DIPANGGIL untuk DIUTUS

Martin Suhartono, SJ.

RETRET AKHIR SMA Parakan - 4 s/d 7 Januari 1996 _________________________________________________________
SMA KOLESE LOYOLA Jl. Karanganyar 37 Semarang

RetretLoyola/Parakan96/hal. 2

DINAMIKA RETRET

DIPANGGIL UNTUK DIUTUS

BAGIAN I: DIPANGGIL UNTUK TUMBUH SECARA UTUH A. BERANGKAT DARI TUBUHKU B. BERANGKAT DARI RASA-PERASAKU C. BERANGKAT DARI PIKIRANKU D. MENUJU KE PRIBADI YANG UTUH DAN MANDIRI

BAGIAN II: DIPANGGIL UNTUK TUMBUH DALAM KEBERSAMAAN A. BERANGKAT DARI KESENDIRIANKU B. MENUJU SIKAP BERSAHABAT TANPA AKHIR

BAGIAN III: DIUTUS DALAM KEBERSAMAAN A. BERANGKAT DARI PERSAHABATANKU DENGAN ALLAH B. MENUJU PANGGILAN MENJADI MURID-MURID YESUS

RetretLoyola/Parakan96/hal. 3

DIPANGGIL UNTUK DIUTUS Tujuan: Mengalami dan menyadari kehadiran Allah di dalam hidupku sebagai kehadiran yang memanggil dan mengutus aku. Pembukaan: -Pendahuluan: Selamat Datang -Refleksi: Peserta mengemukakan nama, motivasi, harapan ttg. retret ini. -Tanggapan: tentang retret: tujuan, tema, langkah-langkah dll. Ibadat Pembukaan: -Tema: Hidup Sebagai Suatu Pejiarahan -Kegiatan: Prosesi. Peserta yang satu (mata tertutup) dituntun oleh yang lain; kemudian bergantian, berjalan dari gerbang masuk ke kapel dengan membawa simbol dirinya untuk dipersembahkan di altar. -KS: Ulangan 26:5-10 “Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara ..” -Renungan: Hidupku adalah suatu pejiarahan dan aku dituntun oleh Allah. Seperti yang dialami oleh bangsa Israel, aku dibimbing oleh Allah dari situasi perbudakan ke kemerdekaan anak-anak Allah. Hidupku adalah sekaligus suatu Anugerah (bhs. Jerman: Gabe) dan Tugas (Aufgabe).

BAGIAN KESATU: DIPANGGIL UNTUK TUMBUH SECARA UTUH Pertumbuhanku dapat ditinjau dari tiga aspek diriku, tiga fungsi atau level pengalamanku: tubuh, rasa-perasa dan pikiranku; pembedaan ini tidak mutlak melainkan hanya untuk memberiku suatu perspektif agar dapat mengerti perkembangan diriku. Pada suatu masa, satu aspek menjadi lebih penting daripada yang lain, sedangkan di masa yang lain, aspek lain yang lebih ditekankan. Aku dipanggil untuk menerima dan mengembangkan seluruh aspek diriku. Namun sayang, pendidikan formal (sekolah) kerap hanya mementingkan aspek pikiran (kognitif) saja; akibatnya, aku merasa “asing” dengan tubuh dan rasa-perasaku. Aku tak merasa bahagia karena tak dapat mengembangkan seluruh adaku dengan segala potensinya. A. BERANGKAT DARI TUBUHKU Tubuhku dengan segala kecenderungan, dorongan dan nalurinya, merupakan bagian diriku yang paling kelihatan dan terasa. Agar aku dapat “survive”, tubuh harus tumbuh dan menjadi dewasa. Orang mengira tubuh dapat tumbuh begitu saja secara otomatis; ini benar, namun aku memiliki macam-macam perasaan dan sikap terhadap tubuhku yang mempengaruhi pertumbuhannya, mis. kecemasan dan penolakan. Hal ini akan merusak citra diriku yang positif dan menimbulkan problem-problem di masa depan. Tubuh berfungsi menempatkan diriku di dunia dan memberiku kemungkinan gerak; ia diperlengkapi dengan macam-macam alat untuk dapat hidup, bertahan dan tumbuh. Tubuh yang berfungsi secara penuh amatlah penting sebagai sarana pengungkapan diri dan komunikasi dengan orang lain, selain memungkinkan aku menikmati rasa-

RetretLoyola/Parakan96/hal. 4 perasa jasmani dan pengalaman. Ada hubungan erat antara tubuh, rasa perasa, dan pikiran. Melalui kontak ragawi, kesadaranku akan dunia sekelilingku berkembang; tanpa kelima indera ragawi, pikiranku belaka tak akan mencukupi. Sebaliknya, pikiranku mengungkapkan diri lewat tindakan ragawi. Singkatnya, tubuh memungkinkan aku melaksanakan panggilan hidupku. Menurut Spinoza, filsuf abad 17: “Ajari tubuhmu melakukan banyak hal dan anda akan mampu melaksanakan Cinta Allah”; dan Santo Paulus: “Serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Rom 6:13). Berbagai latihan berikut ini menolong aku untuk semakin menyadari, menerima dan mengembangkan daya-daya tubuhku (menghubungkanku dengan dunia dan orang lain, membuat tubuh lebih sehat, mengungkapkan diriku, membuat aku dapat lebih menikmati sesuatu, mengembangkan citra diri yang positif) selain membebaskan energi yang terpenjara dalam tubuh karena pengalaman dan luka-luka emosional sehingga problem-problem psikologis tidak tertahan dalam tubuh. Ini memungkinkan aku juga untuk mengalami tingkat-tingkat kesadaran yang lebih tinggi serta mengalami bahwa tubuhku adalah “kenisah Roh Kudus” (I Kor 6:19). 1) ”Aku dan Tubuhku” Kegiatan: A berbaring - B duduk di sampingnya; A bernapas dalam-dalam dan rileks - B angkat perlahan tangan, kaki si A; A menghayati tubuhnya. Bergantian. Refleksi: Apa yang dikatakan tubuhku kepadaku? Bagaimana ia bergerak? Apa yang ia lakukan untukku? 2) ”Mendengarkan tubuhku” Kegiatan: Berbaring. Rileks. Munculkan dalam batin lambang yang mewakili tubuhku. Lambang berbicara padaku: ttg. rasanya menjadi tubuhku, apa yang ia perlukan saat ini. Coba berteman dengan lambang ini, apa yang tubuh lakukan untukku. Ucapkan “good bye”. Gambar lambang tsb. Refleksi: Bagaimana mendengarkan tubuhku dengan lebih baik serta merawatnya? 3) ”Rileksasi mendalam” Kegiatan: Berbaring. Menegangkan dan mengendorkan bagian-bagian tubuh: kepalan tangan, lengan, pundak, bibir, lidah, hidung, dada, perut, paha, betis, jari kaki. KS: Mz 131: “Aku bagai bayi berbaring di samping ibu”. B. BERANGKAT DARI RASA-PERASAKU Dunia rasa-perasaku adalah dunia yang tak kelihatan dan merupakan aspek diriku yang paling berubah-ubah. Karena tak kelihatan, aku tak begitu memperhatikan dunia rasa-perasaku seperti aku memperhatikan tubuhku, padahal inilah tempat banyak problem sering muncul. Sebagaimana ada ‘energi ragawi’ ada pula ‘energi emosional’; energi ini dapat digunakan, diarahkan dan ditransformasi untuk menambah kedalaman diriku. Rasa-perasa berfungsi menyediakan daya dan cita-warna terhadap apa pun yang kulakukan, menghidupkan ide-ideku, mencerminkan intuisi, memudahkan komunikasi dan membuat pengalaman manusiawiku menjadi lebih mendalam.

RetretLoyola/Parakan96/hal. 5

Pertumbuhan tubuh terarah ke luar (ekstrovert) sedangkan pertumbuhan emosional lebih terarah ke dalam (introvert). Dengan masa puber, pertumbuhan rasa-perasa menjadi makin intensif. Pertumbuhan kehidupan batin memperdalam pengalaman dan kontakku dengan orang lain, mis. dalam permainan: bukan lagi permainan itu sendiri yang penting, melainkan hubungan antar pribadi. Problem muncul sehubungan dengan penerimaan dan penolakan oleh orang lain. Hal kecil dapat menimbulkan problem emosional yang gawat. Rasa-perasa (feelings) menyangkut banyak hal (multidimensional); berisi imaginasi, naluri, intuisi, dorongan, pengalaman ragawi. Perasaan (emotion) merupakan tafsiran kualitatif yang kuberikan pada kombinasi rasa-perasa; mis. perasaan sedih karena kematian orang yang kucinta, melibatkan macam-macam rasa-perasa. Meski kerap diabaikan, aku secara tak sadar terlibat dengan situasi rasa-perasa: ingin merasa bahagia, baik; merasa tak baik dan ingin mengubah, mencari penerimaan. Bila aku tanpa pilih-pilih hanya mengikuti rasa-perasaku saja aku bisa jatuh dalam berbagai keadaan yang buruk: dimanipulasi oleh orang lain, jatuh dalam prasangka, histeri dll. Bila ditekan, energi emosional tetap bekerja di bawah tanah, merongrongku dan mematikan daya hidupku selain membuat orang lain merasa tak diterima dll. Proses pertumbuhan yang sehat sehubungan dengan dunia rasa-perasa adalah: 1) Menjadi sadar akan apa yang dirasakan: Aku diajak mengidentifikasi apa yang kurasakan, menjadi sadar akan rasa-perasa itu. Setiap perasaan berhubungan dengan pengalaman ragawi tertentu dan pikiran tertentu. Menjadi sadar akan suatu perasaan akan membuat orang lebih mengalami dan mengerti makna dan pengaruh perasaan itu. Bila suatu perasaan disadari, muatan energi perasaan itu dapat dinetralkan. 2) Menerima apa yang dirasakan: Rasa-perasa itu tak stabil melainkan berubah-ubah terus menerus. Mengenali dan menerima suatu perasaan berarti mengijinkannya berubah. Penerimaan bukanlah penyerahan passif terhadap perasaan tertentu tetapi sekedar suatu pengakuan terhadap kenyataan yang bersifat sementara. Menerimanya berarti memungkinkannya berkembang. Banyak energi dibuang percuma bila aku menolak atau merepresi perasaanku. 3) Setelah penerimaan: apa yang kulakukan? Aku sebaiknya menghindari penekanan terhadap rasa-perasa, namun tak baik bila aku jatuh dalam ekstrem lain: melampiaskan perasaan dengan tak selayaknya. Setelah menjadi sadar akan dan menerima perasaanku, aku ditantang untuk menganalisa situasi dan menentukan suatu pilihan bagaimana menanggapi dan bersikap. Aku dipanggil untuk memiliki kebebasan batin terhadap rangsangan rasa-perasaku: melampiaskannya dengan sembarangan atau dengan layak dan tenang. Aku perlu mengambil jarak terhadap perasaanku sendiri: menyadari bahwa suatu perasaan akan berlalu, di batinku tak hanya ada satu perasaan ini saja melainkan banyak hal, orang lain punya perasaan juga yang harus kuperhitungkan. Kadang baik bila aku menerima begitu saja dan membiarkan suatu perasaan tanpa perlu mengungkapkannya; jadi tidak menjadi jengkel karena merasa jengkel. Rasa-perasa dapat pula diubah; energi

RetretLoyola/Parakan96/hal. 6 emosional dapat diarahkan ke sasaran lain: mis. dengan kegiatan fisik, permainan, pengalihan perhatian. Energi emosional dapat pula disublimasikan pada cita-cita luhur yang menantang aku untuk mewujudkannya dalam kehidupanku pribadi dan dunia sekelilingku. Aku tak perlu menjadi korban rasa-perasaku yang negatif karena memendamnya, namun aku tak harus melampiaskannya secara merusak dan membabibuta. Suatu problem atau perasaan negatif dapat dilihat, dikenali, dimengerti dan diubah. Perasaan negatif biasanya punya suatu pesan untukku, suatu makna, dan sering menjadi tanda bahwa ada suatu kebutuhanku yang tak terpenuhi. Memendam dan menolaknya hanya akan membuat problemnya semakin mencekam aku. Aku ditantang untuk bekerja dengan perasaan negatif ini secara kreatif: mengerti pesannya, memahami sebabnya; ini berarti membebaskan diriku dari cengkeramannya. Bukanlah rasa-perasa itu sendiri melainkan apa yang aku lakukan dengan rasa-perasa itu, yang menentukan kesehatan psikologisku. Sebagai pengikut Kristus, aku diundang untuk mengungkapkan cinta kasihku kepada sesama lewat perasaan, menurut S. Paulus: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rom 12:15). Berikut ini adalah berbagai latihan untuk menyadari, menerima dan menanggapi rasaperasaku. 1) “Aku dan rasa-perasaku” -Kegiatan: -Sambil berdiri, mengayunkan tangan, badan rileks, dan masuk dalam dunia batinku: apa yang kurasakan sekarang ini? Biarkan tubuhku menjadi perasaan itu, mengungkapkannya, seakan menjadi patung perasaan itu. -Lalu kujelajahi rasa-perasaku pagi tadi, siang tadi dan kuungkapkan lewat gerakan tubuh atau suara. -Biarkan rasa-perasa negatif keluar lewat tubuhku, kulebih-lebihkan. -Setelah itu kujelajahi rasa-perasa positif yang ingin kumiliki hingga aku bisa senyum, menari dll. Biarkan tubuhku mengungkapkannya. 2) “Mendengarkan rasa-perasaku” -Kegiatan: -Sambil duduk atau berbaring, sadari apa yang kurasakan sekarang. Munculkan suatu bentuk atau gambar yang berhubungan dengan atau mewakili dunia rasa-perasaku. -Aku mendengarkan lambang rasa-perasaku tadi: apa yang dikatakannya padaku? Kujawab juga. Apa yang diinginkan oleh rasa-perasaku terhadap aku? Apa yang ingin kukatakan kepada perasaanku? Apa yang diberikannya kepadaku? Ucapkan “good bye”. -Gambarkan lambang tadi. -Refleksi: Bagaimana agar bisa berteman dengan hidup rasa-perasaku. 3) “Mengenali - menerima - mentransformasi rasa-perasaku” -Kegiatan: Kuhadirkan dalam ingatan peristiwa yang paling membuat aku merasa bahagia. Kuungkapkan lagi dengan tubuhku. Begitu juga dengan rasa marah, cemas dan kesedihan. Pilih satu perasaan negatif yang sering menggangguku dan kini

RetretLoyola/Parakan96/hal. 7 ingin kuselesaikan (mis. rasa malu, rasa tak aman). Kurasakan lagi sekarang; di bagian tubuh yang mana kurasakan? Munculkan suatu gambaran atau lambang yang berhubungan dengan perasaan ini. Biarkan lambang itu bicara padaku. Tanya apa yang ia perlukan; katakan padanya apa yang kuinginkan darinya. Tanya bagaimana aku bisa keluar dari problem itu. Bila sudah ucapkan “good bye”. Munculkan gambaran lain yang berhubungan dengan apa yang kuperlukan dalam diriku agar keluar dari problem ini. Apa yang kuperlukan agar bisa keluar dari problem. Ucapkan “good bye”. -Refleksi: langkah-langkah agar keluar dari problem tsb. C. BERANGKAT DARI PIKIRANKU Perasaan yang sehat membutuhkan pikiran yang sehat agar aku bisa tumbuh utuh. Ada banyak akibat negatif perkembangan pikiran yang tak memadai: citra diri rendah, minder, hasil tak memuaskan di sekolah, kurang minat dalam hidup, tergantung pada pendapat atau pertimbangan orang lain, prasangka (ketakmampuan melihat melewati perasaan atau keinginanku), kurang inisiatif karena tak bisa melihat berbagai kemungkinan. Akibat positif: kemampuan berpikir jernih, keterbukaan dalam berpikir (tak picik pikiran), kemampuan mengarahkan pikiranku, kreativitas. Yang umum terjadi adalah aku terobek antara dua kecendrungan ekstrem: hanya dikuasai oleh perasaanku saja (kalap, membabibuta, emosional, terombang-ambing) atau hanya dikuasai oleh pikiranku saja (dingin, kaku, tak kenal kasihan). Untuk tumbuh secara utuh dan dewasa aku diajak untuk menggunakan keduanya: baik perasaan maupun pikiranku, hatiku maupun kepalaku. Pikiranku memiliki fungsi-fungsi: (1) menyintesekan apa yang kuterima lewat indraku hingga membuat aku mampu mengalami dunia luar (yakni semacam indra tambahan); (2) mengolah informasi atau pengetahuan yang kuperoleh lewat studi (yakni akalbudi, rasionalitas, logika, pikiran konkret); (3) mengolah bahan-bahan yang diperoleh lewat dua cara diatas serta mensistematisasi dan menyimpulkannya (yakni pikiran abstrak); (4) membuat aku peka terhadap intuisi, pengertian dan menafsirkannya dengan tepat. Dalam iman kristiani aku diajak oleh S. Paulus: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Fil 2:5). Latihan berikut memberi gambaran akan hubunganku dengan pikiranku dan cara-cara untuk mengembangkan hubungan ini. 1) “Aku dan pikiranku” -Kegiatan: Bayangkan mengisi gelas dari sebuah teko, mengalikan 12 dan 18, memikirkan suatu konsep abstrak (mis. “pertumbuhan”), ingat saat aku mencoba memecahkan suatu persoalan (matematika, masalah pribadi, masalah praktis) dan tak berhasil (apa yang kurasakan?) dan ketika aku berhasil. 2) “Mendengarkan pikiranku”

RetretLoyola/Parakan96/hal. 8 -Kegiatan: Munculkan sebuah gambaran atau lambang yang mewakili pikiranku. Bagaimana reaksi perasaanku terhadap gambaran ini? Ini membuat aku merasa apa? Dengarkan pesannya bagiku. Adakan dialog dengannya. Coba masuk menjadi dia: bagaimana rasanya? Apa yang ia inginkan dariku? Apa yang aku inginkan darinya. Cobalah berteman dengannya. Gambarlah makna atau pengalamanku tentang gambaran tsb. -Refleksi: Apa yang dibutuhkan oleh pikiranku? Apa yang dapat ditawarkannya kepadaku? Bila ada konflik antara pikiran dan perasaan, bagaimana menyelesaikannya? 3) “Integrasi antara perasaan dan pikiranku” -Kegiatan: -Lihat gambarku tentang perasaan dan pikiranku dalam latihan-latihan di atas: Apa kesan yang ditimbulkan? Apakah keduanya konflik atau tampak cocok? Apa yang kurasakan sehubungan dengan kedua gambar itu? Aku tertarik pada yang mana? Apa yang satu tampak lebih berenergi daripada yang lain? Apa aku ingin mereka berbeda? -Visualisasi: di padang rumput, matahari bersinar. Aku bersama dua gambaran tadi. Kuamati diriku dan lingkunganku. Berjalan bersama. Amati bagaimana hubungan mereka berdua dan mereka terhadap diriku. -Mendaki sebuah gunung, rasakan bagaimana tubuhku bergerak. Tetap dalam hubungan dengan kedua gambaran tadi. -Sampai di sebuah sungai kecil di atas; sampai di puncak, berdiri bersama dan berbicara lebih lanjut dengan gambaran perasaan dan pikiranku. Apa yang dikatakan mereka kepadaku? Apa yang kukatakan kepada mereka? -Aku kembali ke ruangan. Menuliskan pengalaman tadi. -Refleksi: Apa yang kupelajari tentang perasaan dan pikiranku? Bagaimana menerapkan apa yang telah kupelajari tadi pada hidup sehari-hari? Bagaimana perasaan dan pikiranku dapat bekerja sama lebih baik? D. MENUJU KE PRIBADI YANG UTUH DAN MANDIRI Aku membawa dalam diriku suatu citra-diri atau model diriku, tentang bagaimana aku berfungsi dan mengungkapkan diriku di dunia. Citra-diri ini bukan hanya satu, tapi bermacam-macam dan punya hakekat, asal dan tingkatan energi yang bukan hanya berbeda-beda tapi juga sepihak, tak praktis, terlalu membatasi dan sering konflik satu sama lain. Berguna memiliki model yang realistis yang dapat kucapai. Model ini bukan model akhir kesempurnaan diriku melainkan suatu langkah berikut dalam pertumbuhanku, yang menguatkan atau mengembangkan daya-dayaku yang tersembunyi, meneguhkan suatu pola bertindak yang lebih effektif. Imaginasi kreatif merupakan alat ampuh bagi pertumbuhan kepribadian, menimbulkan energi dan arah, merangsang ungkapan luar. Untuk itu pertama-tama perlulah aku mengenali berbagai model yang membatasi kemungkinan-kemungkinan diriku. Latihan berikut membuat aku menyadari berbagai model diri dalam diriku: 1) “Berbagai model diri dalam diriku” -Kegiatan:

RetretLoyola/Parakan96/hal. 9 (1) Citra diriku yang terlalu negatif: Aku sering punya penilaian terhadap diriku yang terlalu merendahkan diriku sendiri. Apa yang kutahu dan kurasakan sehubungan dengan ini? Munculkan lambang citradiri ini; gambar dan tulis yang kurasakan. (2) Citra diriku yang terlalu positif: Aku sering terlalu tinggi menilai diriku sendiri. Ini sering tak realistis dan tak bisa dicapai. Apa yang kutahu dan kurasakan sehubungan dengan citra ini? Munculkan lambang citra diri ini; gambar dan tulis yang kurasakan. (3) Citra orang lain tentang diriku: Orang lain mengharapkan dan menilai aku. Ini bisa terlalu positif atau terlalu negatif. Sadari perasaan apa yang ditimbulkannya dalam diriku. Gambar lambang citra yang positif tentang diriku yang dimiliki orang lain; tulis makna pengalaman ini bagiku di setengah lembar kertas. Dan di setengah yang lain gambar lambang citra yang negatif. (4) Citra diri yang kuimpikan, kudambakan, kurindukan: model impian rahasiaku yang gilang gemilang. Aku memaksa diriku untuk menjadi model ini. Akibatnya aku terhalang untuk menerima diriku seperti adanya dan membuat aku tak puas dengan diriku sendiri. Gambar dan tulis apa yang kualami. Ambil ke-empat lembar kertas di atas. Amati dan kontak semua citra diri itu. Namai, ingat perasaanku tentang masing-masing. Bagaimana aku menilai diriku sendiri? Berdiri dengan mata tertutup. Tinggal dengan kesadaran akan berbagai perasaan dan pikiran yang ditimbulkan oleh model-model tsb. Biarkan tubuhku merasa beban dan keterbatasan model-model itu dan bagaimana mereka membatasi diriku. Biarkan tubuhku bergerak, menggoncang dan melepaskan model-model itu, bisa dengan bunyi. Biarkan model-model yang bukan aku dan dipaksakan padaku ini terbuang lepas. (5) Diriku yang sejati: Duduk tenang. Rasakan betapa bebasnya aku. Terpusat dan tenang. Kontak diriku yang sejati sebagaimana kukenal; tanya: “Apakah gambaran atau model yang realistis untuk dicapai olehku sekarang atau tak terlalu lama lagi? Model yang bisa kuwujudkan, yang terletak dalam batas-batas kemampuanku?” Munculkan gambaran itu dari dalam diriku: amati sikap-sikap, kualitas, perasaan dan ide-ide sehubungan dengan model ini. Nilai apa yang pantas, praktis dan buang apa yang tak berguna. Gambar dan tulis. Tutup mata, bayangkan diriku menjadi model ini. Apa yang kurasakan? Apa yang kurasakan bila aku melihat dunia luar dalam cara yang baru ini? Bayangkan diriku dalam berbagai situasi sehari-hari memiliki dan menindakkan kualitas-kualitas atau sikap model tsb. Tulis pengertian-pengertian yang muncul. -Refleksi: Amati citra-diri yang negatif, pahami bagaimana itu membatasiku. Amati dengan seksama gambaran diriku yang sejati. Apa maknanya bagiku? Apakah kualitas utama gambar ini? Yakinkan bahwa tak ada lagi citradiri negatif yang menyusup. Bagaimana ini bisa terwujud dalam hidupku sehari-hari? Apa yang menghambat terwujudnya gambaran ini? Ingat ini hanya langkah berikut pertumbuhanku. 2) “Apa yang kuperlukan saat ini” -Kegiatan: Bayangkan diriku di padang rumput, sinar terang, bunga wangi. Berjalan di padang, rasakan rumput di kaki. Merasa bahwa akan temukan sesuatu, tak

RetretLoyola/Parakan96/hal. 10 tahu di mana. Kakiku membimbing ke sana dan kutemukan hadiah itu. Amati, bila bisa diambil ambillah; bila tidak, sentuhlah. Lakukan apa yang kuanggap tepat. Ucapkan terima kasih, kembali dan gambar pengalaman itu. -Refleksi: Apa makna hadiah itu? Bagaimana bisa kugunakan dalam hidupku? 3) “Menjadi pelaku dan sekaligus sutradara hidupku” -Kegiatan: Main-peran (role-play) tentang saat negatif dan positif dalam hidup. A. “Situasi atau saat aku disalahmengertikan, dikucilkan atau dipersalahkan tentang sesuatu yang kuanggap tak adil” B. “Situasi atau saat aku merasa sungguh marah pada seseorang” C. “Situasi atau saat aku merasa sungguh-sungguh hebat, karena sesuatu yang kulakukan, atau karena dihargai orang lain”. Aku menjadi sutradara mengatur pentas yang menghadirkan lagi salah satu pengalaman hidupku sehubungan dengan situasi A, B, atau C. Seseorang menjadi diriku. Para pemeran kuatur, kusuruh apa yang harus dilakukan dan dikatakan, bagaimana bergerak dll. -Refleksi: Ada sesuatu yang baru yang kupelajari dari saat itu? Apa ada yang ingin kuubah bila situasi yang sama muncul lagi? Apa ada pilihan-pilihan lain saat itu? Apa yang kuperlukan dalam situasi itu? “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; dan manusia itu menjadi makhluk hidup” (Kej 2:7) “Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia!” (Rom 11:36) “Tak seorangpun dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan: yaitu, Yesus Kristus” (I Kor 3:11). “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:21). BAGIAN KEDUA: DIPANGGIL UNTUK KEBERSAMAAN DENGAN YANG LAIN TUMBUH DALAM

Aku tidak hidup sendirian. Sejak aku lahir aku telah masuk dalam kebersamaan dengan orang lain. Dalam sejarah bangsa Israel tampak bahwa Allah tidak dihayati sebagai Dia yang menyelamatkan orang per orang saja, melainkan terutama sebagai suatu kesatuan Umat Allah. Marilah kini kita bercermin pada pengalaman umat Israel dalam kitab Kejadian. Kitab Suci dapat berfungsi sebagai jendela: melalui kisah KS kita mencoba mencari informasi tentang masyarakat pada jaman dulu itu (siapa nenek moyang bangsa Israel, berapa banyak suku Israel, darimana asal mereka, dll.). Tapi KS dapat juga berfungsi sebagai cermin: dunia dan pengalaman sebagaimana dilukiskan oleh kisah-kisah KS menjadi jembatan untuk mengerti dunia dan pengalaman kita sendiri. Kisah-kisah KS bukanlah hanya tentang orang-orang di jaman dulu, melainkan lebih lagi: tentang diri kita sendiri. Maka metode yang effektif adalah mencoba untuk masuk dalam hati

RetretLoyola/Parakan96/hal. 11 orang-orang itu dan mencoba mengalami apa yang mereka alami; dengan demikian kita akan menjadi Adam, Hawa, Abraham, Ishak, Yakub, Yosef dll. Kita akan mengalami juga apa yang mereka alami dalam pergaulan mereka dengan Allah. A. BERANGKAT DARI KESENDIRIANKU Kendati aku lahir dalam keluarga, dalam masyarakat dll, dalam lubuk hatiku kurasakan kesendirianku: fakta bahwa bagaimanapun juga aku tetap tinggal sendirian. Tak seorang pun dapat menggantikan diriku dalam kelahiran, dalam sakit, dalam senang, dan dalam kematianku. Aku dapat belajar banyak dari pengalaman kesendirian Allah sebagaimana digambarkan dalam Kitab Kejadian. 1. Pengalaman kesendirian Allah (Kej 1): Kita sudah terbiasa dengan kisah tentang Adam dan Hawa hingga kerapkali tidak timbul lagi keinginan untuk mendalaminya. Padahal inilah salah satu kesaksian paling kuno tentang bagaimana orang Israel purba mengalami kehadiran Allah dalam hidup mereka. Kubaca kembali kisah tersebut dengan seksama. Aku coba memasuki jagad batin Allah sang Pencipta dan manusia-manusia pertama yang diciptakanNya dan mencoba menjadikan kisah penciptaan itu sebagai cermin bagi pengalaman pergaulanku. -Hari pertama: dalam kegelapan, Allah menyediakan terang: Pengarang Kej 1 dengan amat lihai mengetengahkan Allah dalam kesendiriannya. Bumi masih kosong tanpa bentuk; kegelapan meraja; dan Roh Allah (bisa diterjemahkan juga “angin besar”) melayang-layang di atas air. Keadaan itu mungkin mengingatkan kita akan pengalaman kita sendiri. Pernahkah kita mengalami kesepian total? Rasa sendiri tanpa teman? Yang melingkupi kita hanyalah kegelapan belaka; kehidupan terasa bagaikan “tanpa bentuk dan kosong”, kacau balau belaka. Bagaimanakah tindakan kita? Allah tak tinggal diam. Dalam keheningan bagaikan di gurun pasir, tiba-tiba bergemalah suaraNya. Perhatikanlah rangkaian kalimat “Berfirmanlah Allah....” (Kej 1:3, 6, 9 dst.) Ia bersabda “Jadilah terang!” Dan terjadilah terang. Allah mengambil inisiatif; ia tak mau tinggal diam dalam kegelapan, kekacauan, dan kesendirianNya. Pernahkah kita mengalami stress berat, depressi yang dalam, sehingga rasa-rasanya tak ada lagi semangat untuk melakukan apa-apa? Tak ada lagi gairah untuk bertemu dengan siapa pun? Bila orang tinggal diam saja, ia akan semakin tenggelam dalam samodera kegelapan dan menjadi satu dengan kegelapan itu sendiri. Justru pada saat inilah penting bagi si orang untuk membangun tekad -juga dalam keputus-asaanNya- untuk keluar dari dalam dirinya untuk menjumpai yang lain. Seorang wanita Jerman yang saya kenal pernah mengalami hal ini. Suaminya meninggal karena kanker; dan tiga bulan kemudian putranya yang berusia 22 tahun diketemukan pada suatu pagi di sebuah lapangan di Munich: tergeletak tanpa nyawa, dengan jarum suntikan di sampingnya, overdosis heroin. Kehidupan si nyonya Jerman hancur total; berbulan-bulan ia tinggal di flatnya saja, tak mau keluar, tak mau menemui siapa pun. Entah bagaimana, tiba-tiba timbul kesadaran bahwa kalau ini diteruskan, ia sendiri akan menemui kematian. Ia mencari jalan keluar yang tepat. Ia mulai membaktikan diri dengan mengunjungi orang sakit, orang tua dan cacat, serta mengerjakan segala macam pekerjaan bagi mereka. Sedikit demi sedikit ia menemukan ketenangan batin dan kebahagiaan; setiap hari ia ke gereja dan tekun

RetretLoyola/Parakan96/hal. 12 berdoa bagi ketenangan jiwa putranya. Boleh dibilang, dengan memancarkan terang ke sekelilingnya, ia menjadi ikut diterangi oleh terang yang muncul dari dalam dan yang makin membesar nyalanya. Inilah nyala cinta; tepatlah kata pepatah “Bermain api, panas; bermain air, basah”. Orang menjadi bagaikan kayu yang dibakar dan akhirnya menjadi bara api itu sendiri. -Hari kedua: dalam ketidakmenentuan, Allah menetapkan cakrawala: Si pengarang kisah membayangkan bahwa di mana-mana ada air tak menentu. Roh Allah melayang-layang tanpa arah di atas air itu. Pernahkah kita mengalami keadaan seperti ini? Air melambangkan kehidupan itu sendiri. Kita melayang-layang tanpa arah dalam kehidupan ini. Semuanya sama saja dan monoton. Selama diri sendiri menjadi pusat hidup, orang hanya akan mengalami kebosanan belaka. Allah keluar dari keadaan itu dengan menetapkan suatu cakrawala pemisah; dengan kata lain, Ia tidak lagi menjadikan diriNya sebagai pusat air, melainkan memindahkan pusat air ke cakrawala: cakrawala menjadi penengah antara air yang di atas dan yang di bawah. Justru dalam ketidakmenentuan hidup, amat berguna bila orang keluar dari egosentrismenya dan menjadikan yang lain sebagai pusat kehidupan. Cakrawala pandangannya akan diperluas, tidak lagi bagaikan katak dalam tempurung. Lebihlebih bila cakrawala yang dipilih itu tidak lagi pada level bumi, melainkan di atas: langit. Cakrawala pandangan orang beriman tidak lagi didasarkan pada hal-hal duniawi belaka, melainkan sorgawi. Kata Yesus: “Carilah lebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu!” (Mt 6:23). Standard kita dalam hubungan dengan orang lain, bukanlah sembarangan saja, melainkan Allah sendiri. Sabda Yesus: “Jadilah sempurna seperti Bapamu di sorga” (Mt 5:48); seperti Dia yang menerbitkan matahari dan menurunkan hujan baik bagi yang jahat maupun yang baik. -Hari ketiga: dalam kekosongan, Allah mengisi: Pada tahap ini kelihatanlah dinamika gerakan dari kekosongan ke keterisian. Tadinya hanya kelihatan air belaka di bumi; kosong melompong. Allah kemudian mengumpulkan air di satu tempat sehingga kelihatanlah tanah kering. Tanah yang kering dan kosong kemudian diisi dengan tetumbuhan. Orang yang pernah berlayar jauh akan merasakan betapa gembiranya melihat daratan; terus menerus berada di atas laut tanpa melihat daratan menimbulkan kekosongan hati. Pernahkah kita merasakan kekosongan dalam kehidupan ini? Banyak kejahatan muncul dalam pengangguran; bukan sekedar karena orang yang nganggur tak punya pendapatan, tapi karena keadaan kosong kegiatan itu membunuh harga diri seseorang. Sudah sering terjadi bahwa orang yang baru saja pensiun justru mengalami stress berat dan stroke. Tibatiba ia harus berhadapan dengan hidup yang kosong, apalagi kalau sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Secara spontan, orang-orang tua menjadi amat penuh perhatian kepada sesuatu yang tadinya tak pernah diperhatikan. Kakek dan nenek bisa menjadi lebih penuh kasih sayang daripada terhadap anak-anaknya sendiri. Pastor-pastor semakin tua semakin merasakan butuh semacam “klangenan”: burung, anjing, dll. yang jauh lebih disayang daripada umat parokinya sendiri! Terapi effektif bagi orang yang sudah bosan hidup adalah menanam tumbuh-tumbuhan. Namun orang semakin tua juga menjadi semakin “nyusuh”; segala macam barang dikumpulkan, meskipun menurut kita tak penting lagi. Di sinilah pentingnya orang mawas diri, dengan apakah atau dengan siapakah kita mengisi kekosongan hati kita ini?

RetretLoyola/Parakan96/hal. 13

-Hari keempat: dalam ketidakteraturan waktu, Allah menentukan musim dan tahun: Dengan adanya tetumbuhan, dengan adanya kehidupan yang bertumbuh, mau tak mau waktu menjadi suatu dimensi kehidupan. Banyak problem muncul bila orang mengalami ketakjelasan dalam soal waktu. Orang tua yang sudah terbiasa dengan jam yang pakai jarum akan merasa bingung dan kehilangan orientasi sehari-hari bila harus pakai jam digital. Dengan posisi jarum, jelas bagi dia posisi dia dalam konstelasi waktu; namun bagi dia, angka-angka digital tak punya arti apa-apa. Orang tak bisa hanya mandeg dalam salah satu dimensi waktu saja. Terlalu terpancang pada masa lampau, orang menjadi romantis dan melankolis, penuh nostalgia akan yang lalu-lalu saja. Dalam pergaulan, orang atau hanya hidup dalam rasa salah dan dosa pribadi atau selalu mengingat kesalahan orang lain saja. Terlalu terpancang pada masa kini, orang menjadi hiperaktif, mau serba cepat, jalan pintas, cari kepuasan sesaat saja. Dalam pergaulan, orang cenderung menggunakan orang lain untuk kepentingan sendiri, “oportunist”; “habis manis, sepah dibuang”. Terlalu terpancang pada masa depan, orang menjadi pelamun dan pemimpi. Dalam pergaulan, orang akan terlalu menuntut baik dari diri sendiri atau dari orang lain, serba tak puas, selalu mengeluh. Ketiga dimensi waktu lalu, sekarang, dan yang akan datang haruslah secara seimbang memenuhi perhatian orang: penuh iman (unsur masa lalu), cinta (masa kini), dan harapan (masa yang akan datang). -Hari kelima: dalam kebekuan, Allah menciptakan gerak: Telah ada terang, ada cakrawala (langit), ada laut dan darat serta tetumbuhan, ada matahari bulan dan bintang, namun bila diamati dengan baik, semuanya serba statis. Tetumbuhan tak bisa bergerak, tetap di tempatnya. Gerak laut serba teratur itu-itu juga, begitu pula matahari, bulan dan bintang. Baru dengan adanya binatang di darat, laut, dan udara, terjadilah gerak yang dinamis. Perhatikan ungkapan-ungkapan yang mengungkapkan gerak: “berkeriapan”, “beterbangan”, “melintasi”, “bergerak”, “hidup”, “melata”, “liar”. Kebekuan alam semesta merupakan cermin kebekuan hati manusia. Bagaimanakah keadaan hati kita sendiri? Ketika di Roma dulu, ada seorang professor saya yang selalu turun ke bawah untuk menonton televisi lewat larut malam, setelah sepanjang malam bekerja di perpustakaan membaca buku-buku. Ia bilang, “Saya perlu melihat sesuatu yang bergerak dahulu sebelum bisa tidur dengan nyenyak!”. Saya heran, setiap kali berada di dalam pesawat selalu ada saja bayi yang menangis keras; padahal di bis jarang sekali saya melihat hal itu. Bagi si bayi, pesawat itu diam saja; dan dalam kediaman, si bayi merasa tak aman; sedangkan dalam gerak, si bayi justru merasa tentram! Kita perlu mengetahui keadaan batin kita sendiri, menyadari dan menerimanya, serta mengetahui dengan tepat apakah yang dapat mencairkan kebekuan hati kita. -Hari keenam: dalam kesendirianNya, Allah menciptakan partner yang sepadan: Kendati semua itu, Allah tetap tinggal sendirian tanpa teman. Sampailah saatnya Allah merasakan bahwa Ia tidak puas dengan semua yang telah diciptakanNya, meskipun berulang kali dikatakan bahwa “Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (Kej 1:4, 10, 12, 18, 21, 25). Ia kemudian menciptakan manusia; pentinglah ungkapan pengarang bahwa manusia diciptakan seturut “gambar dan rupa” Allah sendiri (Kej

RetretLoyola/Parakan96/hal. 14 1:26-27). Dengan ini mau dikatakan, bila Allah melihat manusia, Ia seperti bercermin melihat diriNya sendiri. Marilah kita tengok hati kita sendiri. Berapa banyak benda dan kegiatan kita cari dan kumpulkan karena mengira bahwa dengan demikian kesepian hati kita akan terobati. Namun kita tak akan pernah puas kecuali bila kita menemukan seorang sahabat yang sepadan, yang setingkat dengan kita. Binatang saja tak akan pernah mengisi kesepian ini secara total. Baru dengan adanya manusia, Allah bisa melihat bahwa segala yang dijadikanNya itu “sungguh amat baik” (Kej 1:31: tekanan pada kata “sungguh amat”), dan bukan sekedar “baik” saja. Kisah penciptaan model I (Kej 1), menurut para ahli, berasal dari jaman yang lebih kemudian daripada kisah model II (Kej 2). Model I menggambarkan Allah yang jauh; sedangkan Model II lebih menggambarkan Allah yang dekat. Ia digambarkan sebagai berjalan-jalan di taman tempat manusia pertama tinggal, dan bergaul dengan manusia, serta berdialog dengan mereka (Kej 3:8). Bahkan Model II menggambarkan bahwa manusia diberi “napas” Allah sendiri yang membuat mereka hidup (Kej 2:7). -Hari ketujuh: kepenuhan diri Allah merupakan berkat: Baru setelah ada manusia yang seturut “gambar dan citra”Nya sendiri, baru setelah semuanya dilihat “sungguh amat baik”, Allah beristirahat. Artinya Allah sudah menemukan apa yang didambakanNya; Ia telah keluar dari kesepianNya. Hari istirahat itu merupakan satu-satunya hari yang diberkati Allah. Karena itu bagi orang Yahudi, hari ketujuh (Sabbat) adalah hari khusus di mana mereka secara penuh berkontak dengan Allah. Hari Sabbat bagi mereka menjadi jendela yang menghubungkan dunia dan sorga, manusia dan Allah. Bila kita dipenuhi oleh pengalaman bersahabat dengan orang lain, kita juga akan menjadi berkat bagi seluruh umat manusia. 2. Manusia yang mempertahankan kesendiriannya (Kej 2-4): Menarik sekali kisah ketika Allah mencoba memberikan “penolong yang sepadan” kepada manusia karena menurut Allah, “Tak baik kalau manusia itu seorang diri saja” (Kej 2:18). Diciptakanlah segala macam binatang, namun tak ada penolong yang sepadan bagi manusia. Penolong itu ternyata diciptakan Allah dari rusuk manusia, yaitu perempuan; kata “sepadan” digambarkan oleh “tulang rusuk”, dan bukan tulang kepala (berarti “di atas”) dan bukan juga tulang kaki (berarti “di bawah”). Kesetaraan yang digambarkan dalam hubungan antara Allah dan manusia diwujudkan juga dalam hubungan antar manusia. Secara puitis digambarkan bahwa pria dan wanita menjadi “satu daging” (Kej 2:24). Selama Allah sendiri yang menjadi penentu dan pemegang kriteria baik dan buruk, manusia bahagia: mereka telanjang, tapi tak merasa malu (Kej 2:25). Namun begitu mereka menyangsikan kejujuran kata-kata Allah (godaan ular dalam Kej 2:4 melawan perintah Allah dalam Kej 1:17) dan menjadikan diri mereka sendiri sebagai penentu dan pemegang kriteria buruk dan baik, keadaan mereka berubah: mereka tahu bahwa mereka telanjang (Kej 3:7). Mereka mulai menganggap yang lain sebagai musuh: Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan si ular. Kesetaraan antara pria dan wanita menjadi “njomplang”: si istri akan berahi terhadap suami, dan suami akan menguasai istri (Kej 3:16). Bahkan hubungan dengan alam semesta pun berubah: tanah menjadi terkutuk, manusia harus berjerih payah untuk mendapatkan makanan (Kej 3:17-19). Sejak itu kisah hubungan antar manusia diwarnai oleh irihati dan pembunuhan (Kain dan Habel) serta balas dendam, bukan lagi sekedar 7 X lipat (Kej 4:15: bagi

RetretLoyola/Parakan96/hal. 15 yang membunuh Kain), melainkan 77 X lipat (Kej 4:24: bagi yang melukai Lamekh). Kejahatan merajalela dalam jaman Nuh (Kej 6). Ketika umat manusia mau dibasmi habis oleh Allah, Nuh diam saja; sedangkan baru dengan Abraham ada yang berani membela nasib orang lain (Kej 18:16-33). B. MENUJU SIKAP BERSAHABAT TANPA AKHIR Aku diajak keluar dari kesendirianku menuju suatu kehidupan dalam kebersamaan dengan orang lain. Persahabatan merupakan tema yang aktual dan penting bagiku. Kuamati lebih cermat lagi tema ini. “Bersahabat”: Yang dikatakan dalam judul adalah “Bersahabat tanpa akhir”. Apakah bedanya dengan “Persahabatan”? “Persahabatan” adalah sebuah kata benda. Ini menunjuk pada suatu keadaan, suatu situasi, suatu wilayah hidup; dan diandaikan situasi tadi sudah tercapai, dengan kata lain: suatu hasil. Padahal rumusan judul adalah “Bersahabat”. Ini adalah kata kerja; lebih menunjuk pada suatu sikap batin dan sekaligus juga suatu tindakan nyata yang diandaikan keluar dari dalam diri kita sendiri dan ditujukan kepada pihak yang lain. Jadi rumusan ini lebih menuntut sesuatu dari pihak kita. Ada bahaya bila kita lebih berpegang pada kata benda “persahabatan”, kerapkali ini dianggap seakan-akan berada di luar diri kita; dan kesan yang ditimbulkan memang lebih statis: kita memiliki, mengalami persahabatan. Padahal kalau berpegang pada kata kerja kita akan lebih aktif dan dinamis: kita sendirilah yang dituntut untuk keluar dari kepuasan diri kita dan kesendirian kita untuk menyapa yang lain dalam semangat bersahabat. Kerap kali orang mengeluh bahwa kita tidak memiliki seorang sahabat pun. Namun ketika orang tersebut ditanya, “Apakah kamu menjadikan dirimu sahabat bagi yang lain?” Pertanyaan ini membingungkan dia, karena memang tak pernah ia pikirkan bahwa ia harus mulai dulu dari dirinya sendiri. Kita semua kenal kisah orang Samaria yang berbaik hati. Namun ada satu detail kecil yang kerap tak dilihat oleh banyak orang, padahal amat penting. Ketika Yesus mengatakan kepada seorang ahli Taurat bahwa perintah utama adalah mengasihi sesama manusia sebagaimana diri sendiri, si ahli Taurat bertanya: “Siapakah sesamaku manusia?”; dengan kata lain: sesama dimengerti sebagai orang kepada siapa aku harus mencinta. Sesama di situ adalah “obyek” (pelengkap penderita). Sehabis bercerita Yesus bertanya: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” (Lk 10:36). Sesama oleh Yesus diartikan sebagai “subyek” (pelaku aktif). Jadi titik pusat Yesus adalah “menjadikan diriku sesama bagi yang lain”, dalam konteks persahabatan: “menjadikan diriku sahabat bagi yang lain”. “Tanpa akhir”: Kata sifat “tanpa akhir” dalam rumusan itu dapat diartikan bermacam-macam. Memang kesan pertama yang timbul adalah soal waktu. “Tanpa akhir” diartikan sebagai tanpa batas waktu, terus menerus, selama-lamanya. Yang diinginkan adalah suatu sikap yang bukan sementara, kadang-kadang saja, musiman, kalo lagi seneng aja, melainkan suatu sikap yang konsisten, terus menerus, bahkan selama-lamanya, Amin. Mazmur-mazmur bicara tentang kesetiaan kekal Allah; menurut Paulus Ia tetap setia meski kita tak setia (II Tim 2:13). Namun istilah itu dapat juga ditinjau dari sudut ruang: di sini yang dilihat adalah suatu sikap yang tidak lagi terbatas pada ruang

RetretLoyola/Parakan96/hal. 16 tertentu, tak kenal lagi istilah “jauh”. Orang Inggris punya pepatah: “Out of sight, out of mind”. Hanya manusia saja yang bisa memahami makna pepatah ini. Komputer akan sulit mengerti. Pernah ada seorang ahli yang merancang komputer penterjemah yang canggih dalam bahasa mana pun juga. Komputer tadi lalu dicoba dalam bahasa Inggris dan Cina. Ketika pepatah tadi dimasukkan, komputer mengeluarkan serentetan huruf-huruf Cina. Yang menguji bertanya, “Lah, bagaimana saya mengerti bahwa terjemahan ini benar?” Sang ahli bilang “Gampang, masukkan lagi ke komputer supaya diterjemahkan lagi dari Cina ke Inggris!” Alhasil, ketika dimasukkan, kalimat yang keluar dari mulut komputer adalah “Invisible Idiot”. Jadi “out of sight” diterjemahkan sebagai “invisible”, sedangkan “out of mind” sebagai “idiot”. Orang Indonesia punya pengalaman yang sebaliknya: “Jauh di mata, dekat di hati”. Paulus bicara tentang hal yang sama ketika mengatakan bahwa oleh darah Kristus, semua yang dahulu “jauh” sudah menjadi “dekat” (Ef 2:13). Oleh damai sejahtera, yang adalah Kristus sendiri, tembok pemisah, atau permusuhan, telah dirobohkan, sehingga tak ada lagi jarak di antara kita. Selain dari sudut waktu dan ruang, kata sifat “tanpa akhir” dapat juga diterapkan secara simbolis kepada kenyataan-kenyataan batin kita. Kata “tanpa akhir” bisa diterjemahkan menjadi “tanpa pandang bulu”. Sikap bersahabat yang dituntut dari kita adalah sikap yang tidak didasarkan pada perbedaan SARA: entah kaya entah miskin, entah Kristen entah Islam, entah Jawa entahBatak, entah golkar entah PPP atau PDI. Boleh dikatakan bahwa “tanpa akhir” diartikan sebagai “universal”, dan inilah arti kata “Katolik”. Paulus bicara tentang hal yang sama kepada umat di Galatia: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Itulah pemahaman yang diharapkan dari tema kita. Yang ingin diharapkan dari kita adalah suatu sikap batin dan tindakan nyata bersahabat terhadap, meminjam iklan Coca Cola yang udah beken, “siapa saja, kapan saja, dan di mana saja”! Mungkin ada yang ingin protes, lah kok saya begitu dituntut untuk bersikap bersahabat terhadap orang lain. Seharusnya, orang lainlah yang harus dituntut untuk bersahabat terhadap kita! Ada satu alasan praktis mengapa tuntutan orang ini sulit terpenuhi: kita tidak menguasai orang lain, orang lain itu bebas, yang kita kuasai adalah diri kita sendiri. Maka sulit sekali mulai dari orang lain, kita harus mulai dari diri kita sendiri. Namun mungkin masih ada sanggahan lagi: lah kalau tak ada balasan? Tawaran dalam kebebasan: Satu hal harus dipegang teguh dalam hal ini. Fakta bahwa orang lain itu bebas; tak dapat dan tak boleh kita dikte, kita paksa, lebih-lebih dalam bersahabat. Ada anak datang pada saya dan mengeluh: “Saya bersikap bersahabat terhadap si A, saya buka seluruh diri saya (tentu saja bukan secara badani, tapi secara batin!). Ternyata ia menyembunyikan sesuatu terhadap saya. Saya marah dan pergi kepadanya serta protes: ‘Aku terbuka kepadamu, kok kamu nggak terbuka sama aku?!’”. Mendengar ini saya merasa sekaligus kasihan dan geli. Kasihan, karena memang itulah nasib yang dialami orang kalau sikap bersahabatnya hanyalah bertepuk sebelah tangan. Geli, karena saya sadar bahwa kita tak pernah bisa menuntut apalagi memaksa orang lain bersikap baik kepada kita hanya karena kita bersikap baik kepadanya. Kita harus bisa bersikap lapang dada, menerima kenyataan bahwa sikap bersahabat kita hanyalah merupakan tawaran, ajakan, dan undangan yang kita kirimkan kepada orang lain, dan terserah kepada yang bersangkutan mau menanggapi dengan baik atau tidak. Kalau

RetretLoyola/Parakan96/hal. 17 saya mengeluh pada seorang teman, bahwa ada orang yang menolak tawaran persahabatan saya; teman tadi akan berkata: “Biarin aja, rugi dia nggak mau kenal kamu!” Bila kita mengenal dan menerima diri kita sendiri maka kita tidak akan menjadi rendah diri, down, dsb., bila ada yang menolak kita. Kita bisa berkata (sedikit sombong memang kelihatannya, tapi tak apa, seperti orang muda yang berkata “Biar sombong, asal keren!”): “Yah, rugi lu kagak mau kenal gue!” (Tentunya, cukup dikatakan di dalam hati saja!). Dasar sikap bersahabat: keberhargaan diri dan optimisme akan hasil positif: Jadi sikap kita mau bersahabat itu selain didasarkan pada kerelaan hati bahwa yang lain itu bebas menerima atau menolak kita, didasarkan juga pada keyakinan teguh bahwa kita itu cukup berharga untuk dijadikan sahabat. Ada sesuatu yang dapat kita berikan kepada yang lain. Namun jangan bersikap seperti orang yang memberikan makanan kepada yang lain karena ia sendiri tidak suka. Bila demikian, diri kita hanya akan menjadi beban. Ketika saya masih menyusun disertasi di Cambridge, saya begitu mementingkan waktu studi saya hingga tak mau ikut makan bersama di kolese; atau pun kalau ikut makan, sehabis makan, langsung saya buru-buru masuk ke kamar saya. Lalu ada seorang mahasiswa Amerika yang protes. Ketika saya jawab bahwa saya tidak memerlukan yang lain, dan lebih penting belajar, ia bilang: “Tapi kamu merampas sesuatu dari mereka!” Saya heran “Lho kok gitu?!” Ia menjawab: “Setiap orang punya kekayaan masing-masing, kalau kamu tak memberi kesempatan mereka mengenal kamu, itu berarti kamu merampas dari mereka kekayaan yang seharusnya dapat mereka miliki darimu!” “Bener juga nih!” saya pikir. Kita masing-masing ini berharga, lho! Hendaknya kita renungkan kata Allah kepada Israel: “Engkau berharga di mata-Ku, dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau” (Yes 43:4). Bila Yesus sendiri sudi menyebut diri kita sahabat-sahabatNya (Yoh 15:14), apalagi “seharusnya” orang lain! Dengan penuh keyakinan saya berani berkata bahwa “Seluruh umat manusia akan dirugikan kalau anda tak mau menjadikan diri anda sahabat bagi yang lain!” Almarhum Pater Anthony de Mello, seorang Yesuit India yang terkenal dengan kumpulan-kumpulan cerita dari berbagai khasanah, mengatakan dalam buku latihan doanya bahwa “Sebelum anda mulai suatu latihan, anda harus menerapkan sikap batin ini: anda melaksanakan latihan ini bukan demi diri anda sendiri melainkan demi kesejahteraan seluruh alam ciptaan, anda sendiri merupakan bagian dari ini, dan setiap perubahan yang anda alami akan bermanfaat bagi dunia!” (Wellsprings, xivxv). De Mello hanya menerjemahkan kata-kata St. Ignatius; setiap latihan dalam Latihan Rohaninya dimulai dengan doa untuk “Mohon rahmat kepada Tuhan kita supaya semua maksud, perbuatan dan pekerjaanku diarahkan melulu guna pengabdian dan pujian kepada Allah yang Mahaagung” (LR 46). Ini semua mengandaikan bahwa masing-masing orang itu punya arti dan peranan dalam peningkatan kesejahteraan umat manusia dan karenanya dalam pengabdian dan pujian kepada Allah Pencipta, Penyelamat dan Pengudus umat manusia. Tanpa rasa berharga ini, kita akan menjadi seperti pengemis yang mengemis belas kasihan persahabatan; dan bila demikian, kita akan menjadi orang yang menjengkelkan. Selain ada keyakinan teguh akan keberhargaan kita, ada juga keyakinan teguh bahwa perbuatan yang baik akan membawa buah yang baik juga. Sikap dan tindakan kita yang positif akan merangsang orang lain untuk berbuat yang sama kepada kita. Istilah dalam esoterisme adalah “Yang serupa menarik yang serupa” (Inggrisnya: Like attracts like). Ketika mengutus murid-muridNya, Yesus berkata: “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan

RetretLoyola/Parakan96/hal. 18 jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu” (Lk 10:5-6; lihat juga Mt 10: 12-13). Damai sejahtera digambarkan sebagai bola pingpong yang bisa dilontarkan dan dikembalikan ke sana ke mari. Saya suka bicara tentang energi. Energi positif dari para murid (yang telah diterima dari Yesus) ditawarkan kepada orang, dan bila orang tersebut juga memiliki energi positif, maka yang positif dari para murid itu akan menyatu dengan yang dimiliki oleh orang tsb. Namun bila suatu rumah lebih dikuasai oleh percekcokan, kebencian, irihati, ketakutan, katakanlah, energi negatif, maka energi positif dari para murid akan “mendal” kembali ke pengirimnya. Sebaliknya, nah kita mulai masuk dalam dunia persantetan, energi negatif yang dikirim orang tidak akan berpengaruh dan akan “mendal” kembali ke pengirimnya bila yang dituju itu penuh dengan energi positif (penuh iman, kebaikan hati, cinta kasih dll). Tiga kawasan sikap bersahabat: diri sendiri, orang lain, Allah: Sejak tadi tentunya anda perhatikan bahwa segala pengalaman kita tentang persahabatan dapat diterangi oleh kisah-kisah dalam Kitab Suci, entah itu Perjanjian Lama maupun Baru. Uraian saya tadi sudah menyinggung tiga kawasan sikap bersahabat: terhadap diri sendiri (keyakinan akan keberhargaan kita dan akan hasil sikap dan tindakan kita yang positif), terhadap diri orang lain (kerelaan hati untuk menerima kebebasan orang lain), dan terhadap Tuhan. Ketiga kawasan ini saling berkaitan satu sama lain serta saling mengandaikan. Mana yang lebih dahulu dialami oleh seseorang akan tergantung pada pengalaman pribadi ybs. Ada yang mulai dari cinta diri, ada yang dari cinta Tuhan, ada yang dari cinta orang lain. Namun pada dasarnya dapat dikatakan dengan Romo Pius Budiwijaya, OCSO: “Persahabatan ilahi merupakan pola dan sumber bagi persahabatan manusia sejati” (Saat-saat Manis Persahabatan, hal. 22) dan “Persahabatan sejati ialah: kontinuitas penjelmaan kasih sayang Allah yang mengarungi sejarah, ruang dan waktu untuk mencari yang hilang, memelihara yang telah ketemu dan terkumpul kembali.” (ibid., hal. 24). Pada umumnya, orang yang mengalami betapa ia dikasihi oleh seseorang sahabat akan menjadi lebih mudah bersikap bersahabat. Saya pernah kenal seseorang yang mukanya, amit-amit, buruk sekali. Namun ia tidak minder, dan di mana saja ia akan berkata: “Saya tahu, menurut anda semua, saya ini jelek. Tapi bagi ibu saya, saya ini ganteng sekali!” Bagi si jelek tadi, pengalaman bahwa ia dicintai ibunya, diterima dengan baik, membuat ia merasa berharga dan merasa aman. Dalam hidup bersama banyak komunikasi yang tak terungkapkan, negatif maupun positif. Apa yang tak terucapkan tetap ada, implisit tapi mempengaruhi relasiku dengan orang lain. Latihan-latihan berikut memperkaya kemampuan kita untuk berhubungan dengan orang lain. 1) “Mengungkapkan dan menerima kekecewaan, penghargaan dan permohonan”: -Kegiatan: Duduk dalam lingkaran dan masing-masing peserta ungkapkan perasaan apapun terhadap seseorang: penghargaan, rasa kecewa atau jengkel, maupun permohonan. Bila bicara ia melihat langsung pada orang yang dituju, mulai dengan menyebut nama orang tsb. dan diikuti dengan komunikasinya, mis. : “Sarimin, aku jengkel karena kamu selalu pinjam pensilku tapi lupa mengembalikannya!” Yang

RetretLoyola/Parakan96/hal. 19 menerima komunikasi tidak menjawab; ia hanya menerima dan memasukkannya dalam hati. Tak ada pembelaan diri atau pengingkaran. -Refleksi: Dapat diterima bahwa aku membiarkan perasaan dan kebutuhanku diketahui orang lain, namun ini tak berarti aku setiap kali mendapat apa yang kuinginkan. Aku punya pilihan bagaimana menanggapi kebutuhanku dan kebutuhan orang lain. 2) “Belajar lewat konflik” -Kegiatan: Pilih suatu konflik yang terjadi dalam kelas. Satu grup pengamat dan satu grup pelaku. Grup pelaku memperagakan situasi konflik. Masing-masing ungkapkan perasaan ttg. itu. Grup pengamat menanyai grup pelaku yang menjawab sesuai peranannya. Kedua grup membicarakan bagaimana situasi dapat diubah. Dan grup pelaku menampilkan situasi baru itu. -Refleksi: Langkah-langkahnya: mengidentifikasi konflik, mengamati sebabsebabnya, meninjau sikap-sikap alternatif untuk atasi konflik. Latihan ini mengembangkan ketrampilan komunikasi dan empati. 3) “Memahami orang lain dengan lebih baik” -Kegiatan: Duduk tenang. Pilih suatu kejadian hidupku yang tak enak, menjengkelkan, peristiwa kesalahpahaman antara aku dan orang lain. Hidupkan kembali dalam imaginasiku sekonkret mungkin. Sadari apa yang kurasakan dalam situasi itu. Amati orang lain itu sejelas mungkin: penampilan, kata-kata, perasaan. Hidupi lagi. Kemudian lepaskan: tarik napas, keluarkan napas seiring dengan bayangan ingatan itu. Hidupkan lagi situasi itu. Namun aku menjadi orang lain tsb. Bagaimana rasanya? Bagaimana hidup sebagai orang itu? Hidupkan tindakan, kata, perasaan dari sudut orang tsb. Bila selesai, jadi diriku lagi. -Refleksi: Apakah aku bisa merasa bagaimana situasi itu dari sudut pandang orang lain? Dapatkah aku memahami orang lain itu dengan lebih baik sekarang? Apa yang dapat aku pelajari dari hal ini? Apa yang kurasakan kini tentang itu semua? BAGIAN KETIGA: DIUTUS DALAM KEBERSAMAAN A. BERANGKAT DARI PERSAHABATANKU DENGAN ALLAH 1. Allah yang mencinta dan memanggil (Model pengalaman Daud) Daud digambarkan sebagai raja yang punya bakat musik (1 Sam 16:16-18), bakat puitis (2 Sam 1:19-27; 3:33-34), dan cinta akan liturgi (2 Sam 6:5, 15-16). Karena itu tentunya bukan tanpa alasan bahwa kumpulan mazmur dianggap berasal dari tangan Daud sendiri, dia yang “menyanyikan nyanyian Israel” (2 Sam 23:1). Dalam renungan retretnya tentang Daud, Kardinal Martini mengambil Mz 63 sebagai nada dasar kisah Daud; di situ digambarkan kerinduan Daud yang mendalam akan Allah: “aku mencari Engkau, jiwaku haus kepadaMu”. Memang hidup Daud diwarnai oleh cinta akan Allah. Namun, menurut Kardinal Martini, asas dan dasar kisah Daud, kunci rahasia untuk memahaminya bukanlah cinta Daud ini, melainkan cinta Allah kepada Daud. Mz 18 diawali dengan kalimat “Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, kekuatanku” sedangkan dalam versi yang lebih awal dari Mz 18 sebagaimana terdapat dalam II Sam 22:2, kalimat itu tak ada, dan yang langsung kita temui adalah “Ya, Tuhan, bukit

RetretLoyola/Parakan96/hal. 20 batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku”. Dalam Kidung Agung, si pemuda disebut dalam bahasa Ibrani “Dod” (Kekasih) atau “Dodi” (Kekasihku); huruf-huruf Ibrani itu sama untuk nama Daud. Yohanes (yang disebut juga “murid yang dikasihi Yesus”, Yoh 13:23) punya pengalaman yang sama juga ketika ia menulis dalam suratnya: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita...” (I Yoh 4:10). Kita dapat mengamati bahwa Allah yang mencinta itu mengambil inisiatif dengan memilih dan memanggil Daud. Kisah panggilan Daud ini rupanya begitu unik sehingga digambarkan dengan tiga versi: 1) Allah memilih secara khusus (I Samuel 16:1-13): Dari semua putra Jesse, yang dipilih oleh Allah untuk menjadi raja justru orang yang menurut pandangan manusiawi tak pantas jadi raja yang harus memimpin perang. Bandingkan dengan Saul yang dipilih orang banyak karena “dari bahu ke atas ia lebih tinggi” daripada laki manapun di Israel (I Sam 9:2). Sedangkan Daud “kemerahmerahan, matanya indah dan parasnya elok” (I Sam 16:12). 2) Allah bekerja dalam hal yang kebetulan (I Sam 16:14-23) Secara kebetulan saja raja Saul yang sedang terganggu jiwanya mendengar tentang bakat musik Daud dan ia menyuruh orang membawa Daud ke istana. Situasinya tampak kebetulan saja, namun bagi orang beriman tak ada istilah “kebetulan”, Allah bekerja pula dalam situasi itu. 3) Allah memanggil dan yang dipanggil berani ambil resiko (I Sam 17:12-39) Dalam kekalutan serdadu Israel karena kekalahannya dari orang-orang Filistin, lebihlebih karena keganasan Goliath, Daud datang kebetulan saja karena membawakan makanan bagi kakak-kakaknya. Daud merasa tersentuh, karena Allahnya dihina. Daud berani ambil resiko kehilangan nyawanya demi membela nama Allahnya. Inilah saat Daud sungguh-sungguh menerima secara penuh pilihan cinta dan panggilan Allah. 2. Allah yang mengutus dan mendampingi (Model pengalaman Musa) Tentang Musa dikatakan bahwa Tuhan berbicara kepadanya “berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya” (Kel 33:11). Terhadap nabi-nabi lain, Allah mewahyukan diriNya lewat penglihatan dan mimpi, sedangkan terhadap Musa, Allah berbicara “dari mulut ke mulut”, terus terang, tanpa teka-teki, dan ia memandang rupa Allah (Bil 12:68). Namun privilese ini tidak sembarangan saja diperoleh oleh Musa. Ia membayar mahal untuk itu. Sukses Musa membawa umat Israel keluar dari Mesir, bukanlah karena kehebatannya melainkan karena kerjasamanya dengan Allah. Semak yang terbakar namun tak dimakan api merupakan lambang bahwa Musa menghadapi tugas berat, namun tugas itu tidak akan memusnahkannya. Dapat kita amati perjuangan Musa dalam menjawab panggilan Allah itu dalam tiga tahap: 1) Periode keragu-raguan (Kel 3-4) Perhatikan bagaimana Musa berusaha kuat untuk menolak panggilan Allah, terhadap perintah Allah ia selalu menjawab: “Tetapi ..., tetapi ....” (Kel 3:11: “Tetapi, siapakah aku ....”; Kel 3:13: “Tetapi, ..., bila mereka bertanya kepadaku...”; Kel 4:1: “Bagaimana kalau mereka tak percaya kepadaku ...”; Kel 4:10: “Ah, Tuhan, aku tak pandai bicara”; Kel 4:13: “Ah, Tuhan, utuslah orang lain saja”). 2) Periode penerimaan (Kel 4-14) Perhatikan bagaimana Musa taat menyampaikan segala perintah Allah meskipun kadang ia mengeluh juga bila menghadapi kegagalan: Kel 5:22: “Mengapa Engkau

RetretLoyola/Parakan96/hal. 21 mengutus aku?”. Coba amati Kel 17:1-7 dan Bil 11:10-17. “Apa yang harus kuperbuat, mereka nyaris membunuh aku? (Kel 17:4) dan “Mengapa Engkau meletakkan beban tanggung jawab atas rakyat ini di atas pundakku saja?” (Bil 11:11). 3) Periode “partnership” dalam kesetaraan Allah tidak puas dengan Musa yang hanya membebek saja. Ia menuntut Musa untuk tumbuh. Ia mengutus Musa untuk menjadi seperti Allah sendiri bagi Firaun dan Aaron sebagai nabinya (Kel 7:1). Musa datang dengan kuasa dan sabda Allah sendiri dan Musa harus bertindak tegas sesuai dengan kedudukannya itu; Allah tak puas dengan sahabat yang lemah, serba tergantung, seruannya seakan-akan adalah “Bertindaklah!”, “Bila kamu menunggu-nunggu sampai kamu siap, kamu tak akan berbuat apa-apa akhirnya!” Dan Musa memang menjadi lebih nekad, bahkan terhadap Allah sendiri. Musa berani berkata kepada Allah, “Tidak, Engkau tak boleh berbuat demikian ...”. Dalam Bil 14:11-12 justru Allah yang mengeluh tentang umatNya dan ingin memusnahkannya, namun Musa membela rakyatnya dan “menasehati” Allah agar tidak bertindak demikian demi kebesaran nama Allah sendiri. Dalam Kel 32:9-14, Musa berani marah dan bertindak tegas menghadapi umat Israel yang menyembah berhala. Meditasi terpimpin: Setelah duduk hening, napas dalam dan panjang, merilekskan tubuh, silahkan pilih dari antara kedua tokoh itu manakah yang paling mengesan: 1) Daud: kita mengalami cinta Allah juga dalam hal-hal yang kebetulan, dan berani menanggung resiko menjawab panggilanNya itu. 2) Musa: kita mengalami juga periode-periode hubungan Musa dengan Allah: keraguan, penerimaan, kesetaraan. B. MENUJU PANGGILAN MENJADI MURID YESUS 1. Allah mewahyukan diriNya kepadaku dalam diri Yesus Kristus: Allah mewahyukan diriNya kepada umat manusia dalam berbagai cara. Secara khusus ia mewahyukan diri melalui sejarah bangsa Israel. Dalam diri Yesuslah pewahyuan Allah mencapai kesempurnaan. Yesus menyatakan kepadaku siapakah Allah itu dan apakah rencana keselamatanNya, melalui hidup, wafat dan kebangkitanNya serta melalui kata dan perbuatanNya. Kitab Suci, khususnya PB, merupakan sarana istimewa untuk mengenal Yesus. 2. Diri Yesus tak dapat sekaligus dimengerti secara menyeluruh Orang-orang yang hidup bersama Yesus dan komunitas kristiani pertama harus bertumbuh dalam pengertian akan Yesus. Pembentukan Injil melewati tahap-tahap: periode Yesus dari Nazaret, periode setelah Paska, periode penulisan Injil. Injil merupakan ringkasan “kenangan akan Yesus” yang ditulis dengan latar belakang situasi dan keprihatinan konkret suatu komunitas kristiani yang menjadi tujuan penulisan Injil (karenanya ada 4 Injil): Injil Markus (65-70 M) ditulis untuk orangorang non-Yahudi yang bertobat menjadi kristen dan dipusatkan pada pertarungan iman dalam hidup yang penuh pergulatan dan penderitaan; Mateus (80-90 M) ditulis untuk komunitas kristen-Yahudi dan dipusatkan pada bagaimana membentuk gereja sebagai komunitas umat Allah berdasarkan nilai-nilai Yesus; Lukas (85-95) ditulis

RetretLoyola/Parakan96/hal. 22 bagi orang kristen-non Yahudi dalam kekaisaran Romawi dan dipusatkan pada pewartaan pesan-pesan universalisme Kabar Gembira; Yohanes (95-100) ditulis untuk komunitas yang tersingkir dari komunitas Yahudi dan dipusatkan pada renungan teologis tentang diri Yesus sebagai Sabda Allah yang menjelma. 3. Menjadi murid didasarkan pada keakraban dengan Yesus - diawali dengan menerima Dia - keakraban muncul dari mengenal dan mencintai Dia (Yoh 10:27: domba mengenal suara gembalanya): lewat doa, kontemplasi KS, pengalaman hidup. - keakrabanku dengan Yesus mendorong aku untuk membuat Dia dikenal orang lain (Mk 3:14: para rasul dipanggil untuk berada bersama Dia dan untuk diutus) 4. Menjadi murid Yesus berarti mengikuti Dia dalam perutusanNya Menjadi murid Yesus berarti mengijinkan dia mempengaruhi dan membentuk hidupku; kemuridan Yesus didasari oleh cinta akan Dia dan kelekatan seutuh hati kepadaNya di atas segala orang maupun hal lain. Berarti mewartakan dalam kata, tindakan dan seluruh hidupku, Yesus sebagai segalanya dalam hidup. Berarti mengambil alih: -Nilai-nilai Yesus: - nilai pribadi manusia yang tak dapat diganggu-gugat: menyembuhkan orang pada hari Sabbat (Lk 13:11-16). - perhatian khusus kepada orang yang tersingkir (‘wong cilik”): Yesus mengidentifikasikan diri dengan orang kecil (Mt 25:37-40). - kesetiaan pada kehendak Bapa: taat sampai mati (Mt 26:39) -Gaya hidup Yesus: - kemiskinan yang didasarkan pada kepercayaan pada Penyelenggaraan Illahi: mengatasi segala godaan (Mt 4:1-11); mengatasi segala kekuatiran (Lk 12:22-31). - cinta yang inklusif dan tanpa syarat, prihatin pada kesejahteraan mereka: (Yoh 5:1-15). - ketersediaan diri total pada kehendak Bapa: makananNya adalah melakukan kehendak Bapa (Yoh 4:34). -Perutusan Yesus - pewartaan Kerajaan Allah: Diurapi Roh Tuhan (Lk 4:1-14), karya nyata (Mt 11:4-5). - pembebasan umat manusia: Yoh 8:1-11 (wanita pendosa) - menjadi tempat perjumpaan Allah dan manusia: Ia mewujudkan kelembutan hati, belas kasihan dan pengampunan (Lk 15:11-15: anak hilang). -Sengsara, kematian dan kebangkitanNya: - pola sengsara, mati, bangkit: ini pola hidup murid Yesus (Lk 9:23-24) - memikul salib: Lk 14:27 - bangkit: sumber hidup baru yang menantang (kotbah di bukit Mt 5; Lk 6). 5. Menjadi murid Yesus merupakan suatu proses perjalanan hidup.

RetretLoyola/Parakan96/hal. 23 - proses hubungan timbal balik dosa dan rahmat: Petrus menyangkal dan menyesal (Lk 22:54-62). - aku ditantang untuk hadapi keterbatasanku: kemungkinan berkhianat (Yudas) - menjadi “bejana dalam tanah liat”: mewartakan Dia dan bukan diriku sendiri (2 Kor 4:5-11). Meditasi Terpimpin: Pokok-pokok: -Bayangkan punya janji bertemu Yesus di puncak gunung -Bicara dengan Dia tentang perasaan-perasaan negatif kita terhadap Dia: rasa kesal atau jengkel terhadap Dia, dan rasa cemas atau takut. -Kata sifat atau simbol apa yang bisa kupakai untuk menggambarkan persahabatanku dengan Yesus? -Menengok ke masa lalu: tahap-tahap perkembangan dalam diriku sehubungan dengan siapa Yesus itu bagiku, pasang dan surut hubunganku dengan Dia. -Kuungkapkan harapan-harapanku pada Dia dan Dia ungkapkan apa harapanNya padaku. -Bersama-sama menengok ke masa depan: kita ingin hubungan kita menjadi seperti apakah? Tindakan konkret apakah yang dapat kuambil? -Ketika Yesus pergi, kuresapi kembali segala rasa perasa yang kualami dalam kontak tadi.