You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Kelurahan

Sosromenduran,

Kecamatan

Gedongtengen,

Kota

Yogyakarta sebagai daerah yang padat penduduk (luas wilayah 0,50 km 2 dengan
jumlah penduduk 10.888 jiwa) sangat rentan terhadap isu kesehatan dan
kebersihan lingkungan. Menurut Puskesmas Gedongtengen, salah satu penyakit
yang jumlahnya mulai meningkat dalam sebulan terakhir ini pada anak usia
sekolah dasar adalah diare. Berdasarkan data Puskesmas dari SeptemberNovember 2013 pada kelompok umur 5, penyakit yang paling sering terjadi
adalah infeksi saluran napas atas, dengan diare dan gastroentritis menempati
posisi ke-5. Sedangkan penyakit seperti demam berdarah (DB) dan demam
berdarah dengue (DBD) biasanya terjadi terutama pada musim hujan, sedangkan
dari data tersebut kasus DB maupun DBD tidak masuk dalam 10 penyakit
tersering.
Penyakit gastrointestinal ini adalah salah satu penyakit menular dan erat
kaitannya dengan kebiasaan mencuci tangan. Penyakit menular pada manusia
merupakan masalah penting yang dapat terjadi setiap saat, terutama di negara
berkembang seperti Indonesia. Penyakit menular dapat menyebar dengan
beberapa cara yaitu melalui vektor, permukaan kulit, udara, air, makanan, dan
binatang.
Kebiasaan mencuci tangan adalah cara terbaik untuk menghindari sakit
dan kebiasaan sederhana ini hanya membutuhkan sabun dan air. Cuci tangan
adalah tindakan paling utama dan menjadi cara mencegah serangan dari penyakit.
Mencuci tangan adalah suatu kegiatan membersihkan bagian telapak, punggung
tangan, dan jari agar bersih dari kotoran dan membunuh kuman penyebab
penyakit.

I.2. Perumusan Masalah


Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat diambil
rumusan masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimana tingkat pengetahuan dan
perilaku siswa SD Netral D Kelurahan Sosromenduran?
I.3. Tujuan Penilitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan
perilaku siswa SD Netral D Kelurahan Sosromenduran.
I.4. Manfaat Penelitian
Hasil penilaian ini dapat dijadikan sarana pembelajaran bagi pekerja
kesehatan tentang pemahaman masyarakat umumnya dan siswa SD Netral
khususnya terkait pengetahuan dan perilaku mencuci tangan. Juga manfaat bagi
siswa dan guru SD Netral dalam meningkatkan pentingnya cuci tangan.
ISPA
Fever unknown origin
Disturbances in tooth eruption
Tonsilitis
Periapical abscess without sinus
Dermatitis, unspecified
Diarrhea andd Gastroenteritis non specific
Common cold
Cough
Penyakit pulpa & jaringan perapikal

Gambar 1. Diagram penyakit tersering pada kelompok umur 5-14 tahun

BAB III
METODE PENELITIAN
III.1. Rancangan Penelitian
Pada penelitian ini kami memakai metode penelitian cross-sectional
menggunakan rancangan penelitian observational deskriptif. Studi cross-sectional
adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan
paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan dan penyakit
serentak pada individu-individu dari populasi tunggal pada satu saat atau satu
periode. Tujuan studi cross sectional adalah untuk memperoleh gambaran pola
penyakit dan determinan-determinannya pada populasi sasaran (Budiarto E.,
2002).
Rancangan penelitian observational deskriptif dipilih karena studi
deskriptif adalah riset epidemiologi yang bertujuan menggambarkan pola
distribusi penyakit dan determinan penyakit menurut populasi, letak geografik dan
waktu indikator yang digunakan mencakup faktor-faktor sosio demografik seperti
umur, jenis kelamin, kelas SD, maupun variabel-variabel gaya hidup seperti faktor
lingkungan, intensi dan sumber pembelajaran (Thomas C. T., 1998).
III.2. Populasi dan Subyek
Populasi pada penelitian ini adalah Anak SD Netral D Kelurahan
Sosromenduran Kecamatan Gedongtengen Kota Yogyakarta dari kelas 3 sampai
kelas 6 dipilih sebagai subjek dalam penelitian ini dikarenakan anak seumuran SD
rentan terhadap suatu penyakit tertentu yang berhubungan tentang kebersihan.
Tangan merupakan transmisi kuman yang paling utama dan kebersihan tangan
merupakan aspek penting dalam menekan ketidakhadiran anak-anak SD ke
sekolah dikarenakan sakit (Claudia H. L. Dkk, 2012).
Dari semua anak SD tersebut dilakukan total sampling dan didapatkan
jumlah sampel sebesar 92 orang anak. Total sampling dipilih dari anak SD Netral
dari kelas 3 sampai kelas 6 di Kelurahan Sosromenduran Kecamatan

Gedongtengen Kota Yogyakarta, maka dalam penelitian ini menggunakan metode


total sampling yakni seluruh populasi menjadi anggota yang akan diamati sebagai
sampel, karena sampel yang besar cenderung memberikan atau lebih mendekati
nilai sesungguhnya terhadap populasi atau dapat dikatakan semakin kecil
kesalahan (penyimpangan terhadap nilai populasi) (National Research Councilo,
1999).
Kriteria inklusi yang dipakai pada penelitian ini adalah anak dengan jenis
kelamin laki-laki dan perempuan kelas 3 sampai kelas 6 yang sekolah di SD
Netral D Kelurahan Sosromenduran Kecamatan Gedongtengen Kota Yogyakarta.
Kriteria eksklusi yang dipakai pada penelitian ini adalah anak yang tidak bersedia
mengikuti penelitian, anak yang tidak masuk sekolah dan anak yang belum
kompeten (belum bisa baca tulis dan tidak paham dengan penjelasan peneliti,
misalnya responden tidak mengerti apa yang dimaksudkan pada kuisioner yang
diberikan.
III.3. Metode Pengambilan Data
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer. Dalam
penelitian ini digunakan instrument berupa kuesioner untuk mengetahui
pengetahuan dan perilaku cuci tangan pada anak-anak SD Netral D Kelurahan
Sosromenduran Kecamatan Gedongtengen Kodya Yogyakarta.
Untuk menilai tingkat pengetahuan dan mengukur perilaku cuci tangan
pada anak-anak SD dalam penelitian ini menggunakan instrumen berupa
kuesioner. Kuesioner ini diambil dari kuesioner yang pernah digunakan dalam
penelitian serupa sebelumnya (Yalcin SS dkk., 2004).
Kuesioner ini merupakan suatu daftar pertanyaan yang sudah disiapkan
sebelumnya. Adapun data yang ditanyakan dalam kuesioner ini adalah sebagai
berikut :
a. Pengisian dan pengumpulan kuesioner dilakukan Identitas responden yang
meliputi nama, jenis kelamin, kelas.
b. Pengetahuan responden terhadap bagaimana cara mencuci tangan yang benar.
c. Sikap responden terhadap kepentingan cuci tangan.
d. Intensi responden untuk mencuci tangan.

e. Sumber pembelajaran yang didapatkan responden tentang kepentingan cuci


tangan.
f. Masalah yang didapatkan responden tentang kepentingan cuci tangan.
g. Lingkungan pendukung yang mendukung responden ke arah perilaku cuci
tangan.
Pada waktu dan tempat yang sama dengan mengumpulkan anak-anak SD
Netral D Kecamatan Sosromenduran Kelurahan Gedongtengen Kota Yogyakarta.
Kuesioner diisi sendiri oleh responden dengan didampingi oleh peneliti.
Untuk pertanyaan, jawaban benar diberi nilai 1 dan jawaban yang salah
diberi nilai 0. Selanjutnya nilai ini dijumlah dan dikelompokkan menjadi kategori
tinggi dengan rentang nilai 4-5, sedang dengan rentang nilai 2-3, dan rendah
dengan rentang nilai -1. Jawaban sering dan selalu dimasukkan dalam kategori
terbiasa perilaku (cuci tangan sudah menjadi kebiasaan) dan jawaban kadangkadang, jarang dan tidak pernah dimasukkan dalam kategori tidak terbiasa (cuci
tangan tidak menjadi kebiasaan) perilaku.
III.4. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 9 Desember 2013 sampai 20
Desember 2013 di SD Netral D Kecamatan Sosromeduran Kelurahan
Gedongtengen Kota Yogyakarta. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu :
a. Tahap persiapan, terdiri dari mempersiapkan perizinan penelitian ke pihak
kecamatan, kelurahan, puskesmas setempat dan SD tempat melakukan
penelitian.

Tahap

persiapan

meliputi

observasi

lapangan,

mencari

permasalahan penelitian, menentukan topik dan judul penelitian, pencarian


data subjek, penyusunan instrumen yang digunakan yaitu kuesioner
terstruktur.
b. Tahap pelaksanaan, pada tahap ini dilakukan pengambilan data (pembagian
kuesioner, pengisian kuesioner, dan entry data hasil kuesioner ke komputer).
Pengambilan data dilakukan pada tanggal 13 Desember 2013.

c. Tahap pelaporan, dilakukan dengan mengolah, menganalisa hasil yang


didapat, menyusun laporan dan berkonsultasi dengan pembimbing serta
melakukan presentasi hasil.
III.5. Variabel dan Definisi Operasional
1. Jenis kelamin
Jenis kelamin merupakan jenis kelamin responden penelitian yang terdiri dari
laki-laki dan perempuan.
2. Kelas SD
Kelas SD responden yang terhitung pada saat penelitian dilakukan
3. Tingkat pengetahuan.
Tingkat pengetahuan adalah apa yang di pahami dan dikatahui responden
penelitian yang diukur dari jawaban dalam pertanyaan di kuesioner.
4. Perilaku
Perilaku adalah apa yang dilakukan oleh responden penelitian yang diukur
dari jawaban pertanyaan dalam kuesioner.
III.6. Analisis Data
Proses pengolahan data dimulai dengan : 1) Pengumpulan data; 2)
Analisis data dilakukan secara manual berdasarkan kuesioner dan dengan bantuan
software Microsoft Excel 2007, meliputi tabulasi, meringkas, dan menyusun data
dalam suatu tabel atau diagram sehingga dapat dibaca dengan mudah. Analisa data
pada penelitian ini menggunakan analisa statistik deskriptif.
III.7. Jadwal Penelitian
Tempat penelitian adalah di SD Netral D Kelurahan Sosromenduran Kecamatan
Gedongtengen Kota Yogyakarta dan penelitian dilaksanakan mulai tanggal 9
Desember 2013 sampai 20 Desember 2013 dengan rincian pada Tabel 1.

Tabel 1. Jadwal Penelitian


Kegiatan

Tanggal

Observasi Lapangan
Identifikasi dan perumusan
masalah
Membuat rancangan
penelitian
Pengambilan data
Penyuluhan di SD
Pengolahan

dan analisis

data
Penulisan
penelitian
Presentasi hasil

laporan

9 1

11 1

Gambar 2. Alur Penelitian

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Karakteristik Responden


IV.2.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Diagram di bawah ini menunjukkan distribusi responden berdasarkan
jenis kelamin. Tampak bahwa jumlah responden perempuan sedikit lebih banyak
dibandingkan responden laki-laki, tetapi masih cukup seimbang. Responden lakilaki sebanyak 42 orang (45,7%) dan responden perempuan sebanyak 50 orang
(54,3%).

46%
54%

Laki-laki
Perempuan

Gambar 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

IV.2.2.

Karakteristik Responden Berdasarkan Kelas

Dari diagram di bawah ini, terlihat bahwa jumlah responden pada kelas 3,
4 dan 5 cenderung merata dengan jumlah responden terbanyak berasal dari kelas
6. Responden dari kelas 3 sebanyak 20 orang (21,7%), dari kelas 4 sebanyak 22
orang (23,9%), dari kelas 5 sebanyak 20 orang (21,7%), dan dari kelas 6 yaitu
sebanyak 30 orang (32,6%).
35.0%
30.0%
25.0%

21.7%

23.9%

21.7%

20.0%
15.0%
10.0%
5.0%
0.0%
Kelas 3

Kelas 4

Kelas 5

32.6%6
Kelas

Gambar 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Kelas

IV.2.
Hasil
IV.2.1. Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap Cara Cuci Tangan
Pengukuran tingkat pengetahuan responden dilakukan dengan soalan
dasar tentang konsep cuci tangan dalam kuestioner. Responden yang mempunyai
tingkat pengetahuan tinggi adalah mereka yang menjawab sedikitnya 4 dari 5 soal,
sebanyak 100% (92 orang). Tidak ada responden yang masuk dalam kategori
tingkat pengetahuan sedang atau rendah. Secara kesimpulan, semua responden
mempunyai pengetahuan cuci tangan yang cukup tinggi.

120%
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Tinggi

Sedang

Rendah

Gambar 5. Tingkat pengetahuan responden terhadap cara cuci tangan yang benar

IV.2.2. Kebiasaan Cuci Tangan Setelah Buang Air

Cuci Tangan Setelah Buang Air


4% 4%
9%

Selalu
Sering
Kadang-kadang
Jarang
Tidak Pernah

83%

Gambar 6. Kebiasaan responden cuci tangan setelah buang air


Sejumlah 76 orang (82,7%) selalu cuci tangan dan 8 orang (8,7%) sering
cuci tangan setelah buang air besar dan kecil. Sejumlah 4 orang (4,3% )kadangkadang mencuci tangan dan sebanyak 4 orang (4,3%) tidak pernah mencuci
tangan setelah buang air. Tidak ada responden yang jarang mencuci tangan.
Jumlah responden yang terbiasa mencuci tangan setelah buang air adalah 91,4%.

IV.2.3. Ketaatan Mencuci Tangan Sebelum Makan

Cuci Tangan Sebelum Makan


2% 4%
6%

Selalu
Sering
Kadang-kadang
Jarang
Tidak Pernah

87%

Gambar 7. Ketaatan responden cuci tangan sebelum makan


Proporsi responden yang terbiasa (sering dan selalu)

mencuci tangan

sebelum makan adalah 86 orang (93,5%). 2 orang (2,2%) dan 4 orang (4,3%)
masing-masing kadang-kadang dan jarang mencuci tangan sebelum makan. Tidak
ada responden yang tidak pernah mencuci tangan sebelum makan.

IV.2.4. Ketaatan Cuci Tangan Setelah Batuk dan Bersin


Dari data yang diperoleh, sejumlah 44 orang (47,8%) yang terbiasa
mencuci tangan setelah batuk dan bersin. Sebanyak 34 orang (37%) kadangkadang dan 8 orang (8,7%) jarang mencuci tangan setelah batuk dan bersin. 6
orang (6,5%) tidak pernah mencuci tangan stelah batuk dan bersin.

Cuci Tangan Setelah Batuk dan Bersin


9%

Selalu

6%

Sering
33%

Kadang-kadang
Jarang
Tidak Pernah

37%
15%

Gambar 8. Ketaatan responden cuci tangan setelah batuk dan bersin

IV.2.5. Ketaatan Cuci Tangan Setelah Bermain

Cuci Tangan Setelah Bermain


6%

Selalu

17%

Sering
Kadang-kadang

11%

65%

Jarang
Tidak Pernah

Gambar 9. Ketaatan responden cuci tangan setelah bermain


Sejumlah 70 orang (76,1%) responden terbiasa mencuci tangan setelah
bermain. Tidak ada responden yang tidak pernah mencuci tangan setelah bermain.

Responden yang kadang-kadang dan jarang mencuci tangan setelah bermain


adalah masing-masing 16 orang (17,4%) dan 6 orang (6,5%).

IV.2.6. Ketaatan Penggunaan Sabun Untuk Cuci Tangan

Penggunaan Sabun
Tidak Pernah
Jarang

2%

Kadang-kadang
Sering

Penggunaan Sabun

11%
7%

Selalu
0%

80%
20%

40%

60%

80%

100%

Gambar 10. Ketaatan responden menggunakan sabun untuk cuci tangan


Diagram di atas menunjukkan proporsi kebiasaan responden menggunakan
sabun sewaktu mencuci tangan. Responden yang sering dan selalu mencuci tangan
dengan sabun adalah masing-masing sebanyak 74 orang (80,4%) dan 6 orang
(6,5%). Sebanyak 10 orang (10,9%) kadang-kadang menggunakan sabun dan 2
orang (2,2%) jarang menggunakan sabun untuk mencuci tangan. Tidak ada
responden yang tidak pernah menggunakan sabun untuk mencuci tangan.
Responden yang terbiasa mencuci tangan dengan sabun adalah 86,9%.

IV.2.7. Edukasi sebelumnya yang telah diterima oleh responden

Gambar 11. Edukasi mengenai cara cuci tangan sebelumnya


Diagram menunjukkan proporsi responden yang pernah mendapat edukasi
sebelumnya tentang cara cuci tangan. Sebanyak 93.6% (86 orang) menjawab
sudah pernah mendapat edukasi sebelumnya tentang cara cuci tangan sementara
4.3% (4 orang) memberi respon belum pernah. 2.1% (2 orang) memberi respons
ragu-ragu.

IV.2.8. Media belajar tentang cara cuci tangan


Diagram di bawah menunjukkan proporsi responden yang telah belajar
tentang cuci tangan. 60.9% (56 orang) menyatakan telah belajar dari orang tua dan
32.6% (30 orang) menyatakan telah belajar dari sekolah. Hanya 4.3% (4 orang)
menyatakan telah belajar dari acara TV dan 2.1% (2 orang) telah belajar dari acara
penyuluhan sebelumnya. Tidak ada responden yang memilih jawaban lain-lain.

Gambar 12. Sumber pengetahuan tentang cuci tangan

IV.2.9. Gejala Gastrointestinal dalam 2 minggu terakhir

Gambar 13. Gejala gastrointestinal dalam 2 minggu terakhir


Dari kuesioner juga didapatkan data mengenai gejala gastrointestinal
dalam 2 minggu terakhir, yaitu sakit perut atau mual muntah. Sebesar 65.2% (60
orang) menjawab tidak mengalami gejala dalam 2 minggu terakhir. Sebanyak
17.4% (16 orang) menyatakan mengalami gejala satu kali, 13.0% (12 orang)

menyatakan 2 kali dan 4.3% (4 orang) menyatakan mengalami gejala


gastrointestinal 3 kali dalam 2 minggu terakhir.

IV.2.10. Peran Orang Tua untuk Cuci Tangan Terhadap Responden

Gambar 14. Peran orang tua dalam perilaku mencuci tangan


Diagram menunjukkan proporsi responden yang mendapat dukungan
orang tua di rumah untuk mencuci tangan sebelum makan. Proporsi responden
yang menjawab selalu sebanyak 76.1% atau 70 orang) yang menunjukkan
majoritas sampel mendapat dukungan yang cukup tinggi untuk peringatan cuci
tangan dari lingkungan. Sebanyak 15.2% (14 orang) responden menjawab sering
dan 8.7% (8 orang) menjawab kadang diingatkan untuk cuci tangan. Proporsi
responden yang terbiasa (sering dan selalu) diingatkan untuk cuci tangan adalah
91.3%.

IV.1. Pembahasan
Berdasarkan diagram dan analisis data di atas, persebaran jenis kelamin
tergolong representatif dalam menggambarkan perilaku cuci tangan responden
karena terdiri dari proporsi jenis kelamin yang relatif seimbang yaitu laki-laki

sebanyak 45,7% dan perempuan sebanyak 54,3%. Meskipun demikian, belum ada
bukti yang menunjukkan hubungan antara jenis kelamin dengan perilaku cuci
tangan pada usia sekolah.
Tingkat pengetahuan responden mengenai cuci tangan yang baik dan
benar tergolong tinggi, hal ini dapat dilihat dari diagram dan analisis data di atas,
terlihat bahwa seluruh responden (100%) memiliki tingkat pengetahuan tinggi
mengenai cuci tangan.
Perilaku mencuci tangan diukur pada empat saat penting penggunaan
sabun untuk mencuci tangan. Berdasarkan analisis data didapatkan bahwa
sebanyak 91,4% responden terbiasa mencuci tangan sehabis buang air kecil dan
besar, 93,5% terbiasa mencuci tangan sebelum makan, 76,1% terbiasa mencuci
tangan setelah bermain, dan 47,8% mencuci tangan setelah batuk atau bersin.
Sebanyak

86,9% terbiasa mencuci tangan mengunakan sabun. Hal ini dapat

dikarenakan sebagian besar responden merupakan masyarakat kota yang telah


mempunyai kesadaran yang tinggi tentang cara mencuci tangan yang baik dan
benar.
Responden yang terbiasa mencuci tangan setelah bermain tergolong
cukup tinggi yaitu 76,1%. Proporsi responden yang terbiasa mencuci tangan
setelah batuk atau bersin tergolong cukup rendah yaitu 47,8%. Hal ini
kemungkinan disebebkan oleh barier kognitif (WHO, 2006) yakni kurangnya
pengetahuan responden setingkat SD mengenai mortalitas dan morbiditas terkait
penyakit menular dan konsep kuman atau bakteri yang tidak terlihat.
Peran orang tua dalam memantau kepatuhan anak mencuci tangan
tergolong tinggi. Sebanyak 76.1% responden menjawab sering dan 15.2%
menjawab selalu pada pertanyaan mengenai peran orang tua dalam mengingatkan
anak mencuci tangan. Hal ini dapat dikarenakan masyarakat yang tinggal di
wilayah perkotaan sebagian besar sudah memiliki kesadaran mengenai mencuci
tangan dan penyakit yang dapat menular melalui kontak tangan, dan telah
menanamkan perilaku tersebut kepada anak-anak.

Sebanyak 17.4% responden mengalami sakit perut atau diare sebanyak


satu kali dalam 2 minggu terakhir dan 65.2% menjawab tidak pernah mengalami
sakit perut atau diare dalam 2 minggu terakhir. Akan tetapi, kejadian sakit perut
dan diare belum dapat dikorelasikan dengan perilaku atau kebiasaan cuci tangan
responden
Sumber belajar mencuci tangan terbanyak adalah dari orang tua, diikuti
dari sekolah, kemudian dari acara TV dan paling sedikit adalah dari penyuluhan
Hal ini dapat dipahami mengingat anak usia sekolah dasar masih memiliki
kecenderungan untuk mematuhi orang tua dan menerima ilmu dari mereka.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1. Kesimpulan
Penelitian ini melibatkan 92 orang anak SD kelas 3-6 di SD Netral D
kelurahan Sosromenduran, kecamatan Gedongtengen Kota Yogyakarta. Dari hasil
penilaian menggunakan kuesioner terhadap anak-anak SD dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
a. Seluruh responden memiliki pengetahuan dasar yang memadai mengenai
cara mencuci tangan yang benar (tingkat pengetahuan tinggi).
b. Perilaku cuci tangan cukup baik bagi anak-anak kelas 3-6 SD Netral D di
kelurahan Sosromenduran, kecamatan Gedongtengen Kota Yogyakarta.
V.2. Saran
Untuk Peneliti:
Untuk mendapatkan hasil yang lebih bermakna tentang tingkat
pengetahuan dan perilaku cuci tangan yang benar dapat dilakukan upaya:
a.

Melakukan penelitian selanjutnya menggunakan metode pretest dan


posttest

b.

Menambah instrumen yang bersifat observasi langsung ke daerah tempat


tinggal anak untuk melengkapi dan meningkatkan validitas hasil
penelitian

c.

Penelitian yang akan datang dapat dilakukan dengan mengkorelasikan


apakah ada hubungan diantara tingkat pengetahuan dan perilaku cuci
tangan

Untuk Sekolah:
a. Meningkatkan ketersediaan dan kepraktisan fasilitas cuci tangan.
b. Melestarikan budaya cuci tangan yang baik dan benar.
c. Meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan terhadap penyakit menular
di lingkungan sekitar.