PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK GERGAJI KAYU JATI (Tectona grandis L.

f) PADA MORTAR SEMEN DITINJAU DARI KUAT TEKAN, KUAT TARIK DAN DAYA SERAP AIR

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Muh Ibnu Budi Setyawan NIM 5101401001

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL 2006

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Panitia Ujian Skripsi Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Kamis : 2 Februari 2006

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Drs. Heri Suroso, ST, MT NIP : 132068385 Mengetahui,

Drs. Harjadi Gunawan BW, M.Pd NIP : 131404318

Ketua Jurusan Teknik Sipil

Drs. Lashari, M.T. NIP : 131471402

ii

PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Jumat : 10 Februari 2006 Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Lashari, MT. NIP : 131471402 Dosen Pembimbing I

Drs. Supriyono NIP : 131571560 Anggota Penguji

Drs. Heri Suroso, ST, MT NIP : 132068385 Dosen Pembimbing II

1. Drs. Heri Suroso, ST, MT NIP : 132068385

Drs. Harjadi Gunawan BW, M.Pd NIP : 131404318

2. Drs. Harjadi Gunawan BW, M.Pd NIP : 131404318

3. Drs. Gunadi MT NIP : 130870430 iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto :
Belajarlah karena manusia tidak dilahirkan pandai, dan orang berilmu tidaklah sama dengan orang bodoh (Imam Safi’i). Carilah ilmu dari mulai buaian sampai keliang lahat, (sabda Nabi) “ berdoalah dan berusahalah semaksimal mungkin dalam menghadapi sesuatu “. Sesungguhnya disamping kesukaran ada kemudahan (Qs. Al-Insyirah :5)

Kupersembahkan untuk :
Bapak dan Ibu yang saya hormati dan saya cintai. Spesial untuk (dik Ema, dik Erna, mas Taufiq dan mas Iput) yang selalu menyemangatiku. Sahabat-sahabat membantuku. Rekan-rekan sepejuangan angkata ’01 Pendidikan Teknik Bangunan.
iv

yang

selalu

SARI
Muh Ibnu Budi Setyawan. 2006. Pengaruh Penambahan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona Grandis L.F) pada Mortar Semen Ditinjau dari Kuat Tekan, Kuat Tarik dan Daya Serap Air. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Drs. Heri Suroso, ST, MT, Pembimbing II Drs. Harjadi Gunawan BW, M.Pd. Kata Kunci : Serbuk Gergaji, Kuat Tekan, Kuat Tarik, Daya Serap Air Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh penambahan serbuk gergaji kayu jati (Tectona Grandis L.f) terhadap subsitusi berat pasir dan subsitusi berat semen pada mortar semen ditinjau dari kuat tekan, kuat tarik dan daya serap air? Penelitian ini bertujuan: (1) Meningkatkan nilai tambah dan nilai guna bahan sehingga meningkatkan nilai ekonominya, diversifikasi jenis bahan konstruksi, menunjang pengadaan bahan dan sedikit banyak dapat mengatasi dampak negatif limbah industri kayu terhadap lingkungan, (2) Untuk memperoleh mortar yang dapat memberikan nilai tambah bagi limbah sehingga menjadi barang berguna dan bernilai secara ekonomis dan (3) Secara ekonomis dapat diperoleh mortar yang lebih murah dan praktis serta memiliki berat yang relatif ringan. Pada penelitian ini mortar dibuat dari pasir muntilan, Semen Nusantara type 1 dan serbuk gergaji kayu jati (Tectona grandis L.f) yang didatangkan dari pabrik penggergajian kayu di Desa Sarip Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan, Purwodadi. Benda uji yang dibuat dalam penelitian ini terdiri dari 2 macam bentuk yaitu bentuk kubus dengan ukuran 50 mm x 50 mm x 50 mm digunakan untuk pengujian kuat tekan dan daya serap air sedangkan bentuk seperti angka delapan dengan ukuran 75 mm x 50 mm x 25 mm dengan panjang sisi tengah 25 mm digunakan untuk kuat tarik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai sebar dilapangan sebesar 95% 103,5% dengan nilai fas yang dihasilkan (dari 0% hingga 20% serbuk gergaji terhadap berat pasir dan berat semen) berturut-turut bernilai antara 1,05 – 1,10, sedangkan pengujian kuat tekan dan kuat tarik dari mortar semen dengan bahan tambah serbuk gergaji kayu jati (Tectona grandis L.f) subsitusi pasir dan subsitusi semen hasilnya menurun (dibandingkan dengan mortar kontrol yaitu tanpa persentase serbuk gergaji). Penurunan nilai kuat tekan mortar semen subsitusi berat pasir dari 0% hingga 20% serbuk gergaji dari 128,740 kg/cm2 menjadi 15,279 kg/cm2 sedangkan nilai kuat tekan mortar semen subsitusi berat semen dari 0% hingga 20% serbuk gergaji dari 113,84 kg/cm2 menjadi 45,070 kg/cm2, untuk nilai kuat tarik mortar semen subsitusi berat pasir dari 0% hingga 20% serbuk gergaji dari 71,86 kg/cm2 menjadi 5,937 kg/cm2 sedangakan nilai kuat tarik mortar semen subsitusi berat semen dari 0% hingga 20% serbuk gergaji dari 78.42 kg/cm2 menjadi 24,56 kg/cm2. Berbeda dari nilai daya serap airnya yang memiliki nilai meningkat (dibandingkan dengan mortar kontrol yaitu tanpa persentase serbuk gergaji). Peningkatan daya serap air mortar semen subsitusi berat pasir dari 0% hingga 20% serbuk gergaji dari 9,569 % menjadi 46,481 % sedangakan v

nilai daya serap air mortar semen subsitusi berat semen dari 0% hingga 20% serbuk gergaji dari 11,013 % menjadi 16,015 %. Dari hasil pengujian nilai kuat tekan dan kuat tarik mortar semen dapat diketahui seberapa besar pengaruh penurunan kuat tekan dan kuat tarik dengan penambahan serbuk gergaji kayu jati. Ada pengaruh terhadap kuat tekan, kuat tarik dan daya serap air dan ada perbedaan kuat tekan, kuat tarik maupun daya serap air karena adanya penambahan serbuk gergaji kayu jati.

vi

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini, sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan gelar sarjana pendidikan pada program studi Pendidikan Teknik Bangunan di Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Dalam penyusunan skripsi ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan bimbingan, bantuan dan dukungan moril maupun materiil sehingga dapat memudahkan dalam penyelesaiannya. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Prof. Dr. Soesanto, M.Pd, Dekan FT UNNES. 2. Drs. Lashari, M.T, Ketua Jurusan Teknik Sipil FT UNNES. 3. Drs. Heri Suroso, ST, MT, Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, arahan dan evaluasi dalam Penyusunan Skipsi. 4. Drs. Harjadi Gunawan BW, M.Pd, Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, arahan dan evaluasi dalam Penyusunan Skipsi. 5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu kelancaran penelitian dan penyelesaian skripsi ini.

vii

Semoga Allah SWT berkenan memberikan balasan kepada mereka semua sesuai amalnya. Akhirnya penulis berharap semoga dengan adanya skripsi ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi kita semua.

Semarang,

Maret 2006

Penulis

viii

DAFTAR ISI

Halaman Halaman Judul ................................................................................................. Persetujuan Pembimbing ................................................................................. Pengesahan Kelulusan...................................................................................... Motto dan Persembahan .................................................................................. Sari .................................................................................................................. Kata Pengantar ................................................................................................. Daftar Isi ......................................................................................................... Daftar Tabel .................................................................................................... Daftar Gambar ................................................................................................. Daftar Lampiran .............................................................................................. BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1.1 Alasan Pemilihan Judul ............................................................. 1.2 Permasalahan ............................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................... 1.4 Manfaat ..................................................................................... 1.5 Sistematika Skripsi .................................................................... BAB II LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA................... 2.1 Mortar ......................................................................................... 2.2 Agregat Halus (Pasir) ................................................................ 2.3 Semen Portland ......................................................................... i ii iii iv v vii ix xi xii xiv 1 1 4 4 5 5 7 7 15 20

ix

2.4 Air ............................................................................................. 2.5 Serbuk Kayu Jati ....................................................................... BAB III METODE PENELITIAN ............................................................. 3.1 Bahan Penelitian ....................................................................... 3.2 Alat Penelitian ........................................................................... 3.3 Pelaksanaan Penelitian .............................................................. 3.4 Variabel Penelitian .................................................................... 3.5 Cara Menganalisis Data ............................................................ BAB IV PENGOLAHAN DATA, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................................................. 4.1 Hasil Pemeriksaan Bahan .......................................................... 4.2 Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan Benda uji ........... 4.3 Nilai Sebar dan Faktor Air Semen (Fas) ................................... 4.4 Kebutuhan Bahan Tiap 1 M3 Mortar Setiap Adukan Mortar Berdasarkan faktor Air Semen Yang Digunakan ....................... 4.5 Hasil Pengujian Kuat Tekan Mortar Semen ............................ 4.6 Hasil Pengujian Daya Serap Air Mortar Semen ...................... 4.7 Hasil Pengujian Kuat Tarik Mortar Semen ............................... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 5.1 Kesimpulan ............................................................................... 5.2 Saran ......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... LAMPIRAN-LAMPIRAN

23 24 30 30 31 34 44 44

47 47 49 50

53 60 65 65 70 70 72 73

x

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1 : Susunan Unsur Semen Biasa ........................................................ Tabel 2.2 : Sifat-sifat Kayu Jati ...................................................................... Tabel 2.3 : Komponen-komponen Kayu ......................................................... Tabel 2.4 : Kembang Susut Kayu pada Berbagai Arah .................................. Tabel 3.1 : Valiabel Penelitian ........................................................................ 21 25 27 29 44

Tabel 4.1 : Rencana Adukan dan Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan (Mix Design) Benda Uji terhadap Perbandingan Berat Pasir ........ 50 Tabel 4.2 : Rencana Adukan dan Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan (Mix Design) Benda Uji terhadap Perbandingan Berat Semen ..... 50 Tabel 4.3 : Hasil Pemeriksaan Nilai Sebar dan Faktor Air Semen (fas) untuk Setiap Adukan Mortar Semen .......................................................

41

Tabel 4.4 : Kebutuhan Bahan Tiap 1 M3 Mortar Semen terhadap Perbandingan Berat Pasir ..................................................................................... 54 Tabel 4.5 : Kebutuhan Bahan Tiap 1 M3 Mortar Semen terhadap Perbandingan Berat Semen .................................................................................. 54 Tabel 4.6 : Hasil Pengujian Kuat Tekan Mortar Semen Pada Umur 28 Hari . Tabel 4.7 : Hasil Pengujian Daya Serap Air Mortar Semen Pada Umur 28 Hari ................................................................................ Tabel 4.8 : Hasil Pengujian Kuat Tarik Mortar Semen Pada Umur 28 Hari . 55

60 65

xi

DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 : Hubungan Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Kuat Tekan Bata Beton 1 : 6 ..................................................................... : Hubungan antara Kuat Tekan dan Porositas .........................

11 14

Gambar 2.2 Gambar 2.3

: Hubungan Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Daya Serap Air Bata Beton 1 : 6 ..................................................................... 14 : Pengembangan Volume Pasir akibat Kandungan Air ........... : Hubungan Kadar Air dengan Volume Pasir .......................... : Struktur Selulosa ................................................................... : Benda Uji Tarik Mortar dan Alat Uji Tarik Mortar .............. : Pemeriksaan Kelecekan Adonan Mortar ............................... : Skema Penekanan Benda Uji ................................................ : Hubungan antara Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Nilai Sebar ............................................................................. : Hubungan antara Berat Serbuk Gergaji dengan Nilai Sebar . : Hubungan Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Kuat Tekan Mortar Subsitusi Berat Pasir dan Subsitusi Berat Semen....... 19 19 27 33 40 42

Gambar 2.4 Gambar 2.5 Gambar 2.6 Gamabr 3.1 Gambar 3.2 Gambar 3.3 Gambar 4.1

51 52

Gambar 4.2 Gambar 4.3

55

Gambar 4.4 : Hubungan Berat Serbuk Gergaji dengan Kuat Tekan Mortar Semen ........................................................................ Gambar 4.5 Gambar 4.6 : Hubungan Berat Semen dengan Kuat Tekan Mortar Semen

57 59

: Hubungan Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Daya Serap Air Mortar Subsitusi Berat Pasir dan Subsitusi Berat Semen....... 61 : Hubungan Berat Serbuk Gergaji dengan Daya Serap Air Mortar Semen ........................................................................

Gambar 4.7

62

xii

Gambar 4.8

: Hubungan Pasta Semen dengan Daya Serap Air Mortar Semen .................................................................................... : Hubungan Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Kuat Tarik Mortar Subsitusi Berat Pasir dan Subsitusi Berat Semen.......

63

Gambar 4.9

66

Gambar 4.10 : Hubungan Berat Serbuk Gergaji dengan Kuat Tarik Mortar Semen ........................................................................

67

xiii

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 : Hasil Pemeriksaan Berat Jenis Pasir ..................................... : Hasil Pemeriksaan Gradasi Pasir dan Berat Satuan Pasir ..... : Hasil Pemeriksaan Butir yang Lewat Ayakan No. 200 dan Kandungan Zat Organis ......................................................... : HasilPemeriksaan Berat Jenis, Bobot Isi dan Kadar Air Kayu Jati................................................................................. : Hasil Pemeriksaan Kadar Air Serbuk Gergaji Kayu Jati Sebelum Direndam dan Setelah Direndam ............................ : Hasil Pemeriksaan Gradasi Serbuk Gergaji Kayu Jati dan Berat Satuian Serbuk Gergaji Kayu Jati ................................ : Diagram Gradasi .................................................................... : Rencana Adukan dan Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan (Mix Design) Benda Uji ........................................... : Pengujian Nilai Sebar dan F.A.S ........................................... 75 76

77

Lampiran 4

78

Lampiran 5

79

Lampiran 6

80 81

Lampiran 7 Lampiran 8

83 86

Lampiran 9

Lampiran 10 : Kebutuhan Bahan Tiap 1 M3 Mortar untuk Setiap Adukan Mortar berdasarkan Faktor Air Semen yang Digunakan........ Lampiran 11 : Hub. antara Berat Serbuk Gergaji, Berat Semen dgn Kuat Tekan dan Hub. antara Berat Serbuk Gergaji, pasta Semen dgn Daya Serap Air serta hub. Antara Berat Serbuk Gergaji dgn Kuat Tarik .......................................................................

90

93

Lampiran 12 : Pengujian Kuat Tekan Mortar Semen ................................... 107 Lampiran 13 : Pengujian Daya Serap Air ..................................................... 108 Lampiran 14 : Pengujian Kuat Tarik Mortar Semen ..................................... 109 Lampiran 15 : Surat Penetapan Pembimbing Skripasi Mahasiswa ............... 110 Lampiran 16 : Ijin Penggunaan Laboratorium jurusan Teknik Sipil FT UNNES ............................................................................ 111 Lampiran 17 : Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian .................................... 112 xiv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diakhir abad lalu demikian pesat, bahkan diabad 21 IPTEK akan menjadi ciri utama dalam hidup manusia. Hanya manusia yang berkualitas, yang mampu mengembangkan, menyerap dan mengolah iptek secara benar, akan berhasil menjawab tantangan jaman. Peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara terus menerus dan benar akan mampu menghantarkan manusia untuk mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada, guna mencapai peningkatan dan pemerataan kesejahteraan serta kemakmuran masyarakat, bangsa dan negara. Sumber daya alam di negara kita tersedia cukup melimpah, namun tidak bisa dikatakan tak terbatas, bahkan kadang-kadang cukup menggelisahkan.

Pemanfaatan sumber daya alam haruslah diusahakan sehingga mencapai daya guna dan tepat guna yang sebesar-besarnya, dengan demikian optimasi dapat dicapai. Dalam sejarah selalu menuntut untuk meningkakan pembangunan sarana dan prasarana yang dianggap vital oleh suatu negara, misalnya pembangunan perumahan, perkantoran ataupun untuk pendidikan. Oleh karena itu diperlukan suatu kreatifitas dalam menciptakan kreasi kontruksi dengan melakukan rekayasarekayasa konstruksi yang bersifat sederhana maupun yang fundamental. Namun dalam rekayasa kontruksi ini harus diperhatikan juga bagaimana tingkat keamanan 1

2

dan kelayakan dari rekayasa tersebut di dalam perekayasaan kontruksi bangunan suatu gedung, misalnya mortar yang digunakan sebagai plesteran dinding bata perlu dilakukan perekayasaan tanpa meninggalkan faktor keamanan. Mortar (sering disebut juga mortel atau spesi) adalah campuran yang terdiri dari pasir, bahan perekat serta air, dan diaduk sampai homogen. Mortar mempunyai fungsi yang penting dalam suatu bangunan seperti pada pekerjaan pasangan pondasi, pasangan batu bata ataupun pada pekerjaan dinding. Khusus untuk pekerjaan dinding, sekarang banyak dijumpai pekerjaan dinding yang retak pada plesterannya dan tidak kedap air, akibat dari retaknya plesteran yang ada pada pasangan diding akan mengakibatkan pada pasangan dinding ini selalu terlihat basah akibatnya rembesan air dari bagian luar dinding yang dapat menyebabkan rusaknya cat dan timbulnya jamur pada dinding tersebut. Untuk saat ini campuran mortar yang banyak dipakai untuk plesteran dinding menggunakan perbandingan semen dan pasir adalah 1 : 2, hingga 1 : 6, tetapi dengan campuran yang ada ini masih terdapat banyak kelemahannya. Melihat kenyataan tersebut diatas, disuatu sisi kebutuhan manusia akan perumahan semakin meningkat dan di sisi lain semakin mahalnya harga bangunan, sementara limbah industri kehutanan yang begitu besar belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan, maka penulis terdorong untuk meneliti masalah pemanfaatan limbah industri kehutanan tersebut, khususnya serbuk gergaji sebagai bahan isian pada mortar semen.

3

Pada saat ini serbuk gergaji merupakan permasalahan aktual yang sering kali menjadi beban bagi industri perkayuan karena selain makan tempat juga kurang sedap dipandang dan hanya sebagaian kecil yang dimanfaatkan yaitu sebagai bahan bakar di pedesaan. Upaya yang telah dilakukan dalam memanfaatkan serbuk gergaji pada industri bahan bangunan antara lain untuk pembuatan papan semen (cementboard), papan partikel (partikcleboard), dan mortar ringan. Menurut Kurdi (1987, dalam Ismeddiyanto (1998)) keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan bahan tersebut adalah a. Memiliki berat yang relatif ringan sehingga sangat cocok digunakan untuk bangunan bertingkat tinggi. b. Memiliki daya hantar panas dan listrik yang relatif rendah. c. Mempunyai sifat isolasi dan akustik yang baik sehingga bahan ini cocok untuk ruang kedap suara. d. Relatif lebih tahan terhadap serangan rayap dan jamur dibandingkan dengan papan kayu, karena selain berfungsi sebagai perekat pasta semen juga berfungsi sebagai pelindung (isolator) dan pengawat serbuk gergaji dari pengaruh lingkungan yang merusak. Dengan memanfaatkan serbuk gergaji sebagai bahan isian pada mortar semen diharapkan diperoleh keuntungan dari bahan dan dapat meningkatkan nilai tambah dan nilai guna bahan sehingga dapat meningkatkan nilai ekonominya, diversifikasi jenis bahan konstruksi, menunjang pengadaan bahan dan sedikit banyak dapat mengatasi dampak negatif limbah industri kayu terhadap lingkungan.

4

Tidak ada bahan (material) yang ada di dunia ini yang tidak dapat dimanfaatkan. Setiap bahan pasti dapat dimanfaatkan asalkan sesuai dengan bidangnya (Gurcharan Singh 1979, dalam Tjokrodimuljo 2004). Berdasarkan uraian tersebut diatas maka mendorong peneliti untuk mengangkat dalam bentuk skripsi dengan judul : “Pengaruh Penambahan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona Grandis L.F) pada Mortar Semen Ditinjau dari Kuat Tekan, Kuat Tarik dan Daya Serap Air”.

1.2 Permasalahan Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang diajukan dalam penelitian adalah seberapa besar pengaruh penambahan serbuk gergaji kayu jati (Tectona Grandis L.f) terhadap subsitusi berat pasir dan subsitusi berat semen pada mortar semen ditinjau dari kuat tekan, kuat tarik dan daya serap air.

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Meningkatkan nilai tambah dan nilai guna bahan sehingga meningkatkan nilai ekonominya, diversifikasi jenis bahan konstruksi, menunjang pengadaan bahan dan sedikit banyak dapat mengatasi dampak negatif limbah industri kayu terhadap lingkungan. 2. Untuk memperoleh mortar yang dapat memberikan nilai tambah bagi limbah sehingga menjadi barang berguna dan bernilai secara ekonomis. 3. Secara ekonomis dapat diperoleh mortar yang lebih murah dan praktis serta memiliki berat yang relatif ringan.

5

1.4 Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini maka diharapkan limbah serbuk gergaji Kayu Jati (Tectona grandis L.f) dari pabrik penggergajian kayu di desa Sarip Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan, Purwodadi dapat dimanfaatkan sebagai bahan agregat pengganti sebagian pasir dan semen pada adukan mortar semen, sehingga dapat digunakan untuk menghasilkan mortar yang sesuai dengan kebutuhan.

1.5 Sistematika Skripsi Secara garis besar skripsi dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian awal, bagian inti dan bagian akhir skripsi. 1. Bagian awal terdiri atas halaman judul, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran dan sari. 2. Bagian inti skripsi terdiri dari lima bab yaitu : BAB I : PENDAHULUAN Pendahuluan berisi alasan pemilihan judul, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian skripsi dan sistematika skripsi. BAB II : LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA Teori-teori tentang landasan berpikir secara ilmiah. Hubungan bahan penelitian yang dijadikan landasan teori dalam penelitian ini adalah mortar, agregat halus, semen Portland, air dan serbuk gergaji kayu jati (Tectona grandis L.f).

6

BAB III : METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah cara atau strategi yang ditentukan untuk melaksanakan penelitian dan hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan. Hal-hal yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bahan penelitian, alat penelitian, pelaksanaan penelitian dan cara analisis data. BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasannya. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan berisi rangkuman hasil penelitian yang ditarik dari analisis data dan pembahasan. Saran berisi masukan yang berkaitan dengan penelitian. 3. Bagian akhir skripsi yang terdiri dari daftar pustaka dan lampiran-lampiran

.

BAB II LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mortar Mortar (sering disebut juga mortel atau spesi) adalah campuran yang terdiri dari pasir, bahan perekat serta air, dan diaduk sampai homogen. Pasir sebagai bahan bangunan dasar harus direkatkan dengan bahan perekat. Bahan perekat yang digunakan dapat bermacam-macam, yaitu dapat berupa tanah liat, kapur, semen merah (bata merah yang dihaluskan), maupun semen potland. (Tjokrodimuljo 1996:125).

2.1.1 Jenis mortar Tjokrodimuljo (1996:125) membagi mortar berdasarkan jenis bahan ikatnya menjadi empat jenis, yaitu mortar lempung/lumpur, mortar kapur, mortar semen dan mortar khusus. 2.1.1.1 Mortar lumpur Mortar lumpur diperoleh dari campuran pasir, lumpur/tanah liat dengan air. Pasir, tanah liat dan air tersebut dicampur sampai rata dan mempunyai kelecakan yang cukup baik. Jumlah pasir harus diberikan secara tepat untuk memperoleh adukan yang baik. Terlalu sedikit pasir menghasilkan mortar yang retak-retak setelah mengeras sebagai akibat besarnya susutan pengeringan. Terlalu banyak pasir menyebabkan adukan kurang dapat melekat dengan baik. Mortar jenis ini digunakan sebagai bahan tembok atau tungku api di pedesaan.

7

8

2.1.1.2 Mortar kapur Mortar kapur dibuat dari campuran pasir, kapur, semen merah dan air. Kapur dan pasir mula-mula dicampur dalam keadaan kering kemudian ditambahkan air. Air diberikan secukupnya untuk memperoleh adukan dengan kelecakan yang baik. Selama proses pelekatan kapur mengalami susutan sehingga jumlah pasir yang umum digunakan adalah tiga kali volume kapur. Kapur yang dapat digunakan adalah fat lime dan hydraulic lime. 2.1.1.3 Mortar semen Mortar semen merupakan campuran semen, pasir dan air pada proporsi yang sesuai. Perbandingan volume semen dan pasir bekisar pada 1 : 2 sampai dengan 1 : 6 atau lebih tergantung penggunaannya. Mortar semen lebih kuat dari jenis mortar lain, sehingga mortar semen sering digunakan untuk tembok, pilar, kolom atau bagian-bagian lain yang menahan beban. Karena mortar ini rapat air, maka juga sering digunakan untuk bagian luar dan yang berada di bawah tanah. Dalam adukan beton atau mortar, air dan semen membentuk pasta yang disebut pasta semen. Pasta semen ini selain mengisi pori-pori diantara butir-butir agregat halus, juga bersifat sebagai perekat atau pengikat dalam proses pengerasan, sehingga butiran-butiran agregat saling terikat dengan kuat dan terbentuklah suatu massa yang kompak atau padat (Tjokrodimuljo 1996:5). 2.1.1.4 Mortar khusus Mortar khusus dibuat dengan menambahkan bahan khusus pada mortar kapur dan mortar semen dengan tujuan tertentu. Mortar ringan diperoleh dengan menambahkan asbestos fibres, jutes fibres (serat alami), butir – butir kayu, serbuk

9

gergaji kayu, serbuk kaca dan lain sebagainya. Mortar khusus digunakan dengan tujuan dan maksud tertentu, contohnya mortar tahan api diperoleh dengan penambahan serbuk bata merah dengan aluminous cement, dengan perbandingan satu aluminous cement dan dua serbuk batu api. Mortar ini biasanya di pakai untuk tungku api dan sebagainya.

2.1.2 Sifat-sifat mortar Menurut Tjokrodimuljo (1996:126) mortar yang baik harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : a. Murah. b. Tahan lama. c. Mudah dikerjakan (diaduk, diangkat, dipasang dan diratakan). d. Melekat dengan baik dengan bata, batu dan sebagainya. e. Cepat kering dan mengeras. f. Tahan terhadap rembesan air. g. Tidak timbul retak-retak setelah dipasang. Pemakaian mortar pada kondisi bangunan tertentu disyaratkan untuk memenuhi mutu adukan yang tertentu pula. Sebagai contoh untuk bangunan gedung bertingkat banyak diisyaratkan menggunakan mortar yang kuat tekan minimumnya 3,0 Mpa.

2.1.3

Kuat tekan mortar Kuat tekan adalah kemampuan mortar untuk menahan gaya luar yang datang

pada arah sejajar serat yang menekan mortar. Mortar yang digunakan untuk bahan

10

bangunan harus mempunyai kekuatan terutama untuk pasangan dinding batu bata, pasangan dinding batako atau pasangan dinding yang lainnya (Anni Susilowati dkk 1996, dalam Taufiq Bintang (2005:10)). Pasangan dinding menerima beban tekan yang diakibatkan oleh pengaruh dari atas, angin, atau gaya samping lainnya. Di Indonesia sampai sekarang belum ada persyaratan yang mengisyaratkan kekuatan adukan mortar, hanya untuk kondisi tertentu dianjurkan menggunakan jenis campuran tertentu pula. Beberapa negara sudah memiliki standar yang mencantumkan kekuatan adukan mortar. ASTM C 270 mencantumkan persyaratan mortar sebagai berikut : 2.1.3.1 Adukan tipe M Adukan tipe M adalah adukan dengan kuat tekan yang tinggi, dipakai untuk dinding bata bertulang, dinding dekat tanah, pasangan pondasi, adukan pasangan pipa air kotor, adukan dinding penahan dan adukan untuk jalan. Kuat tekan minimumnya adalah 175 kg/cm2. 2.1.3.2 Adukan tipe N Adukan tipe N adalah adukan dengan kuat tekan sedang, dipakai bila tidak disyaratkan menggunakan tipe M, tetapi diperlukan daya rekat tinggi serta adanya gaya samping. Kuat tekan minimum 124 kg/cm2. 2.1.3.3 Adukan tipe S Adukan tipe S adalah adukan dengan kuat tekan sedang, dipakai untuk pasangan terbuka diatas tanah. Kuat tekan minimum 52,5 kg/cm2.

11

2.1.3.4 Adukan tipe O Adukan tipe O adalah jenis adukan dengan kuat tekan rendah, dipakai untuk konstruksi dinding yang tidak menahan beban yang tidak lebih dari 7 kg/cm2 dan gangguan cuaca tidak berat. Kuat tekan minimumnya adalah 24,5 kg/cm2. 2.1.3.5 Adukan tipe K Adukan tipe K adalah adukan dengan kuat tekan rendah, dipakai untuk pasangan dinding terlindung dan tidak menahan beban, serta tidak ada persyaratan mengenai kekuatan. Kekuatan minimum 5,25 kg/cm2. Hubungan antara konsentrasi serbuk gergaji dan kuat tekan bata beton yang terdapat pada gambar 2.1 oleh Ismeddiyanto (1998:50) dinyatakan bahwa, kuat tekan bata beton akan semakin menurun dengan bertambahnya kandungan serbuk gergaji dalam campuran.

Gambar 2.1. Hubungan Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Kuat Tekan Bata beton 1 : 6 (Ismeddiyanto 1998:50).

12

2.1.4

Kuat Tarik Mortar Kuat tarik adalah ukuran kuat mortar yang diakibatkan oleh suatu gaya yang

cenderung untuk memisahkan sebagian mortar akibat tarikan. Untuk mengetahui mutu mortar biasanya dilakukan pengujian. Uji kuat tarik dilakukan dengan membuat mortar dalam bentuk seperti angka delapan. Benda uji ini setelah keras kemudian ditarik dengan uji cemen briquettes. Nilai kuat tarik yang diperoleh dihitung dari besar beban tarik maksimum (N) dibagi dengan luas penampang yang terkecil (mm2) Tjokrodimuljo (1996:126). Menurut Soroushian dan Bayashi, (1987 dalam Sudarmoko (2000:4)) kelemahan struktur berbahan dasar beton/mortar adalah kuat tarik yang rendah sehingga akan segera retak jika mendapat tegangan tarik. Beberapa peneliti terdahulu telah mengadakan percobaan-percobaan untuk memperbaiki sifat kurang baik, yaitu kuat tarik dan lentur yang rendah dengan cara penambahan bahan tambah, baik yang bersifat kimiawi maupun fisikal pada adukan. Penambahan bahan kimiawi pada umumnya bersifat menambah

kemampatan dengan cara mempertinggi workabilitas sehingga rongga-rongga yang berisi udara dapat dieliminir sekecil mungkin. Kecuali penambahan bahan kimiawi, peningkatan kualitas dapat dilakukan secara fisikal, yaitu dengan penambahan serat yang diharapkan dapat menambah kekuatan dalam segala arah sehingga dapat meningkatkan kuat lentur. Ide dasar penambahan serat ini adalah memberi tulangan pada adukan beton/mortar dengan serat yang disebarkan secara merata dengan orientasi random, sehingga dapat mencegah retakan-retakan yang terlalu dini akibat pembebanan.

13

2.1.5 Daya Serap Air Mortar Daya serap air adalah Persentase berat air yang mampu diserap oleh suatu agregat jika direndam dalam air. Pori dalam butir agregat mempunyai ukuran dengan variasi cukup besar. Pori-pori tersebar di seluluh butiran, beberapa merupakan pori-pori yang tertutup dalam materi, beberapa yang lain terbuka terhadap permukaan butiran. Beberapa jenis agregat yang sering dipakai mempunyai volume pori tertutup sekitar 0% sampai 20% dari volume butirnya. (Tjokrodimuljo, 1996:28). Menurut Tjokrodimuljo (1996:1) menyatakan bahwa dalam adukan beton atau mortar, air dan semen membentuk pasta yang disebut pasta semen. Pasta semen ini selain mengisi pori-pori diantara butir-butir agregat halus, juga bersifat sebagai perekat atau pengikat dalam proses pengerasan, sehingga butir-butiran agregat saling terikat dengan kuat dan terbentuklah suatu massa yang kompak atau padat. Penyebab semakin meningkatnya daya serap air adalah semakin meningkatnya porositas mortar semen akibat kelebihan air yang tidak bereaksi dengan semen. Air ini akan menguap atau tinggal dalam mortar semen yang akan menyebabkan terjadinya pori-pori (capillary pores) pada pasta semen sehingga akan menghasilkan pasta yang porous, hal ini akan menyebabkan semakin berkurangnya kekedapan air mortar semen. Hubungan antara kuat tekan dan porositas diperlihatkan pada gambar pada Gambar 2.2.

14

Gambar 2.2. Hubungan antara Kuat Tekan dan Porositas (Kusuma 1991, dalam Ismeddiyanto (1998:21)). Hubungan antara konsentrasi serbuk gergaji dan daya serap air bata beton (pada gambar 2.3) oleh Ismeddiyanto (1998) dinyatakan bahwa, daya serap air bata beton akan semakin meningkat dengan bertambahnya kandungan serbuk gergaji dalam campuran.

Gambar 2.3. Hubungan Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Daya Serap Air Bata Beton 1 : 6 (Ismeddiyanto 1998:57)

15

2.2

Agregat Halus (Pasir) Agregat halus (pasir) adalah bahan batuan halus yang terdiri dari butiran

sebesar 0,14 mm sampai 5 mm didapat dari hasil diintegrasi batu alam (natural sand) atau dapat juga pemecahanya (artifical sand), dari kondisi pembentukan tempat terjadinya pasir alam dapat dibedakan atas : pasir galian, pasir sungai, pasir laut yaitu bukit-bukit pasir yang dibawa ke pantai (Soetjipto 1978, dalam Setyono (2003)). Agregat adalah butir mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar atau beton. Agregat ini menempati kurang lebih 70% dari volume mortar atau beton, sehingga akan sangat berpengaruh terhadap kekuatannya. Persyaratan pasir menurut PUBI 1982 agar dapat digunakan sebagai bahan bangunan adalah sebagai berikut : a. Pasir beton harus bersih. Bila diuji dengan memakai larutan pencuci khusus, tinggi endapan pasir yang kelihatan dibandingakan tinggi seluruhnya endapan tidak kurang dari 70%. b. Kandungan bagian yang lewat ayakan 0,063 mm (Lumpur) tidak lebih besar dari 5% berat. c. Angka modulus halus butir terletak antara 2,2 sampai 3,2 bila diuji memakai rangkaian ayakan dengan mata ayakan berukuran berturut-turut 0,16 mm, 0,315 mm, 0,63 mm, 1,25 mm, 2,5 mm, dan 10 mm dengan fraksi yang lewat ayakan 0,3 mm minimal 15% berat.

16

d. Pasir tidak boleh mengandung zat-zat organik yang dapat mengurangi mutu beton. Untuk itu bila direndam dalam larutan 3% NaOH, cairan di atas endapan tidak boleh lebih gelap dari warna larutan pembanding. e. Kekekalan terhadap larutan MgSO4, fraksi yang hancur tidak lebih dari 10% berat. f. Untuk beton dengan tingkat keawetan yang tinggi, reaksi pasir terhadap alkali harus negatif.

2.2.1

Berat Jenis Agregat Halus (Pasir) Berat jenis agregat adalah rasio antara massa padat agregat dan massa air

dengan volume sama pada suhu yang sama. Berdasarkan hal ini maka agregat dibedakan menjadi (Tjokrodimuljo 1996:16) : a. Agregat normal, dengan berat jenisnya antara 2,5 sampai 2,7. b. Agregat berat dengan berat jenis lebih dari 2,8. c. Agregat ringan dengan berat jenis kurang dari 2,0. Karena butiran agregat umumnya mengandung pori-pori yang ada dalam butiran / tidak saling berhubungan, maka berat jenis agregat dibedakan menjadi dua istilah, yaitu (Tjokrodimuljo 1996) : a. Berat jenis mutlak, jika volume benda padatnya tanpa pori. b. Berat jenis semu, jika volume benda padatnya termasuk pori-pori tertutupnya.

2.2.2

Gradasi Agregat Halus (Pasir) Gradasi agregat didefinisikan sebagai distribusi ukuran butiran agregat yang

biasanya dianalisa dengan suatu susunan ayakan. Selain ditentukan oleh bahan

17

penyusunnya kekuatan mortar atau beton juga ditentukan oleh gradasi agregat. Besar persentase suatu fraksi agregat tertentu menyatakan besar volume butir fraksi tersebut. Oleh karena itu nilai persentase sebaiknya dalam volume padat, terutama jika berat jenis butir-butir agregat tidak sama. Agregat mempunyai gradasi yang baik jika distribusi butirnya beragam, sehingga memiliki volume pori yang kecil. Hal ini terjadi karena pori-pori diantara butiran yang sama besar diisi oleh butiran yang lebih kecil. Sebaliknya apabila butir agregat memiliki ukuran yang seragam maka volume porinya besar, sehingga kepadatannya menjadi lebih rendah dan mortar ataupun beton yang terbentuk akan memiliki kekuatan yang rendah. Menurut peraturan di Inggris (British Standard) yang juga di pakai di Indonesia saat ini (dalam SK SNI T-15-1990-03) kekasaran pasir dapat dibagi menjadi empat kelompok menurut gradasinya yaitu pasir kasar (daerah I), pasir agak kasar (daerah II), pasir agak halus (daerah III) dan pasir halus (daerah IV).

2.2.3

Berat Satuan Agregat Halus (Pasir) Berat satuan agregat adalah berat agregat dalam satu satuan volume yang

dinyatakan dalam kg/liter atau ton/m3. Berat satuan dihitung berdasarkan berat agregat dalam suatu tempat tertentu, volume yang dihitung adalah volume padat (meliputi pori tertutup) dan volume pori terbuka. Berat satuan pasir digolongkan dalam agregat normal, dengan berat satuan agregat normal berkisar antara 1,2 – 1,6. (Tjokrodimuljo 1996:16).

18

2.2.4

Kadar Air Agregat Halus (Pasir) Keadaan air dalam agregat dibedakan menjadi beberapa tingkat yaitu

(Tjokrokrodimuljo 1996:29): a. Kering tungku ; benar-benar tidak berair sehingga dapat secara penuh menyerap air. b. Kering udara ; butir-butir agregat kering permukaannya tetapi mengandung sedikit air dalam porinya sehingga pasir dalam tingkat ini masih dapat sedikit mengisap air. c. Jenuh kering muka ; tidak ada air dipermukaan tetapi butir-butirnya berisi sejumlah yang dapat diserap sehingga butiran-butiran agregat pada tahap ini tidak menyerap dan juga tidak menambah jumlah air bila dipakai dalam campuran adukan beton. d. Basah ; butir mengandung banyak air, tetapi dipermukaan maupun didalam butiran, sehingga bila dipakai dalam campuran akan memberi air. Keadaan jenuh kering-muka (saturated surface-dry, SSD) lebih disuka sebagai standar. Dalam perhitungan air pada adukan beton, biasanya agregat dianggap dalam keadaan jenuh kering muka, sehingga jika keadaan agregat dilapangan kering udara maka dalam adukan beton akan menyerap air, namun jika keadaan dilapangan dalam keadaan basah maka akan menambah air. Volume pasir biasanya mengembang bila sedikit mengandung air. Tetapi pada titik tertentu, volume pasir ini mulai berkurang bila kandungan air terus bertambah. Pada saat penambahan volume pasir sama dengan nol maka volume

19

pasir menjadi sama dengan volume pasir kering. Hubungan pengembangan volume pasir dengan kadar air diperlihatkan pada gambar 2.4 dan gambar 2.5.

Gambar 2.4. Pengembangan Volume Pasir Akibat Kandungan Air (Tjokrodimuljo 1996:44)

Gambar 2.5. Hubungan Kadar Air dengan Volume Pasir (Aji 1996, dalam Suroso (2001:12))

2.2.5

Modulus Halus Butir Selain gradasi, pada agregat juga dikenal suatu indeks yang dipakai untuk

menggambarkan ukuran kehalusan atau kekasaran butiran agregat. Indeks tersebut dikenal sebagai modulus halus butir (mhb). Modulus halus butir didefinisikan

20

sebagai jumlah persentasi kumulatif dari butir-butir agregat yang tertinggal di atas suatu set ayakan dan kemudian dibagi seratus. Makin besar nilai modulus halus butir suatu agregat, menunjukkan semakin besar atau kasar ukuran butir-butir agregatnya. Sebalikknya jika modulus halus butirnya kecil, menunjukkan semakin kecil atau halus butir agregatnya. Pada umumnya pasir memiliki modulus halus butir antara 1,5 sampai 3,8 kerikil biasanya antara 5 sampai 8 dan modulus halus butiran untuk campuran antara kerikil dan pasir berkisar antara 5,0 sampai 6,5.

2.3 Semen Portland Semen portland merupakan bahan ikat yang penting dan banyak dipakai dalam pembangunan fisik, karena semen berfungsi sebagai bahan perekat dan mengikat butir-butir agregat menjadi suatu massa yang kompak. Menurut PUBI 1982 pengertian semen portland adalah semen hidraulis yang dihasilkan dari proses penghalusan klinker yang terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidraulis, dengan gips sebagai bahan tambah. Semen Portland diperoleh dengan membakar suatu campuran dari calcareous (yang mengandung kalsium karbonat) dan algillaceaus (yang mengandung alumina) dengan suatu perbandingan tertentu serta silikat-silikat kalsium. Bahan-bahan tersebut dibakar dengan suhu 1550°C dan menjadi klinker. Kemudian didinginkan dan dihaluskan menjadi bubuk. Pada campuran ini umumnya ditambahkan lagi gips atau kalsium sulfat (CaSO4) kira-kira 2-4% sebagai bahan pengontrol waktu ikat. Bahan-bahan lain juga ditambahkan untuk membuat semen dengan sifat-sifat khusus.

21

Sifat-sifat semen tergantung dari bahan kimia penyusunnya. Bila ditinjau dari susunan oksida semen portland, maka bahan dasar semen terdiri dari kapur (CaO), silica (SiO2), alumina (Al2O3), dan oksida besi (Fe2O3). Karena umumnya bahan dasar semen diambil dari alam (batu kapur dan tanah liat), maka oksida lain yang tidak penting harus dibatasi, sehingga susunan unsur semen yang dihasilkan seperti pada tabel 2.1. Tabel 2.1. Susunan Unsur Semen Biasa Nama Unsur Rumus Kimia Oksida Kapur CaO Silikat SiO2 Alumina Al2O3 Besi Fe2O3 Magnesia MgO Sulfur SO3 Soda/Potash Na2O+K2O Sumber : Tjokrodimuljo 1996:6 Jumlah (0%) 60 – 65 17 – 25 3–8 0,5 – 6 0,5 – 4 1–2 0,5 – 1

Oksida-oksida yang tercampur pada tabel 2.2. tersebut akan berinteraksi satu sama lain untuk membentuk serangkaian produk yang lebih komplek selama proses peleburan. Perbedaan sifat-sifat berbagai semen portland ditentukan oleh proporsi relatif keempat senyawa utama (C3S, C2S, C3A dan C4AF) yang dikandungnya dan juga oleh kehalusan butirnya. Bila semen portland dicampur dengan air, C3S segera berhidrasi secara lebih cepat dari pada C2S dan karena itu memberi sumbangan yang lebih besar pada umur dini (sebelum mencapai umur 14 hari), panas hidrasi dan kenaikan temperatur yang ditimbulkan juga lebih besar. C2S bereaksi dengan air lebih lambat, sehingga sumbangan C2S terhadap kekuatan

22

terjadi setelah berumur 7 hari, dan dapat terus berlanjut sampai 1 tahun. C2S berhidrasi dengan cepat dan menimbulkan banyak panas dan sumbangannya terhadap kekuatan kecil. C4AF bersifat tidak aktif dan hanya memberi sumbangan kecil terhadap kekuatan. Proses hidrasi pada semen portland sangat kompleks, tidak semua reaksi dapat diketahui secara rinci. Reaksi hidrasi dari unsur C3S dan C2S adalah : 2(3CaO.SiO2) + 6H2O 2(2CaO.SiO2) + 4H2O 3CaO.SiO2.3H2O + 3Ca(OH)2 3CaO.SiO2.3H2O + Ca(OH)2

Hasil utama dari agregat ini adalah 3CaO.SiO2.3H2O yang bisa disebut tobermorite yang berbentuk gel, yang sifatnya seperti bahan pelekat. Perubahan komposisi kimia semen yang dilakukan dengan cara mengubah persentase empat komponen utama semen itu, dapat menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaian. Berdasarkan PUBI 1982 sesuai dengan tujuan pemakaiannya semen Portland dibagi menjadi 5 jenis, yaitu : 1. Jenis I, semen portland untuk penggunaan umum tanpa persyaratan khusus. 2. Jenis II, semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang. 3. Jenis II, semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi. 4. Jenis IV, semen portland yang dalam penggunaannya menuntut panas hidrasi rendah. 5. Jenis V, semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan sangat tahan terhadap sulfat.

23

Selain yang disebutkan diatas, masih banyak lagi jenis-jenis semen yang digunakan, antara lain semen putih, semen warna, semen pozolan, dan Oil Well Cement. Semen-semen yang dijual di pasaran umumnya telah mencantumkan hasil pemeriksaan fisika dan kimia agar sesuai dengan persyaratan.

2.4 Air Air merupakan bahan penyusun beton yang diperlukan untuk bereaksi dengan semen pada proses hidrasi semen, dan juga berfungsi sebagai pelumas agar adukan dapat dikerjakan dan dipadatkan dengan baik. Dalam pemakaian air untuk beton atau mortar, air harus memenuhi syarat sebagai berikut (PUBI 1982) : a. Tidak mengandung Lumpur atau benda terapung lainnya lebih dari 2 gram/ liter. b. Tidak mengandung garam-garam yang dapat merusak (asam, zat organic, dan sebagainya) lebih dari 15 gram/liter. c. Tidak mengandung krorida (Cl)lebih dari 0,5 gram/liter. d. Tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gram/liter. Menurut Tjokrodimuljo (1996 : 45) menyatakan bahwa Air yang digunakan harus memenuhi persyaratan untuk bahan campuran beton seperti air minum (tetapi tidak berarti air pencampura beton harus memenuhi standar persyaratan air minum).Secara umum, air yang dapat dipakai untuk bahan pencampur beton/mortar ialah air yang bila dipakai akan dapat menghasilkan beton/mortar dengan kekuatan lebih dari 90% kekuatan beton/mortar yang memakai air suling.

24

2.5 Serbuk Gergaji Kayu Jati Serbuk gergaji adalah serbuk kayu berasal dari kayu yang dipotong dengan gergaji. Kayu jati memiliki nama botani Tectona grandits L.f. Di Indonesia kayu jati memiliki berbagai jenis nama daerah yaitu delek, dodolan, jate, jatih, jatos, kiati, kulidawa, dan lain-lain. Kayu ini merupakan salah satu kayu terbaik di dunia. Berdasarkan PPKI 1961 termasuk kayu dengan tingkat pemakaian I, tingkat kekuatan II dan tingkat keawetan I. Pohon jati tumbuh baik pada tanah sarang terutama tanah yang mengandung kapur pada ketinggian 0-700 m di atas permukaan laut, di daerah dengan musim kering yang nyata dan jumlah curah hujan rata-rata 1200-2000 mm per-tahun. Banyak terdapat di seluruh Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara Barat, Maluku dan Lampung. Pohon jati dapat tumbuh mencapai tinggi 45 m dengan panjang batang bebas cabang 15-20 m dan diameter batang 50-220 mm dengan bentuk batang beralur dan tidak teratur. Kayu jati memiliki serat yang halus dengan warna kayu mula-mula sawo kelabu, kemudian berwarna sawo matang apabila lama terkena cahaya matahari dan udara. Serat kayu memiliki arah yang lurus dan kadang-kadang terpadu, memiliki panjang serat rata-rata 1316μ dengan diameter 24,8μ dan tebal dinding 3,3μ. Struktur pori sebagian besar soliter dalam susunan tata lingkaran, memiliki diameter 20-40μ dengan frekuensi 3-7 per-mm². Karena sifat-sifatnya yang baik, kayu jati merupakan jenis kayu yang paling banyak dipakai untuk berbagai keperluan. Sifat-sifat kayu jati secara lengkap dapat dilihat pada tabel 2.2. Pada industri pengolahan kayu, jati diolah menjadi kayu gergajian, plywood, blackbord, particleboard, mebel air dan sebagainya.

25

Tabel 2.2. Sifat-sifat Kayu Jati Sifat Berat jenis Tegangan pada batas proporsi Tegangan pada batas patah Modulus elastisitas Tegangan tekan sejajar serat Tegangan geser arah radial Tegangan geser arah tangensial Kadar selulosa Kadar lignin Kadar pentosa Kadar abu Kadar silica Serabut Kelarutan dalam alkohol bensena 15 Kelarutan dalam air dingin 16 Kelarutan dalam air panas 17 Kelarutan dalam NaOH 1 % 18 Kadar air saat titik jenuh serat 19 Nilai kalor 20 Kerapatan Sumber : Anonim 1991 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Satuan Kg/cm3 Kg/cm3 Kg/cm3 Kg/cm3 Kg/cm3 Kg/cm3 Kg/cm3 % % % % % % % % % % % Cal/gram Cal/gram Nilai 0,62-0,75 (rata-rata 0,67) 718 1031 127700 550 80 89 47,5 29,9 14,4 1,4 0,4 66,3 4,6 1,2 11,1 19,8 28 5081 0,44

Kayu jati merupakan kayu serba guna, umumnya digunakan untuk berbagai keperluan seperti furniture dan perkakas, selain itu serbuk gergajinya dapat pula digunakan sebagai bahan pembuat briket dan juga sebagai zat penyerap. Serbuk gergaji kayu merupakan limbah industri kayu ternyata dapat digunakan sebagai zat penyerap logam berat (Freedman dan Waias, 1972, Randall, 1974 dan Henderson 1977, dalam Amalia (2001)). Ada beberapa sifat kayu yang perlu dipahami untuk pertimbangan dalam penentuan jenis kayu yang akan digunakan sebagai bahan bangunan. Sifat-sifat kayu tersebut adalah sifat kimia, sifat fisik, sifat higroskopik dan sifat mekanik kayu (Wirjomartono 1991).

26

2.5.1 Sifat kimia Kandungan kimia kayu adalah selulosa ± 60%, lignin ± 28% dan zat lain (termasuk zat gula) ± 12%. Dinding sel tersusun sebagaian besar oleh selulosa (C6H10o5). Lignin adalah suatu campuran zat-zat organik yang terdiri dari zat karbon (C), zat air (H2) dan oksigen (O2). Serbuk gergaji kayu mengandung komponen utama selulosa, hemiselulosa, lignin dan zat ekstraktif kayu. Lignin mempunyai ikatan kimia dengan hemiselulosa bahkan ada indikasi mengenal adanya ikatan-ikatan antara lignin dan selulosa. Ikatan-ikatan tersebut dapat berupa tipe ester atau eter diusulkan bahwa ikatan-ikatan glikosida merupakan penyatu lignin dan polisakarida. Treatment yang pada dasarnya bisa menghilangkan semua lignin adalah dengan menggunakan zat penyoksil, dimana zat tersebut akan mengakibatkan lignin meninggalkan komponen karbohidra yang tidak terpecahkan atau terlalut menjadi preparat yang disebut holoselulosa. Treatment deligrifakasi ini bisa menggunakan agregat penghilang lain yang kurang lebih efektif untuk menghilangkan lignin adalah asam nitrat, asam parasetic, neroxides dan larutan alkali panas (Fengel, D dan Wegenwr, G 1989, dalam Diella (2001)). Selulosa merupakan homopolisakarida yang tersusun atas unit-unit β-Dglukopiranosa yang terikat satu sama lain dengan ikatan-ikatan glikosida (gambar 2.6). Molekul-molekul selulosa seluluhnya berbentuk linier dan mempunyai kecenderungan kuat membentuk ikatan-ikatan hidrogen intra dan intermolekul. Hemiselulosa merupakan heteropolisakarida yang dibentuk melalui jalan biosintesis yang berbeda dari selulosa. Lignin merupakan polimer dari unit-unit

27

fenilpropana. Banyak aspek dalam kimia lignin yang masih belum jelas, misalnya ciri-ciri struktur spesifik lignin yang terdapat dalam berbagai daerah marfologi dari xylem kayu.

Gambar 2.6 Struktur Selulosa (Sjostrom 1995) Komponen kimia di dalam kayu mempunyai arti yang penting, karena menentukan kegunaan sesuatu jenis kayu juga dengan mengetahuinya kita dapat membedakan jenis kayu. Komponen kayu dapat dilihat pada tabel 2.3. Komponen kimia kayu. 1. Karbon terdiri dari selulosa dan hemiselulosa 2. Ion karbonhidrat terdiri dari lignin kayu 3. Unsur yang diendapkan a. Carbon b. Hydrogen c. Nitrogen d. Abu : 50% : 6% : 0,04 - 0,10% : 0,20 – 0,50%

Tabel 2.3. Komponen-komponen Kayu Komponen Sellulosa Pentosan Lignin Resin, gum, minyak Abu Kayu keras 15 18 23 2 1 Kayu lunak 58 7 26 8 1

28

Sifat kimia kayu yang harus diperhatikan ialah kandungan elektraktifnya. Pengerasan semen akan terlambat apabila bahan baku kayu yang berupa serbuk gergaji mempunyai kandungan ektraktif yang tinggi. Agar proses pengerasan tidak terlambat maksimum kandungan ektraktif pada kayu adalah 1% gula, 2% tannin, atau 3% minyak (Kamil 1970, dalam Ismeddiyanto (1998:27)). Usaha untuk mengurangi kadar ekstraktif adalah dengan merendam serbuk gergaji ke dalam air panas ataupun dingin.

2.5.2

Sifat fisik Sifat-sifat ini antara lain daya hantar panas, daya hantar lisrik, angka muai

dan berat jenis. Perambatan panas pada kayu akan tertahan oleh pori-pori dan rongga-rongga pada sel kayu. Karena itu kayu bersifat sebagai penyekat panas. Semakin banyak rongga-rongga pada sel kayu. Karena itu bersifat sebagai penyekat panas. Semakin banyak pori dan rongga udaranya kayu semakin kurang penghantar panasnya. Selain itu daya hantar panas juga dipengaruhi oleh kadar air kayu, pada kadar air yang tinggi daya hantar panasnya juga semakin besar. Daya hantar panas kayu sejajar serat adalah 0,10 kg-kal/m j°C, sedangkan daya hantar panas tegak lurus serat adalah 0,03 kg-kal/m j°C.

2.5.3

Sifat higroskopik Akibat air yang keluar dari rongga sel dan dinding sel, kayu akan menyusut

dan sebaliknya kayu akan mengembang apabila kadar airnya bertambah. Sifat kembang susut kayu dipengaruhi oleh kadar air, angka rapat kayu dan kelembaban udara. Akan kembang susut pada berbagai arah disajikan pada tabel 2.4.

29

Table 2.4. Kembang Susut Kayu pada Berbagai Arah Arah Tangensial (searah garis singgung) Radial (menuju ke pusat) Aksial (sejajar serat) Volumetric Sumber : Wirjomartono 1991 Prosentase susut 4 – 14 2 – 10 0,1 – 0,2 7 – 21

2.5.4

Sifat mekanik Kayu bersifat anisotrop (non isotropic material), dengan kekuatan yang

berbeda-beda pada berbagai arah. Sel kayu jika mendapat gaya tarik sejajar serat akan mengalami patah tarik sehingga kulit sel hancur dan patah. Jika gaya tarik terjadi pada arah tegak lulus serat, maka gaya tarik menyebabkan zat lekat lignin akan rusak. Dukungan gaya tarik pada arah tegak lurus serat jauh lebih kecil dibandingkan dengan pada arah sejajar serat. Sel kayu yang mengalami gaya desak dengan arah sejajar serat, menyebabkan sel kayu tertekuk. Sel-sel kayu disampingnya akan menghalangi tekuk ke arah luar, sehingga sel kayu patah karena tekuk ke dalam. Jika daya desak terjadi pada arah tegak lurus serat, sel kayu akan tertekan atau seolah-olah sel kayu dipejet saja. Jadi dukungan gaya desak pada arah tegak lurus serat akan lebih besar dibandingkan dengan pada arah serat sejajar. Gaya geser sejajar serat pada sel kayu akan menyebabkan rusaknya zat lekat lignin. Jika gaya geser terjadi pada arah tegak lurus serat, maka gaya seolah-olah memotong dinding-dinding sel. Gaya untuk memotong dinding sel lebih besar daripada gaya untuk mematahkan zat lekat lignin. Jadi dukungan gaya geser pada arah tegak lurus serat akan lebih besar dibandingkan dengan pada arah sejajar serat.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Bahan Penelitian Bahan yang digunakan pada penelitian beserta penjelasan singkatnya akan diuraikan di bawah ini. 3.1.1 Semen portland Semen sebagai bahan pengikat adukan mortar semen digunakan semen portland tipe I (normal) merk Nusantara dalam kemasan 40 kg produksi PT. Semen Nusantara, Cilacap, Jawa Tengah. Menurut Tjokrodimuljo (1996:10) berat jenis semen adalah 3,15 gram/cm3 dan berat satuannya adalah 1,25 gram/cm3. 3.1.2 Agregat halus (pasir) Pasir yang digunakan adalah pasir muntilan, yang terdapat di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pengambilan cukup di toko material PT. Combo yang ada di Jl. Cemara Raya, Banyumanik Semarang. 3.1.3 Air Air yang digunakan berasal dari jaringan air bersih UNNES. Secara visual air tersebut berwarna jernih, tidak berasa, tidak berbau dan dapat diminum, sehingga air ini dapat digunakan sebagai bahan penyusun mortar. 3.1.4 Serbuk gergaji Serbuk gergaji Kayu Jati (Tectona grandis L.f) yang digunakan didatangkan dari pabrik penggergajian kayu di desa Sarip Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan, Purwodadi. 30

31

3.2 Alat Penelitian Alat-alat yang digunakan pada penelitian beserta penjelasan singkat tentang kegunaan akan diuraikan di bawah ini. 3.2.1 Baskom dan cawan Baskom digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan bahan penyususn adukan mortar (pasir, semen, air dan serbuk gergaji). 3.2.2 Ayakan

a. Ayakan No. 200 digunakan untuk pemeriksaan kandungan lumpur dalam pasir. b. Ayakan dengan lubang berturut-turut 4,80 mm , 2,4 mm , 1,2 mm , 0,6 mm , 0,3 mm , 0,15 mm yang dilengkapi dengan tutup, pan dan juga alat penggetar, digunakan untuk mengetahui gradasi pasir dan serbuk gergaji. 3.2.3 Timbangan (Mechanical Balances) Timbangan merk Ohaus, kapasitas 4 kg, ketelitian 0,1 gram, digunakan untuk mengukur berat contoh yang kurang dari 4 kg. 3.2.4 Piknometer Piknometer dengan kapasitas 500 gram digunakan untuk mencari berat jenis pasir. 3.2.5 Mangkuk dan kaca Mangkuk dan kaca digunakan dalam pemeriksaan berat jenis kayu 3.2.6 Oven Oven merek Gallen Kamp Size Two Oven BS untuk mengeringkan pecahan benda uji pada pengujian daya serap air dan pemeriksaan bahan.

32

3.2.7

Desikator Desikator digunakan untuk mendinginkan sampel setelah mengalami proses

pengeringan dalam oven. 3.2.8 Bejana baja Bejana baja dengan diameter 225 mm, tinggi 244 mm, digunakan untuk mengetahui berat satuan pasir dalam kondisi dipadatkan maupun tidak dipadatkan dilengkapi dengan tongkat penumbuk panjang 60 cm, diameter 15 mm. 3.2.9 Meja sebar (Flow Table) Meja sebar atau “Flow Table” berfungsi untuk mengetahui konsistensi (kelecakan) adukan mortar sebelum di cetak. Meja sebar yang digunakan adalah Compressive Strength Of Hydraulic Cement Mortar buatan Tatonas. Meja sebar terdiri atas : 3.2.9.1 Alas meja yang berbentuk lingkaran dan terbuat dari kuningan dengan diameter 300 mm dan ketebalan 20 mm. pada permukaan alas terdapat empat garis yang masing-masing membentuk sudut 45° yang digunakan untuk pembacaan nilai sebar mortar semen yang diuji. 3.2.9.2 Kerucut kuningan yang mempunyai diameter atas 69,8 mm dan diameter bawah 102 mm dengan ketinggian 50,8 mm. 3.2.9.3 Jangka sorong khusus yang terbuat dari kuningan dengan skala yang menunjukkan prosentase penyebaran adukan mortar. 3.2.9.4 Penumbuk yang terbuat dari kuningan, yang digunakan untuk pemadatan mortar yang akan diuji didalam kerucut kuningan yang diletakkan diatas alas meja sebar.

33

3.2.10 Cetok dan talam baja Cetok digunakan untuk memindahkan adukan ke dalam cetakan dan juga untuk meratakan permukaan benda uji yang baru dicetak. Talam baja digunakan untuk tempat pasir dan adukan mortar semen. 3.2.11 Gelas ukur Gelas ukur volume 250 ml digunakan pada pemeriksaan kandungan zat organis dalam pasir. Gelas ukur volume 50 ml, 100 ml, 250 ml, 1000 ml digunakan untuk mengukur volume air yang dibutuhkan untuk adukan mortar semen dan juga untuk memeriksa karekteristik pasir. 3.2.12 Ember tempat air Ember digunakan untuk menampung air yang dibutuhkan dan juga untuk merendam serbuk gergaji. 3.2.13 Cetakan mortar Cetakan kubus mortar dengan ukuran 50 mm x 50 mm x 50 mm yang digunakan untuk pengujian kuat tekan pada benda uji kubus dan cetakan seperti angka delapan pada gambar 3.1 dengan ukuran 75 mm x 50 mm x 25 mm yang digunakan untuk pengujian tarik.

Gambar 3.1. Benda Uji Tarik Mortar dan Alat Uji Tarik Mortar.

34

3.2.14 Stop watch Stop watch digunakan untuk megukur waktu yang diperlukan dalam pengadukan. 3.2.15 Mesin pengaduk beton atau mortar Mesin merk The Creteangle Multi Flow dengan motor listrik, berkapasitas 60 liter, digunakan untuk mengaduk mortar segar. 3.2.16 Kerucut kronik Kerucut kronik digunakan untuk menentukan kondisi jenuh kering muka (Saturated Surface Dry) pasir. Kerucut kronik terbuat dari kuningan dengan diameter bawah 890 mm, diameter atas 380 mm, tinggi 760 mm dilengkapi dengan penumbuk berupa tongkat baja diameter 25 mm berat 336 gram. 3.2.17 Kaliper Kaliper digunakan untuk mengukur semua benda uji. 3.2.18 Alat uji tekan dan uji tarik Alat uji tekan dan tarik yang digunakan adalah mesin uji desak (Compression Tension Machine ) merk indotest dengan kapasitas kuat tekan 150 ton dengan kecepatan pembebanan 100 KN/menit dan mesin dengan kapasitas 6.000 ml. digunakan untuk mengujian kuat tekan dan kuat tarik mortar semen pada umur 28 hari. Pengujian dilakukan di Lab. Struktur Teknik Sipil UNNES.

3.3

Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bahan Bangunan Jurusan Teknik

Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Adapun tahap-tahap

35

pelaksanaan penelitian meliputi tahap persiapan, tahap perhitungan kebutuhan bahan susun adukan mortar semen, tahap pembuatan benda uji, perawatan dan pelaksanaan pengujian.

3.3.1 Tahap pengujian bahan mortar 3.3.1.1 Pemeriksaan berat jenis pasir. Contoh pasir uji (SSD) di keringkan dalam oven dengan suhu 105° C sampai beratnya tetap kemudian pasir direndam di dalam air selama 24 jam. Air bekas rendaman dibuang dengan hati-hati sehingga butiran pasir tidak terbuang. Pasir dibiarkan di atas nampan dan dikeringkan sampai tercapai keadaan jenuh kering muka. Untuk pemeriksaan kondisi jenuh kering muka dilakukan dengan memasukkan pasir pada kerucut terpancung dan dipadatkan dengan penumbukan sebanyak 25 kali. Pada saat kerucut diangkat pasir akan runtuh tetapi masih berbentuk kerucut. Pasir dalam keadaan kering muka ditimbang sebanyak 500 gram (w1) dimasukkan ke dalam piknometer dan kemudian diisikan air hingga penuh. Gelembung udara yang tertinggal dihilangkan dengan cara menggulingkan piknometer secara berulang-ulang. Piknometer berisi air dan pasir ditimbang dan dicatat beratnya (w2). Piknometer kosong dan berisi air ditimbang dan dicatat beratnya berturut-turut (w3) dan (w4). Setelah mengendap pasir dikeluarkan dari piknometer tanpa ada yang tercecer, kemudian dikeringkan dalam oven selama 24 jam. Pasir yang sudah kering didinginkan, ditimbang dan dicatat beratnya (w5). Berat jenis pasir (γpsr) dihitung dengan rumus :

γ

psr

=

w5 [w4 − (w2 − w1 )]

….…………………….………………..(3.1)

36

3.3.1.2 Pemeriksaan berat jenis kayu Contoh diambil dari potongan kayu gergajian yang berukuran 50 x 50 x 20 mm dan ditimbang beratnya (wk). Air raksa yang memiliki berat jenis (γr) sebesar 13,6 gram/cm3 dimaksukkan kedalam mangkok dan diratakan dengan cara menekan permukaannya dengan kaca. Selanjutnya potongan kayu ditekan masuk ke dalam air raksa dengan meggunakan kaca sampai seluruh potongan kayu terendam. Air raksa yang tumpah ditimbang beratnya (wr). berat jenis kayu atau serbuk gergaji (γsbk) dihitung dengan rumus :

γ sbk =

wk . γ r wr

………………………………………………..(3.2)

3.3.1.3 Pemeriksaan gradasi Pemeriksaan gradasi serbuk gergaji dan pasir langkah pengujiannya sama. Pasir dan serbuk gergaji yang akan diperiksa dikeringkan dalam oven dengan suhu 105° sampai beratnya tetap dan ditimbang beratnya. Ayakan di susun sesuai dengan urutannya, ukuran terbesar diletakkan pada bagian paling atas, yaitu : 4,8 mm, diikuti dengan ukuran ayakan yang lebih kecil yaitu berturut-turut 2,4 mm , 1,2 mm , 0,6 mm , 0,3 mm , 0,15 mm , 0 mm (sisa), kemudian di getarkan selam kurang lebih 10 menit. Pasir atau serbuk gergaji yang tertinggal pada masingmasing saringan ditimbang dan dicatat beratnya. Dari hasil ini dapat dihitung jumlah komulatif persentase butir-butir yang lolos pada masing-masing ayakan. Nilai modulus halus butir dihitung dengan menjumlahkan persentase komulatif butir tertinggal, kemudian dibagi seratus sehingga dapat digambar grafik distribusi ukuran butir agregat.

37

3.3.1.4 Pemeriksaan berat satuan Pemeriksaan berat satuan serbuk gergaji dan pasir langkah pengujiannya sama. Contoh pasir dalam keadaan SSD atau serbuk gergaji pada kadar air 16,85% dimasukkan ke dalam silinder baja yang diketahui berat dan volumenya. Pemeriksaan berat satuan pasir atau serbuk gergaji dalam keadaan tanpa pemadatan (Shoveled). Silinder baja berisi pasir atau serbuk gergaji ditimbang dan dicatat beratnya. Berat satuan dihitung dengan rumus :

berat satuan =

berat agregat ………....……………….………(3.3) volume bejana

3.3.1.5 Pemeriksaan kadar air Pemeriksaan kadar air serbuk gergaji dan pasir langkah pengujiannya sama. Pasir (SSD) atau serbuk gergaji ditimbang dan dicatat beratnya (w1), kemudian dimasukkan ke dalam oven. Pasir atau serbuk gergaji yang sudah kering didinginkan, ditimbang dan dicatat beratnya (w2). kadar air pasir atau serbuk gergaji dihitung dengan rumus :

kadar air =

w1 − w2 x100% w2

…..………………………………..(3.4)

3.3.1.6 Pemeriksaan kadar lumpur pasir

Penentuan kadar lumpur pasir dilakukan dengan cara membandingkan berat (dalam kondisi kering mutlak) sebelum dan sesudah dicuci. Selisih berat antara pasir sesudah dicuci dan sebelumnya dibagi berat semula adalah merupakan kandungan lumpur pasir. Pasir yang kering oven ditimbang beratnya (w1), kemudian dicuci di atas ayakan No. 200. Pasir yang tertinggal di atas ayakan dipindahkan pada piring dan dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam, pasir

38

dikeluarkan dari oven dan ditimbang (w2). Kadar lumpur pasir dapat dihitung dengan rumus : kandungan lumpur = w1 − w2 x100% w1 …... …...…………………(3.5)

3.3.2 Tahap rencana perhitungan kebutuhan susun adukan mortar semen

Untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan isian serbuk gergaji pada kuat tekan, kuat tarik dan daya serap air mortar dilakukan dengan cara membuat kandungan serbuk gergaji di dalam campuran bervariasi. Perhitungan kebutuhan bahan susun mortar semen dihitung berdasarkan perbandingan berat yang diperoleh dari konversi kebutuhan bahan dalam volume. Dalam penelitian ini dipilih campuran semen : agregat halus berdasarkan perbandingan berat 1: 5. Dalam rencana variasi adukan diatas, faktor air semen (f.a.s) awal direncanakan 0,5 dan pada akhirnya nanti faktor air semen akan menyesuaikan (berubah) untuk mendapatkan nilai sebar yang ditetapkan berdasarkan ASTM yaitu 70% - 115%.

3.3.3 Tahap pengadukan campuran mortar semen dan pengujian meja sebar 3.3.3.1 Pengadukan mortar

Memasukkan air sekitar 80% dari hasil yang dibutuhkan, ke dalam mesin pengaduk kemudian baru dimasukkan agregat campuran dan semen. Sambil mesin pengaduk diputar sisa air dimasukkan sedikit demi sedikit sampai airnya habis dalam waktu tidak kurang dari tiga menit. Pengadukan dilakukan sampai diperkirakan homogen.

39

3.3.3.2 Pengujian meja sebar

Adukan yang rata selanjutnya diuji konsistensinya dengan meja sebar. Pengujian ini dilakukan dengan cara memasukkan campuran dalam kerucut yang berada di atas meja sebar, selanjutnya dipadatkan dengan penumbuk dan kemudian di atasnya diratakan hingga sama dengan permukaan kerucut kuningan. Setelah 1 menit, kerucut kuningan diangkat dan meja sebar dijatuhkan sebanyak 25 kali (25 ketukan) selama 15 detik. Diantara sebaran mortar diukur dalam 4 arah/garis yang terdapat pada meja sebar. Nilai sebaran adalah penjumlahan 4 nilai tersebut dalam satuan persen. Berdasarkan (ASTM Disignation : C270-57T, dalam Taufiq bintang, 2005), nilai konstensi mortar yang disyaratkan adalah 70% - 115%. Maka untuk memperoleh konsistensi yang disyaratkan maka penambahan air dilakukan bila pengujian meja sebar sebelum mencapai konsistensi yang disyaratkan.

3.3.4 Tahap pembuatan benda uji

Bila tahap persiapan bahan dan rencana kebutuhan bahan tiap adukan telah dibuat, tahap berikutnya dilakukan penimbangan bahan susun mortar semen yaitu semen, pasir dan serbuk gergaji sesuai dengan kebutuhan bahan tiap adukan. Semua bahan susun adukan mortar semen diletakkan dalam tempat yang terpisah agar tidak tercampur satu sama lain. Selanjutnya secara berturut-turut dimasukkan pasir, serbuk gergaji dan semen. Kemudian mesin pengaduk dihidupkan. Air dimasukkan secara bertahap untuk menjaga agar adukan tidak tumpah akibat putaran mesin pengaduk. Jumlah keseluruhan air dicatat. Sementara pengadukan berlangsung cetakan mortar disiapkan. Bagian yang perlu diberi pelumas diolesi

40

oli secukupnya. Apabila adukan diyakini sudah cukup homogen (kurang lebih 4 menit), mesin pengaduk dimatikan, adukan siap untuk dicetak. Pada langkah ini juga dilakukan pemeriksaan kelecakan adukan dengan cara meremas adukan dengan tangan menjadi bentuk seperti bola. Kelecakan yang baik adalah apabila bola adukan tidak pecah ketika dilepas dari kepalan tangan dan tidak meninggalkan bekas pada tangan, hal ini dimaksudkan agar adukan dapat dicetak dengan baik tanpa menempel pada dinding cetakan apabila terlalu encer atau mortar semen pecah pada saat dikeluarkan dari cetakan apabila adukan terlalu kental. Cara pemeriksaannya dapat dilihat pada gambar 3.2.

Gambar 3.2. Pemeriksaan kelecekan adonan mortar (Aksa, tanpa tahun, dalam Sudarmoko 2000:11) Adukan dimaksukkan ke dalam cetatan dengan menggunakan cetok. Adukan ditusuk-tusuk dengan tongkat pemadat untuk setiap lapis adukan mortar semen dilakukan sebanyak 25 kali tusukan secara merata sampai cetakan penuh, agar mortar semen yang dihasilkan tidak keropos. Setelah dianggap cukup, adukan diratakan dengan tongkat perata sehingga permukaan atas adukan mortar beton rata dengan bagian atas cetakan serta dilakukan penekanan. Mortar semen dengan

41

bahan isian serbuk gergaji segar diambil dari cetakannya dan diletakkan diatas meja yang rata setelah 24 jam.

3.3.5 Tahap perawatan benda uji

Benda uji mortar semen yang telah berumur 24 jam, cetakan mortar dilepas dan benda uji diberi tanda, kemudian benda uji direndam dalam kolam perendaman selama 14 hari. Setelah proses tersebut benda uji dikeluarkan dari dalam air dan diletakkan pada tempat yang lembab sampai berumur 28 hari.

3.3.6 Tahap pelaksanaan pengujian 3.3.6.1 Uji kuat tekan

Pengujian kuat tekan mortar semen dilakukan pada saat mortar semen telah berumur 28 hari. Sebelum diuji, dilakukan penimbunan berat dan pengukuran dimensi benda uji. Semua data yang menyangkut benda uji dicatat dalam formulir yang telah disediakan. Pengujian kuat tekan dilakukan pada 3 buah benda uji untuk masing-masing variasi. Secara garis besar urutan pengujian kuat tekan adalah sebabai berikut: 1. Pada saatnya untuk pengujian, bersihkan permukaan benda uji dengan lap sampai bersih dari butiran-butiran pasir yang menempel pada permukaannya. 2. Ukur rusuk-rusuk kubus dengan teliti dan hitung luas bidang tekannya. 3. Letakkan kubus uji pada tengah-tengah bidang landasan (pelat) baja penekan dalam mesin tekan, lalu atur agar permukaan bidang tekan kubus terjepit antara dudukan dan landasan penekanan dari mesin tekan. Skema penekanan benda uji dapat dilihat pada gambar 3.3.

42

Pelat baja Benda uji Pelat baja

Gambar 3.3. Skema penekanan benda uji. Pengujian dihentikan setelah benda uji tidak mampu lagi menahan beban tekan yang ditujukan dengan turunnya jarum petunjuk beban. 4. Hidupkan mesin tekan dan beban tekan diberikan secara merata dan terusmenerus dengan kecepatan 1,4 kg/cm2 sampai dengan 2,5 kg/cm/detik, atau beban maksimal tercapai dalam waktu kurang dari 20 detik, besarnya beban maksimal tercapai dalam satuan Newton atau kg 5. Hitunglah kuat tekan : Beban tekan maksimum dicatat. Kuat tekan didapat dengan membagi beban maksimum (F) dengan luas bidang tekan benda uji (A). Besarnya kuat tekan mortar semen dihitung dengan rumus :

fb =
dengan :

F A fb F A

…………………………………………………………(3.7) = kuat tekan mortar semen (kg/cm2 atau kg/mm2) = beban tekan (kg) = luas bidang tekan (cm2 atau mm2)

3.3.6.2 Pengujian kuat tarik

Pengujian kuat tarik mortar semen dilakukan pada saat mortar semen telah berumur 28 hari. Pengujian kuat tarik dilakukan pada 5 buah benda uji untuk masing-masing variasi. Uji kuat tarik mortar semen dilakukan dengan membuat

43

mortar dalam bentuk seperti angka delapan. Benda uji setelah keras kemudian ditarik dengan alat uji Cement Briquettes. Nilai kuat tarik yang diperoleh dihitung dari besar beban tarik maksimum (F) dibagi dengan luas penampang yang terkecil (mm2). Besarnya kuat tarik mortar semen dihitung dengan rumus :

fb =
dengan :

F A fb F A

……………………………………………………………(3.8) = kuat tarik mortar semen (kg/cm2 atau kg/mm2) = beban tarik (kg) = luas penampang yang tertarikl (cm2 atau mm2)

3.3.6.3 Pengujian daya serap air

Pengujian daya serap air dilakukan pada pembuatan benda uji yang berbentuk kubus dengan ukuran 5 x 5 x 5. Benda uji tersebut kemudian direndam dalam air selama 24 jam. Setelah 24 jam benda uji di angkat kemudian benda uji tersebut dilap dan kemudian ditimbang (A). selanjutnya benda uji tersebut dimasukkan ke dalam oven yang bersuhu konstan 100-110°C selama 24 jam. Selanjutnya benda uji dikeluarkan dari oven dan didinginkan selama beberapa menit. Setelah cukup dingin, benda uji yang sudah kering tersebut ditimbang (B). daya serap air dihitung dengan rumus :

Dse =

A− B x 100% B

…...…………………………………...…...(3.9)

dengan : Dse = daya serap air (%) A = berat sample setelah direndam (gram) B = berat sample setelah dikeringkan (gram)

44

3.4 Variabel Penelitian

Tabel 3.1. Variabel Penelitian
Macam pengujian dari jumlah benda uji Kuat tekan Kuat tarik Daya resap Kubus Seperti angka air delapan kubus A. Penambahan serbuk gergaji 0 % dari berat pasir I 0,5 5 5 5 B. Penambahan serbuk gergaji 5 % dari berat pasir II 0,5 5 5 5 C. Penambahan serbuk gergaji 10 % dari berat pasir III 0,5 5 5 5 D. Penambahan serbuk gergaji 15 % dari berat pasir IV 0,5 5 5 5 E. Penambahan serbuk gergaji 20 % dari berat pasir V 0,5 5 5 5 Jumlah 25 25 25 G. Penambahan serbuk gergaji 5 % dari berat semen VII 0,5 5 5 5 H. Penambahan serbuk gergaji 10 % dari berat semen VIII 0,5 5 5 5 I. Penambahan Serbuk Gergaji 15 % dari berat semen IX 0,5 5 5 5 J. Penambahan Serbuk Gergaji 20 % dari berat semen 5 5 5 Jumlah 20 20 20 Sub total 45 45 45 Total 135 Benda Uji Kode Fas (Rencana)

3.5 Cara Menganalisis Data

Data yang dihasilkan pada penelitian ini adalah nilai Kuat tekan, kuat tarik dan daya serap air. Dalam menganalisis data hasil penelitian dilakukan dengan cara curve fitting yaitu dengan jalan ditentukan terlebih dahulu bentuk kurva yang paling tepat dan sesuai untuk memiliki data yang dihadapi. Untuk itu dibuat diagram pencar (scatter diagram) dari data yang ada. Titik-titik data percobaan diplotkan dalam suatu system koordinat. Variabel bebas fungsi tersebut adalah x

45

yang merupakan persentase serbuk gergaji dan variable bergantung adalah y yang merupakan data hasil penelitian. Metode pendekatan yang digunakan didalam kurve fitting adalah regresi kuadrat terkecil. Regresi kuadrat terkecil merupakan teknik untuk mendapatkan kurva tunggal yang mempresentasikan tred atau kecenderungan secara umum dari data. Kurva yang dibuat adalah kurva yang meminimumkan perbedaan (selisih) antara titik-titik data dan kurva. Bentuk umum suatu fungsi (y) yang menyatakan hubungan matematis dari data hasil penelitian memiliki persamaan sebagai berikut : 1. Persamaan Linier
Y = a + bX …………………………………....………………………… (3.10)

Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linier, dihitung dengan rumus a = b = (Σ Y1 )(Σ X 12 ) − (Σ X 1 )(Σ X 1 Y1 ) n Σ X 12 − (Σ X 1 ) 2 n Σ X 1 Y1 − (Σ X 1 )(Σ Y1 ) n Σ X 12 − (Σ X 1 ) 2

2. Persamaan Nonlinier (Parabola Kuadratik)
Y = a + bX + cX2 ……………………………………………………..… (3.11)

Dengan menggunakan kuadran terkecil, maka a, b dan c dapat dihitung dari system persamaan : Σ Y1 = na + bΣX1 + cΣX12 = aΣY1 + bΣX12 + cΣX13 Σ X1 Y1

Σ X12 Y1 = aΣX12 + bΣX13 + cΣX14 3. Persamaan Nonlinier (Eksponen) Y = aebx)
Ln Y = ln a + b X ….…………………..……………………………..... (3.12)

46

Koefisien-koefisien regresi a dan b dapat dihitung dengan rumus :
ln a = ∑ ln Y1 ∑ X1 −b n n

b =

n (∑ X 1 ln Y1 ) − (∑ X 1 )(∑ ln Y1 ) n (∑ X 21 ) − (∑ X 1 ) 2

dengan : y = hasil penelitian (kuat tekan, kuat tekan dan daya serap air) x = persentase serbuk gergaji (%) Untuk mengetahui derajat kesesuaian dari persamaan yang didapat dihitung nilai koofisien korelasi (r) yang berbentuk : r2 = b{(n ∑ XY − (∑ X )(∑ Y ))} …………………………………..……….(3.13) 2 n ∑ Y 2 − (∑ Y )

Untuk pikiran yang sempurna nilai r = 1, dan apabila r = 0 berarti perkiraan suatu fungsi dari kurva adalah sangat jelek. Dari beberapa alternatif dipilih persamaan yang mempunyai nilai koefisien korelasi yang pailing besar (paling mendekati 1) Data hasil pengujian pada penelitian ini dihitung dan diolah dengan menggunakan alat Bantu computer dengan perangkat lunak program aplikasi Microsoft Office Excel 2003 for Windows.

BAB IV PENGOLAHAN DATA, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Pemeriksaan Bahan

Bahan-bahan yang dimaksud adalah pasir dan serbuk gergaji kayu jati. Hasil pemeriksaan bahan tersebut akan diuraikan dibawah ini.

4.1.1

Pasir (agregat halus)

Pemeriksaan sifat pasir ini meliputi pemeriksaan berat jenis, berat satuan, gradasi, kadar air pasir dan pemeriksaan kadar lumpur pasir.
4.1.1.1 Berat jenis pasir dan penyerapan air

Pemeriksaan berat jenis dan penyerapan air dilakukan dua kali yaitu terhadap sample I dan sample II. Dari hasil pemeriksaan diperoleh berat jenis ratarata pasir dari kedua sample adalah 2,682 gram/cm3 dan penyerapan air rataratanya sebesar 2,04 %. Hasil pemeriksaan berat jenis pasir dan peneyerapan air secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 1.
4.1.1.2 Berat satuan pasir

Pemeriksaan berat satuan pasir dilakukan pada pasir dalam keadaan SSD. Pada penelitian ini digunakan piknometer yang berbentuk silinder dengan volume 1000 cm3 dan berat piknometer 250,70 gr. Dari hasil pemeriksaan diperoleh berat satuan pasir 1,563 gram/cm3. Hasil pemeriksaan berat satuan dapat dilihat pada lampiran 2.

47

48

4.1.1.3 Gradasi pasir.

Pemeriksaan gradasi dilakukan pada pasir dalam keadaan kering tungku. Dari hasil pemeriksaan gradasi menunjukkan bahwa pasir masuk daerah II atau termasuk pasir agak kasar dengan modulus halus butir 2,704. Hasil pemeriksaan dan pengujian gradasi pasir selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 2 dan lampiran 7.
4.1.1.4 Kadar lumpur dan kandungan zat organis.

Dari hasil pemeriksaan kadar lumpur diperoleh kandungan lumpur 3,98 %, sedangkan kandungan zat organis pasir lebih dari jumlah maksimum yang disyaratkan, dimana warna cairan dalam larutan NaOH lebih muda dari warna standar. Hasil pemeriksaan dan pengujian kadar lumpur dan zat organis pasir selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

4.1.2

Serbuk gergaji kayu jati (Tectona grandis L.f).

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keadaan sifat fisik dari bahan serbuk gergaji yang digunakan dalam penelitian yaitu serbuk gergaji kayu jati
(Tectona grandis L.f). Pemeriksaan sifat serbuk gergaji ini meliputi pemeriksaan

berat jenis, berat satuan, gradasi atau distribusi ukuran butiran, dan kadar air.
4.1.2.1 Berat jenis, berat isi, dan kadar air.

Pemeriksaan berat jenis, berat isi dan kadar air kayu jati dan serbuk gergaji kayu jati dilakukan dua kali yaitu terhadap sample I dan sample II. Dari hasil pemeriksaan diperoleh berat jenis rata-rata sebesar 0,688 gram/cm3, berat isi ratarata sebesar 0,669 gram/cm3 dan kadar air rata-rata kayu jati sebesar 14,16%, sedangkan hasil pemeriksaan kadar air rata-rata serbuk gergaji yang belum

49

direndam sebesar 12,85%, yang sudah direndam dan dikeringkan kembali sebesar 16,85%. Dari hasil penelitian ini serbuk gergaji kayu jati dapat digolongkan sebagai agregat ringan. Hasil pemeriksaan berat jenis kayu jati dan serbuk gergaji kayu jati dapat dilihat pada lampiran 4 dan lampiran 5.
4.1.2.2 Berat satuan.

Pada penelitian ini digunakan piknometer yang berbentuk silinder dengan volume 1000 cm3 dan berat piknometer 250,70 gram. Dari hasil pemeriksaan diperoleh berat satuan serbuk gergaji 0,21 gram/cm3. Hasil pemeriksaan berat jenis serbuk gergaji dapat dilihat pada lampiran 6.
4.1.2.3 Gradasi serbuk gergaji.

Dari hasil pemeriksaan gradasi menunjukkan bahwa serbuk gergaji kayu jati bisa dikatagorikan sebagai agregat halus dengan modulus halus butir 2,165. Hasil pemeriksaan dan pengujian gradasi serbuk gergaji dilihat pada lampiran 6 dan lampiran 7. selengkapnya dapat

4.2

Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan (Mix Design) Benda Uji

Untuk mendapatkan perbandingan bahan susunan mortar semen yang tepat, kebutuhan bahan susunan mortar semen dihitung berdasarkan perbandingan berat yang diperoleh dari konversi kebutuhan bahan dalam volume. Dalam perhitungan rencana kebutuhan bahan ini faktor air semen awal diambil 0,5 dan pada akhirnya nanti nilai sebar air semen akan menyesuaikan (berubah) untuk mendapat nilai sebar yang ditetapkan berdasarkan ASTM yaitu 70% - 115%. Hasil nilai sebar berdasarkan pengujian di Laboratorium yaitu bekisar antara 95% - 103,5 %.

50

Kebutuhan bahan untuk tiap adukan benda uji dan perhitungan rencana adukan (mix design) dapat dilihat pada tabel 4.1 dan tabel 4.2 dan perhitungan selengkapnya pada lampiran 8 Tabel 4.1. Rencana Adukan dan Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan (Mix Design) Benda Uji terhadap Perbandingan Berat Pasir No Adukan I II III IV V Perbandingan Berat 1:5 1:5 1:5 1:5 1:5 Jumlah Kadar Serbuk Gergaji (%) 0 5 10 15 20 Semen 0.2308 0.2308 0.2308 0.2308 0.2308 1.1538 Berat (Kg) Pasir Air 1,1538 1,0961 1,0384 0,9807 0,9230 5.1919 0.1154 0.1154 0.1154 0.1154 0.1154 0.5769 Serbuk Gergaji 0 0,0577 0,1154 0,1731 0,2308 0.5769

Tabel 4.2. Rencana Adukan dan Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan (Mix Design) Benda Uji terhadap Perbandingan Berat Semen No Adukan I II III IV V Perbandingan Berat 1:5 1:5 1:5 1:5 1:5 Jumlah Kadar Serbuk Gergaji (%) 0 5 10 15 20 Semen 0,2308 0,2192 0,2077 0,1961 0,1846 1,0384 Berat (Kg) Pasir Air 1,1538 1,1538 1,1538 1,1538 1,1538 5,7688 0.1154 0.1154 0.1154 0.1154 0.1154 0,5769 Serbuk Gergaji 0,0000 0,0115 0,0231 0,0346 0,0462 0,1154

4.3

Nilai Sebar dan Faktor Air Semen (Fas)

Sebelum adukan mortar dicetak, terlebih dahulu adukan mortar semen diperiksa nilai sebarnya. Nilai sebar yang disyaratkan pada penelitian ini berdasarkan ASTM D : C 270 – 575 yaitu 70% - 115% dan berdasarkan

pengujian di lapangan 95% - 103,5%. Pemeriksaan nilai sebar yang disyaratkan

51

akan diperoleh nilai faktor air semen (fas) yang sesuai. Nilai sebar dan perubahan fas yang diperoleh pada setiap adukan mortar diperlihatkan pada tabel 4.3 dan gambar 4.1 serta perhitungan nilai sebar dan fas selengkapnya pada lampiran 9. Tabel 4.3. Hasil Pemeriksaan Nilai Sebar dan Faktor Air Semen (fas) untuk Setiap Adukan Mortar No Perb. Berat adukan Serbuk Gergaji terhadap I II Pasir III IV V I II Semen III IV V
106 104 Nilai Sebar (%) 102 100 98 96 94 92 90 0 5 10 15 Konsentrasi Serbuk Gergaji (%) 20

Kadar Serbuk Gergaji 0 5 10 15 20 0 5 10 15 20

Nilai Sebar (%) 103,5 101,5 97,25 96,75 95 103,5 102,75 101,75 99 96

Total Penggunaan Air 0,2011 0,2011 0,2011 0,2074 0,2074 0,2011 0,2011 0,2011 0,2011 0,2011
Subsitusi berat pasir Subsitusi berat semen

Nilai fas 1,05 1,05 1,05 1,10 1,10 1,05 1,05 1,05 1,05 1,05

Gambar 4.1. Hubungan antara Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Nilai Sebar Dari tabel 4.3 dan gambar 4.1 untuk variasi kadar serbuk gergaji 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, secara umum bahwa semakin besar konsentrasi serbuk gergaji dalam adukan akan meningkatkan fas yang dibutuhkan untuk memenuhi nilai

52

sebar yang disyaratkan. Nilai sebar yang dihasilkan mortar semen tanpa penambahan serbuk gergaji yaitu 103,5% dan terus menurun pada mortar semen dengan menggunakan kadar serbuk gergaji hingga 20% terhadap berat pasir dan berat semen, dengan nilai sebar yang dihasilkan secara berturut-turut sebesar 95% dan 96%. Hal ini disebabkan oleh tertahannya kelongsoran mortar semen oleh serbuk gergaji sehingga diperlukan air yang lebih banyak untuk mendapatkan nilai sebar yang disyaratkan. Hubungan antara berat serbuk gergaji dalam suatu mortar dengan nilai sebar seperti terilihat pada lampiran 9 dan gambar 4.2.
104

102

y = -0,0259x + 102,06 R2 = 0,6618

Nilai Sebar (%)

100

98

96

94

92 0 50 100 150 200 250 300 350

Berat Serbuk Gergaj i (kg/m3)

Gambar 4.2. Hubungan antara Berat Serbuk Gergaji dengan Nilai Sebar Pada gambar 4.2 terlihat bahwa terjadi penurunan nilai sebar seiring dengan bertambahnya berat serbuk gergaji di dalam adukan. Penurunan nilai sebar mortar dengan penambahan berat serbuk gergaji disebabkan adanya subsitusi volume pasir dan subsitusi semen yang digantikan dengan volume serbuk gergaji yang memiliki sifat higroskopis atau menyerap air sehingga untuk mendapatkan nilai sebar yang disyaratkan perlu melakukan peningkatan nilai fas.

53

4.4

Kebutuhan Bahan Tiap 1 M3 Mortar Setiap Adukan Mortar Berdasarkan Faktor Air Semen Yang Digunakan

Dalam penelitian ini faktor air semen tidak dibuat tetap atau konstan kerena adanya persyaratan nilai sebar pada mortar yang berhubungan dengan kemudahan pengerjaan dilapangan. Besarnya nilai sebar berhubungan erat dengan jumlah air yang diberikan dalam adukan mortar. Serbuk gergaji sebagai bahan pengisi dalam adukan mortar semen, akan memberikan pengaruh terhadap kebutuhan air didalam adukan untuk mendapatkan nilai sebar yang disyaratkan. Untuk melihat sejauh mana pengaruh penambahan serbuk gergaji ini terhadap kebutuhan air didalam adukan mortar semen, maka faktor air semen didalam adukan tidak dibuat konstan melainkan disesuaikan dengan kebutuhan tiap adukan untuk mendapatkan nilai sebar yang ditetapkan. Percobaan dimulai dengan fas 0.5, kemudian kekentalan adukan diperiksa dengan meja sebar. Bila nilai sebar kurang dari yang disyaratkan maka adukan ditambah air dengan berat tertentu hingga mememenuhi syarat nilai sebar. Dengan adanya perubahan fas tersebut maka perlu dihitung kembali kebutuhan bahan susun yang sebenarnya dalam 1 m3 adukan mortar. Perhitungan didasarkan atas berat jenis dan kebutuhan air yang sebenarnya pada tiap adukan untuk memenuhi nilai sebar yang disyaratkan. Kebutuhan bahan susun dalam m3 adukan mortar dapat dilihat pada tabel 4.4 dan tabel 4.5 serta hasil hitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 10.

54

Tabel 4.4. Kebutuhan bahan tiap 1 m3 mortar semen terhadap perbandingan berat pasir Semen Fas Perbandingan Berat 1:5 1:5 1:5 1:5 1:5 Jumlah Serbuk Gergaji (%) 0 5 10 15 20 Semen 0,1915 0,1915 0,1915 0,1886 0,1886 0,9517 Berat (Kg) Pasir Air 0,9574 0,9095 0,8617 0,8014 0,7542 4,2842 0,2011 0,2011 0,2011 0,2074 0,2074 1,0181 Serbuk Gergaji 0 0,0479 0,0957 0,1414 0,1886 0,4736

I II III IV V

1,05 1,05 1,05 1,10 1,10

Tabel 4.5. Kebutuhan bahan tiap 1 m3 mortar semen terhadap perbandingan berat semen Semen Fas Perbandingan Berat 1:5 1:5 1:5 1:5 1:5 Jumlah Serbuk Gergaji (%) 0 5 10 15 20 Semen 0,1915 0,1819 0,1723 0,1628 0,1532 0,8617 Berat (Kg) Pasir Air 0,9574 0,9574 0,9574 0,9574 0,9574 4,7870 0,2011 0,2011 0,2011 0,2011 0,2011 1,0053 Serbuk Gergaji 0 0,0096 0,0191 0,0287 0,0383 0,0957

I II III IV V

1,05 1,05 1,05 1,05 1,05

4.5

Hasil Pengujian Kuat Tekan Mortar Semen

Pengujian kuat tekan dilakukan pada saat mortar telah berumur 28 hari, dengan 5 buah benda uji untuk setiap kadar serbuk gergaji dan menggunakan mesin uji desak (Compression Tension Machine ) merk Indotest. Hasil pengujian kuat tekan mortar semen dengan bahan tambah serbuk gergaji dan jenis-jenis type adukan mortar dilihat pada tabel 4.6 dan hasil selengkapnya pada lampiran 12.

55

Tabel 4.6. Hasil Pengujian Kuat Tekan Mortar Semen pada Umur 28 Hari No. Adukan I II III IV V I II III IV V Faktor Air Semen 1.05 1.05 1.05 1.10 1.10 1.05 1.05 1.05 1.05 1.05 Perbandingan berat Serbuk Gergaji (%) 0 5 10 15 20 0 5 10 15 20 Kuat Tekan Rata-rata (kg/cm2) 108,8 88,8 46,4 30,4 19,2 108,8 88,0 84,0 56,8 43,2 Mortar Type Adukan S S O O K S S S S O

Pasir

Semen

Data yang diperoleh dari penelitian kuat tekan mortar diplotkan dalam bentuk grafik. Kemudian ditentukan jenis kurva yang sesuai. Untuk menyatakan hubungan antara konsentrasi serbuk gergaji dengan kuat tekan mortar semen dipilih jenis kurva non linier. Hubungan konsentrasi serbuk gergaji dengan kuat tekan mortar subsitusi berat pasir dan subsitusi semen dapat dilihat pada lampiran 12 dan gambar 4.3.
180 160

K u at tekan (kg /cm2)

140 120 100 80 60 40 20 0 0

y = 151,07e-0,0165x R2 = 0,5517

A =Subsitusi pasir B= Subsitusi semen C = Ismeddiyanto (1998)
C

y = 113,84e-0,0463x R2 = 0,8219
B
-0,1065x

y = 128,74e R = 0,9184
5 10 15
2

A

20

Konsentrasi serbuk gergaji Subsitusi pasir dan subsitusi semen (%)

Gambar 4.3. Hubungan Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Kuat Tekan Mortar Subsitusi Berat Pasir dan Subsitusi berat Semen

56

Dari gambar 4.3, dapat dilihat bahwa kuat tekan mortar semen akan semakin menurun dengan bertambahnya kandungan serbuk gergaji dalam campuran. Kuat tekan tertinggi terjadi pada konsentrasi serbuk gergaji 0%, kemudian kuat tekan akan semakin menurun sampai pada konsentrasi serbuk gergaji 20%. Untuk mortar semen dengan subsitusi berat pasir kuat tekan tertinggi sebesar 128,740 kg/cm2 kuat tekan terendah sebesar 15,279 kg/cm2, kemudian untuk mortar semen dengan subsitusi berat semen kuat tekan tertinggi sebesar 113,84 kg/cm2 dan kuat tekan terendah sebesar 45,070 kg/cm2. Secara umum bentuk grafik kuat tekan mortar dari hasil penelitian memiliki kecenderungan yang berbeda bila dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan Ismeddiyanto (1998). Pada hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi serbuk gergaji yang sama, kedua subsitusi tersebut samasama mengalami penurunan kuat tekan tetapi penurunan yang tajam hanya terterjadi pada subsitusi berat pasir. Penurunan tajam tersebut terjadi karena berat serbuk gergaji sebagai subsitusi berat pasir lebih besar beratnya sehingga semakin berat serbuk gergaji yang digunakan maka akan mengurangi ikatan pada butiranbutiran agregat. Apabila kedua komponen subsitusi (berat serbuk gergaji subsitusi berat pasir dan subsitusi berat semen) digabungkan atau disatukan secara menyeluruh maka akan didapat hubungan berat serbuk gergaji dengan kuat tekan mortar semen seperti yang terlihat pada lampiran 11 dan gambar 4.4.

57

140 120

Kuat Tekan (kg/cm2)

y = 98,095e-0,0061x R2 = 0,8186

100 80 60 40 20 0 0 50 100 150 200 250 300 350

Berat Serbuk Gergaj i (kg/m3)

Gambar 4.4. Hubungan Berat Serbuk Gergaji dengan Kuat Tekan Mortar Pada gambar 4.4 terlihat bahwa semakin banyak berat serbuk gergaji yang digunakan dalam setiap campuran mortar semen akan terjadi penurunan kuat tekan. Penyebab penurunan tersebut karena kadar zat ekstraktif dalam serbuk gergaji mempengaruhi terjadinya penurunan kekuatan pasta semen. Disamping itu serbuk gergaji merupakan butiran-butiran kayu yang memiliki sifat-sifat kimia (selulosa, hemiselulosa, lignin dan zat ekstraktif kayu) sehingga satu butir serbuk gergaji merupakan kumpulan sel-sel kayu dinding sel dibentuk oleh selulosa yang disatukan oleh zat perekat lignin yang memiliki kekuatan yang relatif lemah jika dibandingakan dengan selulosa, sehingga serbuk gergaji merupakan bahan yang terdiri dari partikel-partikel yang kuat tetapi tidak terikat dengan kuat. Selain itu serbuk gergaji memiliki bentuk dan testur permukaan butir-butir agregat yang belum terdefinisikan dengan jelas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa serbuk gergaji merupakan bahan dari alam yang memiliki kekuatan yang berbeda-beda meskipun berasal dari batang pohon yang sama dan kekuatannya itu sangat bervariasi dalam batas-batas yang besar, sehingga sifat-

58

sifat tersebut sulit diukur dengan baik dan pengaruhnya terhadap kekuatan mortar semen sulit diperiksa dengan teliti. Faktor yang sangat besar memberikan konstribusi terhadap penurunan kekuatan mortar semen adalah sifat kimia kayu yaitu kandungan ektraktif pada serbuk gergaji kayu jati. Pengerasan semen akan terhambat apabila bahan baku kayu yang berupa serbuk gergaji mempunyai kandungan ekstraktif yang tinggi. Agar proses pengerasan semen tidak terhambat menurut Kamil, (1970 dalam Ismeddiyanto (1998:27)) maksimum kandungan ekstraktif pada kayu adalah 1% gula, 2% tannin atau 3% minyak. Untuk mengurangi zat ekstraktif adalah dengan cara merendam serbuk gergaji dalam air panas atau dingin. Pada penelitian ini serbuk gergaji direndam dalam air dingin selam 48 jam. Karena proses perendaman yang tidak sempurna dan juga sifat kayu jati yang mempunyai kelarutan zat ekstraktif dalam air dingin sebesar 1,2% maka masih terdapat zat ekstraktif yang belum larut (Anonim 1991). Hal ini akan menghambat proses hidrasi semen yang mengakibatkan penurunan kekuatan pasta semen setelah pasta semen mengeras. Jadi karena adanya zat ekstraktif dalam serbuk gergaji akan menyebabkan penurunan kekuatan pasta semen dan memperlemah lekatan antara butir agregat halus dan pasta semen, sehingga dengan semakin tingginya kandungan serbuk gergaji, maka semakin tinggi pula kandungan zat ekstraktif dalam campuran yang akan menyebabkan terjadinya penurunan kekuatan mortar semen.

59

Penurunan kekuatan mortar bisa juga dipengaruhi oleh banyaknya berat semen yang digunakan pada setiap adukan. Hubungan berat semen dengan kuat tekan mortar semen dapat dilihat pada lampiran 11 dan gambar 4.5.
150

125 K u a t T e k a n (k g / c m 2 )

y = -0,0064x 2 + 4,536x - 682,42 R2 = 0,7986

100

75

50

25

0 245,0937 265,0937 285,0937 305,0937 325,0937 345,0937 365,0937 385,0937

Berat Semen (kg/m3)

Gambar 4.5 Hubungan Berat Semen dengan Kuat Tekan Mortar Semen Dari gambar 4.5 terlihat bahwa semakin besarnya berat semen yang digunakan pada batas tertentu maka jumlah air yang digunakan hampir sama, sehingga kuat tekan mortar akan mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut disebabkan karena dengan bertambahnya berat semen (pada fas tetap) maka semakin meningkat pasta semen yang digunakan untuk mengikat agregat, melapisi permukaan butiran agregat halus (pasir dan serbuk gergaji) dan juga mengisi butir-butir antara agregat yang akan menimbulkan lebih banyak pori karena rongga-rongga antara agregat yang tidak terisi oleh pasta. Tetapi bila terlalu banyak berat semen yang digunakan melampaui batas tertentu maka akan

60

mengalami penurunan kuat tekan, hanya saja pada penelitian ini belum meneliti sampai sejauh batas kuat tekan maksimum dan penurunan kuat tekannya. Hasil ini sesuai dengan Tjokrodimuljo (1996:61) pada tingkat kemudahan pengerjaan (workabilitas) yang sama atau nilai faktor air semen yang berubah, beton dengan kandungan semen lebih banyak akan mempunyai nilai kuat tekan yang lebih tinggi. Hal ini karena pada tingkat pengerjaan yang sama jumlah air yang digunakan hampir sama, sehingga penambahan semen berarti mengurangi nilai faktor air semen yang mengakibatkan nilai kuat tekannya semakin tinggi.

4.6

Hasil Pengujian Daya Serap Air Mortar Semen

Pengujian daya serap air mortar semen dilakukan terhadap 5 benda uji yang berbentuk kubus dengan ukuran 5 x 5 x 5 cm pada setiap variasi campuran. Hasil pengujian daya serap air mortar dengan bahan tambah serbuk gergaji dilihat pada tabel 4.7 dan hasil selengkapnya pada lampiran 13. Tabel 4.7. Hasil Pengujian Daya Serap Air Mortar Semen pada Umur 28 Hari No. Adukan I II III IV V I II III IV V Faktor Air Semen 1,05 1,05 1,05 1,10 1,10 1,05 1,05 1,05 1,05 1,05 Perbandingan berat Pasir Serbuk Gergaji (%) 0 5 10 15 20 0 5 10 15 20 Daya serap air Rata-rata (%) 11,043 16,020 29,199 37,340 46,520 11,043 12,702 13,020 14,317 16,487

Semen

61

Data yang diperoleh dari penelitian daya serap air mortar semen diplotkan dalam bentuk grafik. Kemudian ditentukan jenis kurva yang sesuai. Untuk menyatakan hubungan antara konsentrasi serbuk gergaji dengan daya serap air mortar semen dipilih jenis kurva linier. Hubungan antara konsentrasi serbuk gergaji dengan daya serap air dapat dilihat pada lampiran 13 dan gambar 4.6.
60,000

A =Subsitusi Pasir B= Subsitusi Semen C = Ismeddiyanto (1998) y = 1,7687x + 9,8128
A

50,000

D a y a s e r a p a i r (% )

R = 0,9542
40,000

2

30,000

20,000

y = 0,2501x + 11,013 R2 = 0,6902 y = 0,0586x + 7,219 R2 = 0,2475
0 5 10 15 20

B C

10,000

0,000

Konsentrasi Serbuk Gergaji sebagai subsitusi pasir dan subsitusi semen (%)

Gambar 4.6. Hubungan antara Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Daya Serap Air Mortar Semen Subsitusi Pasir dan Subsitusi Semen Dari grafik hubungan antara konsentrasi serbuk gergaji dan daya serap air mortar semen yang terdapat pada gambar 4.6 dapat dilihat bahwa daya serap air mortar semen akan semakin meningkat dengan bertambahnya kandungan serbuk gergaji dalam campuran. Daya serap air terendah terjadi pada konsentrasi serbuk gergaji 0 %, kemudian daya serap air akan meningkat sampai pada konsentrasi serbuk gergaji 20 %. Untuk subsitusi pasir daya serap air terendah sebesar 9,569 % dan daya serap air tertinggi sebesar 46,481 %, kemudian untuk subsitusi

62

semen daya serap air terendah sebesar 11,013 % dan daya serap air tertinggi sebesar 16,015 %. Dari hasil pengujian daya serap air terlihat bahwa pada hasil penelitian daya serap airnya mengalami peningkatan yang lebih besar jika dibandingkan dengan penelitian Ismeddiyanto (1998). Mortar semen dengan subsitusi berat pasir menunjukkan kenaikan yang tajam jika dibandingkan dengan daya serap air mortar semen dengan subsitusi berat semen seperti terlihat pada gambar 4.6. Hal tersebut disebabkan karena berat serbuk gergaji didalam campuran lebih kecil bila menggunakan subsitusi semen. Karena sifat serbuk gergaji yang sangat higroskopis maka semakin besar pula nilai daya serap airnya. Secara umum hubungan antara berat serbuk gergaji dengan daya serap air mortar semen subsitusi pasir dan subsitusi semen terlihat pada lampiran 11 dan gambar 4.7.
60 50

y = 0,1205x + 9,7887 R = 0,9754
2

D aya Serap A ir (% )

40 30 20 10 0 0 50 100 150 200 250 300 350

Berat Serbuk Gergaji (kg/m3)

Gambar 4.7. Hubungan antara Berat Serbuk Gergaji dengan Daya Serap Air Mortar Semen

63

Pada gambar 4.7 terlihat bahwa dengan bertambahnya berat serbuk gergaji dalam adukan mortar semen maka akan meningkatkan daya serap air. Peningkatan ini disebabkan karena sifat dari serbuk gergaji yang sangat higroskopis. Selain itu dengan semakin besarnya perbandingan persentase serbuk gergaji, maka akan berkurang pula pasta semen yang berfungsi sebagai bahan pengikat yang melapisi permukaan butiran agregat halus (pasir dan serbuk gergaji) dan juga mengisi butir-butir antara agregat. Hubungan antara pasta semen dengan daya serap air mortar semen dapat dilihat pada lampiran 11 dan gambar 4.8 yang menyatakan bahwa semakin banyaknya pasta maka daya serap air akan meningkat.
60 50 y = 0,409x - 222,07 R2 = 0,7206

Daya Serap Air (%)

40 30 20 10 0 566,779

576,779

586,779

596,779

606,779

616,779

626,779

636,779

Pasta Semen (kg/m3)

Gambar 4.8. Hubungan Pasta Semen dengan Daya Serap Air mortar semen Pada gambar 4.8. terlihat bahwa terjadi peningkatan daya serap air dengan bertambahnya pasta semen di dalam adukan. Peningkatan nilai daya serap air disebabkan karena adanya peningkatan penggunaan air dan semen. Dengan semakin banyak air dan semen yang digunakan mengakibatkan berkurangnya

64

kepadatan mortar semen dan terbentuknya rongga-rongga udara sehingga daya serap air akan semakin meningkat. Tjokrodimuljo (1996) berpendapat bahwa pada kondisi fas yang sama dengan jumlah semen terlalu banyak berarti jumlah air juga berlebih sehingga beton mengandung banyak pori. Kecenderungan daya serap air mortar semen yang semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya konsentrasi serbuk gergaji tersebut disebabkan karena serbuk gergaji bersifat higroskopis atau menyerap air. Sifat higroskopis serbuk gergaji akan memberikan kontribusi yang besar terhadap kenaikan daya serap air mortar semen. Serbuk gergaji dapat dikatakan sebagai bahan yang berpori, sehingga air dapat dengan mudah terserap dan mengisi pori-pori tersebut. Faktor lain yang menyebabkan semakin meningkatnya daya serap air adalah semakin meningkatnya porositas mortar semen akibat kelebihan air yang tidak bereaksi dengan semen. Air ini akan menguap atau tinggal dalam mortar semen yang akan menyebabkan terjadinya pori-pori (capillary pores) pada pasta semen sehingga akan menghasilkan pasta yang porous, hal ini akan menyebabkan semakin berkurangnya kekedapan air mortar semen. Setelah mortar semen mengering air yang terdapat dalam serbuk gergaji akan menguap. Air yang keluar dari rongga sel dan dinding sel mengakibatkan serbuk gergaji menyusut volumenya. Akibatnya penyusutan tersebut akan terjadi rongga-rongga udara pada permukaan serbuk gergaji dan akan menyebabkan mortar semen berpori. Mortar semen yang berpori akan memiliki daya serap air yang tinggi.

65

4.7

Hasil Pengujian Kuat Tarik Mortar Semen

Pengujian kuat tarik dilakukan pada saat mortar telah berumur 28 hari, dengan 5 buah benda uji untuk setiap kadar serbuk gergaji dan menggunakan mesin uji desak (Compression Tension Machine ) merk Idotest. Hasil pengujian kuat tarik mortar dengan bahan tambah serbuk gergaji dilihat pada tabel 4.8 dan hasil selengkapnya pada lampiran 14. Tabel 4.8 Hasil Pengujian Kuat Tarik Mortar Semen pada Umur 28 Hari No. Adukan I II III IV V I II III IV V Faktor Air Semen 1,05 1,05 1,05 1,10 1,10 1,05 1,05 1,05 1,05 1,05 Perbandingan berat Serbuk Gergaji (%) 0 5 10 15 20 0 5 10 15 20 Kuat Tarik Rata-rata (kg/cm2) 70,979 33,994 23,402 14,781 4,933 70,979 62,867 48,622 35,411 21,970

Pasir

Semen

Data yang diperoleh dari penelitian

kuat tarik mortar semen diplotkan

dalam bentuk grafik. Kemudian ditentukan jenis kurva yang sesuai. Untuk menyatakan hubungan antara konsentrasi serbuk gergaji dengan kuat tarik mortar semen dipilih jenis kurva non linier. Hubungan antara konsentrasi serbuk gergaji dengan kuat tarik dapat dilihat pada lampiran 14 dan gambar 4.9.

66

90

A = Subsitusi Pasir
80

B = Subsitusi Semen
K u at T ar ik (kg /cm 2)
70 60 50 40 30 20 10 0 0 5 10 15 20

y = 71,859e-0,1246x R2 = 0,87 y = 78,416e-0,0584x R2 = 0,9229
Serbuk Gergaji Sebagai Subsitusi Pasir dan Subsitusi Semen (%)
B

A

Gambar 4.9.

Hubungan antara Konsentrasi Serbuk Gergaji dengan Kuat Tarik Subsitusi Pasir dan Subsitusi Semen

Dari grafik hubungan antara konsentrasi serbuk gergaji dan kuat tarik mortar semen yang terdapat pada gambar 4.9, dapat dilihat bahwa kuat tarik mortar semen akan semakin menurun dengan bertambahnya kandungan serbuk gergaji dalam campuran. Kuat tarik tertinggi terjadi pada konsentrasi serbuk gergaji 0%, kemudian kuat tarik akan semakin menurun sampai pada konsentrasi serbuk gergaji 20 %. Untuk subsitusi berat pasir kuat tarik tertinggi sebesar 71,86 kg/cm2 dan kuat tarik terendah sebesar 5,937 kg/cm2, kemudian untuk subsitusi berat semen kuat tarik tertinggi sebesar 78.42 kg/cm2 dan kuat tarik terendah sebesar 24,56 kg/cm2. Berdasarkan gambar 4.9 terlihat bahwa pada campuran mortar 0 % atau adukan mortar tanpa serbuk gergaji (adukan I) relatif lebih kuat dibanding dengan adukan mortar dengan penambahan serbuk gergaji. Penurunan kuat tarik ini disebabkan adanya subtitusi antara berat pasir dan berat semen yang diganti oleh

67

berat serbuk gergaji dan air, yang mengakibatkan berkurangnya kepadatan mortar sehingga mortar semen tidak kuat terhadap gaya tarik. Kelemahan mortar semen terletak pada kuat tarik sehingga akan segera retak jika mendapat tegangan tarik. Kelemahan kuat tarik mortar semen juga bisa diketahui dari penambahan berat serbuk gergaji secara berlebihan. Dengan digabungkannya berat serbuk gergaji dari hasil perhitungan subsitusi berat pasir dan berat semen maka didapat hubungan berat serbuk gergaji dengan kuat tarik mortar semen seperti yang terlihat pada lampiran 11 dan gambar 4.10.
90 80 Kuat Tarik (kg/cm2) 70 60 50 40 30 20 10 0 0 50 100 150 200 250 Berat Serbuk Gergaji (kg/m 3) 300 350

y = 61,043e 2 R = 0,869

-0,0078x

Gambar 4.10. Hubungan antara Berat Serbuk Gergaji dengan Kuat Tarik Mortar Semen Penurunan kuat tarik mortar semen terjadi pada saat penambahan berat serbuk gergaji yang relatif lebih besar. Penurunan kuat tarik mortar terjadi karena adanya perubahan faktor air semen yang terlalu besar sehingga semakin banyak berat serbuk gergaji maka air yang digunakan semakin besar pula terbukti dari hasil perhitungan antara subsitusi pasir dan subsitusi semen. Dengan nilai fas melebihi angka 1 berarti serbuk gergaji yang digunakan akan semakin bertambah

68

sejalan dengan bertambahnya air sehingga adukan mortar semen menjadi lebih berpori. Mortar yang berpori berarti kuat tariknya rendah. Pemakian serbuk gergaji sebagai bahan isian pada mortar semen, akan sangat mempengaruhi terhadap penurunan kuat tarik mortar semen yang dihasilkan. Seperti yang telah disebutkan di muka untuk mendapatkan tingkat pengerjaan yang sama untuk setiap adukan yang berbeda proporsi bahannya diperlukan penambahan fas sejalan dengan semakin besarnya kandungan serbuk gergaji dalam campuran. Hal ini disebabkan karena serbuk gergaji yang digunakan dalam adukan dengan kadar air 16,85 % masih akan menyerap air dari campuran karena sifatnya yang sangat higroskopis. Selain sifat tersebut karena serbuk gergaji memiliki ukuran butiran yang lebih halus jika dibandingkan dengan pasir maka penambahan kandungan serbuk gergaji dalam campuran akan menyebabkan ukuran butir agregat campuran menjadi lebih halus sehingga dibutuhkan air yang lebih banyak untuk melumasi campuran agregat yang memiliki permukaan yang lebih luas. Perubahan fas tersebut akan menjadikan adukan memilki workabilitas yang sama dan memiliki nilai sebar yang berdasarkan ASTM D : C270 – 575 yaitu 70 % - 115%, akan tetapi apabila perubahan fas tersebut berlebihan akan menyebabkan penurunan kuat tarik mortar semen. Kelebihan air yang tidak bereaksi dengan semen akan menguap atau tetap tinggal dalam mortar semen yang akan menyebabkan pasta semen memiliki pori-pori (capillary pores) lebih banyak sehingga akan menghasilkan bahan yang porous.

69

Pada saat pencampuran bahan, air akan diserap oleh serbuk gergaji sampai dalam keadaan jenuh. Air yang diserap oleh serbuk gergaji tersebut akan mengisi ruang antar sel (disebut air bebas atau free water), dinding sel (disebut air ikat atau imbitet water) dan permukaan butir serbuk gergaji yang berpori. Setelah mortar semen mengeras dan mengering air bebas dan air ikat akan keruar dari ruang sel dan dinding sel yang akan menguap. Serbuk gergaji yang mengering menyebabkan dinding sel semakin padat, sehingga serat-seratnya menjadi lebih kuat. Air yang keluar dari rongga sel dan dinding dinding sel akan

mengakibatkan serbuk gergaji menyusut volumenya, sehingga akan mengurangi lekatan yang baik antara serbuk gergaji dengan pasta semen yang akan menurunkan kekuatan mortar semen. Akibat penyusutan tersebut juga akan menimbulkan terjadinya rongga-rongga udara pada permukaan butiran serbuk gergaji dan menyebabkan mortar semen menjadi porous. Mortar semen yang porous ini akan memiliki kekuatan tarik yang lebih rendah.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Hasil pengujian nilai sebar dilapangan sebesar 95% - 103,5% memenuhi syarat ASTM D : C 270 – 575 yaitu 70 % - 115%. 2. Nilai fas yang dihasilkan dari 0% serbuk gergaji hingga 50% serbuk gergaji dari berat pasir yang dipergunakan bernilai antara 1.05 – 1.10 sedangkan fas dengan persentase serbuk gergaji dari berat semen sebesar 1.05. 3. Penambahan serbuk gergaji kayu jati sebagai subsitusi pasir dan subsitusi semen pada mortar semen akan menyebabkan terjadinya pengaruh penurunan nilai kuat tekan dan kuat tarik, akan tetapi pengaruh kenaikan terjadi pada nilai daya serap airnya. 4. Mortar semen yang menggunakan serbuk gergaji sebagai subsitusi pasir dan subsitusi semen mengalami penurunan kuat tekan sejalan dengan

bertambahnya persentase serbuk gergaji kayu jati. Kuat tekan rata-rata tertinggi untuk kedua subsitusi berturut-turut adalah 128,740 kg/cm2 dan 113,84 kg/cm2 yang dicapai pada konsentrasi serbuk gergaji 0%, sedangkan kuat tekan rata–rata terendah untuk kedua subsitusi berturut-turut adalah 15,279 kg/cm2 dan gergaji 20%. 45,070 kg/cm2 yang dicapai pada konsentrasi serbuk

70

71

5. Berdasarkan kuat tekan rata-rata benda uji, mortar yang termasuk kedalam mortar type adukan S yaitu adukan yang menggunakan serbuk gergaji sebagai subsitusi berat pasir 0% hingga 5% dan subsitusi berat semen 0% hingga 15% sedangkan mortar yang menggunakan serbuk gergaji sebagai subsitusi berat pasir 10% hingga 15% dan subsitusi berat semen 20% termasuk dalam mortar type adukan O. Untuk mortar type adukan K hanya dialami pada adukan yang menggunakan serbuk gergaji sebagai subsitusi berat pasir 20%. 6. Mortar semen yang menggunakan serbuk gergaji sebagai subsitusi pasir dan subsitusi semen mengalami kenaikan daya serap sejalan dengan bertambahnya persentase serbuk gergaji kayu jati. Daya serap air rata-rata terrendah untuk kedua subsitusi berturut-turut adalah 9,569% dan 11,013% yang dicapai pada konsentrasi serbuk gergaji 0%, sedangkan daya serap air rata–rata tertinggi untuk kedua subsitusi berturut-turut adalah 46,481% dan 16,015% yang dicapai pada konsentrasi serbuk gergaji 20%. 7. Mortar semen yang menggunakan serbuk gergaji sebagai subsitusi pasir dan subsitusi semen mengalami penurunan kuat tarik sejalan dengan

bertambahnya persentase serbuk gergaji kayu jati. Kuat tarik rata-rata tertinggi untuk kedua subsitusi berturut-turut adalah 71,86 kg/cm2 dan 78.42 kg/cm2 yang dicapai pada konsentrasi serbuk gergaji 0%, sedangkan kuat tarik rata– rata terendah untuk kedua subsitusi berturut-turut adalah 5,937 kg/cm2 dan 24,56 kg/cm2 yang dicapai pada konsentrasi serbuk gergaji 20%.

72

8. Jadi ada pengaruh terhadap kuat tekan , kuat tarik dan daya serap air dan ada perbedaan kuat tekan, kuat tarik dan daya serap air karena adanya penambahan serbuk gergaji kayu jati.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan pada penelitian ini baik pada pelaksanaan penelitian maupun pada hasil yang diperoleh, maka diberikan saran-saran sebagai berikut : 1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang keretakan dari mortar dengan bahan tambah serbuk gergaji. 2. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui sifat-sifat mortar semen dengan bahan isian pasir dan serbuk gergaji kayu jati khususnya terhadap pereabilitas udara yang lebih baik dengan berat jenis yang lebih rendah. 3. Penelitian lebih lanjut diperlukan pada pembuatan mortar semen dengan bahan isian serbuk gergaji dengan perbandingan campuran, persentase serbuk gergaji dan berat jenis bahan/kayu yang berbeda. 4. Diperlukan ditemukannya suatu cara atau metode yang khusus untuk mengolah serbuk gergaji sehingga kandungan zat ekstraktif dan zat-zat lain yang berpengaruh buruk pada pengerasan semen dapat dieliminer sekecil mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1985. Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia 1982 (PUBI1982). Bandung : Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman. Balitbang Dep. PU. Anonim, 1961. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia. Bandung : Direktorat Jenderal Ciptakarya DPU. Anonim, 1991. Industri Kehutanan di Indonesia. Jakarta : Departeman Kehutanan dan PT. Herzal Agrakarya Pratama. Anonim, 2003. Pedoman Penulisan Skripsi. FIS. Semarang : UNNES Press. Amalia D., 2001. Pemanfaatan Limbah Serbuk Gergaji Kayu Jati menjadi Karbon Aktif dengan Aktifator Kaporit. Laporan Penelitian. Semarang : Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP. Ayudhya Diella S., 2001. Pengolahan Limbah Cd2+ Terlarut Secara Absorpsi Menggunakan Delignifikasi Serbuk Gergaji Kayu Jati . Laporan Penelitian. Semarang : Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP. Bintang T., 2005. Karekteristik Mekanik Mortar dengan Bahan Tambah Serbuk Kaca. Tugas Akhir. Yogyakarta : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Ismeddiyanto, 1998. Penelitian Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona Grandis L-F) untuk Bata Beton. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Yogyakarta. Malawi R., 1996. Potensi Abu Sekam Padi sebagai Bahan Pengganti Semen : Tinjauan pada Mortar Seman dengan Bahan Tambah Abu Sekam Padi. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Jogjakarta. Munir S., 1996. Pengaruh penambahan serat Sabut Kelapa (Coconut Fibres) terhadap Kuat Tekan dan Daya Serap Air Batu Cetak Beton (Bataton). Tugas Akhir. Jogjakarta : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Penguin, 1999. Kamus Lengkap Teknik Sipil. Jakarta : Erlangga. Setyono E., 2003. Karakteristik Beton Dengan Agregat Halus Formulasi Pasir Pantai Mangkang-Pasir Muntilan Dengan Variasi Jumlah Semen. Tugas Akhir. Semarang : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Sipil UNNES.

73

74

Sjostrom, 1995. Kimia Kayu. Yogyakarta : UGM Press. Sudarmoko, 2000. Beton Fiber Lokal untuk Non-Struktural. Kursus Singkat Teknologi Bahan Lokal dan Aplikasinya di Bidang Teknik Sipil. Yogyakarta: Pusat Antar Universitas Ilmu Teknik Universitas Gadjah Mada. Sudjana, Prof. 1992. Metode Statistik. Bandung : Tarsito. Supada Albert, dkk, 2004. Alternatif Pemanfaatan Serbuk Gergaji. Surakarta : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Pertanian UNS. Suroso H., 2001. Pemanfaatan Pasir Pantai sebagai Bahan Agregat Halus pada Beton. Tesis S-2. Yogyakarta : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Sutrisno H., Prof. 2000. Statistik Jilid 2. Yogyakarta : Andi. Sutrisno H., Prof. 2000. Metodologi Research Jilid 4. Yogyakarta : Andi. Sutrisno H., Prof. 2000. Analisis Regresi Cetakan III. Yogyakarta : Andi. Tjokrodimuljo K., 2004. Beton-Non-Pasir untuk Pembuatan Elemen Non-Struktur dan Elemen Struktur Ringan. Seminar Nasional. Yogyakarta : Program S-1 Ekstensi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Tjokrodimuljo K., 1996. Teknologi Beton. Yogyakarta : Nafiri. Warsito, 1987. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka : Jakarta. Wirjomartono S., 1991. Kayu untuk Struktur. Jogjakarta : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM.

Lampiran 11 (lanjutan)

75

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
LABORATORIUM BAHAN BANGUNAN

HASIL PEMERIKSAAN BERAT JENIS PASIR
Peneliti Pasir asal Keperluan No 1 2 3 4 5 6 7 : MUH IBNU BUDI SETYAWAN, Mahasiswa S1 : Muntilan, Daerah Istimewa Jogjakarta : Penelitian Sampel I 48 9.70 500 1002.20 689.10 2.616 2.669 2.103 Sampel II 490.30 500.00 1009.50 695.00 2.643 2.695 1.978 Rata-rata 489.85 500.0 1005.85 692.3 2.630 2.682 2.040

URAIAN Berat pasir kering mutlak (gram) Berat pasir keadaan jenuh kering muka (gram) Berat piknometer berisi pasir dan air (gram) Berat pinometer berisi air (gram) Berat jenis (gram/cm3) Berat jenis jenuh kering muka (gr/cm3) Penyerapan air (pasir jenuh kering muka) %

Kesimpulan

: Berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh berat jenis pasir kering muka (SSD) adalah 2.682 Semarang, September 2005

Dikerjakan oleh :

Kepala Laboratorium Teknik Sipil

Muh Ibnu Budi Setyawan NIM : 5101401001

Untoro Nugroho, ST, MT. NIP : 132 158 473

Lampiran 11 (lanjutan)

76

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
LABORATORIUM BAHAN BANGUNAN
HASIL PEMERIKSAAN BUTIRAN YANG LEWAT AYAKAN No. 200 DAN KANDUNGAN ZAT ORGANIS
Peneliti Pasir asal Keperluan : MUH IBNU BUDI SETYAWAN, Mahasiswa S1 : Muntilan, Daerah Istimewa Jogjakarta : Penelitian

1. Pemeriksaan butiran yang lewat lobang ayakan No. 200 No URAIAN 1 Berat pasir kering tungku mula-mula (gram) 2 Berat pasir kering tungku setelah dicuci (gram) 3 Butiran yang lewat ayakan no. 200 (gram) 4 Kadar Lumpur % Sampel I 500.00 480.90 19.10 3.82 Sampel II 500.00 479.30 20.70 4.14 Rata-rata 500.00 480.10 19.90 3.98

Kesimpulan : Berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh kadar Lumpur pasir adalah 3.98 2. Pemeriksaan kandungan zat organis (khusus pasir) Hasil pemeriksaan setelah didiamkan selama 24 jam, larutan NaOH 3 % dan pasir di dalam gelas ukur secara visual menunjukkan warna larutan di atas pasir lebih muda dari warna standar..Menurut SII. 0052-80 hasil pemeriksaan warna tidak boleh lebih tua daripada warna standar. Kesimpulan : agregat memenuhi syarat untuk bahan adukan mortar . Semarang, Dikerjakan oleh : September 2005

Kepala Laboratorium Teknik Sipil

Muh Ibnu Budi Setyawan NIM : 5101401001

Untoro Nugroho, ST, MT. NIP : 132 158 473

Lampiran 11 (lanjutan)

77

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
LABORATORIUM BAHAN BANGUNAN
HASIL PEMERIKSAAN GRADASI PASIR DAN BERAT SATUAN PASIR
Peneliti Pasir asal Keperluan : MUH IBNU BUDI SETYAWAN, Mahasiswa S1 : Muntilan, Daerah Istimewa Jogjakarta : Penelitian

1. Pemeriksaan gradasi pasir Berat Komulatif Lewat Ayakan (mm) (gram) (%) (%) (%) 4,80 102.30 5.12 5.12 94.88 2.40 134.90 6.74 11.86 88.14 1.20 268.80 13.44 25.30 74.70 0.60 603.70 30.19 55.49 44.51 0.30 439.90 21.99 77.48 22.52 0.15 35.20 17.71 95.19 4.81 Sisa 96.20 4.81 Jumlah 2000.00 100.00 270.44 Kesimpulan : Berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh modulus kehalusan adalah 2.704 Gradasi pasir masuk daerah II (pasir agak kasar), diagram gradasi terlampir. 2. Pemeriksaan berat satuan pasir No URAIAN Sampel Berat bejana (w1), gram 250.70 Berat pasir + bejana (w2), gram 1813.30 Berat Pasir (w3), gram 1562.60 Volume bejana (w4), cm3 1000 Berat satuan (w3 / w4) 1.563 : Berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh berat satuan (shoveled) adalah 1.563 Semarang, September 2005 Kepala Laboratorium Teknik Sipil Lobang ayakan Berat Tertinggal Berat Komulatif

Kesimpulan

Dikerjakan oleh :

Muh Ibnu Budi Setyawan NIM : 5101401001

Untoro Nugroho, ST, MT. NIP : 132 158 473

Lampiran 11 (lanjutan)

78

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
LABORATORIUM BAHAN BANGUNAN
HASIL PEMERIKSAAN BERAT JENIS, BOBOT ISI DAN KADAR AIR KAYU JATI
Peneliti kayu jati asal Keperluan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 : MUH IBNU BUDI SETYAWAN, Mahasiswa S1 : Desa Sarip Kec. Wirosari Kab. Grobogan, Purwodadi : Penelitian Sampel I 17.00 47.00 45.00 28.30 556.20 24.70 511.7 0.656 0.692 14.57 Sampel II 17.00 50.00 45.00 33.10 659.50 29.10 581.5 0.681 0.683 13.74 Rata-rata 0.669 0.688 14.16

URAIAN Tebal kayu (mm) Panjang kayu (mm) Lebar kayu (mm) Berat kayu mula-mula (gram) Berat air raksa yang disisihkan (kayu mulamula), gram Berat kayu kering tungku (gram) Berat air raksa yang disisihkan kayu kering tungku), gram Berat isi (gr/cm3) Berat jenis (gr/cm3) Kadar air %

Kesimpulan

: Berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh berat jenis kayu jati sebesar 0.688, bobot isi sebesar 0.669 dan kadar air kayu jati sebesar 14.16 Semarang, September 2005

Dikerjakan oleh :

Kepala Laboratorium Teknik Sipil

Muh Ibnu Budi Setyawan NIM : 5101401001

Untoro Nugroho, ST, MT. NIP : 132 158 473

Lampiran 11 (lanjutan)

79

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
LABORATORIUM BAHAN BANGUNAN
HASIL PEMERIKSAAN KADAR AIR SERBUK GERGAJI KAYU JATI SEBELUM DIRENDAM DAN SETELAH DIRENDAM
Peneliti Keperluan : MUH IBNU BUDI SETYAWAN, Mahasiswa S1 : Penelitian

Serbuk gergaji kayu jati asal : Desa Sarip Kec. Wirosari Kab. Grobogan, Purwodadi

1. Serbuk gergaji kayu jati sebelum direndam No. URAIAN Sampel I 1 Berat serbuk mula-mula (gram) 40.61 2 Berat serbuk setelah kering tungku 36.09 (gram) 3 Kadar air % 12.52

Sampel II 43.84 38.73 13.19

Rata-rata 12.85

Kesimpulan : Berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh kadar air serbuk gergaji kayu jati sebelum direndam adalah 12.85 2. Serbuk gergaji kayu jati setelah direndam dan dikeringkan kembali No. URAIAN Sampel I Sampel II Rata-rata 1 Berat serbuk mula-mula (gram) 58.96 60.64 2 Berat serbuk setelah kering tungku 50.39 51.96 (gram) 3 Kadar air % 17.00 16.71 16.85 Kesimpulan : Berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh kadar air serbuk gergaji kayu jati setelah direndam dan dikeringkan kembali adalah 16.85 Semarang, Dikerjakan oleh : September 2005

Kepala Laboratorium Teknik Sipil

Muh Ibnu Budi Setyawan NIM : 5101401001

Untoro Nugroho, ST, MT. NIP : 132 158 473

Lampiran 11 (lanjutan)

80

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
LABORATORIUM BAHAN BANGUNAN
HASIL PEMERIKSAAN GRADASI SERBUK GERGAJI KAYU JATI DAN BERAT SATUAN SERBUK GERGAJI KAYU JATI
Peneliti Keperluan : MUH IBNU BUDI SETYAWAN, Mahasiswa S1 : Penelitian

Serbuk gergaji Kayu Jati asal : Desa Sarip Kec. Wirosari Kab. Grobogan, Purwodadi

3. Pemeriksaan gradasi serbuk gergaji Kayu Jati Lobang ayakan (mm) 4,80 2.40 1.20 0.60 0.30 0.15 Sisa Jumlah Kesimpulan Berat Tertinggal Berat Komulatif Berat Komulatif Lewat Ayakan (%) 100.00 100.00 98.35 60.94 20.71 3.53 kehalusan adalah

(gram) (%) (%) 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2.80 1.65 1.65 63.60 37.41 39.06 68.40 40.23 79.29 29.20 17.18 96.47 6.00 3.53 170 100 216.47 : Berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh modulus 2.165

4. Pemeriksaan berat satuan serbuk gergaji Kayu Jati No URAIAN Sampel 1 Berat bejana (w1), gram 250.70 2 Berat serbuk gergaji + bejana (w2), gram 456.20 3 Berat serbuk gergaji (w3), gram 205.50 4 Volume bejana (w4), cm3 1000 5 Berat satuan (w3 / w4) 0.21 : Berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh berat satuan (shoveled) adalah 0.21 Semarang, September 2005 Kepala Laboratorium Teknik Sipil

Kesimpulan

Dikerjakan oleh :

Jenis Analisa : Diagram Gradasi
Muh Ibnu Budi Setyawan NIM : 5101401001 Untoro Nugroho, ST, MT. NIP : 132 158 473

Lampiran 11 (lanjutan)

81

A. Analisa diagram gradasi pasir Lubang Batas Batas Ayakan Bawah Atas 4,8 90 100 2,4 75 100 1,2 55 90 0,6 35 59 0,3 8 30 0,15 0 10

Hasil Pemeriksaan 94,88 88,14 74,7 46 22,52 4,81

Gradasi Pasir Muntilan Daerah II
100 b e ra t b u tira n y a n g le w a t a y a k a n 90 80 70 60 50 40 30 20
Batas Atas Daerah III Batas Atas Daerah II Hasil Pemeriksaan Batas Atas Daerah I Batas Baw ah daerah I Batas Atas daerah IV Batas Baw ah Daerah IV Batas Atas Daerah II

10 0 0,15 0,3 0,6 1,2 2,4 4,8 Lubang ayakan
Batas Baw ah Daerah III

Lampiran 11 (lanjutan)

82

B. Analisa diagram gradasi serbuk gergaji Lubang Ayakan 4,8 2,4 1,2 0,6 0,3 0,15 Batas Atas 100 100 100 79 40 10 Hasil Pemeriksaan 100 100 98,35 60,94 20,71 3,53

Batas Bawah 90 85 75 60 12 0

Gradasi Serbuk Gergaji Kayu Jati Daerah III
100 90 B erat butir y ang lewat ay ak an 80 70 60 50
Batas Baw ah Daerah I Batas Baw ah Daerah III Batas Atas Daerah III Hasil Pemeriksaan Batas Atas Daearah I

40
Batas Atas Daerah II

30
Batas Baw ah Daearah II

20
Batas Atas Daeah IV

10
Batas Baw ah Daearah IV

0 0,15

0,3

0,6 1,2 Lubang ayakan

2,4

4,8

Lampiran 11 (lanjutan)

83

Jenis Perencanaan : Rencana Adukan dan Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan (Mix Design) Benda Uji

A. Kebutuhan untuk 1m3 adukan mortar dengan perbandingan berat pasir Perbandingan Berat yang digunakan (semen : pasir) = 1 : 5 Faktor air semen (f.a.s) awal = 0,5 Kebutuhan untuk 1m3 adukan
Bahan Berat (W) Semen 1 Pasir 5 Air 0,50 Sub total 6,50 Udara Total Faktor Konversi (K) Volume (W / BJ) (liter) 0,3175 1,8643 0,5000 2,6817 0,0268 2,7086 369,2001 Kebutuhan 1 m (Kg)* 369,2001 1846,001 184,6001 2399,801

* Berat bahan dikalikan dengan faktor konversi volume ( K )

a. Kebutuhan bahan untuk benda uji kubus 50 x 50 x 50 mm Serbuk Gergaji Sebagai Subtitusi Pasir
FAS Persentase Serbuk Gergaji (%) 0 5 0,5 10 15 20 Total Berat Pasir Total ( Kg ) 1,1538 1,0961 1,0384 0,9807 0,9230 5,1919 Berat Serbuk Gergaji Total ( Kg ) 0 0,0577 0,1154 0,1731 0,2308 0,5769 Berat Semen Total ( kg ) 0,2308 0,2308 0,2308 0,2308 0,2308 1,1538 Berat Air Total ( Kg ) 0,1154 0,1154 0,1154 0,1154 0,1154 0,5769

Volume kubus 50 mm x 50 mm x 50 mm = 0.000125 m3 x 5 buah = 0,000625 m3 b. Kebutuhan bahan untuk benda uji seperti angka delapan 75 x 50 x 25 mm

Lampiran 11 (lanjutan)

84

Serbuk Gergaji Sebagai Subtitusi Pasir
FAS Persentase Serbuk Gergaji (%) 0 5 0,5 10 15 20 Total Berat Pasir Total ( Kg ) 0,8653 0,8220 0,7788 0,7355 0,6923 3,8939 Berat Serbuk Gergaji Total ( Kg ) 0 0,0433 0,0865 0,1298 0,1731 0,4327 Berat Semen Total ( kg ) 0,1731 0,1731 0,1731 0,1731 0,1731 0,8653 Berat Air Total ( Kg ) 0,0865 0,0865 0,0865 0,0865 0,0865 0,4327

Volume seperti angka delapan 75 mm x 50 mm x 25 mm V = 0.075 x 0.05 mm x 0.025 mm = 0.00009375 m3 x 5 buah = 0,00046875 m3

B. Kebutuhan untuk 1m3 adukan mortar dengan perbandingan berat semen a. Kebutuhan bahan untuk benda uji kubus 50 x 50 x 50 mm Serbuk Gergaji Sebagai Subtitusi Semen
FAS Persentase Serbuk Gergaji (%) 0 5 0,5 10 15 20 Total Berat Pasir Total ( Kg ) 1,1538 1,1538 1,1538 1,1538 1,1538 5,7688 Berat Serbuk Gergaji Total ( Kg ) 0 0,0115 0,0231 0,0346 0,0462 0,1154 Berat Semen Total ( kg ) 0,2308 0,2192 0,2077 0,1961 0,1846 1,0384 Berat Air Total ( Kg ) 0,1154 0,1154 0,1154 0,1154 0,1154 0,5769

Volume kubus 50 mm x 50 mm x 50 mm = 0.000125 m3 x 5 buah = 0,000625 m3

Lampiran 11 (lanjutan)

85

b. Kebutuhan bahan untuk benda uji seperti angka delapan 75 x 50 x 25 mm Serbuk Gergaji Sebagai Subtitusi Semen
FAS Persentase Serbuk Gergaji (%) 0 5 0,5 10 15 20 Total Berat Pasir Total ( Kg ) 0,8653 0,8653 0,8653 0,8653 0,8653 4,3266 Berat Serbuk Gergaji Total ( Kg ) 0 0,0087 0,0173 0,0260 0,0346 0,0865 Berat Semen Total ( kg ) 0,1731 0,1644 0,1558 0,1471 0,1385 0,7788 Berat Air Total ( Kg ) 0,0865 0,0865 0,0865 0,0865 0,0865 0,4327

Volume seperti angka delapan 75 mm x 50 mm x 25 mm V = 0.075 x 0.05 mm x 0.025 mm = 0.00009375 m3 x 5 buah = 0,00046875 m3

Lampiran 11 (lanjutan)

86

Jenis Pengujian / Pemeriksaan : Pengujian Nilai Sebar dan F.a.s Perhitungan Analog
Faktor air semen (f.a.s) awal = 1.05
Bahan Berat (W) Semen 1 Pasir 5 Air 1,05 Sub total 7,05 Udara Total Faktor Konversi (K) Volume (W / BJ) (liter) 0,3175 1,8643 1,0500 3,2317 0,0323 3,2641 306,3671 Kebutuhan 1 m (Kg)* 306,3671 1531,835 321,6854 2159,888

Faktor air semen (f.a.s) awal = 1.10
Bahan Semen Pasir Air Sub total Udara Total Berat (W) 1 5 1,10 7,10 Volume (W / BJ) (liter) 0,3175 1,8643 1,1000 3,2817 0,0328 3,3146 301,6993 Kebutuhan 1 m (Kg)* 301,6993 1508,497 331,8693 2142,065

Faktor Konversi (K)

* Berat bahan dikalikan dengan faktor konversi volume ( K ) Volume kubus 50 mm x 50 mm x 50 mm = 0,000125 m3 x 5 buah = 0,000625 m3 Kebutuhan bahan : Volume benda uji x kebutuhan 1 m3 A. Perbandingan Terhadap Berat Pasir Persentase Nilai sebar (%) Serbuk Gergaji (%) Sebar 1 Sebar 2 Sebar 3 Sebar 4 0 26,5 25,5 26,5 25 5 26 25,5 25,5 24,5 10 24,25 24,5 24 24,5 15 24,25 25 23,5 24 20 23 24,5 24,5 23 Persentase Keb. Pasir Keb. Serbuk Gergaji Fas Serbuk Gergaji (%) (Kg) (Kg) 0 0,9574 0 1,05 5 0,9095 0,0479 1,05 10 0,8617 0,0957 1,05 15 0,8014 0,1414 1,10 20 0,7542 0,1886 1,10

Total (%) 103,5 101,5 97,25 96,75 95

Ratarata (%) 25,875 25,375 24,3125 24,1875 23,75

Lampiran 11 (lanjutan)

87

B. Perbandingan Terhadap Berat Semen Persentase Serbuk Gergaji (%) 0 5 10 15 20 Persentase Serbuk Gergaji (%) 0 5 10 15 20 Nilai sebar (%) Sebar 2 Sebar 3 25,5 26,5 26,25 25,5 26 25,25 25,5 24,5 24,5 25,25 Total (%) 103,5 102,75 101,75 99 96 Fas 1,05 1,05 1,05 1,05 1,05 Ratarata (%) 25,875 25,6875 25,4375 24,75 24

Sebar 1 26,5 25,5 25,25 24,5 22

Sebar 4 25 25,5 25,25 24,5 24,25

Keb. Semen (Kg) 0,1915 0,1819 0,1723 0,1628 0,1532

Keb. Serbuk Gergaji (Kg) 0 0,0096 0,0191 0,0287 0,0383

C. Hubungan Antara Berat Serbuk Gergaji Dengan Nilai Sebar Hub. Berat Serbuk Gergaji dgn Nilai Sebar Berat Serbuk Gergaji (kg/m3) Nilai Sebar (%) 0 103,5 0 103,5 76,5918 101,5 153,184 97,25 226,275 96,75 301,699 95 15,3184 102,75 30,6367 101,75 45,9551 99 61,2734 96 D. Langkah-langkah Perhitungan 1. Suatu meter kubik mortar dengan perbandingan berat 1 Pc : 5 Ps akan dibutuhkan Fas = 1,05 gr/cm2 1 m3 Pc akan didapat bj semen = 3, 15 gr/cm2 bj pasir 2,682 gr/cm2 bj air = 1

V

=

w bj semen

=

1 3,15

= 0,3175 liter

Lampiran 11 (lanjutan)

88

5 m3 Ps akan didapat

V

=

w bj pasir

=

5 2,682

= 1,8643 liter

1,05 m3 air akan didapat V

=

w bj air

=

1,05 1

= 1,05 liter

2. Dihitung kebutuhan bahan buat 1 m3 mortar sebagai berikut Volume sub total = V semen + V pasir + V air = 0,3175 + 1,8643 + 1,05 Udara 1 % = 1 % x V sub total = 3,2317 liter

= 1% x 3,2317 = 0,0323 liter

3. Jadi untuk 1 m3 mortar dalam volume memerlukan bahan Volume total = V sub total + udara 1 % = 3,2317 + 0,0323 = 3,2641 liter

4. Perbandingan volume tersebut dikonversikan menjadi perbandingan berat Faktor Konversi (K) = 1000 V total = 1000 = 306,3671 3,2641

5. Jadi untuk 1 m3 adukan mortar dibutuhkan bahan Berat semen Berat pasir Berat air = K x berat semen = K x berat pasir = K x berat air = 306,3671x 1 = 306,3671x 5 = 306,3671x 1,05 = 306,3671 kg = 1531,835 kg = 321,6854 kg

6. Dalam penelitian ini digunakan benda uji dengan ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm masing-masing variasi campuran dibuat 5 buah benda uji Volume benda uji = 0,05 x 0,05 x 0,05 = 0,000625 m3 7. Untuk variasi subsitusi serbuk gergaji 0% terhadap berat pasir dan berat semen kebutuhan bahannya adalah : Semen : 0,000625 x 306,3671 = 0,1915 kg

Lampiran 11 (lanjutan)

89

Pasir Air Serbuk gergaji

: 0,000625 x 1531,835 : 0,000645 x 321,6854 : 0% x 0,1915

= 0,9574 kg = 0,2011 kg = 0 kg

8. Untuk variasi subsitusi serbuk gergaji 5% terhadap berat pasir kebutuhan bahannya adalah : Semen Pasir Air Serbuk gergaji : 0,000625 x 306,3671 : 0,9574 – 0,0479 : 0,000645 x 321,6854 : 5% x 0,9574 = 0,1915 kg = 0,9574 kg = 0,2011 kg = 0,0479 kg

9. Untuk variasi subsitusi serbuk gergaji 5% terhadap berat semen kebutuhan bahannya adalah : Semen Pasir Air Serbuk gergaji : 0,1915 – 0,0096 : 0,000625 x 1531,835 : 0,000645 x 321,6854 : 5% x 0,1915 = 0,1819 kg = 0,9574 kg = 0,2011 kg = 0,0096 kg

Lampiran 11 (lanjutan)

90

Jenis perencanaan : Kebutuhan Bahan Tiap 1 M3 Mortar Untuk Setiap Adukan Mortar Berdasarkan Faktor Air Semen Yang Digunakan

A. Kebutuhan untuk 1m3 adukan mortar dengan perbandingan berat pasir

Perbandingan Berat yang digunakan (semen : pasir) = 1 : 5 1. Faktor air semen (f.a.s) awal = 1.05 Kebutuhan untuk 1m3 adukan mortar
Bahan Berat (W) Semen 1 Pasir 5 Air 1,05 Sub total 7,05 Udara Total Faktor Konversi (K) Volume (W / BJ) (liter) 0,3175 1,8643 1,0500 3,2317 0,0323 3,2641 306,3671 Kebutuhan 1 m (Kg)* 306,3671 1531,835 321,6854 2159,888

Berat bahan dikalikan dengan faktor konversi volume ( K )

2. Faktor air semen (f.a.s) awal = 1.10 Kebutuhan untuk 1m3 adukan mortar
Bahan Semen Pasir Air Sub total Udara Total Berat (W) 1 5 1,10 7,10 Volume (W / BJ) (liter) 0,3175 1,8643 1,1000 3,2817 0,0328 3,3146 301,6993 Kebutuhan 1 m (Kg)* 301,6993 1508,497 331,8693 2142,065

Faktor Konversi (K)

* Berat bahan dikalikan dengan faktor konversi volume ( K )

Lampiran 11 (lanjutan)

91

a. Kebutuhan bahan untuk benda uji kubus 50 x 50 x 50 mm Serbuk Gergaji Sebagai Subtitusi Pasir
FAS Persentase Serbuk Gergaji (%) 0 1,05 5 10 1,10 Total 15 20 Berat Pasir Total ( Kg ) 0,9574 0,9095 0,8617 0,8014 0,7542 4,2842 Berat Serbuk Gergaji Total ( Kg ) 0 0,0479 0,0957 0,1414 0,1886 0,4736 Berat Semen Total ( kg ) 0,1915 0,1915 0,1915 0,1886 0,1886 0,9517 Berat Air Total ( Kg ) 0,2011 0,2011 0,2011 0,2074 0,2074 1,0181

Volume kubus 50 mm x 50 mm x 50 mm = 0.000125 m3 x 5 buah = 0.000625 m3

b. Kebutuhan bahan untuk benda uji seperti angka delapan 75 x 50 x 25 mm Serbuk Gergaji Sebagai Subtitusi Pasir
FAS Persentase Serbuk Gergaji (%) 0 1,05 5 10 1,10 Total 15 20 Berat Pasir Total ( Kg ) 0,7180 0,6821 0,6462 0,6010 0,5657 3,213 Berat Serbuk Gergaji Total ( Kg ) 0 0,0359 0,0718 0,1061 0,1414 0,3552 Berat Semen Total ( kg ) 0,1436 0,1436 0,1436 0,1414 0,1414 0,7136 Berat Air Total ( Kg ) 0,1508 0,1508 0,1508 0,1556 0,1556 0,7636

Volume seperti angka delapan 75 mm x 50 mm x 25 mm V = 0.075 x 0.05 mm x 0.025 mm = 0.00009375 m3 x 5 buah = 0.00046875 m3

Lampiran 11 (lanjutan)

92

B. Kebutuhan untuk 1m3 adukan mortar dengan perbandingan berat semen

a. Kebutuhan bahan untuk benda uji kubus 50 x 50 x 50 mm Serbuk Gergaji Sebagai Subtitusi Semen
FAS Persentase Serbuk Gergaji (%) 0 5 1,05 10 15 20 Total Berat Pasir Total ( Kg ) 0,9574 0,9574 0,9574 0,9574 0,9574 4,7870 Berat Serbuk Gergaji Total ( Kg ) 0 0,0096 0,0191 0,0287 0,0383 0,0957 Berat Semen Total ( kg ) 0,1915 0,1819 0,1723 0,1628 0,1532 0,8617 Berat Air Total ( Kg ) 0,2011 0,2011 0,2011 0,2011 0,2011 1,0053

Volume kubus 50 mm x 50 mm x 50 mm = 0.000125 m3 x 5 buah = 0.000625 m3

b.

Kebutuhan bahan untuk benda uji seperti angka delapan 75 x 50 x 25 mm Serbuk Gergaji Sebagai Subtitusi Semen

FAS

Persentase Serbuk Gergaji (%) 0 5

Berat Pasir Total ( Kg ) 0,7180 0,7180 0,7180 0,7180 0,7180 3,5902

Berat Serbuk Gergaji Total ( Kg ) 0 0,0072 0,0144 0,0215 0,0287 0,0718

Berat Semen Total ( kg ) 0,1436 0,1364 0,1292 0,1221 0,1149 0,6462

Berat Air Total ( Kg ) 0,1508 0,1508 0,1508 0,1508 0,1508 0,7540

1,05

10 15 20 Total

Volume seperti angka delapan 75 mm x 50 mm x 25 mm V = 0.075 x 0.05 mm x 0.025 mm = 0.00009375 m3 x 5 buah = 0.00046875 m3

Lampiran 11 (lanjutan)

93

A. Hubungan Antara Berat Serbuk Gergaji, Berat Semen dengan Kuat Tekan Mortar Semen

Hub. Berat Serbuk Gergaji dgn Kuat Tekan
Berat Serbuk Gergaji (kg/m3) Kuat Tekan (kg/cm2)

Hub. Berat Semen dgn Kuat Tekan
Berat Semen (kg/m3) Kuat Tekan (kg/cm2) 40 40 52 44 40 76 52 68 40 48 100 80 84 80 76 80 84 100 84 92 32* 32* 36* 28* 24* 12* 8* 20* 12* 16* 120 116 100 108 100 120 116 100 108 100 100 88 80 84 92 44* 40* 40* 60* 48*

Keterangan : Hub. Berat Serbuk Gergaji dgn Daya Serap Air * : Data tidak dianalisis
Berat Serbuk Gergaji (kg/m3)

0 120 245,0937 0 116 245,0937 0 100 245,0937 0 108 245,0937 0 100 245,0937 0 120 260,412 0 116 260,412 0 100 260,412 0 108 260,412 0 100 260,412 15,318 80 275,7304 15,318 84 275,7304 15,318 100 275,7304 15,318 84 275,7304 15,318 92 275,7304 30,637 100 291,0487 30,637 80 291,0487 30,637 84 291,0487 30,637 80 291,0487 30,637 76 291,0487 45,955 76 301,6993 45,955 52 301,6993 45,955 68 301,6993 45,955 40 301,6993 45,955 48 301,6993 61,273 40 301,6993 61,273 40 301,6993 61,273 52 301,6993 61,273 44 301,6993 61,273 40 301,6993 76,592 100 306,3671 76,592 88 306,3671 76,592 80 306,3671 76,592 84 306,3671 76,592 92 306,3671 153,18 44 306,3671 153,18 40 306,3671 153,18 40 306,3671 153,18 60 306,3671 153,18 48 306,3671 226,27 32 306,3671 226,27 32 306,3671 226,27 36 306,3671 226,27 28 306,3671 226,27 24 306,3671 301,7 12 306,3671 301,7 8 306,3671 301,7 20 306,3671 301,7 12 306,3671 301,7 16 306,3671 B. Hubungan Antara Berat Serbuk Gergaji, Pasta Semen dengan Daya Serap Air Mortar Semen Daya Serap Air (%) Pasta Semen (kg/m3)

Hub. Pasta Semen dgn Daya Serap Air
Daya Serap Air (%))

Lampiran 11 (lanjutan)

94

Keterangan : * : Data tidak

0 10,5 566,7791 0 13 566,7791 0 10,6 566,7791 0 11,2 566,7791 0 9,9 566,7791 0 10,5 582,0974 0 13 582,0974 0 10,6 582,0974 0 11,2 582,0974 0 9,9 582,0974 15,318 13,3 597,4158 15,318 12,8 597,4158 15,318 12 597,4158 15,318 12,7 597,4158 15,318 12,8 597,4158 30,637 13,6 612,7341 30,637 13,6 612,7341 30,637 12,4 612,7341 30,637 13,1 612,7341 30,637 12,3 612,7341 45,955 14,8 628,0525 45,955 15,6 628,0525 45,955 11,5 628,0525 45,955 14,4 628,0525 45,955 15,3 628,0525 61,273 16,2 628,0525 61,273 15,4 628,0525 61,273 15,3 628,0525 61,273 16,1 628,0525 61,273 19,5 628,0525 76,592 17,5 628,0525 76,592 16,2 628,0525 76,592 15,2 628,0525 76,592 15,3 628,0525 76,592 15,9 628,0525 153,18 26,8 628,0525 153,18 29,7 628,0525 153,18 30 628,0525 153,18 29,6 628,0525 153,18 29,9 628,0525 226,27 34,3 633,5686 226,27 41,3 633,5686 226,27 39,2 633,5686 226,27 38 633,5686 226,27 33,9 633,5686 301,7 46 633,5686 301,7 46,3 633,5686 301,7 46,5 633,5686 301,7 48,7 633,5686 301,7 45,1 633,5686 C. Hubungan Antara Berat Serbuk Gergaji, dengan Kuat Tarik Mortar Semen

16,2 15,4 15,3 16,1 19,5 14,8 15,6 11,5 14,4 15,3 13,6 13,6 12,4 13,1 12,3 13,3* 12,8* 12* 12,7* 12,8* 10,5* 13* 10,6* 11,2* 9,9* 10,5* 13* 10,6* 11,2* 9,9* 17,5* 16,2* 15,2* 15,3* 15,9* 26,8 29,7 30 29,6 29,9 34,3 41,3 39,2 38 33,9 46 46,3 46,5 48,7 45,1

Hub. Berat Serbuk Gergaji dgn Kuat Tarik dianalisis Berat Serbuk Gergaji (kg/m3) Kuat Tarik (kg/cm2)
0 0 0 0 72,5 73,1 56,8 73,9

Lampiran 11 (lanjutan)

95

0 0 0 0 0 0 15,318 15,318 15,318 15,318 15,318 30,637 30,637 30,637 30,637 30,637 45,955 45,955 45,955 45,955 45,955 61,273 61,273 61,273 61,273 61,273 76,592 76,592 76,592 76,592 76,592 153,18 153,18 153,18 153,18 153,18 226,27 226,27 226,27 226,27 226,27 301,7 301,7 301,7 301,7 301,7

78,7 72,5 73,1 56,8 73,9 78,7 68,2 64,9 54,3 65,7 61,2 48,5 48,7 47,6 47 51,3 36,2 39,1 33,7 31,3 36,6 27,3 28,9 18,9 17,2 17,5 45,5 31,1 27,2 32,8 33,4 30,3 24,8 18,9 21,9 21 15,9 17,9 15,9 12 12,2 7,58 5,1 3,62 4,7 3,66

Lampiran 11 (lanjutan)

96

Perhitungan Regresi Nonlinier (Parabola Kuadratik) Hubungan Antara Berat Semen dengan Kuat Tekan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 X1 Y1

245,0937 245,0937 245,0937 245,0937 245,0937 260,412 260,412 260,412 260,412 260,412 275,7304 275,7304 275,7304 275,7304 275,7304 291,0487 291,0487 291,0487 291,0487 291,0487 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671 306,3671
9956,9305

40 40 52 44 40 76 52 68 40 48 100 80 84 80 76 80 84 100 84 92 120 116 100 108 100 120 116 100 108 100 100 88 80 84 92
2892

X1 60070,92178 60070,92178 60070,92178 60070,92178 60070,92178 67814,40974 67814,40974 67814,40974 67814,40974 67814,40974 76027,25348 76027,25348 76027,25348 76027,25348 76027,25348 84709,34577 84709,34577 84709,34577 84709,34577 84709,34577 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 93860,79996 2851021,653

2

X1 14723004,48 14723004,48 14723004,48 14723004,48 14723004,48 17659686,07 17659686,07 17659686,07 17659686,07 17659686,07 20963025,01 20963025,01 20963025,01 20963025,01 20963025,01 24654544,96 24654544,96 24654544,96 24654544,96 24654544,96 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 28755861,09 821339219,0

3

X1 3608515643 3608515643 3608515643 3608515643 3608515643 4598794169 4598794169 4598794169 4598794169 4598794169 5780143272 5780143272 5780143272 5780143272 5780143272 7175673261 7175673261 7175673261 7175673261 7175673261 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 8809849770 2,3796337827E+11

4

X1 Y1 9803,748 9803,748 12744,872 10784,123 9803,748 19791,312 13541,424 17708,016 10416,48 12499,776 27573,04 22058,432 23161,354 22058,432 20955,51 23283,896 24448,091 29104,87 24448,091 26776,48 36764,052 35538,584 30636,71 33087,647 30636,71 36764,052 35538,584 30636,71 33087,647 30636,71 30636,71 26960,305 24509,368 25734,836 28185,773 840119,84

X1 Y1 2402836,871 2402836,871 3123687,933 2643120,558 2402836,871 5153895,141 3526349,307 4611379,863 2712576,39 3255091,668 7602725,348 6082180,279 6386289,293 6082180,279 5778071,265 6776747,662 7115585,045 8470934,577 7115585,045 7793259,811 11263296 10887852,8 9386079,996 10136966,4 9386079,996 11263296 10887852,8 9386079,996 10136966,4 9386079,996 9386079,996 8259750,397 7508863,997 7884307,197 8635193,597 245232915,6

2

Y1 1600 1600 2704 1936 1600 5776 2704 4624 1600 2304 10000 6400 7056 6400 5776 6400 7056 10000 7056 8464 14400 13456 10000 11664 10000 14400 13456 10000 11664 10000 10000 7744 6400 7056 8464 259760

Σ

Keterangan : Y1 : Kuat Tekan X1 : Berat Semen

Lampiran 11 (lanjutan)

97

Perhitungan Analisis Regresi Nonlinier (Parabola Kuadratik)
Persamaan umum untuk perkiraan model ini adalah

Y = a + bX + cX2
Dengan menggunakan kuadran terkecil, maka a, b dan c dapat dihitung dari system persamaan :

Σ Y1 Σ X1 Y1

= na + bΣX1 + cΣX12 = aΣY1 + bΣX12 + cΣX13

Σ X12 Y1 = aΣX12 + bΣX13 + cΣX14
2892 = 35 a + 9956,9305 b + 2851021,653 c

840119,84 = 9956,9305 a + 2851021,653 b + 821339219 c 245232916 = 2851021,653 a + 82133921915,6 b + 237963378272,75 c (1A) (2A) (3A) 82,629 = a + 284,484 b + 81457,761 c 84,375 = a + 286,335 b + 82489,199 c 86,016 = a + 288,086 b + 83466,002 c

1A – 2A = (4) -1,747 = -1,857 b -1031,437 c 2A – 3A = (5) -1,640 = -1,751 b - 976,803 c (4A) (5A) 0,943 0,937 = b + 557,031 c = b + 558,004 c = -0,973 c

4A – 5A = (6) 0,006

c
(5A) 0,937

= -0,006449

= b + 558,004 (-0,0064)

b
(3A)

= 4,535999

86,016 = a + 288,086 (4,536 ) + 83466,002 (-0,0064)

a

= 682,41955

Lampiran 11 (lanjutan)

98

Chek Perhitungan :
245232916 = 2851021,653 a + 82133921915,6 b + 237963378272,75 c 245232916 = 2851021,653 (-0,0064) + 82133921915,6 (4,536) + 237963378272,75 (682,42) 245232916 = 245232916 Oke

Regresi parabola kuadratik Y atas X mempunyai persamaan :

Y = -0,0064X2 + 4,536X – 682,42
Menghitung Koefisien Korelasi

r

=

n Σ XY − Σ X Σ Y n Σ X 2 − (Σ X ) 2 n Σ Y 2 − (Σ Y ) 2

r

=

35 . 840119,84 − 9956,9305 . 2892 35 . 2851021,653 − (9956,9305) 2 35 . 259760 − (2892) 2

r

=

0,893644

r2

= 0,7986

Lampiran 11 (lanjutan)

99

Perhitungan Regresi Linier Hubungan Antara konsentrasi Serbuk Gergaji Dengan Daya Serap Air
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 X1 0 0 0 0 0 5 5 5 5 5 10 10 10 10 10 15 15 15 15 15 20 20 20 20 20 250 X2 0 0 0 0 0 5 5 5 5 5 10 10 10 10 10 15 15 15 15 15 20 20 20 20 20 250 Y1 10,504 12,961 10,603 11,229 9,9156 17,45 16,197 15,239 15,278 15,935 26,761 29,697 30 29,598 29,942 34,343 41,281 39,223 30,979 33,882 39,924 46,304 46,457 48,735 45,076 687,51 Y2 10,504 12,961 10,603 11,229 9,9156 13,261 12,775 12,009 12,691 12,775 13,626 13,647 12,445 13,072 12,311 14,806 15,603 11,512 14,385 15,278 16,159 15,385 15,258 16,106 19,529 337,85 X1 Y1 0 0 0 0 0 87,25 80,99 76,2 76,39 79,68 267,6 297 300 296 299,4 515,1 619,2 588,3 464,7 508,2 798,5 926,1 929,1 974,7 901,5 9086 X2 Y2 0 0 0 0 0 66,305 63,875 60,045 63,455 63,875 136,26 136,47 124,45 130,72 123,11 222,09 234,05 172,68 215,78 229,17 323,18 307,7 305,16 322,12 390,58 3691,1 X1 0 0 0 0 0 25 25 25 25 25 100 100 100 100 100 225 225 225 225 225 400 400 400 400 400 3750
2

X2 0 0 0 0 0 25 25 25 25 25 100 100 100 100 100 225 225 225 225 225 400 400 400 400 400 3750

2

Y1 110,334 167,988 112,424 126,09 98,3191 304,503 262,343 232,227 233,417 253,924 716,151 881,912 900 876,042 896,523 1179,44 1704,12 1538,44 959,698 1147,99 1593,93 2144,06 2158,25 2375,1 2031,85 23005,1

2

Y2 110,334 167,9875 112,4236 126,0904 98,31912 175,8541 163,2006 144,2161 161,0615 163,2006 185,6679 186,2406 154,878 170,8772 151,5607 219,2176 243,4536 132,5261 206,9282 233,4173 261,1133 236,6982 232,8066 259,4032 381,3818 4678,858

2

Σ

Keterangan : Y1 & Y2 = Daya Serap Air X1 = Berat Serbuk Gergaji X2 = Pasta Semen

Lampiran 11 (lanjutan)

100

1. Konsentrasi Serbuk Gergaji sebagai Subsitusi Semen
Persamaan umum untuk perkiraan model ini adalah

Y = a + bX

Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linier, dihitung dengan rumus : 2 (Σ Y2 )(Σ X 2 ) − (Σ X 2 )(Σ X 2 Y2 ) a = 2 n Σ X 2 − (Σ X 2 ) 2
a =

(337,85)(3750) − (250)(3691,1) 25 . 3750 − (250) 2
n Σ X 2 Y2 − (Σ X 2 )(Σ Y2 )
2 n Σ X 2 − (Σ X 2 ) 2

a

= 11,013

b =
=

b

25 . 3691,1 − (250)(337,85) 25 . 3750 − (250) 2

b

= 0,2501

Regresi linier mempunyai persamaan :

Y = 11,013+ 0,2501X
Uji keberartian regresi Jk (T) JK (a) JK (bIa) = ΣY2 = 4678,858 =

(∑ Y ) 2 = n
⎧ ⎩

4678,858 = 4565,586 25

= b ⎨∑ XY − = 78,179

(∑ X )(∑ Y )⎫
n

(250)(377,85)⎫ ⎧ ⎬ = 0,2501⎨3691,1 − ⎬ 25 ⎩ ⎭ ⎭

JKres S2reg S2res F

= JK (T) – JK(a) – JK(bIa) = 4678,858 – 4565,586 – 78,179 = JK (bIa) = 78,179 = = 35,093

JK (res) 35,093 = = 1,526 n−2 25 − 2
= 78,179 1,526 = 51,239

S 2 reg = 2 S res

Lampiran 11 (lanjutan)

101

Tabel ringkasan ANAVA untuk uji keberartian Sumber Variasi Regresi (a) Regresi (bIa) Residu Tuna cocok Kekeliruan Dk 1 1 23 3 20 JK 4565,586 78,179 35,093 4,304 30,7888 KT 4565,586 78,179 1,526 1,4346 1,539 0,932 51,239 F

Karena Fhitung<Ft.s5% = 3,10 jadi hipotesis model regresi linier diterima dan signifikan Menghitung Koefisien Korelasi

r

=

n Σ XY − Σ X Σ Y n Σ X 2 − (Σ X ) 2 n Σ Y 2 − (Σ Y ) 2

r

=

25 . 3691,1 − 250 . 337,85 25 . 3750 − (250) 2 25 . 4678,858 − (337,85) 2

= 0,831

Uji Keberartian koefisien korelasi Ho : ρ = 0 Ha : ρ ≠ 0

t

=

rxy (n − 2) (1 − r 2 ) xy

=

0,831 (25 − 2) (1 − 0,8312 )

= 8,046

Pada taraf kesalahan 5%, dengan dk = 23 diketahui t.s 5% = 2,069. karena t > t.s 5%, maka Ho ditolak yang berarti koefisien korelasi tersebut signifikan. Koefisien determinasi

r2

=

b{(n ∑ XY − (∑ X )(∑ Y ))} = 2 n ∑ Y 2 − (∑ Y )

0,2501{(25 x 3691,1) − (250 x 337,85)} 2 (25 x 4678,858) − (337,85) = r2 x 100% = 0,6902 x 100% = 69,02 %

= 0,6902

Besarnya koefisien determinasi

Lampiran 11 (lanjutan)

102

2. Konsentrasi Serbuk Gergaji sebagai Subsitusi Pasir
Persamaan umum untuk perkiraan model ini adalah

Y = a + bX

Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linier, dihitung dengan rumus : (Σ Y1 )(Σ X 12 ) − (Σ X 1 )(Σ X 1 Y1 ) a = n Σ X 12 − (Σ X 1 ) 2 a = (687,51)(3750) − (250)(9086) 25 . 3750 − (250) 2 n Σ X 1 Y1 − (Σ X 1 )(Σ Y1 ) n Σ X 12 − (Σ X 1 ) 2 25 . 9086 − (250)(687,51) 25 . 3750 − (250) 2
b = 1,7687 a = 9,8128

b = b =

Regresi linier mempunyai persamaan :

Y = 9,8128+ 1,7687X
Uji keberartian regresi Tabel ringkasan ANAVA untuk uji keberartian Sumber Variasi Regresi (a) Regresi (bIa) Residu Tuna cocok Kekeliruan Dk 1 1 23 3 20 JK 18907 3910,4 187,69 57,633 130,06 KT 18907 3910,4 8,1604 19,211 6,50281 2,9542 479,19 F

Karena Fhitung<Ft.s5% = 3,10 jadi hipotesis model regresi linier diterima dan signifikan Menghitung Koefisien Korelasi

r

=

n Σ XY − Σ X Σ Y n Σ X 2 − (Σ X ) 2 n Σ Y 2 − (Σ Y ) 2

r

=

25 . 9086 − 250 . 687,51 25 . 3750 − (250)
2

25 . 23005,1 − (687,51)

= 0,977
2

Uji Keberartian koefisien korelasi Ho : ρ = 0 Ha : ρ ≠ 0

Lampiran 11 (lanjutan)

103

t

=

rxy (n − 2) (1 − r 2 ) xy

=

0,977 (25 − 2) (1 − 0,977 2 )

= 30,064

Pada taraf kesalahan 5%, dengan dk = 23 diketahui t.s 5% = 2,069. karena t > t.s 5%, maka Hoditolak yang berarti koefisien korelasi tersebut signifikan. Koefisien determinasi

r2

=

b{(n ∑ XY − (∑ X )(∑ Y ))} n ∑ Y 2 − (∑ Y )
2

=

1,7687{(25 x 9086 ) − (250 x 687,51)} (25 x 23005,1) − (687,51)
2

= 0,9542 Besarnya koefisien determinasi = r2 x 100% = 0,9542 x 100% = 95,42 % Garis regresi digambarkan pada diagram pencar
60,000

A =Subsitusi Pasir B= Subsitusi Semen C = Ismeddiyanto (1998) y = 1,7687x + 9,8128 R2 = 0,9542
A

50,000

D ay a s e r a p a i r (% )

40,000

30,000

20,000

y = 0,2501x + 11,013 R2 = 0,6902

B

10,000

0,000 0 5 10 15 20

Konsentrasi Serbuk Gergaji sebagai subsitusi pasir dan subsitusi semen (%)

Lampiran 11 (lanjutan)

104

Tabulasi Data Perhitungan Analisis Regresi Linier
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 X1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15,318 15,318 15,318 15,318 15,318 30,637 30,637 30,637 30,637 30,637 45,955 45,955 45,955 45,955 45,955 61,273 61,273 61,273 61,273 61,273 76,592 76,592 76,592 76,592 76,592 153,18 153,18 153,18 153,18 153,18 226,27 226,27 226,27 226,27 226,27 301,7 301,7 301,7 301,7 301,7 4554,63 X2 566,7791 566,7791 566,7791 566,7791 566,7791 582,0974 582,0974 582,0974 582,0974 582,0974 597,4158 597,4158 597,4158 597,4158 597,4158 628,0525 628,0525 628,0525 628,0525 628,0525 633,5686 633,5686 633,5686 633,5686 633,5686 633,5686 633,5686 633,5686 633,5686 633,5686 Y1 10,5 13 10,6 11,2 9,9 10,5 13 10,6 11,2 9,9 13,3 12,8 12 12,7 12,8 13,6 13,6 12,4 13,1 12,3 14,8 15,6 11,5 14,4 15,3 16,2 15,4 15,3 16,1 19,5 17,5 16,2 15,2 15,3 15,9 26,8 29,7 30 29,6 29,9 34,3 41,3 39,2 38 33,9 46 46,3 46,5 48,7 45,1 1038,5 Y2 16,2 15,4 15,3 16,1 19,5 14,8 15,6 11,5 14,4 15,3 13,6 13,6 12,4 13,1 12,3 26,8 29,7 30 29,6 29,9 34,3 41,3 39,2 38 33,9 46 46,3 46,5 48,7 45,1 X1 Y1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 203,7294 196,0704 183,816 194,5386 196,0704 416,6632 416,6632 379,8988 401,3447 376,8351 680,134 716,898 528,4825 661,752 703,1115 992,6226 943,6042 937,4769 986,4953 1194,8235 1340,36 1240,7904 1164,1984 1171,8576 1217,8128 4105,224 4549,446 4595,4 4534,128 4580,082 7761,061 9344,951 8869,784 8598,26 7670,553 13878,2 13968,71 14029,05 14692,79 13606,67 152230,36 X2 Y2 9181,821 8728,398 8671,72 9125,144 11052,19 8615,042 9080,719 6694,12 8382,203 8906,09 8124,855 8124,855 7407,956 7826,147 7348,214 16831,81 18653,16 18841,58 18590,35 18778,77 21731,4 26166,38 24835,89 24075,61 21477,98 29144,16 29334,23 29460,94 30854,79 28573,94 X1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 234,641124 234,641124 234,641124 234,641124 234,641124 938,625769 938,625769 938,625769 938,625769 938,625769 2111,86203 2111,86203 2111,86203 2111,86203 2111,86203 3754,38053 3754,38053 3754,38053 3754,38053 3754,38053 5866,33446 5866,33446 5866,33446 5866,33446 5866,33446 23464,1124 23464,1124 23464,1124 23464,1124 23464,1124 51198,1129 51198,1129 51198,1129 51198,1129 51198,1129 91022,89 91022,89 91022,89 91022,89 91022,89 892954,796
2

X2 321238,548 321238,548 321238,548 321238,548 321238,548 338837,383 338837,383 338837,383 338837,383 338837,383 356905,638 356905,638 356905,638 356905,638 356905,638 394449,943 394449,943 394449,943 394449,943 394449,943 401409,171 401409,171 401409,171 401409,171 401409,171 401409,171 401409,171 401409,171 401409,171 401409,171

2

Y1 110,25 169 112,36 125,44 98,01 110,25 169 112,36 125,44 98,01 176,89 163,84 144 161,29 163,84 184,96 184,96 153,76 171,61 151,29 219,04 243,36 132,25 207,36 234,09 262,44 237,16 234,09 259,21 380,25 306,25 262,44 231,04 234,09 252,81 718,24 882,09 900 876,16 894,01 1176,49 1705,69 1536,64 1444 1149,21 2116 2143,69 2162,25 2371,69 2034,01 28692,61

2

Y2 262,44 237,16 234,09 259,21 380,25 219,04 243,36 132,25 207,36 234,09 184,96 184,96 153,76 171,61 151,29 718,24 882,09 900 876,16 894,01 1176,49 1705,69 1536,64 1444 1149,21 2116 2143,69 2162,25 2371,69 2034,01

2

Σ

18207,41

784,4

484620,5

11071249,3

25366

Perhitungan Regresi Linier Keterangan : Y1 & Y2Hubungan Antara Berat Serbuk Gergaji Dengan Daya Serap Air = Daya Serap Air X1 = Berat Serbuk Gergaji X2 = Pasta Semen

Lampiran 11 (lanjutan)

105

Persamaan umum untuk perkiraan model ini adalah

Y = a + bX

Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linier, dihitung dengan rumus : (Σ Y1 )(Σ X 12 ) − (Σ X 1 )(Σ X 1 Y1 ) a = n Σ X 12 − (Σ X 1 ) 2 a =
a

(1038,5)(892954,796) − (4554,63)(152230,36) 50 . 892954,796 − (4554,63) 2

= 9,78873

b = b =
b

n Σ X 1 Y1 − (Σ X 1 )(Σ Y1 ) n Σ X 12 − (Σ X 1 ) 2 50 .152230,36 − (4554,63)(1038,5) 50 .892954,796 − (4554,63) 2

= 0,12055

Regresi linier mempunyai persamaan :

Y = 9,78873 + 0,12055X
Menghitung Koefisien Korelasi

r

=

n Σ XY − Σ X Σ Y n Σ X 2 − (Σ X ) 2 n Σ Y 2 − (Σ Y ) 2

r

=

50 .152230,36 − 4554,63 .1038,5 50 . 892954,796 − (4554,63) 2 50 . 28692,61 − (1038,5) 2

r

= 0,9876

r2

= 0,97536

Lampiran 11 (lanjutan)

106

Perhitungan Regresi Linier Hubungan Antar Pasta Semen Dengan Daya Serap Air
Persamaan umum untuk perkiraan model ini adalah

Y = a + bX

Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linier, dihitung dengan rumus : 2 (Σ Y2 )(Σ X 2 ) − (Σ X 2 )(Σ X 2 Y2 ) a = 2 n Σ X 2 − (Σ X 2 ) 2 a =
a

(784,4)(11071249,3) − (18207,41)(484620,5) 50 . 11071249,3 − (18207,41) 2

= 222,0736

b = b =
b

n Σ X 2 Y2 − (Σ X 2 )(Σ Y2 )
2 n Σ X 2 − (Σ X 2 ) 2

30 . 484620,5 − (18207,41)(784,4) 30 .11071249,3 − (18207,41) 2

= 0,4089877

Regresi linier mempunyai persamaan :

Y = 222,0736 + 0,4089877X
Menghitung Koefisien Korelasi

r

=

n Σ XY − Σ X Σ Y n Σ X 2 − (Σ X ) 2 n Σ Y 2 − (Σ Y ) 2

r

=

30 . 484620,5 − 18207,41. 784,4 30 .1101249,3 − (18207,41) 2 30 . 25366 − (784,4) 2

r

=

0,84891

r2

= 0,72065

Lampiran 11 (lanjutan)

107

IJIN PENGGUNAAN LABORATORIUM/WORK SHOP/STUDIO JURUSAN TEKNIK SIPIL FT UNNES
Kepala Laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNNES mengijinkan : NAMA NIM Instansi : MUH IBNU BUDI SETYAWAN : 5101401001 : UNNES

Jurusan / Fak. : Teknik Sipil

Untuk menggunakan Laboratorium / Work Shop / Studio Jurusan Teknik Sipil FT UNNES dengan perincian sebagai berikut : Laboratorium / Work Shop / Studio yang dibutuhkan : Lab. Mekanika Tanah / Lab. Bahan / Lab. Struktur / Lab. Hidro / Lab. Ukur Tanah / Wark Shop Kayu / Wark Shop Batu / Studio Gambar (*) Dipergunakan untuk : Penelitian Mata Kuliah Judul Penelitian Proyek Lama waktu : Skripsi : Studi Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona grandis L.f) sebagai Bahan Campuran Mortar Semen :: 1 Semester

Terhitung dari tanggal : 22 September 2005 s/d 22 Maret 2006 Dengan ketentuan bersedia mentaati aturan dan semua prosedur teknis dan Administrasi Laboratorium Jurusan Teknik Sipil FT UNNES. Demikian surat ijin ini untuk dipakai sebagaimana mestinya. Kepala Laboratorium Teknik Sipil

Untoro Nugroho, ST, MT. NIP : 132 158 473

Lampiran 11 (lanjutan)

108

PERMOHONAN PENGGUNAAN LABORATORIUM/WORK SHOP/STUDIO JURUSAN TEKNIK SIPIL FT UNNES
NAMA NIM Instansi : MUH IBNU BUDI SETYAWAN : 5101401001 : UNNES

Jurusan / Fak. : Teknik Sipil

Mohon ijin penggunaan Laboratorium / Work Shop / Studio Jurusan Teknik Sipil FT UNNES dengan perincian sebagai berikut : Laboratorium / Work Shop / Studio yang dibutuhkan : Lab. Mekanika Tanah / Lab. Bahan / Lab. Struktur / Lab. Hidro / Lab. Ukur Tanah / Wark Shop Kayu / Wark Shop Batu / Studio Gambar (*) Dipergunakan untuk : Penelitian / Pratikum / Lain-lain (*) Mata Kuliah Judul Penelitian Proyek Lama waktu : Skripsi : Studi Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona grandis L.f) sebagai Bahan Campuran Mortar Semen :: 1 Hari / Bulan / Semester

Terhitung dari tanggal : 22 September 2005 s/d 22 Maret 2006 Bersama ini dilampirkan juga foto copy proposal penelitian / Kartu Rencana Studi (*) dan kesedian mentaati aturan dan semua prosedur Administrasi Laboratorium Jurusan Teknik Sipil FT UNNES.

Muh. Ibnu Budi Setyawan NIM : 5101401001 Keterangan : (*) : coret yang tidak perlu

107 Lampiran 12

Jenis Pengujian / Pemeriksaan : Pengujian Kuat Tekan Mortar

A. Perbandingan Terhadap Berat Pasir
Persen Serbuk Gergaji 0 5 10 15 20 Umur (hari) 28 28 28 28 28 1 5 5 5 5 5 Panjang (cm) 2 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 1 5 5 5 5 5 Lebar (cm) 2 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 1 3000 2500 1100 800 300 Beban Maksimal (kg) 2 2900 2200 1000 800 200 3 2500 2000 1000 900 500 4 2700 2100 1500 700 300 5 2500 2300 1200 600 400 1 120 100 44 32 12 Kuat Tekan (kg/cm2) 2 116 88 40 32 8 3 100 80 40 36 20 4 108 84 60 28 12 5 100 92 48 24 16

B. Perbandingan Terhadap Berat Semen
Persen Serbuk Gergaji 0 5 10 15 20 Umur (hari) 28 28 28 28 28 1 5 5 5 5 5 Panjang (cm) 2 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 1 5 5 5 5 5 Lebar (cm) 2 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 1 3000 2000 2500 1900 1000 Beban Maksimal (kg) 2 2900 2100 2000 1300 1000 3 2500 2500 2100 1700 1300 4 2700 2100 2000 1000 1100 5 2500 2300 1900 1200 1000 1 120 80 100 76 40 Kuat Tekan (kg/cm2) 2 116 84 80 52 40 3 100 100 84 68 52 4 108 84 80 40 44 5 100 92 76 48 40

Keterangan : 1,2,3,4,5 = no benda uji mortar

108 Lampiran 13

Jenis Pengujian / Pemeriksaan : Pengujian Daya Serap Air

A. Perbandingan Terhadap Berat Pasir
Persen Serbuk Gergaji 0 5 10 15 20 1 238 212 177,5 148,5 131 Berat Kering Oven (gram) 2 233 213 165 140,5 128,5 3 240,5 211,3 170 141,5 127 4 236 216 174 143 122,5 5 237 216,5 172 152 132 Berat Terendam Air (gram) 1 263 249 225 199,5 191,3 2 263,2 247,5 214 198,5 188 3,0 266 243,5 221 197 186 4 262,5 249 225,5 197,3 182,2 5 260,5 251 223,5 203,5 191,5 1 10,5 17,5 26,8 34,3 40,0 Daya Serap Air (%) 2 13,0 16,2 29,7 41,3 46,3 3 10,6 15,2 30 39,2 46,5 4 11,2 15,3 29,6 31,0 48,7 5 9,9 15,9 29,9 33,9 45,1 Daya Serap Air Rata-rata (%) 11,043 16,020 29,199 35,942 45,299

B. Perbandingan Terhadap Berat Semen
Persen Serbuk Gergaji 0 5 10 15 20 1 238 230 227,5 219,5 213,5 Berat Kering Oven (gram) 2 233 227 223,5 211,5 214,5 3 240,5 229 229 221,5 213 4 236 228,5 229,5 215,5 208 5 237 227 231,5 216 212,5 Berat Terendam Air (gram) 1 263 260,5 258,5 252 248 2 263,2 256 254 244,5 247,5 3 266 256,5 257,5 247 245,5 4 263 258 260 247 242 5 260,5 256 260 249 254 1 10,5 13,3 13,6 14,8 16,2 Daya Serap Air (%) 2 13 12,8 13,6 15,6 15,4 3 10,6 12 12,4 11,5 15,3 4 11,2 12,7 13,1 14,4 16,1 5 9,92 12,8 12,3 15,3 19,5 Daya Serap Air Rata-rata (%) 11,043 12,702 13,020 14,317 16,487

Keterangan : 1,2,3,4,5 = no benda uji mortar

109 Lampiran 14

Jenis Pengujian / Pemeriksaan : Pengujian Kuat Tarik Mortar
A. Perbandingan Terhadap Berat Pasir
Persen Serbuk Gergaji 0 5 10 15 20 Umur (hari) 28 28 28 28 28 1 3 3 3 3 3 2 2,8 2,8 2,8 2,8 2,8 Panjang (cm) 3 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 4 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 5 2,6 2,6 2,6 2,6 2,6 1 2,3 2,2 2,2 2,3 2,2 2 2,2 2,3 2,3 2,2 2,1 Tinggi (cm) 3 2,2 2,3 2,2 2,1 2,3 4 2,1 2,1 2,2 2,3 2,2 5 2,2 2,3 2,2 2,2 2,1 1 500 300 200 110 50 Beban Maksimal (kg) 2 450 200 160 110 30 3 300 150 100 80 20 4 450 200 140 80 30 5 450 200 120 70 20 1 72,5 45,5 30,3 15,9 7,58 Kuat Tarik (kg/cm2) 2 73,1 31,1 24,8 17,9 5,1 3 56,8 27,2 18,9 15,9 3,62 4 73,9 32,8 21,9 12 4,7 5 78,7 33,4 21 12,2 3,66

B. Perbandingan Terhadap Berat Semen
Persen Serbuk Gergaji 0 5 10 15 20 Umur (hari) 28 28 28 28 28 1 3 3 3 3 3 2 2,8 2,8 2,8 2,8 2,8 Panjang (cm) 3 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 4 2,9 2,9 2,9 2,9 2,9 5 2,6 2,6 2,6 2,6 2,6 1 2,3 2,2 2,2 2,3 2,2 2 2,2 2,2 2,2 2,1 2,1 Tinggi (cm) 3 2,2 2,3 2,1 2,1 2,2 4 2,1 2,1 2,2 2,2 2,2 5 2,2 2,2 2,1 2,1 2,2 1 500 450 320 250 180 Beban Maksimal (kg) 2 450 400 300 230 170 3 300 300 240 170 100 4 450 400 300 200 110 5 450 350 280 200 100 1 72,5 68,2 48,5 36,2 27,3 Kuat Tarik (kg/cm2) 2 73,1 64,9 48,7 39,1 28,9 3 56,8 54,3 47,6 33,7 18,9 4 73,9 65,7 47 31,3 17,2 5 78,7 61,2 51,3 36,6 17,5

Keterangan : 1,2,3,4,5 = no benda uji mortar
Persen Serbuk Gergaji 0 5 10 15 Umur (hari) 28 28 28 28 1 3 3 3 3 2 2,8 2,8 2,8 2,8 Panjang (cm) 3 2,4 2,4 2,4 2,4 4 2,9 2,9 2,9 2,9 5 2,6 2,6 2,6 2,6 1 2,3 2,2 2,2 2,3 2 2,2 2,3 2,3 2,2 Lebar (cm) 3 2,2 2,3 2,2 2,1 4 2,1 2,1 2,2 2,3 5 2,2 2,3 2,2 2,2 1 500 300 200 110 Beban Maksimal (kg) 2 450 200 160 110 3 300 150 100 80 4 450 200 140 80 5 450 200 120 70 1 72,5 45,5 30,3 15,9 Kuat Tekan (kg/cm2) 2 73,1 31,1 24,8 17,9 3 56,8 27,2 18,9 15,9 4 73,9 32,8 21,9 12 5 78,7 33,4 21 12,2

110
20 28 3 2,8 2,4 2,9 2,6 2,2 2,1 2,3 2,2 2,1 50 30 20 30 20 7,58 5,1 3,62 4,7 3,66

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful