Bab i Penjelasan Umum Standar Kompetensi Nasional

BAB I PENJELASAN UMUM STANDAR KOMPETENSI NASIONAL

A. Rasional Era globalisasi dalam lingkup perdagangan bebas antarnegara di dunia yang telah ditetapkan dalam perundingan internasional yang dikenal sebagai Putaran Uruguay—GATT, AFTA, dan APEC, yang segera (bahkan sudah mulai) diberlakukan, sungguh berdampak pada hampir semua sektor kehidupan, terutama di negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia. Dalam arena perdagangan bebas, semua negara diperlakukan sama dan harus bersaing secara ketat dalam perdagangan industri dan produk pertanian, bahkan juga dalam jasa, investasi, dan hak kekayaan intelektual (sebagaimana diusulkan kemudian oleh negara-negara industri), tanpa mendapat kontrol, perlindungan, atau bantuan dari pihak pemerintahnya masing-masing. Bagi negara-negara industri yang telah maju seperti halnya Inggris, Perancis, Jerman, Amerika, dan Jepang, hal ini tidak akan menjadi masalah, bahkan akan sangat menguntungkan mereka, karena mereka merupakan negara-negara kuat, baik di bidang ekonomi maupun politik. Mereka memiliki kekuasaan dan modal yang besar untuk bersaing di arena perdagangan bebas. Akan tetapi bagi negara-negara berkembang yang dikenal sebagai negara Dunia Ketiga seperti halnya negara-negara di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia, termasuk Indonesia, perdagangan bebas merupakan ancaman bagi kestabilan kehidupan perekonomian negara-negara tersebut, karena mereka masih tergolong sebagai negara-negara yang lemah, belum memiliki kekuasaan dan modal yang cukup kuat untuk bersaing di arena pasar bebas. Kenyataan di atas menunjukkan bagaimana era globalisasi dalam lingkup perdagangan bebas akan berdampak negatif bagi kehidupan ekonomi negara-negara berkembang khususnya. Akan tetapi perdagangan bebas ini telah menjadi kesepakatan internasional dan telah mulai diberlakukan, yang mau tidak mau harus dijalani. Di samping dampak negatif tadi, dampak positif dari diberlakukannya perdagangan bebas adalah berupa tantangan sekaligus motivasi bagi negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia untuk mempersiapkan diri di segala bidang dalam menghadapi era persaingan ini. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tentu saja tidak bisa tinggal diam tanpa melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapi persaingan internasional ini. Berkaitan dengan hal ini, pemerintah telah sibuk melakukan persiapan-persiapan melalui berbagai jenis program kegiatan. Salah satu program kegiatan yang menjadi sasaran pemerintah adalah program peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) di berbagai bidang, termasuk di antaranya dalam bidang budaya—kesenian. Untuk mempersiapkan SDM yang berkualitas sesuai dengan tuntutan pasar kerja, perlu adanya hubungan timbal balik antara pihak masyarakat yang

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

membutuhkan dan lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat), baik yang bersifat formal maupun nonformal. Salah satu bentuk hubungan timbal balik tersebut adalah pihak masyarakat pengguna harus merumuskan standar kualifikasi SDM yang dibutuhkan sesuai dengan bidang pekerjaannya, sedangkan pihak lembaga pendidikan dan pelatihan menggunakan standar kualifikasi tersebut untuk digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum atau program kegiatan pendidikan dan pelatihan tersebut. Kebutuhan kualifikasi SDM ini diwujudkan dalam bentuk Standar Kompetensi Bidang Keahlian yang merupakan refleksi dari kompetensi yang diharapkan dimiliki orang-orang atau seseorang yang akan bekerja di satu bidang tertentu. Sejalan dengan pemikiran di atas, sejak 1995, Depdiknas (Depdikbud) bersama dengan pihak industri dan dunia usaha yang direpresentasikan oleh KADIN Indonesia, telah membentuk Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional (MPKN). Salah satu tugas pokok/fungsinya adalah memberikan masukan dan merumuskan kebijakan pada pengembangan Pendidikan Menengah Kejuruan. Kemudian, salah satu bentuk masukan tersebut adalah berupa Standar Kompetensi Bidang Keahlian (SKBK) dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Kelompok Bidang Keahlian (KBK). Hingga saat ini telah terbentuk sebanyak 43 KBK dari berbagai sektor industri. Dari keseluruhan KBK yang ada, 22 di antaranya telah selesai dirumuskan standar kompetensinya dan telah disahkan oleh Ketua Umum MPKN, dan 7 di antara kedua puluh dua KBK tersebut telah disempurnakan dan ditingkatkan menjadi standar nasional. Pada tahun anggaran 2004, pemerintah harus menyelesaikan penyusunan 23 standar kompetensi bidang keahlian profesi, salah satunya adalah Standar Kompetensi Nasional (SKN) Karawitan Sunda, yang diwakili oleh tiga jenis seni pertunjukan karawitan, yang terdiri dari: tembang Sunda cianjuran, kiliningan, dan degung. Rumusan kompetensi bisa dikatakan sebagai sebuah rumusan kesepakatan sosial atau stakeholders, untuk menggariskan suatu tingkat (atau tingkat-tingkat) kemampuan profesional. Tingkatan ini secara tradisional sebetulnya sudah ada sekaitan dengan contoh-contoh model yang ada di depan mata komunitas pendukung budayanya. Tak ada sebuah keinginan yang tersurat untuk menjadi seorang praktisi seni yang mampu menghasilkan imbalan finansial, apalagi yang mendukung seluruh kehidupannya. Yang terjadi adalah bahwa kemampuan praksis kesenian yang dipelajarinya, lebih banyak memiliki fungsi untuk menjadikan dirinya lebih beradab, atau lebih tahu tatakrama. Dari sisi ini saja terlihat bahwa ekspresi keseniannya yang bergaya emblemik1 memiliki ciri-ciri yang sangat spesifik dan dibedakan dari ekspresi kultural yang lainnya. Dengan kata lain, sifat keberadaannya adalah cultural specific. Ekspresi emblemik yang bersifat kolektif yang dimunculkan dalam sosoksosok individu yang terikat dengan kebakuan-kebakuan tradisi, mulai dihadapkan
Gaya emblemik adalah ekspresi kolektif yang khas dari sebuah produk kultural komunitas masyarakat tertentu. Produk ini dibedakan dari gaya asertif yang merupakan ekspresi individual dengan ciri khas yang bermuara pada aktualisasi diri pribadinya.
1

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

2

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

pada fenomena hubungan users—pelaku seni, misalnya praksis karawitan. Hubungan keduanya berkembang menjadi hubungan resiprokal yang baru, yang sangat berbeda dengan nilai-nilai resiprokalitas di masa lalu, yaitu saat produk kultural tersebut disodorkan di ruang-ruang publik. Dengan kata lain, hubungan di atas mesti dihitung dengan timbal-balik finansial seiring dengan level kualifikasi yang dimilikinya. Di sini kita bisa segera melihat adanya dua kutub paradoks yang tarik-menarik. Sisi pertama adalah kesepakatan dalam merumuskan sebuah standar yang diakui, yang objektif, dan instrumental. Dengan kata lain: rumusan yang bisa diterima oleh suatu entitas sosial-profesional atau “pasar”, sehingga bisa diacu sebagai ukuran tingkat keahlian dalam bidangnya. Sisi kedua, adalah tarikan dari substansinya (kebudayaan) yang kompleks, sebagai suatu jalinan multisektor, multidimensi, dan dinamis. “Kesepakatan” hanyalah bisa dicapai melalui kompromi di antara kedua sisi tersebut, bukan oleh penerapan semena-mena untuk mengalahkan atau memenangkan satu kutub dari kutub yang lainnya. Jika rumusan kompetensi memenangkan yang pertama (standar), maka ia akan lepas dari substansinya, misalnya menjadi sesuatu yang tak relevan lagi. Sebaliknya, jika yang pertama mengalahkan yang kedua (blur, fluid, dan local-specific), maka ia tak akan kesulitan dalam negosiasi dengan pasar umum, yang mempunyai tuntutan terhadap kompetensi ini. Kompetensi seorang seniman tidak bisa dirumuskan hanya berdasar pada ukuran teknis, mekanis yang standar yang bisa diberlakukan pada seluruh pihak terkait (stakeholders). Nilai-nilai dan kemampuan (kreatif) pada dasarnya subjektif, sehingga dalam hal ini individu selalu berperan penting. Meskipun demikian, sejak lama pula setiap lingkup budaya punya ukuran kompetensi penilaian dan rumusannya—terinci ataupun tidak, tertulis ataupun tidak—mengenai kompetensi kesenimanan seseorang, yang secara sosial sering menjadi indikator pola perilaku orang perseorangan di masa lalu. Jika dahulu formulasi kompetensi ini tidak menjadi kebutuhan, dengan berubah-cepatnya sistem komunikasi dan pasar global, kini rumusan itu menjadi tuntutan. Dengan demikian, yang paling penting sekarang adalah mengupayakan perumusannya secara seksama, yang memperhitungkan dua tarikan paradoksal tersebut di atas, sehingga dapat menjadi jembatan (kesepakatan) yang fair, melalui pemikiran yang secermat dan sebijak mungkin. B. Tujuan Secara umum, tujuan dari penyusunan Standar Kompetensi Nasional Karawitan Sunda ini adalah untuk memperoleh standar kompetensi bidang keahlian karawitan Sunda yang dapat diakui secara nasional. Untuk memenuhi kriteria tersebut, standar kompetensi yang dikembangkan harus memenuhi ketentuanketentuan sebagai berikut. Pertama, dikembangkan berdasar pada kebutuhan industri/dunia usaha, yang dimaknai dengan dilakukannya eksplorasi data primer dan sekunder secara komprehensif. Artinya, penyusunan standar kompetensi ini benarbenar dilakukan berdasarkan pertimbangan kebutuhan pasar atau masyarakat. Kedua, menggunakan referensi dan rujukan dari standar-standar sejenis yang dipergunakan oleh negara lain atau standar internasional, agar di kemudian hari terjadi proses saling pengakuan. Artinya, standar kompetensi yang disusun hendaknya dapat diakui secara nasional, bahkan internasional, agar dapat dipergunakan pula oleh bangsa-

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

3

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

bangsa lain di dunia. Ketiga, dilakukan bersama dengan perwakilan dari asosiasiasosiasi profesi dan dunia industri/usaha secara institusional, agar memudahkan dalam upaya pencapaian konsesus dan pemberlakuan secara nasional. Artinya, standar kompetensi nasional yang disusun ini juga harus disepakati dan diakui oleh asosiasi-asosiasi profesi di bidang seni, khususnya karawitan Sunda. Secara khusus, tujuan dari penyusunan standar kompetensi nasional ini adalah untuk mendapatkan ukuran-ukuran standar kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) dari pelaku/praktisi karawitan Sunda, khususnya dalam seni tembang Sunda cianjuran, kiliningan, dan degung. Artinya, seorang seniman karawitan Sunda, yaitu vokalis atau instrumentalis dalam ketiga jenis kesenian tersebut, dapat dipandang telah memiliki kompetensi-kompetensi tertentu yang disepakati bersama. Hal ini pulalah yang kemudian akan menjadi ukuran atau persyaratan kualitatif bagi para praktisi karawitan Sunda untuk dapat bersaing serta diterima di pasaran kerja di dunia seni karawitan, baik di kalangan nasional maupun internasional. Sebagai contoh, seorang seniman tembang Sunda cianjuran akan mampu menjalani profesinya dengan sukses (laku di pasaran), apabila ia mengetahui tentang seluk beluk tembang Sunda cianjuran, terampil mempraktikkannya—apakah ia sebagai vokalis atau instrumentalis, serta memiliki sikap profesionalisme atau kinerja yang baik di bidangnya. C. Pengertian Standar Kompetensi Untuk memahami pengertian “standar kompetensi”, hendaknya ditelusuri terlebih dahulu pengertian dari “kompetensi”, kemudian pengertian dari “standar”. Berkaitan dengan definisi/pengertian “kompetensi”, berikut adalah pernyataanpernyataan yang berhubungan dengan pengertian kompetensi tersebut. A competency refers to an individual’s demonstrated knowledge, skills or abilities (KSA’S) perform to a specific standard. Competencies are observable, behavioral acts that require a combination of KSAS to execute. They are demonstrated in a job context and as such, are influenced by an organization’s culture and work environment. In other words, competencies consist of a combination of knowledge, skill and abilities that are necessary in order to perform a major task or function in the work setting (JGN Consulting Denver, USA). Competency comprises knowledge and skills and the consistent application of that knowledge and skills to the standard of performance required in employment (Competency Standards Body Canberra 1994). Competency models that identity the skills, knowledge, and characteristics needed to perform a job… (A.D. Lucia & R. Lepsinger/Preface xiii). Dari ketiga pernyataan tersebut dapatlah dirumuskan bahwa kompetensi diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terukur, meliputi: pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan performance (kemampuan kerja) yang ditetapkan.

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

4

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

Kemudian berkaitan dengan pengertian “standar kompetensi”, beberapa sumber menyatakan sebagai berikut. Competency Standards are simply worded statements about the performance in workplace that describe in output terms: -What the employee is expected to do. - How well the employee is expected to perform - How to tell when the employee’s performance is at the expected level. (Adopted from ANTA Australia) Competency Standard define “competency” as “The necessary knowledge and skills to perform a particular work role to the standard required within industry”. (Adopted from the Northern Territory Public Sector of Australia). The concept of competency focuses on what is expected of an employee in the workplace (outcomes) rather than on the learning process. It takes into account all aspects of work performance, recognizing that task skills from only one component of work performance. It also includes the ability to transfer and apply skills and knowledge to new situations. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa standar kompetensi merupakan kesepakatan-kesepakatan tentang kompetensi yang diperlukan pada suatu bidang pekerjaan oleh seluruh stakeholders di bidangnya, yang didasari oleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan. Secara sederhana, standar kompetensi dapat dikatakan sebagai ukuran kemampuan yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Dikaitkan dengan penyusunan standar kompetensi karawitan Sunda, yang dimaksud dengan standar kompetensi di sini tentu saja berkaitan dengan karawitan Sunda, khususnya tembang Sunda cianjuran, kiliningan, degung; dan para pelaku/praktisi dari ketiga jenis kesenian tersebut. Dalam kaitan ini, para praktisi karawitan bisa dipandang mampu melakukan pekerjaan, yakni melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan ketiga jenis kesenian tersebut (sebagai vokalis dan instrumentalis). Hal ini berlaku apabila ia dinyatakan telah memiliki kompetensikompetensi tertentu yang dibutuhkan dalam melakukan aktivitas di ketiga bidang kesenian dimaksud. Misalnya, seseorang bisa dipandang mampu dalam melakukan aktivitas yang berkaitan dengan tembang Sunda cianjuran apabila ia dipandang telah memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap (kinerja yang baik) di bidang seni tembang Sunda cianjuran ini. D. Struktur Standar Kompetensi Struktur standar kompetensi pada dasarnya merupakan urutan bagian dan subbagian yang saling berkaitan, yang tersusun secara berurutan dari atas ke bawah, dari mulai standar kompetensi (paling atas), unit kompetensi, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, batasan variabel, panduan penilaian, dan tingkat kompetensi kunci (paling bawah). Berikut adalah skema struktur standar kompetensi dimaksud.

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

5

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

STRUKTUR STANDAR KOMPETENSI Standar Kompetensi Terbentuk atas sejumlah inti kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan/melakukan pekerjaan tertentu

Unit Kompetensi Merupakan uraian fungsi dan tugas atau pekerjaan yang mendukung tercapainya standar kompetensi, setiap unit kompetensi memiliki sejumlah subkompetensi

Elemen Kompetensi Merupakan sejumlah fungsi tugas atau pekerjaan yang mendukung ketercapaian unit kompetensi dan merupakan aktivitas yang dapat diamati

Kriteria Unjuk Kerja Merupakan pernyataan sejauh mana subkompetensi yang dipersyaratkan tersebut terukur berdasar pada tingkat yang diinginkan

Batasan Variabel Pernyataan-pernyataan kondisi atau konteks di mana kriteria unjuk kerja tersebut diaplikasikan

Panduan Penilaian Pernyataan-pernyataan kondisi atau konteks sebagai acuan dalam melaksanakan penilaian

Tingkat Kompetensi Kunci Kemampuan kunci atau generik yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

6

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

E. Skema dan Format Standar Kompetensi Skema dan format standar kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran detail dari aspek-aspek dalam struktur standar kompetensi beserta sub-subaspek yang terkandung di dalamnya. Standar kompetensi yang dimaksud di sini adalah struktur kompetensi karawitan Sunda yang terdiri dari: tembang Sunda cianjuran, kiliningan, dan degung. Untuk lebih jelasnya, perhatikan skema dan format standar kompetensi di bawah ini. 1. BIDANG KEAHLIAN ATAU PEKERJAAN UNIT-UNIT KOMPETENSI ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA BATASAN VARIABEL PANDUAN PENILAIAN

2.

3.

4.

5.

6.

Bidang Keahlian atau Pekerjaan, merupakan sejumlah fungsi tugas atau pekerjaan yang mendukung ketercapaian unit kompetensi dan merupakan aktivitas yang dapat diamati. Dalam konteks karawitan Sunda dapat diartikan sebagai jenisjenis kesenian (musik) tradisional yang merupakan bagian dari karawitan Sunda. Karawitan Sunda terdiri dari beraneka ragam bentuk musik tradisional Sunda yang tersebar di sebagian besar wilayah Jawa Barat. Dari berbagai jenis musik tradisional ini diambil hanya tiga jenis kesenian, yaitu: tembang Sunda cianjuran, kiliningan, dan degung, sesuai dengan kenyataan kehidupan dan perkembangannya di masyarakat. Dalam arti bahwa ketiga jenis kesenian inilah yang dipandang dapat mewakili jenis-jenis seni karawitan lainnya. Bidang pekerjaan dalam skema dan format standar kompetensi menduduki tingkatan paling atas, membawahi susubbidang lainnya.

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

7

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

Unit Kompetensi merupakan uraian fungsi dan tugas atau pekerjaan yang mendukung tercapainya standar kompetensi, di mana setiap unit kompetensi ini memiliki sejumlah subkompetensi. Dalam konteks karawitan Sunda, unit kompetensi dapat diartikan sebagai bagian aktivitas dari bidang pekerjaan yang dijadikan sebagai objek penilaian guna menentukan ukuran/tingkat kemampuan kompetensi seseorang dalam bidang pekerjaan yang digelutinya. Yang merupakan unit-unit kompetensi dalam tembang Sunda cianjuran adalah: vokal (mamaos), kacapi, dan suling. Dalam kiliningan adalah: kawih kapasindenan, waditra gamelan (waditra yang dipandang tidak memerlukan kompetensi khusus), kendang, dan rebab. Sedangkan dalam degung adalah: waditra dasar, bonang, dan suling. Unit-unit kompetensi dari ketiga jenis kesenian ini dipilih berdasarkan tingkat peran dan kepentingannya dalam ensambel serta kebutuhannya terhadap kompetensi/kemampuan khusus dalam membawakan/memainkannya. Unit-unit kompetensi ini dalam skema dan format standar kompetensi menduduki urutan kedua, membawahi sub-subbidang lainnya. Elemen Kompetensi merupakan sejumlah fungsi dan tugas atau pekerjaan yang mendukung ketercapaian unit kompetensi dan merupakan aktivitas yang dapat diamati. Dalam konteks karawitan Sunda, elemen kompetensi merupakan bagian dari aktivitas unit kompetensi yang sekaligus juga merupakan sekumpulan persyaratan yang menentukan kemampuan aktivitas unit kompetensi. Sebagai contoh: seseorang dipandang mampu menyanyikan lagu panambih (unit kompetensi mamaos) dalam tembang Sunda cianjuran, apabila ia mampu memenuhi persyaratan-persyaratan, meliputi: (1) membawakan melodi lagu sesuai dengan arkuh/notasi lagunya; (2) menghafalkan rumpaka lagu sesuai dengan alunan melodi lagunya; dan (3) memberikan mamanis (reureueus) pada lagu yang. Ketiga persyaratan ini merupakan elemen-elemen kompetensi yang dalam skema dan format standar kompetensi menduduki urutan ketiga. Kriteria Unjuk Kerja merupakan pernyataan sejauh mana subkompetensi yang dipersyaratkan tersebut terukur berdasar pada tingkat yang diinginkan. Dalam konteks karawitan Sunda, kriteria unjuk kerja dapat diartikan sebagai persyaratan yang dijadikan ukuran kemampuan bagi aktivitas elemen kompetensi. Sebagai contoh, seseorang dapat dipandang mampu membawakan melodi lagu sesuai dengan arkuh lagunya (elemen kompetensi mamaos) dalam tembang Sunda cianjuran apabila ia mampu memenuhi persyaratan, yaitu dinyanyikannya alunan melodi lagu secara tepat berdasarkan nada-nada dan ritmenya, meliputi: (1) nada-nada laras pelog; (2) ketepatan membunyikan nada-nada; (3) susunan melodi; dan (4) ketepatan irama sesuai dengan nilai harga nadanya. Kriteria unjuk kerja ini dalam skema dan format standar kompetensi menduduki urutan keempat. Batasan Variabel merupakan pernyataan-pernyataan kondisi atau konteks di mana kriteria unjuk kerja tersebut diaplikasikan. Dalam konteks karawitan Sunda, batasan variabel ini pada dasarnya dapat diartikan sebagai aspek-aspek tertentu yang menyebabkan terjadinya/terwujudnya aktivitas suatu bidang pekerjaan. Sebagai contoh, untuk dapat terselenggaranya menyanyikan lagu panambih (unit kompetensi mamaos) dalam tembang Sunda cianjuran, diperlukan variabel-variabel, misalnya: (1) perangkat waditra tembang Sunda cianjuran (kacapi indung, kacapai rincik, dan suling); (2) perlengkapan pertunjukan (kostum); dan (3) konteks pertunjukan

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

8

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

(peristiwa pesta perkawinan, sunatan, dll.), dan tempat-ruang atau panggung pertunjukan). Batasan variabel ini dalam skema dan format standar kompetensi menduduki urutan kelima. Panduan Penilaian merupakan pernyataan-pernyataan kondisi atau konteks sebagai acuan dalam melaksanakan penilaian. Dalam konteks karawitan Sunda, panduan penilaian pada dasarnya merupakan aspek-aspek yang masih berkaitan dengan kriteria unjuk kerja yang dijadikan acuan/ukuran dalam menilai kemampuan melakukan aktivitas elemen-elemen kompetensi. Sebagai contoh, seseorang dipandang mampu menyanyikan lagu panambih apabila ia telah dinilai dengan menggunakan kriteria penilaian sesuai dengan panduan penilaian yang telah disepakati, yakni: (1) ketepatan dalam laras; (2) ketepatan dalam irama; (3) kejelasan artikulasi; dll. Panduan penilaian ini dalam skema dan format standar kompetensi menduduki urutan keenam. F. Level Pelaku Karawitan Sunda Hasil kegiatan pengumpulan data berupa standar-standar kemampuan yang ditemukan di masyarakat dan telah disepakati bersama menunjukkan bahwa tingkatan atau level kemampuan pelaku karawitan Sunda memiliki beberapa kesamaan, meskipun nama atau istilahnya berbeda. Adapun hasil kesepakatan nama dan ukuran dari setiap level kompetensi pelaku karawitan Sunda dimaksud adalah: 1. Tingkat pertama disebut purwana (pemula; pertama), berorientasi pada kemampuan dasar dalam memainkan instrumen atau menyanyikan lagu. 2. Tingkat kedua disebut yuwana (muda), berorientasi pada kemampuan dalam pengaturan teknik memainkan instrumen atau menyanyikan lagu. 3. Tingkat ketiga disebut madya (pertengahan), berorientasi pada penjiwaan atau penghayatan (ekspresif) dalam memainkan instrumen atau menyanyikan lagu. 4. Tingkat keempat disebut utama , berorientasi pada kemampuan menginterpretasi dalam memainkan instrumen atau menyanyikan lagu. 5. Tingkat kelima disebut purna (sempurna), berorientasi pada kemampuan yang bersifat transenden (terpancarnya karisma, perbawa, dan sudah termasuk maestro sebagai pelaku karawitan Sunda). Kendatipun demikian, hasil dari kesepakatan bersama untuk menyusun Standar Kompetensi Nasional (SKN) Karawitan Sunda ini dibatasi hanya pada tiga tingkatan kemampuan pelaku, yaitu purwana, yuwana, dan madya. Dengan ketiga tingkatan ini seorang pelaku karawitan Sunda cukup memahami sekitar persoalan teknik dalam memainkan suatu kesenian yang dipelajarinya. Adapun tingkat selanjutnya tidak menekankan pada masalah teknik, tetapi pada penghayatan, interpretasi, dan berbagai aspek nonteknik lainnya yang menunjang pada tingkat kemaestroan.

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

9

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

G. Kompetensi Kunci Kompetensi Kunci adalah kemampuan kunci atau generik yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan. Dalam konteks karawitan Sunda, kompetensi kunci merupakan tingkatan kemampuan praktisi/pelaku karawitan Sunda berkaitan dengan aspek-aspek lainnya yang lebih luas, di antaranya meliputi: kemampuan mengumpulkan informasi, mengkomunikasikan ide dan informasi, merencanakan dan mengatur suatu kegiatan pertunjukan, bekerja sama dengan seniman lain, menggunakan teknik matematik seperti perhitungan interval laras, memecahkan permasalahan di seputar karawitan Sunda, dan menggunakan teknologi seperti multi media, dll. Kompetensi kunci ini dalam skema dan format standar kompetensi menduduki urutan terakhir. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, yang dimaksud dengan kompetensi kunci yaitu kemampuan kunci atau generik yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, di mana kompetensi kunci tersebut terkandung dalam setiap unit kompetensi. Berikut ini adalah 7 kompetensi kunci dimaksud: 1. Mengumpulkan, menganalisis, dan mengorganisasikan informasi 2. Mengkomunikasikan ide dan informasi 3. Merencanakan dan mengatur kegiatan 4. Bekerja sama dengan orang lain 5. Menggunakan ide dan teknik matematika 6. Memecahkan persoalan/masalah 7. Menggunakan teknologi. (Sumber: Key Competencies, William Hall & Mark C. Werne) Uraian yang lebih rinci dengan pelevelannya, lihat tabel di bawah ini:

NO
1

KOMPETENSI KUNCI
MENGUMPULKAN, MENGANALISIS, DAN MENGELOLA INFORMASI Kapasitas untuk mengumpulkan informasi, memindahkan dan menyeleksi informasi dalam rangka memilih informasi yang diperlukan untuk dipresentasikan, mengevaluasi sumber dan cara memperoleh informasi tersebut MENGKOMUNIKASIKAN IDE-IDE DAN INFORMASI Kapasitas untuk berkomunikasi dengan orang lain secara efektif menggunakan beragam bahasa, tulisan, grafik, dan ekspresi nonverbal lainnya MERENCANAKAN DAN MENGORGANISASI

LEVEL 1
Mengakses dan menyimpan dari satu sumber

LEVEL 2
Mengakses, memilih, dan menyimpan dari beberapa sumber

LEVEL 3
Mengakses, mengevaluasi, dan mengatur dari berbagai macam sumber

2

Sederhana dengan aturan yang telah dikenal

Kompleks dengan isi tertentu

Kompleks dengan isi beragam

3

Di bawah pengawasan

Dengan bimbingan

Inisiatif sendiri dan mengevaluasi

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

10

BAB I PENJELASAN UMUM SKN
KEGIATAN Kapasitas untuk merencanakan dan mengatur kerja individu termasuk penggunaan waktu dan sumber yang baik, pemilihan prioritas dan pengawasan prestasi individu BEKERJA DENGAN ORANG LAIN SERTA KELOMPOK Kapasitas untuk berhubungan secara efektif dengan orang lain, baik antarpribadi ataupun kelompok termasuk mengerti dan memberikan respon akan keinginan klien dan bekerja secara efektif sebagai anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama MENGGUNAKAN IDE-IDE SERTA TEKNIK MATEMATIKA Kapasitas untuk menggunakan konsep bilangan, spasi dan ukuran; dan teknik seperti perkiraan untuk praktik MENYELESAIKAN MASALAH Kapasitas untuk menjalankan strategi penyelesaian masalah, baik dalam situasi di mana masalah dan solusi yang diinginkan memiliki bukti maupun dalam situasi yang memerlukan pemikiran kritis dan pendekatan kreatif untuk mencapai hasil MENGGUNAKAN TEKNOLOGI Kapasitas untuk menerapkan teknologi, mengkombinasikan keahlian dan sensor yang diperlukan untuk menjalankan peralatan dengan pengertian ilmiah dan prinsip teknologi yang diperlukan untuk mengadaptasi sistem kegiatan yang kompleks

4

Melakukan aktivitas yang telah diketahui

Membantu merancang dan mencapai tujuan

Melakukan kolaborasi dalam kegiatan kompleks

5

Melakukan tugas yang sederhana

Memilih tugas yang kompleks dan sesuai

Mengevaluasi dan mengadaptasi tugas yang sesuai

6

Rutin, sedikit pengawasan. Eksplorasi dengan pengawasan melekat

Rutin, mandiri. Eksplorasi dengan bimbingan

Kompleks. Pelaksanaan pendekatan sistematis, penjelasan proses

7

Memproduksi ulang atau melaksanakan produk dasar atau jasa

Menyusun, mengatur atau mengoperasikan produk atau jasa

Mendesain atau merangkai produk atau jasa

Ketujuh kompetensi kunci ini dihubungkan dengan level atau tingkatan kompetensi, yaitu: purwana, yuwana, dan madya. Kompetensi kunci yang diharapkan dapat dimiliki oleh tingkat purwana barangkali hanya terbatas pada tingkat kompetensi 1 (mengumpulkan informasi) dan 2 (mengkomunikasikan ide dan informasi); untuk tingkat yuwana, dari tingkat 1 hingga tingkat 4 (bekerja sama dengan orang lain dan kelompok); sedangkan untuk tingkat madya, dari tingkat 1 hinga tingkat 7 (menggunakan teknologi).

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

11

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

Di samping itu, setiap tingkat kompetensi kunci tersebut kemungkinan masih bisa terbagi lagi menjadi beberapa tingkatan untuk setiap tingkatan kompetensi. Sebagai contoh, kemampuan mengumpulkan informasi bagi tingkat pemula kemungkinan berbeda-beda, terdiri dari beberapa tingkatan kemampuan. Hal demikian berlaku pula bagi setiap tingkatan kompetensi kunci dan tingkatan kompetensi lainnya.

H. Kodefikasi Unit Kompetensi Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) lampiran 4 tentang penulisan kode unit kompetensi, maka kodefikasi unit kompetensi karawitan Sunda adalah sebagai berikut: 1. SEKTOR, Karawitan Sunda 2. SUB SEKTOR 2.1 Tembang atau tembang Sunda cianjuran pelaku mamaos 2.2 Tembang pelaku kacapi 2.3 Tembang pelaku suling 2.4 Kiliningan pelaku waditra gamelan 2.5 Kiliningan pelaku kawih kapaindenan 2.6 Kiliningan pelaku kendang 2.7 Kiliningan pelaku rebab 2.8 Degung pelaku waditra gamelan 2.9 Degung pelaku bonang 2.10 Degung pelaku suling 3. IDENTIFIKASI KOMPETENSI 3.1 Tingkat Purwana 3.2 Tingkat Yuwana 3.3 Tingkat Madya 4. NOMOR URUT UNIT 5. VERSI - Penyusunan yang pertama - Penyusunan yang kedua - Penyusunan yang ketiga CONTOH: SEKTOR Karawitan Sunda, SUB SEKTOR Kiliningan pelaku Waditra Gamelan, IDENTIFIKASI KOMPETENSI tingkat Purwana, NO. URUT UNIT : 01 : 02 : 03 : 01 : 02 : 03 :001, 002, dst. : TM : TK : TS : KG : KS : KK : KR : DG : DB : DS : KSD

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

12

BAB I PENJELASAN UMUM SKN

Menabuh waditra gamelan dalam gending dan sekar gending bentuk lagu rerenggongan embat sawilet, VERSI penyusunan pertama. Berarti kodefikasinya: KSD.KG.01.001.01 (setiap bagian kodefikasi dipisahkan oleh tanda titik (.).

STANDAR KOMPETENSI NASIONAL KARAWITAN SUNDA

13

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful