You are on page 1of 29

MAKALAH

MENENTUKAN TITIK NOL


REVOLUSI BULAN TERHADAP
BUMI
D
I
S
U
S
U
N

OLEH

H. BAKRI SYAM

1 | Menentukan Titik Nol Rotasi Bulan

KATA PENGANTAR


Dengan izin Allah SWT saya menulis makalah ini, disini saya akan mencoba
menjelaskan dan menggambarkan dua sisi pandang ilmu untuk menentukan awal bulan,
menurut ilmu teknologi dengan menurut ilmu agama Islam (Hadis Rasullulah saw), semoga
Allah SWT meredoinya amin amin yarabbal allamin .
Mudah-mudahan makalah ini ada manfaatnya bagi kita, saya menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan saya juga mengharapkan adanya
saran dan kritikan dari kita semua demi kesempurnaan isi makalah ini, dan akhir kata saya
ucapkan mohon maaf atas ketidak sempurnaan makalah ini, mudah-mudahan Allah SWT
memberikan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga dalam penentuan Awal Ramadhan
yang akan datang tidak terjadi lagi perbedaan pendapat, yang mana semuanya itu atas Iradat
Allah SWT, Amin ya Rabbal Alamin.
Wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Bangkinang, 18 Juli 2013
Penulis,

H. BAKRI SYAM

2 | Menentukan Titik Nol Rotasi Bulan

BAB I.
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Berdasarkan ketidak puasan saya dalam menonton sidang isbat di Televisi dalam
menentukan awal bulan Ramadhan, dan saya tidak punya akses untuk menyampaikan
pendapat saya kesana. Didalam sidang tersebut seolah olah melakukan pekerjaan yang siasia dan ada pula yang menurut pandangan saya laporan kebohongan dalam mengamati hilal,
dia melaporkan bahwa hilal sudah kelihatan dibawah 12 derjat, bahkan ada yang berpendapat
tidak perlu diadakan sidang isbat, tentu semuanya itu punya alasan yang berbeda-beda, dan
sisi pandang yang berbeda pula. Semua perbedaan itu tentu dengan landasan pijak ilmu yang
berbeda pula .
Saya memahami dari Salah seorang ulama Islam yang muncul sebagai ahli ilmu falak
terkemuka adalah Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (780-850)M. Dialah pengumpul
dan penyusun daftar astronomi (zij) yang tertua dalam bentuk angka-angka (sistem
perangkaan Arab diperoleh dari India) yang di kemudian hari termasyhur dengan nama daftar
algoritmus atau daftar logaritma. Daftar logaritma Al-Khawarizmi ini ternyata sangat
menentukan dalam perkiraan astronomis, sehingga ia berkembang sedemikian rupa di
kalangan (sarjana astronom, mengalahkan teori-teori astronomi serta hisab Yunani dan India
yang telah ada, dan bahkan berkembang sampai ke Tiongkok. Dari teori dialah bahwa angka
0(nol) adalah angka awal didalam menghitung.
Bermula dari pendapat MUHAMMAD BIN MUSA AL-KHAWARIZMI di adopsi oleh
NICOLAUS COPERNICUS orang polandia ( 1473 1543 )M yang berpendapat bahwa
bumi bukan pusat yang tidak bergerak dari alam semesta tetapi sebenarnya , bergerak
mengitari matahari inimematahkanpendapatsebelumnyabahwasebagaifaktamatahari
terbit di timur dan bergerak melintasi angkasa untuk terbenam di barat , sedangkan bumi
tetaptidakbergerak (pendapat ARISTOTELES ).
Dan pendapat NICOLAUS COPERNICUS di perkuat / disempurnakan oleh GALILEO
GALILEI orang itali (1564 1642)M bahwa matahari sebagai pusat tata surya.
Dengan kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan sehingga merubah
sisi pandang untuk menentukan awal bulan, maka bagi masyarakat awam yang kurang
memahami sisi pandang tersebut, sehingga mereka saling salah menyalahkan satu sama
lainnya .
Dari pelajaran ilmu antariksa tersebut saya menulis makalah ini. Dalam perbedaan
pandangan untuk menentukan awal bulan Ramadhan, maka dari semua perbedaan itu saya
mencoba menganalisa dan menggambarkan posisi-posisi bulan didalam makalah ini yang
saya beri judul MENENTUKAN TITIK NOL REVOLUSI BULAN TERHADAP
BUMI
Untuk menselaraskan istilah dalam ilmu antariksa dimana :
Revolusi bulan adalah pergerakan bulan mengelilingi bumi.
3 | Menentukan Titik Nol Rotasi Bulan

Rotasi bulan adalah perputaran bulan terhadap sumbunya.


Terhadap bumi, bulan tidak berotasi pada sumbunya, oleh karena itu permukaan bulan yang
menghadap ke bumi tetap.
Terhadap matahari bulan berotasi pada sumbunya, oleh karena itu satu kali revolusi bulan
mengelilingi bumi sama dengan satu kali bulan berotasi pada sumbunya.
Sebelum itu saya mengutip sebuah Hadist Rasullah SAW yang menanyakan kepada Muaz bin
Zabal

)( : , :
: )( , : :
.

)(

.
(

)
Maksudnya:
Bagaimanakahnantiengkauakanmemutuskanhukumapabiladibawakepadaengkau
sesuatu permasalahan? Muaz menjawab:Sayaakanmemutuskanhukum berdasarkan Kitab
AllahS.W.T.Nabibertanya lagi,SekiranyakamutidakmendapatididalamKitabAllah?
JawabMuaz.SayaakanmemutuskanberdasarkanSunnah.TanyaNabilagi,Sekiranya
engkautidakmenemuididalamSunnah?Muazmenjawab,Sayaakanberijtihaddansaya
tidak akan mengabaikan perkara tersebut. Nabi pun mengusap dadasambilbersabda,Segala
puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah S.A.W. ke arah sesuatu
yang diredhainya.
(Riwayat Ahmad dan Abu Daud)
Jadi saya artikan didalam memutuskan persoalan dalam beribadah harus mengutamakan AlQurandanSunnahRasulullah SAW terlebih dahulu, seandainya tidak ada dalam Al-Quran
dan Sunnah Rasulullah SAW, barulah boleh seseorang berpendapat.
Dengan landasan pijak ilmu yang berbeda tentu melihat dari sisi pandang yang berbeda pula ,
padahal acuannya sama-sama Al-Quran dan Hadis Rasullulah s a w.
Mudah mudahan dengan paparan yang singkat ini dapat menyatukan landasan pijak ilmu
yang sama supaya melihat dari sisi pandang yang sama pula, sehingga menghasilkan
pandangan yang sama dalam hal menentukan awal bulan (Hijriah) / bulan Ramadhan .
RUMUSAN MASALAH
1 Dengan kemajuan ilmu teknologi bisa menentukan kapan bulan berada segaris dengan
matahari(ijtimak/kunjungsi) dan menetapkan garis batas pergantian bulan hijriyah
adalah pada saat bulan berada pada ijtimak/kunjungsi. Sehingga menggeser sisi
pandang umat islam dalam menentukan kapan mulai dan berakirnya puasa Ramadan .

4 | Menentukan Titik Nol Rotasi Bulan

2 Terlalu cepatnya pemimpin umat berpendapat sebelum paham betul maksud dari AlQuran dan Hadist Rasullulah SAW .
3 Sudah jelas keterangannya di dalam suatu Hadist tertentu untuk menetukan awal dan
akhirnya puasa Ramadhan, pemimpin umat Islam mencari kias dari Hadist lain,
sehingga sesama umat islam saling salah- menyalahkan satu sama lainnya .

TUJUAN
1. Agar penjelasan makalah ini dapat dipahami dan dapat disampaikan dalam
pelaksanaan sidang isbat setiap tahunnya dalam menentukan mulai dan berakhirnya
puasa Ramadhan.
2. Mudah-mudahan kita semua dapat menyatukan sisi pandang sehingga memperkecil
terjadinya pertikaian dalam menentukan mulai dan berakhirnya puasa Ramadhan.

RUANG LINGKUP KAJIAN


Dalam makalah ini saya mencoba menjelaskan dua sisi pandang untuk menentukan awal dan
berakhirnya puasa Ramadhan.Dalam penjelasan dua sisi pandang tersebut tentu di jelaskan
pula hal-hal yang terkait terbentuknya hilal
Seperti:
Isi Jagat raya
Matahari
: - Sumber cahaya pada jagat raya
Bumi
: - Kejadian pada bumi dalam hal terjadinya malam dan siang
- Proses terbenam dan terbitnya matahari dan bulan.

Bulan

: - Posisi-posisi bulan pada matahari dan bumi


- Perhitungan bulan segaris dengan bumi dan matahari (konjungsi)

Hilal

: - proses terbentuknya hilal

- Kapan terbentuknya hilal


- Waktu pengamatan hilal
- Teknik pengamatan hilal
Rujukan untuk awal dan akir puasa Ramadan.
METODEOLOGI PENULISAN
-

Mengenali dan memperhitungkan perjalanan matahari, bumi dan bulan.


Menggambarkan posisi-posisi bulan, matahari, dan bumi.
Memperhitungkan dan mengamati kapan terbentuknya hilal.
Mengamati dan memperhitungkan kapan saatnya bulan berada segaris atau sejajar
dengan matahari dan bumi (konjungsi).
Menjelaskan landasan dan ketentuan-ketentuan dalam menetapkan awal dan
berakirnya puasa Ramadan .

5 | Menentukan Titik Nol Rotasi Bulan

Menjelaskan dua sisi pandang menurut ilmu teknologi dengat menurut ilmu agama
Islam dalam hah menentukan awal dan akhirnya puasa Ramadhan.
Melakukan penelitian kapan bulan berada segaris matahari dan bumi(matahari, bulan,
dan bumi) dengan peralatan : busur derajat, tali, dan kayu yang lurus.
Melakukan opserpasi dengan stelarim.

SISTEMATIKA PENULISAN

Kata pengantar

Bab I :

Bab II : -Jagat raya


-Matahari
-Bumi
-Terjadinya malam dan siang
-Bulan

Bab III : -Hilal


- Proses terbentuknya hilal
-Terbentuknya hilal
-Perhitungan Pengamatan hilal
-Penelitian hilal
-Teknik penelitian hilal
-Perbedaan pandangan
-Menurut ilmu teknologi
-Menurut ilmu agama
-Waktu pengamatan hilal
- Menentukan awal dan akhir puasa ramadhan

Bab IV : -Landasan hisab dan rukyat.


-Cara membuat table kalender takwim khamsiah

Bab V

-Pendahuluan
-Ruang lingkup kajian
-Metodeologi penulisa

: -Kesimpulan
-Saran
-Daftar pustaka

6 | Menentukan Titik Nol Rotasi Bulan

BAB II
JAGAT RAYA
Antariksa / jagatraya itu adalah ruangan besar yang berisikan matahari, bumi, bulan,
bintang-bintang dan planet-planet lainnya. Semuanya itu beredar menurut garis edarnya /
orbitnya masing-masing. Dari semua isi jagat raya itu hanya matahari dan bintang-bintanglah
yang mempunyai cahaya sendiri.
MATAHARI
Matahari adalah sumber cahaya dari ruangan angkasa dan pusat orbit dari bumi dan
planet-planet lainnya (Bumi dan planet-planet lainnya itu mengorbit mengelilingi matahari).
menurut orbitnya / garis edarnya masing-masing.
BUMI
Bumi ini adalah seperti bola besar yang berputar/ berotasi terhadap sumbunya dari
arah barat ketimur. Satu putaran atau satu rotasi bumi berputar terhadap sumbunya 360
derajat/24 jam (sehari semalam) sambil berevolusi mengelilingi matahari, satu keliling bumi
mengelilingi matahari (1 tahun masehi = 365 hari tepatnya 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik ),
( 354 hari dalam tahun Hijriyah).
Terjadinya malam dan siang: Oleh karena bumi itu bulat seperti bola sehingga tidak
semua permukaan bumi terang tersinari oleh cahaya matahari sekaligus, maka permukaan
bumi yang terang terkena sinar matahari disebut siang dan sebagain permukaan bumi yang
tidak terkena sinar mathari disebut malam.
Dengan berotasinya (berputarnya) bumi terhadap sumbunya maka terjadilah malam dan siang
yang saling bergantian.
Dalam satu hari satu malam kita bagi menjadi 4 bagian:
- Dari matahari terbit sampai jam 12.00 siang disebut pagi
- Dari jam 12.01 sampai matahari terbenam disebut sore
- Dari matahari terbenam sampai jam 12.00 malam disebut senja
- Dari jam 12.00 malam sampai matahari terbit disebut subuh.
Hal itu bisa kita gambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Gambar saat terbenamnya matahari

7 | Menentukan Titik Nol Rotasi Bulan

Terbenamnya matahari: karena bumi itu bulat dan berotasi (berputar) terhadap sumbunya
sehingga posisi kita bergeser lebih rendah, maka matahari semakin terhalangi oleh
permukaan bumi.

Gambar 2.2 Gambar saat terbitnya matahari

Terbitnya matahari: Karena bumi itu bulat dan berotasi (berputar) terhadap sumbunya
sehingga posisi kita bergeser lebih naik, maka matahari semakin tidak terhalangi oleh
permukaan bumi.
BULAN
Bulan itu adalah seperti bola besar yang panjang jari-jarinya lebih kurang setengah
dari jari-jari bumi. Bulan berevolusi mengelilingi bumi sambil mengelilingi matahari (bulan
adalah satelit bumi). Jadi, ada saatnya bulan menjauh dari matahari dan ada pula saatnya
bulan mendekat kematahari dan apabila di saat bulan mendekat ke matahari tepat berada di
antara matahari dan bumi atau segaris di antara matahari dengan bumi disebut
ijtimak(konjungsi), pada saat itu permukaan bulan yang terkenak sinar matahari tidak tampak
dari bumi sebab bagian gelap bulan berada di sebelah bumi (bagian permukaan bulan yang
terang terkena sinar matahari membelakangi bumi) / disebut saat bulan mati.
Dan apabila posisi bula menjauh dari matahari tepat berada segaris dengan matahari
dan bumi (matahari, bumi dan bulan) di sebut bulan purnama, sebab permukaan bulan yang
tersinari matahari sepenuhnya menghadap ke bumi.
Satu kali Revolusi bulan mengelilingi bumi di sebut satu bulan (29,5 hari) sebab didalam
bulan Hijriah 2 bulan yang berdampingan (berturut-turut berjumlah 59 hari)
Jadi sesungguhnya matahari itu adalah pusat edaran dari bumi beserta bulan dan
pelanet-pelanet lainnya, maka bisa dianggap matahari itu diam.
Maka Bumilah yang berputar terhadap sumbunya dari arah barat ke timur . Di waktu bumi
mengelilingi matahari, dan bumi berputar terhadap sumbunya dari arah barat ke timur,
karena kita di permukaan bumi maka terlihatlah gerak semu seolah-olah matahari dan bulan
bergerak dari arah timur ke barat mengelilingi bumi.
8 | Menentukan Titik Nol Rotasi Bulan

Kita perhatikan pergerakan matahari dan bulan dari arah timur ke barat, selalu
pergerakan matahari lebih cepat dari pergerakan bulan.
Apabila posisi bulan tertinggal oleh posisi matahari bergeser ke atas ufuk (+), barulah
terlihat cahaya terang di bawah bulan seperti bulan sabit yang kita lihat selama ini, dan selalu
arah runcing sabit nya mengarah ke atas karena matahari (sumber cahaya) berada lebih
rendah dari bulan.
Dengan lebih cepatnya matahari dari bulan mengelilingi bumi, maka bulan tersusul
kembali oleh matahari. Kalau kita gambarkan, kita menghadap ke utara , barat di sebelah kiri
dan timur di sebelah kanan kita , kita posisikan jam dinding di hadapan kita , maka rotasi
bumi berputar terhadap sumbunya searah dengan jarum jam (dari arah barat ke Timur).
Pergerakan bulanpun searah dengan jarum jam (dari arah barat ke timur) mengelilingi bumi.
Satu keliling bumi berotasi terhadap sumbunya (24 jam) dan pergerakan bulanpun
bergeser kearah timur (tertinggal) sejauh 12,2 derajat / hari. Itu pun dapat kita hitung (360
derajat di bagi 29.5 hari = 12.2 derajat). Dengan tertinggalnya bulan sejauh 12 ,2 derjat
perhari (satu keliling rotasi bumi terhadap sumbunya) atau sehari semalam, maka 29.5 hari
kemudian bulan tersusul lagi oleh matahari.
Disaat bulan akan tersusul kembali oleh matahari atau bulan masih mendahului
matahari disebut juga posisi bulan berada di bawah konjungsi (-). Pada akhir bulan dapat
dilihat diwaktu subuh (sebelum matahari terbit) atau bulan masih mendahului matahari.
Itupun bulan terlihat sama bulan sabit yang runcingnya arah ke atas, karena sumber cahaya (
matahari ) berada lebih rendah dari posisi bulan.
Yang menjadi persoalan, berapa derajatkah bulan bergeser ke atas atau bulan
tertinggal dari matahari, baru cahaya terang seperti sabit di bawah bulan (hilal) terlihat dari
permukaan bumi ?
Data dari buku antariksa untuk SMU terbitan Departemen P&K tahun 1996 karangan
Moh.MakmurTanudidjaja sebagai berikut :
1. Besar bumi dengan jari-jari 6.370 KM atau keliling 40.000 KM.
2. Besar bulan dengan jari-jari 3.747 KM
3. Jarak bumi ke matahari 149.600.000 KM
4. Jarak bulan ke bumi 384.403 KM.
Sesuai dengan data diatas dapatlah kita simulasikan sebagai berikut :

Gambar 2.3 Gambar saat bulan berada pada garis konjungsi

9 | Menentukan Titik Nol Rotasi Bulan

Gambar 2.4 Gambar Hillal awal bulan 20 derajat

Gambar 2.5 Gambar saat Bulan separuh 90 derajad awal

Gambar 2.6 Gambar Bulan Purnama

Gambar 2.7 Gambar bulan separuh 90 derajad akhir

10 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Gambar 2.8 Gambar Hillal akhir bulan 20 derajat .

Dari gambar simulasi diatas bisa kita ambil dasar analisa munculnya hilal disaat
tertinggalnya bulan dari matahari 20 derjat, lihat gambar 2.4 (munculnya hilal awal bulan),
dan sebaliknya bulan mendahului matahari 20 derjat, lihat gambar 2.8 (akan habisnya hilal
akhir bulan). Oleh karena gambar simulasi diatas tidak hal yang sebenarnya maka di ambil
kesimpulan bahwa hilal tidak akan tampak/tidak wujud dibawah/kurang dari 12 derajat,
dengan mempertimbangkan dan mengabaikan sudut eliptasi.
Sudut eliptasi adalah sudut yang terjadi oleh posisi terbenamnya matahari ditarik garis
lurus ke bumi dangan posisi terbenamnya bulan di tarik garis lurus ke bumi / sudut yang
terbentuk dari posisi orbit bulan dengan posisi orbit matahari ke bumi.
Alasan di abaikan nya sudut eliptasi adalah sudut eliptasi tidak akan melebihi dari 12
derajat. Kalau sudut eliptasi lebih dari 12 derajat, tentu hilal akan terbentuk walaupun posisi
bulan sejajar dengan matahari (ijtimak/konjungsi)
Dan juga perhitungan ini mengabaikan awan (dianggap langit cerah tanpa awan)
Jadi dengan data dan gambar stimulasi tersebut di atas dapat kita gambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.9 Gambar pergerakan bulan

Dari gambar diatas bisa kita lihat bahwa dalam satu hari bulan tertinggal 12.2 derajad dari
matahari.

11 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Gambar 2.10 Gambar tertinggal bulan 2 hari

Dan dari gambar diatas bisa kita lihat bahwa dalam dua hari bulan tertinggal semakin
jauh dari matahari yakni sebesar 24.4 derajad

12 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

BAB III
HILAL
Hilal adalah sabit bulan baru yang menandai masuknya bulan baru pada sistem
kalender Qomariyah atau Hijriah. Hilal / bulan sabit adalah suatu pase bulan dimana bagian
terang permukaan bulan yang terkenak sinar matahari terlihat dari bumi sebagian kecil di
bawah bulan .

Terbentuknya hilal
Hilal terjadi apabila di saat bulan berada diantara matahari dan bumi dan posisi bulan
naik ke atas (diatas 12 derajat) baru hilal itu ada atau wujud dilihat dari bumi. Dimana
cahaya terang permukaan bulan yang memantulkan cahaya matahari yang terlihat dari bumi
yang sebagian kecil di bawah bulan seperti sabit yang runcingnya mengarah ke atas.
Dengan gambar yang berskala diatas bisa dipastikan bahwa bulan naik lebih dari 12 derajat
baru hilal itu terlihat atau ada (dilihat dari bumi) .
Apabila kurang dari 12 derajat, walaupun diteropong dengan alat super canggihpun mustahil
hilal akan terlihat, hanya akan terlihat lingkaran gelap bulan, karena hilal belum terbentuk
yang
mana bagian terang permukaan bulan yang memantulkan sinar matahari
membelakangi bumi atau bagian gelap bulan berada di sebelah bumi.
Proses terbentuknya Hilal
Hal itu bisa di peragakan dengan sebuah bola warna putih yang setengahnya di hitamkan
(warna putih : Permukaan bulan yang terkena sinar matahari, warna hitam : permukaan bulan
yang tidak terkena sinar matahari)
Lalu digantungkan lebih tinggi naik 12 derajat dari posisi pandang.
Posisikan warna hitam bola berhadapan dengan kita.
Seperti gambar di bawah ini :

Gambar 3.1 Gambar peragaan terbentuknya hilal

13 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

PERHITUNGAN PENGAMATAN HILAL


Kita perhatikan dan kita amati setiap hari kita melihat matahari dan bulan terbit di
Timur dan terbenam di Barat, padahal matahari tersebut tetap dan bumilah yang berputar
terhadap sumbunya arah dari Barat ke Timur, maka terlihat gerak semu perjalanan Matahari
dan bulan tampak dari Timur ke Barat.
Kita amati perjalanan matahari selalu lebih cepat dari perjalanan bulan, tertinggalnya bulan
dari matahari bisa kita perhitungkan sebagai berikut :

Bulan berevolusi mengelilingi bumi 1 keliling selama 29,5 hari (1 bulan)


1 keliling lingkaran terdiri 360 derajat

Jadi 360 derajat : 29,5 hari = 12,2 derajat/hari (bulan tertinggal 12,2 derajat/hari) oleh
matahari.
12,2 derajat : 24 jam = 0,508 derajat/jam
Jadi ketertinggalan bulan terhadap matahari 0,508 derajat/jamnya.
Hal ini setara kata buya ungku kuniang Zubir yang terdapat dalam kitab MUGNI, bahwa
dalam waktu satu jam perjalannan matahari, bulan akan tertinggal 2 menit.
Yaitu : 1 keliling lingkaran = 360 derajat.
24 jam = 1440 menit, jadi 1440 dibagi 360 = 4menit, artinya dalam satu derajat
perjalanan matahari = 4 menit.
jadi ketertinggalan bulan terhadap matahari 0,508 X 4 menit = 2 menit 1,92 detik.
Artinya dengan ketertinggalan bulan tersebut pasti bulan akan tersusul kembali oleh matahari
Hal itu bisa diamati saat bulan masih mendahului matahari.
Dengan perhitungan di atas bisa kita amati pada pagi hari di akhir bulan, Dalam pengamatan
terlihatlah bulan sabit yang runcingnya menghadap ke atas kita ukur berapa derajat
ketinggian bulan tersebut dari matahari.
Setelah dapat derajat ketinggian bulan dari matahari baru di hitung jam berapanya bulan
tersusul oleh matahari (berada pada konjungsi).
Contoh : Pada hari kamis kita mengamati ketinggian hilal akhir bulan pada jam 06.00
pagi adalah 27.2 derajat dari garis Horizon (garis lurus dari permukaan bumi
ke matahari) dan posisi matahari tepat pada horizon. Jadi 27.2 derajat : 0,508
= 53,54 jam ( dari jam 06.00 + 53,54 jam ) . 2 hari = 48 jam (jadi sabtu jam
06.00 + 5,54 jam )maka bulan berada pada konjungsi hari sabtu pada jam
11.30 siang.
Kalau kita melihat hilal pada hari sabtu jam 18.00 atau jam 6 sore ketinggian
bulan adalah 3,302 derajat bisa dipastikan hilal tidak ada atau belum wujud
(dari 11.30 ke jam 18.00 = 6 jam 30 menit x 0,508 = 3,302 derajat ).
Dengan kata lain di saat matahari terbenam(jam 18.00) pada hari sabtu posisi bulan tertinggal
dari matahari setinggi 3,302 derajat. Jadi bulan akan terbenam pada jam 18 lewat 13 menit
21 detik. Sebab 1 derajat perjalanan bulan samadengan 4 memit.
(24 x 60 = 1440) , 1440 / 360 = 4
Jadi 3,302 x 4 = 13,21 menit.
14 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Semua itu bisa kita gambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.2 Gambar Posisi hilal pada 27.2 derajad kamis jam 6.00 pagi.

Gambar 3.3 Gambar Posisi hilal pada 15 derajad

Pada gambar diatas terlihat bahwa bulan masih mendahului matahari setinggi 15 derajad pada
pukul 6.00 pagi dihari jumt.

Gambar 3.4 Gambar Posisi hilal 2,81 derajad

Pada gambar diatas terlihat bulan masih mendahului matahari setinggi 2,81 derajad pada hari
setelahnya yaitu sabtu pukul 6.00 pagi.

15 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Gambar 3.5 Gambar Bulan pada posisi konjungsi (segaris dgn matahari)

Pada gambar diatas terlihat pada jam 11.30 siang bulan tersusul oleh matahari
sehingga posisi bulan bumi dan matahari menjadi sejajar (ijtimak/kunjungsi) pada hari sabtu.

Gambar 3.6 Gambar bulan pada posisi 3.302 derajat

Pada gambar diatas terlihat bahwa bulan sudah tertinggal oleh matahari sejauh 3,302
derajat pada hari sabtu sore pukul 18.00 atau 6.00 sore.

Itupun pengamatan berdasarkan daerah setempat, jadi sekiranya di tempat lain tinggal
kita mencari selisih waktu antara tempat kita mengamati dengan tempat tersebut.
Kalau selisih waktu kearah barat ( lebih lambat) maka dikurangi saja jam nya.
Kalau selisih waktu kearah timur (lebih cepat) maka ditambahkan saja jam nya.
Contoh : 1. Kalau tempat itu 1 jam bedanya arah ke barat maka bulan berada pada konjungsi
jam 10.30.
2. Kalau tempat itu 1 jam bedanya arah ke timur maka bulan berada pada
konjungsi jam 12.30.

16 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

PENELITIAN
Untuk melakukan penelitian mengukur sudut yang terjadi antara bulan dan matahari ditarik
garis lurus kebumi, dengan peralatan yang sederhana yaitu : tali, tongkat lurus,busur derajat
dan kamera foto).
- Tempat penelitian di lakukan (melakukan pengukuran) yaitu di Indonesia bagian barat
tepatnya Kab. Kampar, kota : Pekanbaru, Prop. Riau.
- Hari dan tanggal serta jam saat melakukan pengukuran yaitu: hari rabu tanggal
30 oktober 2013 jam 10.45 wib.
- saat itu posisi bulan masih mendahului matahari tepatnya akhir bulan zdulhijjah atau akhir
tahun Hijriah 1434 H.
TEKNIK
- Tarik tali segaris dengan bulan dari bumi.
- Ujung bawah tali yang sudah segaris dengan bulan di satukan dengan pangkal tongkat.
- Ujung tongkat tetap menempel di ujung bawah tali, lalu bayangan tongkat di jadikan
menjadi satu titik (tongkat yang lurus segaris dengan matahari).
- Untuk mempermudah pengukuran, foto dan ukur sudut yang terbentuk antara bulan dengan
matahari ke bumi.
- Dari hasil kerja tersebut terdapat 55 derajat bulan mendahului matahari, yang berarti pada
hari rabu tanggal 30 oktober 2013 untuk daerah Kampar riau pada jam 10.45 wib posisi bulan
masih mendahului matahari sejauh 55 derajat dengan sudut eliptasi 14 derajat.

Gambar 3.7 Gambar sudut posisi bulan mendahului matahari 55 derajat

17 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Untuk mendapatkan sudut eliptasi adalah :


Tarik lurus tali segaris dengan bulan (tetapkan)
tunggu posisi matahari sejajar dengan posisi tali yang sudah ditarik lurus sejajar
dengan bulan
Lalu pangkal tongkat di satukan dengan ujung bawah tali
Ujung tongkat tetap menempel di ujung bawah tali, lalu bayangan tongkat di jadikan
menjadi satu titik (dimana tongkat segaris dengan matahari).
Untuk mempermudah pengukuran, foto dan ukur sudut yang terbentuk antara orbit
bulan dengan orbit matahari ke bumi.

Gambar 3.8 Gambar sudut eliptasi bulan 14 derajat

Untuk menentukan kapan bulan berada sejajar dengan matahari dan bumi ?
Dari data penelitian tersebut di atas lalu di hitung.
Dalam satuhari semalam bulan tersusul atau tertinggal oleh matahari sejauh 12.2 derajat,
maka 55 derajat di kurang (12,2 x 4 = 48,8 derajat). Samadengan 6,20 derajat.
Berarti empat hari kemudian pada hari minggu di Indonesia bagian barat tanggal 3 november
2013 bulan zulhijjah 1434H waktu setempat pada jam 10.45 posisi bulan masih mendahului
matahari sejauh 6.20 derajat.
Maka berapa lama lagi bulan berada pada konjungsi(matahari, bulan dan bumi).
Karena bulan tertinggal atau tersusul kembali oleh matahari sejauh 0.508 derajat/jamnya:
6.20 derajat dibagi 0.508 derajat /jam = 12.20 jam.
Berarti 12 jam, 12 menit kemudian dari jam 10.45 waktu setempat bulan berada segaris
matahari, bulan dan bumi (konjungsi).
Yaitu hari minggu jam 10.57 WIB( jam 11.00 malam bulan berada pada konjungsi).
DalamperhitunganiniwaktuIndonesiabagianbarat
Kalau sekiranya waktu mekah bulan berada pada konjungsi hari minggu jam 7 malam (jam
19.00)waktu mekah.
Karena Indonesia bagian barat lebih cepat 4 jam dari waktu mekah.
18 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

PERBEDAN PANDANGAN
Perbedaan pendapat selama ini untuk menetapkan awal bulan Ramadan di sebabkan
pandangan titik star awal bulan berevolusi mengelilingi bumi (titik nol nya) yang berbeda.
Satu bulan itu adalah 1 X bulan mengelilingi bumi yang terdiri dari face-face dengan
posisinya seperti lingkaran.
untuk memulai hitungannya (hisab) satu bulan itu bisa dimulai dari mana saja :
1-- dari posisi bulan mati ke posisi bulan mati berikutnya (kunjungsi ke kunjungsi
berikutnya)
2-- dari posisi bulan hilal muda ke posisi bulan hilal muda berikutnya.
3-- dari posisi bulan 1/2 (D) ke posisi bulan 1/2 (D) berikutnya.
4-- dari posisi bulan purnama ke posisi bulan purnama berikutnya.
dan seterusnya.

Gambar 3.9 Gambar fase-fase bulan

Semuanya itu bisa di hitung (dihisab) dengan tepat.


Sejalan dengan itu sebagai panduan ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah saw, hitungan
(hisab) satu bulan itu bermula dari posisi bulan hilal muda ke posisi bulan hilal muda
berikutnya.
Perlu di pahami sebagai alat hitungnya adalah HARI dan terjadinya pada permukaan
bumi. 1 bulan adalah bulan berevolusi mengelilingi bumi 1 keliling (29,5 hari) ini tidak
tetap,tetapi berubah-rubah berkisar antara 29,3 s/d 29,8 hari di setiap bulannya , atau 29 hari
7 jam s/d 29 hari 18 jam.
Dengan tidak tetap nya revolusi bulan mengalilingi bumi, maka posisi bulan saat perubaha
dari bulan ke bulan berikut nya tidak bisa di kunci(0 , 1 , 2 , 4 , 6 , 10 derajat) nya, sebab
dengan terpatok nya ketinggian bulan untuk menentukan perubahan dari bulan ke bulan
berikutnya akan terjadi berpindah-pindah nya garis batas perubahan hari dan tanggal.
Garis batas pergantian hari dan tanggal itu seharus nya tetap dan tidak boleh melintasi
daratan.

19 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Menurut ilmu teknologi


Menurut ilmu pengetahuan antariksa (ilmu falak) titik nol revolusi bulan mengelilingi bumi
ada pada garis konjungsi (segaris dari bumi ke matahari).
Perubaha dari bulan ke bulan berikut nya / penentuan kalender Hijriyah harus memahami dua
pokok utama sisi pandang.
1) Gerak bulan,matahari dan bumi,
2) Gerak rotasi bumi terhadap sumbunya (hitungan hari).
Dari gerak rotasi bumi terhadap sumbunya yang mengakibatkan terjadi nya siang dan malam
serta bergantinya hari dan tanggal dalam masa tenggang waktu 24 jam.
Dalam pembuatan kalender hijriyah kita harus bisa memposisikan dua sisi pandang tersebut
dengan benar.
Memang menurut ilmu Astronomi sebagai pembatas dari bulan ke bulan berikut nya adalah
saat ijtimak(kunjungsi) dalam artian apabila bulan telah bergeser dari ijtimak(kunjungsi) telah
masuk bulan baru di seluruh bumi, ini berarti kita berpijak di angkasa yang tidak mengenal
siang dan malam serta tidak mengenal perubahan hari dan tanggal / mengabaikan HARI.
Tetapi untuk (hisab) kalender hijriyah Global kita harus berpijak di bumi, tentu kita harus
mengikuti penomena alam yang terjadi di bumi yaitu terjadinya siang dan malam serta
bergantinya hari dan tanggal dalam tenggang waktu 24 jam tersebut.
DALAM ARTIAN DENGAN TELAH TERTINGGAL NYA BULAN OLEH MATAHARI
TIDAK SEMERTA-MERTA DI SAAT ITU JUGA TELAH MASUK BULAN BARU DI
SELURUH PERMUKAAN BUMI. Seharus nya di garis batas pergantian hari dan tanggal
apabila posisi bulan sudah tertinggal oleh matahari (tidak terkunci ketinggian nya) tetapi
berkisar antara 2 s/d 12 derajat telah masuk bulan baru dan berikut ke barat nya dalam waktu
24 jam. Dan posisi pengamatan tetap di IDL (internasional date line)
Karena puasa adalah salah satu ibadah wajib tentu harus mudah untuk menentukan kapan
mulai dan berakirnya berpuasa Ramadhan, sebab semua kalangan umat islam harus mengerti
dan mengetahui serta mudah diamati kapan mulai dan berakhirnya puasa Ramadhan.
Dengan di tentukan nya saat kita melakukan puasa ramadan tentu terkait dengan proses ber
ganti nya hari dan tanggal adalah terbenam nya matahari, terbenam nya matahari di muka
bumi terjadi tidak sekaligus (terjadi selama waktu 24 jam) ber gerak ke arah barat. maka
pertama kali ter benam matahari di mekah maka berganti lah hari dari hari ahad ke hari senin
dan seterus nya.
sejalan dengan itu hakiki nya garis batas perubahan hari dan tanggal adalah garis dari kutub
utara bumi melalui mekah terus ke kutub selatan bumi.
Nabi saw dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim sebagai berikut,
.] [


Artinya: Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan
tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Maksudnya adalah
kadang-kadang dua puluh sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari[HR al-Bukhari
dan Muslim].

20 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Allah yang maha mengetahui selalu memberi kemudahan kepada Umatnya dalam
menentukan kapan mulai dan berakhirnya puasa Ramadhan.
Menurut ilmu agama
Menurut hisab (kalender Hijriah) untuk menentukan awal dalam pengamalan puasa
Ramadhan, orang harus melihat bulan baru / ruhyatul hilal pada sore hari (setelah
terbenamnya matahari)
Jika pada suatu sore bulan baru ( hilal ) sudah tampak baru saat itu di nyatakan sebagai
permulaan awal dalam pengamalan ibadah bulan ramadhan.
Begitu pula akhir bulan Ramadan / 1 Syawal di tentukan dengan melihat bulan baru, akibat
nya hari puasa dalam bulan Ramadan ada 30 hari kadang-kadang paling sering 29 hari.
Maka jelas lah bahwa awalnya adalah tampak nya hilal (ini mudah diamati oleh seluruh
kalangan umat islam).
WAKTU PENGAMATAN HILAL:
Kapan dilakukan pengamatan hilal?, Tentu jelas pula acuannya: Disini terlihat pula
dua sisi pandang dalam hal menentukan titik nol rotasi bumi terhadap sumbunya (titik nol
dalam penanggalan) menurut kalender masehi dengan menurut kalender Hijriah.
Menurut kalender masehi
Dalam hal pergantian hari dan tanggal menurut kalender masehi adalah:
- titik nolnya pada saat tengah malam (jam 0.00/ jam 24.00).
Menurut ilmu agama
Bumi berotasi terhadap sumbunya,Menurut penanggalan kalender Hijriah titik nol pada
terbenamnya matahari (permulaan datangnya malam) / jam 18.00(jam 6 sore).
Ini jelas landasannya di dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 27:

Artinya:Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam
malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati
dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab
(batas)". (3: 27)
Dari ayat tersebut diatas tegaslah bahwa dahulu malam dari pada siang.
Disini jelaslah bahwa titik nol dalam penanggalan Hijriah adalah terbenamnya matahari
(datangnya malam). Maka waktu melakukan penengokan hilal pada akhir/ujung penanggalan
Hijriah yaitu pada sore hari.
Untuk menguatkan, telah lazimnya dilakukan umat Islam dalam bulan Ramadhan:
Satu hari puasa dimulai dari Shalat Tarwih pada malamnya dan pada siang berikutnya baru
puasa (satu hari puasa). Hal ini dilakukan oleh semua kalangan umat islam tanpa adanya
perbedaan pendapat.

21 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

MULAI DAN BERAKIRNYA PUASA RAMADAN


Hal ini jelas landasannya.keterangan dari abuya surau lubuak Pakandangan Pariaman
Sumatra Barat ( Buya Kuniang Zubir).
Menetapkan dalam pengamalan awal Ramadan dan aidil fitri dengan rukyat.
Berkata Rasulullah saw:

Berpuasalah kamu karena melihat bulan dan berbukalah kamu dengan melihat bulan
yakni berhari Raya Fitri, maka bila bulan ditutupi awan, maka sempurnakanlah Saban
30 hari.
(Shahih Bukhari Juz II, Halaman 229), (HR. Bukhari 1909, Muslim 1081)
(HR. Bukhari no. 1776 dari Abu Hurairah).
Dari Abu Hurairah R. A.
Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda :

Apabila kamu melihat hilal maka berpuasalah dan bila kamu melihat bulan maka
barhari raya fitrilah bila bulan ditutupi awan maka berpuasalah 30 hari.
(Shahih Muslim, Halaman 438, Juz I), (HR al-Bukhari no. 1767 dari Abu Hurairah),
(HR Muslim no.1810, dari Abu Hurairah ra.), (HR. Bukhari no. 1773, Muslim no. 1795,)
( Al-Nasai no. 2093; dari Abdullah bin Umar ra.).

Berdasarkan keterangan diatas jelas dan tegaslah landasannya titik nol (awal bulan)
dalam pengamalan ibadah mulai dari tampaknya hilal, pada sore hari. Awalnya bulan bukan
dimulai dari konjungsi,
jangan dicampur adukkan dalam menetapkan awal bulan.; antara tampaknya hilal (rukyat)
dengan perhitungan bulan berada pada kujungsi
Ada kesalahan yang sangat fatal sehingga tampaklah pekerjaan yang sia-sia.
Jelas acuan untuk menetapkan awal bulan dengan tampaknya hilal, tetapi landasan
pemikirannya untuk menetapkan nol derjatnya bulan saat bulan pada konjungsi, sehingga
waktu melihat hilal dilakukan pada saat yang tidak mungkin terlihat (hilal belum
wujud/belum ada)
Cukup di pahami kata Rasulullah SAW: Jika hilal tidak tampak atau terhalang
awan cukupkan Saban 30 hari
Dengan keterangan Rasulullah SAW itu jelaslah bahwa menengok hilal pada 29
Saban !
Yang menjadi persolan yaitu untuk menentukan 29 Saban(saatuntukmelakukanmenengok
hilal awal Ramadan). Disini terlihat jelas perbedaan landasan pijak ilmu untuk menentukan
awal bulan.

22 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Kalau awal dan akir bulan pembatasnya ( titik nol nya ) bulan berada pada konjungsi
tentu 29 saban posisi bulan belum berada pada konjungsi / masih mendahului matahari, jelas
tidak mungkin kelihatan : sedangkan kita melihatnya pada sore hari setelah matahari
terbenam, padahal posisi bulan lebih dahulu terbenamnya dari matahari.
Kalau sekiranya benar seperti itu tentu kita melihatnya pada saat sebelum matahari
terbit ( pagi hari ). itu pun posisi hilal akir bulan terhadap matahari harus melebihi 12 derajat .
Baru bisa terlihat (hilal itu wujud/ada).

23 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

BAB IV
LANDASAN HISAB DAN RUKYAT
Menurut keterangan Buya Surau Lubuak Pakandangan Pariaman Sumatra Barat (Buya
KUNIANG ZUBIR/Satariah} menetapkan melihat bulan dengan hisab Taqwin Khamsiah:
Telah berkata Rasulullah SAW: Aku lihat dimalam Israk denganku akan sejumlah
kalimat di tiang Arasy sebagai berikut : Allahul Hadi satu kali, Hudallah lima kali,
Jamalul Fili tiga kali, Zaraallahu Zaran bilabazrin tujuh kali, Dinullah empat
kali, Badiussamawati wal Ardhi dua kali, Wailun liman asha enam kali, Dinuallah
empat kali, Zara allah tujuh kali, Badiussamawati dua kali, Jamalul fili tiga kali,
Hudallah lima kali, Wailun Liman asha enam kali, allahul hadi satu akali, Badi
ussamawati wal Ardhi dua kali, Dinullah empat kali, Hudallah lima kali,
Zaraallahu Zaran bilabazrin tujuh kali, Allahul Hadi satu kali, jamalul Fili tiga
kali.
Berkata Rasulullah SAW: Ambil olehmu awal kalimat yang delapan pertama
menjadi huruf Tahun dan awal kalimat yang sebanyak dua belas kedua menjadimhuruf
Bulan, maka himpunlah huruf tahun dengan huruf bulan, artinya jumlahkanlah, maka
mulailah membilang dari hari Rabu atau Kamis, dan dihari mana sampai bilangan, maka
hari itu adalah awal bulan itu, dan Rasulullah SAW berkata: Takwim adalah jalanku,
selain puasaRamadhan.
(Kitab Insanul Uyun Juz III Karangan Syekh Nuruddin dan telah dipilih oleh para Syekh kita
dan ditetapkan mula-mula hitungan itu adalah hari Kamis).
Dari keterangan Hadist diatas, bisa kita artikan sebagai berikut :
Alif (1), Ha (5), Jin (3), Zai (7), Dal (4), Ba (2), Waw (6), Dal (4), Zai (7), Ba (2), Jin (3), Ha
(5), Waw (6), Alif (1), Ba (2), Dal (4), Ha (5), Zai (7), Alif (1), Jin (3).
Dari kesimpulan Hadist diatas adalah panduan untuk menghisab (menghitung) awal bulan
dalam tahun Hijriah.
Maka dari data tersebut bisa di buat penanggalan kalender Hijriah
CARA MEMBUAT TABEL KALENDER TAQWIM KHAMSIAH
1. Tahun Hijriah dibagi 8, sisanya baru dihitung.
2. Menghitung tahun dimulai dari (0) huruf alif , (1) huruf Ha , (2) huruf Jin, dst
3. Lihat huruf bulannya (angkanya)
4. Juamlahkan angka huruf tahun dengan angka huruf bulan
5. HasilpenjumlahandihitungdimulaidarihariKamis,Jumat,dst
6. Apabila huruf tahun habis dibagi 8,maka nol .jadi huruf tahunnya alif
7. KhususuntukbulanRamadhan,melihathilalnyapadahari29bulanSaban.

24 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Maka dapat kita tabelkan sebagai berikut : hitungan KAMIS

Gambar 4.1 Gambar table hari awal bulan tahun Hijriah

Dari tabel di atas terungkap lah bahwa jumlah hari dalam bulan hijriyah sebagai berikut:
1 Muharam ............................30 hari
7 Rajab .............................30 hari
2 Safar ...................................29 hari
8Saban...........................29hari
3 Rabiul awal ........................30 hari
9 Ramadan .......................30 hari
4 Rabiul akhir .......................29 hari
10 Sawal ...........................29 hari
5 Jumadil awal ......................30 hari
11 Zulkaedah ....................30 hari
6 Jumadil akhir .....................29 hari
12 Zulhijah ...................29/30 hari
Dari table diatas jelaslah hari apa mulai awal bulan dalam kalender Hijriah (Satriah) dan
sampai tahun berapapun bisa kita hitung. Setelah jelas demikian kita tidak perlu melakukan
pengintaian hilal diakhir bulan dan hari serta jam berapanya bulan berada pada konjungsi.
Contoh : 1
Untuk puasa Ramadan tahun 1434 H yaitu : 1434 : 8 = 179 sisa 2, maka untuk tahun
1434 H huruf tahunnya Jin (3), dan bulan Ramadhan huruf bulannya Ha (5), maka
jumlahkanlah angka huruf tahun Jin (3) dengan huruf bulan Ha (5) = 8, baru dihitung mulai
hari Kamis,

25 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

maka hasilnya akan jatuh pada hari Kamis.


Itu berarti awal bulan Ramadhan tahun 1434 H jatuh pada hari Kamis (dalam hisab).
maka kita menengok hilal awal Ramadhan 1434 H adalah hari Rabu pada sore harinya.
Untuk berhari raya Idul Fitri, kita menjalani puasa Ramadhan selama 29 hari dan
sorenya kita menengok Hilal,
jika hilal sudah kelihatan maka besoknya kita berhari raya, seandainya hilal tidak kelihatan
maka cukupkanlah pengamalan puasa Ramadhan 30 hari, baru kita berhari raya Idul Fitri.
Jadi karena hilal tampak pada hari Rabu dan Kamis mulai berpuasa, maka menengok
hilal akhir Ramadhan adalah :
Hari 1 puasa adalah Kamis dan hari ke 29 adalah hari Kamis, maka kita menengok hilal awal
Syawal 1434 H adalah hari Kamis sore harinya.
Jika hilal kelihatan kita berhari raya Idul Fitri hari Jumat,akantetapikalautidakkelihatan
maka kita cukupkan puasa 30 hari,
ini berarti kita berhari raya pada hari Sabtunya.
Dan begitulah seterusnya.
Contoh 2
Berdasarkan table kalender Hijriah diatas, awal tahun 1435 H (1 Muharam 1435 H)
jatuh pada hari rabu tanggal 6 November 2013. sedangkan berdasarkan penelitian dan
menurut ilmu teknologi awal tahun 1435 H jatuh pada hari senin tanggal 4 November 2013
Sebab bulan berada pada konjungsi pada hari minggu tanggal 3 November 2013 jam 11.00
malam / jam 23.00 waktu Indonesia bagian barat.

26 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

BAB V
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Hilal tidak akan terbentuk ( tidak wujud atau tidak ada) kalau posisinya kurang dari 12
derajat sebelum konjungsi dan kurang dari 12 derajat setelah konjungsi.
2. Menurut ilmu teknologi (antariksa) titik nol awal dan akhir bulan adalah posisi bulan
berada pada konjungsi. Sedangkan menurut Hadist rosulullah saw. Titik nol awal dan
akhir bulan adalah posisi bulan lewat konjungsi lebih dari 12 derajat ( adanya hilal atau
wujudnya hilal)
3. Menurut ilmu teknologi pembatas tanggal masehi adalah jam 12 malam (jam 00.00 atau
24.00). sedangkan menurut tahun Hijriah pembatas tanggal (titik nolnya) adalah
terbenamnya matahari (jam 6.00 sore). Melihat hilalpun di ujung penanggalan Hijriah di
29 sya`ban yaitu pada sore hari.
4. Semuanya itu sudah ada ketentuannya dari allah swt melalui rasulnya nabi Muhammad
saw. Allah yang maha mengetahui tentu tidak mempersulit hambanya dalam menunaikan
ibadah wajib (kapan mulai dan berakhirnya puasa ramadhan).
5. Puasa Ramadhan adalah Ibadah yang diwajibkan Allah kepada umat Islam, tentu harus
mudah dimengerti dan mudah diamati kapan mulai dan berakhirnya puasa Ramadhan.
6. .Memang yang diwajibkan adalah berpuasanya, bukan rukyatnya. Namun karena perintah
rukyat itu berkaitan dengan suatu hal yang bersifat wajib, maka perintah melakukan
rukyat itupun menjadi wajib.

SARAN
1. Dengan berbedanya landasan pijak ilmu tentulah membuat sisi pandang yang berbeda
pula walaupun acuannya sama-sama al-qur`an dan Hadist.agar tidak ada beda pendapat
untuk menentukan awal dan akhir bulan bagi umat islam yang sama-sama acuannya AlQur`an dan Hadist,haruslah memakai landasan pijak ilmu yang sama. Jangan mencampur
adukkan antara ilmu teknologi dengan ilmu agama.
2 Boleh kita mengikuti ilmu teknologi asal memperkuat dan tidak menggeser ketentuanketentuan dalam agama islam, sebab agama islam adalah agama yang sempurna sampai
akir zaman.
3. Bagi para pemimpin umat janganlah terburu-buru berpendapat sebelum menggali betul
dan paham betul dari magsud Al-Quran dan Hadist.
4. Agar kita tidak terlepas dari umat Nabi besar Nabi Muhammad saw,janganlah berpendapat
bahwa Al-Qur`an dan Hadist tidak sesuai dengan kemajuan ilmu teknologi hanya
pemahaman kitalah yang tidak sanggup untuk memahaminya.

27 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

DAFTAR PUSTAKA

1. Al Quran.
2. Buku Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa untuk SMU karangan Moh. Mamur
Tanudidjaja.
3. Kitab kecil Syifaul khulub karangan buya surau lubuak Pakandangan Pariaman
Sumatra Barat (buya Kuniang Zubir / Satariah)..
4. http://www.youtube.com. bulansideris,Januari21,2012.
5. http://www.youtube.com.BulanSatelitBumi,April4,2011
6. Abbas, K.H Siradjuddin. Sejarah & Keagungan Madzhab Syafii. Jakarta: Tarbiyah
Jakarta, 2006.
7. Abbas, K.H Siradjuddin. 40 Masalah Agama. Jakarta: Tarbiyah Jakarta, 2006.

28 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

29 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n