You are on page 1of 7

TEOREMA THEVENIN & NORTON

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
Mempelajari Teorema Thevenin dan Teorema Norton serta penggunaannya pada
rangkaian arus searah (DC).
1.2 Dasar Teori
Resistor
Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk menghambat arus listrik
dan menghasilkan nilai resistansi tertentu. Kemampuan resistor dalam menghambat
arus listrik sangat beragam disesuaikan dengan nilai resistansi resistor tersebut.
Resistor memiliki beragam jenis dan bentuk. Diantaranya resistor yang berbentuk
silinder, smd (Surface Mount Devices), dan wirewound. Jenis jenis resistor antara lain
komposisi karbon, metal film, wirewound, smd, dan resistor dengan teknologi film tebal.
Resistor yang paling banyak beredar di pasaran umum adalah resistor dengan bahan
komposisi karbon, dan metal film. Resistor ini biasanya berbentuk silinder dengan pita
pita warna yang melingkar di badan resistor. Pita pita warna ini dikenal sebagai kode
resistor. Dengan mengetahui kode resistor kita dapat mengetahui nilai resistansi
resistor, toleransi, koefisien temperatur dan reliabilitas resistor tersebut. Tutorial ini akan
menjelaskan kode kode resistor yang banyak beredar di pasaran.
Resistor yang menggunakan kode warna ada 3 macam, yaitu:
1. Resistor dengan 4 pita warna dengan 1 pita warna untuk toleransi.
2. Resistor dengan 5 pita warna dengan 1 pita warna untuk toleransi
3. Resistor dengan 5 pita warna dengan 1 pita warna untuk toleransi dan 1 pita warna
untuk reliabilitas
Sedangkan ukuran resistor bermacam macam sesuai dengan ukuran daya resistor itu.
Dipasaran terdapat beberapa ukuran daya seperti ditunjukkan pada Gambar 1, Gambar
2 dan Gambar 3

Gambar 1. Resistor komposisi karbon dengan ukuran daya 1/8, 1/4 dan 1/2 watt
Rough size
Rating

power Thickness

Length

(W)

(mm)

(mm)

1/8

1/4

1/2

Gambar 2. Ukuran resistor komposisi karbon dalam milimeter.

Rough size
Rating
(W)

power Thickness
(mm)

Length
(mm)

1/8

1/4

3.5

12

15

Gambar 3. Ukuran resistor metal film dalam milimeter.


KODE WARNA RESISTOR
Kode warna resistor dapat disederhanakan seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. Tabel sederhana kode warna resistor.


Cara menggunakan tabel pada Gambar 4 adalah sebagai berikut:
1. Kolom colour menunjukkan warna pita pita pada resistor. Supaya mudah dihafal
maka dapat diringkas menjadi hi-co-me-ji-ku-hi-bi-u-a-p-em-per-no, yaitu
kempanjangan dari hitam-coklat-merah-jingga(oranye)-kuning-hijau-biru-unguabu abu-putih-emas-perak-no warna.
2. Kolom band a, band b, band c, adalah pita resistor yang menunjukkan angka
resistansi.
3. Kolom band d adalah pita resistor yang menunjukkan nilai resistansi namun
dikalikan dengan nilai pada band a, band b, band c.
4. Kolom band d adalah pita resistor yang menunjukkan nilai toleransi.
5. Kolom band e adalah pita resistor yang menunjukkan nilai reliabilitas.
6. Untuk membedakan resistor dengan 5 pita dengan pita terakhir adalah toleransi
dan 5 pita dengan pita terakhir adalah reliabilitas adalah dengan melihat jarak
pita terakhir. Jika jaraknya lebar maka pita kelima adalah reliabilitas dan jika
jaraknya sama dengan pita pita yang lain maka pita kelima adalah toleransi.
7. Pita pertama suatu resistor adalah yang paling dekat dengan ujung resistor
Contoh:
1. Berapa nilai resistansi resitor disamping?
Jawab
Resistor ini memliki 5 pita warna dengan satu pita terakhir memiliki jarak terpisah.
Pita pertama kuning: (hi-co-me-ji-ku) => 4
Pita kedua abu abu: (hi-co-me-ji-ku-hi-bi-u-a) => 8
Pita ketiga ungu: (hi-co-me-ji-ku-hi-bi-u) => 7
Pita keempat merah: (hi-co-me) => x 100
Pita kelima emas: (hi-co-me-ji-ku-hi-bi-u-a-p-em) => toleransi + 5 %
(*) jadi nilai resistansinnya sebesar 48700 ohm atau 48K7 dengan toleransi + 5 %
Dua teknik analisis rangkaian kuat Teorema Thevenin, dan Teorema Norton. Kedua
teori mengkonversi sirkuit kompleks ke sederhana seri atau rangkaian paralel setara
untuk analisis lebih mudah. Analisis melibatkan menghapus bagian dari sirkuit di dua
terminal untuk membantu perhitungan, kemudian menggabungkan rangkaian dengan
Thevenin atau Norton rangkaian ekivalen. Ada banyak buku tentang subjek ini,
sehingga ini hanya sekilas.
Thevenin

Diagram kiri atas merupakan rangkaian untuk analisis di terminal A dan B. sirkuit kanan
atas adalah setara Thevenin sirkuit, sumber tegangan VTh dengan tahanan seri, RTH.
Diagram kiri bawah adalah sirkuit yang sama mengemudi beban. Muatan TIDAK
termasuk dalam rangkaian ekuivalen Thevenin dan harus dipisahkan, ini adalah
mengapa
ditandai
terminal
A
dan
B.
Nilai
VTh
dan
RTH
Untuk mengetahui ketahanan setara Thevenin dari rangkaian tersebut R memuat
pertama dihapus dan setiap sirkuit tegangan hubung singkat. resistensi tersebut
kemudian dihitung. Tegangan Thevenin ditemukan oleh pertama menghapus beban
sirkuit dan kemudian bekerja keluar tegangan titik A dan B dalam rangkaian.
Contoh
Sebuah demonstrasi teknik Thevenin untuk menemukan I1 dalam diagram di bawah ini:
Sirkuit di sebelah kanan titik A dan B dikonversi menjadi sumber Thevenin dan
perlawanan. Dengan baterai 30V dan tangan kiri resistor 10ohm diabaikan, tegangan
Thevenin menjadi:
VTh = 40 * 10/30 = 400/30
R = 10 | | 20 = 200/30 (paralel 10 ohm ohm dengan sumber tegangan 20 s / c)
I1 kemudian menjadi 30 - VTh / (10 + r)
I1 = 30 - 400/30 / 10 + 200/30 = 900/30 - 400/30 / (300/30 + 200/30)
= 500/30 / 500/30 = 1 amp
Di atas adalah contoh numerik berantakan, tapi ini juga dapat diselesaikan dengan
menggunakan Kirchhoff atau program simulator. Hasil awal kadang-kadang terbaik
disimpan sebagai pecahan untuk membuat divisi ini lebih mudah.
Norton
Teorema Norton mengubah sebuah sirkuit biasa menjadi sebuah rangkaian paralel
setara yang merupakan sumber arus secara paralel dengan resistor. Teknik ini mirip
dengan teorema Thevenin dan dua poin di sirkuit harus didefinisikan, ini adalah di mana
analisis tersebut akan berlangsung.

Rn. Seperti dengan Thevenin, rangkaian ekuivalen adalah generator berjalan Pada dan
norton setara resistensi, Rn. Ini harus bekerja keluar untuk menggunakan teorema
Norton. Analisis poin menggunakan Norton hubung singkat, sedangkan dengan
menggunakan Metode Thevenin mereka sirkuit terbuka.
Nilai
VTh
dan
RTH
Nilai VTh ditemukan dengan mengukur baik (jika Anda tidak tahu apa yang ada di
sirkuit) atau menggunakan analisis rangkaian. Untuk menemukan RTH (dengan beban
dihapus) perlengkapan hubung singkat tegangan, sumber arus terbuka dan menghitung
resistensi setara.
Contoh
Teorema Norton ditunjukkan untuk menemukan I1 saat ini dalam diagram di bawah ini:

Titik A dan B adalah di mana konversi berlangsung Norton, resistor 50 ohm benar
dihapus, A dan B adalah hubung singkat, lihat di bawah ini:

Pertama, arus total dihitung; 100 / (50 + 100 | | 50) = 1,2 amp. Using the current
division
rule,
Menggunakan
aturan
pembagian
saat
ini,
Dalam adalah bekerja keluar: 1.2 * 100 / (50 100) = 0,8 amp
Rn 50 + 100 | | 50 = 83,3333 ohm
Rangkaian ekuivalen Norton sekarang dapat diselesaikan dengan tangan kanan 50
ohm resistor termasuk:

Arus sekarang saya dapat ditemukan dengan menggunakan aturan pembagian saat ini:
I
=
0,8
*
(83,3333
/
(50
+
83,3333)
=
0,5
amp
Hal ini dapat diverifikasi menggunakan metode Thevenin atau program simulasi.
1.3 Alat-alat yang digunakan
-

Kit praktikum teorema thevenin dan teorema Norton


Sumber tegangan searah
Multimeter (2 buah)
Kabel penghubung

1.4 Prosedur Percobaan


a. Teorema Thevenin
Cara 1: dalam percobaan ini, teorema thevenin hendak kita manfaatkan untuk mencari
arus yang mengalir di beban R (berbagai nilai beban R 1, R2, R3 dan R4) secara tak
langsung. Beban R dipasang dicabang C-D kemudian mengukur nilai V T, RT dan IR.
Hasilnya dibandingkan dengan pengukuran langsung dengan mengukur arus yang
mengalir melalui beban R menggunakan mA-meter.
Prosedur percobaan:
1. Mengukur arus. Pasanglah sumber tengangan searah 15 volt pada A-B. pada cabang
C-D pasanglah mA-meter seri dengan beban R 1. Bacalah arus melalui R1.
2. Mengukur VT. Bukalah beban dan mA-meter, sehingga C-D terbuka (open circuit).
Ukurlah tegangan open circuit C-D dengan voltmeter atau alat pengukur tegangan lain
yang mempunyai impedansi input tinggi. Tegangan ini sama dengan V T. Jaga agar
tegangan sumber A-B tetap=15 volt.
3. Mengukur RT. Mengukur besar resistansi yang dirasakn pada terminal C-D diperoleh
dengan membuka hubungan sumber tegangan dari A-B kemudian hubung-singkatkan
A-B. ukurlah resistansi pada terminal C-D dengan ohm-meter. Ukurlah resistansi R 1
dimana R1=RT.
4. Hitunglah arus yang melalui R1
5. Membandingkan hasil. Bandingkan hasil perhitungan (4) dengan hasil perhitungan (1).
6. Ulangi langkah (1)-(5) untuk beberapa beban R lainnya R 2, R3 dan R4

7. Tuliskan hasil pengamatan ditabel dalam lembaran kerja.

Cara 2:
1. Mengatur tegangan sumber = V T. Aturlah tegangan sumber V sama dengan harga V T
yang telah diukur pada percobaan terdahulu.
2. Memasang RT seri dengan VT sebagai RT, pergunakan rangkaian N dengan A-B yang
dihubung-singkatkan dan pasangkan mengikuti gambar diatas.
3. Mengukur arus. Ukurlah arus yang mengalir pada R 1.
4. Ulangilah percobaan tersebut untuk R lainnya R 2, R3 dan R4 (=hubung-singkatkan)
5. Tulislah hasil percobaan di table yang tersedia dalam lembaran kerja.
b. Teorema Norton
1. Mengukur IN. pasanglah sumber tegangan searah15 volt pada A-B. ukurlah arus
hubung singkat pada C-D (pasanglah mA-meter langsung pada C-D)
2. Memasang RN. Nilai RN=RT diperoleh dari percobaan terdahulu. Dalam hal ini rangkaian
N akan ita pergunakan sebagai pengganti RN.
3. Aturlah sumber arus sehingga menghasilkan arus sebesar I N seperti yang diukur dari (1)
diatas. Kemudian susunlah rangkaian seperti gambar dibawah ini.
4. Mengukur arus. Menggunakan mA-meter ukur yang mengalir di R 1, R2, R3 dan R4
5. Tulislah hasil pengamatan saudara di table pada lembaran kerja.