You are on page 1of 14

AUTISM SPECTRUM DISORDER (ASD)

A. Latar Belakang
Menurut Sugiyanto (2008), peningkatan kemampuan gerak terjadi sejalan
dengan peningkatan koordinasi mata, tangan dan kaki. Perkembangan gerak dapat
terjadi dengan baik jika anak mendapat kesempatan cukup besar untuk melakukan
aktivitas fisik dalam bentuk gerakan-gerakan yang melibatkan seluruh bagian
anggota-anggota tubuh, tapi bagaimana dengan perkembangan gerak pada anak autis
apakah sama dengan anak normal. Sedangkan pada anak autis terdapat gangguan
pada tingkat emosi, sosial dan komunikasinya serta terjadi pengulangan pada
perilakunya. Jika dilihat dari pertumbuhan fisik seorang anak autis tidak mengalami
suatu gangguan (Sugiyanto, 2008).
Autisme adalah suatu sindroma gangguan perkembangan anak yang sangat
kompleks dan berat, dengan dugaan penyebab yang sangat bervariasi, serta gejala
klinik yang biasanya muncul pada tiga tahun pertama dari kehidupan anak tersebut
(Peeters T, 1997 ; Rimland B, 2001). Saat ini dilaporkan bahwa insidensi autisme di
USA, Inggris, Timur Tengah dan Asia mencakup 1 : 250 anak, suatu angka yang
cukup besar (Rimland B, 2001 ; Bradstreet JJ, 2002 ).
Autistik ini menarik untuk dipelajari mengingat jumlah anak yang didiagnosis
sebagai autistik meningkat dari tahun ke tahun. Frugteveen (2000) mengemukakan
pada awalnya hanya terdapat 1 : 10.000, pada tahun 2000 terdapat 1 : 1.500 anak
dengan autistik. Walaupun belum ada data resmi mengenai jumlah anak yang
didiagnosis sebagai autistik, namun lembaga sensus Amerika Serikat melaporkan
bahwa pada tahun 2004 di Indonesia terdapat 475.000 anak dengan ciri-ciri autistik
(Kompas, 2005). Sedangkan menurut Widodo (2006), perbandingan penderita autis
antara laki-laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang
terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Jika benar demikian, sungguh

1 | Autism Spectrum Disorder (ASD)

sudah mulai saatnya pemerintah Indonesia memberikan perhatian serius terhadap


fenomena tersebut demi menjaga kualitas generasi bangsa (Widodo, 2006).
B. Tinjauan Pustaka
Anak yang didiagnosa dengan autisic spectrum disorder (ASD) dapat berasal
dari berbagai kalangan sosioekonomi, suku, ras dan etnis. Semakin banyak anak
dengan ASD akan ditemukan dalam setiap komunitas dan lingkungan seiring
meningkatnya identifikasi dari gangguan tersebut. Estimasi biaya tahunan untuk
pendidikan dan penanganan individu dengan ASD adalah sekitar 90 milyar dolar
berdasarkan Autism Society of America. Diagnosa dan penanganan yang lebih awal
adalah faktor utama untuk mengurangi biaya penanganan anak-anak dengan ASD
(Levy, 2009).
Di Pakistan, hasil penelitian yang dilakukan oleh Imran et al (2011) yang
dilakukan oleh 247 responden (154 dokter ahli psikiatri dan 93 non ahli psikiatri)
didapatkan hasil bahwa para profesional saat ini di lapangan memiliki pemahaman
yang tidak seimbang mengenai autisme karena adanya beberapa kesalahpahaman
tentang banyak gejala yang menonjol dari penderita autisme (Imran et al, 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh El-Ansary et al (2011) di Saudi Arabia yang
menggunakan sampel 26 anak autis dan 26 anak normal, didapatkan bahwa data yang
diperoleh membuktikan bahwa asam lemak yang diubah dalam plasma pasien anak
autis, khususnya menunjukkan peningkatan di sebagian besar asam lemak jenuh
kecuali untuk asam propionat, dan penurunan di sebagian besar polyunsaturated fatty
acid. Profil asam lemak yang diubah dibahas dalam kaitannya dengan stres oksidatif,
disfungsi mitokondria dan tingginya konsentrasi timbal (Pb) yang dilaporkan
sebelumnya terdapat pada pasien autisme di Saudi Arabia (El-Ansary et al, 2011).
Patofisiologi dari autistik belum jelas sampai saat ini. Baru-baru ini penelitian
yang dilakukan oleh Ghanizadeh (2010) mendapatkan hasil bahwa tingkat
neurotensin serum pada anak dengan gangguan autistik ditemukan lebih tinggi

2 | Autism Spectrum Disorder (ASD)

dibandingkan anak normal. Neurotensin dikenal untuk mengintensifkan neuronal


NMDA-dimediasi glutamat sinyal, yang dapat menyebabkan apoptosis pada autisme.
Penargetan neurotensin mungkin menjadi pendekatan baru untuk pengobatan autisme
(Ghanizadeh, 2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Zhang et al (2010) mendapatkan bahwa
semakin banyak bukti menunjukkan ASD dapat berhubungan dengan beberapa
disregulasi kekebalan tubuh, dan mungkin memiliki komponen neuroimmune. Pada
penelitian ini menunjukkan bahwa peptida neurotensin (NT) meningkat pada anakanak autis (Zhang et al, 2010).
Autoimunitas ke otak mungkin memainkan peran patogenik dalam autisme.
Dalam gangguan autoimun, pembentukan kompleks antigen-antibodi memicu respon
inflamasi dengan menginduksi infiltrasi dari neutrofil. Administrasi lokal progranulin
rekombinan, yang merupakan faktor neurotropik anti-inflamasi, menghambat
peradangan neutrophilik in vivo, menunjukkan bahwa progranulin penting dalam
peradangan

untuk

menekan

mediator.

Progranulin

plasma

diukur

dengan

menggunakan ELISA pada 40 anak pasien autis, berusia antara 3 dan


12 tahun, dan 40 anak normal. Pada anak-anak autis memiliki tingkat progranulin
plasma secara signifikan lebih rendah dibandingkan anak normal. Penelitian
mengenai progranulin plasma merupakan penelitian yang pertama yang dihubungkan
pada penderita autisme. Maka dari itu perlu penelitian lebih lanjut (Al-Ayadhi dan
Mostafa, 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Al-Ayadhi dan Gehan Mostafa (2012)
merupakan penelitian yang pertama yang membahas mengenai hubungan antara
serum kadar protein S100B, penanda kerusakan saraf, dan antibodi protein
antiribosomal P pada anak dengan autis. S100B adalah protein-pengikat kalsium yang
diproduksi terutama oleh astrosit. Peningkatan serum S100B mencerminkan
kerusakan neurologis. Autoimunitas mungkin memiliki peran dalam patogenesis
autisme di beberapa pasien. Autoantibodi dapat melintasi sawar darah otak dan

3 | Autism Spectrum Disorder (ASD)

bergabung dengan antigen jaringan otak, membentuk kekebalan kompleks dan


mengakibatkan kerusakan saraf (Al-Ayadhi dan Mostafa, 2012).
Etiologi dari autisic spectrum disorder (ASD) belum jelas diketahui. Tetapi
stres oksidatif memainkan peran patologis. Penelitian oleh Al-Ayadhi (2012)
melaporkan bahwa tingkat serum dari protein Sonic hedgehog (SHH) dan brain
derived neurotrophic factor (BDNF) dapat dihubungkan terhadap stres oksidatif di
ASD. Dengan menggunakan plasma darah atau leukosit polimorfonuklear, penelitian
ini menunjukkan bahwa anak-anak autis menghasilkan oksigen radikal bebas (OFR)
lebih tinggi secara signifikan. Penelitian ini juga menemukan meningginya tingkat
protein serum SHH dan menurunnya serum BDNF pada autis (Al-Ayadhi, 2012).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bronsard et al (2010) menunjukkan
bahwa dalam situasi stres, individu dengan autisme melepaskan stres mereka melalui
perilaku seperti OIB (other injuries behavior), sedangkan individu biasanya
berkembang mengatur dan mengekspresikan mereka stres melalui keterampilan
kognitif seperti strategi mengatasi mental, simbolisasi keterampilan dengan
representasi dan mengantisipasi situasi stres, interaksi sosial dan komunikasi verbal
atau non-verbal (Bronsard et al, 2010).
Williams-Beuren sindrom (WBS) merupakan gangguan perkembangan langka
yang disebabkan oleh penghapusan gen di 7q11.23 yang ditandai oleh berlebihan
dalam sosialisasi (overfriendliness) dan komunikasi yang berlebih (excessive
talkativeness). Hasil penelitian menunjukkan bahwa autisme komorbid dan WBS
menunjukkan bahwa delesi dari WBS dapat mengakibatkan sebuah kontinum dari
gangguan komunikasi sosial, mulai dari komunikasi yang berlebih (excessive
talkativeness) dan overfriendliness (Tordjman et al, 2012).
Gejala
Menurut DSM-IV autistic spectrum disorder (ASD) merupakan bagian dari
pervasive developmental disorder (PDD) atau Gangguan Perkembangan Pervasif

4 | Autism Spectrum Disorder (ASD)

(GPP), Pervasif artinya meresap atau yang mendasari sehingga mengakibatkan


gangguan lain dan GPP adalah suatu gangguan perkembangan pada anak, dimana
terutama terdapat 3 bidang perkembangan yang terganggu, yaitu: komunikasi,
interaksi sosial dan perilaku. Gejala-gejala tersebut harus sudah ada sejak sebelum
usia 3 tahun, walaupun demikian diagnosis ditegaskan saat anak berusia 3 tahun
(Levy, 2009).
Gangguan di bidang komunikasi meliputi (1) tidak ada gestur ataupun mimik,
(2) tidak bisa mempertahankan bicara yang lama, (3) bahasa stereotipik dan repetitif
dan (4) tidak bisa bemain berpura-pura (sandiwara). Gangguan di bidang interaksi
sosial meliputi (1) menghindari tatap mata, (2) gagal dalam hubungan pertemanan,
(3) kurangnya spontanitas dalam bermain, (4) hilangnya rasa emosional. Gangguan di
bidang perilaku meliputi (1) pola perilaku stereotipik tertentu, (2) melakukan rutinitas
secara ritual, (3) mannerisme seperti finger flapping dan (4) preokupasi terhadap
bagian benda tertentu saja.
Namun secara klinis di lapangan, gangguan tersebut ditemukan secara
spectrum (berbeda kadar/derajat keparahannya). Bila gangguan tersebut memenuhi
kriteria lengkap seperti di atas maka disebut dengan autistic disorder, sedangkan bila
tidak lengkap maka disebut sebagai autistic spectrum disorder. Terminologi
Gangguan Perkembangan Pervasif ini melingkupi beberapa sindroma atau gangguan
perkembangan yang mempunyai ciri seperti tersebut di atas. Kondisi yang dapat
diklasifikasikan kedalam Gangguan Perkembangan Pervasif, menurut ICD-10
(International Classification of Diseases, WHO 1993), maupun menurut DSM-IV
(American Psychiatric Association, 1994) adalah :
1. Autisme Masa Kanak (Childhood Autism)
Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak yang
gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun.
Perkembangan yang terganggu adalah dalam bidang :

5 | Autism Spectrum Disorder (ASD)

1.1. Komunikasi : kualitas komunikasinya yang tidak normal, seperti


ditunjukkan dibawah ini:
Perkembangan bicaranya terlambat, atau sama sekali tidak berkembang.
Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik
muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.
Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu
pembicaraan dua arah yang baik.
Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya
kurang variatif.
1.2. Interaksi sosial : adanya gangguan dalam kualitas interaksi sosial:
Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun

postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak.


Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya,

dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan interes bersama.


Ketidakmampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.
Ketidakmampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi
kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.

1.3. Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas, diulangulang dan stereotipik seperti dibawah ini :
Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku
yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil menghamburkan

pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam.


Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak
berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi,
pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat tidur.
Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia

akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta diulang.


Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti
misalnya mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan
cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.

6 | Autism Spectrum Disorder (ASD)

Adanya preokupasi dengan bagian benda/ mainan tertentu yang tak


berguna, seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda dengan bentuk
dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu.
Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar, temper
tantrum (mengamuk tak terkendali), tertawa dan menangis tanpa
sebab, ada juga rasa takut yang tak wajar. Kecuali gangguan emosi
sering pula anak-anak ini menunjukkan gangguan sensoris, seperti
adanya kebutuhan untuk mencium-cium/ menggigit-gigit benda, tak
suka kalau dipeluk atau dielus. Autisme Masa Kanak lebih sering
terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan
perbandingan 3 : 1 (Levy, 2009).

2. Gangguan Perkembangan Pervasif yang tak tergolongkan (GPP-YTT),


(Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD-NOS)
PDD-NOS juga mempunyai gejala gangguan perkembangan dalam bidang
komunikasi, interaksi maupun perilaku, namun gejalanya tidak sebanyak seperti
pada Autisme Masa Kanak. Kualitas dari gangguan tersebut lebih ringan,
sehingga kadang-kadang anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi fasial
tidak terlalu datar, dan masih bisa diajak bergurau (Levy, 2009).
3. Sindroma Rett (Retts Syndrome)
Adalah gangguan perkembangan yang hanya dialami oleh anak wanita.
Kehamilannya normal, kelahiran normal, perkembangan normal sampai sekitar
umur 6 bulan. Lingkaran kepala normal pada saat lahir. Mulai sekitar umur 6
bulan mereka mulai mengalami kemunduran perkembangan. Pertumbuhan kepala
mulai berkurang antara umur 5 bulan sampai 4 tahun. Gerakan tangan menjadi tak
terkendali, gerakan yang terarah hilang, disertai dengan gangguan komunikasi dan
penarikan diri secara sosial. Gerakan-gerakan otot tampak makin tidak
terkoordinasi. Seringkali memasukkan tangan ke mulut, menepukkan tangan dan
membuat gerakan dengan dua tangannya seperti orang sedang mencuci baju. Hal

7 | Autism Spectrum Disorder (ASD)

ini terjadi antara umur 6-30 bulan. Terjadi gangguan berbahasa, perseptif maupun
ekspresif disertai kemunduran psikomotor yang hebat. Yang sangat khas adalah
timbulnya gerakan-gerakan tangan yang terus-menerus seperti orang yang sedang
mencuci baju yang hanya berhenti bila anak tidur.
Gejala-gejala lain yang sering menyertai adalah gangguan pernafasan, otototot yang makin kaku, timbul kejang, skoliosis tulang punggung, pertumbuhan
terhambat dan kaki makin mengecil (hypotrophik). Pemeriksaan EEG biasanya
menunjukkan kelainan (Levy, 2009).
4. Gangguan Disintegratif Masa Kanak (Childhood Disintegrative Disorder)
Pada Gangguan Disintegrasi Masa Kanak, hal yang mencolok adalah bahwa
anak tersebut telah berkembang dengan sangat baik selama beberapa tahun,
sebelum terjadi kemunduran yang hebat. Gejalanya biasanya timbul setelah umur
3 tahun. Anak tersebut biasanya sudah bisa bicara dengan sangat lancar, sehingga
kemunduran tersebut menjadi sangat dramatis. Bukan saja bicaranya yang
mendadak terhenti, tapi juga ia mulai menarik diri dan ketrampilannya pun ikut
mundur. Perilakunya menjadi sangat cuek dan juga timbul perilaku berulangulang dan stereotipik. Bila melihat anak tersebut begitu saja , memang gejalanya
menjadi sangat mirip dengan autism (Levy, 2009).
5. Sindroma Asperger (Aspergers Syndrome)
Seperti pada Autisme Masa Kanak, Sindrom Asperger (SA) juga lebih banyak
terdapat pada anak laki-laki daripada wanita. Anak SA juga mempunyai gangguan
dalam bidang komunikasi, interaksi sosial maupun perilaku, namun tidak separah
seperti pada Autisme. Pada kebanyakan dari anak-anak ini perkembangan bicara
tidak terganggu. Bicaranya tepat waktu dan cukup lancar, meskipun ada juga yang
bicaranya agak terlambat. Namun meskipun mereka pandai bicara, mereka kurang
bisa komunikasi secara timbal balik. Komunikasi biasanya jalannya searah,
dimana anak banyak bicara mengenai apa yang saat itu menjadi obsesinya, tanpa

8 | Autism Spectrum Disorder (ASD)

bisa merasakan apakah lawan bicaranya merasa tertarik atau tidak. Seringkali
mereka mempunyai cara bicara dengan tata bahasa yang baku dan dalam
berkomunikasi kurang menggunakan bahasa tubuh. Ekspresi muka pun kurang
hidup bila dibanding anak-anak lain seumurnya. Mereka biasanya terobsesi
dengan kuat pada suatu benda/ subjek tertentu, seperti mobil, pesawat terbang,
atau hal-hal ilmiah lain. Mereka mengetahui dengan sangat detil mengenai hal
yang menjadi obsesinya. Obsesi inipun biasanya berganti-ganti. Kebanyakan anak
SA cerdas, mempunyai daya ingat yang kuat dan tidak mempunyai kesulitan
dalam pelajaran disekolah. Mereka mempunyai sifat yang kaku, misalnya bila
mereka telah mempelajari sesuatu aturan, maka mereka akan menerapkannya
secara kaku, dan akan merasa sangat marah bila orang lain melanggar peraturan
tersebut. Misalnya: harus berhenti bila lampu lalu lintas kuning, membuang
sampah dijalan secara sembarangan. Dalam interaksi sosial juga mereka
mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Mereka lebih
tertarik pada buku atau komputer daripada teman. Mereka sulit berempati dan
tidak bisa melihat/ menginterpretasikan ekspresi wajah orang lain.
Perilakunya kadang-kadang tidak mengikuti norma sosial, memotong
pembicaraan orang seenaknya, mengatakan sesuatu tentang seseorang didepan
orang tersebut tanpa merasa bersalah. Anak Sindrom Asperger jarang yang
menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang aneh seperti mengepak-ngepak atau
melompat-lompat atau stimulasi diri (Levy, 2009).
Penatalaksanaan
1. Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai, telah dilakukan penelitian
dan didesain khusus untuk anak-anak dengan autisme. Sistem yang dipakai
adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive
reinforcement (hadiah/ pujian). Jenis terapi ini bisa diukur kemajuannya. Saat
ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia (Levy, 2009).
2. Terapi Wicara

9 | Autism Spectrum Disorder (ASD)

Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan
berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu
autistik yang non verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadangkadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk
memakai bicaranya untuk berkomunikasi/ berinteraksi dengan orang lain.
Dengan hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong (Levy,
2009).
3. Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan
motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk
memegang pensil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok
dan menyuap makanan ke mulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi
okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot-otot halusnya
dengan benar (Levy, 2009).
4. Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara
individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik
kasarnya. Terkadang tonus ototnya kurang kuat, sehingga jalannya pun kurang
kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi
sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan
memperbaiki keseimbangan tubuhnya (Levy, 2009).
5. Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang
komunikasi dan interaksi. Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan
dalam keterampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama
di taman bermain (Levy, 2009).
6. Terapi Bermain
Seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam bermain. Bermain
dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi, dan interaksi
sosial (Levy, 2009).
7. Terapi Perilaku
Anak autistik seringkali mengalami frustasi. Teman-temannya seringkali tidak
memahami

mereka,

mereka

merasa

sulit

untuk

10 | A u t i s m S p e c t r u m D i s o r d e r ( A S D )

mengekspresikan

kebutuhannya. Mereka banyak yang merasa hipersensitif terhadap suara,


cahaya, dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang
terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif
tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan
lingkungan (Levy, 2009).
8. Terapi Perkembangan
Floortime, soon rise, dan RDI (Relationship Developmental Intervention)
dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya,
kekuatannya

dan

tingkat

perkembangannya,

kemudian

ditingkatkan

kemampuan sosial, emosional, dan intelektualnya (Levy, 2009).


9. Terapi Visual
Salah satunya adalah PECS (Picture Exchange Communication System)
(Levy, 2009).
10. Terapi Biomedik (Levy, 2009).
11. Terapi Hiperbarik
Penelitian yang dilakukan oleh Rossignol (2009) di USA, didapatkan bahwa
anak-anak dengan autisme yang mendapatkan terapi hiperbarik dengan 1,3
atm dan 24% oksigen selama 40 sesi memiliki perbaikan yang signifikan
secara keseluruhan, kemampuan berkomunikasi, berinteraksi sosial, kontak
mata, dan kesadaran kognitif/ sensorik dibandingkan dengan anak pemberian
terapi bertekanan rendah (1,03 atm dan 21% oksigen) (Rossignol, 2009).
12. Terapi Musik
Terapi musik adalah terapi dengan menggunakan musik sebagai stimulus
terapi. Dari hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat hubungan antara
pidato dan perilaku bernyanyi, ritme dan motor, memori untuk lagu dan
memori untuk materi akademik, dan secara keseluruhan kemampuan musik
yang lebih disukai untuk meningkatkan suasana hati, perhatian, dan perilaku
untuk mengoptimalkan kemampuan siswa untuk belajar dan berinteraksi. Oleh
karena itu, salah satu tujuan dari terapi musik bagi penyandang autisme adalah
untuk membantu dalam generalisasi dan mentransfer ke lingkungan lainnya
(American Music Theraphy Association, 2010).
13. Paliperidone adalah metabolit aktif risperidone dan disetujui oleh FDA untuk
mengobati skizofrenia dan gangguan schizoafektif pada orang dewasa. Stigler

11 | A u t i s m S p e c t r u m D i s o r d e r ( A S D )

et al (2010) baru-baru ini menggambarkan efektivitas dari paliperidone dalam


mengobati iritasi pada dua individu dengan autisme. Seorang pasien 16 tahun
perempuan dan laki-laki 20 tahun pasien, yang didiagnosis dengan autisme,
diobati dengan paliperidone (3 dan 12 mg/ hari masing-masing). Keduanya
dinilai memiliki peningkatan signifikan dalam gejala mereka, termasuk agresi
dan mania dengan pengobatan paliperidone. Kejadian buruk tidak dilaporkan.
Kedua orang tersebut kehilangan berat badan dan mengalami perbaikan dalam
profil lipid puasa (Kowalski et al, 2011).
C. Daftar Pustaka
Al-Ayadhi, Laila. 2012. Relationship Between Sonic Hedgehog Protein, BrainDerived Neurotrophic Factor and Oxidative Stress in Autism Spectrum
Disorders. Neurochem Res (2012) 37:394400. DOI 10.1007/s11064-0110624-x.
Al-Ayadhi, Laila dan Gehan A.Mostafa. 2011. Low plasma progranulin levels in
children

with

autism.

Journal

of

Neuroinflammation

2011,

8:111

http://www.jneuroinflammation.com/content/8/1/111.
Al-Ayadhi, Laila dan Gehan A.Mostafa. 2012. A lack of association between elevated
serum levels of S100B protein and autoimmunity in autistic children. Journal
of

Neuroinflammation

2012,

9:54

http://www.jneuroinflammation.com/content/9/1/54.
American Music Theraphy Association. 2010. Autism Spectrum Disorders: Music
Therapy

Research

and

Evidence

Based

Practice

Support.

www.musictherapy.org.
Bradstreet JJ. 2002. Response to the national academy of science, institute of
medicine request for original research on thimerosal safety. In : The First
Open Windows Essential Training by ICDRC.Palm Bay, January, 2002.

12 | A u t i s m S p e c t r u m D i s o r d e r ( A S D )

Bronsard, Guillaume; Michel Botbol, Sylvie Tordjman. 2010. Aggression in Low


Functioning Children and Adolescents with Autistic Disorder. PLoS ONE
5(12): e14358. doi:10.1371/journal.pone.0014358.
El-Ansary, et al. 2011. Plasma fatty acids as diagnostic markers in autistic patients
from

Saudi Arabia. Lipids

in

Health

and Disease

2011,

10:62.

http://www.lipidworld.com/content/10/1/62.
Ghanizadeh, Ahmad. 2010. Targeting neurotensin as a potential novel approach for
the treatment of autism. Journal of Neuroinflammation 2010, 7:58.
http://www.jneuroinflammation.com/content/7/1/58.
Hartley, S L; D.M. Sikora, R McCoy. 2008. Prevalence and risk factors of
maladaptive behaviour in young children with Autistic Disorder. J Intellect
Disabil

Res.

2008

October;

52(10):

819829.

doi:10.1111/j.1365-

2788.2008.01065.x.
Imran et al. 2011. A survey of Autism knowledge and attitudes among the healthcare
professionals

in

Lahore,

Pakistan.

BMC

Pediatrics

2011,

11:107.

http://www.biomedcentral.com/1471-2431/11/107.
Kowalski et al. 2011. Paliperidone Palmitate in a Child with Autistic Disorder.
JOURNAL OF CHILD AND ADOLESCENT PSYCHOPHARMACOLOGY.
Volume 21, Number 5, 2011. Mary Ann Liebert, Inc. Pp. 491493 DOI:
10.1089/cap.2011.0035.
LeBlanc, Jocelyn J dan Michela Fagiolini. 2011. Autism: A Critical Period
Disorder?. Hindawi Publishing Corporation Neural Plasticity Volume 2011,
Article ID 921680, 17 pages. Doi:10.1155/2011/921680.
Levy, Susan E; David S. Mandell; Robert T. Schultz. 2009. Autism. National
Institutes

of

Health,

374

(9701):

1627-1638,

6736(09)61376-3.

13 | A u t i s m S p e c t r u m D i s o r d e r ( A S D )

doi:10.1016/S0140-

Mandell et al. 2010. Age of Diagnosis Among Medicaid-Enrolled Children With


Autism, 20012004. Psychiatr Serv. 2010 August; 61(8): 822829.
doi:10.1176/appi.ps.61.8.822.
Peeters T. 1997. Autism, from theoritical understanding to educational intervention.
London: Whurr Publishers Ltd.
Rimland B. 2001. Background and introduction to the position paper of the
consensus conference on the mercury detoxification of autistic children. San
Diego : Autism Research Institute.
Rossignol, et al. 2009. Hyperbaric treatment for children with autism: a multicenter
randomized, double-blind, controlled trial. BMC Pediatrics 2009, 9:21
doi:10.1186/1471-2431-9-21.
Sugiyanto. 2008. Perkembangan dan Belajar Motorik. Jakarta: Universitas Terbuka.
Tordjman et al. 2012. Autistic Disorder in Patients with Williams-Beuren Syndrome:
A Reconsideration of the Williams-Beuren Syndrome Phenotype. PLoS ONE
7(3): e30778. doi:10.1371/journal.pone.0030778.
Zhang et al. 2010. Mitochondrial DNA and anti-mitochondrial antibodies in serum of
autistic

children.

Journal

of

Neuroinflammation

2010,

7:80

http://www.jneuroinflammation.com/content/7/1/80.
Kompas, 20 Juli 2005
http://www.ychicenter.org/index.php?
option=com_content&view=article&id=110:jumlah-anak-autis-meningkatpesat. Autism Care Indonesia. 2006 (diakses pada tanggal 1 Desember 2012).

14 | A u t i s m S p e c t r u m D i s o r d e r ( A S D )