You are on page 1of 27

1.

Al-Qur'an

Al-Qur'an bagi seorang Mukmin merupakan perisai yang dapat menunjukkan (AlHuda), membuktikan (Al-Bayan), dan membedakan (Al-Furqan) segala aktivitas
kehidupan dengan sempurna karena memiliki kebenaran mutlak yang menjamin
kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Qur'an telah menjadi perisai kepribadiannya dengan sifat dan kemanfaatannya
sebagai:
1. Hudan yang berarti petunjuk (QS Yunus 10:57).
2. Syifa' yang berarti obat penawar (QS Yunus 10:57).
3.Rahma yang berarti kasih sayang (QS Yunus 10:57).
4.Mau'idhah yang berarti kasih nasihat (QS Yunus 10:57)
5.Nuran yang berarti cahaya (Qs an-Nisa' 4:174).
6.Basyirun yang berarti penggembira (QS Fushshilat 41:3).
7.Nadzirun yang berarti pengancam (QS Fushshilat 41:3).

2. Al-Iman
Adalah langkah yg mengawali seseorang untuk mengenal hakikat siapa Tuhan yg
patut disembah, malaikat2 yg harus diyakini, nabi2 dan rasul yg harus diteladani,
kitab2 yg harus dipedomani, hari akhir yg tidak dpt dipungkiri, qadla' dan qadar yg
harus diimani.
Tidak ada satu perisai yg lebih mahal dari bumi dan seisinya melainkan perisai
iman.
Wanita, anak2, kendaraan, perniagaan yg dikhawatirkan akan kerugiannya, dan
jabatan merupakan perhiasan yg menyilaukan hati sekian banyak manusia dan
tidak mempunyai kemanfaatan sedikitpun tanpa perisai iman. Semuanya itu justru
menjadi fitnah yg akan digantungkan pd leher seseorang yg tidak memiliki kendali
iman. Sebaliknya, semua perhiasan itu menjadi satu amanat jika berada di tangan
orang yg memiliki perisai iman. Orang2 yg siap menjalankan perintah, menjauhi
segala larangan, dan yg akan menerima janji2 dan berita gembira
"Katakanlah: 'Siapakah yg mengharapkan perhiasan dari Allah yg telah
dikeluarkan-Nya untuk hamba2 Nya dan rezki yg baik?' Katakanlah: 'Semuanya itu
bagi orang2 yg beriman dlm kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari
kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat2 itu bagi orang2 yg mengetahui." (QS
al-A'raaf 7:32)

3. Ilmu
Allah Saw telah menjadikan kitabnya berisi ilmu. Dan dg kitab itulah para nabi dan
rasul dikaruniai perisai ini. Perisai yg dpt mengeluarkan ummat manusia dr
kekafiran, kefasikan dan kezaliman diri mereka kpd keimanan. Bahkan manusia
hanya dpt menguasai alam dg perisai ilmu.
"Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal2 dapat berlayar
padanya dengan seidzin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karuniaNya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa
yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dariNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir." (QS al-Jaatsiyah 45:12-13).
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Al-Mujaadilah 58:11).

4. Taubat
Membenamkan diri dalam lumpur dosa merupakan perbuatan yang menutup
semua jalan kebaikan yang akan mendorong seseorang ke dalam jurang neraka.
Umumnya orang yang seperti ini telah menganggap dirinya sangat kotor hingga
sulit untuk dibersihkan dan menganggap sudah kepalang tanggung. Dan ini
merupakan kekeliruan yang besar. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah
menjadikan taubat sebagai satu-satunya perisai yang dapat menghapus dosa-dosa
dan memudahkan langkah untuk mengadakan berbagai macam perbaikan dan
amal shaleh. Untuk itu segeralah bertaubat!
1.Menghentikan maksiat.
2.Menyesali atas perbuatan yang
telah dilakukannya.
3.Berniat sungguh2 tidak akan
mengulangi perbuatan maksiat
tersebut.
4.Bila terkait hak manusia, wajib
atasnya meminta maaf dan
mengembalikan hak orang yang
dizalimi.

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah
hanyalah taubat bagi orang-orang
yang mengerjakan kejahatan lantaran
kejahilan, yang kemudian mereka
bertaubat dengan segera, maka
mereka itulah yang diterima Allah
taubatnya; dan Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS
an-Nisaa' 4:17).

5. Hijrah
Perisai ini merupakan refleksi dari perwujudan taubat yang memiliki keterkaitan
mutlak dalam rangka menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang dalam
sirah bisa kita baca bahwa para nabi dan rasul dalam mengemban amanahnya
diperintahkan pula oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk berhijrah. Begitu pun
atas Mukmin yang benar keimanannya, yang tidak akan menyia-nyiakan
kesempatan berhijrah selama pintu taubat masih terbuka menjelang datangnya
ajal dan kiamat.

Sebagaimana yang disinyalir Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, bahwa tidak
akan terputus hijrah sehingga terputus taubat. Yaitu, hijrah dengan taubatnya dari
alam jahiliyah kepada cahaya Islam. Hijrah dengan taubatnya dari dosa kepada
pahala. Hijrah dengan taubatnya dari panasnya bara api neraka kepada kenikmatan
surga. Dan semua ini merupakan sebuah proses yang menuntut sekian banyak
pengorbanan. Baik terbentuk harta maupun jiwa.
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini
tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS an-Nisaa' 4:100)

6. Jihad
Ini pun merupakan perisai perwujudan refleksi atas orang2 yg berhijrah dg
sungguh2. Yaitu, dengan mengadakan perbaikan melalui peningkatan amal shaleh
yg diperintahkan dan menjauhi segala apa yg dilarang. Dan atas mereka inilah
peran amar makruf terealisasi dg sempurna. Karena mereka memiliki ciri2 yg
diisyaratkan Allah SWT dlm AI-Qur'an, diantaranya:
1.Berperang di jalan Allah (QS an-Nisa 4:76).
2.Berjihad dengan pedoman Al-Qur'an (QS al-Furqan 25:52).
3.Berjihad dalam barisan yang teratur (QS al-An’am 61:4).
4. Siap mengorbankan harta dan jiwa (QS at-Taubah 9:111).
5.Tertindas (QS al-Qashash 28:4).
Mereka yang memegang erat2 perisai jihadnya, Allah SWT menjanjikan mereka
kemenangan dan berkuasa di muka bumi, tapi bila mereka gugur Allah SWT telah
tetapkan atas mereka rezki yg tidak terputus dan surga yg kekal nan abadi.
“Dari Abu Hurairah ra., katanya Nabi bersabda: "Allah menggembirakan hati orangorang yang berperang fi sabilillah, yaitu orang yang berperang semata-mata
karena iman kepada Allah dan Rasul-Nya, ia akan kembali membawa kemenangan
dan harta rampasan, atau dimasukkan ke dalam surga."(HR. Bukhari)

7. Shalat
Allah SWT telah menetapkan dlm firman-Nya bahwa shalat merupakan sarana
amar makruf nahi munkar, sebagai penolong dan alat kontrol bagi Mukmin agar
bersabar terhadap segala bencana dan mara-bahaya yang senantiasa datang dan
mengintai sebagai ujian atas keimanannya. Dan dalam hadits Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengabarkan tentang hakikat shalat yang
diumpamakan sebagai tiang agama bagi yang menegakkannya dan kehancuran
atas mereka yang melalaikannya. Bahkan ditandaskan pula oleh beliau perbedaan
antara si Mukmin dengan si Kafir adalah dengan menegakkan shalat dan tidaknya.
Oleh karena itu, seorang Mukmin dengan penuh kesadaran akan senantiasa
memperhatikan waktu-waktu shalatnya. Disamping itu ia akan menegakkannya di
tempat yang suci lagi di sucikan, dengan kekhusyu'an, penuh kesabaran, dan tidak
lupa memberi peringatan atas orang-orang yang melalaikannya. Maka shalat
seperti inilah yang akan menjadi perisai untuk menggapai kemenangan.
Kemenangan secara kaffah, hancurnya yang munkar dan tegaknya yang makruf
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar."
(Al-'Ankabuut :45)

8. Zakat

Perisai yang satu ini kewajibannya sama dengan menegakkan shalat. Dalam banyak
ayat perintah shalat selalu beriringan dengan perintah mengeluarkan zakat. Karena
tidaklah tercegah yang keji dan munkar, atau tidaklah tegaknya tiang agama
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, tanpa pendanaan dari orang-orang
Mukmin yang ingin membersihkan atau mensucikan dirinya dari keruhnya jiwa dan
harta mereka yang sulit untuk dideteksi. Untuk itu, amat berat atas Mukmin yang
komit berlaku kikir untuk kebaikan dirinya sendiri

9. Puasa

Kalaulah ada orang yang paling amanat dan memegang janjinya; maka itulah
orang-orang yang mengerjakan puasanya dengan benar. Memang manusia tidak
melihat bila ia melangkahi rukun-rukun puasa, namun ia sadar Allah Subhanahu wa
Ta’ala melalui para malaikat-Nya tidak lengah mencatat segala ketaatan atau
pengkhianatan
Dari sini seorang Mukmin menyadari benar, puasa menjadi perisai yang
memproduk jiwanya menjadi seorang yang amanat. Dan orang yang amanat tidak
akan menyalahi janji

10. Haji

Salah satu Rukun Islam ini, adalah perisai pendobrak dari kesenjangan sosial antara
Mukmin yang berdiri dalam satu aqidah. Selain mengunjungi BaituIlah, Allah SWT
memerintahkan pula untuk memakmurkannya. Adapun saat ini kita saksikan Islam
di berbagai belahan bumi menjadi terpecah-belah dalam kemiskinan, kebodohan
dan penindasan musuh2 Allah.

Sehingga hikmah yang paling fundamen dari pelaksanaan ibadah haji kehilangan
maknanya. Yang ada justru kesatuan aqidah dan persekongkolan kaum Yahudi.
Padahal ibadah haji ini merupakan perisai yang dapat menstabilkan perekonomian
ummat Islam skala dunia jika terikat dalam aqidah Islamiyah yang tsabit.

11. Ghadhul Bashar
(Menundukkan Pandangan)

Perisai yang satu ini sudah teramat sering disampaikan para da'i dalam berbagai
kesempatan maupun dalam banyak kajian buku2. "Bosan!" Itu mungkin perkataan
yang terselip di dada seseorang yang fasik. Padahal kebosanannya mendengar atau
membaca perkara yang terkait dengan ghadhul bashar, tetap saja tidak dapat
mengendalikan pandangan matanya yang seliar buaya lapar. Kalau saja dia
menyadari kekeliruannya, paling tidak dia dapat mengambil hikmah betapa
sulitnya mengendalikan pandangan matanya.
Perintah menundukkan pandangan mata ini mempunyai tujuan untuk
menyelamatkan ummat manusia dari pekerjaan munkar. Yang disadari atau tidak
pandangan mata merupakan motor penggerak utama segala perbuatan munkar.
Dan seorang Mukmin yang benar keimanannya akan menyelamatkan dirinya dari
perbuatan munkar dengan menundukkan pandangannya.

12. Hijab

Selain menundukkan pandangan mata, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan
pula kepada Mukmin laki-laki dan perempuan untuk menutupi 'aurat mereka.
Tidak berarti perintah menundukkan pandangan mata tanpa disertai dengan
menutup 'aurat. Kedua perintah ini sejalan dan harus ditaati.

Karena apalah artinya menutup 'aurat tapi matanya jelalatan, atau menundukkan
pandangan karena malu sedang ia bertelanjang. Singkat kata, kedua perintah ini
saling melengkapi dan menjadi perisai untuk menyelamatkan masyarakat dari
dekadensi moral

13. Menikah

Realisasi dan legistimasi hubungan yang diterima di sisi Allah, Rasulullah, dan
ummat manusia antara dua jenis insan adalah nikah. Atas Mukmin yang ingin
menyempurnakan separuh agamanya dari kejalangan matanya dan perbuatan
lacur, maka tidak ada alasan baginya untuk mengundur-ngundur pernikahan

Dengan menyegerakannya akan terhindarkannya segala hal yang selama ini
menjadi bulan-bulanan orang-orang fasik dan kotor. Dia akan bekerja dengan
penuh semangat dan konsentrasi, berjiwa pemimpin dan bertanggung jawab,
mendapat keturunan yang bersih dari fitnah, dan segala kebaikan yang tidak akan
diperoleh orang-orang yang mengabaikan perisai yang satu ini. Nikah

14. Ihklas
Dari sekian banyak faktor yg sangat prinsip dan menentukan diterima dan
tidaknya ibadah dan amal shaleh seseorang tanpa adanya niat ikhlas. Bahkan niat
ikhlas merupakan perisai semua ibadah. Dan tidak ada niat ikhlas atas ibadah
orang2 yg mengadakan tandingan dg segala apa yang telah Allah SWT syariatkan
dlm AI-Qur'an. Atau dengan orang-orang yang menambah-nambah berbagai
urusan dalam agama (bid’ah) yang telah diputuskan dengan jelas. Niat ikhlas
hanya milik orang2 yg beribadah se-mata2 karena Allah SWT dan tidak
mengharapkan balasan selain dari-Nya. Dan atas mereka inilah ibadahnya tercatat
sebagai amal shaleh. Karena semua ibadah yang mereka lakukan terlepas dari
riya‘
"Katakanlah: Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan'. Dan (katakanlah):
'Luruskanlah mukamu di setiap shalat dan sembahlah Allah dg mengikhlaskan
ketaatanmu kpd-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan
(demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya." (QS AI-A'raaf 7:29).

Abu Hurairah ra. berkata: "Rasulullah SAW bersabda: `Sesungguhnya Allah tidak
melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi langsung melihat niat dan keikhlasan
dalam hatimu'." (HR. Muslim).

15. Ridha

Perisai ridha adalah buah dari perisai ikhlas. Mukmin yang memiliki perisai ini tidak
akan melangkah atau berbuat dengan segala perkara yang akan mengundang
murka Allah. Karena hati, perbuatan, dan usahanya telah dihadapkan sepenuhnya
untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Begitu pun dalam menghadapi ka-runia dan musibah. Orang yang berpegang erat
dengan perisai ini secara otomatis akan mengeluarkan dua perisai lainnya sebagai
pamungkas. Perisai alsyukru atas karunia yang diperolehnya dan perisai sabar atas
musibah yang menimpa dirinya. Karena itu pula mereka terhindar dari kekufuran,
takabbur, bakhil, dan juga tidak berkeluh kesah atau berputus asa menghadapi
musibah yang menimpa dirinya. Bahkan ia sanggup berucap:
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun." (AI-Baqarah 2:156).

16. Khusyu'

Perisai kali ini hanya diperoleh atas mereka yang telah memiliki perisai jihad.
Karena tidak akan dicapai kekhusyu'an tanpa adanya kesungguhan (jihad). Dapat
disimpulkan bahwa orang yang khusyu' hanya orang-prang yang berjihad. Pada
mereka inilah terealisasi seluruh perintah dan tercegahnya perbuatan munkar.
Sebab hanya mereka pula yang siap menanggung berbagai resiko terberat
sekalipun demi tegaknya syariat.

Dari Abu Sa'id AI-Khudri ra. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: katanya: "Ada orang bertanya: 'Hai Rasulullah! Siapakah manusia yang lebih
utama?'Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab: `Orang Mukmin yang
berjihad dalam agama Allah dengan diri (Jiwa) dan hartanya. " (HR. Bukhari).

17. Al Syukur
Perisai syukur yang dimiliki seorang Mukmin akan menjadi motivator penggerak
untuk melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan. Karena hanya orang2
yg bersyukur yg bisa amanat terhadap segala nikmat2 yg telah Allah SWT berikan
kepadanya. Dan hal ini diwujudkan dlm tiga tingkatan rasa syujur secara sempurna.
1. Syukur dg lisan yaitu menyatakan syukur dg mengucapkan puji-pujian kepada
Allah SWT.
2. Syukur dg hati, ialah sengaja berbuat taat untuk senantiasa memenuhi
perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.
3. Syukur dg perbuatan, yaitu pelaksanaan konkret segala perintah dan menjauhi
larangan Allah SWT.
Dan jika tiga tingkatan rasa syukur ini terrealisasi dg sempurna, maka orang tersebut
telah amanat dg nikmat yang telah diberikan kepadanya dan pantas ditambah
nikmat2 lainnya

18. Al-Rahmah (Kasih
Sayang)
Diantara sekian faktor terwujudnya kesatuan yang akan membuahkan kekuatan
Islam adalah perisai Al-Rahmah. Dalam banyak ayat Allah SWT hanya mengikat tali
Al-Rahmah dg orang2 yg berdiri dlm aqidah Islamiyah saja, dan memerintahkan
untuk bersikap keras lagi tegas terhadap orang2 musyrik. Karena mana mungkin
tegak dan kuatnya kalimat Allah dg mengikutsertakan orang2 musyrik yang
meninggikan kalimat thaghut. Singkat kata, perisai Al-Rahmah hanya terkait
dengan orang2 yg satu aqidah yg bertujuan menegakkan kalimat Allah. Dan itulah
wujud saudara yg sesungguhnya. Yang mereka itu satu dg lainnya saling sayang
menyayangi, bersikap lemah lembut, dan tolong menolong dalam kebaikan.
"Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya
anakku termasuk keluarga ku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar.
Dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya'. Allah berfirman: 'Hai Nuh,
sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya perbuatannya
yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang
kamu tidak mengetahui. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya
kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (QS Huud
11:45-46).

19. Sabar
Dalam menjalani hidup dan kehidupan seorang Mukmin dihadapkan dg berbagai
problematika selaku khalifah di bumi. Yang akan menerapkan segala apa yg
diingini oleh Allah SWT agar terciptanya kehidupan yg penuh rahmat dan berkah.
Tentunya hal itu tidaklah mudah. Karena di sekitar mereka terdapat orang2 yg
tidak beriman yg akan menghalangi tegaknya kalimat Allah. Baik itu berupa fitnah,
caci maki, intimidasi, dan bahkan sampai sahid. Namun mereka tidak gentar dg
semua itu dan terus melangkah dg penuh kesabaran. Sebab sebelum melangkah
mengikuti jejak Rasulullah SAW mereka pun telah menyadari akan semua akibat
yg bakal diterima. Dan kesabaran mereka itu terlahir dari perisai Istiqamah.
"Kamu sungguh2 akan diuji terhadap harta dan dirimu dan juga kamu sungguh2
akan mendengar dari orang2 yg diberi kitab sebelum kamu dan dr orang2 yg
mempersekutukan Allah, gangguan yg banyak dan menyakit kan hati. Jika kamu
bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yg demikian itu termasuk urusan yg
patut diutamakan."(QS Ali Imran 3:186).

20. istiqamah
Menjaga eksistensi keberlangsungan iman dan Islam seorang Mukmin melainkan
dg perisai istiqamah. Iman dan Islam orang yg istiqamah tidak akan hilang atau
surut diterjang maut sekalipun. la senantiasa berpegang teguh dg aqidahnya.
Sebagai wujud bahwa dirinya memenuhi janji dr syahadat yg diikrarkannya.
orang2 yg mengatakan: Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka maka malaikat akan turun kpd mereka (dg mengatakan),
'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah
mereka dengan (memperoleh) surga yg telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS
Fushshilat 41:30).
Ayat ini menandaskan bahwa orang yang memiliki perisai istiqamah hanya
mengakui Allah sebagai Rabbnya, dengan mendapat jaminan ketenangan hidup,
hilang rasa takut, sedih, putus asa dan lain sebagainya. Meskipun mereka
diguncang cobaan dan gangguan yang banyak dengan aqidah Islamiyah yang telah
berakar di dalam qalbu mereka.

21. Optimis

Perisai optimis merupakan ramuan dari perisai jihad, sabar, dan istiqamah.
Mukmin yang memiliki perisai ini tidak akan pernah putus asa dengan pertolongan
Allah dan kemenangan yang dekat. Mereka adalah orang-orang yang tahan
banting dan pantang mundur serta terus maju ke front terdepan. Mereka adalah
orang-orang yang tak kenal takut dengan kendali rudal nuklir kaum musyrikin
selama kalimat Allah belum tegak di bumi yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya
sendiri. Baginya tiada kata mundur, takut, kalah, patah, hancur atau hilang. Dan
tidak dengan banyak kata, harus satu di antara dua. Sahid atau menang.
"Katakanlah: 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka
sendiri, janganlah kamu berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar 39:53)

22. Ketenanggan

Perisai ini hanya milik Mukmin yang mempunyai perhitungan yang matang dan
pandangan yang jauh, berhati hati, tidak gegabah atau sembrono. Dan hal ini
terlihat dari tindak-tanduk seseorang yang menginginkan segala kebaikan.
Sebagaimana tersurat dalam hadits berikut.

Ibnu Mas'ud ra. berkata: "Bersabda Rasulullah SAW: 'Sukakah saya beritahukan
padamu orang yg diharamkan masuk neraka?' Beliau melanjutkan: `Neraka itu
haram atas siapa yang lunak, ringan, tenang dan baik budi'." (HR. Tirmidzi).

23. Doa
Perisai yang satu ini telah disinyalir oleh Rasulullah SAW sebagai otaknya ibadah.
Dlm Al-Qur'an bisa kita baca para nabi dan rasul memiliki do'a-do'a yg khusus. Yg
secara umum mengisyaratkan agar setiap Mukmin berlindung dari segala macam
keburukan. Ba-ik itu berlindung dari kemusyrikan, sihir, kaum yg ingkar, api neraka
dan lainnya yang semakna.

Sebaliknya do'a pun mengisyaratkan permohonan seorang hamba kepada Rabbnya
akan segala macam kebaikan. Kebaikan agar senantiasa dimudahkan mengikuti
jalan yang lurus, terhapusnya dosa, mendapatkan anak yang shaleh, dimasukkan ke
dalam surga dan lainnya yang semakna
Namun perisai yang satu ini tidak lain terhimpun dalam satu perisai yang disebut
'ikhtiar. Sebab mana mungkin merebut dan memperoleh kemenangan hanya
dengan mengandalkan kekuatan komandan dan merupakan peran para serdadu.
Atau manalah mungkin emas turun dari langit hanya dengan bersandarkan do'a
tanpa usaha. Dan pemahaman seperti ini hanya milik setiap Mukmin

24. Tawakal
“Tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk
meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan
dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini
dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi,
mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.”

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada
Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya)”
(QS Ali ‘Imraan:159).

“Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan
yang(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan bagi tiap-tiap
sesuatu.”(QS.At-Thalaq:3).

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang
yang bertaubat dan orang-orang yang
menyucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)