Pengarang : Ust.

Hussein Yusmani Al Fakir  CopyLeft, Hak Cipta Milik Allah Semata

1

Sebagai tahapan yang harus dilalui wujud lahir, tingkatan wujud berikutnya akan berproses sesuai dengan rancangan wujud sebelumnya. Dengan jalan seperti ini muncullah ribuan perubahan. Dan tiap perubahan selalu lebih baik dari sebelumnya. Sadarilah selalu wujudmu saat ini karena jika kau berpikir tentang wujudmu di masa lalu, maka kau akan memisahkan dirimu dari Diri sejatimu. Inilah semua keadaan yang tetap yang kau saksikan dalam kematian. Lalu mengapa harus kaupalingkan mukamu dari kematian? Ketika tahapan kedua lebih baik dari tahapan pertama, maka matilah dengan senyum suka cita. Dan arahkan pandanganmu ke depan untuk menempati wujud baru yang lebih baik dari wujud sebelumnya. Sadarilah, dan jangan tergesa-gesa. Kau harus mati terlebih dulu sebelum memperbaiki diri. Laksana sang surya, hanya jika kau tenggelam di Barat, maka di Timur, kau akan menyaksikan wajahmu yang cerlang gemilang. ( Jalaluddin Rumi )

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

2

DAFTAR ISI
1. Pendahuluan ......................................................... ...................................... 3 2. Sejarah Reinkarnasi..................................................................................... 6 3. Fakta Reinkarnasi....................................................................................... 10 4. Reinkarnasi : Bukti Nyata Keadilan Tuhan ............................................... 16 5. Dalil-Dalil Reinkarnasi.............................................................................. 29 6. Hikmah Reinkarnasi.................................................................................. 41 7. Surga dan Neraka...................................................................................... 42 8. Kiamat ...................................................................................................... 52 9. Kemana Manusia akan Menitis ?.............................................................. 54 10. Makrifat : Jalan untuk Kembali Kepada-Nya .......................................... 61 11. Mengenal Allah, Menegakan Perdamaian................................................ 87 12. Penutup .................................................................................................... 97 13. Lampiran ...................................................................................................100

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

3 PENDAHULUAN Reinkarnasi adalah proses daur ulang atau siklus kematian dan kehidupan kembali manusia. Kata “reinkarnasi” asalnya dari kata re+in+carnis. Kata Latin carnis berarti daging. Incarnis artinya mempunyai bentuk manusia. Jadi reinkarnasi adalah masuknya jiwa ke dalam tubuh yang baru. Jiwanya adalah jiwa yang sudah ada, tapi jasadnya baru. Maka, reinkarnasi juga dapat disebut kelahiran kembali (tumimbal lahir). Kondisi ini disebut pula sebagai migrasi jiwa. Artinya, jasad lama ditinggalkan alias mati, dan pada suatu kesempatan jiwa tersebut masuk ke dalam jasad baru, alias menjadi bayi kembali. Dalam bahasa Inggris reinkarnasi disebut sebagai reborn.

Kepercayaan ini tumbuh dan berkembang khususnya di dunia timur dan barat. Bagi agama-agama di timur yang tumbuh di India, Tibet, Cina, Jepang, dan di Kepulauan Nusantara, kepercayaan terhadap reinkarnasi bukan lagi sebagai hal yang aneh. Reinkarnasi malah bukan dipahami sebagai kepercayaan atau keimanan, tapi sebagai hukum alam seperti halnya hukum gravitasi. Hukum gravitasi memang tidak diceritakan di Al Quran, tapi bukan berarti tidak ada! Inilah perlunya manusia melakukan ijtihad dengan mengkaji kembali Al Quran. Iqra!

Bagi umat Islam, kepercayaan ini masih menimbulkan pro dan kontra. Ada yang percaya namun ada juga yang tidak mempercayainya. Padahal kalau kita mau open mind dengan melihat fakta kehidupan dan dalil-dalil dalam Al Quran dan Hadist maka reinkarnasi sesungguhnya adalah suatu keniscayaan. Kebanyakan umat Islam yang tidak percaya reinkarnasi disandarkan pada beberapa alasan berikut :

1. Nabi Muhammad SAW “tidak pernah” mengajarkan reinkarnasi. 2. Reinkarnasi adalah ajaran agama-agama dunia timur sehingga banyak ulamaulama Islam yang “alergi” terhadap ajaran yang berasal dari agama lain. 3. Surga dan neraka adalah alam yang kekal. Oleh karena manusia masuk ke alam tersebut maka kelahiran kembali ke bumi adalah hal yang mustahil. 4. Jika reinkarnasi itu ada, kenapa banyak manusia tidak bisa mengingat kehidupan sebelumnya. Dengan demikian reinkarnasi tidak layak dipercaya.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

4 Insya Allah setelah membaca ebook ini, jawaban-jawaban terhadap alasan diatas bisa dijawab dengan akal yang jernih dan berdasarkan dalil Al Quran dan Al Hadist. Selain itu pula, saya berharap ebook ini bisa memberikan kesegaran baru bagi umat Islam di Indonesia, para pencari Tuhan -dari agama manapun- dan juga mereka yang haus akan pengetahuan spiritual.

Sebelum membaca dan memahami ebook ini ada baiknya kita menjadikan reinkarnasi sebagai ilmu pengetahuan lainnya seperti fisika, kimia, matematika dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar start awal berpikir kita netral. Tidak terdoktrin oleh sesat, benar, halal, haram dlsb. Dalam istilah lain, kita harus memiliki “kesadaran pasif” sehingga riset atau penelitian terhadap teori ini dapat menghasilkan kesimpulan yang objektif.

Apa itu kesadaran pasif? Apa pula bedanya dengan kesadaran aktif? Kesadaran pasif mengandung makna kesadaran atau pikiran yang netral (tidak memihak). Kesadaran aktif adalah lawan dari kesadaran pasif. Kesadaran aktif tidaklah bersifat netral karena ia telah memiliki persepsi sebelum menilai sesuatu. Jika anda mempelajari sesuatu namun telah memiliki persepsi sebelumnya maka hampir bisa dipastikan anda akan gagal memahaminya secara utuh.

Contoh : mempelajari agama. Jika saat ini kita beragama A maka kemungkinan besar kita akan gagal mempelajari/menerima agama lain jika sebelumnya kita sudah memiliki persepsi bahwa agama A adalah agama yang paling benar dan yang lain adalah agama sesat. Bagaimana mungkin mau menerima/mempelajari agama lain kalau dirinya sudah memiliki kesadaran agama A adalah yang paling benar dan agama lain sesat ? Ya... inilah yang disebut beragama tanpa kesadaran. Beragama hanya karena ikut-ikutan saja. Padahal seharusnya ia berpikir kenapa ia dilahirkan dalam keluarga yang beragama A sehingga ia otomatis beragama A, bagaimana jadinya jika ia dilahirkan dalam keluarga yang beragama B? Akankah ia juga akan menganggap agama B adalah agama yang paling benar dan agama lain sesat?

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

5 Nah, sama halnya dengan reinkarnasi. Jika sebelum membaca ebook namun kita sudah punya persepsi bahwa reinkarnasi itu adalah teori yang tidak layak dipercaya maka kita pun akan sulit menangkap penjelasan dalam ebook ini. Jadi, marilah kita berpikir secara objektif, bersihkan hati dari prasangka. Lepaskan dulu doktrin, dogma atau apapun yang selama ini membuat kita tertutup terhadap berbagai pengetahuan dari luar. Terima dulu semua teori yang ada tanpa penolakan di alam pikiran kita. Setelah itu silahkan kaji semuanya dan ikutilah pendapat yang terbaik yaitu yang masuk akal dan diperkuat dengan dalil-dalil.

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (Q.S Az Zumar (39) : 18)

Jadi, janganlah kita terlalu taklid kepada ucapan orang, doktrin, dogma, atau pendapat umum yang berkembang. Kita harus mampu melakukan pencarian kebenaran secara mandiri. Kenapa? karena tiap-tiap manusia bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Lihat firman Allah berikut ini :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya. (Q.S Al Israa’ (17) :36)

Nah, ayat diatas telah jelas melarang kita taklid. Ikut sesuatu tanpa pengetahuan!. Sebab kalau kita sudah taklid maka akan menutup diri kita melihat kebenaran yang ada diluar. Meminjam istilah dalam film X-Files: The Truth is Out There. Ada kebenaran diluar sana! Kebenaran yang seperti apa? Kebenaran yang datangnya dari Allah berupa petunjuk yang diberikan kepada manusia yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran sejati. Dan kebenaran sejati hanya bisa didapat oleh mereka yang melakukan pengkajian yang sungguh-sungguh.

Barang siapa yang bersungguh-sungguh pada jalan-Ku, maka akan Aku tunjukan jalan-jalan-Ku itu (Q.S Al Ankaabut (29) : 69) Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

6 SEJARAH REINKARNASI Sejarah munculnya teori reinkarnasi sebenarnya telah ada sejak awal peradaban manusia baik dalam kebudayaan primitif hingga kebudayaan modern saat ini. Ajaran ini bisa dijumpai dalam berbagai literatur agama-agama kuno di pelbagai belahan dunia. Catatan terkini mengenai ajaran reinkarnasi ditemukan di mesir di sebuah naskah kuno yang menggambarkan jiwa manusia yang meninggalkan badan dalam wujud burung.

Sejarah juga mencatat bahwa filosof terkemuka seperti Socrates, Phytagoras, Plato, Empedocles, Immanuel Kant, Jalaluddin Rumi, Mansyur Al Hallaj, Voltaire dan lainlain juga mengakui adanya reinkarnasi. Seorang sufi besar, Jalaluddin Rumi, dalam catatannya pernah mengatakan : “Aku adalah satu jiwa namun memiliki tubuh ratusan ribu. Namun karena syariah, mulutku tak bisa banyak bicara. Aku telah melihat diriku dalam dua ribu tubuh, namun tak ada yang sebaik sekarang ini.“

Munculnya ajaran reinkarnasi bukanlah hanya sebatas kepercayaan belaka atau ajaran agama, melainkan disertai juga dengan fakta-fakta yang terungkap oleh sejumlah riset yang dilakukan para ilmuwan. Sebelum mengungkap beberapa fakta tesebut, kita akan terlebih dahulu mengupas reinkarnasi dari sudut pandang agama khususnya Islam.

Seperti yang kita ketahui bersama, agama Budha dan Hindu memang secara terang benderang mengajarkan reinkarnasi pada pengikutnya. Lalu bagaimana dengan Islam? Apakah Nabi SAW juga mengabarkan ajaran ini pada umatnya? Nabi memang tidak terang-terangan mengajarkan reinkarnasi, karena tujuan Nabi SAW diutus oleh Allah adalah untuk memperbaiki ahlak bangsa Arab yang memang pada saat itu berahlak jahiliyah (bodoh). Hal ini ditegaskan dalam suatu Hadist riwayat Malik : “tidaklah aku di utus melainkan untuk menyempurnakan ahlak”. Tentu bodoh yang dimaksud bukanlah bodoh secara intelektual karena peradaban masyarakat Arab pada pra Islam sangatlah maju. Fakta sejarah membuktikan bahwa bangsa Arab pada masa tersebut adalah bangsa yang cerdas, unggul dan berilmu.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

7 Justru dengan keunggulan (superioritas) tersebut mereka menjadi sombong dan selalu merendahkan bangsa non Arab dengan sebutan ‘ajam yang bermakna gagu yaitu mereka yang tidak mengerti dan tidak bisa berbicara dalam bahasa Arab. Kesusastraan Arab pra Islam pun demikian tinggi. Para penyair pada masa itu bisa diibaratkan ilmuwan jenius pada masa sekarang. Tidaklah heran jika Al Quran menantang mereka dalam surah Yunus (10) : 38 agar mendatangkan surah yang sepadan dengan Al Quran. Tentu saja tantangan Quran ini tidak ditujukan untuk bangsa yang lemah sebab jika Al Quran menantang bangsa yang lemah tentu tidak masuk akal. Sama halnya dengan atlet bulutangkis nomor satu dunia menantang atlet bulutangkis tingkat kelurahan maka jika dipertandingkan pun akan menjadi tertawaan orang.

Contoh moral buruk bangsa Arab yang lain adalah menomorsatukan anak laki-laki dibanding perempuan. Bahkan mereka tidak segan mengubur anaknya sendiri jika yang lahir adalah anak perempuan. Mereka juga membuat sesembahan berupa patung/berhala (paganisme) dengan meyakini patung-patung itu adalah tuhan mereka yang telah memberikan kejayaan pada bangsa Arab. Perbudakan juga menjadi budaya amoral bangsa Arab yang menunjukan ketidaksamaan derajat manusia dimuka bumi. Belum lagi peperangan antar suku. Bahkan membunuh dan memperkosa adalah hal yang sah-sah saja dilakukan asal bukan terhadap sukunya sendiri.

Dengan gaya hidup seperi itu, mereka berfoya-foya hidup di dunia karena tidak mempercayai adanya kehidupan akherat. Bagi mereka, hidup hanyalah sekali di dunia ini saja dan setelah itu mati alias tidak ada kehidupan lagi. Sikap mereka ini telah direkam secara jelas dalam Al Quran :

Dan mereka berkata : kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan didunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. (Q.S Al Jaatsyiah (45) : 24)

Tidak ada kematian selain kematian didunia ini. Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan. (Q.S Ad Dukhan (44) : 35) Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

8 Kehidupam kita itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup, dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi. (Q.S Al Mu’minuun (23) : 37)

Jelaslah sudah bahwa fokus dakwah Nabi SAW adalah untuk membangun ahlak umat dengan menumbuhkembangkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Tauhid) dan adanya hari akherat. Dengan fokus pada pembinaan ahlak inilah tentunya reinkarnasi tidak dijelaskan oleh nabi secara “telanjang” melainkan dibungkus secara rapi. Inilah pengetahuan yang terjilbab (tertutup). Hanya orang tertentu saja yang bisa “melihatnya”. Mengapa sampai harus ditutupi? karena orang Arab pada saat itu tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian. Ya! Mereka hanya percaya satu kehidupan saja. Lah kalau hanya percaya satu kehidupan, lantas bagaimana mungkin Nabi harus menjelaskan reinkarnasi alias kehidupan yang berulang-ulang. Bisa jadi mereka malah tambah pusing tujuh keliling dan semakin tidak percaya kepada Nabi.

Dalam memberikan pelajaran kepada umatnya, Nabi tidaklah gegabah dengan memberikan pelajaran yang tidak sepatutnya atau belum saatnya diajarkan kepada semua orang. Dalam suatu hadistnya, Nabi mengatakan :

“Aku menerima dua macam pengetahuan dari Jibril, salah satu darinya kuajarkan kepada semua orang dan jika pengetahuan yang satunya kuajarkan kepada mereka tentu saja akan rusaklah kerongkongan mereka.”

“Janganlah

kamu

memberikan

ilmu

bermanfaat

kepada

yang

tidak

memerlukannya, itu adalah perbuatan zalim, dan jangan kamu tidak memberikan kepada orang-orang yang memerlukannya, itupun zalim.”

Dari Hadist diatas jelaslah bahwa Nabi SAW memang berkompromi terhadap tingkat kecerdasan umatnya pada saat itu mengenai kehidupan setelah kematian. Nabi SAW tidak akan mengajarkan jika memang belum saatnya dibeberkan sebab akan membuat umatnya “tercekik kerongkongannya” alias bingung.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

9 Seandainya reinkarnasi dijelaskan secara terang-terangan maka dikhawatirkan umat malah bermalas-malasan dalam menuju kebaikan karena mereka berpendapat perilaku yang buruk nanti saja diperbaiki pada kehidupan-kehidupan mendatang. Nah, besar kemungkinan, pengetahuan reinkarnasi ini diwariskan kepada para sahabatnya misalnya, Ali bin Abi Thalib, sebab Nabi pernah mengatakan : “Jika aku adalah gudang ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya”

Dari Sayidina Ali, pengetahuan ini kemudian menyebar melalui jalan sufi. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai tarekat atau kelompok tasawuf. Dan kelompok tasawuf inilah yang kemudian meneruskan penyebaran teori ini pada generasigenerasi selanjutnya.

Dikarenakan reinkarnasi memang belum waktunya dibeberkan pada jaman Nabi SAW maka tentunya pengetahuan reinkarnasi diserahkan kepada umat atau generasi penerusnya dikemudian hari untuk dikaji atau diteliti lebih lanjut melalui melalui iqra terhadap ayat-ayat kitabiyah yakni Al Quran dan iqra terhadap ayat-ayat kauniyah (alam semesta) yakni berupa penyelidikan terhadap kasus-kasus reikarnasi yang muncul. Justru disinilah fungsi manusia sebagai Khalifah (wakil) Tuhan untuk meneruskan mengkaji Al Quran secara di segala jaman agar pengetahuan –spiritualmanusia bisa lebih maju dan berkembang.

Lah, kalau segala sesuatu itu harus dijelaskan oleh Nabi SAW maka yang menjadi khalifah tentu Nabi SAW saja, padahal di Quran dijelaskan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi. Jadi tidak hanya Nabi saja yang menjadi khalifah melainkan juga manusia-manusia yang lain meski tidak semua manusia layak menjadi khalifahNya. Dan tentu usia nabi yang hanya 63 tahun tidak akan cukup menjelaskan semua tafsiran ayat Quran secara utuh dan mendalam. Hal ini penting untuk dipahami agar umat Islam tidak gampang membid'ahkan (mengatakan sesat) segala sesuatu yang dijaman Nabi tidak diungkapkan. Inilah yang menyebabkan kebekuan, kemunduran umat Islam hingga saat ini dikarenakan terlalu kaku menafsirkan ayat-ayat Quran atau Hadist.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

10 FAKTA REINKARNASI Reinkarnasi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bukanlah hanya kepercayaan atau keyakinan an sich tanpa didasari oleh fakta-fakta dalam kehidupan. Ya! Cukup banyak fakta yang dapat membuktikan adanya reinkarnasi. Dan telah banyak ilmuwan yang menulis buku-buku yang menjelaskan adanya reinkarnasi, diantaranya :

• • • • • •

The Power Within (Dr. Alexander Cannon) Twenty Cases Suggestive of Reincarnation (Dr. Ian Stevenson) The Three Lives of Naomi Henry (Henry Blythe) The Search for Bridey Murphy (Morey Berenstein) Who was Anne Okendan ? (Arnoll Bloxom) Exploration of a Hypnotist (Dr. Jonathan Rodney)

Dr.Alexander Cannon dalam bukunya The Power Within mengatakan : “Selama bertahun-tahun teori reinkarnasi menjadi mimpi buruk bagi saya dan saya berjuang sekuat tenaga untuk membuktikannya, bahkan saya sampai berdebat dengan begitu banyak orang yang saya hipnotis dalam penyelidikan teori ini. Tahun demi tahun berlalu dan satu demi satu subjek menceritakan pada saya kisah-kisah sejenis meski mereka berasal dari berbagai agama dan latar belakang yang berbeda. Hingga kini lebih dari seribu kasus telah diselidiki dan kini saya telah mengakui kebenaran adanya reinkarnasi”

Dr. Ian Stevenson juga pernah menyelidiki kasus-kasus reinkarnasi, melalui bukunya Twenty Cases Suggestive of Reincarnation, ia menyatakan bahwa penyelidikannya selama bertahun-tahun mengenai reinkarnasi telah membuatnya yakin akan adanya “kehidupan setelah kematian”. Sampai kini ia telah menyelidiki 1.200 kasus yang berasal dari India, Sri Langka, Thailand, Myanmar, Turki, Syria dan Lebanon. Kebanyakan kasus yang ditangani adalah anak-anak. Stevenson mengatakan bahwa reinkarnasi bukanlah tahayul melainkan fakta kehidupan. Dalam beberapa kasus tanda-tanda bawaan lahir seperti tahi lalat, kutil, bekas luka bacok, atau tertembak terkadang bahkan dapat muncul kembali.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

11

Sebenarnya satu kasus saja yang telah dibuktikan melalui metode penelitian yang ilmiah, sudahlah cukup bagi mereka yang cerdas untuk menerima adanya reinkarnasi. Berikut ini akan kita ungkapkan kasus-kasus reinkarnasi yang cukup populer.

1. Kasus Gnanatillaka Gnanatillaka lahir pada 14 Februari 1956 di kotamale, Sri Langka. Kasus ini bermula pada tahun 1960 ketika dia baru berusia empat tahun. Saat itu dia mengatakan “Aku ingin bertemu ayah-ibuku”. Padahal orang tuanya ada disampingnya sehingga ibunya berkata “Kami adalah orang tuamu”.

“Bukan!”, bantah Gnanatillaka. “Aku ingin melihat ibu dan ayahku yang sebenarnya. Aku tahu dimana mereka tinggal. Tolong bawa aku kesana”

Akhirnya Gnanatillaka menjelaskan rute yang harus ditempuh untuk menemui orang tua “asli”nya. Ternyata rumah yang dimaksud berada di perkebunan teh di Talawakele, sekitar tiga puluh mil dari tempat tinggal mereka.

Akhirnya kedua orang tua Gnanatillaka mengabarkan keanehan ini pada orang-orang dan beberapa profesor dari Universitas Ceylon dan YM Piyadassi Maha Thera datang untuk menyelidiknya. Mereka mendengarkan uraian Gnanatillaka yang mengaku dulunya adalah seorang anak laki bernama Tilakaratna. Setelah merekan semua pernyataan Gnanatillaka kemudian para peneliti mengajak Gnanatillaka mendatangi rumah yang dimaksud.

Gnanatillaka belum pernah mendatangi rumah yang dimaksud pada kehidupannya saat ini. Begitu pula kedua keluarganya tidak memiliki hubungan apapun satu sama lain. Tidak saling mengenal satu sama lain. Ketika sampai ditempat tujuan, Gnanatillaka memperkenalkan para profesor kepada tuan rumah. “Ini ayahku yang sebenarnya dan ini ibuku”. Kemudian dia mengenalkan adik dan kakaknya dan menyebut nama tiap saudaranya dengan tepat. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

12

Kedua orang tua lampaunya diwawancarai dengan menggambarkan perangai dan kebiasaan anak laki-laki mereka yang telah meninggal 9 November 1954. Pada saat Gnanatillaka melihat adik lampaunya, ia menghindar dan menolak berbicara dengannya. Selanjutnya kedua orang tua lampaunya itu menjelaskan bahwa kedua anak itu sering bertengkar dan berkelahi. Nampaknya alam bawah sadar Gnanatillaka masih menyimpan dendam masa lalunya.

Ketika kepala sekolah setempat mendengar cerita ini, dia pergi ke rumah itu untuk menyaksikannya sendiri. Saat dia memasuki rumah, Gnanatillaka memperkenalkannya sebagai gurunya. Bahkan dia mampu mengingat pelajaran dan pekerjaan rumah yang telah diberikan oleh gurunya semasa dia menjadi laki-laki pada kehidupan sebelumnya. Gnanatillaka juga mampu menunjukan kuburan tempat ia dimakamkan dulu.

Kisah Gnanatillaka dengan cepat tersebar luas, seorang peneliti spesialis reinkarnasi, Dr.Ian Stevenson dari universitas Virginia terbang dari Amerika menuju Sri Langka untuk menyelidiki kasus ini. Dia mengomentari kasus ini sebagai salah satu kasus terbaik yang pernah ditanganinya. Kasus Gnanatillaka juga telah dibukukan dan diterbitkan dalam bahasa Sinhala di Sri Langka disertai foto-foto yang dikumpulkan sepanjang penyelidikan.

2. Kasus Ma Hla Gyl Ma Hla Gyl adalah seorang gadis Myanmar berusia enam tahun yang mampu menunjukan kecerdasan luar biasa. Dia mampu mengingat dan membaca ayatayat Pali yang dikenal paling sulit. Ia juga mampu mendeklamasikan tanpa salah suatu halaman dari Pali Patthana setelah melihatnya selama satu menit dan mampu menjelaskannya artinya dalam bahasa Myanmar.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

13

3. Kasus Tabib Meksiko Di Meksiko daerah Ver Cruz pada tahun 1880, seorang bocah tujuh tahun memiliki kemampuan untuk mengobati dengan menggunakan ramuan tumbuh-tumbuhan. Ketika ditanya darimana ia mengetahui ramuan-ramuan tersebut, ia mengatakan bahwa kehidupan masa lampaunya adalah seorang dokter besar yang bernama Jules Alpherese. Kemampuan ini telah berkembang pada usia empat tahun.

4. Kasus Bridey Murphy Morey Berenstein, seorang ahli hipnotis membawa nyonya Ruth Simmons dalam kondisi terhipnotis. Simmons menceritakan bahwa kehidupan sebelumnya berada di Irlandia, 160 tahun yang lalu. Namanya ketika itu adalah Bridey Murphy. Simmons memberikan penjelasan rinci mengenai Bridey Murphy pada saat itu mulai dari masa kecil hingga pernikahannya dengan pengacara bernama Brian McCarthy. Rumahnya dekat dengan Gereja Santa Theresa. Simmons sesungguhnya belum pernah keluar dari Amerika dan tidak mengenal daerah Irlandia.

Setelah mendapat informasi secara detail, Bereinstein melakukan penyelidikan ke Irlandia untuk mencocokan dengan fakta yang diceritakan oleh Simmons. Ketika terbukti dengan akurat, kasus tersebut dipublikasikan dan menjadi pertentangan besar di Amerika. Orang yang tadinya tidak meyakini reinkarnasi sesaat kemudian merubah pendiriannya setelah membaca jurnal penelitian The Search for Bridey Murphy.

Kasus ini cukup menghebohkan dan hampir tiap surat kabar memuat pandangan-pandangan pro kontra. Yang menentang menganggap bahwa kasus tersebut adalah usaha setan untuk memperdaya manusia. Para penentang yang lain dari kelompok materialis juga mempertahankan pendapat mereka tentang tiadanya kehidupan setelah kematian.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

14

5. Kasus Michael Croston Michael Croston lahir di Liverpool, Inggris. Ketika umur 11 tahun ia mengunjungi kampung halamannya di Yorkshire. Sebelumnya ia belum pernah menginjakan kaki di desa tersebut. Ketika ia dan kedua orang tuanya melewati jalan sempit, tampaknya dia mengenali setiap kelokan. Ketika turun kabut tebal yang menutupi pandangan mereka sehingga sulit mencari jalan, Croston justru memberi petunjuk untuk mencapai daerah mereka ke sebuah rumah petani terpencil yang hanya bisa dicapai dengan rute yang membingungkan karena banyaknya kelokan. Kedua orang tuanya sangat terheran-heran dan Croston pun tidak bisa menjelaskan apapun bagaimana ia mengetahui rute itu semuanya.

Malam itu, kedua orang tua dan pamannya membicarakan tentang kakeknya. Croston ikut mendengarkan dan ia juga mampu mengenali banyak peristiwa yang mereka perbincangkan. Dan pengetahuan yang menakjubkan itu telah menunjukan bahwa Croston adalah kakek yang diperbicangkan.

Pagi berikutnya, Croston menunggang kuda dan mampu mengendarainya tanpa kesulitan walaupun selama ini ia belum pernah naik kuda sekalipun. Dan ia mengenali seluk beluk desa tersebut yang dilaluinya. Pada malam ke dua, Croston tidak dapat tidur. Ia merasa teringat tentang lonceng jam besar milik kakeknya yang berada diruang bawah tanah. Ketika jam menunjukan pukul dua dini hari, tiba-tiba ia bergegas turun menuju lonceng jam tersebut kemudian menjulurkan tangan ke balik jam tua tersebut.

Croston kemudian menemukan kotak kaleng besar setelah menyentuh pegas rahasia. Di kaleng tersebut ditemukan seberkas surat. Croston menemukan simpanan kakeknya tersebut. Menurut sejarah keluarga tersebut, sang kakek ternyata meninggal pukul dua dini hari karena serangan jantung mendadak sehingga tidak sempat mengatakan dimana ia menyembunyikan simpanannya. Hingga hari ini, keluarga Croston masih menyaksikan seluk beluk penemuan Croston yang luar biasa. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

15 6. Kasus Dorothy Jordon Dorothy Jordon adalah seorang juru ketik di Liverpool, Inggris. Suatu hari ia pergi ke bioskop Liverpoll untuk menonton film sejarah tentang kematian Lady Jane Grey. Tiba-tiba pada pertengahan film ia berteriak : “Itu semua keliru!, aku tahu dimana aku, aku disana!”

Dorothy kemudian memberi keterangan bahwa ia benar-benar merasa hidup dalam adegan-adegan tersebut. Ingatan-ingatan masa lalunya muncul setelah melihat berbagai adegan dalam film tersebut. Beberapa ingatan tersebut ada yang tidak sama dengan beberapa adegan film tersebut.

Dalam film tersebut, Lady Jane Grey melongok keluar melalui jendela di menara Gordon. Dorothy bersikeras bahwa jendela tersebut terlalu tinggi bagi Lady Jane. Dalam film juga digambarkan kerumunan orang terdiam ketika ia menghadapi hukuman mati. Padahal Dorothy ingat bahwa orang-orang menjerit-jerit dan berteriak. Film itu juga tidak menampakan adanya seorang anak yang berlutu sambil berdoa di tempat penggantungan dan si penjagal memakai ikat pergelangan tangan berwarna hitam.

Akhirnya penyelidikan sejarah terungkap setelah Dorothy menjelaskannya secara rinci. Dan memang ternyata apa yang dikatakan Dorothy benar! jendela menara itu memang terlalu tinggi; ada anak yang berdoa sambil berlutut dan si penjagal memakai ikat pergelangan tangan hitam. Saat ini Dorothy diyakini pernah hidup sebagai Lady Jane Grey, wanita dalam penantian.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

16 REINKARNASI : BUKTI NYATA KEADILAN TUHAN Sebelum kita membahas dalil reinkarnasi dalam Al Quran dan Hadist ada beberapa pertanyaan yang mendasari mengapa teori ini muncul. Pertanyaan-pertanyaan dibawah ini pun sebenarnya telah ada dalam pikiran penulis selepas bangku SD. Butuh waktu hampir 10 tahun untuk menemukan jawaban yang masuk akal dari pertanyaan dibawah ini bahkan sempat pula masuk ke pesantren dan menanyai beberapa ulama tapi tidak juga mendapati jawaban yang masuk akal dan memuaskan. Beberapa pertanyaan yang dahulu sering muncul dalam diri penulis adalah :

1. Menurut pemahaman sebagian ulama Islam, surga dan neraka adalah kekekalan abadi setelah kita mati. Yang bertempat di neraka adalah mereka yang berbuat kejahatan dan yang menempati surga adalah mereka yang berbuat kebajikan. Nah apakah masuk akal jika kehidupan di bumi yang sangat singkat ini merupakan persiapan yang cukup untuk memasuki alam siksa abadi atau alam kesenangan abadi?

Jika kehidupan yang singkat ini demikian menentukan untuk menuju alam abadi mengapa ada manusia yang hidup hanya beberapa minggu setelah dilahirkan dan mengapa manusia yang lain hidup sampai hampir 100 tahun? Disini kita akan mendapati orang yang berumur panjang akan memiliki resiko mendapat alam siksa abadi di banding manusia yang lahir sebentar lalu meninggal. Lah enak sekali menjadi bayi kemudian meninggal dunia dan masuk alam surga abadi. Padahal bayi tersebut tidak mengalami kesulitan/godaan hidup layaknya orang dewasa karena tidak sempat mengembangkan dirinya. Dimana keadilan Tuhan jika ia membiarkan seseorang hidup hanya beberapa saat kemudian memasukan ke alam kebahagiaan abadi tapi dilain pihak Tuhan membiarkan seseorang hidup cukup lama kemudian

mencampakannya ke alam kesengsaraan abadi? Silahkan anda renungkan dengan hati yang jernih.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

17 2. Berdasarkan pendapat kebanyakan ulama, orang yang beragama Islam masuk surga dan yang beragama non Islam masuk neraka selamanya. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana dengan nasib orang yang lahir dalam keluarga non muslim? Atau bagaimana mereka yang hidup di suatu tempat dimana agama Islam tidak dikenal sama sekali? Sungguh beruntung manusia yang lahir dalam keluarga muslim dan sungguh celaka mereka yang lahir dalam keluarga non muslim atau hidup di daerah yang tidak mengenal agama Islam.

Pernahkan kita memikirkan bagaimana jika kita terlahir dalam keluarga non muslim? Saya yakin tidak banyak dari kita yang memikirkan hal ini atau mungkin lebih tepatnya tidak peduli!. “Ah saya kan sudah beragama Islam sejak lahir, masa bodoh dengan agama orang lain. Biarkan saja mereka masuk neraka, toh itu sudah takdir Tuhan, yang penting kan saya masuk surga”. Weleh..weleh.. kalau kita sudah tidak memiliki empati terhadap penderitaan orang lain berarti diri kita masih terkurung oleh ego, suatu penyakit hati yang harusnya dilenyapkan!

Lalu dimana keadilan Tuhan jika surga/neraka didapat berdasarkan kepemelukan agama tertentu? Tentulah tidak mudah menentukan keyakinan akan kebenaran suatu agama. Bagi yang lahir muslim tentu akan meyakini Islam adalah agama yang paling benar dan yang lain sesat. Begitu juga jika lahir dalam keluarga non muslim tentu akan meyakini agamanya yang paling benar dan lainnya sesat. Tidak mengherankan banyak orang yang pusing memilih agama dan akhirnya netral dan tidak memilih agama apapun namun tetap percaya keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.

3. Pertanyaan lainnya : mengapa di dunia ini ada orang yang kaya dan yang lain miskin tertindas? Mengapa si A dilahirkan ditengah keluarga yang makmur sedangkan si B lahir dalam keluarga yang miskin? Mengapa bukan si B yang lahir dalam keluarga kaya raya sedangkan si A lahir dalam keluarga miskin? Mengapa si C lahir dalam keadaan cantik dan si D buruk rupa? Mengapa si E lahir dalam keadaan jenius sedangkan si F bodoh atau bahkan terbelakang mental? Mengapa si G lahir

dalam keadaan cacat sedangkan si H lahir dalam kondisi sehat tanpa kurang suatu apapun? Mengapa si J seringkali berusaha dengan keras namun gagal terus menerus sedangkan si K tanpa bersusah payah malah dapat mencapai keberhasilan ? Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

18 4. Lalu apa jawaban kita terhadap kelahiran manusia-manusia istimewa atau anak indigo berikut ini : • • • Mozart, musisi jenius yang mampu menggubah lagu dalam usia 6 tahun. Beethoven musisi jenius yang memukai publik dalam usia 7 tahun. Bentham, dalam usia 4 tahun mampu membaca dan menulis dalam bahasa Latin dan Yunani. • • Voltaire, mampu menceritakan dongeng Fontaine ketika berusia 3 tahun. Christian Heinecken yang mampu berbicara beberapa jam setelah

kelahirannya, menguraikan isi Al Kitab pada umur setahun, menjawab pertanyaan geografi dalam usia dua tahun, bicara dalam bahasa perancis dan latin dalam usia ke tiga dan menjadi pelajar filsafat dalam usia 4 tahun. • William James Sidis, mampu membaca, menulis dan bicara dalam bahasa Perancis, Rusia, Inggris dan Jerman dalam usia 2 tahun. • Ferruco Burco, bocah Italia yang mampu memimpin orkestra simfoni dalam usia empat tahun. • Giancella de Marco, gadis Italia yang memimpin London Philharmonic Orchestra pada usia delapan tahun. • Thomas Macaulay, mampu berbicara layaknya orang dewasa saat masih berusia setengah tahun. Menjadi penulis sejarah pada usia tujuh tahun.

Menarik sekali kehidupan anak-anak indigo tersebut, dan hampir ditiap negara selalu lahir bocah-bocah jenius dan uniknya sebagian besar mereka berasal dari orang tua yang sama sekali tidak memiliki keahlian apapun. Nah, ada rahasia apa dibalik semua ini? Mengapa nuansa kehidupan diatas terjadi didunia? Kalau kita pahami secara awam jelaslah bahwa terjadi diskriminasi atau ketidakadilan diantara sesama manusia. Di satu sisi, Tuhan nampaknya menciptakan manusia-manusia yang beruntung namun di lain sisi Tuhan menciptakan manusia yang kurang beruntung.

Nah, apa jawaban kita terhadap berbagai pertanyaan diatas? ah... itu kan sudah takdir Tuhan... sampeyan tidak boleh menggugat Tuhan dong....bukankah takdir baik dan buruk sudah ditentukan sendiri oleh Tuhan dan harus diterima manusia dengan pasrah. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

19

Ya..ya..ya inilah jawaban kebanyakan orang terhadap pertanyaan diatas yaitu sudah menjadi takdir atau kehendak Tuhan. Segala sesuatu yang menimpa manusia adalah takdir dari Tuhan yang harus diterima manusia. Sejujurnya saya katakan, jawaban ini sangat tidak memuaskan dan tidak masuk akal karena seakan-akan Tuhan itu pilih kasih dengan menguntungkan sebagian manusia dan menzalimi sebagian manusia lain. Padahal di Al Quran telah dijelaskan bahwa Tuhan sama sekali tidak menzalimi manusia. Simak ayat berikut :

Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya. (Q.S Al Anfaal (8) : 35)

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (Q.S Yunus (10) : 44)

Barang siapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu dan barangsiapa yang beramal saleh maka dia telah mempersiapkan diri buah dari amal salehnya itu. (Q.S Ar Ruum (30) : 44)

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat menghindar (dari azab Allah) di muka bumi. (Q.S Asy Syuura (42) : 30-31)

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu adalah itu adalah untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan kejahatan maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (Q.S Al Jaatsyiah (45) : 15)

Lima ayat diatas dengan sangat jelas menerangkan bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri sehingga jawaban “Takdir (kehendak) Tuhan” adalah jawaban yang tidak tepat. Jawaban ini jelas telah Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

20 mengkambinghitamkan Tuhan dengan mengatakan bahwa itu adalah perbuatan Tuhan padahal Tuhan sama sekali tidak menzalimi atau merugikan manusia. Tuhan hanyalah menjalankan roda hukum alam yang telah ditetapkan-Nya. Sedangkan manusia itu sendiri adalah bagian dari hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan. Karena hukum alam berjalan di bawah kehendak Tuhan, maka seakan-akan segala sesuatu yang menimpa manusia adalah atas kehendak Tuhan semata.

Sayang sekali, dalam berbagai terjemahan Quran, kata man yasya’ diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Allah menghendaki”. Tentu saja terjemahan demikian melanggar pernyataan bahwa Allah tidak merugikan manusia sedikit pun. Terjemahan yang seharusnya lebih tepat adalah “Allah menghendaki kepada manusia yang berkehendak kepada-Nya”. Jika manusia ingin sesat maka akan dibiarkannya sesat dan jika menginginkan petunjuk-Nya maka akan diberinya petunjuk. Dengan kata lain, Allah memberikan petunjuk kepada manusia yang menghendaki petunjuk-Nya. Hal ini dikuatkan pula oleh sebuah Hadist :

Dari Abu Zar. r.a, Nabi bersabda : Allah berkata kepadaku, Wahai hamba-Ku, Aku (Allah) haramkan atas diriku berbuat aniaya, begitu pula antara sesamamu. Wahai hamba-Ku, semua kamu sesat kecuali orang yang dapat petunjuk dari-Ku, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku beri petunjuk. (H.R Muslim)

Dari berbagai fakta dan penjelasan yang telah disampaikan diatas, maka jawaban yang memuaskan dan masuk akal terhadap semua pertanyaan diatas adalah adanya hukum sebab-akibat, yaitu melalui mekanisme REINKARNASI atau kelahiran kembali. Ya! Inilah satu-satunya jawaban yang masuk akal, jujur dan didukung juga dengan dalildalil Quran, Hadist dan fakta kehidupan. Jadi, adanya manusia yang lahir dalam keadaan cacat-sehat, bodoh-jenius, miskin-kaya dan lain sebagainya adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri. Perbuatan yang manakah? Perbuatan yang dilakukan pada kehidupan-kehidupan lampau sebelum manusia itu dilahirkan sekarang. Kita yang sekarang ini ternyata bukanlah kita yang baru dicipta. Tapi, kita yang sekarang ini adalah manusia yang telah lahir beberapa kali, ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu kali. Dengan demikian, teori reinkarnasi telah memberikan jawaban yang masuk akal mengenai masalah takdir baik dan buruk yang menimpa manusia. Ingat! agama adalah Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

21 akal dan ini telah pula disabdakan Rasulullah saw : “agama itu akal, tidak ada agamanya untuk orang yang tidak berakal”. Pada kasus yang lain, ada banyak penduduk di desa yang terkena bencana alam seperti longsor, banjir apakah itu akibat perbuatannya juga? padahal kan mereka tidak menggunduli hutan? malah orang yang menggunduli hutan itu selamat karena tinggal di kota yang notabene lebih aman. Bagaimana menjelaskan ini semua ? Begini saudaraku, orang yang terkena bencana alam itu tentu saja pernah melakukan perbuatan yang merusak bumi juga. Tapi tidak di kehidupan sekarang! Melainkan di kehidupan yang lalu. Jika di kehidupan yang sekarang terkena bencana maka hutang perbuatan merusak itu telah terbayar. Itulah sebabnya nabi SAW pernah menyebut dalam Hadistnya bahwa manusia yang meninggal karena bencana alam itu termasuk mati syahid dan masuk surga. Ya itu karena hutang perbuatannya telah terbayar!

Lalu bagaimana dengan para mafia yang melakukan penggundulan hutan tapi bersembunyi ke pusat kota sehingga selamat dari bencana alam? Ya memang mafia itu selamat dan masih bisa tertawa terkekeh-kekeh hingga sekarang bahkan mungkin sampai mati pun ia tidak tertimpa bencana alam. Tapi jangan salah... yang tertimpa bencana nanti ya generasi selanjutnya. Nah generasi selanjutnya itu ya para mafia itu sendiri dalam bentuk fisik yang lain. Perbuatan jahat sekecil apapun pasti ada balasannya.

Barang siapa beramal kebajikan meski sebutir debu niscaya akan dirasakannya. Dan barang siapa yang beramal keburukan meski sebutir debu niscaya akan dirasakannya pula. (Q.S Al Zalzalah (99) : 7-8)

Meski mafia hutan itu pada kehidupan yang sekarang masih bisa selamat tapi di kehidupan yang akan datang tidak akan bisa melarikan diri dari azab Allah. Hakekatnya bukan Allah yang mengazab mereka tapi mereka sendiri yang mengazab. Ada sebab, ada akibat. Untuk apa di azab? agar mereka menyadari kekeliruan mereka dan dapat kembali ke jalan yang benar.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

22 Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut akibat perbuatan manusia. Dan Dia membuat mereka merasakan sebagian buah perbuatannya, sehingga mereka dapat kembali ke jalan yang benar. (Q.S Ar Rum (30) : 41)

Pada ayat tersebut dikatakan bahwa Tuhan membuat “mereka” merasakan sebagian buah perbuatannya. Siapa yang dimaksud dengan “mereka” itu? Ya tentu saja orang yang berbuat kerusakan yang akan merasakan akibat perbuatannya. Jika orang yang merusak sekarang itu bernama “A” maka dikehidupan yang akan datang dia akan tertimpa azab dengan nama “B”. Tubuhnya berbeda tapi jiwanya sama saja yaitu jiwa yang melakukan kerusakan di bumi. Untuk lebih menyakinkan, perhatikan ayat dibawah ini :

Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi atau pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam “kitab” sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Q.S Al Hadiid (57) : 22)

Pada ayat tersebut, dikatakan bahwa bencana yang menimpa bumi atau seseorang sesungguhnya telah tercatat pada sebuah “kitab”. Kapan dicatatnya? Ya sebelum kita dihadirkan dibumi ini yaitu berdasarkan perbuatan kita dikehidupan sebelumnya. Ayat ini jangan ditafsirkan, bahwa Tuhan telah mentakdirkan baik-buruknya kehidupan manusia dan dicatat dalam kitab-Nya. Tuhan tidaklah menetapkan takdir sebagaimana yang dipahami oleh sebagian besar umat Islam hingga sekarang ini yakni takdir baik dan buruk itu ditetapkan oleh Tuhan di zaman azali, sebab jika itu benar maka artinya Tuhan telah berbuat zalim pada hamba-Nya.

Pada ayat diatas dinyatakan bahwa semua bencana dicatat sebelum “kami” mewujudkannya. Ternyata yang mencatat bukanlah “Aku” (Allah) semata melainkan “Kami”. Nah, kata “Kami” mengandung arti Tuhan melibatkan ciptaan-Nya yang dalam hal ini adalah manusia.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

23 Jadi manusialah yang membuat blue print dan teken kontrak takdirnya sendiri pada kehidupan mendatang dan Tuhan tinggal memfasilitasinya atau “tanda tangan” saja pada kitab tersebut agar terwujud takdirnya. Hal ini dikuatkan kembali dalam Quran :

Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Q.S Yaasiin (36) : 12)

Jika kita membaca ayat Yaasiin diatas dengan seksama, maka akan tampak jelas sekali bahwa “Kitab” takdir manusia ditulis berdasarkan apa yang manusia kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Apa maksud “bekas-bekas yang mereka tinggalkan” ? Ya tentu saja jejak atau perbuatan hidup mereka pada kehidupankehidupan sebelumnya. Tuhan memfasilitasi manusia melalui kitab hukum sebabakibat dan semua manusia mengikuti hukum tersebut.

Nah, karena kita sendiri yang “teken kontrak” takdir, maka di ayat lanjutannya (Al Hadiid ayat 23), kita diingatkan Tuhan agar tidak bersedih jika mengalami suatu kegagalan dan tidak boleh sombong jika mendapat kesuksesan. Sebab segala kesulitan dan keberuntungan hidup kita sekarang ini adalah buah dari perbuatan kita di masa kehidupan sebelumnya. Simak ayat berikut ini :

(Yang kami jelaskan itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S Al Hadiid (57) : 23)

“Allah tidak membebani suatu jiwa diluar kesanggupannya. Sekarang ini ia hanya mendapatkan imbalan dari apa yang pernah diusahakan dan mendapatkan siksaan dari kejahatan yang telah dilakukannya.” (Q.S Al Baqarah (2) : 286)

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

24 Kesimpulannya adalah jika seseorang hidup penuh dengan keberuntungan misalnya dilahirkan dalam keluarga kaya raya atau memiliki bakat seperti kejeniusan maka itu adalah buah dari perbuatan/kebajikan yang dilakukan pada kehidupan sebelumnya. Dan bagi yang terlahir dalam kondisi kurang menguntungkan seperti cacat, miskin, selalu terkena bencana maka itupun akibat dari perbuatan sebelumnya yang jelas menyimpang dari jalan Tuhan.

Lalu, bagaimana dengan kasus munculnya manusia-manusia istimewa seperti yang telah diceritakan sebelumnya? Apakah mereka diberikan bakat oleh Tuhan secara sim salabim? Tentu saja tidak! Beberapa manusia istimewa seperti Mozart, Heinecken, Einstein dan lain sebagainya yang memiliki kejeniusan bukanlah mendapat anugerah yang begitu saja turun dari langit. Mereka telah memupuk keahliannya di kehidupankehidupan sebelumnya sehingga ketika lahir kembali ke dunia, keahliannya tersebut telah terekam di alam bawah sadarnya. Ketika mereka dilahirkan kembali, memori keahlian tersebut akan terbangkitkan dengan sendirinya. Jika di kehidupan sebelumnya kita pernah belajar fisika maka dikehidupan yang sekarang fisika akan menjadi lebih mudah dipelajari. Hal ini berbeda jika pada kehidupan sebelumnya tidak pernah belajar fisika maka kehidupan yang sekarang akan pusing tujuh kelilling belajar fisika.

Kalau kita perhatikan, peradaban manusia kian lama ternyata kian canggih. Manusia senantiasa bertambah cerdas dari masa ke masa. Jaman dulu untuk pergi ke suatu tempat adalah dengan berkuda, sedangkan jaman sekarang sudah menggunakan pesawat terbang. Nah, jika dikaitkan dengan reinkarnasi, ini artinya manusia-manusia yang lahir sekarang ini telah memupuk keterampilan dan pengetahuannya dari kehidupan sebelumnya sehingga tidaklah mengherankan jika bumi yang semakin tua ini juga akan dihuni oleh manusia-manusia yang makin “tua” ruhaninya. Semakin tua ruhani manusia maka tingkat kecerdasannya pun akan semakin tinggi.

Jadi tidak mungkin kejeniusan tersebut di dapat secara instan atau dalam satu kali kehidupan saja. Semua ada proses yang harus dilalui. Bahkan Allah sendiri tidak menciptakan sesuatu secara instan, sim salabim, abrakadabra! layaknya pesulap. Alam semesta sendiri diciptakan Allah dalam proses enam masa lamanya. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

25 Manusia pun diciptakan melalui proses bertemunya dua sel telur. Semua ciptaan-Nya itu akan terus berproses hingga ciptaan tersebut makin sempurna. Dalam Quran dikatakan :

Yang menciptakan dan menyempurnakan (ciptaan-Nya). (Q.S Al A’laa (87) : 2)

Berdasarkan penjelasan diatas, sekarang kita bisa lebih memahami tujuan Tuhan menciptakan sesuatu dengan melalui proses yaitu agar ciptaan-Nya itu semakin sempurna dan sebagai pembelajaran bagi manusia yang mau menggunakan akalnya.

Nah, dengan memahami reinkarnasi, kita menjadi lebih tahu betapa adilnya Tuhan dan bukan malah mengkambinghitamkan Tuhan dengan

mengatasnamakan takdir. Mentang-mentang tidak punya jawaban yang masuk akal, malah kemudian Tuhan yang dijadikan kambing hitam. Jadi, manusia akan menuai akibat berdasarkan perbuatan yang dilakukannya sendiri. Inilah yang disebut sebagai sunnatulah dalam istilah Islam, atau karma dalam istilah agama-agama timur atau hukum kausalitas (sebab-akibat) dalam terminologi ilmu pengetahuan. Perbuatan baik akan berbuah baik dan perbuatan buruk berbuah buruk. Biji mangga yang buruk tidak akan pernah menghasilkan pohon mangga yang sehat berbuah ranum dan manis.

Perjalanan ruh (evolusi ruh) yang demikian panjang akan makin menyempurnakan ruh itu sendiri. Semakin tua usia ruh seseorang maka ia akan memiliki keunggulan lebih dibanding mereka yang usia ruhnya masih muda. Pada beberapa kasus, usia ruh yang muda biasanya terkondisikan pada kelahiran anak yang dilahirkan dalam kondisi keterbelakangan mental. Belum banyak pengalaman yang didapat sang ruh dalam perjalanan kehidupannya sehingga ia belum mampu menangkap secara cerdas kehidupannya yang sekarang. Jika kita menemukan bocah yang jenius, meski secara fisik usianya lebih muda daripada kita namun usia ruhaninya bisa dipastikan lebih tua dari kita. Ruhnya berarti telah banyak makan asam garam, lebih berpengalaman daripada kita yang memiliki usia ruhani muda.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

26 Mungkin ada yang bertanya, jika reinkarnasi itu memang ada kenapa kita tidak dapat mengingat kehidupan sebelumnya? Untuk menjawab pertanyaan ini maka saya akan balik bertanya, apakah anda ingat kehidupannya sendiri ketika masih bayi atau kanakkanak? Lah, untuk mengingat masa kecil saja kita sudah tidak ingat lagi bagaimana mengingat masa lalu? Bahkan kehidupan 1-2 tahun ke belakang saja kita kesulitan mengingat.

Justru disinilah Maha Rahman dan Rahimnya Tuhan sebab jika kita bisa mengingat kehidupan-kehidupan pada masa lampau malah justru akan membebani hidup kita yang sekarang, bisa jadi stres bahkan gila!. Bayangkan jika kita pernah menjadi pembunuh, pemerkosa, koruptor dan lain sebagainya maka sudah tentu kita akan nangis-nangis sendiri mengingat perbuatan kita yang kotor. Dengan kasih sayang-Nya lah membuat kita lupa pada masa lalu. Dan hanya orang tertentu saja yang -telah matang spiritualnya- mampu mengingat kehidupan masa lalunya.

Loh... Jika manusia itu sudah lupa masa lalunya bukankah nanti ia bisa berbuat jahat lagi? Nah kita harus tahu, meski kita lupa pada masa lalu, bukan berarti ingatan itu tidak ada sama sekali. Pengalaman-pengalaman kita pada kehidupan lalu tetap terekam di alam bawah sadar. Maka itu, kita sering melihat ada balita yang periang, pendiam, suka menangis, pemarah dan lain sebagainya. Sifat-sifat itulah refleksi dari kehidupan sebelumnya.

Jika alam bawah sadarnya menyimpan banyak kebajikan (pahala) maka di kehidupan yang sekarang dia akan menjadi manusia yang berahlak baik, hidup bahagia dan sejahtera (mendapat surga). Meski jadi pejabat pun dia tidak akan korupsi. Tapi jika alam bawah sadarnya menyimpan banyak kejahatan (dosa) maka kecenderungan berbuat jahat itu tetap ada dan hidupnya pun akan sengsara serta akan terus mengalami siklus hidup-mati. Mereka yang berbuat jahat dalam bahasa Quran disebut sebagai orang yang masuk neraka. Setiap kali kulit mereka hangus maka diganti dengan kulit yang baru (Q.S 4: 56). Kulit hangus bermakna mati dan kulit baru bermakna hidup kembali. Raga lama yang mati diganti dengan raga baru, begitu seterusnya sampai mereka bertobat. Kembali ke jalan yang lurus. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

27 Diatas telah dijelaskan bahwa rekaman kehidupan masa lalu manusia tersembunyi di alam bawah sadar manusia. Pertanyaannya adalah, bisakah manusia mengingatnya kembali? Jawabannya adalah bisa! namun tidak mudah. Para ilmuwan biasanya menggunakan tehnik hipnotis (simak caranya pada bagian lampiran).

Tehnik hipnotis telah diakui dan digunakan dalam bidang ilmu psikologi, bahkan di negara maju ilmu ini telah biasa diajarkan di universitas dan menjadi salah satu fakultas. Metode hipnotis dulunya digunakan juga untuk pengobatan medis (karena belum ada obat bius). Dan sampai sekarang inipun, hipnotis masih digunakan untuk penyembuhan yang bersifat psikologis seperti menghentikan kebiasaan rokok, minuman keras, trauma dan lain sebagainya.

Dalam kasus reinkarnasi, seseorang yang ingin diketahui masa lalunya akan dihipnotis terlebih agar masuk ke alam bawah sadarnya. Kalau sudah demikian maka ia akan bercerita tentang kehidupannya dimasa lampau. Namun demikian tidak semua orang bisa dihipnotis karena bergantung kualitas ruhaninya dan faktor lainnya.

Tehnik lain yang bisa digunakan untuk menembus ingatan masa lampau adalah tehnik meditasi. Biasanya mereka yang mampu menggunakan tehnik ini telah memiki kecakapan spiritual yang mumpuni. Jadi agak sulit menggunakan cara ini untuk orang awam. Diperlukan latihan yang khusus untuk bisa menguasainya. Atau jika kehidupan sebelumnya kita pernah mendalami hal spiritual maka di kehidupan yang sekarang hampir bisa dipastikan kita bisa melacak kehidupan masa lalu seperti yang mampu dilakukan oleh orang indigo (artikelnya bisa dibaca pada bagian lampiran).

Sudah barang tentu hasil yang didapat dari tehnik hipnotis maupun meditasi harus dicocokan dengan pribadi masing-masing di kehidupan yang sekarang. Misalkan jika pada kehidupan masa lalu kita pernah menjadi seorang ahli matematika, maka dikehidupan yang sekarang tentunya kita akan lebih mudah mempelajari matematika dibanding rekan-rekan anda. Penelitian seperti ini sungguh akan menjadi menghasilkan pengetahuan yang objektif dan jauh dari kesan tahayul.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

28 Bagi mereka yang mampu mengenali masa lalunya, reinkarnasi bukanlah suatu kepercayaan atau teori belaka. Reinkarnasi adalah suatu pengalaman yang bisa dirasakannya sendiri dan bukan dari membaca buku-buku. Meskipun pada jaman baheula belum terbit buku tentang reinkarnasi, mereka telah mengenal reinkarnasi berdasarkan pengalamannya sendiri. Dari pengalaman inilah kemudian mereka menceritakan atau mengajarkannya kepada orang lain.

Nah, menemukan memori kehidupan di masa lalu ternyata bisa juga di dapat dalam keadaan sadar penuh (lihat fakta/kasus reinkarnasi pada bab sebelumnya). Misalkan kita merasa kenal begitu dekat dengan orang yang baru saja kita temui, atau kita merasa pernah mengunjungi daerah tertentu dan mampu mengenali seluk beluk daerah tersebut meski belum pernah berkunjung pada kehidupan yang sekarang.

Yang cukup membantu kita mengingat kehidupan masa lalu adalah jika kita terlahir di suatu daerah yang tidak jauh dari daerah tempat kita tinggal pada masa kehidupan sebelumnya. Misalkan di kehidupan yang lalu kita terlahir di Medan dan di kehidupan sekarang terlahir di Jakarta. Manakala sekarang kita mengunjungi Medan biasanya secara otomatis alam bawah sadar kita akan mengingatkan kita bahwa kita pernah tinggal dan hidup di Medan. Namun demikian, kasus ini jarang dijumpai sebab biasanya migrasi jiwa manusia cukup jauh yakni melintasi batas negara atau bahkan ke bumi/planet lain.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

29 DALIL-DALIL REINKARNASI Loh dari tadi koq membahas reinkarnasi muter-muter tanpa dalil yang jelas, mana... mana dong dalilnya !!? Sabar pembaca..... sekarang ini saatnya kita membahas secara mendalam dalil-dalil Quran maupun Hadist yang berkaitan dengan reinkarnasi.

Bagi ilmuwan non muslim yang tidak mengenal Quran, untuk membuktikan adanya reinkarnasi mereka harus melakukan riset beribu-ribu kali sehingga reinkarnasi diakui oleh mereka berdasarkan penelitiannya. Dalam kaidah Islam, penelitian yang mereka lakukan disebut mengkaji ayat-ayat kauniyah alias melakukan iqra terhadap alam semesta. Lain halnya dengan kebanyakan orang Islam yang mengutamakan ayat-ayat kitabiyah tapi melupakan ayat-ayat kauniyah (alam semesta). Dikiranya ayat-ayat Allah itu hanya yang tertulis di kitab suci saja. Tidak heran jika ilmu pengetahuan dan teknologi umat Islam sekarang jauh tertinggal dibelakang karena hanya mengkaji ayat kitabiyah yang kerap kali dipersempit pada ayat-ayat fiqih semata.

Hasilnya adalah temuan-temuan teknologi yang bermanfaat bagi umat manusia justru lebih banyak ditemukan oleh orang-orang yang kita anggap kafir. Kita justru lebih suka ribut-ribut masalah fiqih, lebih suka membicarakan orang yang gerakan sholatnya berbeda lalu kemudian di cap sesat, lebih suka mengkafir-kafirkan orang lain karena tidak seide dengannya atau beda aliran. Yang sunni menjelek-jelekan syiah, yang syiah juga menjelek-jelekan sunni. Para pelaku aliran Ahmadiyah yang dianggap sesat oleh beberapa umat Islam akhirnya harus dilempari batu, diusir dari Indonesia. Padahal perilaku brutal ini justru mengingkari Al Quran untuk hidup damai.

Hawa nafsu justru dipertuhankan untuk klaim kebenaran dengan mengatasnamakan Tuhan. Padahal menuhankan hawa nafsu sama saja dengan musrik kepada Allah. Ya jelas musrik!, wong hawa nafsu koq dijadikan Tuhan. Kalau sudah menuhankan hawa nafsu maka Allah akan membiarkannya menjadi orang sesat.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

30 Simak dan renungkan ayat berikut :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan)... (Q.S Al Hujaraat (49) : 11)

Hai orang-orang

yang

beriman, jauhilah kebanyakan

dari prasangka

sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mau mencaricari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan bangkai daging saudaranya sendiri ? (Q.S Al Hujaraat (49) : 12)

Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dengan terkunci mati pendengaran dan hatinya dan tertutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S Al Jaatsyiah (45) : 23)

Oke, sekarang kembali ke topik reinkarnasi. Dalil dalil yang akan dijelaskan dibawah ini termasuk ayat mutasyabihat, yakni ayat yang memerlukan penelitian atau pengkajian lebih mendalam oleh karena maknanya tersembunyi. Dalam suatu Hadist, Nabi mengatakan : “Al Quran disampaikan dalam tujuh dialek, dan dalam setiap dialek ada makna luar dan ada makna dalamnya.”

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

31 Nah, makna dalam (yang tersembunyi) inilah yang sesungguhnya harus diteliti oleh manusia. Bagi kebanyakan umat Islam, ayat mutasyabihat dilewatkan begitu saja padahal Quran menganjurkan manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami ayat yang maknanya tersembunyi agar bisa ditemukan maksud yang sebenarnya. Perhatikan ayat berikut ini :

Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayatayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Q.S Ali Imran (3) : 7)

Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Demikianlah Allah mengunci mati hati orangorang yang tidak (mau) memahaminya. (Q.S Ar-Ruum (30) : 58-59)

Dibawah ini ada tiga ayat Al Quran yang berbicara tentang reinkarnasi, mari kita simak ayatnya! :

1) Dan Allah telah menciptakan kamu semua, kemudian Dia mewafatkan kamu semua. Dan diantaramu ada yang dikembalikan pada umur yang paling lemah sehingga tidak mengetahui sesuatu apapun apa-apa yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa. (Q.S An Nahl (16) : 70)

2) Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dan keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Kemudian, Allah menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur. (Q.S An Nahl (16) : 78)

3) Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya , niscaya kami kembalikan dia pada kejadiannya (penciptaan awal). Apakah mereka tidak memikirkan? (Q.S Yaasin (36) : 68)

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

32 Pada ayat pertama Allah menjelaskan bahwa manusia sesungguhnya diciptakan oleh Allah kemudian yang mematikan juga Allah. Dan diantara manusia itu ada yang “dikembalikan kepada umur yang paling lemah”. Kalimat ini seringkali diartikan oleh para penafsir Quran sebagai orang yang tua renta. Sedangkan kata “sehingga tidak mengetahui sesuatu apapun apa-apa yang pernah diketahuinya” ditafsirkan sebagai pikun.

Tafsiran tersebut sesungguhnya tidak tepat!. Dan sepertinya si penerjemah tidak belajar ilmu biologi tentang proses pertumbuhan manusia. Kelirunya dimana? Coba kita pikir bagaimana mungkin dikembalikan kepada umur yang lemah adalah menjadi tua renta? memangnya orang tua renta itu sudah pasti lemah fisik dan ingatan? Katakata “dikembalikan” pada ayat diatas sudah tentu maknanya kembali ke waktu sebelumnya yaitu awal penciptaan fisik manusia alias bayi berumur 0 tahun! inilah umur yang paling lemah!

Loh jangan-jangan bayi yang dimaksud adalah sifatnya yang seperti bayi? Ya jelas bukan! Tidak ada orang tua renta berkelakuan seperti bayi. Banyak diantara mereka meski sudah tua renta masih aktif diberbagai kegiatan politik, ekonomi, bisnis dan lain sebagainya. Dan yang pikun pun belum tentu orang tua renta. Orang yang masih berusia muda pun banyak yang sudah pikun dan lemah fisiknya.

Kalau umur yang paling lemah itu sudah pasti orang tua renta, lah kuatan mana orang tua renta atau bayi? Ya tentu saja orang tua renta lebih kuat!. Bayi sudah pasti tidak bisa menggendong orang tua renta tapi orang tua renta masih bisa menggendong bayi. Lagipula orang tua renta belum tentu lemah secara fisik. Banyak kejadian orang tua renta yang masing kuat menikah dan punya anak meski umurnya hampir 100 tahun! Jadi jelas bahwa makna “umur yang paling lemah” adalah umur 0 tahun (bayi) dan bukan orang tua renta.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

33 Kemudian kata-kata “tidak mengetahui sesuatu apapun apa-apa yang pernah diketahuinya” juga sering diartikan pikun. Padahal, bahasa Arabnya pikun adalah kharif jadi jelas tidak cocok dengan terjemahan ayat tersebut. Untuk menafsirkan kata “tidak mengetahui sesuatu apapun”, kita harus mencari ke ayat Quran yang lain. Inilah cara menafsirkan yang terbaik, yakni menafsirkan ayat Quran dengan ayat Quran yang lain.

Kita melompat tujuh ayat berikutnya yaitu di Q.S An Nahl (16) : 78 : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun”. Nah kini jelaslah sudah bahwa “tidak mengetahui suatu apapun” adalah bayi!. Kalau makna “tidak mengetahui sesuatu pun” diartikan pikun, lah mosok bayi dilahirkan dalam keadaan pikun? Pikun adalah sering lupa dan bukan tidak mengetahui sesuatu apapun sama sekali. Justru yang tidak mengetahui suatu apapun adalah bayi!. Apa yang pernah dialami bayi itu pada kehidupan sebelumnya akan terlupakan. Ingatan tersebut tersimpan di alam bawah sadarnya.

Di ayat ketiga, (Q.S Yaasin (36) : 68) disebutkan : Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya, niscaya kami kembalikan dia pada kejadiannya (khalq). Apakah mereka tidak memikirkan?

Ayat ketiga ini juga sering ditafsirkan : manusia yang dipanjangkan umurnya akan menjadi lemah dan kurang akal (menjadi tua renta dan pikun). Tafsir ini biasanya terdapat pada catatan kaki kitab suci Al Quran. Tapi lagi-lagi ayat ini ditafsirkan secara keliru mungkin karena minimnya wawasan. Pada ayat tersebut ada kata dalam bahasa Arab yakni “khalq” yang artinya penciptaan. Dengan demikian, dikembalikan kepada kejadiannya adalah dikembalikan pada penciptaan fisik awal... yaitu bayi! Jadi maksud dipanjangkan umurnya adalah ia hidup atau terlahir kembali menjadi bayi. Umur ruhaninya diperpanjang melalui jasad atau fisik yang baru.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

34 Ayat ini pun ditutup dengan kalimat “Apakah mereka tidak memikirkannya?”. Nah, apanya yang perlu dipikirkan jika makna dipanjangkan umurnya sudah pasti pikun dan tua renta? Sesuatu yang sudah jelas tentu tidak perlu dipikirkan lagi. Ini jelas menantang manusia untuk memikirkan makna sesungguhnya yang tersembunyi. Nah kalau ada orang yang meninggal dan beberapa waktu kemudian lahir kembali menjadi bayi maka tentu ini memerlukan pemikiran! perlu adanya penyelidikan!

Sebenarnya, jika kita ingin mencari ayat yang menceritakan proses pertumbuhan fisik manusia dari bayi sampai dengan tua, maka kita tidak perlu melakukan tafsir yang terkesan “dipaksakan” seperti yang dilakukan para penerjemah pada ayat-ayat diatas. Ternyata, ada ayat Al Quran yang telah sangat jelas menceritakan pertumbuhan fisik mulai dari bayi, dewasa hingga tua. Mari simak ayat dibawah ini :

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah (bayi, pen), kemudian Dia menjadikan sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat (dewasa, pen) kemudian Dia menjadikan sesudah kuat itu lemah dan beruban (tua, pen). Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Q.S Ar Ruum (30 : 54)

Perhatikan surah Ar Ruum : 54 tersebut!, pada kata “khalq” bermakna “menciptakan” fisik manusia, yakni bayi. Kemudian dari bayi, Allah “menjadikan” manusia hingga dewasa dan setelah itu “menjadi” tua. Pada ayat ini, ada dua kata yakni “menciptakan” dan “menjadikan”. “Menciptakan” adalah awal dari sebuah kehidupan fisik manusia yakni bayi sedangkan “menjadikan” merupakan proses lanjutan fisik manusia. Jadi ayat diatas memberikan gambaran secara berkelanjutan mengenai proses pertumbuhan fisik manusia mulai dari bayi, dewasa sampai tua. Dan makna tua tersebut menjadi sangat jelas karena ditambahkan kata “beruban”. Nah, karena ayat ini sudah sangat jelas, maka surah Ar Ruum ini tidak ditutup dengan kata-kata “Apakah mereka tidak memikirkannya?” sebagaimana surah Yaasin (36) : 68.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

35 Tiga dalil pertama yang telah disebut diatas sebenarnya sudah cukup untuk membuka wawasan kita tentang kebenaran reinkarnasi sebagai keniscayaan. Namun agar wawasan kita bertambah, mari kita lanjutkan dengan dalil yang lain :

Kami telah menentukan kematian diantara kamu dan sekali-kali tidak dapat dikalahkan. Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang seperti kamu dan menciptakan kamu kelak dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. (Q.S Al Waaqi’ah (56) : 60-61)

Pada ayat diatas dijelaskan bahwa kematian yang terjadi pada diri kita itu adalah untuk menggantikan orang-orang yang seperti kita dalam keadaan yang tidak kita ketahui. Kata “menciptakan kamu kelak” juga sering ditafsirkan bahwa Allah membangkitkan/menciptakan manusia lagi kelak setelah kiamat.

Tafsiran tersebut terlalu dangkal, sebab kata lanjutannya adalah “dalam keadaan yang yang tidak kamu ketahui”. Logikanya adalah apa pedulinya manusia terhadap keadaan fisik mereka sendiri setelah dibangkitkan pada hari kiamat ? Tidak mungkin mereka peduli lagi dengan wujud/fisik mereka oleh karena mereka pasti grogi, panik menghadapi hisab. Tapi mengapa ada penambahan kata-kata “dalam keadaan yang tidak kamu ketahui” ? Apa pentingnya penambahan kata tersebut ?

Nah ternyata maksud kata-kata tersebut adalah, diri kita yang telah mati akan terlahir kembali dalam bentuk fisik lain atau rupa yang kita tidak ketahui. Ini artinya kita bisa dilahirkan kembali ke bumi dengan wajah rupawan ataupun buruk rupa. Bisa sehat, bisa juga cacat. Bisa berjenis kelamin laki-laki atau perempuan dst. Jadi sebenarnya Tuhan itu adil. Kita pernah terlahir menjadi laki-laki dan pernah pula terlahir menjadi perempuan. Oleh karena itu, sebenarnya kita tidak perlu ribut-ribut masalah kesetaraan gender! karena semua manusia, laki atau perempuan, sama dihadapan Allah. Yang membedakan adalah ketakwaannya (Q.S 49:13)

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

36 Loh bukankah di Al Quran (An Nisaa (4) : 34) disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin wanita? Nah, ayat ini hendaknya jangan diartikan harfiah saja sebab ayat diatas turun karena “berkompromi” dengan budaya Arab pra Islam dimana pada masa itu kaum pria memang mendominasi kaum wanita. Ayat diatas harus ditafsirkan ulang dengan penafsiran yang lebih dalam dan cocok dengan peradaban manusia sekarang. Makna yang sesungguhnya dari kata “laki-laki memimpin wanita” adalah ruh manusia (“laki-laki”) hendaknya memimpin jasad (“wanita”). Ruh disimbolkan oleh laki-laki. Jasad disimbolkan oleh wanita.

Orang yang memimpin dengan jasad berarti ia memimpin dengan menggunakan hawa nafsunya sehingga segala keputusan yang diambil hanya menguntungkan diri sendiri atau kepentingan dunia saja (sesaat). Lain halnya jika seseorang mampu memimpin dengan ruhnya. Ia akan selalu mengambil keputusan dengan melihat dimensi akherat. Salah satu makna kata “akherat” adalah “kehidupan yang akan datang”. Jadi seseorang yang memimpin dengan ruh akan senantiasa memiliki visi ke depan. Ia tidak mengambil keputusan yang hanya menguntungkan dirinya saja (vested interest) atau untuk kepentingan sesaat. Jika menebang pohon maka ia juga akan menanam pohon baru (reboisasi). Pemimpin seperti ini senantiasa menjauhi kemungkaran : tidak pernah korupsi, kolusi, nepotisme dan hidupnya pun selalu di isi dengan kebajikan. Menebar salam. Menegakkan perdamaian. Jadi siapapun yang memimpin suatu organisasi atau negara -laki atau perempuan- janganlah dipermasalahkan apalagi sampai perang dalil. Kita hendaknya memilih pemimpin yang mampu

memberdayakan ruhnya yakni pemimpin yang memiliki kecerdasan spiritual!

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

37 Kembali ke topik reinkarnasi, kali ini kita lanjutkan dengan dalil reinkarnasi pada surah Al Ankabuut :

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya kemudian mengulanginya kembali. Sesungguhnya yang demikian adalah mudah bagi Allah. (Q.S Al Ankabuut (29) : 19)

Katakanlah, “Berjalanlah di muka bumi, perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan manusia pada mulanya, kemudian Allah menciptakannya pada kali kali. Sesungguhnya Allah Mahakuasa untuk menciptakan segala sesuatu (Q.S Al Ankabuut (29) : -20)

Pada ayat 19 dan 20 diatas kita disuruh memperhatikan penciptaan manusia yang diciptakan pada awalnya dan kemudian Allah menciptakannya lagi pada waktu yang lain. Tafsiran banyak ulama mengenai “penciptaan ulang” atau “penciptaan pada kali lain” adalah manusia dibangkitkan lagi oleh Allah setelah kiamat terjadi.

Loh..loh... bagaimana ini? kalau disuruh memikirkan penciptaan awal manusia sih mudah yaitu bertemunya sperma dan sel telur yang kemudian berproses menjadi bayi, tapi kalau disuruh memperhatikan penciptaan manusia setelah kiamat, lantas bagaimana caranya? Lah.. kalau begitu apa ya mungkin Tuhan salah perintah?

Tuhan tentu saja tidak mungkin salah perintah! Tapi manusialah yang salah menafsirkan. Mungkin karena terburu-buru, kurang wawasan atau pusing tujuh keliling jika harus menafsirkan Al Quran yang maknanya tersembunyi. Jangan lupa! Al Quran itu adalah petunjuk untuk orang yang masih hidup. Lah kalau orang yang masih hidup disuruh memperhatikan penciptaan manusia setelah kiamat atau hancur leburnya alam semesta, caranya bagaimana? iki piye son...?! jelas tidak mungkin. Mustahal bin mustahil.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

38 Untuk memahami ayat 19 ini, coba baca ayat lanjutannya yaitu ayat 20. Nah ternyata pada ayat 20 tersebut, Allah menyuruh kita berjalan di muka bumi? Loh apa nggak pegel? bukan gitu... maksudnya kita harus menjelajahi bumi, mempelajari pengetahuan dari belahan bumi yang lain. Nabi SAW sendiri pernah bersabda “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Kalau nuntut ilmu di Arab terus bagaimana mau berkembang pengetahuan manusia? Memangnya Allah cuma menurunkan ilmuNya di negeri Arab? Nah, ternyata di dunia timur ada pengetahuan reinkarnasi yang tidak diajarkan secara terang-terangan di Arab.

Kalau sudah demikian, berarti kita bisa lebih memahami dengan seksama ayat diatas. Ternyata kata “penciptaan kali lain” atau “penciptaan ulang” manusia pada ayat tersebut bermakna penciptaan (kelahiran) kembali manusia yang terjadi di tempat lain. Misal, pada penciptaan awal kita lahir di Indonesia maka pada penciptaan kali lainnya kita bisa terlahir di negara Cina, Belanda, Nigeria dan lain sebagainya. Itulah sebabnya kita disuruh menjelajah bumi untuk memperhatikan penciptaan manusia yang berulang dari satu tempat ke tempat yang lain. Subhanallah! sungguh ayat yang luar biasa!!

Mudah-mudahan penjelasan ayat diatas bisa lebih membukakan hati dan pikiran kita memahami reinkarnasi. Awalnya memang agak sulit hati dan pikiran kita menerima teori ini. Apalagi sebagian ulama ada yang berpendapat reinkarnasi adalah teori yang sesat karena tidak diajarkan oleh Nabi SAW. Nah, ulama yang seperti inilah yang membuat kebekuan berpikir dan kemunduran bagi umat Islam.

Loh apakah salah jika mengikuti pendapat ulama? Bukankah ulama itu ahli waris nabi yang harus ditaati? Sabar.. sabar.. jangan emosi dulu. Pendapat ulama tentu perlu untuk dipelajari, agar bisa dijadikan referensi untuk mendekati kebenaran. Tapi cukup mendekati saja, sebab hakekat kebenaran hanya pada Tuhan semata dan kita sendirilah yang harus menemukan kebenaran itu dengan petunjuk dari-Nya. Justru kalau ada ayat yang aneh harus dikejar agar tahu makna rahasia yang terkandung didalamnya. Kalau hanya menggantungkan pendapat ulama apalagi ulama yang cuma bisanya meributkan fiqih maka kita justru akan menjadi umat yang semakin tertinggal. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

39 Masih mau lanjut....? baiklah... sekarang kita akan membahas dalil berikutnya yang berasal dari Hadist Nabi SAW :

Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang gugur di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, niscaya ia tidak dapat masuk surga sebelum melunasi hutangnya. (H.R. Nasai)

Orang yang berhutang itu dibelenggu dalam kuburnya, tiada yang dapat melepaskannya selain ia membayar hutangnya.” (H.R. Dailami)

Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak dapat ditutupi oleh sholat, puasa, haji dan umrah. Yang dapat menutupinya hanyalah duka-cita (kesulitan) dalam hidup mencari rezeki. (H.R. Ibnu Asakir)

Dua Hadist awal menyebutkan bawah manusia masih akan terbelenggu untuk masuk surga sebelum hutangnya lunas. Apa yang dimaksud dengan “hutang” diatas? hutang harta bendakah? Hadist ini sama sekali tidak menyebut hutang harta benda. Dan kalaupun benar hutang harta benda maka tidak ada penjelasan di Hadist tersebut bahwa yang harus melunasi hutangnya adalah keluarganya (ahli warisnya).

Jika yang melunasi hutang harus keluarganya lalu bagaimana dengan mereka yang tidak punya keluarga (ahli waris) alias hidup sebatang kara? bagaimana cara melunasi hutangnya? Disinilah kita harus memahami bahwa hutang yang dimaksud adalah hutang perbuatan sedangkan hutang harta benda sudah menjadi bagian dari hutang perbuatan.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

40 Hadist yang kedua malah menyebut “tiada yang dapat melepaskannya selain ia membayar hutangnya”. Nah jelas kan bahwa yang harus bayar hutang itu adalah orang itu sendiri. Jadi hutang yang dimaksud bukan hutang dalam arti sempit (hutang harta benda) melainkan hutang atas perbuatan buruknya di masa lalu. Cara membayarnya dengan lahir kembali ke bumi. Perbuatannya yang buruk harus dibayar kembali misalnya dengan menjadi manusia yang seringkali mendapat bencana, menjadi cacat, kesulitan mencari rejeki/miskin dan lain sebagainya yang sifatnya membuat sengsara laksana di neraka. Bagi yang tidak kuat menanggung sengsara malah bisa bunuh diri. Kalau sudah bunuh diri malah bisa masuk dan terjebak di alam barzah (sekat) yang justru lebih sengsara lagi daripada kelahiran kembali ke bumi dan tentunya akan memperlama lagi waktu yang diperlukan untuk kembali kepada-Nya.

Di Hadist yang ketiga kita diberitahu bahwa ada dosa yang tidak bisa ditutupi dengan ibadah formal melainkan harus dibayar dengan kesulitan hidup. Nah dosa yang manakah? Tentu saja dosa pada kehidupan sebelumnya sebab jika hidup yang

sekarang ini merupakan hidup yang pertama kali, maka tidak adil kiranya bila ada orang yang dilahirkan dalam keadaan sulit rejeki/miskin, hidup menderita di kolong jembatan. Padahal, Tuhan sudah menyatakan dengan tegas bahwa Dia tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.

Jadi misalkan kita mengalami kesulitan hidup meski sudah berusaha mati-matian, ya jangan menyalahkan Tuhan karena itu buah dari perbuatan kita sendiri di masa lalu. Justru orang yang mengalami kesulitan hidup itu harus banyak-banyak memohon ampun kepada Tuhan, banyak bersabar, ikhlas dan dibarengi berbuat kebajikan kepada orang lain agar karma tersebut terbayar atau diampuni Tuhan. Nah, kalau sudah terbayar atau diampuni Tuhan, tentu kita akan diberi kemudahan masuk surga pada kehidupan selanjutnya.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

41 HIKMAH REINKARNASI Mengapa manusia harus reinkarnasi? Apa hikmah yang terkandung di dalamnya? Hikmah besar yang terkandung dalam reinkarnasi adalah sebagai bentuk pembelajaran/pelatihan kepada manusia agar kualitasnya semakin lama semakin baik sehingga mencapai manusia yang sempurna (insan kamil) agar mampu kembali kepada-Nya. Perhatikan ayat berikut :

Maha suci Tuhan yang memiliki kerajaan. Dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan mati dan hidup bagimu dengan memberikan “balawa” (pelatihan) kepadamu untuk memberikan nilai (anugrah) bagi siapa yang lebih baik amalannya.. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S Al Mulk (67) : 1-2)

Pada ayat Al Mulk tersebut, Tuhan menciptakan mati dan hidup adalah untuk memberikan pelatihan. Banyak ulama yang mengartikan kata “mati” diatas sebagai ketiadaan. Padahal kata “mati” bukanlah ketiadaan melainkan kematian itu terjadi setelah adanya kehidupan dan kehidupan pun berakhir setelah adanya kematian. Mati dan hidup adalah proses yang silih berganti. Perhatikan firman Allah berikut ini :

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup (Q.S.Ali Imran (3) : 27)

Ayat diatas sebenarnya merupakan dalil reinkarnasi juga karena dengan jelas sekali mengatakan hidup dan mati adalah proses yang silih berganti. Mati dan hidup adalah ciptaan Allah, dan segala ciptaan Allah tidaklah kekal (tetap). Hidup akan diakhiri dengan kematian dan kematian pun akan diakhiri dengan kehidupan. Proses ini akan terus menerus terjadi sampai manusia itu mencapai kesempurnaan dan kemudian barulah ia dapat kembali kepada-Nya, sebagaimana firman berikut ini :

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan. (Q.S Al Baqarah (2) : 28) Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

42 Harap dipahami bersama bahwa kematian yang kita maksudkan adalah kematian fisik manusia. Jiwa manusia sesungguhnya tidak pernah mengalami mati sebagaimana matinya fisik manusia.

Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sesungguhnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak mengetahuinya. (Q.S Al Baqarah (2) :154)

Kembali pada pembahasan Q.S Al Mulk (67) : 1-2 diatas, kata liyabluwakum (balawa), kita terjemahkan dengan kata “pelatihan”. Di banyak tafsir kata balawa sering diartikan “menguji”. Terjemahan ini sebenarnya kurang tepat, sebab kata “menguji” bisa mengandung arti Allah tidak mengetahui kualitas hamba-Nya sehingga perlu diadakan ujian. Padahal jelas Allah tidak perlu menguji siapapun.. Allah sudah pasti tahu mana yang hamba-Nya lurus dan mana hamba-Nya yang sesat, jadi buat apa di uji segala?

Dengan demikian, tujuan Allah menciptakan mati dan hidup adalah untuk melatih, (men-training) manusia agar mencapai kualitas yang lebih baik. Agar bisa memperbaiki diri dan meningkatkan amalnya. Dengan proses mati dan hidup inilah Tuhan akan memberikan imbalan kepada mereka yang lebih baik amalannya.

SURGA DAN NERAKA Jika reinkarnasi itu adalah siklus hidup-mati yang terus berulang, apakah akan ada akhirnya? lalu kemana surga dan neraka yang dijanjikan Tuhan ? Nah jangan salah mengira bahwa reinkarnasi itu tidak ada ujungnya. Reinkarnasi tentu ada akhirnya! Siklus hidup-mati (roda samsara) akan berakhir manakala manusia menyempurnakan dirinya sehingga dapat kembali kepada-Nya. Innaalillahi wa innaa ilaihi raajiuun (sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah). Kalimat ini sering diucapkan oleh banyak umat Islam tapi jarang yang menyadari bahwa kalimat itulah yang harus menjadi tujuan akhir dari seluruh perjalanan hidup manusia yakni kembali kepada-Nya. Kata “kembali” pada ayat diatas tentu maksudnya adalah benarbenar kembali kepada Tuhan, bukan masuk ke surga apalagi neraka. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

43 Loh... bukankah tiap orang yang mati itu bermakna sudah kembali kepada-Nya? Ya tentu saja tidak. Wong masuk neraka ya jelas belum kembali pada Tuhan, apalagi yang matinya bunuh diri. Tuhan itu Maha Suci jadi hanya orang suci yang bisa kembali kepada-Nya. Surga pun hanya imbalan dari Tuhan agar manusia makin menyempurnakan dirinya.

Dalam Q.S 32:9, 21:91, 15:29 telah dinyatakan bahwa ruh-Nya ditiupkan ke diri manusia agar ciptaan-Nya (manusia) makin sempurna. Manusia menjadi hidup karena adanya ruh dari Sang Maha Hidup. Dan karena ruh itu adalah ruh-Nya maka pastilah akan kembali kepada-Nya cepat atau lambat. Adapun surga dan neraka sebenarnya hanyalah alam-alam ciptaan Tuhan dimana tiap-tiap manusia akan melewatinya. Ibarat tangga yang akan menuju kepada-Nya, surga dan neraka adalah titian tangga yang memang harus dilewati tiap manusia.

Oleh karena ada manusia yang mendapat surga, neraka dan yang telah kembali kepada-Nya maka Al Quran pun membagi manusia menjadi tiga golongan. Mari simak ayat berikut :

Dan kamu menjadi tiga golongan, yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan itu dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan itu. Dan orangorang yang beriman, merekalah yang paling depan. (Q.S Al Waaqi’ah (56) :7-10)

Golongan kanan pada ayat diatas adalah yang akan mendapat surga. Golongan kiri adalah mereka yang mendapat neraka. Sedangkan orang-orang yang beriman inilah orang yang terdepan, terunggul sehingga ia mampu kembali kepada-Nya dengan jiwa yang tentram sebagaimana disampaikan pada ayat berikut ini :

Hai jiwa yang tentram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas (rela) dan diridhoi-Nya. (Q.S Al Fajr (89) : 27-28)

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

44 Manusia yang telah kembali kepada-Nya, dalam istilah jawa disebut juga moksa. Begitu meninggal langsung manunggal dengan Tuhannya tanpa melalui neraka, tanpa melalui surga. Semua alam ciptaan-Nya telah di bypass. Manusia yang memiliki kualitas sebagaimana Nabi, Rasul dan para wali-Nya adalah mereka yang mampu kembali kepada Tuhannya secara sempurna.

Di ayat berikut akan nampak jelas bahwa Nabi, Rasul dan para wali-Nya tidak berada disurga melainkan ditempat yang tertinggi dan senantiasa menyaksikan kehidupan manusia yang masih di ada di surga dan neraka :

Dan diantara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan diatas tempat tertinggi (a’raaf) itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. (Q.S Al A’raaf (7):46)

Bagi para Nabi, Rasul atau para wali, surga bukanlah tujuan utama mereka. Salah seorang sufi ternama wanita abad ke IX M, Rabiah Adawiah justru mengusung slogan “Membakar surga, menyiram neraka”. Simak pusinya berikut ini :

Bila aku beribadah kepada Engkau, Ya Allah, karena mengharap surgaMu, maka jauhkanlah surga itu dariku. Bila aku beribadah kepada Engkau, Ya Allah, karena takut api nerakaMu maka biarlah aku masuk api nerakaMu, Asalkan Engkau tidak meninggalkan aku”.

Rabiah berpuisi seperti itu karena ia sangat tahu bahwa surga dan neraka bukanlah terminal akhir perjalanannya. Kerinduan untuk kembali kepada-Nya adalah segalanya karena kebahagiaan yang kekal akan menjadi miliknya. Inilah terminal akhir yang sesungguhnya.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

45 Surga dan neraka tidaklah kekal karena kekekalan atau keabadian cuma Allah semata. Surga dan neraka adalah ciptaan Allah. Tiap ciptaan pasti pasangannya kematian. Manusia diciptakan maka manusia dimatikan juga. Ada awal pasti ada akhir. Cuma Allah lah yang tiada berawal dan berakhir sehingga Allah tidaklah sama dengan ciptaan-Nya sendiri. Kalau di Quran disebut surga dan neraka adalah alam yang kekal maka hendaknya jangan ditafsirkan secara harfiah. Hidup seribu tahun di neraka menurut ukuran manusia bisa jadi bagaikan tinggal di neraka selama-lamanya. Jadi kata “kekal” bermakna relatif yakni suatu ukuran waktu yang dirasakan sangat lama oleh manusia.

Manusia yang belum mampu kembali kepada Allah, akan tetap terus mengalami siklus hidup mati, sampai akhirnya sempurna dan mampu manunggal (menyatu) dengan Tuhannya. Manunggal dengan Tuhan tentunya tidak mudah. Tidak mudahnya dimana? Namanya manunggal dengan Tuhan berarti kita terlebih dahulu harus mengenal Allah (makrifatullah). Seseorang harus mampu mengenal Allah melalui Af’al-Nya, Asma-Nya, Sifat-Nya dan Dzat-Nya.

Dalam proses mengenal Allah tentunya kita juga harus berusaha mengendalikan hawa nafsu dan memiliki ahlak yang baik. Nabi SAW bersabda : “Berbudi pekertilah kamu sebagaimana budi pekerti Tuhan”. Coba pikir... umur manusia rata-rata hanya sekitar 65 tahun, bagaimana mungkin memiliki budi pekerti sebagaimana budi pekerti Tuhan hanya dengan “modal” umur puluhan tahun. Tentu saja sulit dan untuk itu manusia memerlukan perjuangan dan perjalanan yang panjang untuk mencapai kualitas budi pekerti Tuhan.

Loh koq Nabi SAW bisa? ya tentu saja, karena Nabi SAW usia ruhnya sudah sangat tua, sudah banyak makan asam garam kehidupan melalui proses mati-hidup yang berulang. Jangan melihat usia fisik nabi yang hanya mencapai 63 tahun. Tapi sadari bahwa usia ruh beliau sangat tua. Makannya di Quran disebut bahwa Nabi SAW adalah suri teladan yang baik. Suri teladan ya berarti bisa di contoh, dan tiap manusia pasti cepat atau lambat akan mampu mencapai kualitas Nabi SAW atau para nabi yang lainnya. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

46 Janganlah kita pesimis apalagi berpendapat bahwa manusia tidak ada yang bisa menyamai para Nabi dan Rasul. Semua manusia diberi kesempatan yang sama oleh Allah untuk mencapai kesempurnaan diri (insan kamil). Kita harus bisa mencontoh senior kita, baginda Nabi SAW, meski untuk mencapai kualitas nabi harus melalui siklus hidup dan mati ratusan ribu atau mungkin jutaan kali. Semakin banyak menebar kebajikan di bumi ini maka semakin cepat ruhani akan mencapai kesempurnaan untuk kembali kepada-Nya.

Nah, untuk kembali kepada-Nya sebenarnya sangat logis dan masuk akal jika manusia memerlukan waktu yang sangat panjang. Di Al Quran telah disebutkan :

Malaikat-malaikat dan Jibril menghadap Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (Q.S Al Ma’aarij (70) :4)

Berdasarkan ayat diatas, perjalanan satu hari malaikat untuk menghadap Tuhan adalah sama dengan 50.000 tahun. Asumsi kecepatan malaikat adalah kecepatan cahaya yakni 300.000 km/detik. Pada saat ayat tersebut diturunkan, manusia kira-kira baru bisa menempuh perjalanan 100 km dalam sehari. Ini artinya perjalanan sedetik malaikat sama dengan perjalanan manusia 3.000 hari atau sekitar 8 tahun. Jadi untuk perjalanan menghadap Tuhan dalam satu hari malaikat perlu waktu lebih dari 200 miliar tahun bagi manusia. luar biasa !!

Hitung-hitungan sederhana diatas membuktikan bahwa satu kali perjalanan hidup manusia sama sekali tidak ada apa-apanya. Bagaikan sebutir pasir di padang gurun yang luas. Terlalu pendek dan tidak masuk akal bagi manusia untuk kembali kepadaNya hanya dengan modal umur puluhan tahun saja. Seorang filsuf jenius Perancis, Voltaire malah mengatakan : “kelahiran dua kali tidak lebih mengherankan daripada kelahiran sekali”.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

47 Bagi yang sudah mampu kembali kepada-Nya seperti para Nabi, Rasul dan para wali, jelas mereka tidak tinggal di surga melainkan telah berada ditempat tertinggi, manunggal dengan Tuhannya sehingga kenikmatan bersama-Nya bersifat kekal dan abadi. Inilah yang disebut “surga” yang tertinggi. Kebahagiaan yang dirasakan adalah kebahagiaan absolut yang berada diluar jangkauan angan-angan. Kebahagian yang lahir dalam “Diri” sendiri, bukan kebahagiaan yang datang dari luar dirinya. Inilah kebahagiaan kekal yang tidak bisa digambarkan oleh pikiran kita. Tentu hanya mereka sendiri yang bisa merasakannya.

Tak seorang pun mengetahui kebahagiaan yang disembunyikan bagi mereka, sebagai imbalan terhadap kebajikan yang mereka lakukan. (Q.S As Sajdah (32) : 17)

Surga yang masih merupakan alam ciptaan Tuhan, sesungguhnya adalah target jangka pendek bagi manusia. Dikarenakan manunggal dengan Tuhan memang tidak mudah, paling tidak manusia diharapkan minimal mendapat surga dengan perbuatan yang baik selama hidupnya sekarang. Itulah sebabnya iming-iming surga banyak disebut di Quran dan Hadist. Dengan melalui tangga-tangga surga, maka kita akan lebih cepat sampai kepada-Nya ketimbang mereka yang kualitasnya masih level neraka.

Nah, dimanakah sebenarnya letak surga dan neraka itu? Banyak yang tidak menyadari bahwa bumi tempat kita tinggal inilah salah satu surga sekaligus neraka ciptaan-Nya. Tentu bumi ini bukanlah satu-satunya ciptaan Allah, melainkan banyak bumi (planet) lain yang juga diciptakan Allah. Jadi surga dan neraka itu adanya dibumi yang diciptakan Allah dengan kualitas yang berbeda-beda (bertingkat). Di Al Quran telah dijelaskan bahwa surga ternyata memiliki berbagai tingkatan :

Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat yang tinggi, diatasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya. (Q.S Al Zumar (39) : 20)

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

48 Surga atau planet sebagaimana yang dijelaskan pada ayat tersebut ternyata memiliki jarak yang lebih jauh dan juga kualitas alam yang lebih baik daripada bumi yang kita tempati sekarang ini. Semakin tinggi kualitas surga tentu akan semakin nyaman manusia tinggal didalamnya. Kualitas air yang jauh lebih sehat dan nikmat untuk diminum, kualitas buah-buahan yang ranum dan lebih cepat berbuah kembali seakanakan tidak pernah habis, kualitas fisik manusia yang lebih rupawan dan lain sebagainya. Dengan banyaknya tingkatan surga inilah maka di Al Quran disebut bahwa surga itu seluas langit dan bumi. Tentu surga sebagaimana ayat diatas bisa kita dapatkan asal kita banyak menebar kebajikan.

Semakin banyak kita berbuat kebajikan maka semakin tinggi pula kualitas surga yang bisa didapatkan. Namun sebaliknya, semakin buruk perbuatan kita maka yang di dapat pun akan buruk pula yakni bumi yang dipenuhi oleh kesengsaraan hidup. Bumilah tempat manusia menerima buah dari segala yang dikerjakannya, sebagaimana firman Allah di Al Quran :

Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya dan mereka tidak akan dirugikan. (Q.S Al Jaatsiyah (45) : 22)

Jadi, bagi kita yang merasakan kedamaian hidup di bumi yang sekarang kita pijak ini berarti kita mendapat surga. Bisa jadi dengan mendapat materi yang cukup, keluarga yang sakinah, kematangan spiritual dan berbagai kebahagian hidup lainnya. Sebaliknya bagi kita yang merasa di dunia mengalami kesengsaran hidup yang seakan tiada putusnya maka berarti kita mendapat neraka. Jadi, surga itu sebenarnya bermakna kebahagiaan batiniah dan neraka bermakna kepedihan batiniah. Jadi yang ingin dituju dari pengertian surga dan neraka sebenarnya bukanlah fisik buminya melainkan batin manusia yang menempatinya.

Nah, oleh karena batin itu bukan benda maka dalam Al Quran, surga atau neraka dijelaskan secara metafor (perumpamaan) dan perumpamaan surga dalam Quran pun di sesuaikan dengan iklim alam bangsa Arab pada saat itu yang panas dan gersang. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

49 Dengan menggambarkan surga seperti taman yang indah maka diharapkan mereka terpikat dengan surga sebab surga seperti itu memang kontras sekali dengan iklim mereka yang panas dan gersang. Tidaklah heran jika ada orang Arab yang pergi ke puncak Ciawi, Jawa Barat akan terpana seakan-akan melihat surga yang disebut-sebut oleh Al Quran.

Permisalan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa ialah suatu lingkungan yang didalamnya mengalir sungai-sungai. Segalanya serba

berkekekalan. Begitu pula naungannya. Itulah tujuan bagi orang-orang yang bertaqwa. Adapun akhir bagi mereka yang kafir adalah api. (Q.S Ar Ra’d (13) : 35)

Nah, jika orang bertakwa mendapat surga maka sebaliknya mereka yang kafir balasannya adalah api. Tapi bukan api yang sesungguhnya. Ini adalah permisalan. Kalau neraka itu benar-benar api yang membakar maka tentunya manusia tidak akan sempat bertengkar di dalam neraka sebagaimana yang diceritakan pada ayat berikut :

Dan mereka sedang bertengkar di dalam neraka. Demi Allah : “sungguh kita dahulu dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam”. (Q.S As Syu’araa (26) : 96-98)

Sesungguhnya itu pasti terjadi, yaitu pertengkaran penghuni neraka. (Q.S Shaad (38) : 64)

Jelaslah bahwa neraka adalah ancaman nyata sekarang ini. Jika manusia melakukan perbuatan kafir (melakukan perbuatan keji dan mungkar) di muka bumi ini sudah tentu neraka pun akan tercipta dengan sendirinya. Makannya itu di Al Quran kita banyak sekali mendapati ayat yang memerintahkan manusia agar tidak berbuat kerusakan dibumi. Ini mengandung arti bahwa kehidupan kita dibumi yang sekarang masih akan berhubungan dengan kehidupan yang akan datang. Bumi adalah salah satu surga sekaligus neraka-Nya. Lah kalau kita sekarang berbuat kerusakan dibumi lalu bagaimana surga bisa terwujud kelak? Bumi rusak ya berarti surga juga rusak. Tidak ada lagi kebahagaian (surga). Yang muncul malah kesengsaraan (neraka). Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

50 Dari penjelasan-penjelasan diatas kita bisa memahami bahwa keadaan surga dan neraka hanyalah permisalan. Surga dan neraka intinya adalah tentang kebahagiaan dan penderitaan batin. Surga dan neraka bukan alam yang terpisah. Surga dan neraka adalah suatu perumpamaan (simbol) yang menjelaskan keadaan jiwa atau batin yang dialami manusia. Al Quran banyak menggunakan simbol agar ia bisa dipahami untuk segala tingkat intelektualitas. Kebanyakan dari kita hanya mampu menafsirkan Quran secara harfiah (teks belaka), hanya sedikit yang mempunyai kemampuan menafsirkan Al Quran secara mendalam.

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.(Q.S Al-Ankaabut (29) : 43)

Untuk lebih memahami bahwa surga dan neraka bukanlah alam yang terpisah, coba kita simak ayat yang berikut ini:

Dan bersegaralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya selangit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Q.S Ali Imran (3) : 133)

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapat) ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.... (Q.S Al Hadid (57) : 21)

Sahabat nabi pernah menanyakan makna ayat diatas : “Dimana neraka ya Rasulullah bila surga itu luasnya sama dengan luas seluruh langit dan bumi?” Lalu Rasulullah menjawab dengan bijak : “Dimanakah malam bila siang telah datang?”. Kata Rasul tersebut jelas sekali menerangkan bahwa surga dan neraka bukanlah alam yang tepisah.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

51 Pada surah Al Mu’min dibawah akan semakin jelas bahwa mereka yang masuk surga pun ternyata tidak terlepas dari balasan kejahatan. Bahkan Nabi Adam pun menurut cerita yang sering kita dengar justru tergoda oleh iblis di surga. Itulah sebabnya malaikat berdoa agar orang-orang mukmin yang di surga dijauhkan dari balasan kejahatan.

Ya Tuhan kami dan masukanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. (Q.S Al Mu’min (40) : 8-9)

Dengan memahami bahwa surga dan neraka bukanlah alam yang terpisah maka sesungguhnya kita harus menciptakan surga itu dari sekarang. Tidak perlu menunggu sampai mati. Caranya dengan senantiasa memelihara bumi, tidak melakukan kerusakaan/kejahatan, senantiasa berbuat kebajikan untuk bekal di kehidupan yang akan datang. Jika kita mampu membangun surga di dunia ini maka di kehidupan akherat (kehidupan yang akan datang) otomatis kita akan memperoleh surga yang kualitasnya lebih tinggi dan begitu seterusnya sampai kita menuju tangga “surga” yang terakhir yaitu kembali kepada-Nya. Inilah kebahagiaan yang kekal!

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

52 KIAMAT Mungkin ada yang masih bertanya : jika surga dan neraka itu adalah kehidupan yang sekarang dan akan datang lalu apa yang dimaksud kiamat ? bukankah sebelum masuk surga dan neraka kita akan mengalami kiamat ?

Kiamat berasal dari bahasa Arab qiyam yang artinya adalah bangkit. Kebanyakan orang awam mengartikan kiamat sebagai hancurnya alam semesta. Kemudian manusia dibangkitkan untuk dihisab untuk kemudian ditentukan masuk surga atau neraka. Selama menunggu kiamat maka manusia di alam kuburnya menunggu. Ada yang mendapat siksa kubur ada yang mendapat nikmat kubur.

Pengertian awam diatas jelas tidak memiliki prinsip keadilan Tuhan. Manusia yang mati 7000 tahun lalu -jika amalnya buruk- tentu akan mengalami siksa kubur terlebih dahulu sambil “menunggu” kiamat tiba. Nah bandingkan dengan mereka yang mati pada saat kiamat tiba, tentu mereka tidak mengalami siksa kubur terlebih dahulu melainkan langsung bangkit dan dihisab. Padahal Allah jelas tidak pilih kasih atau menzalimi hamba-Nya.

Hancurnya alam semesta adalah keniscayaan (kepastian). Yang namanya ciptaan Tuhan ya pasti ada awal dan akhir. Ada hidup dan ada mati. Tidak ada yang kekal melainkan cuma Allah yang kekal. Kehancuran alam semesta pun bukanlah akhir dari segalanya. Tuhan adalah pencipta sejati. Hobi-Nya adalah mencipta. Meski alam hancur lebur sekalipun, Ia dengan mudah menciptakan alam yang baru kembali. Jadi pengertian kiamat yang bermakna kehancuran alam semesta bukanlah pengertian yang sesungguhnya karena hal itu sudah pasti akan terjadi, namun pengertian kiamat yang tersembunyi inilah yang maknanya harus kita gali. Tujuan yang ingin dikehendaki dari mempercayai hari kiamat bukanlah agar manusia takut akan dahsyatnya kehancuran alam semesta, bukan itu! melainkan agar manusia bertanggung jawab!. Ya!, Manusia harus bertanggung jawab terhadap segala perbuatan yang dilakukannya agar keadilan bisa ditegakkan. Hukum Allah berlaku kepada semua manusia tanpa terkecuali dan penegakan hukum ini dijalankan melalui mekanisme kiamat. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

53 Bagi mereka yang telah mempelajari tasawuf dan telah mencapai pemahaman reinkarnasi, kiamat bukanlah dipahami secara awam yang bermakna hancur leburnya alam semesta, melainkan kiamat itu bermakna kebangkitan (kelahiran) kembali manusia ke bumi. Reinkarnasi ya kiamat. Kiamat ya reinkarnasi. Kiamat dan

reinkarnasi memiliki makna yang sama yakni kebangkitan/kelahiran kembali. Bagi mereka yang masih tertarik oleh gravitasi kenikmatan dunia berarti belum memiliki kesadaran spiritual untuk kembali kepada-Nya. Wal hasil selama itu pula mereka akan terus menerus mengalami proses daur ulang atau hidup-mati di bumi dengan maksud agar mereka memperbaiki diri dan menyempurnakan amal perbuatannya. Hal senada telah juga terdapat dalam ayat berikut ini :

Allah berfirman : Di bumi kamu hidup, di bumi kamu mati dan di bumi (pula) kamu akan dibangkitkan. (Q.S Al A’Raaf (7) : 25)

Mengenai ayat kiamat di Al Quran memang banyak disebut kedahsyatannya, namun itu semua adalah metafor. Perumpamaan! Simak ayatnya berikut ini :

Apabila bumi digoncangkan dengan dahsyatnya dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya. (Q.S Al Zalzalah (99) : 1-2)

Apabila matahari digulung dan bintang-bintang berjatuhan dan apabila gununggunung dihancurkan. (Q.S At Takwiir (81) : 1-3)

Ayat diatas menjelaskan proses kebangkitan ruh manusia yang ditandai dengan kelahiran jabang bayi melalui seorang wanita (ibu). Proses kelahiran seorang anak manusia memerlukan perjuangan yang luar biasa dari seorang wanita. Bumi yang terguncang dahsyat menandakan perjuangan wanita yang berusaha mengeluarkan “beban-beban berat yang dikandungnya” alias bayi. Matahari melambangkan mata wanita yang terpejam-pejam menahan sakit sehingga “bintang-bintang” (keringat) bercucuran jatuh. Gunung-gunung yang hancur memaknai perut dan payudara wanita yang berguncang-guncang. Kedahsyatan proses kelahiran ini pun diakhiri dengan jeritan tangis bayi yang telah keluar dari rahim ibunya. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

54 Mengapa ayat-ayat kiamat ini diturunkan dengan suatu permisalan? tujuannya adalah untuk memberikan peringatan dan ancaman pada sebagian orang Arab yang pada saat itu yang tidak mempercayai adanya kehidupan setelah kematian. Dengan mengetahui bahwa kiamat bisa terjadi kapan saja maka mereka diharapkan dapat menjaga moral, tidak terjebak pada pemuasan hawa nafsu sesaat dan senantiasa melakukan kebajikan.

KEMANA MANUSIA AKAN MENITIS ? Setelah memahami makna kiamat secara hakekat maka timbul pertanyaan lanjutan. Jika manusia itu terlahir kembali, kemanakah ia akan menitis (dibangkitkan lagi) ? apakah terlahir kembali sebagai manusia? Atau bisakah ia terlahir sebagai hewan atau tumbuhan ?

Di kalangan ahli tasawuf masih terdapat perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa manusia akan tetap menitis (terlahir kembali) menjadi manusia, namun ada juga yang berpendapat bahwa manusia bisa menitis ke hewan atau tumbuhan. Mengapa terjadi perbedaan pendapat? Karena para ahli tasawuf sendiri memiliki pengalaman spiritual yang berbeda-beda dalam meditasinya. Bagi mereka yang telah melihat pengalaman masa lalunya tidak melalui hewan maka ia akan mengatakan bahwa manusia tetap akan menitis ke manusia. Namun bagi yang melihat masa lalunya pernah menjadi hewan maka ia pun berpendapat manusia bisa menitis ke hewan. Salah seorang sufi besar seperti Jalaluddin Rumi pernah memberikan kesaksiannya :

“Dulunya aku adalah mineral, lalu berkembang menjadi tumbuhan. Mati dari mineral aku lalu muncul sebagai binatang. Mati dari binatang aku lalu menjadi manusia. Lalu mengapa mesti takut kalau kematian akan merendahkanku?”

Perbedaan ini tentu suatu hal yang wajar karena pengalaman spiritual masing-masing orang berbeda. Dan perbedaan ini pun sama sekali tidak pernah diperdebatkan karena ada hal lain yang lebih penting yaitu bagaimana seseorang itu terhindar dari roda samsara dan dapat kembali kepada-Nya. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

55 Dari beberapa pendapat yang berkembang, pada umumnya manusia akan mengalami kebangkitan kembali di beberapa tempat, yaitu:

1. Bumi Terlahir kembali menjadi manusia dengan mendapat kebahagiaan (surga) atau kesengsaraan (neraka). Mendapat surga atau neraka bergantung kepada amal perbuatannya semasa hidup sebelumnya. Semakin banyak kebajikan yang ditabur maka kualitas kehidupan dan bumi yang didapat akan lebih baik. Bumi yang dimaksud tentu bukan hanya bumi tempat kita berpijak melainkan juga planet lainnya yang diciptakan oleh Tuhan. Manusia yang terlahir di bumi hendaknya harus banyak bersyukur, banyak minta ampunan dan bekerja keras dengan setekun-tekunnya agar dapat kembali kepada-Nya. Firman Allah dalam Al Quran :

Hai manusia, sesungguhnya kamu harus mengusahakan diri dengan setekuntekunnya sehingga sampai kepada Tuhanmu lalu kamu menemui-Nya. (Q.S Al Unsyiqaaq (84) : 6)

Ayat diatas mengingatkan kita agar menggunakan “aji mumpung” yakni Mumpung diberi kesempatan menjadi manusia maka maksimalkanlah usaha kita agar dapat kembali kepada-Nya. Jangan sampai setelah diberi kesempatan menjadi manusia malah berbuat kerusakan di bumi atau jatuh cinta pada kemegahan dunia yang akhirnya menurunkan tingkat kesadaran spiritual seseorang hingga membuat dirinya jauh dari Tuhan. Kalau sudah jauh dari Tuhan, ya akan terus mengalami daur ulang kehidupan. Maka semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk kembali kepada-Nya.

Manakala seseorang lahir kembali dibumi maka keadaannya ketika dilahirkan akan ditentukan juga oleh keadaan ketika ia meninggal. Dalam suatu Hadist dikatakan :

Setiap orang akan dibangkitkan dengan kondisinya ketika ia mati (H.R Muslim dan Ibnu Majah) Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

56 Maka itulah sangat penting bagi seseorang untuk meninggal dalam keadaan khusnul khotimah (berbaik sangka) kepada Allah. Jiwa kita harus ikhlas saat dipanggil oleh-Nya. Relakan semua harta benda termasuk anak dan istri. Hidup dan mati kita hanya untuk Allah semata.

Dalam Al Quran pun, kita juga diingatkan agar mati dalam keadaan Islam. Maksudnya Islam disini bukan KTP-nya yang Islam tapi orang yang mampu berserah diri, pasrah, ikhlas kepada Allah ketika sakaratul maut. Bagi orang yang masih cinta dunia, akan sulit baginya meninggal dalam kondisi Islam sebab pikirannya pasti akan dipenuhi nafsu dunia, masih ingin kaya raya, masih ingat anak istri dan lain-lain.

Jadi saat sakaratul maut inilah puncak ibadah kita akan teruji. Jika selama ini ibadah hanya sekedar gugur kewajiban alias tidak ikhlas dan tulus. Maka ketika sakaratul maut pun sulit untuk mencapai khusnul khotimah. Kalau ketika sakaratul maut masih belum bisa mengikhlaskan harta, anak dan istri maka ruh pun akan tersendat-sendat keluarnya karena protes kepada Allah tidak mau mati terlebih dahulu. Hidup dan matinya tidak di ikhlaskan kepada Allah. Kalau sudah begini, matinya bisa masuk kategori su’ul khotimah (berburuk sangka) kepada Allah dan ketika terlahir kembali pun obsesinya akan terbawa. Misal obsesi ingin kaya raya belum terealisir saat meninggal. Maka ketika lahir kembali, dan menjadi dewasa maka ia akan cenderung menghalalkan segala cara untuk menjadi kaya raya. Jadilah ia koruptor, mafia, pelaku pesugihan sesat dan lain sebagainya.

Lain halnya dengan orang yang beriman. Mereka tahu persis bagaimana menghadapi maut yakni dengan melepas semua atribut dunia. Dan ketika hari kematiannya tiba pun wajahnya akan berseri-seri. Tidak takut sama sekali, malah senang dan meninggalnya pun mudah tanpa terasa sakit sama sekali.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

57 Bagi kita yang masih harus reinkarnasi lagi maka berlatihlah dari sekarang agar ketika meninggal mampu khusnul khotimah. Kalau meninggalnya khusnul khotimah maka ketika lahir kembali akan terlahir dalam kondisi yang penuh keberuntungan, penuh kebaikan. Misalnya terlahir di keluarga sholeh yang kaya raya, memiliki talenta tertentu yang jarang dimiliki orang lain, tinggal dibumi/planet lain yang kualitasnya lebih bagus dari bumi yang kita pijak sekarang dan berbagai keistimewaan lainnya. Ini berarti kita telah diganjar surga oleh Tuhan. Mungkin diantara kita ada yang bertanya : seberapa cepat kebangkitan yang terjadi pada manusia? Menurut petunjuk yang didapat di Al Quran, peristiwa kebangkitan kembali manusia terjadi dalam sekejab mata, sebagaimana firman-Nya dalam Al Quran :

Dan kepunyaan Allahlah segala yang gaib di langit maupun di bumi. Dan, tidaklah perintah kebangkitan itu selain sekejap mata atau lebih cepat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S An Nahl (16) : 77)

Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya. (Q.S Ibrahim (14):51)

Begitu seseorang meninggal maka seketika itu timbangan amalnya diketahui dan seketika itu pula dapat diketahui ke alam mana ia akan dibangkitkan, apakah ke bumi (surga/neraka) atau ke alam barzah. Jika seseorang diputuskan untuk dibangkitkan dibumi, maka kematian orang itu di suatu tempat akan berdampak pada kelahiran orang itu di tempat lainnya. Keyakinan bahwa kebangkitan manusia terjadi secara real time juga diamini oleh ajaran Budha. Dengan hisab yang cepat ini, maka sesungguhnya tidaklah ada yang dinamakan dengan pertanyaan kubur oleh malaikat dan kemudian menunggu di alam kubur sampai alam semesta hancur lebur. Pertanyaan kubur adalah simbol! Jangan diartikan harfiah. Kubur bermakna jasad dan selama roh masih dalam jasad, maka kita seringkali mengajukan pertanyaan tentang masalah Tuhan, agama dll. Justru pertanyaan kubur tersebut justru harus kita jawab sekarang selagi roh kita masih dalam jasad (kubur). Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

58 2. Alam Barzah (sekat) Alam barzah adalah alam yang membatasi manusia dari kelahiran kembali ke bumi. Ini berarti, orang yang bangkit atau masuk ke alam ini akan tertahan dan belum bisa terlahir kembali menjadi manusia. Perihal alam barzah ini telah disebutkan dalam Al Quran :

Apabila datang kematian seseorang dari mereka dia berkata “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai mereka dibangkitkan. (Q.S Al Mu’minuun (23) : 99-100)

Sebagai intermezzo saja, ayat diatas sering dipakai oleh beberapa ulama sebagai dalil penolakan terhadap reinkarnasi. Padahal kalau kita perhatikan ayat diatas secara seksama, sama sekali tidak ada relevansinya dengan reinkarnasi. Pada ayat diatas, sangatlah jelas bahwa orang kafir yang minta dikembalikan ke dunia itu maksudnya minta dikembalikan atau dihidupkan lagi ke dunia dengan tubuh yang sudah ditinggalkannya. Jadi, si kafir bukan meminta “kelahiran kembali” tapi minta dikembalikan kembali ke jasadnya semula. Nah, oleh Tuhan permintaannya tentu saja ditolak karena berarti jiwanya tidak mengerti mekanisme kehidupan. Karena ketidakmengertiannya itulah ia dimasukan ke alam barzah. Adapun alam barzah ini sifatnya hanyalah sementara saja. Jika sekat/dinding ini hilang maka manusia pun bisa terlahir kembali di bumi. Lalu manusia seperti apa yang menghuni alam ini? Mereka yang menghuni alam ini biasanya masih memiliki kesadaran spiritual yang rendah. Misalnya, orang yang bunuh diri adalah termasuk orang yang akan masuk ke alam ini. Begitu juga dengan perbuatan jahat yang berlebihan dapat membuat manusia masuk ke alam ini. Usia ruhani yang masih sangat muda juga bisa membuat manusia masuk ke alam ini. Intinya adalah mereka yang belum memiliki kesadaran spiritual sebagaimana yang dipersyaratkan olehNya. Tentunya hanya Allah-lah yang lebih mengetahui orang macam apa yang harus masuk ke alam barzah dan kapan ia harus keluar dari alam tersebut dan dibangkitkan atau terlahir kembali. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

59 Berapa lama seseorang tinggal di alam ini? Tidak ada yang tahu pasti melainkan Allah. Ada yang tinggal 100 tahun, ada yang tinggal 700 tahun dll, tergantung dari tingkat permasalahannya dan kualitas ruhani yang

bersangkutan. Mereka yang telah diampuni oleh Allah dapat terbebas dari Alam ini dan diberi kesempatan memperbaiki diri melalui proses kebangkitan atau kelahiran kembali dengan memakai jasad yang baru.

Nah, manusia yang masuk ke alam barzah kadang disebut juga sebagai arwah penasaran alias hantu. Memang ada sebagian ulama yang tidak meyakini adanya arwah penasaran dengan alasan bahwa semua orang yang meninggal akan kembali kepada Allah. Lha, bagaimana bisa kembali kepada Allah bagi orang yang matinya bunuh diri? Justru jiwanya tidak akan diterima Allah karena hanya orang-orang yang mampu mensucikan jiwanya sajalah yang bisa kembali kepada Allah.

Arwah atau hantu-hantu ini kerap menampakan diri kepada manusia yang masih hidup. Terkadang mereka tinggal di kuburan, gereja, mesjid, pohon, rumah kosong dan lain sebagainya. Malah bagi manusia yang semasa hidupnya bersengkongkol dengan iblis misalnya pemuja setan, pesugihan sesat (ngepet, tuyul dll) maka –di alam barzah- kelak akan menjadi budak mereka setelah meninggal nanti. Na’udzubillah mindzalik.

Selain hidup sebagai hantu, sebagian dari mereka ada juga yang tinggal di fisik hewan atau tumbuhan. Tidak mengherankan jika kita sering melihat ada hewan yang sangat dekat dengan manusia bahkan memiliki sifat-sifat seperti layaknya manusia. Manusia yang sebelumnya pernah menitis ke hewan biasanya juga kerap terlahir kembali dengan masih membawa pengalaman hewannya. Kita sering melihat kasus adanya anak kecil yang perilakunya seperti hewan. Ada yang sulit berbicara bahkan jika berbicara malah keluar suara burung. Ada yang sukanya makan daun-daunan mentah dan perilaku lainnya yang tidak lazim bagi manusia.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

60 Sebenarnya ada tuntunan dari Nabi SAW agar manusia terhindar masuk ke alam barzah. Tuntunannya berupa mensholatkan atau mendoakan jenazah. Dengan doa ini diharapkan Allah mengampuni sebagian dosa orang tersebut dan lolos dari alam barzah. Keluarga, khususnya anak yang sholeh juga memegang peranan penting untuk membebaskan si jenazah dari alam barzah. Dengan doa dari keluarga, Insya Allah jenazah bisa lebih cepat terbebas dari alam barzah begitu doa mereka dikabulkan oleh Allah.

Lalu bagaimana dengan orang yang jahat tapi jenazahnya didoakan? Apakah ia punya peluang selamat dari alam barzah? Jawabannya adalah bisa!, jika memang Allah berkenan mengampuni sebagian dosanya, namun meski selamat dari alam barzah dan terlahir kembali sebagai manusia, biasanya ia masih memiliki perilaku yang bejat, susah untuk dinasehati seakan-akan kesadaran manusiawinya hilang. Ini artinya ia masih menanggung sisa karma atau dosa yang masih harus dipikulnya.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

61 MAKRIFAT : JALAN UNTUK KEMBALI KEPADA-NYA Untuk kembali kepada-Nya dengan sempurna, diperlukan upaya yang luar biasa dan perjalanan ruhani yang sangat panjang. Kunci untuk kembali kepadanya adalah kita harus mampu mengenal Allah (makrifatullah). Makrifat ada beberapa tingkatan : Af’al, Asma, Sifat, dan Dzat. Tentang makrifat ini, Nabi pernah bersabda Awaludini Ma’rifatullah Ta’alla (Permulaan beragama adalah mengenal Allah). Kalau sudah mengenal Allah maka manusia dapat terbebas dari hukum karma atau kelahiran kembali. Beribadahnya pun lebih khusyu, mampu menjaga diri dari perbuatan batil, senantiasa berbuat kebajikan serta terhindar dari jebakan dunia.

Para Nabi, Rasul atau wali-Nya adalah contoh manusia yang telah makrifat. Meskipun mereka turun kembali ke bumi tapi bukanlah untuk membayar karma, melainkan melaksanakan tugas suci dan mulia : mengajak dan membimbing manusia lainnya agar mampu kembali kepada-Nya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, tempat mereka bukanlah di surga melainkan ditempat yang lebih tinggi sehingga mampu mengawasi manusia lainnya (Q.S 7 : 46). Jika suatu saat dibutuhkan, mereka bisa kapan saja turun ke bumi guna menyelesaikan berbagai konflik manusia yakni dengan jalan memberikan pelajaran ber-Tuhan. Dan tentunya pelajaran yang diberikan pun akan disesuaikan dengan budaya, tingkat intelektualitas, kompleksitas permasalahan dan kualitas ruhani rata-rata manusia pada saat itu.

Pada saat periode Nabi Muhammad, makrifat pun telah diajarkan. Bagi mereka yang belum memiliki kesadaran ruhani yang tinggi biasanya akan diajarkan dulu makrifat Af’al, Asma dan Sifat dengan maksud agar mereka memiliki budi pekerti Tuhan (ahlak yang baik). Pelajaran ini diberikan melalui sholat, puasa dan berbagai ibadah lainnya. Bagi mereka yang telah memiliki kesadaran ruhani yang tinggi seperti para sahabat Nabi, mereka telah diajarkan hingga pada tahapan makrifat Dzat. Lah, apakah lantas Nabi jadi pilih kasih? Ya tidak! sebab jika pengetahuan tersebut dipaksa sekalipun untuk diajarkan kepada orang awam, tetap akan percuma. Ibarat pelajaran S3 diajarkan kepada murid SD! Ya ndak nyambung!. Lebih baik mereka yang SD itu meneruskan dulu sekolahnya sampai ia mampu menerima pengetahuan sekelas S3. Lha wong di tingkat SD saja tidak semua muridnya bisa naik kelas apalagi jika diajarkan pelajaran S3 malah bisa tidak lulus semuanya. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

62 Seorang ulama besar, Imam Ghozali, telah memberikan definisinya tentang makrifat. Menurut beliau, makrifat adalah “mengetahui akan rahasia-rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada”. Dari definisi tersebut, maka jelaslah bahwa pengetahuan makrifat –khususnya makrifat Dzatmemang tidak diajarkan kepada publik secara terang-terangan. Makrifat adalah rahasia hamba dengan Tuhannya. Maka itu pengetahuan makrifat hanya diajarkan kepada mereka yang benar-benar memerlukannya. Dalam suatu Hadistnya, Nabi SAW mengatakan : “Janganlah kamu memberikan ilmu bermanfaat kepada yang tidak memerlukannya, itu adalah perbuatan zalim, dan jangan kamu tidak memberikan kepada orang-orang yang memerlukannya, itupun zalim.” Kalau Allah mau tentu semua manusia akan dibuatnya beriman atau bermakrifat (Q.S 10:99). Namun Allah membebaskan manusia untuk beriman ataupun tidak beriman. Disinilah seninya hidup manusia yakni agar kita mencari dan menemukan jalan untuk kembali kepada-Nya. Allah membuat game yang harus diselesaikan tiap manusia.

Untuk mengenal Tuhan, jalannya cuma satu yakni harus mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Nabi Muhammad bersabda : “Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”. Kalau kita mencari Tuhan ke dalam diri maka artinya manusia dari agama apapun akan bisa menemukan Tuhannya. Kalau manusia hanya fokus mencari jalan diluar dirinya maka akan sulit menemukan Tuhan sebab akan berhadapan dengan banyaknya agama dan tiap agama pun terdiri dari banyak aliran atau penafsiran.

Ini bukan berarti kita tidak memerlukan agama! Kita tetap memerlukan agama sebagai petunjuk untuk mengenal Tuhan tapi hendaknya jangan memahami agama dari kulitnya saja sebab bisa menimbulkan fanatisme yang berlebih-lebihan, yang akhirnya akan menyebabkan perang antar agama/aliran. Kalau sudah timbul perang, maka kebanyakan yang bermain adalah hawa nafsu. Perbuatan seperti itu termasuk dalam perbuatan yang melebihi batas (thagut) padahal di Al Quran Q.S 2:190, 5:87, Allah secara tegas melarang kita untuk berbuat thaghut.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

63 Manusia yang telah mencapai makrifat sudah pasti berahlak baik, tidak akan berebut kebenaran, tetap menghormati kepada semua pemeluk agama karena beragama hakekatnya adalah hubungan pribadi manusia dengan Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat atau dipaksakan. Perdamaian diantara umat manusia harus dijunjung tinggi. Kenapa? Karena asal agama manusia -apapun agamanya- adalah dari Tuhan Yang Satu.

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa bagian. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masingmasing) (Q.S Al Mu’minuun (23) : 52-53)

Dari ayat diatas seharusnya kita sudah mendapatkan gambaran besar. Big Picture. Bahwa semua manusia ternyata berasal dari Tuhan yang sama dan akan kembali kepada Tuhan yang sama juga. Nah karena Tuhannya manusia itu cuma satu lalu buat apa diperebutkan? Justru seharusnya Tuhan itu dimiliki secara bersama-sama oleh manusia. Tuhan jangan diklaim hanya dimiliki satu golongan saja. Agama apapun pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu pencapaian kepada Tuhan

Apapun agama yang kita anut seharusnya tidak menjadi masalah karena yang terpenting adalah mereka beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghormati semua Nabi dan Rasul, sifat dan perilakunya selalu positif baik kepada diri sendiri maupun lingkungannya, serta menjauhi perbuatan keji dan mungkar. Simak ayatnya berikut ini :

Sesungguhnya orang-orang beriman, yahudi, nasrani dan orang-orang shabiin siapa saja diantara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan beramal saleh mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereke dan tidak pula mereka bersedih hati. (Q.S Al Baqarah (2) : 62)

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

64 Coba sekarang kita tanyakan pada diri sendiri : seberapa yakinkah kita dengan agama yang kita anut. Apakah kita beragama cuma ikutan/taklid saja kepada keluarga atau ulama? Dan ibadah yang selama ini kita kerjakan apakah itu sekedar memenuhi kewajiban (gugur kewajiban) ataukah dilandasi ketulusan dan kecintaan kepada Allah? Nah, pada umumnya seseorang yang beragama didasarkan atas salah satu dari 3 keyakinan berikut ini :

1. ‘Ilmul Yaqin Ini adalah tingkatan terendah dari suatu keyakinan beragama. Misal seseorang mendapat pengetahuan dari si A yang mengatakan bahwa di negeri Cina terdapat tembok raksasa, padahal si A tidak pernah ke negeri Cina. Jadi pengetahuan yang didapat dari si A hanyalah pada tataran teori belaka. Seseorang yang beragama pada tingkat ini hanyalah yakin karena “kata orang”. Maka ia pun akhirnya menerima saja apa yang dikatakan oleh orangorang tanpa melakukan penyelidikan atau mendalami secara sungguh-sungguh agamanya sendiri.

Jika agamanya sendiri tidak pernah dikaji lalu bagaimana mau mempelajari agama orang lain? Yang terjadi kemudian adalah sikap memusuhi agama diluar dirinya. Merasa diri paling benar sehingga mengkafirkan yang lain. Menyalah-nyalahkan ajaran agama orang lain seakan-akan dirinya adalah orang yang paling benar.

Orang pada tataran ilmu yaqin ini biasanya mudah diprovokasi dan dihasut contohnya ya teroris seperti Noordin M Top, Dr.Azhari dan para pelaku bom bunuh diri yang membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Teroris seperti mereka selalu memahami jihad dengan berperang. Kalo tidak berperang serasa kurang afdhol. Lebih suka mati medan berperang ketimbang mati di meja belajar. Padahal ketika meledakan diri, mereka tidak sedang diserang malah justru menyerang orang yang tidak bersalah. Orang yang seperti inilah yang menghancurkan nama baik Islam sebagai agama yang mengajarkan kedamaian. Mereka jelas bukan orang Islam melainkan orang kafir karena melakukan kerusakan di muka bumi. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

65 Nah, bagi mereka yang masih pada tahap ilmul yaqin, sholat lima waktu yang dikerjakan masih sulit untuk khusyu’ karena hanya gerak fisik belaka (sholat raga). Ibarat orang yang sedang menghormat dan berbicara kepada raja tapi rajanya tidak ada di depannya. Ini yang disebut menyembah adam sarpin (kekosongan). Ibarat menyumpit burung tapi burungnya tidak ada, yang disumpit adalah kekosongan. Sholat seperti ini sia-sia karena tidak mampu menghadirkan zikir didalamnya. Padahal sholat itu haruslah dapat

menghadirkan zikir sebagaimana yang diperintahkan Allah :

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk berzikir kepadaKu. (Q.S Thaahaa (20) : 14)

Mengapa sholatnya seseorang harus mampu menghadirkan zikir? Sebab dengan zikir akan hadir ketenangan, kedamaian dalam batin dan pikiran kita. Kalau batin dan pikiran sudah tenang maka hawa nafsu bisa dikendalikan. Dirinya akan mampu melihat mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Sholat yang mampu menghadirikan zikir inilah yang akan mampu mencegah manusia dari berbuat keji dan mungkar :

Dan sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (Q.S Al Ankabuut (29) : 45)

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

66 Bagi mereka yang tidak mampu menghadirkan zikir ketika sholatnya maka sholatnya tidak akan mampu mencegah diri mereka dari berbuat keji dan mungkar. Sholatnya tidak salah! Tapi orang yang mengerjakannya yang lalai.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (Q.S Al Maa'un (107) : 4-5)

Tidaklah heran jika kita sering melihat orang rajin sholat, punya pengetahuan agama yang luas tapi malah jadi tersangka kasus korupsi. Kerjanya sih di Departemen Agama tapi malah tempat kerjanya dijadikan lahan korupsi. Inilah tandanya orang yang melalaikan sholat. Rajin ibadah ritual tapi masih suka KKN, dengki, suka bergunjing, memfitnah, dan melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Inilah ibadah yang sia-sia karena cuma berolahraga saja dan tidak menghujam ke dalam batin.

2. ‘Ainul Yaqin Tahapan ini lebih tinggi dari yang ‘ainul yaqin. Misal seseorang diberitahu oleh si A bahwa di negeri Cina terdapat tembok raksasa. Dan ternyata si A pernah ke Cina melihat tembok raksasa. Jadi pada tahapan ini seseorang mendapat pengajaran dari si A yang pernah mengalami atau praktek. Si A bukan hanya tahu secara teori tapi ia telah membuktikannya dengan pergi ke negeri Cina.

Dalam kaitannya dengan agama, orang yang berada pada tingkatan ini adalah orang yang sedang “mencari Tuhan”. Pencariannya meliputi penelitian melalui buku-buku, bertanya kepada orang-orang mengenai masalah

Ketuhanan/spiritual dan orang yang ditanya pun tidak hanya pandai berteori namun sudah mempraktekannya juga.

Sholatnya orang yang telah mencapai tahap ini tentu akan lebih baik lagi karena akan mampu menghadirkan zikir dalam sholatnya sehingga dapat mencegahnya dari berbuat keji dan mungkar. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

67 Namun demikian bagi kita yang telah mencapai tahap ‘ainul yaqin jangan puas dulu. Perjalanan belum selesai bung! kita harus terus meningkatkan keyakinan kita sampai kita tahapan yang nyata dan terbukti. Kita harus pergi ke negeri Cina untuk menyaksikan tembok raksasa tersebut agar haqqul yaqin.

Mereka yang telah mencapai tahap ‘ainul yaqin seringkali terjebak berpuas diri dengan keyakinan atau pengetahuan yang dimilikinya. Mereka merasa cukup puas mengerjakan rukun iman dan rukun Islam tanpa berusaha mencapai makrifat kepada Allah. Sebagian dari mereka sering berceramah tentang keutamaan mendapat lailatul qadr tapi mereka sendiri tidak pernah mendapat atau mengalami pengalaman lailatul qadr. Sering juga berceramah Isra Mikraj tapi tidak pernah mengalami Isra Mikraj. Kita ternyata cuma bisa kebanyakan berceramah (teori) tanpa bisa membuktikan ceramahnya. Padahal di Al Quran kita telah di ingatkan agar jangan cepat berpuas diri :

Katakanlah : “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orangorang yang amat rugi perbuatannya?” Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya ketika hidup di dunia sedang mereka mengira bahwa mereka melakukan perbuatan yang baik (Q.S Al Kahfi (18) : 103-104)

3. Haqqul Yaqin (Isbatul Yaqin) Inilah tahapan keyakinan yang tertinggi. Dalam hal ini kita bukan hanya mendengar cerita saja bahwa di negeri Cina ada tembok raksasa, namun kita mengalaminya sendiri dengan pergi ke negeri Cina. Kalau sudah ke negeri Cina dan melihat sendiri tembok tersebut tentu keyakinannya sangat kuat sekali. Inilah kebenaran yang haq (nyata) dan terbukti (isbat).

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

68 Dalam kaitannya dengan keyakinan beragama, orang yang telah mendapat haqqul yaqin adalah orang yang telah mencapai makrifat kepada Allah. Orang yang telah bermakrifat berarti ia mengenal Af’al-Nya, Asma-Nya, Sifat-Nya dan Dzat-Nya. Ia akan mendapat ilmu langsung dari sisi-Nya (ladunni). Perihal ilmu laduni ini telah disampaikan juga melalui Al Quran :

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (Q.S Al Kahfi (18) : 65)

Dan bertakwalah kepada Allah niscaya Dia akan mengajarimu. (Q.S Al Baqarah (2) : 282)

Manusia yang telah mendapat ilmu laduni berarti telah mendapatkan kebenaran yang Haq. Tidak ada keraguan sama sekali. Mereka pun telah mencapai Mikraj, bertemu dengan Allah. Bagi mereka, Isra Mikraj adalah peristiwa spiritual yang langsung dialaminya sendiri bukan teori belaka.

Lho... bukankah Isra Mikraj itu hanya untuk Nabi Muhammad saja? Nah doktrin seperti inilah yang telah banyak memasung pemikiran umat Islam. Pendapat ulama dijadikan taklid, harga mati yang tidak bisa dirubah. Padahal pendapat ulama itu hanya untuk dijadikan referensi saja. Ibarat makanan, jangan ditelan mentah-mentah. Kunyahlah dulu. Untuk itu, carilah guru atau ulama sebanyak-banyaknya. Jangan hanya cari ulama yang levelnya “SD” tapi cari juga ulama yang levelnya “SMP” , “SMA”, “S1” dan seterusnya. Jangan hanya belajar dari ulama yang sering muncul di televisi saja tapi belajarlah juga ulama lain yang lebih tinggi ilmunya. Ulama ini tidak muncul kepermukaan karena tidak mau menjadi selebritis. Mereka harus dicari!. Kalau kita hanya belajar dari ulama level SD ya pengetahuan kita tidak akan pernah berkembang. Bagai katak dalam tempurung. Merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki dan yang ditingkatkan pun hanya ibadah ritual saja. Padahal ilmu Allah itu teramat sangat luas dan ini justru menjadi tantangan umat Islam abad modern untuk terus mengkaji Al Quran sesuai perkembangan jaman. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

69 Kalau kita taklid kepada pendapat seorang ulama, memangnya ketika kita mati, ulama tersebut mau bertanggung jawab kepada kita? Nah karena tiap manusia itu sendirian ketika meninggal maka manusia itu sendiri yang harus menentukan jalan hidupnya. Segala pendapat atau tafsiran hendaknya hanya dijadikan referensi saja. Termasuk ebook yang anda baca inipun hanya bersifat referensi untuk mendekati kebenaran.

Kitalah nantinya yang akan menemukan kebenaran itu sendiri setelah diberi petunjuk Tuhan –tentu kita juga harus meminta petunjuk-Nya terlebih dahulu. Saya tidak mengatakan pendapat saya di ebook ini adalah yang paling benar. Sekali lagi tidak! Karena kebenaran hanyalah milik Allah semata. Dan saya tidak mau ikut-ikutan sebagian orang Islam yang mengatasnamakan kebenaran dari Tuhan lalu dengan seenaknya mengatakan orang lain sesat, kafir bahkan melakukan tindak kekerasaan kepada orang lain yang tidak

sependapat/sealiran dengan mereka. Sesat adalah menyimpang dari kebenaran dan yang empunya kebenaran adalah Allah. Jadi Allah-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menentukan sesat atau tidaknya seseorang. Simak ayat berikut ini :

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa. (Q.S An Najm (53) : 32)

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk (Q.S Al An'aam (6) : 117)

Kembali ke masalah Isra Mikraj. Peristiwa ini seringkali hanya dipahami sebagai turunnya perintah sholat lima waktu. Banyak orang yang hanya mengambil hikmahnya saja dari peristiwa Isra Mikraj tapi sedikit sekali yang mau meneladaninya atau mengalaminya langsung bertemu dengan-Nya. Hal ini disebabkan terpengaruh oleh pendapat ulama yang mengatakan bahwa Isra Mikraj cuma bisa dilakukan oleh Nabi Muhammad. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

70 Seharusnya ulama tersebut jujur kepada diri sendiri kalau memang belum mampu melakukan atau mengalami Isra Mikraj. Nah, kalau belum mengalami seharusnya introspeksi diri jangan lantas kemudian mengatakan sesat jika ada orang lain yang mampu melakukan Isra Mikraj. Peristiwa Isra Mikraj sama sekali bukan untuk dikagumi belaka! bukan pula untuk dimitoskan! tapi untuk diteladani. Sekali lagi, diteladani!. Peristiwa Isra Mikraj dapat kita baca dalam Al Quran, sebagaimana dibawah ini:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S Al Israa (17) : 1)

Para ulama berbeda pendapat tentang perjalanan Nabi dalam Isra Mikraj ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad adalah secara fisik dan ruh, dan sebagian lagi mengatakan hanya ruh saja yang melakukan perjalanan. Perbedaan pendapat ini bukanlah hal yang harus dipersoalkan karena yang terpenting adalah memahami hakekat Isra Mikraj itu sendiri. Saya tetap menghargai pendapat ulama lain meski saya sendiri berpendapat bahwa Nabi melakukan perjalanan secara ruhani –bukan fisik. Tuhan adalah Maha Roh dan untuk menemui-Nya adalah melalui ruh juga. Fisik hendaknya “ditanggalkan” atau dimatikan dahulu. Istilah jawanya adalah mati sakjroning urip (mati selagi hidup). Nabi juga bersabda muutuu qobla an tamuutu (matikan dirimu sebelum mati yang sesungguhnya).

Bagi sebagian ulama, perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha sering ditafsirkan secara harfiah yakni Nabi benar-benar melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Padahal ketika ayat diatas turun, Masjidil Aqsha belum ada sama sekali. Tempat sebelum Masjidil Aqsha didirikan adalah reruntuhan candi Sulaiman.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

71 Masjidil Aqsha baru didirikan pada kekhalifahan Umar bin Khattab dan baru selesai pembangunannya pada kekhalifahaan Abdul Malik bin Marwan pada 68 H yakni lima puluh tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Jadi masjid tersebut adalah “simbol” yang harus dikaji maknanya lebih mendalam. Oleh karena sulit menjelaskan hal gaib maka simbol diperlukan untuk memudahkan pemahaman. Nah, Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha adalah simbol dari bayt Allah (rumah Allah). Tentu makna rumah Allah disini tidak diartikan secara harfiah sebagaimana rumah manusia karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkan rumah. Peristiwa Isra Mikraj adalah peristiwa dimana Rasulullah berkunjung ke bayt Allah. Dimana letaknya bayt Allah? Ya di dalam diri tiap manusia.

Beliau melakukan perjalanan ruhani ke dalam diri. Dalam sebuah Hadistnya Nabi mengatakan : “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”. Dalam suatu riwayat lain juga diceritakan bahwa tempat nabi melakukan Mikraj masih hangat. Ini artinya nabi tidak melakukan perjalanan spiritual secara fisik melainkan perjalanan secara ruhani yakni melalui zikir dan tafakur. Manusia tidak perlu melakukan perjalanan secara fisik untuk menemui Allah karena sesungguhnya Allah tidak berada disuatu tempat yang terikat oleh ruang dan waktu layaknya manusia. Allah itu meliputi segala sesuatu.

Sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu. (Q.S Fushshilat (41) : 54)

Dan Allah lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Q.S Qaaf (50) : 16)

Dan Allah bersama kamu dimana saja kamu berada. (Q.S Al Hadiid (57) : 4)

Dari ayat diatas, kita akan menyadari bahwa Allah itu tidaklah berjauhan dengan hamba-Nya dan untuk mengenal Allah cukup dengan mengkaji ke dalam diri pribadi. Usaha untuk mengkaji ke dalam diri dimulai dengan Isra. Isra adalah usaha atau pencarian yang dilakukan manusia untuk mencari lalu menemui Tuhannya. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

72 Hal ini disimbolkan melalui perjalanan malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Disebut perjalanan malam karena kebanyakan manusia ini hidup dalam kegelapan karena tidak tahu akan kemana tujuan hidupnya. Orang yang tidak tahu tujuan hidup disebut orang yang buta mata batinnya.

Dan barang siapa yang buta (mata batinnya) di dunia ini, niscaya di akherat nanti akan lebih buta lagi dan lebih tersesat dari jalan yang benar. (Q.S Al Israa (17) : 72)

Nah, kalau di dunia saja buta kita tidak tahu arah yang dituju apalagi di kehidupan yang akan datang? Ibarat mau ke Surabaya tapi tidak punya petunjuk jalan untuk mencapai daerah tersebut. Di perjalanan ya tentu akan nyasar. Tersesat ke arah yang makin kita tidak tahu dan tentu akan membuat kita makin menderita karena berada ditempat yang asing.

Lalu apa tujuan hidup kita sebenarnya? Ini telah saya jelaskan di bab sebelumnya yaitu kembali kepada Allah (Ilayhi Roji’un). Nah agar manusia tidak tersesat (buta mata batinnya) dan selamat sampai kepada-Nya maka manusia harus mampu melakukan Isra Mikraj. Dan Isra Mikrajnya tidak perlu pergi ke Mekkah atau Yerusalem. Tidak perlu menjual tanah. Orang miskin harta pun bisa melakukan Isra Mikraj asalkan ia bersungguh-sungguh ingin menemui-Nya.

Hai Manusia, bersungguh-sungguhlah kamu dengan setekun-tekunnya sehingga sampai kepada Tuhanmu lalu kamu menemui-Nya. (Q.S Al Insyiqaaq (84) : 6)

Dalam Isra atau pencarian ini manusia harus melakukan jihad ke dalam diri yakni melakukan takhalli dan tahalli agar kemudian bisa melakukan Mikraj yakni berkunjung ke bayt Allah untuk menemui-Nya. Apa itu takhalli dan tahalli ?

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

73 TAKHALLI sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan

sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S As Syams (91) : 9-10)

Takhalli adalah mensucikan diri. Dalam hal ini disimbolkan dengan kisah pembedahan hati Nabi oleh Malaikat Jibril dengan air zam-zam. Harap dipahami bahwa pembedahan hati tersebut hanya simbol!. Maksud dari simbol itu adalah untuk menemui Allah harus bersih/suci dari penyakit hati. Artinya adalah manusia harus berusaha mensucikan dirinya. Kenapa? Karena Allah itu Maha Suci. Dia hanya akan menerima hamba-Nya yang suci. Mereka yang belum suci ya belum bisa kembali kepada-Nya. Ini berarti mereka masih berada di alam surga dan neraka-Nya. Sebagian dari mereka masih melakukan kejahatan. Sebagian dari mereka beribadah karena takut neraka (mental budak) dan sebagian mereka lagi beribadah karena berharap surga (mental pedagang). Jadi masih harus dilatih! Masih harus disempurnakan!

Bertakhalli adalah jihad yang paling besar karena harus mengalahkan diri sendiri. Harus mengendalikan hawa nafsunya sendiri. Sifat-sifat iri, dengki, munafik, tamak, dan perbuatan lain yang merugikan orang haruslah dibuang jauh-jauh. Jelas bahwa musuh terbesar manusia bukanlah siapa-siapa melainkan dirinya sendiri. Ada sebuah ungkapan bijak dari Walt kelly yang mengatakan : “Kita telah menemukan sang musuh, dan ternyata dia adalah diri kita sendiri”. Dalam suatu Hadistnya, Nabi juga mengatakan bahwa orang mukmin yang kuat bukanlah yang kuat fisiknya melainkan yang mampu mengalahkan hawa nafsunya.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

74 TAHALLI Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S An Nahl(16) : 90)

Tahallli adalah mengisi hidup kita dengan kebajikan atau perbuatan yang baik seperti jujur, kasih sayang, sabar, ikhlas, mudah memberi maaf, menegakan perdamaian dan menebar salam kepada sesama manusia. Nah, sekarang ini sebagian umat Islam memposisikan dirinya ekslusif. Paling benar. Merasa paling masuk surga sendirian sehingga mengharamkan menjawab salam dari umat non muslim.

Padahal fatwa tersebut jelas menyalahi perintah Allah. Bahkan di Al Quran surah An Nisaa (4):94, pada saat berperang orang mukmin itu dilarang mengatakan “kamu bukan mukmin” terhadap orang yang mengucapkan salam. Dalam situasi perang saja kita diperintahkan demikian apalagi dalam situasi damai!. Ayat lain di Al Quran juga memerintahkan hal yang sama :

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah ialah mereka yang berjalan dimuka bumi ini dengan rendah hati. Apabila orang jahil menyapa mereka, maka mereka berkata “Salam” (kata-kata yang baik). (Q.S Al Furqan (25) : 63)

Coba kita baca kembali ayat diatas. Sangat jelas bahwa orang mukmin yang rendah hati pun akan membalas salam bahkan dari orang jahil atau iseng sekalipun. Inilah mukmin yang mampu mengajak orang lain ke sorga dengan menebar salam. Ayat diatas adalah ayat Quran, jadi tidak perlu ditanya lagi keshahihannya. Sayangnya oleh para ulama, ayat diatas dibatalkan oleh Hadist yang melarang menjawab salamnya orang non muslim. Tidaklah

mengherankan jika kemudian Islam dipandang sebagian orang non muslim sebagai agama yang tidak bersahabat. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

75 Sungguh aneh jika Al Quran dihapus oleh Hadist. Seharusnya kita hanya mengambil Hadist yang tidak bertentangan dengan Quran. Kalau ada Hadist yang bertentangan dengan Quran sebaiknya tidak masuk hitungan meski diriwayatkan oleh perawi yang terkenal sekalipun. Perbuatan dan perkataan Rasul tentu disesuaikan dengan kondisinya pada saat itu. Kita harus melihat kemungkinannya bahwa Hadist itu sifatnya kasus per kasus (kasuistis) dan tidak bisa digeneralisasi untuk semua keadaan. Dalam hal perintah Nabi untuk membunuh cecak misalnya, Hadist ini tidak bisa digeneralisasi bahwa semua cecak harus dibunuh sebab Nabi mengatakan perintah demikian karena pada saat itu Nabi terkena kotoran cecak. Malah dalam Hadist lainnya, Nabi justru memerintahkan kita untuk tidak membunuh binatang yang tidak mengganggu.

Begitu juga dengan Hadist yang melarang menjawab salam dari kalangan non muslim harusnya jangan kita telan bulat-bulat. Jadi dalam hal ini kita harus berhati-hati dengan Hadist. Bukan berarti kita ingkar Hadist. Bukan!! Tapi berhati-hati dalam berfatwa menggunakan Hadist. Jangan kita terjebak mengagung-agungkan (taklid) kepada perawinya. Tidak ada jaminan dari Allah atau Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa perawi A atau B adalah perawi yang harus ditaati, dipercaya karena bebas dari kesalahan.

Sejarah Hadist sendiri dimulai pada tahun 100 H dimana Khalifah Umar bin Abdul Aziz mendorong penulisan Hadist. Jika Al Qurannya pada masa itu sudah baku dan hanya ada satu yakni versi Ustman bin Affan -versi lainnya dibakar agar tidak terjadi perbedaan-, tidaklah demikian dengan Hadist. Di masa Umar bin. Abdul Aziz -yang wafat 101 H- riwayat, dongeng, sabda Yesus, dan doktrin di luar Al Quran menjamur dan tak terkontrol sehingga pemalsuan Hadist sulit untuk bisa di edit kembali. Lebih dari 125 tahun kemudian, Bukhari baru muncul di permukaan bumi. Tak alang kepalang jumlah Hadist, lebih dari sejuta Hadist. Bukhari sendiri menyeleksi sekitar 600.000 Hadis. Dan dari yang terseleksi pun banyak yang miring kepada daulat Abbasiyah.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

76 Coba bayangkan, menguji validitas Hadist setelah 200 tahun Nabi wafat, tentunya merupakan pekerjaan yang hampir mustahil dikerjakan manusia. Karena itu, tumbuhlah ilmu-ilmu untuk menyaring Hadist, misalnya uji isnad/rijal, cara periwayatan, dan juga matan. Jika Alquran yang ribuan ayat saja perlu kejelian untuk menjadikannya kitab di masa Umar bin Khatthab, bagaimana membakukan Hadist yang jumlahnya lebih dari sejuta? Secara logis, “Pesan berantai” dari Nabi Muhammad hingga ratusan tahun ke depan tentu akan sulit ditelusuri keasliannya. Tidak heran jika ada kelompok yang saling berbeda pendapat akhirnya saling menuduh bahwa kelompok itu menggunakan Hadist palsu. Pertengkaran dalil seperti ini jelas akan mengorbankan ukhuwah Islam demi ego kelompoknya masing-masing.

Setelah pembakuan Hadist secara besar-besaran, terbukti umat Islam malah kian tertinggal dibandingkan umat agama lain karena patokan mereka cukup dengan Hadist saja, bahkan sebagian lagi malah ada yang “menuhankan” Hadist dan melupakan Quran. Dengan demikian, dalam menyikapi Hadist, harusnya kita sangat berhati-hati karena walau bagaimanapun ada Hadist yang sifatnya kasuistis (per kasus) dan ini bisa berbahaya bila digeneralisasi dan dijadikan hukum.

Hanya Al Quranlah yang dijamin keasliannya oleh Allah. Yang terbaik adalah menafsirkan Quran dengan Quran. Boleh saja kita menafsirkan Quran dengan Hadist asal Hadistnya tidak bertentangan dengan Quran. Kalau semua Quran ditafsirkan dengan Hadist ya umat Islam bakalan mandeg. Al Quran akhirnya cuma dikeramatkan. Orang malah lebih sering ngaji Quran ketimbang mengkaji Quran. Umat Islam jadi malas berpikir untuk mengkaji kembali Quran karena merasa sudah cukup ditafsirkan oleh Hadist. Al Quran jadinya malah tertutup untuk bisa ditafsirkan kembali sesuai perubahan jaman. Jadilah kita umat Islam abad ke-21 dengan produk pemikiran di abad silam. Islam akhirnya tidak bisa menjadi rahmatan lil ‘alamin yang mampu menjadi solusi di segala jaman. Sungguh kita membutuhkan ulama-ulama reformis yang mampu membenahi citra Islam sebagai agama yang terbuka terhadap perkembangan jaman. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

77 TAJALLI Maka Kami bukakan tirai yang menutupi engkau, oleh sebab itu pandangan engkau amatlah terangnya. (Q.S. Qaaf (50) : 22)

Pada proses takhalli dan tahalli, seseorang berarti telah makrifat kepada Af’al, Asma dan Sifat-Nya. Puncak dari seagala makrifat adalah makrifat Dzat. Inilah yang disebut tajalli. Dalam istilah lain disebut juga Musyahadah atau Mukhasafah. Manusia yang sudah mencapai tajalli berarti ia telah bermikraj. Dalam peristiwa Isra Mikraj, Nabi diceritakan telah sampai ke “Pohon Sidrah” (Pohon Lotus) yang biasa dikenal dengan sebutan Sidratul Muntaha. Dengan Mikraj berarti beliau telah sampai kepada bayt Allah lalu menemui-Nya. Nabi mengatakan : Ra’aitu Robbii fii ahsani su’uura (Aku telah melihat Tuhanku yang seelok-eloknya rupa yang tiada umpamanya). Dengan demikian, tidak ada hijab lagi antara diri dan Tuhannya. Yang ditemui adalah Cahaya diatas cahaya!

Allah adalah cahaya semua langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca itu bak bintang yang memancarkan sinar gemerlapan yang dinyalakan (dengan minyak) dari pohon yang diberkati –yaitu pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur maupun barat. Minyaknya pun bercahaya meski tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya. Allah memberikan cahaya pada orang yang menghendaki cahaya-Nya. (Q.S An Nuur (24):35)

Nah, sholatnya orang-orang beriman (makrifat) sangatlah khusyu karena ketika mereka sholat, tidak ada hijab antara ia dan Tuhannya. Nabi bersabda : “Sholat adalah mikrajnya orang-orang yang beriman”. Ya! Hanya orangorang berimanlah yang mengalami Mikraj ketika sholatnya Ini artinya mereka tidak menyembah adam sarpin (kekosongan). Mereka bashar (melihat) Allah ketika sholat dan Allah pun bashar kepada mereka. Sunan Bonang –salah satu walisongo, penyebar agama Islam di nusantara- pernah bertutur, seperti yang tertulis dalam Suluk Wujil sebagai berikut : Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

78 Endi ingaran sembah sejati Aja nembah yen tan katingalan Temahe kasor kulane Yen sira nora weruh Kang sinembah ing dunya iki Kadi anulup kaga Punglune den sawur Manuke mangsa kenaa Awekasa amangeran adam sarpin Sembahe siya-siya

Artinya : “manakah yang disebut sholat yang sesungguhnya? Janganlah menyembah bila tidak tahu siapa yang disembah. Akibatnya akan direndahkan martabat hidupmu. Apabila engkau tidak mengetahui siapa yang disembah didunia ini, engkau seperti menyumpit burung. Pelurunya disebar tetapi tak ada satupun yang mengenai burungnya. Akhirnya cuma menyembah adam sarpin, penyembahan yang tiada berguna”

Dalam beragama, ada golongan orang ‘alim dan ada golongan orang ‘arif (telah makrifat). Perbedaannya adalah, kalau orang ‘alim mengenal Tuhan hanyalah sebatas percaya saja. Syahdatnya pun hanya diucapkan di bibir. Sedangkan orang ‘arif mengenal Tuhannya adalah melalui musyahadah (penyaksian). Syahadatnya bukan hanya diucapkan belaka melainkan telah dibuktikannya. Jika seseorang sudah mencapai tahap alim maka seyogyanya ia meningkatkan kualitas dirinya menjadi seorang yang ‘arif.

Orang yang telah mengenal Tuhannya akan mampu sholat terus menerus dalam keadaan berdiri, duduk, bahkan tidur nyenyak Intinya adalah segala perbuatannya adalah sholat. Inilah yang disebut “sholat daim”. Aladzina hum ‘ala sholaatihim daa’imuun. Yaitu mereka yang terus menerus melakukan sholat (Q.S Al-Ma’aarij : 70:23)

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

79 Mereka yang mampu sholat daim adalah mereka yang tidak akan berkeluh kesah dalam hidupnya dan senantiasa mendapat kebaikan sebagaimana disampaikan Q.S 70 : 19-22. Nah, sholat daim ini modelnya seperti apa? Ah.. tentu saja tidak bisa dibeberkan disini karena sholat daim adalah “oleh-oleh” dari hasil pencarian spiritual manusia. Tidak bisa diceritakan ke semua orang kecuali mereka yang telah memiliki kematangan spiritual. Ibarat pelajaran fisika S3, ya tentu tidak bisa diajarkan kepada anak SMP. Harus lulus dulu S2nya agar menerima ilmu tersebut lebih mudah.

Sholat daim adalah sholatnya orang ‘arif yang telah mengenal Allah. Ini adalah sholatnya para Nabi, Rasul, dan orang-orang ‘arif. Ilmu ini memang tidak banyak diketahui orang awam. Lantas bagaimana dengan sholat lima waktu? Nah sholat lima waktu sebenarnya adalah jumlah minimal saja yang harus dikerjakan manusia untuk mengingat Allah. Pada hakekatnya kita malah harus terus menerus untuk mengingat Allah sebagaimana firman-Nya :

Dan ingatlah kepada Allah diwaktu petang dan pagi (Q.S Ar-Ruum (30) : 17)

Dan sebutlah nama Tuhanmu pada pagi dan petang. (Q.S Al-Insaan (76) : 25)

Ayat diatas bukan berarti mengingat Allah hanya dua kali saja yaitu waktu pagi dan petang sebab makna ayat diatas justru sehari-semalam! Yakni pagi dimulai dari jam 12 AM-12 PM, sampai dengan petang jam 12 PM-12 AM, begitu seterusnya. Nah, karena tidak semua orang sanggup untuk mengingat Allah dalam sehari-semalam maka sholat lima waktu itu adalah merupakan event khusus untuk mengingat-Nya. Jika orang awam tidak ada perintah sholat lima waktu maka tentu saja Allah akan mudah terlupakan. Kalau Allah terlupakan maka bumi ini bisa rusak oleh berbagai kejahatan yang dilakukan manusia. Orang awam perlu dilatih disiplin melalui sholat lima waktu ini untuk mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, kontrol diri akan lebih kuat.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

80 Namun demikian, janganlah merasa cukup puas hanya dengan sholat lima waktu. Tingkatkanlah agar kita mampu melakukan sholat daim. Mari kita simak kembali ungkapan Sunan Bonang yang tertulis dalam Suluk Wujil :

Utaming sarira puniki Angawruhana jatining salat Sembah lawan pujine Jatining salat iku Dudu ngisa tuwin magerib Sembahyang araneka Wenange puniku Lamun aranana salat Pan minangka kekembaning salat daim Ingaran tata krama

Artinya : “Unggulnya diri itu mengetahui hakekat sholat, sembah dan pujian. Sholat yang sebenarnya bukan mengerjakan isya atau magrib. Itu namanya sembahyang, apabila disebut sholat maka itu hanya hiasan dari sholat daim. Hanyalah tata krama”

Dari ajaran Sunan Bonang diatas, maka kita bisa memahami bahwa sholat lima waktu adalah sholat hiasan dari sholat daim. Sholat lima waktu ganjarannya adalah masuk surga dan terhindar neraka. Tentu yang mendapat surga pun adalah mereka yang mampu menegakan sholat yaitu dengan sholat tersebut, ia mampu mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar.

Sayangnya, saat ini banyak orang yang hanya meributkan sholat fisiknya saja dan melupakan hakekat sholat itu sendiri. Seringkali jika terdapat perbedaan pada gerakan ataupun bacaan sholat, mereka saling ribut mengatakan sholatnya paling benar dengan menyebut sejumlah Hadist yang diyakininya benar.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

81 Harap diingat! Perbedaan gerak maupun bacaan adalah hal yang wajar karena Nabi sendiri tidak mengajarkan sholat secara khusus melainkan hanya mengatakan “Sholatlah sebagaimana aku sholat”. Nah karena banyak orang yang menyaksikan sholatnya Nabi, maka penglihatan masing-masing orang bisa berbeda sehingga tidaklah aneh jika ada perbedaan dikemudian hari. Mengapa Nabi tidak mengajarkan sholat secara khusus? karena gerakan sholat yang dicontohkan Nabi sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Arab. Gerakan sholat yang dicontoh Nabi berasal dari agama Kristen Ortodoks Syiria yang telah muncul satu abad sebelum Nabi lahir. Ritual sholat mereka dikerjakan dalam tujuh waktu. Gerakannya ada berdiri, ruku dan sujudnya mirip sekali dengan sholat lima waktu umat Islam. Cara sholat umat Kristen Ortodoks Syiria sampai hari ini pun masih bisa kita saksikan. Bagi umat Islam yang tidak mengerti sejarah, pasti akan sewot dan mengatakan mereka telah mencontek sholatnya orang Islam atau menuduh mereka melakukan kristenisasi gaya baru. Padahal, justru kitalah yang mengadopsi sholat dari mereka.

Dengan demikian, Nabi ternyata tidak membawa syariat baru. Nabi hanya memodifikasi berbagai syariat yang telah ada sebelumnya. Contoh lainnya adalah Ibadah Haji dan Umroh. Ibadah ini sudah menjadi kelaziman pada jaman pra Islam. Hampir seluruh ritualnya sama dengan yang dilakukan umat Islam pada saat sekarang, yakni memakai pakaian ihram, wukuf, melempar jumrah, sa’i dll. Nabi hanya mewarisi saja dengan menyingkirkan ibadah ini dari kesyirikan dan diganti dengan kalimah thoyibah. Begitu juga dengan pengagungan bulan Ramadhan, perkumpulan di hari jum’at, telah ada sebelumnya pada jaman pra Islam. Aturan pra Islam lainnya yang diadopsi dari tradisi hanifiyyah antara lain : pengharaman minum arak, riba, zina, memakan babi, kemudian ada juga pemotongan hukum tangan pelaku pencuri dlsb. Dengan demikian, Nabi hanya melakukan modifikasi saja pada beberapa syariat dan aturan. Termasuk dalam hal poligami yang tadinya dilakukan orang Arab pra Islam tanpa batas kemudian oleh Nabi dibatas menjadi empat istri sesuai perintah dari Allah. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

82 Nah, fakta-fakta diatas dapat Anda baca secara lebih luas melalui buku-buku yang mengulas sejarah dan peradaban pra Islam, misalnya karangan Khalil Abdul Karim dengan judulnya Al-Judzurat at-Tarikhiyyah la asy-syariah al Islamiyyah. Nah, pertanyaannya sekarang adalah, mengapa Nabi tidak membawa syariat yang sama sekali baru? Jawabannya mudah saja, karena jika membawa syariat baru maka hampir bisa dipastikan dakwah Nabi gagal. Sama halnya jika Nabi mengenalkan kesenian wayang di tanah Arab tentulah akan gagal karena ketidakcocokan budaya. Meski Islam itu untuk seluruh umat manusia, namun dalam konteks mengenalkan agama tersebut haruslah tetap mengacu dan berkompromi pada ritual dan budaya lokal Arab agar tetap bisa diterima masyarakat pada saat itu. Perhatikan firman Allah berikut ini :

Dan jikalau Kami jadikan Al Quraan itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayatayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? (Q.S Fushishilat (41) : 44)

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Q.S Ibrahim (14) : 4)

Kalau Nabi membawa syariat baru maka sudah pasti akan ditolak oleh orang Arab karena syariat itu akan menjadi sangat asing bagi mereka. Coba kita ingat kembali misi utama Nabi yaitu memperbaiki ahlak dan mengajarkan tauhid. Bayangkan jika Nabi harus mengenalkan syariat baru, maka tentunya dakwah Nabi malah akan dipenuhi oleh pengajaran ritual-ritual ibadah yang baru. Bisa jadi nantinya fokus pada pembinaan ahlak akan terbengkalai karena umat lebih sibuk belajar ibadah ritual tanpa memahami hakekat ritual itu sendiri. Padahal semua ritual tersebut, tujuannya adalah untuk membentuk ahlak yang baik.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

83 Hal yang sama juga telah dilakukan oleh para wali songo. Contohnya Sunan Kudus membuat Masjid dengan atapnya sama seperti pura (rumah ibadah umat Hindu). Syekh Siti Jenar tidak mengajarkan “sholat ala Arab” kepada orang jawa. Sujud bagi orang Arab adalah penghormatan yang tertinggi, sedangkan bagi orang jawa, penghormatan tertinggi adalah duduk dengan tangan ditangkupkan diatas kepala. Wali lain seperti Sunan Kalijaga juga mengenalkan Islam melalui sekatenan, muludan, selametan, wayang dll. Sampai saat ini, kita masih mendapati Islam jawa yang diajarkan oleh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga yang kemudian lebih dikenal dengan nama Islam abangan atau kejawen. Dengan demikian, para wali ini sebenarnya telah mengikuti sunnah Nabi yakni tidak merubah kebiasaan masyarakat setempat melainkan memodifikasi sedemikian rupa agar dakwahnya bisa diterima. Bagi para wali, yang terpenting dari ibadah itu adalah tujuannya sedangkan “wadahnya” bisa fleksibel sesuai dengan tradisi setempat.

Sekarang, sudah saatnya bagi kita tidak lagi perang syariat antar aliran agama. Yang terpenting dari syariat adalah isinya bukan kulitnya!. Syariat tanpa hakekat adalah sia-sia. Hakekat tanpa syariat? Nah ini yang sebenarnya tidak ada!, orang yang sudah mencapai hakekat, sudah pasti syariatnya ikut meski penerapannya berbeda antar tiap kelompok, aliran dan agama. Adanya perbedaan haruslah dihargai, bukan diperangi! Sebab cuma Allah-lah yang mengetahui sesat atau tidaknya seseorang (Q.S 53 : 32, 6 : 117).

Kita harus mampu melampaui batasan yang sifatnya lahiriah. Jangan melulu meributkan ritual fisik sholat! Tapi lihatlah tujuan dari sholat itu sendiri. Jangan pula hanya berhenti pada tataran sholat lima waktu saja. Sholat yang sejati adalah sholat yang terus menerus selama 24 jam (sholat daim) karena sholat inilah yang mampu melampui alam surga sehingga dapat kembali kepada-Nya. Disanalah nanti orang-orang ‘arif akan mendapatkan

kebahagiaan yang kekal, manunggal bersama-Nya!

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

84 Bagi mereka yang ingin mendalami sholat daim maka silahkan mencari ulama tauhid (guru mursyid). Ulama ini cukup banyak hanya saja mereka tidak muncul ke permukaan. Mereka hanya mau mengajari orang-orang yang mau mencapai maqam makrifat saja. Sama halnya Nabi Muhammad pun hanya mengajari orang-orang tertentu saja misalnya para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar dll. Nah karena tidak mengajarkan secara terang-terangan inilah maka kemudian sebagian umat Islam menghakimi bahwa tasawuf yang bermunculan adalah sesat. Padahal ajaran tasawuf yang bermunculan semuanya bermuara ke para sahabat Nabi seperti Ali, Abu Bakar dll. Bahkan ada kelompok tasawuf yang mewajibkan murid-muridnya harus hafal silsilah dari guru mursyidnya hingga ke Rasulullah. Ini menandakan bahwa Rasulullah memang mengajarkan tasawuf atau cara mencapai makrifat kepada sahabatnya lalu diwariskan kembali oleh sahabat tersebut kepada generasi selanjutnya.

Para imam mazhab sendiri mengakui tasawuf sebagai ajaran yang sangat penting. Imam Syafi’i Ra mengatakan : “Aku diberi rasa cinta melebihi dunia kalian semua. Meninggalkan hal-hal yang memaksa, bergaul dengan sesama penuh kelembutan dan mengikuti ahli tasawuf”.

Imam Ahmad bin Hambal Ra sebelum bertasawuf mengatakan “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak kepada Hadist. Kamu harus berhati-hati bersama orang yang menamakan dirinya kaum sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama”. Kemudian setelah berguru tasawuf kepada Abu Hamzah Al Baghdady, beliau meralat ucapannya : “Hai anakku, hendaknya engkau bermajlis kepada para sufi karena mereka bisa memberikan tambahan bekal kepada kita melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur. Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum sufi”.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

85 Jadi, cara, usaha atau wasilah apapun sepanjang itu bisa mendekatkan diri kepada Allah tidaklah dilarang. Malah di Al Quran, kita dianjurkan mencari jalan yang mampu mendekatkan diri kepada-Nya :

Hai, orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan bersungguh-sungguh lah pada jalanNya, supaya kamu mendapat keberuntungan (Q.S Al Maaidah (5) : 35)

Belajar tasawuf dengan berguru kepada ulama tauhid merupakan usaha atau jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mengapa berguru itu penting? Keutamaan seorang guru mursyid adalah mampu membimbing kita lebih terarah ketimbang kita melakukan pencarian seorang diri. Dari sisi efisiensi waktu, jelas belajar kepada seorang guru akan lebih cepat ketimbang belajar tanpa guru. Meski demikian guru mursyid hendaknya tidak dikultuskan sedemikian rupa. Kita menimba pelajaran dari beliau dan kita sendirilah yang akan menjalankannya. Kita tetap menjaga hubungan yang baik dengan dengan guru mursyid sebagai sesama orang yang beriman.

Diluar sana, banyak juga orang yang melakukan perjalanan spiritual seorang diri. Tentunya ia akan membutuhkan waktu yang panjang dan hasilnya pun belum pasti bahkan bisa terperosok kepada jalan yang keliru. Imam Ghozali adalah salah seorang filsuf yang melakukan perjalanan panjang (salik) dalam menemui Tuhannya. Ia bahkan harus mengasingkan diri dari keramaian orang banyak (uzlah) agar tidak terganggu tirakatnya.

Tentu hidup di jaman sekarang sangat sulit mengasingkan diri dari keramaian orang. Uzlah yang harus dilakukan manusia modern hendaknya tidak harus menyendiri dari keramaian dan tidak harus melepas tanggung jawab dunia dengan meninggalkan anak, istri. Seorang sufi bernama Abu Said Al Khudri bahkan mengatakan : “Manusia sempurna adalah orang yang duduk diantara semua mahluk, berdagang bersama mereka, menikah serta bercampur dengan sesama manusia. Namun mereka tidak lengah sedetikpun dari mengingat Allah”. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

86 Dengan uraian diatas, jelaslah bahwa usaha untuk menemui Allah tidak mesti harus memutus hubungan bermasyarakat. Allah bisa ditemui siapapun, ditempat apapun. Untuk menemui Allah ternyata ada jalan terpendek (mazhud) yakni dengan mendapat bimbingan dari guru mursyid. Rasullullah sendiri telah mencontohkan dalam hal menemui Allah yaitu dengan mikraj yang dilakukan cukup semalaman saja. Bandingkan dengan Sidharta Gautama yang membutuhkan waktu 6 tahun untuk mencapai mikraj. Guru mursyid inilah yang mampu mengajarkan mikraj dengan cepat sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Muhammad. Carilah guru mursyid yang mampu memberikan jalan tercepat dan paling efektif dalam usaha menemui-Nya sebagaimana yang dinyatakan dalam Al Quran :

Aku dapat membawa singgasana-Nya dalam sekejab mata (Q.S An Naml (27) : 40)

Jalan pendek ini pun akhirnya diakui jauh lebih efektif oleh Imam Ghozali dalam bukunya yang berjudul “misykat cahaya”. Sebab Allah selalu memberi kemudahan kepada umat-Nya khususnya bagi mereka yang memiliki keinginan kuat untuk menemui-Nya. Nabi Muhammad, dalam Hadistnya mengatakan :

“Barang siapa ingin menjumpai Allah, maka Allah pun ingin menjumpainya”

“Barang siapa yang tidak ingin menjumpai Allah, maka Allah pun tidak ada keinginan untuk menjumpainya”

”berjalan kamu menuju Allah, maka berlari Allah menghampirimu. Sejengkal kamu mendatangi Allah, maka sedepa Allah mendatangimu”.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

87 MENGENAL ALLAH, MENEGAKAN PERDAMAIAN Manusia diutus ke muka bumi adalah untuk menjadi khalifah-Nya. Meski demikan, tidak semua orang layak menjadi khalifah-Nya. Untuk menjadi wakil Allah tentu harus pula mengenal yang diwakilinya. Kualitasnya pun harus layak untuk menjadi wakil-Nya. Dengan demikian, hanya orang yang telah makrifat (mengenal Allah) saja yang pantas untuk menjadi wakil atau khalifah-Nya. Sebab orang yang makrifat sudah pasti ahlaknya baik, mampu mengendalikan hawa nafsu dan senantiasa mengisi kehidupannya dengan hal-hal yang positif. Jika kemudian ada orang yang mengaku telah makrifat tapi ahlaknya masih buruk maka hal itu jelas belum bermakrifat alias ngaku-ngaku saja.

Salah satu sumbangsih orang yang telah bermakrifat adalah mampu menegakan perdamaian. Mereka memiliki toleransi yang tinggi terhadap sesamanya. Meski berbeda pendapat bahkan berbeda keyakinan dengan orang lain, mereka tetap akan menghormatinya. Mereka tidak akan berebut benar sebab kebenaran cuma milik Allah semata. Dengan demikian, makin banyak orang yang mengenal Allah maka sesungguhnya perdamaian di muka bumi ini bisa lebih mudah diwujudkan.

Kondisi yang sekarang ini di Indonesia tidaklah demikian. Perang lebih mudah tersulut. Kekerasan lebih mudah terjadi oleh karena perbedaan paham, pendapat dan keyakinan. Masing-masing kelompok mengklaim sebagai kebenaran sejati bahkan sesekali mencatut nama Tuhannya. Dalam hal beragama pun sama saja! Mereka lebih suka memperbanyak pengikut ketimbang meningkatkan kualitas umatnya. Apalagi jika ada artis atau orang terkenal yang pindah ke agama kita, maka kita sangat bangga karena berarti pengikutinya tambah banyak dan figur tersebut bisa dijadikan model untuk mempromosikan agamanya yang baru.

Lah, ini kah aneh.. yang dituju koq pada kuantitas? Buat apa pengikutnya banyak tapi ternyata kualitas umatnya minim, terbelakang, miskin? Agama bukanlah hitungan statistik. Agama hendaknya menjadi solusi bagi masalah kehidupan manusia dan bukan malah menjadi masalah bagi manusia.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

88 Ketika agama dijadikan rebutan kebenaran maka agama akan menjadi masalah bagi manusia. Antar agama bisa menimbulkan perang. Antar aliran agamapun bisa menimbulkan pertikaian. Lah kan malah lucu ketika berperang menyebut-nyebut nama Tuhan yang sama tapi malah saling membunuh seperti yang terjadi pada perang Irak-Iran dulu. Tidaklah mengherankan jika kemudian ada orang yang berpendapat bahwa dunia ini akan lebih baik jika tanpa agama karena agama dijaman sekarang ini selalu menyulut peperangan antar manusia.

Manusia hendaknya menyadari bahwa agama adalah jalan atau metode untuk kembali kepada-Nya. Dan yang namanya jalan tentu tidak hanya satu. “Banyak jalan menuju Roma”. Yang terpenting adalah tujuannya tercapai meski harus dengan jalan (keyakinan) yang berbeda. Perhatikan ayat berikut :

Katakanlah : “Tiap-tiap orang berbuat menurut ”syakilat”nya (keadaannya) masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Q.S Al Israa’ (17) : 84)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia itu berbuat menurut keadaannya. Keadaan disini bermakna lingkungan, budaya, agama tempat masing-masing manusia tinggal. Ada yang lahir dan tinggal di Arab Saudi maka ia akan cenderung beragama Islam, Ada yang lahir di Vatikan maka ia cenderung akan beragama Katolik. Ada yang lahir dalam keluarga Hindu maka ia akan cenderung beragama Hindu, begitu seterusnya.

Jadi, negara atau agama adalah keadaan yang tidak bisa dipilih oleh manusia ketika lahir. Dalam Hadist disebutkan : “Seseorang dilahirkan menurut fitrahnya (kodratnya). Orang tuanyalah yang menjadikannya beragama Islam, Yahudi, Nasrani”. Cobalah kita berpikir sejenak, andai kita lahir di suatu pulau yang penghuninya semua menganut Kristen, apa ya mungkin kita akan beragama Islam? Ya tentu kita akan memeluk agama di lingkungan tempat kita dilahirkan. Dan bisa dipastikan bahwa kita pun akan menganggap agama kita yang paling benar. Jadi wajar saja jika masing-masing umat beragama mengklaim paling benar. Yang tidak wajar ya menyerang orang yang berkeyakinan lain. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

89 Nah pada ujung ayat diatas terdapat penjelasan bahwa “Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. Jelas sudah bahwa Tuhan itu yang lebih tahu siapa saja yang berada di jalan yang benar. Lantas, kalau sudah memahami ayat ini buat apa kita mengkafir-kafirkan orang lain? Wong Tuhan yang lebih tahu koq ya manusia bisa-bisanya menuduh orang yang tidak sepaham dengannya dengan sebutan sesat/kafir. Ini kan artinya manusia telah mengambil alih otoritas Tuhan.

Kita harus menyadari bahwa agama itu sifatnya abstrak. Tidak akan mungkin kita mendapatkan pengertian Islam yang seragam dari berbagai ulama. Kenapa? karena masing-masing ulama memiliki latar belakang kehidupan, keahlian, pengalaman, budaya dan kecerdasan yang berbeda-beda. Jadi wajar saja jika kemudian timbul berbagai macam aliran, sekte atau mazhab. Dan para ulama pun harus memiliki kesadaran bahwa dirinya bukan Tuhan sehingga ajaran yang dibawanya bukanlah kebenaran yang absolut. Kebenaran absolut hanya miliki Allah. Dengan demikian tak perlu saling menyesatkan atau mengkafirkan antar masing-masing golongan atau yang berbeda keyakinan.

Nah di Indonesia sendiri, sekolompok ulama dari lembaga Islam yang terkenal justru mengambil alih otoritas Tuhan, merekalah yang menentukan suatu aliran keagamanaan sesat atau tidak. Jika sesat maka konsekuensinya adalah dipenjara dengan dakwaan penistaan atas agama. Konsekuensi lainnya adalah ia harus keluar dari Indonesia, atau disuruh membuat agama baru dengan nama yang berbeda, atau tetap bertahan di Indonesia dengan resiko akan menghadapi kekerasan dari umat Islam lain yang tidak setuju keberadaaan mereka. Sungguh aneh jika seseorang atau suatu kelompok harus dihakimi karena keyakinannya berbeda dengan keyakinan kebanyakan orang. Lah... yang seperti ini kan berarti manusia berkuasa atas manusia yang lain. Padahal Nabi Muhammad saja dilarang menguasai manusia. Simak dalilnya berikut ini :

Berikanlah pelajaran, karena sesungguhnya kamu (Muhammad) seorang pemberi pelajaran dan bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Q.S Al Ghasyiyah (88):22) Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

90 Coba kita bayangkan jika suatu kelompok manusia menguasai manusia lain. Apakah ini namanya bukan tirani? Tirani ya berarti menzalimi orang lain. Apalagi menzalimi orang lain karena urusan perbedaan keyakinan padahal keyakinan itu sendiri sifatnya abstrak. Relatif. Tiap orang meyakini apa yang diyakini sesuai alasan dan penafsiran masing-masing.

Loh bukankah kita harus menjaga kemurnian Islam? Jika aliran lain dibiarkan saja bermunculan bukankah Islam nanti malah jadi centang-perenang, berwarna-warni? Nah disinilah banyak orang yang tidak menyadari kekeliruannya sendiri. Mereka lebih mengutamakan ego golongannya sendiri. Tafsiran golongannya sendiri disangkanya yang paling murni. Padahal kemurnian Islam sesungguhnya adalah relatif. Bagi orang Sunni punya versi sendiri memandang kemurnian Islam. Bagi orang Syiah, juga punya versi sendiri. Begitu juga bagi Ahmadiyah, NU, LDII dan berbagai bentuk kelompok Islam lainnya, mereka punya penafsiran tersendiri. Kemurnian Islam hanya bisa terjadi manakala Nabi Muhammad hidup di dunia terusmenerus sehingga jika ada persoalan baru maka langsung bisa dijawab. Nah karena umur Nabi hanya 63 tahun, maka kitalah yang harus meneruskan kembali menafsirkan Al Quran dan Hadist sesuai perkembangan jaman.

Tumbuhnya aliran-aliran dalam agama Islam sesungguhnya adalah hal yang wajar saja sebab agama sebelum Islam pun mengalami hal serupa. Tentang akan terpecah belahnya umat Islam, telah diramalkan oleh Nabi Muhammad dalam suatu Hadistnya mengatakan :

"Dari Auf bin Malik ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam : Sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, satu golongan masuk surga, dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka". (H.R Ibnu Majjah)

Angka 73 diatas tentu hanya simbol saja karena pada kenyataannya, aliran pada agama Islam bisa mencapai jutaan. Hanya satu golongan yang benar dan kita tidak pernah tahu siapa golongan tersebut. Akhirnya banyak golongan ngaku-ngaku sebagai yang paling benar. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

91 Ada sebagian orang mengatakan Hadist diatas palsu. Nah lagi-lagi orang hanya melihat dalil saja. Meskipun Hadist diatas palsu sekalipun, yang kita lihat kenyataannya memang Islam terpecah menjadi berbagai aliran. Ini adalah fakta! Kenyataan! Sudah tidak perlu dalil lagi untuk melihat kenyataan ini.

Nabi Muhammad mengatakan hal demikian adalah wajar saja karena beliau telah melihat pengalaman historis agama sebelum Islam dan Nabi pun menyadari bahwa manusia adalah mahluk yang dinamis. Ia selalu berkembang dari masa ke masa dalam lingkungan yang berbeda sehingga pemikiran tiap manusia tidaklah akan sama. Lah kalau semuanya seragam ya bukan manusia namanya tapi malaikat!

Terkadang kita perlu mengenal orang-orang lain yang berbeda pendapat agar pengetahuan kita bertambah dan bisa lebih menghargai perbedaan. Terkadang kita perlu mengenal orang-orang yang jahat untuk pelajaran bagi kita agar kita menjadi manusia yang baik. Kadang kita perlu mengenal orang yang memiliki temperamen tinggi agar kita bisa menjadi orang yang penyabar. Ada pelajaran yang bisa kita petik ditengah keragaman umat manusia. Kita harus bisa memahami mereka sebagaimana kita juga menginginkan mereka agar memahami kita.

Dimanapun kita berada akan selalu berhadapan perbedaan-perbedaan. Sebagai manusia kita tidak akan pernah bisa mendapatkan kondisi yang ideal. Islam Sunni di Indonesia tentu menghendaki agar seluruh umat Islam didunia masuk ke alirannya sehingga menjadi umat yang satu padu. Atau kalangan Syiah juga menghendaki agar umat Islam sedunia masuk ke alirannya agar tidak lagi menjadi umat yang terpecah belah. Nah...ini kan jelas tidak mungkin! Mbok yao kita menyadari bahwa perbedaan penafsiran atau pendapat adalah keniscayaan. Lha wong tidak lama setelah Nabi wafat saja malah justru terjadi perang antara Ali bin Abi Thalib dan Siti Aisyah (Perang Unta). Padahal kurang dekat bagaimana mereka dengan baginda Nabi? Nah mereka yang dekat dengan Nabi saja bisa berbeda pendapat dan berperang apalagi di jaman sekarang yang berarti sudah 14 abad setelah Nabi wafat. Seharusnya manusia sekarang bisa lebih arif dan bijaksana dalam memandang perbedaan karena kita telah belajar dari sejarah-sejarah di masa lalu. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

92 Solusi yang terbaik agar kedamaian bisa ditegakan meskipun berbeda aliran adalah dengan jalan dialog. Siapa tahu bisa mempersamakan persepsi. Dengan persepsi yang sama, paling tidak dalam sebuah komunitas yang lebih kecil khususnya di grass root gesekan-gesekan akibat perbedaan bisa diminimalisasi. Kalaupun akhirnya gagal mencapai kesepakatan maka jalan keluarnya silahkan simak dalil berikut ini :

1) Maka jika kamu berselisih dalam satu perkara maka kembalikan perkara itu kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu adalah lebih baik dan lebih bagus akibatnya." (Q.S An-Nisaa (4) : 59)

2) Ambilah hukum-hukum dari Quran yang sesuai dengan paham-paham yang telah berlaku. Andaikata terjadi pertikaian diantara kamu tentang Quran dan isinya maka bangunlah kamu dan tinggalkan sidang (H.R Muslim)

3) Sesungguhnya perbedaan diantara umatku adalah rahmat (Al Hadist)

Pada dalil yang pertama, Allah menegaskan bahwa apabila terjadi perbedaan pendapat hendaknya semua itu dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Banyak yang menafsirkan kalimat “kepada Allah dan Rasul-Nya” dengan “kepada Quran dan Hadist”. Tafsiran ini tidak salah! Tapi hanya khusus untuk masalah yang tidak bersifat khilafiyah alias tercapai kesepakatan bersama. Kalau masalahnya mengandung banyak tafsiran (debatable) sehingga tiap ulama berbeda pendapat maka bukan lagi dikembalikan kepada Quran dan Hadist, sebab kalau dikembalikan kepada Quran dan Hadist maka yang terjadi adalah pertentangan yang tak kunjung selesai karena masing-masing kelompok memiliki penafsiran yang berbeda-beda terhadap Quran dan Hadist.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

93 Lantas harus bagaimana dong kalau berbeda tafsiran dan tidak bisa mencapai kata sepakat? Ya harus kembali membaca dalil diatas yaitu mengembalikan segala urusan kepada Allah dan Rasul-Nya karena hanya Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Dengan demikian, tidak akan ada lagi pertikaian ataupun kekerasan yang terjadi karena pihak yang bertentangan saling legawa menyerahkan urusannya pada Allah di akherat kelak sebagai mana firman Allah berikut ini :

Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kebangkitan tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya. (Q.S As Sajdah (32) : 25)

Pada dalil yang kedua, Nabi juga telah berwasiat bahwa jika terjadi perbedaan pendapat hendaknya hendaknya masing-masing pihak legawa dan segera

meninggalkan sidang. Tidak perlu memperpanjang pertikaian yang dikuatirkan akan saling berperang. Perdamaian tetap harus ditegakan meskipun terdapat perbedaan yang tajam.

Pada dalil yang ketiga, Rasullulah pun mengatakan bahwa perbedaan diantara umat adalah rahmat. Namun demikian, perbedaan hanya akan menjadi rahmat apabila pihak-pihak yang berbeda pendapat tetap saling menghargai. Tidak mengklaim benar sendiri dan mengatakan kelompok lain sesat. Lha kalau masing-masing kelompok sudah saling menunjukan egonya dengan klaim benar sendiri dan kelompok lainnya sesat maka perbedaan bukan menjadi rahmat melainkan laknat.

Dengan adanya perbedaan, sebenarnya hal itu menunjukan sisi manusiawi karena kita bukan malaikat. Peradaban manusia terus berkembang dari jaman ke jaman sehingga pemikiran manusia pun ikut berkembang secara dinamis. Jika pemikiran manusia semuanya seragam maka tentu dunia akan membosankan. Perbedaan adalah keniscayaan. Justru dengan perbedaan itu kita bisa mengambil sudut pandang yang berbeda, pengetahuan manusia akan kian bertambah, dan sebagai pelajaran bagi manusia bagaimana hidup rukun meski berbeda. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

94 Dengan segala perbedaan yang ada, kita harus bisa bekerjasama menjadi umat yang mampu memberikan solusi kepada negara dan bukannya malah menjadi beban bagi negara. Kelemahan umat Islam sejak dulu adalah mudahnya diadu domba. Kita lebih sering bertengkar dengan saudara sendiri ketimbang berkolaborasi untuk bangkit menjadi umat yang terdepan. Yang ditonjolkan adalah perbedaan, perbedaan dan perbedaan. Sunni dan Syiah itu persamaannya 90%, tapi yang diributkan ya perbedaan yang 10% itu. Seharusnya mereka tetap saling menghargai satu sama lain. Biarlah yang 10% itu dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak perlu diributkan. Selebihnya, kita adalah bersaudara!

Untuk menjadi seorang muslim sejati, perdamaian mutlak harus ditegakkan. Omong kosong jika ada seorang muslim yang rajin ibadah ritual tapi masih suka mengkafirkan orang, menghantam orang lain yang berbeda paham bahkan melakukan tindakan kekerasaan. Wujud nyata dari iman adalah perbuatan. Di Al Quran, kata “beriman” hampir semuanya dipasangkan dengan kata “beramal saleh”. Jadi orang beriman sudah pasti beramal saleh. Lah kalau ngakunya beriman tapi perbuatannya masih barbar maka ibadahnya non sense! sia-sia!

Selama ini, orang sering berfokus pada ibadah ritual saja sedangkan ibadah mualamah (bermasyarakat) seringkali dilupakan. Padahal berhubungan dengan masyarakat adalah termasuk ibadah juga (ibadah muamalah). Bahkan Ayatullah Khumaini dalam Al-Hukumah Al Islamiyyah mengatakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah ritual dengan ibadah muamalah adalah 1:100 (1 ayat ibadah ritual berbanding 100 ayat ibadah muamalah). Dengan demikian, ibadah ritual yang kita kerjakan entah itu sholat, puasa, haji dll ujung-ujungnya adalah ahlakul karimah. Nah, ahlak ini tentu relevansinya adalah dalam hubungan bermasyarakat. Jika ibadahnya benar, maka ahlaknya akan baik dan akan tercipta masyarakatnya yang tertib dan damai. Salah besar jika ada yang mengatakan bahwa ibadah itu semata-mata kewajiban dan tidak ada relevansinya dengan ahlak. Rasulullah bahkan mengatakan dalam sebuah Hadist :

Sesungguhnya seorang mukmin dengan ahlak yang baik dapat mengungguli kedudukan orang yang selalu beribadah di malam hari dan puasa di siang hari (H.R Ahmad dan abu Daud) Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

95 Jadi, makin banyak orang yang beriman disuatu negara akan makin baik. Orang yang beriman sudah pasti akan menegakan perdamaian dalam masyarakat, tidak akan mengatakan kelompok yang tidak sepaham dengannya dengan sebutan sesat atau kafir dan tidak akan pernah berebut benar apalagi berbuat kekerasan!. Mari simak firman Allah berikut ini :

Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian semua (kaffah) ke dalam perdamaian (‘silm). Karena itu janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S Al Baqarah (2) : 208)

Ayat tersebut seringkali diterjemahkan “wahai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam (silm) secara keseluruhan (kaffah)”. Terjemahan seperti ini justru agak lucu. Kalau orang beriman disuruh masuk ke dalam Islam, lha memangnya tinggian mana antara orang Islam dan orang beriman? Tentu derajatnya lebih tinggi orang beriman! Jadi lucu kalau orang beriman disuruh masuk ke dalam Islam.

Orang beriman ya sudah pasti Islam. Tapi orang Islam malah belum tentu beriman. Kenapa? untuk bisa disebut beriman, maka percaya kepada Allah dan Rasul-Nya tidaklah cukup, tapi juga melibatkan penghayatan yang menghujam ke dalam hati. Membutuhkan perasaan yang mendalam. Itulah sebabnya di Q.S Al Hujurat (49) : 14, orang Arab Badui yang masuk Islam, oleh Nabi Muhammad tidak disebut orang beriman tapi orang Islam (tunduk, berserah diri) karena keimanan belum masuk ke dalam hati mereka.

Jadi ayat diatas, harusnya diterjemahkan “wahai orang-orang beriman masuklah kalian semua (kaffah) ke dalam perdamaian (silm)”. Kata “silm” tidak hanya berarti “agama Islam” melainkan juga “perdamaian”. Dan pada ayat diatas, kata “silm” lebih tepat diartikan sebagai “perdamaian”. Demikian juga dengan kata “kaffah”. Ada lima kata “kaffah” dalam Al Quran dan semuanya bermakna “seluruhnya” atau “semuanya”. Sebagai contoh terdapat pada kata “kaffatan li al-nas” yang bermakna “semua manusia”. Jadi jelas bahwa pada ayat diatas yang diseru untuk masuk ke dalam perdamaian adalah “semua orang” yang beriman. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

96 Dalam rangka menegakan perdamaian, tentu diperlukan sikap yang dapat mencegah terjadinya kekerasaan atau peperangan. Maka dari itulah orang beriman diseru juga agar tidak saling menghina satu sama lain dan menjauhi segala prasangka. Ayat diatas ternyata masih berhubungan dengan ayat dibawah ini :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan)... (Q.S Al Hujaraat (49) : 11)

Hai orang-orang

yang

beriman, jauhilah kebanyakan

dari prasangka

sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mau mencaricari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan bangkai daging saudaranya sendiri ? (Q.S Al Hujaraat (49) : 12)

Dari tiga ayat diatas, maka jelaslah sudah bahwa ciri orang beriman adalah menegakan perdamaian, tidak menghina satu sama lain dengan sebutan sesat atau kafir dan senantiasa menjauhi prasangka.

Kalau ada ulama yang masih memprovokasi umatnya agar melakukan kekerasan terhadap mereka yang berbeda paham, itu tandanya ulama tersebut belum beriman. Tongkrongannya saja yang berjubah, bersorban, berjenggot tapi hawa nafsu masih dikedepankan dengan mengatasnamakan kebenaran Tuhannya. Orang-orang Islam seperti inilah yang memperburuk citra Islam sebagai agama yang keras. sangar. Maka dari itu janganlah kita menilai keimanan seseorang dari simbol-simbol yang dikenakannya. Iman harus terwujud dalam perbuatan yang positif! Jangan tertipu simbol lahiriah!

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

97 PENUTUP Dengan memahami reinkarnasi diharapkan manusia dapat lebih mengetahui asal-usul dirinya dan kemana tujuan hidupnya (sangkan paraning dumadi) sehingga ia lebih termotivasi agar bisa kembali kepada-Nya dan memperoleh kebahagiaan yang kekal. Dan tentu kita tidak berharap hal yang sebaliknya, yaitu dengan memahami reinkarnasi, manusia malah makin malas berbuat kebajikan dan malah menebar kejahatan karena menyadari hidup itu bisa berulang-ulang. Disinilah diperlukan adanya kematangan spiritual dalam diri kita sebelum memahami reinkarnasi. Tanpa kematangan spiritual ini manusia malah bisa berbuat semena-mena karena tahu hidup ini berulang-ulang. Jadi, kalaupun kita meyakini reinkarnasi, maka hendaknya tidak mengajarkan kepada sembarang orang kecuali kepada mereka yang telah matang secara spiritual. Ciri orang yang telah matang spiritualnya adalah : selalu mengisi hidupnya dengan ibadah dan ahklak yang baik, memiliki pemikiran yang terbuka (open mind), menghargai perbedaan, tidak mudah menghakimi sesuatu dan senantiasa mencari kebenaran sejati dalam hidupnya.

Percaya ataupun tidak terhadap reinkarnasi adalah pilihan kita sendiri. Bagi yang percaya tentulah akan berdampak pada upaya-upaya yang dilakukan untuk menyempurnakan dirinya agar bisa langsung kembali kepada-Nya. Yang dikejar bukan lagi surga melainkan kebahagiaan kekal bersama-Nya. Dengan demikian ia akan lebih baik lagi ibadahnya, mampu mencegah dirinya dari berbuat negatif, tidak berkeluh kesah dengan kehidupan di dunia dan akan lebih banyak lagi berbuat kebajikan terhadap sesama. Dengan demikian, ia memiliki rasa damai dengan Allah, rasa damai dengan diri sendiri dan rasa damai dengan sesama.

Bagi kita yang tidak percaya reinkarnasi pun tidak menjadi masalah. Tetaplah kita meyakini dan menjalankan ajaran agama kita. Hal yang paling penting adalah berbuatlah kebajikan dimana saja kepada siapa saja, berikan yang terbaik pada diri kita untuk kemaslahatan masyarakat banyak. Jauhi segala perbuatan keji dan mungkar, sebab sebanyak apapun ibadah ritual yang kita kerjakan, puncaknya adalah pada pembentukan ahlak yang baik (ahlakul karimah) : berserah diri pada Allah, sabar, adil, menebar salam serta mencintai perdamaian. Inilah Islam yang sesungguhnya! Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

98 Islam bukanlah hanya identitas atau agama an sich yang diturunkan untuk Nabi Muhammad dan umatnya saja. Islam adalah wujud perbuatan yang positif. Dengan demikian, Islam ada di segala jaman, ada di tiap negara, bahkan ada di tiap agama. Jaman, negara atau agama hanyalah suatu kondisi yang tidak bisa dipilih oleh manusia ketika dilahirkan. Jadi, semua umat manusia sebelum Nabi Muhammad merupakan orang-orang Islam juga yaitu mereka yang menghormati semua Nabi dan Rasul yang diturunkan Allah, mampu mencegah diri dari perbuatan negatif dan senantiasa berperilaku yang positif. Hal ini pun ditegaskan dalam Al Quran bahwa Islam adalah milik semua manusia yang beriman, siapapun Nabi atau Rasul-Nya.

Katakanlah (hai orang-orang mukmin) : “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh (Islam) kepada-Nya. (Q.S Al Baqarah (2) : 136)

Nabi Musa mengatakan : Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (Islam). (Q.S Yunus (10) : 72)

Nabi Ibrahim mengatakan : “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (Islam) kepada-Nya”. (Q.S Al Baqarah (2) : 132)

Nabi Ya’qub diberitakan dalam Al Quran : Ketika ia (Ya’qub) berkata kepada anak-anaknya, “Apakah yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab, kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail da Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami adalah golongan yang berserah diri (Islam) kepada-Nya”. (Q.S Al Baqarah (2) : 133) Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

99 Nabi Yusuf berkata : “Wafatkanlah aku dalam keadaan berserah diri (Islam) kepada-Nya dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh”. (Q.S Yusuf (12) : 101)

Pengikut Nabi Isa, mengatakan : “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tunduk-patuh (Islam)”. (Q.S Al Maidah (5) : 111)

Dari uraian ayat diatas, nampak jelas bahwa Islam adalah agama semua manusia. Cobalah renungkan sejenak, lepaskan sementara atribut “agama” pada diri kita maka kita akan menyadari bahwa kita adalah manusia yang sama, sederajat dengan manusia yang lain. Dan semua manusia diciptakan oleh Tuhan yang sama pula. Dengan demikian, kita semua hakekatnya adalah umat manusia yang satu dan berasal dari Tuhan yang satu jua. Allah tidak akan pilih kasih terhadap umat-Nya. Setiap manusia diberi kesempatan yang sama melalui jalan atau agama yang dianutnya agar bisa menyempurnakan diri sehingga dapat kembali kepada-Nya.

Oleh karena itu, mari kita berlomba-lomba untuk bisa kembali kepada-Nya dengan berusaha setekun-tekunnya dan senantiasa berdoa kepada-Nya mohon diberikan petunjuk jalan yang lurus (ihdina al-shirath al-mustaqim) agar perjalanan yang ditempuh pribadi –yang fakir- senantiasa selamat dalam lindungan-Nya.

Ya Allah!, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam kuburku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya pada rambutku, cahaya pada kulitku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya dalam tulangku, cahaya di mukaku, cahaya di belakangku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku. Ya Allah, tambahkanlah cahaya bagiku, berilah daku cahaya dan jadikanlah cahaya bagiku (HR. Tirmidzi dan Ibnu Abbas Ra)

Wallahu A`lam Bish-shawab
Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

100

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

101

KUMPULAN ARTIKEL

Realita: Disangka Gila karena Indigo..!
Sumber : http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0305/20/115839.htm

Indigo istilah dalam bahasa Spanyol, merujuk pada orang yang jiwanya selalu mengembara melewati batas-batas waktu. Tak heran, orang Indigo senang mengetahui kejadian masa lalu maupun masa mendatang. Orang yang tak memahaminya sering menganggapnya gila.

Sekian lama Abel (bukan nama sebenarnya) hidup dalam ketakutan. Ia tidak sedang bermimpi ketika hampir setiap malam terasa jiwanya lepas dari raganya dan pergi mengembara. Ia pun heran karena sering "menyaksikan" suatu peristiwa yang bakal berlangsung. Biasanya tak lama kemudian hal itu memang sungguh-sungguh terjadi. Orangtuanya merasa takut dan membawanya berkonsultasi ke psikiater. Abel didiagnosis mengalami halusinasi dan diberi obat. Karena merasa apa yang dialami bukan halusinasi, tak diminumnya obat-obat itu. Abel kemudian mencari jawaban lewat buku-buku. Ia pun belajar tentang trans dari seorang guru di Bali. Sayang ia belum menemukan jawaban pasti, ketika kemudian bertemu teman sebaya yang ternyata pengguna narkoba. Karena masih penasaran, ia coba juga sewaktu mereka menawarinya butir-butir psikotropika yang katanya tiket untuk mencapai kondisi trans. Lagi-lagi bukan jawaban yang ia dapat, tapi malah mengalami ketergantungan. Ia dibawa berobat ke Dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp.KJ untuk mengatasi ketergantungannya. Dari konseling barulah ketahuan kalau Abel ternyata indigo.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

102 Senang Menyendiri

“Yang nyata kelihatan dari pasien saya itu selalu bentrok dengan orangtua. Dia betulbetul melihat sesuatu, tapi dilarang oleh orangtuanya, dibilang berkhayal. Jadi bentrok," ungkap Dr. Erwin, psikiater anak di Klinik Prorevital Jakarta. Bentrok dengan orangtua juga dialarni Victor Chandrawira (38 tahun). Sejak kecil ia dicap pemberontak dan di usia 13 tahun nekat lari dari rumah. "Saya sendiri tidak melihat sebagai pemberontakan. Saya hanya ingin selalu melihat sesuatu dari titik yang berbeda," tutur Presiden Direktur BR2C, perusahaan konsultan untuk pengembangan sumber daya manusia ini.

Beruntung sekali ia kemudian diasuh oleh keluanga pendeta asal Amerika yang hidup di Bandung. Di sini ia seperti tanaman yang tumbuh di lahan subur dengan pupuk yang baik. Ia tidak dianggap kurang ajar ketika mengatakan "Anda salah" kepada orangtua angkatnya. Keluarga ini berhasil mengarahkan sekaligus memuaskannya. Sang pendeta juga tidak marah bila Victor menolak diajak ke gereja.

Victor tidak tahu jika dirinya terlahir sebagai indigo. Memang setelah membaca buku “The Indigo Children” karya Lee Carroll & Jan Tober, ia menemukan banyak hal yang berkaitan, baik dari sisi perasaan, pola hubungan, sikap diri dan lainnya. Pria yang hobi jalan-jalan ini mengaku senang menyendiri.

Semasa sekolah di TK “Hidup Baru”, Bandung, ia suka menikmati keceriaan temantemannya yang sedang berkumpul dan bermain, tapi enggan bergabung. Tak bisa ia duduk lama di dalam kelas. Kerap kali belum sampai lima menit ia sudah beranjak keluar dari kelas. Kadang ia tiba-tiba bicara bahasa Spanyol, sehingga disangka gila oleh teman-temannya. Namun, menurut tetangganya yang asal Spanyol, kata-katanya itu tidak ngawur. Padahal, ia sama sekali tidak menguasai bahasa tersebut.Ia suka menggambar. Pernah suatu hari sengaja ia datang lebih pagi, meminggirkan semua kursi dan meja, kemudian seluruh lantai kelasnya ia gambari dengan kapur warnawarni. Bu Retno, gurunya, hanya bisa terbengong-bengong saat mendapati ulah muridnya itu. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

103 Si penyendiri ini pun sangat menyukai tokoh-tokoh loner, seperti “Batman”, “Daredevil”, juga bacaan seperti “The Hobbit” dan “Lord of the Rings”. Tak jarang ia membaca beberapa buku pada kurun waktu bersamaan.

"Belum selesai yang satu pindah ke buku lain, tapi saya tidak lupa rentetan cerita buku yang sempat lama saya biarkan," ujan alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ini.

Pengalaman Ajaib

Bisa jadi karena pandangannya selalu berbeda, ia pun sering bentrok dengan lingkungannya. Semasa SMU, ia tiga kali menginap di tahanan polisi karena berkelahi.

Ketika kuliah pengalaman itu terjadi lagi, gara-gara ia berdemonstrasi menentang gereja dan ikut gerakan yang berkaitan dengan Kedung Ombo.

Ada saja ulahnya untuk menyerang dosen dengan menggunakan pola pikirnya yang berbeda, tapi selalu benar. “Tentu saja banyak yang sebel terutama mereka yang suka dengan kemapanan," ceritanya sambil tergelak.

Cukup banyak hal ajaib ia alami ketika bertualang. Di Spanyol ia merasa ingin pergi ke sebuah teater kuno. Tanpa panduan apa pun ia memang kemudian menemukan teater itu di belakang pasar. Mendadak ia dengan lancar bisa menjelaskan tentang teater kuno itu kepada beberapa orang yang menyertainya.

Di Santo Morosa, sebuah desa di Costa Rica, Amerika Tengah, ia sedang berjalanjalan sewaktu seorang anak muda memintanya menemui neneknya. Perempuan tua dan ringkih itu sedang duduk di depan rumahnya "Nenek itu bilang “Waktu saya muda berbakti pada orang yang mukanya persis kamu, mungkin itu kamu”. Saya cuma bisa bingung dan bilang terima kasih," kisahnya.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

104 Di Italia, ada seorang gipsi yang mengenalinya sebagal troubadour (seniman keliling yang bercerita tentang sejarah lewat nyanyian) yang hidup beberapa ratus tahun lalu di sana. Di Keraton Yogyakarta ia dikenali sebagai juru kitab di bangsal agung oleh seorang abdi dalem.

Victor mengaku tidak percaya pada apa yang disebut kebetulan. Baginya semua peristiwa pasti ada sebabnya. Semula ia merasa sering bertemu pengalaman aneh dan ajaib itu karena ia hobi membaca. “Tapi, makin ke sini saya bisa menghayati semua itu," ujar penikmat irama jazz dan juga opera ini.

Dalam suatu sesi meditasi, Dr. Erwin memintanya untuk melakukan automatic writing. Apa yang dia tulis? Pada awalnya keluar huruf-huruf palawa kuno, kemudian muncul aksara A dan disusul oleh kata "Wisnu". Tak jelas apa arti semua itu.

Namun, ketika di Bali kebetulan ia dikenalkan dengan seorang Pedande Agung Tegallalang yang keahliannya berhubungan dengan soal penghayatan meditasi. Menurut sang pedande, tulisan itu merupakan penggambaran omnirsara, yaitu penghayatan yang tidak bisa didefinisikan dengan kata.

Jika seorang Hindu ingin menggali diri lebih dalam melalul meditasi, untuk sampai pada tahap omnirsara, hanus mengucapkan kata "aaaooomm". "Nab A ini yang dituju adalah Dewa Wisnu, karena dewa inilah yang membuka pintu untuk seseorang masuk menghayati omnirsara itu," ujamya.

Bungsu dari dua bersaudara ini tak pemah merasa risau atas pengalaman hidupnya. Ia justru menikmati dan menghayati semua sebaik-baiknya. Ia bisa menikmati kekosongan di tengah keramaian. Ia tetap gemar bertualang, tidak hanya secara fisik, tapi juga jiwa.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

105 Oleh lingkungannya, ia tetap saja dipandang sebagai sosok yang "berbeda", karena itu dijuluki maverick atau traveler. Salah satu ciri indigo adalah tidak patuh terhadap aturan dan tidak bisa dipaksa, tapi bukan lantaran tidak bisa mengikuti aturan jam kantor bila ia kemudian mendirikan perusahaan sendiri.

Ia pun mencanangkan punya bisnis sendiri di usia sekian, punya mobil pribadi di usia sekian. Dan itu sudah jadi kenyataan. Satu lagi mimpinya, menulis buku di usia 45 tahun.

Indigo Si Anak Old Soul ...
Sumber : http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0506/17/154633.htm

Getaran bumi yang sedemikian kuat membawa banyak perubahan. Salah satunya adalah makin banyaknya terlahir anak berjiwa matang (old soul) yang memiliki bakat khusus.

Bagaimana mendidik agar mereka tidak merasa tertekan dan aneh karena berbeda dengan teman-temannya?

Gejala alam rupanya tidak sedikit mempengaruhi hal-hal lain. Waktu yang berjalan demikian cepat menjadi satu indikasi perubahan yang terjadi di bumi. Selain itu, munculnya anak-anak berbakat dengan jiwa tua atau old soul, juga menjadi tanda perubahan bumi yang begitu cepat. Sifat tubuhnya memang anak-anak, tapi soul-nya sudah kuat. Makanya kalau dia nyeletuk bukan seperti anak-anak lagi

Akhir-akhir ini kita sering disentakkan oleh begitu banyaknya anak yang memiliki pola pikir berbeda dengan anak seusianya. Daya nalar mereka cenderung dewasa, padahal usianya belum mencapai belasan. Kali lain kita dikejutkan oleh anak-anak yang memiliki indra keenam luar biasa tajam, sehingga si anak sampai merasa dirinya tidak normal karena tidak sama dengan teman-temannya.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

106

Fenomena lahirnya anak-anak berkemampuan lebih ini sebenarnya sudah sejak lama ada. Sebastian Bach dan Albert Einstein bisa dikategorikan sebagai anak indigo. Musik yang diciptakan Bach disebut sebagai tipe musik anak indigo. Ia menciptakan musik sambil melamun, sama seperti Einstein yang mendapat rumus saat sedang bengong.

Keberadaan anak-anak berbakat ini memang baru disadari sejak tahun 1990-an. Para ahli menyebut mereka indigo. Nama indigo diambil karena warna yang dipancarkan dari cakra ajna anak-anak berbakat itu berwarna biru nila (indigo). Cakra ajna terletak di tengah dahi, antara kedua alis mata.

Meski demikian, keindigoan seseorang tidak semata-mata hanya ditunjukkan oleh warna indigo dari cakra ajna. Itu sebabnya, penggalian informasi oleh para psikolog maupun psikiater lewat wawancara, tetap penting dilakukan. Melalui obrotan dan tanya jawab, akan diketahui tipe serta pola pikir anak tersebut.

Tidak Lazim

Warna aura indigo pada seorang anak memang bisa mengindikasikan banyak hal. Sebab, dikatakan Tom Suhalim, ahli aura dan fengsui, aura berkaitan dengan warna kepribadian.

Suatu alat yang disebut aura video station berfungsi hanya untuk melihat keseimbangan aura pada seseorang. Pada anak indigo, selain ditunjukkan oleh warna aura, juga dibarengi dengan pola pikir dewasa. Diperkirakan di masa ini banyak jiwa yang sudah matang atau tua, tapi hidup dalam badan anak-anak.

“Sifat tubuhnya memang anak-anak, tapi soul-nya sudah kuat. Makanya kalau dia nyeletuk bukan seperti anak-anak lagi. Ada yang bicara, "Nenek dulu ’kan adik saya!’ Ada yang merasa selalu melihat sesuatu yang oleh awam disebut makhluk halus,” papar Dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp.KJ, psikiater anak. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

107 Banyak orangtua yang khawatir dengan kondisi anak seperti itu. Anak indigo memang kerap memperlihatkan tanda-tanda kejiwaan yang tidak lazim. Satu hal yang terlihat nyata dari anak indigo, tambah Dr. Erwin, adalah selalu bentrok dengan orangtua.

Hal ini juga pernah dialami Victor Chandrawira (39) yang juga memiliki sifat indigo. Saat kecil ia dicap sebagai pemberontak. Menurutnya, sikapnya itu bukan pemberontakan, melainkan melihat sesuatu dari sisi yang lain. Selain itu, Victor yang kini menjadi presiden direktur sebuah perusahaan konsultan untuk pengembangan sumber daya manusia ini juga memiliki berbagai pengalaman unik. Kala berada di Italia misalnya, ia disapa oleh seorang gipsi yang mengaku mengenal Victor sebagai seniman keliling yang hidup beberapa tahun lampau di sana.

Jiwa tua yang hadir dalam anak indigo juga kerap disebut oleh Tom dan Dr. Erwin sebagai bukti reinkarnasi atau jiwa yang terlahir kembali. Mereka memperkirakan, anak yang lahir dengan tipe jiwa tua akan bertambah banyak dalam periode mendatang.

Getaran Berubah

Munculnya anak indigo, menurut Tom, tak lepas dari pengaruh perubahan getaran bumi. Pada tahun 1970 sampai 1980-an, resonansi bumi sekitar 7,83 Hz. Di tahun 2000 menjadi 8,5-9 Hz, sedangkan di tahun 2004 sudah mencapai 13,5 Hz.

Secara metafisik, getaran bumi yang semakin cepat akan menimbulkan satu fase, yang menyebabkan terjadinya kenaikan tingkat ke dimensi yang lebih tinggi.

Secara teoretis, getaran bumi yang semakin cepat akan membuat bumi semakin panas dan suhu ikut meningkat. “Kenaikan ini juga mengakibatkan perubahan yang cukup signifikan, sehingga membutuhkan orang tertentu untuk menyeimbangkannya,” lanjut konsultan fengsui dan aura ini.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

108 Kelahiran anak-anak berbakat inilah yang akan membantu getaran bumi berjalan lebih smooth, lebih mulus. Kelahiran mereka ditujukan untuk mengubah tatanan dunia supaya menjadi lebih nyaman.

Anak indigo datang ke dunia dengan berbagai misi. Cara yang diambil pun beraneka ragam. Bisa lewat kesenian, pendidikan, ilmu pengetahuan, olahraga, bahkan menjadi paranormal. "Semua itu tergantung misi mereka,” katanya. Anak indigo kebanyakan merupakan pendobrak suatu tatanan yang salah. Karena bertugas meluruskan ketidakbenaran itu, mereka umumnya lahir dengan tipe bijaksana. Memang dibutuhkan manusia dengan prinsip kuat untuk bisa membuat getaran bumi berjalan lebih lembut.

Menurut Tom, dalam beberapa kasus, saat ini juga bermunculan "anak kristal". "Mereka lebih berbeda lagi. Anak kristal umumnya lebih kalem. Tapi, secara fisik mereka kurang begitu kuat karena lebih rapuh dan rentan. Warna auranya lavender, ungu muda,” tuturnya.

Karakteristik anak indigo bermacam-macam. Kemampuan indra keenam tidak hanya dalam hal penglihatan, tapi juga pendengaran dan lainnya. Mereka bisa melihat permasalahan lebih mendalam. Intuisi anak seperti itu juga kuat.

Bisa Amburadul

Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak lain ini, jelas memerlukan peran pendidikan yang khusus pula. Misalnya anak indigo yang bisa berbahasa Inggris walau usianya masih balita dan tidak dibesarkan dalam kultur berbahasa Inggris, harus tetap disekolahkan.

"Sekalipun indigo mereka tetap anak-anak yang harus mendapat pengarahan. Orangtua tetap harus mendidik mereka,” ucap Tom.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

109 Bagaimanapun, mereka adalah anak-anak yang masih dalam tahap berkembang. Terlebih lagi, emosi mereka belum seimbang. Hal itu tampak dari warna kepribadiannya yang masih berganti-ganti.

Tom pun mewanti-wanti agar orangtua selalu mengawasi dan tetap mendidik anakanaknya yang tergolong indigo sebagaimana mereka mendidik anak lain. Jangan sampai orangtua mendewa-dewakan anak indigo.

“Kalau mereka berlaku kurang ajar, tetap harus diajarkan disiplin. Kalau salah, ya perlu dihukum. Kematangan mereka harus lengkap. Tidak hanya fisik, pikiran dan emosi harus seimbang. Kalau salah satu tidak bagus, mereka bisa amburadul,” kata Tom lugas.

Oleh karena itu, menurut Tom, perlu dipertimbangkan kembali oleh para orangtua yang mengizinkan anak indigo memberi pengajaran (misalnya reiki, meditasi, penyembuhan, dan lain-lain) kepada orang dewasa. Untuk menjadi pengajar, mereka harus mempunyai kematangan fisik, emosi, mental, pola pikir, dan lain-lainnya.

Talenta yang dimiliki anak-anak itu semestinya memang bisa dimanfaatkan. Namun, untuk dapat menyalurkan kelebihan itu dengan baik dan benar, harus didukung keseimbangan atau kematangan dari segala aspek.

10 Karakteristik anak Indigo

Dalam bukunya, The Indigo Children, Lee Carroll dan Jan Tober mengemukakan 10 karakteristik anak indigo, yaitu:

Mereka datang ke dunia dengan perasaan serta perilaku yang menyiratkan kebesaran.

Mereka mempunyai perasaan patut atau layak untuk berada di sini dan heran bila orang lain tidak merasakannya.

Penghargaan terhadap diri sendiri bukan merupakan masalah besar. Mereka justru menyampaikan kepada orangtua, siapa mereka sebenarnya. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

110 • Mereka mempunyai kesulitan dengan kekuasaan absolut, terlebih kekuasaan tanpa penjelasan atau pilihan. • Mereka terkadang tidak mau melakukan beberapa hal, seperti mengantre. Itu merupakan sesuatu hal yang menyulitkan bagi mereka. • Mereka kerap merasa frustrasi dengan sistem yang berorientasi ritual dan tidak membutuhkan pemikiran kreatif. • Mereka kerap melihat sesuatu atau mengerjakan sesuatu dengan cara yang lebih baik, baik di rumah maupun sekolah. • • • Mereka sepertinya terlihat antisosial, kecuali dalam kalangannya sendiri. Mereka tidak akan merespon atas disiplin yang kaku. Mereka tidak malu untuk membiarkan orang mengetahui apa yang mereka butuhkan.

Selain itu, dalam buku The Indigo Children, Doreen Virtue, Ph.D, menyebutkan pula beberapa karakteristik untuk mengidentifikasi anak-anak berbakat khusus itu, yaitu:

• • • •

Sangat sensitif. Energinya sangat berlebihan. Mudah bosan. Perlu orang dengan kondisi emosi yang lebih stabil dan nyaman untuk berada di sekelilingnya.

Mempunyai pilihan sendiri untuk belajar, terutama untuk membaca dan matematika.

Mudah frustrasi. Sebab, umumnya mereka mempunyai banyak ide, namun kurang sumber daya atau orang-orang yang dapat membantu mereka.

• •

Belajar lewat cara eksplorasi. Tidak bisa diam kecuali mereka menyatu dalam sesuatu hal yang sesuai dengan minatnya.

Mempunyai ketakutan seperti kehilangan atau ditinggal meninggal oleh orang yang dicintainya.

Jika pengalaman pertamanya mengalami kegagalan, mereka mungkin akan menyerah dan membuat blok pembelajaran secara permanen. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

111 "Saya Bukan Indigo!"

Benarkah ada anak indigo? Kalau pertanyaan itu dilontarkan kepada Vincent Christian Liong, jawabannya, “Tidak!” Remaja berusia 19 tahun ini dikategorikan sebagai indigo, tapi ia merasa dirinya bukan indigo. Baginya, indigo hanyalah jenis warna.

Tak ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Ia sama seperti anak lain seusianya. Itu sebabnya saat ditanya tentang kondisinya yang dinyatakan sebagai anak indigo, wajah Vincent berubah. Ia tidak suka! “Saya hanya difoto aura. Itu pun baru beberapa bulan lalu,” ujarnya kesal.

Sejauh ini, tidak ada dokter yang mewawancarai atau pun memeriksa dirinya, terkait dengan indigonya. Menurutnya, para dokter hanya mengasumsikan keindigoannya berdasarkan 10 tipe. “Katanya sih ada tujuh atau delapan tipe yang cocok,” ucapnya enteng.

Namun, kemudian ia menambahkan, “Sekarang lihat saja deh anak-anak. Kayaknya banyak juga yang masuk dalam tipe itu. Jadi nggak ada bedanya kan antara anak indigo dan tidak?”

Urusan indigo ini menjadi sangat sensitif bagi Vincent. Jauh sebelum masalah ini terangkat, ia bisa menjalani kehidupannya dengan normal. Namun, begitu wajahnya terpublikasi di media cetak dan televisi sebagai anak indigo, banyak yang berubah.

“Saya tidak suka dengan kondisi itu. Efeknya jadi tidak baik bagi perkembangan anak. Saya dianggap aneh, padahal tidak. Untung saja, teman-teman saya tidak mengganggap demikian,” tutur pelajar kelas 12 di Gandhi Memorial International School, Jakarta ini.Indigo, menurut Vincent, tidak ada dalam kamus kedokteran. Sebab, kedokteran Barat tidak memasukkan unsur reinkarnasi yang kerap dihubungkan dengan kasus indigo. Nah, inilah yang membuat kontroversi. "Lalu, bagaimana mau ditangani dengan dunia kedokteran?” tanyanya dengan nada kritis. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

112 Hal ini semata-mata diutarakan karena dalam beberapa hal, anak yang diduga indigo harus menjalani terapi. “Kalau sudah berbakat, kenapa harus diterapi? So what kalau berbakat?” tanyanya dengan nada meninggi.

Sebagal gambaran, sosok pelajar kelahiran Jakarta, 20 Mei 1985 ini sangat berbakat. Bukan dalam bidang pelajaran, tapi di luar urusan sekolah. Anak pertama dari dua bersaudara ini sangat rajin menulis, tidak hanya di milis yang dibuatnya, tapi juga menyebarkan ke berbagai milis lain. Tulisannya sangat tajam untuk ukuran anak seusianya, dan berbau filsafat yang kuat. Bahkan, tulisannya itu sudah dibukukan. Buku pertamanya berjudul "Berlindung di Bawah Payung" diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2001.

Sebenarnya masih ada dua kumpulan tulisannya yang belum sempat dibukukan. “Masih berantakan," begitu alasannya. Ia juga pernah memenangi lomba penulisan Analisis Karya Sastra Tingkat SMU. Ia menganalisis karya Pramoedya. Tulisan berjudul Tentang Manusia dalam Bumi Manusia tersebut muncul dalam buku Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra. Vincent memang berbakat. Selain menulis, ia juga aktif memberikan pelatihan spiritualitas. Yang ia ajarkan adalah soal pemanfaatan otak, reiki tumo, dan kundalini.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

113

Berbeda, tetapi Bukan Anak "Aneh"
Sumber : http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0406/27/125506.htm

SEPANJANG perjalanan menuju rumah nenek, Ardi, sebut saja begitu, seperti tidak bergerak. Wajahnya pucat pasi. Ia terus menutupi telinganya. Sang ibu tak berani mengusik anak sulungnya.

"Saya sebenarnya heran, kok Ardi nangisnya sampai begitu waktu mendengar kabar ibu saya meninggal. Enggak seperti anak kecil lain yang kehilangan neneknya. Sedih ya sedih, tapi enggak gitu-gitu amat," ujar Dewi.

Begitu turun dari mobil, Ardi seperti terkesima melihat sesuatu di pintu masuk. Ketika mencium jenazah neneknya, tiba-tiba ia kembali menutupi telinganya dan tampak ketakutan. Pandangannya terus menuju ke luar pintu. Setelah itu Ardi mengatakan kepalanya sakit, dan tidak ikut ke makam.

Menjelang tengah malam, Ardi menanyakan apakah ibunya mendengar suara petir siang tadi. Sang ibu menjawab, "Tidak." "Masak Mama enggak dengar, kan keras sekali dan terus- terusan, Ma," kata Dewi menirukan ucapan Ardi saat itu. "Sehabis itu Ardi menceritakan semuanya," lanjut Dewi. Selain petir, Ardi melihat burung besar di pintu rumah sang nenek. "Burung itu enggak pergi-pergi," ujar Ardi seperti ditirukan Dewi.

Saat mencium neneknya, Ardi melihat sang nenek berjalan menuju sebuah gerbang. Saat itu Ardi mendengar suara petir lagi, yang lebih keras dari sebelumnya, dan ia menyaksikan neneknya melangkah melewati gerbang, terus berjalan menuju tempat yang ia katakan "indah sekali".

Peristiwa itu bukan yang pertama, sehingga Dewi dan suaminya tidak lagi terkejut mendengar penuturan anak mereka. "Dia sering melihat macam- macam, tetapi biasanya diam. Ia hanya mau berbicara sesudahnya, pelan-pelan dan hanya kepada orang tertentu," sambung Dewi. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

114 Usia Ardi kini menjelang 10 tahun. Di sekolah ia termasuk cerdas. IQ-nya antara 125130. "Tapi gurunya bilang ia suka bengong di kelas," sambung Dewi. Kepada ibunya, ia bercerita melihat macam-macam di sekolah, yang tidak bisa dilihat orang lain, di antaranya anak tanpa anggota badan, dan ia merasa sangat kasihan.

Suatu hari saat belajar di rumah ia tersenyum. Ketika ditanya oleh sang ibu, ia mengatakan ada anak persis sekali dengan dirinya. Hari berikutnya ia bercerita, anak itu datang di sekolahnya. Ketika ditanya di mana ia tinggal, anak itu menjawab, "Di sana," sambil telunjuknya menunjuk ke arah atas. "Ada apa di sana?" tanya Ardi. Anak itu menjawab, "Ada orang gede- gede buanget. Anak itu omongnya juga medhok lho Ma, kayak aku, persis," tutur Ardi seperti diceritakan kembali oleh Dewi. Tentu tak ada orang lain melihat "anak itu" kecuali Ardi.

Dewi dan suaminya memahami apa yang terjadi pada Ardi dan juga adiknya. Beberapa anggota keluarganya juga memiliki kepekaan lebih dibandingkan dengan orang kebanyakan. Pada Ardi hal itu sudah terdeteksi saat masih bayi. "Kalau dengar suara azan, Ardi tampak mendengarkan dengan penuh konsentrasi," kenang Dewi. Menjelang usia 1,5 tahun, Ardi membaca kalimat syahadat secara sambungmenyambung seperti wirid. Sesudah bisa jalan, sebelum usia dua tahun, ia mulai mengambil sajadah sendiri, memakai sarung sendiri dan membuat gerakan seperti orang shalat, meskipun bukan waktu shalat.

Toh tingkah laku Ardi membuat Dewi merasa agak risau. "Ia melihat dan mendengar apa saja yang orang lain enggak bisa lihat dan enggak bisa dengar," katanya. Ia tidak menceritakan situasi anaknya itu pada setiap orang di luar keluarga. "Kalau enggak percaya bisa-bisa anak itu dianggap berkhayal," lanjutnya.

Dewi tidak mengecap anaknya berkhayal, karena dalam beberapa hal ia juga memiliki kepekaan itu, meski hanya sampai tingkat tertentu. "Suatu sore, sehabis shalat, saya merasa ada bayangan putih. Ardi rupanya juga melihat karena ia tersenyum. Dia bilang, ’Ma, ada yang ngikutin, perempuan. Tapi orangnya baik sekali.’ Ketika saya tanya siapa, Ardi tidak menjawab." Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

115 Suatu hari, Dewi membaca majalah yang menulis tentang tanda-tanda anak indigo. "Lha saya pikir kok persis sekali sama anak saya. Lalu saya berusaha menemui dr Erwin di Klinik Prorevital."

Anak-anak dengan kemampuan seperti Ardi bukan hal yang baru di dunia, tetapi fenomenanya semakin jelas 20 tahun terakhir ini. Beberapa film mengisahkan kemampuan anak dan manusia dewasa dengan kemampuan semacam itu, di antaranya The Sixth Sense, dan film-film seri seperti The X Files.

Menurut dr Tubagus Erwin Kusuma SpKj, psikiater yang menaruh perhatian pada masalah spiritualitas, anak-anak seperti itu semakin muncul di mana-mana di dunia, melewati batas budaya, agama, suku, etnis, kelompok, dan batas apa pun yang dibuat manusia untuk alasan-alasan tertentu.

Fenomena itu menarik perhatian banyak pihak, karena dalam paradigma psikologi manusia, anak-anak itu dianggap "aneh". Pandangan ini muncul karena selama ini kemanusiaan telanjur dianggap sebagai hal yang statis, tak pernah berubah. "Padahal, semua ciptaan Tuhan selalu berubah," ujar dr Erwin.

Sebagai hukum, masyarakat cenderung memahami evolusi tapi hanya untuk yang berkaitan dengan masa lalu. "Fenomena munculnya anak-anak dengan kemampuan seperti itu merupakan bagian dari evolusi kesadaran baru manusia, yang secara perlahan muncul di bumi, terutama sejak awal milenium spiritual sekitar tahun 2000 yang disebut Masa Baru, The New Age, atau The Aquarian Age. Semua ini merupakan wujud kebesaran Allah," tegas Erwin.

Fisik anak-anak indigo sama dengan anak-anak lainnya, tetapi batinnya tua (old soul) sehingga tak jarang memperlihatkan sifat orang yang sudah dewasa atau tua. Sering kali ia tak mau diperlakukan seperti anak kecil dan tak mau mengikuti tata cara maupun prosedur yang ada. Kebanyakan anak indigo juga memiliki indra keenam yang lebih kuat dibanding orang biasa. Kecerdasannya di atas rata-rata.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

116 Istilah "indigo" berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi biru dan ungu, diidentifikasi melalui cakra tubuh yang memiliki spektrum warna pelangi, dari merah sampai ungu. Istilah "anak indigo" atau indigo children juga merupakan istilah baru yang ditemukan konselor terkemuka di AS, Nancy Ann Tappe.

Pada pertengahan tahun 1970-an Nancy meneliti warna aura manusia dan memetakan artinya untuk menandai kepribadiannya. Tahun 1982 ia menulis buku Understanding Your Life Through Color. Penelitian lanjutan untuk mengelompokkan pola dasar perangai manusia melalui warna aura mendapat dukungan psikiater Dr McGreggor di San Diego University.

Dalam klasifikasi yang baru itu Nancy membahas warna nila yang muncul kuat pada hampir 80 persen aura anak-anak yang lahir setelah tahun 1980. Warna itu menempati urutan keenam pada spektrum warna pelangi maupun pada deretan vertikal cakra, dalam bahasa Sansekerta disebut cakra ajna, yang terletak di dahi, di antara dua alis mata.

"Itulah mata ketiga," ujar dr Erwin. The third eye itu, menurut dia, berkaitan dengan hormon hipofisis (pituary body) dan hormon epificis (pineal body) di otak. Dalam peta klasifikasi yang dibuat Nancy, manusia dengan aura dominan nila dikategorikan sebagai manusia dengan intuisi dan imajinasi sangat kuat.

"Letak indigo ada di sini," jelas Tommy Suhalim sambil menjalankan perangkat teknologi pembaca aura, aura video station (AVS). Alat yang protipenya dibuat oleh Johannes R Fisslinger dari Jerman tahun 1997 ini lebih canggih dibandingkan perangkat teknologi serupa yang ditemukan Seymon Kirlian tahun 1939, dan Aura Camera 6000 yang dibuat Guy Coggins tahun 1992 berdasarkan Kirlian Photography.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

117 Tom menunjukkan titik berkedip berwarna nila tua, sangat jelas di antara kedua mata Vincent Liong (19). Murid kelas dua tingkat SLTA di Gandhi International School itu sudah menulis buku pada usia 14 tahun dan bukunya diterbitkan oleh penerbit terkemuka di Indonesia. Buku Berlindung di Bawah Payung itu merupakan refleksi, berdasarkan kejadian sehari- hari yang sangat sederhana.

Pergulatan pemikiran yang muncul dalam tulisan-tulisannya kemudian seperti datang dari pemikiran orang bijak, dan menjadi bahan pembicaraan. Pemilihan angle-nya tidak biasa, dan hampir tidak terpikir bahkan oleh orang dewasa yang menekuni bidang itu. Belakangan ia banyak menulis soal spiritual, namun tetap dilihat dalam konteks ilmiah dan rasional.

Mungkin karena minatnya yang sangat besar pada dunia tulis-menulis, Vincent tidak terlalu berminat dengan beberapa mata pelajaran di sekolahnya. Orangtuanya yang tergolong demokratis pun sering tidak mengerti apa yang diingini anaknya yang berIQ antara 125-130 ini. "Dia keras kepala. Kemarin ia tidak mau ikut ujian matematika," sambung Liong, ayahnya.

Vincent mengaku "takut" pada matematika sejak kecil, tapi mengaku disiplin pada aturan mainnya sendiri. "Sejak kecil aku bingung pada dogma satu tambah satu sama dengan dua. Aku juga bingung dengan ilmu ekonomi karena dalam realitas sosial berbeda," tegas Vincent.

Toh sang ibu sudah menengarai keistimewaan anaknya sejak bayi. Waktu SD, Vincent biasa bergaul dengan gurunya, dan orang-orang setua gurunya.

Pertanyaannya banyak dan sangat kritis. "Saya langganan dipanggil guru bukan hanya karena anak itu sulit. tetapi juga karena karangan-karangannya membuat gurugurunya kagum," ujar Ny Ina.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

118 Vincent sudah menulis tentang teleskop berdasarkan pengamatan dan referensi pada usia SD. "Di rumah ia membawa ensiklopedi yang besar- besar itu ke kamarnya," ujar Ny Ina. "Kamarnya kayak kapal pecah. Tidurnya dini hari karena menulis," sambung Liong. "Saya sering meminta agar ia menyelesaikan pendidikan formalnya dulu, karena bagaimanapun itu sangat penting," lanjut Liong.

"Pendidikan formal sangat penting karena anak-anak indigo harus membumikan ’ilmu langitnya’ untuk kebaikan manusia. Bukan sebaliknya," ujar Rosini (40). Ia menganjurkan, agar anak-anak yang memiliki kemampuan berbeda itu tidak dieksploitasi oleh orangtua dan lingkungannya untuk mencari nomor togel atau menjadi dukun atau klenik. "Bukan itu misi anak-anak indigo," tegas Rosi.

Anak-anak itu sebenarnya punya mekanisme pertahanannya sendiri. Annisa, misalnya. Gadis kecil berusia 4,5 tahun ini tiba-tiba berbicara dalam bahasa Inggris beraksen Amerika begitu ia bisa bicara pada usia 2,5 tahun. Padahal orangtuanya tidak berbahasa Inggris dengan baik. Meski tampak menggemaskan, dalam banyak hal ia berbicara dan bersikap seperti orang dewasa, bahkan menyebut dirinya "orang Amerika" karena "datang dari Amerika". Nisa menyebut ibunya, Yenny bukan dengan panggilan mama.

Kemampuan melihat dan mendengar Nisa sangat tajam pada pukul 23.00 sampai dini hari. Tetapi kalau secara sengaja diminta memperlihatkan kemampuannya, ia akan menolak dengan tidak memperlihatkan kemampuan itu sehingga ia tampak seperti anak-anak lainnya," ujar Yenny. Kata sang ibu, Nisa tidak mudah bersalaman dengan orang. Ia seperti tahu orang yang suka pergi ke dukun atau memakai jimat. Namun sebagai anak-anak Nisa juga suka menyanyi dan bermain.

Jenis dan kemampuan anak indigo bermacam-macam. Meski memiliki kepekaan yang kuat, kepekaan mendengar dan melihat sesuatu yang tidak didengar dan dilihat orang kebanyakan, berbeda-beda gradasinya.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

119 Menurut Lanny Kuswandi, fasilitator program relaksasi di Klinik Prorevital, mengutip dr Erwin, "Ada tipe humanis, tipe konseptual, tipe artis, dan tipe interdimensional. Pendekatan terhadap mereka juga berbeda-beda," sambungnya.

Namun karena dianggap "aneh", tak jarang diagnosisnya keliru dan penanganannya lebih bersandar pada obat-obatan. "Ada anak indigo yang dianggap autis, ADHD (Attention-Deficit Hyperatictve Disorder) maupun ADD (Attention Deficit Disorder). Padahal tanda-tandanya berbeda," sambung Erwin. Kekeliruan semacam ini juga terjadi di AS, karena banyak ahli menganggap anak-anak itu menderita "gangguan" yang harus dihilangkan.

"Saya beberapa kali pergi ke psikolog dan psikiater," ujar Rosini. Profesional di suatu perusahaan swasta terkemuka itu suatu saat dalam hidupnya merasa sangat terganggu oleh suara-suara itu. Orangtuanya juga merasa anaknya "aneh" karena kerap memberi tahu peristiwa yang akan terjadi, tetapi menolak mengakui kemampuan anak itu.

"Dalam tes yang dibuat oleh mereka, saya dinyatakan sehat. Tidak ada gangguan apa pun," sambung Rosini. Sebaliknya, ia melihat psikolog dan psikiater yang melakukan tes terhadap dirinyalah yang bermasalah. Ia juga pernah mencoba mencari paranormal untuk membuang kemampuannya itu, meski suara-suara itu mengatakan "jangan".

Akhirnya Rosi berdamai dengan dirinya dan mengembalikan kemampuannya sebagai wujud kebesaran Allah SWT, dengan berusaha untuk terus mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Karena itu ia ingin membantu orangtua dengan anak-anak indigo agar anak- anak itu tidak melewati masa pencarian yang rumit seperti dirinya.

Indigo children, menurut Erwin, bukan fenomena terakhir, karena akan lahir anakanak yang disebut sebagai crystal children. "Anak-anak dengan warna dasar aura, bening dan lengkap. Mereka lahir dari orangtua yang spiritual."

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

120 Mungkin Cita (9) termasuk anak itu. Keluarganya, sampai nenek-neneknya, spiritualis. Ia bisa melihat sinar dan malaikat di rumah ibadah, khususnya ketika orang-orang sedang berdoa. Ini hanya salah satu kemampuan "melihat" milik anak yang selalu mendapat rangking di sekolah itu. Cita tahu kapan hujan akan turun hari itu dan sebaliknya, meskipun mendung sudah menggantung.

"Ia menjadi teman dan penasihat kami, bapak-ibunya. Di sekolah, di keluarga besar kami, terasa ia menebarkan aura kedamaian dan kebahagiaan. Anak itu sangat tenang dan pemaaf," ujar ibunya, Ny Dita.

“Past Life": Menguak Kehidupan Lampau
Sumber : http://www.kompas.co.id//kesehatan/news/0511/30/112627.htm

Kehidupan lampau kita menyimpan banyak rahasia, yang terkait erat dengan keadaan kita di masa kini. Beragam trauma di kehidupan lampau bisa menjadi penyebab berbagai persoalan yang dihadapi sekarang. Lewat regresi atau pengingatan ke kehidupan lampau (past life regression) masalah itu bisa diatasi.

Seorang dosen ilmu komunikasi di Jakarta, sebut saja Agnes (45), bercerita. Sejak kecil ia sering merasa akan mati pada usia 28 tahun, sehingga membuatnya takut menikah. Selain itu, ia sering merasakan sakit di perut kanan bawah. Rasa sakit ini tidak terlalu jelas karena hilang timbul. Nyeri dan rasa mengganjal agaknya cocok untuk mengidentifikasi rasa sakit itu.

Untung keadaan ini tidak terlalu mengganggu, tetapi Agnes penasaran. Sebenarnya ada apa dengan perutnya? Saat ke dokter dan dari pemeriksaan laboratorium, penjelasan yang diterimaa tidak memuaskan. Kata dokter tidak ada masalah apa-apa pada organ hati maupun ginjalnya.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

121

Secara tak sengaja ia mengikuti sesi terapi hipnosis dengan psikologi Pamugari Widyastuti yang mendalami terapi regresi. Tidak diduga, hipnosis yang dijalani membawa Agnes berkelana ke kehidupan lampau. Tak tanggung-tanggung, ke sekitar tahun 1850-an di Batavia. Agnes melihat dirinya adalah seorang noni Belanda (ia sekarang perempuan Jawa) yang meninggal di usia 28 tahun karena sakit lever.

Seperti dalam film, Agnes melihat tubuhnya berbalut gaun serba putih terbaring di atas meja di depan altar gereja yang dipenuhi bunga warna putih. Saat itu Agnes merasa melihat suaminya muncul dari pintu samping dikawal dua tentara, datang mendekat. “Saya bilang kepadanya, "Sorry schat ...karena saya pergi lebih dulu,” cerita Agnes.

Namun, apa daya, kata itu tak bisa terucap karena ia sudah terbujur kaku. “Saya mati ngenes karena suami saya ditangkap dan dijebloskan ke penjara saat kami sedang mengadakan pesta dan hidup bahagia. Suami saya seorang pemberontak,” tambahnya.

Cerita kematian ini hanya sepotong. Kisah yang dilihat Agnes lebih menarik. Baginya, perjalanan memasuki kehidupan lampau itu sangat menggairahkan dan mengasyikkan, walau pengalaman itu mengharukan.

Beberapa waktu setelah sesi terapi yang berlangsung tak lebih dari satu jam ini, Agnes mengatakan pada teman-temannya kalau nyeri di perut kanan bawahnya sudah hilang. Aneh juga, pikirnya. Apakah karena terapi itu?” tanyanya kepada terapis.

Jawabannya, “Ya, sakit itu hanya memori kehidupan lampau yang terbawa hingga sekarang.”

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

122 Kuncinya Pengertian

Cerita Agnes, meski tidak sedetail seperti yang ia alami, bukanlah rekaan. Banyak orang telah mengalaminya. Sebutlah Nano yang sembuh dari sakit kepala menahun setelah tahu bahwa dulu ia tentara Jerman yang mati tertembak. Atau, Aline yang tidak lagi memiliki keluhan nyeri di leher bagian belakang setelah tahu bahwa dulu ia mati dipenggal.

Anda mungkin tidak percaya. Bisa jadi karena terapi model ini masih sangat jarang dikerjakan di Indonesia dan tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Namun, bila kita membaca buku-buku karya para penulis (umumnya psikiater) dari luar negeri, khususnya dari Amerika Serikat dan Eropa, dan berselancar di internet, akan banyak ditemui cerita mengenal terapi yang disebut past life therapy ini.

Beberapa penulis seperti Brian L. Weiss, MD, dengan bukunya yang terkenal Many Lives, Many Masters, Through Time Into Healing, Only Love Is Real, Michael Newton, Ph.D. dengan bukunya Journey of Souls, Destiny of Souls, dan pakar hypnotherapi dari Selandia Baru, Richard Webster, dengan bukunya Practical Guide to Past Life Memories, Soul Mates; Relationships Across Time, banyak bercerita dan mengulas persoalan terapi dengan memasuki kehidupan lampau ini.

Terapi past life, menurut Brian Weiss, Kepala Departemen Psikiatri di Mount Sinai Medical Center, Miami Beach, Florida, AS, dan penulis buku past life yang telah diterjemahkan dalam 30 bahasa, adalah teknik penyembuhan yang melibatkan klien untuk kembali mengalami kehidupan masa lalunya, entah saat masa kecil, saat di kandungan, dan terutama saat ia hidup di berbagai kehidupan yang berbeda dengan hidupnya kini, bisa ratusan bahkan ribuan tahun lampau.

Menurut Brian, kebanyakan orang memasuki hidup lampaunya lewat hipnosis. Beberapa cara lain bisa juga ditempuh, misalnya meditasi atau pengalaman spontan seperti déjà vu (bila orang merasa pernah bertemu atau kenal dengan suatu tempat atau orang tertentu, padahal sebelumnya tidak pernah bertemu atau berkunjung). Mimpi bisa jadi cara untuk mengalami past life. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

123 Seperti yang dialami Agnes, terapi past life yang dijalankan Brian dapat membantu orang untuk menghilangkan gejala-gejala kronis lainnya seperti fobia, kepanikan, mimpi yang menyeramkan, takut akan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, kegemukan, relasi yang cenderung rusak dan berulang dengan orang lain, sakit fisik, dan penyakit tertentu yang tak tersembuhkan.

Past life, menurut Brian, membuat orang kembali sadar dan ingat akan pengalamannya. Pengalaman itu muncul dengan sendirinya tanpa diperintah. Ketika sampai pada suatu masa, kita akan bisa melihat, merasakan hati, dan ikut terlibat dengan diri sendiri atau orang-orang yang kita lihat dalam rekaman film pikiran kita itu.

Ingatan ini akan menjadikan orang mengerti betul apa yang dialaminya. “Mengerti adalah kunci terapi ini. Pengertian ini yang menyembuhkan. Pengertian melenyapkan ketakutan dan membuka jendela di mana cinta akan muncul dan melenyapkan segala keraguan dan kecemasan serta menyegarkan jiwa dan memelihara relasi,” ungkap Brian. Yang hendak dituju terapi ini yakni mengingat dan membangkitkan masa lampau kita, hingga segala trauma lenyap dengan sendirinya.

Tak Perlu Percaya Reinkarnasi

Untuk mengalami terapi ini, Anda tidak perlu percaya reinkarnasi. “Jika Anda mau, Anda bisa percaya bahwa segalanya merupakan kiasan dan terapi tetap bisa berjalan,” ujar Brian.

Satu contoh kisah datang saat musim semi tahun 1996. Waktu itu Brian berada di sebuah pertunjukan Maury Povich. Ia memberikan terapi regresi seperti biasa pada beberapa orang. Kamera televisi merekam aktivitas itu. Salah seorang yang ikut sesi regresi bernama Jim, musisi yang juga veteran perang Vietnam.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

124 Brian sama sekali belum pernah bertemu Jim. Setelah diberi penjelasan mengenai apa yang hendak dilakukan dan kamera siap menyorotnya, Jim menyatakan bahwa dia belum pernah dihipnosis dan tidak pernah punya pengalaman dengan terapi past life, apalagi tahu dan percaya soal reinkarnasi, tetapi dia ingin mencoba.

Beberapa menit kemudian, Jim sudah berada dalam kondisi terhipnosis. Ia tidak terganggu oleh adanya kamera. Lalu, mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata, “Saya sedang menunggang kuda dan saya adalah seorang tentara.”

“Kami berada di Dakota.. .Ada banyak Indian dan kami hendak disembelih oleh para Indian itu.. . .Saya sedang mencoba meyakinkan istriku bahwa kami mati dengan hormat .... meski tampaknya tidak demikian.”

Air mata mulai mengalir ke pipi Jim. Kesedihan dan kemurungannya tampak sekali di wajahnya.

“Ada Gary di sana,” tambah Jim. Seulas senyum muncul di mukanya yang sedih. Gary adalah sahabat Jim dalam kehidupan sekarang.

“Kamu mengenalinya?” tanya Brian. Ya,” jawab Jim, “temanku Gary”.

“Apakah dia juga satu kelompok dengan kalian?’ tanya Brian.

“Ya,” senyum tampak di wajah Jim sambil air matanya terus mengalir.

‘Oke,” tambah Brian “Apakah kamu tetap hidup?’ tanya Brian.

"Tidak!”

“Apa yang terjadi padamu?’

“Mereka mengambil rambutku, menguliti kepalaku,” jawab Jim. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

125 “Apa yang kau lihat?’

Suara Jim kian sedih. “Sungguh mengerikan....menyedihkan.”

Setelah Brian selesai dengan sesi singkat itu dia bertanya, “Apa yang sekarang bisa kamu pelajari dari semua itu?” Sejenak diam, sambil sedikit mengingat pengalamannya yang luar biasa, Jim menjawab, kadang dia menjadi korban, kadang menjadi pembunuh. Akhirnya terdengar kata-katanya, “Hidup begitu suci dan tidak ada alasan untuk membunuh siapa pun!”

Jadi, meski Jim tidak percaya reinkarnasi atau belum pernah ikut sesi past life, dia tetap saja mengalami. Bahkan, lewat proses mengingat dan mengerti pengalamannya di akhir abad ke-19 itu, Jim mendapatkan pencerahan. Ia sadar bahwa hidup ini suci.

Terapi ini tak hanya menyembuhkan fisik, tetapi juga mental dan jiwa kita, lewat bangkitnya kesadaran yang lebih tinggi mengenai hidup.

Terapi "Past Life": Coba Hipnosis Sendiri
Sumber : http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0512/01/122458.htm

Brian L. Weiss, MD, psikiater lulusan Yale University, Amerika Serikat, menyatakan bahwa hipnosis adalah satu teknik utama yang sering digunakan para psikiater untuk mengakses memori kehidupan lampau (past life).

Tujuan hipnosis seperti juga meditasi, terutama mencapai status alpha (subconscious). Dalam kondisi ini Anda tidak tidur, sebaliknya sadar sepenuhnya atas apa yang terjadi. Keadaan ini sama seperti saat pikiran Anda menjadi rileks dan konsentrasi begitu intens, sehingga kegaduhan apa pun yang berlangsung di sekitar tak akan mengganggu.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

126

Setiap hipnosis sebenarnya merupakan self hypnosis. Jadi Andalah yang mengontrol proses itu. Subconscious tak dibatasi oleh waktu, tempat, dan batasan wilayah logis. Pikiran subconscious bisa mengingat segala hal, menyerap dan menyensor apa pun yang pernah dialami.

Karenanya beberapa orang yang dihipnosis bisa melihat kehidupan lampaunya sama seperti menonton film. Yang lain bahkan merasakan film itu begitu hidup. Tidak sekadar melihat, melainkan juga mendengar yang diucapkan, mencium aromanya, dan merasakan apa yang dirasa orang-orang yang diamatinya.

Tentu saja status kedalaman hipnosis menentukan semua itu. Sayang, menurut Richard Webster, tak semua orang berhasil masuk ke kehidupan lampaunya lewat hipnosis.

Ada tiga kemungkinan tentang itu: Pertama, takut. Bila seseorang takut terhadap segala hal yang mungkin dialami atau masih memegang kuat prinsip religiusnya yang menentang konsep reinkarnasi, sehingga tidak dapat rileks untuk membiarkan ingatan kehidupan lampaunya mengalir.

Kedua, tidak ada empati antara subjek dan penghipnosis sehingga subjek tidak merasa rileks.

Ketiga, orang yang belum memiliki kehidupan lampau alias jiwa yang baru.

Keempat, karena peristiwa lampau itu sangat traumatis, sehingga pikiran bawah sadarnya menutup akses ke sana.

“Jadi, intinya rileks dan terbuka," kata Webster. Meski tak percaya pada reinkarnasi, bila orang bisa rileks dan terbuka, proses hipnosis dan penjelajahan ke masa lampau akan terjadi.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

127 Coba Hipnosis sendiri

Berikut ini contoh latihan untuk memudahkan regresi yang bisa Anda lakukan sendiri (dengan bahan yang sudah direkam secara perlahan dalam pita rekam) atau ada pasangan yang membacakan teks yang sudah disiapkan. Latihan ini membantu Anda agar mudah dihipnosis untuk terapi past life.

Sebelum mulai, berbaringlah di tempat yang nyaman atau duduk di kursi malas. Carilah tempat yang jauh dari keramaian. Lepaskan sepatu, kaca mata, lensa kontak, dan jangan menyilangkan kaki.

Musik instrumental lembut bisa diputar untuk mengiringi. Apa pun gambaran, perasaan, sensasi, atau pikiran yang datang dalam kesadaran Anda adalah sesuatu yang baik. Jangan mencoba menyensor, menilai, atau menganalisis.

Sambil mendengarkan, rasakan seluruh perasaan atau apa pun yang datang. Jangan mencoba konsentrasi pada ingatan, fantasi, imajinasi, metafor, atau simbol. Jangan terburu-buru dengan proses yang berlangsung, nikmati saja semua.

Sambil menutup mata secara lembut, tarik napas dalam-dalam. Bayangkan ketegangan dan stres keluar dari tubuh saat mengeluarkan napas.......Bayangkan Anda menghirup energi cantik yang ada di sekeliling.....

Tarik napas semakin dalam, makin dalam sehingga rileks benar ......

(Istirahatlah selama 15 detik untuk merilekskan tubuh. Kata-kata ini jangan direkam atau diungkapkan. Untuk diri Anda saja.)

Sekarang rilekskan seluruh otot, mulai dari otot wajah, dagu...... Biarkan ketegangan dan kepenatan di otot lenyap......

Rilekskan otot leher dan bahu ........ Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

128 Rilekskan otot tangan......otot punggung, baik punggung atas maupun

bawah......biarkan seluruh ketegangan lepas....Rilekskan otot perut sehingga Anda bisa bernapas sempurna dan dalam ..... Rilekskan otot kaki......sehingga seluruh tubuh menjadi damai dan tenang....

Biarkan seluruh kegaduhan atau gangguan di sekeliling justru membuat tingkat kedalaman rileks semakin bertambah.......

Bayangkan atau visualisasi atau rasakan cahaya indah di atas kepala Anda..... Anda dapat memilih warnanya dari warna-warna yang ada...... Cahaya ini akan memperdalam tingkat Anda dan menyembuhkan tubuh Anda......Biarkan cahaya mengalir masuk tubuh lewat puncak kepala, menerangi otak dan susunan saraf, menyembuhkan jaringan-jaringan ini dan memperdalam tingkat Anda ...... Biarkan cahaya turun, seperti gelombang cahaya dari bagian atas tubuh sampai bawah tubuh menyentuh setiap sel, setiap jaringan dan setiap organ di tubuh dengan damai, cinta dan membawa kesembuhan .........di mana pun cahaya mampir di tubuh, biarkan cahaya itu menguatkan bagian itu ...............

(15 detik istirahat)

Biarkan cahaya mengalir melewati kaki dan mengisinya dengan terang indahnya ............ sekarang bayangkan atau rasakan cahaya mengelilingi tubuh Anda seolah Anda berada dalam kepompong yang melindungi Anda, menyembuhkan kulit-kulit dan memperdalam tingkat Anda ...........Hitung mundur mulai dari sepuluh sampai satu, biarkan setiap nomor membuat Anda semakin tenang dan benar-benar rileks.

Sepuluh ......... sembilan ....... delapan ....... dalam dan semakin dalam tingkat ketenangan Anda ...... tujuh ....enam.... lima dalam dan semakin dalam Anda ......empat ........tiga semakin tenang......... dua...... satu......

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

129 Dalam keadaan rileks dan tenang, bayangkan Anda sedang berjalan di sebuah tangga yang indah. . . .turun. . .turun.... semakin dalam......dalam...... setiap langkah memperdalam tingkat ketenangan Anda ....... Saat mencapai dasar tangga, terbentang di hadapan kebun yang sangat indah kebun yang penuh damai dan cantik, aman. . .dan bersih.... berjalanlah masuk kebun dan temukan tempat yang tenang .........tubuh Anda, masih terselubungi cahaya melanjutkan proses penyembuhan.....

(Istirahat 15 detik)

Sekarang bayangkan Anda melayang dan kemudian berada di dalam air yang jernih bersama beberapa lumba-lumba..... Anda bermain-main dengan mereka, berenang dan menikmati hangatnya air.. .Sesaat kemudian Anda meninggalkan tempat itu ..... tetapi bisa kembali lagi kapanpun Anda ingin ..... Ketika lepas dari air Anda langsung kering .... karena ini adalah air istimewa........Gunakan imajinasi Anda selanjutnya untuk melihat berbagai hal yang terjadi ...... Setelah Anda puas dengan perjalanan .......... hitunglah maju dari satu sampai sepuluh. Satu .... dua ..... tiga .... bangunkan diri pada kesadaran ...... empat .....lima .... enam ..... bangun dan rasakan badan yang segar dan nyaman ...... tujuh ..... delapan ..... semakin terbangun ...... sembilan ..... sepuluh ..... bukalah mata ...... tenangkan diri sejenak ..... rasakan nyamannya tubub dan pikiran ..... duduklah dan regangkan tubuh Anda.

Rasakan Peristiwa itu Tahap demi Tahap

Regresi ke kehidupan lampau memiliki tingkatan yang tergantung dari kedalaman status gelombang otak yang dicapai seseorang saat terhipnosis, entah oleh diri sendiri maupun orang lain.

Tingkat pertama, seperti saat kita baru menyetel televisi. Gambar yang terlihat tampak agak kabur. Kadang tampak sekilas seperti suatu periode drama. Meski fokusnya tidak terlalu jelas, Anda bisa mengenal adegan yang satu sama lain terhubung. Tingkat ini wajar terjadi pada sesi yang baru pertama kali kita jalani.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

130 Tingkat kedua, Anda mulai melihat adegan itu sepenti layaknya menonton televisi. Seluruh cerita bisa diamati. Hanya saja, keterlibatan secara emosional belum muncul. Karakter dan cerita yang muncul bisa dikenali, tetapi Anda belum yakin yang manakah Anda.

Tingkat ketiga, Anda mulai mencapai tahap terlibat dengan apa yang terjadi. Bau, perasaan, dan suasana yang ada bisa Anda rasakan, Namun, jalan cerita mungkin belum jelas. Masih ada rasa sedikit terpisah dengan situasi.

Tingkat keempat, Anda benar-benar merasakan seluruh emosi yang muncul. Anda benar-benar terlibat dengan cerita yang berlangsung sekaligus sadar akan kehidupan Anda sekarang, meski agak bingung dengan waktu keberadaan Anda. Namun, Anda bisa bergerak ke waktu lain sesuai keinginan. Anda juga bisa mengidentifikasi karakter-karakter orang yang terlibat di dalamnya dan menghubungkannya dengan keadaan Anda sekarang.

Tingkat kelima, Anda mulai total terlibat. Benar-benar bisa merasakan seluruh kejadian saat itu. Identifikasi orang dan karakter sangat jelas. Segalanya sungguh hidup, baik dari segi emosi, rasa sakit, kegembiraan, dan kesedihan. Segalanya terasa seperti berlangsung saat ini.

Membantu Menyadari Potensi

Bagi Brian Weiss, psikiater yang pernah menerapi 2.000-an lebih orang ini, terapi past life merupakan bukti bahwa reinkarnasi benar-benar nyata. "Kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia. Jiwa kita ini kekal,” ujarnya.

Namun, tanpa perlu mempertentangkan soal percaya atau tidak tentang reinkarnasi, penjelajahan ke masa lalu ini cukup baik untuk dicoba dan aman.

Regresi atau mundur ke pengalaman lampau, menurut Richard Webster, pakar terapi hipnosis dari Selandia Baru, menyediakan petunjuk berharga dan alasan mengapa seseorang melakukan tindakan dan sikap tertentu di kehidupan sekarang. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

131 Terapi ini memungkinkan kita langsung menghadapi akar masalah dan bukan sekadar gejala. Webster menegaskan, ingatan kehidupan lalu tercetak dalam DNA setiap orang yang terdiri dari 10 triliun sel pembentuk satu tubuh. Saat menerapkan terapi ini, kita dapat mengusir "penyakit” yang ngendon di banyak kehidupan sebelumnya.

Terapi yang bisa dilakukan sendiri (harus latihan dulu atau untuk orang tertentu tidak perlu) atau dengan bantuan ahli (psikiater atau terapis hipnosis) ini juga membantu orang melepaskan perasaan bersalah yang terbentuk di inkarnasi-inkarnasi sebelumnya.

Yang penting juga, regresi ke masa lampau membantu kita mengenali talenta-talenta yang Anda pikir tidak dipunyai. “Keahlian dan bakat yang Anda pakai di kehidupan lalu tidak lenyap,” tulis Webster dalam bukunya, Practical Guide to Past Life Memories. Semua masih menjadi bagian diri Anda dan dapat dikembangkan di kehidupan kini, asal Anda menyadarinya.

Past Life Regression (PLR) : Melongok Masa Silam Demi Kesembuhan
Sumber : http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0509/16/133555.htm

Orang hidup selalu punya masalah, so pasti. Namun, kalau berbagai upaya memecahkannya sudah dilakoni, tapi hasilnya selalu mentok, siapa tahu ada sesuatu di masa lalu yang mengakibatkan kesengsaraan di masa kini.

Salah satu jalan keluarnya, tengoklah “ke masa silam” melalui terapi past life regression.

Anto tak habis pikir, mengapa belakangan ini ia punya dorongan sangat kuat untuk menyelingkuhi sahabat istrinya. Padahal, hubungan dengan Nita, sang istri, baik-baik saja. Tidak ada masalah serius. Hal itu jelas menimbulkan konflik dalam dirinya. Ia sangat berharap ada jawaban atas masalah yang cukup mengganggu itu.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

132 Ati dan Bimo - seorang ibu dan anak - entah mengapa selalu saja bertengkar. Sulit bagi Bimo menjadi anak penurut di mata ibunya.

Aldo mengaku tak pernah mampu melakukan hubungan suami-istri sepanjang perkawinannya. Lalu Beni punya penyakit aneh, karena di malam hari ia sering terbangun hanya karena merasa tenggorokannya kemasukan air.

Ima, seorang guru sekolah internasional di Jakarta, pun mengeluh tentang muridnya yang super-bandel, selalu saja membangkang. “Anak ajaib” itu diyakini punya hubungan emosional dengan kehidupan Ima di masa lalu.

Masih ada ribuan kisah lain yang menyimpan masalah yang tak kunjung terpecahkan. Sering jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu justru ditemukan setelah menengok kembali kehidupan di masa lalu. Itulah inti pendekatan terapi past life regression (PLR).

Rekaman tertinggal

PLR sejatinya teknik bagi seorang psikolog atau praktisi past life untuk menuntun seseorang pada kehidupannya surut ke belakang, jauh sebelum ia dilahirkan. Tujuannya untuk membantu seseorang mengatasi masalah, trauma, penyakit psikosomatis, dan sebagainya.

Anto misalnya, sempat melihat kehidupan masa lalunya sebagai pendeta Buddha yang tidak menikah. Ketika hendak meninggal, dia dirawat oleh keponakannya, yang dalam kehidupan kini “menjelma” jadi anak perempuannya. Anto juga melihat dirinya berada dalam kehidupan pernikahan, saat ia melihat istrinya di zaman baheula, ternyata sahabat istrinya kini. Tak heran kalau Anto lalu tertarik untuk berselingkuh.

Sedangkan Ati dan Bimo, di kehidupan lalu keduanya ternyata sama-sama pria dewasa yang pernah terlibat pertengkaran hebat. Ati bahkan sampai membunuh Bimo. Tak heran bila dalam kehidupan mereka saat ini, keduanya bagai minyak dan air, tak pernah bisa menyatu. Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

133 Lalu Beni, dalam kehidupan masa lalunya adalah anggota kelompok pemberontak terhadap pemuka agama yang dogmatis di abad pertengahan. Sebagai hukuman, ia ditenggelamkan di laut. Setelah menyadari masa lalunya, secara perlahan gangguan Aldo lenyap. Ia tak pernah terbangun lagi di malam hari. Yang menarik, Aldo ternyata seorang biarawan Katolik di Italia pada abad ke-17. Lewat terapi, ia menyadari bahwa kini ia bukan lagi biarawan. Ia orang biasa yang boleh melakukan hubungan seksual sebagaimana orang biasa.

Begitu pula Ima, dalam kehidupan masa silamnya ia pernah menyeleweng dan meninggalkan suami serta anaknya. Anak itulah yang kini jadi muridnya. “Setelah tahu, kini saya selalu menyiapkan diri agar lebih sabar menghadapi murid saya yang satu ini,” aku Ima.

Evolusi jiwa

Dua praktisi yang bermukim di Jakarta, Pamugari Widyastuti, S.Psi. dan Sumarsono Wuryadi, mengakui manjurnya terapi kembali ke masa lalu ini.Namun, jangan salah tafsir. Terapi ini bukan untuk main-main, misalnya iseng hanya untuk melihat siapa diri kita di masa lalu, tanpa ada manfaat yang bisa dipetik.

PLR bertujuan menolong seseorang ketika masalahnya menemui jalan buntu. Hal yang sama dilakukan untuk penyembuhan penyakit. Seperti Ana yang sudah bolakbalik ke dokter untuk mengobati sakit perutnya yang tak kunjung sembuh. Ketika terapi lain dan pengobatan medis tak jua menyembuhkan, dia mencoba terapi PLR.

“PLR merupakan terapi terakhir yang harus saya ambil bila klien saya tak kunjung sembuh,” ujar Reza Gunawan, praktisi self healing dari Klinik True Nature Healing. Di luar negeri, PLR cukup akrab di kalangan dunia kedokteran. Begitu tenaga medis angkat tangan terhadap kesembuhan pasiennya, mereka segera merekomendasikannya menjalani terapi PLR.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

134 Namun, di Indonesia PLR baru hadir dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa tempat yang aktif memperkenalkannya antara lain Yayasan Sanjiwani dan Yayasan Anggrek. “lni awal yang baik, karena ternyata PLR bisa diterima sebagai terapi,” aku Sumarsono yang berpraktik di Klinik Seroja dan Klinik Sanjiwani, Jakarta.

Menurut Sumarsono, terapi PLR dapat digunakan untuk menghilangkan berbagai trauma kejiwaan dan penyakit psikosomatis. Di samping itu, juga bisa membantu seseorang menjadi lebih percaya diri.

Untuk dapat memahami terapi PLR, mau tidak mau kita harus juga memahami perihal reinkarnasi lebih dulu. Termasuk di dalamnya hukum sebab-akibat (karma). Diyakini bahwa jiwa (roh) kita itu kekal adanya. Ketika orang meninggal dunia, sebetulnya hanya jasadnya yang mati. Jiwanya tetap hidup dengan “pakaian” dan peran yang berbeda.

Namun, memori akan kehidupan masa terdahulu masih melekat dalam jiwa. Selain bisa berupa hobi, minat, keterampilan, dan intelektualitas, memori itu juga bisa berupa pengalaman yang menyakitkan, seperti cara meninggal secara tak terduga dan menyakitkan. Hal inilah yang menimbulkan keluhan atau penyakit yang tak terpecahkan oleh tangan dokter.

Dari sisi ini, terapi PLR punya dimensi spiritualitas yang tinggi. “Selalu ada benang merah yang menghubungkan siapa kita di masa lalu dan saat ini. Ada rangkaian proses akumulatif dari pengalaman-pengalaman terdahulu menuju pada

kesempurnaan. Sadar atau tidak sadar, ada evolusi spiritual pada diri manusia.

“Pada tahap-tahap tertentu, kita seperti dibenturkan sebelum menyadari maknanya. Kita menuai apa yang kita tanam. PLR digunakan untuk melihat (masa) yang lalu dan mengoreksi diri apakah yang kita hadapi merupakan karma dulu. Kehidupan yang sekarang menyempurnakan kehidupan yang lalu,” jelas Sumarsono.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

135 Senada dengan Sumarsono, Pamugari Widyastuti menegaskan, PLR membantu menjadikan kehidupan seseorang lebih seimbang, lebih sempurna, dan lebih bersih Kalau sudah tahu arti rangkaian hidup manusia, kita akan menjadi lebih humble dan berserah diri. Manusia memiliki higher self yang menuntut kita di dalam keterpurukan untuk mengasah jiwa,” tutur Ketua Jurusan Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta, ini.

Tanya higher self

Pamugari dan Sumarsono menggunakan teknik relaksasi, agar kliennya mudah memasuki alpha state, di mana otak dalam kondisi istrirahat penuh. Saat itu, gelombang otak sangat kondusif untuk menyambung pada rekaman memoni masa lampau.

“Kita minta higher self mengajak pada masa lalu yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi seseorang. Orang yang pernah belajar meditasi, reiki, dan sebagainya lebih cepat masuk dan melihatnya. Selain itu, makin muda usia prosesnya makin mudah, apalagi yang percaya pada saya. Saya bisa meregresi secara massal mahasiswa saya. Because they trust me,” aku Pamugari.

Pamugari tidak menggunakan hipnosis, karena ia ingin kliennya ingat apa yang dilihatnya di masa lalu. Ia juga menuntunnya untuk mengikuti langkah-langkah yang harus dilakukan lewat kaset. Menurut dia, dalam terapi PLR klien harus latihan sesering mungkin agar dapat menemukan jalan keluar yang tepat. Karena itu Pramugari mengharapkan, lewat kaset kliennya bisa melakukannya di rumah.

Yang dilakukan Sumarsono pun tidak jauh berbeda dengan Pamugari. Setelah relaksasi, Sumarsono mengajak kliennya untuk membuang pikiran dan merasakan proses sampai mengendap masuk ke alpha state.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

136 “Dalam kondisi itu, roh kita yang dominan, karena raga dan pikiran sudah ‘dibuang’. Pada saat itulah higher self kita muncul. Tinggal tanya saja, siapa saya. Nanti, ‘kan, terjadi dialog apa yang harus kita lakukan untuk keluar dari masalah yang kita hadapi. Roh manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengetahuinya. Kita bisa minta dibawa mundur tergantung permintaan. Bisa setiap 100 tahun, atau pada kehidupan di mana rekamannya masih terbawa hingga kini,” papar guru reiki ini.

Jika seseorang gagal, biasanya karena ia tidak berhasil masuk ke alpha state atau tahap hening. “Sebaliknya, jika berhasil memasuki taraf hening, otomatis “film”-nya cepat sekali muncul. Jangan kaget kalau ada gambar-gambar kehidupan kita yang lampau. Setiap orang tidak sama. Jangan berkomentar dulu, terima saja apa adanya. Biarkan itu mengalir.”

Bagi Sumarsono tidak semua kliennya diberi tahu ketika sedang diterapi PLR. Sebab, banyak orang belum bisa menerima dan mempercayai terapi ini, sehingga ia melakukan PLR sendiri tanpa setahu kliennya. Ia punya contoh kasus salah satu kliennya, seorang laki-laki yang kulitnya melepuh.

“Orang ini sudah berobat hingga ke Amerika Serikat. Saya pun berusaha menyembuhkannya dengan reiki dan meditasi. Karena tak kunjung sembuh, saya lakukan PLR. Saya lalu “pergi” sendiri ke alam acashic dan melihat apa yang terjadi sebelumnya pada kliennya, tanpa mengajak si klien. Ternyata di kehidupan yang lalu ia jadi jagal ayam dan kerap merebus ayam dengan air mendidih tanpa berdoa terlebih dahulu. Menghadapi kasus semacam ini, saya berdoa agar karmanya dihilangkan,” ujarnya.

Rekaman memori memang tidak akan hilang, kalau kita tidak menghapusnya. Terapi PLR merupakan salah satu cara untuk menghapus “rekaman” yang tidak dikehendaki pada jiwa manusia.

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

137

PUISI-PUISI REINKARNASI
Seperti tumbuhan, aku mencecap air yang mengalir dalam mangkuk-mangkuk bumi Meskipun tumbuhan dan rerumputan tumbuh sekali, namun aku tumbuh berkali-kali Seperti janin yang belum terlahir, aku mencecap pula sari makanan lewat darah ibuku Karena meskipun sepertinya manusia hanya lahir sekali, Aku telah lahir berkali-kali -Syamsuddin Tabriz-

Seperti rerumputan, aku tumbuh berkali-kali ditepian sungai yang deras mengalir Selama ribuan tahun aku hidup, berkarya Dan berusaha dalam beraneka ragam tubuh Waktu melaju tiada henti-hentinya, seperti setetes air aku menyatu dengan lautan Tapi saksikanlah bagaimana aku menyatu dari situ Sebagaimana embun aku melayang-layang diatas samudera keabadian Dan muncul sebagai gelombang yang menderu dilautan -Mansyur Al Hallaj-

Dalam ruang iman dan kebijaksanaan, Kematian tubuh berarti kehidupan jiwa Korbankanlah nafsu tubuh, Hingga kau bisa tinggal dalam kesadaran alam ruh -Hakim Sanai-

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

138 Dunia demi dunia terus berputar, Dari pembentukan sampai penghancuran Laksana gelembung-gelembung di sungai. Berkilauan, pecah, lenyap, Namun mereka tetap tak musnah Siapa yang melewati gerbang kelahiran, Kepadanyalah jurang kematian segera membayang -Shelley-

Kuyakin, kala seseorang pergi, Jiwanya kembali lagi ke sini, Bersekutu dalam penyamaran daging baru, Ibu lain memberinya kelahiran, Dengan badan lebih tegap dan otak lebih terang. Batin yang lama kembali ke jalannya -John Masfield-

Kutahu kematian membuka puluhan ribu pintu Bagi manusia untuk mengambil jalan keluarnya dan ketemu. Mereka pergi ke hal-hal geometris yang asing, Engkau dapat merasakannya dalam kedua jalan -Webster-

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

139 Yang membanting tulang bagai budak, Bisa datang lagi bagai pangeran, Untuk memenangkan kelembutan dan kebajikan, Yang memerintah bagai pangeran, Bisa mengembara di dalam kain rombeng, Karena yang dilakukan dan yang tak dilakukan -Sir Edwin Arnold-

Aku pernah disini, Kapan dan bagaimana tak dapat kukatakan, Kukenali rerumputan di luar pintu, Desahan suara, cahaya diseberang pantai, Kau pernah menjadi milikku, Berapa saat silam, mungkin aku tak tahu -Dante Gabriel Rosseti-

Aku tetaplah jiwa meski memiliki seratus ribu tubuh Tetapi jiwa dan ribuan tubuh itu semua adalah aku. Jika kusaksikan ruh, kulihat sembilan ratus tujuh puluh tubuh Tapi hanya kusaksikan keadaanku, aku seperti tumbuhan yang terus tumbuh -Jalaluddin Rumi-

Portal Metafisika Indonesia Visit : WWW.INDOSPIRITUAL.COM

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful