You are on page 1of 11

I

PENDAHULUAN

Siklus estrus sangat berpengaruh dalam reproduksi ternak, didalam
siklus esterus dapat diketahui fase-fase yang dapat menentukan kapankah waktu
perkawinan atau inseminasi dilakukan pada betina. Siklus estrus merupakan
interval antara timbulnya suatu periode berahi ke permulaan periode berahi
berikutnya pada hewan ternak yang memiliki pola yang khas pada betina yang
tidak bunting. Interval-interval ini disertai perubahan fisiologik di dalam saluran
betina.
Siklus estrus erat kaitannya dengan reproduksi dan merupakan hal
yang sangat penting dalam kelangsungan hidup ternak. Dalam makalah akan
dibahas berbagai macam penjelasan tentang siklus estrus agar pembaca dapat
mengetahui tahapan-tahapan siklus estrus, bagaimana siklus estrus bekerja, dan
gejala yang terjadi pada ternak saat mengalami estrus.

contohnya domba yang hidup di negara dengan empat musim. Saluran reproduksi hewan betina akan mengalami perubahan-perubahan pada interval-interval tersebut. Golongan ketiga.1 Pengertian Siklus Estrus Estrus atau birahi adalah periode atau waktu hewan betina siap menerima pejantan untuk melakukan perkawinan. Golongan kedua. kambing.hewan monoestrus yaitu hewan yang hanya satu kali mengalami periode estrus per tahun.II PEMBAHASAN 2. dan diestrus. srigala.2 Periode Siklus Estrus Menurut perubahan-perubahan yang terlihat maupun yang tidak terlihat selama siklus estrus maka siklus estrus dibedakan menjadi empat periode yaitu proestrus. babi. dan kebanyakan hewan liar. kerbau dan lain-lain. contohnya beruang. Golongan pertama. hewan dibedakan menjadi tiga golongan. hewan poliestrus bermusim yaitu hewan-hewan yang menampakkan siklus estrus periodik hanya selama musim tertentu dalam satu tahun. 2. Interval waktu antara timbulnya satu periode estrus kepermulaan periode estrus berikutnya disebut siklus estrus. estrus. metestrus/postestrus. . Berdasarkan frekuensi terjadinya siklus estrus. Siklus estrus dikontrol secara langsung oleh hormonhormon ovarium dan secara tidak langsung oleh hormon-hormon adenohipofise. contohnya sapi. hewan poliestrus yaitu hewanhewan yang memperlihatkan estrus secara periodik sepanjang tahun.

degenerasi. tuba falopii mengalami perubahan yaitu menegang. kemudian membesar akibat meningkatnya cairan folikuler yang berisi hormon estrogenik. Selama atau segera setelah periode ini terjadi ovulasi akibat penurunan FSH dan meningkatka LH dalam darah. dan menggantung pada vulva. Folikel atau folikel-folikel (tergantung spesiesnya) mengalami pertumbuhan yang cepat selama 2 atau 3 hari. estradiol yang dihasilkan folikel de Graff akan menyebabkan perubahan-perubahan pada saluran reproduksi yang maksimal. Ujung oviduk yang berfimbria merapat ke folikel de Graff untuk menangkap . transparan. Pada periode ini. epitel vagina mengalami penebalan dan terjadi vaskularisasi. dan kelenjar-kelenjar uterus. dan pada akhir proestrus berubah lagi menjadi mukus yang terang. Estrogen yang diserap oleh pembuluh darah dari folikel akan merangsang saluran reproduksi untuk mengalami perubahan-perubahan. umumnya betina akan mencari dan menerima pejantan untuk kopulasi. dan pengecilan secara cepat. berkontraksi. epitelnya matang. Sistem reproduksi melakukan persiapan-persiapan untuk melepaskan ovum dari ovarium. Corpus luteum dari periode sebelumnya mengalami vakuolisasi. Banyak terjadi sekresi mukus yang tebal dan berlendir dari sel-sel goblet seriks. Folikel de Graff menjadi matang dan membesar.  Estrus Estrus merupakan periode yang ditandai oleh keinginan kelamin dan penerimaan pejantan oleh hewan betina. Selama periode estrus. Sel-sel dan lapisan bersilia pada tuba falopii pertumbuhannya meningkat. Proestrus Proestrus merupakan periode sebelum hewan mengalami estrus yaitu periode pada saat folikel de Graff sedang tubuh akibat pengaruh FSH dan menghasilkan estradiol dengan jumlah yang semakin bertambah. vagina bagian anterior. serta serviks mengalami elaksasi secara gradual. cilianya aktif. mukosa uteri mengalami vaskularisasi. Pada sapi dan kuda terjadi perubahan dari mukus yang lengket dan kering menjadi mukus kental seperti susu. dan sektesi cairan bertambah.

Pada akhir estrus terjadi peningkatan leukosit yang bermigrasi ke lumen uterus. sekerinya bertambah.  Metestrus Metestrus merupakan periode segera setelah estrus. Endometrium menebal. Serviks mengendor. Pada sapi terdapat leleran yang bening dan transparan seperti seutas tali menggantung pada vulva. Kehadiran progesteron akan menghambat sekresi FSH sehingga tidak terjadi pematangan folikel dan estrus tidak terjadi. Metestrus sebagian besar berada di bawah pengaruh hormon progesteron yang dihasilkan korpus luteum. epitelium pada karunkula uterus sangat hiperemis dan terjadi hemoragis kapiler yang menyebabkan terjadinya pendarahan. agak oedematus. Mokosa vagina sangat menebal.  Diestrus Diestrus merupakan fase terakhir dan terlama dalam siklus estrus ternak-ternak mamalia. dan pada beberapa spesies akan mengalami oedematus. Sekresi mukus menurun dan diikuti pertumbuhan yang cepat dari kelenjar-kelenjar endometrium. Vulva mengendor dan oedematus pada semua spesies. Pada awal postestrus. Pada pertengahan sampai akhir metestrus. uterus agak melunak karena otot-ototnya mengendor. Perubahan ini ditunjukkan untuk mensuplai zat-zat makanan bagi embrio bila terjadi kebuntingan. Uterus akan berereksi. dan otot uterus menunjukkan peningkatan perkembangan. Suplai darah meningkat. Kondisi ini akan . epitel yang berkornifikasi tanggal. ditandai dengan pertumbuhan cepat korpus luteum yang berasal dari sel-sel granulosa yang telah pecah di bawah pengaruh LH. uterus mengadakan persiapan untuk menerima dan memberi makan embrio. dan sekresi cairanya meningkat. mukosa tumbuh dengan cepat dan lendir disekresikan. kelenjar uterina membesar. Apabila tidak terjadi kebuntingan maka uterus dan saluran reproduksi yang lain akan beregresi kekeadaan kurang aktif. Pada periode ini.ovum matang. pada babi sangat jelas. Korpus luteum menjadi matang dan pengaruh progesteron menjadi dominan. tegang.

sedangkan pada sapi dan babi 16-17 hari. lendirnya jarang dan lengket. Anestrus fisiologis dapat diobservasi pada negara-negara yang mempunyai 4 musim. yaitu musim semi dan panas pada domba serta selama musim dingin pada kuda. Selama anestrus. Pada beberapa spesies yang tidak termasuk golongan poliestrus atau poliestrus bermusim. aneastrus ditandai oleh ovarium dan saluran kelamin yang tenang dan tidak berfungsi. Apbila tidak terjadi kebuntingan. Anestrus yang normal akan diikuti oleh proestrus. uterus kecil dan kendor. setelah periode diestrus akan diikuti anestrus. serta fase luteal atau progesteronik (meliputi metestrus dan diestrus). maka endometrium dan kelenjarkelenjarnya beratrofi atau berregresi keukuan semula.terus berlangsung selama masa kebuntingan dan korpus luteum akan dipertahankan sampai akhir masa kebuntingan. serta serviks tertutup rapat dengan mukosa yang pucat. Folikel-folikel mulai berkembang dan akhirnya kembali ke fase proestrus. Secara fisiologis. Pembagian yang lain berdasarkan perkembangan folikel dan pengaruh hormon maka siklus estrus dibedakan menjadi fase folikuler atau estrogenic (meliputi proestrus dan estrus). Serviks menutup rapat untuk mencegah benda-benda asing memasuki lumen uterus. . corpus luteum telah berkembang dan progesterone merupakan hormone yang dominan. mukosa vagina pucat. mukosa vagina menjadi pucat.  Fase Luteal Pada ovarium didapatkan corpus luteum yang aktif. serta lendirnya mulai kabur dan lengket. Pada domba dan kambing berlangsung selama 14-15 hari. Aktivitas folikuler dapat terjadi dan ovum dapat berkembang tetapi tidak terjadi pematangan folikel dan ovulasi.

FSH. Dua hormon ovarium yang langsung mengatur siklus estus adalah estrogen dan progesteron.3 Pengaturan Hormonal pada Siklus Estrus Pada dasarnya. FSH ada di dalam darah dan jumlahnya meningkat pada hari ke-4 sampai hari ke-6. Konsentrasi GnRH.  Sapi Pengaturan hormonal diawali oleh hormon hipotalamus yaitu GnRHyang disekresikan oleh hipotalamus akan menstimuli FSH dan LH dilepaskan dari adenohipofise. 2. Pada domba dan kambing 2-3 hari. dan akhirnya menurun pada akhir metestrus. Pada periode diestrus akan tetap rendah sampai periode proestrus. LH mencapai puncaknya pada awal estrus dan ovulasi akan terjadi 30 jam kemudian. Siklus estrus secara langsung diatur oleh hormon-hormon tetapi secara tidak langsung oleh hormon adenohipofise. Fase Folikuler Fase ini dimulai dari regresi corpus luteum sampai terjadinya ovulasi. FSH dihasilkan oleh adenohipofise akan merangsang perkembangan folikel pada ovarium yang akhirnya mengasilkan estrogen. pola siklus estrus sama tetapi berbeda antar spesies. dan LH. sedangkan pada sapi dan babi 3-6 hari. akan terus meningkat dan merangsang perkembangan folikel sampai terjadinya ovulasi. mencapai puncaknya pada fase estrus. Hormon lainnya adalah LH yang menyebabkan ruptur (pecah) folikel dan memulai perkembangan korpus luteum. Pengaturan hormon pada siklus estrus tergantung sirkulasi hormon di dalam pembuluh darah hewan betina dan reaksi organ target dari hormon yang bersangkutan. Estrogen dihasilkan oleh folikel yang sedang tumbuh akbatnya . Hormon-hormon hipofise yang ikut dalam pengaturan siklus estrus adalah FSH dan LH. selama proestrus terjadi peningkatan.

 Domba Pengaturan hormon selama siklus estrus hampir sama dengan pengaturan hormon pada sapi. Sel-sel luteal akan menghasilkan progesteron yang mencapai puncaknya pada pertengahan siklus dan menurun pada hari ke-15 dab 16 siklus. kemudian pengaruh LH menyebabkan terjadinya reptur ovum yang matang. Konsentrasi progesteron akan bertahan sampai hari ke-16. pada saat korpus luteum mulai mengalami regresi sehingga konsentrasi progesteron sangat menurun. Konsentrasi progesteron meningkat pada hari ke-3 sampai hari ke-11.  Kuda Pada kuda sering mengalami periode anestrus pada musim dingin. progesteron akan tetap dipertahankan dan berfungsi apabila terjadi kebuntingan pada ternak. Pengaruh FSH berlangsung selama 5—6 hari sampai folikel menjadi matang.rangsangan FSH. Korpus luteum ada sejak hari ke-4 sampai hari ke-14. Progsteron dihasilkan oleh sel-sel luteal dari korpus luteum yang mulai berfungsi pada hari ke-3 sampai ke-4 siklus estrus dan mulai meningkat dalam hal konsentrasi dan reproduksi sampai pada hari ke-8 siklus. Perbedaan terdapat pada lamanya siklus estrus yang lebih pendek (16—17 hari) tetapi periode estrus lebih panjang (30 jam) dan ovulasi terjadi 24—27 jam setelah awal estrus. Ovulasi terjadi 35—40 jam setelah awal estrus dan konsentrasi LH mencapai puncaknya. Periode estrus dapat berlangsung 5—7 hari terutama setelah anestrus musim dingin. Estrogen menyebabkan libido hewan menjadi kelihatan dan organ-organ reproduksi mempersiapkan terjadinya konsepsi.  Babi Satu periode siklus estrus pada babi menghasilkan ovum matang dalam jumlah banyak (12—20) kemudian diovulasikan. Ovum yang pecah akan membentuk korpus luteum. Perubahan konsentrasi estrogen sesuai dengan perkembangan folikel dan mencapai puncaknya pada awal estrus. .

. Pada saat estrus menjadi tidak tenang. Sapi tersebut akan diam bila dinaiki betina lain dan mencoba menaiki betina-betina lain. panjangnya 20 hari untuk sapi dara dan 21—22 hari untuk sapi dewasa. konsentrasi LH mencapai puncaknya yang tajam sebelum ovulasi menjelang estrus. Sapi betina juga akan diam menerima pejantan untuk kopulasi. cenderung lebih singkat pada musim dingin dan laktasi yang berat. dan memisahkan diri untuk mencari pejantan.Perilaku birahi pada kuda berbeda dengan ternak lain. dan mengeluarkan sekresi mukus transparan (terang dan tembus) yang menggantung. Pada ternak lain. memerah. kurang nafsu makan. Fase perkembangan folikel berkepanjangan.4 Gejala Estrus Bila perkawinan tidak diikuti perubahan. yaitu lambat laun meningkat intensitasnya dalam beberapa hari. mamalia betina dengan siklus reproduksi yang normal akan mengalami rangkaian perubahan ovarium yang berulang termasuk sekresi hormon yang berpengaruh terhadap perilaku kelamin dan saluran reproduksi. Kadang-kadang vulvanya akan diciumi oleh betina lain.  Sapi Siklus estrus pada sapi. Fase luteal siklus berlangsung 17 hari dan fase folikuler 3—4 hari. sekresi FSH mempunyai dua puncak dan puncak yang kedua tercapai pada hari ke-15 siklus dan kadang-kadang terjadi ovulasi. Lama birahi berlangsung 12—28 jam. kadang-kadang menguak. mencapai puncaknya setelah ovulasi terjadi. Puncak konsentrasi FSH yang pertama terjadi pada hari ke-7 siklus dan akan tetap meningkat telah terjadi ovulasi. Pada kuda. Vulva sapi yang sedang estrus akan membengkak. konsentrasi LH naik secara perlahan dan membentang eaktu ovulasi. dengan kisaran 18—24 hari. serta mengangkat dan menggoyangkan ekornya. 2. Panjang siklus estrus dan lamanya birahi bervariasi antar jenis hewan. Ovulasi terjadi 24—48 jam sebelum akhir estrus.

menggoyang-goyangkan ekornya. dan merendahkan punggungnya. dan mengambil posisi kawin bila disentuh atau ditekan punggungnya oleh dagu pejantan atau tangan pekerja. Betina yang seang birahi akan membiarkan pejantan menciumi dan menggigit tanpa perlawanan. menggesek-gesekkan leher dan badannya ke tubuh pejantan. merentangkan kaki. kuda akan diam berdiri bila dinaiki pejantan untuk kopulasi. Panjang periode birahi 30—36 jam dan ovulasi terjadi 12—24 am sebelum berakhirnya estrus. Lama siklus akan bertambah lama apabila ada siklus yang lowong akibat musim dingin.5 hari. tegak. Domba Pada domba. siklus estrus panjangnya mencapai 14—20 hari dengan rata-rata 16.  Kuda Panjang siklus estrus pada kuda rata-rata adalah 21 hari. Akhirnya akan diam bila dinaiki pejantan untuk perkawinan. Vulva domba yang estrus tidak oedematus dan tidak mengeluarkan lendir. Leleran dalam jumlah sedikit akan keluar dari vulva. Fase estrus lebih lama pada babi akan berdiam diri. Fase luteal berlangsung selama 14 hari dan fase folikuller 3—4 hari.5 hari. Bibir vulva membengkak dan sebagian terkuak. sering mengangkat ekor.  Babi Lama siklus birahi pada babi adalah 18—24 hari dengan rata-rata 21 hari. Babi yang sedang estrus sering mengeluarkan suara-suara singkat dan rendah. dan menciumi alat genetalia pejantan. nafsu makannya hilang. berjalan mengelilingi pejantan. Seperti ternak lain. Ratarata panjangnya fase estrus adalah 5. Domba yang birahi akan mendekati dan memperhatikan pejantan. . kaku. serta akan memisahkan diri dari kelompoknya untuk berkelana mencari pejantan. Fase estrus rata-rata berlangsung selama 2—3 hari dan ovulasi terjadi 30— 40 jam pada awal estrus. Vulvanya mengalami pembengkakkan tetapi tidak mengeluarkan lendir selama estrus.

hormon hipothalamus. fase ini meliputi proestrus dan estrus. FSH dan LH. Perubahan-perubahan yang terlihat maupun yang tidak terlihat terjadi pada siklus estrus. Siklus estrus dibedakan menjadi empat fase yaitu : proestrus. estrogen dan progesteron.III KESIMPULAN Estrus adalah periode saat ternak betina siap menerima pejantan untuk melakukan perkawinan Interval waku antara timbulnya satu periode estrus ke permulaan periode estrus berikutnya disebut siklus estrus/siklus birahi. Perubahan yang terjadi pada saluran reproduksi adalah perubahan dalam rangka mempersiapkan apabila terjadi kebuntingan. siklus estrus dibedakan menjadi dua fase yaitu :  Folikuler atau estrogenic Fase folikuler atau estrogenik adalah fase terjadinya perkembangan folikel menjadi matang dan siap di ovulasikan dan pengaruh hormon estrogen menjadi dominan. Pola pengaturan hormon pada dasarnya sama.  Luteal atau progestational Fase luteal atau progestational adalah fase terjadinya pembentukan korpus luteum setelah terjadinya ovulasi dan pengaruh hormon progesteron menjadi dominan. serta hormon adenohypofise. fase ini terjadi dari metestrus dan diestrus. dan diestrus. namun berbeda antar hewan. estrus. Perubahan yang dapat dilihat adalah terjadinya perubahan kelakuan atatu perilaku betina yang memasuki periode estrus. Perubahan yang sama pada setiap hewan adalah betina akan berdiam diri bila dinaiki pejantan untuk kopulasi. Pembagian berdasarkan perkembangan folikel dan pengaruh hormon. GnRH. Perubahan yang tidak terlihat adalah terjadinya perubahanperubahan pada ovarium dan saluran produksi hewan betina. Pengaturan siklus estrus dilakukan oleh hormon ovarium. metestrus. DAFTAR PUSTAKA .

W. 1997. dan N. J. Applied Reproductoin Fourth Edition. Printice Hall. Ilmu Kemajiran pada Ternak. 1985. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta. VanDenmark. 1995.L. .Bearden. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan Pada Sapi. Hardjopranjoto. G. S. Mutiara Sumber Widya : Jakarta. 1992. and Fuquay John W. Inc : USA. Airlangga University Press : Surabaya. Salisbury. Partodihardjo. Ilmu Reproduksi Hewan.