DWI NARWOKO (TEMPO

)

MARTY NATALEGAWA:

PENGEMBALIAN DUIT TAK HAPUS PIDANA
JAKARTA — Menteri Luar Negeri Marty Na-

talegawa kemarin menegaskan, ia mempersilakan proses hukum terus berjalan terhadap para pelaku penggelembungan harga tiket pemulangan diplomat. Ia menyesalkan jika ada pihak yang menuding dirinya berupaya menutupi kasus itu. "Justru kami lapor terus ke Kejaksaan dengan harapan masalah ini terus dilanjutkan oleh aparat hukum yang lebih kompeten," kata Marty dalam wawancara khusus dengan Tempo di kantornya. Marty menambahkan, ia saban hari berkomunikasi melalui surat atau telepon dengan Kejaksaan Agung. Dalam surat hasil pemeriksaan inspektorat jenderal kementerian ini yang dikirim ke Kejaksaan Agung pada 4 Februari lalu, pelanggaran selama 2008-2009 itu merugikan negara sekitar Rp 20 miliar. Namun surat itu tidak menyebutkan nama-nama petinggi Kementerian Luar Negeri yang terlibat. Marty mengaku sedih dengan munculnya

dugaan korupsi yang mulai terendus sejak November tahun lalu itu. "Sedih bukan karena ini terungkap, tapi sedih karena kok bisa sampai begini," ujarnya. Marty kemudian melakukan pengusutan. Bahkan pihaknya telah memberikan sanksi administrasi kepada semua pelaku yang terlibat. Namun ia menolak menyebutkan siapa saja mereka. Dari dugaan kerugian negara itu, kata Marty, sudah Rp 11 miliar yang dikembalikan ke kas negara. Namun ia tidak menjawab apakah itu termasuk uang yang diduga diterima mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Marty kembali menegaskan komitmennya untuk menciptakan Kementerian Luar Negeri bebas dari korupsi. "Pengembalian dana tak menutup pidana. Kami enggak pernah beranggapan dengan pengembalian dana masalah sudah selesai," ujarnya. Marty berharap pihak yang terlibat, sesuai dengan asas praduga tak bersalah, harus mempertanggungjawabkan. Lewat koleganya, Wirajuda memban-

tah pernah menerima setoran uang tiket diplomat "Kalaupun saya dapat, masak cuma Rp 1 miliar?" kata Wirajuda seraya tertawa, seperti ditirukan kawan dekatnya itu kemarin. Ia juga mengungkapkan bahwa Wirajuda mengaku tidak membeli rumah baru atau merenovasi rumah warisan ibunya yang ia tempati sekarang. Pernyataan itu menanggapi testimoni tertulis Ade Sudirman, seorang pejabat di Biro Keuangan, Kementerian Luar Negeri. Ia mengaku pernah menyetorkan duit Rp 1 miliar untuk Wirajuda pada Agustus 2008 buat keperluan membantu pembelian rumah Wirajuda. Menurut sumber Tempo itu, Wirajuda menyatakan tak mengenal Ade Sudirman. Ia juga tak pernah diperiksa oleh inspektorat jenderal soal kasus ini. Wirajuda, kata dia, menyesal baru mengetahui kasus ini sekarang. Menurut dia, Wirajuda berujar, "Coba saya tahu saat masih menjabat menteri, pasti saya sudah bereskan dari dulu." G FAISAL ASSEGAF | NUR ROCHMI | TIM TEMPO

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful