You are on page 1of 4

Agama dalam Kehidupan

Oleh: Mohammad Mahdi Fathoni, 0906555840

Judul:”Sumber Akhlak dan Budi Pekerti: Agama”

Penulis: R. Ismala Dewi, S.H. M.H., dkk, tim penulis Universitas


Indonesia

Data Publikasi: Buku Ajar II Manusia, Akhlak, Budi Pekerti dan


Masyarakat, Bab II, 2009, 24-28

Mayoritas diri kita mungkin telah lama memeluk agama, bahkan


sudah sejak kita masih kecil. Namun, tidak sedikit dari
pertanyaan yang timbul seputar agama. Pada dasarnya, apakah
agama itu? Apa peranan dan fungsinya dalam kehidupan kita?
Mungkinkah seseorang dapat bertahan hidup tanpa agama?
Bagaimana kita dapat membedakan antara orang yang
beragama dan tidak beragama? Seringkali terbentuk paradigma
bahwa apabila seseorang belajar agama akan belajar filsafat
pula. Apabila belajar filsafat, seseorang cenderung akan
mengalami kebingungan dalam beragama. Samakah agama dan
filsafat itu?

Berdasarkan pengertian asal kata, agama dapat diartikan


sebagai ikatan yang berasal dari sesuatu kekuatan yang lebih
tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tidak dapat
ditangkap oleh pancaindera tetapi mempunyai pengaruh yang
sangat besar terhadap kehidupan manusia sehari-hari.

1
Secara terminologi, agama dapat diartikan sebagai:

1. Kepercayaan dari pada suatu bentuk hidup yang mengandung


pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri
manusia dan memengaruhi perbuatan-perbuatan manusia;
2. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan
cara hidup tertentu;
3. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari sesuatu kekuatan
gaib;
4. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang
diyakini bersumber pada kekuatan gaib;
5. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan
lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang
terdapat dalam alam sekitar manusia;
6. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia
melalui seorang Rasul. (Jalaludin Rahmat, 2001:13)

Dari segi sosiologis, agama dapat diartikan sebagai suatu sistem


kehidupan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan
oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam
menginterpretasikan dan memberi respon terhadap apa yang
dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. Secara
umum, agama dapat disimpulkan sebagai seperangkat aturan
dan peratuaran yang mengatur hubungan manusia dengan
Tuhan dan manusia dengan manusia lainnya, serta manusia
dengan lingkungannya.

Sebagai sistem keyakinan, agama berbeda dengan sistem-sistem


keyakinan yang lain. Hal ini disebabkan oleh landasan keyakinan
keagamaan bertumpu pada konsep sakral dan profan dengan
kata lain dibedakan dari supranatural dengan natural. Selain itu,
ajaran-ajaran agama selalu bersumber pada wahyu yang

2
berisikan petunjuk-petunjuk Tuhan yang diturunkan kepada
Rasul-Nya. Bagi penganutnya, agama berisikan ajaran mengenai
kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan
petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan akhirat
sebagai manusia yang takwa kepada Tuhan, beradab dan
manusiawi, yang berbeda dengan cara hidup hewan atau
makhluk-makhluk gaib yang jahat. Jadi, keyakinan keagamaan
berorientasi pada masa yang akan datang. Agama dapat menjadi
bagian dan inti dari sistem-sistem yang ada dalam kebudayaan
dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong dan
penggerak, serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para
anggota masyarakat tersebut agar tetap berjalan sesuai dengan
nilai kebudayaan dan ajaran agamanya. Pengaruh ajaran agama
itu sangat kuat terhadap sistem-sistem nilai yang ada dalam
kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.

Apabila membahas tentang topik-topik etis, pada umumnya


agama memberi informasi dan berusaha memberi motivasi agar
umatnya mematuhi nilai-nilai dan norma-norma yang sudah
diterimanya berdasarkan iman, sedangkan filsafat berusaha
memperlihatkan perbuatan tertentu diaggap baik atau buruk
dangan menunjukkan alasan-alasan yang rasional. Demikinan
juga, ada perbedaan tentang kesalahan moral. Dalam konteks
agama, kesalahan moral adalah dosa, karena melanggar
perintah-Nya. Dari sudut filsafat moral, kesalahan moral
dianggap pelanggaran prinsip etis yang seharusnya dipatuhi.
Oleh karena itu, kesalahan moral pada dasarnya merupakan
sebuah inkosekuensi rasional (K. Bertens, 2002:38).

Agama tidak mengalami perubahan-perubahan (Greetz 1971)


tetapi yang berubah adalah tradisi-tradisi keagamaan atau
sistem-sistem keyakinan keagamaan, sedangkan teks suci atau

3
doktrin agama itu tidak berubah. Jadi, agama tidak akan hilang
dan digantikan dengan sistem kehidupan sekuler. Perubahan
keyakinan keagamaan, antara lain disebabkan oleh adanya
perbedaan dalan menginterpretasi oleh para penganut agama
dan oleh situasi-situasi yang berubah yang dilihat dari
interpretasi-interpretasi oleh para penganut agama tersebut
secara berlainan. (Roland Robertson, 1998:3)

Sesuai dengan pembahasan, dapat dipahami bahwa perilaku


manusia, baik individu, kehidupan dalam kelompok terkecil
maupun kelompok luas masyarakat dan lingkungan, didasari oleh
keyakinan agama yang kemudian membudaya dalam diri dan
lahir menjadi tradisi. Keyakinan yang melekat pada manusia
terhadap sesuatu seringkali dijadikan titik tolak untuk berbuat,
bahkan dijadikan sebagai pandangan hidup. Dengan demikian
agama dan falsafah hidup dijadikan sebagai sumber dalam
berperilaku.