You are on page 1of 7

Epidemiologi Infeksi Saluran Pernafasan

Akut (ISPA)
Epidemiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Pengenalan Penyakit
Infeksi Saluran Pernafasan Akut merupakan sekelompok penyakit kompleks dan
heterogen yang disebabkan oleh berbagai penyebab dan dapat mengenai setiap lokasi di
sepanjang saluran nafas (WHO, 1986).
ISPA merupakan salah satu penyebab utama dari tingginya angka kematian dan angka
kesakitan pada balita dan bayi di Indonesia. Dalam Pelita IV penyakit tersebut mendapat
prioritas tinggi dalam bidang kesehatan (Depkes, 1998).
ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Saluran
pernapasan meliputi organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ
disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru.
ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah.
Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan bersifat ringan, misalnya batuk pilek
dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Namun demikian jangan dianggap
enteng, bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat menyebabkan anak
menderita pneumoni yang dapat berujung pada kematian.
Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2
golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat
beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek
seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan
sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini
ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang
ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua
radang telinga akut harus mendapat antibiotik (6).
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya.
Kelainan pada sistem pernapasan terutama infeksi saluran pernapasan bagian atas dan
bawah, asma dan ibro kistik, menempati bagian yang cukup besar pada lapangan pediatri.
Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi
pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.
Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada anak kecil
terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang
tidak hygiene. Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan
infeksi silang, beban immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan
cacing, serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.
Penyebaran/ Epidemiologi
Epidemiologi adalah suatu rangkaian proses yang terus menerus dan sistematik dalam
pengumpulan data, pengolahan, analisis dan interpretasi serta disiminasi informasi untuk aksi

Salah satu penyakit yang di derita oleh masyarakat terutama adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Hal ini didukung oleh data penelitian di lapangan (kecamatan Kediri. cyanosis. ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak di derita oleh anak. Data yang diperoleh dari kunjungan ke puskesmas mencapai 40 – 60 % adalah oleh penyakit ISPA. Bila kita mengambil angka morbiditas 10% pertahun. Data morbiditas penyakit pneumonia di Indonesia per tahun berkisar antara 10 – 20 % dan populasi balita. Setiap anak diperkirakan mengalami 3 – 6 episode ISPA setiap tahunnya. kematian seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering disertai penyulit-penyulit kurang gizi.8%). napas cuping hidung. maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan. grunting expiratoir dan wheezing. pelaksanaan dan penilaian program kesehatan masyarakat berdasarkan eridens base. dengan tujuan berupaya untuk menurunkan kesakitan dan kematian khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA. berarti setiap tahun jumlah penderita pneumonia di Indonesia berkisar 2. ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dan 4 kematian yang terjadi. Tanda-tanda klinis Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea. Penyakit-penyakit saluran pernafasan pada masa bayi dan anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit.3 juta. yaitu meliputi infeksi akut saluran pernafasan bagian atas dan akut saluran pernafasan bagian bawah. Program pencegahan dan pemberantasan penyakit akan sangat efektif bila dapat dukungan oleh sistem yang handal karena fungsi utamanya adalah menyediakan informasi epidemiologi yang peka terhadap perubahan yang terdapat dalam pelaksanaan program pemberantasan penyakit yang menjadi prioritas pembangunan. Tanda-tanda bahaya Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. suara napas lemah atau hilang. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. meskipun demikian mortalitas masih tinggi. namun kelihatannya angka kesakitan dan kematian tersebut masih tetap tinggi seperti yang telah dilaporkan berdasarkan penelitian yang telah disebutkan di atas. Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris. Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak tahun 1984. retraksi dinding thorak. . Dari seluruh kematian yang disebabkan ISPA adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang 2 bulan. baik di negara berkembang maupun di negara maju dan sudah mampu banyak diantara mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. NTB adalah 17. napas tak teratur (apnea). atau perencanaan.

bradycardiam. demam dan dingin. Immunisasi. pemberian ASI. kelahiran dengan berat badan rendah (BBLR). bingung. kejang. sosioekonomi yang rendah. kepadatan hunian. Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menyusui. seperti peran vitamin A. Faktor resiko Beberapa faktor mempengaruhi tingginya mortalitas dan morbiditas ISPA serta berat ringannya penyakit. kejang. kesadaran menurun. Secara umum faktor risiko dapat dikelompokkan menjadi faktor diri (host) dan faktor lingkungan (Koch et al. dan lain-lain. Berbagai penelitian mengenai faktor risiko telah dilakukan baik di negara maju maupun di negara berkembang. imunisasi . hypotensi dan cardiac arrest. 2003). Wheezing. stridor. hypertensi. pendidikan orang tua. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan. Nampaknya faktor risiko di negera industri agak berlainan dari faktor risiko di negara berkembang. Perawatan Prinsip perawatan ISPA antara lain : Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari Meningkatkan makanan bergizi Bila demam beri kompres dan banyak minum Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat. hypercapnia dan acydosis (metabolik dan atau respiratorik). stridor dan gizi buruk. faktor inilah yang dikenal sebagai faktor risiko. cuaca. sakit kepala. Pada sistem cerebral adalah : gelisah. asap rokok. malnutrisi. pemberian ASI kurang cukup. papil bendung. Beberapa faktor risiko yang telah diketahui antara lain. Sedangkan beberapa lainnya masih diperdebatkan.  Pada sistem cardial adalah: tachycardia. Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak. sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya). kesadaran menurun.            Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa minum.    Tanda-tanda laboratoris hypoxemia. mudah terangsang. Menurut WHO (1992) beberapa faktor yang telah diketahui mempengaruhi pneumonia dan kematian ISPA adalah malnutrisi. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA. Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut : Upaya pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan : Menjaga keadaan gizi agar tetap baik. kejang dan coma.

Pemberian suplemen vitamin A Pemberian vitamin A pada balita sangat berperan untuk masa pertumbuhannya. daya tahan tubuh dan kesehatan terutama pada penglihatan. ketahanan tubuh menurun dan virulensi pathogen lebih kuat sehingga menyebabkan keseimbangan yang terganggu dan akan terjadi infeksi. Pada KKP. a. 1985). Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang mendapatkan bahwa imunisasi yang lengkap dapat memberikan peranan yang cukup berarti dalam mencegah kejadian ISPA (Kochet al. BBLR. defisiensi vitamin A. Angka kesakitan ISPA sering terjadi pada usia kurang dari 2 tahun. 2003) Status gizi Interaksi antara infeksi dan Kekurangan Kalori Protein (KKP) telah lama dikenal. kedua keadaan ini sinergistik. jumlah kuman yang banyak di tenggorokan. kepadatan hunian. sedangkan salah satu determinan utama dalam mempertahankan keseimbangan tersebut adalah status gizi anak. terpapar polusi udara oleh asap rokok. namun banyak penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan prevelensi penyakit ISPA terhadap jenis kelamin tertentu. dimana angka kesakitan ISPA anak perempuan lebih tinggi daripada laki-laki di negara Denmark (Koch et al. Status imunisasi Tupasi (1985) mendapatkan bahwa ketidakpatuhan imunisasi berhubungan dengan peningkatan penderita ISPA walaupun tidak bermakna. d. perlengkapan yang berguna . ASI bukan hanya merupakan sumber nutrisi bagi bayi tetapi juga sebagai sumber zat antimikroorganisme yang kuat. gas beracun dan lain-lain. Pemberian air susu ibu (ASI) ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi terutama pada bulan-bulan pertama kehidupannya. e. yang satu merupakan predisposisi yang lainnya (Tupasi. Faktor-faktor resiko yang berperan dalam kejadian ISPA pada anak adalah sebagai berikut: Faktor host (diri) Usia Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai anak usia dibawah 3 tahun. tidak lengkap. 1994).1. b. sekresi mukus dan untuk mempertahankan sel epitel yang mengalami diferensiasi. karena adanya beberapa faktor yang bekerja secara sinergis membentuk sistem biologis. udara dingin. Jenis kelamin Meskipun secara keseluruhan di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia masalah ini tidak terlalu diperhatikan. umur muda. 2003). dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung yang dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang diperlukan. Faktor lingkungan Rumah Rumah merupakan stuktur fisik. reproduksi. f. 2003). saling mempengaruhi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak pada usia muda akan lebih sering menderita ISPA daripada usia yang lebih lanjut (Koch et al. ASI dapat memberikan imunisasi pasif melalui penyampaian antibodi dan sel-sel imunokompeten ke permukaan saluran pernafasan atas (William and Phelan. 2. a. terutama bayi kurang dari 1 tahun. c.

Penelitian oleh Koch et al (2003) membuktikan bahwa kepadatan hunian (crowded) mempengaruhi secara bermakna prevalensi ISPA berat. c. Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas. Tetapi status keseluruhan tidak ada hubungan antara status ekonomi dengan insiden ISPA. d. 1974). fisik maupun kimia. Adanya ventilasi rumah yang kurang sempurna dan asap tungku di dalam rumah seperti yang terjadi di Negara Zimbabwe akan mempermudah terjadinya ISPA anak (Mishra. Anak-anak yang tinggal di apartemen memiliki faktor resiko lebih tinggi menderita ISPA daripada anak-anak yang tinggal di rumah culster di Denmark (Koch et al. dan masyarakat diduga merupakan faktor risiko untuk ISPA. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Status sosioekonomi Telah diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi yang rendah mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan masyarakat. sehingga terjadi . 1989). Patofisiologi Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh.b. 2003) Polusi udara Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan pernafasan lain adalah rendahnya kualitas udara didalam rumah ataupun diluar rumah baik secara biologis. untuk kesehatan jasmani. rohani dan keadaan sosialnya yang baik untuk keluarga dan individu (WHO. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pencemaran menjadi tidak berbeda dengan wilayah dengan tingkat pencemaran tinggi sehingga tidak ada lagi tempat yang aman untuk semua orang untuk tidak menderita gangguan saluran pemafasan. 2003). 2003). Dari hasil penelitian tidak ditemukan adanya perbedaan kejadian baru atau insiden penyakit atau gangguan saluran pernafasan pada siswa SD di kedua wilayah pencemaran udara. Kepadatan hunian (crowded) Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang. jumlah anggota keluarga. akan tetapi didapatkan korelasi yang bermakna antara kejadian ISPA berat dengan rendahnya status sosioekonomi (Darmawan. Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering (Jeliffe. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan Chernick. Hal ini menunjukkan bahwa polusi udara sangat berpengaruh terhadap terjadinya penyakit ISPA.1995). Kebiasaan merokok Pada keluarga yang merokok. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh pusat penelitian kesehatan Universitas Indonesia untuk mengetahui efek pencemaran udara terhadap gangguan saluran pernafasan pada siswa sekolah dasar (SD) dengan membandingkan antara mereka yang tinggal di wilayah pencemaran udara tinggi dengan siswa yang tinggal di wilayah pencemaran udara rendah di Jakarta. Selain itu dari penelitian lain didapat bahwa episode ISPA meningkat 2 kali lipat akibat orang tua merokok (Koch et al. secara statistik anaknya mempunyai kemungkinan terkena ISPA 2 kali lipat dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tidak merokok. 1983). e.

penyebab telah ada tetapi penderita belum menunjukkan reaksi apaapa. Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah. Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan aspek imunologis saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang sebagian besar terdiri dari mukosa. Tahap dini penyakit. dan juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah (Tyrell. yaitu dapat sembuh sempurna. sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan atas. Diketahui pula bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas mukosa saluran nafas (Siregar. tidak sama dengan sistem imun sistemik pada umumnya. Ciri khas berikutnya adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran nafas atas sedangkan IgG pada saluran nafas bawah. demam. menjadi kronis dan dapat meninggal akibat pneumonia. sembuh dengan ateletaksis. pengeluaran cairan mukosa yang melebihi noramal. 1980). merupakan ciri khas system imun mukosa. Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak (Tyrell. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas sepertistreptococcus pneumonia. Dari uraian di atas. Pencegahan & Pemberantasan Penyakit . 1983).1. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya memang sudah rendah. Tahap lanjut penyakit. 1980). dibagi menjadi empat. virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. sesudah terjadinya infeksi virus. Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk (Kending and Chernick. 4. perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi empat tahap. Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. 1983). yaitu: Tahap prepatogenesis. Tahap inkubasi. Timbul gejala demam dan batuk. 1994). dimulai dari munculnya gejala penyakit. Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempat-tempat yang lain dalam tubuh. dapat menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Shann. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. 3. Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif. haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut (Kending dan Chernick. 2. Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk. sehingga dapat menyebabkan kejang. 1985).

M. Depkes RI: Jakarta. Mencegah anak berhubungan dengan klien ISPA. a. . Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan tubuh terhadap penyakit baik. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA pada anak antara lain : Mengusahakan agar anak memperoleh gizi yang baik. Rineka Cipta: Jakarta. c. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien Bustan. b. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih. Marlyn E . c. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Salah satu cara adalah memakai penutup hidung dan mulut bila kontak langsung dengan anggota keluarga atau orang yang sedang menderita penyakit ISPA.1994.a.N. Doenges. Immunisasi DAPTAR PUSTAKA: Depkes RI. Pengelolaan kasus yang disempurnakan. Pedoman Program P2 ISPA dan Penanggulangan Pneumonia Pada Balita. Pemberantasan ISPA yang dilakukan adalah : Penyuluhan kesehatan yang terutama di tujukan pada para ibu. diantaranya dengan cara memberikan makanan kepada anak yang mengandung cukup gizi. b. 2000.