You are on page 1of 7

HEGEMONI DAN POSTKOLONIAL

Oleh. M. Yunis

Di awali dengan dengan teks proklamasi bahwa, ‘’hal-hal mengenai
perpindahan, kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan seksama
dalam tempo sesingkat-singkatnya’’, alhamdulilah sudah tertunaikan dengan baik.
Tetapi, yang lebih sulit perpindahan dari jiwa dan mental terjajah kemental dan
jiwa merdeka membutuhkan waktu yang relatif lama. Seperti yang dikemukana
Leela Gandhi (2001) dampak penjajahan itu akan terasa beberapa tahun atau
mungkin puluhan tahun setelah kemerdekaan, dampak itu kian terasa setelah
praktek itu dilaksanakan oleh bangsa dan saudara sendiri. Baik melalui sistem
pendidikan, politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Bangsa yang berdaulat baik
ke dalam maupun keluar belum mampu menciptakan sitem sendiri, banyak hal
yang selalu disadur dari dunia Barat atau Eropah. Dari cara berpikir, gaya hidup,
acuan kemajuan hingga pendidikan sendiri semuanya bermuara pada denotaum
yang sama yaitu Barat.
Menurut Fanom, kebebasan itu adalah bebas berpikir, bertindak, dan
melakukan segala hal selama tidak merugikan orang lain secara khusus dan
kesatuan bangasa secara umum. Kesatuan bangasa seperti apa? Kita lihat konsep
bangsa dan negara, awalnya merupakan kesatuan dari kelompok kecil lambat laun
menjadi besar setelah mempunyai persamaan misi, visi dan satu cita-cita yaitu
kemakmuran bersama dan saling mencerdaskan dan bukanlah saling membunuh?
Jika semua itu tidak bisa direalisasikan lagi, adalah wajar terjadi gejolak di tenah
masyarakat, karena ingin menuntut sebuah keadilan yang memihak rakyat, sebab
negara ini bukanlah milik penguasa, negara ini ada karena adanya rakyat jelata
sebagai tumbal kemerdekaan.
Alhasil dari itu, membekaslah luka-luka historis dari mereka yang dipaksa
menjadi budak. Luka-luka ini lambat-laum menjalar dan mengakar dan
melahirkan moral baru, proses itu akan berlangsung sangat rapi melalui sitem
yang diakui dan bahkan dipuja atas nama intelektual dan sebuah keinginan
menaklukan dunia dan merubahnya menjadi dunia yang dihayalkan, moral baru
etika baru kiranya perlu dipergunakan untuk mencapai birahi kesempunaan
tersebut. Nah, di saat para budak ini berkuasa, darah-darah baru akan disusupkan
melalui sitem yang rapi, kepembuluh-pembuluh vena maupun arteri warga negara,
itulah moral yang dinginkan dalam sebuah perubahan menyeluruh, namun masih
dalam versi hayalan satu budak saja. Hal ini sejalan dengan pernyataan Nietzche
dalam Ritzer (2003) tentang geneologi moral, bahwa moral yang digambarkannya
sangat memilukan, moral awalnya jatuh dari langit, setelah sampai di bumi moral
dibunuh, kemudian moral dilahirkan kermbali dalam wujud baru sesuai dengan
kepentingan duniawi, Nietczhe kemudian divonis mati dalam keadaan gila dan
seluruh keluarganya ikut menjadi tumbal kegilaan Nietczhe. Jelaslah terlihat apa
yang dikemukan Gandhi dalam Gandhi (2001:29) bahwa para budak
mengingnkan sifat penjajah tetapi tidak mau disebut sebagai penjajah,
menginginkan sifat hariamau tapi tidak mau disebut harimau, tetapi pahlawan atau
penyelamat. Jalan satu-satunya untuk terus maju adalah membuat harimau itu
tidak lagi menyenangkan, kapan perlu jangan sampai belangnya tertinggal dan
tercecer.
Seiring dengan itu Gandhi dan Fanon dalam Gandhi telah mengingatkan
akan bahaya Narasi Moderen Barat, bahwa Kolonial tidak akan berhenti sampai
kemedekaan Si tejajah telah diperoleh secara De facto, Gandhi dan Fanon ingin
menyatakan bahwa Barat akan kembali memasukan tokoh-tokoh dari para
korbannya yang terepresi dan terpinggirkan, dalam artian menjadi objek kajian
untuk mengambil hati Si terjajah. Untuk mensukseskan itu mereka menceritkan
industrialisasi sebagai ekspoitasi terhadap ekonomi, demokrasi yang terpecah
terhadap aksi protes dari pihak yang mempunyai hak pilih, teknologi yang selalu
dikombinasikan dengan perang, sejarah pengobatan yang diidentikan dengan
teknik penyiksaan. Semuanya itu bertujuan untuk menghasilan ekploitasi ekonomi
baru terhadap para budak, menciptakan senjata yang lebih canggih untuk
menghadapi perang, dan menciptakan teknik penyiksaan baru terhadap kaum akar
rumput. Akibat dari itu, lahirnya Marxisme yang kemudian Marxisme itu sendiri
disalahtafsirkan sehingga kaum intelektual menceburkan dirinya ke dalam konsep
komunis, sebagai akibat dari pendewaan terhadap salah satu segi aspek saja tanpa
memikirkan aspek utama yang dibahas di dalam marxisme, akhirnya Marx didosai
atas pemikiran yang dimunculkannya (Berlin 2000).
Salah satu contoh yang jelas terlihat atas keberhasilan prinsip kolonial,
seperti yang dikemukan Leela Gandhi adalah protesnya terhadap Rene Descartes.
Gandhi juga menerangkan menjalarnya teknik kolonial ini berangkat dari
kegagalan cogitonya Descartes, karena subjek yang berpikir tidak tahu batasan
yang jelas tentang berpikir sehingga berakhir dengan kekerasan, debat kusir para
sarjana karena ingin memihak pada kebenaran mutlak, semangat persaingan,
kompetisi sehingga secara pelan akan menempa senjata-senjata akal. Alhasil,
rusaklah rasionalitas kaum intelektual yang notabenenya pelanjut Aufklarung,
ujung-ujungnya akan membawa kepada kepicikan hingga ke peperangan-
peperangan. Lalu hukum akan menggantikan kesejahteraan dengan ‘’rule of low’’
dengan cara memasukan kekerasan ke dalam sistem dan berlanjut kedalam
dominasi ke dominasi (pengaruh). Focoult mengatakan dalam dalam Poole (1993)
dengan mengatasnamakan geneologi kekuasaan, dimana kekuasaan tersebut
berada di mana-mana, kapan saja, momen apa saja, mengitari diri setiap orang.
Jadi, Postkolonial sejalan dengan Feminisme dan Hyperrealitas yang
dikemukan Eco, Baudrillar dengan simulasinya, seperti yang diakatakan tiada
salahnya kita menikmati hidup dalam dunia simulasi, menikmati hidup dalam
hiperealitas, pelipatgandaan ada (being), kemudian Piliang dengan
Hypersemoitika yang mengatakan bahwa tanda tidak ada lagi acuannya dalam
realitas, semuanya berupa penanda. Maka inilah yang dikatakan Piliang (2006)
bahwa manusia terjebak dalam bujuk rayu dan ketersesatan tanpa bertujuan,
citraan adalah segala-galanya bagi manusia. Tanda menciptakan mitosnya sendiri
dalam nostalgia dan mengambil alih makna secara atuh, hayalan-hayalan semu
tetapi terlihat sangat nyata. Meskipun padahal awalnya simulasi dianggap
Baudrillard sebagai strategi intelektual, namun perkembangannya membawa
dampak menuju hiperrealitas sebagai akibat dari pengalaman kebendaan itu
adalah hasil dari sebuah proses.
Jadi, Postkolonial adalah pemberontakan cara pandang objektiftivitas
terhadap ekpsloitasi yang berlebihan oleh subjektivitas, sebab di dalam prosesnya
sendiri kolonial itu ditanamkan dengan nama baru, atas nama kemanusiaan,
pencerahan, keamaanan dan juga atas nama ketentraman masyarakat yang pada
intinya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menanamkan pengaruh, dominasi,
namun sangat tersusun rapi, tersistim dan hal itu diakui secara tidak sadar maupun
tidak.
Jadi jelaslah kolonialisme menginginkan segala hal yang berasal dari
dirinya (Fanom dalam gandhi 2001:26). Kemudian Fanon juga menegaskan
kebebasan total dalam artian merdeka sebenarnya adalah kebebasan yang
memperhatikan segala aspek kepribadian.

Bias Gender
Menarik pula apa yang dikemukan Focoult dalam Ritzer (2003: 109)
bahwa seksualitas adalah pemindahan pemahaman yang padat terhadap seksual.
Awal abat ke- 17 victorinisme membatasi seksual hanya sebatas di dalam rumah
dan perkawinan dalam lingkungan keluarga, namun setalah itu diserap oleh ilmu
pengetahuan ke dalam diskursus, adanya suatu usaha agar seks dipadatakan
melalui bahasa, pernyataan bahwa seks adalah topik yang sangat menyenangkan
untuk dibahas, bahkan di lain kajian tentang seksual sudah diciptakan teorinya.
Penanaman idiologi atas ketabuan seks harus disirnakan karena itu menyasikan.
Agar diskursus tentang seks ini tidak merugikan kekuasaan, maka kekuasaan
berusha mengidentifikasi, menyediakan literatur dan melakukan pencatatan yang
sangat rapi, persoalan seks adalah kebijakan negara, lahirlah UU pornografi dan
porno aksi. Artinya, kekuasaan tidak berusaha tidak menyembunyikan hasil dari
peningkatan pandangan tetapi lebih tertarik kepada kenikmatan seks. Focoult juga
menyatakan bahwa kekuasaan meminta seksualitas untuk melakukan
persetubuhan, dengan mencumbunya dengan mata, mengintensifkan bagian-
bagiannya, membangkitkan permukaannya dan mendramatisir kekacauan (Rizer
2003: 112).
Kemudian pasca pelacur melahirkan postfeminisme, yang mana banyak
kalangan menuntut untuk melegalkan prostitusi, lesbian, homoseksual dan
heteroseksual. Berlanjut pada Dorse yang menukar kelamin mejadi perempuan,
Afi yang minta dikuburkan sebagai laki-laki, Lenny yang sembahyang memakai
makena dan pergi Haji sebagai laki-laki. Ini adalah sebuah fenomena yang nyata
ditawarkan oleh media yang sudah dimamah oleh masyarakat komsumer kita.
Memang betul isunya berangkat dari jender, persamaan jender, pembagian rata
hak dan kewajiban antara laki-laki dengan perempuan. Juga, awalnya mucikari
hanya seorang penampung PSK atau pencari PSK untuk diperkerjakan, tetapi
lambat laun hal itu berubah menjadi sebuah profesi yang patut pula dihargai dan
diakui.
Nah yang terjadi di dunia media, sesuai dengan apa yang dinyatakan
Focoult tersebut di atas, bahwa menginginkan seks dicumbu dengan mata, televisi
menyuguhkan kemolekan tubuh wanita, kelangsingan, mulus, cantik itu putih dan
segala macamnya. Inilah yang yang dinginkan oleh kekuasaan, memanajemen
seks untuk kenikmatan dan kepuasan birahi melalu sarana media, sebab tidak bisa
ditolak bahwa semua mata masyarakat konsumen sudah tertuju pada dunia maya,
antologi citraan. Sangat menggiurkan ketika iklan sampo mampu membersihkan
kotoran rambut hingga keakar-akarnya, dan sangat menjanjikan ketika memakai
biore, nivea mampu membuat wajah bersih dan putih. Meminum pil rapet wangi
membuat perempuan terasa virjin. Sejalan juga denga apa yang dikemukan
Piliang (2004: 322) bahwa kesucian telah digantikan oleh mesin, yang suci adalah
yang sesuai dengan apa yang dibicarakan dalam ontologi citraan. Ini adalah suatu
usaha bagaimana membuat kaum adam senang, dan matanya tertuju kepada
virjinitas kaum perempuan. Moral-moral seperti ini telah mampu menciptakan
mitos baru bahwa yang virjin itu adalah perempuan yang suca meminum pil rapet
wangi, dan secara tidak langsung sudah menghancurkan mitos lama bahwa yang
virgin itu adalah yang suci dan belum tersentuh. Di sini moral yang diajarkan
agama samawi terbuang dan hancur seiring timbulnya mitos yang dibuat oleh
kekuasaan.
Sejalan dengan itu, ekploitasi terhadap seksual semakin dibicarakan, budaya
seksual yang menjadi pembahasan cultural studies mengkategorikannya ke dalam
budaya populer yang sudah seharusnya dinimati oleh masyarakat moderen.
Setidaknya itulah yang diciptakan dan yang dinginkan Hagemoni Barat dan
Eropah, membangun sebuah tatanan baru, feminisme perempuan dunia ketiga ke
dalam sebuah kancah yang dulu termarjinalkan, menjadikan perempuan pribumi
atau perempuan Timur sebagai objek pembanding. Membuat pernyataan bahwa
sudah saepatutnya kesetaraan jender menjadi kajian yang menarik. Padahal
sesungguhnya pandangan feminisme baru itu adalah sebuah pendustaan untuk
menghancurkan mitos perempuan suci yang dimiliki oleh orang Timur. Di pihak
perempuan Timur malah tidak sadar bahwa penjajahan terhadap dirinya sudah
dilakukan oleh feminisme Barat, mempunyai anak cukup 2 saja karena bisa lebih
fokus untuk membiayainya, makanya pakai kondom dalam transaksi seksual, atau
diperbolehkan berhubungan seks dengan menggunakan kondom, bergerigi agar
lebih sensual. Sekarang, transaksi seksual sering dibumi hanguskan, maka
kerugian yang utama terletak pada kekuasaan, jika pelacuran ditutup maka
berkuranglah pemasukan. Salahnya kekuasaan sendiri, bagi kaum lelaki dituntut
mempunyai istri 1 supaya bisa bersifat adil dan setia, kekuasan memunculkan UU
tentang itu, akibatnya Si laki-laki bebas jajan di pinggiran jalan dari pada
menyantap hidangan yang terjamin dan bersih di dalam rumah. Namanya jajan di
luar belum tentu jajanan itu bersih dan terbebas dari kuman penyakit.
Dalam beberapa waktu ini kekuasan lengah dalam mengomandoi seksual,
sehingga seks mengganas merambah gedung suci Dewan, instansi dan lembaga-
lembaga terdidik, sehingga mental para pemangku kekuasan perlu dipertanyakan.
Perselingkuhan, pelecehan seksual, dan istri simpanan, telah menghanguskan apa
yang dianggap aturan yang ideal bagi bangsa Timur dan memberantas habis
feminisme ketimuran. Media yang sarat dengan informasi telah berubah menjadi
pemangsa yang ganas, memangsa budaya, moral hingga masyarakat akar rumput,
pelecehan terhadap anak di bawah umur, perkosaan yang dilakuakan oleh ayah
rutiang adalah fenomena yang tidak asing lagi, beginilah feminisme yang
dinginkan dunia Barat. Memang wanita karir adalah sebuah profesi yang sangat
menjajikan dalam dunia moderen tetapi secara radikal keluar, suami terabaikan,
anak-anak kehilangan idolanya yang pertama, sejak kecil hidup dengan bebi
sister, bebi sister jadi ibu tiri. Selera suami lebih ditentukan oleh pembantu, mulai
dari pakaian, masakan hingga seks.
Sekurang-kurangnya usaha hagemoni sudah mulai sukses untuk menanamkan
ideologinya, sorotan terhadap kaum perempuan terpinggirkan menjadi
suambangan hangat bagi perempuan Timur, tetapi sesunggunya perempuan Timur
telah membantu mentransformasikan usaha mereka untuk kembali menjajah
dengan sistem.
*Maha Siswa Pasca Sarjana
Universitas Andalas Padang