You are on page 1of 8

LABORATORIUM KLINIK

Untuk Diagnosa Lebih Baik

[ ISSN 0854-7165

Daftar Isi

| No. 6/2003 ]

APLIKASI KLINIS CRP UNTUK DETEKSI DAN


PENCEGAHAN PENYAKIT KARDIOVASKULAR

Aplikasi Klinis CRP untuk Deteksi dan Pencegahan


Penyakit Kardiovaskular............................... 1
Small,dense LDL pada FCH dan Penyakit
Kardiovaskular ........................................ 4
Mikroalbumin pada Hipertensi ...................... 7

PENDAHULUAN
Dalam rangka memperbaiki prediksi risiko kardiovaskular
secara menyeluruh, perhatian yang besar telah difokuskan
pada C-Reactive Protein (CRP), suatu penanda inflamasi
yang telah ditunjukkan dalam studi epidemiologi prospektif
multipel, dapat memprediksi kejadian infark miokard,
stroke, penyakit arteri perifer dan kematian jantung
mendadak. CRP juga dapat memperkirakan risiko iskemia
rekuren dan kematian diantara penderita angina yang
stabil dan tidak stabil, yang menjalani angioplasti
perkutan, dan yang dibawa ke ruang gawat darurat dengan
sindrom koroner akut (1).
Data klinis yang sangat konsisten ini didukung oleh
sejumlah besar bukti laboratorium dan eksperimental,
yang menunjukkan bahwa aterotrombosis, selain
merupakan penyakit karena akumulasi lipid, juga
menunjukkan proses inflamasi kronik (1).
Dalam aplikasi klinis, CRP merupakan prediktor kejadian
kardiovaskular yang lebih kuat dibandingkan LDL, dan
memberi informasi prognostik tambahan pada semua
tingkat risiko Framingham dan sindrom metabolik (1).
Keuntungan pemeriksaan CRP adalah : otomatisasi, cepat
dan reprodusibel. Akan tetapi banyak metode yang
mempunyai batas deteksi lebih rendah, yaitu sekitar 5
mg/L, yang membatasi penggunaan mereka dalam
memperkirakan risiko PJK, di mana telah dilaporkan adanya
perubahan yang signifikan dalam range 0,5-3,5 mg/L (5).
Metode dengan sensitivitas tinggi telah dikembangkan
untuk mengukur kadar CRP < 0,15 mg/L. Lebih jauh lagi,
satu algoritme untuk perkiraan risiko kejadian koroner di
masa datang telah diusulkan dengan menggunakan

kombinasi kadar CRP dan rasio kolesterol total : HDL.


Berdasarkan algoritme ini, risiko individu dapat
diperkirakan dari quintile CRP dan lipid yang berasal dari
ongoing population-based survey (4).
Dengan menggunakan pemeriksaan yang mempunyai
sensitivitas tinggi (high sensitivity CRP/hs-CRP), kadar
CRP < 1,0, 1,0 3,0 dan > 3,0 mg/L berkaitan dengan
kelompok risiko kejadian kardiovaskular di kemudian hari
yang rendah, menengah dan tinggi (1).

CRP DAN LDL


Seperti diindikasikan sebelumnya, algoritme yang
diusulkan untuk memperkirakan risiko koroner di masa
datang adalah menggunakan quintile CRP dan rasio
kolesterol total : HDL. Baru-baru ini telah ditunjukkan
bahwa quintile dan tertile CRP mempunyai hubungan
yang sama dengan risiko kejadian koroner di masa
datang. Hal lain lagi, pada saat dikombinasi dengan CRP,
kemampuan LDL untuk memperkirakan penyakit
kardiovaskular dapat dibandingkan dengan rasio
kolesterol total : HDL. Dengan demikian, untuk
interpretasi klinis yang mudah, dapat digunakan cutpoint
yang dibuat lebih sederhana berdasarkan tertile populasi
US (< 1,0, 1,0 - 3,0, > 3,0 mg/L). Cutpoint ini mempunyai
keuntungan mudah untuk diingat, dan pada saat
ditambahkan ke dalam cutpoint LDL yaitu < 130, 130
160 dan > 160 mg/dL, dapat digunakan dalam algoritme
untuk perkiraan risiko penyakit kardiovaskular dalam
pencegahan primer (gambar 1). Cutpoint LDL yang
digunakan adalah yang direkomendasikan oleh National
Cholesterol Education Program (NCEP) (4).

4. Hasil hs-CRP harus dinyatakan hanya dalam mg/L


(rekomendasi klas 1, level of evidence C)

Variabilitas hasil hs-CRP

Gambar 1. Algoritme yang diusulkan untuk perkiraan risiko


PJK pada pria dan wanita

Individu dengan LDL < 130 mg/dL dan CRP > 3,0 mg/L
menggambarkan kelompok risiko tinggi yang seringkali
lolos dalam praktek klinik (1).

REKOMENDASI PENGGUNAAN PENANDA INFLAMASI DALAM


KLINIK DAN KESEHATAN MASYARAKAT
Pada bulan Maret 2002 sekelompok ahli menghadiri
workshop yang disponsori oleh American Heart
Association dan Centres for Disease Control untuk
membuat konsensus panduan bagaimana pemeriksaan
penanda inflamasi digunakan dalam praktek klinik.
Penanda inflamasi yang terpilih adalah high sensitivity
C-Reactive Protein (hs-CRP) (2,3).

Rekomendasi untuk Pemeriksaan Laboratorium


Rekomendasi untuk pemeriksaan laboratorium adalah
sebagai berikut :
1. Dari penanda inflamasi terbaru yang dapat
diidentifikasi, hs-CRP mempunyai karakteristik
analit dan pemeriksaan yang lebih kondusif untuk
digunakan dalam praktek (rekomendasi klas IIa,
level of evidence B).
2. Pengukuran hs-CRP harus dilakukan 2 kali (nilainya
dirata-ratakan), optimalnya dengan jarak 2 minggu,
puasa atau tidak puasa pada pasien yang stabil
secara metabolik. Jika kadar hs-CRP > 10 mg/L,
pemeriksaan harus diulang dan dicari sumber infeksi
atau inflamasi pada pasien tersebut (rekomendasi
klas IIa, level of evidence B).
3. Kadar hs-CRP, menggunakan pemeriksaan yang
terstandarisasi, dikategorikan sebagai berikut :
Kategori risiko relatif dan kadar hs-CRP rata-rata
Rendah < 1,0 mg/L
Rata-rata 1,0 3,0 mg/L
Tinggi > 3,0 mg/L
(rekomendasi klas IIa, level of evidence B)

Dari penanda inflamasi yang ada saat ini, hanya


pemeriksaan hs-CRP yang secara relatif tidak mahal,
otomatisasi, dapat distandarisasi dan mempunyai presisi
yang dapat diterima. Working group merekomendasikan
bahwa hs-CRP harus diukur 2 kali, baik puasa atau tidak
puasa pada pasien yang stabil secara metabolik, dan
nilai rata-rata dinyatakan dalam mg/L. Hanya ada sedikit
variasi musim atau diurnal. Faktor yang berhubungan
dengan kadar yang meningkat meliputi tekanan darah
dan massa tubuh yang meningkat, merokok sigaret,
sindrom metabolik, diabetes mellitus dan penggunaan
estrogen dan progesteron. Individu dengan infeksi aktif,
proses inflamasi sistemik atau trauma tidak boleh
diperiksa sampai kondisi ini kembali normal (2,3).
Kadar hs-CRP >10 mg/L harus dikeluarkan dan diulang
dalam waktu 2 minggu untuk membiarkan inflamasi akut
mereda sebelum diuji ulang. Kadar yang rendah terlihat
pada pengkonsumsi alkohol moderat, kehilangan berat
badan, olah raga yang meningkat dan pengobatan dengan
statin, fibrat atau niacin (2,3).

Penggunaan hs-CRP dalam Praktek Klinik


Kadar hs-CRP tidak berkorelasi dengan baik dengan
besarnya aterosklerosis yang ditetapkan secara
angiografik dan dengan demikian mempunyai nilai yang
kecil dalam pemilihan pasien untuk prosedur arteri
koroner (2,3).
Working group menyimpulkan bahwa sangat masuk akal
untuk mengukur hs-CRP sebagai tambahan terhadap
faktor risiko utama untuk pemeriksaan risiko absolut
penyakit koroner dalam pencegahan primer lebih lanjut
(2,3).
Adanya kadar hs-CRP dengan risiko relatif tinggi (>3,0 mg/L)
menunjukkan perlunya terapi penurun risiko yang
meningkat atau dapat digunakan untuk memotivasi
beberapa pasien untuk merubah gaya hidupnya dan
diikuti dengan terapi (2,3).
Individu dengan risiko tinggi atau dengan penyakit
aterosklerosis yang sudah jelas harus ditangani tanpa
memperhitungkan kadar hs-CRP. Dengan demikian,
manfaat hs-CRP dalam pencegahan sekunder mempunyai
nilai yang terbatas (2).
Pada pasien dengan penyakit koroner yang stabil atau
sindrom koroner akut, pengukuran hs-CRP berguna
sebagai penanda independen untuk memperkirakan

kejadian rekuren, meliputi infark miokard, restenosis


setelah intervensi koroner perkutan dan kematian. Akan
tetapi, intervensi pencegahan sekunder harus tidak
tergantung pada kadar hs-CRP dan pemeriksaan hs-CRP
serial tidak boleh digunakan untuk memantau efek
pengobatan (2,3).
Ridker merekomendasikan hs-CRP untuk diukur pada
pasien rawat jalan bersamaan dengan kolesterol untuk
menentukan total risiko penyakit vaskular koroner. Jika
LDL > 160 mg/dL dan hs-CRP meningkat harus diberikan
terapi medis. Jika LDL berada di antara 130 dan 160
mg/dL, CRP yang meningkat menunjukkan
meningkatnya risiko penyakit vaskular koroner dan
informasi ini harus memberikan compliance yang lebih
baik dengan panduan pengobatan. Pada subjek dengan
LDL < 130 mg/dL CRP yang meningkat memberikan
dugaan risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan
perkiraan berdasarkan LDL saja. Pasien pada kelompok
ini harus melakukan modifikasi gaya hidup (2,3).

Rekomendasi untuk Praktek Klinik dan


Kesehatan Masyarakat
(Circulation 2003 ;107:499-511)
1. Population Science
Tidak perlu ujisaring untuk populasi umum
(rekomendasi klas III, level of evidence C).
2. Praktek klinik
- Pencegahan primer :
Untuk perkiraan risiko secara menyeluruh
pada kelompok risiko intermediet
- Pasien dengan penyakit koroner stabil atau
sindrom koroner akut :
Dapat berguna untuk stratifikasi risiko.
3. Pemeriksaan Laboratorium
- hanya hs-CRP yang harus diperiksa, dalam
mg/L
- rata-ratakan 2 hasil pemeriksaan yang
diambil dalam selang waktu 2 minggu
- untuk pencegahan primer, < 1,0 rendah,
1,0-3,0 rata-rata/menengah, > 3,0 tinggi
- untuk sindrom koroner akut, > 10 mg/L
merupakan risiko tinggi

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, AHA dan CDC telah


membuat panduan untuk penggunaan CRP pada
pencegahan primer PJK dan pada pasien dengan penyakit
koroner stabil atau sindrom koroner akut.
Dengan menggunakan pemeriksaan yang mempunyai
sensitivitas tinggi (high sensitivity CRP/hs-CRP), kadar
CRP < 1,0, 1,0 3,0 dan > 3,0 mg/L berkaitan dengan
kelompok risiko kejadian kardiovaskular di kemudian hari
yang rendah, menengah dan tinggi.
Penambahan pemeriksaan CRP pada evaluasi kolesterol
standar merupakan metode yang sederhana dan tidak
mahal untuk memperbaiki prediksi risiko secara
menyeluruh dan compliance dengan pendekatan preventif.
CRP memberikan informasi prognostik pada semua kadar
LDL seperti yang dikelompokkan oleh NCEP.
Marita Kaniawati
RUJUKAN :
1.Ridker PM. Clinical Application of C-Reactive Protein for
Cardiovascular Disease Detection and Prevention.
Circulation 2003 ; 107 : 363-369.
2.Beilby J. Summary statement from a workshop on
markers of inflammation and cardiovascular disease :
Applications to clinical and public health practice.
Clin Biochem Rev 2003 ; 24 : 71-74.
3.Pearson TA, Mensah GA, Alexander RW, Anderson JL,
Cannon III RO, Criqui M, et al. AHA/CDC Scientific Statement.
Markers of Inflammation and Cardiovascular Disease.
Application to Clinical and Public Health Practice.
A Statement for Healthcare Professionals from the Centers
for Disease Control and Prevention and the American Heart
Association. Circulation 2003 ; 107 : 499-511.
4.Rifai N, Ridker PM. Population Distribution of C-Reactive
Protein in Apparently Healthy Men and Women in the
United States : Implication for Clinical Interpretation.
Clin Chem 2003 ; 49/4 : 666-669.
5.Ledue TB, Rifai N. Preanalytic and Analytic Sources
of Variations in C-Reactive Protein Measurement :
Implications for Cardiovascular Disease Risk Assessment.
Clin Chem 2003 ; 49/8 : 1258-1271.

PENUTUP
CRP merupakan indikator inflamasi yang sudah dikenal
luas dan diketahui berperan penting dalam aterogenesis.
Studi-studi prospektif terbaru telah menunjukkan bahwa
peningkatan kadar CRP dalam interval referens merupakan
prediktor kuat untuk infark miokard, stroke, kematian
jantung tiba-tiba, dan penyakit vaskular perifer pada
populasi dewasa sehat.

SMALL, DENSE LDL PADA FAMILIAL


COMBINED HYPERLIPIDEMIA DAN
PENYAKIT KARDIOVASKULAR
PENDAHULUAN
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama
kematian pada pasien diabetes, dan risiko mortalitas
serta morbiditas secara signifikan lebih tinggi pada diabetes dibandingkan dengan nondiabetes. Beberapa
penelitian cross-sectional dan prospektif telah
mengaitkan small, dense LDL (sdLDL) terhadap penyakit
jantung koroner (1).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Vakkilainen dan
kawan kawan, ukuran LDL dan konsentrasi lipoprotein
plasma menunjukkan hubungan yang signifikan secara
statistik dengan perkembangan aterosklerosis. Hasil
penelitian ini menyatakan bahwa baik kualitas maupun
kuantitas LDL, keduanya mempengaruhi perkembangan
aterosklerosis (1).

APOLIPOPROTEIN B
Banyak bukti menunjukkan bahwa apoB plasma
merupakan indeks yang lebih baik untuk penyakit
jantung koroner daripada kolesterol total atau kolesterol
LDL. Masing-masing bukti ini penting, tetapi juga saling
menunjang satu sama lain. Bukti-bukti ini antara lain :
peningkatan jumlah sdLDL tidak hanya umum pada
pasien PJK tetapi jauh lebih umum daripada peningkatan
kolesterol LDL. Sejumlah penelitian metabolik telah
menjelaskan dasar metabolik untuk peningkatan jumlah
sdLDL, yang sangat umum pada pasien jantung.
Penelitian ini telah menunjukkan bahwa peningkatan
jumlah sdLDL merupakan hasil peningkatan sekresi VLDL
oleh hati. Penelitian juga menunjukkan bahwa pergantian
kolesterol ester dan trigliserida antara VLDL dan LDL
serta hidrolisis trigliserida di dalam LDL bertanggung
jawab dalam perubahan komposisi lipoprotein ini (2).
Penelitian in vivo dan in vitro juga telah menunjukkan
bahwa partikel LDL yang miskin kolesterol berukuran
kecil dan padat, lebih aterogenik daripada partikel LDL
dengan komposisi normal (2).
Penelitian AMORIS merupakan penelitian terbaru dan
terbesar yang menjelaskan kelebihan ApoB dibandingkan
kolesterol LDL dengan menggunakan metode yang akurat
dan terstandarisasi. ApoB lebih baik daripada kolesterol
LDL dalam berbagai perbandingan yang dilakukan dalam

penelitian ini. ApoB bersifat prediktif untuk pasien


berusia di atas dan di bawah 70 tahun, sedangkan
kolesterol LDL hanya bersifat prediktif pada pasien
berusia di bawah 70 tahun (2).
ApoB juga bersifat prediktif untuk infark miokard fatal
pada pria dan wanita, di mana kolesterol LDL hanya
bersifat prediktif pada pria. Kadar ApoB pada pengobatan
statin dapat memprediksi outcome, di mana kolesterol
LDL biasanya tidak. Hal ini merupakan manfaat utama
dari ApoB. Data ini menunjukkan bahwa jika terapi lebih
ditentukan berdasarkan ApoB daripada kolesterol LDL,
statin memiliki potensi yang lebih besar untuk
menurunkan kejadian klinik dibandingkan yang telah
dicapai saat ini (2).
Penelitian multiple cross-sectional telah menunjukkan
bahwa risiko klinik hiperTG hiperapoB lebih besar
daripada hiperTG normoapoB karena pada hiper TG
hiperapoB, kebanyakan partikel LDL berukuran lebih kecil
dan lebih padat. Pada Quebec Cardiovascular Study, risiko
meningkat 2 kali jika apoB meningkat dan terdapat LDL
besar. Tetapi risiko meningkat 6 kali jika ApoB
meningkat dan terdapat sdLDL. Karena itu, pemeriksaan
ApoB dan komposisi partikel LDL penting untuk mengukur
risiko aterogenik (2).

SMALL, DENSE LDL PADA ATEROGENESIS


Beberapa mekanisme telah dipostulasikan untuk
menjelaskan aterogenisitas yang lebih kuat untuk LDL
padat daripada LDL buoyant. LDL yang lebih kecil dan
lebih padat lebih cepat dioksidasi daripada LDL yang
lebih besar. Oksidasi LDL menyebabkan pembentukan
sel busa yang dihasilkan oleh makrofag dan pembentukan
bercak lemak di intima arteri. LDL yang memiliki
densitas 1,051 < d < 1,065 g/mL memiliki kandungan
kolesterol bebas yang lebih rendah dan resistensi
oksidatif yang lebih rendah daripada LDL yang ringan,
yang konsisten dengan hubungan terbalik antara
kandungan kolesterol bebas dan oksidabilitasnya. Faktor
lain yang dapat meningkatkan aterogenisitas LDL adalah
uptake di jaringan arteri (berhubungan terbalik dengan
ukuran partikel) dan retensi oleh dinding arteri yang lebih
lama dan dipercepat (lebih kuat pada LDL padat daripada
LDL buoyant) (3).
Segmen ApoB100 yang mengandung asam amino 3359
sampai 3367 memediasi hubungan antara LDL dan
proteoglikan kondroitin. Fosfolipid permukaan mengatur
struktur -heliks yang berperan pada muatan negatif.
Fosfolipid dapat menutupi epitop ApoB yang berfungsi
sebagai ligan pengikat terhadap proteoglikan.
Kehilangan fosfolipid juga dapat menyebabkan paparan
inti lipid yang lebih besar yang dapat bereaksi secara
nonspesifik dengan membran sel dan matriks
ekstraselular (4).

Small, dense LDL mengandung fosfolipid dan kolesterol


tak teresterifikasi yang lebih sedikit tetapi trigliserida
dan protein yang lebih banyak. Rasio kolesterol tak
teresterifikasi permukaan terhadap fosfolipid menurun,
sama seperti area permukaan yang tertutup oleh lipid
(4).
ApoB100 menggunakan area permukaan yang lebih luas
pada sdLDL dan memiliki kecenderungan yang lebih besar
untuk membentuk kompleks tak larut (4).

FAMILIAL COMBINED HYPERLIPIDEMIA (FCHL)


FCHL dihubungkan dengan peningkatan risiko penyakit
kardiovaskular prematur. FCHL awalnya ditemukan pada
keluarga yang bertahan dari infark miokard dengan
adanya hipertrigliseridemia, hiperkolesterolemia, atau
keduanya. FCHL juga ditandai dengan peningkatan ApoB
dan peningkatan jumlah partikel sdLDL dibandingkan
dengan orang yang sehat. Kecepatan sekresi ApoB VLDL
terbukti dipercepat pada pasien FCHL, di mana
kecepatan sekresi ini tetap normal pada bentuk
hipertrigliseridemia genetik yang lain dibandingkan
dengan kontrol sehat (5).
Purnell dkk memberikan bukti fisiologis untuk setidaknya
2 gangguan independent, yaitu peningkatan produksi
ApoB dan yang lain adalah resistensi insulin dengan
adanya sdLDL dan hipertrigliseridemia yang berperan
pada patogenesis FCHL (5).
Peningkatan kadar apoB dan sdLDL plasma telah terlihat
meningkatkan diagnosis FCHL. Selama 20 tahun
pemantauan terhadap subyek FCHL, peningkatan ApoB
lebih persisten daripada peningkatan kolesterol total atau
trigliserida. Pria dengan penyakit kardiovaskular
prematur dan ApoB yang meningkat memiliki FCHL, familial hypercholesterolemia (FH), atau peningkatan kadar
lipoprotein (a). Oleh karena itu, sebelum mendiagnosis
FCHL dengan menggunakan peningkatan kadar ApoB,
adanya FH dan peningkatan kadar Lp(a) harus
dikeluarkan (5).
Terlepas dari fenotipe lipid, subyek FCHL menunjukkan
peningkatan ApoB dan partikel sdLDL yang persisten
dibandingkan dengan kontrol, terlepas dari variasi kadar
dan distribusi lipoprotein plasma (5).
Ayyobi dkk menjelaskan hubungan terbalik antara
kandungan trigliserida VLDL dan kolesterol LDL pada
pasien FCHL. Tinjauan ini dapat membantu menjelaskan
proses dasar yang mempengaruhi distribusi kolesterol
lipoprotein pada FCHL. Seseorang dapat membuat
hipotesis bahwa redistribusi ApoB dan kolesterol plasma
merupakan suatu proses kunci pada perkembangan
berbagai fenotipe, menghasilkan peningkatan kadar
kolesterol total dan ApoB plasma pada semua fenotipe
FCHL. Plasma ApoB dan kolesterol pada partikel VLDL,
jika berlebihan, berhubungan dengan kadar kolesterol
yang lebih rendah secara signifikan pada partikel LDL
yang lebih besar dan lebih buoyant. Akan tetapi, efek

ini reversible dengan menurunkan kadar trigliserida


plasma, yang akhirnya menghasilkan redistribusi ApoB
dan kolesterol total dari partikel VLDL ke partikel LDL
(5).
Penurunan trigliserida yang signifikan menggunakan
gemfibrozil pada pasien dengan FCHL menghasilkan
redistribusi ApoB dan kolesterol dari partikel VLDL
menjadi partikel LDL yang besar dan buoyant (5).
Terdapat bukti yang menyatakan hubungan yang kuat
antara peningkatan lemak intra-abdominal, resistensi
insulin, dan abnormalitas lipid seperti peningkatan ApoB,
peningkatan trigliserida, kelebihan sdLDL, dan
penurunan HDL. Semua abnormalitas tersebut juga
terlihat pada FCHL (5).
Semua fenotipe menunjukkan peningkatan yang berbeda
pada sdLDL plasma dan penurunan distribusi kolesterol
relatif yang konsisten pada fraksi HDL, terlepas dari
abnormalitas lipid individu. Lebih lanjut, terdapat
peningkatan kadar ApoB plasma, walau besarnya
peningkatan untuk tipe IV lebih kecil dari tipe IIa dan IIb
(5).
Pengukuran kadar ApoB pada keadaan adanya sdLDL
merupakan alat diagnosis yang lebih baik daripada
analisis lipid klasik (5).
Pasien dengan kadar aktivitas LPL setengah normal dan
FCHL terbukti memiliki kadar trigliserida yang lebih
tinggi dibandingkan dengan pasien FCHL yang mempunyai
kadar LPL normal (5).
Tujuan Ayyobi dkk meneliti berbagai fenotipe FCHL pada
62 pasien FCHL adalah untuk memberikan pemahaman
yang lebih baik mengenai perubahan biokimia dan
biofisika yang bertanggung jawab terhadap FCHL.
Variabilitas pada fenotipe-fenotipe tampaknya diatur
oleh perbedaan distribusi ApoB baik pada fraksi VLDL
maupun LDL buoyant. Kadar ApoB meningkat pada
pasien FCHL. Walaupun sebagian ApoB plasma ada
sebagai sdLDL, sisanya ditemukan pada VLDL, yang
berada dalam keseimbangan dengan LDL besar dan
buoyant dalam plasma. Variasi kalori hari ke hari dapat
menentukan kadar ApoB dan distribusi ApoB antara VLDL
dan LDL besar dan buoyant. sdLDL selalu ada, terlepas
dari fenotipe lipid FCHL. Oleh karena itu, sdLDL
merupakan karakteristik yang paling menonjol diantara
semua fenotipe FCHL dan tidak tergantung pada kadar
lipoprotein plasma klasik (5).

PENUTUP
Small, dense LDL dan konsentrasi kolesterol LDL memiliki
efek kombinasi dalam memprediksi perkembangan
aterosklerosis koroner. Baik jumlah maupun kualitas
kolesterol LDL merupakan faktor risiko yang penting
untuk aterosklerosis (5).
Faliawati Moeliandari

RUJUKAN :
1.Vakkilainen J, Steiner G, Ansquer JC, Aubin F, Rattier S,
Foucher C, et al. Relationships Between Low-Density
lipoprotein Particle Size, Plasma Lipoproteins, and
Progression of Coronary Artery Disease. Circulation 2003;
107: 1733-1737
2.Sniderman AD. How, When, and Why to Use Apolipoprotein
B in Clinical Practice. Am J Cardiol 2002;90 (suppl):48i-54i.
3.Williams PT, Superko HR, Haskell WL, Alderman EL, Blanche
PJ, Holl LG, et al. Smallest LDL Particles Are Most Strongly
Related to Coronary Disease Progression in Men.
Arterioscler Thromb Vasc Biol 2003; 23: 314-321
4.Proctor SD, Mamo JCL. Intimal Retention of Cholesterol
Derived From Apolipoprotein B100- and Apolipoprotein
B48-Containing Lipoproteins in Carotid Arteries of
Watanabe Heritable Hyperlipidemic Rabbits. Arterioscler
Thromb Vasc Biol 2003; 23: 1595-1600
5.Ayyobi AF, McGladdery SH, McNeely MJ, Austin MA, Motulsky
Ag, Brunzell JD. Small, Dense LDL and Elevated Apolipoprotein
B Are the Common Characteristics for the Three Major Lipid
Phenotypes of Familial Combined Hyperlipidemia. Arterioscler
Thromb Vasc Biol 2003;23:1289-1294.

Hipertensi digolongkan menjadi 2 (dua) kategori, yaitu


hipertensi primer (esensial) dan sekunder. Dikatakan
hipertensi primer apabila penyebabnya belum diketahui,
sedangkan hipertensi sekunder penyebabnya telah pasti,
misalnya stenosis renal, hiperaldosteronisme primer dan
penyakit ginjal intrinsik. Hipertensi primer ditandai dengan
peningkatan tahanan vaskular sistemik. Patogenesis
hipertensi primer disebabkan oleh 2 mekanisme yang saling
mendukung yaitu renin tinggi (resisten terhadap garam)
dan renin rendah (sensitif garam) (2).

MIKROALBUMINURIA (MAU)
Mikroalbuminuria didefinisikan sebagai ekskresi sejumlah
30-300 mg albumin/24 jam (atau 20-200 g/menit atau
30-300 g/mg kreatinin) pada dua dari tiga pengumpulan
urin (6). Mikroalbuminuria terjadi karena adanya
tekanan darah yang lebih besar dalam sirkulasi
mikrovaskular. Jadi MAU dapat digunakan sebagai
penanda adanya kerusakan mikrovaskular dan prediktor
terjadinya penyakit kardiovaskular (5)
Tabel 2. Klasifikasi Albuminuria

MIKROALBUMINURIA (MAU) PADA


HIPERTENSI
PENDAHULUAN

< 30

< 20

< 30

Mikroalbuminuria

30-299

20-199

30-299

Makroalbuminuria

> 300

> 200

> 300

(Menurut Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia tahun 2002)

Hipertensi dikenal sebagai silent disease karena tidak


menunjukkan gejala seperti penyakit lainnya sehingga
seseorang umumnya tidak mengetahui dirinya menderita
hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya.
Berdasarkan data dari Framingham Heart Study, seseorang
yang bertekanan darah normal, pada usia 55 tahun
mempunyai 90% risiko terkena hipertensi. The Seventh
Report of the Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
mengklasifikasikan tekanan darah untuk dewasa (usia 18
tahun ke atas) adalah sebagai berikut (1) :
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah

Normal

< 120

dan < 80

Prehipertensi

120-139

atau 80-89

Hipertensi Tingkat I

140-159

atau 90-99

Hipertensi Tingkat II

>160

atau > 100

Normal

Seorang penderita hipertensi yang sensitif terhadap garam


dan MAU, memiliki prevalensi yang lebih besar terkena
myocardial ischemia dan penyakit kardiovaskular lainnya.
Mekanisme yang menghubungkan antara MAU dengan silent ischemia belum jelas tetapi ada hipotesis yang
mengatakan bahwa peningkatan aktivitas sistem saraf
simpatik selama olah raga atau kerusakan mikrovaskular
pada miokardium yang lebih parah berperan dalam
menghubungkan MAU dengan silent ischemia.(5)
Hal ini telah dibuktikan dengan adanya beberapa
penelitian bahwa pengukuran tekanan darah siang dan
malam hari dan pada saat berolah raga, frekuensi
terjadinya silent myocardial ischemia yang dideteksi oleh
Electrocardiography, secara signifikan lebih besar pada
orang yang menderita hipertensi primer yang sensitif
terhadap garam dengan MAU dibanding dengan yang nilai
UAE-nya normal dan resisten terhadap garam (5)

HIPERTENSI DAN MAU


Mikroalbuminuria (MAU) merupakan penanda target organ
damage dan peningkatan morbiditas dan mortalitas pada
pasien hipertensi non-diabetes. Hal ini sudah dibuktikan
secara spesifik dalam mengidentifikasi pasien dengan left
ventricularhypertrophy(LVH)dan carotidatherosclerosis(3,4)
Peningkatan Urinary Albumin Excretion (UAE) ada
hubungan dengan peningkatan insidensi komplikasi
kardiovaskular dan morbiditas, seperti left ventricular
hypertrophy, myocardial ischemia, hipertensi retinopati,
dan peningkatan ketebalan arteri carotid. Nilai prediktif
mikroalbuminuria tetap, bahkan pada saat data dikoreksi
terhadap usia, jenis kelamin, obesitas dan tingkat
tekanan darah (5).
Pada PREVEND study ditemukan hubungan antara UAE
tinggi-normal (10-20 mg/L) dengan hipertensi. Hubungan
yang berkesinambungan antara massa ventrikular kiri
dengan kecepatan UAE dari range normoalbuminuria
diamati pada pasien yang baru didiagnosis menderita
hipertensi primer. Nilai baseline UAE pada range normal
dapat menjadi prediktor untuk terjadinya
mikroalbuminuria (4).

RUJUKAN :
1. www.nhlbi.nih.gov/guidelines/hypertension/express.pdf :
The Seventh Report of the Joint National Committee
on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment
of High Blood Pressure, p.2-3
2. Callghan C and Brenner B.M. Hypertension : complication
and therapy. The Kidney at a Glance.2000; 78-81
3. Wachtell K, Olsen MH, Dahlof B, Devereux RB, Kjeldsen
SE, Nieminen MS, et al. Microalbuminuria in hypertensive
patients with electrocardiographic left ventricular
hypertrophy : The LIFE Study. Journal of Hypertension
2002; 20: 405-412.
4. Redon J, Williams B. Microalbuminuria in essential
hypertension : redefining the threshold. Journal of
Hypertension 2002; 20: 353-355.
5. Bianchi, Bigazzi, Amoroso, Campese. Silent ischemia is
more prevalent among hypertensive patients with
microalbuminuria and salt sensitivity. Journal of Human
Hypertension 2003; 17: 13-20.
6. Sacks BD, Bruns ED, Goldstein ED, Maclaren NK, McDonalds
JM, Parrot M. Guideline and Recommendations for Laboratory
Analysis in the Diagnosis and Management of Diabetes
Mellitus. Clinical Chemistry 2002; 48/3: 459.

Pada penderita hipertensi normoalbuminuria yang awalnya


tidak dirawat, dilakukan pengamatan selama 3 tahun.
Setiap peningkatan 1 mg/ 24 jam dari nilai baseline UAE
akan meningkatkan risiko mikroalbuminuria selama terapi
dengan antihipertensi sebesar 6%. Jadi pemantauan
kecepatan UAE mungkin menjadi surrogate untuk efisiensi
pengontrolan tekanan darah dan penurunan risiko
kardiovaskular (4)
Penderita hipertensi primer yang sensitif terhadap garam
memiliki nilai UAE dan penanda risiko kardiovaskular
lainnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan penderita
yang resisten terhadap garam. Jadi mungkin ada hubungan
erat antara sensitivitas terhadap garam, mikroalbuminuria
dan kejadian kardiovaskular (5)

PENUTUP
Pemeriksaan mikroalbuminuria (MAU) dapat
mengidentifikasi pasien hipertensi primer (esensial)
non-diabetes yang sensitif terhadap garam, yang dapat
meningkatkan risiko terjadinya silent ischemia dan
kardiovaskular lainnya.(5)
Mona Yolanda

Redaksi Kehormatan
Prof. DR. Dr. Marsetio Donosepoetro
Drs. Andi Wijaya
Prof. DR. Dr. FX. Budhianto Suhadi
DR. Dr. Irwan Setiabudi
Ketua Dewan Redaksi/Penanggung Jawab
Dra. Marita Kaniawati
Anggota Dewan Redaksi
Dra. Dewi Muliaty
Dra. Ampi Retnowardani
Dra. Lies Gantini
Faliawati Moeliandari S.Si
Alamat Redaksi
Laboratorium Klinik Prodia
Jl. Cisangkuy 2, Bandung 40114
Telepon: (022) 7234210 (Hunting)
Fax : (022) 7234183
e-mail: prodia@indosat.net.id
website: www.prodia.co.id

Certificate Number: 403247


Certified to QMS
Desember 2003 - 3504