5.

3.1093.
4.

3.1099.
5.

3.1105.

3.1084.

3.1085.

Asymp.

Exact

Exact

Sig.

Sig.

Sig.

(2-

(2-

(1-

3.1082.

sid

sid

side

df

ed)

ed)

d)

3.1081.
Va

3.1083.

3.1088.
1

3.1094.
1

3.1100.
1

3.1106.

3.1089.
.018

Linear

3.1111.
5.

3.1112.
1

3.1091.

3.1096.

3.1097.

3.1102.

3.1103.

3.1108.

3.1109.

3.1095.
.033

3.1101.
.017

3.1107.

Exact Test
3.1110. Linear-by-

3.1090.

3.1113.
.019

.021

.016

3.1114.

3.1115.

3.1120.

3.1121.

Association
3.1116. N of Valid
Cases

3.1117.

3.1118.

3.1119.

75

3.1122. a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14.93.
3.1123. b. Computed only for a 2x2 table

3.1124.
3.1125.
3.1126.
3.1127.
3.1128.
3.1129.HUBUNGAN LAMA MEROKOK DENGAN KEJADIAN
TEKANAN DARAH
3.1130.

68

3.1131. Crosstab

3.1132.

3.1133.

3.1134.

3.1137.

3.1138.

3.1139.

3.1143. l
ama
_mer
okok

3.1140.
tidak
hip
erte
nsi

3.1141.
hipe

3.1136.
Tot

3.1144.
tidak
mer
oko
k

3.1145. Count

3.1146.
20

3.1147.
15

3.1148.
35

3.1151. % within
lama_meroko
k

3.1152.
57.1%

3.1153.
42.9

3.1154.
10

3.1156.
< 10 th

3.1157. Count

3.1158.
1

3.1159.
3

3.1160.
4

3.1163. % within
lama_meroko
k

3.1164.
25.0%

3.1165.
75.0

3.1166.
10

3.1169. Count

3.1170.
11

3.1171.
25

3.1172.
36

3.1175. % within
lama_meroko
k

3.1176.
30.6%

3.1177.
69.4

3.1178.
10

3.1180. Count

3.1181.
32

3.1182.
43

3.1183.
75

3.1185. % within
lama_meroko
k

3.1186.
42.7%

3.1187.
57.3

3.1188.
10

3.1168.
> 10 th

3.1179. Total

3.1135. tekanan_dar
ah

3.1189.
3.1190. Chi-Square Tests

3.1193.
df

3.1194.
Asymp.
Sig.
(2sid
ed)

3.1191.
3.1192.
Va
3.1195. Pearson
Chi-Square

3.1196.
5.

3.1197.
2

3.1198.
.059

3.1199. Likelihood
Ratio

3.1200.
5.

3.1201.
2

3.1202.
.057

3.1203. Linear-byLinear
Association
3.1207. N of Valid
Cases

3.1204.
5.

3.1205.
1

3.1206.
.025

3.1208.
75

3.1209.

3.1210.

3.1211. a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The


minimum expected count is 1.71.

3.1212.

69

3.1213.
Keterangan : karena nilai EC yang < 5 =
33,3% maka syarat uji Chi square tidak terpenuhi.
3.1214.
Sehingga digunakan uji alternative
kolmogorov smirnov
3.1215. Test Statisticsa

3.1216.

3.1217.
3.1218. lama_merokok

3.1219. Most
Extreme
Differences

3.1220. Absolute

3.1221. .276

3.1223. Positive

3.1224. .000

3.1226. Negativ

3.1227. -.276

e
3.1228. Kolmogorov-Smirnov Z
3.1230. Asymp. Sig. (2-tailed)

3.1229. 1.183
3.1231. .122

3.1232. a. Grouping Variable: tekanan_darah

3.1233.
3.1234.
HUBUNGAN JUMLAH ROKOK DENGAN
KEJADIAN TEKANAN DARAH
3.1235.

70

3.1236. Crosstab

3.1237.

3.1238.

3.1239.

3.1240. tekanan_dara
h

3.1242.

3.1243.

3.1244.

3.1245.
tidak
hip

3.1246.

3.1241.

erte

hipe

Tot

3.1252.

3.1253.

nsi
3.1248.

3.1249.

jumlah_

tidak

rok

mer

ok

oko
k
3.1261.

3.1250. Count

20
3.1256. % within
jumlah_roko

ang

3.1257.
57.1%

15

35

3.1258.

3.1259.

42.9

10

3.1264.

3.1265.

k
3.1262. Count

1-10
bat

3.1251.

3.1263.
6

3.1268. % within
jumlah_roko

3.1269.
46.2%

13

3.1270.

3.1271.

53.8

10

3.1276.

3.1277.

k
3.1273.

3.1274. Count

11-20
bat
ang

3.1275.
3

3.1280. % within
jumlah_roko

3.1281.
17.6%

14

17

3.1282.

3.1283.

82.4

10

3.1288.

3.1289.

k
3.1285.

3.1286. Count

> 20

3.1287.
3

bat
ang

3.1292. % within
jumlah_roko

3.1293.
30.0%

10

3.1294.

3.1295.

70.0

10

3.1299.

3.1300.

k
3.1296. Total

3.1297. Count

3.1298.
32

3.1302. % within
jumlah_roko

3.1303.
42.7%

43

75

3.1304.

3.1305.

57.3

10

3.1306.
3.1307.

71

3.1308. Chi-Square Tests

3.1309.

3.1312.
Asymp.
Sig.
3.1310.
Va

3.1313. Pearson
Chi-Square

3.1317. Likelihood
Ratio

3.1321. Linear-byLinear

3.1314.
8.

3.1318.
8.

3.1322.
6.

(23.1311.

sid

df

ed)

3.1315.
3

3.1319.
3

3.1323.
1

3.1316.
.045

3.1320.
.036

3.1324.
.013

Association
3.1325. N of Valid
Cases

3.1326.
75

3.1327.

3.1328.

3.1329. a. 1 cells (12.5%) have expected count less than 5. The


minimum expected count is 4.27.

3.1330.
3.1331.
3.1332.
HUBUNGAN JENIS ROKOK DENGAN KEJADIAN
TEKANAN DARAH
3.1333.

72

3.1334. Crosstab

3.1335.

3.1336.

3.1337.

3.1340.

3.1341.

3.1342.

3.1346.
jenis_
r
o
k
o
k

3.1343.
tidak
hip
erte
nsi

3.1344.
hipe

3.1339.
Tot

3.1347.
tidak
mer
oko
k

3.1348. Count

3.1349.
20

3.1350.
15

3.1351.
35

3.1354. %
within
jenis_roko
k

3.1355.
57.1%

3.1356.
42.9

3.1357.
10

3.1359.
filter

3.1360. Count

3.1361.
12

3.1362.
22

3.1363.
34

3.1366. %
within
jenis_roko
k

3.1367.
35.3%

3.1368.
64.7

3.1369.
10

3.1372. Count

3.1373.
0

3.1374.
6

3.1375.
6

3.1378. %
within
jenis_roko
k

3.1379.
.0%

3.1380.
100.

3.1381.
10

3.1383. Count

3.1384.
32

3.1385.
43

3.1386.
75

3.1388. %
within
jenis_roko
k

3.1389.
42.7%

3.1390.
57.3

3.1391.
10

3.1371.
kretek

3.1382. Total

3.1338. tekanan_dar
ah

3.1392.
3.1393.

73

3.1394. Chi-Square Tests

3.1397.
df

3.1398.
Asymp.
Sig.
(2sid
ed)

3.1395.
3.1396.
Va
3.1399. Pearson
Chi-Square

3.1400.
8.

3.1401.
2

3.1402.
.016

3.1403. Likelihood
Ratio

3.1404.
10

3.1405.
2

3.1406.
.006

3.1407. Linear-byLinear
Association
3.1411. N of Valid
Cases

3.1408.
7.

3.1409.
1

3.1410.
.005

3.1412.
75

3.1413.

3.1414.

3.1415. a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The


minimum expected count is 2.56.

3.1416.
3.1417.
Keterangan : karena nilai EC yang < 5 =
33,3% maka syarat uji Chi square tidak terpenuhi.
3.1418.
Sehingga digunakan uji alternative
kolmogorov smirnov
3.1419.
3.1420. Test Statisticsa

3.1421.

3.1422.
3.1423. jenis_rokok

3.1424. Most
Extreme
Differences

3.1425. Absolute

3.1426. .276

3.1428. Positive

3.1429. .000

3.1431. Negativ

3.1432. -.276

e
3.1433. Kolmogorov-Smirnov Z
3.1435. Asymp. Sig. (2-tailed)

3.1434. 1.183
3.1436. .122

3.1437. a. Grouping Variable: tekanan_darah

3.1438.
3.1439.
3.1440.

74