You are on page 1of 1

Hai, apa kabarmu hari ini? Masih ingatkah kau denganku?

Baiklah, kuakui
aku mengingatmu di tengah derasnya hujan malam ini. Meskipun aku tidak sepakat
dengan mereka yang berkata bahwa hujan menghadirkan kenangan masa lalu. Jadi
walau malam ini bayanganmu menghantuiku lagi, aku tidak akan menyalahkan
hujan. Biarlah hujan menjadi terapi musik alam yang menetralisir kegelisahanku
malam ini.
Pengakuan menjadi hal menakutkan setiap aku ingin melakukannya di
hadapanmu. Pun ketika aku terlanjur tanpa sengaja memperlihatkan suasana hati
yang tak wajar di depan orang lain. Herannya, aku selalu punya cara untuk berpurapura memikirkan hal lain. Setiap tulisanku tentangmu selalu saja kututup dengan
apa pun yang membuat orang berpikir bahwa aku menulis tentang hal yang wajar
dan universal. Aku tak pernah tahu apakah kau mampu menafsirkan setiap tulisanku
tentangmu. Aku tak pernah bisa menebak sejauh mana kau mampu menyadari
bahwa tokoh “kau” di tulisanku adalah dirimu. Meski terkadang ada sedikit
keyakinan bahwa kau merasa ini adalah tentangmu, setidaknya kau bertanya-tanya
“apakah ini tentangku?”.
Aku tak pernah memaksamu untuk tetap di sini denganku. Karena sudah
kubilang, aku nyaman selama kita ada jarak. Jarak yang tidak terlalu dekat ataupun
terlalu jauh. Terlalu dekat denganmu membuatku merasa bersalah. Sedangkan
terlalu jauh denganmu membuatku rindu, khawatir, atau sibuk berprasangka.
Aku...aku...aku...Ah, aku lelah berkutat dengan perasaanku sendiri. Kau berhak
memilih ke mana kau akan melangkah. Tak pernah dan tak akan pernah kupaksa
kau untuk tetap di sini. Cukuplah bayanganmu yang sesekali hadir menemani.