You are on page 1of 2

REDEFINISI PERAN MAHASISWA UNTUK MEMBANGUN BANGSA

Bukan lautan hanya kolam susu, bait dari lantunan lagu karya koes plus yang
berjudul kolam susu, menggambarkan betapa besar kekayaan dan kemakmuran negara
indonesia. Terlihat indah, akan tetapi bertolak belakang dengan kondisi ibu pertiwi
untuk saat ini.
Kompleksitas dari permasalahan akan kebangsaan dan kenegaraan saat ini,
mengundang keprihatinan dan ras was-was dari rakyat indonesia. Berbagai persoalan
membenturkan indonesia kedalam kondisi yang memprihatinkan, sehingga keselurahan
masalah lambat laun menjadi bom waktu untuk bangsa ini sendiri. Paradoks yang
muncul dalam setiap dimensi, memunculkan lingkaran yang berkesinambungan antar
dimensi persoalan dalam bangsa ini. Pendidikan, ekonomi, kedaulatan, pangan,
kesehatan berada dalam frame permasalahan yang begitu kompleks dan tidak
terpisahkan.
Dalam kondisi ini, bangsa indonesia dipertemukan dengan dua hal yang pertama
adalah sikap pesimis akan terwujudnya bangsa yang besar dan bermartabat, yang kedua
adalah rakyat indonesia memahami bahwa untuk menjadi bangsa yang besar diperlukan
mental yang optimis dan jiwa patriotik untuk menerobos semua tantangan bangsa.
Indonesia banyak memiliki sumberdaya alam yang berlimpah, indonesia juga
memiliki banyak sumberdaya manusia yang berkualitas tinggi. Tetapi tak cukup hanya
itu melainkan sumberdaya-sumberdaya yang ada perlu dikelola secara efektif dan
efisien. Pembagian peran yang ada harus disadari oleh seluruh elemen, baik pemerintah,
stakeholder, rakyat, dan mahasiswa untuk mewujudkan bangsa yang hebat.
Berkaca tentang kondisi bangsa dan negara dalam berbagai pelik nya permasalahan,
tentunya semua elemen yang ada harus instropeksi, terlebih untuk para agen perubahan
yaitu mahasiswa. Sekian banyak momentum yang dialami oleh mahasiswa dalam
melakukan perubahan, bukan menjadi indikator bahwa mahasiswa telah berhasil
membawa negara menuju negara yang paripurna. Otokritik terhadap mahasiswa adalah
mahasiswa telah menimbulkan stagnasi perubahan, dikarenakan mahasiswa tidak
memiliki visi yang jelas terhadap quo vadis bangsa ini.
Tidak sedikit mahasiswa yang berbicara tentang hal besar dan membuat mereka
lupa bahwa negara membutuhkan beribu hal yang lebih besar dari berteori dan
menghayal. secara substansi ralf dahrendorf menyinggung prilaku individu-individu

yang sepenuhnya percaya pada banyak hal yang mereka tuliskan dan katakan, akan
tetapi berubah ketika berhadapan dengan sejenis tekanan yang menunjukan pada
realitas.
Mahasiswa harunya sadar jika, Indonesia akan menjadi lebih baik ketika mahasiswa
memahami mereka adalah insan akademis sekaligus menjadi insan yang mencipta dan
mengabdi. Indonesia akan sehat ketika mahasiswa kedokterannya bersedia mengobati
rakyat yang merintih kesakitan dipinggir jalan. Indonesia akan hebat jika mahasiswa
ekonominya mau dan mampu membangun bisnis agar rakyat bisa bekerja dan
tercukupkan. Indonesia akan maju jika mahasiswa tekniknya peduli akan prasana umum
yang terbengkalai.
Saatnya mahasiswa sadar, bahwa melakukan hal yang kecil lebih baik dari pada
hanya berkhayal sesuatu yang besar, serta menepis sindiran dari pak tandyo Bagiku,
pendidikan itu educating the heart. Namun, di negeriku, pendidikan itu educating the brain.
Hasilnya: a flock of new barbarian. Yang cakap, cerdas, berpengetahuan tinggi, cuma siap bekerja
dan dipekerjakan sebagai ahli bayaran.