You are on page 1of 3

Identitas Kebersamaan dalam Ideologi

Oleh: Mohammad Mahdi Fathoni, 0906555840

Judul:”Ideologi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara;


Nasionalisme”

Penulis: Dr. Irmayanti Meliono, M.Si, dkk, tim penulis, Universitas


Indonesia

Data Publikasi: Buku Ajar I Logika, Filsafat Ilmu, dan Pancasila,


Bab II, 2009, 67-68, 73-74

Salah satu ciri yang menandai suatu bangsa yaitu, adanya


kemajemukan budaya seperti ras, suku bangsa, agama dan
bahasa ataupun kemajemukan sosial seperti perbedaan-
perbedaan yang diakibatkan oleh perkerjaan, pendidikan status
ekonomi dan kekuasaan yang dimiliki. Kemajemukan-
kemajemukan tersebut tentunya menimbulkan permasalahaan
dalam menentukan identitas bersama yang menjadi dasar dalam
hidup berbangsa dan bernegara. Dalam kelompok-kelompok
masyarakat tertentu memiliki suatu sistem nilai tersendiri untuk
mencapai kepentingan tiap-tiap kelompok, tidak sedikit dari nilai-
nilai tersebut yang saling bertentangan. Sehingga dibutuhkan
suatu pemersatu yang menjadikan identitas bersama sebagai
landasan untuk menyusun tatanan masyarakat.

Terdapat empat tipe nilai yang dapat dijadikan sebagai sumber


pembentuk identitas bersama, menurut kajian yang dilakukan
Andrain (1992: 82-84), yaitu, nilai primordial, nilai sakral, nilai
personal, dan nilai sipil. Ideologi merupakan bagian dari tipe nilai
sakral, nilai yang berasal dari keyakinan-keyakinan sakral yaitu
suatu komitmen pada tujuan akhir yang berada di luar realitas
empiris, juga merupakan suatu sumber pembentukan identitas
bersama. Dengan ideologi, suatu masyarakat atau bangsa
menentukan arah dan tujuan hidup berbangsa dan bernegara.
Selain itu, fungsi penting lainnya yaitu untuk memisahkan antara
in group (kita) dan out group (mereka atau bangsa lain).
Sehingga ideologi berfungsi sebagai pemersatu.

Nasionalisme merupakan salah satu bentuk dari suatu ideologi


berperan penting dalam pembentukan negara-bangsa.
Nasionalisme sendiri baru berkembang di Eropa pada akhir abad
ke-18 hingga abad ke-20. Dalam hal ini, titik pembahasan
terletak pada bangsa. Sehingga nasionalisme dapat diartikan
sebagai sebuah kesadaran nasional, ideologi politik, dan gerakan
politik yang mengarahakan bangsa menuju pembentukan
organisasi politik yang ideal. Negara bangsa adalah suatu konsep
negara yang terdiri dari satu bangsa, bangsa di sini adalah
rakyat yang berdaulat. Pembentukan negara-bangsa
mensyaratkan para anggota bangsa tersebut memiliki kesadaran
bahwa:

1. Mereka tinggal dalam teritori yang sama sehingga


menimbulkan rasa memiliki negara yang sama.
2. Mereka memiliki identitas nasional yang terkristalisasi dari
sejarah, bahasa, dan budaya yang sama.
3. Mereka merupakan anggota bangsa yang sama.

Ketiga hal inilah yang mampu mempersatukan rakyat yang


terpisah secara geografis dan juga menumbuhkan rasa tanggung
jawab politik bersama. Bangsa dalam konteks ini dicirikan
dengan adanya tanggung jawab politik bersama dari para
anggotanya. Dalam sejarah, pembangunan bangsa sebagai
kesatuan politis dilatarbelakangi oleh gagasan kedaulatan rakyat
yang merupakan reaksi terhadap gagasan kedaulatan raja yang
bersifat absolut. Gagasan kedaulatan rakyat ini kemudian
memunculkan istilah warga negara. Dengan kata lain, adanya
rasa kebersamaan senasib sepenanggungan mengakibatkan
membulatnya semua suara aspirasi sehingga menyatukan
konsep dan persepsi ideologi yang menjadikan suatu tatanan
masyarakat menjadi satu. Sebagai akibatnya, negara dipahami
sebagai tatanan politik yang melambangkan kehendak rakyat.
Selain itu, sebagai anggota bangsa, rakyat pun berhak
memnentukan pemerintahan sendiri