You are on page 1of 9

POLICY BRIEF

OUTLOOK PERTANIAN 2015 – 2019
Adi Setiyanto, SP, MSi
Pendahulan
1. Kajian Outlook Pertanian merupakan salah satu komponen penting karena
menghasilkan analisis mengenai status, perkembangan dan prospek sektor
pertanian dengan memperhatikan perubahan ekonomi, sosial, kelembagaan dan
teknologi baik yang berasal dari internal sektor pertanian maupun dari eksternal
atau di luar sektor pertanian, serta baik dari dalam negeri maupun dari luar
negeri. Tujuan umum dari kajian ini adalah menghasilkan rekomendasi kebijakan
sektor pertanian lima tahun ke depan. Secara khusus, tujuan dari kajian adalah
sebagai berikut: (i) Menyusun dan menganalisis Outlook Pertanian 2015 – 2019;
dan (ii) Merumuskan alternatif strategi kebijakan dan program-program untuk
mencapai target-target pembangunan pertanian periode 2015 – 2019. Metode
analisis yang digunakan untuk adalah multimarket model dengan dukungan
analisis pendukung model kuantitatif, dengan pendekatan model time series uni
variate dan multivariate. Pada aspek-aspek yang tidak dapat dijawab dengan
pendekatan kuantitatif dilakukan analisis dengan pendekatan kualitatif dan kajian
pustaka.
2. Fokus komoditas yang dianalisis meliputi 7 komoditas yaitu padi, jagung, kedele,
sapi potong, gula, cabe dan bawang merah, yang merupakan sebagian dari 20
komoditas unggulan yang dicakup dalam model analisis. Analisis menggunakan
asumsi tiga skenario dengan menggunakan base line data tahun 2013 untuk
prediksi yaitu: (i) Skenario I: tidak terjadi perubahan iklim dan pada periode
2015 – 2019 terpengaruh kebijakan kenaikan harga BBM 2014; (ii) Skenario II:
kondisi iklim tidak normal dan terjadi gangguan iklim yang cenderung ke arah La
Nina (sesuai prediksi Bappenas, 2009) dan pada periode 2015 – 2019
terpengaruh kebijakan kenaikan harga BBM 2014; dan (iii) Skenario III:
kondisi iklim tidak normal dan terjadi gangguan iklim yang cenderung El Nino
(sesuai prediksi Bappenas, 2010) dan pada periode 2015 – 2019 terpengaruh
kebijakan kenaikan harga BBM 2014.
Temuan Pokok Hasil Penelitian
9. Pembangunan pertanian periode 2015 – 2019 dihadapkan pada kondisi dan
dinamika perubahan lingkungan internasional dan domestik yang dinamis. Pada
lingkungan internasional berberapa perubahan yang terjadi diantaranya adalah:
(i) Perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global; (ii) Dinamika
perdagangan, investasi dan politik global; (iii) Dinamika permintaan dan
penawaran komoditas pangan dunia; (iv) Dinamika struktur, perilaku dan kinerja
pasar produk pertanian yang dikuasai oleh beberapa negara dan beberapa
perusahaan multinasional; (v) Perkembangan IPTEK pertanian yang mengacu
pada tiga jenis revolusi teknologi revolusi di bidang bio-teknologi, nano teknologi,
dan teknologi informasi; (vi) Pengembangan bio-ekonomi dan sumber energi
terbarukan; (vii) Perubahan perilaku untuk konsumsi aman dengan produk alami
dan organik; (viii) Penghargaan atas Jasa Lingkungan dan Jasa Amenity atau
1
 

Produksi komoditas diperkirakan seluruhnya mengalami peningkatan baik berdasarkan skenario I. (iv) Dinamika tatakelola dan reformasi birokrasi pemerintahan yang belum tuntas. (2) baik skenario II (kondisi iklim cenderung basah/La Nina) maupun skenario III (kondisi iklim cenderung kering/El Nino) merupakan kondisi-kondisi iklim yang tidak mendukung produksi kedele karena rata-rata produktivitas kedele cenderung turun dan (3) skenario II atau kondisi iklim basah (La Nina) merupakan kondisi iklim yang tidak mendukung produksi cabe karena rata-rata produktivitas cabe cenderung turun. kecuali pada komoditas cabe dan daging sapi. La Nina maupun El Nino. Volume permintaan komoditas secara keseluruhan pada kondisi iklim tidak normal akan lebih rendah dibanding kondisi normal (permintaan komoditas padi. 14. bawang merah dan tebu. Kenaikan harga BBM tahun 2014 yang mendorong kenaikan harga-harga komoditas pada awal tahun 2015 mendorong perkembangan produksi komoditas hingga berdampak pada meningkatnya produksi hingga tahun 2019. Kondisi perubahan iklim yang cenderung La Nina. Pada periode 2015 – 2019. 10. jagung. cenderung meningkatkan produksi lebih tinggi dibanding kondisi normal pada komoditas padi. 13. II maupun III. Perbandingan besaran dan arah perkembangan luas panen masing-masing komoditas antar skenario maka dapat dinyatakan bahwa kondisi iklim cenderung basah (La Nina) merupakan kondisi iklim yang tidak mendukung perkembangan produksi komoditas-komoditas yang dianalisis. cabe dan daging sapi. Pada kondisi iklim normal dan kecenderungan El Nino cabe mengalami surplus. seperti pada periode sebelumnya. (vii) Urbanisasi. Pada kondisi iklim yang cenderung El Nino. perkembangan produksi komoditas juga cenderung meningkat tetapi dengan tingkat produksi dan perkembangannya lebih rendah dibanding normal dan La Nina. (iii) Euforia desentralisasi yang masih kental dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. (ii) Dinamika aksesibilitas dan persaingan pemanfaatan sumberdaya lahan dan air. sementara komoditas lainnya tidak. 11. Pada kondisi iklim yang cenderung La Nina. namun lebih rendah untuk komoditas kedele. Pada komoditas lainnya berada pada kondisi defisit baik pada kondisi iklim normal. pemerataan dan beragamnya karakteristik wilayah. Sementara dari sisi prduktivitas dapat dinyatakan hal-hal sebagai berikut: (1) kondisi iklim cenderung kering (El Nino) merupakan kondisi iklim yang tidak mendukung produksi padi karena ratarata produktivitas padi cenderung turun. akan terjadi net impor pada seluruh komoditas dan menunjukkan peningkatan 2   . bawang merah dan gula tebu). dan (ix) Fokus Kebijakan Makro Kabinet Kerja 2015 – 2019.Pada lingkungan domestik pembangunan pertanian di Indonesia menghadapi beberapa kondisi diantaranya: (i) Dinamika demografi dan beban pertanian terhadap angkatan kerja. dan (ix) Transisi ekonomi dari sektor tersier atau sekunder melompat ke ekonomi kreatif. (vi) Dinamika bencana akibat letak geografis dan risiko perubahan iklim. (v) Masalah ketimpangan. jagung. kedele. padi menunjukkan kecenderungan surplus sedangkan komoditas lainnya tidak. urban sprawl dan marjinalisasi pertanian akan menjadi ancaman berat bagi pertanian Indonesia.multifungsi lahan pertanian dan pedesaan. Dinamika perkembangan permintaan komoditas menunjukkan karakteristik yang berbeda-beda menurut jenis komoditas.

Bawang Merah (2. Harga konsumen komoditas di perkotaan menunjukkan peningkatan pada semua skenario. dan Daging Sapi (2.44 % per tahun).26 persen per tahun.10 – 10. 18. Untuk komoditas padi. Permintaan jagung untuk pakan ternak meningkat rata-rata 3. Kondisi iklim dan kenaikan harga BBM dinilai menjadi penyebab banyaknya tenaga kerja 3   . Kedelai (-2.13 % per tahun). sementara itu untuk Urea maupun NPK meningkat rata-rata 1. namun terjadi perbedaan pola peningkatan dan skenario terbaik pada beberapa komoditas jika dibandingkan dengan prediksi harga konsumen. Tebu atau gula (2. Kecenderungan kebijakan melakukan impor untuk menutup defisit akan membawa dampak pada penurunan harga konsumen tidak hanya di perkotaan. Secara keseluruhan pada tiga skenario.64 % per tahun).58 – 10.19 % per tahun).64 % per tahun). hasil analisis menunjukkan marjin antara harga produsen dan konsumen yang sangat tinggi.baik pada skenario I. namun juga di pedesaan baik di Jawa maupun di Luar Jawa. Hasil analisis prediksi perkembangan harga konsumen riil bulanan di perkotaan menggambarkan: (1) harga konsumen perkotaan komoditas pertanian yang dianalisis meningkat dengan laju perubahan yang relatif beragam dan meningkat pada semua skenario. namun untuk komoditas lainnya skenario I cenderung lebih rendah dibandingkan scenario II dan III. II dan III. dan (4) laju pertumbuhan harga produsen antar tahun pada bulan yang sama berturut-turut adalah: padi (-0. dimana jumlah tenaga kerja pertanian yang bekerja pada komoditas berbasis lahan menunjukkan peningkatan. (3) Hasil analisis prediksi harga riil produsen bulanan di Jawa dan Luar Jawa menunjukkan tren meningkat pada tahun 2015.61 -30.09 – 4.33 persen per tahun.9 – 12.02 persen per tahun. Harga jagung untuk pakan ternak menunjukkan peningkatan rata-rata 3.35 persen dan 3. Jumlah total tenaga kerja pertanian berdasarkan skenario I. Cabe (3. 16.24 persen per tahun. dan peningkatan harga pada skenario I lebih rendah jika dibandingkan skenario II dan III. jagung (1. II dan III akan mengalami penurunan. 15. Harga produsen komoditas di pedesaan Jawa dan Luar Jawa menunjukkan fenomena yang berbeda dibandingkan harga konsumen. harga produsen menunjukkan peningkatan.3 % per tahun). baik di pedesaan di Jawa maupun di Luar Jawa.2019.39 -12. Pada kondisi iklim cenderung El Nino akan terjadi kondisi volume net impor paling tinggi. Peningkatan harga BBM dan kondisi perubahan produksi akibat kondisi iklim menyebabkan peningkatan harga produsen. dan pada kondisi La Nina volume net impor komoditas paling rendah. (2) Prediksi perkembangan harga konsumen di pedesaan baik di Jawa maupun di luar Jawa menunjukkan pola yang hampir sama dengan prediksi perkembangan harga konsumen perkotaan. Disamping menunjukkan bahwa kondisi dimana harga di tingkat konsumen relatif lebih rendah peningkatannya. sedangkan untuk yang bekerja pada komoditas tidak berbasis lahan menunjukkan penurunan. Hasil prediksi permintaan dan harga input menunjukkan tidak ada perbedaan hasil analisis antara skenario I. tingkat perkembangan harganya menunjukkan kecenderungan lebih tinggi pada skenario I dibandingkan skenario II dan III. II dan III. 17.92 % per tahun). sedangkan harga pupuk non subsidi Urea dan NPK masing-masing menunjukkan peningkatan 2.77 – 7.

kelompok rumah tangga kaya di perkotaan dan pedesaan Jawa serta kelompok menengah di luar Jawa menunjukkan tingkat perkembangan paling rendah. Hal ini menunjukkan sekalipun dari sisi nilai. Demikian pula tingkat pekembangan untuk skenario II juga lebih tinggi dibandingkan skenario III. Apabila terjadi perubahan iklim. Golongan rumah tangga menengah di Jawa yang mengalami penurunan kontribusi tertinggi. Perubahan harga BBM 2014 dan kemungkinan terjadinya 4   . Dilihat dari perkembangan nilainya. 22. Kelompok rumah tangga kaya baik di Jawa maupun di Luar Jawa memiliki tingkat perkembangan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya pada seluruh skenario. dimana kejadian iklim El Nino memiliki kecenderungan jumlah tenaga kerja yang keluar dari pertanian lebih besar dibandingkan La Nina. Adanya kenaikan harga BBM. hanya kontribusi pada golongan rumah tangga kaya di Jawa yang meningkat. Pada skenario II. kelompok rumah tangga yang terkena dampak paling besar adalah kelompok rumah tangga menengah baik di perkotaan maupun di pedesaan. namun ketimpangan pendapatan akan semakin tinggi karena golongan kaya dan miskin memiliki peningkatan pendapatan yang lebih tinggi dibanding kelompok menengah. Nilai dan tingkat perkembangan pendapatan riil per kapita pada skenario I lebih tinggi dibandingkan dengan skenario II dan III. skenario I merupakan yang terendah. maka pendapatan seluruh kelompok rumah tangga baik nilai maupun tingkat perkembangannya akan relatif lebih rendah dibanding normal. kelompok miskin di pedesan di Jawa merupakan yang tertinggi. kecuali kelompok menengah di pedesaan Jawa.pertanian yang tidak berbasis lahan untuk keluar dari pekerjaan pertanian. kemudian diikuti oleh kelompok menengah dan miskin. atau skenario II atau skenario III terjadi. Pada kejadian perubahan harga BBM kelompok rumah tangga menengah di luar Jawa yang paling terkena dampak. 20. Dilihat dari perubahannya. kemudian diikuti skenario II dan yang tertinggi skenario III. serta kelompok miskin di Luar Jawa. Adanya peningkatan BBM yang terjadi bersamaan dengan perubahan iklim. kontribusi pendapatan dari pertanian terhadap total pendapatan rumah tangga pedesaan di Jawa dan Luar Jawa cenderung menurun. Namun demikian tingkat perkembangan dan jumlahnya terkait dengan fenomena iklim yang terjadi. tetap kelompok kaya yang harus mengeluarkan tambahan pengeluaran yang tertinggi. Sementara itu. Pada skenario I. Pada periode 2015 – 2019 mendatang jumlah penduduk miskin akan menurun seiring dengan peningkatan pendapatannya. 19. kontribusi pendapatan pertanian menunjukkan penurunan pada seluruh kelompok rumah tangga pertanian di Jawa dan kelompok menengah di Luar Jawa. Hal ini terjadi baik jika kondisi skenario I. 21. kelompok rumah tangga yang terkena dampak paling besar adalah kelompok rumah tangga miskin. pada skenario III penurunan terjadi pada kelompok rumah menengah di Jawa dan Luar Jawa. Peningkatan harga BBM tahun 2014 dan kondisi iklim pada tahun 2015 – 2019 membawa konsekuensi penurunan pendapatan per kapita dan menimbulkan adanya per capita income required to compensate for loss yang identik dengan nilai tambahan pengeluaran yang ditanggung oleh rumah tangga.

namun sebaliknya apabila ada gangguan iklim. 27. prediksi lebih rendah pada scenario III. kecuali pada scenario III. sasaran produksi pada periode 2015-2019 tidak berbeda jauh prediksi produksi. 24. Pada komoditas kedele menunjukkan tingkat kesenjangan yang paling tinggi dibandingkan komoditas lainnya. Programprogram sebelumnya baik on farm maupun off farm perlu ditingkatkan. Hasil analisis menunjukkan sasaran Renstra Kementan lebih rendah jika dibandingkan hasil analisis outlook. dimana hasil analisis menunjukkan produksi lebih rendah dibanding sasaran dalam Renstra Kementan 2019 – 2019. Hal ini terlihat dari kondisi: (i) Pencapaian realiasi relatif 5   . Namun demikian Sasaran yang ditetapkan dalam Renstra Kementan tidak demikian. Hasil prediksi outlook menunjukkan angka yang lebih rendah dibandingkan sasaran RPJMN teknokratik atau dengan kata lain sasaran teknokratik lebih tinggi. maka sasaran RPJMN tidak akan dapat dicapai dan diperlukan program khusus untuk pencapaian sasaran tersebut. Adanya penetapan sasaran Kemtan yang lebih rendah menunjukkan terdapat masalah kelembagaan yang sangat serius di tingkat Kementan yang harus dibenahi. bahwa apabila terjadi kondisi iklim tidak normal dan terjadi gangguan iklim. sasaran jauh lebih tinggi dibandingkan hasil prediksi Outlook namun ada kesenjangan sasaran dibandingkan prediksi outlook yang semakin besar. Hasil analisis kinerja pembangunan pertanian periode 2004 – 2014 menunjukkan penurunan dari sisi kinerja produksi. Seharusnya Sasaran Kementan minimal sama atau bahkan harus lebih tinggi dari sasaran RPJMN teknokratik Bappenas. Senjang sasaran produksi dengan prediksi terbesar berikutnya adalah pada komoditas daging sapi-kerbau. Pencapaian sasaran memerlukan upaya perencanaan dan pelaksanaan implementasi kegiatan pembangunan yang lebih efisien dan efektif. untuk komoditas cabe. PDB maupun penyerapan tenaga kerja dibanding anggaran. dan terobosan baru perlu dilakukan. prediksi Outlook lebih tinggi dari sasaran Kementan. Diperlukan pematangan dan kesepakatan agar sasaran Kementan minimal sama atau lebih dari sasaran RPJMN teknokratik Bappenas. 23. Konsekuensinya adalah bahwa upaya peningkatan produksi ke-dua komoditas tersebut memerlukan perhatian semua pemangku kebijakan serta diperlukan dukungan dana yang cukup besar dan implementasi perencanaan dalam bentuk pembangunan yang lebih efisien dan efektif. Hal ini disebabkan karena perbedaan pertumbuhan prediksi yang lebih kecil dibandingkan pertumbuhan sasaran. sapi potong dan gula dimana sasaran RPJMN 2015 – 2019 jauh lebih tinggi dari prediksi outlook. Hal ini merupakan masukan penting bagi para perencana dan pengambil keputusan nasional. Pada komoditas jagung dan daging sapi. kecuali pada tahun 2015 – 2016 untuk skenario I dan II dan skenario III. perhatian khusus sangat diperlukan pada komoditas kedelai. yang paling menerima dampak dan memiliki tingkat tambahan pengeluaran yang tertinggi adalah kelompok miskin.perubahan iklim. kecuali produksi padi tahun 2019 pada scenario II. dan kemudia diikuti gula dimana senjang sasaran juga meningkat dari tahun ke tahun. Pada kondisi normal (scenario I). Pada komoditas padi dan jagung. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas cabe merupakan komoditas yang rentan terhadap perubahan iklim. Secara umum. 26. Selain padi. 25.

28. (iii) Kurang realitisnya sasaran dan kurangnya kesesuaian dengan kondisi spesifik wilayah. (xii) Perencanaan dan implementasi tidak didasarkan atas teori kebutuhan konsumsi yang tepat. (vii) Lemahnya mobilisasi sumberdaya yang memadai. (vi) Lemahnya penetapan sasaran. (xi) Lemahnya dasar pendidikan pembangunan dan perencanaan. Perlu dilakukan perubahan pendekatan strategi kebijakan pembangunan pertanian periode 2015 – 2019 dengan: (i) Fokus komoditas dan lokasi. (iv) Menciptakan sumber-sumber pertumbuhan baru untuk produksi pertanian dengan fokus pada peningkatan infrastruktur dan perluasan areal. (ii) Penurunan kinerja semakin nampak jelas ketika pencapain kinerja tersebut dikaitkan dengan besaran nilai anggaran yang digunakan. Implikasi Kebijakan 30. (ii) Belum optimalnya kapasitas perencana dan organisasi perencana. 29. implementasi pembangunan dan pendekatan pembangunan. kemungkinan produksi pangan dunia tidak akan mampu memenuhi seluruh permintaan. (viii) Tidak adanya keseimbangan dalam perencanaan dan implementasi. Peningkatan produksi dalam negeri yang dilakukan dengan segenap kemampuan adalah jalan terbaik. prioritas pencapaian tujuan dan waktu. Perubahan iklim akan menyebabkan penurunan produksi pangan dunia. Kinerja pembangunan pertanian periode 2004 – 2014 yang semakin menurun disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya: (i) Kurangnya analisis dan dukungan data dan informasi statistik yang reliable dan relevan. menghadapi kendala investasi yang menghambat peningkatan produksi sehingga menimbulkan land grabbing. dan harga pangan dan produk pertanian dunia akan meningkat. (ix) Administrasi yang dibangun tidak ekonomis dan sistem administrasi yang dikembangkan belum efisien. Adanya kecenderungan peningkatan investasi negara-negara maju melalui perusahaan-perusahan multinasional pada negara-negara berkembang yang masih memiliki lahan yang luas. (v) Lemahnya Monitoring dan Evaluasi. (x) Perencanaan dan implementasi tidak didasarkan atas kebijakan pembangunan yang tepat. sementara Negara berkembang. dengan demikian. dan (xiii) Dukungan masyarakat dinilai kuat namun bias orientasi. 6   . (iv) Lemahnya sinkronisasi. (v) Mengubah bentuk pendanaan bantuan sosial kepada pendanaan bagi aspek-aspek yang tidak mampu dilakukan oleh swasta dan masyarakat. (ii) Peningkatan efisiensi dan efektifitas melalui penetapan program yang relatif lebih ramping dan sedikit serta pengurangan satuan kerja. sehingga prioritas diperlukan. (iii) Meningkatkan daya saing dengan fokus utama peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan aksesibilitas sumberdaya serta proteksi terhadap ancaman baik dari dalam dan luar negeri. (vi) Mengubah pendekatan yang mampu mengatasi berbagai kelemahan sisi perencanaan. secara umum menunjukkan penurunan jika dilihat dari perkembangan tingkat realisasi dibanding sasaran yang ingin dicapai. 31. Upaya perlindungan terhadap petani kecil dan upaya perluasan areal ke luar Jawa dengan pola peruntukkan bagi peningkatan penguasaan lahan petani dan pertanian dengan segala infrastrukturnya perlu dilakukan.dekat dengan target atau sasaran yang ingin dicapai.

Organisasi tersebut bersifat permanen. 7   . Selain mobilisasi sumberdaya secara besar-besaran dan fokus. market is the master. change is only constant and competition is the rule. sehingga daya saing dan efisiensi menjadi kunci. organisasi yang bertanggungjawab mulai dari pusat hingga lokasi perlu dibentuk agar arah utama kebijakan pengembangan kawasan dan proses pengembangannya sejalan dengan tujuannya. Pendekatan kawasan dinilai menjadi pendekatan yang tepat dan diharapkan mampu mengatasi berbagai kelemahan sisi perencanaan. Belajar dari pengalaman masa lalu pendekatan kawasan pertanian dinilai tepat dan lebih sesuai dengan sifat dan karakteristik komoditas pertanian. dilakukan secara bertahap dalam jangka menengah dan panjang karena mengandung unsur antisipasi. adaptasi dan mitigasi. Usaha pertanian atau agribisnis memiliki konteks pilar agribusiness is business. sehingga pengembangan sistem pertanian yang ramah lingkungan. 35. Disamping itu. merupakan gerakan massal dan dipimpin langsung oleh Presiden dengan penanggungjawab operasional adalah Menteri Pertanian. Namun demikian. 37. berdimensi kewilayahan. 33. Sehingga. jumlah satker dan perlu difokuskan pada wilayah-wilayah yang mampu mengungkit pertumbuhan dan mecapai target dan sasaran pertanian. Belajar dari keberhasilan masa lalu. terkoordinasi dan terkelola dengan baik. merupakan pembangunan yang berdimensi kewilayahan dan upaya peningkatan efisiensi dan efektifitas pembangunan pertanian. namun juga terkait masalah-masalah lainnya seperti ketenagakerjaan. implementasi pengembangan kawasan komoditas unggulan dapat dilaksanakan secara utuh. implementasi pembangunan dan pendekatan pembangunan menjadi penyebab kinerja pembangunan pertanian semakin menurun. dan jasa-jasa serta keterbukaan informasi. Strategi kebijakan dengan pendekatan kawasan penting untuk dilakukan dengan segera sesuai dengan arahan tata ruang wilayah. Implementasi ini tidak hanya menyangkut sistem perdagangan dan investasi yang terbuka. Pada tahun 2015 -2019 Indonesia berada di bawah ancaman implementasi perjanjian perdagangan dan investasi bebas. Dalam rangka meningkatkan efsiensi pembangunan pertanian ke depan membutuhan pengurangan jumlah dan jenis program. maka implikasinya adalah sektor pertanian harus diperlakukan sebagai as not as usual business. sektor pertanian di Indonesia menampung jutaan tenaga kerja dan rumah tangga pedesaan. partisipasi aktif para pemangku kepentingan mulai dari pusat hingga unit terkecil pemerintahan atau desa sangat diperlukan. sistem perencanaan pembangunan pertanian perlu dirumuskan dalam jangka panjang dan selanjutnya diterjemahkan dalam jangka menengah dan selanjutnya dioperasionalkan dalam jangka pendek. Indonesia akan terpengaruh perubahan iklim global. 36. politik pemerintahan. serta peningkatan daya saing pertanian. sistem perencanaan dan operasional pembangunan pertanian perlu direncanakan secara sistematis dan berkesinambungan untuk mencapai keberhasilannya. sistematis. fokus komoditas dan lokasi. terintegrasi atau terpadu. Berdasarkan pendekatan kawasan.32. 34.

Hortikultura dan Perkebunan belum ada. misalnya 2015 – 2045. (2) UU 26/2007 tentang Penataan Ruang. Tahapan pengembangan kawasan telah dituangkan dalam Permentan No. sehingga diperlukan kajian akademis untuk kepentingan itu. hortikultura dam peternakan dilakukan dengan pendekatan kawasan. (4) UU 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. maka Peraturan Menteri Pertanian Nomor 50 tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengembangan Kawasan Pertanian menjadi rujukan utama. Jenis kegiatan pada masing-masing tahap berbedabeda tergantung pada tingkat keterkaitan antar sentra pertanian. 42. maupun kualitas SDM dan aplikasi teknologi yang telah dilakukan. Mengingat kawasan adalah mandat dari undang-undang. Penetapan Peraturan Pemerintah mengenai pelaksanaan Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan. maka penetapan pada level Kementerian Pertanian perlu dilakukan dan hal ini perlu didukung oleh penelitian yang komprehensif. 50/2012. Penelitian Lanjutan 41. (iii) Penelitian lanjutan untuk menyempurnakan model agar mampu mencakup analisis hingga level Provinsi dan bahkan hingga level kabupaten/kota. Saat ini satu-satunya sektor yang belum memiliki kawasan adalah sektor pertanian. kekuatan sub sistem agribisnis yang ada (hulu. Mengingat belum seluruh undang-undang tersebut memiliki Peraturan Pemerintah untuk operasionalnya. 8   . Berkaitan dengan pembentukan organisasi pelaksana pengembangan kawasan pertanian. Di dalam undang-undang tersebut telah diatur bahwa pengembangan pertanian baik tanaman pangan. Agenda penelitian ke depan yang terkait dengan Outlook adalah: (i) Penelitian mengenai outlook jangka pendek dan prospek pertanian 2015 – 2019. 43. (2) Tahap penumbuhan pada kawasan yang belum berkembang. (4) Tahap perluasan kawasan. produksi. 39. (ii) Kajian outlook pertanian jangka panjang. (5) Tahap replikasi dan integrasi antar kawasan. (iv) Model analisis utama outlook pertanian setelah detailing hingga level provinsi atau kabupaten/kota perlu dikaji untuk dipatenkan. (3) Tahap pemantapan kawasan. pengembangan kawasan setidaknya dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok. Sesuai dengan peraturan tersebut.38. perkebunan. yaitu: (1) Tahap inisiasi pada kawasan yang belum berkembang. dimana tahap pengembangan kawasan komoditas unggulan didasarkan atas tingkat perkembangan masing-masing kawasan. Setiap anggota harus memahami dampaknya dan berusaha sekuat tenaga menghindari kebuntuan koordinasi dan sinergi ini demi keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengembangan komoditas strategis berbasis kawasan. arah dan kebijakan pengembangan kawasan komoditas unggulan. (5) UU 13/2010 tentang Hortikultura. dan (6) UU 39/2014 tentang Perkebunan (revisi dari UU 18/2004 tentang Perkebunan). (3) UU 18/ 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. kata kuncinya adalah koordinasi dan sinergi antar pemangku kepentingan (stakeholders) tercakup. 40. Pengembangan kawasan menjadi pendekatan yang wajib dilakukan dengan mengacu kepada: (1) UU 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. hilir dan penunjang).

44. sehungga membutuhkan kajian khusus dengan pendekatan komprehensif. Mengingat kinerja pembangunan pertanian dikaitkan dengan penggunaan dan alokasi anggaran masih rendah. efisiensi dan efektifitas pembangunan pertanian ke depan membutuhkan strategi operasional dan implementasinya. diperlukan kajian mengenai upaya peningkatan efisiensi penggunaan dan alokasi anggaran pembangunan pertanian.   9   . 45. Pendekatan kawasan sebagai exit strategi peningkatan daya saing.