You are on page 1of 11

KEANEKARAGAMAN TIKUS PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

(Elaeis guineensis Jack.) YANG BELUM MENGHASILKAN (TBM) DAN


YANG TELAH MENGHASILKAN (TM)
Mustaem1)
Yuni Ratna2) dan Dwi Ristyadi2)
1)

Mahasiswa Program S1 Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian


Universitas Jambi
2)

Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tikus pada perkebunan


kelapa sawit yang belum menghasilkan (TBM) dan yang telah menghasilkan (TM).
Terdapat 16 perkebunan kelapa sawit yang dijadikan sampel terdiri dari 8 lahan
TBM dan 8 lahan TM. Perangkap yang digunakan untuk pengambilan sampel
berbentuk kotak persegi panjang dengan ukuran p x l x t = 23 cm x 16 cm x 12 cm.
Perangkap berjumlah 25 unit untuk setiap lahan sampel (ukuran lahan 50 x 50 m)
dengan jarak antar perangkap 9 m x 9 m. Perangkap diberi umpan buah kelapa sawit
yang sudah masak, dipasang pada sore hari dengan posisi di sekitar piringan pohon
kelapa sawit. Pengamatan dilakukan pada pagi hari selama 3 hari berturut-turut.
Total keanekaragaman spesies dianalisis dengan index keanekaragaman Chao-1
pada program EstimateS 8.2 dan untuk melihat perbedaan antar komunitas tikus
pada setiap lahan dilakukan analisis dengan menggunakan Non Metric Dimensional
Scaling (NMDS) dan Analysis of Similarity (ANOSIM) dengan program Primer 6.
Terdapat dua spesies tikus di lokasi penelitian yaitu Rattus tiomanicus dan Berlymis
bawersi.
Kata kunci : kelapa sawit, TBM, TM, perangkap, Rattus tiomanicus, Berlymis
bawersi

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia
merupakan
negara agraris yang beriklim
tropis dan memiliki kesuburan
tanah yang tinggi sehingga
membuat sektor pertanian dan
perkebunan menjadi primadona di
negeri
ini.
Dalam
perkembangannya,
bidang

perkebunan kelapa sawit (Elaeis


guineensis Jack.), yang diyakini
datang dari Afrika Barat pada
tahun
1884
dan
mulai
dibudidayakan secara komersial
pada tahun 1911, setiap tahunnya
menunjukkan peningkatan luas
lahan yang signifikan diikuti
dengan peningkatan produksinya.
Tahun 2010 luas perkebunan
kelapa sawit Indonesia mencapai
8,385,394 ha dan pada tahun
2011
meningkat
menjadi
8,908,399 ha (Direktorat Jenderal
1

Perkebunan,
2012).
Perkembangan luas lahan tersebut
tidak
hanya
pada
lahan
perkebunan milik perusahaan
tetapi juga lahan milik petani.
Perkembangan yang sangat pesat
pada sektor perkebunan kelapa
sawit tersebut telah mampu
menempatkan Indonesia menjadi
salah satu produsen CPO terbesar
di dunia.
Tanaman kelapa sawit di
Provinsi
Jambi
merupakan
komoditi andalan di sektor
perkebunan selain karet. Hingga
tahun 2011 luas perkebunan
kelapa sawit di Provinsi Jambi
mencapai 465.265 ha (Direktorat
Jenderal Perkebunan, 2012).
Perkebunan tersebut tersebar di
semua kabupaten yang ada di
Provinsi Jambi, terluas ke-3
terdapat
pada
Kabupaten
Batanghari. Hingga tahun 2011
luas perkebunan kelapa sawit di
Kabupaten Batanghari mencapai
68.316,25 ha terdiri dari 9.531,81
ha
tanaman
yang
belum
menghasilkan (TBM), 54.875,44
ha tanaman menghasilkan (TM )
dan 3.909 ha tanaman tua/rusak
(TT/TR) (Dinas Perkebunan
Kabupaten Batanghari, 2012).
Perkebunan kelapa sawit juga
mengalami peningkatan luas
lahan di Kabupaten Sarolangun,
yang hingga tahun 2011 mencapai
39.775 ha (Direktorat Jenderal
Perkebunan,
2012).
Perkembangan sektor perkebunan
didukung oleh kondisi daerahnya
yang beriklim tropis dan sebagian
besar berupa dataran rendah
sehingga cocok bagi pertumbuhan
kelapa sawit. Seiring dengan
perkembangannya,
budidaya
tanaman kelapa sawit tidak
terlepas dari berbagai gangguan,

salah satunya adalah serangan


hama.
Hama
utama
yang
menyerang kelapa sawit adalah
dari golongan tikus dan serangga
yang bisa menyebabkan kerugian
yang
tidak
sedikit
pada
perkebunan
kelapa
sawit
(Setyamidjaja dan Djoehana,
1991). Terdapat 9 spesies tikus
yang berperan sebagai hama dan
bersifat merugikan bagi makhluk
hidup,
yaitu
Bandicota
bengalensis (wirok kecil), B.
indica
(wirok),
Rattus
argentiventer (tikus sawah), R.
rattus diardii (tikus rumah), R.
exulans (tikus ladang), R.
norvegicus (tikus riul), R.
tiomanicus (tikus pohon), Mus
caroli (mencit ladang), dan M.
musculus (mencit rumah). Spesies
tikus yang hidup di perkebunan
kelapa sawit antara lain, R.
tiomanicus, R. argentiventer, R.
rattus diardi dan R. Exulans
(Swastiko, 1995 dalam Mutiarani,
2009).
Tikus pohon merupakan
hama penting yang dominan
ditemukan pada perkebunan
kelapa sawit. Tikus pohon dapat
menimbulkan kerugian yang
cukup besar pada semua fase
pertumbuhan tanaman kelapa
sawit, baik yang baru ditanam,
tanaman muda yang belum
menghasilkan, maupun tanaman
yang
sudah
menghasilkan
(Priyambodo,
2003
dalam
Mutiarani 2009). Kelapa sawit
yang masih muda (TBM) tikus
mengerat pangkal pelepah sampai
titik tumbuh tanaman, sehingga
mengakibatkan tanaman mati.
Menurut Duryadi dan Tohari
(1987) dalam Mutiarani (2009)
kematian tanaman muda (TBM)

akibat serangan tikus dapat


mencapai 20%, sehingga harus
dilakukan penanaman ulang yang
memerlukan biaya tambahan
untuk bibit dan tenaga kerja, serta
menyebabkan tertundanya masa
panen. Tanaman yang telah
menghasilkan (TM), hama tikus
mengerat bunga dan buah kelapa
sawit. Menurut Sipayung et al.
(1987) dalam Dhamayanti (2009)
seekor tikus mampu memakan
daging buah kelapa sawit antara
5,5 gram sampai 13,6 gram/hari.
Namun
disayangkan
hingga saat ini informasi
mengenai keanekaragaman dan
kelimpahan hama tikus pada
perkebunan kelapa sawit di
Provinsi Jambi belum diketahui.
Oleh karena itu, penulis tertarik
untuk melakukan penelitian
dengan
judul
KEANEKARAGAMAN
TIKUS PADA PERKEBUNAN
KELAPA
SAWIT
(Elaeis
guineensis Jack.) YANG BELUM
MENGHASILKAN (TBM) DAN
YANG
TELAH
MENGHASILKAN (TM).
Tujuan Penelitian

METODE PENELITIAN
Tempat Dan Waktu
Pengambilan
sampel
penelitian
dilaksanakan
di
perkebuanan
rakyat
dan
perkebunan milik swasta di
Kabupaten
Sarolangun
dan
Kabupaten Batanghari pada
tanaman sawit yang belum
menghasilkan (TBM) dan yang
telah
menghasilkan
(TM).
Penelitian dilaksanakan selama 3
bulan dimulai bulan Oktober 2012
sampai bulan Desember 2012.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu buah
kelapa sawit, formalin 5%, dan
kloroform 37%. Alat yang
digunakan
adalah
meteran,
perangkap tikus, alat spek, kertas
plastik, sarung tangan, kamera
digital, timbangan, karung kain,
alat tulis dan buku kunci
identifikasi tikus.
Pelaksanaan Penelitian

Penelitian

ini bertujuan
untuk
mempelajari
keanekaragaman
tikus
pada
perkebunan kelapa sawit yang
telah menghasilkan (TM) dan
yang
belum
menghasilkan
(TBM).
Kegunaan Penelitian
Sebagai informasi
tentang
kelimpahan
keanekaragaman spesies
pada perkebunan kelapa
yang telah menghasilkan

dan yang belum menghasilkan


(TBM). .

awal
dan
tikus
sawit
(TM)

Survei lahan penelitian


Sebelum
pelaksanaan
penelitian, dilakukan survei lahan
perkebunan kelapa sawit di
Kabupaten
Sarolangun
dan
Kabupaten
Batanghari.
Berdasarkan
hasil
survei
ditetapkan
masing-masing
delapan lahan untuk setiap
kabupaten, terdiri atas empat
lahan TBM dan empat lahan TM.
Lahan sampel yang digunakan
adalah perkebunan rakyat dan
perkebunan milik swasta. Lahan

sampel yang digunakan tidak ada


yang
berdekatan
dengan
pemukiman, sawah maupun
ladang.
Pengambilan sampel
Terdapat 16 lahan di
perkebunan kelapa sawit yang
digunakan dalam penelitian ini,
yaitu delapan lahan (empat lahan
TBM dan empat lahan TM) di
Kabupaten
Sarolangun
dan
delapan lahan (empat lahan TBM
dan empat lahan TM) di
Kabupaten Batanghari. Umur
tanaman kelapa sawit 6-18 bulan
(TBM) dan 8-25 tahun (TM).
Pengambilan sampel dilakukan
dengan memasang perangkap,
sebanyak 25 unit untuk setiap
lahan (ukuran lahan 50 m x 50 m)
dengan jarak antar perangkap 9 m
x 9 m.
Pemasangan perangkap
Setiap perangkap diberi
umpan dari buah kelapa sawit
yang sudah masak. Pemasangan
perangkap dilakukan pada sore
hari dengan posisi peletakan
perangkap disekitar piringan
pohon kelapa sawit. Perangkap
tikus yang digunakan berbentuk
kotak persegi panjang dengan
ukuran p x l x t = 23 cm x 16 cm x
12 cm (Lampiran. Gambar 1).
Pengamatan
Pengamatan
dilakukan
pada pagi hari selama 3 hari
berturut-turut setelah pemasangan
perangkap.
Tikus
yang
terperangkap diidentifikasi dan
dihitung jumlahnya.

Spesies tikus
Tikus yang terperangkap
diambil dengan cara memasukkan
tikus tersebut kedalam karung.
Selanjutnya tikus dibius dengan
kloroform lalu disuntik dengan
formalin agar tidak membusuk.
Tikus tersebut diidentifikasi
dengan buku Field Methods for
Rodent Studies in Asia and the
Indo-Pacific (Aplin et al., 2003).
Jumlah tikus tertangkap
Sejalan
dengan
identifikasi, tikus yang tertangkap
dihitung jumlah per spesiesnya.
Kepadatan tutupan lahan/gulma
Pengambilan data tutupan
lahan/gulma sebanyak 5 titik per
lahan dengan ukuran 1 m x 1 m
per titik. Pengamatan dilakukan
secara visual dengan empat
katagori yaitu: rendah (0-25%),
sedang (25-50%), padat (50-75%)
dan sangat padat (75-100%).
Analisis Data
Total
keanekaragaman
spesies akan di analisis dengan
index keanekaragaman Chao-1
pada program EstimateS 8.2,
selanjutnya
untuk
melihat
perbedaan antar komunitas tikus
pada tiap lahan dilakukan analisis
dengan menggunakan Non Metric
Dimensional Scaling (NMDS)
dan Analysis of Similarity
(ANOSIM) dengan menggunakan
program Primer 6.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Keanekaragaman spesies tikus
Tabel 1. Jumlah tikus tertangkap
Lahan

Spesies

Tikus
tertangkap
(ekor)

TBM

Rattus
tiomanicus
Berlymis
bawersi
Rattus
tiomanicus
Jumlah

97

TM

1
23
121

Berdasarkan
hasil
identifikasi tikus yang tertangkap
di 16 lahan sampel, diperoleh dua
spesies tikus yaitu: Rattus
tiomanicus dan Berlymys bawersi.
Spesies tikus yang pertama
memiliki ciri ekor lebih panjang
daripada kepala + badan, terdapat
bantalan footpad pada telapak
kaki yang berukuran besar,
memiliki lima pasang puting susu
pada tikus betina (dua pasang
pada bagian pektoral dan tiga
pasang pada bagian ingunial),
tubuh bagian dorsal bewarna
coklat
kekuningan,
bagian
ventralnya
bewarna
putih
kekuningan dan memiliki kumis
lebih panjang melewati telingan
bila ditarik kebelakang (Gambar
1). Menurut Aplin et al. (2003)
ciri-ciri tersebut dimiliki oleh R.
tiomanicus.
Spesies yang kedua yaitu,
Berlymys bawersi dengan ciriciri: memiliki panjang kepala +
badan 190 mm, panjang tungkai
belakang 40 mm, warna kuning
keabuan, memiliki empat pasang
puting susu pada tikus betina (dua
pasang pada bagian pektoral dan

dua pasang pada bagian ingunial),


bagian punggung bewarna kusam,
terdapat bulu yang kasar, warna
tubuh bagian dorsal lebih gelap
dari pada bagian ventral dan pada
telapak kaki belakang terdapat
bantalan berukuran kecil yang
terpisah jelas (Gambar 2). Hal ini
sejalan dengan pendapat Menurut
Aplin et al. (2003) yang
menyatakan bahwa tikus B.
bawersi memiliki ciri morfologi
yaitu, warna kecoklatan, abu-abu,
punggung kusam tanpa bulu, ekor
biasanya sedikit lebih panjang
daripada kepala + badan, warna
biasanya sedikit lebih gelap
bagian dorsal daripada bagian
ventral, tikus betina memiliki dua
pasang puting susu (dua pasang
pada bagian pektoral dan dua
pasang pada bagian ingunial).

d
c

Gambar 1. Spesies Rattus tiomanicus


Keterangan :
a. Bentuk ekor bersisik dan
ukurannya lebih panjang
daripada badan + kepala

b. Bulu kumis lebih panjang,


melewati telinga bila ditarik
ke belakang
c. Terdapat 2 pasang puting
susu di bagian pektoral
d. Terdapat 3 pasang puting
susu di bagian ingunial
e. Terdapat bantalan footpad
pada telapak kaki

2.5

Keanekaragaman

tikus yang di estimasi dengan


index keanekaragaman Chao1
(Gambar
3).
Kurva
ini
mengindikasikan
tingkat
kekomplitan sampling sebesar
100%.

g
d

2
1.5
Observed

Estimated

0.5

Eror

0
1 4 7 10 13 16

Gambar 2. Spesies Berlymys bawersi


Keterangan :
a. Dua pasang puting susu
bagian pektoral
b. Warna dorsal lebih gelap
daripada warna ventral
c. Dua pasang puting susu
bagian ingunial
d. Memiliki panjang kepala +
badan 190 mm
e. Bagian punggung bewarna
kusam dan terdapat bulu
kasar
f. Memiliki panjang tungkai
belakang 40 mm
g. Bantalan pada telapak kaki
berukuran kecil dan terpisah
Komputasi data dengan
program
EstimateS
8.2
menghasilkan sebuah kurva
akumulasi
spesies
yang
menunjukkan
rasio
antara
keanekaragaman tikus yang
teramati dan keanekaragaman

Lahan sampel

Gambar
3.
Kurva
akumulasi spesies tikus dari 16
lahan sampel perkebunan kelapa
sawit.
Kurva diatas menunjukkan
bahwa pada ekosistem kelapa
sawit tersebut memang hanya
terdapat dua spesies tikus yaitu R.
tiomanicus dan B. bawersi.
Spesies tikus yang ditemukan dari
16 lahan perkebunan didominasi
oleh R. tiomanicus dan hanya
pada satu lahan TBM yang
ditemukan dua spesies tikus yaitu
R. tiomanicus dan B. bawersi. Hal
ini diduga karena keberadaan
semua perkebunan yang dijadikan
sampel relatif homogen yaitu
berada jauh dari pemukiman,
sawah maupun ladang. Akibatnya
hanya dua spesies tikus yang
ditemukan yaitu R. tiomanicus
dan B. Bawersi, sedangkan
spesies R. diardi, R. argentiventer
dan R. exulans tidak ditemukan.
Murakami (1992) menyatakan
bahwa R. diardi memiliki habitat
asli
di
pemukiman,
R.

argentiventer memiliki habitat


asli di sawah dan R. exulans
memiliki habitat asli di ladang.
Keberadaan tikus spesies
B. bawersi pada salah satu lahan
perkebunan kelapa sawit TBM
diduga karena lahan perkebunan
tersebut merupakan bekas hutan
dan posisi kebun tersebut juga
bersebelahan langsung dengan
hutan
sekunder,
sehingga
memungkinkan hadirnya tikus
spesies tersebut. Menurut Aplin et
al. (2003) B. bawersi merupakan
tikus yang habitatnya di hutan dan
sesekali menjadi hama bagi
tanaman, tikus ini sebagian besar
menghabiskan waktunya di atas
tanah.
Analisa
Non-Metric
Multidimensional
Scaling
(NMDS)
terhadap
data
kelimpahan spesies tikus di 16
perkebunan
kelapa
sawit,
menghasilkan pola sebaran yang
mengindikasikan
derajat
perbedaan maupun kemiripan
komunitas tikus di lahan sampling
(Gambar 4).
tikus
Transform: Log(X+1)
Resemblance: S17 Bray Curtis similarity
2D Stress: 0

Usia Tanaman
Tanaman Belum Menghasilkan
Tanaman Menghasilkan

B6

S4
B3
S2SS13
B2
S7

B1

B7
B4
B8

S6
S5
S8
B5

Gambar 4. Grafik ordinasi NonMetric Dimensional Scaling (NMDS)


dari semua tikus di 16 lahan
perkebunan kelapa sawit TM dan
TBM).

Pola sebaran pada plot


ordinasi NMDS (Gambar 4)
menunjukkan
adanya
pengelompokan yang lebih dekat
(homogen)
antara
sesama
perkebunan TBM dibandingkan
dengan perkebunan TM. Uji
lanjut dengan menggunakan
Analysis
of
Similarities
(ANOSIM) menunjukkan bahwa
struktur komunitas tikus di dalam
masing-masing kelompok TBM
dan TM relatif homogen, namun
terdapat
perbedaan
yang
nyata/signifikan antar kelompok
TBM dan TM ( R = 0,468 ; P =
0,003).
Berdasarkan
hasil
pengamatan kepadatan tutupan
lahan/gulma secara visual didapat
data sebagai berikut (Tabel 2).
Tabel 2 menunjukkan bahwa
tutupan lahan/gulma lebih padat
pada lahan TBM dibandingkan
lahan TM, sehingga cocok untuk
tempat berlindung bagi hama
tikus.
Hasil
penelitian
menunjukkan bahwa tingkat
keanekaragaman
spesies
(biodiversitas) tikus rendah pada
perkebunan kelapa sawit. Spesies
tikus yang ditemukan dari 16
lahan perkebunan didominasi oleh
R. tiomanicus dan hanya pada satu
lahan TBM yang ditemukan dua
spesies tikus yaitu R. tiomanicus
dan B. bawersi. Hal ini diduga
karena
keberadaan
semua
perkebunan
yang
dijadikan
sampel relatif homogen yaitu
berada jauh dari pemukiman,
sawah maupun ladang. Akibatnya
hanya dua spesies tikus yang
ditemukan yaitu R. tiomanicus
dan B. Bawersi, sedangkan
spesies R. diardi, R. argentiventer
dan R. exulans tidak ditemukan.

Murakami (1992) menyatakan


bahwa R. diardi memiliki habitat
asli
di
pemukiman,
R.
argentiventer memiliki habitat
asli di sawah dan R. exulans
memiliki habitat asli di ladang.
Keberadaan tikus spesies
B. bawersi pada salah satu lahan
perkebunan kelapa sawit TBM
diduga karena lahan perkebunan
tersebut merupakan bekas hutan
dan posisi kebun tersebut juga
bersebelahan langsung dengan
hutan
sekunder,
sehingga
memungkinkan hadirnya tikus
spesies tersebut. Menurut Aplin et
al. (2003) B. bawersi merupakan
tikus yang habitatnya di hutan dan
sesekali menjadi hama bagi
tanaman, tikus ini sebagian besar
menghabiskan waktunya di atas
tanah.
Hasil analisis ANOSIM
menunjukkan tidak terdapat
perbedaan yang nyata pada
struktur komunitas tikus antara
lahan sampel di Batanghari dan
lahan sampel di Sarolangun. Hal
ini
mengindikasikan
bahwa
terdapat kesamaan spesies tikus
pada kedua kabupaten ini, yaitu
sama-sama di dominasi oleh R.
tiomanicus.
Dominasi
R.
tiomanicus
tanpa
adanya
kompetitor di perkebunan kelapa
sawit tersebut berpotensi memicu
ledakan populasi hama tersebut,
sehingga dapat menimbulkan
kerusakan yang nyata pada
tanaman kelapa sawit. Hal ini
sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Wood dan Chung
(1990) yang melaporkan bahwa R.
tiomanicus telah menjadi hama
serius pada perkebunan kelapa
sawit di Semenanjung Malaysia.
Hasil analisis NMDS dan
ANOSIM menunjukkan adanya

pengelompokkan dan perbedaan


yang
signifikan
antara
perkebunan TBM dan TM.
Populasi tikus lebih tinggi pada
perkebunan kelapa sawit TBM
dibandingkan TM. Diduga hal ini
disebabkan
oleh
perbedaan
penutupan lahan oleh gulma pada
kedua
perkebunan
tersebut.
Berdasarkan pengamatan di
lapangan tutupan lahan oleh
gulma/belukar dan sisa-sisa bahan
organik lebih padat
pada
perkebunan TBM dibandingkan
TM (Tabel 2.), sehingga cocok
bagi
tikus
untuk
tempat
berlindung (Lampiran. Gambar 3
dan 4 ). Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh
Brown et al. (1996) yang
menyebutkan bahwa meskipun
tikus terdapat di beberapa habitat,
populasi tikus paling melimpah di
daerah yang penutup tanahnya
lebih padat. Selain itu diduga
keberadaan musuh alami (ular,
burung
hantu,
dll)
pada
perkebunan kelapa sawit TBM
masih rendah, sehingga populasi
tikus lebih tinggi pada TBM.
Penelitian yang dilakukan
oleh
Dhamayanti
(2009)
menunjukkan bahwa kerugian
yang disebabkan serangan hama
tikus pada TM mencapai 5%
CPO/ha/tahun dan 80% pada
tanaman muda. Kerugian yang
lebih besar pada tanaman muda
(TBM) disebabkan karena pada
umur tersebut tikus memakan titik
tumbuh sehingga tanaman mati.
Hal ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Duryadi dan
Tohari (1987) dalam Mutiarani
(2009) yang melaporkan bahwa
akibat dari serangan hama tikus
pada tanaman muda (TBM) dapat
mencapai 20%, sehingga harus

dilakukan penanaman ulang yang


memerlukan biaya tambahan
untuk bibit dan tenaga kerja, serta
menyebabkan tertundanya masa
panen. Oleh sebab itu, pada
perkebunan kelapa sawit TBM
perlu diciptakan kondisi kebun
yang bersih dari gulma untuk
mencegah peningkatan populasi
tikus.
Tabel 2. Tabulasi data tutupan lahan/gulma di lokasi pengambilan sampel.
Umur Smpl
tan
S1

S2

S3

B1

B2

B3

B4

1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5

Umur
tan

Smpl
S5

S6

S7

S8
TM Sarolangun & Batanghari

TBM Sarolangun & Batanghari

S4

Sgt Pdt Sdg Rndh


pdt

B5

B6

B7

B8

Sgt Pdt Sdg Rndh


pdt
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Terdapat dua spesies tikus
di lokasi penelitian yaitu R.
tiomanicus dan B. bawersi.
Saran
Untuk penelitian lebih
lanjut
disarankan
untuk
menggunakan beberapa jenis
perangkap dan lahan yang
digunakan
sebagai
sampel
berbatasan langsung dengan
pemukiman, sawah dan ladang.

REFERENCE
Aplin KP, PR Brown, J Jacob, CJ
Kreb, GR Singleton. 2003.
Field Methods for Rodent
Studies in Asia and the IndoPacific. Australian Centre
for
International
Agricultural
Research
(CSIRO)
Canberra,
Australia 2003.
Brown KP, H Moller, J Innes, N
Alterio. 1996. Calibration of
tunnel tracking rates to
estimates relative abundace
of ship rats (Rattus rattus)
and mice (Mus musculus) in
a New Zeland forest. New
Zeland Ecological Society
20(2):271-275.

Tabel 2. Tabulasi data tutupan


lahan/gulma di lokasi pengambilan
sampel.
Keterangan :
0-25% tertutup gulma = Rendah
25-50% tertutup gulma= Sedang
50-75% tertutup gulma = Padat
75-100% tertutup = Sangat padat

Dhamayanti A. 2009. Kajian sosial


ekonomi pengendalian hama
tikus
pohon,
Rattus
tiomanicus Miller dengan
burung hantu, Tyto alba,
pada perkebunan kelapa
sawit. Seminar Nasional
Perlindungan
Tanaman,
Bogor 5-6 Agustus 2009.
Bogor.

Direktorat Jenderal Perkebunan.


2012. Laporan Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah
(LAKIP) 2011. Jakarta.
Maret 2012.
KPDE.

2012. Statistik Dinas


Perkebunan
Kabupaten
Batang Hari. Batanghari. Di
unduh
dari
http://www.batangharikab.g
o.id/bat/. (di akses 9 Januari
2013.

Luas Perkebunan Sawit Indonesia.


2012. Direktorat Jenderal
Perkebunan, Kementerian
Pertanian. Di unduh dari
http://satuindonesiaraya.blogspot.com/
2012/02/luas-perkebunansawit-di-indonesia.html. (di
akses 9 Januari 2013).
Murakami O. 1992. Tikus Sawah.
Laporan akhir kerjasama
Indonesian-Jepang bidang
perlindungan
tanaman
pangan.
(ATA-162).
Direktorat
Perlindungan
Tanaman Jakarta.
Mutiarani H. 2009. Perancangan dan
Pengujian
Perangkap,
Pengujian Jenis Rodentisida
Dalam Pengendalian Tikus
Pohon (Rattus tiomanicus
Mill.), Tikus Rumah (Rattus
rattus diardii Linn.), dan
Tikus
Sawah
(Rattus
argentiventer Rob. & Klo.)
di Laboratorium. Skripsi-S1.
Institut Pertanian Bogor.
Bogor.

Rabillard
MA.
2010-2011.
Estimation of Age Structure
of The Malaysian Wood Rat
Rattus
tiomanicus
Population in Oil Palm
Plantations
From
Osteometric Measurements
in Indonesia (Sumatra).
Tesis Megister. University
Montpellier 2. Montpellier.
Wood BJ, CG Feeb . 2002. A critical
review of the development
of rat control in Malaysian
agriculture since the 1960.
Elsevier Science 2(22):445
461.
Wood BJ, GF Chung. 1990. Warfarin
resistance
of
Rattus
tiomanicus in oil palms in
Malysia and the associated
increase Rattus diardii.
Proceedings
of
the
Fourteenth Vertebrate Pest
Comferenc.
Linclon
3
Agustus 1990. Vertebrata
Pest
conference
Proceedings, Linclon.
ACKNOWLEDGMENTS
Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada
Dr. Yuni Ratna, SP.MP. dan Dwi
Ristyadi, SP. MSc.Agr. sebagai
Pembimbing I dan II atas bimbingan,
kritik dan saran serta bantuannya
dalam pengolahan data penelitian
yang telah diberikan selama penulis
melaksanakan
penelitian
dan
penyusunan Jurnal Ilmiah ini. Ucapan
yang sama juga disampaikan kepada
tim penguji yaitu, Dr. Ir. Wilyus,
M.Si. Dra. Hj. Yusnani, Ir. Islah
Hayati, M.Sc. yang telah memberikan
tambahan informasi dan masukan
untuk perbaikan isi Jurnal Ilmiah ini.

10

Ucapan terimakasih juga


penulis sampaikan kepada Dra.
Yusfaneti
selaku
Pembimbing
Akademik yang selalu memberikan
arahan dan dukungan selama kuliah
hingga penyusunan Jurnal Ilmiah.
Ucapan terimakasih juga penulis
sampaikan kepada CRC grup B09
yang telah memfasilitasi pelaksanaan
penelitan dan menyediakan bantuan
yang diperlukan dan terimakasih juga
penulis sampaikan kepada Kevin
Darras (Mahasiswa S-3 Universitas
Gottingen Jerman) yang selalu
memberikan
masukan
dan
mendampingi pelaksanaan penelitian
dilapangan. Ucapan terimakasih juga
penulis sampaikan kepada bapak
Swastiko Priyambodo (Dosen IPB)
dan
bapak
Yadi
Kusmayadi
(BPPOPT Jati Sari) yang telah
meluangkan waktunya untuk penulis
berkonsultasi.

Keterangan:
1. Pohon kelapa sawit
2. Perangkap
3. Umpan dari buah kelapa
sawit

Gambar 3. Keadaan gulma pada


perkebunan kelapa sawit TBM

Lampiran. Dokumentasi penelitian

Gambar 4. Keadaan gulma pada


perkebunan kelapa sawit TM
Gambar 1. Perangkap yang digunakan

2
3

Gambar 2. Posisi peletakan perangkap

Gambar 5. Pengamatan kepadatan


tutupan lahan/gulma di lahan
pengambilan sampel.
11