You are on page 1of 12

EPIDURAL HEMATOM

I.

PENDAHULUAN
Epidural hematom (EDH) adalah suatu akumulasi atau penumpukan darah akibat

trauma yang berada diantara tulang tengkorak bagian dalam dan lapisan membran duramater,
keadaan tersebut biasanya sering mendorong atau menyebabkan peningkatan tekanan
intrakranial yang akibatnya kepala seperti dipukul palu atau alat pemukul baseball. Pada 85 –
95% pasien, trauma terjadi akibat adanya fraktur yang hebat. Pembuluh – pembuluh darah
otak yang berada didaerah fraktur atau dekat dengan daerah fraktur akan mengalami
perdarahan. Prognosanya biasanya baik apabila diterapi secara agresif.(1)
Epidural hematom biasanya terjadi akibat tekanan yang keras terhadap pembuluh
darah yang terletak diluar duramater, baik yang terjadi pada tulang tengkorak atau pada
kolumna spinalis. Pada tulang tengkorak, tekanan yang berlebihan pada arteri meningeal akan
menyebabkan epidural hematom.(2)
Hematoma yang terbentuk secara luas akan menekan otak, menyebabkan
pembengkakan dan akhirnya akan merusak otak, hematoma yang luas juga akan
menyebabkan otak bagian atas dan batang otak akan mengalami herniasi. (2,3)
Gejala epidural hematom dapat berupa sakit kepala hebat yang biasanya segera
timbul, akan tetapi dapat juga baru muncul beberapa jam kemudian. Kemudian sakit kepala
tersebut akan menghilang dan akan muncul lagi setelah beberapa jam kemudian dengan nyeri
yang lebih hebat dari sebelumnya. Selanjutnya bisa terjadi peningkatan kebingungan, rasa
ngantuk, kelumpuhan, pingsan, sampai koma. (3)
II.

ANATOMI MENINGEN OTAK
Secara konvensional, duramater diuraikan sebagai dua lapisan, lapisan endosteal dan

lapisan meningeal. Lapisan endosteal tidak lebih dari suatu periosteum yang menutupi
permukaan dalam tulang – tulang kranium. Pada foramen magnum lapisan endosteal tidak
berlanjut dengan duramater medulla spinalis. Pada sutura, lapisan endosteal berlanjut dengan
ligamentum sutura. Lapisan endosteal paling kuat melekat pada tulang diatas dasar kranium.
(4)

Lapisan meningeal merupakan duramater yang sebenarnya. Lapisan meningeal
merupakan membran fibrosa kuat, padat menutupi otak, dan melalui foramen magnum
berlanjut dengan duramater medulla spinalis. Lapisan meningeal ini memberikan sarung
tubuler untuk saraf – saraf kranial pada saat melintas melalui lubang – lubang kranium.
Kedalam lapisan meningeal membentuk empat septa, yang membagi rongga kranium menjadi

kecil melekat ke krista occipitalis interna. arteri occipitalis dan arteri vertebralis. terletak dalam garis tengah antara dua hemispherium serebri. Ujung anteriornya melekat ke Krista frontalis interna dan Krista galli. yang paling penting adalah arteri meningea media. arteri maxillaries. dan sinus rektus berjalan disepanjang perlekatannya dengan tentorium serebelli. Berdekatan dengan apex pars petrosus os temporale. sinus petrosus superior. lapisan bagian bawah tentorium membentuk kantong kearah depan dibawah sinus petrosus superior. sinus sagitalis inferior berjalan pada tepi bagian bawah yang konkaf. arteri paringeal asenden.ruang – ruang yang berhubungan dengan bebas dan merupakan tempat bagian – bagian otak. arteri karotis interna.trigeminus. . bagian servikal trunkus simpatikus dan n. trigeminus dan ganglion trigeminal. Diaphragma Sella merupakan suatu lipatan duramater sirkuler. disepanjang perlekatannya ke os occipitalis. membentuk atap untuk sella tursika. (4) Falx serebri merupakan lipatan duramater yang berbentuk sabit. Falx serebelli merupakan suatu lipatan duramater berbentuk sabit. (4) Persarafan Duramater(4) Persarafan ini terutama berasal dari cabang n. Pendarahan Duramater (4) Banyak arteri mensuplai duramater. Dari segi klinis. yaitu. bersama perlekatannya ke os petrosa.trigeminus. Impuls nyeri yang timbul dari bawah tentorium dalam fossa kranialis posterior berjalan melalui tiga saraf servikalis bagian atas. Sinus sagitalis superior berjalan dalam tepi bagian atas yang terfiksasi. berproyeksi kedepan diantara diantara dua hemispherium serebelli. yang umumnya mengalami kerusakan pada cedera kepala. dan nyeri kepala dirujuk kebelakang kepala dan leher. resptor – reseptor nyeri dalam dura mater diatas tentorium mengirimkan impuls melalui n. dan sinus transverses. membentuk suatu resessus untuk n. dan suatu nyeri kepala dirujuk ke kulit dahi dan muka. (4) Tentorium serebelli merupakan lipatan duramater berbentuk sabit yang membentuk atap diatas fossa kranialis posterior. menutupi permukaan atas serebellum dan menokong lobus occipitalis hemisperium serebri. Sinus rektus berjalan di sepanjang perlekatan ke falx serebri. tiga saraf servikalis bagian atas. Bagian posterior yang lebar bercampur di garis tengah dengan permukaan atas tentorium serebelli.vagus. Falx serebri dan falx serebelli masing – masing melekat ke permukaan atas dan bawah tentorium.

Darah dalam sinus – sinus duramatr akhirnya mengalir kedalam vena – vena jugularis interna dileher. Sinus rekrus menempati garis persambungan falx serebri dengan tentorium serebelli. Arteri ini kemudian berjalan ke depan dank e lateral dalam suatu sulkus pada permukaan atas squamosa bagian os temporale. Setiap sinus menempati tepi yang . Sinus sagitalis inferior menduduki tepi bawah yang bebas dari falx serebri. Vena terletak di lateral arteri. berjalan kebelakang dan bersatu dengan vena serebri magna pada tepi bebas tentorium cerebelli membentuk sinus rektus. terbentuk dari persatuan sinus sagitalis inferior dengan vena serebri magna. berjalan ke posterior dalam sulkus di bawah lengkungan kranium. Vena emissaria menghubungkan sinus venosus duramater dengan vena – vena diploika kranium dan vena – vena kulit kepala. Arteri ini kemudian terletak antara lapisan meningeal dan endosteal duramater. memasuki rongga kranialis melalui foramen spinosum dan kemudian terletak antara lapisan meningeal dan endosteal duramater. dan pada protuberantia occipitalis interna berbelok dan berlanjut dengan sinus transverses. Cabang posterior melengkung kearah belakang dan mensuplai bagian posterior duramater. Sinus Venosus Duramater (4) Sinus – sinus venosus dalam rongga kranialis terletak diantara lapisan – lapisan duramater. Fungsi utamanya adalah menerima darah dari otak melalui vena – vena serebralis dan cairan serebrospinal dari ruang – ruang subarachnoidea melalui villi arachnoidalis. perjalanannya secara kasar berhubungan dengan garis gyrus presentralis otak di bawahnya. Vena –vena meningea terletak dalam lapisan endosteal duramater. berakhir membelok kekiri membentuk sinus transfersus. sinus sagitallis berdilatasi membentuk sinus konfluens. Pada protuberantia occipitalis interna. Sinus kanan biasanya berlanjut dengan sinus sagitalis superior. dan bagian kiri berlanjut dengan sinus rektus.Arteri meningea media berasal dari arteri maxillaries dalam fossa temporalis. Vena meningea media mengikuti cabang – cabang arteri meningea media dan mengalir kedalam pleksus venosus pterygoideus atau sinus sphenoparietalis. Dari sini biasanya berlanjut dengan sinus transverses kanan. Sinus Sagitalis Superior menduduki batas atas falx serebri yang terfiksasi. Sinus transverses merupakan struktur berpasangan dan mereka mulai pada protuberantia occipitalis interna. mulai di anterior pada foramen caecum. Cabang anterior (frontal) secara mendalam berada dalam sulkus atau saluran angulus antero – inferior os parietale. berhubungan dengan sinus transverses yang berlawanan dan menerima sinus occipitalis. Dalam perjalanannya sinus sagitallis superior menerima vena serebralis superior.

ia berhubungan dengan vena – vena vertebralis dan bermuara kedalam sinus konfluens. ruang subdural. dikelilingi oleh pleksus saraf simpatis. membentuk sulkus pada os occipitalis dan angulus posterior os parietale. Arachnoidea Mater (4) Arachnoidea mater merupakan membran tidak permeable. kemudian bersirkulasi baik kearah atas diatas permukaan hemispherium serebri dan kebawah disekeliling medulla spinalis. Cairan ini keluar dari ventrikulus memasuki subarachnoid. Sinus kavernosus terletak dalam fossa kranialis media pada setiap sisi corpus os sphenoidalis. vena – vena serebralis inferior.melekat pada tentorium serebelli. yang terisi dengan cairan serebrospinal. Nervus abdusen juga melintasi sinus dan dipisahkan dari darah oleh suatu pembungkus endothelial. Sinus occipitalis merupakan suatu sinus kecil yang menempati tepi falx serebelli yang melekat. vena – vena serebellaris dan vena – vena diploika. Arteri karotis interna. Sinus petrosus superior dan inferior merupakan sinus –sinus kecil pada batas – batas superior dan inferior pars petrosus os temporale pada setiap sisi kranium. Mereka menerima sinus petrosus superior. Sinus sigmoideus merupakan lanjutan langsung dari sinus tranversus yang akan melanjutkan diri ke bulbus superior vena jugularis interna. Villi arachnoidalis bertindak sebagai tempat cairan serebrospinal berdifusi kedalam aliran darah. Pada daerah – daerah tertentu. Mereka berakhir dengan membelok ke bawah sebagai sinus sigmoideus. dipisahkan dari piamater oleh ruang subarachnoidea. Setiap sinus kavernosus kedalam sinus transverses dan setiap sinus inferior mendrainase sinus cavernosus kedalam vena jugularis interna. Piamater otak (4) . halus. Cairan serebrospinal dihasilkan oleh pleksus choroideus dalam ventrikulus lateralis. Permukaan luar dan dalam arachnoidea ditutupi oleh sel –sel mesothelial yang gepeng. Arachnoidea dihubungkan ke piamater oleh untaian jaringan fibrosa halus yang menyilang ruang subarachnoidea yang berisi cairan. berjalan kedepan melalui sinus. terisi dengan suatu lapisan tipis cairan. Arachnoidea mater dipisahkan dari duramater oleh suatu ruang potensial. ketiga dan keempat otak. arachnoidea terbenam kedalam sinus venosus untuk membentuk villi arachnoidalis. menutupi otak dan terletak diantara pia mater di interna dan duramater di eksterna.

yaitu tentorium serebelli. kuat dan fibrosa disebut duramater. Secara erat menyokong otak. Duramater mempunyai lapisan endosteal luar. Ruang antara arachnoidea dengan pia mater diketahui sebagai ruang subarachnoidea dan terisi dengan cairan serebrospinal. yang bertindak sebagai periosteum tulang – tulang kranium dan lapisan bagian dalam yaitu lapisan meningeal yang berfungsi untuk melindungi jaringan saraf dibawahnya serta saraf – saraf cranial dengan membentuk sarung yang menutupi setiap saraf kranial. Pemisah duramater berbentuk sabit yang disebut falx serebri. FISIOLOGI MENINGENS (4) Otak dan medulla spinalis terbungkus dalam tiga sarung membranosa yang konsentrik. Arteri serebralis yang memasuki substansi otak membawa sarung pia mater bersamanya. . Arachnoidea mater merupakan membran yang lebih tipis dari duramater dan membentuk penutup yang longgar bagi otak. III. membran tengah tipis dan halus serta diketahui sebagai arachnoidea mater. Membran yang paling luar tebal. ketiga. Piamater meluas keluar pada saraf – saraf cranial dan berfusi dengan epineurium. dan keempat otak. Suatu sarung piamater menyertai cabang – cabang arteri arteri serebralis pada saat mereka memasuki substansia otak.Piamater merupakan suatu membrane vaskuler yang ditutupi oleh sel – sel mesothelial gepeng. Cairan serebrospinal merupakan bahan pengapung otak serta melindungi jaringan saraf dari benturan mekanis yang mengenai kepala. Piamater membentuk tela choroidea dari atap ventrikulus otak ketiga dan keempat. Sinus venosus terletak dalam duramater yang mengalirkan darah venosa dari otak dan meningen ke vena jugularis interna dileher. Arachnoidea mater menjembatani sulkus – sulkus dan masuk kedalam yang dalam antara hemispherium serebri. dan membrane paling dalam halus dan bersifat vaskuler serta berhubungan erat dengan permukaan otak dan medulla spinalis serta dikenal sebagai piamater. yang berfungsi untuk membatasi gerakan berlebihan otak dalam kranium. Piamater merupakan suatu membran vaskuler yang menyokong otak dengan erat. menutupi gyri dan turun kedalam sulki yang terdalam. yang terletak vertical antara hemispherium serebri dan lembaran horizontal. duramater disebut pachymeninx dan arachnoidea serta pia mater disebut sebagai leptomeninges. Secara klinis. yang berproyeksi kedepan diantara serebrum dan serebellum. dan berfusi dengan ependyma untuk membentuk pleksus choroideus dalam ventrikulus lateralis.

IV. Suatu pukulan yang menimbulkan fraktur kranium pada daerah anterior inferior os parietal.(1. Sejenis herniasi serupa bisa mendorong otak kecil dan batang otak melalui lubang di dasar tengkorak (foramen magnum) kedalam medulla spinalis.5) Cedera kepala yang berat dapat merobek.2. Bisa terjadi kerusakan pada jalur saraf.2) Epidural hematom adalah suatu akumulasi darah yang terletak diantara meningen (membran duramter) dan tulang tengkorak yang terjadi akibat trauma. Gejala klinisnya tergantung pada dimana letak terjadinya penekanan.4. Epidural dimaksudkan untuk organ yang berada disisi luar duramater dan hematoma dimaksudkan sebagai masa dari darah.3. ETIOLOGI (1. Spinal epidural hematom disebabkan akibat adanya kompresi pada medulla spinalis. Cedera kepala yang tampaknya ringan kadang bisa menyebabkan kerusakan otak yang hebat. maka tekanan cenderung mendorong otak ke bawah.6) Epidural hematom terjadi akibat suatu trauma kepala. fungsi lumbal. otak sebelah atas bisa terdorong ke dalam lubang yang menghubungkan otak dengan batang otak. pembengkakan dan penimbunan cairan (edema) memiliki efek yang sama yang ditimbulkan oleh pertumbuhan massa di dalam tengkorak. penggunaan aspirin. perdarahan atau pembengkakan hebat. sangat peka terhadap terjadinya perdarahan di sekeliling otak. keadaan ini disebut dengan herniasi. Herniasi ini bisa berakibat fatal karena batang otak mengendalikan fungsi fital (denyut jantung dan pernafasan). Arteri yang paling sering mengalami kerusakan adalah cabang anterior arteri meningea media. Duramater merupakan suatu jaringan fibrosa atau membran yang melapisi otak dan medulla spinalis.2. pembuluh darah dan jaringan di dalam atau di sekeliling otak. sistemik lupus erimatosus.3. Perdarahan epidural timbul akibat cedera terhadap arteri atau vena meningeal. Epidural hematom juga bisa disebabkan akibat pemakaian obat – obatan antikoagulan. Usia lanjut dan orang yang mengkonsumsi antikoagulan.3. PATOFISIOLOGI (1. V. Karena tengkorak tidak dapat bertambah luas.4) VI. hemophilia. maka peningkatan tekanan bisa merusak atau menghancurkan jaringan otak. DEFINISI (1. biasanya disertai dengan fraktur pada tulang tengkorak dan adanya laserasi arteri. penyakit liver.4. Karena posisinya di dalam tengkorak. meremukkan atau menghancurkan saraf. Perdarahan. .

maka darah bisa keluar dan membentuk hematom subperiostal (sefalhematom). yaitu: o Coma o Fixasi dan dilatasi pupil . pada sekitar 20% pasien. Jika ada fraktur. dan bekuan darah yang membesar menimbulkan tekanan ntra pada daerah motorik gyrus presentralis dibawahnya. MANIFESTASI KLINIS (1. manifestasi neurologik akan terjadi beberapa jam setelah trauma kapitis.temporalis. bilateral atau ipsilateral kearah lesi.4. Darah juga melintas kelateral melalui garis fraktur.5. Penderita akan merasa kebingungan dan berbicara kacau. Cidera arteri dan venosa terutama mudah terjadi jika pembuluh memasuki saluran tulang pada daerah ini. pupil yang terfixasi.3. atau herniasi. Respon chusing yang menetap dapat timbul sejalan dengan adanya peningkatan tekanan intara kranial. Adanya tiga gejala klasik sebagai indikasi dari adanya herniasi yang menetap. tidak timbul gejala apa – apa . - kemudian meninggal.dapat merusak arteri. Tekanan ntracranial meningkat. menyebabkan tekanan intrakranial yang akan cepat meningkat. membentuk suatu pembengkakan di bawah m.Kontusio. maka perdarahan epidural tanpa fraktur. laserasi atau tulang yang retak dapat diobservasi di area trauma .6) . pembuluh darah bisa pecah juga.Saat awal kejadian.2. Apabila tidak terjadi fraktur. koma.Dilatasi pupil. dimana gejalanya dapat berupa :  Hipertensi  Bradikardi  bradipneu . juga tergantung pada arteri atau vena yang pecah maka penimbunan darah ekstravasal bisa terjadi secara cepat atau perlahan – lahan. akibat daya kompresinya. lalu beberapa saat kemudian menjadi apneu. VII. sesuai dengan sifat dari tengkorak yang merupakan kotak tertutup. adanya - gejala – gejala peningkatan tekanan intrakranial. Perdarahan epidural akan cepat menimbulkan gejala – gejala.Tapi kemudian pasien tersebut dapat berlanjut menjadi pingsan dan bangun bangun - dalam kondisi kebingungan Beberapa penderita epidural hematom mengeluh sakit kepala Muntah – muntah Kejang – kejang Pasien dengan epidural hematom yang mengenai fossa posterior akan menyebabkan keterlambatan atau kemunduran aktivitas yang drastis. Pada perdarahan epidural akibat pecahnya arteri dengan atau tanpa fraktur linear ataupun stelata. lebam. Perdarahan yang terjadi melepaskan lapisan meningeal duramater dari permukaan dalam kranium.

perdarahan lebih sering terjadi pada daerah servikal (leher) dari pada daerah toraks.(2) IX. waktu dan kemampuan pasien untuk membuka mata yang biasanya sering ditanyakan. membuka mata dan respon otot harus dievaluasi disertai dengan ada tidaknya disorientasi (apabila pasien sadar) tempat. Apabila pasiennya dalam keadaan tidak sadar. seorang dokter harus memutuskan apakah gejala kompresi spinal tersebut disebabkan oleh hematom atau tumor. Batuk atau gerakan -gerakan lainnya yang dapat meningkatkan tekanan pada batang tubuh atau vertebra dapat memperberat rasa nyeri. Pada pasien dengan epidural spinal hematom. onset gejalanya dapat timbul dengan segera. DIAGNOSA (2) Adanya gejala neurologis merupakan langkah pertama untuk mengetahui tingkat keparahan dari trauma kapitis. yaitu berupa nyeri punggung atau leher sesuai dengan lokasi perdarahan yang terjadi. maka tindakan kraniotomi darurat mesti dilakukan. Pada anak.- o Deserebrasi Adanya hemiplegi kontralateral lesi dengan gejala herniasi harus dicurigai adanya epidural hematom VIII. Dari hasil tersebut.Subdural hematom . Pada saat membuat diagnosa pada spinal epidural hematom. Untuk membedakan antara epidural. maka seorang dokter ahli bedah dapat menentukan apakah pembengkakannya terjadi pada satu sisi otak yang akan mengakibatkan terjadinya pergeseran garis tengah atau mid line shif dari otak. pemeriksaan reflek cahaya pupil sangat penting dilakukan. Hal tersebut merupakan indikasi yang kuat untuk mengetahui apakah pasien telah mengalami hematoma intrakranial atau tidak. subdural dan intracranial hematom dapat dilakukan dengan CT – Scan atau MRI. DIAGNOSA BANDING(1) . CT. Kemampuan pasien dalam berbicara.Scan atau MRI sangat baik untuk membedakan antara kompresi pada medulla spinalis yang disebabkan oleh tumor atau suatu hematom. Apabila pergeserannya lebih dari 5 mm.Perdarahan subarachnoid . Tekanan yang menghambat nervus ini menyebabkan dilatasi dari pupil yang permanen pada satu atau kedua mata. Pada epidural hematom dan jenis lainnya dapat mengakibatkan peningkatan tekanan intra kranial yang akan segera mempengarungi nervus kranialis ketiga yang mengandung beberapa serabut saraf yang mengendalikan konstriksi pupil.

untuk mempertahankan tekanan darah sistolik. . Phenitoin digunakan sebagai obat propilaksis untuk kejang – kejang pada awal post trauma. Pakai intubasi.X. dengan menggunakan premedikasi lidokain dan obat – obatan sedative misalnya etomidate serta blok neuromuskuler. dan menurunkan tekanan intrakranial dan metabolisme otak. karena dapat menurunkan tekanan darah sistolik. karena phenitoin tidak akan bermanfaat lagi apabila diberikan pada kejang dengan onset lama atau keadaan kejang yang berkembang dari kelainan kejang sebelumnya. Pada beberapa pasien diperlukan terapi cairan yang cukup adekuat yaitu pada keadaan tekanan vena sentral (CVP) > 6 cmH2O. Intubasi digunakan sebagai fasilitas - untuk oksigenasi. Pakai intubasi. Pemakaian tiophental tidak dianjurkan. PENATALAKSANAAN (1) Penanganan sebelum ke Rumah Sakit .Stabilisasi terhadap kondisi yang mengancam jiwa dan lakukan terapi suportiv dengan - mengontrol jalan nafas dan tekanan darah. monitor dan berikan cairan kristaloid untuk mempertahankan - tekanan sistolik diatas 90 mmHg. Terapi obat – obatan (1) - Gunakan Etonamid sebagai sedasi untuk induksi cepat. berikan sedasi dan blok neuromuskuler Perawatan di bagian Emergensi - Pasang oksigen (O2). Elevasikan kepala sekitar 30O setelah spinal dinyatakan aman atau gunakan posis trendelenburg untuk mengurangi tekanan intra kranial dan untuk menambah drainase - vena. Berikan phenitoin untuk kejang – kejang pada awal post trauma. proteksi jalan nafas dan hiperventilasi bila diperlukan. Berikan O2 dan monitor Berikan cairan kristaloid untuk menjaga tekanan darah sistolik tidak kurang dari 90 - mmHg. Hiperventilasi untuk tekanan parsial CO2 (PCO2) sekitar 30 mmHg apabila sudah ada - herniasi atau adanya tanda – tanda peningkatan tekanan intrakranial (ICP).25 – 1 gr/ kg iv. Berikan manitol 0. Manitol dapat digunakan untuk mengurangi tekanan intrakranial dan memperbaiki sirkulasi darah. Bila tekanan darah sistolik turun sampai 90 mmHg dengan gejala klinis yang berkelanjutan akibat adanya peningkatan tekanan intra - kranial.

anuria. kematian tidak akan terjadi untuk pasien –pasien yang belum - koma sebelum operasi. 20% terjadi kematian terhadap pasien – pasien yang mengalami koma yang dalam sebelum dilakukan pembedahan. membrane tengah tipis dan halus serta diketahui sebagai arachnoidea mater. Membran yang paling luar tebal. KESIMPULAN . dan membrane paling dalam halus dan bersifat vaskuler serta berhubungan erat dengan permukaan otak dan medulla spinalis serta dikenal sebagai piamater. Antiepilepsi XI. KOMPLIKASI (1) .25 – 1 gr/ kg BB iv. peningkatan tekanan intrakranial. perdarahan intrakranial yang progresif dan gagal jantung yang • progresif.Kelainan neurologik (deficit neurologis). dehidrasi.Prognosa biasanya baik. Misalnya Phenitoin (Dilantin) : Dosis 17 mg/ kgBB iv. Kematian terjadi sekitar 9% pada pasien epidural hematom dengan kesadaran yang - menurun. . Fungsi : Untuk mencegah terjadinya kejang pada awal post trauma. tetesan tidak boleh • lebihn dari 50 mg/menit. Berikut adalah obat – obatan yang digunakan untuk terapi pada epidural hematom: Diuretik Osmotik • • Misalnya Manitol : Dosis 0. dan mengurangi viskositas darah. XIII. baik fisik maupun mental Kematian PROGNOSA (1) . memperbaiki sirkulasi darah otak dan kebutuhan oksigen. Kontraindikasi pada penderita yang hipersensitif. pada penyakit dengan blok • sinoatrial. Kondisi yang kacau. Kontraindikasi: pada penderita hipersensitiv.Otak dan medulla spinalis terbungkus dalam tiga sarung membranosa yang konsentrik. • dalam beberapa jam sampai beberapa bulan. Fungsi : Untuk mengurangi edema pada otak. kongesti paru. kuat dan fibrosa disebut duramater. berupa sindrom gegar otak dapat terjadi - XII.dapat digunakan norephinephrin untuk mempertahankan tekanan darah sistoliknya - diatas 90 mmHg. sinus bradikardi. dan sindrom Adam-Stokes.

koma. biasanya disertai dengan fraktur pada tulang tengkorak dan adanya laserasi arteri. adanya gejala – gejala peningkatan tekanan intrakranial. lebam. berupa sindrom gegar otak dapat terjadi dalam beberapa jam sampai bebrapa bulan. fixasi dan dilatasi - pupil. Epidural dimaksudkan untuk organ yang berada disisi luar duramater dan - hematoma dimaksudkan sebagai masa dari darah. laserasi atau tulang yang retak dapat diobservasi di area trauma. fungsi lumbal. kemudian meninggal. bilateral atau ipsilateral kearah lesi. Pasien dengan epidural hematom yang mengenai fossa posterior akan menyebabkan keterlambatan atau kemunduran aktivitas yang drastis.  Kondisi yang kacau. muntah – muntah. 20% terjadi kematian terhadap pasien – pasien yang mengalami koma yang dalam sebelum dilakukan pembedahan. lalu beberapa saat kemudian menjadi apneu. Manifestasi Klinis dari epidural hematom dapat berupa. . bradikardi. Kematian terjadi sekitar 9% pada pasien epidural hematom dengan kesadaran yang menurun. Kelainan neurologik (deficit neurologis). Prognosa biasanya baik. Adanya hemiplegi kontralateral lesi dengan gejala herniasi harus dicurigai adanya epidural hematom.Respon chusing yang menetap dapat timbul sejalan dengan adanya peningkatan tekanan intara kranial. hemophilia. penyakit liver. Duramater merupakan suatu jaringan fibrosa atau membran yang melapisi otak dan medulla spinalis. Epidural hematom juga bisa disebabkan akibat pemakaian obat – obatan antikoagulan. sistemik lupus erimatosus. Epidural hematom terjadi akibat suatu trauma kepala. baik fisik maupun mental serta kematian.  perawatan di bagian emergensi dan terapi obat – obatan. pupil yang terfixasi. bradipneu. dilatasi pupil. kematian tidak akan terjadi untuk pasien –pasien yang belum koma sebelum operasi. kejang – kejang. Penderita akan merasa kebingungan dan berbicara kacau. sakit kepala.  Penatalaksanaan dapat berupa perawatan sebelum di bawa kerumah sakit. deserebrasi. yaitu: coma. Spinal epidural - hematom disebabkan akibat adanya kompresi pada medulla spinalis. dimana gejalanya - dapat berupa : hipertensi.- Epidural hematom adalah suatu akumulasi darah yang terletak diantara meningen (membran duramter) dan tulang tengkorak yang terjadi akibat trauma. penggunaan aspirin. atau herniasi. Kontusio. Komplikasi dapat berupa. Adanya tiga gejala klasik sebagai indikasi dari adanya herniasi yang menetap.

Sjamsir. 2. 4. cetakan kedelapan.com. MD.com/neurological-disorder-encyclopedia:epidural-hematom http://www. http://www. penerbit buku kedokteran EGC. . Neurologi Klinik. Editor. Jakarta 1996.. 5.enotes.medicastore. hal 521-532. Jakarta. Snell R. cetakan pertama.. dalam Neurologi Klinis Dasar.emedicine-epidural hematoma: articly by Daniel D Price. http://www. 2000. http://www. Penerbit Dian Rakyat. 6. hal 255-256.htm.S.emedicine-case-based-pediatrics. Mardjono M.DAFTAR PUSTAKA 1. 3. Sidarta P. edisi ke dua.