You are on page 1of 15

Difteri

Difteri adalah penyakit akut yang mengancam nyawa yang disebabkan Corynebacterium
diphtheria, terutama menyerang tonsil, faring,laring, hidung, adakalanya menyerang selaput
lendir

atau

kulit

serta

kadang-kadang

konjungtiva

atau

vagina.

Corynebacterium

diphtheriaea adalah organisme yang minimal melakukan invasive, secara umum jarang
memasuki aliran darah, tetapi berkembang local pada membrane mukosa atau pada jaringan yang
rusak dan menghasilkan exotoxin yang paten, yang tersebar keseluruh tubuh melalui aliran darah
dan system limpatik.
Cara penularan adalah melalui kontak dengan penderita atau carrier; jarang sekali penularan
melalui peralatan yang tercemar oleh discharge dari lesi penderita difteri. Penyakit ini ditandai
dengan adanya membrane semu di tonsil dan sekitarnya.
Tindakan pemberantasan yang efektif adalah dengan melakukan imunisasi aktif secara luas
(massal) dengan Diphtheria Toxoid (DT). Imunisasi dilakukan pada waktu bayi dengan vaksin
yang mengandung diphtheria toxoid, tetanus toxoid, antigen “acellular pertussis: (DTaP, yang
digunakan di Amerika Serikat) atau vaksin yang mengandung whole cell pertussis (DTP).

dan Afrika. maka kasus dan kematian akibat difteria berkurang sangat banyak. 9Dari wabah ini mayoritas kasus telah terjadi di kalangan . termasuk beberapa negara Karibia dan Amerika Latin. Sebagian besar kasus (77%) menyerang usia 15 tahun dan lebih . biasanya menyerang remaja dan orang dewasa. Di Ekuador. Angaka mortalitas berkisar 5-10%. Eropa Timur. dalam 75 tahun kembali ke Amerika Serikat dari negara dengan penyakit endemic.1 Dari tahun 1980 sampai 2010.82%). Pada awal tahun 1980-an terjadi peningkatan insidensi kasus difteria pada negara bekas Uni Soviet karena kekacauan program imunisasi.empat dari lima kasus fatal terjadi di kalangan anak-anak yang tidak divaksinasi.1 Sebelum era vaksinasi. Pada tahun 2000-an epidemic difteria masih terjadi dan menjalar ke negaranegara tetangga. Bandung(RSHS). dan pada tahun 1990-an masih terjadi epidemic yang besar di Rusia dan Ukraina. Di Amerika Serikat selama tahun 1980-1996 terdapat 71% kasus yang menyerang usia kurang dari 14 tahun. Namun sejak mulai diadakannya program imunisasi DPT(di Indonesia pada tahun 1974). Makasar(RSWS). pada tahun 1993-1994 terjadi ledakan kasus sebedsar 200 kasus. kasus fatal yang kelima adalah seorang laki-laki. Asia Tenggara. dan Palembang(RSMH) rata-rata sebesar 15%.1 Difteria adalah penyakit yang jarang terjadi.BAB I PENDAHULUAN EPIDEMIOLOGI DIFTERI Difteria masih merupakan penyakit endemic dibanyak negara di dunia. sebagian besar menyerang usia lebih dari 15 tahun. sedangkan angka kematian di Indonesia menurut laporan Parwati S. 9 Difteri tetap endemik di banyak bagian dunia berkembang. Pada tahun 1994 terdapat lebih dari 39.000 kasus difteria dengan kematian 1100 kasus (CFR= 2. Senmarang(RSK). Basuki yang didapatkan dari rumah sakit di kota Jakarta(RSCM). difteria merupakan penyakit yang sering menyebabkan kematian. 55 kasus difteri dilaporkan CDC Nasional dilaporkan Penyakit Surveillance System. Amerika Selatan. yang 50%-nya adalah anak berusia 15 tahun atau lebih.

dan Palembang. kasus terbanyak pada tahun 2007 (12 kasus) dan terendah pada tahun 2003 (2 kasus). 24% usia 5-9 tahun. dan 4% usia diatas 10 tahun. Makassar. Selama tahun 1991-1996. di era prevaccine. selama tahun 2003-2009 penemuan kasus difteri cenderung terjadi penurunan. Bandung. Semarang. meskipun demikian Sumatera Selatan merupakan provinsi terbesar kedua untuk kasus difteri pada tahun 2008.9 .remaja dan orang dewasa.10 Meskipun difteri sekarang dilaporkan hanya jarang di Amerika Serikat.Basuki melaporkan angka yang berbeda. bukan anak-anak. Berdasarkan suatu KLB difteria di kota Semarang pada tahun 2003. terdapat 45% usia balita. banyak dari remaja dan orang dewasa belum menerima vaksinasi rutin anak atau dosis booster toksoid difteri. penyakit ini adalah salah satu penyebab paling umum dari penyakit dan kematian pada anakanak. dari data lima rumah sakit di Jakarta. 9 Di Indonesia.1 Khusus provinsi Sumatera Selatan. dilaporakan bahwa dari 33 pasien sebanyak 46% berusia 15-44 tahun serta 30% berusia 5-14 tahun. 27% usia kurang dari 1 tahun. Parwati S. dari 473 pasien difteria. Karena.

Penyebab Penyebab penyakit difteri adalah Corynebacterium diphtheriae.(Kadun.timbul satu minggu setelah gejala klinis difteri. adakalanyamenyerang selaput lendir atau kulit serta kadang-kadang konjungtiva atau vagina.6 Difteri hidung biasanya ringan dan kronis dengan satu rongga hidung tersumbat dan terjadi ekskorisasi (ledes). faring.BAB II PEMBAHASAN EPIDEMIOLOGI DIFTERI 1. bisa seperti atau merupakan bagian dari impetigo. Exotoxin yang diproduksi oleh bakteri merupakan suatu protein yang tidak tahan terhadap panas dan cahaya. Berbentuk batang gram positif. 5 Bentuk lesi pada difteri kulit bermacam-macam dan tidak dapat dibedakan dari lesi penyakit kulit yang lain. bercampak atau kapsul.laring. Bakteri dapat memproduksi toksin bila terinfeksi oleh bakteriofag yang mengandung toksigen. . Tenggorokan terasa sakit. yaitu exotoxin. Lesi nampak sebagai suatu membran asimetrik keabu-abuan yang dikelilingi dengan daerah inflamasi. sekalipun pada difteria faucial atau pada difteri faringotonsiler diikuti dengan kelenjar limfe yang membesar dan melunak. Infeksi oleh kuman sifatnya tidak invasive. Infeksi subklinis (atau kolonisasi ) merupakan kasus terbanyak.2006) 2.Toxin difteri ini. Pada kasuskasus yang berat dan sedang ditandai dengan pembengkakan dan oedema di leher dengan pembentukan membran pada trachea secara ektensif dan dapat terjadi obstruksi jalan napas. Definisi Difteria adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tonsil. Timbulnya lesi yang khas disebabkan oleh cytotoxin spesifik yang dilepas oleh bakteri. Toksin dapat menyebabkan myocarditis dengan heart block dan kegagalan jantung kongestif yang progresif. hidung. tidak berspora. tetapi kuman dapat mengeluarkan toxin.

1. pada selaput mukosa. eritosit. type intermedius dan type gravis.2.2. Tapi sejak vaksin difteri ditemukan dan imunisasi terhadap difteri digalakkan.1. tipe 4-6 termasuk tipe intermedius. Host Manusia adalah inang atau host alamiah satu-satunya bagi Corynebacterium dhiptheriae. Triad Epidemiologi Difteria 3.Corynebacterium diphtheriae dapat dikalsifikasikan dengan cara bacteriophage lysis menjadi 19 tipe. Tipe 1-3 termasuk tipe mitis. Jika pseudomembran ini meluas sampai ke trakea. sedangkan tipe-tipe lainnya termasuk tipe gravis yang virulen. bakteri berkembang serta menghasilkan racun. Ada tiga type variants dari Corynebacterium diphtheriae ini yaitu : type mitis. bersama dengan leukosit. dan bakteri membentuk eksudat berwarna kelabu suram yang disebut pseudomembran pada faring. Terjadinya penyakit dan kematian yang tertinggi ialah pada anak –anak berusia 2 sampai 5 tahun. tipe 7 termasuk tipe gravis yang tidak ganas. Pada 3. Sebelum era vaksinasi. 2 . maka saluran nafas akan tersumbat dan si penderita akan kesulitan bernafas. Di dalam pseudomembran. jumlah kasus penyakit dan kematian akibat kuman difteri menurun dengan drastis.karena mempunyai efek patoligik meyebabkan orang jadi sakit.Corynebacterium diphtheriae ini dalam bentuk satu atau dua varian yang tidak ganas dapat ditemukan pada tenggorokan manusia. Sel jaringan mati. racun yang dihasilkan oleh kuman ini sering meyebabkan penyakit yang serius. bahkan dapat menimbulkan kematian. Agent Corynebacterium diphtheria orang dewasa. difteri terjadi dengan frekuensi rendah.5 Organisme ini terlokalisasi di tenggorokan yang meradang bila bakteri ini tumbuh dan mengeluarkan eksotoksin yang ampuh.4 3.

Membran ini sukar diangkat dan mudah berdarah. Masa inkubasi penyakit difteri ini 2 – 5 hari. sedangkan masa penularan carier bisa sampai 6 bulan. lalu terbentuklah disitu membaran putih keabu- abuan(psedomembrane). dimana pembuluh-pembuluh darah melebar mengeluarkan sel darah putih sedang sel-sel epitel disitu rusak.wordpress. 4.3. Caranya melalui pernafasan atau droplet infection. Penyakit difteri yang diserang terutama saluran pernafasan bagian atas. Lingkungan buruk merupakan sumber dan penularan penyakit. menjaga kebersihan diri sangatlah penting. Di bawah membran . karena berperan dalam menunjang kesehatan kita.com/2011/03/20/difteri-sebagai-contoh-food-and-waterborne-disease/ 3. Environment Penyakit ini dijumpai pada daerah padat penduduk dengan tingkat sanitasi rendah. Cara Penularan Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia. Oleh karena itu.sumber :http://febbyhapsari. masa penularan penderita 2-4minggu sejak masa inkubasi. Cara penularannya yaitu melalui kontak dengan penderita pada masa inkubasi atau kontak dengan carier. baik sebagai penderita maupun sebagai carier . yang berupa reaksi radang lokal. 3 Ciri khas dari penyakit ini ialah pembekakan di daerah tenggorokan.

Masa Inkubasi dan Klinis Masa inkubasi difteri adalah 2-5 hari (berkisar. gagal jantung yang bisa mengakibatkan kematian. Penderita yang paling berat didapatkan pada difterifauncial dan faringea karena terjadi penyumbatan membran pada laring dan trakea sehingga saluran nafas ada obstruksi dan terjadi gagal napas. Eksotoksin dapat mengenai jantung dapat menyebabkan miyocarditisct toksik atau mengenai jaringan perifer sehingga timbul paralisis terutama pada otot-otot pernafasan.com/penyakit-difteri 5.3 Sumber : http://obatpropolis. Beberapa tipe difteri berdasarkan lokasi anatomi adalah : . ini akibat komplikasi yang seriing pada bronkopneumoni. Toksini ini juga dapat menimbulkan nekrosis fokal pada hati dan ginjal. 1-10 hari). Penyakit ini dapat melibatkan hampir semua membrane mukosa.ini bersarang kuman difteri dan kuman-kuman ini mengeluarkan exotoxin yang memberikan gejala-gejala yang lebih berat dan Kelenjer getah bening yang berada disekitarnya akan mengalami hiperplasia dan mengandung toksin. malahan dapat timbul nefritis interstisial. Gambaran klinik tergantung pada lokasi anatomi yang dikenai.

dapat ditemukan pada pseudomembran yang mula-mula hanya berupa bercak putih keabu-abuan yang cepat meluas ke nasofaring atau ke laring.6 2. sedangkan Herdarshee menegaskan lebih lanjut bahwa setiap membrane yang menutupi dinding posterior faring atau menutupi seluruh permukaan tonsil baik satu maupun kedua sisi dapat dinggap sebagai difteria. Difteria Faring dan Tonsil Paling sering dijumpai (kurang lebih 75%). sedangakan pada urin mungkin dapat ditemukan albuminaria ringan. Brennernan dan Mc Quarne (1956) menyatakan bahwa setiap bercak keputihan diluar tonsil dapat dianggap sebagai difteria. Pada pemeriksaan darah dapat terjadi penurunan kadar hemoglobin dan leukositisis. 6 Dapat terjadi salah menelan dan suara serak serta stidor insprasi walaupun belum terjadi sumbatan faring. Gejala mungkin ringan. Hal ini disebabakan oleh paresis palatum mole.6 . polimofonukleus. Hanya berupa radang pada selaput lender dan tidak membentuk pseudomembran sedangkan diagnosis dapat dibuat atas dasar hasil biakan yang positif. Bilatidak diobati akan berlangsung mingguan dan merupakan sumber utama penularan. Napas berbau dan timbul pembengkakan kelenjar regional sehingga leher tampak seperti leher sapi (bull neck). Dapat sembuh sendiri dan memberikan imunitas pada penderita. penurunan jumlah eritrosit dan kadar albumin. Pada penyakit yang lebih berat. Penderita diobati seperti penderita lainnya seperti anti toksin dan terapi antibiotic. Difteria Hidung Gejalanya paling ringan dan jarang terjadi ( hanya 2% ).1. tetapi kemudian sekret yang keluar tercampur darah sedikit yang berasal dari pseudomembran. Penyebaran pseudomembran dapat pula mencapai laring dan faring. Mula-mula hanya tampak pilek. mulainya seperti radang akut tenggorok dengan suhu yang tidak terlalu tinggi.

Merupakan keadaan yang jarang sekali terjadi. Pembesaran kelenjar regional akan menyebabkan bull neck ( leher sapi ). sesak. Gejala gangguan napas berupa suara serak dan stidor inspirasi jelas dan berat dapat timbul sesak napas hebat. nafas berbunyi. sangat lemah. difteri kutaneus sering dikaitkan dengan orang-orang tunawisma. pembengkakan kelenjar leher. demam sangat tinggi sampai 40 derajat celsius.5 Di Amerika Serikat.6 4. Difteria Laring dan Trakea Dengan gejala tidak bisa bersuara. Tan Eng Tie (1965 ) mendapatkan 30% infeksi kulit yang diperiksanya mengandung kuman difteria. luka yang terjadi cenderung tidak terasa apa apa.3. 5 Lebih sering sebagai penjalaran difteria faring dan tonsil ( 3 kali lebih banyak ) daripada primer mengenai laring. Namun tidak seperti sariawan yang sangat nyeri. pada difteri. Bila anak terlihat sesak dan payah sekali maka harus segera ditolong dengan tindakan trakeostomi sebagai pertolongan pertama. kulit tampak kebiruan. dkk (1950) sebagai berikut : . Pada pemeriksaan laring tampak kemerahan. sembab. Difteri jenis ini merupakan difteri paling berat karena bisa mengancam nyawa penderita akibat gagal nafas. Difteria Cutaneous ( kulit ) Gejala berupa luka mirip sariawan pada kulit dan vagina dengan pembentukan membran diatasnya. vagina dan umbilicus.Pembagian berdasarkan berat ringannya penyakit juga diajukan oleh Beach. sinosis dan tampak retraksi suprastemal serta epigastrium. Dapat pula timbul di daerah konjungtiva. Klasifikasi Biasanya pembagian dibuat menurut tempat atau lokalisasi jaringan yang terkena infeksi.6 6. banyak secret dan permukaan ditutupi oleh pseudomembran.

Pengobatan 8 Tujuan pengobatan penderita difteria adalah menginaktivasi toksin yang belum terikat .Pencarian dan kemudian mengobati karier difteria Dilakukan dengan uji Schick. yaitu bila hasil uji negatif (mungkin penderita karier pernah mendapat imunisasi). penderita harus diobati dan bila perlu dilakukan tonsilektomi.6 3.1. dan vaksin DT (difteria. Jika ternyata ditemukan C.6 8.6 2. Imunisasi Pencegahan dilakukan dengan memberikan imunisasi DPT (difteria.6 7. maka harus diiakukan hapusan tenggorok.paralisis (kelemahananggota gerak) dan nefritis (radang ginjal). Isolasi Penderita Penderita difteria harus di isolasi dan baru dapat dipulangkan setelah pemeriksaan sediaan langsung menunjukkan tidak terdapat lagi Corynebacterium Diphtheriae 6 2. Infeksi sedang : bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dindingbelakang rongga mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejalakomplikasi sepertimiokarditis (radang otot jantung). diphtheriae. pertusis.1.6 3. dan tetanus) pada bayi. tetanus) pada anak-anak usia sekolah dasar. Infeksi Ringan: bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan. Pencegahan 1.

mengeliminasi C. Penisilin. mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal. Pengobatan Umum Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan biakan hapusan tenggorok negatif 2 kali berturut-turut.secepatnya. iritabilitas serta gangguan pernafasan yang progresif merupakan indikasi tindakan trakeostomi. . Pada umumnya pasien tetap diisolasi selama 2-3 minggu. Istirahat tirah baring selama kurang lebih 2-3 minggu. 3. kristal aqueous pensilin G. Namun dengan penundaan lebih dari hari ke-6 menyebabkan angka kematian ini bisa meningkat sampai 30%. -Antibiotik Antibiotik diberikan bukan sebagai pengganti antitoksin.Sebelum pemberian ADS harus dilakukan uji kulit atau uji mata terlebih dahulu. Pengobatan untuk difteria digunakan eritromisin .Pengobatan Penyulit Pengobatan terutama ditujukan untuk menjaga agar hemodinamika tetap baik. Dengan pemberian antitoksin pada hari pertama. diptheriae untuk mencegah penularan serta mengobati infeksi penyerta dan penyulit difteria.pemberian cairan serta diet yang adekuat. 1. Bila tampak kegelisahan. melainkan untuk membunuh bakteri dan menghentikan produksi toksin. Penyulit yang disebabkan oleh toksin umumnya reversibel. -Kortikosteroid Dianjurkan pemberian kortikosteroid pada kasus difteria yang disertai gejala. Khusus pada difteria laring dijaga agar nafas tetap bebas serta dijaga kelembaban udara dengan menggunakan humidifier. angka kematian pada penderita kurang dari 1%. 2. atau Penisilin prokain.Pengobatan Khusus -Antitoksin : Anti Diptheriar Serum (ADS) Antitoksin harus diberikan segera setelah dibuat diagnosis difteria.

 Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia. mempunyai uji Schick negatif tetapi mengandung basil difteria dalam nasofaringnya. difteri hidung. baik sebagai penderita maupun sebagai carier. Pengobatan yang dapat diberikan adalah penisilin 100 mg/kgBB/hari oral/suntikan. yaitu biakan hidung dan tenggorok serta gejala klinis diikuti setiap hari sampai masa tunas terlampaui. Kesimpulan  Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheria. difteri faring. Anak yang telah mendapat imunisasi dasar diberikan booster toksoid difteria.Pengobatan Karier Karier adalah mereka yang tidak menunjukkan keluhan. oleh karena itu penyakitnya diberi nama serupa dengan kuman penyebabnya. difteri laring dan difteri kutaneus.  Menurut lokasi gejala difteria dibagi menjadi 3 yaitu. BAB III Kesimpulan dan Saran 1. atau eritromisin40 mg/kgBB/hari selama satu minggu. pemeriksaan serologi dan observasi harian. Cara penularannya yaitu melalui kontak dengan penderita pada masa inkubasi atau kontak dengan carier. Caranya melalui pernafasan atau droplet infection dan difteri kulit yang mencemari tanah sekitarnya. Mungkin diperlukan tindakan tonsilektomi / adenoidektomi.4.Pengobatan Kontak Pada anak yang kontak dengan pasien sebaiknya diisolasi sampai tindakan berikut terlaksana. . 5.

diptheriae untuk mencegah penularan serta mengobati infeksi penyerta dan penyulit difteria. Leher membengkak seperti leher sapi (bullneck). yaitu dengan memberikan antitoksin (Anti Diptheriar Serum ). Imunisasi. antibiotic dan kortikosteroid c. Infeksi sedang dan Infeksi berat  Pencegahan difteri dilakukan dengan cara. Masa inkubasi penyakit difteri ini 2 – 5 hari.a. masa penularan penderita 2-4 minggu sejak masa inkubasi. dengan memberikan imunisasi DPT pada bayi dan vaksin DT pada anak usia sekolah c. mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal. Saran . Isolasi penderita b. Sakit d. penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu: Infeksi ringan. yaitu :a. Pengobatan karier 2. mengeliminasi C. sedangkan masa penularancarier bisa sampai 6 bulan. disebabkan karena pembengkakakn bisa 38 : dipharynx.larynx °C atau tonsil waktu menelan kelenjar leher  Menurut tingkat keparahannya. Panas b. Gejala klinis penyakit lebih difteri ini dari adalah a. Pengobatan penyulit d. Pengobatan khusus. Pengobatan umum b. Pengobatan kontak e. Adapsedomembrane c.  dasar Pencegahan dan kemudian mengobati karier difteria Pengobatan difteria dilakukan untuk menginaktivasi toksin yang belum terikat secepatnya.

Politeknik Kesehatan Yogyakarta.com/doc/13758759/DIFTERI 4 Hastomo.diakses darihttp://www.2011.scribd.scribd. 3 Asuhan Keperawatan Difteri.com/doc/22270094/difteri 5 Article Source All About Difteri .cdc. 2 Iskandar.Stikes Dharma Karawang.Edisi 12. diakses darihttp://www.gov/vaccines/pubs/pinkbook/dip. diakses darihttp://www.Makalah Difteri.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. diakses dari http://www.Hal 177-178.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Makalah Tentang Penyakit Menular Difteri.DiphtheriaEpidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases.html . diakses darihttp://www.Nurbaiti.Penyakit Tropis Epidemiologi Penularan dan Pemberantasannya.2008.2010.editor.Erlanggga: Jakarta.Difteri adalah suatu penyakit infeksi yang bisa mengakibatkan miokarditis untuk itu mencegah penyebaran infeksi merupakan tindakan yang harus dilakukan.2005.2000.dkk.Zaenal.scribd.2010. Daftar Pustaka 1 Widoyono.dkk.scribd. untuk itu petugas kesehatan (perawat) harus tahu hal itu dan keluarga harus sensitif terhadap keadaan anak jika mengidap difteri.com/doc/13758759/DIFTERI 6 Arifin.com/doc/27499427/Disususun-Oleh-Kelompok- II 7 CDC.

Jakarta: Badan Penerbit IDAI 9 CDC. diakses darihttp://www.cdc.html 10 ProfilKesehatan Provinsi Sumatera Selatan.Diphtheria.gov/vaccines/pubs/surv- manual/chpt01-dip. E Stephen.depkes.go. diakses dari http://www. 2010.Dift eria pada Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis Hal 312-21.Buescher.pdf .2011.Di pht heri a in Nelson Textbook of 8 Pediatrics 18th Chapter 186. USA: Saunders Anonim.id/downloads/profil_kesehatan_prov_kab/profil_kes_sumsel_2010. 2007.Edisi 5.2010.