You are on page 1of 7

Tugas Seni Budaya

DI SUSUN OLEH :
Andi Mahdi Ahmad Satrio
Ikrar Persada
A.Muh.Fadly Nur

Budaya Indonesia

Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan


lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional Indonesia pada tahun 1945.
Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-
suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia.
Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya
terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan
Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India terutama
masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum
Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan
Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan
berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad
ke-15 Masehi.

Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia


karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang
Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk
bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok
dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal
menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik.
Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada
kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi.

Kebudayaan Arab masuk bersama dengan penyebaran agama Islam oleh


pedagang-pedagang Arab yang singgah di Nusantara dalam perjalanan mereka
menuju Tiongkok.

Kedatangan penjelajah dari Eropa sejak abad ke-16 ke Nusantara, dan


penjajahan yang berlangsung selanjutnya, membawa berbagai bentuk
kebudayaan Barat dan membentuk kebudayaan Indonesia modern sebagaimana
yang dapat dijumpai sekarang. Teknologi, sistem organisasi dan politik, sistem
sosial, berbagai elemen budaya seperti boga, busana, perekonomian, dan
sebagainya, banyak mengadopsi kebudayaan Barat yang lambat-laun
terintegrasi dalam masyarakat.

TARI SAMAN
Tari Saman adalah salah satu tarian daerah Aceh yang paling terkenal saat ini. Tarian
ini berasal dari dataran tinggi Gayo. Pada masa lalu, Tari Saman biasanya ditampilkan untuk
merayakan peristiwa – peristiwa penting dalam adat dan masyarakat Aceh. Selain itu
biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Pada
kenyataannya nama “Saman” diperoleh dari salah satu ulama besar Aceh, Syech Saman.Tari
Saman biasanya ditampilkan menggunakan iringan alat musik, berupa gendang dan
menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya dikombinasikan
dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi dan menghempaskan
badan ke berbagai arah.

Tarian ini dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syech. Karena
keseragaman formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dalam menampilkan tarian
ini, maka para penari dituntut untuk memiliki konsentrasi yang tinggi dan latihan yang serius
agar dapat tampil dengan sempurna.

Tarian ini dilakukan secara berkelompok, sambil bernyanyi dengan posisi duduk
berlutut dan berbanjar/bersaf tanpa menggunakan alat musik pengiring.

Karena kedinamisan geraknya, tarian ini banyak dibawak/ditarikan oleh kaum pria,
tetapi perkembangan sekarang tarian ini sudah banyak ditarikan oleh penari wanita maupun
campuran antara penari pria dan penari wanita. Tarian ini ditarikan kurang lebih 10 orang,
dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi.

Bagi para penikmat seni tari, Saman menjadi salah satu primadona dalam
pertunjukan. Dalam setiap penampilannya, selain menyedot perhatian yang besar juga
menyedot para penikmat seni tari. Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik,
karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak
badan, kepala dan posisi badan. Keunikan lainnya terlihat dari posisi duduk para penari dan
goyangan badan yang dihentakkan ke kiri atau ke kanan, ketika syair-syair dilagukan.

Tari ini biasanya dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki, tetapi jumlahnya
harus ganjil. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tarian ini dimainkan pula oleh kaum
perempuan atau campuran antara laki-laki dan perempuan. Dan tentunya dengan modifikasi
gerak lainnya. Saya kadang bertanya bagaimana orang sebanyak itu bisa dengan serentak
memainkan tarian yang memiliki kecepatan tinggi? Selain latihan tentunya, pasti ada formasi
tertentu dalam meletakkan tiap-tiap penari itu sehingga kerapatan dan keseimbangan tarian
terlihat harmonis dan dinamis.

Hampir semua tarian Aceh dilakukan beramai-ramai. Ini memerlukan kerjasama dan
saling percaya antara syeikh (pemimpin dalam tarian) dengan para penarinya. Namun apa
saja unsur yang membuat tarian ini menjadi begitu indah dalam gerak, irama dan
kekompakan tidak banyak kita mengetahuinya.
Sekarang mari kita mulai mengupas unsur pendukung dalam tari saman ini. Mungkin
saat kita mengetahui segala aspek yang terdapat dalam tarian ini, kita dapat lebih memahami.
Dan mendapatkan tidak hanya keindahan namun juga makna filosofi dari posisi, gerak, syair
yang terlantun saat pertunjukan Saman di gelar.

Dalam penampilan yang biasa saja (bukan pertandingan) dimana adanya keterbatasan
waktu, Saman bisa saja dimainkan oleh 10 – 12 penari, akan tetapi keutuhan Saman
setidaknya didukung 15 – 17 penari. Yang mempunyai fungsi sebagai berikut :

* Nomor 9 disebut Pengangkat

Pengangkat adalah tokoh utama (sejenis syekh dalam seudati) titik sentral dalam Saman,
yang menentukan gerak tari, level tari, syair-syair yang dikumandangkan maupun syair-syair
sebagai balasan terhadap serangan lawan main (Saman Jalu / pertandingan)

* Nomor 8 dan 10 disebut Pengapit

Pengapit adalah tokoh pembantu pengangkat baik gerak tari maupun nyanyian/ vokal

* Nomor 2-7 dan 11-16 disebut Penyepit

Penyepit adalah penari biasa yang mendukung tari atau gerak tari yang diarahkan
pengangkat. Selain sebagai penari juga berperan menyepit (menghimpit). Sehingga kerapatan
antara penari terjaga, sehingga penari menyatu tanpa antara dalam posisi banjar/ bershaf
(horizontal) untuk keutuhan dan keserempakan gerak.

* Nomor 1 dan 17 disebut Penupang

Penupang adalah penari yang paling ujung kanan-kiri dari barisan penari yang duduk
berbanjar. Penupang selain berperan sebagai bagian dari pendukung tari juga berperan
menupang/ menahan keutuhan posisi tari agar tetap rapat dan lurus. Sehingga penupang
disebut penamat kerpe jejerun (pemegang rumput jejerun). Seakan-akan bertahan
memperkokoh kedudukan dengan memgang rumput jejerun (jejerun sejenis rumput yang
akarnya kuat dan terhujam dalam, sukar di cabut.

Tari saman ditarikan dalam posisi duduk. Termasuk dalam jenis kesenian ratoh duk
(tari duduk). Yang kelahirannya erat berkaitan dengan masuk dan berkembangnya agama
islam. Dimana posisi penari duduk berlutut, berat badan tertekan kepada kedua telapak kaki.
Pola ruang pada tari saman juga terbatas pada level, yakni ketinggian posisi badan. Dari
posisi duduk berlutut berubah ke posisi diatas lutut (Gayo – berlembuku) yang merupakan
level paling tinggi, sedang level yang paling rendah adalah apabila penari membungkuk
badan kedepan sampai 45o (tungkuk) atau miring kebelakang sampai 60o (langat). Terkadang
saat melakukan gerakan tersebut disertai gerakan miring ke kanan atau ke kiri yang disebut
singkeh. Ada pula gerak badan dalam posisi duduk melenggang ke kanan-depan atau kiri-
belakang (lingang).

Selain posisi duduk dan gerak badan, gerak tangan sangat dominan dalam tari saman.
Karena dia berfungsi sebagai gerak sekaligus musik. Ada yang disebut cerkop yaitu kedua
tangan berhimpit dan searah. Ada juga cilok, yaitu gerak ujung jari telunjuk seakan
mengambil sesuatu benda ringan seperti garam. Dan tepok yang dilakukan dalam berbagai
posisi (horizontal/ bolak-balik/ seperti baling-baling). Gerakan kepala seperti mengangguk
dalam tempo lamban sampai cepat (anguk) dan kepala berputar seperti baling-baling (girek)
juga merupakan ragam gerak saman. Kesenyawaan semua unsur inilah yang menambah
keindahan dan keharmonisan dalam gerak tari saman.

Karena tari saman di mainkan tanpa alat musik, maka sebagai pengiringnya di gunakan
tangan dan badan. Ada beberapa cara untuk mendapatkan bunyi-bunyian tersebut:

1. Tepukan kedua belah tangan. Ini biasanya bertempo sedang sampai cepat

2. Pukulan kedua telapak tangan ke dada. Biasanya bertempo cepat

3. Tepukan sebelah telapak tangan ke dada. Umunya bertempo sedang.

4. Gesekan ibu jari dengan jari tengah tangan (kertip). Umunya bertempo sedang.

Dan nyanyian para penari menambah kedinamisan dari tarian saman. Dimana cara
menyanyikan lagu-lagu dalam tari saman dibagi dalam 5 macam :

1. Rengum, yaitu auman yang diawali oleh pengangkat.

2. Dering, yaitu regnum yang segera diikuti oleh semua penari.

3. Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari
pada bagian tengah tari.

4. Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi
melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak

5. Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh
penari solo.

Dalam setiap pertunjukan semuanya itu di sinergikan sehingga mengahasilkan suatu


gerak tarian yang mengagumkan. Jadi kekuatan tari Saman tidak hanya terletak pada syairnya
saja namun gerak yang kompak menjadi nilai lebih dalam tarian. Ini boleh terwujud dari
kepatuhan para penarinya dalam memainkan perannya masing-masing.

Itulah sekelumit tentang fungsi formasi, jenis gerak, asal musik pengiring serta
nyanyian dalam pertunjukan tari Saman. Semoga bermanfaat bagi anda dalam memahami
tarian Saman.

Sedikit Sejarah Tari Saman: Tari ini berasal dari dataran tinggi tanah Gayo. Di
ciptakan oleh seorang Ulama Aceh bernama Syekh Saman. Pada mulanya tarian ini hanya
merupakan permainan rakyat biasa yang disebut Pok Ane. Melihat minat yang besar
masyarakat Aceh pada kesenian ini maka oleh Syekh disisipilah dengan syair-syair yang
berisi Puji-pujian kepada Allah SWT. Sehingga Saman menjadi media dakwah saat itu.
Dahulu latihan Saman dilakukan di bawah kolong Meunasah (sejenis surau, saat itu bangunan
aceh masih bangunan panggung). Sehingga mereka tidak akan ketinggalan untuk shalat
berjamaah.

Sejalan kondisi Aceh dalam peperangan maka syekh menambahkan syair-syair yang
manambah semangat juang rakyat Aceh. Tari ini terus berkembang sesuai kebutuhannya.
Sampai sekarang tari ini lebih sering di tampilkan dalam perayaan-perayaan keagamaan dan
kenegaraan. Tarian ini pada awalnya kurang mendapat perhatian karena keterbatasan
komunikasi dan informasi dari dunia luar. Tari ini mulai mengguncang panggung saat
penampilannya pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II dan peresmian pembukaan Taman
Mini Indonesia Indah (TMII). Gemuruh Saman di TMII menggemparkan tidak hanya
nusantara namun sampai ke manca negara. Saya sebagai anak negeri ini berharap semoga tari
Saman bisa terus menggema.