You are on page 1of 79
  • 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN

Merokok bukan lagi hal yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Selain jarang diakui sebagai suatu kebiasaan yang buruk, kebiasaan merokok juga sangat sulit dihilangkan. Begitu tinggi toleransi kepada perokok yang diberikan oleh masyarakat, walaupun berbagai penelitian telah menunjukan bahwa merokok adalah salah satu faktor resiko penting penyebab kematian. 1 World Health Organization (WHO) pada tahun 2008 menyatakan, jumlah perokok di dunia mencapai 19,4% atau sekitar 1,3 miliar jiwa. 2 Tingginya populasi dan konsumsi rokok di dunia, menempatkan Indonesia pada urutan ke-5 dalam hal konsumsi rokok setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang pada tahun 2007,

sedangkan pada tahun 2008, berdasarkan jumlah perokok, Indonesia adalah negara ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia, setelah China dan India. 3 Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2010 menyatakan sebanyak 30,8% penduduk DKI Jakarta yang mempunyai kebiasaan merokok, berusia lebih dari 15 tahun, 4 dimana salah satu kalangan yang tergolong pada usia remaja akhir tersebut adalah mahasiswa. Penelitian Min-Yan Han, et al, menyatakan bahwa khususnya pada mahasiswa Fakultas Kedokteran mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi tentang merokok, perilaku anti merokok yang lebih kuat, dan mempunyai prevalensi untuk merokok yang lebih rendah daripada mahasiswa yang bukan Fakultas Kedokteran. 5 Namun, faktanya masih ada mahasiswa Fakultas Kedokteran yang memiliki kebiasaan buruk yaitu kebiasaan merokok.

Selain merupakan faktor resiko penyebab kematian, penelitian menyatakan bahwa perokok sering mengeluhkan adanya masalah pada tidur. Masalah tersebut

diduga disebabkan oleh pengaruh nikotin dari rokok yang dihisap. 6 Berdasarkan penelitian Hu Lizhen, et al, pria yang merokok 21-40 batang per hari mempunyai

angka kejadian yang tinggi mengenai kualitas tidur yang buruk, walaupun kualitas tidur mereka bukan hanya dipengaruhi oleh rokok yang mereka konsumsi. 7

Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas tidur yaitu usia, banyaknya aktivitas fisik seseorang, suatu penyakit yang diderita, stres emosional,

lingkungan, gaya hidup, diet dan konsumsi obat-obatan, alkohol serta zat-zat kimia lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan bukan perokok, perokok mengaku dua kali lebih sering mengantuk sepanjang harinya dan

mengaku kesulitan untuk tidur. 8 Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Tidur yang baik berkaitan erat dengan kuantitas tidur yaitu banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk tidur dan kualitas tidur, yaitu kemampuan individu untuk menjaga tidurnya. 9 Penelitian yang dilakukan oleh International Network for the Demographic Evaluation of Populations and Their Health (INDEPTH) and the World Health Organization (WHO) Study on Global Ageing and Adult Health (SAGE) di delapan Negara kawasan Asia-Afrika menyatakan angka kejadian tentang buruknya kualitas tidur di Indonesia, mempunyai angka terendah yaitu 8,5% (3,9% pada pria dan 4,6% pada wanita), hal ini disebabkan karena negara- negara berkembang cenderung mengabaikan pentingnya kualitas tidur, padahal tanpa tidur yang adekuat dan kualitas tidur baik akan mengakibatkan gangguan keseimbangan fisiologi dan psikologi. 10 Kualitas tidur yang buruk juga sering diungkapkan oleh kelompok mahasiswa. Tanpa waktu tidur yang cukup, kemampuan mahasiswa untuk berkonsentrasi, membuat keputusan dan berpartisipasi dalam aktivitas harian akan menurun, dimana hal-hal tersebut penting dalam menunjang pendidikannya. 11 Selain itu kualitas tidur yang buruk, dapat mengakibatkan antara lain menurunnya motivasi, menurunnya ingatan, rasa lelah saat melakukan kegiatan di siang hari, perubahan mood, penurunan imunitas tubuh, dan lain-lain. 12 Berdasarkan pertimbangan di atas, maka penulis ingin mengetahui gambaran mengenai kebiasaan merokok dan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dan melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Kebiasaan Merokok dengan Kualitas Tidur Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran.”

1.2

Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini yaitu, “Adakah hubungan antara kebiasaan merokok dengan kualitas tidur pada

mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti?”, dengan pertanyaan penelitian, yaitu:

 

1.

Adakah hubungan antara jumlah rokok yang dihisap dengan kualitas

 

tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti?

 

2.

Adakah hubungan antara jenis rokok yang dihisap dengan kualitas

 

tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti?

 

3.

Adakah hubungan antara lama merokok dengan kualitas tidur pada

 

mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti?

 

4.

Adakah hubungan antara derajat berat merokok dengan kualitas tidur

 

pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti?

1.3

Tujuan

  • 1.3.1 Tujuan Umum

 

1.

Mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan kualitas tidur,

 

sehingga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dapat terhindar dari berbagai penyakit dan mampu menjadi mahasiswa yang

aktif dan produktif di segala bidang akademis maupun non akademis.

  • 1.3.2 Tujuan Khusus

 

1.

Mengetahui gambaran kebiasaan merokok pada mahasiswa Fakultas

 

Kedokteran Universitas Trisakti.

 

2.

Mengetahui gambaran kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas

 

Kedokteran Universitas Trisakti.

 

3.

Mengetahui hubungan antara jumlah rokok yang dihisap dengan

 

kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas

Trisakti.

 

4.

Mengetahui hubungan antara jenis rokok yang dihisap dengan kualitas

 

tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

 

5.

Mengetahui hubungan antara lama merokok dengan kualitas tidur pada

 

mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

 

6.

Mengetahui hubungan antara derajat berat merokok dengan kualitas

tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

  • 1.4 Hipotesis

1.

Ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kualitas tidur pada

mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

  • 2. Ada hubungan antara jumlah rokok yang dihisap dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

  • 3. Ada hubungan antara jenis rokok yang dihisap dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

  • 4. Ada hubungan antara lama merokok dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

  • 5. Ada hubungan antara derajat berat merokok dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

1.5

Manfaat

  • 1.5.1 Bagi Ilmu Pengetahuan

    • 1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau kepustakaan tambahan mengenai kebiasaan merokok dan kualitas tidur.

    • 2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan dapat digunakan untuk penelitian yang lebih lanjut mengenai hubungan kebiasaan merokok dan kualitas tidur.

  • 1.5.2 Bagi Profesi

1.

Penelitian

ini diharapkan dapat menambah luas wawasan dan

pengetahuan tentang dampak dari kebiasaan merokok dan kualitas

tidur yang buruk.

  • 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberi penjelasan tentang kualitas tidur yang baik sehingga akan memberikan pengaruh terhadap peningkatan produktivitas dan prestasi akademik maupun non- akademik.

  • 1.5.3 Bagi Masyarakat

1.

Penelitian ini diharapkan menjadi evaluasi kepada masyarakat secara umum dan khususnya mahasiswa/i yang memiliki kebiasaan merokok, agar dapat lebih memahami dampak buruk dari merokok dan memperhatikan kualitas tidurnya.

  • 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberi pengertian, penjelasan dan pemahaman yang lebih rinci tentang kebiasaan merokok, dampak buruk merokok dan pentingnya kualitas tidur seseorang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rokok 2.1.1 Definisi rokok Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan species lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan. Rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan masyarakat, oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya pencegahan. 13

2.1.2

Kandungan rokok

Tembakau dalam satu batang rokok yang dihisap seseorang mengandung sekitar 4000 elemen racun dan setidaknya 200 diantaranya berbahaya bagi kesehatan. 14 Adapun zat-zat beracun yang terdapat dalam sebatang tembakau,

antara lain: karbon monoksida, nikotin, hidrogen sianida, amonia, aseton, fenol, dan dimetilnitrosamin. 15 Adapun efek yang dapat ditimbulkan oleh beberapa zat diatas, yaitu:

  • 1. Karbon Monoksida (CO) Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna dari unsur karbohidrat atau karbon. Gas CO yang dihasilkan sebatang tembakau dapat mencapai 3%-6% dan gas ini dapat dihisap oleh siapa saja. Gas CO mempunyai kemampuan mengikat hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah, lebih kuat dibandingkan oksigen, sehingga pasokan oksigen ke sel-sel tubuh semakin berkurang. 16 Sel tubuh yang kekurangan oksigen akan mengalami spasme, yaitu mempersempit diameter pembuluh darah. Bila proses ini berlangsung terus-menerus, maka pembuluh darah akan mudah rusak. Selain itu, kurangnya oksigen terhadap sel-sel tubuh akan menimbulkan banyak masalah dari cedera sel hingga kematian sel. 17 Nikotin Nikotin yang terkandung dalam rokok adalah sebesar 0.5-3 nanogram, dan semuanya diserap sehingga di dalam cairan darah ada sekitar 40-50 nanogram nikotin setiap 1 ml-nya. Nikotin bukan merupakan komponen karsinogenik. Hasil pembusukan panas dari nikotin seperti dibensakridin, dibensokarbasol, dan nitrosamin tersebut yang akan bersifat karsinogenik. Pada paru-paru, nikotin akan menghambat aktivitas silia. Selain itu, nikotin juga memiliki efek adiktif dan psikoaktif. Perokok akan merasakan kenikmatan, kecemasan berkurang, toleransi dan keterikatan fisik. Hal inilah yang menyebabkan mengapa kebiasaan merokok susah untuk dihentikan. Efek nikotin menyebabkan perangsangan terhadap hormon katekolamin (adrenalin) yang bersifat memacu jantung untuk bekerja. Hal ini yang nantinya dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. 16 Efek lain adalah

2.

merangsang agregasi trombosit. Trombosit akan menggumpal dan akan menyumbat pembuluh darah yang sudah sempit akibat CO. 17

  • 3. Hidrogen Sianida (HCN) HCN merupakan sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar, dan sangat efisien untuk menghalangi merusak saluran pernapasan.

    • 4. Amoniak Amoniak merupakan gas yang tidak berwarna terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini berbau tajam dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada ammonia sehingga jika masuk sedikit ke dalam peredaran darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma.

  • 5. Fenol Fenol adalah campuran dari kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organik seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan membahayakan karena fenol terikat pada protein sehingga menghalangi aktivitas enzim.

    • 6. Aseton Aseton adalah hasil pemanasan aldehid dan mudah menguap dengan alkohol.

    • 7. Metanol Metanol adalah sejenis cairan ringan yang mudah menguap dan mudah terbakar. Meminum atau menghisap metanol mengakibatkan kebutaan bahkan kematian.

  • 8. N-nitrosamina

  • N-nitrosamina dibentuk oleh nirtrasasi amina. Asap tembakau mengandung 2 jenis utama N-nitrosamina, yaitu Volatile N-Nitrosamina (VNA) dan Tobacco N-Nitrosamina. Hampir semua Volatile N- Nitrosamina ditahan oleh sistem pernapasan pada inhalasi asap tembakau. Jenis asap tembakau VNA diklasifikasikan sebagai karsinogen yang potensial. Dikenal juga zat-zat lain yaitu toluen, metanol, arsenik, butan, naftalen, dan DDT dalam tembakau yang mempunyai efek buruk pada tubuh. 15 Selain zat-zat di

    atas, di dalam setiap batang tembakau, terdapat zat-zat racun yang bersifat karsinogenik, antara lain:

    1. Kadmium Kadmium adalah zat yang dapat merusak jaringan tubuh terutama ginjal.

    • 2. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) Senyawa hidrokarbon aromatik yang memiliki cincin dideskripsikan sebagai Fused Ring System atau PAH. Beberapa PAH yang terdapat dalam asap tembakau antara lain Benzo (a) Pyrene, Dibenz (a,h) anthracene, dan Benz(a)anthracene. Senyawa ini merupakan senyawa reaktif yang cenderung membentuk epoksida yang metabolitnya bersifat genotoksik. Senyawa tersebut merupakan zat yang bersifat karsinogenik. Zat-zat lain yang dapat menimbulkan karsinogenik, yaitu toluidine,

    urethane, dibenhacridine, polonium-210, napthylamine, pyrene, dan vinyl chloride. 14

    2.1.3 Jenis rokok Jenis-jenis rokok ini dibedakan berdasarkan bahan pembungkus rokok dan bahan baku atau isi rokok. Rokok berdasarkan bahan pembungkusnya dibagi menjadi empat, yaitu: rokok klobot (rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung), rokok kawung (rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren), rokok sigaret (rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas) dan rokok cerutu (rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau). Berdasarkan bahan yang digunakan terdapat rokok sigaret terbuat dari daun tembakau, dan rokok kretek dibuat dari daun tembakau dan mempunyai campuran aroma dan rasa cengkeh. Rokok putih, yaitu rokok tanpa campuran dan aroma rasa cengkeh. Sedangkan rokok klobot dari daun jagung kering yang diisi dengan daun tembakau murni dan cengkeh. Namun pada umumnya, rokok yang sering dikonsumsi masyarakat terbagi menjadi 2 kelompok yaitu rokok putih (rokok filter) dan rokok kretek (rokok non-filter). Rokok putih mempunyai kandungan 14-15 mg tar dan 2-3 mg nikotin, dimana kandungan tar dan nikotin tersebut lebih rendah dibanding rokok kretek, karena kerendahan kadar tar dan nikotin ini justru

    menjadi nilai jual bagi mereka, berkaitan dengan isu kesehatan. Rokok kretek memiliki sekitar 20 mg tar dan 4-5 mg nikotin, lebih besar kandungan tar dan nikotinnya dari rokok putih. 14

    • 2.1.4 Kategori perokok

    Perokok tebagi atas empat kategori,yaitu:

    • 1. Bukan perokok (non smokers), adalah seseorang yang belum pernah mencoba merokok sama sekali.

    • 2. Perokok tetap atau perokok reguler (daily smokers), adalah seseorang yang teratur merokok baik dalam hitungan mingguan atau dengan intensitas yang lebih tinggi lagi.

    • 3. Perokok eksperimen (non-daily smokers), adalah seseorang yang telah mencoba merokok tapi tidak menjadikannya sebagai suatu kebiasaan.

    • 4. Mantan perokok (former smokers), adalah seseorang yang pernah mencoba merokok dan sekarang telah meninggalkan kebiasaannya tersebut. 18 Berdasarkan jumlah batang rokok yang dihisap per harinya, perokok terbagi atas tiga kategori, yaitu:

      • 1. Perokok ringan, adalah seseorang yang menghisap rokok antara 1- 10 batang perhari.

      • 2. Perokok sedang, adalah seseorang yang menghisap rokok antara 11-20 batang perhari.

      • 3. Perokok berat, adalah seseorang yang menghisap rokok lebih dari 20 batang perhari. 19 Sedangkan berdasarkan lama merokok, perokok dibedakan menjadi:

      • 1. Perokok ringan, adalah perokok yang memiliki lama merokok kurang dari 10 tahun.

      • 2. Perokok sedang, adalah perokok yang memiliki lama merokok sekitar 10 sampai 20 tahun.

      • 3. Perokok berat, adalah perokok yang memiliki lama merokok lebih dari 20 tahun. 20

    • 2.1.5 Derajat berat merokok

    Derajat berat merokok ditentukan oleh Indeks Brinkman, yaitu perkalian jumlah rata-rata batang rokok yang dihisap per hari dikalikan dengan lama merokok dalam satuan tahun. 21 Hasil perkalian tersebut akan dikategorikan atas:

    • 1. Derajat ringan, adalah perokok yang mempunyai hasil Indeks Brinkman 0-
      200.

    • 2. Derajat sedang, adalah perokok yang mempunyai hasil Indeks Brinkman

     

    200-600.

    • 3. Derajat berat, adalah perokok yang mempunyai hasil Indeks Brinkman lebih

    dari 600.

    2.2

    Tidur

    • 2.2.1 Definisi tidur

    Tidur adalah suatu proses aktif, bukan sekedar hilangnya keadaan terjaga. Tingkat aktivitas otak keseluruhan tidak berkurang selama tidur. Selama tahap- tahap tidur tertentu, penyerapan oksigen oleh otak bahkan meningkat melebihi normal sewaktu terjaga. 22 Tidur dianggap penting karena tidur merupakan suatu kebutuhan atau perilaku yang mendasari aktivitas sehari-hari setiap manusia di dunia. 23 Tidur juga didefinisikan sebagai fenomena universal, dimana setiap organisme mempunyai gen dalam DNA nya yang berfungsi untuk mengatur siklus aktivitasnya, termasuk tidur. 24

    • 2.2.2 Fisiologi Tidur

    Siklus tidur diatur oleh dua proses yang dihasilkan otak. Proses pertama yaitu respon otak terhadap lama seseorang dalam keadaan terjaga. Semakin lama seseorang berada dalam keadaan terjaga tanpa tidur yang cukup, semakin kuat dorongan yang ditimbulkan otak untuk tidur. Proses yang kedua yaitu diatur oleh waktu siklus tidur-bangun tiap harinya yaitu siklus siang-malam. Waktu tidur diatur oleh nukleus suprakiasmatikum dari hipotalamus, yang berespon terhadap cahaya dan menimbulkan rasa kantuk saat keadaan gelap pada malam hari. 22 Selain hipotalamus, pusat-pusat pengatur tidur terdapat di dalam batang otak. Batang otak adalah penghubung vital antara medulla spinalis dan bagian- bagian otak yang lebih tinggi. Pada batang otak terdapat suatu anyaman neuron-

    neuron yang saling berhubungan yang disebut formasio retikularis, meluas di seluruh batang otak dan masuk ke dalam talamus. Serat-serat asendens yang berasal dari formasio retikularis membawa sinyal ke atas untuk membangunkan dan mengaktifkan korteks serebri. Serat-serat ini membentuk sistem aktivasi reticular atau reticular activating system, yang mengontrol derajat keseluruhan kewaspadaan korteks dan penting dalam kemampuan untuk mengarahkan perhatian. 22 Siklus tidur-bangun adalah suatu variasi siklik normal dalam kesadaran akan lingkungan. Berbeda dari keadaan terjaga, orang yang tidur tidak secara sadar mengetahui dunia eksternal, tetapi mereka memiliki pengalaman kesadaran dunia internal misalnya mimpi. Selain itu, mereka dapat dibangunkan dengan rangsangan luar, misalnya bunyi alarm. Siklus tidur-bangun serta berbagai tahapan tidur disebabkan oleh hubungan timbal-balik antara tiga sistem saraf, yaitu (1) sistem keterjagaan, yaitu bagian dari sistem aktivasi reticular (SAR) yang berasal dari batang otak. (2) pusat tidur gelombang lambat atau Non Rapid Eye Movement (NREM) di hipotalamus yang mengandung neuron-neuron yang menginduksi tidur. (3) pusat tidur paradoksal Rapid Eye Movement (REM) di batang otak yang mengandung neuron-neuron yang berperan sewaktu tidur REM. 22 Proses yang terjadi diantara fase tidur NREM dan REM disebut irama ultradian, yaitu kejadian berulang pada jam biologis yang kurang dari 24 jam. Proses fisiologi tidur juga merupakan modulator penting pada fungsi kardiovaskular. Siklus tidur-bangun atau irama sirkadian yang normal akan memberi efek yang signifikan pada sistem saraf otonom, sistem hemodinamik sistemi, fungsi jantung dan fungsi endotel pembuluh darah. 25 Adapun neurotransmiter yang berperan dalam siklus tidur-bangun antara lain: asetilkolin, dopamin, norepinefrin, serotonin, dan GABA. Peran masing- masing neurotransmitter secara umum akan berpengaruh terhadap tidur dan keterjagaan. Asetilkolin dihasilkan oleh sel-sel yang terdapat pada lateral dorsal tegmental dan pedunduculopontine tegmental. Kadar asetilkolin meningkat saat keadaan terjaga, begitu juga dopamin yang dihasilkan pleh substansia nigra, akan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan seseorang. 26 Norepinefrin dihasilkan

    oleh sel-sel yang terdapat pada locus coeruleus. Pada keadaan tidur paradoksal atau REM, kadar norepinefrin sangat sedikit bahkan norepinefrin berhenti dihasilkan, namun kadarnya akan meningkat tajam saat terbangun atau terjaga. Sedangkan serotonin dihasilkan di nucleus raphe. Kadar serotonin akan meningkat dalam keadaan terjaga, menurun selama fase tidur gelombang lambat atau NREM stadium 3 dan 4 dan berhenti dihasilkan saat tidur paradoksal atau REM dan perlahan-lahan meningkat kembali setelah tidur REM. 22 Melantonin juga berperan pada regulasi siklus tidur normal. Hormon ini diproduksi oleh glandula pineal. Melantonin diproduksi saat keadaan gelap, maka dari itu kadar tertinggi melantonin adalah saat tidur. Melantonin dihasilkan sebagai respon terhadap perubahan cahaya dan menghambat neurotransmitter yang berhubungan dengan keadaan terjaga, seperti norepinefrin, dopamin dan serotonin. Maka, melantonin dihubungkan sebagai hormon yang menginduksi rasa kantuk. 27 Tidur gelombang lambat atau NREM diinisiasi oleh sinyal yang berasal dari ventrolateral preoptic area. Pada daerah ini dihasilkan GABA, yang akan memproyeksikan sinyal inhibisi kepada serotonin, norepinefrin dan dopamine yang berfungsi menjaga kesadaran, sehingga akan mengakibatkan tidur. Selanjutnya neurotransmitter tersebut akan melakukan umpan balik yang berakibat menurunnya aktivasi GABA. Proses inilah yang mendasari siklus tidur- bangun. 28

    2.2.3 Tahapan Tidur Terdapat dua fase tidur, yang ditandai oleh pola EEG yang berbeda dan perilaku yang berlainan, yaitu tidur gelombang lambat atau Non Rapid Eye Movement (NREM) dan tidur paradoksal atau Rapid Eye Movement (REM). 29 Tidur gelombang lambat terjadi dalam empat stadium, yaitu tidur stadium satu, tidur stadium dua, tidur stadium tiga dan tidur stadium empat; yang masing- masing memperlihatkan gelombang EEG yang semakin pelan dengan amplitudo lebih besar (Lihat Tabel 2.1). 22 Pada fase awal tidur, seseorang akan berada dalam tidur stadium satu dan mencapai tidur dalam stadium empat dalam waktu 30 sampai 45 menit, kemudian

    dapat kembali melalui stadium-stadium yang sama dalam periode waktu yang sama. Pada akhir masing-masing siklus tidur gelombang lambat terdapat episode tidur paradoksal selama 10 sampai 15 menit. Pola EEG pada fase ini, mendadak berubah seperti dalam keadaan terjaga, meskipun seseorang tersebut masih tertidur lelap. Setelah fase tidur paradoksal tersebut, stadium-stadium tidur gelombang lambat kembali berulang. Sepanjang malam, seseorang secara siklis bergantian mengalami kedua fase tidur tersebut, sekitar 4-6 siklus dalam semalam (Lihat Tabel 2.2). 22 Pada siklus pertama dan kedua, tidur gelombang lambat akan mendominasi dan diikuti oleh tidur paradoksal yang singkat, namun pada dua atau tiga siklus terakhir, tidur paradoksal akan mendominasi bahkan hingga 30-40 menit diikuti oleh tidur gelombang lambat. 30 Dalam siklus tidur normal, seseorang selalu melewati fase tidur gelombang lambat sebelum masuk pada fase tidur paradoksal.

    Tabel 2.1. Fase Tidur

    Tahapan Siklus Tidur Stadium 1 NREM

    -

    Karakteristik Tahap transisi diantara mengantuk dan tertidur.

    -

    Ditandai dengan pengurangan aktivitas fisiologis yang dimulai dengan menutupnya mata, pergerakan lambat, otot berelaksasi serta penurunan secara bertahap tanda-tanda vital dan metabolisme, menurunnya denyut nadi.

    -

    Seseorang mudah terbangun pada tahap ini.

    -

    Tahap ini berakhir selama 5 hingga10 menit.

    Stadium 2 NREM

    -

    Tahap tidur ringan

    -

    Denyut jantung mulai melambat, menurunnya suhu tubuh, dan berhentinya pergerakan mata.

    -

    Masih relatif mudah untuk terbangun.

    -

    Tahap ini dan akan berakhir 10 hingga 20 menit.

    Stadium 3 NREM

    -

    Tahap awal dari tidur yang dalam .

    -

    Laju pernapasan dan denyut jantung terus melambat karena sistem saraf parasimpatik semakin mendominasi, otot skeletal semakin berelaksasi, terbatasnya pergerakan dan

    mendengkur mungkin saja terjadi.

     

    -

    Pada tahap ini, seseorang yang tidur sulit dibangunkan.

    -

    Tahap ini berakhir 15 hingga 30 menit.

    Stadium 4 NREM

    -

    Tahap tidur terdalam.

    -

    Tidak ada pergerakan mata dan aktivitas otot.

    -

    Tahap ini ditandai dengan tanda-tanda vital menurun secara bermakna dibanding selama terjaga, laju pernapasan dan denyut jantung menurun sampai 20-30%.

    -

    Seseorang yang terbangun pada saat tahap ini tidak secara langsung menyesuaikan diri, sering merasa pusing dan disorientasi untuk beberapa menit setelah bangun dari tidur.

    Durasi dari tidur REM meningkat pada tiap siklus,

    Stadium REM

    -

    Ditandai dengan pergerakan mata secara cepat ke

    -

    berbagai arah, pernapasan cepat, tidak teratur, dan dangkal, meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah.

    dari 10 sampai 15 menit hingga 20 menit.

    Tabel 2.2 Perbandingan Tidur Gelombang Lambat dan Tidur Paradoksal Jenis Tidur

    Karakteristik

    EEG

    Tidur Gelombang Lambat (NREM) Memperlihatkan gelombang-gelombang lambat

    Tidur Paradoksal (REM) Serupa dengan EEG pada orang yang sadar penuh

    Aktivitas Motorik

    Tonus otot cukup, sering bergerak, pada stadium selanjutnya berkurang

    Inhibisi mendadak tonus otot

    Kecepatan

    Jantung,

    Penurunan ringan

    Ireguler

    Kecepatan

    Pernapasan,

    Tekanan

    Darah

    Bermimpi

    Jarang (aktivitas mental adalah kelanjutan dari pikiran-pikiran sewaktu terjaga)

    Sering (mimpi terlihat lebih nyata)

    Saat bangun

    Mudah dibangunkan, pada

    Lebih sulit dibangunkan

     

    stadium lebih dalam, lebih sulit dibangunkan

    tetapi cenderung terbangun dengan sendirinya

    Presentase

    Waktu

    80%

    20%

    Tidur

    2.2.4 Pola tidur Pola tidur yang baik dan teratur akan memberikan efek yang baik terhadap kesehatan. Tidur yang cukup berkaitan erat dengan kuantitas tidur (banyaknya

    waktu yang dibutuhkan untuk tidur) dan kualitas tidur (kemampuan individu untuk dapat tetap tidur). Dalam penelitiannya, Cappuccio, F, et al., melaporkan bahwa kuantitas dan kualitas tidur mengalami banyak pergeseran di era modern ini, diakibatkan oleh banyak faktor contohnya lama jam kerja, kerja shift dan lain- lain. 31 Hal ini menyebabkan penurunan pada lama tidur seseorang dan meningkatnya keluhan subjektif tentang rasa lelah, lemas dan mengantuk di sepanjang harinya.

    • 2.2.4.1 Kuantitas tidur

    Kuantitas tidur adalah keseluruhan waktu tidur yang dimiliki individu. Jumlah waktu tidur yang dibutuhkan setiap individu berbeda-beda sesuai dengan tahap perkembangannya, mulai bayi sampai lansia. Dengan kuantitas tidur yang normal, belum menjamin seseorang tersebut mendapatkan tidur yang berkualitas. Kurangnya waktu tidur adalah salah satu masalah pada anak-anak dan remaja dewasa yang berdampak pada kemampuan belajar. 32 Selain itu, kuantitas tidur yang kurang pada murid ataupun mahasiswa berkaitan dengan kapasitas dan performa saat belajar. 33

    • 2.2.4.2 Kualitas tidur

    Kualitas tidur adalah kemampuan individu untuk tetap tertidur dan mendapatkan jumlah tidur REM dan NREM yang tepat. Kualitas tidur yang baik akan ditandai dengan tidur yang tenang, merasa segar pada pagi hari dan merasa

    semangat untuk melakukan aktivitas. Kualitas tidur juga berhubungan dengan kepuasan seseorang terhadap tidur, sehingga seseorang tersebut tidak

    memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis, kehitaman di sekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah, sakit kepala dan sering menguap atau mengantuk. Dengan kata lain, memiliki kualitas tidur baik sangat penting dan vital untuk hidup seseorang. 34 Tidur yang tidak adekuat dan kualitas tidur buruk, dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan fisiologi dan psikologi. Dampak fisiologi meliputi penurunan aktivitas sehari-hari, rasa lelah, lemah, proses penyembuhan lambat, daya tahan tubuh menurun dan ketidakstabilan tanda-tanda vital. Sedangkan dampak psikologis meliputi depresi, cemas dan tidak dapat berkonsentrasi. 35 Aspek-aspek kualitas tidur dirumuskan berdasarkan pendapat ahli-ahli psikologi modern berpandangan bahwa tidur yang baik ditandai oleh rasa lelap selama tidur, waktu tidur yang cukup, tidak bermimpi buruk, dan merasa segar saat terbangun. 36 Selain itu, Busyee et al, melakukan penelitian tentang pengukuran kualitas dan pola tidur dengan menggunakan The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) 37 , PSQI dapat membedakan antara kualitas tidur yang baik dan kualitas tidur yang buruk.

    Tabel 2.3 Komponen The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) 7 Komponen

    The Pittsburgh Sleep Quality Index

    • 1. Kualitas tidur subjektif

    • 2. Tidur laten

    • 3. Lama tidur

    • 4. Efisiensi tidur

    • 5. Gangguan saat tidur

    • 6. Pemakaian obat tidur

    • 7. Disfungsi saat siang hari

    2.2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur

    Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tidur, antara lain faktor demografik yang berkaitan dengan usia, jenis kelamin dan ras, aktivitas fisik, status kesehatan yaitu penyakit kronis yang diderita seseorang, status mental seperti cemas dan depresi, lingkungan, indeks massa tubuh yaitu berat badan dan berhubungan dengan diet, gaya dan pola hidup, selain itu pengaruh obat-obatan dan zat-zat lain yang dapat mempengaruhi tidur. 34

    • 2.2.5.1 Usia

    Jumlah waktu tidur dan kualitas tidur dapat berbeda sesuai dengan perkembangannya. Bayi, balita, dewasa dan lanjut usia membutuhkan waktu tidur yang berbeda-beda. Neonatus sampai usia 3 bulan rata-rata tidur sekitar 16-18 jam sehari. Bayi memiliki siklus tidur yang lebih pendek dari orang dewasa yaitu 50- 60 menit. Sekitar 20-30% waktu tidur adalah tidur REM. Anak usia prasekolah rata-rata tidur sekitar 11-12 jam setiap malamnya. Anak-anak usia sekolah (5-10 tahun) membutuhkan 10-11 jam tidur setiap hari, remaja (10-17 tahun) membutuhkan 8,5-9,5 jam, dan orang dewasa membutuhkan 7-9 jam. Lansia tidur sekitar 6 jam setiap malamnya dan 20-25% adalah tidur REM. 9

    • 2.2.5.2 Aktivitas Fisik dan Kelelahan

    Aktivitas fisik dapat dideskripsikan dalam banyak hal, seperti latihan fisik yaitu olahraga, maupun bekerja, baik bekerja di kantor, perusahaan maupun pabrik. Masing-masing memiliki waktu bekerja yang berbeda. Kerja shift sering dilaporkan berpengaruh pada kualitas tidur. Meningkatnya latihan fisik akan meningkatkan waktu tidur REM dan NREM. Akan tetapi, kelelahan yang berlebihan akibat beraktifitas yang meletihkan akan membuat sulit tidur. Seseorang yang kelelahan memiliki waktu tidur REM yang pendek. 38

    • 2.2.5.3 Penyakit yang diderita

    Setiap penyakit yang menyebabkan cedera pada sel, akan menimbulkan rasa

    tidak nyamanan yang dapat meyebabkan masalah tidur. Seseorang dengan masalah pada kardiovaskular dan diabetes mellitus, dilaporkan mempunyai

    kualitas dan kuantitas tidur yang buruk. 34

    • 2.2.5.4 Stres Emosional

    Kecemasan dan depresi yang terjadi secara terus menerus dapat menganggu tidur. 38 Cemas dapat meningkatkan kadar norepinefrin dalam darah melalui stimulasi sistem saraf simpatik. Kadar norepinefrin berhubungan dengan keadaan terjaga, hal ini tentu akan menyebabkan gangguan pada waktu tidurnya. 29

    • 2.2.5.5 Lingkungan

    Lingkungan fisik tempat seseorang berada dapat mempengaruhi tidurnya. Mulai dari ukuran, bahan baku, dan posisi tempat tidur akan mempengaruhi kualitas tidur. Penelitian melaporkan suara dapat mempengaruhi tidur seseorang, bising yang berasal dari sekitar tempat tinggal, kendaraan dan lalu lintas, bahkan akibat cuaca, seperti suara angin dan hujan akan mempengaruhi tidur. 24 Kebisingan dapat menyebabkan tertundanya tidur dan juga dapat membangunkan seseorang dari tidur. 40 Ketidaknyamanan dari suhu lingkungan dan kurangnya ventilasi dapat mempengaruhi tidur. 24

    • 2.2.5.6 Gaya hidup dan Kebiasaan

    Kebiasaan sebelum tidur dapat mempengaruhi tidur seseorang. Higeinitas sebelum dan saat tidur berperan besar terhadap kualitas tidur seseorang. 31 Kebiasaan sebelum tidur yang dapat dilakukan, seperti berdoa sebelum tidur, menyikat gigi, minum susu, dan lain-lain. Waktu tidur dan bangun yang teratur merupakan hal yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas tidur dan mensinkronisasikan irama sirkadian. 29

    • 2.2.5.7 Indeks Massa Tubuh dan Kalori

    Diet tinggi kalori, konsumsi kafein dan alkohol sebelum tidur, menyebabkan kesulitan tidur. Kafein dan alcohol yang dikonsumsi pada malam hari mempunyai efek produksi insomnia sehingga mengurangi atau menghindari zat tersebut sebelum tidur adalah hal yang baik untuk meningkatkan waktu dan kualitas tidur. Kehilangan berat badan juga berkaitan dengan penurunan waktu tidur total,

    terganggunya tidur dan bangun lebih awal. Sedangkan, kelebihan berat badan akan meningkatkan waktu tidur total. 41

    2.2.5.8 Obat-obatan dan Zat-zat kimia Efek samping dari beberapa obat-obatan, mempengaruhi tidur orang. Sedativa atau obat tidur dapat menganggu tidur NREM tahap 3 dan 4 serta dapat menekan tidur REM. Beta-blockers dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk. Narkotik seperti morfin, dapat menekan tidur REM dan dapat meningkatkan frekuensi bangun dari tidur dan mengantuk. Orang yang minum alkohol dalam jumlah banyak sering mengalami gangguan tidur. Alkohol yang berlebihan dapat menganggu tidur REM dan orang yang mengkonsumsi alkohol sering mengalami mimpi buruk. 10 Perokok juga sering mengeluhkan adanya masalah dalam tidur, kemungkinan penyebab dari masalah ini adalah ketergantungan nikotin. 6

    2.3. Hubungan antara kebiasan merokok dan kualitas tidur Penelitian menyatakan gangguan tidur pada merokok erat kaitannya dengan nikotin yang merupakan salah satu kandungan dalam rokok tersebut. Awalnya nikotin berhubungan dengan HPA (Hipotalamus-hipofisis-adrenal) dan kortisol. Kortisol mempunyai fungsi memodulasi dan mengatur aktivitas sistem saraf pusat selama stres dan produksi kortisol berhubungan dengan kemampuan tubuh mengatasi stres. Perokok mempunyai kadar kortisol yang lebih tinggi dibanding bukan perokok dan merokok dilaporkan dapat merangsang pelepasan kortisol. Kortisol tersebut akan berinteraksi dengan beberapa neurotransmitter yang dihasilkan oleh pengaruh nikotin. 6 Maka pelepasan kortisol tersebut akan membuat perokok merasa lebih nyaman dan tenang saat merokok. Dalam siklus tidurnya, seorang perokok akan merasa kesulitan untuk memulai tidur akibat efek stimulasi dari nikotin. 42 Efek dari nikotin tersebut antara lain: pertama, nikotin dari asap rokok dapat merangsang pelepasan beberapa

    neurotransmiter penting yang secara kolektif berpartisipasi dalam mengatur siklus tidur. Kedua, perokok akan sering mengalami ketagihan asupan nikotin selama tidur. 43 Ketiga, konsekuensi medis yang terkait dengan perokok, seperti penyakit paru-paru obstruktif kronis, yang dapat mengganggu kontinuitas tidur dan memiliki dampak negatif pada siklus tidur. 44 Epidemiologi menunjukkan bahwa dibandingkan dengan bukan perokok, perokok mengalami kesulitan yang lebih besar dalam memulai dan mempertahankan tidur dan bukan perokok umumnya lebih puas dengan kualitas tidur mereka. 43 Tercatat secara keseluruhan pada tahun 2004-2006, sekitar 21% penduduk Amerika, yaitu dewasa muda adalah perokok. Berkaitan dengan lama jam tidur yang mereka miliki, dilaporkan angka terendah yaitu 18% dari mereka memiliki lama tidur sekitar 7-8 jam per hari, sedangkan angka tertinggi yaitu 31% memiliki lama tidur kurang dari 6 jam per hari, dan sisanya 26% memiliki waktu tidur lebih dari 8 jam per hari. Penelitian pada pria dan wanita, dilaporkan bahwa prevalensi merokok lebih tinggi di antara mereka yang memiliki lama tidur kurang dari 6 jam pada pria dan mereka yang tidur 7 sampai 8 jam pada wanita. Dari segi umur, dilaporkan bahwa penduduk dewasa yang berumur 18-44 tahun dan memiliki lama tidur kurang dari 6 jam per hari, 38% adalah perokok. Pada umur yang sama dan memiliki lama tidur 7 sampai 8 jam per hari, tercatat sebanyak 21% dari mereka adalah perokok. 45 Penelitian serupa melaporkan bahwa mahasiswa yang merokok, 70,5% diklasifikasikan dalam seseorang yang memiliki kualitas tidur yang buruk dan 14,7% dilaporkan memiliki lama tidur kurang dari 5 jam per hari. 11

    Selain itu, konsumsi nikotin dapat mempengaruhi pola tidur normal seseorang. Penggunaan nikotin akan memberi efek peningkatan kewaspadaan, perubahan pada fase tidur gelombang lambat dan fase tidur paradoksal juga terhadap lama tidur seseorang. Efek ini timbul karena nikotin merangsang susunan saraf pusat untuk melepaskan dopamin, norepinefrin, serotonin dan asetilkolin, yang berperan penting sebagai regulator keterjagaan. Dapat diketahui juga, bahwa kadar nikotin tertinggi pada perokok berada pada waktu tidur, hal ini yang menyebabkan perbedaan pola tidur antara perokok dan bukan perokok, yang

    terlihat pada awal periode tidur atau saat perokok akan memulai tidur. Hal ini juga dibuktikan dengan pola EEG perokok dan bukan perokok, yang menunjukkan efek patofisiologis nikotin saat tidur yang bersifat stimulan dan berperan penting pada fase awal tidur seorang perokok. 46 (Lihat tabel 2.4)

    Tabel 2.4 Ringkasan pustaka

    No

    Peneliti

    Lokasi

    Studi

    Subjek studi

    Variabel yang

    Lama

    Hasil

    penelitian

    desain

    diteliti

    waktu

    • 1. Roufach,

    Aubin HJ,

    Potong

    20

    orang

    Variabel bebas:

    studi 2005 Rekaman polisomnografik

    Luthringer R,

    France

    silang

    responden

    efek dari paparan

    menyatakan gelombang lambat saat

    Demazieres A,

    yang

    terdiri

    nikotin selama 24

    tidur meningkat pada responden

    Dupont C,

    dari 9 wanita

    jam dan 16 jam.

    yang terpapar nikotin selama 24 jam

    Lagrue G.

    dan

    11

    pria

    dibanding 16 jam. Disimpulkan

    (2005)

    yang

    Variabel

    paparan nikotin selama 24 jam,

    merokok

    tergantung:

    menimbulkan rangsangan ingin

    kurang lebih

    keinginan

    merokok yang lebih besar saat pagi

    20 batang per

    merokok dan

    hari.

    hari.

    tidur

    • 2. Sleep

    Kohort

    2.916

    Variabel bebas:

    1994-

    Dibandingkan responden yang bukan

    Zhang L, Samet J, Caffo B,

    Heart

    responden

    merokok

    1999

    perokok, perokok menghabiskan

    Punjabi NM.

    health

    tidak

    pernah

     

    waktu yang lebih lama untuk

    (2006)

    Study

    merokok,

    Variabel

    memulai tidur dan memiliki lama

    (United

    2.705

    tergantung:

    jumlah tidur yang lebih sedikit. Hasil

    States)

    reponden

    pola tidur

    penelitian menyatakan merokok

     

    pernah

    nokturnal

    berkaitan dengan gangguan pada

    merokok, dan

    pola tidur, yaitu awal tidur dan

    799

    berbagai stadium tidur.

     

    responden

     

    yang

    sedang

    merokok.

     
    • 3. Lizhen HU,

    Japan

    Potong

    1.439

    Variabel bebas:

    2007

    Pria yang biasanya menghabiskan

    Michikazu

    silang

    responden

    merokok

    21-40 batang rokok per hari

    Sekine,

    tentara

    memperlihatkan angka yang

    Alexandru

    Jepang

    Variabel

    signifikan mengenai kualitas tidur

    Gaina,

    tergantung:

    yang buruk, begitu juga yang

    Sadanobu

    kualitas tidur

    didapatkan pada mantan perokok.

    Kagamimori

    Tetapi pada wanita, hanya wanita

    (2007)

    perokok yang memiliki hubungan dengan kualitas tidur yang buruk.

    • 4. A,Charlote,

    United

    Potong

    2000

    Variabel bebas:

    2004-

    21% perokok memiliki lama jam

    Schoenborn,

    States

    silang

    responden

    merokok,

    2006

    tidur dengan angka terendah (18%)

    Adams,P.

    yang

    konsumsi alkohol,

    yaitu sekitar 7-8 jam per hari,

    (2008)

    dikategorikan

    aktivitas saat

    sedangkan angka tertinggi yaitu 31%

    menjadi

    2

    waktu senggang

    memiliki lama tidur kurang dari 6

    kelompok,

    dan obesitas.

    jam

    per

    hari,

    dan

    sisanya

    26%

    yaitu usia 18-

    memiliki waktu tidur lebih dari 8 jam

    44

    tahun, 45-

    Variabel

    per hari.

     

    64

    tahun dan

    tergantung:

    lebih dari 65

    kualitas tidur

     

    tahun.

    • 5. Sleep

    Lin Zhang,

    Kohort

    40

    pasang

    Variabel bebas:

    • 2007 Perbedaan dari gelombang EEG

    Jinathan Samet,

    Heart

    responden

    perokok

    antara perokok dan tidak perokok

    Brian Caffo,

    health

    yang

    terlihat jelas meningkat pada fase

    Isac Bankman,

    Study

    merokok dan

    Variabel

    awal tidur dan menurun pada fase

    Naresh

    (United

    tidak

    tergantung:

    akhir tidur. Keluhan subjektif tentang

    M.Punjabi

    States)

    merokok.

    gelombang EEG

    jarangnya tidur nyenyak, sering

    (2008)

    selama tidur

    diungkapkan oleh perokok dibanding bukan perokok (p <0,002) yang dibuktikan dengan adanya perbedaan pada gelombang EEG.

    • 6. Federal

    Mesquita,G.,

    Potong

    710

    orang

    Variabel bebas:

    August-

    Perokok memiliki nilai rata-rata tidur

    Ferreira,S.,

    University

    silang

    mahasiswa/i,

    efek rokok dan

    Nov

    yaitu 8,1 (p= 0.008); 70,5%

    Soares, E.A.,

    of Alfenas,

    yang berumur

    konsumsi alkohol

    • 2007 dikelompokkan sebagai kelompok

    Reimao,R.

    state of

    17-25 tahun

    responden yang memiliki kualitas

    (2011)

    Minas

    Variabel

    tidur yang buruk. 14,7%

    Gerais,

    tergantung:

    dikelompokkan sebagai responden

    Brazil.

    kualitas tidur

    yang memiliki lama tidur kurang dari

    • 5 jam per hari. Sedangkan responden yang bukan perokok memiliki nilai

    rata-rata tidur sebesar 6,4; 59,7% dikelompokkan sebagai kelompok responden yang memiliki kualitas tidur yang buruk. 29,9%

    dikelompokkan sebagai responden yang memiliki lama tidur kurang dari

    • 5 jam per hari.

    • 7. Stefan Cohrs,

    German

    Kasus

    1.071

    Variabel bebas:

    • 2012 Perokok lebih sering mengeluhkan

    Andea

    Multicente

    kontrol

    perokok

    dan

    perokok

    adanya gangguan pada kualitas tidur

    Rodenbeck,

    r Study

    1.234

    bukan

    secara menyeluruh dibanding bukan

    Dieter Riemann,

    perokok

    Variabel

    perokok (p <0,0001). Setelah

    Betram Szagun,

    tergantung:

    menyingkirkan berbagai faktor

    Andreas Jaehne,

    kualitas tidur dan

    perancu pada penelitian ini, skor

    Jurgen

    lama tidur

    yang diperoleh dari komponen tidur

    Brinkmeyer, et

    laten, lama tidur dan kualitas tidur

    al.

    keseluruhan lebih sering

    (2012)

    menimbulkan gangguan pada perokok dibanding bukan perokok.

    • 8. Choi, Seung

    Michigan

    Potong

    498 teknisi di

    Variabel bebas:

    • 2008 Hubungan antara merokok dan

    Hee

    silang

    Howell

    kebiasaan

    kualitas tidur sangat erat (p=0,002).

    (2012)

    merokok dan

    Didapatkan kualitas tidur pada

    kualitas tidur

    perokok yang memiliki

    Variabel

    ketergantungan nikotin lebih rendah daripada bukan perokok (p=0,001)

    tergantung:

    ataupun perokok yang tidak memiliki

    kualitas hidup

    ketergantungan nikotin (p=0.012).

    BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

    • 3.1 Kerangka Teori

    Kebiasaan merokok

    BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Teori Kebiasaan merokok Derajat berat merokok Lama
    Derajat berat merokok Lama merokok Jenis rokok yang dihisap Jumlah rokok yang dihisap
    Derajat berat merokok
    Lama merokok
    Jenis rokok yang dihisap
    Jumlah rokok yang dihisap
    BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Teori Kebiasaan merokok Derajat berat merokok Lama

    Faktor-faktor yang

    mempengaruhi tidur:

    Usia

    Aktivitas Fisik

    Penyakit

    Stres emosional

    Lingkungan

    Gaya hidup Indeks Massa Tubuh

    Obat-obatan dan zat kimia

    Tidur Kualitas Kuantitas tidur tidur
    Tidur
    Kualitas
    Kuantitas
    tidur
    tidur

    Gambar 3.1. Kerangka teori

    • 3.2 Kerangka Konsep Adapun kerangka konsep penelitian ini, berdasarkan tujuan penelitian dan

    kerangka teori di atas, yaitu:

    Variabel bebas: Kebiasaan merokok Kebiasaan merokok Jumlah rokok Jumlah rokok Jenis rokok Jenis rokok Lama Lama
    Variabel bebas:
    Kebiasaan merokok
    Kebiasaan merokok
    Jumlah rokok
    Jumlah rokok
    Jenis rokok
    Jenis rokok
    Lama
    Lama
    Derajat berat
    Derajat berat
    yang dihisap
    yang dihisap
    yang dihisap
    yang dihisap
    merokok
    merokok
    merokok
    merokok
    3.2 Kerangka Konsep Adapun kerangka konsep penelitian ini, berdasarkan tujuan penelitian dan kerangka teori di atas,

    Variabel tergantung:

    Kualitas tidur Kualitas tidur
    Kualitas tidur
    Kualitas tidur

    Gambar 3.2 Kerangka konsep

    3.3 Definisi Operasional

    No

    Variabel

    Definisi

    Alat ukur

    Cara pengukuran

    Hasil pengukuran

     

    Variabel bebas

    1.

    Jumlah

    Jumlah batang

    Kuisioner

    Mengukur

    • 1. Perokok ringan:

    rokok yang

    rokok yang

    variabel jumlah

    mengonsumsi

    dihisap

    dihisap atau

    rokok yang

    rokok antara 1-

     

    dikonsumsi

    dihisap dengan

    10 batang perhari;

    responden per

    memberikan

    • 2. Perokok sedang:

    hari.

    pertanyaan yang

    mengonsumsi

     

    berkaitan dengan

    rokok antara 11-

    kebiasaan

    20

    batang perhari;

    merokok.

    • 3. Perokok berat:

     

    mengonsumsi

    rokok lebih dari

    20

    batang perhari.

    Skala

    pengukuran

    Referensi

    Ordinal

    Schuster R, Hertel

    AW, Mermelstein

    R.

    Cigar,

    Cigarillo and

    Little Cigar Use

    Among Current

    Cigarette-

    Smoking

    Adolscents.

    Nicotine Tob Res

    2013;15(5):925-

    31.

    • 2. Jenis rokok

    Macam-

    Kuisioner

    Mengukur

    • 1. Rokok filter

    Nominal

    World

     

    Health

    yang

    macam rokok

    variabel jenis

    • 2. Rokok non-filter

    Organization.

     

    dihisap

    yang

    rokok yang

    Tobacco:

    deadly

    dikonsumsi

    dihisap dengan

    in

    any

    form

    or

    responden

    memberikan

    disguise.

    World

    dibedakan

    pertanyaan yang

    no

    tobacco

    day

    berdasarkan

    berkaitan dengan

    2006. p.18-25.

    bahan baku

    kebiasaan

    maupun isi

    merokok.

    rokok.

    • 3. Lama waktu

    Lama

    Kuisioner

    Mengukur

    • 1. Perokok ringan:

    Ordinal

    Tana L, Mihardja

    merokok

    yang dihitung

    variabel lama

    memiliki

    lama

    L, Rif’ai

    L.

    sejak pertama

    merokok dengan

    merokok kurang

    Merokok dan usia

    kali responden

    memberikan

    dari 10 tahun.

    sebagai

     

    faktor

    menjadi

    pertanyaan yang

    • 2. Perokok sedang:

    resiko

    katarak

    perokok.

    berkaitan dengan

    memiliki

    lama

    pada

    pekerja

    waktu perokok

    merokok sekitar

    berusia

    >

    30

    mengonsumsi

    10

    sampai

    20

    tahun

    di

    bidang

    rokok.

    tahun.

    pertanian.

     
    • 3. Perokok

    berat:

    Universa

    memiliki

    lama

    Medicina

    merokok

    lebih

    2007;26(3):120-8.

    Derajat

    • 4. Perkalian

    Kuisioner

    Mengukur

    dari 20 tahun.

    Derajat

    • 1. Ordinal

    ringan:

    Brinkman

     

    GL,

    berat

    jumlah rata-

    variabel derajat

    hasil

    indeks

    Voates Jr EO. The

    merokok

    rata batang

    berat perokok

    Brinkman 0-200.

    prevalence

    of

    rokok yang

    yang dengan

    • 2. Derajat sedang:

    chronic bronchitis

    dihisap sehari

    memberikan

    hasil

    Indeks

    in

    an industrial

     

    dikalikan

    pertanyaan yang

    Brinkman

    200-

    dengan lama

    berkaitan dengan

    600.

    merokok

    kebiasaan

    • 3. Derajat

    berat:

    dalam satuan

    merokok dan

    hasil

    Indeks

    tahun.

    mengitung

    Brinkman

    lebih

     

    berdasarkan

    dari 600.

    Indeks Brinkman.

    Variabel tergantung

    1.

    Kualitas

    Kemampuan

    Kuisioner;

    Mengukur

    • 1. Nominal

    Kualitas tidur

    tidur

    responden

    The

    variabel pola tidur

    buruk: jika hasil

     

    untuk tetap

    Pittsburgh

    dengan

    5

    tertidur dan

    Sleep

    memberikan

    • 2. Kualitas tidur

    mendapatkan

    Quality

    pertanyaan yang

    baik: jika hasil

    jumlah tidur

    Index

    berkaitan dengan

    5

    REM dan

    (PSQI)

    kualitas tidur.

    NREM yang

    tepat.

    population.

    Am

    Rev

    Respir

    Div

    1962;47-54.

    Buysee DJ,

    Reynolds III CF,

    Monk TH,

     

    Berman SR,

    Kupfer DJ. The

    Pittsburgh sleep

    quality index: a

    new instrument

    for psychiatric

     

    practice and

    research.

    Psychiatry

    Research

    1988;28:193-213.

    BAB IV

    METODE PENELITIAN

    • 4.1 Desain penelitian

    Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan desain

    penelitian potong silang. Jenis dan desain penelitian tersebut digunakan untuk

    menjawab permasalahan penelitian dan mencapai tujuan penelitian. Pada desain

    potong silang, peneliti melakukan pengumpulan data baik variabel bebas, yaitu

    kebiasaan merokok dan kualitas tidur sebagai variabel tergantung secara

    bersamaan.

    • 4.2 Lokasi dan waktu penelitian

    Lokasi penelitian dilakukan di Kampus B, Fakultas Kedokteran Universitas

    Trisakti, Jl. Kyai Tapa, Grogol-Jakarta Barat. Waktu penelitian dilakukan pada

    bulan September 2013-Januari 2014, yang diawali dengan pembuatan proposal

    penelitian, dilanjutkan dengan pengumpulan data, pengolahan hasil dan penulisan

    laporan penelitian.

    • 4.3 Populasi dan sampel

    Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa

    Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti angkatan 2010-2012.

    Sedangkan sampel dari penelitian adalah sebagian dari populasi yang

    memiliki kriteria inklusi sebagai berikut :

    • 1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang menandatangi informed consent penelitian dan bersedia mengikuti proses penelitian.

    • 2. Mempunyai kebiasaan merokok maupun tidak.

    Dengan kriteria ekslusi sebagai berikut:

    • 1. Mempunyai atau sedang menderita penyakit berat atau kronis.

    • 2. Rutin mengonsumsi alkohol, obat-obatan ataupun zat-zat lainnya.

    Tehnik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah consecutive non-

    ramdom sampling. Besar sampel ditentukan dengan rumus yaitu:

    Populasi infinit:

    N o = (Zα 2 x p x q)

     

    d

    2

     

    Populasi finit:

    n =

    N

    (1 +

    (1 + )

    )

    Keterangan:

    N o = besar sampel optimal yang dibutuhkan.

    n = besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit.

    Zα = pada tingkat kemaknaan 95%, besarnya 1,96.

    p

    = prevalensi kualitas tidur buruk di Indonesia menurut INDEPTH WHO-

    SAGE, 9 sebesar 8,5%.

    q

    = prevalensi kualitas tidur baik, yaitu (1-p).

    d

    = akurasi dari ketepatan pengukuran, besarnya 0,05.

    N = jumlah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti,

    yaitu 870 mahasiswa.

    Maka

    diperoleh

    perhitungan

    dan

    jumlah

    sampel

    sebagai

    berikut,

    penambahan 10% pada jumlah sampel yang ditentukan, dilakukan untuk

    mencegah drop-out dari responden.

    N o = (1,96) 2 x 0,085 x 0,915

    (0,05) 2

     

    = 119,51

     

    n

    =

    119,51

     

    (1+

    )
    )
     

    = 105,7 sampel

    n

    = n + 10%

    = 105,7 + 10,5 = 116,2 sampel, untuk mempermudah penghitungan hasil

    penelitian, dibulatkan menjadi 120 sampel.

    • 4.4 Bahan dan instrumen penelitian

    Data pada penelitian ini merupakan data primer, yaitu data yang diperoleh

    langsung dari responden dengan menggunakan instrumen penelitian yaitu

    kuesioner. Kuesioner ini memuat pertanyaan yang terdiri dari tiga bagian. Bagian

    pertama merupakan karakteristik demografi responden yaitu inisial responden,

    umur, dan jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan. Bagian kedua merupakan

    pertanyaan terkait dengan variabel bebas, yaitu kebiasaan merokok. Bagian ketiga

    merupakan pertanyaan terkait dengan variabel tergantung, yaitu kualitas tidur

    yang diukur dengan menggunakan The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).

    PSQI terdiri dari 7 komponen, yaitu latensi tidur, durasi tidur, kualitas tidur,

    efisiensi kebiasaan tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur dan gangguan

    fungsi tubuh di siang hari. Penilaian kuesioner ini adalah jika total nilai PSQI ≤5

    maka kualitas tidur baik dan sebaliknya, jika total PSQI >5 menunjukan bahwa

    kualitas tidur buruk dengan tingkat sensitifitas sebesar 89.6% dan spesifisitas

    sebesar 86.5% untuk membedakannya kedua kualitas tidur tersebut.

    • 4.5 Analisis data

    Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini, menggunakan program

    software SPSS 22.0.

    • 1. Analisis Univariat Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik masing- masing variabel yang diteliti. Analisis univariat menggambarkan frekuensi dari seluruh variabel yang diteliti yaitu karakteristik responden (usia dan

    jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan), kebiasaan merokok (jumlah

    rokok yang dihisap per hari, jenis rokok yang dihisap, lama merokok,

    derajat berat perokok) dan kualitas tidur. Peneliti akan mengolah data

    tersebut menjadi bentuk proporsi atau persentase dan tabel.

    • 2. Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung. Dalam penelitian ini yang akan di analisis adalah hubungan jumlah rokok yang dihisap perhari, jenis rokok yang dihisap, lama merokok dan derajat berat perokok dengan kualitas

    tidur responden. Perhitungan analisis bivariat pada kedua variabel akan

    menggunakan uji statistik Chi Square, dilakukan dalam batas kepercayaan

    (α = 0,05) yang artinya apabila diperoleh nilai p ≤ 0,05 berarti ada

    hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel tergantung.

    Bila pada perhitungan uji Chi Square ditemukan jumlah nilai harapan

    kurang dari 5 sebanyak lebih dari 20% jumlah seluruh sel, maka dilakukan

    uji Fisher Exact. Untuk mengetahui derajat hubungan pada desain

    penelitian potong silang digunakan ukuran Odds Ratio (OR), dengan

    membandingkan odds pada kelompok terekspos dengan kelompok tidak

    terekpos apabila OR = 1 artinya tidak ada hubungan; OR < 1 artinya ada

    efek perlindungan (efek protektif), dan OR > 1 artinya sebagai penyebab.

    • 4.6 Alur penelitian

    Mahasiswa Fakultas Kedokteran

    Universitas Trisakti

    Observasi dan pengumpulan data Pemilihan sampel Pembagian dan pengisian kuisioner Analisis Data
    Observasi dan pengumpulan data
    Pemilihan
    sampel
    Pembagian dan pengisian kuisioner
    Analisis Data
    Hasil
    Hasil

    Gambar 4.1 Alur penelitian

    • 4.7 Etika penelitian

    Penelitian ini dilakukan setelah memperoleh kelayakan etik (ethical

    clearance) dari Komisi Etik Riset Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

    Setelah itu pemberian informed consent kepada responden, dalam informed

    consent, responden memiliki informasi terkait penelitian yang akan dilakukan,

    mengerti akan informasi yang ada, dan bebas memilih untuk bersedia terlibat

    dalam penelitian ataupun menolaknya. Responden memiliki otonomi atas dirinya

    sehingga berhak untuk memutuskan secara sukarela keinginan untuk

    berpartisipasi atau menolak keikutsertaannya dalam proses penelitian. Peneliti

    akan menjelaskan secara menyeluruh tentang penelitian yang sedang dilakukan,

    menjelaskan hak responden, tanggung jawab peneliti serta resiko dan keuntungan

    yang mungkin timbul akibat penelitian yang dilakukan. Peneliti akan meyakinkan

    kepada responden bahwa partisipasi dan informasi yang didapat dari responden

    digunakan untuk kebutuhan penelitian, bukan untuk digunakan sebagai ekploitasi

    pada diri responden. Selain itu, responden harus mendapatkan perlakuan yang adil

    pada saat sebelum, selama maupun setelah dilakukan penelitian. Sebagai contoh,

    pemilihan terhadap responden harus berdasarkan pada persyaratan penelitian dan

    bukan atas dasar kenyamanan karena posisi yang dimiliki responden.

    • 4.8 Penjadwalan penelitian

    Penelitian ini akan dilakukan pada bulan September 2013-Januari 2014

    dengan melalui beberapa tahap yang terlampir. (Tabel 4.1)

    Tabel 4.1 Alur penyusunan dan penyelesaian penelitian

    Waktu Kegiatan Juni Juli Agst Sept Okt Nov Des Jan Feb 17-30 1-29 25-31 1-30 1-31
    Waktu
    Kegiatan
    Juni
    Juli
    Agst
    Sept
    Okt
    Nov
    Des
    Jan
    Feb
    17-30
    1-29
    25-31
    1-30
    1-31
    1-30
    1-31
    1-31
    1-5
    Penyusunan
    dan
    penyelesaian
    proposal
    penelitian
    Perijinan dan
    persiapan
    penelitian
    Pemberian
    informed
    consent
    dan
    kuisioner
    Pengembalian
    kuisioner
    Penyusunan
    dan
    penyelesaian
    BAB IV
    (hasil)
    Penyusunan
    dan
    penyelesaian
    BAB V
    (pembahasan)
    Penyusunan
    dan
    penyelesaian
    BAB VI
    (kesimpulan
    dan saran)
    Persiapan
    ujian skripsi
    Penyusunan
    manuskrip
    publikasi
    E-
    jurnal
    Ujian skripsi
    BAB V

    HASIL PENELITIAN

    Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian yang terdiri dari analisis

    univariat dan analisis bivariat. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk narasi dan

    tabel yang akan diberikan interpretasi pada masing-masing variabel yang diteliti.

    • 5.1 Analisis Univariat

    Analisis univariat akan mendeskripsikan karakteristik masing - masing

    variabel yang diteliti, yaitu karakteristik responden (jenis kelamin, usia, indeks

    massa tubuh), kebiasaan merokok dan kualitas tidur.

    5.1.1 Karateristik Responden

    Karakteristik responden terdiri dari jenis kelamin, usia, dan Indeks Massa

    Tubuh (IMT).

    Tabel 5.1 Karakteristik responden pada mahasiswa Fakultas Kedokteran

    Universitas Trisakti

    Karakteristik

    Jumlah (n)

    Frekuensi

    Persen (%)

    Jenis kelamin

    Laki-laki

    • 78 65,0

    Perempuan

    • 42 35,0

    Usia (tahun)

    19

    • 35 29,2

    20

    • 44 36,7

    21

    • 28 23,3

    22

    • 13 10,8

    Indeks Massa Tubuh

    Kurus

    • 14 11,7

    Normal

    • 70 58,3

    Berlebih

    • 20 16,7

    Obesitas kelas 1

    • 12 10,0

    Obesitas kelas 2

    4

    3,3

    Tabel 5.1 menunjukkan 120 orang responden (100,0%) terdiri dari 78 orang

    (65%) laki-laki dan 42 orang (35,0%) perempuan. Rata-rata usia responden adalah

    21,5 1,5 tahun dengan hampir sebagian responden yaitu 44 orang (36,7%)

    berusia 20 tahun, 35 orang (29,2%) berusia 19 tahun, 28 orang (23,3%) berusia 21

    tahun dan 13 orang (10,8%) berusia 22 tahun. Rata-rata Indeks Massa Tubuh

    (IMT) responden yaitu 21,67 kg/m 2 . Sebagian besar responden (58,3%) memiliki

    status gizi normal, 17 orang (11,7%) status gizi kurang, dan 36 orang memiliki

    status gizi lebih dengan 20 orang (16,7%) berberat badan lebih, 12 orang (10,0%)

    termasuk dalam obesitas kelas I dan 4 orang (3,3%) termasuk dalam obesitas kelas

    II.

    5.1.2 Variabel bebas

    Variabel bebas pada penelitian ini adalah kebiasaan merokok. Kebiasaan

    merokok tersebut juga meliputi jumlah rokok yang dihisap per hari, jenis rokok

    yang dihisap, lama merokok dan derajat berat merokok.

    Tabel 5.2 Distribusi responden menurut kebiasaan merokok mahasiswa Fakultas

    Kedokteran Universitas Trisakti

     

    Variabel

    Jumlah (n)

    Frekuensi

    Persen (%)

    Kebiasaan Merokok

     

    Ya

    • 76 63,3

    Tidak

     
    • 44 36,7

    Jumlah rokok yang dihisap per hari

    < 10 batang

     
    • 17 22,4

    10

    – 20 batang

    • 41 53,9

    > 20 batang

     
    • 18 23,7

    Jenis rokok yang dihisap

     

    Rokok filter

     
    • 52 68,4

    Rokok non-filter

    • 24 31,6

    Lama merokok

     

    < 10 tahun

     
    • 67 88,2

    10

    – 20 tahun

    9

    11,8

    Derajat berat perokok

     

    Ringan

     
    • 62 81,6

    Sedang

    • 14 18,4

    Tabel 5.2 menunjukkan lebih dari sebagian responden yaitu 76 orang

    (63,3%) mempunyai kebiasaan merokok, sedangkan 44 orang (37,7%) tidak

    mempunyai kebiasaan merokok. Dari 76 orang responden (100%) yang

    mempunyai kebiasaan merokok, 41 orang (53,9%) atau lebih dari sebagian

    menghisap 10 – 20 batang rokok per hari, sedangkan 17 orang (22,4%) menghisap

    kurang dari 10 batang per hari dan 18 orang (23,7%) menghisap lebih dari 20

    batang per hari. Sebagian besar responden yaitu 56 orang (73,7%) menghisap

    rokok berjenis rokok filter sedangkan 20 orang (26,3%) menghisap rokok berjenis

    rokok non-filter. Hampir seluruh dari responden atau 67 orang (88,2%)

    mempunyai lama merokok kurang dari 10 tahun, hanya 9 orang (11,8%) yang

    mempunyai lama merokok 10 - 20 tahun. Sehingga dapat dikategorikan dari 76

    orang responden (100,0%), 62 orang (81,6%) dikategorikan dalam derajat

    perokok ringan sedangkan 14 orang (18,4%) dikategorikan dalam derajat perokok

    sedang.

    5.1.3 Variabel tergantung

    Variabel tergantung pada penelitian ini adalah kualitas tidur. Analisis data

    berdasarkan perhitungan yang dilakukan akan diperoleh hasil berupa kualitas tidur

    baik dan kualitas tidur buruk. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar

    responden memiliki kualitas tidur buruk yaitu 62 orang (51,7%) sedangkan

    responden yang memiliki kualitas tidur baik sebanyak 58 orang (48,3%). Dengan

    demikian, distribusi responden menurut kualitas tidur menunjukkan lebih banyak

    mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang memiliki kualitas tidur

    buruk dibandingkan mahasiswa yang memiliki kualitas tidur baik.

    • 5.2 Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara dua

    variabel yaitu variabel bebas kebiasaan merokok yang meliputi jumlah rokok yang

    dihisap per hari, jenis rokok yang dihisap, lama merokok dan derajat berat

    merokok dengan variabel tergantung kualitas tidur.

    Tabel 5.3 Hubungan antara kebiasaan merokok dengan kualitas tidur mahasiswa

    Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

    Variabel

    Kualitas tidur

    Total

    P value

    OR

     

    Baik

    Buruk

     

    n

    %

    n

    %

    n

    %

    Kebiasaan merokok

    Ya

    35

    29,2

    41

    34,2

    76

    63,3

    Tidak

    23

    19,2

    21

    17,5

    44

    36,7

    Jumlah rokok yang dihisap per hari

     

    < 20 batang

    33

    43,4

    25

    32,9

    58

    76,3

    > 20 batang

    2

    2,6

    16

    21,1

    18

    23,7

    Jenis rokok yang dihisap

     

    Rokok filter

    30

    39,5

    22

    28,9

    52

    68,4

    Rokok non-filter

    5

    6,6

    19

    25,0

    24

    31,6

    Lama merokok

    < 10 tahun

    34

    44,7

    33

    43,4

    67

    88,2

    10 – 20 tahun

    1

    1,3

    8

    10,5

    9

    11,8

    Derajat berat merokok

     

    Ringan

    33

    43,4

    29

    38,2

    62

    81,6

    Sedang

    2

    2,6

    12

    15,8

    14

    18,4

    ‡signifikan pada p < 0,05 uji Chi-Square;

     

    CI 95%

    0,021‡

    0,779

    (0,370-

    1,640)

    0,001‡

    10,560

    (2,221-

    50,209)

    0,003‡

    5,182

    (1,677-

    16,014)

    0,033‡‡

    8,242

    (0,976-

    69,589)

    0,008‡

    6,828

    (1,409-

    33,078)

    ‡‡signifikan pada p < 0,05 uji Fisher’s Exact

    Hasil analisis antara kebiasaan merokok dengan kualitas tidur diperoleh

    bahwa ada sebanyak 35 orang (29,2%) dari 76 orang (63,3%) responden yang

    mempunyai kebiasaan merokok memiliki kualitas tidur yang baik dan 41 orang

    (34,2%) sisanya memiliki kualitas tidur yang buruk. Sebanyak 23 orang (19,2%)

    dari 44 orang (36,7%) responden yang tidak mempunyai kebiasaan merokok

    memiliki kualitas tidur yang baik dan 21 orang (17,5%) sisanya memiliki kualitas

    tidur yang buruk. Dengan menggunakan uji Chi-square diperoleh nilai p = 0,021

    yang berarti p < 0,05 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara kebiasaan

    merokok dengan kualitas tidur. Selain itu didapatkan pada bukan perokok akan

    menurunkan resiko untuk mendapatkan kualitas tidur yang buruk dibandingkan

    pada perokok (OR = 0,779; CI 95%: 0,370 - 1,640).

    5.2.1 Hubungan antara jumlah rokok yang dihisap dengan kualitas tidur

    Berdasarkan hasil analisis antara jumlah rokok yang dihisap per hari dengan

    kualitas tidur diperoleh bahwa ada sebanyak 33 orang (43,4%) dari 58 orang

    (76.3%) responden yang merokok kurang dari 20 batang per hari memiliki

    kualitas tidur yang baik. Sedangkan hanya 2 orang (2,6%) dari 18 orang (23,7%)

    responden yang merokok lebih dari 20 batang per hari memiliki kualitas tidur

    yang baik. Hasil uji Chi-square diperoleh nilai p = 0,001 yang berarti p < 0,05

    maka dapat disimpulkan ada hubungan antara jumlah rokok yang dihisap per hari

    dengan kualitas tidur. Didapatkan juga perokok yang mengonsumsi rokok dengan

    jumlah lebih dari 20 batang per hari memiliki resiko sepuluh kali lebih tinggi

    untuk mendapatkan kualitas tidur buruk dibandingkan perokok yang

    mengonsumsi rokok dengan jumlah kurang dari 20 batang per hari (OR = 10,560;

    CI 95%: 2,221-50,209).

    5.2.2 Hubungan antara jenis rokok yang dihisap dengan kualitas tidur

    Berdasarkan hasil analisis antara jenis rokok yang dihisap dengan kualitas

    tidur diperoleh bahwa hanya ada sebanyak 30 orang (39,5%) dari 52 orang

    (68,4%) responden yang mengonsumsi rokok filter memiliki kualitas tidur baik

    sedangkan sebanyak 22 orang (28,9%) memiliki kualitas tidur buruk. Pada

    responden yang mengonsumsi rokok non-filter, hanya sebanyak 5 orang (6,6%)

    dari 24 orang (31,6%) responden memiliki kualitas tidur baik, sedangkan sisanya

    yaitu 19 orang (25,0%) memiliki kualitas tidur yang buruk. Hasil uji Chi-square

    diperoleh nilai p = 0,015 yang berarti p < 0,05 maka dapat disimpulkan ada

    hubungan antara jenis rokok yang dihisap dengan kualitas tidur. Didapatkan dari

    hasil analisis, perokok yang mengonsumsi rokok filter memiliki resiko lima kali

    lebih tinggi untuk mendapatkan kualitas tidur yang buruk dibandingkan perokok

    yang mengonsumsi rokok non-filter (OR = 5,182; CI 95%: 1,677–10,014).

    5.2.3 Hubungan antara lama merokok dengan kualitas tidur

    Hasil analisis antara lama merokok responden dengan kualitas tidur

    diperoleh bahwa sebanyak 34 orang (44,7%) dari 67 orang (88,2%) responden

    yang merokok kurang dari 10 tahun memiliki kualitas tidur baik dan 33 orang

    (43,4%) sisanya memiliki kualitas tidur yang buruk. Sedangkan hanya ada satu

    orang (1,3%) dari 9 orang responden (11,8%) yang merokok antara 10 – 20 tahun

    memiliki kualitas tidur baik dan 8 orang (10,5%) sisanya memiliki kualitas tidur

    yan buruk. Dengan uji Fisher’s Exact diperoleh nilai p = 0,003 yang berarti p <

    0,05 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara lama merokok dengan kualitas

    tidur. Perokok yang memiliki lama merokok antara 10 hingga 20 tahun memiliki

    resiko delapan kali lebih tinggi untuk mendapatkan kualitas tidur buruk

    dibandingkan dengan perokok yang memiliki lama merokok kurang dari 10 tahun.

    (OR = 8,242; CI 95%: 0,976 - 69,589).

    5.2.4 Hubungan antara derajat berat merokok dengan kualitas tidur

    Hasil analisis antara derajat berat perokok dengan kualitas tidur diperoleh

    bahwa ada sebanyak 33 orang (43,4%) dari 62 orang (81,6%) responden yang

    dikategorikan dalam derajat perokok ringan memiliki kualitas tidur baik dan 29

    orang (38,2%) sisanya memiliki kualitas tidur buruk. Sedangkan hanya 2 orang

    (2,6%) dari 14 orang (18,4%) responden yang dikategorikan derajat perokok

    sedang memiliki kualtas tidur yang baik dan 12 orang (15,8%) sisanya memiliki

    kualitas tidur yang buruk. Hasil uji Chi-square diperoleh nilai p = 0,003 yang

    berarti p < 0,05 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara derajat berat

    merokok dengan kualitas tidur. Perokok yang dikategorikan dalam derajat

    perokok sedang memiliki resiko enam kali lebih tinggi untuk mendapatkan

    kualitas tidur yang buruk dibandingkan dengan perokok yang dikategorikan dalam

    derajat perokok ringan (OR = 6,828; CI 95%: 1,409-33,078).

    BAB VI

    PEMBAHASAN

    Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas

    Trisakti angkatan 2010 sampai 2013 sejak bulan September 2013 sampai Januari

    2014. Bertempat di Kampus B, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jl. Kyai

    Tapa, Grogol-Jakarta Barat. Setelah dilakukan penyesuaian dengan kriteria inklusi

    pada data tersebut, didapatkan jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 120 orang

    responden.

    • 6.1 Karakteristik responden

      • 6.1.1 Jenis kelamin Berdasarkan hasil analisis univariat, dari 120 orang (100%) responden, 78

    orang (65%) responden berjenis kelamin laki-laki dan 42 orang (35%) responden

    berjenis kelamin perempuan. Pada penelitian yang dilakukan ini, peneliti tidak

    membatasi tiap jumlah responden antara responden laki-laki dan perempuan,

    karena data yang diperlukan pada penelitian ini adalah data subjektif dari sampel

    yaitu, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang memenuhi

    kriteria inklusi, baik perokok maupun bukan perokok. Pada kenyataanya, data

    subjektif dari laki laki yang merokok lebih mudah ditemukan dibandingkan

    perempuan yang merokok, sehingga pada penelitian ini jumlah responden lebih

    banyak pada laki-laki dibandingkan perempuan.

    • 6.1.2 Usia Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang

    berusia dewasa muda yaitu antara 19 sampai 22 tahun dan terbanyak pada usia 20

    tahun (36,7%). Usia dewasa muda tersebut merupakan kelompok produktif yang

    menjadikan mereka sangat penting diperhatikan kualitas tidurnya, karena kualitas

    tidur yang buruk, dapat mengakibatkan antara lain menurunnya motivasi,

    menurunnya ingatan, rasa lelah saat melakukan kegiatan di siang hari, perubahan

    mood, penurunan imunitas tubuh, dan lain-lain yang tentu saja akan menurunkan

    produktivitas sehari-hari mereka. 12 Mahasiswa tergolong pada usia dewasa muda

    atau remaja akhir yang pernah mengalami periode transisi dari masa remaja awal

    ke masa dewasa, pada masa tersebut akan terdapat keraguan pada status individu

    akan peran yang harus dilakukan. Di sisi lain, status tersebut memberikan

    keuntungan karena memberi ruang dan waktu kepada seorang remaja untuk

    mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat

    yang paling sesuai bagi dirinya. Selain itu, masa remaja juga merupakan masa

    pencarian identitas diri. Identitas diri yang dicari adalah usaha untuk menjelaskan

    diri dan peranannya dalam masyarakat. Salah satu cara memunculkan identitas

    diri yang cukup sering digunakan adalah merokok. Usaha untuk memunculkan

    identitas di masa remaja awal inilah yang kemudian menjadi kebiasaan di masa

    dewasa mudanya. 47

    Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun

    2010 menyatakan sebanyak 30,8% penduduk DKI Jakarta yang mempunyai

    kebiasaan merokok, berusia lebih dari 15 tahun. 4 Tercatat juga secara keseluruhan

    pada tahun 2004-2006, sekitar 21% dari penduduk di Amerika yaitu dewasa muda

    adalah perokok. 45 Karakteristik remaja yang erat dengan keinginan adanya

    kebebasan, kemandirian dan keluar dari norma-norma yang ada, dimanfaatkan

    industri rokok dengan memunculkan slogan-slogan promosi yang mudah diingat.

    Berdasarkan survei GYTS di Indonesia tahun 2006, sebanyak 92,9% remaja

    terpapar dengan iklan yang berada di papan reklame dan 82,8% terpapar iklan

    yang berada di majalah dan koran. 2

    6.1.3 Indeks Massa Tubuh

    Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu indikator yang dianjurkan

    WHO untuk menilai status gizi usia di atas 18 tahun. Dari hasil analisis univariat,

    dapat disimpulkan keadaan gizi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas

    Trisakti dalam keadaan cukup, karena sebagian besar responden (58,3%) yaitu 70

    orang dari 120 orang responden memiliki berat badan normal. Diet tinggi kalori,

    konsumsi kafein dan alkohol sebelum tidur, menyebabkan kesulitan tidur karena

    zat-zat tersebut mempunyai efek produksi insomnia sehingga mengurangi atau

    menghindari zat tersebut sebelum tidur adalah hal yang baik untuk meningkatkan

    waktu kualitas tidur. Kehilangan berat badan juga berkaitan dengan penurunan

    waktu tidur total, terganggunya tidur dan terbangun lebih awal. Sedangkan,

    kelebihan berat badan akan meningkatkan waktu tidur total. 41 Keadaan status gizi

    yang cukup pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dicapai

    karena kesadaran dan pengetahuan yang diperoleh oleh masing-masing responden

    tentang gizi seimbang dari makanan yang dikonsumsi dan status perekonomian

    responden yang memudahkan lebih dari sebagian responden mempunyai indeks

    massa tubuh yang normal.

    • 6.2 Kualitas tidur Hasil analisis univariat menyatakan bahwa sebagian responden memiliki

    kualitas tidur buruk yaitu 62 orang (51,7%), sedangkan sisanya yaitu 58 orang

    (48,3%) memiliki kualitas tidur baik. Hal-hal yang berkaitan dengan kualitas tidur

    terkandung dalam kuisioner The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang diisi

    oleh responden saat penelitian. Dari 62 orang responden yang memiliki kualitas

    tidur buruk, terdiri dari 44 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. Pada

    penelitian ini, jumlah responden laki-laki dan perempuan tidak seimbang, namun

    jika dihitung proporsinya, terlihat kualitas tidur pada responden perempuan lebih

    tinggi dibandingkan responden laki-laki.

    Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Nashori F

    dan Diana R tentang kualitas tidur pada 319 mahasiswa di Universitas Islam

    Indonesia menyatakan bahwa ada perbedaan antara kualitas tidur mahasiswa

    perempuan dengan mahasiswa laki-laki (p = 0,001). 48 Penelitian yang dilakukan

    tersebut menggunakan instrumen yang berbeda untuk mengukur kualitas tidur,

    namun skala kualitas tidur yang digunakan sudah lolos uji validasi dengan

    koefisien korelasi setiap pertanyaan antara 0,2914 hingga 0,5661. Hasil

    penelitiannya melaporkan kualitas tidur mahasiswa perempuan lebih tinggi

    dibanding mahasiswa laki-laki. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan

    adalah kebiasaan hidup antara laki-laki dan perempuan dalam mengisi waktu

    malam hari. Toleransi terhadap aktivitas di larut malam pada laki- laki ini secara

    keseluruhan akan menyebabkan perbedaan pengelolaan tidur laki-laki dengan

    pengelolaan tidur perempuan. Penjelasan ini sesuai dengan temuan berdasarkan

    wawancara dan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti tersebut. 48

    Jika dilihat dari usia responden, lama tidur yang dibutuhkan usia dewasa

    muda untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik adalah 7-9 jam. 9 Pada

    penelitian ini, responden yang diteliti memiliki rata-rata lama tidur 6,5 jam. Hasil

    yang serupa juga dinyatakan oleh penelitian yang dilakukan Schoenborn, et al

    tahun 2008 pada 2000 responden yang dikategorikan menurut usia menyatakan

    bahwa penduduk dewasa yang berumur 18-44 tahun memiliki lama tidur antara

    kurang dari 6 sampai 8 jam per hari. Angka tertinggi yaitu 31% mereka yang

    memiliki lama tidur kurang dari 6 jam per hari dan 38% dari mereka adalah

    perokok. Sedangkan yang memiliki lama tidur 7 sampai 8 jam per hari, tercatat

    sebanyak 21% dari mereka adalah perokok dan sisanya 26% memiliki waktu tidur

    lebih dari 8 jam per hari. 45

    Penelitian lain tentang kualitas tidur yang menggunakan The Pittsburgh

    Sleep Quality Index (PSQI) dilakukan oleh Mesquita G, et al. pada 710 orang

    mahasiswa/i yang berumur 17-25 tahun, menyatakan bahwa 35,3% mahasiswi dan

    17,7% mahasiswa memiliki kualitas tidur baik, sedangkan 64,7% mahasiswi dan

    76,4% mahasiswa memiliki kualitas tidur buruk. Mahasiswa yang merokok

    memiliki nilai rata-rata tidur yaitu 8,1 (p = 0.008); 70,5% dikelompokkan sebagai

    kelompok responden yang memiliki kualitas tidur yang buruk dan 14,7%

    dikelompokkan sebagai responden yang memiliki lama tidur kurang dari 5 jam

    per hari. Sedangkan mahasiswa yang bukan perokok memiliki nilai rata-rata tidur

    sebesar 6,4; 59,7% dikelompokkan sebagai kelompok responden yang memiliki

    kualitas tidur yang buruk dan 29,9% dikelompokkan sebagai responden yang

    memiliki lama tidur kurang dari 5 jam per hari. 11

    Hasil analisis bivariat penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara

    kebiasaan merokok dan kualitas tidur (p = 0,021), didukung oleh penelitian yang

    dilakukan Cohrs S, menyatakan perokok juga lebih sering mengeluhkan adanya

    gangguan pada kualitas tidur secara menyeluruh dibanding bukan perokok (p

    <0,0001). Setelah menyingkirkan berbagai faktor perancu pada penelitiannya,

    skor yang diperoleh dari komponen tidur laten, lama tidur dan kualitas tidur

    keseluruhan lebih sering menimbulkan gangguan pada perokok dibanding bukan

    perokok. 6

    • 6.3 Kebiasaan Merokok Lebih dari sebagian responden yaitu 76 orang (63,3%) dari 120 orang

    responden yang mempunyai kebiasaan merokok, terdiri 63 laki-laki dan 13

    perempuan. Penelitian yang dilakukan oleh Darwati dan Murti menyatakan dalam

    kebiasaan merokok antara responden yang berjenis kelamin laki-laki dan

    perempuan mempunyai angka kemungkinan yang sama (OR = 1; CI 95%: 0,00-

    0,00). 49 Namun pada penelitian ini, kebiasaan merokok lebih banyak ditemukan

    pada responden yang berjenis kelamin laki-laki. Salah satu faktor yang

    menyebabkan kebiasaan merokok lebih banyak pada responden berjenis kelamin

    laki-laki adalah remaja laki-laki cenderung lebih sering menghabiskan waktu

    bersama teman-temannya di luar rumah, dari pergaulan mereka akan saling

    mempengaruhi baik secara negatif maupun positif. 49

    Ditinjau dari segi usia responden, usia dewasa muda merupakan sasaran

    yang diincar oleh industri penghasil rokok. Strategi yang dilaksanakan oleh

    industri-industri penghasil rokok dalam mencapai target mereka adalah dengan

    cara menjadikan rokok sebagai suatu bahan yang mudah terjangkau baik dari segi

    mudah didapat maupun harga. Selain itu, mereka juga meyakinkan golongan

    sasaran bahwa dengan merokok, individu tersebut akan kelihatan lebih matang,

    dewasa dan disenangi khalayak ramai. Kebiasaan merokok yang dilakukan oleh

    mahasiswa, tidak luput juga dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran yang

    bergerak di bidang kesehatan. Penelitian menyatakan bahwa motivasi yang

    menyebabkan seseorang merokok antara lain faktor internal (kemauan diri sendiri

    untuk mengambil resiko) dan faktor lingkungan (orang tua yang merokok, teman

    sebaya yang merokok dan juga iklan). 50 Penelitian yang dilakukan Min-Yan Han

    sejak tahun 2012 tentang kebiasaan merokok pada 8.138 mahasiswa dari berbagai

    fakultas, menjelaskan sebelum memasuki universitas, perbedaan prevalensi

    kebiasaan merokok antara mahasiswa Fakultas Kedokteran dan non-Fakultas

    Kedokteran tidak signifikan. Namun setelah memasuki universitas, prevalensi

    kebiasaan merokok secara signifikan lebih tinggi di kalangan mahasiswa laki-laki

    non-Fakultas Kedokteran dari kalangan mahasiswa laki-laki di Fakultas

    Kedokteran. Penelitian tersebut menyimpulkan, mahasiswa Fakultas Kedokteran

    memiliki pengetahuan yang lebih tinggi tentang merokok, sikap anti-merokok

    yang lebih kuat, dan prevalensi untuk merokok yang lebih rendah daripada

    mahasiswa non-Fakultas Kedokteran di usia yang sama, yang mungkin

    berhubungan dengan pendidikan professional kedokteran yang mereka tempuh. 5

    Walaupun pada penelitian ini, peneliti tidak membandingkan antara

    mahasiswa Fakultas Kedokteran dengan mahasiswa Fakultas lainnya, namun dari

    hasil analisis univariat didapatkan responden yaitu mahasiswa Fakultas

    Kedokteran Unversitas Trisakti mempunyai pengetahuan yang lebih tentang

    kebiasaan merokok terbukti dari derajat berat merokok yang diperoleh dari jumlah

    rokok yang dihisap per hari dikalikan dengan lama merokok, lebih dari

    tigaperempat responden yaitu 62 orang (81,6%) dari 76 orang responden memiliki

    kebiasaan merokok yang dikategorikan dalam derajat perokok ringan. Hal tersebut

    menjelaskan bahwa sebenarnya responden paham akan bahaya merokok walaupun

    mereka tetap merokok. Namun kekurangan pada penelitian ini, peneliti tidak

    menanyakan lebih lanjut alasan responden untuk merokok atau tetap merokok

    walaupun sebenarnya mereka sudah cukup paham tentang bahaya merokok

    berdasarkan pengetahuan yang didapatkan responden di Fakultas Kedokteran.

    6.3.1 Hubungan antara jumlah rokok yang dihisap per hari dengan kualitas tidur

    Lebih dari sebagian responden (76,3%) menghisap kurang dari 20 batang

    rokok per hari (perokok ringan sampai sedang) dan 18 orang (23,7%) menghisap

    lebih dari 20 batang per hari (perokok berat). Hanya 2 orang (2,6%) dari 18 orang

    (23,7%) responden yang merokok lebih dari 20 batang per hari memiliki kualitas

    tidur yang baik. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara

    jumlah rokok yang dihisap per hari dengan kualitas tidur (p = 0,001) didukung

    oleh penelitian yang dilakukan oleh Lizhen HU, et al. tahun 2007 pada 1.439

    responden tentara Jepang, menyatakan bahwa pria yang biasanya menghabiskan

    21-40 batang rokok per hari memperlihatkan angka yang signifikan mengenai

    kualitas tidur yang buruk dibandingkan pria yang menghabiskan rokok dengan

    jumlah yang lebih sedikit, (OR = 1,54; CI 95%: 1,01–2,36) begitu juga jika

    dibandingkan dengan mantan perokok. 7

    Penelitian lain dilakukan Zhang L, et al. tahun 2006 pada lebih dari 5000

    responden yang membandingkan antara responden yang bukan perokok dan

    perokok, perokok yaitu seseorang yang pernah mengonsumsi minimal 100 batang

    rokok dalam hidupnya, menghabiskan waktu yang lebih lama untuk memulai tidur

    dan memiliki lama jumlah tidur yang lebih sedikit. 43 Penelitian tersebut mereka

    kembangkan tahun 2008 pada 40 pasang responden yang merokok dan tidak

    merokok yang menyatakan perbedaan dari gelombang EEG antara perokok dan

    tidak perokok terlihat jelas meningkat pada fase awal tidur dan menurun pada fase

    akhir tidur. Keluhan subjektif tentang jarangnya tidur nyenyak sering diungkapkan

    oleh perokok dibanding bukan perokok (p <0,002) yang dibuktikan dengan

    adanya perbedaan pada gelombang EEG. Hasil penelitian menyatakan merokok

    berkaitan dengan gangguan pada pola tidur, yaitu awal tidur dan berbagai stadium

    tidur. 46

    Hal ini berkaitan dengan zat-zat kimia beracun yang terkandung dalam

    rokok, terutama nikotin yang paling berpengaruh terhadap kualitas tidur. Efek dari

    nikotin tersebut antara lain: pertama, nikotin dari asap rokok dapat merangsang

    pelepasan beberapa neurotransmiter penting yang secara kolektif berpartisipasi

    dalam mengatur siklus tidur. Kedua, perokok akan sering mengalami ketagihan

    asupan nikotin selama tidur. 43 Selain itu, konsumsi nikotin dapat mempengaruhi

    pola tidur normal seseorang. Penggunaan nikotin akan memberi efek peningkatan

    kewaspadaan, perubahan pada fase tidur gelombang lambat dan fase tidur

    paradoksal juga terhadap lama tidur seseorang. Efek ini timbul karena nikotin

    merangsang susunan saraf pusat untuk melepaskan dopamin, norepinefrin,

    serotonin dan asetilkolin, yang berperan penting sebagai regulator keterjagaan

    seseorang. Kadar zat-zat kimia dalam rokok secara langsung ditentukan dari

    jumlah rokok yang dikonsumsi seseorang setiap harinya. Hasil penelitian ini

    menyatakan perokok yang mengonsumsi rokok dengan jumlah lebih dari 20

    batang per hari memiliki resiko sepuluh kali lebih tinggi untuk mendapatkan

    kualitas tidur buruk dibandingkan perokok yang mengonsumsi rokok dengan

    jumlah kurang dari 20 batang per hari (OR = 10,560; CI 95%: 2,221-50,209).

    Dengan kata lain, semakin banyak jumlah batang rokok yang dikonsumsi,

    semakin besar resiko seseorang untuk mendapatkan kualitas tidur yang buruk. 7

    6.3.2 Hubungan antara jenis rokok yang dihisap per hari dengan kualitas tidur

    Sebagian besar responden yaitu 56 orang (73,7%) menghisap rokok berjenis

    rokok filter sedangkan 20 orang (26,3%) menghisap rokok berjenis rokok non-

    filter. Hasil penelitian ini juga dilaporkan oleh peneliti sebelumnya, yang

    menyatakan persentase jenis rokok yang dihisap perokok remaja menunjukkan

    70,73% perokok menghisap rokok putih (filter), 15,44% menghisap rokok

    kombinasi (putih+kretek), 13,0% menghisap rokok kretek (rokok non-filter) dan

    0,81% menghisap cerutu. Namun berbeda dengan penelitian Rochadi K tahun

    2004, yang menyatakan 48,8% remaja di lima wilayah Jakarta menghisap rokok

    kretek (rokok non-filter), 35,3% kombinasi dan 15,9% rokok putih (rokok filter).

    Peneliti tersebut juga menyatakan, ketertarikan responden terhadap rokok filter

    dikarenakan harga rokok filter lebih murah dan rokok filter juga menawarkan rasa

    yang lebih bervariasi dan promosinya juga lebih menarik. 47

    Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara jenis rokok yang

    dihisap dengan kualitas tidur (p = 0,003). Rokok filter mempunyai kandungan 14-

    15 mg tar dan 2-3 mg nikotin, dimana kandungan tar dan nikotin tersebut lebih

    rendah dibanding rokok non-filter. Rokok non-filter atau rokok kretek memiliki

    sekitar 20 mg tar dan 4-5 mg nikotin. 14 Kandungan nikotin yang terdapat dalam

    rokok non-filter lebih besar dari rokok filter, hal itu disebabkan rokok non-filter

    tidak dilengkapi dengan filter yang berfungsi mengurangi asap keluar dari rokok

    seperti yang terdapat pada jenis rokok filter. 51 Pada penelitian ini lebih banyak

    (71,1%) ditemukan responden yang mengonsumsi rokok berjenis rokok filter,

    salah hal yang dapat dijadikan alasan adalah sebagai mahasiswa Fakultas

    Kedokteran yang mempunyai kebiasaan merokok, sebagian dari responden sudah

    memiliki pengetahuan tentang zat-zat yang terkandung dalam rokok. Hasil

    analisis bivariat menyatakan perokok yang mengonsumsi rokok filter memiliki

    resiko lima kali lebih tinggi untuk mendapatkan kualitas tidur yang buruk

    dibandingkan perokok yang mengonsumsi rokok non-filter (OR = 5,182; CI 95%:

    1,677–10,014).

    Penelitian serupa yang dilakukan oleh Susanna D, et al. melaporkan bahwa

    perbedaan nikotin dalam berbagai merk rokok dipengaruhi oleh berbagai faktor

    antara lain jenis dan campuran tembakau yang digunakan, jumlah tembakau dalam

    tiap batang rokok, senyawa tambahan yang digunakan untuk meningkatkan aroma

    dan rasa, serta ada atau tidaknya filter pada tiap batang rokok. Penelitian tersebut

    juga menyatakan bahwa jumlah nikotin yang masuk ke dalam tubuh per hari dapat

    dihitung, walaupun biasanya dosis nikotin yang dihisap per hari masih di bawah

    dosis toksik yaitu 0,5 – 1,0 mg/kgBB atau sekitar 30 – 60 mg, namun bila ini

    berlangsung dalam waktu lama tentu saja akan berpengaruh pada kesehatan. 52

    Dapat diketahui juga, dari penelitian yang dilakukan oleh Zhang L, et al.

    bahwa kadar nikotin tertinggi pada perokok berada pada waktu tidur, hal ini yang

    menyebabkan perbedaan pola tidur antara perokok dan bukan perokok, yang

    terlihat pada awal periode tidur atau saat perokok akan memulai tidur. Hal ini juga

    dibuktikan dengan pola EEG perokok dan bukan perokok, bahwa nikotin berperan

    penting pada fase awal tidur seorang perokok dan menunjukkan efek

    patofisiologis nikotin saat tidur yang bersifat stimulant, sehingga dapat

    mempengaruhi kualitas tidur seseorang. 46

    6.3.3 Hubungan antara lama merokok dengan kualitas tidur

    Hampir seluruh dari responden atau 67 orang (88,2%) merokok selama

    kurang dari 10 tahun, hanya 9 orang (11,8%) merokok selama 10 - 20 tahun.

    Penelitian sebelumnya menyatakan semakin awal usia merokok semakin sulit

    sesorang untuk berhenti merokok. Rokok juga mempunyai dose-response effect

    artinya semakin muda usia memulai merokok akan semakin besar pula

    pengaruhnya. Resiko kematian bertambah seiring dengan banyaknya merokok dan

    usia merokok yang lebih dini. Dampak rokok akan terasa 10 – 20 tahun pasca

    dikonsumsi. Disimpulkan dari penelitian tersebut semakin muda usia seseorang

    memulai konsumsi rokok, maka semakin panjang durasi merokoknya dan makin

    besar beban merokok untuk berkembang menjadi penyakit. 53

    Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara lama merokok

    dengan kualitas tidur (p = 0,033). Hal ini berkaitan dengan ketergantungan nikotin

    pada seseorang terkait dengan lama seseorang tersebut merokok. Penelitian yang

    dilakukan Ngurah Rai dan Bagus Artana pada 160 responden menunjukkan pada

    kelompok umur muda memiliki tingkat ketergantungan terhadap nikotin yang

    lebih tinggi secara bermakna dibandingkan usia tua (3,43±2,15 vs 2,63±2,59). 54

    Hal tersebut juga didukung oleh hasil penelitian yang menyatakan paparan nikotin

    selama 24 jam, menimbulkan rangsangan ingin merokok yang lebih besar saat

    pagi hari dibandingkan dengan seseorang yang terpapar nikotin hanya 16 jam. 55

    Penelitian Ulrich et al, mendapatkan hubungan antara ketergantungan

    nikotin dengan jumlah rokok seumur hidup yang dihitung berdasarkan jumlah

    rokok dan lama merokok seseorang. Penelitian tersebut menjelaskan makin tinggi

    jumlah rokok hidup seumur hidup seseorang maka tingkat ketergantungan nikotin

    juga akan makin tinggi. Hubungan antara ketergantungan nikotin dengan lama

    merokok memang tidak memberikan hasil yang signifikan namun dapat dilihat

    bahwa semakin muda memulai merokok, maka akan semakin tinggi tingkat

    ketergantungan yang diderita. 56 Hasil analisis bivariat pada penelitian ini

    menyatakan perokok yang memiliki lama merokok antara 10 hingga 20 tahun

    memiliki resiko delapan kali lebih tinggi untuk mendapatkan kualitas tidur buruk

    dibandingkan dengan perokok yang memiliki lama merokok kurang dari 10 tahun.

    (OR = 8,242; CI 95%: 0,976 - 69,589). Hubungan antara merokok dan kualitas

    tidur sangat erat (p = 0,002) juga diungkapkan oleh Seung Hee pada penelitiannya

    tahun 2012 dengan 498 responden, didapatkan kualitas tidur pada perokok yang

    memiliki ketergantungan nikotin lebih rendah daripada bukan perokok (p = 0,001)

    ataupun perokok yang tidak memiliki ketergantungan nikotin (p = 0.012), dimana

    ketergantungan nikotin erat kaitannya dengan lama seseorang menjadi perokok. 57

    6.3.4 Hubungan antara derajat berat merokok dengan kualitas tidur

    Derajat berat merokok ditentukan oleh indeks Brinkman, yaitu perkalian

    antara jumlah rata-rata batang rokok yang dihisap per hari dengan lama merokok

    dalam satuan tahun. 21 Hasil analisis univariat menyatakan dari 76 orang responden

    (100,0%), 62 orang (81,6%) termasuk derajat ringan. Derajat ringan adalah

    perokok yang mempunyai hasil indeks Brinkman 0-200. Sedangkan 14 orang

    (18,4%) dikategorikan dalam derajat sedang. Derajat sedang adalah perokok yang

    mempunyai hasil indeks Brinkman 200-600. Semakin tinggi skor yang diperoleh

    responden, maka semakin tinggi intensitas perilaku merokoknya dan sebaliknya

    semakin rendah skor yang diperoleh responden maka semakin rendah juga

    intensitas perilaku merokoknya. Intensitas perilaku merokok seseorang berkaitan

    dengan banyak rokok yang dikonsumsi per hari dan lama waktu seseorang

    merokok. 58

    Hasil penelitian ini menyatakan lebih dari tigaperempat responden memiliki

    intensitas merokok dalam kategori ringan, hal ini dapat dikaitkan dengan tingkat

    pendidikan yang dimiliki oleh responden. Namun, berbeda dari hasil penelitian

    yang dilakukan oleh Kusumawardhani A, yang menyatakan tidak ada hubungan

    yang signifikan antara tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tentang

    merokok dengan derajat berat merokok. Penelitian yang dilakukan menyatakan

    terdapat korelasi positif antara tingkat pendidikan dengan derajat berat merokok

    dengan nilai koefisien korelasinya sebesar 0.165 dan nilai signifikansi 0.208

    menunjukkan bahwa kedua variabel ini memiliki hubungan lemah yang tidak

    signifikan. Begitu juga antara tingkat pengetahuan dengan derajat berat merokok

    juga berkorelasi negatif yang memiliki signifikansi 0.589 dan koefisien

    korelasinya 0.071. 59

    Namun,

    dari

    intensitas

    perilaku

    merokok

    yang ringan tidak menutup

    kemungkinan untuk timbulnya berbagai dampak. Zat yang terkandung dalam

    rokok terutama nikotin berefek pada konsekuensi medis yang terkait dengan

    perokok, seperti penyakit paru-paru obstruktif kronis, yang dapat mengganggu

    kontinuitas tidur dan memiliki dampak negatif pada siklus tidur. 44 Hasil analisis

    bivariat pada penelitian ini didapatkan adanya hubungan antara derajat berat

    merokok dengan kualitas tidur (p = 0,008) dilaporkan hanya 2 orang (2,6%) dari

    14 orang (18,4%) responden yang dikategorikan derajat perokok sedang memiliki

    kualtas tidur yang baik. Hal ini didukung dengan penelitian yang menyatakan

    toksisitas suatu zat ditentukan oleh besarnya paparan dan lamanya paparan. 51

    Begitulah bila diumpamakan sebuah rokok yang mengandung berbagai zat yang

    beracun mempengaruhi kualitas tidur ditentukan oleh besarnya paparan (jumlah

    rokok yang dikonsumsi per hari) dan lamanya paparan (lama merokok) yang

    dapat dihitung dengan indeks Brinkman seperti yang digunakan pada penelitian

    ini.

    Hasil analisis bivariat pada penelitian ini menyatakan perokok yang

    dikategorikan dalam derajat perokok sedang memiliki resiko enam kali lebih

    tinggi untuk mendapatkan kualitas tidur yang buruk dibandingkan dengan

    perokok yang dikategorikan dalam derajat perokok ringan (OR = 6,828; CI 95%:

    1,409-33,078). Penelitian yang dilakukan Karyono F, tahun 2010 pada 72

    responden yang memenuhi kriteria, yaitu 24 perokok ringan, 24 perokok sedang,

    dan 24 perokok berat menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan

    antara beratnya kebiasaan merokok dengan keluhan-keluhan saat tidur

    berdasarkan hasil analisis statistik dengan uji Anova didapatkan nilai sebesar

    32,785 dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 (p <0,01). Namun tidak

    didapatkan perbedaan keluhan-keluhan saat tidur pada perokok sedang dan

    perokok berat. 60 Penelitian lain menyatakan gangguan tidur pada merokok erat

    kaitannya dengan nikotin yang merupakan salah satu kandungan dalam rokok

    tersebut. Awalnya nikotin berhubungan dengan HPA (Hipotalamus-hipofisis-

    adrenal) dan kortisol. Kortisol mempunyai fungsi memodulasi dan mengatur

    aktivitas sistem saraf pusat selama stres dan produksi kortisol berhubungan

    dengan kemampuan tubuh mengatasi stres, namun berjalannya waktu dalam siklus

    tidurnya, seorang perokok akan merasa kesulitan untuk memulai tidur akibat efek

    stimulasi dari nikotin. 42

    BAB VII

    KESIMPULAN DAN SARAN

    7.1

    Kesimpulan

    Berdasarkan

    hasil

    penelitian

    yang

    telah

    dilakukan

    maka

    dapat

    ditarik

    beberapa kesimpulan sebagai berikut:

    • 1. Sebanyak 76 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti mempunyai kebiasaan merokok.

    • 2. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang memiliki kualitas tidur buruk lebih banyak dibandingkan mahasiswa yang memiliki kualitas tidur baik.

    • 3. Ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

    • 4. Ada hubungan antara jumlah rokok yang dihisap per hari dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

    • 5. Ada hubungan antara jenis rokok yang dihisap dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

    • 6. Ada hubungan antara lama merokok dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

    • 7. Ada hubungan antara derajat berat merokok dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

    7.2

    Saran

    Berdasarkan hasil penelitian dan keterbatasan peneliti yang dimiliki dalam

    penelitian ini, maka dapat direkomendasikan hal-hal sebagai berikut:

    1.

    Bagi Peneliti

     

    -

    Penelitian

    tentang

    kebiasaan

    merokok

    selanjutnya

    diharapkan

     

    menanyakan lebih lanjut alasan dan motivasi perokok untuk

    merokok atau tetap merokok walaupun sebenarnya mereka sudah

    cukup paham tentang bahaya merokok berdasarkan pengetahuan

    yang didapatkan di Fakultas Kedokteran, hal ini baik diketahui untuk

    dapat menemukan solusi sehingga dapat menurunkan prevalensi

    kebiasaan merokok di kalangan dewasa muda.

     
     

    -

    Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengikutsertakan variabel-

     

    variabel lain yang diduga berhubungan dengan kualitas tidur yang

    tidak diteliti pada penelitian ini.

     
     

    -

    Hasil penelitian ini hendaknya menjadi sumber inspirasi bagi

    penelitian selanjutnya untuk mengembangkan atau menerapkan cara

    mempertahankan dan memperbaiki kualitas tidur juga dapat

    mengetahui dampak apa saja yang yang sudah terjadi atau didapat

    dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang

    memiliki kebiasaan merokok terkait aspek fisiologis.

    • 2. Bagi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

      • - Bagi mahasiswa yang memiliki kebiasaan merokok agar berusaha mengurangi konsumsi rokok untuk meningkatkan produktivitas sehari-hari terkait dengan kualitas tidur.

      • - Bagi mahasiswa yang tidak memiliki kebiasaan merokok, pertahankan jadwal tidur normal dan hindari hal-hal yang dapat menyebabkan kualitas tidur buruk.

  • 3. Bagi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

    • - Diadakan penyuluhan atau konseling yang lebih rutin untuk mengingatkan akan bahaya merokok bagi kesehatan perokok maupun orang disekitarnya.

    • - Larangan untuk merokok di area kampus sudah diterapkan di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dan mahasiswa mematuhi peraturan tersebut terbukti saat dilakukan penelitian, peneliti hampir tidak pernah menemukan mahasiswa yang merokok di dalam area kampus, agar hal tersebut dipertahankan terkait kenyamanan dan kesehatan seluruh warga Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

  • DAFTAR PUSTAKA

    • 1. Lindenberg A, Binkmeyer J, Dahmen N, Gallinat J, Millas W, Mobascher A, et al. The German multi-centre study on smoking-related behavior- description on a population-based case-control study. Addiction Biology 2011;16(4):638-53.

    • 2. World Health Organization. Country Profile Indonesia: Prevalence of tobacco use. WHO report on the global tobacco epidemic. Geneva: Switzerland: 2011. Available at: http://www.who.int/tobacco/surveillance/ policy/country_profile/ idn.pdf. Accessed on June 16, 2013.

    • 3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Departemen Kesehatan RI 2010: 399-403.

    • 4. Kementrian Kesehatan RI. Pusat Data dan Informasi kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Departemen Kesehatan RI 2012:2-7.

    • 5. Han Min-Yan, Che Wei-Qing, Wen Xiao-Zhong, Liang Cai-Hua, Ling Wen-Hua. Differences of Smoking Knowledge, Attitudes, and Behaviors

    between Medical and Non-medical Students. Int.J. Behav. Med

    2012;19:104-10.

    • 6. Cohrs S, Rodenbeck A, Riemann D, Szagun B, Jaehne A, Brinkmeyer J, et al. Impaired sleep quality and sleep duration in smokers- result from the German Multicenter Study on Nicotine Dependence. 2012;10:136-9.

    • 7. Hu Lizhen, Sekine M, Gaina A, Kagamimori S. Association between sleep quality and smoking in Japanese civil servants. Sleep and Biological Rhytms 2001;5(3):196-203.

    • 8. Jaehne A, Loessl B, Barkai X, Riemann D, Hornyak M. Effects of nicotine on sleep during consumption, withdrawal and replacement therapy. Sleep Medicine Reviews 2009;13:363-77.

    • 9. Krueger PM, Friedman EM. Sleep Duration in the United States: A Cross- sectional Pupolation-based Study. Am J Epidemiol 2009;169:1052-63.

      • 10. Stranges S, Tigbe W, Gomez-Olive FX, Thorogood M, Kandala NB. Sleep Problems: An Emerging Global Epidemic? Finding From the INDEPTH WHO-SAGE Study Among More Than 40.000 Older Adults From 8 Countries Across Africa and Asia. SLEEP 2012; 8(35):1173-81.

      • 11. Mesquita G, Ferreira S, Rossini S, Soares EA, Reimao R. Effect of Tobacco and Alcohol Consumption on Sleep Quality of University Students. Neurobiologia 2011;74(1):19-27.

      • 12. Payne JD, Stickgold R, Swanerg K, Kensigner EA. Sleep Preferentially Enhances Memory for Emotional Components of Scenes. Psychological Science 2008; 14:781-8.

      • 13. Presiden Republik Indonesia. Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 tahun 2003. Bab I. Pasal

    1. Ayat 1-2.

    • 14. World Health Organization. Tobacco: deadly in any form or disguise. World no tobacco day 2006. p.15;18-25.

    • 15. Unit Pengendalian Tembakau FKM UI. Pengantar Merokok. In: Thabrany H, editors. Rokok, Mengapa Haram?. Jakarta: Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia; 2009.p.1-2.

    • 16. Redwine KM, Daniels SR. Prehypertension in Adolescents: Risk and Progression. The Journal of Clinical Hypertension 2012;14(6):360-64.

    • 17. Rodondi N, Auer R, Devine PJ, O’Malley PG, Hayoz D, Cornuz J. The Impact of Carotid Plaque Screening on Motivation for Smoking Cessation. Nicotine Tob Res 2008;10(3):541-6.

    • 18. Vander Weg M, Howren B, Cai X. Use of Routine Clinical Preventive Services Among Daily Smokers, Non-daily Smokers, Former Smokers and never-smokers. Nicotine Tob Res 2012;14(2):123-30.

    • 19. Schuster R, Hertel AW, Mermelstein R. Cigar, Cigarillo and Little Cigar Use Among Current Cigarette-Smoking Adolscents. Nicotine Tob Res 2013;15(5):925-31.

    20. Tana L, Mihardja L, Rif’ai L. Merokok dan usia sebagai faktor resiko

    katarak pada pekerja berusia > 30 tahun di bidang pertanian. Universa

    Medicina 2007;26(3):120-8.

    21.

    Brinkman GL, Voates Jr EO. The prevalence of chronic bronchitis in an

    industrial population. Am Rev Respir Div 1962;47-54.

    • 22. Guyton, Hall. States of Brain Activity-Sleep; Brain Waves; Epilepsy; Psychoses. In: Hall JE, editors. Textbook of Medical Physiology. 12 th ed. Hall: Saunders; 2010.p.689-91;697-701.

    • 23. Cappuccio F, D’Elia L, Strazzullo P, Muller MA. Sleep Duration and All- Cause Mortality: A Systematic Review and Meta-Analysis of Prospective Studies. Sleep Duration and Mortality 2010;33(5):585.

    • 24. Hanning C. Sleep disturbance and wind turbine noise. Stop Swinford Wind Farm Actin Group 2009. p. 5-8;11-33.

    • 25. Wolk R, Gami A, Garcia-Touchrad A, Somers VK. Sleep and Cardiovascular Disease. Curr Probl Cardiol 2005;30:625-62.

    • 26. Albrecht U. The mammalian circadian clock. Curr Opin Genet Dev 2003;13:271-77.

    • 27. Roccicheli JT, Sanford JT, VandeWaa E. Managing sleep disorders in the elderly. The Nurse Practioner 2010:31-7.

    • 28. Richards J, Gumz ML. Advances in understanding the peripheral circadian clocks. FASEB J 2012;26:3602-13.

    • 29. Richards J, Gumz ML. Mechanism of the circadian clock in physiology. Am J Physiol Regul Integr Comp Physiol 2013;304:R1053-64.

    • 30. Roehrs T, Roth T. Sleep, Sleepiness and Alcohol Use. Alcohol Research and Health 2010;25(2):101-9.

    • 31. Cappucio F, Cooper D, Strazzullo P, Miller MA. Sleep duration predicts cardiovascular outcomes: a systematics review and meta-analysis of prospective studies. Eur Heart J 2011; doi: 10.1093/eurheartj/ehr007.

    • 32. Curcion G, Ferrara M, De Gennaro L. Sleep loss, learning capacity and academic performance. Sleep Med Rev 2006;10(5):323-37.

    • 33. Dewald JF, Meijer AM, Oort FJ, Kerkhof GA, Bogels SM. The influences of sleep quality, sleep duration and sleepiness on school performance in children and adolescents: A meta-analytic review. Sleep Med Rev 2010;14(3):179-89.

    • 34. Sulistiyani C. Beberapa faktor yang berhubungan dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat 2012;1(2):280-92.

    • 35. Antczak J, Horn B, Ritcher A, Jernajczyk W, Bodenschatz R, Schmidt EW. The Influence of obesity on sleep quality in male sleep apneu patients before and during theurapy. Journal of Physiology and Pharmacology 2008;59(6).

    • 36. Nashori F. Hubungan Antara Kualitas Tidur dengan Kendali Diri Mahasiswa. Fenomena 2004;2(2):127-37.

    • 37. Buysee DJ, Reynolds III CF, Monk TH, Berman SR, Kupfer DJ. The Pittsburgh sleep quality index: a new instrument for psychiatric practice and research. Psychiatry Research 1988;28:193-213.

    • 38. SzentkiráLyi A, MadaráSz CZ, Nová KM. Sleep disorders: Impact on daytime functioning and quality of life. Expert Review of Pharmacoeconomics and Outcomes Research 2009;9(1),49-64.

    39.

    Patterson F, Lerman C, KaufmannV, Neuner G, Audrain-McGovern J.

    Cigarette Smoking Practices Among American College Students: Review

    and Future Directions. Journal of American College Health

    2004;52(5):203-10.

    • 40. Padula RS, De Abreu GJ. Assessment of quality of sleep and sleepiness in workers with rotating shifts. Work 2012;41(SUPPL.1):5801-2.

    • 41. Bidulescu A, Din-Dzietham R, Coverson D, Chen Z, Meng Y, Buxbaum SG, et al. Interaction of sleep quality and psychosocial stress on obesity in Africans Americans: the Cardiovascular Health Epidemiology Study (CHES). BMC Public Health 2010;10(581).1-10.

    • 42. Saint-Mleux B, Eggermann E, Bisetti A. Nicotinic enchantment of the noradrenergic inhibition of sleep-promiting neurons in the ventrolateral preoptic area. J Neurosci 2004;24:67.

    • 43. Zhang L, Samet J, Caffo B, Punjabi NM. Cigarette Smoking and Nocturnal Sleep Architecture. American Journal of Epidemiology 2006;164(6):529-37.

    • 44. Kutty K. Sleep and chronic obstructive pulmonary disease. Curr Opin Pulm Med 2004;10:104-12.

    • 45. Schoenborn CA, Adams P. Sleep Duration as a Correlate of Smoking, Alcohol Use, Leisure-Time Physical Inactivity, and Obesity Among Adults: United States 2004-2006. NCHS Health E-States 2008;1-13.

    • 46. Zhang L, Samet J, Caffo B, Bankman I, Punjabi NM. Power Spectral Analysis of EEG Activity During Sleep in Cigarette Smokers. CHEST 2008;133(2):427-32.

    • 47. Alamsyah RM. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebiaaan merokok dan hubungannya dengan status penyakit periodontal remaja di Kota Medan Tahun 2007 (thesis). Medan: Universitas Sumatera Utara; 2009.

    • 48. Nashori F, Diana RR. Perbedaan kualitas tidur dan kualitas mimpi antara mahasiswa laki-laki dan mahasiwa perempuan. Indonesian Psychological Journal 2005;2(2):77-88.

    • 49. Kumboyono. Hubungan Perilaku Merokok dan motivasi belajar usia anak remaja. Majalah Kesehatan FKUB 2010:1-12.

    • 50. El-Sharkawy GF. Cigarette smoking among university students: family- related & personal risk factors. Journal of American Science 2011;7:260-
      268.

    • 51. Nurcahyani FH, Bustamam N, Diandini R. Hubungan antara kebiasaan merokok dan kejadian hipertensi. Bina Widya 2011;22(4):185-90.

    • 52. Susanna D, Hartono B, Fauzan H. Penentuan kadar nikotin dalam asap rokok. MAKARA 2003;7(2):47-51.

    • 53. D’Souza MS, Markou A. Neuronal mechanisms underlying development of nicotine dependence: implications for novel smoking-cessation treatments. Addiction Science & Clinical Practice 2011;5:4-16.

    • 54. Ngurah Rai IB, Bagus Artana IGN. Merokok dan Ketergantungan Nikotin Pada Penduduk Tenganan Pengringsingan, Karangasem, Bali. Denpasar: FK UNUD; 2009.

    • 55. Ulrich J, Meyer C, Hapke U, Rumpf HJ. Nicotine dependence and lifetime

    amount of smoking in a population sampel. European Journal of Public

    Health 2004; 14:182-5.

    56. McGee R, Williams S, Nada-Raja S. Is cigarette smoking associated with

    suicidal ideation among young people. The American Journal of

    Psycology 2005; 162: 619-620.

    57. Choi, Seung Hee. Smoking behavior and the impaction sleep quality and

    health related quality of life among operating engineers (dissertation).

    Michigan: The University of Michigan; 2012.

    58. Mushoffa MA, Husein AN, Bakhriansyah. Hunungan antara perilaku

    merokok dan kejadian insomnia. Berkala Kedokteran 2013;9(1):73-9.

    59. Kusumawardhani AT. Hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat

    pengetahuan tentang merokok dengan derajat berat merokok (skripsi).

    Surakarta: Unversitas Negeri Sebelas Maret; 2012.

    60. Karyono FA. Hubungan antara derajat insomnia dengan beratnya

    kebiasaan merokok pada mahasiswa universitas muhammadiyah malang

    (skripsi). Malang: Universitas Muhammadiyah Malang; 2010.

    Lampiran 1

    HASIL PENELITIAN

    NAMA

    JENIS

    USIA

    KEBIASAAN

    JUMLAH

    JENIS

    LAMA

    DERAJAT

    KUALITAS

    KELAMIN

    MEROKOK

    ROKOK

    ROKOK

    MEROKOK

    BERAT

    TIDUR

     
    • 1 1

    19

    2

    0

    0

    0

    0

    2

     
    • 2 1

    20

    2

    0

    0

    0

    0

    2

     
    • 3 1

    20

    2

    0

    0

    0

    0

    2

     
    • 4 2

    19

    2

    0

    0

    0

    0

    2

     
    • 5 2

    20

    2

    0

    0

    0

    0

    2

     
    • 6 2

    20

    2

    0

    0

    0

    0

    2

     
    • 7 1

    19

    2

    0

    0

    0

    0

    2

     
    • 8 2

    20

    2

    0

    0

    0

    0

    2

     
    • 9 1

    20

    2

    0

    0

    0

    0

    2

    • 10 1

    19

    2

    0

    0

    0

    0

    2

    • 11 1

    20

    2

    0

    0

    0

    0

    2

    • 12 1

    20

    2

    0

    0

    0

    0

    2

    • 13 1

    20

    2

    0

    0

    0