PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENJUMLAHAN PECAHAN CAMPURAN

DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK
INDONESIA DI KELAS V SDN 09 AIR TAWAR BARAT PADANG

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

OLEH
PEFRI DERIANTO
NIM. 11861

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013

PERSEMBAHAN

Dan demikianlah kami telah menurunkannya (Al-Quran) yang merupakan ayat-ayat yang nyata;
sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki
(Qur’an Surah Al-Hajj ayat 16)
Bagi Tanah Airku Indonesia
Baktiku
Buat Almamater Tercinta
Universitas Negeri Padang
Sebuah Kasih Sayang
Untuk Keluarga Terkasihku
Bapak Gusmanto & Ibu Kasmiati
Serta Adikku Deri Seftian
Tim Sukses…
Dra. Yetti Ariani, M.Pd dan Masniladevi, S.Pd. M.Pd Sebagai Dosen
Pembimbing yang Telah Banyak Memberikan Bantuan
Sehingga Skripsi Ini Dapat Terselesaikan
Keluarga Besar PGSD UNP Terkhusus untuk R05
Keluarga Besar KSR PMI Unit UNP Terkhusus untuk Angkatan XVI
Special Thanks to…
Keluarga Besar SDN 09 Air Tawar Barat Padang
Keluarga Besar MTFC Walet 3

Wassalam
Pefri Derianto

ABSTRAK
Pefri Derianto, 2013. Peningkatan Hasil Belajar Penjumlahan Pecahan
Campuran dengan Pendekatan Pendidikan Matematika
Realistik Indonesia di Kelas V SDN 09 Air Tawar Barat
Padang
Penelitian ini dilatar belakangi rendahnya nilai hasil belajar penjumlahan
pecahan campuran di kelas V SD. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan belum
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Tujuan penelitian ini untuk
mendeskripsikan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan hasil
belajar penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan pendidikan matematika
realistik Indonesia.
Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan
menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Subjek penelitian siswa kelas V
SD dengan jumlah 26 siswa. Penelitian dilaksanakan II siklus dan setiap siklus terdiri
dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II, perencanaan
pembelajaran memperoleh nilai rata-rata dari 71,43 % menjadi 89,29 %. Aktivitas
guru dari 65 % menjadi 87,5 %, aktivitas siswa dari 65 % menjadi 87,5 %, serta hasil
belajar siswa dari 62,06 terjadi peningkatan menjadi 82,05. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia dapat
meningkatkan hasil belajar penjumlahan pecahan campuran di kelas V SDN 09 Air
Tawar Barat Padang.

i

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
kekuatan lahir dan batin kepada diri kami, sehingga penulisan skripsi ini terselesaikan
tepat waktunya dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Penjumlahan Pecahan
Campuran dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia di
Kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang.” Shalawat dan salam semoga
dilimpahkan oleh Allah SWT kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang
senantiasa kita jadikan sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak kepada penulis, maka dari itu dalam kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Drs. Syafri Ahmad, M.Pd sebagai ketua jurusan PGSD FIP UNP dan
sebagai tim penguji yang telah memberi masukan terhadap penulisan skripsi ini
2. Ibu Masniladevi, S.Pd, M.Pd sebagai sekretaris jurusan PGSD FIP UNP dan
sebagai pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan
bimbingan, arahan dan dukungan yang membangun dalam penyusunan skripsi ini
3. Bapak Drs. Mansur Lubis, M.Pd dan Ibu Dra. Elfia Sukma, M.Pd sebagai Ketua
dan Sekretaris UPP I PGSD UNP, beserta Bapak dan Ibu staf pengajar yang telah
memberikan ilmu selama perkuliahan demi terselesaikan sripsi ini

ii

4. Ibu Dra. Yetti Ariani, M.Pd sebagai pembimbing I yang telah meluangkan waktu
untuk memberikan bimbingan, arahan dan dukungan yang membangun kepada
penulis dalam penyusunan skripsi ini
5. Ibu Dra. Hj. Silvinia, M.Ed dan Ibu Dra. Mulyani Zen, M.Si sebagai tim penguji
yang telah memberi masukan terhadap penulisan skripsi ini
6. Ibu Dra. Hj. Harnawita, M.Pd sebagai Kepala Sekolah SDN 09 Air Tawar Barat
Padang yang telah memberikan izin dan kesempatan kepada penulis untuk
melakukan penelitian
7. Ibu Venti Aswiza, A.Ma sebagai wali kelas V sekaligus majelis guru serta staf
yang bertugas di SDN 09 Air Tawar Barat Padang yang telah memberikan
fasilitas dan kemudahan kepada penulis dalam melaksanakan penelitian ini
8. Penyemangatku Bapak Gusmanto dan Ibu Kasmiati tercinta serta adikku Deri
Seftian yang selalu memberi motivasi dan do’a setulus hati demi keberhasilanku
9. Serta rekan-rekan mahasiswa S1 PGSD (R05) yang telah banyak memberikan
masukan dan dukungan, baik selama perkuliahan maupun dalam penyelesaian
skripsi ini
10. Teman seperjuangan praktek lapangan kependidikan di SDN 09 Air Tawar Barat
Padang (Amah Nurita, Hani Fannisa, Melisa Noviani, Mona Revilia, Silvia
Hayusti, dan Lusyanna) dan kepada semua pihak yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Dalam penulisan ini, penulis telah berusaha sebaik mungkin, namun sebagai
manusia yang tidak luput dari kesalahan, penulis mohon maaf seandainya dalam

iii

skripsi ini masih terdapat kesalahan atau kekurangan. Atas bantuan dan bimbingan
yang telah penulis terima selama ini, penulis berdo’a semoga Allah SWT selalu
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Amin.
Terakhir penulis menyampaikan harapan, semoga skripsi yang penulis susun ini
dapat bermanfaat, dan berguna serta mendapatkan perbaikan yang bersifat
membangun bagi perkembangan dunia pendidikan kedepan.

Padang, Juni 2013
Penulis

iv

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL
PERSEMBAHAN
PERSETUJUAN SKRIPSI
PENGESAHAN SKRIPSI
SURAT PERNYATAAN
ABSTRAK ...........................................................................................................
KATA PENGANTAR .........................................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................................
DAFTAR TABEL ...............................................................................................
DAFTAR GAMBAR ...........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................

i
ii
iv
vii
ix
x

BAB I PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang .............................................................................
Rumusan Masalah ........................................................................
Tujuan Penelitian .........................................................................
Manfaat Penelitian .......................................................................

1
6
6
7

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA TEORI
A. KAJIAN TEORI...........................................................................
1. Hakekat Hasil Belajar Penjumlahan Pecahan Campuran .......
a. Pengertian Hasil Belajar ...................................................
b. Penjumlahan Pecahan Campuran .....................................
1. Pengertian pecahan campuran ..................................
2. Cara pembelajaran penjumlahan pecahan campuran
2. Hakekat Pendekatan PMRI ....................................................
a. Pengertian Pendekatan .....................................................
b. Pengertian PMRI ..............................................................
c. Karateristik PMRI ............................................................
d. Prinsip-prinsip Pendekatan PMRI ....................................
e. Kelebihan Pendekatan PMRI ...........................................

v

9
9
9
10
10
10
13
13
14
16
20
22

f. Pembelajaran Penjumlahan Pecahan Campuran
dengan Pendekatan PMRI ................................................
3. Hakekat Siswa Kelas V SD ....................................................
B. KERANGKA TEORI...................................................................

23
26
28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian ..........................................................................
1. Tempat Penelitia .....................................................................
2. Subjek Penelitian ....................................................................
3. Waktu dan Lama Penelitian ...................................................
B. Rencana Penelitian .......................................................................
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian.............................................
a. Pendekatan penelitian.......................................................
b. Jenis penelitian .................................................................
2. Alur Penelitian .......................................................................
3. Prosedur Penelitian.................................................................
C. Data dan Sumber Data .................................................................
1. Data Penelitian .......................................................................
2. Sumber Data ...........................................................................
D. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian ..................
1. Teknik Pengumpulan data ......................................................
2. Instrumen Penelitian ...............................................................
E. Analisis Data ................................................................................

30
30
31
31
31
31
31
32
33
35
39
39
39
40
40
41
42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN ..................................................................
1. Siklus I Pertemuan 1 ..............................................................
a. Perencanaan ......................................................................
b. Pelaksanaan ......................................................................
c. Pengamatan ......................................................................
d. Refleksi ............................................................................
2. Siklus I Pertemuan 2 ..............................................................
a. Perencanaan ......................................................................
b. Pelaksanaan ......................................................................
c. Pengamatan ......................................................................
d. Refleksi ............................................................................
3. Siklus II Pertemuan 1 .............................................................

vi

44
44
44
47
49
52
57
57
58
60
64
68

a. Perencanaan ......................................................................
b. Pelaksanaan ......................................................................
c. Pengamatan ......................................................................
d. Refleksi ............................................................................
4. Siklus II Pertemuan 2 .............................................................
a. Perencanaan ......................................................................
b. Pelaksanaan ......................................................................
c. Pengamatan ......................................................................
d. Refleksi ............................................................................
B. PEMBAHASAN ..........................................................................
1. Siklus I ...................................................................................
a. Perencanaan ......................................................................
b. Pelaksanaan ......................................................................
c. Hasil belajar .....................................................................
2. Siklus II ..................................................................................
a. Perencanaan ......................................................................
b. Pelaksanaan ......................................................................
c. Hasil Belajar .....................................................................

68
69
71
74
77
78
79
80
84
86
86
86
88
90
91
91
93
93

BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ......................................................................................
B. Saran .............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vii

95
96

DAFTAR TABEL

Tabel
1.

Halaman

Nilai Ulangan Penjumlahan Pecahan Campuran Kelas V Semester 2 SDN
09 Air Tawar Barat Padang ..........................................................................

3. Kriteria Rentang Keberhasilan ........................................................................

viii

3
43

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1.Menyatakan 1 (bilangan bulat)........................................................................

11

2.2.Menyatakan 2 (bilangan bulat)........................................................................

11

2.3.Menyatakan (bilangan pecahan) ...................................................................

11

2.4.Menyatakan dan (bilangan pecahan) .........................................................

11

2.5.Menyatakan bilangan 1 ..................................................................................

24

2.6.Pembentukan Peragaan Bilangan 1 ...............................................................

25

ix

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran

Halaman

1.

RPP Siklus I Pertemuan 1 .............................................................................. 101

2.

Hasil Penilaian RPP Siklus I Pertemuan 1 ..................................................... 108

3.

Kunci Jawaban Lembar Kerja Siswa Siklus I Pertemuan 1 ........................... 112

4.

Hasil Lembar Kerja Siswa Siklus I Pertemuan 1 ........................................... 116

5.

Hasil Penilaian Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan 1 .................................... 119

6.

Hasil Penilaian Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan 1 ................................... 122

7.

Kunci Jawaban Penilaian Kognitif Siklus I Pertemuan 1 .............................. 125

8.

Hasil Penilaian Kognitif Siklus I Pertemuan 1 .............................................. 126

9.

Hasil Penilaian Afektif Siklus I Pertemuan 1 ................................................ 127

10. Hasil Penilaian Psikomotor Siklus I Pertemuan 1 ......................................... 129
11. RPP Siklus I Pertemuan 2 .............................................................................. 131
12. Hasil Penilaian RPP Siklus I Pertemuan 2 ..................................................... 138
13. Kunci Jawaban Lembar Kerja Siswa Siklus I Pertemuan 2 ........................... 142
14. Hasil Lembar Kerja Siswa Siklus I Pertemuan 2 ........................................... 146
15. Hasil Penilaian Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan 2 .................................... 149
16. Hasil Penilaian Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan 2 ................................... 152
17. Kunci Jawaban Penilaian Kognitif Siklus I Pertemuan 2 .............................. 155
18. Hasil Penilaian Kognitif Siklus I Pertemuan 2 .............................................. 156
19. Hasil Penilaian Afektif Siklus I Pertemuan 2 ................................................ 157
20. Hasil Penilaian Psikomotor Siklus I Pertemuan 2 ......................................... 159
21. RPP Siklus II Pertemuan 1 ............................................................................. 161
22. Hasil Penilaian RPP Siklus II Pertemuan 1 ................................................... 168
23. Kunci Jawaban Lembar Kerja Siswa Siklus II Pertemuan 1 ......................... 172
24. Hasil Lembar Kerja Siswa Siklus II Pertemuan 1.......................................... 176
25. Hasil Penilaian Aktivitas Guru Siklus II Pertemuan 1 ................................... 179
26. Hasil Penilaian Aktivitas Siswa Siklus II Pertemuan 1 ................................. 182

x

27. Kunci Jawaban Penilaian Kognitif Siklus II Pertemuan 1 ............................. 185
28. Hasil Penilaian Kognitif Siklus II Pertemuan 1 ............................................. 186
29. Hasil Penilaian Afektif Siklus II Pertemuan 1 ............................................... 187
30. Hasil Penilaian Psikomotor Siklus II Pertemuan 1 ........................................ 189
31. RPP Siklus II Pertemuan 2 ............................................................................. 191
32. Hasil Penilaian RPP Siklus II Pertemuan 2 ................................................... 198
33. Kunci Jawaban Lembar Kerja Siswa Siklus II Pertemuan 2 ......................... 202
34. Hasil Lembar Kerja Siswa Siklus II Pertemuan 2.......................................... 206
35. Hasil Penilaian Aktivitas Guru Siklus II Pertemuan 2 ................................... 209
36. Hasil Penilaian Aktivitas Siswa Siklus II Pertemuan 2 ................................. 212
37. Kunci Jawaban Penilaian Kognitif Siklus II Pertemuan 2 ............................. 215
38. Hasil Penilaian Kognitif Siklus II Pertemuan 2 ............................................. 216
39. Hasil Penilaian Afektif Siklus II Pertemuan 2 ............................................... 217
40. Hasil Penilaian Psikomotor Siklus II Pertemuan 2 ........................................ 219
41. a. Rekapitulasi Nilai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran............................. 221
b. Rekapitulasi Nilai Pelaksanaan Aktivitas Guru ......................................... 221
c. Rekapitulasi Nilai Pelaksanaan Aktivitas Siswa ........................................ 221
42. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siklus I pertemuan 1.................................... 222
43. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siklus I pertemuan 2 ................................... 223
44. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siklus I ....................................................... 224
45. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siklus II pertemuan 1 ................................. 225
46. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siklus II pertemuan 2 ................................. 226
47. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siklus II ...................................................... 227
48. Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Siklus I – II ................................................. 228
49. Nama-nama Anggota Kelompok..................................................................... 229

xi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penjumlahan pecahan campuran merupakan materi yang akan diajarkan di
tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD). Materi penjumlahan pecahan
campuran harus sudah dikuasai oleh siswa kelas V semester 2 SD. Sebagaimana
yang telah dijelaskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) (2006: 428) dengan Kompetensi
Dasar (KD) 5.2 yaitu “menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk
pecahan”. Membelajarkan penjumlahan pecahan campuran yang berhubungan
langsung dengan kehidupan sehari-hari siswa merupakan salah satu cara yang
dapat dilakukan sesuai permasalahan yang ditemui oleh siswa.
Penjumlahan pecahan campuran dapat dilakukan dengan menjumlahkan dua
atau tiga pecahan campuran. Misalnya, 1 + 2 = ..., dan 1 + 2 =…. Untuk
memudahkan

siswa

dalam

melakukan

penjumlahan

pecahan

campuran

diperlukannya sebuah alat yang dapat dimanipulasi oleh siswa, karena pada
umumnya siswa kelas V SD rata-rata berumur 10-11 tahun. Siswa pada umur ini
belum dapat memahami secara penuh pada pembelajaran yang bersifat abstrak
maka dari itu materi pembelajaran harus dikonkretkan. Hal ini sesuai dengan
pendapat Piaget (dalam Danim, dkk, 2010: 78) menjelaskan bahwa “usia 7-11
tahun merupakan pada tahap operasional konkret.”
1

2

Oleh sebab itu, agar siswa dapat memahami materi penjumlahan pecahan
campuran, pembelajaran dapat dimulai dengan menggunakan benda-benda
konkret. Mengkonkretkan materi pembelajaran yang bersifat abstrak akan
memudahkan siswa untuk mengembangkan kemampuannya guna menciptakan
pembelajaran yang aktif, menyenangkan serta bermakna bagi siswa.
Berdasarkan dari hasil wawancara peneliti dengan guru kelas V SDN 09 Air
Tawar Barat Padang tentang pengalaman mengajarnya di kelas V sehubungan
dengan materi penjumlahan pecahan campuran, maka didapat informasi bahwa
siswa mengalami kesulitan dalam menjumlahkan pecahan campuran tersebut,
seperti: 1 + 2 = ( 1 + 2 ) + ( + ) = 3 + (

) = 3 + ( ) = 3 , akan tetapi apa

yang dikerjakan oleh siswa tidak sesuai dengan konsep, seperti: 1 + 2 = 3 , hal
ini dikarenakan selama proses pembelajaran guru hanya menitik beratkan pada
hasil.
Selain itu, jika dilihat dari hasil ulangan penjumlahan pecahan campuran
masih rendah, dengan dibuktikan nilai ulangan tahun pelajaran 2010/2011 dan
tahun pelajaran 2011/2012 tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
yang telah ditetapkan yaitu ≥ 70. Pada halaman berikut ini merupakan daftar nilai
ulangan Kelas V Semester 2 pada materi penjumlahan pecahan campuran.

3

Tabel 1. Nilai Ulangan Penjumlahan Pecahan Campuran
Kelas V Semester 2 SDN 09 Air Tawar Barat Padang
Tahun Pelajaran 2010/2011
No Kode Siswa Nilai
Ketuntasan
1
AFA
70
Tuntas
2
AQY
60
Tidak Tuntas
3
AS 1
60
Tidak Tuntas
4
AS 2
75
Tuntas
5
ASR
80
Tuntas
6
BHF
85
Tuntas
7
EA
45
Tidak Tuntas
8
FFA
45
Tidak Tuntas
9
FQ
30
Tidak Tuntas
10
IM
70
Tuntas
11
JMP
25
Tidak Tuntas
12
MAS
25
Tidak Tuntas
13
MAF 1
25
Tidak Tuntas
14
MAF 2
70
Tuntas
15
MHZH
70
Tuntas
16
MR
60
Tidak Tuntas
17
NK
70
Tuntas
18
NMF
75
Tuntas
19
PL
55
Tidak Tuntas
20
RA
35
Tidak Tuntas
21
RD
60
Tidak Tuntas
22
RI
60
Tidak Tuntas
23
RNL
60
Tidak Tuntas
24
TLW
45
Tidak Tuntas
25
VA
80
Tuntas
26
27
Jumlah
1435
Rata-rata
57,4
Nilai Tertinggi
85
Nilai Terendah
25
10
Tuntas
15
Tidak Tuntas

Tahun Pelajaran 2011/2012
Kode Siswa
Nilai
Ketuntasan
AAJ
85
Tuntas
AHF
85
Tuntas
AP
70
Tuntas
ATH
60
Tidak Tuntas
AZF
50
Tidak Tuntas
DL
25
Tidak Tuntas
DR
60
Tidak Tuntas
FD
60
Tidak Tuntas
FDS
45
Tidak Tuntas
FMJ
75
Tuntas
HP
75
Tuntas
IRS
35
Tidak Tuntas
JAR
40
Tidak Tuntas
KF
45
Tidak Tuntas
KFY
70
Tuntas
MF
45
Tidak Tuntas
NRU
75
Tuntas
ORS
60
Tidak Tuntas
RAF
60
Tidak Tuntas
RI
80
Tuntas
RNS
80
Tuntas
RR
70
Tuntas
RS
55
Tidak Tuntas
S
55
Tidak Tuntas
W
70
Tuntas
WWS
60
Tidak Tuntas
ZS
95
Tuntas
Jumlah
1685
Rata-rata
62,41
Nilai Tertinggi
95
Nilai Terendah
25
12
Tuntas
15
Tidak Tuntas

Sumber data : Data Sekunder Mata Pelajaran Matematika
Kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang

4

Dilihat dari tabel di atas pada tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah 25
siswa diperoleh nilai di atas KKM sebanyak 10 siswa dan di bawah KKM 15 siswa
dengan persentase ketuntasan belajar 40 %, begitu juga pada tahun pelajaran
2011/2012 dengan jumlah 27 siswa diperoleh nilai di atas KKM sebanyak 12
siswa dan 15 siswa di bawah KKM dengan persentase ketuntasan belajar 44,44 %.
Artinya persentase ketuntasan belajar penjumlahan pecahan campuran masih
rendah bila dibandingkan dengan standar ketuntasan belajar menurut Depdikbud
(dalam Trianto, 2011: 241) mengatakan “suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya
(ketuntasan klasikal) jika kelas tersebut terdapat

85 % siswa yang telah tuntas

belajarnya.”
Hal ini disebabkan selama kegiatan pembelajaran, guru tidak memberikan halhal yang real atau permasalah realistik dalam kehidupan sehari-hari siswa sebagai
titik awal pembelajaran. Selain itu, pembelajaran penjumlahan pecahan campuran
guru tidak menekankan keterampilan proses (doing mathematics) dalam
pembelajarannya akan tetapi guru hanya menitik beratkan pada hasil. Sehingga
pemahaman materi penjumlahan pecahan campuran tidak dapat dikuasai oleh
siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Oleh karena itu, untuk memudahkan siswa dalam memahami materi
penjumlahan pecahan campuran dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari siswa, pembelajaran dapat dilakukan dengan penekanan yang beranjak
dari permasalahan yang realistik dan menekankan pada penggunaan suatu situasi

5
yang dapat dibayangkan (imagineable) oleh siswa. Hal ini mengacu pada
karateristik PMR yang dikemukakan oleh Treffers (dalam Wijaya, 2012: 21-23)
yaitu: 1) penggunaan konteks, 2) penggunaan model untuk matematisasi progresif,
3) pemanfaatan hasil konstruksi siswa, 4) interaktivitas, 5) keterkaitan.
Dengan menggunakan pendekatan PMRI dalam pembelajaran penjumlahan
pecahan campuran akan lebih bermakna bagi siswa karena siswa akan lebih aktif
dan kreatif untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang diberikan sehingga
penggunaan pendekatan PMRI berpotensi untuk meningkatkan hasil belajar
penjumlahan pecahan campuran siswa kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang.
Hal ini merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Teja (2012) bahwa
pendekatan pendidikan matematika realistik dapat meningkatkan pemahaman
konsep dan hasil belajar pembagian bilangan pecahan biasa dengan bilangan
pecahan biasa. Sejalan dengan pendapat CORD (dalam Wijaya, 2012: 20)
menegaskan bahwa “suatu pengetahuan akan menjadi bermakna bagi siswa jika
proses pembelajaran dilaksanakan dalam suatu konteks atau pembelajaran
menggunakan masalah realistik.”
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti mengangkat
sebuah judul “Peningkatan Hasil Belajar Penjumlahan Pecahan Campuran dengan
Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia di Kelas V SDN 09 Air
Tawar Barat Padang.”

6

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan pada bagian
terdahulu, secara umum rumusan permasalahannya adalah:
“Bagaimanakah Peningkatan Hasil Belajar Penjumlahan Pecahan Campuran
dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia di Kelas V SDN
09 Air Tawar Barat Padang.”
Secara khusus dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah perencanaan pembelajaran penjumlahan pecahan campuran
dengan pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia di kelas V SDN
09 Air Tawar Barat Padang?
2. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran penjumlahan pecahan campuran
dengan pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia di kelas V SDN
09 Air Tawar Barat Padang?
3. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar penjumlahan pecahan campuran
dengan pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia di kelas V SDN
09 Air Tawar Barat Padang?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penulisan
penelitian tindakan kelas ini secara umum adalah untuk mendeskripsikan dan
meningkatkan hasil belajar penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan
pendidikan matematika realistik Indonesia di kelas V SDN 09 Air Tawar Barat
Padang.

7

Sedangkan secara khusus tujuan penulisan penelitian tindakan kelas ini adalah
untuk mendeskripsikan:
1.

Perencanaan

pembelajaran

penjumlahan

pecahan

campuran

dengan

pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia di kelas V SDN 09 Air
Tawar Barat Padang
2.

Pelaksanaan

pembelajaran

penjumlahan

pecahan

campuran

dengan

pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia di kelas V SDN 09 Air
Tawar Barat Padang
3.

Hasil belajar penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan pendidikan
matematika realistik Indonesia di kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang .

D. Manfaat Penelitian
Sesuai dengan tujuan penulisan di atas, maka hasil penulisan penelitian
tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan konstribusi kepada semua pihak,
terutama bagi:
1. Peneliti, meningkatkan semangat profesional peneliti dalam membelajarkan
siswa mengenai penjumlahan pecahan campuran dengan menggunakan
pendekatan PMRI serta menjadi bahan masukan untuk mengembangkan dan
meningkatkan proses pembelajaran di kelas menjadi lebih baik lagi, sehingga
terciptanya guru profesional dan berfungsi sesuai dengan bidang yang
diembannya.
2. Siswa, dengan menggunakan pendekatan PMRI dalam pembelajaran
penjumlahan pecahan campuran, diharapkan siswa tidak lagi mengalami

8

kendala-kendala dalam memahami permasalahan pembelajaran di kelas
karena PMRI memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dan
kreatif dengan masalah realistik yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
siswa sebagai titik awal pembelajaran.
3. Guru, dengan menggunakan pendekatan PMRI dalam pembelajarannya akan
menggali potensi yang dimiliki sehingga guru akan lebih kreatif dalam
mengajar serta mendapatkan pengetahuan dan variasi baru dalam mengajar di
kelas. Selain itu, pembelajaran menggunakan pendekatan PMRI dapat
meningkatkan hasil belajar siswa terutama untuk mengembangkan pendekatan
PMRI pada mata pelajaran matematika di SD.

BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA TEORI

A. KAJIAN TEORI
1.

Hakekat Hasil Belajar Penjumlahan Pecahan Campuran
a. Pengertian Hasil Belajar
Belajar merupakan kebutuhan setiap manusia, baik secara formal
maupun non formal. Dari proses belajar yang dilakukan akan diperoleh
sebuah hasil belajar. Dengan perkataan lain, hasil belajar merupakan
keberhasilan yang telah dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses
pembelajaran yang telah ditetapkan. Aunurrahman, (2010: 37-38)
mengatakan “setelah dari proses pembelajaran diharapkan terjadi
perubahan tingkah laku ditandai dengan perubahan kemampuan berpikir
(kognitif), nilai dan sikap (afektif), termasuk perubahan aspek emosional,
dan berkenaan dengan perubahan aspek-aspek motorik (psikomotor).”
Selanjutnya Gagne (dalam Dahar, 2011: 118) mengungkapkan bahwa
“lima kemampuan seperti keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap,
informasi verbal, keterampilan motorik merupakan sebuah hasil belajar.”
Hal ini sejalan dengan pendapat Sudjana (2009: 3) menyatakan “hasil
belajar adalah perubahan tingkah laku, tingkah laku sebagai hasil belajar
dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan
psikomotoris.”

9

10

Berdasarkan pendapat dari para ahli yang mengacu pada pendapat
Sudjana dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah pencapaian akhir
dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh diri individu baik dari segi
pemahaman atau pengetahuan terhadap materi yang telah diberikan (aspek
kognitif), segi nilai dan sikap (aspek afektif), dan pengalamannya (aspek
psikomotor).
b. Penjumlahan Pecahan Campuran
1. Pengertian pecahan campuran
Pecahan campuran dikenalkan pada siswa melalui peragaan gambar
dan teknik pembagian bersusun, atau dikenal dengan istilah mengubah
pecahan biasa menjadi pecahan campuran atau sebaliknya. Mutijah, dkk,
(2009: 97) menyatakan “pecahan campuran adalah pecahan yang
pembilangnya lebih besar dari penyebutnya.” Sejalan dengan Prabawanto,
dkk,

(2007:

158)

menyatakan

“bilangan-bilangan

pecahan

yang

mempunyai pembilangnya lebih besar dari penyebutnya, atau bilangan
yang lebih besar dari 1 dinamakan bilangan pecahan campuran.”
2. Cara pembelajaran penjumlahan pecahan campuran
Sutawidjaja, dkk (1991: 187) menyatakan “dalam pembelajaran
penjumlahan pecahan campuran, sejak awal siswa harus diberi pengertian
bahwa pecahan campuran adalah nama lain dari pecahan biasa sehingga
pecahan campuran itu selalu dapat dinyatakan sebagai pecahan biasa.”

11

Contoh:

=> pecahan biasa,

=> dapat dinyatakan sebagai pecahan

campuran. Penjumlahan pecahan campuran dapat dilakukan dengan
menjumlahkan

dua

pecahan

campuran

berpenyebut

sama

atau

menjumlahkan dua pecahan campuran berpenyebut tidak sama, misalnya:
1 + 2 =…, atau 1 + 2 =…, dan seterusnya.
Mutijah, dkk, (2009: 101) menyebutkan untuk menjumlahkan dua
pecahan campuran dapat dilakukan dengan “jumlahkan bilangan bulat
dengan bilangan bulat dan pecahan dengan pecahan.” Contoh pembelajaran
penjumlahan pecahan campuran dengan menggunakan kertas karton
dengan ukuran sama yang telah di arsir. Untuk menjumlahkan dua pecahan
campuran dapat dilakukan seperti contoh berikut: masing-masing persegi
menyatakan satu satuan. Arsiran menyatakan daerah bagian masing-masing
suatu pecahan.

Gambar. 2.1 menyatakan
1 (bilanga bulat)

Gambar. 2.2 menyatakan
2 (bilangan bulat)

dan
Gambar. 2.3 menyatakan
(bilangan pecahan)

Gambar. 2.4 menyatakan dan
(bilangan pecahan)

12
Untuk menentukan hasil 1 + 2 dan 1 + 2 gunakan kertas karton
yang telah diarsir seperti permasalahan yang diberikan.

1. 1 + 2

=

1

=

2

=
+

1 +2

=

=

1+2+( + )

=

3+

=

3+

=

3

=

3

13
2. 1 + 2

2.

=

1

=

2

=

1 +2

=

+ )

=

1+2+(

=

3+( + )

=

3+(

=

3+

=

3

)

Hakekat Pendekatan PMRI
a. Pengertian Pendekatan
Istilah lain yang juga memiliki kemiripan dengan strategi adalah
pendekatan

(approach).

Menurut

Lufri

(2007:

24)

“pendekatan

menekankan kepada strategi dalam perencanaan pembelajaran dan bersifat
aksiomatis yang menyatakan pendirian, filosofis, dan keyakinan yang
berkaitan dengan serangkaian asumsi.”

14

Sementara Sanjaya (2006: 127) menjelaskan bahwa “pendekatan
(approach) dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran.” Sejalan dengan Sudrajat (2008: 1)
mengatakan bahwa “pendekatan pembelajaran adalah sebagai titik tolak
atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada
pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat
umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.”
Berdasarkan pendapat dari para ahli dapat disimpulkan bahwa
pendekatan adalah suatu usaha atau cara yang terencana dari awal proses
pembelajaran untuk memperoleh tujuan yang akan dicapai. Guru sebagai
fasilitator diharapkan dapat memilih pendekatan pembelajaran yang tepat
agar konsep yang disajikan dapat diterima oleh siswa dengan baik.
b. Pengertian PMRI
Pada dasarnya PMR atau yang lebih dikenal dengan PMRI dalam
pembelajarannya menggunakan konteks atau melibatkan masalah
realistik, karena penggunaan konteks dapat membuat konsep matematika
menjadi lebih bermakna bagi siswa karena konteks dapat menyajikan
konsep matematika abstrak dalam representasi yang mudah dipahami
siswa. Menurut van den Heuvel-Panhuizen (dalam Wijaya, 2012: 32)
mengemukakan

“konteks

dalam

pendidikan

matematika

realistik

dipandang secara luas.” Artinya konteks merujuk pada fenomena

15

kehidupan sehari-hari, cerita rekaan atau fantasi, atau bisa juga masalah
matematika secara langsung.
Menurut Zulkardi (2010: 4) menyatakan bahwa:
PMRI adalah pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang
real atau pernah dialami siswa, menekankan keterampilan proses
(doing
mathematics),
berdiskusi
dan
berkolaborasi,
berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka
menemukan sendiri (student inventing) sebagai kebalikan dari
(teacher telling) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu
untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun
kelompok.
Dari penjelasan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan
PMRI adalah pendekatan yang pembelajaranya dapat dilakukan dengan
mengaitkan lingkungan sekitar yang dimulai dari permasalahan nyata
bagi

siswa

dengan

menekankan

keterampilan

proses

dalam

menyelesaikan suatu masalah yang diberikan. Masalah nyata yang
ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari dapat digunakan sebagai titik
awal pembelajaran matematika untuk menunjukkan bahwa matematika
tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Dengan kata lain, benda-benda nyata yang akrab dengan siswa dapat
digunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran penjumlahan pecahan
campuran. PMRI memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar
dengan dunia nyata dan membangun kembali ide-ide dan konsep
matematikanya sesuai dengan yang didapatkannya selama proses
pembelajaran berlangsung. Dengan demikian peneliti menggunakan

16

pendekatan PMRI yang telah di paparkan oleh Ariyadi sebagai
pendekatan dalam pembelajaran penjumlahan pecahan campuran.
c. Karateristik PMRI
Menurut Freudenthal (dalam Zainal Abidin, 2010: 6-7) PMR memiliki
lima karateristik, diuraikan sebagai berikut:
(1) Menggunakan masalah kontekstual (the use of context), (2)
Menggunakan instrumental vertikal seperti model, skema, diagram,
dan simbol-simbol (use models, bridging by vertical instrument), (3)
Menggunakan konstribusi siswa (student contribution), (4) Proses
pembelajaran yang interaktif (interactivity), (5) Terkait dengan topik
lainnya (intertwining).
(1) Menggunakan masalah kontekstual (the use of context).
Pembelajaran diawali dengan menggunakan masalah kontekstual
sehingga memungkinkan siswa menggunakan pengalaman sebelumnya
dan pengetahuan awal yang dimiliki langsung, tidak dimulai dari sistem
formal. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai materi awal dalam
pembelajaran harus sesuai dengan realitas atau lingkungan yang dihadapi
siswa dalam kesehariannya yang sudah dipahami atau mudah
dibayangkan.
(2) Menggunakan instrumen vertikal seperti model, skema, diagram,
dan simbol-simbol (use models, bridging by vertical instrument). Istilah
model berkaitan dengan situasi dan model matematika yang dibangun
sendiri oleh siswa (self developed models), yang merupakan jembatan
bagi siswa untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke

17

abstrak atau dari situasi informal ke formal. Artinya siswa membuat
model

sendiri

dalam

menyelesaikan

masalah

kontekstual

yang

merupakan keterkaitan antara model situasi nyata yang relevan dengan
lingkungan siswa ke dalam model matematika.
(3) Menggunakan konstribusi siswa (student contribution). Siswa
diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan berbagai
strategi informal yang dapat mengarahkan pada pengkonstruksian
berbagai prosedur untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain,
konstribusi yang besar dalam proses pembelajaran diharapkan datang
dari siswa, bukan dari guru. Artinya semua pikiran atau pendapat siswa
sangat diperhatikan dan dihargai.
(4)

Proses

pembelajaran

yang

interaktif

(interactivity).

Mengoptimalkan proses belajar mengajar melalui interaksi antar siswa,
siswa dengan guru, dan siswa dengan sarana dan prasarana merupakan
hal penting dalam PMR. Bentuk-bentuk interaksi seperti: negosiasi,
penjelasan, pembenaran, persetujuan, pertanyaan atau refleksi digunakan
untuk mencapai bentuk pengetahuan matematika formal dari bentukbentuk pengetahuan matematika informal yang ditemukan sendiri oleh
siswa.
(5) Terkait dengan topik lainnya (intertwining). Berbagai struktur dan
konsep dalam matematika saling keterkaitan, sehingga keterkaitan atau

18

pengintegrasian antar topik atau materi pelajaran perlu dieksplorasi untuk
mendukung agar pembelajaran lebih bermakna.
Treffers (dalam Wijaya, 2012: 21-23) merumuskan lima karateristik
pendidikan matematika realistik, yaitu: (1) penggunaan konteks, (2)
penggunaan model untuk matematisasi progresif, (3) pemanfaatan hasil
konstruksi siswa, (4) interaktivitas, (5) keterkaitan.
(1) Penggunaan Konteks. Konteks atau permasalahan realistik
digunakan sebagai titik awal pembelajaran matematika. Konteks tidak
harus berupa masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk permainan,
penggunaan alat peraga, atau situasi lain selama hal tersebut bermakna
dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa. Dengan kata lain, siswa
dilibatkan

secara

aktif

untuk

melakukan

kegiatan

eksplorasi

permasalahan. Hasil eksplorasi siswa tidak hanya bertujuan untuk
menemukan jawaban akhir dari permasalahan yang diberikan, tetapi juga
diarahkan untuk mengembangkan berbagai strategi penyelesaian masalah
yang bisa digunakan.
(2) Penggunaan Model untuk Matematisasi Progresif. Model
digunakan dalam melakukan matematisasi secara progresif. Penggunaan
model berfungsi sebagai jembatan (bridge) dari pengetahuan dan
matematika tingkat konkret menuju pengetahuan matematika tingkat
formal. Perlu dipahami dari kata “model” adalah bahwa “model” tidak
merujuk pada alat peraga. “Model” merupakan suatu alat “vertikal”

19

dalam matematika yang tidak bisa dilepaskan dari proses matematisasi
(yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal), karena model
merupakan tahapan proses transisi level informal menuju level
matematika formal.
(3) Pemanfaatan Hasil konstruksi Siswa. Siswa mempunyai kebebasan
untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah sehingga diharapkan
akan diperoleh strategi yang bervariasi. Selain untuk membantu siswa
dalam memahami konsep matematika, hasil kerja dan konstruksi siswa
juga dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitas siswa.
(4) Interaktivitas. Proses belajar siswa akan menjadi lebih singkat dan
bermakna ketika siswa saling mengkomunikasikan hasil kerja dengan
gagasan mereka. Pemanfaatan interaksi dalam pembelajaran matematika
bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan afektif
siswa secara simultan. Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi berupa
negosiasi,

penjelasan,

pembenaran,

setuju,

tidak

setujuh,

pertanyaan/refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk
informal siswa.
(5) Keterkaitan. Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat
parsial, namun banyak konsep matematika yang memiliki keterkaitan.
Oleh karena itu, konsep-konsep matematika tidak dikenalkan kepada
siswa secara terpisah satu sama lain. Pendidikan matematika realistik
menempatkan keterkaitan (intertwinement) antar konsep matematika

20

sebagai hal yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran.
Melaui keterkaitan ini, satu pembelajaran matematika diharapkan bisa
mengenal dan membangun lebih dari satu konsep matematika secara
bersamaan.
Berdasarkan karateristik PMRI yang telah diuraikan di atas, maka
peneliti menggunakan karateristik PMRI sebagai proses pembelajaran
seperti yang dikemukakan oleh Treffers (dalam Wijaya), diantaranya:
1) penggunaan konteks, 2) penggunaan model untuk matematisasi
progresif, 3) pemanfaatan hasil konstruksi siswa, 4) interaktivitas,
5) keterkaitan.
d. Prinsip-Prinsip Pendekatan PMRI
Gravemeijer (dalam Zainal Abidin, 2010: 5) mengemukakan bahwa
ada tiga prinsip kunci utama dalam PMR. Ketiga prinsip tersebut
dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
(1) Penemuan kembali secara terbimbing dan proses matematisasi
secara
progresif
(guided
reinvention
and
progressive
mathematizing). Prinsip ini menghendaki bahwa, dalam PMR
melalui penyelesaian masalah kontekstual yang diberikan guru di
awal pembelajaran, dengan bimbingan dan petunjuk guru yang
diberikan secara terbatas, siswa diarahkan sedemikian rupa sehingga
seakan-akan siswa mengalami proses menemukan kembali konsep,
prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika, sebagimana ketika
konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu
ditemukan. (2) Fenomena yang bersifat mendidik (didactical
phenomenology). Prinsip ini terkait dengan suatu gagasan fenomena
didaktik, yang menghendaki bahwa di dalam menentukan suatu
materi matematika untuk diajarkan dengan pendekatan PMR,
didasarkan atas dua alasan, yaitu: 1) untuk mengungkapkan berbagai

21

macam aplikasi materi itu yang harus diantisipasi dalam
pembelajaran dan, 2) untuk dipertimbangkan pantas tidaknya materi
itu digunakan sebagai poin-poin untuk suatu proses matematisasi
secara progresif. (3) Mengembangkan sendiri model-model (self
developed models). Prinsip ini berfungsi sebagai jembatan antara
pengetahuan matematika informal dengan pengetahuan matematika
formal. Dalam menyelesaikan masalah kontekstual, siswa diberi
kebebasan untuk membangun sendiri model matematika terkait
dengan masalah kontekstual yang dipecahkan.
Berkaitan dengan penggunaan masalah kontekstual yang realistik,
menurut De Lange (dalam Supinah, dkk, 2008: 18-19) ada beberapa
prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu:
(1) Titik awal pembelajaran harus benar-benar hal yang realistik,
sesuai dengan pengalaman siswa, termasuk cara matematis yang
sudah dimiliki siswa, supaya siswa dapat melibatkan dirinya dalam
kegiatan belajar secara bermakna. (2) Disamping harus realistik bagi
siswa, titik awal itu harus dapat dipertanggung jawabkan dari segi
tujuan pembelajaran dan urutan belajar. (3) Urutan pembelajaran
harus memuat bagian yang melibatkan aktivitas yang diharapkan
memberikan kesempatan kepada siswa, atau membantu siswa, untuk
menciptakan dan menjelaskan model simbolik dari kegiatan
matematis informalnya. (4) Untuk melaksanakan ketiga prinsip
tersebut, siswa harus terlibat secara interaktif, menjelaskan, dan
memberikan alasan pekerjaannya memecahkan masalah kontekstual
(solusi yang diperoleh), memahami pekerjaan (solusi) temannya,
menjelaskan dalam diskusi kelas sikapnya setuju atau tidak setuju
dengan solusi temannya, menanyakan alternatif pemecahan masalah,
dan merefleksikan solusi-solusi itu. (5) Struktur dan konsep-konsep
matematis yang muncul dari pemecahan masalah realistik itu
mengarah ke intertwining (pengaitan) antara bagian-bagian materi.
Berdasarkan uraian dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat
disimpulkan bahwa pada dasarnya prinsip-prinsip yang mendasari PMRI
adalah pembelajaran dimulai dari masalah sehari-hari (realistic
contextual), siswa diharapkan dapat membuat model sesuai dengan

22

caranya dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan
kembali ide-ide matematika yang dapat digunakan untuk permasalahan
yang lebih lanjut. Dengan demikian, PMRI juga dapat memberikan
perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Hal ini sesuai
dengan ide yang terdapat pada KTSP 2006.
e. Kelebihan Pendekatan PMRI
Berdasarkan pengalaman Ade (dalam Nofriani, 2011: 16) dalam uji
coba pembelajaran matematika secara realistik ditemukan beberapa
kelebihan, diantaranya:
(a) Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena
menggunakan realitas yang ada disekitar siswa, (b) Karena siswa
membangun sendiri pengetahuannya maka siswa tidak lupa dengan
materi, (c) Siswa merasa dihargai dan semakin terbuka karena setiap
jawaban ada nilainya, (d) Melatih siswa untuk terbiasa berpikir dan
berani mengemukakan pendapat, (e) Pendidikan budi pekerti, misal:
saling kerja sama dan menghormati teman yang sedang berbicara.
Menurut Suwarsono (dalam Zainal Abidin, 2010: 9) terdapat beberapa
kekuatan atau kelebihan dari pembelajaran matematika realistik, yaitu:
(a) Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang
jelas kepada siswa tentang keterkaitan matematika dengan kehidupan
sehari-hari dan kegunaan pada umumnya bagi manusia. (b)
Pembelajaran matematika realistik memberi pengertian yang jelas
kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang
dikonstruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa tidak hanya oleh
mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut. (c) Pembelajaran
matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa
bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal
dan tidak harus sama antara yang satu dengan orang yang lain. Setiap
orang bisa menemukan atau menggunakan cara sendiri, asalkan orang
itu sungguh-sungguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut.
Selanjutnya dengan membandingkan cara penyelesaian yang satu

23

dengan cara penyelesaian yang lain, akan bisa diperoleh cara
penyelesaiannya yang paling tepat, sesuai dengan tujuan dari proses
penyelesaian masalah tersebut. (d) Pembelajaran matematika realistik
memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa dalam
mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan suatu yang
utama dan orang harus menjalani prose itu dan barusaha untuk
menemukan sendiri konsep-konsep matematika dengan bantuan
pihak lain yang sudah lebih tahu (misal guru). Tanpa kemauan untuk
menjalani sendiri proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak
akan tercapai.
Dari pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa
kelebihan pendidikan matematika realistik Indonesia adalah pembelajaran
yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa dikarenakan selama proses
pembelajaran diharapkan siswa dapat berpikir secara aktif dan kreatif
untuk menggali potensi yang dimilikinya dan siswa terlibat secara
langsung didalam pembelajaran. Selain itu, guru juga terlibat secara aktif
sebagai fasilitator untuk membimbing siswa dalam menyelesaikan
masalah, sehingga siswa mampu menyelesaikan permasalahan yang
dihadapinya.
f. Pembelajaran Penjumlahan Pecahan Campuran dengan Pendekatan
PMRI
Pembelajaran dengan pendekatan PMRI diawali dengan memberikan
masalah kontekstual sehingga memungkinkan siswa menggunakan
pengalaman sebelumnya secara langsung. Kemudian memberi kesempatan
kepada siswa untuk berkreasi dan mengembangkan idenya dalam
menemukan dan mengidentifikasi sebuah masalah yang diberikan.

24

Berdasarkan karateristik PMRI yang telah diuraikan tersebut, peneliti
menerapkan karateristik PMRI sebagai pelaksanaan pembelajaran
penjumlahan pecahan campuran yang dikemukakan oleh Treffers (dalam
Wijaya).
Penggunaan konteks, pada karateristik ini guru memberikan
permasalahan realistik yang berhubungan dengan penjumlahan pecahan
campuran. Contoh: Andi membeli gula pasir 1

kg dan beras 2 kg di

warung dekat rumah. Pada karateristik ini pembelajaraan matematika
realistik yang terlihat adalah adanya pengaitan dan penggunaan masalah
kontekstual yang dijadikan dasar awal pembelajaran matematika formal
sampai pada pembentukan konsep.
Penggunaan model untuk matematisasi progresif, pada karateristik
ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan
model sebagai jembatan (brigde) dari pengetahuan dan matematika tingkat
konkret menuju pengetahuan matematika tingkat formal.
Contoh:

Gambar. 2.5 menyatakan
bilangan 1

25

Pemanfaatan hasil konstruksi siswa, pada karateristik ini guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengkonstruksian
berbagai prosedur untuk memecahakan masalah dimana setiap pemikiran
siswa atau pendapat siswa sangat diperhatikan dan dihargai. Selain itu
siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan
masalah sehingga diharapkan akan diperoleh strategi yang bervariasi.
Misal pecahan campuran berikut ini 1
berikut:

dapat dicontohkan sebagai

= menunjukkan bilangan 1 (bilangan bulat)

= menunjukkan bilangan (bilangan pecahan)

= menunjukkan bilangan 1

Gambar. 2.6 pembentukan peragaan bilangan 1
Interaktivitas, pada karateristik ini siswa diberi kesempatan untuk
mengkomunikasikan ide-ide mereka melalui proses belajar yang interaktif
dimana dalam proses belajar dapat dilakukan secara bersamaan merupakan
suatu proses sosial. Guru bertindak sebagai pembimbing, langkah ini
dilakukan untuk melatih siswa untuk saling berinteraksi antara siswa,
siswa dengan guru sehingga proses belajar lebih bermakna ketika saling
mengkomunikasikan hasil kerja dan gagasan mereka.

26

Keterkaitan, pada karateristik ini guru membimbing siswa untuk
mengaitkan/mengaplikasikan konsep penjumlahan pecahan campuran
yang terdapat dalam permasalahan dikehidupan sehari-hari. Misalnya:
Andi disuruh Ibu membeli gula pasir 1 kg dan membeli minyak goreng
2

kg di warung. Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa materi

penjumlahan pecahan campuran tidak asing lagi dalam kehidupan seharihari siswa.
3. Hakekat Siswa Kelas V SD
Anak usia SD memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang
usianya lebih muda, ia senang bermain, bergerak, senang bekerja dalam
kelompok dan senang melakukan sesuatu secara langsung. Oleh sebab itu,
guru hendaknya mengembangkan pelajaran yang mengandung unsur
permainan, mengusahakan siswa berpindah atau bergerak, bekerja atau belajar
dalam kelompok serta memberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam
pembelajaran.
Pada

pembelajarannya

dibidang

studi

matematika,

konsep-konsep

matematika tidak dapat diajarkan melalui defenisi, tetapi melalui contohcontoh yang relevan. Pemahaman suatu konsep dapat dilakukan dengan
pemberian contoh-contoh yang dapat diterima kebenarannya secara intuitif.
Artinya siswa dapat menerima kebenaran itu dengan pemikiran yang sejalan
dengan pengalaman yang sudah dimilikinya.

27

Yusuf (2001: 24) mengungkapkan “masa usia SD sering disebut sebagai
masa intelektual atau masa keserasian bersekolah.” Pada masa keserasian
bersekolah ini secara relatif, anak-anak lebih mudah dididik. Pada umumnya,
siswa kelas V SD rata-rata berumur 10-11 tahun. Siswa pada umur ini belum
dapat memahami secara penuh pada pembelajaran yang bersifat abstrak maka
dari itu materi pembelajaran harus dikonkretkan. Hal ini sesuai dengan
pendapat Piaget (dalam Danim, dkk, 2010: 78) bahwa “usia 7-11 tahun
merupakan pada tahap operasional konkret.” Dengan kata lain dapat diartikan
bahwa siswa dapat melakukan suatu operasi dan penalaran logis jika
pengaplikasiannya dilakukan dengan contoh konkret.
Senada dengan Yusuf (2001: 178) menegaskan bahwa “pada periode ini
ditandai

dengan

tiga

kemampuan

atau

kecakapan

baru,

yaitu

mengklasifikasikan (mengelompokkan), menyusun, atau mengasosiasikan
(menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan. Kemampuan
yang berkaitan dengan perhitungan (angka), seperti menambah, mengurangi,
mengalikan, dan membagi.” Selanjutnya Yusuf (2001: 25) mengungkapkan
bahwa:
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini ialah: a) adanya minat
terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini
menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan
pekerjaan-pekerjaan yang praktis, b) amat realistik, ingin mengetahui,
ingin belajar, c) terfokus pada mata pelajaran yang diminati (bakatbakat khusus), d) umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang
dewasa untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya, e)
anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat
(sebaik-baiknya) mengenai prestasi sekolah, f) anak gemar membentuk

28

kelompok teman sebaya untuk bermain bersama. Dari penjelasan
tersebut, itulah yang dikatakan sebagai masa kelas-kelas tinggi sekolah
dasar.
Berdasarkan pendapat dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
siswa kelas V SD merupakan usia masa sekolah dasar pada tahap operasional
konkret dimana dalam pembelajaran memerlukan benda-benda konkret untuk
memudahkan dalam kegiatan belajar dan siswa lebih mengingat materi yang
diajarkan oleh gurunya dibandingkan dengan guru saat pembelajaran tidak
menggunakan benda konkret.
B. KERANGKA TEORI
Pada PTK ini peneliti mengkaji tentang pembelajaran penjumlahan pecahan
campuran di kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang. Pendekatan yang
digunakan adalah PMRI yang memiliki lima karateristik, yaitu: (1) penggunaan
konteks , (2) penggunaan model untuk matematisasi progresif, (3) pemanfaatan
hasil konstruksi siswa, (4) interaktivitas, (5) keterkaitan.
Dalam proses pembelajaran siswa menyelesaikan masalah penjumlahan
pecahan campuran menggunakan alat peraga yang telah disediakan yaitu berupa
kertas karton yang dibentuk bidang datar sejenis dan memiliki ukuran sama atau
menggunakan plastik trasparan yang akan diarsir sesuai dengan kebutuhan untuk
menemukan jawaban sesuai dengan soal yang diberikan. Untuk lebih jelasnya
kerangka teori dapat dilihat pada gambar berikut.

29

Bagan/ Struktur Kerangka Teori
Hasil Belajar Penjumlahan Pecahan Campuran
di Kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang Masih Rendah

Materi:
Penjumlahan
Pecahan Campuran
1. Dengan
berpenyebut sama
2. Dengan
berpenyebut beda

Karateristik Pendekatan PMR menurut Treffers
(dalam Wijaya):
1. Penggunaan konteks
2. Penggunaan model untuk matematisasi
progresif
3. Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
4. Interaktivitas
5. Keterkaitan

Proses Pembelajaran Penjumlahan Pecahan
Campuran dengan Pendekatan PMRI

Hasil Belajar Penjumlahan Pecahan Campuran dengan Pendekatan
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia di Kelas V
SDN 09 Air Tawar Barat Padang Meningkat

Kerangka Teori

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan di kelas V SDN 09 Air
Tawar Barat Padang sebagai tempat penelitian berdasarkan pertimbangan
sebagai berikut:
a. Kepala sekolah dan guru bersedia menerima pembaharuan pembelajaran
untuk meningkatkan hasil belajar matematika
b. Berdasarkan wawancara pengalaman mengajar guru kelas V SDN 09 Air
Tawar Barat Padang pada tahun pelajaran 2010/2011 dan 2011/2012,
guru mengatakan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran
penjumlahan pecahan campuran dan peneliti menyimpulkan bahwa siswa
kelas V SD tersebut kesulitan dan tidak dapat memahami materi
penjumlahan pecahan campuran yang telah diajarkan
c. Selain itu, guru kelas V SD tersebut mengatakan ingin sekali dalam
pembelajaran

matematika

di

kelasnya

dapat

bervariasi

dengan

menggunakan sebuah pendekatan pembelajaran, dan disini peneliti
menawarkan sebuah pendekatan yang cocok dalam pembelajaran
matematika yaitu PMRI

30

31

2. Subjek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SDN 09 Air Tawar Barat Padang, adapun subjek
penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V dengan jumlah siswa 26 orang,
terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan dengan prestasi dan
kemampuan akademik yang berbeda-beda. Adapun yang terlibat dalam
penelitian ini adalah: (1) peneliti sebagai guru praktis dan, (2) observer terdiri
dari 2 orang yaitu guru kelas dan teman sejawat. Penelitian ini menekankan
kepada penggunaan pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia
dengan materi penjumlahan pecahan campuran untuk meningkatkan hasil
belajar siswa.
3. Waktu dan Lama Penelitian
Waktu penelitian ini dilakukan pada semester 2 tahun pelajaran Januari-Juli
2012-2013. Lamanya penelitian ini adalah 6 bulan terhitung dari waktu
perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian. Penelitian ini terdiri dari
siklus I dengan 2x pertemuan dan siklus II dengan 2x pertemuan.
B. Rencana Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
a) Pendekatan Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan hasil
belajar pada materi penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan
PMRI di kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang. Pendekatan yang

32

digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan pendekatan
kuantitatif.
Zuriah (2009: 83) menjelaskan bahwa:
Pendekatan kualitatif (qualitative design) adalah pendekatan penelitian
yang berlandaskan pada filsafat post-positivisme, digunakan untuk
meneliti dalam situasi yang wajar atau dalam latar alami (natural
setting) dimana memerlukan ketajaman analisis, objektivitas, sistematis,
dan sistemik sehingga diperoleh ketepatan dalam interpretasi, analisis
data bersifat deskriptif-analitis yang berarti interpretasi terhadap isi
dibuat dan disusun secara sistemik atau menyeluruh dan sistematis.
Selanjutnya, Zuriah (2009: 91) menjelaskan bahwa:
Pendekatan kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang berlandaskan
pada filsafat positivisme, lebih banyak menggunakan logico-hipotetikoverifikatif dengan berpikir deduktif untuk menurunkan hipotesis,
kemudian melakukan pengujian di lapangan, lebih menekankan pada
indeks-indeks dan pengukuran empiris, analisis data bersifat statistik
atau menggunakan bilangan (numeric) agar mengandung makna yang
lebih tepat.
b) Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). PTK
memiliki peranan yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan
mutu pembelajaran apabila pelaksanaan dilakukan dengan baik dan benar
sesuai prosedur yang telah ditentukan. Sanjaya (2012: 26) menyatakan
bahwa “penelitian tindakan kelas merupakan bagian dari penelitian tindakan
(action research), dan penelitian tindakan ini bagian dari penelitian pada
umumnya.”
Selanjutnya Arikunto, dkk (2012: 3) menegaskan bahwa “Penelitian
tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar
berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah

33

kelas secara bersama.” Dengan dilakukannya penelitian tindakan kelas, guru
dapat mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa di dalam
pembelajaran baik dibidang studi matematika maupun bidang studi lainnya,
sehingga guru dapat melakukan tindakan perbaikan untuk meningkatkan
hasil belajar siswa menjadi lebih baik lagi sesuai dengan tujuan KTSP.
Berdasarkan dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan guru dengan
berkolaborasi dengan orang lain bertugas sebagai pengamat yang bertujuan
untuk saling memberikan masukan guna menemukan solusi pemecahan
masalah yang ditemukan selama dilakukannya tindakan dalam pembelajaran.
2. Alur Penelitian
Adapun model alur dalam PTK ini menggunakan model siklus yang
dikembangkan oleh Arikunto (2012: 16). Penelitian dilaksanakan sebanyak dua
siklus dengan dua tindakan disetiap siklusnya, dimana setiap siklusnya terdapat
tahapan dalam setiap siklusnya, diantaranya adalah: a) tahap perencanaan, b)
tahap pelaksanaan, c) tahap pengamatan dan, d) tahap refleksi.
Alur penelitian yang dilakukan dapat digambarkan seperti bagan pada
halaman berikut.

34

Alur Penelitian Tindakan
Peningkatan Hasil Belajar Penjumlahan Pecahan Campuran dengan Pendekatan Pendidikan
Matematika Realistik Indonesia di Kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang
Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan observasi latar SD, guru dan proses pembelajaran penjumlahan
pecahan campuran

Siklus I

Perencanaan I

Pelaksanaan
dan
Pengamatan

Refleksi I

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I
Karateristik PMR untuk penjumlahan pecahan
campuran menurut Treffers (dalam Wijaya):
1. Penggunaan konteks
2. Penggunaan model untuk matematisasi
progresif
3. Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
4. Interaktivitas
5. keterkaitan

Belum Berhasil

Siklus II
Perencanaan II

Pelaksanaan
dan
Pengamatan

Refleksi II

Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran II
Karateristik PMR untuk penjumlahan pecahan
campuran menurut Treffers (dalam Wijaya):
1. Penggunaan konteks
2. Penggunaan model untuk matematisasi
progresif
3. Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
4. Interaktivitas
5. keterkaitan
Berhasil

Laporan

Bagan alur PTK menurut Arikunto (2012: 16)

35

3. Prosedur Penelitian
Prosedur yang ditempuh dalam penyelesaian penelitian ini terdiri dari
beberapa tahap. Penelitian dilakukan dengan diawali studi pendahuluan berupa
wawancara terhadap guru kelas pada pembelajaran penjumlahan pecahan
campuran di kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang. Dilakukannya studi
pendahuluan untuk mengetahui dan memperoleh informasi permasalahan yang
dihadapi guru dalam pembelajaran penjumlahan pecahan campuran di kelas V.
Setelah dilakukannya wawancara kepada guru kelas V ditemukan adanya
permasalahan yang dihadapi oleh guru selama kegiatan pembelajaran
berlangsung, yaitu guru dalam pembelajaran penjumlahan pecahan campuran
tidak menggunakan masalah real atau masalah realistik yang berhubungan
langsung dikehidupan sehari-hari siswa tetapi guru hanya menitik beratkan
pada hasil kerja siswa.
a) Tahap Perencanaan
Sesuai dengan rumusan masalah dari hasil studi pendahuluan yang telah
dilakukan, peneliti membuat rencana tindakan yang akan dilakukan.
Tindakan itu berupa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan PMRI
pada materi penjumlahan pecahan campuran, yaitu dengan melakukan
pembelajaran menggunakan alat peraga bangun datar yang terbuat dari
kertas karton dengan ukuran yang sama dan sejenis serta diarsir sesuai
dengan kebutuhan. Kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan jadwal selama penelitian

36

2. Mengkaji KTSP matematika kelas V semester 2 serta penunjang
belajar yang lainnya
3. Membuat RPP yang terdiri dari Identitas (satuan pendidikan, mata
pelajaran, kelas/semester, alokasi waktu), SK, KD, Indikator, Tujuan
Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran (kegiatan
awal, kegiatan inti, kegiatan akhir), Sumber/Media pembelajaran dan
Penilaian (evaluasi)
4. Menyusun lembaran observasi untuk mencatat semua kegiatan dalam
proses pembelajaran, baik aktivitas guru maupun siswa
5. Membuat instrumen penilaian berupa tugas-tugas, LKS atau latihan
yang akan diberikan kepada siswa sesuai dengan materi yang akan
dipelajari
6. Membuat tes untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar siswa.
b) Tahap Pelaksanaan
Kegiatan ini merupakan kegiatan inti dalam siklus penelitian tindakan
kelas. Tahap ini dimulai dari pelaksanaan pembelajaran penjumlahan
pecahan campuran dengan menggunakan pendekatan PMRI. Kegiatan
pembelajaran untuk membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman
konsep penjumlahan pecahan campuran, kegiatan ini dilakukan oleh peneliti
sebagai guru praktisi dan guru kelas sebagai observer I dan teman sejawat
sebagai obsever II. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan setiap
siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan. Siklus dalam tindakan akan

37

dilakukan secara berulang sampai kriteria yang telah ditetapkan tercapai.
Adapun kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:
1. Peneliti

menjadi

guru

praktisi

melaksanakan

pembelajaran

penjumlahan pecahan campuran dengan menggunakan pendekatan
PMRI sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
2. Observer I dan observer II melakukan pengamatan dengan
menggunakan format observasi dan dokumentasi.
3. Peneliti dan guru melakukan diskusi terhadap tindakan yang telah
dilakukan, kemudian melakukan refleksi. Hasil dimanfaatkan untuk
penyempurnaan kearah perbaikan selanjutnya.
c) Tahap Pengamatan
Kegiatan pengamatan ini dilakukan untuk mengamati aktifitas siswa
secara langsung dalam proses pembelajaran penjumlahan pecahan campuran
dengan pendekatan PMRI. Pelaksanaan kegiatan bersamaan dengan
pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh observer pada waktu guru praktisi
melaksanakan tindakan belajar.
Dalam kegiatan ini observer berusaha mengenal dan mendokumentasikan
semua indikator dari proses hasil perubahan yang terjadi. Keseluruhan hasil
pengamatan ini dilakukan terus menerus dari siklus I sampai siklus II.
Kegiatan pengamatan dilakukan oleh guru kelas V sebagai observer I dan
teman sejawat sebagai observer II. Guru kelas V mengisi lembar pengamatan
proses pembelajaran PMRI dari aspek guru, sedangkan teman sejawat

38

mengisi lembar pengamatan proses pembelajaran PMRI dari aspek siswa.
Sementara yang mengamati proses pembelajaran dari siswa adalah peneliti
sendiri. Kendala atau kelemahan yang ditemukan pada siklus I akan
diperbaiki pada siklus II, dan kekuatan yang ditemui pada siklus I
direkomendasikan pada siklus II berdasarkan kelemahan.
d) Tahap Refleksi
Refleksi dilakukan setiap tindakan berakhir, pada tahap ini peneliti dan
observer melakukan diskusi dari hasil pengamatan yang telah dilaksanakan.
Dengan mengevaluasi kekurangan dan kendala yang didapatkan selama
siklus dilakukan, sehingga dapat dipastikan untuk melakukan siklus
berikutnya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan sesuai dengan
indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Peneliti dan observer
berdiskusi tindakan yang telah dilakukan antaranya: a) kesinambungan
antara rencana pembelajaran dengan pelaksanaan yang dilakukan, b)
kekurangan atau kendala yang didapatkan selam proses pembelajaran dan
akan diperbaiki pada siklus berikutnya, c) perkembangan siswa yang dicapai,
d) rencana pembelajaran selanjutnya, apabila berbeda dengan lembar
pengamatan maka diperbaiki pada pembelajaran berikutnya. Dan apabila
telah berhasil rencana yang telah diperbaiki, maka pembelajaran dicukupkan.

39

C. Data dan Sumber Data
1. Data Penelitian
Data yang diperoleh sebagai bahan sumber penelitian berupa hasil
pengamatan dari pembelajaran penjumlahan pecahan campuran. Data tersebut
berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan hasil belajar yang berupa
informasi sebagai berikut:
a. Perencanaan pembelajaran atau RPP yang berhubungan dengan perilaku
guru dalam proses pembelajaran penjumlahan pecahan campuran
b. Pelaksanaan pembelajaran penjumlahan pecahan

campuran dengan

menggunakan pendekatan PMRI, yang berupa evaluasi proses maupun
evaluasi hasil yang berhubungan dengan perilaku guru dan siswa yang
meliputi interaksi pembelajaran antara guru dan siswa, antar siswa dan
siswa dalam pembelajaran
c. Hasil tes siswa baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan tindakan
pembelajaran pecahan campuran.
2. Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah proses kegiatan belajar mengajar dalam
pembelajaran penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan PMRI yang
meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi dan
perilaku guru dan siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Data diperoleh
dari subjek penelitian yaitu guru dan siswa kelas V SDN 09 Air Tawar Barat
Padang.

40

D. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
1. Teknik Pengumpulan Data
Dalam melakukan

pengumpulan data penelitian dilakukan dengan

mengumpulkan data melalui observasi, tes dan, dokumentasi. Agar lebih
jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Observasi
Untuk mengahasilkan sebuah data dalam penelitin ini, peneliti
melakukan proses observasi secara langsung baik mengamati, melihat, dan
mencatat kegiatan yang dilakukan dari segi siswa maupun guru untuk
memperoleh informasi selama pembelajaran berlangsung. Pengamatan yang
dilakuan peneliti menggunakan format pengamatan yang sengaja dirancang
untuk melihat perkembangan yang terjadi, mengamati keaktifan dan,
antusias siswa dan guru selama proses pembelajaran dilakukan.
Pengamatan dilakukan peneliti mulai dari awal pembelajaran sampai
akhir pembelajaran matematika yang sedang berlangsung. Bagian-bagian
yang menjadi pembelajaran akan diberi tanda ceklis (√) pada kolom yang
tertera pada lembar pengamatan untuk memperoleh sebuah data yang akan
dijadikan sebagai data pendukung nantinya. Adapun lembar pengamatan
akan diisi oleh guru kelas yang bertindak sebagai observer dan peneleti
bertindak sebagai guru praktisi selama proses pembelajaran dengan
pendekatan PMRI berlangsung.

41

b) Tes
Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil
belajar siswa baik hasil belajar kognitif, afektif, maupun psikomotor yang
dilakukan pada setiap akhir siklus, guna melihat kemampuan dan
peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh selama pemberian tindakan.
Tes yang dilakukan digunakan sebagai penguat data observasi di kelas
terutama pada penguasaan materi pembelajaran dari sudut siswa. Tes juga
digunakan sebagai gambaran untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
memahami materi penjumlahan pecahan campuran.
c) Dokumentasi
Pada teknik dokumentasi, upaya yang dilakukan peneliti dalam
penelitian ini adalah dengan mengumpulkan data berupa foto-foto
pelaksanaan penelitian selama kegiatan berlangsung, RPP, nilai hasil belajar
siswa, dan dokumentasi lainnya yang mendukung selama pembelajaran
penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan PMRI.
2. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan pada waktu pelaksanaan
penelitian. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan berupa: a) lembar
penilaian RPP, b) lembar observasi aktivitas guru, c) lembar observasi aktivitas
siswa, d) LKS dan, e) tes hasil belajar siswa serta foto-foto pada saat
pembelajaran berlangsung.

42

E. Analisis Data
Dalam penelitian ini, data penelitian diambil dengan menggunakan model
analisis data kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kualitatif yang ditawarkan oleh
Miles and Huberman (dalam Sugiyono, 2011: 246) yakni “analisis data kualitatif
dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai
pengumpulan data dalam periode tertentu dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.”
Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa analisis data kualitatif dimulai
dari

hasil

pengamatan

tentang

rancangan

pembelajaran

selama

proses

pembelajaran berlangsung serta menelaah mulai dari pengumpulan data sampai
seluruh data yang diinginkan terkumpul. Selanjutnya Miles and Huberman (dalam
Sugiyono, 2011: 247-252) menjelaskan bahwa analisis data kualitatif dilakukan
dengan langkah-langkah seperti berikut: (1) reduksi data (data reduction), (2)
penyajian data (data display), (3) Conclusion Drawing/verification.
(1) Reduksi Data (Data Reduction). Mereduksi data berarti merangkum,
memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting,
dicari tema dan polanya. Mereduksi data merupakan proses berfikir
sensitif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan dan kedalaman
wawasan yang tinggi dan dapat mendiskusikannya dengan teman atau
orang lain yang lebih ahli. (2) Penyajian Data (Data Display). Setelah
data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data.
Penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan,
hubungan antar kategori, flowchart, dengan teks yang bersifat naratif,
grafik, matrik, network (jejaring kerja), dan chart. (3) Conclusion
Drawing/verification. Dalam analisis data kualitatif adalah penarikan
kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah
merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.

43

Sugiyono (2011: 243) menjelaskan “analisis data kuantitatif yaitu diarahkan
untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan
dengan teknik analisis data menggunakan metode statistik.” Untuk mengetahui
sejauh mana hasil belajar siswa diadakan tes akhir. Tes akhir ini dilakukan setelah
materi pembelajaran berakhir.
Untuk menghitung data kuantitatif yang berkaitan dengan hasil belajar siswa
dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan Trianto (2010: 241)
yakni:
Untuk ketuntasan belajar
KB =

x 100 %
Keterangan:
KB

= Ketuntasan Belajar

T

= Jumlah skor yang diperoleh siswa

T1

= Jumlah skor total

Menurut Sudijono (2011: 35) kriteria rentang keberhasilan sebagai berikut:
Tabel 3. Kriteria Rentang Keberhasilan
1.
2.
3.
4.

Nilai Angka
80 % - 100 %
66 % - 79 %
56 % - 65 %
46 % ke bawah

Predikat
Baik Sekali
Baik
Cukup
Kurang

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang pada
materi penjumlahan pecahan campuran semester II tahun pelajaran Januari-Juli
2012/2013. Dalam pelaksanaan tindakan dibagi menjadi dua siklus dimana setiap
siklusnya terdapat dua kali pertemuan. Peneliti berkolaborasi dengan guru kelas V
yang bertindak sebagai observer I dan teman sejawat sebagai observer II, sedangkan
peneliti sendiri sebagai guru praktisi.
Dalam pelaksanaan pembelajaran peneliti menyesuaikan dengan langkahlangkah pembelajaran yang telah dibuat. Berikut ini deskripsi pembelajaran untuk
meningkatkan hasil belajar penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan
pendidikan matematika realistik Indonesia sebanyak dua siklus. Adapun perincian
tiap siklusnya adalah sebagai berikut:
A. HASIL PENELITIAN
1. Siklus I Pertemuan 1
a. Perencanaan
Materi pembelajaran yang dilaksanakan di kelas V semester II sesuai
pada KTSP 2006 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit pada siklus I adalah
penjumlahan pecahan campuran pada materi penjumlahan pecahan
campuran bilangan bulat dengan pembilang satu berpenyebut sama dengan
menggunakan pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia.

44

45

Dengan kompetensi dasar yaitu menjumlahkan dan mengurangkan
berbagai bentuk pecahan.
Indikator yang akan dicapai dalam pembelajaran adalah: 1)
menemukan jawaban dari permasalahan realistik yang berhubungan
dengan penjumlahan dua pecahan campuran berpenyebut sama, 2)
mendemonstrasikan model matematika penjumlahan pecahan campuran, 3)
membuktikan penyelesaian jawaban dari permasalahan penjumlahan
pecahan campuran, 4) menyimpulkan cara penyelesaian dari jawaban yang
didapat pada penjumlahan pecahan campuran. Untuk mencapai indikator
yang telah ditentukan maka disini peneliti selaku guru praktisi mencoba
untuk menggunakan pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia
dalam pembelajaran dengan mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang
telah ditentukan.
Adapun langkah-langkah pembelajaran pertama kegiatan awal yaitu
mengkondisikan kelas, apersepsi dengan tanya jawab tentang materi KPK
dua bilangan, menyampaikan tujuan pembelajaran dan, membagikan LKS
dan media pembelajaran kepada 5 kelompok terdiri dari 5-6 anggota yang
telah dibentuk oleh guru. Dapat dilihat pada lampiran 49 (hal. 229).
Kegiatan inti antara lain: Eksplorasi, penggunaan konteks, a)
mengaitkan materi penjumlahan pecahan campuran dengan pengetahuan
awal yang dimiliki siswa, b) menugaskan siswa untuk bekerja
menyelesaikan LKS tentang penjumlahan pecahan campuran secara

46

berkelompok Elaborasi, c) memotivasi siswa untuk menyelesaikan
permasalahan realistik penjumlahan pecahan campuran yang terdapat pada
LKS, penggunaan model untuk matematisasi progresif, d) siswa
memodelkan permasalahan penjumlahan pecahan campuran pada LKS, e)
siswa bekerja dalam kelompok untuk membuat model matematika dengan
memanfaatkan kertas warna yang telah disediakan, f) siswa menemukan
model matematika dari permasalahan penjumlahan pecahan campuran
dikelompoknya.
Pemanfaatan hasil konstruksi siswa, g) meminta kepada kelompok
untuk memberikan lambang matematika pada setiap gambar pecahan yang
dibuat, h) memberi kesempatan kepada kelompok untuk menyelesaikan
masalah dengan menggunakan strateginya masing-masing, i) memberi
kesempatan

kepada

kelompok

untuk

berbeda

pendapat

dengan

mengemukakan gagasan baru.
Interaktivitas, j) memberi kesempatan kepada salah satu kelompok
untuk mempersentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas, k) memberi
kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan kerja sama agar terjadinya
pertukaran ide/gagasan di dalam diskusi kelas, Komfirmasi, l) siswa
diminta untuk menjelaskan kembali cara-cara menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran, keterkaitan, m) siswa mencontohkan masalah realistik
penjumlahan pecahan campuran yang berhubungan dengan kehidupan
sehari-harinya.

47

Kegiatan akhir, a) mengumpul LKS, b) memberi tindak lanjut berupa
latihan soal, c) menyampaikan pesan-pesan moral kepada siswa, d)
mengkondisikan kelas untuk mengakhiri pelajaran.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran penjumlahan pecahan campuran dengan
pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia di kelas V SDN 09
Air Tawar Barat Padang. Pada siklus I dilakukan sebanyak 2x pertemuan.
Pertemuan 1 dilaksanakan pada tanggal 29 Maret 2013 mulai pukul 07.3008.40 WIB dengan jumlah 26 siswa. Pembelajaran dilakukan dengan tiga
tahap yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir sesuai dengan
RPP yang telah dibuat, dapat dilihat pada lampiran 1 (hal. 101-107).
a)

Kegiatan awal
Kegiatan

diawali

dengan

membuka

pelajaran

dengan

mengkondisikan kelas (menyiapkan media pembelajaran, mengatur
tempat duduk siswa, berdoa dan, absensi). Melakukan tanya jawab
tentang materi KPK dua bilangan, menyampaikan tujuan pembelajaran
serta membagikan LKS dan media pembelajaran kepada 5 kelompok
terdiri dari 5-6 anggota yang telah dibentuk oleh guru, dapat dilihat
pada lampiran 49 (hal. 229).
b) Kegiatan inti
Eksplorasi, penggunaan konteks, pada kegiatan ini guru
mengaitkan

materi

penjumlahan

pecahan

campuran

dengan

48

pengetahuan yang telah dimiliki siswa selanjutnya menugaskan siswa
untuk bekerja menyelesaikan LKS 1 tentang penjumlahan pecahan
campuran secara berkelompok.
Elaborasi, pada kegiatan ini guru memotivasi siswa untuk
menyelesaikan permasalahan realistik penjumlahan pecahan campuran
yang terdapat pada LKS. Penggunaan model untuk matematisasi
progresif, siswa memodelkan permasalahan penjumlahan pecahan
campuran pada LKS, dan siswa bekerja dalam kelompok dengan
memanfaatkan kertas warna yang telah disediakan. Pemanfaatan hasil
konstruksi siswa, kelompok memberikan lambang matematika pada
setiap gambar pecahan campuran yang dibuat.
Interaktivitas,

memberikan kesempatan kepada salah

satu

kelompok untuk mempersentasikan hasil kerja kelompok di depan
kelas, memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan
bekerja sama agar terjadinya pertukaran ide/gagasan di dalam diskusi
kelas.
Komfirmasi, siswa menjelaskan kembali cara-cara menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran. Keterkaitan, siswa mencontohkan
masalah realistik penjumlahan pecahan campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-harinya.

49

c)

Kegiatan akhir
Pada tahap ini, guru melakukan pengumpulan LKS yang telah
dikerjakan disetiap kelompoknya, guru memberikan tindak lanjut
berupa latihan soal untuk mengasah pemahaman siswa terhadap materi
yang telah diberikan, selanjutnya guru membimbing siswa untuk
mengkondisikan kelas untuk mengakhiri pembelajaran.

c. Pengamatan
Pengamatan keberhasilan tindakan diamati selama dan sesudah
tindakan dilaksanakan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi dari
guru kelas V sebagai observer I, teman sejawat sebagai observer II dan
peneliti sebagai guru praktisi. Adapun hasil pengamatan yang dilakukan
observer dapat dijelaskan sebagai berikut:
a)

Hasil pengamatan terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran
Pada pertemuan 1 instrumen penilaian RPP dilakukan oleh guru
kelas yang bertindak sebagai observer I. Dari hasil penilaian RPP
diperoleh persentase 64,29 % dengan kualifikasi cukup (C). Berikut
penjelasan dari aspek yang dinilai pada RPP diantaranya:
Kejelasan perumusan tujuan proses pembelajaran memperoleh
kualifikasi baik (B), pemilihan materi ajar dengan kualifikasi baik (B),
pengorganisasian materi memperoleh kualifikasi cukup (C), pemilihan
sumber/media pembelajaran memperoleh kualifikasi cukup (C),
kesesuaian teknik pembelajaran dengan kualifikasi baik (B), dan

50

kelengkapan instrumen mendapat kualifikasi baik (B). Dari total
maksimal 28 deskriptor yang telah ditetapkan hanya 18 deskriptor
yang terlaksana pada saat tindakan dilakukan selama kegiatan
pembelajaran berlangsung.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 2 (hal. 108-111).
Berdasarkan dari hasil perolehan persentase di atas dapat disimpulkan
bahwa masih ada beberapa deskriptor yang terdapat pada RPP belum
terlaksana

artinya

perlu

dilakukannya

evaluasi

guna

untuk

meningkatkan dari hasil perencanaan berikutnya.
b) Hasil pengamatan aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran
Berdasarkan dari hasil laporan observer, persentase kegiatan guru
60 % dengan kualifikasi cukup (C). Berikut penjelasan dari hasil
pengamatan

yang

diperoleh

memperoleh

kualifikasi

baik

diantaranya:
(B),

penggunaan

penggunaan

model

konteks
untuk

matematisasi progresif dengan kualifikasi cukup (C), pemanfaatan
hasil konstruksi siswa dengan kualifikasi cukup (C), interaktivitas
dengan kualifikasi cukup (C), dan keterkaitan memperoleh kualifikasi
baik (B). Dari total maksimal 20 deskriptor yang telah ditetapkan
hanya 12 deskriptor yang telah terlaksana.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 5 (hal. 119-121).
Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa masih perlu adanya
perbaikan dalam mengajar dan diharapkan peneliti perlu memperbaiki

51

kembali cara mengajar yang dilanjutkan pada pertemuan dan siklus
selanjutnya.
c)

Hasil pengamatan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran
Pengamatan aktivitas siswa dilakukan oleh teman sejawat yang
bertindak sebagai observer II, berdasarkan hasil pengamatan yang
dilakukan perolehan aktivitas siswa mendapat kualifikasi cukup (C)
dengan persentas 60 %. Berikut uraian yang telah teramati selama
tindakan diantaranya: penggunaan konteks memperoleh kualifikasi
baik (B), penggunaan model untuk matematisasi progresif dengan
kualifikasi cukup (C), pemanfaatan hasil konstruksi siswa dengan
kualifikasi cukup (C), interaktivitas dengan kualifikasi cukup (C), dan
keterkaitan memperoleh kualifikasi baik (B). Dari 20 deskriptor yang
ditetapkan hanya 12 deskriptor yang telah terlaksana.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 6 (hal. 122-124).
Berdasarkan pengamatan tersebut, masih banyak terdapat kekurangan
yang terlihat, dengan demikian perlunya ada motivasi dari guru
sehingga aktivitas yang dilakukan siswa dalam pembelajaran
terlaksana semaksimal mungkin.

d) Hasil belajar siswa
Keberhasilan siswa dalam pembelajaran penjumlahan pecahan
campuran dengan pendekatan PMRI dapat dilihat dari 3 aspek
pencapaian yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan, aspek psikomotor.

52

Hasil tes yang dilakukan peneliti dilakukan dari awal pembelajaran
sampai akhir pembelajaran berlangsung. Berikut adalah hasil tes yang
diperoleh:
Aspek kognitif, dari 26 siswa nilai yang berada di atas KKM
sebanyak 12 siswa dan 14 siswa di bawah KKM dengan persentase
ketuntasan belajar 46,15 % dengan perolehan nilai tertinggi 95
sebanyak 1 orang siswa dan nilai terendah 25 sebanyak 1 orang siswa,
dapat dilihat pada lampiran 8 (hal. 126). Aspek afektif nilai yang
berada di atas KKM sebanyak 6 siswa dan 20 siswa di bawah KKM
dengan persentase ketuntasan belajar 23,08 % dengan nilai tertinggi
83,33 sebanyak 2 orang siswa dan nilai terendah 25 sebanyak 2 orang
siswa, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 9 (hal. 127).
Aspek psikomotor nilai yang berada di atas KKM sebanyak 5
siswa dan 21 siswa di bawah KKM dengan persentase ketuntasan
belajar 19,23 % dengan nilai tertinggi 83,33 dan nilai terendah 25,
untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 10 (hal. 129).
d. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan
observer pada saat pembelajaran berakhir. Refleksi yang dilakukan pada
siklus I pertemuan 1 meliputi refleksi perencanaan tindakan, refleksi
pelaksanaan tindakan baik aktivitas guru maupun aktivitas siswa, dan
refleksi hasil belajar siswa.

53

1) Rencana pelaksanaan pembelajaran
Berdasarkan lembar penilaian RPP, maka dapat dilihat deskriptor
yang belum terlaksana dalam RPP dapat diuraikan sebagai berikut: (1)
kejelasan perumusan tujuan proses pembelajaran, belum memenuhi
perilaku hasil belajar (afektif dan psikomotor), (2) pemilihan materi
ajar kurang sesuai dengan karateristik siswa, (3) pengorganisasian
cakupan materi yang diajarkan guru masih dinilai sempit dan belum
sesuai alokasi waktu yang ditentukan, (4) pemilihan sumber/media
pembelajaran belum sesuai dengan tujuan pembelajaran dan belum
sesuai dengan lingkungan siswa, (5) kejelasan proses pembelajaran
dengan langkah-langkah pembelajaran belum sesuai dengan alokasi
waktu serta belum jelas dan terperinci, (6) kesesuaian teknik
pembelajaran belum sesuai dengan pendekatan pembelajaran, (7)
kelengkapan instrumen belum dilengkapi dengan pedoman penskoran
yang lengkap.
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilaksanakan, maka
untuk pertemuan selanjutnya guru perlu memperhatikan hal-hal
sebagai berikut: (1) memperhatikan rumusan tujuan pembelajaran
sehingga perumusan tujuan pembelajaran mengandung perilaku hasil
belajar (kognitif, afektif, psikomotor), (2) pemilihan materi harus
sesuai dengan lingkungan siswa, (3) memperluas cakupan materi ajar
dan disesuaikan dengan alokasi waktu yang ditentukan, (4) memilih

54

sumber/media pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran dan
sesuai dengan lingkungan siswa, (5) merinci langkah-langkah
pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu, (6) menyesuaikan teknik
pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran, (7) melengkapi
pedoman penskoran soal.
2) Pelaksanaan aktivitas guru
Refleksi aktivitas guru dilaksanakan dengan menganalisis lembar
pengamatan kegiatan guru, berdasarkan hasil yang diperoleh terdapat
hambatan-hambatan

dalam

proses

pembelajaran

adalah:

(1)

penggunaan konteks, guru belum meminta siswa untuk mengaitkan
pembelajaran dengan pengetahuan awal yang dimiliki, (2) penggunaan
model untuk matematisasi progresif, guru belum menugaskan siswa
untuk memodelkan permasalahan penjumlahan pecahan campuran
pada LKS dan belum menggunakan model dalam menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran, (3) pemanfaatan hasil konstruksi
siswa, guru belum meminta siswa untuk menggunakan berbagai cara
dan menentukan lambang matematika pecahan campuran yang dibuat,
(4) interaktivitas, guru belum melakukan penugasan kepada siswa
untuk saling bertukar ide/gagasan dan memberi tanggapan atas
jawaban temannya dalam diskusi kelas, (5) keterkaitan, guru belum
meminta siswa untuk menyelesaikan sendiri penjumlahan pecahan
campuran.

55

Berdasarkan dari hasil pengamatan, maka untuk pertemuan
berikutnya guru perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1) guru
meminta siswa untuk mengaitkan pembelajaran dengan pengetahuan
awal yang dimiliki, (2) meminta siswa untuk mengembangkan model
matematika penjumlahan pecahan campuran, (3) meminta siswa untuk
menggunakan berbagai cara dalam menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran yang diberikan, (4) menugaskan siswa untuk saling
bertukar ide/gagasan yang didapat selama pembelajaran berlangsung,
(5) guru menugaskan siswa untuk menyelesaikan tugas secara mandiri,
(6) memberi penguatan sebelum diadakannya evaluasi.
3) Pelaksanaan aktivitas siswa
Setelah dilakukannya refleksi, maka ditemukan permasalahan
yang menghambat proses pembelajaran dari aspek siswa, diantaranya:
(1) penggunaan konteks, siswa belum mengaitkan pembelajaran
dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki, (2) penggunaan model
untuk matematisasi progresif, siswa belum memodelkan permasalahan
penjumlahan pecahan campuran pada LKS dan belum menerapkan
model dalam menyelesaikan penjumlahan pecahan campuran, (3)
pemanfaatan hasil konstruksi siswa, siswa belum menggunakan
berbagai cara untuk menemukan jawaban penjumlahan pecahan
campuran dan belum menentukan lambang matematika dari setiap
gambar pecahan campuran yang dibuat, (4) interaktivitas, siswa belum

56

melakukan diskusi dengan bertukar ide/gagasan dan belum saling
memberi tanggapan atas jawaban dari temannya, (5) keterkaitan, siswa
belum menyelesaikan sendiri penjumlahan pecahan campuran.
Berdasarkan hasil pengamatan, maka untuk pertemuan berikutnya
guru perlu memperhatikan: (1) sebelum memulai pembelajaran, guru
seharusnya mengaitkan pembelajaran dengan pengetahuan awal yang
dimiliki siswa guna untuk membangkitkan skemata siswa, (2)
sebaiknya guru memotivasi siswa untuk mengemukakan ide dan
pendapatnya, (3) ketika berdiskusi, guru memotivasi siswa untuk
memberikan tanggapan atas jawaban yang dikemukakan di depan
kelas, (4) guru memotivasi siswa agar mampu dalam menyelesaikan
permasalahan tentang penjumlahan pecahan campuran.
4) Hasil belajar siswa
Hasil belajar siswa pada aspek kognitif pada siklus I pertemuan 1
terlihat masih di bawah nilai KKM yang telah ditetapkan yaitu 62,31
dengan ketuntasan belajar 46,15 %. Sehingga pada pertemuan
selanjutnya guru perlu memperhatikan kejelasan tiap butir soal yang
akan diberikan sehingga siswa tidak ragu dalam menyelesaikan soal
tersebut.
Pada aspek afektif masih banyak siswa yang belum menunjukkan
sikap serius dan teliti, beberapa siswa masih ada dalam kelompok
hanya sekedar melihat dan hanya mengharapkan teman lain yang

57

bekerja. Sebaiknya guru harus sering mengingatkan siswa selama
kegiatan kelompok agar semua anggota kelompok terlibat aktif dalam
bekerja menyelesaikan suatu masalah.
Pada aspek psikomotor masih terlihat siswa masih mengalami
hambatan dalam menggunakan kelengkapan alat peraga untuk
percobaan, berdasarkan hal tersebut guru harus lebih cermat dalam
memperhatikan siswa menggunakan alat peraga sehingga tidak ada
lagi siswa yang mengalami hambatan dalam menyelesaikan suatu
permasalahan yang diberikan.
Secara keseluruhan hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan 1
pada aspek kognitif

memperoleh rata-rata 62,31 aspek afektif

memperoleh nilai rata-rata 55,45 dan aspek psikomotor memperoleh
nilai 53,20 dengan rata-rata hasil belajar 56,99. Berdasarkan dari hasil
yang diperoleh masih belum mencapai target yang diharapkan,
sehingga perlu diadakan tindakan perbaikan pada pertemuan
selanjutnya.
2. Siklus I Pertemuan 2
a. Perencanaan
Perencanaan yang akan dilakukan pada pembelajaran penjumlahan
pecahan campuran dengan pendekatan PMRI menyangkut perencanaan,
pelaksaan, penilaian pembelajaran. Hal ini akan terlihat dalam kegiatan
awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Sebelum dilaksanakannya

58

pembelajaran penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan PMRI,
terlebih dahulu peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) pada materi penjumlahan pecahan campuran dengan pembilang
selain satu berpenyebut sama.
Penilaian pembelajaran yang digunakan adalah penilaian tes dan non
tes. Tes digunakan untuk melihat hasil perolehan siswa secara individu.
Sedangkan non tes digunakan untuk penilaian aspek afektif dan aspek
psikomotor. Untuk lebih jelasnya rencana pelaksanaan pembelajaran pada
siklus I pertemuan 2 ini dapat dilihat pada lampiran 11 (hal. 131-137).
b. Pelaksanaan
Tindakan pertemuan 2 dilaksanakan pada hari Senin, 1 April 2013
pukul 12.45-13.55 WIB pada penjumlahan pecahan campuran dengan
materi pecahan campuran bilangan bulat dengan pembilang selain satu
berpenyebut sama. Pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap yaitu kegiatan
awal, kegiatan inti dan, kegiatan akhir sesuai dengan RPP yang telah
dibuat.
a)

Kegiatan awal
Kegiatan

diawali

dengan

membuka

pelajaran

dengan

mengkondisikan kelas (menyiapkan media pembelajaran, mengatur
tempat duduk siswa, berdoa dan, absensi). Melakukan tanya jawab
tentang materi KPK dua bilangan, menyampaikan tujuan pembelajaran
serta membagikan LKS dan media pembelajaran kepada 5 kelompok

59

terdiri dari 5-6 anggota yang telah dibentuk oleh guru. Dapat dilihat
pada lampiran 49 (hal. 229).
b) Kegiatan inti
Eksplorasi, penggunaan konteks, mengaitkan materi penjumlahan
pecahan campuran dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki
siswa, selanjutnya menugaskan siswa untuk bekerja menyelesaikan
LKS 2 tentang penjumlahan pecahan campuran secara berkelompok.
Elaborasi, memotivasi siswa untuk menyelesaikan permasalahan
realistik penjumlahan pecahan campuran yang terdapat pada LKS.
Penggunaan model untuk matematisasi progresif, siswa memodelkan
permasalahan penjumlahan pecahan campuran pada LKS.
Pemanfaatan hasil konstruksi siswa, kelompok memberikan
lambang matematika pada setiap gambar pecahan campuran yang
dibuat. Interaktivitas, memberikan kesempatan kepada salah satu
kelompok untuk mempersentasikan hasil kerja kelompok di depan
kelas, selanjutnya

memberi kesempatan kepada siswa untuk

berinteraksi dan kerja sama agar terjadinya pertukaran ide/gagasan di
dalam diskusi kelas.
Komfirmasi, siswa menjelaskan kembali cara-cara menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran. Keterkaitan, siswa mencontohkan
masalah realistik penjumlahan pecahan campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-harinya.

60

c)

Kegiatan akhir
Pada tahap ini, guru melakukan pengumpulan LKS yang telah
dikerjakan disetiap kelompoknya, guru memberikan tindak lanjut
berupa latihan soal untuk mengasah pemahaman siswa terhadap materi
yang telah diberikan, selanjutnya guru membimbing siswa untuk
mengkondisikan kelas untuk mengakhiri pembelajaran.

c. Pengamatan
a)

Hasil pengamatan terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran
Pada pertemuan 2 instrumen penilaian RPP dilakukan oleh guru
kelas yang bertindak sebagai observer I. Dari hasil penilaian RPP
diperoleh persentase 78,57 % dengan kualifikasi baik (B). Berikut
uraian dari hasil perolehan pengamatan yang dilakukan antaranya:
kejelasan perumusan tujuan proses pembelajaran memperoleh
kualifikasi baik sekali (BS), pemilihan materi ajar dengan kualifikasi
baik (B), pengorganisasian materi dengan kualifikasi baik (B),
pemilihan sumber/media pembelajaran dengan kualifikasi baik (B).
Kejelasan proses pembelajaran dengan kualifikasi cukup (C),
kesesuaian teknik pembelajaran dengan kualifikasi baik sekali (BS),
kelengkapan instrumen dengan kualifikasi baik (B). Dari total
maksimal 28 deskriptor 22 deskriptor yang telah terlaksana. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 12 (hal. 138-141).
Berdasarkan perolehan persentase di atas dapat disimpulkan bahwa

61

RPP telah terlaksana dengan baik namun masih ada beberapa
deskriptor yang perlu diperhatikan lagi agar keseluruhan deskriptor
yang terdapat pada RPP terlaksana.
b) Hasil pengamatan aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran
Berdasarkan dari hasil laporan observer, persentase kegiatan guru
70 % dengan kualifikasi baik (B). Berikut penjelasan dari hasil
pengamatan yang telah dilaksanakan antaranya: penggunaan konteks
memperoleh kualifikasi baik sekali (BS), penggunaan model untuk
matematisasi progresif dengan kualifikasi baik (B), pemanfaatan hasil
konstruksi siswa dengan kualifikasi cukup (C), interaktivitas dengan
kualifikasi cukup (C), dan keterkaitan memperoleh kualifikasi baik
(B). Dari total maksimal 20 deskriptor yang ditetapka 14 deskriptor
yang telah terlaksana.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 15 (hal. 149-151).
Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tindakan yang
dilakukan guru telah terlaksana dengan baik sesuai dengan yang
diharapkan, tetapi masih perlu adanya perbaikan dalam mengajar dan
diharapkan peneliti perlu memperbaiki kembali cara mengajar yang
dilanjutkan pada pertemuan dan siklus selanjutnya agar perolehan skor
mendapatkan nilai maksimal.

62

c)

Hasil pengamatan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran
Pengamatan aktivitas siswa dilakukan oleh teman sejawat yang
bertindak sebagai observer II, berdasarkan hasil pengamatan yang
dilakukan perolehan aktivitas siswa mendapat kualifikasi baik (B)
dengan persentase 70 %. Berikut penjelasan dari hasil pengamatan
yang telah dilakukan antaranya: penggunaan konteks memperoleh
kualifikasi baik sekali (BS), penggunaan model untuk matematisasi
progresif dengan kualifikasi baik (B), pemanfaatan hasil konstruksi
siswa dengan kualifikasi cukup (C), interaktivitas dengan kualifikasi
cukup (C), dan keterkaitan mamperoleh kualifikasi baik (B).
Dari 20 deskriptor yang telah ditetapkan 14 deskriptor yang telah
terlaksana. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 16 (hal.
152-154). Berdasarkan pengamatan tersebut, kekurangan yang terlihat
pada pertemuan 1 sudah berkurang, namun masih perlu adanya
tindakan-tindakan yang perlu diperhatikan lagi agar siswa lebih fokus
untuk melaksanakan pembelajaran di kelas.

d) Hasil belajar siswa
Keberhasilan siswa dalam pembelajaran penjumlahan pecahan
campuran dengan pendekatan PMRI dapat dilihat dari 3 aspek
pencapaian yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan, aspek psikomotor.
Hasil tes yang dilakukan peneliti dilakukan dari awal pembelajaran

63

sampai akhir pembelajaran berlangsung. Berikut adalah hasil tes yang
diperoleh:
Aspek kognitif, dari 26 siswa nilai yang berada di atas KKM
sebanyak 16 siswa dan 10 siswa di bawah KKM dengan persentase
ketuntasan belajar 61,54 % dengan nilai tertinggi 100 sebanyak 1
orang siswa dan nilai terendah 45 sebanyak 1 orang siswa, untuk
jelasnya dapat dilihat pada lampiran 18 (hal. 156). Aspek afektif nilai
yang berada di atas KKM sebanyak 11 siswa dan 15 siswa di bawah
KKM dengan persentase ketuntasan belajar 42,31 % dengan nilai
tertinggi 91,67 sebanyak 1 orang siswa dan nilai terendah 41,67
sebanyak 2 orang siswa, untuk jelasnya dapat dilihat pada lampiran 19
(hal. 157).
Aspek psikomotor nilai yang berada di atas KKM sebanyak 11
siswa dan 15 siswa di bawah KKM dengan persentase ketuntasan
belajar 42,31 % dengan nilai tertinggi 91,67 sebanyak 3 orang siswa
dan nilai terendah 50 sebanyak 3 orang siswa, untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada lampiran 20 (hal. 159).
Setelah dilakukan dua tindakan di siklus I terlihat bahwa
keberhasilan belajar penjumlahan pecahan campuran mengalami
peningkatan.

64

d. Refleksi
Proses pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I pertemuan 2 ini
difokuskan pada pembelajaran penjumlahan pecahan campuran dengan
pembilang selain satu berpenyebut sama dengan pendekatan PMRI. Hasil
pengamatan dan tes yang dilakukan selama pelaksanaan tindakan dianalisis
dan didiskusikan dengan guru kelas V dan teman sejawat sehingga
diperoleh hal-hal berikut ini:
1) Rencana pelaksanaan pembelajaran
Berdasarkan dari lembar penilaian RPP, maka dapat dilihat
deskriptor yang belum terlaksana dan dapat diuraikan sebagai berikut:
(1)

kejelasan perumusan

tujuan proses pembelajaran,

belum

mengandung perilaku hasil belajar secara maksimal (afektif dan
psikomotor), (2) pengorganisasian materi belum terlaksana sesuai
dengan alokasi waktu yang ditentukan, (3) pemilihan sumber/media
pembelajaran belum sesuai dengan tujuan pembelajaran dan belum
sesuai dengan lingkungan siswa, (4) kejelasan langkah-langkah
pembelajaran belum sesuai dengan alokasi waktu dan belum terperinci
secara jelas, (5) kesesuai teknik pembelajaran belum sesuai dengan
pendekatan pembelajaran.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, maka hal yang perlu
diperhatikan untuk pertemuan selanjutnya adalah sebagai berikut: (1)
pemilihan materi ajar lebih teliti dan disesuaikan dengan lingkungan

65

siswa, (2) pengorganisasian materi dan pemilihan sumber/media
pembelajaran harus disesuaikan dengan alokasi waktu dan karateristik
siswa, (3) memperjelas dan merinci langkah-langkah pembelajaran
sesuai dengan

materi

yang diajarkan sehingga siswa dapat

menyelesaikan permasalahan yang diberikan.
2) Pelaksanaan aktivitas guru
Refleksi dilakukan setelah menganalisis lembar pengamatan
kegiatan guru, berdasarkan hal tersebut maka hambatan yang ditemui
selama proses pembelajaran berlangsung adalah sebagai berikut: (1)
penggunaan model untuk matematisasi progresif, guru belum
menugaskan siswa untuk menggunakan model dalam menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran, (2) pemanfaatan hasil konstruksi
siswa, guru belum menugaskan siswa untuk menggunakan berbagai
cara untuk menemukan jawaban dari penjumlahan pecahan campuran
dan meminta siswa untuk menentukan lambang matematika dari setiap
gambar pecahan campuran yang dibuat, (3) interaktivitas, guru belum
meminta siswa untuk saling bertukar ide/gagasan dan meminta siswa
untuk memberi tanggapan pada saat berdiskusi kelas, (4) keterkaitan,
guru belum menugaskan siswa untuk menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran secara mandiri.
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan, maka hal yang
perlu diperhatikan untuk pertemuan selanjutnya adalah sebagai

66

berikut: (1) guru meminta siswa untuk menggunakan berbagai cara
dalam menyelesaikan permasalahan penjumlahan pecahan campuran,
(2) guru memotivasi siswa agar ide/gagasan yang didapatkan dapat
dikemukankan didepan kelas, (3) guru meminta siswa untuk merespon
atas jawaban teman yang diberikan di depan kelas serta memotivasi
siswa

untuk

bekerja

secara

mandiri

dalam

menyelesaikan

permasalahan yang diberikan.
3) Pelaksanaan aktivitas siswa
Setelah dilakukannya refleksi terhadap aktivitas siswa maka
ditemukan permasalahan yang menghambat proses pembelajaran
diantaranya: (1) penggunaan model untuk matematisasi progresif,
siswa belum menerapkan model dalam menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran, (2) pemanfaatan hasil konstruksi siswa, siswa
belum menggunakan berbagai cara dan belum menentukan lambang
matematika dalam menemukan jawaban penjumlahan pecahan
campuran, (3) interaktivitas, siswa belum mengemukakan ide/gagasan
dan belum memberi tanggapan saat diskusi kelas berlangsung, (4)
keterkaitan, siswa belum menyelesaikan secara mandiri pada
permasalahan yang diberikan.
Berdasarkan hasil pengamatan, maka untuk pertemuan selanjutnya
guru perlu memperhatikan: (1) pada saat pembelajaran berlangsung
sebaiknya guru memotivasi siswa untuk menerapkan berbagai model

67

dalam menyelesaikan penjumlahan pecahan campuran, (2) guru
meminta dan memotivasi siswa untuk menemukan jawaban dan
memberikan

lambang

matematika

dari

penjumlahan

pecahan

campuran, (3) pada saat diskusi kelas berlangsung guru seharusnya
menugaskan

siswa

untuk

mengemukakan

ide/gagasan

dan

memberikan tanggapan atas jawaban dari temannya, (4) guru harus
mampu memotivasi siswa untuk menjawab pertanyaan mengenai
penjumlahan pecahan campuran yang diberikan.
4) Hasil belajar siswa
Hasil belajar siswa pada aspek kognitif pada siklus I pertemuan 2
ini mengalami peningkatan dengan memperoleh nilai rata-rata 69,42
dengan ketuntasan belajar 61,54 %. Akan tetapi hasil belajar yang
diperoleh siswa masih berada pada kriteria belum tuntas. Sehingga
akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya dengan memperhatikan
butir soal yang akan diberikan sehingga siswa dapat menjawab soal
dengan benar.
Pada aspek afektif masih terlihat ada beberapa siswa yang belum
menunjukkan sikap serius dan teliti dalam bekerja kelompok, beberapa
siswa masih memiliki sikap tidak ingin tahu dan mengharapkan
jawaban dari teman. Hal ini perlu diperhatikan guru untuk
mengingatkan siswa agar bekerja serius dalam kelompoknya.

68

Pada aspek psikomotor dapat dilihat bahwa siswa masih
mengalami hambatan dalam menggunakan alat untuk menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran. Hal yang perlu diperhatikan adalah
guru harus memantau dan mengarahkan siswa dalam menggunakan
alat bantu untuk pertemuan berikutnya. Selain itu guru perlu juga
membimbing siswa dalam mengisi laporan.
Secara keseluruhan hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan 2
pada aspek kognitif memperoleh rata-rata 69,42 aspek afektif
memperoleh nilai rata-rata 66,67 dan aspek psikomotor memperoleh
nilai 67,63 dengan rata-rata hasil belajar 67,14. Berdasarkan dari hasil
yang diperoleh masih belum mencapai target yang diharapkan,
sehingga perlu diadakan tindakan perbaikan pada pertemuan
selanjutnya.
Jika dilihat dari rekapitulasi untuk ketiga aspek pada siklus I
memperoleh nilai rata-rata 62,06 dengan ketuntasan belajar 26,92 %.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 44 (hal. 224). Dilihat
dari hasil belajar yang diperoleh masih menunjukkan bahwa hasil
belajar siswa belum mencapai target yang ditetapkan, sehingga perlu
diadakan tindakan perbaikan dan dilanjutkan pada siklus II.
3. Siklus II Pertemuan 1
Berdasarkan dari hasil analisis yang dilakukan pada siklus I menunjukkan
bahwa subjek penelitian belum mencapai kriteria tujuan pembelajaran yang

69

telah ditetapkan. Maka dari itu peneliti melanjutkan pada siklus II dengan
menggunakan pendekatan PMRI pada pembelajaran penjumlahan pecahan
campuran di kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang.
a. Perencanaan
Perencanaan yang akan dilakukan pada pembelajaran penjumlahan
pecahan campuran dengan pendekatan PMRI menyangkut perencanaan,
pelaksaan, penilaian pembelajaran. Hal ini akan terlihat dalam kegiatan
awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Sebelum dilaksanakannya
pembelajaran penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan PMRI,
terlebih dahulu peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) pada materi penjumlahan pecahan campuran bilangan bulat dengan
pembilang satu berpenyebut beda.
Penilaian pembelajaran yang digunakan adalah penilaian tes dan non
tes. Tes digunakan untuk melihat hasil perolehan siswa secara individu.
Sedangkan non tes digunakan untuk penilaian aspek afektif dan aspek
psikomotor. Untuk lebih jelasnya rencana pelaksanaan pembelajaran pada
siklus II pertemuan 1 ini dapat dilihat pada lampiran 21 (hal. 161-167).
b. Pelaksanaan
Tindakan siklus II pertemuan 1 dilaksanakan pada hari Rabu, 3 April
2013 pukul 12.45-13.55 WIB pada penjumlahan pecahan campuran dengan
materi pecahan campuran bilangan bulat dengan pembilang satu
berpenyebut beda. Pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap yaitu kegiatan

70

awal, kegiatan inti dan, kegiatan akhir sesuai dengan RPP yang telah
dibuat.
a)

Kegiatan awal
Kegiatan

diawali

dengan

membuka

pelajaran

dengan

mengkondisikan kelas (menyiapkan media pembelajaran, mengatur
tempat duduk siswa, berdoa dan, absensi). Melakukan tanya jawab
tentang materi KPK dua bilangan, membagikan LKS dan media
pembelajaran kepada 5 kelompok terdiri 5-6 anggota yang telah
dibentuk oleh guru. Dapat dilihat pada lampiran 49 (hal. 229).
b) Kegiatan inti
Eksplorasi, penggunaan konteks, mengaitkan materi penjumlahan
pecahan campuran dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki
siswa, selanjutnya siswa bekerja menyelesaikan LKS 3 tentang
penjumlahan pecahan campuran secara berkelompok.
Elaborasi, memotivasi siswa untuk menyelesaikan permasalahan
realistik penjumlahan pecahan campuran yang terdapat pada LKS.
Penggunaan model untuk matematisasi progresif, siswa memodelkan
permasalahan penjumlahan pecahan campuran pada LKS.
Pemanfaatan hasil konstruksi siswa, kelompok memberikan
lambang matematika pada setiap gambar pecahan campuran yang
dibuat. Interaktivitas, memberi kesempatan kepada salah satu
kelompok untuk mempersentasikan hasil kerja kelompok di depan

71

kelas, memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan kerja
sama agar terjadinya pertukaran ide/gagasan di dalam diskusi kelas.
Komfirmasi, siswa menjelaskan kembali cara-cara menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran. Keterkaitan, siswa mencontohkan
masalah realistik penjumlahan pecahan campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-harinya.
c)

Kegiatan akhir
Pada tahap ini, guru melakukan pengumpulan LKS yang telah
dikerjakan disetiap kelompoknya, guru memberikan tindak lanjut
berupa latihan soal untuk mengasah pemahaman siswa terhadap materi
yang telah diberikan, selanjutnya guru membimbing siswa untuk
mengkondisikan kelas untuk mengakhiri pembelajaran.

c. Pengamatan
a)

Hasil pengamatan terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran
Pada pertemuan 1 instrumen penilaian RPP dilakukan oleh guru
kelas yang bertindak sebagai observer I. Dari hasil penilaian RPP
diperoleh persentase 85,71 % dengan kualifikasi baik sekali (BS).
Berikut penjelasan dari hasil pengamatan yang dilakukan antaranya:
kejelasan perumusan tujuan proses pembelajaran memperoleh
kualifikasi baik sekali (BS), pemilihan materi ajar dengan kualifikasi
baik sekali (BS), pengorganisasian materi dengan kualifikasi baik (B),
pemilihan sumber/media pembelajaran dengan kualifikasi baik (B),

72

kejelasan proses pembelajaran dengan kualifikasi cukup (C),
kesesuaian teknik pembelajaran dengan kualifikasi baik sekali (BS),
kelengkapan instrumen dengan kualifikasi baik sekali (BS), dari total
28 deskriptor yang ditetapkan 24 deskriptor yang telah dilaksanakan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 22 (hal. 168171). Berdasarkan perolehan dari pengamatan tersebut bahwa hampir
seluruh deskriptor yang terdapat pada RPP terlaksana sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan.
b) Hasil pengamatan aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran
Berdasarkan dari hasil laporan observer, persentase kegiatan guru
80 % dengan kualifikasi baik sekali (BS), berikut adalah penjelasan
dari hasil yang teramati antaranya: penggunaan konteks memperoleh
kualifikasi baik sekali (BS), penggunaan model untuk matematisasi
progresif dengan kualifikasi baik sekali (BS), pemanfaatan hasil
konstruksi siswa dengan kualifikasi baik (B), interaktivitas dengan
kualifikasi cukup (C), keterkaitan dengan kualifikasi baik (B), dari
total 20 deskriptor yang ditetapkan 16 deskriptor yang telah terlaksana.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 25 (hal. 179181). Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hampir semua
aspek dilaksanakan dengan baik oleh peneliti, namun demikian apa
yang telah dilaksanaka masih perlu adanya tindak lanjut guna
meningkatkan kegiatan yang dilakukan guru untuk kedepannya.

73

c)

Hasil pengamatan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran
Pengamatan aktivitas siswa dilakukan oleh teman sejawat yang
bertindak sebagai observer II, berdasarkan hasil pengamatan yang
dilakukan perolehan aktivitas siswa mendapat kualifikasi baik sekali
(BS) dengan persentase 80 % berikut penjelasan dari hasil pengamatan
yang terlaksana diantaranya: penggunaan konteks memperoleh
kualifikasi baik sekali (BS), penggunaan model untuk matematisasi
progresif dengan kualifikasi baik sekali (BS), pemanfaatan hasil
konstruksi siswa dengan kualifikasi baik (B), interaktivitas dengan
kualifikasi cukup (C), keterkaitan dengan kualifikasi baik (B), dari
total maksimal 20 deskriptor yang ditetapkan sebanyak 16 deskriptor
telah dilaksanakan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 26 (hal. 182184). Dari hasil yang diperoleh bahwa siswa telah melaksanakan
tugasnya dengan baik, akan tetapi siswa harus terus dimotivasi dalam
belajarnya, agar hasil belajar untuk kedepannya lebih meningkat lagi.

d) Hasil belajar siswa
Penilaian keberhasilan belajar siswa pada materi penjumlahan
pecahan campuran dapat dilihat dari 3 aspek pencapaian yaitu aspek
kognitif, aspek afektif, aspek psikomotor. Hasil tes diperoleh selama
pembelajaan berlangsung dilakukan dari awal pembelajaran sampai

74

akhir pembelajaran berlangsung. Berikut adalah hasil tes yang
diperoleh:
Aspek kognitif, dari 26 siswa nilai yang berada di atas KKM
sebanyak 20 siswa dan 6 siswa di bawah KKM dengan persentase
ketuntasan belajar 76,92 % dengan nilai tertinggi 100 sebanyak 1
orang siswa dan nilai terendah 60 sebanyak 4 orang siswa. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada lampiran 28 (hal. 186). Aspek afektif nilai
yang berada di atas KKM sebanyak 21 siswa dan 5 siswa di bawah
KKM dengan persentase ketuntasan belajar 80,77 % dengan nilai
tertinggi 100 sebanyak 1 orang siswa dan nilai terendah 66,67
sebanyak 4 orang siswa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
lampiran 29 (hal. 187). Aspek psikomotor nilai yang berada di atas
KKM sebanyak 19 siswa dan 7 siswa di bawah KKM dengan
persentase ketuntasan belajar 73,08 % dengan nilai tertinggi 100
sebanyak 3 orang siswa dan nilai terendah 58,33 sebanyak 3 orang
siswa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 30 (hal. 189).
d. Refleksi
Refleksi dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan observer
yang telah mengadakan pengamatan pada saat pembelajaran penjumlahan
pecahan campuran. Berdasarkan dari hasil refleksi peneliti dengan observer
melalui pengamatan yang telah dilakukan selama pelaksaan tindakan siklus
II pertemuan 1 diperoleh hal-hal sebagai berikut:

75

1) Rencana pelaksanaan pembelajaran
Berdasarkan lembar penilaian RPP, maka dapat dilihat deskritor
yang belum terlaksana dalam RPP dapat diuraikan sebagai berikut: (1)
pengorganisasian materi, belum dilaksanakan sesuai dengan alokasi
waktu, (2) pemilihan sumber/media pembelajaran, belum dilaksanakan
sesuai dengan lingkungan siswa, (3) kejelasan langkah-langkah
pembelajaran belum sesuai alokasi waktu, terperinci dan jelas.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, maka selanjutnya guru
perlu memperhatikan hal sebagai berikut: (1) pengorganisasian materi
ajar harus sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan, (2) pemilihan
sumber/media pembelajaran harus sesuai dengan lingkungan siswa
dan proses pembelajaran jelas dan terperinci. Walaupun demikian,
secara keseluruhan RPP yang dirancang oleh peneliti pada siklus II
pertemuan 1 ini sudah baik dan tahapan pembelajaran dalam
perencanaan sudah terlaksana dengan baik.
2) Pelaksanaan aktivitas guru
Refleksi aktivitas guru dilakukan setelah menganalisis lembar
pengamatan kegiatan guru, berdasarkan hal tersebut maka hambatan
yang ditemui dalam proses pembelajaran adalah: (1) pemanfaatan hasil
konstruksi siswa, guru belum menugaskan siswa untuk menggunakan
berbagai cara dalam menemukan jawaban penjumlahan pecahan
campuran, (2) interaktivitas, guru belum menugaskan siswa untuk

76

bertukar ide/gagasan dan meminta siswa untuk memberi tanggapan
atas jawaban temannya, (3) keterkaitan, guru belum menugaskan siswa
dalam menyelesaikan penjumlahan pecahan campuran secara mandiri.
Berdasarkan hasil pengamatan, maka untuk pertemuan selanjutnya
guru perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1) guru memotivasi siswa
untuk menggunakan berbagai cara untuk menemukan jawaban
penjumlahan pecahan campuran, (2) memotivasi siswa untuk
mengungkapkan ide/gagasan dan menyelesaikan soal secara mandiri
serta memberikan penguatan terhadap hasil yang didapat siswa.
3) Pelaksanaan aktivitas siswa
Setelah dilakukannya refleksi maka ditemukan permasalahan yang
menghambat proses pembelajaran diantaranya: (1) pemanfaatan hasil
konstruksi siswa, siswa belum menggunakan berbagai cara untuk
menemukan

jawaban

penjumlahan

pecahan

campuran,

(2)

interaktivitas, siswa belum melakukan diskusi dengan bertukar
ide/gagasan dan belum memberi tanggapan atas jawaban temannya
dalam

diskusi

kelas,

(3)

keterkaitan,

siswa

belum

terbiasa

menyelesaikan penjumlahan pecahan campuran secara mandiri.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, maka untuk
pertemuan berikutnya guru perlu memperhatikan: (1) memotivasi
siswa, agar siswa dapat menggunakan berbagai cara untuk menemukan
jawaban penjumlahan pecahan campuran, (2) menugaskan siswa untuk

77

saling bertukar ide/gagasan serta memberikan tanggapan pada saat
diskusi kelas, (3) meminta siswa untuk menyelesaikan soal secara
mandiri dan memberikan penguatan terhadap hasil kerja siswa.
4) Hasil belajar siswa
Hasil belajar siswa pada aspek kognitif pada siklus II pertemuan
1 ini mengalami peningkatan memperoleh nilai rata-rata 77,69 dengan
ketuntasan belajar sebesar 76,92 %. Hal ini menunjukkan bahwa hasil
belajar siswa telah tuntas namun hasil belajar siswa belum tuntas
secara klasikal sesuai yang ditetapkan yaitu 85 %.
Pada aspek afektif siswa sudah terlihat berperan aktif dan
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dalam bekerja kelompok. Hanya
beberapa siswa saja yang belum menunjukkan sikap tersebut dan rasa
ingin tahu yag dimiliki belum timbul.
Pada aspek psikomotor dapat dilihat bahwa siswa telah terbiasa
menggunakan

alat

bantu

untuk

menyelesaikan

permasalahan

penjumlahan pecahan campuran yang diberikan sehingga hambatan
yang dialami siswa dapat teratasi.
Secara keseluruhan ketuntasan belajar siswa pada penjumlahan
pecahan campuran telah menunjukkan peningkatan. Aspek kognitif
77,69 dengan ketuntasan belajar 76,92%, aspek afektif 79,49 dengan
ketuntasan belajar 80,77 %, dan aspek psikomotor 77,88 dengan
ketuntasan belajar 73,08 % serta rata-rata hasil belajar 78,36. Namun

78

dari hasil yang diperoleh belum memenuhi kriteria ketuntasan belajar
secara klasikal yang telah ditetapkan yaitu 85 % maka dari itu
panelitian dilanjutkan pada siklus II pertemuan 2.
4. Siklus II Pertemuan 2
Berdasarkan hasil analisis pada siklus II pertemuan 1, menunjukkan
bahwa subjek penelitian sudah mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan namun ketuntasan belajar secara klasikal belum terpenuhi, maka
diharapkan pada siklus II pertemuan 2 ini pembelajaran penjumlahan pecahan
campuran dapat terlaksana dengan tuntas.
Pada bagian ini akan kembali dipaparkan penggunaan pendekatan PMRI
dalam pembelajaran penjumlahan pecahan campuran di kelas V SDN 09 Air
Tawar Barat Padang mengenai perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan,
refleksi.
a. Perencanaan
Perencanaan yang akan dilakukan pada pembelajaran penjumlahan
pecahan campuran dengan pendekatan PMRI menyangkut perencanaan,
pelaksaan, penilaian pembelajaran. Hal ini akan terlihat dalam kegiatan
awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Sebelum dilaksanakannya
pembelajaran penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan PMRI,
terlebih dahulu peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) pada materi penjumlahan pecahan campuran bilangan bulat dengan
pembilang selain satu berpenyebut beda.

79

Penilaian pembelajaran yang digunakan adalah penilaian tes dan non
tes. Tes digunakan utuk melihat hasil perolehan siswa secara individu.
Sedangkan non tes digunakan untuk penilaian aspek afektif dan aspek
psikomotor. Untuk lebih jelasnya rencana pelaksanaan pembelajaran pada
siklus II pertemuan 2 ini dapat dilihat pada lampiran 31 (hal. 191-197).
b. Pelaksanaan
Tindakan pertemuan 2 dilaksanakan pada hari Jumat, 5 April 2013
pukul 13.45-14.55 WIB pada penjumlahan pecahan campuran dengan
materi pecahan campuran bilangan bulat dengan pembilang selain satu
berpenyebut beda. Pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap yaitu kegiatan
awal, kegiatan inti dan, kegiatan akhir sesuai dengan RPP yang telah
dibuat.
a)

Kegiatan awal
Kegiatan diawali

dengan

membuka

pelajaran

dengan

mengkondisikan kelas (menyiapkan media pembelajaran, mengatur
tempat duduk siswa, berdoa dan, absensi). Melakukan tanya jawab
tentang materi KPK dua bilangan, menyampaikan tujuan pembelajaran
serta membagikan LKS dan media pembelajaran kepada 5 kelompok
terdiri 5-6 anggota yang telah dibentuk oleh guru. Dapat dilihat pada
lampiran 49 (hal. 229).

80

b) Kegiatan inti
Eksplorasi, penggunaan konteks, mengaitkan materi penjumlahan
pecahan campuran dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki,
selanjutnya siswa bekerja menyelesaiakan LKS 4 tentang penjumlahan
pecahan campuran secara berkelompok.
Elaborasi, memotivasi siswa untuk menyelesaikan permasalahan
realistik penjumlahan pecahan campuran yang terdapat pada LKS.
Penggunaan model untuk matematisasi progresif, siswa memodelkan
permasalahan

penjumlahan

pecahan

campuran

pada

LKS.

Pemanfaatan hasil konstruksi siswa, kelompok memberikan lambang
matematika pada setiap gambar pecahan campuran yang dibuat.
Interaktivitas, memberi kesempatan kepada salah satu kelompok
untuk mempersentasikan hasil kerja di depan kelas, memberi
kesempatan kepada siswa untuk saling berinteraksi dan kerja sama
agar terjadinya pertukaran ide/gagasan di dalam diskusi kelas.
Komfirmasi, siswa menjelaskan kembali cara-cara menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran. Keterkaitan, siswa mencontohkan
masalah realistik penjumlahan pecahan campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-harinya.
c)

Kegiatan akhir
Pada tahap ini, guru melakukan pengumpulan LKS yang telah
dikerjakan disetiap kelompoknya, guru memberikan tindak lanjut

81

berupa latihan soal untuk mengasah pemahaman siswa terhadap materi
yang telah diberikan, selanjutnya guru membimbing siswa untuk
mengkondisikan kelas untuk mengakhiri pembelajaran.
c. Pengamatan
a)

Hasil pengamatan terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran
Pada pertemuan 2 instrumen penilaian RPP dilakukan oleh guru
kelas V yang bertindak sebagai observer I. Dari hasil penilaian RPP
diperoleh persentase 92,86 % dengan kualifikasi baik sekali (BS).
Berikut penjelasan dari hasil pengamatan yang dilaksanakan
antaranya:

kejelasan

perumusan

tujuan

proses

pembelajaran

memperoleh kualifikasi baik sekali (BS), pemilihan materi ajar dengan
kualifikasi baik sekali (BS), pengorganisasian materi dengan
kualifikasi baik (B), pemilihan sumber/media pembelajaran dengan
kualifikasi baik sekali (BS), kejelasan proses pembelajaran dengan
kualifikasi baik (B).
Kesesuaian teknik pembelajaran dengan kualifikasi baik sekali
(BS), dan kelengkapan instrumen dengan kualifikasi baik sekali (BS).
Dari total maksimal 28 deskriptor yang ditetapkan 26 deskriptor telah
terlaksana selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada lampiran 32 (hal. 198-201). Berdasarkan
perolehan data di atas bahwa komponen yang terdapat pada RPP telah

82

terlaksana secara maksimal artinya tindakan yang dilakukan peneliti
telah sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
b) Hasil pengamatan aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran
Berdasarkan dari hasil laporan observer, persentase kegiatan guru
95 % dengan kualifikasi baik sekali (BS) mengalami peningkatan dari
aktivitas sebelumnya. Berikut penjelasan dari hasil pengamatan yang
telah

dilakukan

antaranya:

penggunaan

konteks

memperoleh

kualifikasi baik sekali (BS), penggunaan model untuk matematisasi
progresif dengan kualifikasi baik sekali (BS), pemanfaatan hasil
konstruksi siswa dengan kualifikasi baik sekali (BS), interaktivitas
dengan kualifikasi baik sekali (BS), keterkaitan dengan kualifikasi
baik (B). Dari total maksimal 20 deskriptor yang ditetapkan 19
deskriptor telah dilaksanakan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 35 (hal. 209211). Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kekurangan yang
terlihat pada pertemuan 1 sudah mampu diperbaiki oleh peneliti.
c)

Hasil pengamatan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran
Pengamatan aktivitas siswa dilakukan oleh teman sejawat yang
bertindak sebagai observer II, berdasarkan hasil pengamatan yang
dilakukan perolehan aktivitas siswa mendapat kualifikasi baik sekali
(BS) dengan persentase 95 %, hal ini menunjukkan bahwa kegiatan
yang dilaksanakan siswa telah menunjukkan hasil yang maksimal.

83

Berikut penjelasan dari hasil pengamatan yang dilakukan
antaranya: penggunaan konteks memperoleh kualifikasi baik sekali
(BS), penggunaan model untuk matematisasi progresif dengan
kualifikasi baik sekali (BS), pemanfaatan hasil konstruksi siswa
dengan kualifikasi baik sekali (BS), interaktivitas dengan kualifikasi
baik seklai (BS), keterkaitan dengan kualifikasi baik (B). dari total
maksimal 20 deskriptor yang telah ditetapkan 19 deskriptor yang
terlaksana selama tindakan diberikan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 36 (hal. 212214). Agar hasil ini tetap bertahan atau lebih meningkat lagi peneliti
terus memotivasi siswa agar dalam belajar tetap bersemangat sehingga
tidak ada lagi siswa yang tidak tahu apa yang diajarkan oleh guru.
d) Hasil belajar siswa
Penilaian keberhasilan belajar siswa pada materi penjumlahan
pecahan campuran dapat dilihat dari 3 aspek pencapaian yaitu aspek
kognitif, aspek afektif, aspek psikomotor. Hasil tes diperoleh selama
pembelajaran berlangsung dilakukan dari awal pembelajaran sampai
akhir pembelajaran. Berikut adalah hasil tes yang diperoleh:
Aspek kognitif, dari 26 siswa nilai yang berada di atas KKM
sebanyak 24 siswa dan 2 siswa di bawah KKM dengan persentase
ketuntasan belajar 92,31 % dengan nilai tertinggi 100 sebanyak 6
orang siswa dan nilai terendah 60 sebanyak 1 orang siswa. Untuk lebih

84

jelasnya dapat dilihat pada lampiran 38 (hal. 216). Aspek afektif nilai
yang berada di atas KKM sebanyak 24 siswa dan 2 siswa di bawah
KKM dengan persentase ketuntasan belajar 92,31 % dengan nilai
tertinggi 100 sebanyak 6 orang siswa dan nilai terendah 66,67
sebanyak 2 orang siswa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
lampiran 39 (hal. 217).
Aspek psikomotor nilai yang berada di atas KKM sebanyak 23
siswa dan 3 siswa di bawah KKM dengan persentase ketuntasan
belajar 88,46 % dengan nilai tertinggi 100 sebanyak 4 orang siswa dan
nilai terendah 58,33 sebanyak 1 orang siswa. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada lampiran 40 (hal. 219).
d. Refleksi
Setelah dilakukannya kegiatan evaluasi terhadap hasil observasi, hasil
tes akhir dapat dikemukakan sebagai hal berikut ini:
1) Rencana pelaksanaan pembelajaran
Hasil dari hasil penilai RPP yang dilakukan, maka diperoleh
deskriptor yang belum terlaksana diantaranya: (1) pengorganisasian
materi, belum dilaksanakan sesuai dengan alokasi waktu, (2) kejelasan
langkah-langkah pembelajaran belum dilaksanakan sesuai dengan
alokasi waktu.
Berdasarkan dari hasil tersebut hal-hal yang perlu diperhatikan
guru adalah: (1) pengorganisasian materi harus dilaksanakan sesuai

85

dengan alokasi waktu yang ditentukan, (2) langkah-langkah dalam
proses pembelajaran harus sesuai dengan alokasi waktu. Namun
demikian, secara keseluruhan RPP yang dirancang oleh peneliti pada
siklus II pertemuan 2 ini sudah lebih baik dan tahapan pembelajaran
dalam perencanaan sudah terlaksana dengan baik.
2) Pelaksanaan aktivitas guru
Refleksi aktivitas guru dilakukan setelah menganalisis lembar
pengamatan kegiatan guru, berdasarkan hal tersebut hambatan yang
ditemukan dalam proses pembelajaran adalah pada karateristik
keterkaitan, guru belum menugaskan siswa untuk menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran secara mandiri.
Berdasarkan hal tersebut hal yang harus dilakukan guru adalah
memotivasi dan membimbing siswa agar sikap percaya diri siswa
timbul untuk menyelesaikan soal secara mandiri dan benar.
3) Pelaksanaan aktivitas siswa
Setelah dilakukannya refleksi maka ditemukan permasalahan yang
menghambat proses pembelajaran dari aspek siswa diantaranya pada
karateristik keterkaitan, siswa belum menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran secara mandiri dengan percaya diri.
Dari hasil refleksi yang dilakukan, hal yang perlu diperhatikan
oleh guru adalah meminta siswa untuk bekerja secara mandiri dalam
menyelesaikan soal yang diberikan.

86

4) Hasil belajar siswa
Hasil belajar siswa pada aspek kognitif pada siklus II pertemuan 2
ini mengalami peningkatan dan materi penjumlahan pecahan
campuran telah tuntas untuk dipelajari dan memperoleh rata-rata nilai
84,81 dengan persentase ketuntasan belajar 92,31 %.
Pada aspek afektif menunjukkan bahwa siswa telah menunjukkan
sikap aktif, serius dan saling menghargai dalam diskusi kelompok
berlangsung. Hanya beberapa siswa yang belum menunjukkan sikap
tersebut.
Dilihat dari aspek psikomotor bahwa siswa sudah terbiasa
menggunakan alat bantu untuk menyelesaikan permasalahan yang
diberikan dengan dibuktikan siswa telah memahami langkah-langkah
kerja, cekatan menggunakan alat peraga dan, siswa telah mampu
menjawab pertanyaan yang diberikan.
Secara keseluruhan hasil belajar pada siklus II memperoleh ratarata nilai pada aspek kognitif 84,81 dengan ketuntasan belajar 92,31 %
aspek afektif 86,86 dengan ketuntasan belajar 92,31 % dan aspek
psikomotor 85,58 dengan ketuntasan belajar 88,46 % serta rata-rata
hasil belajar 85,56. Dilihat dari perolehan hasil belajar tersebut telah
mencapai KKM yang telah ditetapkan yaitu ≥ 70 dan telah mencapai
ketuntasan belajar secara klasikal yang telah ditetapkan yaitu 85 %.

87

B. PEMBAHASAN
1. Siklus I
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil penelitian pelaksanaan pembelajaran penjumlahan
pecahan campuran di kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang dengan
pendekatan PMRI siklus I dengan 2 kali pertemuan, difokuskan pada
proses perencanaan-perencanaan berupa rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP). Menurut Muslich (2011: 53) “perencanaan pembelajaran atau RPP
adalah rancangan pembelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam
pembelajaran di kelas mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar,
indikator, tujuan pembelajaran, materi, pendekatan dan metode, langkahlangkah kegiatan pembelajaran, alat dan sumber belajar, dan evaluasi
pembelajaran.”
Perencanaan pembelajaran penjumlahan pecahan campuran dengan
pendektan PMRI. Pertama diawali dengan memilih Standar Kompetensi
yaitu “menggunakan pecahan dalam pemecahan masalaha.” Selanjutnya
memilih Kompetensi Dasar yaitu “menjumlahkan dan mengurangkan
berbagai bentuk pecahan.” Pada siklus I pembelajaran dilaksanakan dengan
dua kali pertemuan (4x35 menit).
Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dirancang peneliti pada
siklus I dengan dua kali pertemuan sudah dikatakan pada kualifikasi baik,
namun masih ada beberapa deskriptor yang belum terlaksana diantaranya

88

pada aspek pemilihan materi ajar, materi masih belum sesuai dengan
lingkungan siswa. Pengorganisasian materi juga masih belum terlaksana
sesuai

dengan

alokasi

waktu

yang

telah

ditetapkan,

pemilihan

sumber/media pembelajaran juga belum terlihat sesuai dengan lingkungan
siswa. Kejelasan proses pembelajaran juga belum terlihat secara jelas dan
terperinci.
Berdasarkan hal-hal tersebut yang harus diperhatikan untuk perbaikan
pada pertemuan selanjutnya diantaranya: guru harus melakukan pemilihan
materi sesuai dengan lingkungan siswa, pengorganisasian materi
hendaknya guru menyesuaikan dengan alokasi yang telah disepakati sesuai
dengan tujuan pelajaran jelas dan terperinci. Selanjutnya pada saat
pemilihan sumber/media harus sesuai dengan lingkungan siswa dan
memilih sumber/media semenarik mungkin sehingga siswa lebih tertarik
untuk mengikuti proses pembelajaran. Berdasarkan penilaian tersebut maka
RPP yang dibuat peneliti pada siklus I dilakukan perbaikan dan dilanjutkan
untuk siklus II.
Hasil penilaian RPP pertemuan 1 memperoleh persentase 64,29 %
dengan kualifikasi cukup. Sedangkan pada pertemuan 2 memperoleh
persentase 78,57 % dengan kualifikasi baik, jadi rata-rata keberhasilan
guru dalam merancang pembelajaran pada siklus I adalah 71,43% dengan
kualifikasi baik.

89

b. Pelaksanaan
Berdasarkan

dari

perencanaan

yang

dirancang,

pelaksanaan

pembelajaran dilaksanakan dua kali pertemuan yaitu 4x35 menit (140
menit). Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dibagi menjadi tiga tahap
yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pada tahap kegiatan
awal dilaksanakan dengan mengkondisikan kelas (menyiapkan media
pembelajaran, mengatur tempat duduk siswa, berdoa, dan absensi).
Selanjutnya

memberikan

apersepsi.

Pada

pertemuan

pertama

pemberian apersepsi dengan melakukan tanya jawab tentang materi KPK
dua bilangan diiringi dengan pembagian media pembelajaran kepada
masing-masing kelompok. Pada pertemuan kedua pemberian apersepsi
dilakukan guru dengan menanyakan kembali tentang materi KPK dua
bilangan dan membagikan perlengkapan media pembelajaran pada masingmasing kelompok.
Kegitan inti dilaksanakan dengan menerapkan karateristik pendekatan
PMRI yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Penggunaan konteks, siswa mengaitkan materi penjumlahan pecahan
campuran dengan pengetahuan awal yang dimiliki siswa, setelah siswa
memahami dan mengaitkan materi dengan pengetahuan awal yang dimiliki
siswa ditugaskan untuk bekerja menyelesaikan LKS tentang penjumlahan
pecahan campuran secara berkelompok.

90

Penggunaan model untuk matematisasi progresif, pada karateristik ini
siswa memodelkan permasalahan penjumlahan pecahan campuran dengan
menggunakan atau memanfaatkan kertas warna yang telah disediakan
dalam kelompoknya untuk menyelesaikan suatu masalah.
Pemanfaatan hasil konstruksi siswa, kelompok memberikan lambang
matematika pada setiap gambar pecahan campuran yang dibuat selanjutnya
memberikan kesempatan pada setiap kelompok untuk menggunakan
strateginya masing-masing untuk berbeda pendapat dengan mengemukakan
gagasan/ ide baru yang telah ditemukan.
Interaktivitas, memberikan kesempatan kepada perwakilan kelompok
untuk mempersentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas dan
dilanjutkan dengan memberikan kepada setiap siswa untuk melakukan
interaksi dan kerja sama dalam diskusi kelas sehingga ide/gagasan yang
didapat pada siswa dapat dikemukakan dalam diskusi.
Keterkaitan, pada karateristik ini siswa diminta untuk mencontohkan
masalah realistik penjumlahan pecahan campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-harinya.
Pada

kegiatan

menyimpulkan

akhir

pelajaran

siswa
dengan

sudah

mulai

kalimatnya

melakukan
sendiri,

untuk

selanjutnya

dilakukannya pengumpulan LKS dan memberikan penguatan terhadap
hasil kerja siswa yang telah dilakukan. Setelah itu dilanjutkan dengan
pemberian evaluasi kepada siswa yang dikerjakan secara individu.

91

Hasil penilaian kegiatan guru pada pertemuan pertama memperoleh
persentase 60 % dan pertemuan kedua memperoleh persentase 70 %. Jadi
rata-rata penilaian kegiatan guru pada siklus I adalah 65 % dengan
kualifikasi cukup. Sedangkan pada penilaian kegiatan siswa pada
pertemuan pertama memperoleh persentase 60 % dan pada pertemuan
kedua memperoleh persentase 70 %. Jadi rata-rata penilaian siswa pada
siklus I memperoleh persentase 65 % dengan kualifikasi cukup.
c. Hasil belajar
Akhir dari proses pembelajaran penjumlahan pecahan campuran maka
dihasilkannya sebuah hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa. Dalam
hasil belajar tersebut dapat dilihat dari tiga aspek yaitu, aspek kognitif,
aspek afektif dan, aspek psikomotor. Sudjana (2009: 3) menyatakan “hasil
belajar adalah perubahan tingkah laku, tingkah laku sebagai hasil belajar
dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan
psikomotoris.” Berikut merupakan penjelasan dari hasil pencapaian belajar
siswa, diantaranya:
Pada pertemuan 1 nilai rata-rata hasil belajar aspek kognitif 62,31
dengan ketuntasan belajar 46,15 %, aspek afektif 55,45 dengan ketuntasan
belajar 23,08 %, aspek psikomotor 53,20 dengan ketuntasan belajar 19,23
% serta nilai rata-rata hasil belajar 56,99. Dan pada pertemuan 2 hasil
belajar siswa mengalami peningkatan namun belum mencapai kriteria yang
diinginkan, berikut merupakan hasil belajar siswa dilihat dari aspek

92

kognitif 69,42 dengan ketuntasan belajar 61,54 %, aspek afektif 66,67
dengan ketuntasan belajar 42,31 %, dan aspek psikomotor 67,63 dengan
ketuntasan belajar 42,31 % serta rata-rata hasil belajar 67,14.
Jika dilihat dari rekapitulasi keberhasilan siswa pada siklus I diperoleh
gambaran bahwa rata-rata keberhasilan siswa pada siklus I untuk ketiga
aspek adalah 62,06 dengan ketuntasan belajar 26,92 %. Ini menunjukkan
siklus I belum mencapai ketuntasan yang diharapkan yaitu 85 % siswa
mencapai KKM yang telah ditetapkan yaitu ≥ 70. Untuk itu perlu diadakan
tindakan dan dilanjutkan pada siklus II.
2. Siklus II
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil penelitian pelaksanaan pembelajaran penjumlahan
pecahan campuran di kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang dengan
pendekatan PMRI pada siklus II dengan 2 kali pertemuan, difokuskan pada
proses perencanaan-perencanaan berupa rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP). Menurut Muslich (2011: 53) “perencanaan pembelajaran atau RPP
adalah rancangan pembelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam
pembelajaran di kelas mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar,
indikator, tujuan pembelajaran, materi, pendekatan dan metode, langkahlangkah kegiatan pembelajaran, alat dan sumber belajar, dan evaluasi
pembelajaran.”

93

Perencanaan pembelajaran penjumlahan pecahan campuran dengan
pendektan PMRI. Pertama diawali dengan memilih Standar Kompetensi
yaitu “menggunakan pecahan dalam pemecahan masalaha.” Selanjutnya
memilih Kompetensi Dasar yaitu “menjumlahkan dan mengurangkan
berbagai bentuk pecahan.” Pada siklus II pembelajaran dilaksanakan
dengan dua kali pertemuan (4x35 menit).
Selanjutnya pada pembahasan berikut akan dipaparkan perolehan
penilaian RPP yang telah dibuat peneliti pada siklus II:
Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dirancang pada siklus II
sudah dinyatakan pada kualifikasi baik walau masih belum maksimal,
karena masih ada kegiatan yang belum terlaksana. Terlihat pada aspek
pengorganisasian materi dan kejelasan proses pembelajaran masih belum
sesuai dengan alokasi waktu yang disepakati. Hasil penilaian RPP pada
pertemuan pertama memperoleh persentase 85,71 % dengan kualifikasi
baik sekali dan pada pertemuan kedua memperoleh persentase 92,86 %
dengan kualifikasi baik sekali. Jadi, perolehan rata-rata terhadap penilaian
RPP yang telah dirancang peneliti memperoleh persentase 89,29 % dengan
kualifikasi baik sekali.
b. Pelaksanaan
Berdasarkan

perencanaan

yang

telah

dirancang,

pelaksanaan

pembelajaran dilaksanakan dua kali pertemuan yaitu 4x35 menit (140
menit). Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II ini dibagi menjadi tiga

94

tahap yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pelaksanaan
dilakukan sesuai dengan RPP yang telah dibuat yaitu dengan materi
penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan PMRI.
Dari hasil pengamatan baik aktivitas guru maupun aktivitas siswa
telah terlaksana dengan baik dan telah mencapai kriteria yang diharapkan.
Artinya kekurangan yang terdapat dapa siklus I telah diperbaiki dengan
baik dan memperoleh hasil aktivitas guru pada siklus II mengalami
peningkat menjadi 87,5 % dengan kualifikasi baik sekali (BS) begitu juga
diiringi dengan hasil aktivitas siswa siklus II mengalami peningkat menjadi
87,5 % dengan kualifikasi baik sekali (BS).
c. Hasil Belajar
Akhir dari proses pembelajaran penjumlahan pecahan campuran maka
dihasilkannya sebuah hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa. Dalam
hasil belajar tersebut dapat dilihat dari tiga aspek yaitu, aspek kognitif,
aspek afektif dan, aspek psikomotor. Sudjana (2009: 3) menyatakan “hasil
belajar adalah perubahan tingkah laku, tingkah laku sebagai hasil belajar
dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan
psikomotoris.” Berikut merupakan penjelasan dari hasil pencapaian belajar
siswa, diantaranya:
Dilihat pada siklus II pada pertemuan 1 aspek kognitif ketuntasan
belajar 76,92 % dengan nilai 77,69. Aspek afektif ketuntasan belajar 80,77
% dengan nilai 79,49. Aspek psikomotor ketuntasan belajar 73,08 %

95

dengan nilai 77,88 serta rata-rata nilai hasil belajar 78,36. Pada pertemuan
2 mengalami peningkatan hasil belajar pada aspek kognitif ketuntasan
belajar 92,31 % dengan nilai 84,81. Aspek afektif ketuntasan belajar 92,31
% dengan nilai 86,86. Aspek psikomotor ketuntasan belajar 88,46 %
dengan nilai 85,58 serta nilai rata-rata hasil belajar 85,56.
Jika dilihat dari rekapitulasi keberhasilan siswa pada siklus II
diperoleh nilai rata-rata untuk ketiga aspek adalah 82,05 dengan ketuntasan
belajar 92,31 %. Ini menunjukkan siklus II telah mencapai ketuntasan yang
diharapkan yaitu 85 % siswa mencapai KKM yang telah ditetapkan yaitu ≥
70. Maka dari itu, penelitian dicukupkan pada siklus II dengan 2 kali
pertemuan.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan dari hasil paparan pada data dan temuan dalam bab IV, maka
dapat dibuat kesimpulan bahwa pembelajaran penjumlahan pecahan campuran
dengan pendekatan PMRI sebagai berikut:
1. Perencanan pembelajaran penjumlahan pecahan campuran dengan
pendekatan

pendidikan

matematika

realistik

Indonesia

dapat

meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 09 Air Tawar Barat
Padang. Dari segi perencanaan, siklus I memperoleh persentase 71,43 %
dengan kualifikasi baik (B). Pada siklus II mengalami peningkatan
menjadi 89,29 % dengan kualifikasi baik sekali (BS).
2. Pelaksanaan pembelajaran penjumlahan pecahan campuran dengan
pendekatan

pendidikan

matematika

realistik

Indonesia

dapat

meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 09 Air Tawar Barat
Padang, dilihat dari segi aktivitas guru maupun aktivitas siswa. Dari segi
pelaksanaan, pada siklus I aktivitas guru memperoleh persentase 65 %
dengan kualifikasi cukup (C), siklus II memperoleh persentase 87,5 %
dengan kualifikasi baik sekali (BS). Dan pada aktivitas siswa siklus I
memperoleh persentase 65 % dengan kualifikasi cukup (C), siklus II
mengalami peningkatan menjadi 87,5 % dengan kualifikasi baik sekali
(BS).

96

97

3. Hasil belajar penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan
pendidikan matematika realistik Indonesia mengalami peningkatan secara
bertahap dari siklus I hingga siklus II, pada siklus I dengan nilai rata-rata
62,06 dengan ketuntasan belajar 26,92 %. Pada siklus II hasil belajar
siswa mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata 82,05 dengan
ketuntasan belajar 92,31 %.
B. Saran
Berdasarkan dari hasil dan temuan penelitian dengan menggunakan
pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI) dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan pecahan campuran
di kelas V SDN 09 Air Tawar Barat Padang, maka dikemukakan saran sebagai
berikut:
1. Kepada kepala sekolah hendaknya dapat memotivasi seluruh guru
kelas agar selama dalam kegiatan pembelajaran dapat menggunakan
berbagai macam pendekatan, salah satunya pendekatan PMRI. Serta
mengarahkan guru kelas agar mampu menggunakan pendekatan
PMRI dalam proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran
matematika
2. Bagi peneliti untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam
terhadap mata pelajaran matematika khususnya pada materi
penjumlahan pecahan campuran dengan pendekatan PMRI

98

3. Bagi siswa dalam kegiatan belajar matematika khususnya materi
penjumlahan pecahan campuran dapat memberikan pengalaman yang
menyenangkan sehingga siswa lebih aktif dan kreatif dalam kegiatan
belajar
4. Bagi pembaca, agar tulisan karya ilmiah ini dapat menambah
wawasan dan pengetahuan dalam melaksanakan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK).

99

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara
Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Dahar, Ratna Wilis. 2011. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga
Danim, Sudarwan, dkk. 2010. Psikologi Pendidikan: Dalam Perspektif Baru.
Bandung: Alfabeta CV
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Standar Kompetensi SD.
Jakarta: Depdiknas
Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: PT Raja
Grapindo Persada
Lufri. 2007. Strategi Pembelajaran Biologi Teori Praktek dan Penelitian. Padang:
UNP Press
Muslich, Mansur. 2011. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual.
Jakarta: Bumi Aksara
Mutijah, dkk. 2009. Bilangan dan Aritmatika. Yogyakarta: Grafindo Litera Media
Prabawanto, Sufyani, dkk. 2007. Bahan Belajar Mandiri: Pendidikan Matematika II.
Bandung: UPI PRESS
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana
Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Sudrajat, Akhmad. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan
Model
Pembelajaran.(Online)http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pen

100

dekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/
Oktober 2012
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif
Alfabeta

diakses

15

Kualitatif dan R&D. Bandung:

Sutawidjaja, Akbar, dkk. 1991. Pendidikan Matematika III. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tenaga
Kependidikan
Supinah. 2008. Pembelajaran Matematika SD dengan Pendekatan Kontekstual dalam
Melaksanakan KTSP. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Matematika
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep,
Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Wijaya, Ariyadi. 2012. Pendidikan Matematika Realistik: Suatu Alternatif
Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Graha Ilmu
Yusuf, Syamsu. 2001. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Zainal Abidin, Muhammad. 2010. Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik
Setting Kooperatif Materi Aritmatika Sosial pada Siswa Kelas VII SMP.
Makalah
(Online)
http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/implementasi-pembelajaranmatematika-realistik-setting-kooperatif-materi-aritmatika-sosial-pada-siswakelas-vii-smp/ diakses 30 November 2012
Zulkardi, dkk. 2010. Pengembangan Blog Support untuk Membantu siswa dan Guru
Matematika Indonesia Belajar Pendidikan Matematika Realistik Indonesia
(PMRI). (Online) http://websupport-jurnal-inovasi-perekayasa-pendidikanJIPP-Balitbang-Edisi-Agustus-2010-Prof.Dr.Zulkardi diakses 22 November
2012
Zuriah, Nurul. 2009. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: PT Bumi
Aksa

101

Lampiran 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Siklus I Pertemuan 1
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas / Semester
Alokasi Waktu
I.

: Sekolah Dasar
: Matematika
:V/2
: 2 x 35 Menit

Standar Kompetensi
Bilangan
5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah

II.

Kompetensi Dasar
5.2. Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan

III. Indikator
1. Menemukan jawaban dari permasalahan realistik yang berhubungan
dengan penjumlahan dua pecahan campuran berpenyebut sama, misal
(1 + 2 )
2. Mendemonstrasikan model matematika penjumlahan pecahan campuran
3. Membuktikan penyelesaian jawaban dari permasalahan penjumlahan
pecahan campuran
4. Menyimpulkan cara penyelesaian dari jawaban yang didapat pada
penjumlahan pecahan campuran
IV.

Tujuan Pembelajaran
1. Dengan berdiskusi kelompok, siswa dapat menemukan jawaban dari
permasalahan realistik penjumlahan dua pecahan campuran berpenyebut
sama, misal (1 + 2 ) pada LKS dengan benar
2. Dengan pemodelan, siswa dapat mendemonstrasikan model matematika
penjumlahan pecahan campuran dengan tepat

102

3. Dengan penugasan, siswa dapat membuktikan cara penyelesaian
penjumlahan pecahan campuran dengan benar
4. Dengan tanya jawab, siswa dapat menyimpulkan cara penyelesaian
masalah penjumlahan pecahan campuran dengan benar
V.

Materi Pokok
Penjumlahan pecahan campuran (pecahan campuran bilangan bulat dengan
pecahan pembilang satu berpenyebut sama)
Riri mempunyai air 1 air gelas kemudian Riri mengambil lagi sebanyak
2 gelas. Berapa gelaskah jumlah air Riri seluruhnya?
Kunci Jawaban
a. Penggunaan konteks
Riri mempunyai air 1 gelas
Riri mengambil air lagi 2 gelas
b. Penggunaan model untuk matematisasi progresif
Mengubah ke dalam kalimat matematika
1 +2 =3

= menunjukkan 3

c. Pemanfaatan hasil konstruksi siswa

1

=

2

=

103

d. Interaktivitas
1 +2

=

1

=

2

=

=1+2+( + )
=3+(

)

=3
=3
e. Keterkaitan
Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran air 1 gelas dengan 2
gelas dapat dilakukan dengan menjumlahkan bilangan bulat dengan
bilangan bulat dan bilangan pecahan dengan bilangan pecahan
dengan menggunakan alat bantu yang dapat dimanipulasi dalam
menyelesaikannya.
VI.

Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (± 10 menit)
a. Mengkondisikan kelas (menyiapkan media pembelajaran, mengatur
tempat duduk siswa, berdoa, dan absensi)
b. Apersepsi dengan tanya jawab tentang materi KPK dua bilangan

104

c. Menyampaikan tujuan pembelajaran
d. Membagikan LKS dan media pembelajaran kepada masing-masing
kelompok yang telah dibentuk oleh guru
2. Kegiatan Inti (± 40 menit)
Eksplorasi
Penggunaan konteks
a. Mengaitkan materi penjumlahan pecahan campuran (Riri mempunyai
air 1 gelas kemudian Riri mengambil air lagi 2

gelas, berapa

gelaskah jumlah air Riri seluruhnya?, dan Andi mempunyai 1
potong kue bolu Bayu juga mempunyai 2

potong kue bolu, berapa

jumlah keseluruhan kue Andi dan Bayu jika digabungkan?) dengan
pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa
b. Menugaskan siswa untuk bekerja menyelesaikan LKS 1 tentang
penjumlahan pecahan campuran secara berkelompok
Elaborasi
c. Memotivasi siswa untuk menyelesaikan permasalahan realistik
penjumlahan pecahan campuran yang terdapat pada LKS
Penggunaan Model untuk Matematisasi Progresif
d. Siswa memodelkan permasalahan penjumlahan pencahan campuran
pada LKS
e. Siswa bekerja dalam kelompok membuat model matematika dengan
memanfaatkan kertas warna yang telah disediakan, seperti contoh
berikut:

f. Siswa menemukan model matematika dari permasalahan penjumlahan
pecahan campuran dikelompoknya

105

Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
g. Meminta kepada kelompok untuk memberikan lambang matematika
pada setiap gambar pecahan campuran yang dibuat
h. Memberi kesempatan kepada kelompok untuk menyelesaikan masalah
dengan menggunakan strateginya masing-masing
i. Memberi kesempatan kepada kelompok untuk berbeda pendapat
dengan mengemukakan gagasan baru
Interaktivitas
j. Memberi

kesempatan

kepada

salah

satu

kelompok

untuk

mempersentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas
k. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan kerja sama
agar terjadinya pertukaran ide/gagasan di dalam diskusi kelas
Komfirmasi
l. Siswa diminta untuk menjelaskan kembali cara-cara menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran
Keterkaitan
m. Siswa mencontohkan

masalah

realistik

penjumlahan

pecahan

campuran yang berhubungan dengan kehidupan sehari-harinya.
3. Kegiatan Akhir (± 20 menit)
a. Mengumpulkan LKS
b. Memberikan tindak lanjut berupa latihan soal
c. Menyampaikan pesan-pesan moral kepada siswa
d. Mengkondisikan kelas untuk mengakhiri pembelajaran
VII. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran
Pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI)
a. Penggunaan konteks
b. Penggunaan model untuk matematisasi progresif

106

c. Pemanfaatan konstruksi siswa
d. Interaktivitas
e. Keterkaitan
Metode pembelajaran
a. Berdiskusi kelompok
b. Pemodelan
c. penugasan
d. Tanya jawab
VIII. Sumber dan Media Pembelajaran
Sumber pembelajaran
1. KTSP 2006 matematika kelas V semester 2
2. BSE matematika kelas V semester 2 (buku matematika yang relevan)
Media pembelajaran
1. Rol, spidol warna, pensil
2. Gunting
3. Kertas karton
IX. Penilaian
1. Kognitif
(prosedur penilaian awal dan akhir proses, jenis penilaian tes, bentuk
penilaian tertulis, instrumen lembar latihan dan kunci jawaban)
2. Afektif
(prosedur penilaian dalam proses, jenis penilaian non tes, bentuk
penilaian pengamatan, instrumen lembar penilaian afektif)
3. Psikomotor
(prosedur penilaian dalam proses, jenis penilaian non tes, bentuk
penilaian pengamatan, instrumen lembar penilaian psikomotor)

107

X.

Pedoman Penskoran Kognitif (Individu)
Butir Soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jumlah

Bobot Maksimal
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
100

108
Lampiran 2
HASIL PENILAIAN RPP
Siklus I Pertemuan 1
Mata Pelajaran
: Matematika
Kelas / Semester
:V/2
Materi
: Penjumlahan Pecahan Campuran
Petunjuk
:
Berilah tanda cheklis (√) pada butir-butir perencanaan pembelajaran deskriptor yang
muncul pada kolom deskriptor pada kolom kualifikasi!

No
1

2

Aspek yang
dinilai
Kejelasan
perumusan
tujuan proses
pembelajaran

Pemilihan
materi ajar

Deskriptor
a. Perumusan tujuan
pembelajaran jelas
b. Rumusan tujuan
pembelajaran tidak
menimbulkan
penafsiran yang
meragukan siswa
c. Rumusan tujuan
pembelajaran
memenuhi (A, B, C, D)
d. Rumusan tujuan
pembelajaran
mengandung perilaku
hasil belajar (kognitif,
afektif, psikomotor)
a. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan bahan
yang akan diajarkan
b. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan tingkat
pemahaman siswa
c. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan

Deskriptor
yang
Muncul

Kualifikasi
BS B C K
4
3 2 1


-

-

109

d.

3

Pengorganisasi
an materi

a.
b.

c.
d.

4

Pemilihan
sumber/media
pembelajaran

a.
b.
c.
d.

5

Kejelasan proses
pembelajaran

a.

b.

c.

lingkungan siswa
Materi ajar sesuai
dengan tujuan
pembelajaran
(penjumlahan pecahan
campuran berpenyebut
sama dan penjumlahan
pecahan campuran
berpenyebut tidak
sama)
Cakupan materi ajar
luas
Materi ajar sistematika
(dari yang mudah ke
yang sukar)
Sesuai dengan alokasi
waktu
Materi ajar sesuai
dengan perkembangan
bidangnya
Sesuai dengan tujuan
pembelajaran
Sesuai dengan materi
ajar
Sesuai dengan
karateristik siswa
Sesuai dengan
lingkungan siswa
Langkah-langkah
pembelajaran berurut
sesuai dengan
karateristik PMRI
Langkah-langkah
pembelajaran sesuai
dengan alokasi waktu
Langkah-langkah
pembelajaran sesuai

-




110

6

7

Kesesuaian
teknik
pembelajaran

Kelengkapan
instrumen

Keterangan:
1. BS
2. B
3. C
4. D

dengan materi ajar
d. Langkah-langkah
pembelajaran jelas dan
terperinci
a. Teknik pembelajaran
sesuai dengan tujuan
pembelajaran
b. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
karateristik siswa
c. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
lingkungan siswa
d. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
pendekatan
pembelajaran
a. Soal lengkap dan sesuai
dengan materi ajar
b. Soal sesuai dengan
tujuan pembelajaran
c. Soal disertai dengan
kunci jawaban yang
lengkap
d. Soal disertai dengan
pedoman penskoran
yang lengkap
Jumlah





-

12

: Baik Sekali, jika keempat deskriptor tampak
: Baik, jika tiga deskriptor tampak
: Cukup, jika hanya dua deskriptor tampak
: Kurang, jika hanya satu atau tidak ada deskriptor yang tampak

Skor maksimal: 28

6

-

111

Persentase perolehan skor =

=

x 100 %

x 100 %

= 64,29 % (C)
Taraf keberhasilan menurut Sudijono (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang

112

Lampiran 3
Kunci Jawaban Lembar Kerja Siswa
Siklus I Pertemuan 1

Mata Pelajaran

: Matematika

Kelas / Semester

:V/2

Tujuan Kegiatan

: Siswa dapat menyelesaikan permasalahan penjumlahan
pecahan campuran dengan menggunakan alat peraga
kertas karton sesuai dengan soal yang diminta.

Alat dan Bahan

:

1. Ketas karton 2 warna ( putih dan biru)
2. Gunting
3. Rol
4. Pensil atau spidol warna
Masalah

: 1. Riri mempunyai air

1

mengambil lagi sebanyak 2

gelas kemudian Riri
gelas. Berapa gelaskah

jumlah air Riri seluruhnya?
2. Andi mempuyai 1 potong kue bolu dan Bayu
mempunyai 2

potong kue bolu. Berapa jumlah

keseluruhan kue Andi dan Bayu jika digabungkan?
Petunjuk

:

1. Guntinglah kertas karton yang berbeda warna untuk membentuk pecahan
campuran sesuai dengan permasalahan yang diberikan
2. Arsirlah karton tersebut untuk membentuk bilangan bulat dan bilangan
pecahan

113
3. Susunlah kertas tersebut untuk menentukan jawaban dari permasalahan yang
diberikan
4. Berilah lambang matematikanya yang kamu temukan dari permasalahan yang
diberikan
5. Kerjakanlah setiap soal dengan dengan benar
6. Simpulan
Jawaban:
No
1

Karateristik
a. Penggunaan Konteks

Keterangan
Riri mempunyai air 1

gelas

Riri mengambil air lagi 2
b. Penggunaan Model
untuk Matematisasi
Progresif

gelas

Mengubah ke dalam kalimat matematika
1

+ 2 = ….

c. Pemanfaatan
Hasil
Konstruksi Siswa
1

=

2 =

114
d. Interaktivitas

=

1

2 =
+

=1+2+( +
e. Keterkaitan

)=3+(

)=3

Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran: air
1
dengan 2
gelas dapat dilakukan dengan
menjumlahkan bilangan bulat dengan bilangan
bulat dan bilangan pecahan dengan bilangan
pecahan dengan menggunakan alat yang dapat
dimanipulasi dalam menyelesaikannya.

2

a. Penggunaan Konteks

b. Penggunaan Model
untuk Matematisasi
Progresif

Andi mempunyai 1

potong kue bolu

Bayu mempunyai 2

potong kue bolu

Mengubah ke dalam kalimat matematika
1

+ 2 =….

115

c. Pemanfaatan Hasil
Konstruksi Siswa

1

=

2

=

d. Interaktivitas
1

=

2

=
+

=1+2+(
e. Keterkaitan

+ )=3+(

)=3

Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran
dapat dilakukan dengan menjumlahkan bilangan
bulat dengan bilangan bulat dan bilangan pecahan
dengan bilangan pecahan.

116
Lampiran 4

117

118

119
Lampiran 5
HASIL PENILAIAN TERHADAP AKTIVITAS GURU DALAM
PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN PECAHAN CAMPURAN
DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V
SDN 09 AIR TAWAR BARAT PADANG
Siklus I Pertemuan 1
Mata Pelajaran
Materi

: Matematika
: Penjumlahan Pecahan Campuran

Petunjuk Pengisian :
Isilah tabel dengan memberi tanda cheklis (√) pada kolom kualifikasi berdasarkan
pengamatan observer pada saat pendidik mengajar!
Karateristik
PMRI
1. Penggunaan
Konteks

2. Penggunaan
Model untuk
Matematisasi
Progresif

Deskriptor
1. Meminta siswa mengaitkan
pembelajaran dengan
pengetahuan awal yang telah
dimiliki
2. Memberikan masalah
realistik dalam kehidupan
sehari-hari siswa
3. Menugaskan siswa untuk
bekerja menyelesaikan LKS
secara berkelompok
4. Memotivasi siswa agar aktif
untuk menemukan
penyelesaian masalah yang
diberikan
1. Meminta siswa untuk
memodelkan permasalahan
penjumlahan pecahan
campuran pada LKS
2. Meminta siswa untuk
membuat model matematika
dengan memanfaatkan
kertas warna yang
disediakan

Deskriptor
yang
Muncul
-

Kualifikasi
BS B C K
4
3 2 1




-

120

3.Pemanfaatan
Hasil
Konstruksi
Siswa

4.
Interaktivitas

3. Meminta kepada siswa
untuk menemukan model
matematika dari
permasalahan yang
diberikan
4. Menugaskan siswa
menggunakan model dalam
menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran
1. Meminta siswa untuk
menggunakan berbagai cara
untuk menemukan jawaban
dari penjumlahan pecahan
campuran
2. Meminta siswa untuk
menentukan lambang
matematika dari setiap
gambar pecahan campuran
yang dibuat
3. Menugaskan kelompok untuk
menyelesaiakan
permasalahan dengan strategi
masing-masing
4. Menugaskan kelompok untuk
mengemukakan gagasan baru
yang didapatkan
1. Meminta perwakilan dari
kelompok untuk
mempersentasikan hasil kerja
yang telah selesai
2. Meminta siswa untuk saling
bertukar ide/gagasan dalam
diskusi kelas
3. Meminta siswa untuk
menjelaskan kembali caracara menyelesaikan
penjumlahan pecahan
campuran
4. Meminta siswa untuk
memberi tanggapan atas
jawaban temannya

-

-




-

121

1. Mengarahkan siswa untuk


menyimpulkan diskusi
2. Meminta siswa untuk

mengaitkan konsep
penjumlahan pecahan
campuran dengan mata
pelajaran lainnya
3. meminta siswa
menyelesaikan sendiri
penjumlahan pecahan
campuran
4. Meminta siswa untuk
menemukan masalah realistik

penjumlahan pecahan
campuran yang berhubungan
dengan kehidupan
kehidupan sehari-harinya
12
Jumlah Skor
Dikembangkan dari Kunandar (2007: 96) Guru Profesional, Implementasi KTSP dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru.
Keterangan:
BS = Baik Sekali, jika Keempat deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran
dilakukan
B = Baik, jika tiga deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran dilakukan
C = Cukup, jika dua deskriptor pada setipa karateristik pembelajaran dilakukan
D = Kurang, jika hanya satu deskriptor pada setiap pembelajaran dilakukan
5. Keterkaitan

Total skor maksimal: 20
Persentasi perolehan skor =

x 100 % =

x 100 %

Padang,

Maret 2013

= 60 % (C)
Taraf keberhasilan menurut Anas (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang

122
Lampiran 6
HASIL PENILAIAN TERHADAP AKTIVITAS SISWA DALAM
PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN PECAHAN CAMPURAN
DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V
SDN 09 AIR TAWAR BARAT PADANG
Siklus I Pertemuan 1
Mata Pelajaran
Materi

: Matematika
: Penjumlahan pecahan campuran

Petunjuk pengisian:
Amatilah aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, kemudian isilah
lembar pengamatan dengan memberi tanda cheklis (√) pada kolom yang tersedia.
Karateristik
PMRI
1. Penggunaan
Konteks

2. Penggunaan
Model untuk
Matematisasi
Progresif

Deskriptor
1. Mengaitkan pembelajaran
dengan pengetahuan awal yang
telah dimiliki
2. Menemukan masalah realistik
dalam kehidupan sehari-hari
3. Siswa menyelesaikan LKS
secara berkelompo
4. Siswa termotivasi aktif dalam
bekerja kelompok
1. Memodelkan permasalahan
penjumlahan pecahan
campuran pada LKS
2. Mengembangkan ide/gagasan
dalam membuat model
matematika dengan
memanfaatkan kertas warna
yang disediakan
3. Menemukan model
matematika dari permasalahan
yang diberikan
4. Siswa menerapkan model
untuk menyelesaikan
penjumlahan pecahan

Deskriptor
yang
Muncul

Kualifikasi
BS B C K
4
3 2 1





-

123

campuran
1. Menggunakan berbagai cara
untuk menemukan jawaban
penjumlahan pecahan
campuran
2. Menentukan lambang

matematika dari setiap gambar
yang dibuat pada LKS
3. Menyelesaikan permasalahan

dengan strategi masing-masing
4. Mengemukakan gagasan baru

yang didapatkan
4.
1. Perwakilan dari kelompok

mempersentasikan hasil kerja
Interaktivitas
yang telah selesai
2. Melakukan diskusi kelas
dengan bertukar ide/gagasan

3. Menjelaskan kembali cara-cara
menyelesaikan penjumlahan

pecahan campuran
4. Memberi tanggapan atas
jawaban temannya
5. Keterkaitan 1. Siswa menyimpulkan hasil

diskusi kelompok
2. Mengaitkan konsep

penjumlahan pecahan
campuran dengan mata
pelajaran lainnya

3. Siswa menyelesaikan sendiri
penjumlahan pecahan
campuran
4. Menemukan masalah realistik

penjumlahan pecahan
campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari
12
Jumlah Skor
Dikembangkan dari Kunandar (2007: 96) Guru Profesional, Implementasi KTSP dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru.
Keterangan:
BS = Baik Sekali, jika Keempat deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran
dilakukan
B = Baik, jika tiga deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran dilakukan
3.
Pemanfaatan
Hasil
Konstruksi
Siswa

124
C = Cukup, jika dua deskriptor pada setipa karateristik pembelajaran dilakukan
D = Kurang, jika hanya satu deskriptor pada setiap pembelajaran dilakukan
Total skor maksimal: 20
Persentasi perolehan skor =
=

x 100 %
x 100 %

= 60 % (C)

Taraf keberhasilan menurut Sudijono (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang

Padang,

Maret 2013

125
Lampiran 7
Kunci Jawaban Soal Tes Kognitif (Individu) Siklus I Pertemuan 1
1.

a.
b.
c.
d. 1
e. 2

2 a. 2 + 3

=2+3+( + )
=

5+(

=

5+

=

5

c. 1 + 2 = 1 + 2 + ( + )
=3+(

)

=3+
≈ 3

=3
d. 1
b. 1 + 1 = 1 + 1 + (
=2+(
=2+
=2

)

+

)

)

+3 =1+3+( + )
=

4+(

=

4+

=

4

)

≈4

e. 1 + 2 = 1 + 2 + ( + )
=3+(
=3+
=3

≈ 3

)

126
Lampiran 8
HASIL PENILAIAN KOGNITIF
(Hasil Evaluasi Individu)
Siklus I Pertemuan 1

No

Kode Siswa

1
AN
2
AD
3
AF
4
APD
5
BDK
6
BS
7
DA
8
DD
9
FF 1
10
FF 2
11
FA
12
IH
13
JF
14
JRP
15
MAB
16
MRI
17
MS
18
NA
19
NAEP
20
RH
21
RW
22
R
23
WS
24
WLP
25
ZBS
26
ZME
Jumlah
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

Hasil Tes
Akhir
55
45
65
50
70
50
40
70
75
75
50
60
70
75
70
75
70
80
95
25
55
45
65
65
50
75
1620
62,31
95
25

Ketuntasan Belajar
Tuntas
Tidak Tuntas


























12

14

46,15 %

53,85 %

127
Lampiran 9
HASIL PENILAIAN ASPEK AFEKTIF
Siklus I Pertemuan 1
Aspek yang dinilai

No

Kode
Siswa

Keaktifan
saat
berdiskusi
4

1
AN
2
AD
3
AF
4
APD
5
BDK
6
BS
7
DA
8
DD
9
FF 1
10
FF 2
11
FA
12
IH
13
JF
14
JRP
15
MAB
16
MRI
17
MS
18
NA
19
NAEP
20
RH
21
RW
22
R
23
WS
24
WLP
25
ZBS
26
ZME
Jumlah Nilai
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

3

2

1

Keseriusan
berdiskusi

Saling
menghargai
dalam
kelompok

4

4

3


2

3
































Nilai
Akhir

Ketuntasan

Tuntas

1

2



1

Jlh
Skor

6
6
7
6
7
9
3
6
4
9
7
6
3
6
6
7
6
9
7
6
10
6
6
10
6
9

50
50
58,33
50
58,33
75
25
50
33,33
75
58,33
50
25
50
50
58,33
50
75
58,33
50
83,33
50
50
83,33
50
75
1441,64
55,45

Tidak
Tuntas
























6

20

23,08 % 76,92 %
83,33
25

128
Deskriptor:
Keaktifan saat berdiskusi
1. Aktif memberikan pendapat sesuai penyelesaian permasalahan yang
ditemukan
2. Berani bertanya jika kurang memahami permasalahan yang diberikan
3. Mengerjakan LKS tepat waktu sesuai dengan alokasi waktu yang
diberikan
4. Berani

mengkomunikasikan

jawaban

di

depan

kelas

sesuai

ide/gagasan yang ditemukan
Keseriusan berdiskusi
1. Semua siswa serius dalam berdiskusi kelompok
2. Saling bertukar pendapat dalam berdiskusi
3. Saling membantu menyelesaikan LKS
4. Membantu teman untuk menjelaskan materi yang kurang dimengerti
Saling menghargai dalam kelompok
1. Memberikan kesempatan kepada

angota

kelompok

untuk

mengemukakan pendapat
2. Tidak memotong pembicaraan teman saat mengemukakan pendapat
3. Menerima masukan teman saat berdiskusi kelompok
4. Tidak melecehkan pendapat teman saat berdiskusi kelompok
Keterangan:
Skala Nilai

Deskriptor

4

Semua deskriptor terlihat

3

Tiga deskriptor terlihat

2

Hanya 2 deskriptor terlihat

1

Hanya 1 deskriptor terlihat

129
Lampiran 10
HASIL PENILAIAN ASPEK PSIKOMOTOR
Siklus I Pertemuan 1

No

Kode
Siswa

Ketepatan
Langkah
Kerja
4

1
AN
2
AD
3
AF
4
APD
5
BDK
6
BS
7
DA
8
DD
9
FF 1
10
FF 2
11
FA
12
IH
13
JF
14
JRP
15 MAB
16
MRI
17
MS
18
NA
19 NAEP
20
RH
21
RW
22
R
23
WS
24 WLP
25
ZBS
26 ZME
Jumlah Nilai
Rata-rata Kelas
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

3

2

1

Aspek yang dinilai
Keterampilan Kemampuan
Menggunakan
Menjawab
Alat peraga
Pertanyaan
4

3































Nilai
Akhir

Ketuntasan

Tuntas

1





2


3




4



1





2

Jlh
Skor

6
5
6
5
7
10
5
7
3
5
6
6
4
3
6
7
6
10
7
6
9
6
6
10
6
9

50
41,67
50
41,67
58,33
83,33
41,67
58,33
25
41,67
50
50
33,33
25
50
58,33
50
83,33
58,33
50
75
50
50
83,33
50
75
1383,32
53,20
83,33
25

Tidak
Tuntas
























5

21

19,23 %

80,77 %

130
Deskriptor:
Ketepatan langkah kerja
1. Mempersiapkan alat peraga untuk menemukan pemecahan masalah yang diberikan
2. Berdiskusi kelompok untuk menemukan ide/gagasan sesuai dengan langkah kerja
LKS
3. Berdiskusi kelompok untuk menemukan langkah-langkah penyelesaian masalah
4. Mengisi jawaban pada LKS sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
Keterampilan menggunakan alat peraga
1. Menggunakan alat peraga untuk menemukan pemecahan masalah yang diberikan
2. Menggunakan alat peraga untuk menemukan langkah-langkah penyelesaian
masalah
3. Mengetahui cara kerja alat peraga sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
4. Bertanggung jawab dalam menggunakan alat peraga
Kemampuan menjawab pertanyaan
1. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan permasalahan yang diberikan
2. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
3. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan langkah-langkah penyelesaian masalah
4. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan simpulan dari permasalahan yang
diberikan

Keterangan:
Skala Nilai

Deskriptor

4

Semua deskriptor terlihat

3

Tiga deskriptor terlihat

2

Hanya 2 deskriptor terlihat

1

Hanya 1 deskriptor terlihat

131
Lampiran 11
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Siklus I Pertemuan 2
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas / Semester
Alokasi Waktu
I.

: Sekolah Dasar
: Matematika
:V/2
: 2 x 35 Menit

Standar Kompetensi
Bilangan
5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah

II.

Kompetensi Dasar
5.2. Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan

III. Indikator
1. Menemukan jawaban dari permasalahan realistik yang berhubungan
dengan penjumlahan dua pecahan campuran berpenyebut sama, misal
(1 + 1 )
2. Mendemonstrasikan model matematika penjumlahan pecahan campuran
3. Membuktikan penyelesaian jawaban dari permasalahan penjumlahan
pecahan campuran
4. Menyimpulkan cara penyelesaian dari jawaban yang didapat pada
penjumlahan pecahan campuran
IV. Tujuan Pembelajaran
1. Dengan berdiskusi kelompok, siswa dapat menemukan jawaban dari
permasalahan realistik penjumlahan dua pecahan campuran berpenyebut
sama, misal (1 + 1 ) pada LKS dengan benar
2. Dengan pemodelan, siswa dapat mendemonstrasikan model matematika
penjumlahan pecahan campuran dengan tepat

132
3. Dengan penugasan, siswa dapat membuktikan cara penyelesaian
penjumlahan pecahan campuran dengan benar
4. Dengan tanya jawab, siswa dapat menyimpulkan cara penyelesaian
masalah penjumlahan pecahan campuran dengan benar
V.

Materi Pokok
Penjumlahan pecahan campuran (pecahan campuran bilangan bulat dengan
pecahan pembilang selain satu berpenyebut sama)
Riri mempunyai pita hijau dengan panjang 1

meter dan pita merah 1

meter. Berapa meterkah panjang pita Riri seluruhnya?
Kunci Jawaban:
a. Penggunaan konteks
Pita hijau 1 meter dan pita merah 1
b. Penggunaan model untuk matematisasi progresif
Mengubah ke dalam kalimat matematika
1

+1 =2

= menunjukkan 2
c. Pemanfaatan hasil konstruksi siswa

1

=

1

=

133
d. Interaktivitas
1

+1 =

1

=

1

=
+

= 1+1+( + )
= 2+(

)

= 2+
= 2
e. Keterkaitan
Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran dapat dilakukan
dengan menjumlahkan bilangan bulat dengan bilangan bulat dan
bilangan pecahan dengan bilangan pecahan
VI.

Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (± 10 menit)
a. Mengkondisikan kelas (menyiapkan media pembelajaran, mengatur
tempat duduk siswa, berdoa, dan absensi)
b. Apersepsi dengan tanya jawab tentang materi KPK dua bilangan
c. Menyampaikan tujuan pembelajaran

134

d. Membagikan LKS dan media pembelajaran kepada masing-masing
kelompok yang telah dibentuk oleh guru
2. Kegiatan Inti (± 40 menit)
Eksplorasi
Penggunaan konteks
a. Mengaitkan materi penjumlahan pecahan campuran (Riri mempunyai
pita hijau 1 dan pita merah 1 meter, berapa meterkah panjang pita
Riri?, dan Anton membutuhkan tali 1
tali 2

meter dan Ani membutuhkan

meter, berapa meterkah tali yang dibutuhkan Anton dan Ani

seluruhnya?) dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa
b. Menugaskan siswa untuk bekerja menyelesaikan LKS 2 tentang
penjumlahan pecahan campuran secara berkelompok
Elaborasi
c. Memotivasi siswa untuk menyelesaikan permasalahan realistik
penjumlahan pecahan campuran yang terdapat pada LKS 2
Penggunaan Model untuk Matematisasi Progresif
d. Siswa memodelkan permasalahan penjumlahan pencahan campuran
pada LKS
e. Siswa bekerja dalam kelompok membuat model matematika dengan
memanfaatkan kertas warna yang telah disediakan, seperti contoh
berikut:

f. Siswa menemukan model matematika dari permasalahan penjumlahan
pecahan campuran dikelompoknya

135
Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
g. Meminta kepada kelompok untuk memberikan lambang matematika
pada setiap gambar pecahan campuran yang dibuat
h. Memberi kesempatan kepada kelompok untuk menyelesaikan masalah
dengan menggunakan strateginya masing-masing
i. Memberi kesempatan kepada kelompok untuk berbeda pendapat
dengan mengemukakan gagasan baru
Interaktivitas
j. Memberi kesempatan

kepada

salah

satu

kelompok

untuk

mempersentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas
k. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan kerja sama
agar terjadinya pertukaran ide/gagasan di dalam diskusi kelas
Komfirmasi
l. Siswa diminta untuk menjelaskan kembali cara-cara menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran
Keterkaitan
m. Siswa mencontohkan

masalah

realistik

penjumlahan

pecahan

campuran yang berhubungan dengan kehidupan sehari-harinya.
3. Kegiatan Akhir (± 20 menit)
a. Mengumpul LKS
b. Memberikan tindak lanjut berupa latihan soal
c. Menyampaikan pesan-pesan moral kepada siswa
d. Mengkondisikan kelas untuk mengakhiri pembelajaran
VII. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran
Pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI)
a. Penggunaan konteks
b. Penggunaan model untuk matematisasi progresif
c. Pemanfaatan konstruksi siswa

136
d. Interaktivitas
e. Keterkaitan
Metode pembelajaran
a. Berdiskusi kelompok
b. Pemodelan
c. Penugasan
d. Tanya jawab
VIII.

Sumber dan Media Pembelajaran
Sumber pembelajaran
1. KTSP 2006 matematika kelas V semester 2
2. BSE matematika kelas V semester 2 (buku matematika yang relevan)
Media pembelajaran
1. Rol, spidol warna, pensil
2. Gunting
3. Kertas karton

IX.

Penilaian
1.

Kognitif
(prosedur penilaian awal dan akhir proses, jenis penilaian tes, bentuk
penilaian tertulis, instrumen lembar latihan dan kunci jawaban)

2.

Afektif
(prosedur penilaian dalam proses, jenis penilaian non tes, bentuk
penilaian pengamatan, instrumen lembar penilaian afektif)

3.

Psikomotor
(prosedur penilaian dalam proses, jenis penilaian non tes, bentuk
penilaian pengamatan, instrumen lembar penilaian psikomotor)

137
X.

Pedoman Penskoran Kognitif (Individu)
Butir Soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jumlah

Bobot Maksimal
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
100

138
Lampiran 12
HASIL PENILAIAN RPP
Siklus I Pertemuan 2
Mata Pelajaran
: Matematika
Kelas / Semester
:V/2
Materi
: Penjumlahan Pecahan Campuran
Petunjuk
:
Berilah tanda cheklis (√) pada butir-butir perencanaan pembelajaran deskriptor yang
muncul pada kolom deskriptor pada kolom kualifikasi!

No
1

2

Aspek yang
dinilai
Kejelasan
perumusan
tujuan proses
pembelajaran

Pemilihan
materi ajar

Deskriptor
a. Perumusan tujuan
pembelajaran jelas
b. Rumusan tujuan
pembelajaran tidak
menimbulkan
penafsiran yang
meragukan siswa
c. Rumusan tujuan
pembelajaran
memenuhi (A, B, C, D)
d. Rumusan tujuan
pembelajaran
mengandung perilaku
hasil belajar (kognitif,
afektif, psikomotor)
a. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan bahan
yang akan diajarkan
b. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan tingkat
pemahaman siswa
c. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan

Deskriptor
yang
Muncul

Kualifikasi
SB B C K
4
3 2 1



139

3

4

5

lingkungan siswa
d. Materi ajar sesuai
dengan tujuan
pembelajaran
(penjumlahan pecahan
campuran berpenyebut
sama dan penjumlahan
pecahan campuran
berpenyebut tidak
sama)
Pengorganisasi
a. Cakupan materi ajar
luas
an materi
b. Materi ajar sistematika
(dari yang mudah ke
yang sukar)
c. Sesuai dengan alokasi
waktu
d. Materi ajar sesuai
dengan perkembangan
bidangnya
Pemilihan
a. Sesuai dengan tujuan
pembelajaran
sumber/media
b. Sesuai dengan materi
pembelajaran
ajar
c. Sesuai dengan
karateristik siswa
d. Sesuai dengan
lingkungan siswa
Kejelasan proses a. Langkah-langkah
pembelajaran berurut
pembelajaran
sesuai dengan
karateristik PMRI
b. Langkah-langkah
pembelajaran sesuai
dengan alokasi waktu
c. Langkah-langkah
pembelajaran sesuai
dengan materi ajar
d. Langkah-langkah
pembelajaran jelas dan
terperinci




140

6

7

Kesesuaian
teknik
pembelajaran

Kelengkapan
instrument

a. Teknik pembelajaran
sesuai dengan tujuan
pembelajaran
b. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
karateristik siswa
c. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
lingkungan siswa
d. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
pendekatan
pembelajaran
a. Soal lengkap dan sesuai
dengan materi ajar
b. Soal sesuai dengan
tujuan pembelajaran
c. Soal disertai dengan
kunci jawaban yang
lengkap
d. Soal disertai dengan
pedoman penskoran
yang lengkap
Jumlah

Keterangan:
5. SB
6. B
7. C
8. D








8

12

: Sangat Baik, jika keempat deskriptor tampak
: Baik, jika tiga deskriptor tampak
: Cukup, jika hanya dua deskriptor tampak
: Kurang, jika hanya satu atau tidak ada deskriptor yang tampak

Skor maksimal: 28

2

-

141

Persentase perolehan skor =

=

x 100 %

x 100 %

= 78,57 (B)
Taraf keberhasilan menurut Sudijono (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang

142
Lampiran 13
Kunci Jawaban Lembar Kerja Siswa
Siklus I Pertemuan 2

Mata Pelajaran

: Matematika

Kelas / Semester

:V/2

Tujuan Kegiatan

: Siswa dapat menyelesaikan permasalahan penjumlahan
pecahan campuran dengan menggunakan alat peraga
kertas karton sesuai dengan soal yang diminta.

Alat dan Bahan

:

1. Ketas karton 2 warna ( putih dan biru)
2. Gunting
3. Rol
4. Pensil atau spidol warna
Masalah

: 1. Riri mempunyai pita hijau dengan panjang 1
meter dan pita merah 1

meter. Berapa meter kah

panjang pita seluruhnya?
2. Anton membutuhkan tali 1

meter dan Ani

membutuhkan tali 2 meter. Berapa meter tali yang
dibutuhkan Anton dan Ani seluruhnya?
Petunjuk

:

1. Guntinglah kertas karton yang berbeda warna untuk membentuk pecahan
campuran sesuai dengan permasalahan yang diberikan
2. Arsirlah karton tersebut untuk membentuk bilangan bulat dan bilangan
pecahan
3. Susunlah kertas tersebut untuk menentukan jawaban dari permasalahan yang
diberikan

143
4. Berilah lambang matematikanya yang kamu temukan dari permasalahan yang
diberikan
5. Kerjakanlah setiap soal dengan dengan benar
6. Simpulan
Jawaban:
No
1

Karateristik

Keterangan
Pita hijau Riri 1

meter dan,

a. Penggunaan konteks
Pita merah Riri 1

meter

Mengubah ke dalam kalimat matematika
1

+ 1 = ….

1

=

b. Penggunaan model
untuk matematisasi
progresif

c. Pemanfaatan hasil
konstruksi siswa

1 =

144

1

=

1 =
+
d. Interaktivitas

1
e. Keterkaitan
2

+1 =1+1+( +

)=2+( )=2

Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran dapat
dilakukan dengan menjumlahkan bilangan bulat
dengan bilangan bulat dan bilangan pecahan dengan
bilangan pecahan.
Anton membutuhkan tali 1

dan,

a. Penggunaan konteks
Ani membutuhkan tali 2
Mengubah ke dalam kalimat matematika
1

b. Penggunaan model
untuk matematisasi
progresif

+2 =…

145

1

=

2

=

1

=

2

=

c. Pemanfaatan hasil
konstruksi siswa

+
d. Interaktivitas

e. Keterkaitan

Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran dapat
dilakukan dengan menjumlahkan bilangan bulat
dengan bilangan bulat dan bilangan pecahan dengan
bilangan pecahan.

146
Lampiran 14

147

148

149
Lampiran 15
HASIL PENILAIAN TERHADAP AKTIVITAS GURU DALAM
PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN PECAHAN CAMPURAN
DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V
SDN 09 AIR TAWAR BARAT PADANG
Siklus I Pertemuan 2
Mata Pelajaran
Materi

: Matematika
: Penjumlahan Pecahan Campuran

Petunjuk Pengisian :
Isilah tabel dengan memberi tanda cheklis (√) pada kolom kualifikasi berdasarkan
pengamatan observer pada saat pendidik mengajar!
Karateristik
PMRI
1. Penggunaan
Konteks

2. Penggunaan
Model untuk
Matematisasi
Progresif

Deskriptor
1. Meminta siswa mengaitkan
pembelajaran dengan
pengetahuan awal yang telah
dimiliki
2. Memberikan masalah
realistik dalam kehidupan
sehari-hari siswa
3. Menugaskan siswa untuk
bekerja menyelesaikan LKS
secara berkelompok
4. Memotivasi siswa agar aktif
untuk menemukan
penyelesaian masalah yang
diberikan
1. Meminta siswa untuk
memodelkan permasalahan
penjumlahan pecahan
campuran pada LKS
2. Meminta siswa untuk
membuat model matematika
dengan memanfaatkan kertas
warna yang disediakan

Deskriptor
yang
Muncul

Kualifikasi
BS B C K
4
3 2 1






150

3.
Pemanfaatan
Hasil
Konstruksi
Siswa

4.
Interaktivitas

3. Meminta kepada siswa untuk
menemukan model
matematika dari
permasalahan yang diberikan
4. Menugaskan siswa
menggunakan model dalm
menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran
1. Meminta siswa untuk
menggunakan berbagai cara
untuk menemukan jawaban
dari penjumlahan pecahan
campuran
2. Meminta siswa untuk
menentukan lambang
matematika dari setiap
gambar pecahan campuran
yang dibuat
3. Menugaskan kelompok untuk
menyelesaiakan
permasalahan dengan strategi
masing-masing
4. Menugaskan kelompok untuk
mengemukakan gagasan baru
yang didapatkan
1. Meminta perwakilan dari
kelompok untuk
mempersentasikan hasil kerja
yang telah selesai
2. Meminta siswa untuk saling
bertukar ide/gagasan dalam
diskusi kelas
3. Meminta siswa untuk
menjelaskan kembali caracara menyelesaikan
penjumlahan pecahan
campuran
4. Meminta siswa untuk
memberi tanggapan atas
jawaban temannya

-

-



-

151
1. Mengarahkan siswa untuk

menyimpulkan diskusi

5. Keterkaitan 2. Meminta siswa untuk
mengaitkan konsep
penjumlahan pecahan
campuran dengan mata
pelajaran lainnya
3. Meminta siswa
menyelesaikan sendiri

penjumlahan pecahan
campuran
4. Meminta siswa untuk

menemukan masalah realistik
penjumlahan pecahan
campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehariharinya
Jumlah Skor
14
Dikembangkan dari Kunandar (2007: 96) Guru Profesional, Implementasi KTSP dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru.
Keterangan:
BS = Baik Sekali, jika Keempat deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran
dilakukan
B = Baik, jika tiga deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran dilakukan
C = Cukup, jika dua deskriptor pada setipa karateristik pembelajaran dilakukan
D = Kurang, jika hanya satu deskriptor pada setiap pembelajaran dilakukan
Total skor maksimal: 20
Persentasi perolehan skor =

x 100 % =

x 100 %

Padang,

April 2013

= 70 % (B)
Taraf keberhasilan menurut Anas (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang

152152
Lampiran 16
HASIL PENILAIAN TERHADAP AKTIVITAS SISWA DALAM
PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN PECAHAN CAMPURAN
DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V
SDN 09 AIR TAWAR BARAT PADANG
Siklus I Pertemuan 2
Mata Pelajaran
Materi

: Matematika
: Penjumlahan pecahan campuran

Petunjuk pengisian:
Amatilah aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, kemudian isilah
lembar pengamatan dengan memberi tanda cheklis (√) pada kolom yang tersedia.
Karateristik
PMRI
1. Penggunaan
Konteks

2. Penggunaan
Model untuk
Matematisasi
Progresif

Deskriptor
1. Mengaitkan pembelajaran
dengan pengetahuan awal yang
telah dimiliki
2. Menemukan masalah realistik
dalam kehidupan sehari-hari
3. Siswa menyelesaikan LKS
secara berkelompok
4. Siswa termotivasi aktif dalam
bekerja kelompok
1. Memodelkan permasalahan
penjumlahan pecahan
campuran pada LKS
2. Mengembangkan ide/gagasan
dalam membuat model
matematika dengan
memanfaatkan kertas warna
yang disediakan
3. Menemukan model
matematika dari permasalahan
yang diberikan
4. Siswa menerapkan model
dalam menyelesaikan
penjumlahan pecahan

Deskriptor
yang
Muncul

kualifikasi
BS B C K
4
3 2 1






-

153
campuran
1. Menggunakan berbagai cara
untuk menemukan jawaban
penjumlahan pecahan
campuran
2. Menentukan lambang

matematika dari setiap gambar
pecahan campuran
3. Menyelesaikan permasalahan

dengan strategi masing-masing
4. Mengemukakan gagasan baru

yang didapatkan
4.
1. Perwakilan dari kelompok

mempersentasikan hasil kerja
Interaktivitas
yang telah selesai
2. Melakukan diskusi dengan
bertukar ide/gagasan

3. Menjelaskan kembali cara-cara

menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran
4. Memberi tanggapan atas
jawaban temannya
5. Keterkaitan 1. Siswa menyimpulkan hasil

diskusi kelompok
2. Mengaitkan konsep

penjumlahan pecahan
campuran dengan mata
pelajaran lainnya

3. Siswa menyelesaikan sendiri
penjumlahan pecahan
campuran
4. Menemukan masalah realistik

penjumlahan pecahan
campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari
Skor
Dikembangkan dari Kunandar (2007: 96) Guru Profesional, Implementasi KTSP dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru.
Keterangan:
3.
Pemanfaatan
Hasil
Konstruksi
Siswa

BS = Baik Sekali, jika Keempat deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran
dilakukan

154
B = Baik, jika tiga deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran dilakukan
C = Cukup, jika dua deskriptor pada setipa karateristik pembelajaran dilakukan
D = Kurang, jika hanya satu deskriptor pada setiap pembelajaran dilakukan
Total skor maksimal: 20
Persentasi perolehan skor =

=

x 100 %

x 100 %

= 70 % (B)
Taraf keberhasilan menurut Sudijono (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang
Padang,

April 2013

155
Lampiran 17
Kunci Jawaban Soal Tes Siklus I Pertemuan 2
1. 1 + 2 = ( 1 + 2 ) + ( + )
=3+(

)

6. 3

+4

=(3+4)+(
=7+(

=3+( )

=7+(

=3

+

)

)
)

=7
2. 1 + 1 = ( 1 + 1 ) + ( + )
7. 2 + 2 = ( 2 + 2 ) + ( + )
=2+(

)
=4+(

)

=2+( )
=4+( )
=2
=4
3. 2 + 2 = ( 2 + 2 ) + ( + )
=4+(

)

=4+( )

)

=6+( )

)
)

9. 2 + 3 = ( 2 + 3 ) + ( + )
=5+(

)

=5

5. 2 + 3 = ( 2 + 3 ) + ( + )

=5

=5+(

+

=5+( )

=6

=5+( )

=(2+3)+(

=5

4. 3 + 3 = ( 3 + 3 ) + ( + )

=5+(

+3

=5+(

=4

=6+(

8. 2

)

10. 1 + 2 = ( 1 + 2 ) + ( + )
=3+(
=3+( )
=3

)

)

156
Lampiran 18
HASIL PENILAIAN KOGNITIF
(Evaluasi Hasil Individu)
Siklus I Pertemuan 2
No

Kode Siswa

1
AN
2
AD
3
AF
4
APD
5
BDK
6
BS
7
DA
8
DD
9
FF 1
10
FF 2
11
FA
12
IH
13
JF
14
JRP
15
MAB
16
MRI
17
MS
18
NA
19
NAEP
20
RH
21
RW
22
R
23
WS
24
WLP
25
ZBS
26
ZME
Jumlah
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

Hasil Tes
Akhir
60
50
70
55
75
60
50
75
80
80
65
65
70
80
75
80
75
85
100
45
70
60
70
70
60
80
1805
69,42
100
45

Ketuntasan Belajar
Tuntas
Belum Tuntas


























16

10

61,54 %

38,46 %

157
Lampiran 19
HASIL PENILAIAN ASPEK AFEKTIF
Siklus I Pertemuan 2
Aspek yang dinilai

No

Kode
Siswa

Keaktifan
saat
berdiskusi
4

3

2

1
AN

2
AD

3
AF

4
APD

5
BDK

6
BS

7
DA

8
DD

9
FF 1

10
FF 2

11
FA

12
IH

13
JF

14
JRP

15
MAB

16
MRI

17
MS

18
NA

19
NAEP

20
RH

21
RW

22
R

23
WS

24
WLP

25
ZBS

26
ZME

Jumlah Nilai
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

1

Keseriusan
berdiskusi

Saling
menghargai
dalam
kelompok

4

4

3

2

1

3

2





















Nilai
Akhir

Ketuntasan

Tuntas

1



Jlh
Skor

7
7
8
7
9
10
7
7
7
10
9
6
5
5
9
9
8
10
9
7
11
7
7
10
7
10

58,33
58,33
66,67
58,33
75
83,33
58,33
58,33
58,33
83,33
75
50
41,67
41,67
75
75
66,67
83,33
75
58,33
91,67
58,33
58,33
83,33
58,33
83,33
1733,3
66,67

Tidak
Tuntas
























11

15

42,31 % 57,69 %
91,67
41,67

158
Deskriptor:
Keaktifan saat berdiskusi
1. Aktif memberikan pendapat sesuai penyelesaian permasalahan yang
ditemukan
2. Berani bertanya jika kurang memahami permasalahan yang diberikan
3. Mengerjakan LKS tepat waktu sesuai dengan alokasi waktu yang diberikan
4. Berani mengkomunikasikan jawaban di depan kelas sesuai ide/gagasan
yang ditemukan
Keseriusan berdiskusi
1. Semua siswa serius dalam berdiskusi kelompok
2. Saling bertukar pendapat dalam berdiskusi
3. Saling membantu menyelesaikan LKS
4. Membantu teman untuk menjelaskan materi yang kurang dimengerti
Saling menghargai dalam kelompok
1. Memberikan kesempatan kepada angota kelompok untuk mengemukakan
pendapat
2. Tidak memotong pembicaraan teman saat mengemukakan pendapat
3. Menerima masukan teman saat berdiskusi kelompok
4. Tidak melecehkan pendapat teman saat berdiskusi kelompok
Keterangan:
Skala Nilai

Deskriptor

4

Semua deskriptor terlihat

3

Tiga deskriptor terlihat

2

Hanya 2 deskriptor terlihat

1

Hanya 1 deskriptor terlihat

159
Lampiran 20
HASIL PENILAIAN ASPEK PSIKOMOTOR
Siklus I Pertemuan 2

No

Kode
Siswa

Aspek yang dinilai
Ketepatan
Keterampilan Kemampuan
Langkah
Menggunakan
Menjawab
Kerja
Alat peraga
Pertanyaan
4

1
AN
2
AD
3
AF
4
APD
5
BDK
6
BS

7
DA
8
DD
9
FF 1
10
FF 2
11
FA
12
IH
13
JF
14
JRP
15 MAB
16
MRI
17
MS
18
NA

19 NAEP
20
RH
21
RW
22
R
23
WS
24 WLP
25
ZBS
26 ZME
Jumlah Nilai
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

3

2

1

4


3

2

4





























Nilai
Akhir

Ketuntasan

Tuntas

1



2


3




1

Jlh
Skor

7
7
7
9
8
11
6
9
6
7
7
7
9
6
9
9
7
11
9
8
10
7
7
11
7
10

58,33
58,33
58,33
75
66,67
91,67
50
75
50
58,33
58,33
58,33
75
50
75
75
58,33
91,67
75
66,67
83,33
58,33
58,33
91,67
58,33
83,33
1758,31
67,63
91,67
50

Tidak
Tuntas























11

15

42,31 %

57,69%

160
Deskriptor:
Ketepatan langkah kerja
1. Mempersiapkan alat peraga untuk menemukan pemecahan masalah yang
diberikan
2. Berdiskusi kelompok untuk menemukan ide/gagasan sesuai dengan langkah
kerja LKS
3. Berdiskusi kelompok untuk menemukan langkah-langkah penyelesaian
masalah
4. Mengisi jawaban pada LKS sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
Keterampilan menggunakan alat peraga
1. Menggunakan alat peraga untuk menemukan pemecahan masalah yang
diberikan
2. Menggunakan alat peraga untuk menemukan langkah-langkah penyelesaian
masalah
3. Mengetahui cara kerja alat peraga sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
4. Bertanggung jawab dalam menggunakan alat peraga
Kemampuan menjawab pertanyaan
1. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan permasalahan yang diberikan
2. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
3. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan langkah-langkah penyelesaian
masalah
4. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan simpulan dari permasalahan yang
diberikan
Keterangan:
Skala Nilai

Deskriptor

4

Semua deskriptor terlihat

3

Tiga deskriptor terlihat

2

Hanya 2 deskriptor terlihat

1

Hanya 1 deskriptor terlihat

161
Lampiran 21
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Siklus II Pertemuan 1
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas / Semester
Alokasi Waktu

: Sekolah Dasar
: Matematika
:V/2
: 2 x 35 Menit

I. Standar Kompetensi
Bilangan
5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah
II. Kompetensi Dasar
5.2. Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan
III. Indikator
1. Menemukan jawaban dari permasalahan realistik yang berhubungan
dengan penjumlahan dua pecahan campuran berpenyebut beda, misal
(1 + 1 )
2. Mendemonstrasikan model matematika penjumlahan pecahan campuran
3. Membuktikan penyelesaian jawaban dari permasalahan penjumlahan
pecahan campuran
4. Menyimpulkan cara penyelesaian dari jawaban yang didapat pada
penjumlahan pecahan campuran
IV.

Tujuan Pembelajaran
1. Dengan berdiskusi kelompok, siswa dapat menemukan jawaban dari
permasalahan realistik penjumlahan dua pecahan campuran berpenyebut
beda, misal (1 + 1 ) pada LKS dengan benar
2. Dengan pemodelan, siswa dapat mendemonstrasikan model matematika
penjumlahan pecahan campuran dengan tepat

162

3. Dengan penugasan, siswa dapat membuktikan cara penyelesaian
penjumlahan pecahan campuran dengan benar
4. Dengan tanya jawab, siswa dapat menyimpulkan cara penyelesaian
masalah penjumlahan pecahan campuran dengan benar
V.

Materi Pokok
Penjumlahan pecahan campuran (pecahan campuran bilangan bulat dengan
pecahan pembilang satu berpenyebut beda)
Bayu mempunyai pita hijau 1 meter dan pita merah 1 meter. Berapa
meterkah pita Bayu seluruhnya?
Kunci Jawaban:
a. Penggunaan konteks
pita hijau 1 meter dan pita merah 1 meter
b. Penggunaan model untuk matematisasi progresif
Mengubah ke dalam kalimat matematika
1 +1 =2

= menunjukkan 2
c. Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
1

=

1 =

163

d. Interaktivitas
1 =

1

=
+

= 1+ 1 + (

+ )

=2+(

)

=2
e. Keterkaitan
Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran dapat dilakukan
dengan menjumlahkan bilangan bulat dengan bilangan bulat dan
bilangan pecahan dengan bilangan pecahan, (jika pecahan tidak
berpenyebut sama maka terlebih dahulu dilakukan menyamakan
penyebutnya).
VI.

Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (± 10 menit)
a. Mengkondisikan kelas (menyiapkan media pembelajaran, mengatur
tempat duduk siswa, berdoa, dan absensi)
b. Apersepsi dengan tanya jawab tentang materi KPK dua bilangan
c. Menyampaikan tujuan pembelajaran
d. Membagikan LKS dan media pembelajaran kepada masing-masing
kelompok yang telah dibentuk oleh guru

164

2. Kegiatan Inti (± 40 menit)
Eksplorasi
Penggunaan konteks
a. Mengaitkan materi penjumlahan pecahan campuran (Bayu mempunyai
pita hijau 1

meter dan mempunyai pita merah 1

meter, berapa

meterkah panjang pita Bayu seluruhnya?, dan Andi mempunyai 1
potong kue bolu dan Bayu mempunyai 1

potong kue bolu, berapa

jumlah potongan kue Andi dan Bayu jika digabungkan?) dengan
pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa
b. Menugaskan siswa untuk bekerja menyelesaikan LKS 3 tentang
penjumlahan pecahan campuran secara berkelompok
Elaborasi
c. Memotivasi siswa untuk menyelesaikan permasalahan realistik
penjumlahan pecahan campuran yang terdapat pada LKS 3
Penggunaan Model untuk Matematisasi Progresif
d. Siswa memodelkan permasalahan penjumlahan pencahan campuran
pada LKS
e. Siswa bekerja dalam kelompok membuat model matematika dengan
memanfaatkan kertas warna yang telah disediakan, seperti contoh
berikut:

f. Siswa menemukan model matematika dari permasalahan penjumlahan
pecahan campuran dikelompoknya

165

Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
g. Meminta kepada kelompok untuk memberikan lambang matematika
pada setiap gambar yang dibuat pada LKS
h. Memberi kesempatan kepada kelompok untuk menyelesaikan masalah
dengan menggunakan strateginya masing-masing
i. Memberi kesempatan kepada kelompok untuk berbeda pendapat
dengan mengemukakan gagasan baru
Interaktivitas
j. Memberi kesempatan

kepada

salah

satu

kelompok

untuk

mempersentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas
k. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan kerja sama
agar terjadinya pertukaran ide/gagasan di dalam diskusi kelas
Komfirmasi
l. Siswa diminta untuk menjelaskan kembali cara-cara menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran
Keterkaitan
m. Siswa mencontohkan

masalah

realistik

penjumlahan

campuran yang berhubungan dengan kehidupan sehari-harinya
3. Kegiatan Akhir (± 20 menit)
a. Mengumpul LKS
b. Memberikan tindak lanjut berupa latihan soal
c. Menyampaikan pesan-pesan moral kepada siswa
d. Mengkondisikan kelas untuk mengakhiri pembelajaran
VII. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran
Pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI)
a.

Penggunaan konteks

b.

Penggunaan model untuk matematisasi progresif

pecahan

166
c.

Pemanfaatan konstruksi siswa

d.

Interaktivitas

e.

Keterkaitan

Metode pembelajaran
a. Berdiskusi kelompok
b. Pemodelan
c. Penugasan
d. Tanya jawab
VIII. Sumber dan Media Pembelajaran
Sumber pembelajaran
1. KTSP 2006 matematika kelas V semester 2
2.

BSE matematika kelas V semester 2 (buku matematika yang relevan)

Media pembelajaran
1. Rol, spidol warna, pensil

IX.

2.

Gunting

3.

Kertas karton

Penilaian
1. Kognitif
(prosedur penilaian awal dan akhir proses, jenis penilaian tes, bentuk
penilaian tertulis, instrumen lembar latihan dan kunci jawaban)
2. Afektif
(prosedur penilaian dalam proses, jenis penilaian non tes, bentuk
penilaian pengamatan, instrumen lembar penilaian afektif)
3. Psikomotor
(prosedur penilaian dalam proses, jenis penilaian non tes, bentuk
penilaian pengamatan, instrumen lembar penilaian psikomotor)

167

X.

Pedoman Penskoran Kognitif (Individu)
Butir Soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jumlah

Bobot Maksimal
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
100

168
Lampiran 22
HASIL PENILAIAN RPP
Siklus II Pertemuan 1
Mata Pelajaran
: Matematika
Kelas / Semester
:V/2
Materi
: Penjumlahan Pecahan Campuran
Petunjuk
:
Berilah tanda cheklis (√) pada butir-butir perencanaan pembelajaran deskriptor yang
muncul pada kolom deskriptor pada kolom kualifikasi!

No
1

2

Aspek yang
dinilai
Kejelasan
perumusan
tujuan proses
pembelajaran

Pemilihan
materi ajar

Deskriptor
a. Perumusan tujuan
pembelajaran jelas
b. Rumusan tujuan
pembelajaran tidak
menimbulkan
penafsiran yang
meragukan siswa
c. Rumusan tujuan
pembelajaran
memenuhi (A, B, C, D)
d. Rumusan tujuan
pembelajaran
mengandung perilaku
hasil belajar (kognitif,
afektif, psikomotor)

a. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan bahan
yang akan diajarkan
b. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan tingkat
pemahaman siswa
c. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan
lingkungan siswa

Deskriptor
yang
Muncul

Kualifikasi
SB B C K
4
3 2 1


169

3

4

5

6

d. Materi ajar sesuai
dengan tujuan
pembelajaran
(penjumlahan pecahan
campuran berpenyebut
sama dan penjumlahan
pecahan campuran
berpenyebut tidak
sama)
Pengorganisasi
a. Cakupan materi ajar
luas
an materi
b. Materi ajar sistematika
(dari yang mudah ke
yang sukar)
c. Sesuai dengan alokasi
waktu
d. Materi ajar sesuai
dengan perkembangan
bidangnya
Pemilihan
a. Sesuai dengan tujuan
pembelajaran
sumber/media
b.
Sesuai dengan materi
pembelajaran
ajar
c. Sesuai dengan
karateristik siswa
d. Sesuai dengan
lingkungan siswa
Kejelasan proses a. Langkah-langkah
pembelajaran berurut
pembelajaran
sesuai dengan
karateristik PMRI
b. Langkah-langkah
pembelajaran sesuai
dengan alokasi waktu
c. Langkah-langkah
pembelajaran sesuai
dengan materi ajar
d. Langkah-langkah
pembelajaran jelas dan
terperinci
Kesesuaian
1. Teknik pembelajaran
sesuai dengan tujuan
teknik








-

170

pembelajaran

7

Kelengkapan
instrument

pembelajaran
2. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
karateristik siswa
3. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
lingkungan siswa
4. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
pendekatan
pembelajaran
1. Soal lengkap dan sesuai
dengan materi ajar
2. Soal sesuai dengan
tujuan pembelajaran
3. Soal disertai dengan
kunci jawaban yang
lengkap
4. Soal disertai dengan
pedoman penskoran
yang lengkap
Jumlah

Keterangan:
5. SB
6. B
7. C
8. D






16

6

: Sangat Baik, jika keempat deskriptor tampak
: Baik, jika tiga deskriptor tampak
: Cukup, jika hanya dua deskriptor tampak
: Kurang, jika hanya satu atau tidak ada deskriptor yang tampak

Skor maksimal: 28

2

-

171

Persentase perolehan skor =

=

x 100 %

x 100 %

= 85,71 % (BS)

Taraf keberhasilan menurut Sudijono (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang

172

Lampiran 23
Kunci Jawaban Lembar Kerja Siswa
Siklus II Pertemuan 1

Mata Pelajaran

: Matematika

Kelas / Semester

:V/2

Tujuan Kegiatan

: Siswa dapat menyelesaikan permasalahan penjumlahan
pecahan campuran dengan menggunakan alat peraga
kertas karton sesuai dengan soal yang diminta.

Alat dan Bahan

:

1. Ketas karton 2 warna ( putih dan biru)
2. Gunting
3. Rol
4. Pensil atau spidol warna
Masalah

: 1. Bayu mempunya pita hijau 1
merah 1

meter dan pita

meter. Berapakah meterkah panjang pita

Bayu seluruhnya?
2. Andi mempunyai 1
mempunyai 1

potong kue bolu dan Bayu

potong kue bolu. Berapa jumlah

potongan kue Andi dan Bayu jika digabungkan?
Petunjuk

:

1. Guntinglah kertas karton yang berbeda warna untuk membentuk pecahan
campuran sesuai dengan permasalahan yang diberikan
2. Arsirlah karton tersebut untuk membentuk bilangan bulat dan bilangan
pecahan
3. Susunlah kertas tersebut untuk menentukan jawaban dari permasalahan yang
diberikan

173

4. Berilah lambang matematikanya yang kamu temukan dari permasalahan yang
diberikan
5. Kerjakanlah setiap soal dengan dengan benar
6. Simpulan
Jawaban:
No

Karateristik

1

a. Penggunaan konteks

b. Penggunaan model
untuk matematisasi

Keterangan
Pita hijau Bayu 1

meter dan,

Pita merah Bayu 1

meter

Mengubah ke dalam kalimat matematika
1

+1 =…

1

=

1

=

progresif

c. Pemanfaatan hasil
konstruksi siswa

174

d. Interaktivitas

1

=

1

=
+

1
e. Keterkaitan

+ 1 = 1+ 1 + ( +

)=2+(

)=2

Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran dapat
dilakukan dengan menjumlahkan bilangan bulat
dengan bilangan bulat dan bilangan pecahan dengan
bilangan pecahan, (jika pecahan tidak berpenyebut
sama maka terlebih dahulu dilakukan menyamakan
penyebutnya).

2

a. Penggunaan konteks

b. Penggunaan model
untuk matematisasi
progresif

Andi mempunyai 1

potong kue bolu dan,

Bayu mempunyai 1

potong kue bolu

mengubah ke dalam kaliamat matematika
1

+ 1 = ….

175

c. Pemanfaatan hasil

1

=

1

=

1

=

1

=

kerja siswa

d. Interaktivitas

+

e. Keterkaitan

Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran dapat
dilakukan dengan menjumlahkan bilangan bulat
dengan bilangan bulat dan bilangan pecahan dengan
bilangan pecahan, (jika pecahan tidak berpenyebut
sama maka terlebih dahulu dilakukan menyamakan
penyebutnya).

176

Lampiran 24

177

178

179
Lampiran 25
HASIL PENILAIAN TERHADAP AKTIVITAS GURU DALAM
PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN PECAHAN CAMPURAN
DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V
SDN 09 AIR TAWAR BARAT PADANG
Siklus II Pertemuan 1
Mata Pelajaran
Materi

: Matematika
: Penjumlahan Pecahan Campuran

Petunjuk Pengisian :
Isilah tabel dengan memberi tanda cheklis (√) pada kolom kualifikasi berdasarkan
pengamatan observer pada saat pendidik mengajar!
Karateristik
PMRI

Deskriptor

1. Penggunaan 1. Meminta siswa mengaitkan
pembelajaran dengan
Konteks
pengetahuan yang telah
dimiliki
2. Memberikan masalah
realistik dalam kehidupan
sehari-hari siswa
3. Menugaskan siswa untuk
bekerja menyelesaikan LKS
secara berkelompok
4. Memotivasi siswa agar aktif
untuk menemukan
penyelesaian masalah yang
diberikan
2. Penggunaan 1 Meminta siswa untuk
memodelkan permasalahan
Model untuk
penjumlahan pecahan
Matematisasi
campuran pada LKS
Progresif
2 Meminta siswa untuk
membuat model matematika
dengan memanfaatkan kertas
warna yang disediakan

Deskriptor
yang
Muncul

Kualifikasi
BS B C K
4
3 2 1




180

3.
Pemanfaatan
Hasil
Konstruksi
Siswa

Interaktivitas

3 Meminta kepada siswa untuk
menemukan model
matematika dari
permasalahan yang diberikan
4 Menugaskan siswa
menggunakan model dalam
menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran
1. Meminta siswa untuk
menggunakan berbagai cara
untuk menemukan jawaban
dari penjumlahan pecahan
campuran
2. Meminta siswa untuk
menentukan lambang
matematika dari setiap
gambar pecahan campuran
yang dibuat
3. Menugaskan kelompok untuk
menyelesaiakan
permasalahan dengan strategi
masing-masing
4. Menugaskan kelompok untuk
mengemukakan gagasan baru
yang didapatkan
1. Meminta perwakilan dari
kelompok untuk
mempersentasikan hasil kerja
yang telah selesai
2. Meminta siswa untuk saling
bertukar ide/gagasan dalam
diskusi kelas
3. Meminta siswa untuk
menjelaskan kembali caracara menyelesaikan
penjumlahan pecahan
campuran
4. Meminta siswa untuk
memberi tanggapan atas
jawaban temannya

-




-

181

1. Mengarahkan siswa untuk

menyimpulkan diskusi
2. Meminta siswa untuk

mengaitkan konsep
penjumlahan pecahan
campuran dengan mata
pelajaran lainnya
3. Meminta siswa
menyelesaikan sendiri

penjumlahan pecahan
campuran
4. Meminta siswa untuk

menemukan masalah realistik
penjumlahan pecahan
campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehariharinya
16
Jumlah Skor
Dikembangkan dari Kunandar (2007: 96) Guru Profesional, Implementasi KTSP dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru.
Keterangan:
BS = Baik Sekali, jika Keempat deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran
dilakukan
B = Baik, jika tiga deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran dilakukan
C = Cukup, jika dua deskriptor pada setipa karateristik pembelajaran dilakukan
D = Kurang, jika hanya satu deskriptor pada setiap pembelajaran dilakukan
5. Keterkaitan

Total skor maksimal: 20
Persentasi perolehan skor =

x 100 % =

x 100 %

Padang,

April 2013

= 80 % (BS)
Taraf keberhasilan menurut Anas (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang

182
Lampiran 26
HASIL PENILAIAN TERHADAP AKTIVITAS SISWA DALAM
PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN PECAHAN CAMPURAN
DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V
SDN 09 AIR TAWAR BARAT PADANG
Siklus II Pertemuan 1
Mata Pelajaran
Materi

: Matematika
: Penjumlahan pecahan campuran

Petunjuk pengisian:
Amatilah aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, kemudian isilah
lembar pengamatan dengan memberi tanda cheklis (√) pada kolom yang tersedia.
Karateristik
PMRI
1. Penggunaan
Konteks

2. Penggunaan
Model untuk
Matematisasi
Progresif

Deskriptor
1. Mengaitkan pembelajaran
dengan pengetahuan awal yang
telah dimiliki
2. Menemukan masalah realistik
dalam kehidupan sehari-hari
3. Siswa menyelesaikan LKS
secara berkelompok
4. Siswa termotivasi aktif dalam
bekerja kelompok
1. Memodelkan permasalahan
penjumlahan pecahan
campuran pada LKS
2. Mengembangkan ide/gagasan
dalam membuat model
matematika dengan
memanfaatkan kertas warna
yang disediakan
3. Menemukan model
matematika dari permasalahan
yang diberikan
4. Siswa menerapkan model
dalam menyelesaikan
penjumlahan pecahan

Deskriptor
yang
Muncul

kualifikasi
BS B C K
4
3 2 1







183

campuran
1. Menggunakan berbagai cara
untuk menemukan jawaban
penjumlahan pecahan
campuran
2. Menentukan lambang


matematika dari setiap gambar
pecahan campuran yang dibuat
3. Menyelesaikan permasalahan

dengan strategi masing-masing
4. Mengemukakan gagasan baru

yang didapatkan
4.
1. Perwakilan dari kelompok

mempersentasikan hasil kerja
Interaktivitas
yang telah selesai
2. Melakukan diskusi dengan
bertukar ide/gagasan

3. Menjelaskan kembali cara-cara

menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran
4. Memberi tanggapan atas
jawaban temannya
5. Keterkaitan 1. Siswa menyimpulkan hasil

diskusi kelompok
2. Mengaitkan konsep

penjumlahan pecahan
campuran dengan mata
pelajaran lainnya

3. Siswa menyelesaikan sendiri
penjumlahan pecahan
campuran
4. Menemukan masalah realistik

penjumlahan pecahan
campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari
16
Jumlah Skor
Dikembangkan dari Kunandar (2007: 96) Guru Profesional, Implementasi KTSP dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru.
Keterangan:
3.
Pemanfaatan
Hasil
Konstruksi
Siswa

BS = Baik Sekali, jika Keempat deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran
dilakukan

184

B = Baik, jika tiga deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran dilakukan
C = Cukup, jika dua deskriptor pada setipa karateristik pembelajaran dilakukan
D = Kurang, jika hanya satu deskriptor pada setiap pembelajaran dilakukan
Total skor maksimal: 20
Persentasi perolehan skor =
=

x 100 %
x 100 %

= 80 % (BS)
Taraf keberhasilan menurut Sudijono (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang
Padang,

April 2013

185

LAMPIRAN 27
Kunci Jawaban Soal Tes Siklus II Pertemuan 1
1. 1 + 2

=(1+2)+( +
=3+(
=3+(

)

)
6. 1 + 1

=(1+1)+( +
=2+(

)

=2+(

=3

)

)
)

=2
2. 1 + 1 = ( 1 + 1 ) + ( + )
7. 1 + 1
=2+(

=(1+1)+( +

)

)
=2+(

)

=2+( )
=2+(

)

=2
=2
3. 2 + 5 = ( 2 + 5 ) + ( + )
=7+(

8. 2 + 3

)

=5+(

=7+( )

=5+(

=7

9. 1 + 3

)

=4

=4

5. 2 + 5 = ( 2 + 5 ) + ( + )

=7

)

=4+(
=4+(

=7+( )

)

=(1+3)+( +

=4+( )

=7+(

)

=5

4. 2 + 2 = ( 2 + 2 ) + ( + )
=4+(

=(2+3)+( +

)

10. 1

+1

)
)

=(1+1)+(
=2+(
=2+(
=2

)

)
)

+

)

186
Lampiran 28
HASIL PENILAIAN KOGNITIF
(Evaluasi Hasil Individu)
Siklus II Pertemuan 1
No

Kode Siswa

1
AN
2
AD
3
AF
4
APD
5
BDK
6
BS
7
DA
8
DD
9
FF 1
10
FF 2
11
FA
12
IH
13
JF
14
JRP
15
MAB
16
MRI
17
MS
18
NA
19
NAEP
20
RH
21
RW
22
R
23
WS
24
WLP
25
ZBS
26
ZME
Jumlah
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

Hasil Tes
Akhir
65
60
75
60
85
70
60
85
90
90
70
70
75
90
80
90
80
90
100
60
85
75
80
80
65
90
2020
77,69
100
60

Ketuntasan Belajar
Tuntas
Belum Tuntas


























20

6

76,92 %

23,08 %

187
Lampiran 29
HASIL PENILAIAN ASPEK AFEKTIF
Siklus II Pertemuan I
Aspek yang dinilai

No

Kode
Siswa

Keaktifan
saat
berdiskusi
4

3

2

1
AN

2
AD

3
AF

4
APD

5
BDK

6
BS

7
DA

8
DD

9
FF 1

10
FF 2

11
FA

12
IH

13
JF

14
JRP

15
MAB

16
MRI

17
MS

18
NA

19
NAEP

20
RH

21
RW

22
R

23
WS

24
WLP

25
ZBS

26
ZME

Jumlah Nilai
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

1

Keseriusan
berdiskusi

Saling
menghargai
dalam
kelompok

4

4

3

2













1



























2





3


Jlh
Skor

Nilai
Akhir

Ketuntasan

Tuntas

1
9
8
10
9
10
11
8
9
10
11
10
9
9
8
10
10
9
11
10
8
12
9
7
11
9
11

75
66,67
83,33
75
83,33
91,67
66,67
75
83,33
91,67
83,33
75
75
66,67
83,33
83,33
75
91,67
83,33
66,67
100
75
58,33
91,67
75
91,67
2066,67
79,49

Tidak
Tuntas






















21

5

80,77 % 19,23 %
100
66,67

188
Deskriptor:
Keaktifan saat berdiskusi
1. Aktif memberikan pendapat sesuai penyelesaian permasalahan yang
ditemukan
2. Berani bertanya jika kurang memahami permasalahan yang diberikan
3. Mengerjakan LKS tepat waktu sesuai dengan alokasi waktu yang diberikan
4. Berani mengkomunikasikan jawaban di depan kelas sesuai ide/gagasan yang
ditemukan
Keseriusan berdiskusi
1. Semua siswa serius dalam berdiskusi kelompok
2. Saling bertukar pendapat dalam berdiskusi
3. Saling membantu menyelesaikan LKS
4. Membantu teman untuk menjelaskan materi yang kurang dimengerti
Saling menghargai dalam kelompok
1. Memberikan kesempatan kepada angota kelompok untuk mengemukakan
pendapat
2. Tidak memotong pembicaraan teman saat mengemukakan pendapat
3. Menerima masukan teman saat berdiskusi kelompok
4. Tidak melecehkan pendapat teman saat berdiskusi kelompok

Keterangan:
Skala Nilai

Deskriptor

4

Semua deskriptor terlihat

3

Tiga deskriptor terlihat

2

Hanya 2 deskriptor terlihat

1

Hanya 1 deskriptor terlihat

189
Lampiran 30
HASIL PENILAIAN ASPEK PSIKOMOTOR
Siklus II Pertemuan 1

No

Kode
Siswa

Ketepatan
Langkah
Kerja
4

3

1
AN
2
AD
3
AF
4
APD
5
BDK
6
BS

7
DA
8
DD
9
FF 1
10
FF 2
11
FA
12
IH
13
JF

14
JRP
15 MAB
16
MRI
17
MS
18
NA

19 NAEP
20
RH
21
RW
22
R
23
WS
24 WLP √
25
ZBS
26 ZME
Jumlah Nilai
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

2

1

Aspek yang dinilai
Keterampilan Kemampuan
Menggunakan
Menjawab
Alat peraga
Pertanyaan
4

3

2































2












3





4


1


Jlh
Skor

Nilai
Akhir

Ketuntasan

Tuntas

1
9
7
9
10
9
12
7
10
9
9
8
8
10
7
10
10
9
12
10
9
11
8
8
12
9
11

75
58,33
75
83,33
75
100
58,33
83,33
75
75
66,67
66,67
83,33
58,33
83,33
83,33
75
100
83,33
75
91,67
66,67
66,67
100
75
91,67
2024,99
77,88
100
58,33

Tidak
Tuntas

























19

7

73,08 %

26,92 %

190

Deskriptor:
Ketepatan langkah kerja
1. Mempersiapkan alat peraga untuk menemukan pemecahan masalah yang
diberikan
2. Berdiskusi kelompok untuk menemukan ide/gagasan sesuai dengan langkah
kerja LKS
3. Berdiskusi kelompok untuk menemukan langkah-langkah penyelesaian
masalah
4. Mengisi jawaban pada LKS sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
Keterampilan menggunakan alat peraga
1. Menggunakan alat peraga untuk menemukan pemecahan masalah yang
diberikan
2. Menggunakan alat peraga untuk menemukan langkah-langkah penyelesaian
masalah
3. Mengetahui cara kerja alat peraga sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
4. Bertanggung jawab dalam menggunakan alat peraga
Kemampuan menjawab pertanyaan
1. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan permasalahan yang diberikan
2. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
3. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan langkah-langkah penyelesaian
masalah
4. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan simpulan dari permasalahan yang
diberikan
Keterangan:
Skala Nilai

Deskriptor

4

Semua deskriptor terlihat

3

Tiga deskriptor terlihat

2

Hanya 2 deskriptor terlihat

1

Hanya 1 deskriptor terlihat

191
Lampiran 31
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Siklus II Pertemuan 2
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas / Semester
Alokasi Waktu
I.

: Sekolah Dasar
: Matematika
:V/2
: 2 x 35 Menit

Standar Kompetensi
Bilangan
5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah

II.

Kompetensi Dasar
5.2. Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan

III. Indikator
1. Menemukan jawaban dari permasalahan realistik yang berhubungan
dengan penjumlahan dua pecahan campuran berpenyebut beda, misal
(1 + 2 )
2.

Mendemonstrasikan model matematika penjumlahan pecahan

3.

Membuktikan penyelesaian jawaban dari permasalahan penjumlahan
pecahan campuran

4.

Menyimpulkan cara penyelesaian dari jawaban yang didapat pada
penjumlahan pecahan campuran

IV.

Tujuan Pembelajaran
1. Dengan berdiskusi kelompok, siswa dapat menemukan jawaban dari
permasalahan realistik penjumlahan dua pecahan campuran berpenyebut
beda, missal (1 + 2 ) pada LKS dengan benar
2. Dengan pemodelan, siswa dapat mendemonstrasikan model matematika
penjumlahan pecahan campuran dengan tepat

192

3. Dengan penugasan, siswa dapat membuktikan cara penyelesaian
penjumlahan pecahan campuran dengan benar
4. Dengan tanya jawab, siswa dapat menyimpulkan cara penyelesaian
masalah penjumlahan pecahan campuran dengan benar
V.

Materi Pokok
Penjumlahan pecahan campuran (pecahan campuran bilangan bulat dengan
pecahan pembilang selain satu berpenyebut beda)
Panjang ubin yang di ukur Andi 1
Bayu 2

meter dan panjang ubin yang di ukur

meter. Berapakah panjang seluruh ubin yang di ukur Andi dan

Bayu?
Kunci Jawaban:
a. Penggunaan konteks
Ubin yang di ukur Andi 1

meter ubin yang di ukur Bayu 2

b. Penggunaan model untuk matematisasi progresif
Mengubah ke dalam kalimat matematika
1

+2 =3

c. Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
1

=

2

=

meter

193

d. Interaktivitas
1

=

2

=
+

e. Keterkaitan
Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran dapat dilakukan
dengan menjumlahkan bilangan bulat dengan bilangan bulat dan
bilangan pecahan dengan bilangan pecahan, (jika pecahan tidak
berpenyebut sama maka terlebih dahulu dilakukan menyamakan
penyebutnya).
VI.

Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (± 10 menit)
a. Mengkondisikan kelas (menyiapkan media pembelajaran, mengatur
tempat duduk siswa, berdoa, dan absensi)
b. Apersepsi dengan tanya jawab tentang materi KPK dua bilangan
c. Menyampaikan tujuan pembelajaran
d. Membagikan LKS dan media pembelajaran kepada masing-masing
kelompok yang telah dibentuk oleh guru

194

2. Kegiatan Inti (± 40 menit)
Eksplorasi
Penggunaan konteks
a. Mengaitkan materi penjumlahan pecahan campuran (Panjang ubin
yang di ukur Andi 1

meter dan panjang ubin yang diukur Bayu 2

meter, berapa meterkah panjang seluruh ubin yang diukur Andi dan
Bayu), dan panjang pita merah 1

meter pita biru 2

meter, berapa

meterkah panjang seluruh pita?), dengan pengetahuan awal yang telah
dimiliki siswa
b. Menugaskan siswa untuk bekerja menyelesaikan LKS 4 tentang
penjumlahan pecahan campuran secara berkelompok
Elaborasi
c. Memotivasi siswa untuk menyelesaikan permasalahan realistik
penjumlahan pecahan campuran yang terdapat pada LKS 4
Penggunaan Model untuk Matematisasi Progresif
d. Siswa memodelkan permasalahan penjumlahan pencahan campuran
pada LKS
e. Siswa bekerja dalam kelompok membuat model matematika dengan
memanfaatkan kertas warna yang telah disediakan, seperti contoh
berikut:

f. Siswa menemukan model matematika dari permasalahan penjumlahan
pecahan campuran dikelompoknya

195

Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
g. Meminta kepada kelompok untuk memberikan lambang matematika
pada setiap gambar pecahan campuran yang dibuat
h. Memberi kesempatan kepada kelompok untuk menyelesaikan masalah
dengan menggunakan strateginya masing-masing
i. Memberi kesempatan kepada kelompok untuk berbeda pendapat
dengan mengemukakan gagasan baru.
Interaktivitas
j. Memberi kesempatan

kepada

salah

satu

kelompok

untuk

mempersentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas
k. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan kerja sama
agar terjadinya pertukaran ide/gagasan di dalam diskusi kelas
Komfirmasi
l. Siswa diminta untuk menjelaskan kembali cara-cara menyelesaikan
penjumlahan pecahan campuran
Keterkaitan
m. Siswa mencontohkan

masalah

realistik

penjumlahan

campuran yang berhubungan dengan kehidupan sehari-harinya
3. Kegiatan Akhir (± 20 menit)
a. Mengumpul LKS
b. Memberikan tindak lanjut berupa latihan soal
c. Menyampaikan pesan-pesan moral kepada siswa
d. Mengkondisikan kelas untuk mengakhiri pembelajaran
VII. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran
Pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI)
a.

Penggunaan konteks

b.

Penggunaan model untuk matematisasi progresif

c.

Pemanfaatan konstruksi siswa

pecahan

196
d.

Nteraktivitas

e.

Keterkaitan

Metode pembelajaran
a. Berdiskusi kelompok
b. Pemodelan
c. Penugasan
d. Tanya jawab
VIII. Sumber dan Media Pembelajaran
Sumber pembelajaran
1. KTSP 2006 matematika kelas V semester 2
2.

BSE matematika kelas V semester 2 (buku matematika yang relevan)

Media pembelajaran
1. Rol, spidol warna, pensil
2. Gunting
3. Kertas karton
IX.

Penilaian
1. Kognitif
(prosedur penilaian awal dan akhir proses, jenis penilaian tes, bentuk
penilaian tertulis, instrumen lembar latihan dan kunci jawaban)
2. Afektif
(prosedur penilaian dalam proses, jenis penilaian non tes, bentuk
penilaian pengamatan, instrumen lembar penilaian afektif)
3. Psikomotor
(prosedur penilaian dalam proses, jenis penilaian non tes, bentuk
penilaian pengamatan, instrumen lembar penilaian psikomotor)

197

X.

Pedoman Penskoran Kognitif (Individu)
Butir Soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jumlah

Bobot Maksimal
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
100

198
Lampiran 32
HASIL PENILAIAN RPP
Siklus II Pertemuan 2
Mata Pelajaran
: Matematika
Kelas / Semester
:V/2
Materi
: Penjumlahan Pecahan Campuran
Petunjuk
:
Berilah tanda cheklis (√) pada butir-butir perencanaan pembelajaran deskriptor yang
muncul pada kolom deskriptor pada kolom kualifikasi!

No
1

2

Aspek yang
dinilai
Kejelasan
perumusan
tujuan proses
pembelajaran

Pemilihan
materi ajar

Deskriptor
e. Perumusan tujuan
pembelajaran jelas
f. Rumusan tujuan
pembelajaran tidak
menimbulkan
penafsiran yang
meragukan siswa
g. Rumusan tujuan
pembelajaran
memenuhi (A, B, C, D)
h. Rumusan tujuan
pembelajaran
mengandung perilaku
hasil belajar (kognitif,
afektif, psikomotor)
e. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan bahan
yang akan diajarkan
f. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan tingkat
pemahaman siswa
g. Pemilihan materi ajar
sesuai dengan

Deskriptor
yang
Muncul

Kualifikasi
BS B C K
4
3 2 1


199

h.

3

Pengorganisasi
an materi

e.
f.

g.
h.

4

Pemilihan
sumber/media
pembelajaran

e.
f.
g.
h.

5

Kejelasan proses
pembelajaran

e.

f.

g.

lingkungan siswa
Materi ajar sesuai
dengan tujuan
pembelajaran
(penjumlahan pecahan
campuran berpenyebut
sama dan penjumlahan
pecahan campuran
berpenyebut tidak
sama)
Cakupan materi ajar
luas
Materi ajar sistematika
(dari yang mudah ke
yang sukar)
Sesuai dengan alokasi
waktu
Materi ajar sesuai
dengan perkembangan
bidangnya
Sesuai dengan tujuan
pembelajaran
Sesuai dengan materi
ajar
Sesuai dengan
karateristik siswa
Sesuai dengan
lingkungan siswa
Langkah-langkah
pembelajaran berurut
sesuai dengan
karateristik PMRI
Langkah-langkah
pembelajaran sesuai
dengan alokasi waktu
Langkah-langkah
pembelajaran sesuai










200

6

7

Kesesuaian
teknik
pembelajaran

Kelengkapan
instrument

Keterangan:
5. BS
6. B
7. C
8. D

dengan materi ajar
h. Langkah-langkah
pembelajaran jelas dan
terperinci
e. Teknik pembelajaran
sesuai dengan tujuan
pembelajaran
f. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
karateristik siswa
g. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
lingkungan siswa
h. Teknik pembelajaran
sesuai dengan
pendekatan
pembelajaran
e. Soal lengkap dan sesuai
dengan materi ajar
f. Soal sesuai dengan
tujuan pembelajaran
g. Soal disertai dengan
kunci jawaban yang
lengkap
h. Soal disertai dengan
pedoman penskoran
yang lengkap
Jumlah




20

6

: Baik Sekali, jika keempat deskriptor tampak
: Baik, jika tiga deskriptor tampak
: Cukup, jika hanya dua deskriptor tampak
: Kurang, jika hanya satu atau tidak ada deskriptor yang tampak

Skor maksimal: 28

-

-

201

Persentase perolehan skor =

=

x 100 %

x 100 %

= 92,86 % (BS)

Taraf keberhasilan menurut Sudijono (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang

202
Lampiran 33
Kunci Jawaban Lembar Kerja Siswa
Siklus II Pertemuan 2

Mata Pelajaran

: Matematika

Kelas / Semester

:V/2

Tujuan Kegiatan

: Siswa dapat menyelesaikan permasalahan penjumlahan
pecahan campuran dengan menggunakan alat peraga
kertas karton sesuai dengan soal yang diminta.

Alat dan Bahan

:

1. Ketas karton 2 warna ( putih dan biru)
2. Gunting
3. Rol
4. Pensil atau spidol warna
Masalah

: 1. panjang ubin yang diukur Andi 1
panjang ubin yang diukur Bayu 2

meter dan

meter. Berapa

meterkah panjang ubin seluruhnya?
2. Panjang pita merah 1 meter dan panjang pita biru
2 meter. Berapa meter kah panjang seluruh pita?
Petunjuk

:

1. Guntinglah kertas karton yang berbeda warna untuk membentuk pecahan
campuran sesuai dengan permasalahan yang diberikan
2. Arsirlah karton tersebut untuk membentuk bilangan bulat dan bilangan
pecahan
3. Susunlah kertas tersebut untuk menentukan jawaban dari permasalahan yang
diberikan

203

4. Berilah lambang matematikanya yang kamu temukan dari permasalahan yang
diberikan
5. Kerjakanlah setiap soal dengan dengan benar
6. Simpulan
Jawaban:
No

Karateristik

1

a. Penggunaan konteks

Keterangan
Paanjang ubin yang diukur Andi 1 meter
Panjang ubin yang diukur Bayu 2

b. Penggunaan model
untuk matematisasi

Mengubah ke dalam kalimat matematika
1

+2 =…

1

=

2

=

progresif

c. Pemanfaatan hasil
konstruksi siswa

meter

204

d. Interaktivitas
1

=

2

=
+

1
e. Keterkaitan

+ 2 = 1+ 2 + ( + ) = 3 + (

)=3

Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran dapat
dilakukan dengan menjumlahkan bilangan bulat
dengan bilangan bulat dan bilangan pecahan dengan
bilangan pecahan, (jika pecahan tidak berpenyebut
sama maka terlebih dahulu dilakukan menyamakan
penyebutnya).

2

a. Penggunaan konteks

Pita merah 1
Pita biru 2

b. Penggunaan model
untuk matematisasi
progresif

meter dan,
meter

Mengubah ke dalam kalimat matematika
1

+2 =…

205

c. Pemanfaatan

hasil 1
konstruksi siswa

=

2

=

1

=

2

=

d. Interaktivitas

+

e. Keterkaitan

Jadi, untuk menjumlahkan pecahan campuran dapat
dilakukan dengan menjumlahkan bilangan bulat
dengan bilangan bulat dan bilangan pecahan dengan
bilangan pecahan, (jika pecahan tidak berpenyebut
sama maka terlebih dahulu dilakukan menyamakan
penyebutnya).

206
Lampiran 34

207

208

209

Lampiran 35
HASIL PENILAIAN TERHADAP AKTIVITAS GURU DALAM
PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN PECAHAN CAMPURAN
DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V
SDN 09 AIR TAWAR BARAT PADANG
Siklus II Pertemuan 2
Mata Pelajaran
Materi

: Matematika
: Penjumlahan Pecahan Campuran

Petunjuk Pengisian :
Isilah tabel dengan memberi tanda cheklis (√) pada kolom kualifikasi berdasarkan
pengamatan observer pada saat pendidik mengajar!
Karateristik
PMRI
1. Penggunaan
Konteks

2. Penggunaan
Model untuk
Matematisasi
Progresif

Deskriptor
1. Meminta siswa mengaitkan
pembelajaran dengan
pengetahuan yang telah
dimiliki
2. Memberikan masalah
realistik dalam kehidupan
sehari-hari siswa
3. Menugaskan siswa untuk
bekerja menyelesaikan LKS
secara berkelompok
4. Memotivasi siswa agar aktif
untuk menemukan
penyelesaian masalah yang
diberikan
1. Meminta siswa untuk
memodelkan permasalahan
penjumlahan pecahan
campuran pada LKS
2. Meminta siswa untuk
membuat model matematika
dengan memanfaatkan kertas
warna yang disediakan
3. Meminta kepada siswa untuk

Deskriptor
yang
Muncul

Kualifikasi
BS B C K
4
3 2 1




210

4.

3.
Pemanfaatan
Hasil
Konstruksi
Siswa

1.

2.

3.

4.

4.
Interaktivitas

1.

2.

3.

4.

1.
5. Keterkaitan
2.

menemukan model
matematika dari
permasalahan yang diberikan
Menugaskan siswa
menggunakan model dalam
menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran
Meminta siswa untuk
menggunakan berbagai cara
untuk menemukan jawaban
dari penjumlahan pecahan
campuran
Meminta siswa untuk
menentukan lambang
matematika dari setiap
gambar pecahan campuran
yang dibuat
Menugaskan kelompok untuk
menyelesaiakan
permasalahan dengan strategi
masing-masing
Menugaskan kelompok untuk
mengemukakan gagasan baru
yang didapatkan
Meminta perwakilan dari
kelompok untuk
mempersentasikan hasil kerja
yang telah selesai
Meminta siswa untuk saling
bertukar ide/gagasan dalam
diskusi kelas
Meminta siswa untuk
menjelaskan kembali caracara menyelesaikan
penjumlahan pecahan
campuran
Meminta siswa untuk
memberi tanggapan atas
jawaban temannya
Mengarahkan siswa untuk
menyimpulkan diskusi
Meminta siswa untuk






211

mengaitkan konsep

penjumlahan pecahan
campuran dengan mata
pelajaran lainnya
3. Meminta siswa
menyelesaikan sendiri
penjumlahan pecahan
campuran
4. Meminta siswa untuk
menemukan masalah realistik

penjumlahan pecahan
campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehariharinya
19
Jumlah Skor
Dikembangkan dari Kunandar (2007: 96) Guru Profesional, Implementasi KTSP dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru.
Keterangan:
BS = Baik Sekali, jika Keempat deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran
dilakukan
B = Baik, jika tiga deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran dilakukan
C = Cukup, jika dua deskriptor pada setipa karateristik pembelajaran dilakukan
D = Kurang, jika hanya satu deskriptor pada setiap pembelajaran dilakukan
Total skor maksimal: 20
Persentasi perolehan skor =

x 100 % =

x 100 %

Padang,

April 2013

= 95 % (BS)
Taraf keberhasilan menurut Anas (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang

212
Lampiran 36
HASIL PENILAIAN TERHADAP AKTIVITAS SISWA DALAM
PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN PECAHAN CAMPURAN
DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V
SDN 09 AIR TAWAR BARAT PADANG
Siklus II Pertemuan 2
Mata Pelajaran
Materi

: Matematika
: Penjumlahan pecahan campuran

Petunjuk pengisian:
Amatilah aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, kemudian isilah
lembar pengamatan dengan memberi tanda cheklis (√) pada kolom yang tersedia.
Karateristik
PMRI
1. Penggunaan
Konteks

2. Penggunaan
Model untuk
Matematisasi
Progresif

Deskriptor
5. Mengaitkan pembelajaran
dengan pengetahuan awal yang
telah dimiliki
6. Menemukan masalah realistik
dalam kehidupan sehari-hari
7. Siswa menyelesaikan LKS
secara berkelompok
8. Siswa termotivasi aktif dalam
bekerja kelompok
5. Memodelkan permasalahan
penjumlahan pecahan
campuran pada LKS
6. Mengembangkan ide/gagasan
dalam membuat model
matematika dengan
memanfaatkan kertas warna
yang disediakan
7. Menemukan model
matematika dari permasalahan
yang diberikan
8. Siswa menerapkan model
dalam menyelesaikan
penjumlahan pecahan

Deskriptor
yang
Muncul

kualifikasi
BS B C K
4
3 2 1







213
campuran
5. Menggunakan berbagai cara

untuk menemukan jawaban
dari penjumlahan pecahan
campuran
6. Menentukan lambang


matematika dari setiap gambar
pecahan campuran yang dibuat
7. Menyelesaikan permasalahan

dengan strategi masing-masing
8. Mengemukakan gagasan baru

yang didapatkan
4.
5. Perwakilan dari kelompok

mempersentasikan hasil kerja
Interaktivitas
yang telah selesai
6. Melakukan diskusi dengan

bertukar ide/gagasan

7. Menjelaskan kembali cara-cara

menyelesaikan penjumlahan
pecahan campuran
8. Memberi tanggapan atas

jawaban temannya
5. Keterkaitan 5. Siswa menyimpulkan hasil

diskusi kelompok
6. Mengaitkan konsep

penjumlahan pecahan
campuran dengan mata
pelajaran lainnya
7. Siswa menyelesaikan sendiri
penjumlahan pecahan
campuran
8. Menemukan masalah realistik

penjumlahan pecahan
campuran yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari
19
Jumlah Skor
Dikembangkan dari Kunandar (2007: 96) Guru Profesional, Implementasi KTSP dan
Sukses dalam Sertifikasi Guru.
Keterangan:
3.
Pemanfaatan
Hasil
Konstruksi
Siswa

BS = Baik Sekali, jika Keempat deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran
dilakukan

214

B = Baik, jika tiga deskriptor pada setiap karateristik pembelajaran dilakukan
C = Cukup, jika dua deskriptor pada setipa karateristik pembelajaran dilakukan
D = Kurang, jika hanya satu deskriptor pada setiap pembelajaran dilakukan
Total skor maksimal: 20
Persentasi perolehan skor =
=

x 100 %
x 100 %

= 95 % (BS)
Taraf keberhasilan menurut Sudijono (2011 : 35):
1. 80 % - 100 %
= Baik Sekali
2. 66 % - 79 %
= Baik
3. 56 % - 65 %
= Cukup
4. 46 % - ke bawah
= Kurang
Padang,

April 2013

215
Lampiran 37
Kunci Jawaban Soal Tes Siklus II Pertemuan 2
1. 1
2. 2
3.
4.
5. 2
6. 1 + 2 = ( 1 + 2 ) + ( + )
=3+(

=5+( )

)

=5

=3+( )
9. 4 + 5

=3

=(4+5)+( +
=9+(

7. 1 + 2 = ( 1 + 2 ) + ( + )
=3+(

)

=3+( )

)
)

=9
10. 3 + 4

=3

=(3+4)+( +
=7+(

8. 2 + 3 = ( 2 + 3 ) + ( + )
=5+(

=9+(

)

)

=7+
=7

)

)

216
Lampiran 38
HASIL PENILAIAN KOGNITIF
(Evaluasi Hasil Individu)
Siklus II Pertemuan 2
No

Kode Siswa

1
AN
2
AD
3
AF
4
APD
5
BDK
6
BS
7
DA
8
DD
9
FF 1
10
FF 2
11
FA
12
IH
13
JF
14
JRP
15
MAB
16
MRI
17
MS
18
NA
19
NAEP
20
RH
21
RW
22
R
23
WS
24
WLP
25
ZBS
26
ZME
Jumlah
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

Hasil Tes
Akhir
70
65
80
70
90
80
60
90
100
100
80
75
80
100
85
100
90
100
100
70
90
80
90
90
70
100
2205
84,81
100
60

Ketuntasan Belajar
Tuntas
Tidak Tuntas


























24

2

92,31 %

7,69 %

217
Lampiran 39
HASIL PENILAIAN ASPEK AFEKTIF
Siklus II Pertemuan 2
Aspek yang dinilai

No

Kode
Siswa

Keaktifan
saat
berdiskusi
4

1
AN
2
AD
3
AF
4
APD
5
BDK
6
BS
7
DA
8
DD
9
FF 1
10
FF 2
11
FA
12
IH
13
JF
14
JRP
15
MAB
16
MRI
17
MS
18
NA
19
NAEP
20
RH
21
RW
22
R
23
WS
24
WLP
25
ZBS
26
ZME
Jumlah Nilai
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

3

2

1

Keseriusan
berdiskusi

Saling
menghargai
dalam
kelompok

4

4

















2

1


























2


3




3



Jlh
Skor

Nilai
Akhir

Ketuntasan

Tuntas

1
10
8
10
10
11
12
8
9
11
12
11
10
10
10
11
11
10
12
11
9
12
9
9
12
11
12

83,33
66,67
83,33
83,33
91,67
100
66,67
75
91,67
100
91,67
83,33
83,33
83,33
91,67
91,67
83,33
100
91,67
75
100
75
75
100
91,67
100
2258,34
86,86
100
66,67

Tidak
Tuntas






















24

2

92,31 %

7,69 %

218
Deskriptor:
Keaktifan saat berdiskusi
1. Aktif memberikan pendapat sesuai penyelesaian permasalahan yang
ditemukan
2. Berani bertanya jika kurang memahami permasalahan yang diberikan
3. Mengerjakan LKS tepat waktu sesuai dengan alokasi waktu yang diberikan
4. Berani mengkomunikasikan jawaban di depan kelas sesuai ide/gagasan yang
ditemukan
Keseriusan berdiskusi
1. Semua siswa serius dalam berdiskusi kelompok
2. Saling bertukar pendapat dalam berdiskusi
3. Saling membantu menyelesaikan LKS
4. Membantu teman untuk menjelaskan materi yang kurang dimengerti
Saling menghargai dalam kelompok
1. Memberikan kesempatan kepada angota kelompok untuk mengemukakan
pendapat
2. Tidak memotong pembicaraan teman saat mengemukakan pendapat
3. Menerima masukan teman saat berdiskusi kelompok
4. Tidak melecehkan pendapat teman saat berdiskusi kelompok

Keterangan:
Skala Nilai

Deskriptor

4

Semua deskriptor terlihat

3

Tiga deskriptor terlihat

2

Hanya 2 deskriptor terlihat

1

Hanya 1 deskriptor terlihat

219
Lampiran 40
HASIL PENILAIAN ASPEK PSIKOMOTOR
Siklus II Pertemuan 2

No

Kode
Siswa

Ketepatan
Langkah
Kerja
4

3

1
AN
2
AD
3
AF
4
APD
5
BDK
6
BS

7
DA
8
DD

9
FF 1 √
10
FF 2 √
11
FA
12
IH
13
JF

14
JRP
15 MAB √
16
MRI
17
MS

18
NA

19 NAEP
20
RH

21
RW

22
R
23
WS
24 WLP √
25
ZBS √
26 ZME √
Jumlah Nilai
Rata-rata Nilai
Persentase
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah

2

1

Aspek yang dinilai
Keterampilan Kemampuan
Menggunakan
Menjawab
Alat peraga
Pertanyaan
4

2

1

4




3

3





























2









Jlh
Skor

Nilai
Akhir

Ketuntasan

Tuntas

1
10
7
10
11
10
12
8
11
11
11
8
9
11
9
11
11
10
12
11
11
12
9
9
12
10
11

83,33
58,33
83,33
91,67
83,33
100
66,67
91,67
91,67
91,67
66,67
75
91,67
75
91,67
91,67
83,33
100
91,67
91,67
100
75
75
100
83,33
91,67
2225,02
85,58
100
58,33

Tidak
Tuntas
























23

3

88,46 %

11,54 %

220

Deskriptor:
Ketepatan langkah kerja
1. Mempersiapkan alat peraga untuk menemukan pemecahan masalah yang
diberikan
2. Berdiskusi kelompok untuk menemukan ide/gagasan sesuai dengan langkah
kerja LKS
3. Berdiskusi kelompok untuk menemukan langkah-langkah penyelesaian
masalah
4. Mengisi jawaban pada LKS sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
Keterampilan menggunakan alat peraga
1. Menggunakan alat peraga untuk menemukan pemecahan masalah yang
diberikan
2. Menggunakan alat peraga untuk menemukan langkah-langkah penyelesaian
masalah
3. Mengetahui cara kerja alat peraga sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
4. Bertanggung jawab dalam menggunakan alat peraga
Kemampuan menjawab pertanyaan
1. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan permasalahan yang diberikan
2. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan ide/gagasan yang ditemukan
3. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan langkah-langkah penyelesaian
masalah
4. Jawaban jelas, terperinci sesuai dengan simpulan dari permasalahan yang
diberikan
Keterangan:
Skala Nilai
4
3
2
1

Deskriptor
Semua deskriptor terlihat
Tiga deskriptor terlihat
Hanya 2 deskriptor terlihat
Hanya 1 deskriptor terlihat

221

LAMPIRAN 41

a. Rekapitulasi Nilai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
No
1
2
Jumlah
Rata-rata
Persentase

Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran
Pertemuan 1
Pertemuan 2

Siklus I

Siklus II

64,29
78,57
142,86
71,43
71,43 %

85,71
92,86
178,57
89,29
89,29 %

b. Rekapitulasi Nilai Pelaksanaan Aktivitas Guru
No
Pelaksanaan Aktivitas Guru
1
Pertemuan 1
2
Pertemuan 2
Jumlah
Rata-rata
Persentase

Siklus I
60
70
130
65
65 %

Siklus II
80
95
175
87,5
87,5 %

c. Rekapitulasi Nilai Pelaksanaan Aktivitas Siswa
No
Pelaksanaan Aktivitas Guru
1
Pertemuan 1
2
Pertemuan 2
Jumlah
Rata-rata
Persentase

Siklus I
60
70
130
65
65 %

Siklus II
80
95
175
87,5
87,5 %

222

LAMPIRAN 42
REKAPITULASI HASIL BELAJAR SISWA
SIKLUS I PERTEMUAN 1
No Kode Siswa
AN
1
AD
2
AF
3
APD
4
BDK
5
BS
6
DA
7
DD
8
FF 1
9
FF 2
10
FA
11
IH
12
JF
13
JRP
14
MAB
15
MRI
16
MS
17
NA
18
NAEP
19
RH
20
RW
21
R
22
WS
23
WLP
24
ZBS
25
ZME
26

Kognitif
55
45
65
50
70
50
40
70
75
75
50
60
70
75
70
75
70
80
95
25
55
45
65
65
50
75

Afektif

Psikomotor

50
50
58,33
50
58,33
75
25
50
33,33
75
58,33
50
25
50
50
58,33
50
75
58,33
50
83,33
50
50
83,33
50
75

50
41,67
50
41,67
58,33
83,33
41,67
58,33
25
41,67
50
50
33,33
25
50
58,33
50
83,33
58,33
50
75
50
50
83,33
50
75

Jumlah
Rata-rata

Jumlah
155
136,67
173,33
141,67
186,66
208,33
106,67
178,33
133,33
191,67
158,33
160
128,33
150
170
191,66
170
238,33
211,66
125
213,33
145
165
231,66
150
225

Nilai Akhir
51,67
45,56
57,78
47,22
62,22
69,44
35,56
59,44
44,44
63,89
52,78
53,33
42,78
50
56,67
63,89
56,67
79,44
70,55
41,67
71,11
48,33
55
77,22
50
75
1481,66
56,99

223

LAMPIRAN 43
REKAPITULASI HASIL BELAJAR SISWA
SIKLUS I PERTEMUAN 2
No Kode Siswa
AN
1
AD
2
AF
3
APD
4
BDK
5
BS
6
DA
7
DD
8
FF 1
9
FF 2
10
FA
11
IH
12
JF
13
JRP
14
MAB
15
MRI
16
MS
17
NA
18
NAEP
19
RH
20
RW
21
R
22
WS
23
WLP
24
ZBS
25
ZME
26

Kognitif
60
50
70
55
75
60
50
75
80
80
65
65
70
80
75
80
75
85
100
45
70
60
70
70
60
80

Afektif

Psikomotor

58,33
58,33
66,67
58,33
75
83,33
58,33
58,33
58,33
83,33
75
50
41,67
41,67
75
75
66,67
83,33
75
58,33
91,67
58,33
58,33
83,33
58,33
83,33

58,33
58,33
58,33
75
66,67
91,67
50
75
50
58,33
58,33
58,33
75
50
75
75
58,33
91,67
75
66,67
83,33
58,33
58,33
91,67
58,33
83,33

Jumlah
Rata-rata

Jumlah
176,66
166,66
195
188,33
216,67
235
158,33
208,33
158,33
221,66
198,33
173,33
186,67
141,67
225
230
200
260
250
170
245
176,66
186,66
245
176,66
246,66

Nilai Akhir
58,89
55,55
65
62,78
72,22
78,33
52,78
69,44
52,78
73,89
66,11
57,78
62,22
47,22
75
76,67
66,67
86,67
83,33
56,67
81,67
58,89
62,22
81,67
58,89
82,22
1745,56
67,14

224

Lampiran 44
REKAPITULASI NILAI HASIL BELAJAR
SIKLUS I

No

Kode
Siswa

AN
1
AD
2
AF
3
APD
4
BDK
5
BS
6
DA
7
DD
8
FF 1
9
FF 2
10
FA
11
IH
12
JF
13
JRP
14
15 MAB
MRI
16
MS
17
NA
18
NAEP
19
RH
20
RW
21
R
22
WS
23
24 WLP
ZBS
25
ZME
26
Jumlah
Rata-rata
Persentase

KKM

Pertemuan
1

Pertemuan
2

Jumlah

70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70

51,67
45,56
57,78
47,22
62,22
69,44
35,56
59,44
44,44
63,89
52,78
53,33
42,78
50
56,67
63,89
56,67
79,44
70,55
41,67
71,11
48,33
55
77,22
50
75

58,89
55,55
65
62,78
72,22
78,33
52,78
69,44
52,78
73,89
66,11
57,78
62,22
47,22
75
76,67
66,67
86,67
83,33
56,67
81,67
58,89
62,22
81,67
58,89
82,22

110,56
101,11
122,78
110
134,44
147,77
88,34
128,88
97,22
137,78
118,89
111,11
105
97,22
131,67
140,56
123,34
166,11
153,88
98,34
152,78
107,22
117,22
158,89
108,89
157,22

Nilai
Akhir
55,28
50,56
61,39
55
67,22
73,89
44,17
64,44
48,61
68,89
59,45
55,56
52,5
48,61
65,84
70,28
61,67
83,06
76,94
49,17
76,39
53,61
58,61
79,45
54,45
78,61
1613,65
62,06
62,06 %

Ketuntasan
Tidak
Tuntas
Tuntas

























7

19

26,92 %

73,08 %

225
LAMPIRAN 45
REKAPITULASI HASIL BELAJAR SISWA
SIKLUS II PERTEMUAN 1
No Kode Siswa
AN
1
AD
2
AF
3
APD
4
BDK
5
BS
6
DA
7
DD
8
FF 1
9
FF 2
10
FA
11
IH
12
JF
13
JRP
14
MAB
15
MRI
16
MS
17
NA
18
NAEP
19
RH
20
RW
21
R
22
WS
23
WLP
24
ZBS
25
ZME
26

Kognitif
65
60
75
60
85
70
60
85
90
90
70
70
75
90
80
90
80
90
100
60
85
75
80
80
65
90

Afektif

Psikomotor

75
66,67
83,33
75
83,33
91,67
66,67
75
83,33
91,67
83,33
75
75
66,67
83,33
83,33
75
91,67
83,33
66,67
100
75
58,33
91,67
75
91,67

75
58,33
75
83,33
75
100
58,33
83,33
75
75
66,67
66,67
83,33
58,33
83,33
83,33
75
100
83,33
75
91,67
66,67
66,67
100
75
91,67

Jumlah
Rata-rata

Jumlah
215
185
233,33
218,33
243,33
261,67
185
243,33
248,33
256,67
220
211,67
233,33
215
246,66
256,66
230
281,67
266,66
201,67
276,67
216,67
205
271,67
215
273,34

Nilai Akhir
71,67
61,67
77,78
72,78
81,11
87,22
61,67
81,11
82,78
85,56
73,33
70,56
77,78
71,67
82,22
85,55
76,67
93,89
88,89
67,22
92,22
72,22
68,33
90,56
71,67
91,11
2037,24
78,36

226

LAMPIRAN 46
REKAPITULASI HASIL BELAJAR SISWA
SIKLUS II PERTEMUAN 2
No Kode Siswa
AN
1
AD
2
AF
3
APD
4
BDK
5
BS
6
DA
7
DD
8
FF 1
9
FF 2
10
FA
11
IH
12
JF
13
JRP
14
MAB
15
MRI
16
MS
17
NA
18
NAEP
19
RH
20
RW
21
R
22
WS
23
WLP
24
ZBS
25
ZME
26

Kognitif
70
65
80
70
90
80
60
90
100
100
80
75
80
100
85
100
90
100
100
70
90
80
90
90
70
100

Afektif

Psikomotor

83,33
66,67
83,33
83,33
91,67
100
66,67
75
91,67
100
91,67
83,33
83,33
83,33
91,67
91,67
83,33
100
91,67
75
100
75
75
100
91,67
100

83,33
58,33
83,33
91,67
83,33
100
66,67
91,67
91,67
91,67
66,67
75
91,67
75
91,67
91,67
83,33
100
91,67
91,67
100
75
75
100
83,33
91,67

Jumlah
Rata-rata

Jumlah
236,66
190
246,66
245
265
280
193,34
256,67
283,34
291,67
238,34
233,33
255
258,33
268,34
283,34
256,66
300
283,34
236,67
290
230
240
290
245
291,67

Nilai Akhir
78,89
63,33
82,22
81,67
88,33
93,33
64,45
85,56
94,44
97,22
79,45
77,78
85
86,11
89,45
94,45
85,55
100
94,45
78,89
96,67
76,67
80
96,67
81,67
97,22
2224,47
85,56

227

Lampiran 47
REKAPITULASI NILAI HASIL BELAJAR
SIKLUS II

No

Kode
Siswa

AN
1
AD
2
AF
3
APD
4
BDK
5
BS
6
DA
7
DD
8
FF 1
9
FF 2
10
FA
11
IH
12
JF
13
JRP
14
15 MAB
MRI
16
MS
17
NA
18
NAEP
19
RH
20
RW
21
R
22
WS
23
24 WLP
ZBS
25
ZME
26
Jumlah
Rata-rata
Persentase

KKM

Pertemuan
1

Pertemuan
2

Jumlah

70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70

71,67
61,67
77,78
72,78
81,11
87,22
61,67
81,11
82,78
85,56
73,33
70,56
77,78
71,67
82,22
85,55
76,67
93,89
88,89
67,22
92,22
72,22
68,33
90,56
71,67
91,11

78,89
63,33
82,22
81,67
88,33
93,33
64,45
85,56
94,44
97,22
79,45
77,78
85
86,11
89,45
94,45
85,55
100
94,45
78,89
96,67
76,67
80
96,67
81,67
97,22

150,56
125
160
154,45
169,94
180,55
126,12
166,67
177,22
182,78
152,78
148,34
162,78
157,78
171,67
180
162,22
193,89
183,34
146,11
188,89
148,89
148,33
187,23
153,34
188,33

Nilai
Akhir
75,28
62,5
80
77,23
84,97
90,28
63,06
83,34
88,61
91,39
76,39
74,17
81,39
78,89
85,84
90
81,11
96,95
91,67
73,06
94,45
74,45
74,17
93,62
76,67
94,17
2133,36
82,05
82,05 %

Ketuntasan
Tidak
Tuntas
Tuntas


























24

2

92,31 %

7,69 %

228

Lampiran 48
REKAP HASIL BELAJAR SISWA
SIKLUS I DAN II
No

Kode
Siswa

KKM

Siklus I

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

AN
AD
AF
APD
BDK
BS
DA
DD
FF 1
FF 2
FA
IH
JF
JRP
MAB
MRI
MS
NA
NAEP
RH
RW
R
WS
WLP
ZBS
ZME

70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70

55,28
50,56
61,39
55
67,22
73,89
44,17
64,44
48,61
68,89
59,45
55,56
52,5
48,61
65,84
70,28
61,67
83,06
76,94
49,17
76,39
53,61
58,61
79,45
54,45
78,61
1613,65
62,06
62,06 %
-

Jumlah
Rata-rata
Persentase Rata-rata
Persentase Ketuntasan
Persentase Peningkatan
Ketuntasan

Tuntas

Siklus II

Tuntas

75,28
62,5
80
77,23
84,97

90,28
63,06
83,34
88,61
91,39
76,39
74,17
81,39
78,89
85,84

90
81,11

96,95

91,67
73,06

94,45
74,45
74,17

93,62
76,67

94,17
7
2133,36
0,269
82,05
82,05 %
26,92 %
65,39 %

























24
0,923
92,31%

229

LAMPIRAN 49
Nama-nama Anggota Kelompok
No

Nama Kelompok

1

APEL

2

BELIMBING

3

CUBADAK

4

DELIMA

5

ENAU

Anggota Kelompok
AN
AD
AF
APD
BDK
BS
DA
DD
FF 1
FF 2
FA
IH
JF
JRP
MAB
MRI
MS
NA
NAEP
RH
RW
R
WS
WLP
ZBS
ZME