Daya Dukung Tiang Tunggal Berdasarkan Data Uji Lapangan

Adi Saputra Bianca Natasya Christy Natalia ukito Ivan Christian L ndra Dimas Aries Cha R.M

Field Testing

STANDARD PENETRATION TEST

Pengenalan Umum
▫ Uji penetrasi standar (SPT) adalah metoda pengujian di lapangan dengan memasukkan (memancangkan) sebuah Split Spoon ▫ NSPT (jenis dan sifat tanah, sifat tanah kualitatif, dan daya dukung tiang pancang)

Interpretasi SPT
• Bersifat empiris • Untuk tanah PASIR, NSPT mencerminkan:
▫ ▫ ▫ ▫ ▫ kepadatan yang Besar sudut geser dalam (φ) Berat isi tanah (γ) Kapasitas daya dukung pondasi Penurunan pondasi.

• Untuk tanah Lempung, hasil SPT dapat menentukan secara empiris konsistensi tanah, kapasitas daya dukung pondasi dan penurunan pondasi.*

End-Bearing
1.Untuk sand (ton)

2.Untuk nonplastic silt (ton)

Di mana:

 20  CN = 0,77log10 '  σ   v

Skin-Friction

•Qp dalam tons. Untuk mendapatkan nilai fs dalam satuan SI, harus dikalikan 8,9 kN. •fs dalam tons/ft2. Untuk mendapatkan nilai fs dalam satuan SI, harus dikalikan 95,8 kN/m2.

Catatan Penting!
• Untuk tiang drilled, nilai Qp harus dikali 1/3 dan Qf harus dikali ½. Reduksi ini ada karena terjadi reduksi density pada tanah di sekitar pemboran.

CONE PENETRATION TEST

CPT
• Fungsi :
 Nilai konus (qc) Nilai friksi lokal (fs) Mengidentifikasi jenis tanah Kepadatan dan kekerasannya

INTERPRETASI SONDIR
1. Tahanan Ujung (qc) •diperoleh dari penekanan ujung konus untuk memperoleh perlawanan tanah yang dipenetrasi. Besarnya nilai ini menunjukkanidentifikasi jenis tanah. •2. Gesekan selimut (f ) s •  Gesekan selimut (f ) diperoleh dari hasil pengukuran perlawanan ujung konus s dan selimut bersama-sama ditekan ke dalam tanah dikurang hasil pengukuran tahanan ujung konus dengan kedalaman penetrasi yang sama. •  Gesekan selimut diukur sebagai gaya penetrasi persatuan luas selimut konus (fs). •3. Friction Ratio (R ) f • Friction Ratio digunakan untuk membedakan tanah berbutir halus dengan tanah yang berbutir kasar (memperkirakan jenis tanah yang diselidiki). • ♦ Harga Friction Ratio < 1 % biasanya adalah untuk tanah pasir. • ♦ Harga Friction Ratio > 1 % biasanya adalah untuk tanah Lempung • ♦ Harga Friction Ratio > 5 % atau 6 % untuk jenis tanah organik (peat)

Rf = fs/qc

UKURAN KONUS SONDIR (ASTM D 3441)

Ukuran Konus Elektrik

End-Bearing (Meyerhoff) Skin-Friction
•Qp dalam tons. Untuk mendapatkan nilai fs dalam satuan SI, harus dikalikan 8,9 kN. •fs dalam tons/ft2. Untuk mendapatkan nilai fs dalam satuan SI, harus dikalikan 95,8 kN/m2.

Catatan Penting!
• Untuk tiang drilled, nilai Qall harus dikalikan ½ • Metode Meyerhoff hanya sesuai untuk kondisi di mana kedalaman tiang pancang minimal 10x lebar atau diameter tiang

Metode Fleming and Thorburn
qc1 + qc2 + 2qc3 qc = 4
qc1 adalah tahanan konus rata-rata pada daerah 2D di bawah ujung tiang. qc2 adalah tahanan konus minimum pada daerah 2D di bawah ujung tiang. qc3 adalah tahanan konus rata-rata minimum pada daerah 8D di atas ujung tiang.

PRESSUREMETER TEST

Deskripsi Umum
•Uji Pressuremeter (PMT) merupakan sebuah uji teganganregangan in situ •Dilakukan pada dinding lubang bor menggunakan probe silinder yang membesar dalam arah radial. •PMT dapat digunakan dalam perancangan pondasi pada seluruh jenis tanah

Bagian-Bagian Alat
The pressuremeter consists of two parts:

• the read-out unit • the probe

Schematic of a pressuremeter test in a borehole (from Gambin and Rousseau, 1988)

Cara Kerja
• Pada kedalaman yang diukur, guard cells dikembangkan untuk menahan posisi probe pada tempatnya • measuring cell diberi tekanan dengan mengisikan air, sehingga permukaan karetnya mengembang  memberikan tekanan pada dinding lubang bor • Saat tekanan pada measuring cell meningkat, dinding lubang bor berdeformasi

Cara Kerja
• Tekanan pada measuring cell dijaga konstan selama 60 detik • Perubahan volume, yang terjadi dalam kurun waktu tersebut, yang dibutuhkan untuk menjaga besar tekanan dicatat • Diperoleh sebuah diagram ∆P vs ∆V pada tiap pengujian

Example pressuremeter test results (from Baguelin et al., 1978).

Three phases of the deformation curve: • (1) the reestablishing phase, from the origin to point A; • (2) the pseudo-elastic phase, from point A to point B; and • (3) the plastic phase, from point B to point C.

Example pressuremeter test results (from Baguelin et al., 1978).

Limit Pressure

The pressure required to expand the measuring cell by an amount vo beyond the volume required to inflate the pressuremeter (VC) and to push the borehole wall back to its original position (vo)

The injected volume at the limit pressure (vL) is thus: vL = v0 + VC + v0 = 2v0 + VC •v volume required to inflate pressuremeter 0 = and push soil to its original position •V initial volume of the measuring cell (see C= Table 1).

End-Bearing Capacity

Ap : luas penampang dasar pondasi qo : tegangan lateral pada tanah pada kedalaman ujung pondasi Kq : faktor bearing capacity PL : limit pressure P0 : initial pressure
Prakash danSharma. Pile Foundation in Engineering Practice. Toronto: Wiley Interscience Publication, 1990

Bearing capacity factor K, for pile foundation design by pressuremeter (Canadian Foundation Engineering Manual, 1978).

Skin-Friction Capacity

Fs = ultimate skin friction (τf) perimeter = pile perimeter embedment length = pile length

Diketahui limit pressure (kPa), material pondasi, metode konstruksi pondasi
For cohesive soils, •Timber & Concrete piles: use CURVE A directly •Steel Piles: multiply these values in CURVE A by 0.75

For cohesionless soils, •Nondisplacement Concrete piles and displacement steel piles: use CURVE A directly •Nondisplacement Steel Piles: multiply these values in CURVE A by 0.5
Ultimate skin friction, τf, on piles by pressuremeter method (Canadian Foundation Engineering Manual, 1978).

Displacement Concrete Piles: used directly Curve B
(Canadian Foundation Engineering Manual, 1978)

PEMBAHASAN SOAL-SOAL

Soal 1 - SPT
•Sebuah tiang pancang baja dengan ujung tertutup berdiameter 1 ft dipancang ke dalam pasir hingga kedalaman 30 ft. Muka air tanah terletak pada permukaan tanah. γ = 125 lb/ft3. •Tentukan Qa dgn FS = 3! •

Solusi – Point Bearing
1.Nilai N rata-rata
Navg= 10+ 12+ 14 = 12 3

2.Nilai tegangan vertikal efektif
σ v' = (125 lb/ft3 − 62,5 lb/ft3 )30 ft = 1875 lb/ft3 = 0,938 tsf

3.Cari nilai N corrected
 20   20  CN = 0,77log10 '  = 0,77log10  = 1,02 σ   0,938   v N = CNN = 1,02.12 12 ≅

4.Nilai Point Bearing
0,4 N Qp= Df Ap ≤ 4 NAp B 0,4 N 0,4.12 Qp= Df Ap = 30.0,785 113tons = B 1 4 NAp = 4.12.0,785 = 37,7 tons

Pilih nilai paling kecil, maka Qp = 37,7 ton

Solusi – Skin Friction
1.Nilai N rata-rata
Navg= 4 + 6 + 6 + 8 + 10 = 6,8 5

2.Nilai tegangan vertikal efektif untuk kedalaman rata-rata

σ v' = (125 lb/ft3 − 62,5 lb/ft3 )15 ft = 937,5 lb/ft3 = 0,469 tsf

3.Cari nilai N corrected
 20   20  CN = 0,77log10 '  = 0,77log10  = 1,25 σ   0,469   v N = CNN = 1,25.6,8 8,5 =

4.Nilai Skin Friction
N fs = ≤ 1 tsf 50 N 8,5 fs = = = 0,17 tfs≤ 1 tsf 50 50 Qf = fs.p.L 0,17.π .1.30 = 16 tons =

Solusi – Allowable Bearing Capacity
1.Nilai Q ultimate

Qult = Qp + Qf = 37,7 + 16 = 53,7 tons
2.Nilai Q allowable
Qult 53,7 Qall = = = 17,9 tons= 156kN FS 3

Soal 2 - CPT
•Hasil tahanan konus dan tahanan selimut dari sebuah CPT ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Hitung kapasitas beban batas dari sebuah driven pile dengan diameter 0,6 m dan panjang 10 m.

Solusi – Fleming and Thorburn
• Influence zone • Above base = 8D = 8.0,6 = 4,8 m • Below base = 2D = 2.0,6 = 1,2 m • Tahanan konus
• •

qc1 + qc2 + 2qc3 7,5 + 4,77 + 2(3,07) qc = = = 4,6 MPa 4 4

• Tahanan selimut rata-rata (tabel) • Berdasarkan tabel, 0,075 Mpa di atas kedalaman 10 m. • End-bearing

2 πD2 π0,6 Ap = = = 0,28 m2 • 4 4 • Qp= qcAp = 4,6.0,28 1,29 = MN

• Skin-friction • Qf = fspL = 0,075.π.0,6.10 1,41 = MN • Qult

Qult= 1,29 1,41= 2,7MN +

Dynamic Driving Resistance
Pile Driving Formulas

• Pile-driving Formulas

▫ xx shows the position of pile cap just before a ram or a hammer of weight W strikes the pile cap after falling through a height H. ▫ The pile cap then moves a distance (S + Se) ▫ S is the distance pile point penetrates per blow of the hammer ▫ Se is the elastic compression of the pile and pile cap. ▫ The work done by a falling hammer and the work required to penetrate pile point by S can then be related as follows:
 WH = Qdyn S + ▲E
 Qdyn = dynamic resistance of soil to pile driving ▲E = energy losses

• Energy losses result when all of the energy of the falling hammer is not used in pile penetration into the soil but is converted into losses such as heat, noise, and the elastic compression of the pile (Se) • If we assume that C represents the additional penetration of pile that would have occurred if energy losses during pile driving were zero, then equation can be modified as follows: •

a Digunakan jika driven weight lebih kecil dari striking weights b Digunakan jika driven weight lebih besardari striking weights (Qu)all dalam pounds W = weight of striking parts of hammer in pounds H = effective height of fall in feet E = actual energy delivered by hammer per blow in foot-pounds S = average net penetration in inches per blow for the last 6 in. of driving set Wd = driven weights including pile

Drop Hammer

Single Acting Hammer

Double Acting Hammer

• The shortcomings of dynamic pile-driving formulas can be categorized into the following three areas (Goble and Rausche, 1980):

• 1. Driving System Representation

▫ In dynamic formulas, only the rated energy and estimated losses are included. Driving system loss representations are oversimplified, and the formulas do not attempt to deal realistically with poor equipment performance. Thus, driving system representation in dynamic formulas are only approximate at best.

• 2. Pile Flexibility

▫ In dynamic formula derivation, the pile is assumed to be rigid and all effects of flexibility are neglected.

• 3. Soil Resistance

▫ The soil model approximation in the model is far from the real soil because the formulation assumes constant soil resistance. Also static pile resistance may not be equal to dynamic pile resistance.

Soal 4 – Pile Driving Formula
Hitung Qall dari sebuah tiang baja yang dipancang dengan drop hammer seberat 5000 lb dan tinggi jatuh 6 , 5 ft. Rekaman pile-driving menunjukkan ada 12 pukulan untuk satu kaki terakhir pemancangan ke dalam tanah nonkohesif. Dari 12 pukulan tersebut, 6 inchi terakhir dari pemancangan membutuhkan 7 pukulan .

Solusi
• W = 5000 lb • • H = 6,5 ft • • S = jumlah penetrasi dalam in/pukulan • = 6/7 = 0,86 in/pukulan • • Qall = 2WH/(S+1) • = 2.5000.6,5/(0,86+1) • = 34,8 kips = 155 kN

Soal 5 – Pile Driving Formula
Sebuah tiang baja HP 14x73 dipancang dengan menggunakan double acting hammer dengan energi sekitar 39800 ft - lb. Tiang dipancang melewati berbagi lapisan tanah dan ujungnya menyentuh lapisan very dense sand seperti ditunjukkan pada grafik. Rekaman pemancangan menunjukkan ada 54 pukulan pada pemancangan 9 inchi terakhir . Hitung Qall pada tiang ini!

Solusi
• E = 39800 ft-lb • • S = jumlah penetrasi dalam in/pukulan • = 9/54 = 0,167 in/pukulan • • Qall = 2E/(S+0,1) • = 2.39800/(0,167+0,1) • = 298 kips = 1326 kN

SEKIAN

Pertanyaan
• Uday: kalau di lapangan pada proses pemancangan. Qall kita yg desain. • test2 untuk lahan berapa?harga?(teknis) • Eric: Dynamic pile driving, ada yg static ada gak? • Indra: CPT 10x D • Adi T. W.: Bila di suatu lokasi terdapat 2 data yang berbeda, bagaimana? • Eric: Berapa besar beda data lab dan lapangan?